Pagi hari yang mendung, hari ini adalah agenda utama dari business trip saya, yaitu mengunjungi terminal LNG di Negishi dan di Showa. Berhubung masih di pengujung musim dingin, cuaca Tokyo kala itu sekitar 6-8 degC namun matahari bersinar cukup cerah di siang harinya.
Setelah sarapan dan berpakaian rapi, kami pun pergi menuju terminal Negishi di daerah Yokohama, kurang lebih 30 km dari Tokyo dengan menggunakan bus. Sepanjang perjalanan hanya terlihat kawasan industri, pelabuhan, terminal peti kemas, dll. Tour guide kami, Yashida-san menjelaskan dengan rinci pemandangan yang ada di kanan dan kiri kami.
Tibalah kami di Negishi Terminal, stasiun penerimaan LNG dari seller-seller LNG Jepang salah satunya LNG dari Bontang. Terminal ini adalah terminal pengumpul LNG dan regasification untuk disalurkan menuju saluran gas kota / pembangkit listrik. Setelah mendengarkan penjelasan yang cukup rinci dari Manager Operation di sana, dan dilanjutkan dengan tanya jawab, kami pun diajak keliling plant dan terminal namun hanya dari atas bus saja.

Nyaris hanya segelintir orang saja yang nampak di sana. Fokus pengamatan kami adalah terminal pengisian LNG untuk truk (lorry) yang memang rencananya akan diadaptasi untuk diterapkan di Bontang dan Arun (Indonesia). Kamipun sempat menyaksikan demo LNG dari salah satu karyawati Tokyo Gas di sana.

Dari sana, perjalanan dilanjutkan menuju Showa Satellite LNG Terminal, sebuah terminal penerimaan LNG dari lorry yang letaknya 120 km dari Negishi. Perjalanan ditempuh dalam waktu 2 jam, oleh karena itu kami makan siang dengan sandwich di dalam bus. Karena Showa letaknya di rural area, maka pemandangan yang saya lihat pun sedikit banyak persis dengan apa yang sering tergambar dalam anime-anime Jepang seperti Doraemon dll. Dari mulai lapangan dengan jembatan dan sungai yang mengalir jernih, bentuk-bentuk rumah khas Jepang yang mungil, dll.

Sesampainya di Showa LNG Terminal, kami pun menyaksikan presentasi yang disampaikan Manager Operasi di sana. Ada kejadian unik ketika di tengah presentasi tiba-tiba kursi yang saya duduki bergetar, awalnya saya pikir teman saya di belakang saya yang usil, namun rupanya ada gempa kecil kala itu,mungkin karena sudah biasa, orang Jepang yang ada di sana pun nampaknya santai saja hehe.
Setelah pemaparan, kamipun diajak keliling terminal penerimaan LNG yang mungil tersebut. Meskipun mentari bersinar terik, namun suhu nya 8 derajat aja loh hehe.

Kami pun pulang sekitar pukul 15.00 waktu setempat, Yashida-san bilang kalau perjalanan pulang bisa memakan waktu 3 jam karena ada kemungkinan macet. Wah bisa macet juga ya di Jepang hehe. Benar saja, pukul 18.00 waktu setempat, kami pun tiba kembali di Tokyo. Ketua rombongan mengatakan setelah ini adalah acara bebas, artinya saya akan kembali berpetualang di Tokyo hehe.
Pukul 19.00, saya mengajak teman saya FY untuk bergegas karena rencananya hari ini kami akan ke Asakusa dan Akihabara. Ke Asakusa ceritanya mencari oleh-oleh dan ke Akihabara karena ya disini lah konon berkumpulna para otaku di Japan hehe.
Sialnya ketika tiba di Asakusa, rupanya toko suvenirnya sudah tutup karena hanya buka hingga pukul 17.00, ya sudah daripada mubazir, saya pun mengabadikan momen di Kaminari-mon, Gerbang Petir, khas Asakusa.

Karena belum sempat makan malam, kami pun mencari restoran cepat saji terdekat. Oia, selama di Jepang, saya dan rekan saya ini selalu makan malam makanan cepat saji karena memang bingung memilih makanan yang “halal” meskipun makan di cepat saji dan memesan ayam pun hampir dipastikan tidak halal dan sesuai syariah. Tapi ya gimana lagi, daripada mesen daging babi, hehe. Contohnya ini, kami makan di McD dan memesan chicken burger namun tetap mendapat Bacon Topping yang (sepertinya) lezat hehe

Setelah (cukup) kenyang, perjalanan pun dilanjutkan ke Akiba. Dengan menggunakan subway, kami pun tiba di Akiba. Keluar dari stasiun subway, rupanya sudah disambut oleh 2 cafe yang sedang digilai anak-anak muda di Indonesia.

Karena masih cupu, kami pun memutuskan untuk tidak masuk ke dalam karena bingung juga masuk ke dalam terus ngapain ya hehe. Akhrinya setelah berfoto, kami pun hanya mengikuti langkah kaki dan meng-eksplor Akihabara.

Suhu menunjukkan angka 2 degC, ketika mau mengambil foto, saya harus melepas sarung tangan, baru beberapa detik saja dilepas, tiba-tiba tangan saya mati rasa saking dinginnya hehe. Sepanjang mata memandang, Akihabara terdiri dari toko mainan (baik Gundam, action figure, bahkan sex toys), toko elektronik baik menjual console maupun TV, dan juga maid cafe (cafe dengan pelayan gadis muda berpakaian ala maid eropa) dan tempat-tempat hiburan esek-esek (seperti tidur dipangkuan cewe, panti pijat, karaoke mesum) yang semuanya dijaga oleh om-om berpakaian jas lengkap!
Ada kejadian super unik ketika saya dan teman saya memutuskan untuk mencoba masuk ke dalam salah satu Adult Shop berlantai 6 yang ada di sini. Kami berdiri di depan pintu cukup lama entah pergumulan batin atau memang terlalu cupu untuk masuk hingga akhirnya salah satu pemuda lokal menepuk pundak kami dan menyuruh kami masuk karena menghalangi jalan wkwk. Di dalamnya sulit diekspresikan dengan kata-kata, semua kebutuhan esek-esek ada di sana, di setiap lantai menyajikan benda-benda berbeda, dari mulai DVD, costum play (cosplay), sex toys, dan aneka barang-barang fetish yang saya sendiri nggak tahu gunannya untuk apa 😛
Setelah sekitar 10 menit kami menjelajah, akhirnya kami pun keluar dengan muka yang cukup merah wkwkwk. Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 malam waktu setempat, kami pun bergegas pulang karena besok pagi masih ada agenda inti hehe.

Oia, meskipun sudah pukul 11.30 malam, namun suasana di stasiun kereta Tokyo tidak pernah sepi, saya sendiri bingung sampai kapan kereta terakhir melayani penumpang. Mungkin sekitar pukul 1 dini hari.
Bersambung ke part 3 (final)






















