Tokyo Business Trip 2014 (Part 2)

Pagi hari yang mendung, hari ini adalah agenda utama dari business trip saya, yaitu mengunjungi terminal LNG di Negishi dan di Showa. Berhubung masih di pengujung musim dingin, cuaca Tokyo kala itu sekitar 6-8 degC namun matahari bersinar cukup cerah di siang harinya.

Setelah sarapan dan berpakaian rapi, kami pun pergi menuju terminal Negishi di daerah Yokohama, kurang lebih 30 km dari Tokyo dengan menggunakan bus. Sepanjang perjalanan hanya terlihat kawasan industri, pelabuhan, terminal peti kemas, dll. Tour guide kami, Yashida-san menjelaskan dengan rinci pemandangan yang ada di kanan dan kiri kami.

Tibalah kami di Negishi Terminal, stasiun penerimaan LNG dari seller-seller LNG Jepang salah satunya LNG dari Bontang. Terminal ini adalah terminal pengumpul LNG dan regasification untuk disalurkan menuju saluran gas kota / pembangkit listrik. Setelah mendengarkan penjelasan yang cukup rinci dari Manager Operation di sana, dan dilanjutkan dengan tanya jawab, kami pun diajak keliling plant dan terminal namun hanya dari atas bus saja.

1a.jpg

Nyaris hanya segelintir orang saja yang nampak di sana. Fokus pengamatan kami adalah terminal pengisian LNG untuk truk (lorry) yang memang rencananya akan diadaptasi untuk diterapkan di Bontang dan Arun (Indonesia). Kamipun sempat menyaksikan demo LNG dari salah satu karyawati Tokyo Gas di sana.

1964872_10201811719439378_205656605_n.jpg

Dari sana, perjalanan dilanjutkan menuju Showa Satellite LNG Terminal, sebuah terminal penerimaan LNG dari lorry yang letaknya 120 km dari Negishi. Perjalanan ditempuh dalam waktu 2 jam, oleh karena itu kami makan siang dengan sandwich di dalam bus. Karena Showa letaknya di rural area, maka pemandangan yang saya lihat pun sedikit banyak persis dengan apa yang sering tergambar dalam anime-anime Jepang seperti Doraemon dll. Dari mulai lapangan dengan jembatan dan sungai yang mengalir jernih, bentuk-bentuk rumah khas Jepang yang mungil, dll.

1b.jpg

Sesampainya di Showa LNG Terminal, kami pun menyaksikan presentasi yang disampaikan Manager Operasi di sana. Ada kejadian unik ketika di tengah presentasi tiba-tiba kursi yang saya duduki bergetar, awalnya saya pikir teman saya di belakang saya yang usil, namun rupanya ada gempa kecil kala itu,mungkin karena sudah biasa, orang Jepang yang ada di sana pun nampaknya santai saja hehe.

Setelah pemaparan, kamipun diajak keliling terminal penerimaan LNG yang mungil tersebut. Meskipun mentari bersinar terik, namun suhu nya 8 derajat aja loh hehe.

1c.jpg

Kami pun pulang sekitar pukul 15.00 waktu setempat, Yashida-san bilang kalau perjalanan pulang bisa memakan waktu 3 jam karena ada kemungkinan macet. Wah bisa macet juga ya di Jepang hehe. Benar saja, pukul 18.00 waktu setempat, kami pun tiba kembali di Tokyo. Ketua rombongan mengatakan setelah ini adalah acara bebas, artinya saya akan kembali berpetualang di Tokyo hehe.

Pukul 19.00, saya mengajak teman saya FY untuk bergegas karena rencananya hari ini kami akan ke Asakusa dan Akihabara. Ke Asakusa ceritanya mencari oleh-oleh dan ke Akihabara karena ya disini lah konon berkumpulna para otaku di Japan hehe.

Sialnya ketika tiba di Asakusa, rupanya toko suvenirnya sudah tutup karena hanya buka hingga pukul 17.00, ya sudah daripada mubazir, saya pun mengabadikan momen di Kaminari-mon, Gerbang Petir, khas Asakusa.

10014656_10201828279533370_909157233_n.jpg

Karena belum sempat makan malam, kami pun mencari restoran cepat saji terdekat. Oia, selama di Jepang, saya dan rekan saya ini selalu makan malam makanan cepat saji karena memang bingung memilih makanan yang “halal” meskipun makan di cepat saji dan memesan ayam pun hampir dipastikan tidak halal dan sesuai syariah. Tapi ya gimana lagi, daripada mesen daging babi, hehe. Contohnya ini, kami makan di McD dan memesan chicken burger namun tetap mendapat Bacon Topping yang (sepertinya) lezat hehe

1896982_10201828292653698_965194639_n.jpg

Setelah (cukup) kenyang, perjalanan pun dilanjutkan ke Akiba. Dengan menggunakan subway, kami pun tiba di Akiba. Keluar dari stasiun subway, rupanya sudah disambut oleh 2 cafe yang sedang digilai anak-anak muda di Indonesia.

1d.jpg

Karena masih cupu, kami pun memutuskan untuk tidak masuk ke dalam karena bingung juga masuk ke dalam terus ngapain ya hehe. Akhrinya setelah berfoto, kami pun hanya mengikuti langkah kaki dan meng-eksplor Akihabara.

1e.jpg

Suhu menunjukkan angka 2 degC, ketika mau mengambil foto, saya harus melepas sarung tangan, baru beberapa detik saja dilepas, tiba-tiba tangan saya mati rasa saking dinginnya hehe. Sepanjang mata memandang, Akihabara terdiri dari toko mainan (baik Gundam, action figure, bahkan sex toys), toko elektronik baik menjual console maupun TV, dan juga maid cafe (cafe dengan pelayan gadis muda berpakaian ala maid eropa) dan tempat-tempat hiburan esek-esek (seperti tidur dipangkuan cewe, panti pijat, karaoke mesum) yang semuanya dijaga oleh om-om berpakaian jas lengkap!

Ada kejadian super unik ketika saya dan teman saya memutuskan untuk mencoba masuk ke dalam salah satu Adult Shop berlantai 6 yang ada di sini. Kami berdiri di depan pintu cukup lama entah pergumulan batin atau memang terlalu cupu untuk masuk hingga akhirnya salah satu pemuda lokal menepuk pundak kami dan menyuruh kami masuk karena menghalangi jalan wkwk. Di dalamnya sulit diekspresikan dengan kata-kata, semua kebutuhan esek-esek ada di sana, di setiap lantai menyajikan benda-benda berbeda, dari mulai DVD, costum play (cosplay), sex toys, dan aneka barang-barang fetish yang saya sendiri nggak tahu gunannya untuk apa 😛

Setelah sekitar 10 menit kami menjelajah, akhirnya kami pun keluar dengan muka yang cukup merah wkwkwk. Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 malam waktu setempat, kami pun bergegas pulang karena besok pagi masih ada agenda inti hehe.

1511554_10201828366935555_934558931_n.jpg

Oia, meskipun sudah pukul 11.30 malam, namun suasana di stasiun kereta Tokyo tidak pernah sepi, saya sendiri bingung sampai kapan kereta terakhir melayani penumpang. Mungkin sekitar pukul 1 dini hari.

Bersambung ke part 3 (final)

Tokyo Business Trip 2014 (Part 1)

Baru satu tahun lebih bekerja di perusahaan ini, saya sudah dirotasi ke Department baru, sebuah Department yang menangani business development, yang sebetulnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan latar belakang keilmuan saya yaitu Teknik Fisika.

Baru 3 bulan bekerja di Department baru, saya sudah mendapat rejeki nomplok yaitu penugasan ke Tokyo selama 4 hari 3 malam untuk studi banding stasiun pengisian LNG (Liquified Natural Gas) skala kecil dengan menggunakan moda transportasi truk.

Pengalaman keluar negeri selain Singapore dan Malaysia yang pertama untuk saya. Sempat bingung juga bagaimana mengurus visa ke Jepang namun akhirnya tercerahkan setelah membaca laman ini  http://www.id.emb-japan.go.jp/visa.html

Visa yang saya pilih adalah visa single entry 15 hari, persyaratannya sangat mudah, karena ini perjalanan bisnis maka selama ada supporting letter dari perusahaan, visa sudah 99% di tangan. Pembuatan visa memakan waktu 4 hari kerja dan kita musti mendatangi Kedubes Jepang di Jl. MH Thamrin Jakarta (depan Plaza Indonesia)

Setelah visa rampung, saya pun hunting tiket PP. Karena first timer, saya lebih memilih Garuda meskipun teman-teman saya banyak yang merekomendasikan JAL atau ANA. Mungkin karena lebih enak pergi pertama kali dengan maskapai nasional kali ya. Oia, karena perjalanan saya itu dilakukan di bulan Februari akhir, Jepang masih berada di musim transisi antara musim dingin dan musim semi sehingga suhu masih berkisar di 10 hingga 15 degC dan harga tiket masih murah karena low season.

Perjalanan pun dimulai dari Bandara SHIA pukul 23.00 WIB, pesawat Garuda yang kami naiki merupakan pesawat gress B777-300 ER, longhaul flight dengan kapasitas 300 orang. Kami serombongan berjumlah 12 orang dari 4 perusahaan berbeda. Saya duduk dekat jendela bersama 2 orang Jepang yang sepanjang perjalanan tertidur dan sulit untuk dibangunkan. Setelah 7 jam yang melelahkan, akhirnya tiba juga di Tokyo pukul 09.00 waktu setempat.

1098416_10201791307889102_947621510_n

Cuaca di Narita saat itu hujan ringan dan suhu mencapai 6 degC. Setelah clingak clinguk turun dari pesawat, hal yang pertama saya cari adalah toilet… 7 jam menahan pipis rasanya memang menyiksa. Setelah tiba di toilet, saya coba cuci muka dulu dan brrrr… air dari wastafel rasanya kayak air es! Dan ketika mencari WC, mata saya tertuju pada label ular menjilat pantat berikut… ya WC nya ada cebokannya hehe

10004075_10201791312489217_1936687003_n

Selain cebokan, WC ini juga dilengkapi dengan penghangat di dudukannya loh.. kebayang donk kayak gimana rasanya.. cuaca dingin setengah mati lalu pas BAB pantat dihangatkan oleh pemanas? hehehe….

Lepas dari WC, awalnya saya mau coba ke kota dengan MRT, namun rupanya kami sudah dijemput oleh perwakilan dari perusahaan yang akan kami kunjungi dengan mobil. Begitu keluar dari Bandara, rasanya seperti masuk ke freezer… Dan celakanya lagi, saya masih mengenakan style pakaian tropis hehe.

1653781_10201791312769224_2099512728_n

Kami berencana menginap di Intercontinental Tokyo Bay di daerah Minato, Tokyo… perlu diketahui, bandara Narita letaknya bukan di provinsi Tokyo namun di Chiba, sekitar 70-80 km dari Tokyo.. Cara menuju Tokyo dari Indonesia ada 2 yaitu via Narita yang letaknya di kota lain dan satu lagi via Haneda yang letaknya di pinggiran Tokyo.

Sepanjang perjalanan menuju hotel pemandangan yang ada hanya pantai, pelabuhan, pantai, bukit, pantai, pelabuhan… perjalanan pun ditempuh dalam waktu 45 menit saja karena jalan menuju Tokyo sangat lebar dan sepi hehe.

Sesampainya di hotel, setelah check-in, kami pun bertemu dengan pemandu kami, seorang japanese yang sudah 13 tahun bekerja di perusahaan Pertamina di Tokyo..namanya Yashida-san. Orangnya baik sekali dan sangat ramah. Bahasa Indonesianya pun lancar sekali. Karena agendanya besok pagi, maka siang/sore itu kami diajak pergi ke Ginza untuk minum kopi dan melihat-lihat Tokyo…

Sebelum ke Ginza, kami memutuskan untuk makan siang dulu.. Yashida-san membawa kami ke subway Hamamatsu-Cho untuk menikmati hawker food atau warteg ala Jepang. beliau sudah tahu bahwa sebagian besar rombongan kami adalah muslim dan mencarikan makanan yang sebisa mungkin menghindari daging babi dan darah.

1902726_10201791319409390_492859309_n

Ada yang unik di subway food stall di salah satu stasiun di Tokyo… Semuanya memajang berbagai macam replika makanan yang bernama sampuru (sample), sebuah replika dari resin dan diberi sentuhan art sehingga menambah selera orang yang melihatnya.

a

Kamipun masuk ke salah satu restoran dan sibuk memilih menu yang semuanya keliatan enak. Namun setiap kami memilih menu, Yashida-san selalu bilang, “jangan, itu ada babi-nya”… akhirnya daripada pusing, saya pun memilih beli Omoraisu saja.. Ya omellet rice… nasi telor dadar kalau di Indonesia…

1920597_10201791329889652_136817791_n

Selepas makan, kamipun menuju stasiun Hamamatsu-Cho untuk menuju Ginza… Dari subway kami naik 2 lantai menuju ticket box dan disana terpampang peta JR-Line (Japan Railway), jalur kereta atas tanah yang menghubungkan seluruh Tokyo.. Peta nya kira-kira seperti ini :

TokyoJRMap

Puyeng kan? ini baru kereta atas tanahnya loh.. belum kalau digabung dengan subway nya yang dijamin bikin kepala pusing tujuh keliling hehe. Operator kereta di Tokyo setahu saya ada 4 : JR (Japan Raiway, Toei Subway, Tokyo Metro, Tobu).  Tapi ga perlu bingung karena semua informasi di stasiun sangat sangat jelas. Kita tahu kita berada di mana dan jika mau menuju ke stasiun X, ada informasi yang jelas mengenai tarif dan waktu tempuh.. luar biasa bukan? Di samping itu, ada situs http://world.jorudan.co.jp/norikae/cgi-bin/engkeyin.cgi yang bisa membantu kita memilihkan rute tersingkat dan termurah ke seantero Tokyo.

Seperti di Singapura, di Tokyo juga tersedia vending machine ticket one trip dan juga ticket terusan untuk sekian hari. Karena kami cuma 3 hari di sini, kami pun memutuskan membeli tiket sekali jalan ke Shimbashi, stasiun terdekat dari Hamamatsu-Cho ke Ginza. Tiket nya bentuknya hanya seperti kertas biasa bukan ada chipnya seperti di Singapura. Setelah dapat tiket, saya dan teman kerja saya, sebut saja FY, memulai petualangan sekaligus kebodohan kami di negeri Sakura hehe…

Seperti layaknya orang desa yang baru ke kota, saya tidak paham bagaimana memasukkan tiket ke gate yang ada di depan saya. Saya perhatikan orang Jepang menggunakan tiket kartu dan melakukan tapping di scannernya.. Lah saya yang panik karena banyak orang di belakang saya mencoba men-scan tiket kertas itu, dan hasilnya, gate tidak terbuka.. sampai tiba-tiba saya lihat di sebelah saya ada orang yang memasukkan kertas tersebut ke lubang yang ada di gate.. sayapun melakukan hal yang sama…Gate pun terbuka..

Namun kebodohan tidak sampai disana, ketika gate terbuka, semestinya tiket akan keluar lagi untuk dimasukkan di pintu keluar.. namun karena tadi tidak saya ambil, tiket pun tertelan lagi… Akhirnya, karena panik, saya pun mencoba menghampiri si petugas jaga di sana… Dengan hanya bermodalkan “sumimasen, ticketo wa…” ditambah sedikit gesture ala tarzan, si petugas sepertinya mengerti dan langsung menutup counternya… dia kemudian mengambil kunci dan membuka salah satu gate dan mengambilkan tiket saya.. Duh malunya hehe.. Setelah itu, saya baru sadar bahwa saya ditinggal oleh rombongan hehe…

1175703_10201791380090907_1236216533_n

Tiba di Shimbashi, saya dan FY pun keluar dari stasiun dan takjub melihat pemandangan Ginza, sebuah distrik high class yang konon memiliki harga properti termahal di Jepang dan salah satu yang termahal di dunia.. Ginza ini identik dengan elektronik karena di sana ada banyak raksasa Jepang seperti Sony dan Toshiba..

Sepanjang mata memandang, isinya hanya toko-toko dan toko… cuaca dingin menusuk kulit dan disertai gerimis dan angin yang dinginnya semriwing.. kami pun masuk ke salah satu toko, seingat saya Uniqlo hanya untuk menghangatkan badan hehe…

b

c

Entah mengapa, ketika masuk ke UNIQLO, kami bertemu kembali dengan rombongan kami yang memang sedang mencari kehangatan juga hehe… Dari sana kita pun menuju kedai kopi untuk menikmati kopi hangat dan croissant ditraktir oleh Yashida-san…

Hari sudah sore dan kamipun kembali ke Hotel untuk istirahat.. Kamar saya ada di lantai 15, dan view nya memang Teluk Tokyo.. tapi karena mendung, ya pemandangannya hanya sebatas ini saja…

e

Setelah mandi dan beristirahat sejenak, saya dan FY memutuskan untuk ngebolang ke Shibuya dan naik ke Tokyo Tower hehe….

f

Dari hotel, kami menuju stasiun Hamamatsu-Cho dan mengambil rute Yamanote Line ke arah Shibuya.. ada apa sih di Shibuya? Ya ingin ke sana aja mengingat tempatnya sering muncul di film-film dan anime Jepang hehe. Hujan cukup lumayan dan di sana kami pun membeli payung transparan khas Jepang seharga JYP 300 (40.000 IDR)

g

Di Shibuya memang yang paling terkenal adalah crossing street dan patung Hachiko nya. Tapi sayang sekali karena hari hujan, kamipun agak malas mengambil foto kenang-kenangan di sana hehe. Di Shibuya juga banyak love hotel, short time hotel untuk pasangan yang ingin memadu kasih hehe.. Setelah puas melihat-lihat, kami pun segera menuju Tokyo Tower…

Untuk menuju Tokyo Tower, kami menggunakan subway yaitu Mita Line dan turun di stasiun Onarimon.. dari sana masih harus jalan kaki sejauh 1 km menyusuri taman dan hutan kota hehe.. agak menyeramkan sih rute nya karena sepi dan gelap.. tapi dari kejauhan, menara berwarna jingga yang menyala ini sangat menakjubkan…

h

Tak lupa berfoto dulu dengan mbak-mbak penjaga counter nya hehe.. tiket masuknya seingat saya sekitar 1320 JYP atau sekitar 150.000 IDR untuk sampai di puncak tertingginya.. Naik ke sana menggunakan lift dan pemandangan dari atas adalah Tokyo 360 derajat!

i

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, kami pun kembali ke hotel karena besok akan dimulai perjalanan dinas yang sebenarnya…

Bersambung…

 

Singapore Trip 2014 (Part 5 : Final)

Rupanya sudah 2 tahun saya tidak menulis di blog ini. Mungkin karena pengaruh kesibukan saya di departement yang baru yang mengharuskan saya lebih banyak bekerja di luar jam kerja hehe.

Anyway, kisah ke Singapura akan saya tutup di bagian ini. Pada tanggal 13 Februari 2014, tepatnya sehari sebelum hari kepulangan saya, Gunung kelud meletus dan abu vulkaniknya menyebar ke seluruh pulau Jawa. Akibatnya seluruh bandar (kecuali Cengkareng) ditutup sampai waktu yang tidak ditentukan.

1

Sempat was-was karena takut tidak bisa pulang, saya mencoba menenangkan diri dan beranggapan bahwa mungkin saja bandara Bandung hanya tutup sehari saja. Besok nya, agenda terakhir kami di Singapura tetap harus terlaksana yaitu menonton Singapore AirShow 2014 hehe.

singapore-airshow-2014-logo

Singapore Airshow adalah ajang kedirgantaraan 2 tahunan yang diselenggarakan pemerintah Singapura untuk menampilkan teknologi-teknologi dirgantara seperti pesawat, militer, dan drone. Sebenarnya pada Singapore Airshow ini yang ditunggu-tunggu adalah parade pesawat yang membelah langit singapura termasuk parade pasukan TNI AU Indonesia.

Pukul 06.30 waktu setempat, kami sudah check-out dan menitipkan barang di hostel tempat kami menginap. Pesawat ke Bandung yang akan kami naiki nanti berangkat pukul 16.00 waktu setempat, jadi ya masih cukup waktu untuk setengah hari mengikuti Singapore Airshow. Dari Chinatown kami naik MRT ke area EXPO (dekat Changi). Di sana, terdapat hall untuk pemeriksaan tiket dan barang bawaan. Namun, rupanya bukan disitu tempatnya, tapi darisana kita harus naik bus (gratis) lagi yang membawa kita ke area pameran di Changi Airport, kira-kira 15 menit perjalanan.

65423_10201764994271278_675920389_n

Sesampainya di sana, sudah banyak orang berkumpul padahal hari masih menunjukkan pukul 08.00 dan sejauh mata memandang, banyak pesawat militer berbagai model dan ukuran yang dipajang di areal yang memang khusus untuk pameran ini. Beberapa di antaranya memang diperuntukkan untuk dinaiki dan bisa difoto di dalamnya, hanya saja untuk dapat giliran difoto, antrinya luar biasa panjang hehe.

Kami pun cuma berfoto di depan beberapa pesawat dan helikopter saja karena malas mengantri. Lumayan lah bisa foto di dalam U.S Air Force

a.jpg

b.jpg

Sekitar pukul 11.00, parade pesawat tempur pun dimulai. Di langit bergemuruh suara pesawat-pesawat tempur yang menampilkan aksi-aksi akrobatik. Dari mulai pesawat sekelas F-16 hingga tim aerobatik Indonesia yang menggunakan pesawat propeller pun ada. Durasi akrobatik sekitar 20 menit, karena semua orang fokus terhadap apa yang terjadi di langit, sepertinya tidak ada yang sempat meliput pemandangan tersebut hehe.

Selepas akrobatik sesi-1, perut pun sudah mulai lapar. Kebetulan disana ada stand makanan yang cukup enak. Saya pun memesan semangkok Laksa Singapore yang didalamnya ada crayfish yang cukup besar. Porsinya pun lumayan besar dengan harga SGD 10.

1798078_10201765028432132_2139581351_n

Setelah makan siang, kami pun beranjak ke lokasi pameran indoor nya. Disana terdapat banyak perusahaan dirgantara dunia yang memamerkan teknologi-teknologi terbaru ciptaan mereka. Dari mulai pemain besar seperti Boeing, Airbus, Bombardier, hingga AirNav dan PTDI dari Indonesia ikut ambil bagian hehe. Tak ketinggalan maskapai-maskapai penerbangan dunia seperti SQ, Lufthansa, Cathay, JAL, Korean Air, hingga Garuda pun ada di sana.

d.jpgc.jpg

Waktu telah menunjukkan pukul 13.00, sudah tinggal 3 jam menuju keberangkatan pesawat yang akan membawa kami pulang ke Bandung. Kamipun bergegas keluar dari Exhibition Hall Changi dan naik bis yang membawa kami kembali ke Expo. Dari sana, naik MRT ke Chinatown untuk mengambil barang yang dititipkan di Hostel. Sekitar pukul 13.30 kami tiba di Chinatown dan bergegas kembali ke Changi Airport. Pukul 14.00 tiba di Changi dan langsung menuju desk Air Asia untuk Check-In.

Namun apa daya, ketika tiba disana, tertulis semua keberangkatan ke kota lain di Indonesia selain Jakarta cancelled masih karena efek Gunung Kelud. Artinya tidak ada lagi yang bisa dilakukan karena penerbangan ke Jakarta pun penuh. Semua orang mengeluh, marah, dan frustrasi namun semua tidak bisa mengubah keadaan.

kamipun hampir memutuskan untuk menginap di Bandara namun mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya kami kembali ke hostel dan memutuskan untuk menginap 1 malam lagi. Malam itu kami tidak kemana-mana karena sudah terlalu lelah. Hanya berbaring di hostel dan menunggu pagi datang.

Esok paginya pukul 06.00 kami bergegas menuju Changi. Berharap kali ini bandara Bandung sudah dibuka dan pesawat sudah bisa diterbangkan kembali. Pukul 07.00 check-in di Changi belum juga memberi kepastian akan jadwal hari ini. Hingga tengah hari berlalu, semuanya mulai frustrasi. Namun sekitar pukul 14.00 akhirnya kabar gembira yang dinantikan pun tiba. Flight ke Bandung yang tertunda kemarin akhirnya diizinkan terbang. Kamipun pulang dan meninggalkan Singapura dengan perasaan lega dan puas…..