Sudah sekian bulan absen menulis blog dikarenakan kesibukan dan lain hal seperti istri hamil anak kedua, LDR-an, penugasan di tempat yang baru, dan lain-lain yang membuat dunia blogging jadi menjauhi saya.
Di 2020 ini, di tengah pandemi corona virus dan Work From Home yang sudah berlangsung 2 bulan (entah sampai kapan), saya akan share beberapa aktivitas dan “pencapaian” selama 4 bulan ke belakang.
Tentu saja yang pertama dimulai dari investasi. Seperti yang kita ketahui, sejak Februari hingga saat ini, bursa saham baik di Indonesia maupun dunia, luluh lantak karena kepanikan pelaku pasar akibat virus corona. IHSG terjun bebas dari posisi 6000-an ke 3900 hanya dalam hitungan minggu. Sudah barang tentu posisi para investor ritel yang menabung saham sejak 2016 hingga saat ini pasti dalam posisi nyangkut parah alias floating loss yang luar biasa. IHSG seolah kembali ke harga tahun 2015 dan saya sendiri ketika IHSG ke posisi Rp 3,900 punya floating loss sekitar -56%. Sadiss…
Namun, bukan investor sejati namanya kalau tidak melihat krisis seperti ini menjadi sebuah peluang. Sejak IHSG luluh lantak, semua saham blue chip (BBCA, BBRI, BMRI, UNVR, ICBP, you name it..) semua longsor >20% dari harga tertingginya. Hal tersebut membuat saya mengambil keputusan untuk mengocok ulang portofolio saya. Di 2019, saya banyak mengoleksi saham-saham second liner pemberi dividen yield tinggi yang harganya sudah turun dalam (BUDI, CLPI, RAJA, PSSI, INDR, MDKI, you name it) untuk melakukan cutloss besar-besaran (cut loss adalah hal yg sangat jarang saya lakukan selama investasi saham sejak 2016 hingga saat ini) untuk switch ke Blue chip yang sudah jatuh sangat dalam.

Di atas ini adalah porsi portofolio saya di akhir 2019 dimana UNTR sangat mendominasi portofolio saya (ada cerita khusus mengenai alasannya, kapan-kapan saya share). Setelah berpikir panjang, sayapun mulai cutloss besar-besaran di saham 2nd dan 3rd liner yang saya anggap tidak/kurang prospektif karena corona dan mulai masuk ke beberapa bluechip. Hasilnya, inilah rebalancing portofolio saya per 30 April 2020.

Tambah banyak sih, namun dilihat dari jenis perusahaannya, banyak blue chip dan saham prospektif saya dapat di harga super diskon. Sedangkan beberapa 2nd liner yang masih saya pegang karena saya sudah nyangkut dalam dan sayang untuk di cutloss, prospek perusahaannya pun masih lumayan oke di era pandemi begini. Saya pun masih terus nambah posisi di saham-saham blue chip yang sudah longsor seperti BBRI, ICBP, dan TLKM sambil menunggu entry yang ideal.
Karena banyak yg bilang bahwa cash is king di tengah ketidakpastian dan krisis ekonomi ini, maka saya pun sudah memupuk cukup banyak cash untuk mengambil posisi jika saham-saham blue chip incaran saya akan turun lebih dalam lagi. Posisi aset kelolaan saya per April 2020 adalah sebagai berikut :

Porsi saham hanya 17% dari keseluruhan aset karena sejak 2019 kemarin saya mulai banyak masuk ke Crowdfunding (iGrow, Ternaknesia) dan masuk ke sektor riil seperti penggemukan sapi dan perkebunan sayuran.
Mudah-mudahan krisis ekonomi dan virus corona ini segera berlalu sehingga aset berupa kertas saya yaitu Saham, Reksadana (Pasar Uang dan Pendapatan Tetap) serta Obligasi Pemerintah dapat tumbuh.
Itu tentang dunia investasi yang saya geluti. Kesibukan lainnya di masa pandemi ini adalah melakukan work from home dari Bandung. Kebetulan per Maret 2020 kemarin saya mendapat penugasan dari perusahaan ke sebuah perusahaan multinasional di bidang migas di bilangan TB Simatupang. Karena Jakarta memberlakukan WFH sejak pertengahan maret, maka saya pun memutuskan pulang ke Bandung karena anak istri sudah tinggal di sana sejak akhir tahun lalu.
Hal-hal bermanfaat lain yang dilakukan selama pandemi adalah mengurus anak (sambil bekerja), membaca laporan keuangan dan laporan tahunan emiten, mengikuti webinar gratis dari banyak komunitas, sedikit beramal (traktir gojek, nyumbang di kitabisa, dll) dan yang pasti adalah menyusun rencana liburan di tahun depan setelah covid berakhir (semoga)…
See you in the next post… soon (maybe)