6 Days Trip to Nusa Tenggara Timur

ok mumpung sempat, saya akan sedikit share tentang perjalanan saya dr tanggal 7-13 September 2011 kemarin ke salah satu provinsi di wilayah tengah agak ke timur dikit dari Indonesia, yaitu Nusa Tenggara Timur πŸ˜€

Buat yg belum tau dimana itu Nusa Tenggara Timur, check this out πŸ˜›

keliatan kan? itu loh yg dilingkaran merah, nah kota yang saya tuju adalah ibukota provinsi nya yaitu Kupang. Buat yang belum tau dimana, nih saya perbesar lagi πŸ˜€

Kupang adalah ibukota provinsi NTT dengan luas wilayah sekitar 180,27 kmΒ² dengan jumlah penduduk sekitar 450.000 jiwa. Saya pergi ke sana dalam rangka mudik (ya, ayah saya lahir dan besar di kota ini sebelum ke Bandung tahun 1980-an) jadi di kota ini masih banyak sanak famili dari ayah saya (meskipun kakek dan nenek saya sudah lama meninggal)

Hari Ke-1

So, perjalanan ke Kupang dimulai dari Jakarta (yeah, karena dari Bandung ongkosnya mahal banget) dengan Maskapai Sriwijaya Air. Di tiket yg saya pegang, tertera jadwal Boarding adalah 11.15 maka sejak jam setengah 5 pagi, kami sekeluarga udah standby di pull Primajasa rute Bandung-Soekarno Hatta dengan tujuan sampai di CGK jam 8-an agar nyantai pas check-in.

Benar saja, pukul 8.30 WIB ternyata kami sekeluarga telah tiba di CGK dengan sedikit insiden di Cipularang km 93 dimana ada mayat bergelimpangan. Ternyata perjalanan Bdg-Jkt aman dan lancar. Sesampai di CGK, langsung check-in dan pukul 10.00 sudah menunggu di ruang tunggu tempat akan boarding. Di ruang tunggu ternyata rame pisan, rupanya itu adalah awal derita hahaha. Sriwijaya Air rupanya mendelay rute penerbangan CGK-Padang dan CGK-Jambi dengan alasan kabut asap. Sampai pukul 11.00, kami curiga karena biasanya 20 menit sebelum boarding penumpang sudah dipanggil dipersilakan ke pesawat. Eh taunya bener, 11.10 ada pengumuman bahwa pesawat Sriwijaya CGK-SBY-Kupang mengalami delay sampai pukul 14.00. Asem!

Singkat cerita, pukul 14.10 take-off, sampai Surabaya pukul 15.10 WIB dan transit 20 menit di Bandara International Juanda. Sayangnya ga boleh turun dr pesawat. Asem lah padahal ingin liat Bandara terbagus di Indonesia ini T_T

Akhirnya pesawat lepas landas lagi pukul 15.30 dan sampai Bandara El Tari pukul 19.30 WITA. Sayang sungguh sayang, karena sudah malam, saya jd ga bisa liat pemandangan bukit dan pantai khas Rio de Janeiro dr pesawat yg akan mendarat karena udah gelap! Damn

Di bandara, rupanya pakde saya yg njemput. Waktu di Kupang telah menunjukkan pukul 20.00 WITA dan guess what, jalanan baik menuju dan keluar dr arah bandara sepi nya ampun dah. Sangat jauh dr Bandung pada pukul 20.00 WIB gitu. Di sini jam 8 malem mungkin bisa diibaratkan Bandung pada waktu tengah malam. Nyaris ga ada orang dan suasana mencekam. Kediaman sanak famili bapak saya ke bandara kurang lebih 15 kilometer. Hanya saja karena jalanan yg sepi begini dan surprisingly bagus dan mulus (damn, Bandung pun ga ada apa apanya dibanding kota ini kalau masalah infrastruktur jalan) perjalanan hanya memakan waktu ga lebih dari 15 menit.

Yg lebih mencengangkan lagi, di kanan kiri jalan di sekitaran Bandara hingga pusat kota, instalasi penerangan yg dipakai adalah PV coy! Dahsyat. bisa dimaklumi karena Kupang hanya punya 1 PLTD dengan daya menengah. jadi untuk infrastruktur penerangan jalan mau ga mau mereka mesti memakai PV. Damn, lagi lagi sebagai penghuni kota besar saya merasa malu. Di kota saya, mentang mentang listrik tersedia melimpah, ga pernah ada keinginan untuk memakai sumber energi terbarukan untuk hal sepele seperti penerangan jalan sekalipun.

Singkat cerita, tibalah saya di kediaman sanak saudara saya. Setelah silaturahmi sebentar, saya pun mandi dan tidur karena penerbangan 4 jam ditambah delay 2,5 jam dan perjalanan Jkt-Bandung sangat melelahkan.

Hari ke-2

Hari kedua dibuka dengan rutinitas pagi hari alias ke WC (halah). Oia perlu diketahui, Kupang adalah kota yg terletak di Teluk di sebelah barat Pulau Timor. So, ombaknya bisa dipastikan tenang dan ga akan setinggi di lautan lepas sana πŸ˜€
pagi hari sekitar pukul 05.30 WITA, saya menyempatkan diri mandi dan jalan jalan ke laut. lumayan dapet sunrise meski salah perkiraan karena Kupang pantainya menghadap ke Barat wkwkwk. Dodol πŸ˜›

Saya pergi ke pantai bernama Pasir Panjang alias Long Beach (ntah terinspirasi dr sebuah pantai di USA atau gimana :P) yg pasti Long Beach hanya berjarak 500m dari rumah hahaha. cuma ngesot doank sampe. Pantainya ga terlalu bersih, banyak anjing dan babi berkeliaran, tapi air nya bebas polusi dan saat itu air sedang normal, ga pasang ga surut, sehingga suasananya cukup bagus dan indah.

Kapal-kapal nelayan pun baru beres melaut dan biasanya hasil tangkapan ikan langsung dibawa ke pasar Oeba ngga jauh dr pantai.
selepas dari pantai, saya pun pulang dan sarapan. Hari ini rencananya mau ziarah ke makam kakek nenek yg telah lama wafat dan belum pernah sekalipun saya sekeluarga melihat makamnya.

Makamnya terletak di suatu tempat bernama Air Mata. di bukit letaknya 8 kilo dari rumah. oia, sebelumnya saya kasih tau dulu, topologi Kupang itu mirip dengan Rio De Janeiro (mirip loh ya bukan kota nya sama bagusnya ama Rio πŸ˜› ) Artinya Kupang memiliki pantai teluk dan daratan yg membentuk bukit. Jadi semua masyarakat tinggal di perbukitan dan aman dari Tsunami. Kalo ada yg belum tau Rio nih saya kasih gambarnya :

Di lokasi pekuburan, rupanya pekuburan Timor tak jauh berbeda dgn di Jawa. Bisa dimaklumi karena sudah tersentuh budaya Muslim sehingga semua akan sama dari segi arsitektur hingga peletakan batu nisan dll.

well, sepulang dari ziarah, kami pun pulang, beristirahat siang dan sorenya saya memutuskan untuk berburu lagi ke pasir panjang. Yup selain melihat sunset, saya pun ingin membeli ikan cakalang dan memakan ikan bakar sebagai santap malam.. yummy.

Di Pasir Panjang rupanya sedang surut. Air surut sampai kurang lebih 50 meter ke tengah. Sayang nya saya ga bawa kamera jadi ga bisa memotret 😦 Tp sumpah rame banget di pantai dengan org yg nyari ikan kecil, kerang dan kepiting serta yg lagi asik main bola atau yg sekedar ingin liat sunset merah super keren. Ok, kembali ke ikan cakalang, ikan cakalang di sini luar biasa sesuatu bangets. Ikan cakalang segede paha saya (mungkin ada sekitar 2-3 kilo) harganya cuma 30rb bo! Di Bandung beli ginian mungkin bisa abis sampe 100 ribu kali.

menjadi ikan cakalang bakar tanpa nasi (karena saya sedang musuhan dgn nasi) sampe kenyang perut mau pecah. Setelah gosok gigi dan cuci muka, saya pun tidur dengan bermandikan keringat karena udaranya kering banget cyinn…

Hari ke-3

ok, pagi yg cerah di Kupang. Dimulai dengan membawa semua pakaian kotor ke laundry kiloan di dekat rumah kakek-nenek. Setelah selesai me-laundry, saya mandi dan bersiap ke tempat wisata. Yeah. Rencananya hari ini akan ke Pelabuhan Tenau dan Taman Wisata Gua Monyet (yg ini agak gimana gitu kalo mau nyebutinnya).

Pelabuhan Tenau terletak di Tenggara Kupang. Merupakan pelabuhan barang yg didominasi oleh Pertamina, meski ada jg pengangkutan komersialnya. Rata-rata pengangkutan orang nya ya ke pulau pulau di NTT seperti Alor, Flores, Ende, Atambua, dll.
Perjalanan ke Tenau memakan waktu 20 menit. Di perjalanan ke sana, kami singgah dan berhenti sebentar di lokasi PLTD yg mensupport seluruh energi listrik kota Kupang. PLTD nya ga terlalu besar. mungkin kapasitasnya hanya puluhan MW makanya ga heran kalau lampu penerangan jalan semua pakai PV.

Setelah melewati PLTD, kami melewati pabrik Semen Kupang yg menurut penduduk setempat kabarnya di pabrik ini banyak cerita seram yg ga masuk di akal. hii

ok, skip saja cerita ini, sesampainya di Tenau kami melihat lihat kapal dari puncak bukit. Dan ternyata lucky enough, ada kapal pengangkut Semen sedang merapat ke dermaga dan ada kapal Ferry yg sedang akan berangkat πŸ˜€

ok cukup di Tenau nya. Mari kita pindah ke Taman Wisata errr.. Gua Monyet. Di sini, lokasinya sebenernya perbukitan gitu. dan hebatnya si monyet pertamanya kaga keliatan. Yg keliatan hanyalah kambing gunung yg doyan makanin plastik!
Ntah mau jadi apa ini kambing makanin plastik -___-

Kalo kita mau manggil sodara kita (monyet-red) kita musti bawa sajen berupa kacang Dua Kelinci (promosi) dan cukup melemparkan ke pinggir jalan pasti si monyet akan datang dan bergerombol memanggil temen temennya deh πŸ˜›

Yg unik lagi, kalo kita kasih botol minuman yg ada isinya, si monyet dengan cekatan akan membuka botol tersebut dan meminum layaknya manusia hahaha

Pukul 13.00 WITA pulang dan ngaso lagi di rumah sebelum ke pantai sore sorenya πŸ˜€

Hari Ke-4

Hari keempat adalah wedding time. Yup, kakak sepupu saya akhirnya menikah dan seluruh keluarga, sahabat dan rekan rekannya diundang ke pernikahannya. Resepsi dilakukan di sebuah gedung serbaguna yg aneh tapi nyata terletak di lantai 2. Dan coba tebak lantai 1 nya adalah tempat fitness donk! wakakak

Gedungnya lumayan megah ada standing AC 4 buah di keempat sudutnya. AC merupakan kewajiban bila berada di Kupang. Udara di sini kering dan panas. Tanpa AC serasa hampa πŸ˜›
Resepsi pernikahan digelar dalam adat Timor. Hal paling fundamental yg membedakan dengan pernikahan adat Jawa adalah : Dalam budaya Timor, tamu undangan musti datang tepat waktu. Dan pengantin baru akan naik ke pelaminan saat semua tamu dirasa sudah hadir. Oleh karena itulah kursinya banyak sekali disiapkan.

bandingkan dengan adat Jawa dimana anda bebas datang kapan saja selama dalam rentang waktu undangan dan makanan belum habis πŸ˜›
Di adat Timor, setelah tamu datang semua, pengantin masuk ke pelaminan layaknya adat orang Barat dimana diarak dan semua mata tertuju pada mereka dari pintu belakang hingga naik pelaminan. Setelah itu dimulailah akad nikah dan banyak sekali sambutan sampai perut terasa lapar dan sialnya belum juga selesai sambutan-sambutan nya 😦

Nah begitu sambutan selesai, rupanya belum bisa langsung makan nih, soalnya saat acara makan berlangsung, seluruh tamu undangan musti ngantri mengambil hidangan yg disediakan di 2 sisi ruangan. Damn, tamu sebanyak itu yg dateng dan kebayang donk ngantrinya kyk gimana…

Setelah santap siang, dilanjutkan dengan foto dan salam salaman layaknya adat Jawa. Yg unik karena mempelai pria beasal dari Pulau Alor, ada tradisi tarian Lego Lego yg dipertunjukkan selepas hidangan makan siang. Pukul 14.00 pun pesta selesai dan saya pulang ke rumah. Di rumah, rupanya ada pesta lagi untuk mereka yg tidak diundang ke gedung semisal tetangga, kerabat dekat dll. Well pokoknya seharian cape pisan lah

Malem minggu pun garing karena kecapekan. Paling cuma jalan jalan ke rumah saudara saudara yg deket deket doank. Padahal Malming di Kupang cukup rame meski ga serame di Bandung

Hari ke-5

Hari ke-5 adalah market time! akhirnya menyempatkan diri berkunjung ke pasar Oeba, salah satu pasar di Kota Kupang yg letaknya dekat dengan rumah. Pasarnya luas dan banyak sekali pedagang di sana (ya iyalah namanya jg pasar)

yang unik, di sana, semua barang dijual bukan berdasarkan kiloan (kecuali ikan) tapi dengan sistem takaran baik menggunakan kresek maupun kaleng bekas mentega atau susu. Misalnya kita mau beli cabai rawit, sudah ada takarannya yaitu sebesar kaleng susu kental manis harganya 2000, sebesar kaleng margarin 250gr harganya 5000 dst. Begitupun dengan tomat, kresek kecil harganya 2000, kresek besar harganya 5000.

Harga sayur dan buah di sini relatif mahal. Jauh lebih mahal dibanding Bandung. Bisa dimaklumi karena memang jauh dari sumbernya sih. Tapi yg mencengangkan adalah harga ikan segar nya boi.

Harga ikan kakap kepala merah yg masih segar dan baru ditangkap dari laut adalah 20.000 rupiah per 5 biji boi! Artinya kakap sebear itu dihargai 4000 saja per ekornya. Di Bandung mungkin per ekornya bisa mencapai 20.000 ckckck

Gak lupa sehabis dari pasar mampir dulu ke tempat kelapa muda buat melepas dahaga πŸ˜€

Sore harinya tak lupa main k pantai lagi. Kali ini air surut jauh sekali jadi bisa pergi ke tengah dan melihat sunset πŸ˜€

Karena hari ini malam terakhir di Kupang, saya memutuskan untuk pergi ke pasar malam di wilayah Kampung Solor selepas maghrib. Kabarnya di sana banyak sekali muda mudi yg menghabiskan waktu malam dengan menyantap makan malam dan berbelanja.

Pukul 18.30 WITA saya berangkat ke sana, dan ternyata benar saja, satu jalan diblokir dan ramai sekali dengan manusia. Banyak sekali yg berjualan makanan, minuman maupun aksesoris dan pakaian. Setelah puas melihat-lihat, saya pun berhenti di salah satu warung makan dan menyantap cumi dan udang. Harganya cuma 30 rebu bo! Dashat pisan. Ga lupa meminum jus buah naga biar maknyus πŸ˜€

Setelah kenyang sayapun pulang dan tidur karena besok sore akan kembali ke Bandung

Hari ke-6

Tiba saatnya pulang ke Bandung. Setelah pergi ke pasar di pagi hari, waktunya pamitan ke sanak famili. Pukul 10.00 WITA pamitan selesai dan packing dimulai mengingat boarding pukul 17.10 WITA. Pukul 12.00 WITA packing selesai dan waktunya santai sampai pukul 16.00 WITA dimana hanya saya isi dengan menonton TV.

Pukul 16.00 WITA pergi ke bandara El Tari lagi. Agak sedih sih untuk terakhir kalinya ngeliat padang sabana di sepanjang jalan menuju bandara, melihat laut lepas dari perbukitan dan melihat infrastruktur milik kota ini yg tidak kalah dari kota besar di Pulau Jawa 😦
Setelah check-in, kami pun menunggu di ruang tunggu. Ingat 17.10 adalah waktu boarding. Tp di jam saya, ternyata waktu telah menunjukkan pukul 17.30 WITA. ASEM!! Pasti delay lagi ini. Same old SRIWIJAYA AIR!! Always delaying!

Para calon penumpang jg mulai resah dan akhirnya 17.45 WITA penumpang sudah dipersilakan boarding. Alasan mereka sih karena kendala operasional gitu deh. Cih. 1 jam 40 menit terbang, akhirnya pukul 18.30 WIB tiba di Juanda International Airport. Bilangnya sih transit hanya 20 menit namun semua penumpang mesti turun. Eh ternyata pesawat nya akan diganti dan terjadi penundaan lagi selama 1 jam kurang lebih. Asem lah ini SRIWIJAYA. ga lagi lagi deh naek maskapai penerbangan ini. Murah sih murah tp siga kieu pisan cuy.

Positifnya akhirnya saya bisa menjelajah Juanda. Wow. dahsyat sekali ini bandara. Style nya mirip Changi Airport. Terminalnya memanjang dari ujung ke ujung. Bandaranya bersih, rapi dan sangat tertata denganΒ  bagus dan modern. Tapi yg namanya bandara dimana mana sama sih. Makanan mahal ga ketulungan. Karena lapar, saya memutuskan untuk beli burger di AW, eh ternyata abis 50 rebu coba burger, kentang dan softdrink. Asem!

Setelah makan, kembali ke terminal 6 dan ternyata baru diperbolehkan boarding pukul 20.45 WIB lah. Ngehe pisan! Dengan dongkol para penumpang naik ke pesawat dengan sumpah serapah. Akhirna pesawat lepas landas dan pukul 22.30 WIB tiba di Cengkareng. Sampe di Cengkareng badan udah remuk. Nyari nyari bagasi dan primajasa. Akhirnya ke Bandung naik Primajasa yg berangkat pukul 24.00 WIB dari terminal 1B. Sampe di batununggal pukul 02.30 WIB dan naik taksi sampai rumah. Sampai rumah langsung belangsak tidur ke kasur. Besok paginya pukul 08.00 WIB musti ke kampus lagi karena ada yg harus dikerjakan. What a tiring day!

Tapi overall sangat senang dengan perjalanan ke Kupang ini. Sangat menghibur sebelum berperang dengan Tugas Akhir πŸ˜€

Leave a comment