Japan Trip 2023 Part 1

Hampir 6 bulan rasanya ngga pernah ngupdate blog karena kesibukan dan kemalasan. Mumpung akhir-akhir ini kesibukan sudah rada berkurang, saya mau coba share pengalaman jalan-jalan ke Jepang (lagi) di bulan Mei 2023 kemarin dengan membawa bocil-bocil.

Rencana untuk pergi ke Jepang di-inisiasi sejak akhir 2022. Keinginan sih pergi di musim semi pas Sakura full bloom. Tapi apa daya, jadwal sakura bertepatan dengan minggu pertengahan puasa. Karena rencana kali ini mau ngajakin anak-anak juga, jadi ya terpaksa merelakan ngga dapat sakura tapi coba cari opportunity untuk ke sana di late spring, sekitar awal Mei. Agak sedih juga sih ngga bisa ikut lihat sakura pertama setelah reopening Covid. Persiapan keberangkatan kita lakukan sejak bulan Februari dengan ngurus visa. Jadi kami berempat (saya, istri dan anak-anak) sebetulnya sudah punya e-paspor, tapi karena ibu mertua saya akan ikut dan paspor nya masih paspor biasa, jadi perlu urus visa biasa.

Sebagai informasi, pengurusan waiver untuk e-paspor sebetulnya bisa dilakukan sendiri secara online dengan lakukan langkah-langkah kayak di website ini. Biayanya Rp 150rb, tapi ya untuk pengambilannya musti ambil sendiri ke Jakarta. Nah karena saya males ngurus sendiri, akhirnya minta travel agent buat ngurusin. Seorang kena Rp 350rb. Untuk non e-paspor (visa biasa), sekarang kena Rp 1.2 juta via agen. Bedanya jauh banget ya. Makanya saat ini punya e-paspor adalah wajib hehe.

Saya dan istri cari referensi juga tentang spot-spot menarik di Jepang selama late spring ini, ternyata dari hasil penelusuran beberapa minggu, late spring ini waktunya festival bunga-bunga bermekaran karena peralihan dari musim semi menuju musim panas. Jadi tujuan utama kita adalah ke 2 kota yang ada festival bunga nya: Shin Fuji dan Oyama, dan 2 kota sekitarnya yaitu Nagoya dan Kyoto, plus tentunya Tokyo sebagai destinasi utama.

Untuk tiket pesawat sendiri, karena sebelumnya saya pernah ke Jepang naik Garuda dan Japan Airlines, kali ini mau nyobain naik ANA (All Nippon Airways). Memang ANA ini harga tiketnya rada-rada mahal tapi lumayan lah daripada penasaran. Setelah ngecek-ngecek berbagai online ticket apps, tiket termurah ANA adalah tujuan CGK-NRT dengan keberangkatan dari CGK pagi, yang pastinya ramah anak, dan kepulangan sore dari Tokyo dan tiba tengah malam di CGK (kurang ramah anak). Total harga tiket yang saya dapat adalah Rp 12 juta PP per orang.

Impresi pertama naik ANA: legroom lebar seperti Garuda dan JAL, inflight entertainment relatif lebih bagus dari Garuda dan JAL, pesawat B787 Dreamliner yang jendelanya bisa digelapin (hehehe). Tapi dari sisi makanan, menurut saya masih lebih baik Garuda dan JAL deh, ANA ini makanannya agak hambar dan kurang variatif. Tapi overall OK lah karena beberapa menu bisa dimakan anak-anak kayak sosis, roti, dll. Sebelum boarding juga istri sempat beli ayam Burger King jaga-jaga kalau makanan di pesawat gak bisa dimakan anak-anak.

Untuk jadwal flight sendiri, baik ANA atau JAL, punya jadwal 2 kali sehari yaitu tengah malam dan pagi-pagi. Dua-duanya ada plus minusnya. Tapi menurut saya, kalau bawa anak kecil di bawah 10 tahun, jadwal paling ramah adalah berangkat pagi agar pas landing di Tokyo sore, kondisi kita masih seger. Kalau kita ambil flight tengah malam, kemungkinan begitu landing di Tokyo, kondisi badan udah ga karuan karena kurang tidur dan mungkin anak-anak akan rewel.

Sebelum keberangkatan ke Jepang, sebetulnya sudah ada informasi yang beredar kalau JR pass akan naik harga di Oktober 2023. Jadi harga JR Pass Ordinary Car yang sebelumnya Rp 3.6 juta untuk 7 hari, akan naik hampir 2 kali lipat di Oktober 2023. Nah, karena tujuan kami nanti lebih dari 3 kota, maka berdasarkan rule of thumb, beli JR Pass adalah wajib. Berhubung harganya akan naik, maka saya putuskan untuk coba beli yang kelas Green Car alias eksekutif class. Dari pengalaman saya ke Jepang sebelumnya, JR pass ini selain untuk shinkansen, useful sekali jika dipakai di Tokyo karena mayoritas tujuan wisata di Tokyo sudah di-cover kereta JR.

Nah yang beda dari JR Pass kali ini dibanding terakhir saya ke Jepang beli JR pass tahun 2018, adalah sekarang sudah menggunakan QR code yang mana akan discan melalui tiket gate. Kalau dulu kan disediakan pintu “bypass” ke ruangan petugas yang mana pemegang JR pass harus menunjukkan JR Pass ke petugas jika ingin naik kereta JR. Lumayan lah sekarang udah ada kemajuan hehe.

Setelah berdiskusi panjang dengan istri, akhirnya kami putuskan rute perjalanan kami ke Jepang kali ini adalah: Nabana no Sato (lagi), Kyoto Railway Museum, Fuji Shibazakura, Ashikaga Flower Park, Shibuya Sky Tower, dan TeamLab Tokyo. Semua tempat tujuan ini akan ditempuh dalam waktu 8 hari 7 malam di Jepang dari 29 April sampai 7 Mei.

Sesampainya di Narita, hal yang pertama dilakukan tentu saja ambil pocket wifi. Pocket wifi atau sim card udah sangat wajib disewa/dibeli kalau bepergian ke LN. Harga sewa sekarang untuk 8 hari saya dapat sekitar Rp 700rb. Satu pocket wifi bisa terhubung ke 5 device dan karena kami terdiri dari 3 orang dewasa dan 2 anak, maka saya putuskan beli SIM Card juga. Hebatnya, sekarang SIM card jepang dijual di Indonesia dengan harga murah. Saya beli untuk 30GB harga Rp 80rb aja via toko ijo. Barang dikirim ke alamat Indonesia, nanti diaktivasi begitu nyampe di Jepang.

Seperti biasa, karena mendarat di Narita, hal pertama yang perlu dilakukan setelah ambil pocket wifi adalah mengantre untuk tukar voucher JR Pass dan dapat kursi Narita Express (NEX). Oia, dari bandara NRT ke pusat kota Tokyo sebetulnya ada 3 cara: cara tercepat adalah NEX, kalau kita beli JR Pass, maka akan include dengan tiket one way NEX. Cara kedua adalah dengan Keisei Line (KRL), yang murah tapi sedikit lebih lama dari NEX. Tapi perlu hati-hari karena Keisei line ini ada 2 tipe kereta yaitu local (yang berhenti di semua stasiun) dan rapid yang hanya berhenti di beberapa stasiun. Cara ketiga adalah dengan bus yang lebih murah dengan tujuan Ginza dan Tokyo Station. Bus sangat ramah kalau kita bawa barang/koper banyak dan males mobilisasi/pindah-pindah kereta. Nah, bus ini saya pakai pas perjalanan saya pulang karena lokasi menginap memang sangat dekat dengan Tokyo Station.

Oia, perlu diingat juga, di awal Mei di Jepang itu disebut Golden Week, semua orang libur dari Kamis-Minggu, makanya tiap Golden Week, semua manga scanlation itu pada libur kan? hehe. Dari testimoni yang saya dapat di internet, ekspektasi ke Jepang pas Golden Week adalah tempat wisata penuh dan crowded di mana-mana hehe.

Karena saya bawa 1 toddler umur 3 tahun dan 1 anak umur 7 tahun, maka barang bawaan kami coba pangkas seminimal mungkin dengan strategi setiap hari mencuci baju di laundry coin. Jadi total kami bawa 3 koper ukuran sedang, 1 stroller lipat dan 1 trike seperti ini. Idealnya setiap jalan, trike ini hanya sebagai emergency aja kalau salah satu anak mulai ngeluh pegel karena jalan jauh. Sedangkan stroller lipat dibawa untuk anak tidur siang mengingat kami akan pindah-pindah beberapa kota setiap 2 hari.

Jangan lupa juga untuk beli IC Card (Suica/Pasmo) di counter JR supaya kita bisa naik bus dan layanan kereta non JR selama di Jepang. harga Suica pas saya datang kemarin adalah 500 Yen yang non refundable dan ini bisa dikategorikan sebagai Adult dan Child. Nanti otomatis untuk yang child (anak 5-12 tahun) tarifnya hanya berlaku setengahnya.

Karena kami baru landing pukul 3 sore, ditambah imigrasi dan ngantri JR pass, jadi kami baru naik NEX pukul 6.30 dan tiba di Tokyo Station sekitar jam 7 malam. Dan karena saya beli JR pass green card, maka ketika naik NEX juga dapat Green Car yang lebih luas. dan sepanjang jalan cuma kami doang yang ada di gerbong itu.

Begitu tiba Tokyo Station, hal yang pertama dilakukan adalah book semua tiket shinkansen sesuai timeline perjalanan yang udah kita buat. Ini penting banget karena dari tips and trick yang saya dapat di Youtube, sangat disarankan buat book tiket shinkansen jauh-jauh hari menjelang Golden Week. Jadi tiket shinkansen itu bisa dibeli untuk keberangkatan 2 minggu ke depan. Nah, bermodalkan nyimak Youtube, saya coba praktekan cara pesen tiket Shinkansen dari vending machine nya.

Hanya 1 saja tiket shinkansen yang kami nggak dapat, yaitu buat perjalanan dari Tokyo ke Oyama. Sebagai alternatif kami diarahkan naik kereta JR yang berdurasi 60 menit dan transit 1 stasiun di Omiya. Selebihnya Alhamdulillah dapat walau sudah sisa dikit.

Setelah hunting tiket shinkansen, kami menuju hotel dengan terlebih dahulu mampir 7-Eleven untuk cari makan malam. Sengaja kami cari hotel yang dekat dengan Tokyo Station dan kami jadikan “basecamp”. Jadi, saya book 1 kamar single bed selama 8 malam sekaligus yang nanti akan dipakai untuk tempat “taruh koper” pas kita keliling keluar Tokyo. Sedangkan 1 kamar lagi di book sesuai jadwal kedatangan ke Tokyo. Harapannya kita ngga ribet mobilisasi karena setiap keluar dari Tokyo hanya akan bawa 1 koper saja. Setelah browsing-browsing, kami pilih Sotetsu Fresa Inn Tokyo Kyobashi yang jaraknya 50 m dari pintu masuk Kyobashi Station (Tokyo Metro) dan 500m dari JR Tokyo Station. Rate nya sekitar 1 juta per malam dan worth it lah walau kamarnya ngga terlalu besar. Toh hanya dipakai untuk numpang tidur aja.

Dan di perjalanan kali ini, saya baru menyadari bahwa di Jepang saat ini sudah sangat muslim friendly dari sisi makanan. Selain sudah banyaknya restoran yang halal certified dan muslim friendly, untuk makanan low budget pun kita bisa dapatkan dengan cukup mudah di jaringan minimarket seperti 7-Eleven dan Family Mart. Produk-produk makanan minuman halal dan muslim friendly sekarang sudah bisa dilihat informasinya di sini. Lumayan banyak makanan yang sekarang bisa kita beli di 7-Eleven untuk menghemat budget. Trik saya untuk perjalanan ke Jepang kali ini adalah membawa bekal abon, sambal goreng kering kentang dan serundeng kering. Jadi untuk darurat, di 7-Eleven tinggal beli salted rice ball (yang sudah pasti halal) atau onigiri tuna mayo. Pilihan untuk anak-anak juga banyak kayak salmon matang, roti non daging (melon pan yang favorit), dan semua susu sudah bisa dikonsumsi.

Karena sampai di hotel sudah jam 8 malam, kami memutuskan untuk istirahat dan persiapkan keberangkatan besok pagi ke Nagoya. Kami ambil kereta pukul 6.40 pagi supaya bisa sampe di Nagoya sekitar jam 7.30 dan langsung menuju destinasi pertama yaitu Nagoya Science Museum. Dikarenakan pagi itu hari Minggu, maka di lingkungan sekitar hotel (Kyobashi sampai JR Tokyo Station) sepi. Bisa dimaklumi karena ini kawasan bisnis/perkantoran. Dan karena ambil kereta paling pagi, maka suasana di stasiun shinkansen pun sepi jadi bocil-bocil bisa pada tidur nyenyak.

Sedikit tips kalau datang ke JR Tokyo Station. Jangan dikira stasiun ini sebesar stasiun Manggarai atau stasiun Bandung ya. Ini tuh berlipat-lipat lebih besar dan bisa buat first timer nyasar. Jadi dia ada 2 pintu entrance/exit.Yang pertama adalah Marunochi exit. Ini tuh gedung ikonik bata merah yang pernah diangkat jadi salah satu film Detective Conan. Nanti saya share pengalaman foto-foto di sana di post yang lain. Marunochi ini pintu masuk/keluar penumpang Tokyo Metro (subway). Nah yang kedua adalah Yaesu Exit. Ini pintu keluar persis di sebrang terminal bus Yaesu dan mayoritas digunakan untuk penumpang JR termasuk Shinkansen. Jadi kalau ke sini jangan sampai nyasar ya. Apalagi pakai kereta pagi dan bawa anak-anak. Oia, kalau kita masuk dari pintu Marunochi dan keluar di Yaesu atau sebaliknya, pas tapping IC card, kita bakal kena charge ya sekitar 100 Yen. Jadi hati-hati aja.

Pertama kali naik green car memang berbeda dengan kelas ordinary. Seat ordinary dibuat 3-2 kanan kiri sedangkan seat Green car dibuat 2-2. Karena ini kereta kedua yang berangkat dari Tokyo ke Shin-Osaka, maka di dalemnya pun kosong sampe bocil bisa selonjoran kayak begini hehe. Seperti yang sudah pernah saya tulis dulu, dari Tokyo ke Shin-Osaka itu akan melalui beberapa kota besar seperti Shizuoka, Nagoya, dan Kyoto. Pemegang JR Pass sendiri, khusus untuk JR Tohoku, hanya bisa naik kereta Nozomi (Express) dan Kodama (yang berhenti di semua stasiun). Jadi musti cari-cari info dulu tentang kota tujuan kita, jadwal keberangkatan kereta dan tipe keretanya. Di google atau youtube udah banyak kok informasinya.

Begitu menginjakkan kaki di Stasiun Nagoya, agak kaget juga karena stasiunnya penuh bukan main. Mungkin karena hari Minggu dan persiapan Golden Week kali ya. Karena waktu masih jam 9 pagi, dan Nagoya Science Museum buka pukul 10, kami pun belum bisa check-in di hotel. Sehingga tips berikutnya kalau menghadapi kondisi seperti ini adalah segera cari coin locker room di stasiun (letaknya tersebar) dan kita harus pinter-pinter lihat tanda petunjuk lokasinya. Habis itu cari locker kosong (biasanya yang tanda lampunya hijau), lalu siapkan uang coin 100 Yen atau bisa juga bayar pakai IC card. Penyewaan loker ini agak tricky karena semuanya pakai mesin. Better cek dulu cara penggunaannya di youtube ini biar ngga gaptek hehe.

Keluar dari Stasiun Shinkansen Nagoya, kita langsung menuju Nagoya Metro, nah di sini JR pass udah ngga bisa dipake. Sebagai gantinya kita musti pakai IC Card (suica). Antrian di stasiun subway nya juga padat. Tapi anehnya begitu keluar subway, tiba-tiba suasana di jalan jadi sepi.

Begitu tiba di science museum, antrian udah mengular padahal jadwal buka masih sekitar setengah jam lagi. Sebetulnya tujuan kami ke sana itu selain mau lihat museum science nya, juga mau lihat planetarium dome nya dan ikut nonton pertunjukkan/show nya yang durasinya sekitar 35 menit. Tapi begitu masuk antrian dan sampai depan counter, ternyata sisa kursi untuk next show pukul 11 itu hanya 8 dan itu pun mencar-mencar. Ditambah lagi dari penjelasan CS nya, tayangan show di planetarium semua dalam bahasa Jepang dan kebanyakan non-Japanese akan bosan nontonnya. Akhirnya kami putuskan untuk keliling-keliling di museumnya aja tanpa ke planetariumnya. Kecewa sih tapi ya mau gimana lagi.

Harga tiket untuk museum nya aja sekitar 400 Yen per orang. Anak di bawah 5 tahun gratis. Kalau mau include planetarium, HTM nya sekitar 800 Yen. Cukup terjangkau lah ya. Ada apa aja sih di dalamnya? Museumnya terdiri dari 6 lantai dan tiap lantai ada tema-temanya gitu kayak eksperimen Fisika (suara, air, listrik, angin), dinosaurus, perlengkapan rumah, mesin, elektronik, antariksa, transportasi, dll. Anak-anak juga bisa nyoba menggerakkan alat-alatnya dan praktek. Karena tempatnya crowded, jadi ya musti gantian. Tapi overall anak-anak pasti suka. Tips kalau ke sini sepertinya harus spare waktu 3-4 jam supaya bisa eksplor maksimal. Karena kami hanya 2 jam di sini, jadi kesannya buru-buru.

Photo dump dikit ya

Destinasi berikutnya adalah menuju hotel dengan mencari makan dulu di jalan pulang. Kalau tahun 2018 saya makan siang di resto Indonesia di Nagoya yaitu Bulan Bali, kali ini kami cari resto yang sekalian jalan pulang ke hotel. Pilihan jatuh ke Osu Mega Kebab. Salah satu kebab stall di Nagoya yang muslim owned. Seperti yang pernah saya bilang, di Jepang itu sekarang udah gampang cari makan. Kalau bosen makan di 7-Eleven, kita bisa eksplor resto kebab atau resto india yang jual menu vegetarian karena hampir semua aman dikonsumsi. Dulu di tahun 2018 saat belum banyak informasi makanan ramah muslim di Sevel, saya pun hampir tiap hari makan kebab hehe.

Di Mega Osu Kebab dan juga stall kebab lain di Jepang, hampir dipastikan para penjualnya fasih bahasa Indonesia dasar. Seperti menyebut harga, menyebut daging ayam atau sapi, dll. Bisa dimaklumi sih karena mayoritas pembeli mereka pasti turis-turis muslim asal Malay atau Indo ehehe. Kebab di Jepang itu relatif mahal, per menu nya sekitar 500 – 800 Yen, kalau di rupiahkan ya sekitar 70-100 rb rupiah lah. Tapi porsi agak banyak. Dan jadi variasi makanan juga kalau bosen sama makanan Sevel.

Untuk hotel di Nagoya, saya putuskan nginap di The Strings Hotel, jaraknya kira-kira jalan kaki 10 menit dari JR Nagoya Station. Hotelnya bagus, dia punya 1 kamar yang muat 5 orang dewasa. Rate nya pas saya beli dulu sekitar 1.4 juta IDR saja. Kamarnya luas, punya 2 kasur queen dan 1 kasur single seperti ini. Toilet nya juga modern. Tapi rata-rata ya semua toilet di Jepang memang canggih gini sih ya. Dan enaknya hotel ini juga dekat dengan Sevel/Famili Mart, Mc Donalds, dan ada pemandangan jalur kereta dari stasiun Nagoya.

Di Hotel, kami cuma transit sekitar 2 jam saja karena sore hari nya akan mengunjungi destinasi berikutnya yaitu Nabana No Sato. Kali kedua berkunjung ke Nabana No Sato karena istri ingin ngajak ibu mertua dan anak-anak buat liat winter illumination di sana. Sebagai persiapan terutama untuk anak-anak makan malam, kami belanja dulu di Sevel untuk cari rice ball, onigiri, roti dan snack yang bisa dimakan untuk dibawa ke sana. Karena sudah kali kedua ke sana, jadi rute nya sudah kami hapalkan. Untuk ke sana, kita bisa naik kereta dengan 2 opsi, yaitu opsi JR line dan opsi Kintetsu line. JR line sedikit lebih jauh dan keretanya lebih jarang. Tapi gratis karena bisa pakai JR pass. Kalau kintetsu line, keberangkatan lebih sering dan lebih dekat stasiunnya tapi bayar lagi. Kami putuskan pakai Kintetsu karena waktu pertama kali ke Nabana No Sato saya pakai JR line.

Perjalanan ke sana dari Stasiun Nagoya kira-kira sekitar 25 menit. Pas turun di stasiunnya kita musti nyambung lagi dengan bus yang disediakan pemerintah lokal setempat. Tarif busnya 100 Yen dan keberangkatan setiap 30 menit. Lama perjalanan dari stasiun kereta ke Nabana no Sato adalah 15 menit dengan keberangkatan terakhir jam 21.30.

Karena terakhir ke Nabana no Sato di 2018 adalah bulan Oktober, kali ini ada yang berbeda, pertama harga tiket yang makin mahal. Dulu perasaan masih 1200 Yen, tau-tau sekarang udah 2000 Yen per orang tapi udah termasuk voucher makan 500 Yen di beberapa resto. Masalahnya, ngga ada resto yang ramah muslim juga di sini, kecuali mungkin beberapa makanan hangat kayak red bean paste dan ocha.

Sedikit tips ke Nabana no Sato selain bawa bekal makan dari kota: kalau musim semi, berangkatlah dari Nagoya jam 4 sore karena matahari terbenam lebih lambat. Kira-kira hikari no toneru (light tunnel) nya dinyalakan sekitar jam 18.30. Tapi kalau autumn, datanglah lebih awal karena biasanya tunnel nya dinyalakan jam 6 sore. Jangan lewatkan juga Begonia garden (tiket include) sebelum lihat tunnel nya. Durasi di Begonia garden ini bisa 30-45 menit tergantung banyak atau ngga nya spot foto yang kita ambil. Jangan lupa bawa jaket tebal juga karena di sini anginnya kenceng dan dingin banget.

Spot foto paling bagus di Begonia garden:

Spot foto lainnya:

Jangan lupa untuk ikut countdown saat tunnelnya mulai dinyalakan:

Dulu pas 2018 ke Hikari no Toneru hanya berdua, sekarang udah berempat hehe

Di bagian dalam terowongan ini setiap tahun suka ada laser dan LED show yang ganti-ganti. untuk tahun ini sepertinya tema nya pirates:

Di sini juga kita bisa minum minuman hangat dari vending machine, tp hati-hati juga karena ngga semua ternyata bisa diminum. Coba pakai QR code google translate aja buat mastikan ngga ada yg haram di kandungan minumannya ya.

Duduk di paviliunnya ini bener-bener dingin. kami hanya tahan 10 menit aja saking dinginnya. Akhirnya memutuskan jalan pulang sambil foto-foto lagi sebelum pulang.

Selain hikari no toneru dan begonia garden, di nabana no sato ini ada juga wahana semacam observatory deck yang bisa naik tinggi dan kita bisa ambil foto dari atas. Sayangnya, 2 kali ke sini saya ngga sempat naik karena waktu dan juga mahal ehehe. Ini foto observatory deck nya.

Pulangnya sendiri kami pakai rute yang sama yaitu pakai shuttle bus ke stasiun kereta Nabana no Sato. Sebetulnya ada beberapa moda transportasi lagi seperti bus yang rutenya langsung Nabana no Sato-Nagoya Station. Silakan eksplor sendiri ya kalau tertarik pakai bus. Lebih simple, tp lebih mahal dan agak lama.

Penampakan Stasiun kereta Nabana No sato pas pulang.

Sesampainya di stasiun Nagoya, saya beli perbekalan buat sarapan dulu lalu kembali ke hotel buat istirahat. Dan pastinya nyuci baju hehe.

Sebagai informasi, nyaris di semua hotel di Jepang ternyata ada laundry coin nya ya. Sekali laundry kira-kira 300 Yen, dan pengeringnya sekitar 400 Yen. jadi sekali nyuci bisa habis 700 Yen. Sedikit lebih mahal dari laundry coin di luar tapi lebih simple dan ngga capek. Tipsnya adalah nyuci nya lebih baik malam sekalian atau pagi-pagi banget supaya ngga ngantri dengan pengunjung hotel yang lain. Resepsionis juga menyediakan penukaran koin 100 Yen. jadi ngga usah khawatir ga ada receh hehe.

Sekian part 1 kali ini, part 2 nanti akan lanjut menuju Kyoto untuk mampir sebentar ke Kyoto Railway Museum dan lanjut ke Shin Fuji buat naik gunung Fuji hehehe.

Leave a comment