Japan Trip 2023 Part 2

Perjalanan di hari kedua ini adalah menuju ke Kyoto untuk lihat Kyoto Railway museum, lalu makan siang di Ayam Ya Kyoto dan sore nya mobilisasi menuju Shin Fuji Station dengan Shinkansen. Pukul 07.30 kami sudah check out, nggak lupa belanja dulu di 7Eleven dan beli frenchfries McD untuk bekal sarapan di jalan. Sebelum jalan ke stasiun, nggak lupa foto foto dulu suasana di sekitar hotel.

Jam 7 pagi gini suasana kota Nagoya masih sepi banget. Mungkin karena orang-orang baru masuk kerja jam 9 jadi belum banyak yang keluar rumah, dan juga karena menyambut Golden Week yang jatuh di hari Kamis-Minggu, jadi mungkin udah banyak orang Jepang yang ambil cuti. Di stasiun Nagoya pun ngga begitu padat dan bisa ambil beberapa foto dulu.

Perjalanan ke Kyoto naik Shinkansen hanya 30 menitan. Karena Kyoto railway museum buka pukul 09.00, jadi masih ada cukup waktu untuk cari tempat coin locker di stasiun Kyoto, cari makan, dan mobilisasi. Perjalanan Nagoya-Kyoto mayoritas adalah pemandangan sawah seperti ini.

Sesampainya di stasiun Shinkansen Kyoto, langsung cari Coin Locker di posisi strategis, dan menuju ke JR Kyoto Station. Lokasi Kyoto Railway museum ngga jauh dari JR Kyoto. Hanya 1 stasiun saja. dan di kereta local nya banyak keluarga dan anak-anak yang memang tujuannya adalah ke museum kereta api.

Jam 9 kurang dikit, pintu museum dibuka. Tiketnya sendiri dibeli lewat vending machine kayak begini. Dewasa 1500 Yen (200rb IDR), anak-anak di bawah 10 tahun 500 Yen (75rb IDR). Lumayan terjangkau lah ya.

Begitu masuk, kita langsung disuguhi beberapa model kereta api yang ada di Jepang dari mulai kereta jadul sampai kereta modern. Semua kereta nya bisa dimasuki dan dilihat interiornya.

Bisa berfoto juga di dalam tempat masinis Shinkansen

Di bagian dalam museum, ada gedung 3 lantai yang di dalamnya berisi display kereta, museum peralatan dan teknologi kereta, arena tempat mainan track kereta, restoran, dan akses menuju rooftop dan arena outdoor.

Dan yang paling menarik dari Kyoto Railway Museum ini adalah bagian outdoor nya dimana ada display lokomotif ala ala Thomas gitu dan juga pengunjung bisa naik kereta uap dengan perjalanan sekitar 5-10 menit dengan harga 250 Yen per orang dewasa dan anak-anak.

Sayangnya kemarin lupa ambil video pas naik kereta uap nya. Intinya sih kereta uap ini berangkat tiap 15 menit karena lama perjalanan hanya 5-10 menit maju mundur area stasiun Kyoto. Sepanjang jalan si tour guide nya ngomong penjelasan mengenai sejarah stasiun Kyoto, dll tapi karena dalam bahasa Jepang, ya ngga paham kita hehe.

Sebetulnya ada atraksi lain dimana dua lokomotif di ini akan diputer di display tengah untuk dikeluarkan uap (steam) nya. Sayangnya atraksi itu adanya jam 2 dan 4 sore jadi yah ngga bisa kita lihat waktu itu. Kurang lebih kayak yang ada di video ini lah ya

Total durasi kami di Kyoto Railway museum include beli oleh-oleh sekitar 3.5 jam lah ya. Termasuk kilat juga sih. Dari buka jam 9 sampai jam 12an kita udah putuskan selesai karena mau ngejar waktu makan ramen di Ayam Ya. Berkaca pada pengalaman tahun 2018 lalu, restoran di kota-kota selain di Tokyo bakal tutup setelah jam 2 siang dan baru akan buka lagi jam 5 sore sampai malam. Jadi ya musti bergegas sebelum tutup. Idealnya sih di museum ini bisa makan waktu dari pagi sampai sore asal ngga ada tempat lagi yang dituju dan bawa bekal makan siang sendiri.

Untuk menuju ke Ayam Ya dari museum, cara tercepat dan termudah adalah dengan naik bis. Kami jalan kaki sekitar 5 menit dari museum menuju halte terdekat. Karena ini hari kerja dan udah siang, bis nya juga ngga penuh dan bisa duduk di dalamnya.

Sampai di Ayam Ya, ternyata antriannya panjang banget padahal udah jam 1 kurang. Kami pun dapat antrian no.16 dan menunggu kira-kira 30 menitan. Di sini banyak juga turis-turis Indonesia yang memang tujuannya makan ramen halal di Ayam Ya. Ayam Ya ini punya musholla di lantai 3 di rumah di seberangnya. Rumah ini kayaknya gudang dan lantai 3 nya memang dijadikan musholla oleh mereka. Jadi sambil nunggu bisa solat zuhur dulu.

Menu di Ayam Ya ini Soyu ramen ada pilihan spicy dan non-spicy. Di samping antriannya yang lama, di sini pesannya juga di awal ketika masuk melalui vending machine kayak begini.

Harga ramennya sendiri sekitar 900 Yen (120ribu IDR) untuk porsi dewasa dan 550 Yen untuk porsi anak-anak. Porsinya anak-anak sebetulnya lumayan banyak jadi mungkin agak kebanyakan juga kalau anak di bawah 5 tahun pesen 1 porsi sendiri. Air minum gratis, seperti resto Jepang pada umumnya. Overall tempat di Ayam Ya sempit jadi memang wajar sih kalau selalu antri di jam makan siang. Kita aja berlima dapat tempat di pojokan.

Ramen di Ayam Ya ini tipikal kuah yang light dan nggak terlalu tebal. Gurih dan enak sih tapi sayang potongan daging ayamnya sedikit hehe.

Selesai makan di sini kira-kira jam 2 sore. Sebetulnya memang ngga ada tujuan lain sih di Kyoto karena kalau mau jalan ke Arashiyama kalau bukan Autumn itu ngga worth it. Mau jalan ke Kiyomizu Dera dan Gion juga jauh banget dari posisi sekarang dan agak susah karena bawa anak kecil di jam tidur siang mereka hehe. Jadi ya abis makan langsung menuju stasiun Kyoto aja dan memang udah sengaja ambil kereta jam 16 sore untuk menuju ke Shin Fuji, destinasi berikutnya.

Sesampai di JR Kyoto station, ambil coin locker, beli perbekalan (7Eleven, french fries McD) kira-kira jam 3an lalu langsung masuk ke stasiun Shinkansen untuk naik kereta JR Shinkansen Kodama (satu-satunya tipe Shinkansen yang berhenti di stasiun Shin Fuji). Karena naik shinkansen tipe Kodama, berarti kita akan berhenti di semua stasiun dan perjalanan akan memakan waktu 1.5 jam. Tapi karena kita melawan arus (relatif ngga banyak yang naik Kodama menuju Tokyo), jadi 1 gerbong hanya isi kita berlima aja.

Cukup membosankan juga karena di setiap stasiun berhenti kira-kira 1-2 menit karena harus turun/naikkan penumpang dan kasih jalan ke Shinkanse tipe Hikari dan Nozomi. Oia, tips naik Shinkansen JR Tohoku (Tokyo-Shin Osaka), ambil posisi kursi sebelah kanan kalau dari arah Tokyo dan ambil posisi sebelah kiri kalau dari arah Osaka supaya bisa lihat Gunung Fuji.

Kira-kira sekitar jam 18 kita sampai di Shin Fuji. Kenapa ke Shin Fuji? karena destinasi kita berikutnya adalah Fuji Shibazakura, festival bunga Shibazakura (phlox) berwarna pink yang diadakan di kaki gunung Fuji. Festival ini paling terkenal pas Golden Week karena semua orang Jepang rata-rata pada ke sini. Sebetulnya untuk menuju Fuji Shibazakura festival ini, bisa melalui 3 cara setelah saya riset mendalam. Yang pertama adalah cara mainstream yaitu naik bus dari Stasiun Shinjuku (lihat panah biru di bawah) dan langsung menuju Stasiun Fujikawaguchiko, sebuah “stasiun central” pemberhentian ke arena wisata di sekitar gunung Fuji seperti Kawaguchi Lake, Fuji-Q highland, dll. Ini rute paling populer karena hemat ongkos dan mudah. Tapi kelemahannya adalah, setiap Golden Week pasti macet karena saking banyaknya mobil dan jalanan yang sempit di sekitar Gunung Fuji. Cukup banyak yang mengeluh kejebak macet berjam-jam setiap Golden Week loh.

Cara kedua adalah dengan naik kereta api JR dari stasiun Tokyo/Shinjuku ke Stasiun Fujikawaguchiko (lihat panah kuning di atas). Cara ini relatif lebih cepat dan murah namun sama saja dengan cara naik bus tadi, rentan kejebak macet dari Fujikawaguchiko station menuju ke Fuji Shibazakura festival karena musti lanjut naik bus lagi.

Nah setelah saya nontonin youtube turis-turis India yang ke shibazakura, dan juga googling, ada 1 cara termudah (namun ngga murah) yaitu dengan menuju ke Stasiun JR Shinkansen Shin Fuji, menginap di sana atau lanjut naik bus lagi dan menginap di kota yang namanya Fujinomiya (lihat panah merah di atas). Cara ini relatif simpel kalau kita punya JR pass karena akses ke Stasiun Shin Fuji gratis. Masalahnya hanya 1, di Stasiun Shin Fuji ini hanya ada 1 hotel dan kalau kita ngga book jauh-jauh hari, bakal ngga kebagian dan mungkin akan menggelandang hehe. Nama hotelnya adalah Toyoko Inn ShinFuji Minami Eki. Hotel ini tuh persis di sebelah stasiun JR Shin Fuji. Harga per kamar untuk 1 dewasa + 1 anak adalah 800rb IDR dan yang 2 dewasa + 1 anak adalah 1.2 juta IDR.

Masalah lain jika menempuh rute ini adalah, ada bus yang rutenya Shin Fuji Station – Fujikawaguchiko Station yang berangkat setiap 2 jam sekali. Nah, yang lucu adalah, informasi yang saya dapat mengenai bus ini semua dalam bahasa Inggris. Jadi ya terpaksa pakai google lens berkali-kali untuk yakinkan rute dan nomor bus nya serta di mana poin keberangkatannya. Itu pun belum yakin 100% pas kita sampai di sini.

Nah karena kami sampai di Shin Fuji sekitar jam 6 sore dan sudah gelap, jadi ya ngga akan sempat kemana-mana lagi. Dari Stasiun langsung ke hotel. Di stasiun shinkansenya pun ngga ada pagar pembatas kayak di Stasiun Tokyo, Kyoto atau Nagoya. Jadi memang bener-bener seperti di desa.

Nah yang bikin kesel lagi adalah, begitu mau checkin, ngga ada satupun staff yang bisa English hehe. Sempat ketahan cukup lama di front office, namun karena jaman sekarang udah ada google translate yang bisa ngeluarin suara, jadi agak mendingan lah ya. Oia standar hotel di Jepang, semua ada laundry coin, jadi ya hal pertama yang saya lakukan apalagi kalau bukan nyuci hehe.

Dan semua tempat di Jepang juga terjangkau sama Family Mart/7 Eleven, jadi abis taruh laundry di laundry coin, langsung menuju Family Mart terdekat untuk cari makan malam sekalian cari makanan untuk sarapan. Lokasi Family Mart ngga begitu jauh, hanya 3 menit jalan kaki dan ini tuh kota nya sepi banget, memang khusus buat transit buat ke Fujinomiya atau ke Gunung Fuji dari arah selatan Jepang.

Setelah semua perbekalan dibeli, hal berikutnya yang saya lakukan adalah menuju halte bus di sekitar stasiun untuk mencari di mana posisi bus yang akan dinaiki nanti dan keberangkatan pertama jam berapa. Lokasi terminal/halte persis di bagian belakang JR Shin Fuji Station Karena malam itu sudah jam 8 lewat, jadinya semua bus sudah berhenti operasi. Karena semua tulisannya bahasa Jepang, jadi saya pantengin tuh satu-satu nomor halte nya pake google lens dan akhirnya dapat lah si Bus yang akan dinaiki nanti, yaitu di halte nomor 5. Sebuah effort yang sangat berfaedah. Saya coba make sure ke petugas di stasiun pakai google translate. Intinya benar sih, bus ke Fujishibazakura itu memang di nomor 5 ini.

Bus nomor 5 ini khusus pas ada Shibazakura Festival akan masuk dan berhenti di venue nya. Ongkos sekali jalan adalah 1,400 Yen (180rb IDR) per orang, kalau anak di bawah 12 tahun setengah harga. Jadi bolak-balik 1 orang habis 400rb IDR dewasa dan 200rb IDR untuk anak-anak. Ya ngga bisa dibilang murah juga sih ya hehe.

Besok pagi nya, kami bangun jam 5 pagi waktu setempat, karena berdasarkan info keberangkatan, bus paling pertama itu start jam 7 pagi dari terminal Shin Fuji dan bus berikutnya ada di pukul 9. Karena lama perjalanan ke sana 1.5 jam dan target kami sebelum pukul 12 siang harus sudah kembali ke JR Shin Fuji karena takut kejebak macet, jadi memang harus ambil bus pertama ini. Ternyata kalau pagi, pemandangan di hotel ini cakep juga.

Pukul 6 sudah checkout hotel dan berjalan menuju JR Shin Fuji. Tidak lupa, nitip koper ke hotel dan sampaikan kalau akan diambil sekitar jam 2 siang pakai google translate hehe. Stasiun nya sendiri memang baru dibuka pukul 6 pagi. Jadi sempat foto-foto dulu di sekitar stasiun berhubung cuaca cerah.

Pukul 7 kurang, bus nya akhirnya datang di Halte No.5. Karena takut salah, saya yakinkan dulu ke sopirnya dengan buka google map dan menunjuk Shibazakura Festival. Dia mengangguk dan ngomong pake Bahasa Jepang. Ok lah, gas berarti bener hehe. Bus nya sendiri seperti bus pada umumnya. Karena ini halte pertama, jadi pada bisa duduk.

Di jepang, pembayaran bus dilakukan di depan pada saat turun. Tapi sebelum naik, kalau kita pakai IC card (Pasmo/Suica) kita wajib tapping di pintu tengah atau depan sebagai tanda posisi awal naik. Ngga punya IC Card pun ngga masalah karena dia menerima pembayaran cash juga.

Sepanjang perjalanan, walau naik gunung tapi ngga banyak belok-belok kayak di Puncak dong. Malah jalannya relatif mendatar karena mungkin masih di kaki gunung Fuji kali ya. Bus ini nanti berhenti cukup lama di Fujinomiya station buat ngangkut penumpang dari kota terbesar di sini. Kalau mau nginap di tempat yang agak rame, memang bagusnya pilih Fujinomiya sebagai tempat transit kalau nyampe Shin Fuji belum terlalu malem. Di sini juga cukup banyak hotel murah, tp ya jangan harap ada yang bisa bahasa Inggris hehe. Sepanjang jalan kita juga bisa lihat posisi Fuji-san di kanan-kiri jendela.

Sekitar 1.5 jam perjalanan, akhirnya sampai juga di area Fuji Shibazakura. Mayoritas penumpang di bus ini turun di sini. Nah pada saat turun, saya coba yakinkan dulu posisi halte tempat pulang nanti dengan nanya ke tour guide dekat situ. Ternyata di area pintu masuk, ada papan penunjuk jalan tempat bus umum. Jadi ada area tunggu bus umum yang ke Tokyo (shinjuku) dan kota-kota lain. Bus pulang yang ke Shin Fuji letaknya paling pojok. Saya cek jam masih menunjukkan pukul 9, dan jadwal bus berikutnya adalah pukul 11.30. Jadi cukup lah keliling Shibazakura sampai jam 11 sebelum balik lagi ke Shin Fuji.

Harga tiket ke Shibazkura adalah 1200 Yen (150rb IDR) untuk dewasa dan 600 Yen untuk anak-anak di atas 5 tahun. Lumayan murah lah untuk suguhan pemandangan seperti ini:

beruntung banget cuaca saat itu cerah. Biasanya kalau berawan, Fuji-san nya akan ketutup sebagian awan. Dan meskipun di foto ini matahari bersinar terik, aslinya ini suhu hanya 15 derajat dan anginnya kenceng banget. Jadi semua orang yang ada di foto ini pasti pada pakai jaket tebal hehe.

Sepanjang mata memandang, di sini terlihat hamparan pink moss (shibazakura) dan beberapa bunga lain. Baru jam 9 aja kepadatan turis udah luar biasa. Apalagi siangan dikit. Most of them bawa mobil dan naik bus. Ngga heran tiap golden week katanya di area ini macet parah hehe. Di sini tuh banyak sekali spot foto baik yang gratis maupun yang bayar. Yang bayar ada Peter Rabbit English Garden (bayar 1500 Yen untuk dapat 1 foto cetak) dan juga ada di area canoe. Kami hanya coba yang Peter Rabbit karena yang di area Canoe ngantrinya luar biasa.

Gambar Gunung Fuji nya kayak editan ya haha. Oia, di sini juga banyak vending machine minuman hangat dan dingin plus ada beberapa stall makanan. Memang ngga ada yang halal certified atau muslim owned. Tapi kalau lapar dan mau aman banget memang lebih bagus bekel makan dari 7Eleven atau Famima dulu. Tapi kalau ngga pun di sini ada stall kentang goreng panjang gitu yang menurut saya mustinya bisa dimakan karena yang jual ngga jual menu non halal.

Lumayan lah buat ganjel-ganjel dikit. Ada juga yang jual Kebab tp ya yang jual bukan orang Turki jadi meragukan juga hehe. Di bagian dekat pintu keluar sebelah kanan, ada toko oleh-oleh yang jual banyak kue-kue mochi, peach tea (yang disediakan sample) dan beberapa tanaman pink moss. Peach tea nya lumayan worth it lah buat dibeli. Satu kotak 700Yen isi 5 bungkus.

Setelah puas foto-foto dan keliling, sekitar jam 11 kami keluar dan jalan menuju halte bus kepulangan ke JR Shin Fuji. Saya coba buka google map untuk cek posisi bus nya. Ternyata dia udah kejebak macet di atas dong. Alhasil, bus baru datang sekitar jam 11.30. Kami pun naik dan pulang menuju Shin Fuji. Planning hari ini sebetulnya untuk antisipasi kemacetan kita sudah book shinkansen jam 15.00 ke Tokyo, tapi karena mungkin akan lebih cepat, jadi saya akan coba reschedule di stasiun.

Di jalan pulang, rupanya kota Shin Fuji ini banyak pabrik di kanan kirinya. sepertinya sih pembangkit listrik kalau dilihat dari modelannya.

Sampai stasiun sekitar pukul 13.30, saya langsung ambil koper di hotel dan menuju customer service dan reschedule kereta dari jam 15.30 ke jam 13.45. Alhamdulillah bisa. Kami pun pulang ke Tokyo dan tiba di Kyobashi dan di hotel tempat kami book 1 kamar full 8 malam sekitar jam 15.00 sore.

Karena hari sudah sore dan memang kita nggak ada rencana ke tempat lain, saya pun ngajak istri untuk ke salah satu ramen halal yang baru buka di bulan November 2022. Namanya Tori Bushi. Tempatnya di Ueno Okachimachi JR Station. Awalnya kita kira dari google map si Tori Bushi ini dibilangnya hanya 5 pemberhentian kereta Tokyo Metro Ginza Line dari Kyobashi sampe Ueno-Hirokoji. Tapi aktualnya, dari Ueno Hirokoji itu kita jalan kaki 10 menit naik tangga yang cukup bikin pegel dong. Mana si kecil ingin ikut dan dia ingin digendong pas turun dari kereta.

Tapi jalan kaki dan naik tangga yang lumayan melelahkan itu terbayarkan pas kita sampai di Tori Bushi ramen.

Walaupun ini ramen halal, banyak juga Nihon-jin yang makan di sini. Seperti biasa, di semua resto ramen di Jepang, kita wajib order via vending machine dan bayar cash.

Dia hanya jual menu Ramen ayam dengan kuah Miso yang sangat thick/tebal. Daging ayamnya banyak banget dan tebal. Personally saya sih lebih suka style Tori Bushi ini ketimbang Ayam Ya. Tapi ternyata istri nggak begitu doyan yang tebal gini, lebih suka yang versi light kayak di Ayam Ya.

Harga ramennya pun dari mulai 800 Yen (100rb IDR) untuk yang versi chicken white soup biasa dan yang Special yang saya order harga nya 1250 Yen (150rb IDR). Dia jual yang versi kuah pisah (tsukemen) juga. Dan jual nasi juga kalau masih laper setelah makan 1 porsi. Oia, defaultnya di sini tuh ramen disajikan dengan daun ketumbar (coriander). Tapi biasanya orang-orang pada ngga doyan dan dia punya opsi diganti ke green onion (daun bawang).

Kita tiba di sini sekitar jam 6 sore, karena masih belum waktu dinner, jadi warungnya masih agak lowong. Selesai dari sini langsung balik menuju hotel untuk istirahat karena besok ada agenda pindah kota lagi ke Tochigi perfecture untuk lihat festival bunga Ashikaga di sana.

Saya teruskan cerita nya di part 3 ya.

Leave a comment