Sudah lama rasanya tidak menulis. Kali ini, karena sudah masuk bulan September dan saya sedang mengevaluasi portofolio investasi secara berkala, sepertinya cocok untuk sekedar sharing keputusan untuk phase out di P2P lending andalan saya.
Seperti pembahasan di tulisan saya sebelumnya, saya invest di P2P lending sudah sejak 2020 dan dua P2P lending andalan saya adalah platform investasi ternak berwarna hijau dan crowdfunding empowering ibu-ibu yang warnanya ungu. Tapi di samping itu saya juga punya sedikit investasi crowdfunding alfamart/alfamidi di platform biru.
Mengapa saya memutuskan phase out alias tidak akan menambah investasi lagi at least sampai kondisi mendukung? saya jelaskan alasannya mulai dari si hijau jagoan ternak. Nah, sejak Agustus lalu, si hijau ini sudah tidak mengeluarkan project baru. Beberapa minggu lalu, dia mengundang semua investor nya dalam meeting zoom untuk menjelaskan next project mereka yang saya pikir cukup ambisius. Jadi, alih-alih menjalankan crowdfunding per proyek dengan menggandeng mitra strategis seperti selama ini, mereka ingin mengambil alih dan melakukan semuanya sendiri.
Selama ini, return si hijau ini cukup fantastis menurut saya, ROI selama 6 bulan ngga ada yang dibawah 8% alias annualized return per tahun minimal 15% untuk proyek ternak yang beresiko, apalagi waktu wabah PMK kemarin. Nah, dengan menggunakan skema yg baru nanti, si hijau ini akan handle semua proyeknya sendiri buat menguasai dari hulu sampai ke hilir. Artinya cuan makin gede tp resiko juga berbanding lurus.
Sekilas prospeknya bagus sih, cuma kebutuhan biayanya jadi lebih gede. Dia patok minimal investasi jadi 5 juta dan menargetkan dana terkumpul buat skema baru ini sekitar 7 Milyar-an rupiah. Return yang dijanjikan 20-25% per tahun dengan periode bagi hasil 6 bulan sekali. Yeah, bagi saya, mending terlambat daripada FOMO. Jadi, lebih baik sekarang skip dulu deh. Masih belum bisa memprediksi resiko nya gimana dengan handle bisnis sendiri dari hulu ke hilir dan bukan per project lagi.
P2P lending kedua andalan saya adalah si ungu. Si ungu ini menonjolkan misi sosial untuk empowering emak-emak di desa. Dari 2020 sampai sekarang, sudah 50-an mitra saya danai dan persentasi keberhasilan (proyek selesai) 90% lebih. Hanya 1 mitra yang gagal bayar dan itu pun diganti 75% pokok nya sama asuransi. Sisanya lancar dan kurang lancar tapi masih terbayar sampai lunas/jatuh tempo.
Nah, mengapa saya putuskan stop/break dulu mendanai sampai waktu yang tidak ditentukan? Ternyata ada kebijakan baru terkait PPh (Pajak Penghasilan) sebagai berikut:
Bukannya saya ingin mengemplang pajak, tp dengan tambahan PPh 15%, return yang awalnya 11.5% untuk credit rating A (credit rating paling bagus), jadi hanya sisa 10% aja. 10% untuk return investasi super high risk seperti P2P lending. Coba kita cek berapa return reksadana obligasi saat ini
Dibanding taro duit di instrument high risk yang return nya hanya beda 1-1.5% aja setahun, mending saya taruh di RD berbasis obligasi yang sedikit lebih aman. Apalagi suku bunga BI udah mulai naik dan yield obligasi pasti akan naik juga.
Mungkin saya baru akan berpikir untuk masuk lagi kalau return yang diberikan pengelola P2P ungu ini punya spread 3-5% di atas return RD pendapatan tetap berbasis obligasi. Yah, semoga aja.
Kalau crowfunding P2P si biru yang banyak nawarkan proyek Alfamart, itu mah nggak usah ditanya.. Memble semua hasilnya. Masih cetak untung sih, tapi deviasinya dengan prospektus kelewat sangat jauh. Menurut saya pengelola Equity Crowd Funding (ECF) P2P yg berbasis waralaba/franchise harus mulai “jujur” dan jangan overclaim saat nawarkan return ke calon investor. Banyak membual dan nge-BS tapi nyatanya return aktual hanya seuprit dan pengawasan kurang buat apa.. Lama-lama nggak laku lagi ECF di Indonesia karena pada kapok semua.
Return pada seuprit, ngga sesuai sama prospektus. Malah ada yg macet sampe sekarang hehe
Jadi ya, itu kira-kira alasan saya memutuskan untuk stop dulu investasi di P2P dan alasan-alasannya. Mudah-mudahan iklim investasi P2P semakin baik dan OJK selaku regulator bisa semakin tegas buat regulasi yang melindungi konsumen/investor.
Sesuai janji saya bulan lalu, di tulisan kali ini saya coba melakukan review berdasarkan pengalaman pribadi mengenai investasi di P2P (Peer to Peer) lending atau lebih dikenal dengan Fintech.
Sebelumnya DISCLAIMER : ON dulu ya, apa yang saya tulis di blog ini sifatnya hanya pendapat pribadi, dan bukan merupakan ajakan untuk melakukan investasi di instrument investasi tertentu. Untung dan rugi dari hasil investasi yang membaca blog ini di luar tanggung jawab saya sebagai penulis. Nama-nama P2P lending di sini saya sensor karena takut ada pihak yang tersinggung dan bisa kena UU ITE hahaha.
Investasi di P2P lending, termasuk investasi dengan resiko tinggi, mungkin setara dengan menempatkan investasi di saham. Apa itu P2P lending? mungkin banyak yang belum paham. Gampangnya, P2P lending itu semacam calo/makelar yang mempertemukan pencari dana (borrower) dengan orang yang punya dana berlebih yang siap dipinjamkan supaya ada bagi hasil/bunga yang diterima.
Grafik sederhana P2P lending
Nah, lender di P2P lending rata-rata adalah orang-orang atau pihak yang belum tersentuh industri keuangan konvensional seperti bank, atau memang belum bankable. Artinya, orang tersebut belum memenuhi persyaratan untuk dapat pinjaman dari bank, seperti belum punya agunan/aset jaminan, usaha nya belum menghasilkan untung/profit yang konsisten, dll.
Makanya, seperti saya bilang tadi, resiko P2P lending ini tinggi karena ada resiko gagal bayar yang bisa membuat uang yang kita “pinjami” tadi nggak kembali karena si lender ngga bisa membayar cicilan pokok dan bunga karena usahanya bangkrut/rugi, dll.
Prinsip nomor 1 sebelum investasi di P2P lending adalah filtering P2P fintech yang terdaftar dan berizin OJK. Terdaftar saja belum cukup ya, harus berizin OJK. Mumpung saat ini OJK lagi moratorium izin fintech, seharusnya pilihan fintech yang bener-bener bagus dan prudent jadi terbatas sih. List per tanggal 6 Oktober 2021 bisa dilihat di sini
Nah, setelah diyakinkan bahwa Fintech tersebut sudah terdaftar dan berizin, langkah selanjutnya adalah menentukan tipe Fintech mana yang akan diambil. Fintech yang ada sekarang ini ada yang sifatnya generalist, artinya fintech yang penyaluran dana nya tidak spesifik ke satu bidang usaha, misalnya dia menyalurkan dana untuk perdagangan, peternakan, pertanian, bisnis ritel, dll. Namun ada juga fintech yang spesifik menyalurkan dana nya untuk bidang usaha tertentu, semisal : AM*RTHA yang hanya menyalurkan dana untuk kegiatan bisnis UMKM para wanita/ibu-ibu di daerah yang belum bankable, TERNA*INVEST yang hanya menyalurkan dana untuk usaha peternakan, IGR*W yang hanya menyalurkan dana untuk usaha pertanian dan perkebunan, dll. Kalau fintech yang generalis banyak sekali, contoh ASE*KU, KOI*WORKS, dll.
Nah, setelah memilah-milah berdasarkan sifat penyaluran dana nya, langkah berikutnya adalah cek TKB90 dan reviewnya di google playstore atau google web. Apa itu TKB90? TKB90 yang biasanya dipajang di web P2P lending, adalah ukuran tingkat keberhasilan penyelenggara fintech-peer-to-peer (P2P) lending dalam menfasilitasi penyelesaian kewajiban pinjam meminjam dalam jangka waktu sampai dengan 90 hari terhitung sejak jatuh tempo. Masalahnya, banyak fintech memanipulasi/financial engineering TKB90 ini. Bisa jadi, data TKB90 yang dipajang di website itu bukan 100% akurat, namun dengan memperpanjang tenor pengembalian modal investor tanpa pemberitahuan sebelumnya, sehingga angkanya bagus. Oleh karena itulah perlu crosscek kembali dengan review-review di Playstore atau di google web, apakah banyak yang komplain terhadap P2P ini karena banyak gagal bayar, dll.
Saran penting berikutnya adalah modal yang masuk ke P2P harus dibatasi, maksimal hanya 5% dari total aset kita. Contoh, misal kita punya aset lancar (tabungan, deposito) senilai 100 juta, maka batasi hanya 5 juta aja yang dimasukkan ke fintech P2P.
Saya sendiri sudah sekitar 4 tahunan ikut P2P lending, dengan P2P lending pertama saya adalah IGR*W dan CROW*E. Kita bahas satu persatu dua P2P lending perdana saya, yang mana saya akhirnya kapok invest di sini sampai hari ini hehe…
IGR*W
Seperti sudah saya bahas sebelumnya, spesialisasi P2P ini adalah di perkebunan, peternakan dan pertanian. Suatu misi mulia buat memajukan para petani dan agrikultur di Indonesia. Cara kerjanya adalah mereka kerjasama dengan paguyuban petani lokal, biasanya dalam bentuk CV untuk mengelola kebun dan nanti ada offtaker yang akan ambil dengan harga yang disepakati. Saya sudah 4 kali ikut di sini, 2 berhasil dengan tenor 6 bulan dan 12 bulan dengan yield 8-20% per tahun (yang menurut saya wow sih)
Dan ada 2 proyek lagi di mana 1 proyek sifatnya longterm (10 tahun kontrak), masih berjalan hingga saat ini, dan 1 proyek gagal bayar sudah menggantung sekitar 2 tahunan hingga saat ini :
Precision farming, sudah masuk tahun ketiga, dan laba bersihnya makin ke sini makin turun. Padahal, precision farming ini sempat diblow up media dan pernah dikunjungi Pak Menteri Pertanian loh hehe.. ngga paham saya salahnya di mana. apa manajemennya ngga bisa mitigasi resiko ya? Padahal penjualan sayuran hidroponik dan hasil kebun selama pandemi ini via channel jualan online setahu saya meningkat.
Yang Budidaya Jagung udah ngga perlu ditanya hehe. Inti permasalahannya, jagung yang sudah dipanen, hanya dibeli dengan harga yang murah oleh offtaker, akhirnya profit tidak bisa menutup biaya yang timbul. Saat ini sedang proses penjualan aset ke pihak ketiga, dan belum ada yang mau hehe.
Investasi di P2P ini, modal yang dikeluarkan cukup besar, karena harga 1 saham yang dijual sekitar 2-3 juta rupiah. Dulu, saat saya ikutan, dia belum pakai asuransi sebagai proteksi gagal bayarnya. Jadi kalau ada yang minat ke sini, mending selalu beli asuransi karena sektor pertanian itu resiko gagal panennya besar sekali. at least, kalau beli asuransi, kita hanya kehilangan waktu dan modal 20% aja karena pokok yang diganti sebesar 80%. Tapi masalahnya, asuransi hanya akan diklaim jika pihak lender sudah dinyatakan pailit. Itulah yang membuat kenapa investasi jagung saya di sini ngga segera kembali dana pokoknya hehe.
Kelemahan lain di sini adalah laporan bulanan yang sering telat dan kurang jelas, terkadang juga ngga disertai laporan keuangan/arus kas yang lengkap. Just NO.
2. CROW*E
Mirip seperti IGR*W, di sini P2P dengan spesialiasi proyek pertanian dan perkebunan. Saya mulai ikut di sini sejak 2017 dan sudah masuk sekitar 15-an proyek. Beda dengan IGR*W, di sini nilai per lembar sahamnya dibanderol hanya 500-an ribu aja, jadi lebih terjangkau di dompet.
Awal-awal semua proyeknya berjalan mulus, pengembalian tepat waktu dan sesuai target keuntungan. Tapi setelah berjalan hampir setahun, beberapa proyek mulai macet. Sayangnya seperti di IGR*W awal-awal dulu, di sini juga ngga ada penyediaan asuransi untuk proteksi gagal bayar. Ternyata tipikal-tipikal P2P model gini, mereka kesulitan dan kurang ketat dalam filtering lender dan juga ngga punya tim lapangan yang mumpuni buat tracking progres dan komunikasi dan problem solving. 1 lender juga bisa ngajukan banyak sekali proyek, hasilnya, begitu ada 1 yang macet, semua proyek yang diajukan kena imbasnya.
Saya masih ada 3 proyek nyangkut di sini. 2 proyek ternak bebek dan ayam yang dilakukan suami istri, saat ini statusnya masih nyicil modal pokok dalam 1 tahun ke depan. Untungnya, pasangan suami istri ini masih punya itikad baik untuk mengembalikan modal pokok investor walau harus dicicil 3 tahun. At least investor hanya rugi waktu saja, tapi uang modal masih utuh. 1 lagi proyek tanam edamame di Bogor yang masih menunggu pencairan aset petani.
Kelemahan lain di sini adalah laporan bulanan yang sering telat dan nggak jelas, terkadang juga ngga disertai laporan keuangan/arus kas yang lengkap. Respons CS nya lambat dalam handle pertanyaan. Big NO.
3. TERNAKINV*ST
P2P lending ini dulu namanya TERNAKN*SIA, ganti nama karena dia selain P2P juga ada ecommerce penyaluran daging dan telur. P2P ini sudah saya ikuti dari 2019. Sesuai namanya, spesialisasi nya adalah penyaluran dana ke sektor peternakan. Bedanya dengan P2P yang saya sebut sebelumnya, P2P ini lebih prudent karena ngga sembarangan menawarkan proyek ke investor. Jika dilihat di website nya, dalam 1 bulan, hanya 1-2 proyek aja yang ditawarkan ke investor, karena mereka ini hanya bermitra dengan peternak besar yang punya track record bagus dan terpercaya.
Total proyek yang sudah saya ikuti di sini ada 26, dan dari 20 yang sudah selesai, rekor nya masih 100% alias belum ada yang gagal bayar!! Luar biasa. Tenor investasinya rata-rata 6 bulanan aja dan ada juga yang 1 tahun, yield nya lumayan tinggi tapi ngga terlalu over estimate, sekitar 10% per 6 bulan atau 20% per tahun. Investasi yang no brainer lah menurut saya. cuma nyediakan modal, dan biar tim profesional yang handle, tau2 dapat untung hehe.
Setiap proyek yang ditawarkan dalam bentuk lembar saham, nilai nominal nya 500rb per lembar, jadi masih terjangkau buat ritel kecil. Laporan perkembangan proyek lengkap dan diupdate tepat waktu sebelum tanggal 10 tiap bulan, disertai dengan laporan arus kas juga jadi bisa kita estimasi berapa keuntungan di akhir periode nya nanti. CS nya juga bisa dijangkau dengan mudah melalui WA. Saya ada pengalaman sudah transfer tapi belum konfirmasi dan dananya nyangkut 3 bulan, baru saya sadar setelah cek mutasi rekening. Tak coba komplain ke CS nya, dalam waktu 24 jam dana saya dikembalikan.. Hats off buat CS nya.
Kekurangannya hanya di P2P ini belum ada opsi beli asuransi untuk melindungi risiko gagal bayar. Tapi selama ini manajemennya bener-bener prudent dan belum pernah 1 kalipun gagal bayar. semoga bisa dipertahankan. Strongly recommended.
4. AMAR*HA
Si P2P ungu yang satu ini punya misi sosial yang bagus, yaitu meng-empower emak-emak di desa agar bisa menjalankan usaha mikro buat menambah penghasilan keluarga. Mengingat amar*ha sudah berdiri sejak 2016 dan semakin tumbuh, saya pun coba peruntungan di sini sejak tahun 2020 awal. Perlu diingat, di sini ada lebih dari 100 mitra (istilah lain lender) yang mengajukan proposal peminjaman dana. Kita harus pintar-pintar memfilter mana yang masuk ke dalam kriteria lender yang “sehat” dan bisa bayar cicilan per bulan.
Di sini ada 5 kategori skor kredit yaitu A, A-, B, C, D, dan E. Skor A berarti sudah dinilai oleh tim di sini bahwa si lender ini punya kemampuan bayar yang mumpuni dan peluang gagal bayar kecil. Untuk mitra dengan skor kredit A, bunga yang diberikan adalah 11.5%, skor A- bunganya 12%, skor B bunga 13%, skor C bunganya 14%, skor D 14.5% dan skor E adalah 15% per tahun. Kalau dicek di kontrak nya mereka, bunga yang dibebankan ke mitra adalah 30% per tahun, buat investor seperti di atas, dan sisanya untuk penyelenggara.. Wuihh, besar juga ya, tapi konon, karena target sasaran lender nya adalah emak-emak di desa yang nggak bankable, besar bunga ini masih lebih kecil dari loan shark (rentenir) yang biasa nawarin pinjaman ke mereka. Besar bunga rentenir konon bisa mencapai 50% per tahun!!??
Kita juga bisa memfilter sektor dan lokasi. Misal kita mau mendanai mitra yang dagang kue, dagang buah, dagang warung makan, bertani, dll, dan lokasinya pun bisa milih berdasarkan provinsi. Mulai 2021 akhir, sudah ada opsi crowfunding juga di sini. Sebelumnya minimal pemodalan adalah Rp 4 juta sampai 6 juta per mitra, dan ini cukup berat buat sebagian orang, mungkin karena itulah di sini jadi buka opsi crowfunding minimal Rp 100 ribu. Hanya saja, opsi crowfunding belum menyediakan asuransi gagal bayar, jadi agak beresiko juga menurut saya. Perlu hati-hati kalau pilih yang crowdfunding.
Karena tingginya resiko memodali emak-emak di desa ini, kita perlu define rule of thumb dalam memilih mitra. Rule of thumb saya di sini adalah seperti ini :
Yakinkan credit rating = A
Yakinkan sektor yang dipilih jangan ada Peternakan, Pertanian, Pupuk, dan segala hal yang resiko eksternal nya tinggi. Upayakan sebisa mungkin sektor yang selalu ada yang beli seperti warung, rumah makan, dagang kue, salon, dll
Berhitunglah. Di bagian detail mitra, akan diberitahu berapa penghasilan perbulan mereka. Dan kita perlu bandingkan dengan berapa cicilan pokok dan bunga per minggu dan per bulan. Jika penghasilan per bulan hanya 1.5 juta tapi dia mencicil setiap minggu lebih dari 100rb, maka 1 bulan dia perlu menyisihkan 400rb. Ratio loan dan pendapatan 25%, batasi ratio ini di angka 10%, karena kalau makin tinggi akan tinggi juga resiko gagal bayar karena pendapatan tergerus untuk beli kebutuhan pokok sehari-hari.
Prioritaskan mitra yang sudah lebih dari 1 kali mengajukan pendanaan. Kita bisa lihat riwayat pendanaan sebelumnya di bagian bawah. Usahakan calon mitra yang mau kita danai itu tidak punya catatan “Tidak Bayar”di pendanaan sebelumnya. Kalau hanya “Terlambat Bayar” masih bisa ditolerir. Sayangnya fitur ini sejak 2022 ini sudah dihapus, jadi kita ngga bisa lihat lagi historis pembayaran sebelumnya, suatu kemunduran sih menurut saya
Jangan lupa selalu BELI ASURANSIGAGAL BAYAR untuk menghindari dari keboncosan. Asuransi ini akan mengcover 80% pokok jika mitra bangkrut/pailit atau meninggal dunia. Hanya saja prosesnya lama betul, sampai 90 hari kerja.
Sampai saat ini saya sudah danai 15 mitra, dan statusnya adalah 7 masih berjalan, 1 lunas sampai akhir tenor, 4 lunas dini (mitra boleh melunasi dini pinjamannya, sehingga dia ngga perlu bayar sisa bunga nya), 1 meninggal (dianggap lunas dini) dan 2 at risk (ada salah ketik di websitenya, harusnya lunas dini 5, at risk 2) karena punya keterlambatan cicilan lebih dari 3 kali.
Yang at risk 1 orang berhenti bayar di minggu ke-25 dari 50. sudah di-declare pailit dan sedang menunggu pencairan dana pokok oleh asuransi. Sedangkan yang 1 lagi at risk masih bisa bayar cicilan mesti nunggak seminggu sekali.
So far, impresi saya ikut P2P ungu ini luar biasa ya. walau ada 1 yang beneran default, tapi dengan filtering ketat dan hati-hati, overall masih lancar investasi di sini. Ditambah misi mulia empowering emak-emak di pedesaan, itu yang jadi nilai plusnya. Ibaratnya sambil invest, kita ikut beramal membantu emak-emak yang nggak bankable ini punya akses pemodalan hehe.. Recommended lah.
5. Equity Crowfunding (ECF)
Nah, berikutnya yang akan saya bahas ini adalah model baru dalam investasi P2P, yaitu ECF. Secara simple, ECF itu artinya urun dana, jadi ada suatu bisnis yang perlu pemodalan, si pemilik bisnis menjual sebagian sahamnya ke investor ritel untuk dibeli dan nanti ditukar dengan kepemilikan sahamnya. Mirip-mirip dengan perusahaan Tbk di bursa efek, namun ini skalanya UMKM hehe.
Tingkat resiko di ECF ini sangat besar, jauh lebih besar dari P2P lain hehe. Kenapa sangat besar? karena yang akan didanai ini UMKM, bukan perusahaan-perusahaan yang sudah mantap berdiri seperti di bursa efek.
Resiko pertama adalah penggelembungan valuasi. Karena tidak adanya KJPP (penilai independen) dan auditor sebelum UMKM ini listing di ECF, bisa jadi si pemilik akan menggelembungkan valuasi bisnisnya supaya bisa dapat untung di depan. Misal, bisnis restoran sushi di salah satu mall di Jabodetabek. Kalau dihitung secara fair dari sisi aset, kondisi keuangan, profitability, anggaplah super optimis aja valuasi nya hanya 1-2 Milyar, tapi ngga jarang di ECF ini mereka jual dengan valuasi 3M lebih hehe. itulah minusnya di sini.
Resiko kedua adalah minim compliance dan pengawasan. Nggak seperti di bursa efek, di ECF ini ngga ada regulator yang mengaudit laporan keuangan si UMKM. Jadi seolah-olah investor dibuat percaya saja sama manajemen nya. Mereka hanya berfungsi sebagai makelar yang menjembatani proses penawaran saham dan setelah deal, dilepas begitu saja hehe.
Resiko ketiga, adanya overestimate di prospektus sehingga pas usaha sudah jalan, laba dan pendapatan yang dihasilkan jauh di bawah prospektus. Akibatnya dividen yang dibagikan sedikit dan balik modal menjadi lama
Oia perlu diingat di ECF ini, uang yg kita invest tidak akan kembali kecuali kita jual di pasar sekunder yang dibuka setiap 6 bulan sekali. Namun saham yg kita punya baru bisa dijual 1 tahun setelah kepemilikan. Dari pengalaman yang ada, di pasar sekunder harga sudah jatuh karena itu tadi, estimasi laba di prospektus ngga sesuai kenyataan.
Ada 2 ECF yang saya ikuti, yg pertama adalah SANT*RA atau si merah dan yang kedua adalah BIZ*ARE atau si biru. Si merah dan si biru ini punya nature yang berbeda.
Si merah yang saya ikuti, sangat mengecewakan. Mereka praktis hanya sebagai makelar aja. Setelah pendanaan selesai, si pemilik usaha sudah 4 bulan ngga update laporan keuangan tp tidak pernah ditegur. Keluhan investor ke CS nya lambat dijawab. Very BIG NO. Si merah ini mengutip fee dari uang yang dihimpun pemilik usaha dari investor. Misal lender berhasil himpun 3M, si merah mengutip fee 5-10% untuk biaya makelar.. Easy money hehe
Jualan kambing tapi profit terus tergerus paska pendanaan, trus sudah 4 bulan Lapkeu nggak diupload.. Piye jal??
Si biru masih mending. Di sini spesialisasi nya adalah pembukaan bisnis Alfamidi dan Alfamart, dan restoran baik buka dari 0 maupun take over dari pihak lain. Bagi saya, bisnis minimarket ini sulit digelembungkan valuasinya. Mereka jual valuasi di sekitar 2-3 M per toko yang mana sangat wajar.
Alfamart dan alfamidi. Take over valuasinya 1-2 M tapi buat baru dari 0 include pembebasan tanah valuasinya hampir 5M. Masih wajar lah ya
Bedanya dengan si merah, si biru ini punya minimal investasi per lembar saham di Rp 5 juta. Dan dia langsung mengutip fee ke investor. Dari 5 juta yang kita bayar utk beli saham, kena biaya 250rb rupiah. Lebih mahal jatuhnya sih dari si merah.
Di ECF ini dari mulai masa kampanye sampai bisnis berjalan dan bagi dividen biasanya makan waktu 3-6 bulan. Jadi harus ekstra sabar dan pakai uang super dingin.
Saya sudah ikut 4 proyek alfamidi di si biru. Lokasinya di bekasi 2, pandeglang dan tangerang. So far sudah jalan 2-3 bulan dan dari 4 itu hanya 1 yang masih merugi. Sisanya sudah bagi dividen meski yield hanya 0.5% per bulan atau estimasi 6% per tahun. Lumayan lah masih lebih tinggi dari deposito. Kita lihat bagaimana kelanjutan bisnisnya.
Laporan keuangan di si biru ini menurut saya lebih baik dari si merah. Ada laporan arus kas dan laporan untung/rugi. Progresnya juga diupdate setiap bulan dan CS cukup responsif. Recommended lah
Ini contoh laporan keuangan per bulannya. Cukup komprehensif, tapi sayangnya ngga ada yang audit. Jadi ya cukup percaya saja ke pengelola hehe
Demikian sharing saya kali ini. Mudah-mudahan bisa lanjut lagi sharing pengalaman investasi yang lain di lain kesempatan..
Pagi hari adalah saat yang biasanya menentukan bagaimana kualitas suatu hari secara keseluruhan. Cara memulai hari berbeda -beda dari satu orang ke orang lainnya. Bila seseorang mengadopsi kebiasaan yang positif dalam memulai hari, niscaya kesuksesan akan ada dalam jangkauan. Lalu bagaimanakah orang-orang sukses memulai hari mereka di pagi hari?
Menurut Kevin Purdy dari FastCompany.com, terdapat sederet kebiasaan produktif yang membuat sebagian orang berpeluang besar untuk lebih sukses daripada mereka yang tidak. Untuk itu, ia mengamati kebiasaan pagi hari sosok-sosok sukses seperti penulis karir Brian Tracy, pembicara motivasi Tony Robbins, David Karp dari Tumblr, dan pimpinan Craiglist Craig Newmark.
Singkirkan email
Pendiri Tumblr David Karp mengatakan akan mencoba keras untuk menghindari memeriksa kotak masuk surat elektronik hingga pukul 9.30 atau 10.30. Karp menganggap membaca email di rumah adalah kebiasaan yang sia-sia dan tak produktif. “Bila memang ada yang perlu disampaikan, seseorang akan menelpon atau mengirimkan pesan singkat,” ujarnya.
Tak semua orang harus meluncur ke kantor begitu sebuah panggilan telepon terkait pekerjaan datang. Mayoritas orang dengan pekerjaan yang tak mengharuskan siap siaga menerima dan melakukan panggilan telepon bisa menggantinya dengan bertukar email setiap saat dan memfokuskan diri pada satu pekerjaan saja.
Dapatkan kesadaran penuh, berterima kasih
Saat terbangun di pagi hari banyak orang yang langsung memeriksa notifikasi di ponsel pintar mereka. Namun, Tony Robbins menyarankan untuk menyisihkan waktu khusus di pagi hari selama 30 menit saja untuk berolahraga ringan, berdoa untuk memotivasi diri, dan yang terpenting berterima kasih atas apa yang suah diperoleh hingga saat ini. Kemudian disarankan untuk membayangkan semua hal baik yang Anda ingin capai hari itu seolah Anda sudah mendapatkannya.
Selesaikan pekerjaan penting dulu
Anda perlu menuliskan pekerjaan-pekerjaan penting dalam sebuah daftar untuk diselesaikan dalam satu hari. Usahakan menuliskannya dengan jelas dan letakkan di meja kerja sehingga mudah dibaca sepanjang hari. Segera selesaikan prioritas tersebut di awal hari.
Manfaat dari mengerjakan pekerjaan sulit di pagi hari ialah Anda akan mendapatkan waktu yang lebih banyak dari orang lain untuk membantu pekerjaan itu selesai. Tak hanya itu, Anda juga bisa menghindari campur tangan yang tak diinginkan dari orang lain yang justru menghambat produktivitas Anda karena mereka memberikan hambatan dalam bekerja.
Tanyakan pada diri sendiri jika Anda melakukan apa yang Anda ingin lakukan
Perasaan tak puas dalam bekerja tak semestinya Anda sadari berbulan-bulan setelahnya, atau bahkan tahunan. Pertimbangkan untuk melakukan upaya sadar dan serius setiap pagi untuk menerapkan nasihat Steve Jobs berikut ini: lakukan pekerjaan yang Anda ingin lakukan hari ini seolah inilah hari terakhir Anda hidup di dunia ini.
Saat Anda menjawab tidak pada suatu pekerjaan selama berhari-hari, mungkin ada yang salah dan Anda perlu memperbaiki keadaan, atau keluar dari pekerjaan itu.
“Layanan pelanggan” (atau hal lain yang setara)
Pendiri Craigslist Craig Newmark mengatakan jam-jam pertama bekerja di pagi perlu difokuskan untuk melayani pelanggan dengan sebaik mungkin. Di Craiglist, Newmark melakukan layanan pelanggan setiap hari dengan rutin dalam bentuk menanggapi pertanyaan dan keluhan pelanggan Craiglist dan mengenyahkan para penipu di sana. Ia mengatakan terjun dalam layanan pelanggan membuatnya lebih realistis.
Bagaimana dengan Anda, apakah Anda juga memiliki kebiasaan tertentu di pagi hari yang membuat Anda sesukses sekarang?
Akhir-akhir ini Entrepreneur sangat sering dibicarakan, dan telah menjadi tren baru dalam dunia bisnis. Anda juga mungkin merupakan salah satu dari orang-orang yang ingin mencoba membuka bisnis sendiri. Mungkin Anda telah melakukan banyak penelitian dan membaca banyak buku tentang Entrepreneur, dan merasa yakin bahwa menjadi seorang entrepreneur merupakan hal yang paling tepat untuk Anda.
Jangan dulu begitu yakin.
Sebelum Anda benar-benar mengetahui segala sesuatu tentang entrepreneur, Anda harus mempertimbangkan beberapa hal seperti berikut :
1. Anda masih menghabiskan waktu untuk “Me-Time”
Untuk menjadi seorang Entrepreneur, Anda harus siap meninggalkan segala kegiatan yang tidak berhubungan dengan usaha membangun bisnis Anda. Tidak akan ada lagi waktu untuk Anda melakukan hal-hal yang tidak penting dan tidak berhubungan, menghabiskan waktu untuk kepentingan diri Anda pribadi. Anda harus fokus dan menggunakan waktu Anda sebaik mungkin untuk memikirkan cara menghasilkan uang. Jika Anda tidak mampu melakukannya, Anda belum siap menjadi seorang entrepreneur.
2. Anda menghabiskan waktu menghayal tentang kantor Anda
Semua orang yang memulai bisnis nya sendiri pasti menginginkan ruang kantor yang lebih besar, sebagai pemiliknya. Memang Anda pantas untuk itu, tapi kantor yang besar hanya sesuai dengan brand dan bisnis yang besar pula. Jika Anda ingin membuka sebuah restoran, orang-orang tidak akan melihat ruang kantor Anda, sehingga tidak akan bijak untuk mengahbiskan banyak biaya untuk membuat kantor Anda tampak wah.
3. Anda tidak mau melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar
Jika Anda menjadi seorang entrepreneur, Anda mungkin berpikir untuk mempekerjakan orang lain. Itu memang benar, tapi apakah Anda juga menjadi enggan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar, atau pekerjaan ringan lainnya? Mungkin Anda berpikir bahwa membuang sampah bisa dilakukan oleh orang bayaran Anda, dan Anda harus fokus pada pekerjaan yang lebih penting? Jika hal itu membuat Anda enggan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar, maka Anda tidak memiliki jiwa entrepreneur. Seorang entrepreneur mau untuk bekerja keras dan apapun itu jenis pekerjaanya yang dapat menguntungkan dan tidak merugikan bisnis yang ia jalankan.
4. Anda merasa lebih produktif dengan barang-barang baru
Saat menjadi seorang entrepreneur, apakah Anda terdorong untuk membeli gadget-gadget baru? Apakah Anda merasa bahwa Anda membutuhkan barang-barang baru? Ataukah barang-barang baru itu hanya untuk memuaskan ego Anda? Pikirkanlah baik-baik tentang pengeluaran yang Anda lakukan, karena seberapa kecil pun pengeluaran itu, akan sangat berdampak pada bisnis yang Anda jalankan. Apakah Anda memang membutuhkannya?
5. Anda masih marah dengan pemotongan biaya
Jika Anda masih tidak bisa mengatasi pemotongan biaya, dan sumber daya yang terbatas, dan masih kesal akan pemotongan biaya, Anda tidak memiliki jiwa entrepreneur. Seorang entrepreneur dapat memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menghasilkan keuntungan bagi perusahaannya.
6. Anda tidak dapat membagi kehidupan pribadi dan pekerjaan
Jika Anda tidak dapat membagi kehidupan pribadi Anda dengan pekerjaan Anda, dan Anda merasa bahwa Anda terlalu keras bekerja, maka Anda tidak memiliki jiwa entrepreneur. Seorang entrepreneur akan menikmati pekerjaanya sebagai bagian dari hidupnya. Ia tidak akan merasa tersiksa degnan pekerjaannya, karena tidak bisa dipungkiri bahwa pekerjaan sebagai entrepreneur akan lebih berat, karena seluru tanggung jawab ada di beban Anda.
7. Anda tidak rela membayar sebuah “harga”
Ketika menjalankan bisnis Anda, Anda pun wajib untuk membayar “harga” setiap hari, sama halnya ketika Anda bekerja untuk orang lain. Anda tidak dapat terlepas dari membayar sesuatu dengan uang atau kerja keras, karena hal itu merupakan kewajiban Anda. Sebagai pemilik bisnis, Anda mendapat hak di hari ini untuk bertahan dalam bisnis Anda besok. Dan hak itu diperoleh dari kepuasan konsumen terhadap bisnis yang Anda jalankan dan produk yang Anda jual. Konsumen lah yang menentukan apakah bisnis Anda layak bertahan atau tidak.
Untuk seorang entrepreneur terutama yang baru memulai, sangatlah penting untuk berinvestasi tidak hanya dengan dana tetap juga pengetahuan, ketrampilan, pengalaman dan peningkatan kualitas pibadi secara menyeluruh. Dan untuk itulah Anda harus pintar-pintar memilih siapa yang menjadi teman dan mentor Anda karena sebagian besar yang membentuk diri Anda sebagai entrepreneur ialah orang-orang di sekeliling Anda.
Namun, jika Anda merasa tidak memiliki banyak teman apalagi mentor yang tepercaya, membaca buku dan literatur lain seperti blog atau situs yang kredibel merupakan sebuah solusi alternatif untuk membentuk pribadi entrepreneur tanpa harus repot-repot memilih teman dan mentor dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini merupakan sepuluh tips dai 10 pebisnis veteran yang dikumpulkan oleh Neil Patel yang menurutnya sangat inspiratif dan penting bagi entrepreneur pemula.
“Tidak ada yang namanya taruhan yang aman” (David Niu – menjual sebuah perusahaan kepada aQuantive dan juga salah seorang pendiri BuddyTV)
Jangan terlalu mudah percaya dengan sebuah tawaran bisnis yang terdengar atau terlihat menggiurkan dan sangat menguntungkan . Biasanya tawaran itu diberikan kepada orang lain termasuk Anda, bukan karena alasannya menguntungkan (karena jika memang sudah 100% benar, orang yang memberitahu Anda pastinya tidak akan mau memberitahu Anda dan berinvestasi sendirian saja). Alasan utamanya lebih untuk mendistribusikan risiko yang mereka akan hadapi dalam berinvestasi di sana. Dengan kata lain, jika tidak berhasil, plaing tidak kerugian mereka tidak sebesar saat sendirian.
“Bersikaplah Mandiri dan proaktif” (Jeremy Schoemaker – menjual sebuah perusahaan ke MediaWhiz dan menghasilkan laba $132.994.97 dari Google per bulannya)
Pertahankan diri Anda sendiri dan janganlah takut dan ragu untuk menghadapi orang lain. Jika Anda membiarkan orang menekan Anda, Anda hanya akan lelah dan muak. Membiarkan diri untuk ditekan memang bisa ditoleransi pada awalnya namun jika intensitasnya makin tinggi dan lama, tidak ada jalan lain selain bersikap asertif karena risikonya ialah Anda dan bisnis Anda akan terpengaruh secara negatif dari tekanan ini. Tegaslah pada diri Anda sehingga tidak terus menerus ditekan oleh orang lain.
“Anda tidak perlu memulai usaha untuk menjadi sukses” (Ben Huh – membeli I Can Has Cheezburger)
Bagi entrepreneur yang berpikiran praktis, mendirikan sebuah usaha dengan tujuan menjadi entrepreneur sukses merupakan hal terakhir dalam otak mereka. Jika Anda berpikiran lebih praktis dan pragmatis, nasihat Ben Huh pastinya akan Anda amini. Cukup dengan survei dan meneliti usaha apakah yang sedang bekembang pesat sekarang tetapi sedang mengalami kekurangan modal, Anda bisa berinisitaif membeli usaha potensial tersebut dan kemudian mengembangkannya dengan lebih inovatif sehingga akan lebih menguntungkan di masa depan.
“Jika Anda mau tetap menghasilkan uang, Anda juga harus tetap menghabiskan sebagian untuk diri sendiri” (John Reese – bapak email marketing dan pemilik Lamborghini)
Logikanya sederhana saja, Anda terus menerus bekerja dan menabung, tetapi Anda melupakan diri sendiri. Anda terlalu ketat dengan rencana keuangan yang sudah disusun hingga tidak ada celah bahkan untuk sedikit menyenangkan diri Anda sendiri. Kendurkan kendali ketat itu sejenak dan belanjakan sebagian uang yang Anda susah payah dapat itu secara proporsional. Secara psikologis, ini kana menimbulkan efek yang baik karena bagaimanapun seorang entepreneur juga berhak untuk menikmat hidup. Kerja keras bukanlah tujuan tetapi alat untuk mencapai kebahagiaan.
Hanya karena Anda punya uang, tidak berarti Anda bisa menghambur-hamburkannya (Andy Liu – menjual sebuah perusahaan ke aQuantive dan merupakan salah seorang pendiri BuddyTV )
Jika usaha Anda masih dalam tahap perkembangan, agaknya terlalu dini untuk dapat berbelanja dengan leluasa apalagi menjadi boros. Bagaimanapun juga berhemat ialah satu-satunya hal yang harus Anda lakukan selama fase ini. Kekurangcermatan dalam pengelolaan keuangan hanya akan membuat usaha Anda sulit berkembang.
“Mengumpulkan modal patungan lebih sulit daripada disambar petir” (Guy Kawasaki – penulis, entrepreneur, dan investor malaikat)
Seorang penanam modal yang bersedia memberikan modal pada usaha baru yang penuh risiko biasanya tidak mengerti mayoritas investasi yang dibawa ke hadapannya. Namun jika Anda dapat membuat investor itu berpikir bahwa mereka dapat menyumbang sesuatu pada perusahaan Anda dan bila Anda dapat menunjukkan perkembangan usaha Anda, investor pasti akan merasa kecewa jika tidak menananmkan modal ke usaha Anda.
“Tidak ada salahnya menjadi yang terakhir” (Alex Algard – investor dan pendiri WhitePages.com)
Apabila Anda melewatkan sebuah peluang, siapa peduli, masih ada banyak peluang di luar sana. Lihat siapa lagi yang terlibat dan pertimbangkan dengan masak sebelum mengambil sebuah tindakan dan memutuskan terikat pada sebuah komitmen.
“Tetap terpantau tidak selalu buruk” (Edward Yim – menjual perusahaan kepada Marchex dan mendirikan sebuah perusahaan yang telah beroperasi diam-diam selama bertahun-tahun)
Kuncinya ialah keseimbangan. Menjadi sumber pemberitaan dan buah bibir mungkin memberikan efek yang bagus bagu usaha Anda. Namun, ada kalanya publikasi hanya akan membuat persaingan menjadi lebih ketat dan tajam. Ada baiknya tetap bekerja secara diam-diam dan mencetak untung meski tidak banyak orang yang tahu apa yang sedang Anda kerjakan.
“Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya” (Geoff Entress – memperoleh jutaan dengan berinvestasi dalam banyak perusahaan yang diakuisisi atau berubah status menjadi ‘go public’)
Tanpa memedulikan status atau atribut yang menempel pada seseorang, jangan ragu untuk sekedar mendengarkan apa yang menjadi keluh kesah seseorang dan responlah keluh kesah itu. Jangan menghakimi siapapun terlalu cepat karena Anda tidak tahu bagaimana orang itu di masa depan. Ada kemungkinan ia bisa menjadi jauh lebih baik daripada kita.
“Tirulah jejak langkah orang sukses” (Mr. C – berinvestasi lebih awal dalam sebuah perusahaan yang telah go public )
Menjadi seorang peniru bukan serta merta dicap buruk. Sebagai entrepreneur, tidak ada salahnya Anda meniru apa yang sudah dikerjakan entrepreneur lainnya yang sudah lebih dahulu mencapai puncak kesuksesan. Dengan meniru apa yang mereka kerjakan, Anda memperbesar peluang untuk menjadi sukses seperti mereka. Perbaiki kelemahan-kelemahan yang orang-orang sukses tersebut dan miliki kelebihan dari yang mereka punyai. Dengan begitu, Anda akan menjadi lebih sukses dari mereka.(*akhlis)
Siapa yang menduga bahwa ada begitu banyak pelaku bisnis dari kaum perantau? Jika Anda amati lebih teliti, tentunya hal itu tidak masuk akal bukan? Banyak kaum perantau yang justru lebih sukses dalam usahanya dibandingkan kaum pribumi yang sudah lama mendiami suatu tempat.
Sebagian besar pendatang/ perantau berasal dari daerah lain yang umumnya lebih terbelakang secara ekonomi. Mereka rata-rata kurang berpendidikan dan tidak seberuntung orang lain dalam berbagai hal.
Lalu mengapa sampai dijumpai banyak kaum pendatang yang bisa mencapai keberhasilan yang menakjubkan? Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa hal tersebut bisa terjadi.
1. Kaum perantau berorientasi pada uang.
Mungkin jarang sekali ditemui seorang pendatang yang mengatakan tidak datang untuk mencari uang di tempat yang baru. Mereka melakukan pekerjaan bukan semata karena mencintainya tetapi lebih karena mereka harus mendapatkan banyak uang untuk membiayai masa depan mereka dan generasi penerusnya. Dengan begitu, anak dan cucu mereka kelak bisa menjalani kehidupan yang lebih mapan dan sejahtera dari mereka sekarang.
Mereka cenderung untuk berpikiran praktis. Mereka berani untuk melakukan semua pekerjaan asal pekerjaan itu mendatangkan keuntungan berlimpah untuk mereka. Kebahagiaan adalah hal terakhir yang mereka pikirkan karena semua tenaga, pikiran dan waktu tercurah untuk mendapatkan uang yang sebanyak-banyaknya.
Sekarang kita dapat lihat bagaimana perbedaan kaum perantau dari kaum pribumi. Kaum pribumi cenderung ditatar untuk menjalani pekerjaan yang mereka sukai, sementara uang menduduki posisi sekian. Dengan pola pikir yang lebih praktis dan pragmatis, kaum perantau selalu berusaha mencetak untung dengan segala hal yang ada di sekitar mereka. Mereka lebih realistis dalam hal pekerjaan dan karir. Sementara itu, kaum pribumi cenderung lebih idealis. Mereka mengejar pekerjaan dan karir yang mereka damba dan menolak untuk tunduk pada realitas yang ada. Cita-cita seorang pendatang mungkin menjadi pedagang yang sukses, atau seseorang yang kaya. Sangat sederhana dan realisitis. Sementara seorang pribumi lebih memilih untuk bermimpi setinggi bintang. Mereka hendak menjadi astronot, pelukis, pembalap, atau cita-cita lain yang lebih menghabiskan uang daripada mendatangkan untung dalam waktu singkat.
2. Kaum pendatang adalah pecandu kerja.
Tidak ada yang menyukai bekerja lebih dari para perantau. Tidak ada istilah dalam kamus mereka untuk berhenti menikmati waktu dan hidup. Setiap detiknya adalah uang. Dan tidak semestinya mereka menghabiskan waktu tanpa rasa bersalah. Bekerja selama 40 jam per minggu mungkin terdengar cukup membosankan dan menekan bagi kaum pribumi. Tetapi lain halnya dengan kaum pendatang, semakin panjang jam kerja yang mereka harus jalani, semakin mereka senang karena itu berarti akan ada lebih banyak uang dan penghasilan yang bisa ditabung.
Kaum pendatang bisa bekerja selama 60, 70, bahkan 80 jam per minggu. Mungkin terdengar seperti sebuah fenomena yang tidak sehat bagi keseimbangan hidup seseorang dalam berbagai aspek. Namun, begitulah satu-satunya cara yang mungkin dilakukan demi mendapatkan jumlah uang yang lebih banyak. Bahkan memiliki lebih dari satu pekerjaan penuh waktu bukanlah hal yang aneh ditemui pada kaum perantau.
3. Investor sangat menyukai pendatang.
Sadarkah Anda bahwa kaum pendatang lebih seksi bagi para investor? Mereka menarik investor dengan mudah bak sekuntum bunga menarik seekor lebah untuk mengisap sari madunya. Ketertarikan investor berhubungan dengan karakteristik pendatang yang workaholic. Kaum pendatang umumnya akan bekerja jauh lebih keras dalam suatu perusahaan jika mereka ditawari kepemilikan saham perusahaan yang dimaksud, meskipun itu hanya sedikit. Mereka akan bekerja lebih rajin dibanding jika diupah untuk bekerja 80 jam seminggu.
4. Kaum pendatang sangat keras kepala dan bertekad baja.
Tekad membara untuk meraih cita-cita adalah salah satu kelebihan para pendatang. Mereka tidak ragu bekerja gratis pada awalnya untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Jika mereka ditolak atau dianggap tidak layak, mereka akan berjuang keras untuk membuktikan bahwa mereka tidak pantas untuk ditolak dan layak untuk dipilih.
5. Kaum pendatang tidak boros.
Bagi sebagian kaum pendatang yang mengalami keterbatasan dalam kondisi ekonomi, menabung dan berhemat adalah salah satu bagian terpenting dalam hidup mereka. Tidak ada celah untuk bisa dimanfaatkan sebagai alasan berperilaku boros dan ceroboh dalam pengelolaan keuangan. Mencari uang sangat susah sehingga mereka benar-benar sangat menghargai uang meskipun itu sedikit. Mereka bersedia melakukan segala cara agar dapat menghemat. Tidak ada gengsi atau rasa malu yang harus dipertahankan karena itu bahkan tidak terpikirkan oleh mereka. Mereka secara agresif melakukan penghematan dalam segala aspek. Kaum pendatang selalu bisa menjadi teladan bagaimana menjalani kehidupan yang sederhana dan hemat.
6. Kaum pendatang sangat menghargai ilmu dan pendidikan.
Banyak ditemui generasi awal kaum pendatang yang kurang beruntung dalam hal akademik. Mereka biasanya kaum yang terpinggirkan di tanah asal mereka. Dan mereka datang dengan pikiran yang lain dari pedahulunya. Mereka sangat menjunjung tinggi arti dan peran penting pendidikan dalam kehidupan mereka. Pendidikan yang tepat bisa menjadi awal investasi yang menguntungkan di masa depan. Ilmu adalah properti yang bisa menaikkan kualitas pribadi, yang akhirnya juga menaikkan tingkat pendapatan dan penghargaan masyarakat terhadap diri dan keluarganya. Mereka sadar pendidikan adalah sebuah jalan keluar bagi kesempitan kehidupan yang mereka alami sekarang. Tanpa memandang usia, mereka tidak ragu untuk kembali ke bangku kuliah atau belajar di sektor informal dengan mengambil kursus. Pendidikan adalah tangga yang memungkinkan mereka untuk sampai di strata ekonomi yang lebih baik. Kuliah ekstensi dan jarak jauh secara online adalah cara lain yang biasa mereka tempuh.
7. Kaum pendatang adalah orang-orang optimis yang tidak suka mengeluh.
Seberapapun kerasnya kehidupan yang dijalani kaum pendatang, mereka masih terus dapat bersyukur karena keadaan itu masih lebih baik dari saat mereka belum berpindah ke tempat yang baru. Keluhan jauh dari kehidupan baru mereka karena mereka optimis dalam menjalani kehidupan.
8. Kaum pendatang bersatu padu.
Unsur kebersamaan dan persatuan yang kuat sangat tercermin dalam suatu masyarakat pendatang. Mereka merasa senasib dan sepenanggungan, yang pada gilirannya memperkokoh solidaritas di antara anggota-anggotanya.
Kita bisa lihat kebersamaan itu bahkan saat mereka belum mendarat di tanah asing. Kaum pendatang suka berdatangan dalam jumlah besar, bukan seorang diri. Dan pendatang yang sudah lama menetap di tanah asing biasanya akan dengan sukarela membantu pendatang baru yang masih memiliki banyak keterbatasan, terutama dalam hal ekonomi. Para senior umumnya dengan senang hati mencarikan tempat tinggal, harta benda, pekerjaan, dan sebagainya. Mereka bahu membahu untuk mencapai kesuksesan. Dan saat pendatang yang baru telah sukses, ia akan dengan senang hati juga membantu pendatang lainnya yang belum seberuntung dia.
semua yg dipaparkan di atas make sense sekali ya. Bukti banyak tersaji di mana-mana. Ambil contoh di Bandung aja. Coba liat orang-orang sukses di sini kebanyakan datang dr luar Bandung bahkan yg keturunan Tionghoa. Orang Bandung nya sendiri memang seperti yg ditulis di atas, kebanyakan cepat puas dan kurang motivasi.
Hal ini juga kadang terjadi sama saya nih 😦 baca ini jadi tersadarkan kalau ternyata paradigma seperti itu yg menghambat kesuksesan. So, alangkah baiknya jika kita merantau ke negeri orang untuk meraih kesuksesan. Kalo ngga gitu ya jalan satu-satunya bekerja lebih giat ketimbang para pendatang. Sanggup? 😀
Jika Anda cermati, ada 2 kelompok besar di dunia ini, yaitu entrepreneur dan karyawan. Kini kita mengerti bahwa keduanya adalah dua elemen yang saling melengkapi untuk menguatkan perekonomian. Namun, berikut adalah beberapa perbedaan karakteristik yang fundamental yang memisahkan keduanya. Mari kita lihat perbedaan-perbedaan tersebut.
#1
Entrepreneur akan mengejar gairah dan tujuan mereka! Mereka tahu dengan persis apa yang mereka ingin lakukan dalam kehidupan. Karyawan hanya memiliki sedikit gairah dan dorongan untuk mencapai tujuan. Mungkin mereka punya mimpi tapi sering mereka patah arang saat berhadapan dengan orang-orang pesimis karena dianggap gila mau menukarkan kemapanan dan kenyamanan hanya untuk stres menjalani gaya hidup entrepreneur yang tidak pasti.
#2
Entrepreneur suka mengendalikan keadaan keuangan mereka dengan ketat. Mereka bekerja dengan perintah sendiri dan menentukan sendiri berapa banyak yang harus mereka dapatkan atas hasil jerih payah mereka. Mereka dengan leluasa akan bisa menentukan bayaran mereka sendiri. Sementara karyawan tidak bisa secara Mandiri menentukan nilai kerja keras mereka. Hal itu sedikit banyak tergantung pada atasan mereka.
#3
Entrepreneur selalu berkata “harus jadi nomor satu”! Tidak ada yang seantusias itu dalam mengucapkan tujuan mereka menjadi nomor satu. Para pegawai menghabiskan waktu untuk meniti karir dan bekerja keras untuk mendaki jenjang karir yang sudah pasti.
#4
Entrepreneur melakukan sesuatu yang bermanfaat! Tak hanya bagi keluarga, entrepreneur juga biasanya memberikan kontribusi positif bagi masyarakat umum di sekitarnya. Mereka suka memberikan pengaruh positif pada orang lain. Karyawan biasanya mengambil apa yang telah tersedia meskipun itu bukan yang mereka inginkan.
#5
Entrepreneur bisa menghabiskan waktu mereka dengan keluarga dan orang-orang terkasih lebih banyak! Karena mereka memimpin, mereka bisa menentukan waktu untuk keluarga dengan leluasa. Karyawan harus terikat dengan alokasi waktu yang telah ditentukan atasannya agar bisa meluangkan waktu dengan keluarganya. Kini banyak pekerja menghabiskan waktu lebih banyak dengan para teman kerja dibandingkan keluarganya.
#6
Entrepreneur tak segan ambil risiko! Ini penting karena tanpa keberanian ambil risiko, tidak ada dinamika dalam bisnis dan kehidupan. Risiko memang punya dua mata pisau, yang bisa melukai lawan dan kita sendiri. Entrepreneur tahu bahwa risiko ialah sebuah keharusan untuk mencapai sukses. Pegawai berpikir risiko hanya akan menimbulkan ketidaknyamanan dalam kehidupan. Mereka lebih suka bermain aman dan bermental takut untuk kehilangan apa yang sudah mereka kumpulkan.
#7
Entrepreneur menentukan aturan main! Merekalah orang-orang yang bertanggung jawab atas usaha mereka. Mereka menentukan aturan, jam, dan jadwal mereka sendiri. Sementara karyawan mengikuti aturan yang entrepreneur buat. Karyawan melakukan apa yang disuruh, kapan harus dilaksanakan, dan bagaimana seharusnya pekerjaan dilakukan.
#8
Entrepreneur terus perbaiki diri! Mereka membantu orang mengubah dunia. Mereka menemukan hal-hal baru tentang diri mereka dalam setipa langkah bisnis mereka. Tiap entrepreneur memiliki sesuatu untuk diberikan pada masyarakat dan perekonomian agar menjadi lebih baik. Karyawan cenderung terfokus pada diri mereka sendiri dan tidak belajar atau menemukan hal baru tentang diri mereka.
#9
Entrepreneur menantang status quo! Mereka tahu untuk bisa menjadi lebih baik dan makmur dari sekarang mereka harus melakukan sesuatu yang tidak mau dilakukan oleh orang lain. Inilah mengapa banyak orang berpikir orang yang mendirikan usaha sendiri adalah orang gila. Karyawan lebih suka mengikuti orang lain. Mereka suka mengikuti arus/ tren, bahkan jika arus itu menggiring mereka ke sebuah jurang penuh karang!
#10
Entrepreneur SELALU memiliki alasan mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Tanyakan itu pada setiap orang yang memiliki usaha. Mereka tahu alasannya. Alasan itu biasanya dibangun atas dasar emosi dan gairah. Alasan itu bisa berupa inspirasi dari seseorang. Karyawan, sebaliknya, hanya tahu apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka melakukannya, tanpa tahu untuk apa mereka melakukannya.
mantap! memang benar sepertinya kalo menjalani hidup 9 to 5 alias kerja, mimpi mimpi besar sulit diwujudkan karena keterbatasan waktu yg dimiliki.
Menjadi entrepreneur juga berarti memiliki lebih banyak waktu luang untuk menebar kebaikan, meraih kepuasan hidup dan mencurahkan waktu untuk orang tercinta.