Hong Kong Trip 2018 Part 1

Agak terlambat sebetulnya, tapi saya coba share sedikit pengalaman jalan-jalan dengan keluarga ke negara/kota yang terkenal sebagai surga belanja orang-orang Indonesia yaitu Hong Kong.

Ini merupakan pengalaman kedua saya ke Hong Kong. Sebelumnya, di tahun 2014, saya pernah ke sini dalam rangka tugas perusahaan. Negara atau teritorial administratif Hong Kong terletak di selatan negara Tiongkok. Hong Kong (HK) terdiri dari 2 area yaitu Kowloon yang berbatasan langsung dengan Tiongkok dan Hong Kong Island yang dipisahkan oleh laut/selat sekitar 1 kilometer jaraknya.

Awalnya sebelum memutuskan pergi ke HK hanya impulsif saja dari pencarian tiket-tiket murah di traveloka. Di bulan Desember 2017, saya iseng melakukan pencarian ke negara non-visa untuk jatah cuti di tahun 2018, begitu mencari HK, saya lihat tiketnya sedang promo luar biasa. Malindo Air, perusahaan patungan antara Lion dengan perusahaan Malaysia, menawarkan tiket super murah karena dia baru buka rute dari KL ke HK. Harganya hanya IDR 3,7 juta saja untuk sekali jalan untuk 3 dewasa dan 1 anak >2 tahun. Kalau dibagi rata, per orang hanya 900rb saja! Lebih murah dari penerbangan Bandung-Balikpapan hehe.

Tiket 1 kali jalan ke HK pakai Malindo Air untuk 3 dewasa dan 1 anak (transit KL)

Pulangnya, saya menggunakan Scoot (anak nya Singapore Airlines) karena berencana mampir Singapore dulu mengunjungi saudara di sana. Namun harga tiket 1 kali jalan dari HK ke SG jauh lebih mahal dari tiket Jakarta-HK via KL hehe.

HK membebaskan visa untuk turis asal Indonesia selama waktu kunjungan maksimum 15 hari. Jadi memang negara ini “surga” nya bagi orang Indo yang hobi belanja. Saya berangkat bersama istri, anak, dan ibu. Di hari keberangkatan kami terbang pukul 5.30 WIB pagi menuju KL. Sampai di KL kira-kira pukul 8.30 waktu setempat dan melanjutkan terbang ke HK pukul 10.00 waktu setempat. Perjalanan dari KL ke HK memakan waktu 3 jam. Karena Malindo ini termasuk full service airline, jadi di pesawat akan mendapatkan makanan dan terdapat inflight entertainment yang cukup menarik. Mirip Batik Air dan Garuda lah hehe

Bagian dalam Malindo Air (credit to Vkeong.com)

Pesawat yang digunakan adalah Boeing 737-900ER bukan pesawat berbadan lebar seperti Cathay atau Garuda dari Jakarta. Dan hebatnya lagi, karena rute KUL-HKG ini baru buka beberapa hari, di pesawat kosong dong. Paling hanya 50% aja bangku terisi. Malah, sebagian besar penumpang pindah ke kursi kosong dan tiduran di sana hehe.

Karena waktu itu bulan Februari 2018, HK sedang memasuki musim dingin (late winter) dan menurut google, suhu rata-rata di sana sekitar 11-15 derajat Celcius. Cukup dingin dan awalnya karena saya merasa HK lebih dekat ke khatulistiwa, saya dan istri memutuskan untuk tidak membawa long john dan hanya bawa 1 jaket tebal/coat. Dan keputusan ini ternyata salah besar hehe.

Bandara HK International Airport (HKG) terletak di Chek Lap Kok island, sebuah pulau reklamasi yang luas sekali dan hanya dipakai untuk bandara saja. HKG adalah hub untuk Cathay Pacific dan anaknya (Dragon Air). Terminalnya hanya 2 saja (T1 dan T2) namun besar sekali. Kalau naik maskapai dari Indonesia dan negara Asia Tenggara, biasanya diturunkan di T2.

Pulau Reklamasi HK International Airport

Nah, ada 1 yang berbeda kalau kita datang di HK. Paspor kita rupanya ngga di-cap sama imigrasi, hanya diberi selembar kertas kecil saja sebagai bukti Visa on Arrival selama 15 hari. Kertas kecil itu yang akan diambil lagi ketika meninggalkan HK. Jadi ngga akan ada cap di paspor kita untuk jadi bukti kalau kita ke HK hehe.

Nah, tips untuk yang bepergian ke HK, lebih baik di bandara, sewa saja yang namanya Octopus Card. Octopus Card ini semacam e-money atau MRT card nya Singapore. Kartu cash-less khusus untuk naik semua transportasi publik di HK, dari mulai MTR, bus, tram, dan ferry. Untuk sewa kartu ini, kita bisa lakukan di counter yang terletak pas di terminal kedatangan (setelah keluar dari pengambilan bagasi dan custom). Pada dasarnya, kartu Octopus ini adalah sewa. Saya sarankan pilih saja yang Standard Octopus Card (tanpa nama). Jadi dengan membayar HKD 150, kita melakukan deposit 50 HKD, dan mendapat initial value HKD 100. Nah, waktu kita meninggalkan HK, kartu ini bisa diuangkan kembali di counter di terminal keberangkatan atau di stasiun MTR di bandara HKG. Jadi 50 HKD nya bisa kembali plus sisa uang di dalamnya. Untuk pengisian/recharge nya bisa dilakukan di semua stasiun MTR. Gampang saja, bisa ke counter atau ke mesin otomatis seperti di Singapura. Penjelasan lebih rinci tentang Octopus Card bisa dilihat di sini. Octopus Card ini ada paket-paketnya seperti Airport Express atau Tourist day Pass. Tapi saya waktu itu tidak beli paket-paketan itu karena tujuan nya ke banyak tempat sehingga memutuskan beli yang Ordinary Pass saja.

Octopus Card Standard. Tidak ada nama dan nanti bisa diuangkan kembali ketika meninggalkan HK

Nah, transportasi umum dari HKG ke kota, baik ke Kowloon maupun ke HK Island bisa dilakukan dengan 2 cara, yang pertama naik MTR HKG Express menuju Kowloon Station seharga HKD 110 sekali jalan (HKD 205 p.p.). Dari Kowloon station kita naik MTR lain menuju HK Island kalau destinasinya ke HK Island. MTR ini terhitung mahal tapi cepat karena dia express dan hanya berhenti di stasiun tertentu saja. Ada alternatif yang lebih murah yang saya ambil yaitu dengan menggunakan Airport Bus (CitiFlyer). Airport Bus ini ada di Ground Transportation Center antara T2 dan T1. Bus nya berwarna merah kuning dan 2 tingkat.

CityFlyer Bus dari HKG ke Kota

Karena bus nya ada beberapa jenis trayek, sebelum memutuskan naik baiknya baca peta rute nya dulu di sini. Kalau saya waktu itu karena menginap di daerah Wanchai, jadi naik bus dengan nomor A11. Perlu diingat, semua bus di HK itu masuk lewat pintu depan dan keluar lewat pintu tengah, beda dengan di Singapura. Ketika masuk lewat pintu depan, kita melakukan tapping kartu Octopus atau membayar tunai. Jadi ketika turun tinggal langsung turun saja. Tarif nya sudah ditentukan di awal dan flat. Oia, tarif bus A11 ini harganya HKD 40 sekali jalan menuju Wanchai, waktu tempuhnya sekitar 45 menit. Koper/bagasi diletakkan di bagian tengah dari bus, dia punya tempat semacam kompartemen besar untuk meletakkan koper ukuran besar. Kalau sudah penuh, koper bisa digeletakkan saja di lantai kosong tapi harus dalam posisi tidur supaya nggak jalan hehe.

Rute CitiFlyer dari dan menuju HKG Airport

Keuntungan naik bus adalah, sepanjang perjalanan kita bisa menikmati pemandangan menuju kota. Dari mulai jembatan yang menghubungkan pulau-pulau buatan di HK dan jembatan dari Kowloon menuju HK Island. Lebih menarik dari naik MTR yang sebagian besar jalurnya subway.

20180204_170305.jpgSalah satu pemandangan dari dalam bus

Penduduk HK bahasa sehari-harinya sebetulnya Bahasa Inggris, namun mereka juga pakai Bahasa Kanton (Cantonese). Aksen bahasa Inggrisnya menurut saya lebih mudah dipahami daripada aksen Singlish nya Singapura hehe. Di HK ada sekitar 200-an ribu TKI asal Indonesia dan sebagain besar terkonsentrasi di HK Island. Jadi jangan heran di sudut-sudut kota kita bisa ketemu dengan mbak-mbak yang menggunakan Bahasa Jawa hehe. Tapi mereka juga lancar Cantonese karena rata-rata sudah kerja lebih dari 5 tahun lho.

Selama tinggal di HK, saya memutuskan untuk menggunakan jasa AirBnB. Sebuah start-up online platform yang menyediakan jasa penyewaan properti, baik kamar saja, maupun satu apartmen/rumah. Ini pertama kalinya saya menggunakan AirBnB di luar negeri karena sebelumnya hanya menggunakan jasanya waktu jalan-jalan ke Malang dan BSD hehe.

Tips dalam memilih AirBnB adalah menggunakan fitur filtering. Kita bisa memfilter mau menggunakan properti tipe apa (shared room, private room, atau whole apartment/house). Selain itu bisa di-filter dari sisi range harga, jumlah kamar, fasilitas, dan yang terpenting saya selalu men-check “Superhost” yaitu host/pemilik dengan review dan feedback paling baik.

Setelah melakukan filtering, saya memutuskan menginap di daerah Wanchai, salah satu daerah utama di HK Island. Saya pilih Wanchai karena dekat dengan stasiun MTR, dekat dengan jalur tram dan dekat dengan Islamic Center dimana saya bisa makan makanan halal hehe. Karena kami berempat (3 dewasa dan 1 anak) maka saya putuskan menyewa whole apartment.

HK adalah salah satu kota/negara dengan penduduk terpadat di dunia. Harga properti di sana juga sangat mahal sekali. Jadi jangan bayangkan 1 apartemen itu luasnya sama kayak apartemen di Indonesia. Untuk apartemen yang saya sewa senilai Rp 1 juta per malam, dia hanya punya 1 kamar tidur private, 1 kasur yang terletak di ruang tengah, dan 1 sofa bed. Selain itu ada dapur, 1 kamar mandi, dan meja makan yang terletak di depan pintu. Jadi begitu buka pintu, literally langsung menuju ruang makan dan kasur! hehe. Menyewa apartemen via AirBnB untuk 3 orang dewasa jauh lebih murah daripada menyewa 2 kamar hotel yang harga per malamnya untuk hotel paling sederhana dan layak bisa mencapai 800rb sampai 1 juta rupiah. Bedanya ya di AirBnB ini kita ngga dapat sarapan. Makan masak sendiri, nyuci baju sendiri, cuci piring sendiri, dll hehe.

Apartemen yang saya tempati di Wanchai, luasnya mungkin kurang dari 20 meter persegi

Daerah neighborhood di sekitar apartemen ini menurut saya bagus juga. Karena HK merupakan daerah terpadat di dunia, maka sejauh mata memandang ya isinya komplek apartemen super padat, orang lalu lalang, jalanan sempit, mobil mewah masuk gang (serius), dan banyak 7-Eleven. Oia, yang punya apartemen ini orang HK asli, tapi dia punya asisten orang Indonesia (asal Surabaya) yang sudah kerja di HK selama 15 tahun. Kami janjian di depan apartemen untuk serah terima kunci. Mbaknya yang fasih cantonese ini sebelum masuk ke apartemen, dia lapor dulu ke security gedung bahwa kami akan menginap selama 4 malam di sana.

Daerah di sekitar apartemen yang saya tinggali selama di Wanchai

Oia, kalau niat, sebetulnya kita bisa melakukan survey virtual via google street view. Biasanya AirBnB menutup lokasi tepatnya properti tersebut, tapi dengan berbekal foto-foto dari host dan google street view, kita sebetulnya sudah bisa nebak di mana letak apartemennya.

Apartemen yang saya tinggali ini dekat sekali dengan pasar tradisional Wanchai Market. Di sana terdapat banyak pilihan sayuran, ikan, telur, dan makanan dan bumbu asal Indonesia seperti Indomie (sudah pasti), kecap, sambal ABC, dll. Oia, setiap berpergian ke luar negeri, saya biasanya membawa bekal darurat seperti Mie Gelas, Pop Mie atau Indomie goreng. Namun karena dekat dengan pasar, jadinya kami memutuskan sebisa mungkin memasak yang ada saja seperti telur, ikan, dan sayuran untuk pelengkap makan mie hehe. Juga buah-buahan seperti pisang dan jeruk.

Wanchai market, pasar tradisional yang menjual semua barang kebutuhan pokok

Di bagian sebelumnya, sempat saya bilang bahwa menginap di Wanchai salah satu alasannya adalah dekat sumber makan halal yaitu Islamic Center. Letaknya cuma 5 menit jalan kaki dari Apartemen yang saya tinggali. Seperti namanya, Islamic Center adalah masjid dengan pusat kajian Islam di HK. Karena ada ratusan ribu umat muslim di HK yang berasal dari Indonesia dan Malaysia, keberadaan Islamic Center ini menjadi penting bagi umat Islam di sana.

Bagian depan Islamic Center

Di Islamic Center ini ada kantin yang cukup besar yang menyediakan makanan halal, menu yang khas dari Islamic Center HK adalah dimsum nya.

Dimsum halal khas kantin Islamic Center HK (credit havehalalwilltravel.com)

Selain dimsum, di sini juga menyediakan menu lain seperti nasi goreng, sayuran, ayam, daging sapi, sea food, dll. Range menu nya 1 porsi sekitar 100-150 HKD atau kalau di rupiahkan sekitar 170-200rb rupiah. Untuk menu dimsum nya harga per piring/porsi nya sekitar 13-20 HKD atau 25-35 ribu rupiah. Cukup mahal yah? hehe. Makanya setiap hari, saya 1 kali saja makan di sini kalau ngga, kantong bisa jebol haha.

Oia, hal menarik dari kantin Islamic Center HK ini, waktu kami pertama ke sana agak nyasar karena google map menunjukkan arah melalui pintu belakang gedung. Waktu kami celingak-celinguk, tiba-tiba ada 2 mbak-mbak berbahasa jawa yang sedang ngobrol sambil jalan. Refleks lah kami tanya ke mereka dan langsung diberi tahu bahwa kami sudah ada di pintu belakang gedung nya. Kemudian kantin nya sendiri buka dari pukul 10.00 sampai pukul 21.00. Namun khusus menu dimsum, mereka hanya ada sampai pukul 3 sore saja. Kemudian koki dan pelayannya adalah orang lokal, namun karena policy di sini strict, mereka tidak diperkenankan merokok dan membawa makanan non-halal selama berada di area Islamic Center. Jadi sudah dipastikan 100% aman lah hehe. Rekomendasi dimsum favorit di kantin Islamic Center bisa dilihat di sini.

Mata uang Hong Kong adalah Hong Kong Dollar (HKD). Saran saya, mending tukar uangnya ketika masih di Indonesia saja supaya tidak rugi kurs ketika di sana. Biasanya rate di HK lebih tinggi. Hindari menukar kurs di Bandara karena biayanya mahal. Uang HKD kertas terdiri dari 10 sampai 1000 HKD. Uniknya, mereka mencantumkan logo Standard Chartered di uangnya. Mungkin karena StandChart yang mencetak duitnya kali yah? hehe. Nilai tukar waktu saya ke sana bulan Februari sekitar Rp 1,700-an per 1 HKD.

Karena HK adalah negara 4 musim yang sangat dekat dengan wilayah tropis, jadi musim dingin di sini tidak akan pernah ada salju dan suhunya masih di atas suhu rata-rata musim dingin negara subtropis. Begitupun saat musim panas, suhu nya masih di bawah suhu rata-rata musim panas negara subtropis. Jadi sebelum pergi, baiknya melihat kondisi cuaca terkini via google weather supaya nggak salah kostum.

Transportasi umum di HK sebetulnya ada banyak pilihan, dari mulai yang super hemat seperti tram, yang cepat seperti bus dan MTR, sampai transportasi penyebrangan dari Kowloon ke HK Island dan sebaliknya yaitu Ferry. Saya bahas satu persatu ya.

1. Tram

Tram adalah salah satu transportasi tertuan di HK. Sudah ada sejak 100 tahun yang lalu dan bentuknya masih dipertahankan hingga kini. Tram hanya ada di HK Island dan disebut juga “ding ding” tram, mungkin karena suara nya yang mirip lonceng. Tram memiliki jalur “rel” yang jadi satu dengan jalur mobil. Tram di HK membentang dari ujung barat (Kennedy Town) ke ujung timur pulau HK yaitu di Shau Kei Wan. Pada dasarnya semua tram rute nya sama, hanya ada yang belok ke selatan dan ke utara sedikit, tapi mereka seluruhnya melewati tempat tujuan wisata favorit di HK Island seperti Central, Wan Chai, Admiralty, Causeway Bay dan North Point.

3.jpg

Tram berjalan dengan kecepatan rendah, mungkin sekitar 15-20 km/jam saja, dan berjenis double decker. Rute tujuan tram terletak di bagian kaca depan. Seluruh badan tram biasanya ditempeli sponsor atau iklan dan berwarna-warni. Karena HK sangat padat dan tram jalurnya jadi satu dengan mobil dan kendaraan lain, jadi kesannya sangat paciweuh atau njlimet sekali di jalan itu.

1.jpg

Tram menurunkan dan menaikkan penumpang di halte. Yang perlu diingat, naik tram harus melalui pintu belakang dan turun melalui pintu depan. Berbeda dengan bus yang kita bahas sebelumnya. Lorong tram sangat sempit, jadi tidak cocok untuk digunakan kalau kita membawa barang seperti koper. Kalau memang berniat naik tram untuk sekedar sight-seeing, silakan saja naik ke bagian atas dan duduk di pintu paling depan. Tram ini kacanya bisa dibuka sampai full jadi sangat cocok untuk menikmati kepadatan Hong Kong haha.

HK_Tram_tour_view_interior_Central.JPG

Ketika naik melalui pintu depan, kita tidak perlu membayar, namun ketika turun lewat pintu depan, kita harus membayar melalui 2 cara : pakai tunai dan menggunakan octopus card. Tarif tram berlaku flat, dulu waktu saya ke sana harganya masih 2.2 HKD per trip, namun sekarang nampaknya sudah 2.6 HKD atau sekitar IDR 5,000. Tapi masih murah untuk hitungan HK. Jangan lupa, kalau bayar pakai cash, dia tidak menyediakan kembalian, jadi harap bayar dengan uang pas hehe.

2.jpg

2. Bus

Nah, karena tram hanya ada di HK Island saja, sedangkan kalau kita mau bepergian dari HK Island ke Kowloon atau sebaliknya, maka transportasi termurah adalah menggunakan City Bus. Bus di HK ada banyak seperti di Singapura. Salah satu yang armadanya terbanyakan adalah bus NWFB (New World First Bus). Rute nya banyak dan luas sekali. Sebelum naik bus, ada baiknya mengecek rute nya melalui google map dan memvalidasi ketika tiba di halte nya.

4.jpg

Seperti yang saya bilang di atas, naik bus di HK masuk melalui pintu depan dan langsung tapping octopus card atau bayar tunai. Tarif nya flat dan berkisar antara 4 HKD sampai 46 HKD tergantung trayeknya. Fare nya bisa dilihat ketika di halte. Bus nya seperti bu di Singapura jadi sudah pasti nyaman. Bus nya juga beroperasi hingga tengah malam. Selain bus besar, di HK juga banyak minibus untuk rute-rute tertentu. Bentuknya mirip elf  kalau di Bandung hehe.

5.jpg

3. MTR

MTR atau Mass Transit Railway adalah transportasi populer di HK. Rute nya menjangkau seluruh area padat populasi di HK. Karena HK sudah sangat padat, seluruh jalur MTR terletak di subway kecuali MTR ke arah bandara dan Ngong Ping hehe. Jadi sepanjang perjalanan ya hanya gelap saja di jendela.

6.jpg

MTR kebanyakan terkonsentrasi di Kowloon karena memang area ini sangat padat penduduk. Terlebih karena di HK Island sudah ada tram jadi mungkin kebijakannya hanya ada 2 sampai 3 jalur MTR saja di sana. Stasiun MTR dapat dengan mudah dikenali dari luar karena terdapat logo MTR yang khas (huruf M dua sisi saling bertolakbelakang).

7.JPG

Untuk naik MTR, metode pembayarannya ada 2. Kita bisa membeli single trip ticket melalui vending machine. Jadi tentukan dulu rute tujuannya lalu nanti bayar dengan cash dan mendapat temporary tiket berupa kertas yang harus dimasukkan ke dalam gate check-in di stasiun. Atau paling praktis dengan Octopus Card seperti yang sudah pernah saya bahas. Pembelian single trip ataupun recharge Octopus Card bisa dilakukan di semua stasiun sebelum masuk gate. Semua nya dilengkapi dengan pilihan menu English jadi nggak usah takut hehe.

8.jpg

Di dalam MTR sangat nyaman dan bersih, mirip-mirip lah dengan Singapura dan Tokyo. Namun, pada saat jam sibuk/peak hour, MTR bisa berubah menjadi horor karena saking padatnya. Jadi usahakan hindari naik MTR pada saat jam sibuk ya. Untuk rincian fare MTR bisa dilihat di sini.

9.jpg

4. Ferry

Ferry merupakan transportasi yang cukup terkenal terutama untuk sight seeing saat menyebrang dari Kowloon ke HK Island atau sebaliknya. Karena biayanya lebih murah dibanding bus dan MTR serta pemandangannya lebih bagus karena melintasi selat HK dengan kecepatan rendah. Selain menyebrang antara Kowloon dan HK Island, ferry juga menyediakan layanan penyebrangan ke Macau, salah satu negara teritori Cina yang bebas visa juga untuk orang Indonesia. Sayangnya, dalam perjalanan kali ini saya tidak ke Macau karena waktu yang terbatas.

Penyedia jasa ferry di HK yang terkenal adalah Star Ferry. Rute penyebrangannya dari Tsim Sha Tsui di Kowloon menuju dua dermaga di HK Island yaitu Central Ferry Pier dan Wanchai Star Ferry Pier.

map.jpg

Sekali jalan kira-kira memakan waktu sekitar 10-15 menit saja, bentuk kapal ferry nya pun sederhana dan memiliki saya tampung sampai 150 orang sekali angkut yang terdiri dari 2 deck, deck atas dan bawah.

star-ferry.jpg

Bagian dalam nya pun sederhana, hanya terdiri dari kursi-kursi kayu panjang dengan sandaran punggung. Tips untuk naik ini, incar kursi sebelah kanan kalau menuju Kowloon dan sebelah kiri kalau menuju HK Island. Ferry nya tidak memiliki kaca jadi harap berhati-hati.

IMG_7323.JPG

Tarif ferry sekali jalan adalah untuk deck atas : HKD 2.7 (hari biasa) dan HKD 3.7 (hari libur), sedangkan untuk deck bawah : HKD 2.2 (hari biasa) dan HKD 3.2 (hari libur). Jika di rupiahkan masih di bawah Rp 8.000 sekali jalan hehe. Murah sekali kan? Selama di HK saya menggunakan star ferry dari Central Terminal untuk menuju Kowloon. Untuk menuju ke sini, jalannya cukup jauh dari pemberhentian MTR dan tram Central, sekitar 10 menit jalan kaki karena harus menyebrang jalan tol.

Di bagian berikutnya akan saya bahas mengenai tempat-tempat yang kami tuju selama di sana.

Bersambung ke bagian 2…