Whoosh Whoosh Whoosh Yess

Sebetulnya sudah lama ingin posting pengalaman naik Whoosh KCIC ini, tapi apadaya hectic dan kesibukan yang menghalangi.

Sejak Whoosh ini launching di akhir Oktober 2023, sampai sekarang mungkin sudah lebih dari 25 kali saya naik moda kereta beban negara satu ini hehe. Karena saat ini saya kembali bekerja di Kalimantan sementara keluarga masih tinggal di Bandung, jadi travel Bandung-Bontang menjadi tidak terhindarkan lagi.

Saat ini, 9 bulan sejak launchingnya, layanannya semakin baik, stasiun semakin tertata rapi dan tennant terutama di Stasiun Halim semakin banyak. Walaupun nggak diimbangi dengan upgrade di Stasiun Tegalluar maupun di Padalarang yang kayaknya sepi banget untuk ukuran stasiun kereta cepat hehe.

Karena rumah saya di Bandung di daerah Gedebage dan Arcamanik, maka rute tujuan saya ketika naik Whoosh adalah Stasiun Tegalluar alias pemberhentian terakhir di Bandung. Awal-awal Whoosh ini di-launching, animo masyarakat sangat tinggi, didukung oleh harga tiket “promo” nya yang hanya Rp 150rb saat itu, menjadikan banyak orang hanya sekedar pulang pergi naik Kereta Cepat yang jarak tempuh nya hanya 28 menit ke Padalarang dan 42 menit sampai di Tegalluar.

Kelemahan dulu yang sulit sekali reschedule dan refund karena harus datang maksimal 2 jam sebelum keberangkatan sudah diatasi dengan sistem online walaupun penalty fee karena refund cukup mahal. Secara umum, layanan di kereta nya juga bertambah dengan adanya Indomaret di Gerbong 5. Selain itu, kebersihan gerbong juga tetap dipertahankan yang mana menurut saya good job sekali dibandingkan dengan kereta cepat Eropa (Eurostar) atau bahkan sekelas Renfe atau Iryo Spanyol sekalipun.

Sayangnya, saat ini harga tiketnya dibuat floating dengan harga terendah Rp 200rb di low season dan Rp 300rb di peak season, holiday, dan Jumat-Minggu yang mana sudah membuat okupansi kereta cepat ini di luar musim libur dan peak hour turun sampai setengahnya dari pengamatan saya. Sangat bisa dipahami karena dengan harga di atas Rp 250rb, selisih dengan travel/shuttle layanan premium kayak Cititrans sudah hampir Rp 100rb dan mungkin pertimbangan lain adalah jika naik Whoosh maka ada ongkos tambahan untuk mobilisasi dari Halim ke tempat tujuan akhir.

Ya bagaimanapun proyek beban negara ini musti tetap kita dukung dan doakan semoga target penumpang per hari bisa segera dikejar dan konsisten. Sayangnya, Whoosh ini di launching setelah penugasan kerja 3,5 tahun saya di Jakarta selesai jadi ya saat ini hanya sekedar menikmati Whoosh sebagai turis yang sedang LDR dengan anak istri hehe.

Oia, dulu waktu awal-awal launching, belum ada jargon ” Salam Whoosh, Whoosh, Whoosh Yes!!!” di bagian akhir pengumuman pramugari nya. Awal-awal dilaunching, jargon ini terkesan cringe, tapi setelah lebih dari 20 kali saya naik Whoosh ya lama-lama jadi ear catchy juga.

Kemudian terkait kereta feeder, sekarang sudah agak mending ketimbang beberapa bulan lalu. Jadwal kereta feeder sudah dipaskan dengan keberangkatan Whoosh dan layanan di stasiun Bandung dan Padalarangnya pun diperbaiki.