Refleksi dan Resolusi Investasi 2019

Januari sudah memasuki minggu ke-3, sebagai seorang investor yang sedang belajar, saya mau share sedikit mengenai kegiatan investasi di 2018. 2018 adalah tahun yang istimewa karena pertama kalinya saya menceburkan diri ke dunia pasar modal dan surat utang pemerintah setelah 2 tahun sebelumnya hanya “bermain” di Reksadana.

2018 bisa dibilang tahun yang berdarah-darah bagi dunia pasar modal, tidak hanya Indonesia, tapi juga negara lain di seluruh dunia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sepanjang tahun 2018 lalu, sempat dibuat euforia oleh kenaikan harga yang memecahkan all-time record di Rp 6,680 pada bulan Februari, sebelum akhirnya menukik jatuh sepanjang periode setelahnya dan mencapai titik terendahnya di Rp 5,633 pada Juli 2018.

Performa IHSG sepanjang 2018

Pelemahan indeks saham dunia disebabkan karena sentimen negatif sepanjang tahun 2018 akibat perang dagang antara China dan Amerika yang berimbas pada ketidakpastian ekonomi di negara berkembang yang terkena dampak tak langsung termasuk Indonesia. Selain itu, kebijakan The Fed, Bank Central Amerika yang sering menaikkan suku bunga acuan juga menyebabkan return US government bonds menjadi menarik, dan investor asing berbondong-bondong memulangkan aset-aset USD nya di negara berkembang dan menyebabkan USD sangat perkasa di seluruh mata uang global. Bersyukurlah, IHSG masih urutan ke 1 di Asia Tenggara, dan ke 8 di dunia dengan return YTD -2.54%.

Performa Index Saham di Seluruh Dunia Sepanjang 2018. Source: CNBC

Melemahnya bursa saham dunia terutama Indonesia, menyebabkan portofolio investasi saya sepanjang tahun 2018 juga loyo. Karena sebagian besar aset investasi saya ditaruh di Reksadana (RD campuran dan RD saham) serta saham, maka sepanjang tahun ini saya banyak bersabar melihat posisi portofolio investasi yang sepanjang tahun merah darah hehe. Tapi, biarpun portofolio sepanjang 2018 tertekan, sebagai value investor, harus tetap yakin kalau penurunan harga saham atau reksadana pada umumnya hanya bersifat sementara. Selama pilihan saham ada di perusahaan-perusahaan dengan fundamental bagus,pasti harganya akan rebound, cepat atau lambat hehe.

1. Reksadana

Setelah migrasi dari sistem pembelian RD konvensional via Bank Mandiri ke online melalui IPOT, saya mulai melakukan pembelian RD di akhir tahun 2017. Metode menabung RD saya biasanya melakukan dollar cost averaging atau saya beli rutin berkala setiap bulan dengan jumlah yang sama.

Di awal tahun, saya punya beberapa jenis reksadana campuran dan saham, utamanya produk dari Sucorinvest Aset Management. Namun, di pertengahan tahun, saya melakukan beberapa kali bongkar pasang RD karena hasilnya negatif hehe. Seharusnya, hal itu tidak perlu dilakukan karena mindset investasi RD adalah jangka menengah dan panjang. Seharusnya, penurunan nilai investasi harusnya dibarengi dengan membeli kembali dalam jumlah banyak. Seperti kata Warren Buffet : “Be greedy when others are fearful, be fearful when others are greedy” hehehe.

Akhirnya di pertegahan tahun saya sudah settle dengan 6 jenis RD (4 saham dan 2 campuran) yaitu produk dari Archipelago AM (Archipelago Balanced Fund), 2 produk Sucorinvest AM (Sucorinvest Equity Fund & Sucorinvest Sharia Equity Fund), serta 3 produk dari Sinarmas AM (Simas Satu, Simas Saham Unggulan, Simas Syariah Unggulan)

Return (dalam %) aset RD saya sepanjang tahun 2018 adalah sebagai berikut:

Angka dalam rupiahnya saya tutup saja hehe. Terlihat bahwa di barchart hijau, Keuntungan maksimum yang saya dapat adalah di periode Januari 2018 dan Februari-Mei, di mana saat itu IHSG (sebagai benchmark produk reksadana) sedang tinggi-tingginya. Dan mulai nyungsep dari Juni sampe akhir tahun 2018. Di Desember 2018, return portofolio saya “hanya” 5.3%, lebih kecil dari return deposito berjangka hehe.

Nilai rupiahnya saya tutup lagi hehe. Terlihat penyumbang return terbesar ada di RD Sucorinvest Equity Fund dengan 8.28% dan 1 RD memberi return negatif (Simas Satu).

Secara performa 1 tahun, semua RD yang saya pegang sebetulnya masih mencatat performa positif sih. Bahkan SIRS18 (Simas Syariah Unggulan) bisa mencatat sampai 32.63% selama 1 tahun. Luar biasa kan?

11.png

2. Saham

Saya mulai menceburkan diri di dunia investasi saham sejak Maret 2018, dimana saat itu pasar saham sedang tinggi-tingginya. 4 saham pertama yang saya beli adalah Unilever (UNVR), United Tractor (UNTR), Telkom (TLKM) dan PT Pembangunan Perumahan (PTPP). Harga ke-empatnya saat itu sedang mencapai all time high, jadi ibaratnya waktu itu saya beli di pucuk sebelum akhirnya terjun bebas sepanjang tahun 2018 hehe.

Waktu itu saya masih belajar mengenai value investing, membaca laporan keuangan emiten, memahami rasio-rasio dalam menentukan nilai wajar saham, dll. Jadi istilahnya learning by doing.

Yang agak saya sesali waktu itu adalah sisi psikologis saya masih labil, ibarat anak muda yang baru puber, mentalnya masih gampang diombang-ambing oleh market behaviour. Di Q3 2018, tiba-tiba portofolio saham saya menjadi 16 emiten dan banyak emiten yang tergabung dalam sektor yang sama. Di periode itu pula saya sempat menjual saham TLKM saya di harga Rp 3,500 (gain 1% saja) padahal saat ini (Januari 2019) harganya Rp 4020 per lembar hehe. Saya juga sempat tergoda beli saham INDR yang harganya sempat meroket dan ternyata di perjalanan nyungsep. Untungnya pas saya jual, realized loss nya hanya kurang dari 2%.

Di 2018, saya juga sempat menjual semua saham Pakuwon Jati (PWON) saat floating profit 25%, PTPP (25%), TBLA (33%), INDF (22%), JPFA (13%), BMRI (13%) dan kemudian menyesal karena harganya masih terus naik sampe sekarang hehe.

Portofolio saham saya di Desember 2018 dalam presentase value adalah sebagai berikut:

Mayoritas aset saham saya, saya taruh di United Tractor (UNTR), bisa dilihat dari pie chart di atas, ada beberapa emiten yang satu sektor seperti PTPP WSKT (konstruksi), TKIM INKP (pulp paper), HOKI PZZA ULTJ MAPI UNVR (konsumer). Hal ini menyebabkan jadi tidak fokus karena memecah nilai aset saya. Alhasil, ketika nanti sahamnya sudah naik, return nya hanya sedikit saja hehe.

Sepanjang 2018, portofolio saham saya mengakumulasi floating loss sebesar -5.8%. Angka yang cukup buruk meskipun IHSG pun menderita penurunan -2.54% secara year to date. Tapi untuk orang yang baru belajar, hasilnya sudah lumayan lah hehe.

3. Surat Berharga Negara (SBN)

Saya mulai masuk ke SBN di tahun 2018 pertengahan, ketika waktu itu pemerintah mulai menjual Saving Bond Ritel (SBR-003) melalui mitra distribusi fintech, salah satunya Bareksa. Setelah itu, saya rajin membeli SBR dan Obligasi serta Sukuk yang dijual pemerintah utamanya yang beli nya nggak perlu datang ke bank. Cukup klik klik transfer dan beres.

Portofolio SBN saya di tahun 2018 terdiri dari 4 SBN yaitu 3 SBR (SBR-003, SBR-004, ST-002) yang semuanya beli di bareksa.com dan tidak bisa dijual kembali sebelum jatuh tempo (2 tahun) serta 1 jenis obligasi ritel (ORI-015) yang beli langsung di Bank Mandiri.

SBN memiliki return yang fixed dan hanya dipengaruhi oleh suku bunga bank Indonesia (BI 7IDRR). Sejak pertengahan sampai akhir tahun, suku bunga BI cenderung meningkat dari level 4.75% hingga 6.5% di akhir tahun. Jadi return SBN saya selama ini cenderung lebih besar dari floor nya ketika melakukan pembelian.


Refleksi 2018

Saat pasar mengalami periode bearish seperti tahun 2018 kemarin lah kesabaran seorang value investor diuji. Selama kita yakin dengan kondisi fundamental perusahaan, kita yakin pula penurunan harga saham nya hanya sementara dan pasti akan kembali ke harga wajarnya suatu saat nanti hehe.

Saya sudah pernah mengalami floating loss  sampai > 10% dengan nilai kalau dirupiahkan bisa belasan juta rupiah. Tapi dengan mengasah psikologis dan money management, mau floating loss sebesar apapun, bagi value investor sebetulnya tidak masalah. Karena pemilihan perusahaan tempat berinvestasi saham seharusnya sudah dipikirkan sedemikian matang dan memilih perusahaan-perusahaan dengan fundamental bagus. Pada akhirnya harga saham akan bergerak ke arah nilai wajar nya secara fundamental.

Resolusi Investasi di 2019

Sebetulnya resolusi investasi saya di 2019 sederhana saja. Yang pertama, saya ingin melakukan rebalancing portofolio saham, yaitu dengan mengurangi saham-saham yang memiliki sektor yang sama. Saya sudah jual PTPP dan masih menunggu untuk menjual salah satu dari TKIM, INKP (pulp paper), dan salah satu dari HOKI MAPI PZZA ULTJ UNVR (consumer). Hanya saja karena saat ini market sedang bullish jadi saya tunggu saja sampai harganya sudah mulai menunjukkan penurunan hehe.

Resolusi yang kedua, sama seperti resolusi Manajer Investasi pada umumnya yaitu beat the market. Karena kiblat semua investasi berbasis RD dan saham adalah IHSG, maka target investasi semua investor adalah meraih return yang lebih besar dari kenaikan IHSG. Jika ditotal di tahun 2018, RD saya memiliki return 5.8% dan saham saya -5.8%. Karena proporsi saham dan RD di seluruh aset saya jumlahnya berimbang (sekitar 25% masing-masing), maka secara YTD sebetulnya saya “hanya” mengalami floating loss sebesar -0.3% dan masih unggul dari IHSG hehe. Tapi tentu hasil yang negatif bukan acuan yang baik karena kalau uangnya saya taruh di deposito berjangka, saya bisa dapat 6% lebih bukan? hehe

Tahun 2019 ini akan ada Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden. Banyak pakar ekonomi memprediksikan gelaran 5 tahunan ini menjadi sentimen positif untuk bursa saham Indonesia mengacu pada periode 2014 lalu. Ya semoga saja prediksinya benar dan investor kebagian cuan di tahun politik ini hehe.

Leave a comment