Sudah 3 bulan rasanya saya belum menulis apapun di blog ini. Cukup banyak hal yang terjadi di 3 bulan ini. Yang paling berkesan adalah akhirnya gigi saya tidak lengkap lagi alias sudah dicabut permanen. Ceritanya cukup membuat miris juga karena dua gigi saya harus direlakan hilang dalam rentang seminggu saja.
Cerita berawal dari rasa nyeri amat hebat di gigi geraham kiri kedua dari depan, yang sudah seminggu saya tahan. Rasanya seperti nyut-nyutan namun kerasa sampai di kepala. Awalnya saya kira ada lubang di gigi nya, tapi jika dilihat dengan seksama, nggak ada lubang terlihat kasat mata. Akhirnya saya beranikan lah ke dokter gigi untuk diperiksa. Dokter gigi pun bilang kalau ini bukan lubang, namun beliau juga nggak yakin sampai akhirnya saya diminta untuk rontgen mulut dulu supaya bisa dicek detil.
Saya pun baru pertama kali menjalani rontgen mulut. Kirain kayak rontgen dada gitu tp rupanya kita difoto penampang mulut dan gigi pakai scanner/x-ray 360 derajat yang bisa foto semua area mulut dalam bidang 2 dimensi. Kira-kira alatnya seperti ini:

Prosesnya cepat, hanya 2 menitan namun ada efek pusing setelah dirontgen, mungkin karena efek radiasi kali ya. Hasil rontgen keluar dalam 1 jam, namun karena dokter gigi nya sudah selesai prakteknya, saya pun memutuskan untuk kembali besok harinya. Tapi jika dilihat dari hasil foto rontgen dan diagnostik dokter radiologi, tidak ada hal aneh di gigi waktu itu.
Keesokan harinya, rontgen saya kasih ke dokter gigi, dan beliau pun bilang tidak ada keanehan. Namun diagnosis beliau bilang kalau ada kemungkinan harus perawatan akar karena mungkin akarnya bermasalah. Nah, untuk melihat kondisi akar, gigi saya dilubangi, dan ternyata ketika dilubangi, barulah terlihat akarnya patah dan tidak bisa diperbaiki lagi. Sehingga rekomendasi untuk mengakhiri penderitaan ini hanyalah dengan cabut permanen.
Kebetulan saat itu saya urutan pasien pertama, dan saat perawat cek ke bagian bedah mulut, masih ada 1 slot pasien untuk tindakan cabut gigi. Saya pun ditawari, dan tanpa pikir panjang langsung mengiyakan karena memang ingin penderitaan segera berakhir. Awalnya saya kira cabut gigi itu tindakan biasa saja seperti kayak anak kecil yg giginya goyang dan dicabut. Ternyata prosedurnya seperti operasi kecil dan perlu bius lokal. Jadi kita akan dijelaskan prosedur operasi dan disuruh tandatangan form pernyataan dan menerima resiko operasi.
Pas masuk ke ruangannya, seperti mau diperiksa gigi, disuruh duduk dan kumur2 pake antiseptik. Setelah itu disuruh minum obat yg rasanya pait banget. Lalu setelah itu duduk tengadah buka mulut dan prosedur operasi dimulai. Prosedur dimulai dengan menyuntikkan obat bius ke area gusi gigi yg akan dicabut pakai alat seperti ballpoint. Jadi gusi kita dicolok2 seperti disuntik, tau2 udah ga berasa sama sekali. Rasanya lumayan sakit sih.
Setelah dibius barulah dokter bedah mulut memulai tindakan, mencabut gigi dengan alat semacam tang. Nah karena ini gigi geraham yang terbesar, jadi agak susah nyabutnya, terdengar suara seperti tulang yg hancur karena memang dicabut paksa dengan menghancurkan giginya. Walau dibius, sakitnya masih bisa kerasa sedikit. Kebayang klo ngga dibius ey. Sesekali dokter juga mengambil gergaji gigi buat motong giginya supaya lebih mudah dicabut.
Setelah gigi tercabut, dokter bedah akan bilang kalau giginya sudah kecabut dan kita nggak akan merasakan apa2. Setelah itu baru fase berikutnya dilakukan yaitu menjahit gusi yang terbuka dengan benang jahit. Ini lumayan kerasa juga sakitnya karena efek biusnya udah mulai hilang.
Proses dari cabut sampai dijahit kurang lebig 15 menit. Setelah itu kita diminta menggigit kapas antiseptik di gusi yang giginya sudah dicabut. Wajib kontrol lagi minggu depannya untuk lepas jahitan.
Setelah keluar dari ruang dokter bedah mulut dan menunggu resep obat, barulah penderitaan selanjutnya dimulai, gigi yang dicabut rasanya nyut2an sampai ke kepala dan saya tidak bisa bicara sama sekali hanya bisa meringis sambil sesekali menitikkan air mata saking sakitnya.
Sampai di rumah pun sakitnya belum hilang, setiap 3-4 jam sekali ganti kapas dan makan pun jadi tidak selera karena musti pakai gigi sebelah dan tidak bisa makan yg dikunyah lama. Jadi hanya bisa makan bubur/nasi tim dulu. Setelah 6 jam baru rasa sakit perlahan hilang dan sudah bisa bicara normal lagi.
Untuk perawatan, dokter memberikan obat antibiotik, obat pereda nyeri dan obat kumur yang dikumur 2 kali sehari. Di hari ke tiga setelah operasi, kita sudah bisa makan normal namun masih nggak nyaman pakai gigi yg sudah dicabut.
Nah di hari keempat, kejadian tidak mengenakkan terjadi. Gigi geraham atas kanan saya sempat berlubang hingga setengahnya. Ini sudah ditambal oleh dokter gigi minggu lalu namun tidak permanen, celakanya saat itu saya makan rujak cingur yang isinya timun dan mangga muda. Beberapa gigitan cukup untuk membuat tambalan sementara nya copot dan gigitan berikutnya membuat gigi yg sudah terbagi dua patah namun belum lepas dari gusi. Hanya tinggal ditarik mungkin sudah lepas.
Dari situlah saya udah ngga nafsu makan karena gigi geraham kiri bawah dicabut dan geraham kanan atas hampir lepas. Akhirnya beberapa hari kemudian ke dokter bedah mulut lagi sekalian kontrol dan cabut 1 gigi lagi. Dan sakit yang dirasakan pun terulang lagi 😦
Jadi saat ini gigi saya sudah 2 yang copot di geraham kanan dan kiri. Nah setelah dicabut, baru minggu ketiga kita bisa makan normal karena gusi sudah keras dan bisa digunakan mengunyah normal. Sebelum minggu ketiga, rasanya masih kagok dan sakit utk mengunyah pakai gusi. Sampai sekarang saya belum pasang gigi palsu karena sepertinya akan ribet. Jadi biarlah gigi ompong 2 karena posisinya agak ke belakang jadi gak akan terlihat selama saya ngga buka mulut lebar-lebar hehe
Terima kasih