One Day Trip to Desa Kalisari

ok rasanya udah lama pisan ngga nulis sesuatu di blog ini. Kepikiran untuk nulis sebuah kisah perjalanan 800 kilometer bolak-balik dalam waktu 18 jam nih (wuih sekilas kyk di film film ya saya melakukan perjalanan jauh dalam waktu singkat 😛 )

Hari itu tanggal 13 Oktober 2011, saya memutuskan untuk melakukan perjalanan jauh ke suatu desa terpencil (ngga terpencil jg sih :P) yang bernama Desa Kalisari. Desa Kalisari ini terletak di Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas. 10 kilometer dari Ajibarang dan 20 kilometer dari Purwokerto. Lah kenapa saya bisa ke Desa ini? Begini ceritanya..

Tugas Akhir yang saya ambil itu tentang perancangan suatu digester (reaktor) skala mini yang memanfaatkan limbah cair tahu sebagai substrat untuk menghasilkan biogas. Nah berdasarkan referensi yang saya baca di dunia maya maupun di berita, Desa Kalisari ini adalah salah satu desa yang dijadikan percontohan oleh BPPT dalam pemanfaatan limbah tahu cair untuk menghasilkan biogas yg dapat dipergunakan untuk keperluan memasak warganya.

Nah beberapa minggu sebelumnya, saya berusaha keras mencari no kontak perangkat desa di sana guna meminta izin untuk melakukan kunjungan. Gimana caranya saya bs dapet no telp kantor kepala desa di sana? well, cukup unik caranya 😛
saya gugling dan mencari keyword kalisari, lalu keluar beberapa paper penelitian mengenai pengabdian desa di sana. Dan dari sekitar 4 paper yang saya baca, terdapat 1 paper dari dosen UnDip yang menyebutkan beliau pernah mengadakan penelitian di sana setahun lalu. Kebetulan sekali di papernya ibu dosen ini menyertakan alamat email nya dan langsung lah segera saya tindaklanjuti dengan mengontak beliau via email. beberapa hari kemudian beliau membalas dan memberi nomor kontak Kalisari. Wah baik banget nih ibu dosen 😀

Singkat cerita saya mengontak desa kalisari dan telah diputuskan kalau tanggal 13 Oktober 2011 saya akan melakukan kunjungan ke sana. Sehari sebelumnya sy pergi ke pull Cipaganti Travel untuk melakukan booking. Ternyata travel paling pagi berangkat pukul 07.00 WIB dan yah dengan berat hati saya ambil meski kurang sreg karena kalau begitu sy akan sampai di Kalisari sekitar pukul 14.00 WIB. Oia, saya merencakan keberangkatan pergi pulang karena selain bujet terbatas saya juga mesti mengejar kuliah keesokan harinya. So, keberangkatan ini bener-bener thight schedule lah istilahnya 😛

Berangkat pukul 07.00 WIB dari rumah, travel berjalan cukup cepat. pukul 11.00 sudah sampai Ciamis. Eh ternyata oh ternyata lokasi yang ingin saya tuju tidak dilalui travel. Duh. Saya pun bingung dan mencoba melihat google map dan kemudian memutuskan untuk turun di Wangon dan naik bus ‘kopaja’ ke Ajibarang. Sampai di Ajibarang kemudian perjalanan berlanjut dengan ojek karena Kalisari masih 10 km dr sana dan rata-rata bus ‘kopaja’ yang berasal dr Ajibarang penuhnya minta ampun 😛

Akhirnya pukul 14.00 WIB pun saya sampai ke Kalisari dan langsung menuju kantor kepala desa. Di kantor kepala desa saya disambut oleh Bu SekDes dan langsung diajak ke rumahnya. Di rumahnya saya disuguhi macem macem, diajak ngobrol dan beliau nampaknya sangat antusias sekali akan kedatangan saya. Dan yang membuat saya terharu adalah ketika beliau dengan entengnya mempersilakan saya, orang yg baru pertama kali dikenal beliau, untuk memakai motornya untuk keliling desa mengunjungi beberapa titik digester di sana. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya merasa terharu sekaligus malu sebagai orang kota yang arogan dan sudah kehilangan nilai-nilai luhur dari kemanusiaan dan rasa tolong-menolong tanpa pamrih T_T

Saya pun keliling desa dan bertemu dengan Pak Kepala Desa Kalisari yg bernama Bpk H. Wibowo. Orangnya masih muda, easy going dan ramah sekali. Logat ngapak nya kental sekali 😛 Beliau dengan ramahnya mengantar saya dan menjelaskan asal usul, sejarah serta cara kerja digester yang ada di Kalisari. Tidak jarang dengan sesekali bercanda dan menggunakan bahasa Jawa yang kental 😛

Ok, berikut FR (Field Report saya dari Desa Kalisari)

Instalasi Biogas di Desa Kalisari

Penampakan Digester yang tingginya hampir 3 meter

Setelah mengambil data dan mewawancara seperlunya, pukul 17.00WIB pun  saya pulang dan pamitan. Ga lupa mengucapkan beribu terima kasih pada Ibu Sekdes yang memberi pengharapan yang besar kepada saya sebagai mahasiswa. Duh, jadi malu rasanya padahal saya ga ngasih apa-apa ke mereka tp mereka baik banget begini 😩

Pukul 17.00 saya kembali naik bus ‘kopaja’ antarkota ke arah purwokerto. Rencananya sih naik bus budiman dari terminal Purwokerto. Gak disangka-sangka bus kopaja penuhnya ampun dah 😩
Sampai di terminal purwokerto sekitar pukul 18.45 dan ternyata bus budiman terakhir sudah pergi sejak pukul 18.00 WIB. adanya tinggal bis ekonomi yang superlambat dan superpanas. Waduh, gawat ini kalo begitu. Untung saja sy menyimpan nomor kontak Cipaganti travel cabang purwokerto dan beruntunglah saya ternyata keberangkatan travel Cipaganti pukul 19.00 WIB. Saya pun segera booking dan meminta driver menjemput di terminal. Pukul 18.20 WIB travel datang dan akhirnya saya bisa pulang dengan selamat sampai di Bandung pukul 2 pagi.

Derita belum berakhir, pukul 07.00 WIB mesti ada di kampus dan melakukan report pada dosen pembimbing.
Jadi kalo ditotal dalam 18 jam saya melakukan perjalanan bolak-balik 800 kilo Bandung-Cilongok-Purwokerto-Bandung. Wow

Raul Gonzalez Blanco – How He Made Me Love Football

full credit from this site : http://footballspeak.com/post/2011/10/15/Raul-Gonzalez-Blanco-How-He-Made-Me-Love-Football-.aspx

Well, baca artikel ini bener-bener terhenyuk dan merasa kalo isi artikel ini juga mirip dengan latar belakang dan sejarah saya suka klub Real Madrid dan Raul Gonzalez ckckck

===================================================

It all seems like yesterday.

June 2nd, 2002. A kid, merely 10 yrs old, sat in front of the TV, watching the World Cup group stage match between Spain and Slovenia in his neighbour’s home. Beside him was a 13 years old friend – and the one whose house he was in.

Suddenly, the 10 year old kid pointed at the TV and shouted, “Hey! I saw this guy somewhere before! Who is he?”. The older kid smiled and said, “He is Raul. You saw him only days back on the TV”. He was referring to the 2001-2002 Champions League Final when he said ‘days back’ (coincidentally, both of them watched that match together, too).

“I think he [Raul] is the greatest player to have ever played the game. He walks on the turf and astounds. It is utterly amazing.” – Luis Figo.

hen Raul scored. The broad smile on the innocent face of the 10 year old kid was priceless. It was as if he knew Raul for a long time and has been a big fan of him, which he didn’t and wasn’t. But from that point onwards, the 10 year old kid became a huge fan of Raul. And because of Raul, he became a big fan of Spain, Real Madrid and Football from that point.

That 10 year old kid was none other than this writer – me.

Now let us go back to October 29th 1994. A 17 year old Raul subs in for Emilio Butregueno – another Club legend – and puts up a splendid performance on his debut, creating a goal for Ivan Zamorano. The very next week in his home debut, Raul scored his first ever goal for Real Madrid against Atletico Madrid – which was also his youth Club.

I was not fortunate enough to watch his first ever goal for Real Madrid live as I was exactly 2 years and 2 months old at that time and didn’t even know what Football was. Raul went on to have a stellar career since then, winning 3 Champions Leagues and 6 La Ligas with Real Madrid. His leadership, work ethic, unmatched determination, charisma, calmness, composure, finishing, sportsmanship and almost everything made me, and many people around the World, a huge fan of his.

Real [Madrid] buy these big players like Figo, Zidane and Ronaldo but I think the best player in the world is RaĂșl.” – Sir Alex Ferguson.

Even now, at the age of 34, he continuously keeps running for 90 minutes – and scoring, too. But what hurts me a lot is that he never won anything with the Spanish National team.

When Spain were knocked out of the 2002 FIFA World Cup by South Korea, I thought to myself, “will I ever see Spain win the World Cup?” – I did. I did see Spain win the World Cup 2010 and Euro 2008. But deep down, I was gutted. Gutted because Raul wasn’t in the Spain squad in any of those 2 tournaments – and perhaps he will never be. Perhaps it was not in his fate to win anything with the national team – his peak not coinciding with the Golden Generation of Spain’s Football makes that point stronger.

But the worst and the most painful day, however, was June 25th 2010. That was the day when I and many Madridistas cried our eyes out. That was the day when our captain left Real Madrid to join Schalke 04.

That was the day when the commentator’s prediction came true, the commentator of the match between Zaragoza v Real Madrid on April 24th 2010 – which was Raul’s last match as a Real Madrid player. When Raul scored in that game, the commentator said that this might be Raul’s last goal as a Real Madrid player. He was right; that was Raul’s last goal as a Real Madrid player. Raul, who was going to be substituted by Karim Benzema, jogged into the box and poked a Cristiano Ronaldo pass into the net, And I was lucky, and honoured, to see that goal live.

It was hard. Hard to see Real Madrid without its symbol. Hard to see Real Madrid without its son. Hard to see someone else’s name on the number 7 shirt. Hard to know that Raul will not be retiring from his playing career at Real Madrid.

But now, we have to see it all.

Raul may have left Real Madrid, but his memories will stay with me till I die. 16 years at Real Madrid … so many memories, so many moments of glory, so many moments of joy. Looking back at his career, I feel very sad that those moments have passed away and we will never get them back again. He graced the Bernabeu and the Footballing World with his charisma. There won’t be another Raul.

His first goal, signaling the Camp Now crowd to keep quiet, his goals in the Champions league final against Valencia and Leverkusen, his goals in Clasicos,

 

celebrating his goal by kissing the right ring finger, breaking Alfredo di Stefano’s record to become Real’s highest goal-scorer, his last goal for Real Madrid 
 the memory remains. A lot of people have many wishes, I have some, too. And one of them is to meet Raul. If that wish comes true, my life would be honoured and I could die in peace and without any regrets.

Viva Raul!