Tahun 2023 memang tahun yang challenging buat para investor. Karena IHSG hanya “ditahan” kejatuhannya oleh segelintir saham dari mulai BYAN, lalu yang dahsyat grup Prajogo Pangestu seperti CUAN BREN TPIA BRPT. Malah BREN naik ribuan persen dalam beberapa bulan sampai nyalip BBCA sebagai emiten dengan market capitalization terbesar di Indonesia. Di luar itu, kondisi 2023 itu bener-bener lesu baik di market maupun bisnis riil. 2023 harga komoditas kayak batubara ke new normal di kisaran 120-150 USD per ton, CPO jatuh dalem, oil juga new normal di 60-70 USD, praktis ngga ada sentimen positif yang menggerakkan market.
Bongkar dan diet porto menjadi target saya di 2023 kemarin. Setelah nyangkut di banyak saham dan punya 20 emiten di porto, di pertengahan tahun saya berhasil buang 6 saham yang prospeknya lesu seperti PBID, PZZA, ADRO, dkk, namun rupanya saya masih berat lepas total saham coal related seperti PTBA UNTR dan PSSI yang masih ada di porto walaupun posisi di 2023 akhir masih floating profit.
Sebetulnya peak performa porto saya di 2023 itu sempat menyentuh +20.84% floating profit gegara mesin-mesin penggerak cuan yaitu ADES dan UNTR rally dari bulan Mei hingga Juli 2023. Sayangnya sejak Juli sampai November, porto saya nyungsep karena kejatuhan UNTR (harga coal nyungsep) dan ADES karena kena boikot. Untungnya saat itu masih ketahan sama rally nya SMSM dari 1300 ke 2400 dong.
Alhasil, di akhir 2023, saya harus puas dengan return overall 9.85% yang masih bisa mengalahkan return IHSG yang 6.16%. Yang mana return IHSG ini sangat semu karena dikatrol sama rally BREN. Jadi ya mayoritas investor di Indonesia tahun 2023 ini sebetulnya masih minus. Bersyukurlah bagi kita-kita yang masih dapat return positif apalagi ngalahin IHSG.
Tapi dibalik nyungsepnya return peak dari 20% ke hanya 9%, hikmah lain di 2023 ini adalah jumlah dividen yang saya kantongi. Secara overall, jumlah dividen tahun 2023 naik 4 kali lipat lebih banyak dibanding dengan dividen yang saya terima di tahun 2022. Kontributor utama karena UNTR PTBA dan TOTL yang kasih yield sampai 15%-25%.
As per Januari 2024 ini, kondisi porto dan IHSG masih terkapar. Mungkin semua pelaku pasar memang masih menunggu hasil pemilu putaran 1 jadi belum banyak suntikan dana ke IHSG. Jadi, mungkin masih ada kesempatan untuk ngumpulin saham-saham yang bagus dan secara harga masih nyungsep.
Target pribadi saya di 2024 ini di antaranya cari momen yang tepat untuk offload PTBA PSSI dan UNTR, lalu sambil pelan-pelan nambah posisi di SIDO yang harganya udah <500 dan ARNA yang udah <700. Mudah-mudahan terbayar di akhir tahun nanti hehe.
Part terakhir ini akan bercerita mengenai 2 hari terakhir di Tokyo. Memang kami sudah set up agenda 3 hari terakhir di Jepang adalah stay di Tokyo sampai hari kepulangan. Setelah kembali dari Tochigi dan keliling Odaiba, hari berikutnya kami mengunjungi Shibuya Sky Tower. Salah satu lokasi yang lagi hits kala itu. Jadi Shibuya Sky Tower ini ikonik karena dia punya roof top yang ada eskalator ikonik yang bisa menampilkan view 360 degree Tokyo. Sebuah alternatif kalau merasa Tokyo Sky Tree kemahalan hehe. Jadi di Tokyo itu untuk melihat pemandangan dari ketinggian, awalnya hanya ada Tokyo Tower, sejak 2012, dibangun lah Tokyo Sky Tree di daerah Asakusa yang jauh lebih tinggi namun harga masuk observatory nya lebih mahal. Dulu di 2018 tiketnya sekitar Rp 560.000 per orang.
Sedangkan Shibuya Sky ini dibangun di tahun 2014 dan dibuka komersial untuk jadi observatory. Bangunannya sendiri punya tinggi 229 meter (47 lantai) yang terletak persis di area Shibuya Crossing. Tiket masuknya sendiri Rp 250.000 per orang dan ngga dibatasi mau berapa lama di atas.Hanya saja, untuk masuknya, kita musti tentukan time slot nya karena memang kapasitas rooftop nya terbatas. Pilihannya dari pukul 8 pagi sampai pukul 9 malam. Banyak yang merekomendasikan untuk datang sekitar pukul 5 atau 6 sore agar dapat transisi dari sore ke malam. Namun karena kami bawa anak kecil dan orang tua, jadi diputuskan untuk ambil slot yang jam 8 pagi saja.
Sebelum ke Shibuya Sky, kami sempatkan dulu untuk foto-foto di depan JR Tokyo Station Marunochi Building yang ikonik karena pernah muncul di Movie Detective Conan dan juga tempat parkir tamu-tamu kaisar Naruhito.
Dari Marunochi ke Shibuya cukup naik JR Yamanote aja gratis dengan JR pass. Begitu keluar stasiun Shibuya, langsung aja menuju Shibuya Crossing dan ketemu gedung tinggi yang relatif baru di sana.
Begitu ketemu pintu Shibuya Scramble Square ini, belok kiri dan cari lift di pinggir yang ada logo Shibuya Sky nya.
Setelah tiba di Lantai 47, nanti di sana ada gate untuk cek tiket (e-voucher). Sangat recommended untuk beli via online ticketing kayak Klook atau Traveloka supaya ngga perlu antri dan kehabisan kuota. Nah setelah lolos gate ticket baru lah tiba di observatory pertama tempat foto-foto di sudut ruangan. Di sini baby stroller bisa dibawa dan nanti dititip di lobby ke petugasnya.
Nah ini yang paling iconic, eskalator Naik dan Turun dengan view kaca di puncak Shibuya Scamble Square.
Karena di observatory ini nggak ada batas waktu, kita bisa sepuasnya di sini sampai bosen. Cuma memang di pagi hari gini, cafe di atas rooftop nya masih tutup sehingga ngga bisa lama-lama karena akan haus dan lapar. Di rooftop ini juga banyak spot-spot foto bagus seperti Helipad dan tangga-tangga kayu tempat lihat sunset kalau sore.
Disarankan ke sini untuk bawa jaket karena anginnya kenceng banget. Di sini juga ada beberapa security untuk jaga supaya pengunjung ngga kelamaan di pinggir karena tinggi kaca di beberapa area hanya 150 cm aja, jadi lumayan bahaya juga.
Setelah puas foto-foto, begitu turun 1 lantai ke bawah pun masih ada observatory indoor yang menghadap ke 4 penjuru. Di sini ada banyak cafe dan toko suvenir sebelum kita keluar ke lift arah turun. Oia, di sini pun ada lift yang super cepat mirip di Tokyo Sky Tree yang bisa naik 47 lantai dalam waktu kurang dari 1 menit. Sayangnya ngga sempat videokan waktu itu.
Untuk foto-foto dan observasi di sini kira-kira 1-1.5 jam sudah cukup lah ya. Kecuali memang kita mau datang pas menjelang sunset, mungkin butuh waktu 2-3 jam karena nunggu peralihan dari senja ke malam buat bikin video time lapse. Agenda selanjutnya adalah ke Yokohama di mana kami mau lihat Gundam Factory Yokohama sekaligus makan siang di sana.
Untuk pergi ke Yokohama tinggal ke stasiun Shibuya (subway) dan naik kereta dengan tujuan Motomachi Chukagai (Toyoko Line). Nah ada sedikit tricky part nya di sini. Jadi beberapa kereta antar kota di Jepang itu, ada 2-3 jenis yang dibedakan dari berapa jumlah stasiun yang akan dipakai sebagai tempat dia berhenti, mirip dengan kategori shinkansen Tokaido lah. Jadi ada kereta LOCAL, yang mana dia akan berhenti di semua stasiun sesuai dengan yang ada di peta, dan yang kedua adalah LIMITED EXPRESS, pemberhentian lebih sedikit dari Local, dan EXPRESS yang jauh lebih sedikit berhenti dan lebih cepat.
Jadi karena hari itu adalah Golden Week, sudah bisa dipastikan dong, suasana di subway kayak apa dan juga suasana di Yokohama nanti kayak apa hehe. Perjalanan dari Shibuya ke Yokohama pakai kereta Express kira-kira 50 menit, lumayan jauh juga karena Yokohama itu 80 km. Keluar dari Stasiun Motomachi Chukagai itu padet banget, mana karena kita bawa stroller, pasti musti antri panjang di lift bareng turis-turis lain. Hasilnya, dari subway ke ground level aja perlu 10-15 menitan. Tujuan ke Gundam Factory sebetulnya kita mau lihat Moving Gundam, dimana si Gundam nya gerak-gerak diiringi lagu dan efek. Gundam ini sebetulnya adalah Gundam tipe RX-78F00 yang dulu ditempatkan di Odaiba sebelum diganti Gundam Unicorn. Diletakkan disini karena di Yokohama dibangun fasilitas museum dan Gundam store jadi ya sekalian aja buat narik turis ke sini. Sebetulnya si Moving Gundam itu ada pertunjukkan nya tiap 1 jam jadi karena kita udah lapar jadilah kita cari makan siang dulu sebelum menuju ke sana.
Lokasi makan siang yang kita pilih namanya Sario, Heichinrou, letaknya persis di tengah-tengah Chinatown. Karena Golden Week, semua jalanan di sini penuh sesak sama pejalan kaki dong. Kebayang lah, pas tengah hari bolong musti nyari restoran yang kita belum tahu dimana dan dalam kondisi lapar hehe.
Setelah ketemu resto nya, kita masuk dan duduk di lantai 3, dimana agak lengang. Jadi di Sanrio ini, menu yang dijual adalah Muslim Friendly food, bukan Halal Certified. Jadi dia sudah pisahkan utensils dan prosedur pemilihan bahan makanan agar ngga tercampur dengan menu non-halal. Tapi perlu digarisbawahi juga bahwa daging ayam dan sapi yang dia pakai sudah halal certified Japan ya.
Menu Halal nya hanya terbatas sama Ramen, Nasi Kare, Beef Bowl dan Gyoza. Harganya sekitar 800-1000 JPY atau sekitar 100-120 ribu IDR. Harga yang normal kalau di Jepang. Dan ini sistemnya kita antri di kasir, pilih menu, bayar dan bawa sendiri makanannya ke meja. Untuk air putih, gratis sepuasanya dan ada dispensernya.
Selain menu Halal tadi, kita juga bisa pesan Menu Vegan nya yang pasti aman untuk dimakan.
Secara rasa sih B aja ya, tapi karena dia halal jadinya ya lumayan membantu daripada nyari-nyari lagi resto yang lain yang lokasinya cukup jauh dan belum tentu kosong juga. Sehabis makan di sini, kita jalan kaki menuju Yokohama Naka Ward di area terbuka di pinggir pantai di Yokohama. Perjalanan ini tuh seperti napak tilas perjalanan saya ke sini di Summer 2018 yang bikin saya kapok ke Jepang pas lagi summer karena panas dan gerahnya ampun hehe.
Sepanjang perjalanan ke Gundam Factory nemu beberapa pameran bunga musim semi dan juga tempat tambatnya Nippon Maru dan Nikawa Maru
Tips lagi kalau ke Yokohama, anginnya kenceng banget terutama di pinggir pantainya. Jadi ya musti bawa jaket biar ngga masuk angin.
Kembali disarankan untuk beli tiket Gundam Factory via website supaya menghindari antrian seperti ini. Di dalamnya ada life size Gundam, toko suvenir, toko makanan dan tangga untuk duduk-duduk.
Lalu untuk tiket nya sendiri bisa kita beli yang reguler dan juga Observatory Deck yang bisa lihat dari atas seolah-olah jadi pilot Gundamnya.
Istri saya sempat videokan Moving Gundamnya di sini
Durasi untuk observe Gundam Factory ini kira-kira 1 jam sudah cukup, sebetulnya di Yokohama ini masih banyak tourism spot lain seperti Yokohama Air Cabin yang sedang hype, cuma karena kita semua udah capek, jadi ya akhirnya memutuskan untuk pulang ke Tokyo jam 4 sore buat istirahat di hotel.
Sampai di Tokyo, tak lupa mampir ke 7Eleven buat beli makan malam. Karena semua sudah pada capek, akhirnya malamnya kita nggak kemana mana dan tidur cepat di hotel karena besoknya masih ada 1 agenda lagi yaitu ke Team Lab Planets.
Besok paginya, sebetulnya tidak ada agenda khusus karena jadwal ke Team Lab di Odaiba itu di sore hari sekitarv pukul 15. Karena ibu mertua masih capek perjalanan jauh ke Yokohama kemarinnya, jadi kami putuskan untuk jalan-jalan bertiga saja dengan istri dan anak saya yang kecil untuk makan ramen Honolu di Shinjuku sekaligus main-main ke Shinjuku Gyoen.
Shinjuku Gyoen ini taman terbesar di Tokyo yang selalu saya kunjungi setiap ke Jepang. Kalau musim sakura, taman ini penuh sesak karena orang-orang pada piknik. Tiket masuk ke sini 500 Yen (sekitar Rp 60 ribu). Dan saking luasnya ini taman, kalau mau keliling taman ini perlu effort khusus. Di taman ini ada spot untuk lihat Sakura (Cherry Blossom Tree) dan ada juga spot untuk lihat Ginkgo (daun yang menguning kalau musim gugur). Jadi kumplit lah ya. Dan yang ikonik ya lapangan terbuka yang luas yang ada gedung NTT Docomo. Taman ini jadi setting salah satu film Makoto Shinkai yang judulnya Garden of Words tahun 2013.
Ini kalau musim gugur, daunnya pada kuning semua dan jadi ikonik.
Enaknya tinggal di Jepang, ruang terbuka hijau nya banyak ya hehe.
Nggak lupa di sini kan ada Starbuck yang baru dibuka, ya kita tes lah beli kopi dan Matcha di sini.
Ramen Honolu buka pukul 11 jadi memang tujuan kita di Shinjuku Gyoen ini ya hanya ngabisin waktu aja. Setelah jam 11 kita jalan menuju Ramen Honolu. Lumayan jauh juga sekitar 800 meter dan tempatnya agak membingungkan karena di basement ruko gitu.
Honolu ini secara ketebalan kuah mirip Tori Bushi namun lebih light sedikit. Andalannya Chicken ramen. Tempatnya sempit mungkin hanya nampung 10-15 orang aja, dan karena ini baru buka, jadi ya kami pelanggan pertama hehe. Uniknya, dia itu jual juga ramen instan kemasan yang bisa dibawa pulang. Sepulang dari makan ramen, kita kembali ke hotel untuk istirahat sebelum berangkat ke Odaiba untuk menuju Team Lab.
Jam 3 sore kita berangkat kembali ke Odaiba untuk menuju Team Lab Planets Tokyo. Team lab adalah museum modern yang di dalamnya banyak karya seni dalam bentuk digital dan moderen. Sebelumnya kami sudah pernah ke lokasi Team Lab yang di Singapura dan memang keren banget. Beda sekali dengan museum-museum konvensional. Tahun 2018 juga saya pernah ke TeamLab Tokyo namun dulu lokasinya masih di dekat ferris wheel dan sekarang sudah pindah ke tempat yang lebih besar meski masih di area Odaiba.
Di Jepang tahun 2023 ini, tema dari TeamLab Planet nya adalah karya seni yang menggabungkan seni cahaya, air dan suara. Lihat di IG dan youtube memang keren sih nampaknya. Dan pas beli tiketnya (online di situs resminya) kita diminta milih slot kedatangan. Satu tiket dewasa itu harganya sekitar 1500 JPY atau Rp 200.000.
Lokasinya di Odaiba tapi letaknya di paling ujung, beda dengan lokasi Odaiba yang masuk dari Tokyo Bay. Makanya dari Kyobashi kita naik kereta Rinkai Line lalu lanjut monorel Yurikamome line dari ujung yang ke arah Shimbashi. Nyampe di sana tepat jam 4 kurang dan sudah bisa masuk ke dalam. Sebelum masuk kita diminta lepas sepatu (jadi akan nyeker sepanjang keliling museum) dan diminta untuk meletakkan barang berharga kayak tas dompet di loker (loker ada banyak di ruangan terpisah).
Setelah naro barang di loker kita akan naik ke tangga yang dibanjiri air mengalir yang bau bahan kimia. Mungkin ini sarana cuci kaki buat meminimalisir pengunjung yang bau kaki kali ya hehe. Setelah itu langsung disuguhi pemandangan kayak begini.
Ini tuh ruangan yang full cermin di semua sisi lalu dikasih semacam “tirai” memanjang dari atap sampai ke lantai yang ditempeli LED yang warnanya bisa ganti-ganti. Jadi pergerakan warna-warni LED nya itu yang bikin ini spektakuler dan benar-benar karya seni.
Habis dari sini langsung disuguhi kolam susu dengan ikan virtual yang bisa berenang-renang di kaki kita. Ini menurut saya keren abis karena kalau merasakan langsung, ikan-ikannya kayak beneran berenang di sela-sela kaki kita ey.
Di ruangan ini kita musti ngegulung celana panjang kita sampai paha, jadi memang disarankan sebelum ke TeamLab Planets ini, kita jangan pakai celana jeans tapi pakai celana bahan yang modelnya lebar atau malah pakai celana pendek sekalian biar ngga repot gulung-gulung. Setelah dari ruangan ini kita disuguhi ruangan dengan bola-bola besar yang bisa berubah warna kalau kita pukul-pukul kayak di game Mario Bros.
Kemudian setelah ini kita diminta duduk melihat kupu-kupu yang dalam ruangan gelap yang mana kupu-kupu nya bisa terbang ke sana kemari secara virtual. Pokoknya keren deh, sayang nya ngga sempat ngerekam kemarin. Coba cek aja video di bawah untuk dapat gambaran visualnya.
Setelah itu kita keluar ruangan untuk lihat suatu karya seni yang mirip telor dinosaurus kayak gini.
Dan yang paling ultimate tentu saja si bunga-bunga ini. Jadi paling akhir tuh ada pameran bunga-bunga gantung (sepertinya anggrek) berwarna-warni dan dia bisa naik turun secara berkala. Ruangannya dibikin full cermin dan cara masuknya unik karena kita harus merangkak karena ngga boleh menyentuh bunganya. Di sini karena tempatnya terbatas jadi harus bergantian masuknya dan setiap batch hanya dikasih waktu maksimal 5 menit untuk foto-foto.
Setelah itu kunjungan ke TeamLab Planets pun selesai. Keluar pintu exit, ambil barang di loker dan pakai sepatu lagi di luar. Overall waktu yang dihabiskan di sini kira-kira hanya 1 jam aja sih, dan dengan harga segitu menurut saya worth it untuk dicoba. Dan tiap tahun museum ini selalu berganti-ganti pamerannya jadi ya pasti bikin penasaran apa lagi exhibition berikutnya.
Pulang dari sana, kami menuju Aqua City buat cari makan. Sempat ada insiden monorel Yurikamome yang kami naikin berhenti lama di stasiun karena angin kencang. Memang saat itu anginnya kenceng banget padahal hari cukup cerah. Di Aqua City, awalnya mau makan kebab, tapi dipikir-pikir kurang kenyang jadi balik lagi ke Green Asia buat dinner. Dinner di sini harganya lebih mahal dari Lunch. Kali ini kami pilih menu vegetarian aja.
Akhirnya pilihan jatuh ke tempe orak-arik yang harganya 1280 JPY atau Rp 150rb dong hehe.
Sehabis makan, sebelum pulang kita sempat nonton show Gundam Unicorn dulu di depan Diver City.
Sekitar jam 7 malam kami kembali ke hotel karena udah capek juga. Sampe hotel sempetin beli cemilan dan roti di 711 dulu sebelum tidur. Nggak lupa beberes dulu karena besok kita akan kembali ke Indonesia.
Karena besoknya kita akan pulang ke Indonesia, kami coba cek transportasi yang paling simple ke Narita Airport. Setelah browsing-browsing, ternyata transportasi paling enak dan cepat itu pakai bus yang namanya Tokyo Limousine Bus. Bus ini adalah bus yang rutenya dari Stasiun Tokyo (Yaesu exit) namun sebelumnya start dari Shinjuku dan Ginza. Cara naik busnya adalah dengan beli tiket di loket di Yaesu exit Stasiun JR Tokyo. Harga tiketnya 3,000 JPY untuk dewasa dan 1500 JPY untuk anak-anak. Setara dengan IDR 450rb dan IDR 250rb per orang sekali jalan. Tiket busnya dipesan on the go ya, jadi ngga bisa reservasi.
Dulu waktu terakhir ke Jepang tahun 2018, kami naik Keisei Skyliner dari Ueno Station. Harganya memang paling murah tapi ribet karena musti ke stasiun Ueno dulu. Tapi dengan bus ini, kita hanya perlu duduk manis dari awal naik di Stasiun Tokyo sampai ke Narita tanpa perlu pindah-pindah moda. Ini sangat rekomended untuk yang bawa barang banyak atau bawa anak-anak.
Karena jadwal flight kami jam 5 sore, maka kami memutuskan untuk start dari Tokyo station pakai bus yang jam 12 siang. Kalau lihat di gmaps sih perjalanan kurang lebih sekitar 60 menitan kalau ngga macet. Sesampainya di Narita, kita mau cari makan siang, dan Alhamdulillah di Narita sudah ada beberapa outlet halal, salah satunya si resto Udon ini yang dulu juga pernah saya makan di tahun 2018. Nama restonya Kineyamugimaru, ini persis di lantai 5 (5F) (view square) terminal 2 departure sebelum masuk imigrasi.
Menu nya udon tapi punya isian, topping dan kuah yang beragam dengan harga kurang dari 1000 JPY per menu. Ada menu anak-anaknya juga jadi pasti disukai lah ya sama semua umur.
Kami pesan curry udon dan berbagai gorengan. Enaknya di sini kita bisa ambil condiment sendiri dan boleh sepuasnya ambil condimentnya.
Sehabis makan kenyang, cari oleh-oleh dulu lalu masuk ke imigrasi dan nunggu di ruang tunggu. Karena flight masih 1.5 jam lagi, kami sempat foto-foto dulu dan main sebentar di ruang tunggu anak (playground) sebelum boarding.
Jam 5 waktu Jepang boarding dan tiba di Jakarta sekitar jam 12 malam. Dari bandara kami naik taksi dan menginap di hotel bandara sebelum lanjut pulang ke Bandung besok paginya.
Intinya perjalanan ke Jepang di late spring ini sangat menyenangkan sih, bisa lihat berbagai macam festival bunga dan ke tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya kayak railway museum, Gundam Factory dan Shibuya Sky. Tips selama di Jepang ya cari penginapan murah yang ada laundry coin, kemudian beli JR Pass kalau kita pergi ke lebih dari 3 kota berhubung per Oktober 2023 kemarin harga JR Pass naik 2 kali lipat jadi ya semakin ngga worth it kalau kita hanya ke 2 kota doang.
Tips lain ya beli makan hemat di 7Eleven dengan lebih dulu seleksi mana yang bisa dimakan (halal) dan mana yang ngga dan meragukan.
See you in the next trip… Semoga bisa menginspirasi…