Singapore Trip 2022 Part 2

Hari Senin 23 Mei 2022, tepat hari ketiga di SG, kami sudah merencakan akan menghabiskan seharian di Sentosa Island, salah satu destinasi wisata favorit di sini. Seperti biasa, pagi hari dimulai dengan ritual mencuci di laundromat sejak pukul 6 pagi (pukul 5 pagi WIB) di mana langit masih gelap dan selesai pukul 7.30 pagi. Setelah selesai nyuci, tidak lupa mampir ke 7Eleven untuk membeli berbagai sarapan seperti roti tawar, sereal, mie cup, susu dan sandwich. Sedikit tips kalau ke Sevel, selalu perhatikan logo halal karena di SG itu semua logo halal terpampang jelas termasuk di mie cup, sandwich, dll.

Tujuan ke Sentosa hari ini adalah ke Skyline Luge, sebuah wahana bermain keluarga berupa seluncuran dari tempat yang tinggi ke tempat rendah menggunakan semacam 4-wheel motorbike(?) tanpa mesin. Kurang lebih kayak gambar di bawah ini.

Tiket untuk wahana ini sengaja nggak kami beli dulu via Klook karena masih belum tahu apakah anak kecil di bawah 3 tahun boleh naik atau bisa naik dengan didampingi/bersama ortu atau gimana. Karena masih gelap, jadi rancana akan goshow aja dulu. Berhubung semua wahana di Sentosa buka mulai pukul 11.00, maka kami pun berangkat dari hotel sekitar pukul 09.00 karena mau brunch di Kopitiam Foodcourt Vivo City dan makan Yang Tao Fu, makanan yang selalu kami beli setiap ke SG. Kopitiam Foodcourt itu salah satu sentra kuliner halal (Muslim owned) di Vivo City. Letaknya persis di exit MRT Stasiun CC (orange line) dan di dekat McD. Di sini terbagi 2 sektor yaitu sektor halal dan non halal. Jadi tidak perlu khawatir bercampurnya peralatan makan karena semua sudah dipisahkan oleh pengelola. Tampilan Kopitiam Foodcourt bisa dilihat di youtube ini. Semua yang halal menggunakan alat makan berwarna hijau.

Apa itu Yang Tao Fu? Yang tao fu adalah masakan cina peranakan SG yang seperti bakso tapi isiannya bisa kita pilih sesuka hati sesuai selera dan nanti tinggal dikasih kuah sama penjualnya. Kurleb seperti ini tampilan kedainya:

Setiap menu/pax dihargai sekian sen SGD. Kira-kira kalau kita ambil 1 sayuran dan 3 macam lauk, kisaran harganya 2-3 SGD (sekitar 30-45rb seporsi). Lumayan hemat di kantong lah. Rasa kuahnya pun gurih dan pas di lidah. Di sekitar tempat Yang tao Fu ini ada macam-macam makanan halal juga seperti Nasi Hainan, Bebek, Noodles, dll.

Setelah selesai makan, kamipun langsung menuju lantai 3 VivoCity untuk naik monorel ke Sentosa. Untuk menuju Skyline Luge, kita harus turun di Beach Station (stasiun terakhir) dan nanti dari situ keluar mengikuti garis pantai kira-kira 100m lalu akan ketemu Skyline Luge di sebelah kanan. Tempatnya akan sangat terlihat karena terpampang jelas logo Skyline Luge.

Setelah tanya ke front office, akhirnya kami putuskan hanya bertiga saja yang naik, saya, istri dan anak yang pertama. Harga tiketnya bervarisasi tergantung mau berapa kali naik, minimal 2 kali, maksimal 4 kali. Kami putuskan naik 2 kali saja dan harga per orangnya sekitar Rp 300rb per orang dewasa dan Rp 170rb untuk anak 3-12 tahun. Nah buat yang tanya kenapa ada tiket 2 kali, 3 kali dan 4 kali, jadi di sini tuh adalah wahana yang mirip dengan skying di gunung salju. Kita musti naik skylift yang hanya berupa kursi dan ada pegangannya ke puncak “gunung” kurang lebih 5 menitan. Dari situ kita meluncur dengan “motorbike” tanpa mesin dan rute nya terbagi jadi 4 yaitu Expedition, Jungle, Kupu-kupu dan Dragon. Konon untuk pemula disarankan ambil rute Kupu-Kupu dan Jungle Trail.

Berikut penampakannya:

dan ini ketika sudah di atas
Kira-kira tingginya skylift ini sekitar 30-an meter
Dan ini ketika meluncur

Lengkapnya momen pas meluncur bisa dilihat di youtube ini dan ini. Ada momen lucu saat anak saya kepelintir dan oleng karena lepas tangan. Naik ini susah-susah gampang, karena begitu narik tuas pas mau break, kalau kebanyakan malah jadinya berhenti total dan kalau sudah berhenti total, malah tambah susah untuk jalan lagi. Jadi sebelum meluncur, pastikan ikuti instruksi si petugasnya dulu nanti. Nah setelah 2 kali putaran riding, nanti kita bisa tebus foto dengan cara scan barcode yang ada di helm. Biaya untuk tebus 4 foto sekitar Rp 200.000.

Overall pengalaman yang sangat seru dan rasanya 2 kali naik masih kurang. Next time akan coba lagi ah ke Expedition Trail dan Dragon Trail. Beres dari Luge sekitar jam 1 siang, kami pun coba ke HeadRock VR Adventure di Sentosa, sebuah wahana permainan dengan VR (Virtual Reality). Sebetulnya dari Skyline Luge ke VR ini jalannya agak jauh dan ada bus gratis tiap 5 menit. Namun karena ingin explore, kami coba jalan kaki saja sekalian menyusuri pantai nya. Karena pantai selatan Sentosa ini menghadap ke arah Batam, jadi pemandangan pantainya ya apalagi kalau bukan kapal kontainer/tanker yang buang jangkar dan pulau industri hehe. Tapi herannya, tengah hari bolong, banyak bule-bule yang masih berjemur. Apa ngga kebakar ya kulitnya? Untungnya di sepanjang jalan itu banyak vending machine jadi masih bisa beli air minum karena cuaca panas dan tengah hari bolong. Kebetulan di Pantai Siloso nemu spot foto bagus jadi foto dulu deh walau tengah hari bolong.

Untuk menuju HeadRock VR, kita perlu cari jalan menuju ShangRi La resort. Nah di depan ShangRi La ini ada halte bus dan dia berdekatan dengan ticketing dan area cable car. Nanti dekat halte bus itu ada petunjuk menuju HeadRock VR dan Madame Tussaud (museum lilin), bisa coba tanya kasir 7Eleven di dekat Cable Car kalau ragu. Dulu saat di Jepang, saya pernah coba VR di Shinjuku dan sensainya benar-benar seru karena kita seolah benar-benar masuk di game nya secara virtual. Dulu di Shinjuku banyak pilihan game nya, tapi di HeadRock ini kalau ngga salah hanya 8 macem saja. Berikut harga tiketnya.

Jadi saya coba beli package yang PLAY3 untuk 3 orang, dan di sini, pengantar/yang ngga ikut maen, dikenai charge 5 SGD (hadeeh).. List game nya:

Kami pun coba Storm Blizzard, Extreme Train, Skyscrapper dan Zombie Buster. Oia, karena ini hari Senin dan jam 1 siang, jadi hanya kami aja yang ada di area ini. Jadi tanpa antri sama sekali. Storm Blizzard adalah simulasi dimana kita bertiga naik kereta salju dan ditarik sama serigala. Nanti di tengah-tengah permainan, kereta nya akan lewat jalur curam dan diserang badai salju. Kereta akan digoyang-goyang dan kipas angin super kenceng akan ditiup buat simulasikan badai salju.

Di extreme train, seolah-olah kita naik roller coaster tapi di tengah jalan, tracknya hilang dan kereta diombang-ambing sampai ke jurang hehe.

Kalau untuk skyscrapper dan zombie, standar aja sih, hanya nembak-nembakin musuh dan survival di atas gedung. Overall masih kalah jauh dari Shinjuku tapi masih fun lah. Oia, selain VR, di sini tuh ada Kids Interactive Zone nya, jadi semacam area bermain anak yang interaktif. Cocok untuk anak di bawah 5 tahun. Bisa cek di website nya.

Nggak kerasa, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 dan kami pun bergegas menuju stasiun monorel. Nggak lupa berfoto dulu di depan bola dunia.

Oh iya, ternyata sejak pandemi, USS (Universal Studio Singapore) hanya buka dari hari Jumat-Minggu aja dan tutup hari Senin-Rabu. Jadi pas kita ke sana, bola dunia yang biasa muter dan keluar kabut lagi mati dong hehe.

Kami tiba di hotel sekitar pukul 15.30 dan langsung mandi lalu tidur siang. Rencana sore/malam ini adalah kulineran di Restoran Turki halal di area Arab Street, Bugis, tepat di sebelah restoran Positanoristo yang kemarin. Nama resto nya adalah Cappadoccia Turkish and Mediterranian Resto. webnya di sini. Penampakan dari luar kira-kira seperti ini:

Penampakan di dalamnya seperti ini:

Di resto ini, semua pelayannya orang Turki asli, dan hebatnya mereka selalu mengucap salam (Assalamualaikum) dan bilang Bismillah sebelum melakukan sesuatu. Luar biasa. Di sini karena semua serba mahal, jadi kami pesan yang light saja : Adana Chicken Kebab, Pepperoni Pizza, Falafel Wrap dan dessernya adalah Kunafe dan Baklava.

Adana chiken kebab pada dasarnya adalah daging ayam yang dijadikan kebab dan tidak diwrap seperti kebab Babarafi. Dia beri Turkish salad dan dikasih Nasi briyani (?) dan ada cocolan mushroom sauce dan yoghurt khas Turki. Lumayan lah rasanya, lebih enak dari kebab yang di Indonesia. Salad nya pun segar karena ada perasan lemon nya

Adana Chiken Kebab

Untuk pizza pepperoni, standard lah ya. Yang zonk menurut saya Falafel ini. Saya pikir ini adalah kebab style daging sapi/kambing gitu taunya hummus dan semacam makanan vegetarian hehe.

Falafel Wrap

Yang juara tentu saja duo dessert yaitu Kunafe dan Baklava. Ingat kunafe/baklava pasti ingat era kue artis yang booming tahun 2015-an yang dipopulerkan Irfan Hakim sama Omesh dulu ya. Kalau saya bilang dua dessert ini memang juara sih. Sempat ada cerita lucu dimana kita selalu ketuker antara Kunafe dan Baklava. Coba tebak yang mana Kunafe dan mana Baklava?

Baklava itu semacam pastry yang di dalamnya ada saus karamel (?) atau susu yah? lalu dia ditaburi semacam matcha. Rasanya seperti kita makan kue pastry namun lembut. Kalau kunafe agak unik karena dia seperti roti jala atau kayak adonan bandros yang dari kelapa itu yang di panggang dibentuk bundar. Lalu disiram saus kelapa (santan) dan susu. Enak dan manis banget pokoknya.

Total berlima makan di resto ini habis sekitar 120-an SGD dengan menu di atas. Oia, seperti biasa, air minum di sini gratis yah, dan boleh refill hehe.

Hari keempat di SG, tepatnya hari Selasa kami akan coba sesuatu yang belum kesampaian selama ini yaitu naik The Original Duck Tour. Seperti biasa, memulai pagi hari dengan nyuci baju di Laundromat dan pulangnya beli sarapan di Sevel. Sekitar jam 9 pagi kami naik MRT dari dekat hotel dengan tujuan Esplanade keluar di exit A. Tempatnya persis di Suntec yang menghadap ke arah Nicoll Highway, bukan area tengah yang ada air mancur melingkar.

Kenapa dinamakan the original ducktours? mungkin karena banyak KW nya kali ya? Yang pasti website originalnya yang ini. Yang pasti harga Ducktours ini ngga murah sih, untuk dewasa di kisaran Rp 350rb dan untuk anak di Rp 280rb per orang. Jadi duck tours ini adalah bus amfibi yang dirancang seperti wujud bebek. Bus ini terbuka di bagian samping dan bentuknya kayak perahu yang dikasih roda. Nanti dari Suntec City dia akan menuju ke Sungai Kallang dan akan nyemplung ke air jadi perahu untuk keliling Singapore river dari Gardens by The Bay, Singapore Flyer, MBS sampai depan Merlion. Setelah itu dia akan naik lagi ke darat dan keliling area Downtown. Total perjalanan sekitar 1 jam dan cukup menyenangkan untuk anak-anak.

Sepanjang perjalanan ada tour guide yang akan cerita tentang sejarah bangunan/landmark dan beberapa funfact dari landmark yang dilewati, dan semuanya full englis (singlish sih tepatnya). Dari penjelasan tour guide, ternyata si bus ini umurnya sudah lebih dari 50 tahun dan masih bisa digunakan sampai sekarang. Agak-agak serem sih tapi ya di Singapur seharusnya regulasi nya ketat dan keselamatan diutamakan. Momen paling seru pas dari darat nyebur ke sungai, kalau duduk dekat jendela akan kena cipratan air sedikit.

Oia, di akhir perjalanan ada mandatory tip yang diminta oleh supir dan guide nya. ngga ada batasan sih minimal berapa, tapi 5 SGD atau 10SGD sudah oke lah menurut saya. Tips lain untuk naik Duck Tour ini, kalau naik di hari kerja, kayaknya oke aja kalau mau goshow dan langsung datang pas hari H. Tapi kalau weekend atau hari libur nasional, disarankan booking online via apps seperti Klook atau Traveloka supaya menghindari nunggu lama.

Selesai duck tours kira-kira pukul 11.30 siang. Dari situ karena sudah kepalang tanggung ada di area Marina Bay, kamipun jalan kaki menyusuri City Hall menuju ke Merlion Square. Tengah hari bolong jalan kaki dan foto di area Merlion merupakan pengalaman pertama hehe. Tapi herannya turis yang foto di situ tetap banyak.. Luar biasa.

Oia, sejak 2019, dari arah Esplanade ke Merlion Square sudah tidak perlu lewat trotoar pinggir jalan lagi, tapi sudah ada jembatan khusus pejalan kaki yang sengaja dibuat untuk akses ke sana.

Nah karena hari sudah siang dan kami belum makan siang, agenda berikutnya adalah menuju restoran seafood yang menyajikan chilli crab khas SG. Setelah googling sejak di Indonesia, pilihan jatuh kepada Home of Seafood yang dapat review bagus sebagai seafood resto halal di berbagai situs halal travel.

Home of Seafood, terletak di area Joo Chiat Road (Geylang) dan letaknya sudah deket ke Changi. Perjalanan dari depan hotel Fullerton ditempuh dengan 2 kali naik bus dan total 40 menitan. Lama sekali tapi ya karena sudah kepalang tanggung akhirnya kami jabanin. Setelah turun dari bus, ternyata masih harus jalan kaki 800m untuk sampai ke restonya.Restonya sendiri terletak di belokan dan yang unik, di jendela restonya terpajang foto ownernya yg berpose dengan public figure Singapura dan negara tetangga. Super narsis.

Itu kira-kira tampilan depan restonya, diambil dari google, isinya foto ownernya semua. Menunya semua ada, dari mulai kepiting, udang, cumi, aneka ikan hingga nasi gorang. Rasanya juara dan harganya juga juara. Baru kali ini saya order chilli crab yang seporsi dihargai 80 SGD atau 1 juta rupiah.. Gila..

Penampakan kepiting 1 jutaan

Total makan berlima dengan menu super komplit habis sekitar 187 SGD. Mahal sih tapi puas karena resto nya bagus adem dan bersih. Plus makanan diantar pakai robot pelayan kayak di Jepang gitu.

Sebranh resto ini ternyata ada halte bus yang langsung menuju Bugis Junction. Enak sekali karena kami cukup naik 1 kali saja untuk sampai di Bugis dan jalan kaki ke hotel dari sini. Selesai makan pukul 14.30 dan tiba di hotel pukul 15.30. Sampai di hotel langsung pada tepar dan tidur sore.

Karena besok kami akan pindah hotel ke Jewel Changi, maka malam itu kesempatan jalan2 terakhir sebelum pulang ke Indonesia. Tujuan akhir adalah ke Garden by The Bay (lagi) untum nonton pertunjukkan laser show. Jadwal laser show nya sendiri adalah di jam 19.45 dan 20.45. Sebetulnya ada 2 laser show berdekatan yaitu di Garden By the Bay dan di depan MBS. Hanya saja, selisihnya hanya terkait 15 menit. Show di MBS setiap pukul 19.30 dan 20.30. Jadi sebetulnya bisa aja nonton keduanya asal setelah 1 show selesai kita musti bergegas dan kayaknya sulit bawa anak-anak.

Sejak jam 6 sore kami sudah standby di depan MBS untuk foto-foto penampakan malam hari di Singapur yang penuh lampu-lampu gedung di Marina Bay area. Sayangnya anak saya yang besar sakit dan sepertinya masuk angin karena mengeluh pusing terus dari berangkat dari hotel. Mungkin sudah mencapai limit karena ini udah hari ke-4 di SG dan banyak aktifitas di luar ruangan. Jadinya dia tidur dan istirahat di pelataran MBS yang di dekat Louis Vuitton. Lumayan dapat tidur sekitar 30 menitan.

Sekitar pukul 19.30 kami jalan ke gardens by the bay via MBS lantai B1M. Pokoknya cari aja arah menuju MRT station pasti akan ketemu link nya.

Sambil menunggu show dimulai, seperti biasa cari makan malam di sini yang pilihan satu2 nya kala itu adalah McD. Seperti diprediksi, McD pun penuh menjelang dinner time.

Pertunjukkan laser dan music show (Super Tree Grove) dimulai pukul 20.30 dan selesai jam 20.45. Setelah menikmati show sambil ambil video, kami pun pulang menuju hotel karena besok akan checkout dan perlu istirahat cukup.

Bersambung Part 3 (Final)

Singapore Trip 2022 Part 1

Berhubung IHSG dan semua bursa dunia lagi merah membara, kayaknya lebih sehat untuk mental kalau mengurangi buka OLT (online trading apps) dan update blog mengenai pengalaman saya ke Singapura bulan Mei lalu.

Yes, berhubung covid sudah melandai baik di Indonesia maupun Singapura, Singapur sudah mulai melonggarkan kedatangan turis asing ke negaranya secara bertahap. Di akhir 2021, kalau saya ngga salah, pelonggaran pertama kali dilakukan Singapur dengan mengubah sistem karantina 5 hari menjadi PCR prior to departure dan PCR on arrival, sehingga turis Indonesia yang mau ke sana harus PCR di Indo H-2 sebelum berangkat dan PCR pas tiba di Changi lalu langsung menuju hotel untuk karantina 1 hari sampai hasil PCR nya keluar. Kebijakan ini tentunya berat buat turis yang datang dengan keluarga karena biaya PCR untuk 1 orang di indonesia = Rp 275rb dan di Singapur hampir Rp 1 juta sekali test. Belum lagi akhir 2021, masih berlaku kebijakan PCR prior to departure dan karantina 3-7 hari di Indonesia yang bikin cost untuk travel jadi bengkak untuk PCR dan hotel karantina.

Di bulan Januari 2022, Singapur kembali melonggarkan aturan dengan mengganti PCR on arrival dengan ART (Antigen Rapid Test) on arrival. Turis langsung di ART dan hasilnya akan keluar dalam 1 jam. Jika non-reactive maka sudah bebas jalan-jalan ke kota. Namun PCR prior to departure masih berlaku. Sementara Indonesia di Januari juga sudah menghapus karantina dengan mengganti menjadi PCR pre-departure di negara asal dan PCR on arrival di Jakarta. Tapi tetap aja cost yang harus dikeluarkan tetap tinggi karena kita perlu anggarkan ART singapur kurleb SGD 15 per orang, PCR pre-departure Jakarta dan on arrival Jakarta masing-masing Rp 275rb dan PCR pre-departure di Singapur sekitar SGD 95 per orang hehe.

Kemudian di Bulan April 2022, game changer terjadi, Singapur menghapus semua requirement PCR pre-departure dan ART on arrival. Semua turis dibebaskan masuk Singapur tanpa syarat test dan hanya cukup vaksin lengkap (dua dosis). Hal ini langsung disambut baik semua WNI yang sudah “gatal” pingin main ke SG karena praktis sudah hampir 2 tahun tutup border. Dengan aturan baru ini, modal kita hanya perlu nambah PCR pre-departure di Singapura sebelum pulang ke Indo dan PCR on arrival di Jakarta. Kurang lebih hanya SGD 95 + Rp 275rb per orang.

Karena alasan inilah, saya dan istri memutuskan untuk langsung hunting tiket di bulan April untuk keberangkatan di minggu ketiga Mei saat yang lain sudah selesai cuti Lebaran. Ngga disangka, ternyata hunting tiket berhasil. Karena saya dan istri masih ragu untuk pergi berdua dengan bawa 1 bocah 6 tahun dan 1 balita, akhirnya kami ajak ibu saya untuk ikut. Dan dapatlah hasil hunting tiket Singapore Airlines CGK-SIN p.p. untuk 5 orang seharga Rp 18 juta. Kalau dihitung per orangnya sekitar Rp 3 jutaan. Untungnya biaya tiket ini keganti dari dividen dari saham batubara di 2022 ini hehe.

Tiket sudah, berikutnya adalah hunting penginapan. Biasanya kalau saya ke SG selama periode 2016-2018, saya selalu menginap di apartement milik kakak ipar yang kebetulan sedang PhD dan kerja di sana. Namun per 2019 lalu, beliau sudah lulus dan bekerja di salah satu universitas swasta di Jakarta, jadi no more freestay lagi hehe. Awalnya karena tiga dewasa dan 2 anak kecil, saya mau coba cari apartment di AirBNB, namun ternyata mungkin karena sempat hancur karena pandemi, nyaris jarang sekali apartment proper harga bersahabat di AirBNB untuk periode ini. Akhirnya pilihan jatuh ke Hotel Summerview di area Bencoolen (Rochor MRT Station) yang saya pilih karena ada kamar untuk 3 single bed dan pas di tengah kota (Bugis Area).

Penampakan hotelnya sendiri kurleb seperti gambar di atas. Tepat di sebelah jalan utama. Saya cek untuk kamar dengan 2 queen size bed dan 1 single bed, dipatok harga sekitar Rp 1.3 juta per malam (tanpa sarapan), dan kami rencana menginap di sini 4 hari dan 5 hari wisata ke Singapur. Karena kami ada misi untuk ke Jewel, jadi di H-1 sebelum pulang nanti akan menginap di Hotel Yotel Air yang letaknya di Jewel. Hotel ini termasuk hotel backpacker dan dia punya 1 kamar dengan 1 queen size bed dan 1 kasur tingkat yang muat untuk 4 orang dewasa. Harganya pun cukup ramah di kantong, Rp 1.3 juta per malam.

Setelah hotel dan tiket pesawat settle, disusunlah rencana untuk spot-spot apa aja yang bakal dieksplor selama di sana. Berhubung hampir semua spot mainstream sudah pernah saya dan istri kunjungi, kali ini kami ingin sesuatu yang beda. Akhirnya pilihan jatuh ke coba SkyLuge, DuckTour, ke Garden by The Bay lagi (plus Floral Fantasy) dan kuliner ke spot-spot kuliner halal di sana. Awalnya ingin nyoba ke pantai dan eksplor hal lain, tapi mengingat akan repot karena bawa balita, akhirnya rencananya terpaksa dibatasi.

Setelah semua agenda disusun, H-5 keberangkatan, saya mulai cari info bagaimana cara mengisi SG Arrival Card (SGA). Sejak pandemi dan pembukaan border, Singapur mewajibkan semua turis untuk mengisi form SGA online antara H-3 sampai H-1 keberangkatan. SGA ini untuk menggantikan form embarkasi (kertas warna putih) yang suka dibagikan di pesawat sebelum pandemi dulu. Caranya mudah sekali, tinggal ngikuti petunjuk di web ini Dan udah banyak juga tutorial di yutub tentang cara ngisinya. Silakan disearch saja di yutub ya.

Hasilnya nanti kita akan dapat email seperti ini yang berarti sudah approved untuk masuk ke Singapur.

notifikasi SG arrival card ke email

Intinya SGA ini akan membuat antrian di imigrasi di Changi nanti jadi sangat minimal karena data di paspor kita sudah embed ke SGA yang sudah kita isi. Proses checking di bandara Soetta hanya dilakukan dengan cara mengecek sertifikat vaksin saja. Kalau itu OK, tiket kita akan dicetak oleh pihak maskapai dan pihak imigrasi di Soetta akan langsung cap paspor tanpa banyak tanya lagi.

Saya putuskan untuk bawa mobil pribadi dari Bandung dan pakai parkir inap di Bandara Soetta. Sempat cari info kalau di Soetta itu ada lokasi parkir inap yang letaknya di terminal 1 dan 2 (di mana harganya mahal banget) dan yang lebih murah di luar Terminal yaitu di area gedung depan stasiun KA bandara, gedung 600 dan juga area Soewarna yang harganya lebih murah.

Saya putuskan untuk parkir di area non terminal saja dan dari pengamatan di google map, sepertinya lebih enak parkir di Gedung 600 karena tinggal nyebrang langsung ke Terminal 1 dan dari situ bisa naik bus shuttle ke Terminal 3. Lokasi nya persis di google map ini. Simulasi yang saya lakukan, jika tarif parkir 80rb hari pertama dan 60rb hari berikutnya, maka 5 hari parkir akan menghabiskan biaya sekitar 360-380rb rupiah. Cukup mahal sih, namun worth it kalau bawa balita agar ngga ribet di kendaraan umum saat berangkat dan pulangnya nanti.

Karena keberangkatan pesawat pukul 07.55 WIB, kami berangkat dari Bandung pukul 02.30 WIB. Masih ngantuk sih, tapi ya mau gimana lagi namanya juga cari tiket murah hehe.. Yang penting bawa bekel kopi pait sama permen kopiko aja buat di sepanjang jalan. Tiba di Jakarta pukul 05.00 WIB, proses checkin pun terbilang lancar dan sudah menunggu di gate sebelum pukul 06.00 WIB. Padahal sudah datang kepagian, tapi ternyata pesawat nya delay 1 jam.

Setelah menunggu sampai pukul 08.30 WIB, akhirnya semua penumpang dipanggil untuk masuk pesawat. Surprisingly, pesawat SQ yang saya naikin waktu itu full. Begitupun dengan penerbangan lain seperti Air Asia, JetStar, Garuda yang tujuan Singapur, semua full booked. Luar biasa antusiasme WNI untuk berkunjung ke SG setelah 2 tahun lebih puasa hehe.

Yang sudah dibayangkan adalah anak-anak heboh dan ngga bisa diatur di dalam pesawat, tapi ternyata anak saya yang kecil malah langsung tidur pas pesawat selesai takeoff dan baru bangun menjelang landing hehe. Anak saya yang pertama juga anteng nonton acara tv di layar.

Ada yang berbeda kali ini, inflight menu yang biasa disajikan dalam nampan dan dengan peralatan lengkap sebelum pandemi, kali ini hanya disajikan dalam kotak karton ukuran kecil (mungkin 10×10 cm) namun isinya sangat padat dan mengenyangkan. Saya lupa ambil foto namun nemu di google berikut kira-kira penampakannya

Walau kelihatan kecil, tapi isinya padat sekali. Waktu itu yang disajikan menu breakfast seperti omelet, include bake bean dan kentang, dan nasi lemak. Disajikan dengan sendok garpu kayu plus yoghurt sebagai pelengkap. Enaknya dengan wadah ini, penumpang yang masih takut makan di pesawat bisa bawa pulang dan makan sampai di tujuan nanti. Praktis anti ribet. Dari segi rasa pun ngga berkurang sama sekali. Tetap enak khas SQ.

Penerbangan 1 jam 20 menit singkat sekali, jadi jika kita bawa anak kecil, pramugari SQ akan mendahului pemberian kotak makan untuk anak-anak karena mereka kan makannya relatif lama. Habis semua anak dibagikan, baru mereka mulai keliling. Setiap penerbangan ke Singapur dari Jakarta, saya hitung, kita hanya punya waktu bersih 15 menit untuk makan sampai Pramugari akan ambil sisa makanan untuk dibuang. Sangat singkat, jadi ya makannya agak buru-buru.

Setiba di Changi, ternyata keramaian di Changi jauh berkurang dibanding pra-pandemi. Terminal arrival ngga begitu penuh tapi ya bisa ketahuan kalau mostly di Terminal itu isinya banyak orang indonesia sih hehe. Karena sudah ngisi SGA di Indonesia, begitu sampai di Imigrasi, mereka hanya cocokkan data paspor saja dan kita hanya diminta cap jempol dan foto. Saya hitung di imigrasi hanya perlu 30-60 detik saja.

Keluar dari Imigrasi, seperti biasa, ritual kalau bawa anak kecil adalah: ganti popok, ganti baju dan makan dulu. Waktu masih menunjukkan pukul 11.00 LT, masih 4 jam dari jam check-in pukul 15.00. Jadi masih banyak waktu untuk bersantai di Changi. Saya pun langsung mengambil SIM Card yang sudah dibeli dari Indonesia di counter UOB terdekat. Harga SIM Card StarHub 100GB untuk 14 hari kurang lebih Rp 114 ribu rupiah. Cukup lah rasanya untuk tethering dengan hp istri selama 5 hari di sana.

Setelah semua perlengkapan siap, seperti yang sudah-sudah, kami naik MRT dari Changi menuju stasiun Bugis (jalur hijau), lalu interchange ke jalur biru hanya 1 stasiun untuk turun di Rochor. Terakhir ke SG 4 tahun lalu, jalur MRT nya makin banyak, jalur Downtown (biru) sudah kumplit dan sekarang sudah dibangun jalur coklat, yang sepertinya akan kumplit di 2023-2024 nanti. Luar biasa pembangunan di SG

Karena naik MRT pas tengah hari bolong (sekitar jam 12) MRT pun tidak sepadat jam sibuk. Relatif longgar dan dapat tempat duduk. Oia, karena bawa bocah, dan mengingat di SG itu kemana-mana harus jalan kaki, gear yang kami bawa ke SG pun lumayan reliable. Yaitu 1 buah trike (yang foldable dan handy) untuk anak saya yang besar (6 tahun) dan 1 buah stroller foldable untuk anak saya yang 2 tahun.

Untuk trike, kami punya sendiri, tapi kalau foldable stroller cukup sewa saja selama 1 minggu sekitar Rp 150-200rb dan banyak tempat penyewaan secara online di kota Bandung. Dua peralatan ini sangat sangat membantu karena perjalanan tetap bisa dilakukan ketika anak mengantuk ataupun rewel karena ngga mau jalan kaki.

Perjalanan naik MRT dari Changi Airport sampai ke Rochor kira-kira sekitar 30 menit karena harus 1 kali ganti jalur di Bugis (pindah dari jalur hijau ke biru). Keluar di stasiun Rochor, jarak ke hotelnya hanya 2 menit jalan kaki sekitar 300-an meter. Saat jalan kaki saya lihat lokasi hotel nya sangat strategis, tepat di Beencoolen road, bersebelahan Burlington dan Simlim Square di mana banyak tempat makanan (BurgerKing, Subway) dan ada dua 7Eleven di sebrang jalan. Tidak lupa, livesaver di SG adalah vending machine dimana kita bisa beli Dassani (Aqua) ukuran 600mL seharga 1 SGD (ini harga 1 SGD sejak dulu kala rasanya, dari pertama saya ke SG tahun 2011).

Sampai di hotel, ternyata proses check-in tidak mulus, karena awalnya kami sudah pesan 1 kamar dengan 3 single bed di hotel ini, ternyata begitu check-in pesanan kamar tidak bisa dilanjutkan karena berdasarkan regulasi di SG, 1 kamar hotel hanya bisa ditempati oleh 1 orang anak haha.

Kamar triple room yang awalnya dipesan

Kami pun bingung karena pemesanan tidak bisa dibatalkan dan direfund. Ternyata resepsionisnya pun menawarkan upgrade ke kamar family room yang paling besar yang terdiri dari 2 queen bed. Dan ternyata bukan gratis dong, tapi harus nambah sekitar 100SGD per malam.. Busett.. Jadi pelajaran berarti kalau ke SG bawa >1 anak kecil umur di bawah 11 tahun, harus pesan minimal 2 kamar. Proses checkin juga tergolong lambat karena musti nunjukin lagi sertifikat vaksin dan paspor. Padahal kan kalau sudah mendarat di SG artinya sudah diakui kalau punya sertifikat vaksin ya.. Proses checkin sekitar 15 menit dan setelah itu kami boleh langsung masuk kamar karena kamarnya kosong.

Sayangnya saya lupa ambil foto detil kamarnya jadi cuma bisa nyomot dari google aja. Tapi kamarnya tuh luas banget, sekitar 6×6 meter mungkin dan letaknya di pojokan dekat tangga darurat. Kamarnya di lantai 3 dan ada jendelanya yang menghadap ke bagian belakang hotel. Kamar mandinya dipisah antara yang untuk mandi, dan untuk buang air. Tips berikutnya kalau pergi ke SG adalah selalu bawa alat cebok (semprotan) atau beli aqua yang ukuran 1.5L setelah diminum, botolnya ditaruh di kamar mandi untuk cebok. Karena hampir 100% kamar mandi di hotel di SG kamar mandi kering tanpa cebokan air wkwk.

Karena sudah terlalu lelah perjalanan dini hari dari Bandung, kami semua pun langsung tidur siang dan bangun sekitar pukul 17.00 untuk jalan-jalan. Oia, karena di trip kali ini saya cukup banyak riset mengenai tempat-tempat kuliner halal yang unik-unik, maka setiap makan malam, kami akan coba kulineran ke resto-resto halal di SG.

Destinasi wisata kuliner di hari pertama ini adalah resto Italia halal di SG yang namanya positanoristo. Seperti diketahui, di SG itu tingkatan resto halal dibagi-bagi menjadi 3 kategori yaitu : 1.vegetarian/vegan menu, ini sebetulnya tidak bisa disebut halal, tapi dia menyediakan menu vegetarian yang bisa dinikmati muslim. Hanya saja ya kita tidak bisa jamin bahwa alat masak dan alat makannya tidak dicampur dengan menu non halal. 2. Muslim owned, resto ini tidak disertifikasi halal, namun penjualnya adalah orang beragama Islam (biasanya melayu), dan cukup aman makan di resto yang muslim owned karena kecil kemungkinan mereka kasih kandungan non halal. 3. Halal certified, nah kalau yang ini yang betul-betul disertifikasi sama MUIS dan biasanya sertifikatnya ditempel di depan kaca resto. Konsekuensinya ya harga makanannya lebih mahal dari yang muslim owned. Trivia dikit, di SG itu semua fast food chain (BK, Pizzahut, McD, KFC, you name it) semua sudah certified MUIS. Jadi kalau ngga mau repot ya tiap hari makan fastfood di sana dijamin halal hehe.

Nah biasanya resto-resto halal yang tematik kayak Positano ini terkonsentrasi di daerah Arab Street, Bugis karena disinilah banyak perkampungan melayu Singapore dan destinasi penginapan murah untuk turis-turis Indonesia dan Malaysia.

Untuk menghindari antrian/keramaian saat makan di sana, saya pun coba reservasi via websitenya, dan memang saya sengaja pilih yang jam 17.00 di mana seharusnya belum banyak keramaian karena Singaporean itu biasanya dinner di atas jam 19.00. betul saja, sampai sana, masih sepi dan kami bisa dapat duduk di lantai 2 kursi untuk 6 orang. Sebagaimana resto full course, menunya beragam dari appetizer sampai dessert. Karena ini resto Italia, menu khasnya adalah lobster, berbagai pasta dan pizza. Cuma ya, karena dia kelasnya restoran, jadi harganya ngga ada yang murah di kantong ey, per menunya kira-kira kalau di rupiah-kan berkisar antara Rp 150-200 ribuan. Bikin jebol kantong.

Karena anak-anak sudah makan sereal dan kue yang dibawa dari Indonesia di hotel tadi, akhirnya kami pesan menu yang bisa dimakan ramai-ramai seperti Mozarella cheede balls, Margherita, Wild Mushroom Linguine, Mac & Cheese buat bocah, dan Amalfi Grilled Chicken. Seperti halnya di negara maju lainnya, air putih disediakan secara gratis dan bisa refill tanpa limit hehe.

Total berlima habis 112 SGD, lumayan juga untuk ukuran resto halal. Dari menu yang disajikan, saya kasih nilai 7.5/10 buat rasanya. Proses pembuatan menu juga ngga terlalu lama jadi terhitung cepat untuk ukuran resto full course. Mulai makan pukul 17.30, jam 18.15 kami sudah selesai dan orang-orang mulai berdatangan untuk dinner. Jadi ya pas sekali kalau mau menghindari peak hours.

Setelah makan, kami jalan kaki ke stasiun MRT Bugis untuk menuju Orchard karena istri saya rencana mau ketemu teman SMA nya di sana. Perut kenyang jalan pun rasanya malas ya. Perjalanan ke Orchard kira-kira 10 menitan dan titik ketemuannya memang di depan ION jadi keluar dari stasiun MRT langsung ke titik ketemu. Di Orchard hanya sekitar 30 menit karena hanya ngobrol-ngobrol, foto-foto dan makan 1 dollar ice cream. Selesai foto-foto, karena sudah mengantuk, akhirnya pamit pulang menuju hotel.

Karena cuaca Singapura itu humid dan panas, maka tips berikutnya ke sini adalah harus sering-sering cuci baju. Nah, karena cuci baju di hotel itu mahal, jadi lifesaver selama di SG adalah laundromat alias laundry coin self service. Di dekat hotel tempat kami menginap, ada 2 laundromat dengan jarak kira-kira 600an meter (10 menit jalan kaki) dan buka selama 24 jam. Jadi sebetulnya kami cuma bawa kira-kira 5 stel baju masing-masing untuk 5 hari. Tapi sehari itu kita bisa ganti baju sebanyak 2 kali minimal karena pulang hotel baju udah basah kuyup kena keringat hehe.

Bangun pagi hari kedua, jam 6 waktu setempat (yg mana itu kayak jam 5 subuh WIB), saya udah keluar dari hotel bawa kresek besar untuk nyuci baju di laundromat. Nama laundromat nya adalah LittleIndia, yang unik dari Laundry coin self service ini menurut saya adalah: tidak nampak penjaga alias fully CCTV operated, ada mesin penukar koin 1SGD, dia bisa nerima uang kertas pecahan 2, 5 dan 10 SGD, jadi jangan khawatir kalau kita ngga punya uang koin, disini udah ada mesin penukar otomatisnya. Mesin cuci dan pengeringnya terpisah. Kita bisa pilih yang ukuran 6kg atau yang 12 atau 14kg. Mesin cuci ukuran 6kg punya 2 macam tarif, yaitu cuci deterjen (3SGD per 30 menit) dan deterjen+pelembut (4 SGD per 30 menit). Mesin cuci ukuran 12 kg, tarifnya 5 dan 6 SGD untuk varian deterjen only dan deterjen+pelembut. Mesin pengering ukuran 6kg punya tarif 1SGD per 10 menit, sedangkan mesin pengering ukuran ukuran 14 kg, tarifnya 1SGD per 5 menit. Tips berikutnya adalah supaya cucian kering maksimal, waktu pengeringan yang optimal adalah 60 menit alias 6 SGD untuk ukuran mesin cuci 6 kg. Artinya untuk nyuci 6kg baju, kita perlu sekitar 9-10 SGD sampai baju kering. Lumayan mahal ya, sekitar 20rb per kilo tanpa sertika lagi.

Setelah masukkan baju kotor ke mesin cuci, saya tungguin dulu karena hanya 30 menit. Nah setelah cuci selesai dan masukkan ke pengering, saya tinggalin dulu ke hotel karena perlu waktu 1 jam sampai kering betul. Dan karena ini SG, jadi kalau kita tinggalin pun ngga perlu khawatir akan ada yang nyolong bajunya hehe.

Di hari kedua ini, tujuan kami adalah Garden by the Bay karena ingin lihat kembali duo Cloud Forest-Flower Dome dan ada tujuan wisata baru di sana yaitu Floral Fantasy. Untuk tiketnya sendiri saya sudah book sejak di Indonesia melalui aplikasi Klook. Klook ini langganan saya kalau mau jalan-jalan ke LN, karena sejak 2018, saya sering beli tiket USJ, Tokyo DisneySea, JR Pass, berbagai wahana wisata di HK, dan Singapore dengan rate rupiah dan lebih murah dikit dari harga website resminya.

Harga tiket masuk ke Flower Dome + Cloud Forest per orang sekitar Rp 400 ribuan (anak di bawah 3 tahun gratis). Sudah naik dikit sejak terakhir ke SG tahun 2019 dulu masih sekitar Rp 380 ribuan. Sedangkan tiket ke Floral Fantasy nya sekitar Rp 170 ribuan.

Untuk berangkat ke sini dari penjuru SG cukup mudah, cukup naik MRT lalu turun di stasiun Bayfront. Stasiun ini sudah interchange antara jalur CC (Circle Line) dan jalur DT (DownTown Line). Pilih pintu exit ke arah Garden by The Bay. Sebetulnya bisa juga kalau kita mau lihat-lihat Marina Bay Sands (MBS), tinggal pilih pintu exit Marina Bay (jalur CC dan jalur NSL/merah) lalu jalan dari MBS ke lantai B1 dan ikuti arah ke stasiun Bayfront.

Keluar dari pintu exit stasiun Bayfront arah Gardens by The Bay, sebetulnya kita akan langsung ketemu Floral Fantasy. Cuma karena tempatnya agak-agak nyempil jadi pengunjung kurang sadar dan banyak yang nyangka Floral Fantasy ada di dekat-dekat Flower Dome atau Cloud Forest.

Floral Fantasy, sesuai namanya, tempatnya isinya bunga-bunga hidup yang didekor sedemikian rupa yang bikin daya tarik pengunjung yang ke sini. Bunga-bunga nya adalah bunga dari seluruh penjuru dunia dan seperti di Flower Dome, ruangan ini full AC dan punya dinding dan atap kaca untuk sinar matahari masuk.

Keren banget lah pokoknya. Rp 170rb untuk masuk sini per orang tanpa batas waktu, memang worth it.

Nah, dari Floral Fantasy yang letaknya dekat dengan pintu keluar stasiun MRT, untuk menuju ke Garden by The Bays tempat Cloud Forest, Flower Dome dan Sky Tree, kita perlu jalan kaki sekitar 500-an meter melintasi danau via jembatan di sana. Di tengah hari bolong di cuaca SG yang saat itu sekitar 32 derajat celcius, sangat disarankan bawa payung agar tidak terlalu kepanasan.

Pemandangan yang saya lihat berbeda di area SkyTree adalah, tempat makan favorit saya kalau ke sini (Texas Chicken) dan resto-resto lain di area sekitar SkyTree sudah hilang. Mungkin karena dihantam pandemi atau memang lagi mau direnovasi. Artinya, tempat makan halal di area ini hanya tinggal Mc Donald aja. Dan ngga heran kalau McD di sini selalu penuh dan antri, apalagi pas jam makan siang/malam.

Karena kita sudah order tiket via online (Klook) tidak perlu ke counter ticket di sana, tinggal tunjukkan barcode saja ke petugas di pintu masuk dan langsung bisa masuk. Bagi saya sendiri, ini sudah kali ketiga masuk ke Flower Dome dan Cloud Forest. Nothing changed much sih, tapi tetep seru apalagi pertama kalinya ngajak dua anak ke sini.

Seperti biasa, yang pertama didatangi adalah Flower Dome. Sesuai namanya, tempat ini adalah kubah/green house raksasa yang diberi AC dan di dalamnya terdapat hampir semua jenis tanaman (terutama bunga) dari seluruh penjuru dunia. Kalau kita masuk ke dalamnya, dia terbagi-bagi jadi beberapa segmen sesuai dengan wilayahnya. Dari mulai Mediterranian, Australia, Afrika, Amerika Latin, Asia, dll. Tempatnya terdiri dari 2 lantai dan di bagian lantai dasar tepat di tengah-tengah ada bunga-bunga cantik yang biasanya jadi tema untuk bulan-bulan tertentu. Kali ini temanya adalah bunga mawar.

Kalau mau santai lihat-lihat semua bunga dan foto-foto, perlu waktu sekitar 1.5 jam untuk dihabiskan di sini. Karena masih pandemi, di penjuru Flower Dome ada petugas rompi merah yang berjaga-jaga untuk menegur pengunjung yang lepas masker ketika foto. Jadi ya kalau ada yang dapat foto tanpa masker berarti curi-curi menghindari petugasnya.

Setelah puas di Flower Dome, tujuan berikutnya adalah Cloud Forest. Sesuai namanya, di sini adalah dome raksasa ber-AC tempat tanaman-tanaman hutan hujan tropis dari seluruh penjuru dunia dipelihara. Daya tarik utama tempat ini adalah Giant Waterfall dan juga jembatan gantung yang menyusuri tiap lantai Cloud Forest.

Dan kebetulan di sana lagi ada Orchid Festival juga, jadi berkesempatan lihat Anggrek-anggrek bagus yang lagi dipajang di sana.

Sama seperti Flower Dome, kira-kira di tempat ini kita akan menghabiskan waktu 1-1,5 jam. Tips ke sini adalah setelah foto di Giant Waterfall dan lihat semua tanaman di lantai dasar, naik lift sampai ke lantai paling atas dan naik tangga lagi menuju Secret Garden. setelah itu turun menyusuri jembatan gantung sampai ke lantai bawah. Dan di lantai bawah nanti akan ada eskalator menuju ruang video dokumenter kenaikan suhu bumi 4 derajat. Setelah nonton video itu, keluar lewat pintu exit dan kita akan melihat 1 taman lagi yang isinya tanaman dan hewan-hewan kecil di hutan hujan tropis dan kalau beruntung nanti akan ada kabut-kabut tebal yang menyelimuti taman ini persis seperti di hutan hujan tropis.

Setelah hampir 4 jam mengelilingi Floral Fantasy, Cloud Forest dan Flower Dome, kami pun cari makan siang di tempat ini. Seperti yang saya bilang sebelumnya, setelah tutupnya Texas Chicken, praktis di sini resto halal fast food hanya tinggal Mc Donalds. Dan McD nya ini setiap jam makan siang rame nya luar biasa. Karena di dalam penuh, kami pun memutuskan makan di luar di bawah SkyTree sambil lihat-lihat pemandangan. Ternyata di area ini juga banyak orang-orang India yang makan-makan sambil gelar karpet.

Setelah puas jalan-jalan di sini, kami pun pulang kembali ke hotel untuk tidur sore. Maklum cuaca panas, jalan kaki yang jauh dan bawa anak-anak menguras tenaga dan emosi. Lumayan, sampai hotel masih jam 3 sore dan sempat mandi dan tidur sekitar 1-2 jam. Sore harinya kami cari oleh-oleh di Bugis dan Chinatown sebelum kembali ke hotel sekitar jam 9 malam.

Ada cerita lucu saat cari oleh-oleh di Bugis karena anak saya tiba-tiba ingin BAB. Dan kami pun sibuk cari toilet di mall terdekat. dan karena waktu itu nggak bawa alat cebok, akhirnya beli dulu air mineral di 7Eleven dan cebok pakai air mineral itu. Pelajaran berharga kalau ke LN bawa anak kecil adalah untuk selalu membawa alat cebok karena anak kecil sulit diprediksi hehe…

Sampai jumpa di part 2…