Singapore Trip 2022 Part 1

Berhubung IHSG dan semua bursa dunia lagi merah membara, kayaknya lebih sehat untuk mental kalau mengurangi buka OLT (online trading apps) dan update blog mengenai pengalaman saya ke Singapura bulan Mei lalu.

Yes, berhubung covid sudah melandai baik di Indonesia maupun Singapura, Singapur sudah mulai melonggarkan kedatangan turis asing ke negaranya secara bertahap. Di akhir 2021, kalau saya ngga salah, pelonggaran pertama kali dilakukan Singapur dengan mengubah sistem karantina 5 hari menjadi PCR prior to departure dan PCR on arrival, sehingga turis Indonesia yang mau ke sana harus PCR di Indo H-2 sebelum berangkat dan PCR pas tiba di Changi lalu langsung menuju hotel untuk karantina 1 hari sampai hasil PCR nya keluar. Kebijakan ini tentunya berat buat turis yang datang dengan keluarga karena biaya PCR untuk 1 orang di indonesia = Rp 275rb dan di Singapur hampir Rp 1 juta sekali test. Belum lagi akhir 2021, masih berlaku kebijakan PCR prior to departure dan karantina 3-7 hari di Indonesia yang bikin cost untuk travel jadi bengkak untuk PCR dan hotel karantina.

Di bulan Januari 2022, Singapur kembali melonggarkan aturan dengan mengganti PCR on arrival dengan ART (Antigen Rapid Test) on arrival. Turis langsung di ART dan hasilnya akan keluar dalam 1 jam. Jika non-reactive maka sudah bebas jalan-jalan ke kota. Namun PCR prior to departure masih berlaku. Sementara Indonesia di Januari juga sudah menghapus karantina dengan mengganti menjadi PCR pre-departure di negara asal dan PCR on arrival di Jakarta. Tapi tetap aja cost yang harus dikeluarkan tetap tinggi karena kita perlu anggarkan ART singapur kurleb SGD 15 per orang, PCR pre-departure Jakarta dan on arrival Jakarta masing-masing Rp 275rb dan PCR pre-departure di Singapur sekitar SGD 95 per orang hehe.

Kemudian di Bulan April 2022, game changer terjadi, Singapur menghapus semua requirement PCR pre-departure dan ART on arrival. Semua turis dibebaskan masuk Singapur tanpa syarat test dan hanya cukup vaksin lengkap (dua dosis). Hal ini langsung disambut baik semua WNI yang sudah “gatal” pingin main ke SG karena praktis sudah hampir 2 tahun tutup border. Dengan aturan baru ini, modal kita hanya perlu nambah PCR pre-departure di Singapura sebelum pulang ke Indo dan PCR on arrival di Jakarta. Kurang lebih hanya SGD 95 + Rp 275rb per orang.

Karena alasan inilah, saya dan istri memutuskan untuk langsung hunting tiket di bulan April untuk keberangkatan di minggu ketiga Mei saat yang lain sudah selesai cuti Lebaran. Ngga disangka, ternyata hunting tiket berhasil. Karena saya dan istri masih ragu untuk pergi berdua dengan bawa 1 bocah 6 tahun dan 1 balita, akhirnya kami ajak ibu saya untuk ikut. Dan dapatlah hasil hunting tiket Singapore Airlines CGK-SIN p.p. untuk 5 orang seharga Rp 18 juta. Kalau dihitung per orangnya sekitar Rp 3 jutaan. Untungnya biaya tiket ini keganti dari dividen dari saham batubara di 2022 ini hehe.

Tiket sudah, berikutnya adalah hunting penginapan. Biasanya kalau saya ke SG selama periode 2016-2018, saya selalu menginap di apartement milik kakak ipar yang kebetulan sedang PhD dan kerja di sana. Namun per 2019 lalu, beliau sudah lulus dan bekerja di salah satu universitas swasta di Jakarta, jadi no more freestay lagi hehe. Awalnya karena tiga dewasa dan 2 anak kecil, saya mau coba cari apartment di AirBNB, namun ternyata mungkin karena sempat hancur karena pandemi, nyaris jarang sekali apartment proper harga bersahabat di AirBNB untuk periode ini. Akhirnya pilihan jatuh ke Hotel Summerview di area Bencoolen (Rochor MRT Station) yang saya pilih karena ada kamar untuk 3 single bed dan pas di tengah kota (Bugis Area).

Penampakan hotelnya sendiri kurleb seperti gambar di atas. Tepat di sebelah jalan utama. Saya cek untuk kamar dengan 2 queen size bed dan 1 single bed, dipatok harga sekitar Rp 1.3 juta per malam (tanpa sarapan), dan kami rencana menginap di sini 4 hari dan 5 hari wisata ke Singapur. Karena kami ada misi untuk ke Jewel, jadi di H-1 sebelum pulang nanti akan menginap di Hotel Yotel Air yang letaknya di Jewel. Hotel ini termasuk hotel backpacker dan dia punya 1 kamar dengan 1 queen size bed dan 1 kasur tingkat yang muat untuk 4 orang dewasa. Harganya pun cukup ramah di kantong, Rp 1.3 juta per malam.

Setelah hotel dan tiket pesawat settle, disusunlah rencana untuk spot-spot apa aja yang bakal dieksplor selama di sana. Berhubung hampir semua spot mainstream sudah pernah saya dan istri kunjungi, kali ini kami ingin sesuatu yang beda. Akhirnya pilihan jatuh ke coba SkyLuge, DuckTour, ke Garden by The Bay lagi (plus Floral Fantasy) dan kuliner ke spot-spot kuliner halal di sana. Awalnya ingin nyoba ke pantai dan eksplor hal lain, tapi mengingat akan repot karena bawa balita, akhirnya rencananya terpaksa dibatasi.

Setelah semua agenda disusun, H-5 keberangkatan, saya mulai cari info bagaimana cara mengisi SG Arrival Card (SGA). Sejak pandemi dan pembukaan border, Singapur mewajibkan semua turis untuk mengisi form SGA online antara H-3 sampai H-1 keberangkatan. SGA ini untuk menggantikan form embarkasi (kertas warna putih) yang suka dibagikan di pesawat sebelum pandemi dulu. Caranya mudah sekali, tinggal ngikuti petunjuk di web ini Dan udah banyak juga tutorial di yutub tentang cara ngisinya. Silakan disearch saja di yutub ya.

Hasilnya nanti kita akan dapat email seperti ini yang berarti sudah approved untuk masuk ke Singapur.

notifikasi SG arrival card ke email

Intinya SGA ini akan membuat antrian di imigrasi di Changi nanti jadi sangat minimal karena data di paspor kita sudah embed ke SGA yang sudah kita isi. Proses checking di bandara Soetta hanya dilakukan dengan cara mengecek sertifikat vaksin saja. Kalau itu OK, tiket kita akan dicetak oleh pihak maskapai dan pihak imigrasi di Soetta akan langsung cap paspor tanpa banyak tanya lagi.

Saya putuskan untuk bawa mobil pribadi dari Bandung dan pakai parkir inap di Bandara Soetta. Sempat cari info kalau di Soetta itu ada lokasi parkir inap yang letaknya di terminal 1 dan 2 (di mana harganya mahal banget) dan yang lebih murah di luar Terminal yaitu di area gedung depan stasiun KA bandara, gedung 600 dan juga area Soewarna yang harganya lebih murah.

Saya putuskan untuk parkir di area non terminal saja dan dari pengamatan di google map, sepertinya lebih enak parkir di Gedung 600 karena tinggal nyebrang langsung ke Terminal 1 dan dari situ bisa naik bus shuttle ke Terminal 3. Lokasi nya persis di google map ini. Simulasi yang saya lakukan, jika tarif parkir 80rb hari pertama dan 60rb hari berikutnya, maka 5 hari parkir akan menghabiskan biaya sekitar 360-380rb rupiah. Cukup mahal sih, namun worth it kalau bawa balita agar ngga ribet di kendaraan umum saat berangkat dan pulangnya nanti.

Karena keberangkatan pesawat pukul 07.55 WIB, kami berangkat dari Bandung pukul 02.30 WIB. Masih ngantuk sih, tapi ya mau gimana lagi namanya juga cari tiket murah hehe.. Yang penting bawa bekel kopi pait sama permen kopiko aja buat di sepanjang jalan. Tiba di Jakarta pukul 05.00 WIB, proses checkin pun terbilang lancar dan sudah menunggu di gate sebelum pukul 06.00 WIB. Padahal sudah datang kepagian, tapi ternyata pesawat nya delay 1 jam.

Setelah menunggu sampai pukul 08.30 WIB, akhirnya semua penumpang dipanggil untuk masuk pesawat. Surprisingly, pesawat SQ yang saya naikin waktu itu full. Begitupun dengan penerbangan lain seperti Air Asia, JetStar, Garuda yang tujuan Singapur, semua full booked. Luar biasa antusiasme WNI untuk berkunjung ke SG setelah 2 tahun lebih puasa hehe.

Yang sudah dibayangkan adalah anak-anak heboh dan ngga bisa diatur di dalam pesawat, tapi ternyata anak saya yang kecil malah langsung tidur pas pesawat selesai takeoff dan baru bangun menjelang landing hehe. Anak saya yang pertama juga anteng nonton acara tv di layar.

Ada yang berbeda kali ini, inflight menu yang biasa disajikan dalam nampan dan dengan peralatan lengkap sebelum pandemi, kali ini hanya disajikan dalam kotak karton ukuran kecil (mungkin 10×10 cm) namun isinya sangat padat dan mengenyangkan. Saya lupa ambil foto namun nemu di google berikut kira-kira penampakannya

Walau kelihatan kecil, tapi isinya padat sekali. Waktu itu yang disajikan menu breakfast seperti omelet, include bake bean dan kentang, dan nasi lemak. Disajikan dengan sendok garpu kayu plus yoghurt sebagai pelengkap. Enaknya dengan wadah ini, penumpang yang masih takut makan di pesawat bisa bawa pulang dan makan sampai di tujuan nanti. Praktis anti ribet. Dari segi rasa pun ngga berkurang sama sekali. Tetap enak khas SQ.

Penerbangan 1 jam 20 menit singkat sekali, jadi jika kita bawa anak kecil, pramugari SQ akan mendahului pemberian kotak makan untuk anak-anak karena mereka kan makannya relatif lama. Habis semua anak dibagikan, baru mereka mulai keliling. Setiap penerbangan ke Singapur dari Jakarta, saya hitung, kita hanya punya waktu bersih 15 menit untuk makan sampai Pramugari akan ambil sisa makanan untuk dibuang. Sangat singkat, jadi ya makannya agak buru-buru.

Setiba di Changi, ternyata keramaian di Changi jauh berkurang dibanding pra-pandemi. Terminal arrival ngga begitu penuh tapi ya bisa ketahuan kalau mostly di Terminal itu isinya banyak orang indonesia sih hehe. Karena sudah ngisi SGA di Indonesia, begitu sampai di Imigrasi, mereka hanya cocokkan data paspor saja dan kita hanya diminta cap jempol dan foto. Saya hitung di imigrasi hanya perlu 30-60 detik saja.

Keluar dari Imigrasi, seperti biasa, ritual kalau bawa anak kecil adalah: ganti popok, ganti baju dan makan dulu. Waktu masih menunjukkan pukul 11.00 LT, masih 4 jam dari jam check-in pukul 15.00. Jadi masih banyak waktu untuk bersantai di Changi. Saya pun langsung mengambil SIM Card yang sudah dibeli dari Indonesia di counter UOB terdekat. Harga SIM Card StarHub 100GB untuk 14 hari kurang lebih Rp 114 ribu rupiah. Cukup lah rasanya untuk tethering dengan hp istri selama 5 hari di sana.

Setelah semua perlengkapan siap, seperti yang sudah-sudah, kami naik MRT dari Changi menuju stasiun Bugis (jalur hijau), lalu interchange ke jalur biru hanya 1 stasiun untuk turun di Rochor. Terakhir ke SG 4 tahun lalu, jalur MRT nya makin banyak, jalur Downtown (biru) sudah kumplit dan sekarang sudah dibangun jalur coklat, yang sepertinya akan kumplit di 2023-2024 nanti. Luar biasa pembangunan di SG

Karena naik MRT pas tengah hari bolong (sekitar jam 12) MRT pun tidak sepadat jam sibuk. Relatif longgar dan dapat tempat duduk. Oia, karena bawa bocah, dan mengingat di SG itu kemana-mana harus jalan kaki, gear yang kami bawa ke SG pun lumayan reliable. Yaitu 1 buah trike (yang foldable dan handy) untuk anak saya yang besar (6 tahun) dan 1 buah stroller foldable untuk anak saya yang 2 tahun.

Untuk trike, kami punya sendiri, tapi kalau foldable stroller cukup sewa saja selama 1 minggu sekitar Rp 150-200rb dan banyak tempat penyewaan secara online di kota Bandung. Dua peralatan ini sangat sangat membantu karena perjalanan tetap bisa dilakukan ketika anak mengantuk ataupun rewel karena ngga mau jalan kaki.

Perjalanan naik MRT dari Changi Airport sampai ke Rochor kira-kira sekitar 30 menit karena harus 1 kali ganti jalur di Bugis (pindah dari jalur hijau ke biru). Keluar di stasiun Rochor, jarak ke hotelnya hanya 2 menit jalan kaki sekitar 300-an meter. Saat jalan kaki saya lihat lokasi hotel nya sangat strategis, tepat di Beencoolen road, bersebelahan Burlington dan Simlim Square di mana banyak tempat makanan (BurgerKing, Subway) dan ada dua 7Eleven di sebrang jalan. Tidak lupa, livesaver di SG adalah vending machine dimana kita bisa beli Dassani (Aqua) ukuran 600mL seharga 1 SGD (ini harga 1 SGD sejak dulu kala rasanya, dari pertama saya ke SG tahun 2011).

Sampai di hotel, ternyata proses check-in tidak mulus, karena awalnya kami sudah pesan 1 kamar dengan 3 single bed di hotel ini, ternyata begitu check-in pesanan kamar tidak bisa dilanjutkan karena berdasarkan regulasi di SG, 1 kamar hotel hanya bisa ditempati oleh 1 orang anak haha.

Kamar triple room yang awalnya dipesan

Kami pun bingung karena pemesanan tidak bisa dibatalkan dan direfund. Ternyata resepsionisnya pun menawarkan upgrade ke kamar family room yang paling besar yang terdiri dari 2 queen bed. Dan ternyata bukan gratis dong, tapi harus nambah sekitar 100SGD per malam.. Busett.. Jadi pelajaran berarti kalau ke SG bawa >1 anak kecil umur di bawah 11 tahun, harus pesan minimal 2 kamar. Proses checkin juga tergolong lambat karena musti nunjukin lagi sertifikat vaksin dan paspor. Padahal kan kalau sudah mendarat di SG artinya sudah diakui kalau punya sertifikat vaksin ya.. Proses checkin sekitar 15 menit dan setelah itu kami boleh langsung masuk kamar karena kamarnya kosong.

Sayangnya saya lupa ambil foto detil kamarnya jadi cuma bisa nyomot dari google aja. Tapi kamarnya tuh luas banget, sekitar 6×6 meter mungkin dan letaknya di pojokan dekat tangga darurat. Kamarnya di lantai 3 dan ada jendelanya yang menghadap ke bagian belakang hotel. Kamar mandinya dipisah antara yang untuk mandi, dan untuk buang air. Tips berikutnya kalau pergi ke SG adalah selalu bawa alat cebok (semprotan) atau beli aqua yang ukuran 1.5L setelah diminum, botolnya ditaruh di kamar mandi untuk cebok. Karena hampir 100% kamar mandi di hotel di SG kamar mandi kering tanpa cebokan air wkwk.

Karena sudah terlalu lelah perjalanan dini hari dari Bandung, kami semua pun langsung tidur siang dan bangun sekitar pukul 17.00 untuk jalan-jalan. Oia, karena di trip kali ini saya cukup banyak riset mengenai tempat-tempat kuliner halal yang unik-unik, maka setiap makan malam, kami akan coba kulineran ke resto-resto halal di SG.

Destinasi wisata kuliner di hari pertama ini adalah resto Italia halal di SG yang namanya positanoristo. Seperti diketahui, di SG itu tingkatan resto halal dibagi-bagi menjadi 3 kategori yaitu : 1.vegetarian/vegan menu, ini sebetulnya tidak bisa disebut halal, tapi dia menyediakan menu vegetarian yang bisa dinikmati muslim. Hanya saja ya kita tidak bisa jamin bahwa alat masak dan alat makannya tidak dicampur dengan menu non halal. 2. Muslim owned, resto ini tidak disertifikasi halal, namun penjualnya adalah orang beragama Islam (biasanya melayu), dan cukup aman makan di resto yang muslim owned karena kecil kemungkinan mereka kasih kandungan non halal. 3. Halal certified, nah kalau yang ini yang betul-betul disertifikasi sama MUIS dan biasanya sertifikatnya ditempel di depan kaca resto. Konsekuensinya ya harga makanannya lebih mahal dari yang muslim owned. Trivia dikit, di SG itu semua fast food chain (BK, Pizzahut, McD, KFC, you name it) semua sudah certified MUIS. Jadi kalau ngga mau repot ya tiap hari makan fastfood di sana dijamin halal hehe.

Nah biasanya resto-resto halal yang tematik kayak Positano ini terkonsentrasi di daerah Arab Street, Bugis karena disinilah banyak perkampungan melayu Singapore dan destinasi penginapan murah untuk turis-turis Indonesia dan Malaysia.

Untuk menghindari antrian/keramaian saat makan di sana, saya pun coba reservasi via websitenya, dan memang saya sengaja pilih yang jam 17.00 di mana seharusnya belum banyak keramaian karena Singaporean itu biasanya dinner di atas jam 19.00. betul saja, sampai sana, masih sepi dan kami bisa dapat duduk di lantai 2 kursi untuk 6 orang. Sebagaimana resto full course, menunya beragam dari appetizer sampai dessert. Karena ini resto Italia, menu khasnya adalah lobster, berbagai pasta dan pizza. Cuma ya, karena dia kelasnya restoran, jadi harganya ngga ada yang murah di kantong ey, per menunya kira-kira kalau di rupiah-kan berkisar antara Rp 150-200 ribuan. Bikin jebol kantong.

Karena anak-anak sudah makan sereal dan kue yang dibawa dari Indonesia di hotel tadi, akhirnya kami pesan menu yang bisa dimakan ramai-ramai seperti Mozarella cheede balls, Margherita, Wild Mushroom Linguine, Mac & Cheese buat bocah, dan Amalfi Grilled Chicken. Seperti halnya di negara maju lainnya, air putih disediakan secara gratis dan bisa refill tanpa limit hehe.

Total berlima habis 112 SGD, lumayan juga untuk ukuran resto halal. Dari menu yang disajikan, saya kasih nilai 7.5/10 buat rasanya. Proses pembuatan menu juga ngga terlalu lama jadi terhitung cepat untuk ukuran resto full course. Mulai makan pukul 17.30, jam 18.15 kami sudah selesai dan orang-orang mulai berdatangan untuk dinner. Jadi ya pas sekali kalau mau menghindari peak hours.

Setelah makan, kami jalan kaki ke stasiun MRT Bugis untuk menuju Orchard karena istri saya rencana mau ketemu teman SMA nya di sana. Perut kenyang jalan pun rasanya malas ya. Perjalanan ke Orchard kira-kira 10 menitan dan titik ketemuannya memang di depan ION jadi keluar dari stasiun MRT langsung ke titik ketemu. Di Orchard hanya sekitar 30 menit karena hanya ngobrol-ngobrol, foto-foto dan makan 1 dollar ice cream. Selesai foto-foto, karena sudah mengantuk, akhirnya pamit pulang menuju hotel.

Karena cuaca Singapura itu humid dan panas, maka tips berikutnya ke sini adalah harus sering-sering cuci baju. Nah, karena cuci baju di hotel itu mahal, jadi lifesaver selama di SG adalah laundromat alias laundry coin self service. Di dekat hotel tempat kami menginap, ada 2 laundromat dengan jarak kira-kira 600an meter (10 menit jalan kaki) dan buka selama 24 jam. Jadi sebetulnya kami cuma bawa kira-kira 5 stel baju masing-masing untuk 5 hari. Tapi sehari itu kita bisa ganti baju sebanyak 2 kali minimal karena pulang hotel baju udah basah kuyup kena keringat hehe.

Bangun pagi hari kedua, jam 6 waktu setempat (yg mana itu kayak jam 5 subuh WIB), saya udah keluar dari hotel bawa kresek besar untuk nyuci baju di laundromat. Nama laundromat nya adalah LittleIndia, yang unik dari Laundry coin self service ini menurut saya adalah: tidak nampak penjaga alias fully CCTV operated, ada mesin penukar koin 1SGD, dia bisa nerima uang kertas pecahan 2, 5 dan 10 SGD, jadi jangan khawatir kalau kita ngga punya uang koin, disini udah ada mesin penukar otomatisnya. Mesin cuci dan pengeringnya terpisah. Kita bisa pilih yang ukuran 6kg atau yang 12 atau 14kg. Mesin cuci ukuran 6kg punya 2 macam tarif, yaitu cuci deterjen (3SGD per 30 menit) dan deterjen+pelembut (4 SGD per 30 menit). Mesin cuci ukuran 12 kg, tarifnya 5 dan 6 SGD untuk varian deterjen only dan deterjen+pelembut. Mesin pengering ukuran 6kg punya tarif 1SGD per 10 menit, sedangkan mesin pengering ukuran ukuran 14 kg, tarifnya 1SGD per 5 menit. Tips berikutnya adalah supaya cucian kering maksimal, waktu pengeringan yang optimal adalah 60 menit alias 6 SGD untuk ukuran mesin cuci 6 kg. Artinya untuk nyuci 6kg baju, kita perlu sekitar 9-10 SGD sampai baju kering. Lumayan mahal ya, sekitar 20rb per kilo tanpa sertika lagi.

Setelah masukkan baju kotor ke mesin cuci, saya tungguin dulu karena hanya 30 menit. Nah setelah cuci selesai dan masukkan ke pengering, saya tinggalin dulu ke hotel karena perlu waktu 1 jam sampai kering betul. Dan karena ini SG, jadi kalau kita tinggalin pun ngga perlu khawatir akan ada yang nyolong bajunya hehe.

Di hari kedua ini, tujuan kami adalah Garden by the Bay karena ingin lihat kembali duo Cloud Forest-Flower Dome dan ada tujuan wisata baru di sana yaitu Floral Fantasy. Untuk tiketnya sendiri saya sudah book sejak di Indonesia melalui aplikasi Klook. Klook ini langganan saya kalau mau jalan-jalan ke LN, karena sejak 2018, saya sering beli tiket USJ, Tokyo DisneySea, JR Pass, berbagai wahana wisata di HK, dan Singapore dengan rate rupiah dan lebih murah dikit dari harga website resminya.

Harga tiket masuk ke Flower Dome + Cloud Forest per orang sekitar Rp 400 ribuan (anak di bawah 3 tahun gratis). Sudah naik dikit sejak terakhir ke SG tahun 2019 dulu masih sekitar Rp 380 ribuan. Sedangkan tiket ke Floral Fantasy nya sekitar Rp 170 ribuan.

Untuk berangkat ke sini dari penjuru SG cukup mudah, cukup naik MRT lalu turun di stasiun Bayfront. Stasiun ini sudah interchange antara jalur CC (Circle Line) dan jalur DT (DownTown Line). Pilih pintu exit ke arah Garden by The Bay. Sebetulnya bisa juga kalau kita mau lihat-lihat Marina Bay Sands (MBS), tinggal pilih pintu exit Marina Bay (jalur CC dan jalur NSL/merah) lalu jalan dari MBS ke lantai B1 dan ikuti arah ke stasiun Bayfront.

Keluar dari pintu exit stasiun Bayfront arah Gardens by The Bay, sebetulnya kita akan langsung ketemu Floral Fantasy. Cuma karena tempatnya agak-agak nyempil jadi pengunjung kurang sadar dan banyak yang nyangka Floral Fantasy ada di dekat-dekat Flower Dome atau Cloud Forest.

Floral Fantasy, sesuai namanya, tempatnya isinya bunga-bunga hidup yang didekor sedemikian rupa yang bikin daya tarik pengunjung yang ke sini. Bunga-bunga nya adalah bunga dari seluruh penjuru dunia dan seperti di Flower Dome, ruangan ini full AC dan punya dinding dan atap kaca untuk sinar matahari masuk.

Keren banget lah pokoknya. Rp 170rb untuk masuk sini per orang tanpa batas waktu, memang worth it.

Nah, dari Floral Fantasy yang letaknya dekat dengan pintu keluar stasiun MRT, untuk menuju ke Garden by The Bays tempat Cloud Forest, Flower Dome dan Sky Tree, kita perlu jalan kaki sekitar 500-an meter melintasi danau via jembatan di sana. Di tengah hari bolong di cuaca SG yang saat itu sekitar 32 derajat celcius, sangat disarankan bawa payung agar tidak terlalu kepanasan.

Pemandangan yang saya lihat berbeda di area SkyTree adalah, tempat makan favorit saya kalau ke sini (Texas Chicken) dan resto-resto lain di area sekitar SkyTree sudah hilang. Mungkin karena dihantam pandemi atau memang lagi mau direnovasi. Artinya, tempat makan halal di area ini hanya tinggal Mc Donald aja. Dan ngga heran kalau McD di sini selalu penuh dan antri, apalagi pas jam makan siang/malam.

Karena kita sudah order tiket via online (Klook) tidak perlu ke counter ticket di sana, tinggal tunjukkan barcode saja ke petugas di pintu masuk dan langsung bisa masuk. Bagi saya sendiri, ini sudah kali ketiga masuk ke Flower Dome dan Cloud Forest. Nothing changed much sih, tapi tetep seru apalagi pertama kalinya ngajak dua anak ke sini.

Seperti biasa, yang pertama didatangi adalah Flower Dome. Sesuai namanya, tempat ini adalah kubah/green house raksasa yang diberi AC dan di dalamnya terdapat hampir semua jenis tanaman (terutama bunga) dari seluruh penjuru dunia. Kalau kita masuk ke dalamnya, dia terbagi-bagi jadi beberapa segmen sesuai dengan wilayahnya. Dari mulai Mediterranian, Australia, Afrika, Amerika Latin, Asia, dll. Tempatnya terdiri dari 2 lantai dan di bagian lantai dasar tepat di tengah-tengah ada bunga-bunga cantik yang biasanya jadi tema untuk bulan-bulan tertentu. Kali ini temanya adalah bunga mawar.

Kalau mau santai lihat-lihat semua bunga dan foto-foto, perlu waktu sekitar 1.5 jam untuk dihabiskan di sini. Karena masih pandemi, di penjuru Flower Dome ada petugas rompi merah yang berjaga-jaga untuk menegur pengunjung yang lepas masker ketika foto. Jadi ya kalau ada yang dapat foto tanpa masker berarti curi-curi menghindari petugasnya.

Setelah puas di Flower Dome, tujuan berikutnya adalah Cloud Forest. Sesuai namanya, di sini adalah dome raksasa ber-AC tempat tanaman-tanaman hutan hujan tropis dari seluruh penjuru dunia dipelihara. Daya tarik utama tempat ini adalah Giant Waterfall dan juga jembatan gantung yang menyusuri tiap lantai Cloud Forest.

Dan kebetulan di sana lagi ada Orchid Festival juga, jadi berkesempatan lihat Anggrek-anggrek bagus yang lagi dipajang di sana.

Sama seperti Flower Dome, kira-kira di tempat ini kita akan menghabiskan waktu 1-1,5 jam. Tips ke sini adalah setelah foto di Giant Waterfall dan lihat semua tanaman di lantai dasar, naik lift sampai ke lantai paling atas dan naik tangga lagi menuju Secret Garden. setelah itu turun menyusuri jembatan gantung sampai ke lantai bawah. Dan di lantai bawah nanti akan ada eskalator menuju ruang video dokumenter kenaikan suhu bumi 4 derajat. Setelah nonton video itu, keluar lewat pintu exit dan kita akan melihat 1 taman lagi yang isinya tanaman dan hewan-hewan kecil di hutan hujan tropis dan kalau beruntung nanti akan ada kabut-kabut tebal yang menyelimuti taman ini persis seperti di hutan hujan tropis.

Setelah hampir 4 jam mengelilingi Floral Fantasy, Cloud Forest dan Flower Dome, kami pun cari makan siang di tempat ini. Seperti yang saya bilang sebelumnya, setelah tutupnya Texas Chicken, praktis di sini resto halal fast food hanya tinggal Mc Donalds. Dan McD nya ini setiap jam makan siang rame nya luar biasa. Karena di dalam penuh, kami pun memutuskan makan di luar di bawah SkyTree sambil lihat-lihat pemandangan. Ternyata di area ini juga banyak orang-orang India yang makan-makan sambil gelar karpet.

Setelah puas jalan-jalan di sini, kami pun pulang kembali ke hotel untuk tidur sore. Maklum cuaca panas, jalan kaki yang jauh dan bawa anak-anak menguras tenaga dan emosi. Lumayan, sampai hotel masih jam 3 sore dan sempat mandi dan tidur sekitar 1-2 jam. Sore harinya kami cari oleh-oleh di Bugis dan Chinatown sebelum kembali ke hotel sekitar jam 9 malam.

Ada cerita lucu saat cari oleh-oleh di Bugis karena anak saya tiba-tiba ingin BAB. Dan kami pun sibuk cari toilet di mall terdekat. dan karena waktu itu nggak bawa alat cebok, akhirnya beli dulu air mineral di 7Eleven dan cebok pakai air mineral itu. Pelajaran berharga kalau ke LN bawa anak kecil adalah untuk selalu membawa alat cebok karena anak kecil sulit diprediksi hehe…

Sampai jumpa di part 2…

Leave a comment