Nonton Konser di GBK

Akhir Februari 2023 ini,akhirnya saya kesampaian juga punya pengalaman nonton konser di SUGBK (Stadion Utama Gelora Bung Karno). Hampir 35 tahun hidup, cuma pernah ke GBK sampai trek lari bagian luar nya aja dan belum pernah kesampaian nonton bola di sana. Baru kali ini bisa dapet pengalaman nonton konser Raisa karena diajak sama istri tercinta.

Sejak bulan Desember 2022 lalu, kami berdua udah siap-siap untuk hunting tiket konsernya via online. Sempat galau juga apakah kita mau pesen area festival (warna-warni depan stage) atau di area silver/gold yang depan, akhirnya kami putuskan coba beli tiket yang silver karena takut untuk tiket festival nontonnya berdiri seperti konser Kpop yang pernah kita tonton dulu.

Namun ternyata pas hari H dan masuk ke area GBK, semua area festival dikasih kursi dong, jadi lumayan nyesel juga ngga pesen tipe yang ini. Ya berhubung sudah dapat tiket silver right saat war ticket jadi ya disyukuri saja hehe.

3 bulan sejak tiket dibeli tibalah hari H. Konser dimulai pukul 19.00 WIB namun info di FAQ dibilang bahwa gate sudah dibuka sejak pukul 14.00 dan opening act sudah akan dimulai pukul 17.00 WIB. Berhubung kami cuma beli 2 tiket saja dan merasa bahwa konser ini pasti tidak ramah anak, jadi anak-anak ditinggal di rumah kakek-neneknya sehingga istri saya yang dari Bandung datang ke Jakarta.

Pukul 12.00 istri saya udah tiba di Jakarta, kami pun makan siang dulu dan sempat tidur siang sebelum akhirnya berangkat dari bilang TB Simatupang ke GBK naik MRT pukul 15.30 WIB. Tiba di GBK jam 16.15 WIB masih sempat untuk solat ashar dan “makan malam” di FX Sudirman. Terlihat dari keluar stasiun MRT, sudah banyak yang jualan makanan, jas hujan (karena hari mendung) sampai pernak-pernik konser.

Setelah makan kenyang, jam 16.30 kurang kami jalan menuju pintu masuk SUGBK. Nah saat di pemeriksaan tiket, minuman yang udah dibeli ternyata wajib dibuang di depan petugasnya, walaupun nanti di dalem kita bisa beli minuman lagi. Mungkin kalau saya mikirnya panitia ngga mau ambil resiko dengan nyium bau minumannya satu persatu karena khawatir ada yang nyelundupin alkohol. Jadi ya 2 botol aqua yang udah dibeli di pinggir jalan terpaksa ditinggal.

Masuk setelah gate, ternyata udah banyak penonton yang datang. Walaupun pintu masuk stadion belum dibuka, jadi banyak yang sekedar duduk-duduk atau pun udah baris ngantri untuk masuk. Di area utama bagian luar stadion booth sponsor maupun booth yang dijual panitia untuk penjual makan dan minum rame dikunjungi orang yang mau makan dan minum. Meski harganya sedikit lebih mahal tapi okay lah, pilihannya banyak dari mulai makanan tradisional kayak sate, nasi goreng sampai yang modern macem burger dan sejenisnya.

Selain itu di booth sponsor juga banyak kegiatan yang bisa dilakukan mulai dari interaktif sampai disediakan booth photo dengan pernak-pernik raisa. Di beberapa tempat juga disediakan spot-spot foto yang isinya poster/foto/baliho Raisa segede gaban hehe.

Puas foto-foto ngga nyangka hujan rintik-rintik pun turun tepat setelah gate dibuka. Kirain hujannya bakal awet karena rintik-rintik, kami pun udah langsung pake jas hujan sekali pakai yang dibeli di dekat stasiun MRT. Tau nya total durasi hujannya cuma sekitar 20 menit dan langit langsung mendadak cerah pas mayoritas penonton di area festival udah masuk dan duduk.

Hari mulai gelap karena udah menunjukkan jam 6 sore, dan lampu-lampu di stadion pun udah mulai dinyalakan. Impresi saya ketika duduk di tribun depan pertama kali adalah merasa kalau GBK itu kecil. Karena saya udah pernah masuk di stadion seperti Siliwangi, Jalak Harupat dan GBLA yang mana pandangan mata dari tribun terdepan ke lapangan cukup jauh, ini GBK kesannya deket banget. Hampir sama feelnya kayak stadion Liga Inggris.

Begitu suasana gelap dan lampu mulai menyala, ternyata penonton dikagetkan dengan opening act yang ternyata dibawain sama Vidi Aldiano. Setelah bawain 3-4 lagu, dan setelah semua penonton masuk ke stadion dan jam menunjukkan pukul 19.00, Kuntoaji datang untuk memimpin menyanyikan lagu Indonesia Raya yang cukup khidmat.

Walaupun view nya sangat terbatas karena jauh dari panggung, overall pengalaman konser perdana di GBK ini cukup berkesan lah. Beberapa hal yang bikin saya kagum: video animasi dan background di stage nya yang memukau banget. Luar biasa lah pokoknya, bener-bener klop dan matching dengan stage act nya Raisa. Konon katanya memang yang bertanggung jawab sama background screennya ini yang biasa handle video2 klip dan movie hollywood ey, ngga heran.

Hal kedua yang bikin kagum, interaksi antara Raisa dan penonton juga bagus. Beberapa kali dibuat takjub sama Raisa yang minta semua yang di tribun buat nyalain flashlight hp dan angkat hp ke atas. Wuihhh, kerena abis, sayang ngga sempat rekam euy. Ada beberapa momen juga yang bikin terharu kayak tiba-tiba muncul suara anaknya pas mau bawain lagu Jangan Cepat Berlalu. Terharu ey.

Yang agak kurang dari konser ini menurut saya kualitas sound nya yang masih jauh euy dari konser indoor. Suaranya di beberapa lagu pecah dan bikin artikulasi dan vocal raisa kalah sama musiknya ey. Mungkin kerasa banget kalau posisi ada di tribun atas kali ya. So, sebetulnya kalau mau cari kualitas sound, konser outdoor itu sangat ngga direkomen, kecuali memang mau ikutan hype nya aja dan cari experiencenya hehe.

Kurang lebih raisa bawa 22 lagu seingat saya, semua lagu hits dibawain penuh dan beberapa juga dibawain medley. Sekitar jam 22 kurang, sebetulnya sudah pamitan, tapi pas banyak yang udah beranjak, eh beliau muncul lagi dan bawain lagu pamungkas “Usai di Sini”. Tapi karena kita memang ngga mau kejebak desek-desekan pas keluar GBK, jadi ya relakan aja 1 lagu terakhir buat kasih spare waktu untuk jalan ke stasiun MRT.

Sampai di stasiun MRT kira-kira jam 22.30 dan akhirnya bisa tiba di TB Simatupang jam 23.30 WIB untuk istirahat. Seru lah experience konser kali ini. Next kalau ada konser KPOP di GBK mungkin mempertimangkan untuk nonton juga dan tentunya dengan milih kursi festival.

Cabut Gigi

Sudah 3 bulan rasanya saya belum menulis apapun di blog ini. Cukup banyak hal yang terjadi di 3 bulan ini. Yang paling berkesan adalah akhirnya gigi saya tidak lengkap lagi alias sudah dicabut permanen. Ceritanya cukup membuat miris juga karena dua gigi saya harus direlakan hilang dalam rentang seminggu saja.

Cerita berawal dari rasa nyeri amat hebat di gigi geraham kiri kedua dari depan, yang sudah seminggu saya tahan. Rasanya seperti nyut-nyutan namun kerasa sampai di kepala. Awalnya saya kira ada lubang di gigi nya, tapi jika dilihat dengan seksama, nggak ada lubang terlihat kasat mata. Akhirnya saya beranikan lah ke dokter gigi untuk diperiksa. Dokter gigi pun bilang kalau ini bukan lubang, namun beliau juga nggak yakin sampai akhirnya saya diminta untuk rontgen mulut dulu supaya bisa dicek detil.

Saya pun baru pertama kali menjalani rontgen mulut. Kirain kayak rontgen dada gitu tp rupanya kita difoto penampang mulut dan gigi pakai scanner/x-ray 360 derajat yang bisa foto semua area mulut dalam bidang 2 dimensi. Kira-kira alatnya seperti ini:

Prosesnya cepat, hanya 2 menitan namun ada efek pusing setelah dirontgen, mungkin karena efek radiasi kali ya. Hasil rontgen keluar dalam 1 jam, namun karena dokter gigi nya sudah selesai prakteknya, saya pun memutuskan untuk kembali besok harinya. Tapi jika dilihat dari hasil foto rontgen dan diagnostik dokter radiologi, tidak ada hal aneh di gigi waktu itu.

Keesokan harinya, rontgen saya kasih ke dokter gigi, dan beliau pun bilang tidak ada keanehan. Namun diagnosis beliau bilang kalau ada kemungkinan harus perawatan akar karena mungkin akarnya bermasalah. Nah, untuk melihat kondisi akar, gigi saya dilubangi, dan ternyata ketika dilubangi, barulah terlihat akarnya patah dan tidak bisa diperbaiki lagi. Sehingga rekomendasi untuk mengakhiri penderitaan ini hanyalah dengan cabut permanen.

Kebetulan saat itu saya urutan pasien pertama, dan saat perawat cek ke bagian bedah mulut, masih ada 1 slot pasien untuk tindakan cabut gigi. Saya pun ditawari, dan tanpa pikir panjang langsung mengiyakan karena memang ingin penderitaan segera berakhir. Awalnya saya kira cabut gigi itu tindakan biasa saja seperti kayak anak kecil yg giginya goyang dan dicabut. Ternyata prosedurnya seperti operasi kecil dan perlu bius lokal. Jadi kita akan dijelaskan prosedur operasi dan disuruh tandatangan form pernyataan dan menerima resiko operasi.

Pas masuk ke ruangannya, seperti mau diperiksa gigi, disuruh duduk dan kumur2 pake antiseptik. Setelah itu disuruh minum obat yg rasanya pait banget. Lalu setelah itu duduk tengadah buka mulut dan prosedur operasi dimulai. Prosedur dimulai dengan menyuntikkan obat bius ke area gusi gigi yg akan dicabut pakai alat seperti ballpoint. Jadi gusi kita dicolok2 seperti disuntik, tau2 udah ga berasa sama sekali. Rasanya lumayan sakit sih.

Setelah dibius barulah dokter bedah mulut memulai tindakan, mencabut gigi dengan alat semacam tang. Nah karena ini gigi geraham yang terbesar, jadi agak susah nyabutnya, terdengar suara seperti tulang yg hancur karena memang dicabut paksa dengan menghancurkan giginya. Walau dibius, sakitnya masih bisa kerasa sedikit. Kebayang klo ngga dibius ey. Sesekali dokter juga mengambil gergaji gigi buat motong giginya supaya lebih mudah dicabut.

Setelah gigi tercabut, dokter bedah akan bilang kalau giginya sudah kecabut dan kita nggak akan merasakan apa2. Setelah itu baru fase berikutnya dilakukan yaitu menjahit gusi yang terbuka dengan benang jahit. Ini lumayan kerasa juga sakitnya karena efek biusnya udah mulai hilang.

Proses dari cabut sampai dijahit kurang lebig 15 menit. Setelah itu kita diminta menggigit kapas antiseptik di gusi yang giginya sudah dicabut. Wajib kontrol lagi minggu depannya untuk lepas jahitan.

Setelah keluar dari ruang dokter bedah mulut dan menunggu resep obat, barulah penderitaan selanjutnya dimulai, gigi yang dicabut rasanya nyut2an sampai ke kepala dan saya tidak bisa bicara sama sekali hanya bisa meringis sambil sesekali menitikkan air mata saking sakitnya.

Sampai di rumah pun sakitnya belum hilang, setiap 3-4 jam sekali ganti kapas dan makan pun jadi tidak selera karena musti pakai gigi sebelah dan tidak bisa makan yg dikunyah lama. Jadi hanya bisa makan bubur/nasi tim dulu. Setelah 6 jam baru rasa sakit perlahan hilang dan sudah bisa bicara normal lagi.

Untuk perawatan, dokter memberikan obat antibiotik, obat pereda nyeri dan obat kumur yang dikumur 2 kali sehari. Di hari ke tiga setelah operasi, kita sudah bisa makan normal namun masih nggak nyaman pakai gigi yg sudah dicabut.

Nah di hari keempat, kejadian tidak mengenakkan terjadi. Gigi geraham atas kanan saya sempat berlubang hingga setengahnya. Ini sudah ditambal oleh dokter gigi minggu lalu namun tidak permanen, celakanya saat itu saya makan rujak cingur yang isinya timun dan mangga muda. Beberapa gigitan cukup untuk membuat tambalan sementara nya copot dan gigitan berikutnya membuat gigi yg sudah terbagi dua patah namun belum lepas dari gusi. Hanya tinggal ditarik mungkin sudah lepas.

Dari situlah saya udah ngga nafsu makan karena gigi geraham kiri bawah dicabut dan geraham kanan atas hampir lepas. Akhirnya beberapa hari kemudian ke dokter bedah mulut lagi sekalian kontrol dan cabut 1 gigi lagi. Dan sakit yang dirasakan pun terulang lagi 😦

Jadi saat ini gigi saya sudah 2 yang copot di geraham kanan dan kiri. Nah setelah dicabut, baru minggu ketiga kita bisa makan normal karena gusi sudah keras dan bisa digunakan mengunyah normal. Sebelum minggu ketiga, rasanya masih kagok dan sakit utk mengunyah pakai gusi. Sampai sekarang saya belum pasang gigi palsu karena sepertinya akan ribet. Jadi biarlah gigi ompong 2 karena posisinya agak ke belakang jadi gak akan terlihat selama saya ngga buka mulut lebar-lebar hehe

Terima kasih

Petualangan Baru di Pulau Borneo Part 3

wuiiih udah hampir setaun blog ini mati suri hehe. Maklum lah pemiliknya terlalu sibuk menangani berbagai macam hobi hehe. Dari mulai pindah departemen di tempat kerjaan, hobi main Football Manager, nonton, dll.

Sesuai judul, post ini melanjutkan tentang lingkungan tempat tinggal saya yg baru di kompleks PT Badak. Jadi begini, PT Badak itu perusahaan migas yang cukup aneh. Sistem kerjanya tidak menganut sistem ON-OFF seperti layaknya perusahaan migas kebanyakan namun domisili dan kerja harian layaknya pegawai kantoran. Oleh karena itulah disini dibangun sistem komunitas layaknya perumahan, lengkap dengan seluruh fasilitas yang semuanya gratis!Dari mesjid, gereja, kolam renang, lapangan tenis, trek lari, sampai bowling pun ada. Semua buka setiap hari (kecuali tanggal merah) dan gratis untuk karyawan dan keluarganya. Di sini juga ada semacam wisata alam dari mulai kawasan hutan reservasi buatan, tempat panjat tebing hingga kawasan terpadu pantai dan pulau buatan yang pemandangannya indah sekali hehe.Believe it or not, di tempat saya ini sering muncul buaya, biawak, ular kobra, bekantan, kuntul perak, dan hewan-hewan khas Kalimantan lainnya loh! hehe

Di area Marina di foto di atas, di sana banyak sekali sarana rekreasi dan olahraga untuk pegawai dan keluarganya loh. Dari mulai main-main dan berenang di pantai yang airnya bersih, mancing dengan fasilitas speed boat, berlayar dengan fleet, menyelam, hingga bertamasya dengan keluarga ke Pulau Beras Basah menggunakan speed boat yang besar. Dan lagi-lagi, semuanya gratis loh! hehe

Balik lagi ke komunitas yang dibangun di dalam kompleks perusahaan ini, masing-masing pekerja tetap mendapatkan rumah dinas. Ya semua pekerja permanen diberi rumah dinas. Rumah dinas disini ada tingkatannya sesuai dengan golongan si pekerja tersebut. Rumah dinas lebih dikenal sebagai PC (saya ngga tau apa singkatannya, mungkin Public Community kali ya). Tingkatan yang paling bawah adalah PC 6C, PC6B, PC6A (rumah tipe ini merupakan rumah reguler 120 m2 yang dibuat couple), PC5 (rumah tipe 36), PC4 (rumah tipe 42), PC3A (rumah tipe 60) dan PC3B (rumah tipe 72). Semua rumah di PT Badak hanya terdiri dari satu lantai. Mungkin karena tanahnya luas kali ya hehe. Saya kasih liat beberapa penampakannya deh.

Rumah PC5

Rumah PC4 lama

Rumah PC3A

Ya begitulah, karena di sini daerah pekerja alias karyawan, rata-rata siang hari kompleks ini sepinya luar biasa. Apalagi malam hari. Jam 7 malam saja rasanya sudah kayak tengah malam. Yang kedengeran cuma suara obor aja hehe. Tiap weekend biasanya banyak yang memadati area rekreasi macem taman, Marina, kolam pemancingan, kolam renang dll. Tidak sedikit juga yang ‘mengungsi’ ke Balikpapan dan Samarinda mencari keramaian mengingat di kota ini satu-satunya mall hanya Ramayana dan toko sebesar Borma sudah pantas disebut ‘Plaza’ πŸ˜›

Yowis, lain kali dilanjut lagi dengan topik yang jauh lebih seru hehe.

 

Petualangan Baru di Pulau Borneo Part 2

lanjut lagi deh ceritanya dikit. Hari berikutnya, agenda para pegawai baru adalah induction dan identification personnel di kantor security. Yup, sebagaimana objek vital nasional (aset terbesar milik bangsa), pengamanan di PTB ini saya rasa sangat ketat dan cukup rumit untuk mencegah masuknya teroris dan sejenisnya. Kebayang kan soalnya kalau sampe disusupin teroris dan kilang ini meledak…. wuih berapa milyar dollar aset negara yg bakal hilang, plus segala macam proyeksi keuntungan dari gas alam cair yg diekspor ke negara-negara maju.

Well, kurang lebih 2 hari berturut-turut saya diidentifikasi oleh petugas sekuriti dan alhamdulillah tidak diidentifikasi teroris haha. Yaiyalah. Dan akhirnya saya dapatkan juga badge (ID card) saya sebagai pegawai baru disini

Oia, kebetulan, apartmen saya mendapat view yg cukup bagus di arah sebaliknya. Yaitu arah flare atau api abadi yg selalu ada di seluruh kilang oil and gas. Konon, api abadi ini akan menyala terus-terusan selama plant beroperasi karena terkait sistem safety nya plant itu sendiri. Di industri oil and gas, ngga semua produk dr minyak atau gas mentah dipakai dan sebagian kecil kandungannya harus dibuang dalam bentuk flare atau dilepas ke atmosfer. Lumayan deh tiap sore dpt pemandangan api abadi πŸ˜€

Percaya atau tidak, api abadi ini akan menjadi super besar jika plant start-up atau dalam kondisi trip. Ya itu tadi terkait sistem safety yg mengharuskan sebagian kandungan gas yg belum stabil dibuang keluar plant agar tidak membahayakan hehe.

Yaudah, drpd ngomongin hal-hal teknikal dan ilmiah, saya ajak keliling-keliling melihat lingkungan sekitar PT Badak deh. Oia foto-foto ini saya ambil sewaktu saya belum punya kendaraan hohoho

Yang di atas ini penampakan kantor utamanya yg biasa disebut gedung putih, well, karena memang serba putih alias dari keramik. hmmm, sedikit mengingatkan saya pada perpustakan ITB dulu ya haha. Di depannya ada tanaman yg dibentuk dengan logo PT Badak.

Jalanan di sini lebarnya 10 meter minimal dan sepi nya ampun haha. mungkin karena komunitas pegawainya terisolir dari dunia luar jadinya kesannya ekslusif padahal saya sendiri ga suka dengan ke-eksklusifan karena terkesan sombong. Haduh

Di sini juga ada banyak fasilitas olahraga yg super lengkap dan gratis. Cuma gara-gara saya belum punya kendaraan, ya jadinya cuma keliling sampai ke kolam renangnya doank hehe

Kolam renangnya oke punya. Airnya bersih, luas cuma sayang ga ada perosotannya hehe. Di belakang kolam renang itu ada lapangan futsal rumput sintetis, lapangan bulutangkis, dan juga lapangan bola yg cukup luas. Tapi sayangnya saya ga sempet ke sana jd nanti saja saya tunjukin deh hehe

Jalan sedikit lagi rupanya di sini juga ada semacam Alfamart gitu, namanya Tojasera alias Toko Jajanan Serba Ada. Yah tampilannya mirip minimarket pada umumnya sih tp sangat membantu sekali utk menyediakan supplies drpd keluar komplek apalagi buat yang belum punya kendaraan hehe

Kalau masalah harga sih menurut saya relatif sama lah dengan di Jawa sana, mungkin selisihnya maksimal ya Rp 500 aja. Barangnya cukup lengkap dan ruangannya juga nyaman. Sepulang dari sana saya sempatkan mampir melihat lapangan bolanya hehe

Lapangan bolanya lumayan bagus sih.Standar nasional dengan tribun kecil di bagian barat. Ada trek larinya juga. Tapi sayangnya kondisi rumputnya ga terlalu bagus jd ya gitu deh. Penasaran ingin main di lapangan bola ini. Kapan ya? hehe

Berhubung koneksi sy lagi lelet, lanjut lagi nanti deh. Lumayan masih banyak sisi Badak yg belum saya tunjukin hehe

Ciao!

Petualangan Baru di Pulau Borneo Part 1

Ah sebenernya tulisan ini basi banget sih. Karena ditulis sejak 7 bulan kemudian. Tapi ya sudahlah lebih baik iya daripada ngga kan πŸ˜›

23 taun saya lahir dan besar di Bandung, belum pernah lebih dari sebulan keluar dari Bandung dan menjalani kehidupan di kota lain. Paling lama kemana ya? Mungkin ketika Kerja Praktek di Karawang dan mudik Lebaran sekitar 3 minggu di Malang. Sisanya? Nope. Ga heran kalau saya dijuluki si jago kandang seperti layaknya Persib Maung Bandung hehehe.

Di usia ke-24, menjelang ke-24 tepatnya. Perasaan saya rasanya berkecamuk (halah). 23 tahun di Bandung rasanya Bandung makin sempit dan makin ga senyaman dulu. Ditambah fakta bahwa saya sudah lulus kuliah dan fakta menyedihkan bahwa di kota tercinta itu tidak tersedia banyak lapangan kerja untuk saya lamar (ciee…). Jadi pilihan hidupnya ya buka usaha atau keluar dr Bandung.

Nah di tengah perasaan bimbang antara meneruskan usaha yg sudah saya rintis atau keluar berpetualang (well, actually sy sudah mencoba merintis usaha di bidang bioteknologi, namun rasanya cukup sulit menembus yg namanya birokrasi untuk permodalan). Setelah berpikir cukup lama dan matang, akhirnya saya pun memutuskan untuk mencoba peruntungan nasib di luar Bandung. Kebetulan cita-cita saya setelah ‘banting setir sedikit’ adalah mencari pengalaman di perusahaan besar dan mencoba mendapatkan gain berupa income dan pengalaman yg lebih baik drpd tempat lain. Pilihan itu hanya ada di perusahaan minyak dan gas dan as we know, representasi perusahaan oil and gas di Indonesia sebagian besar ada di Kalimantan.

Dan sesuai dengan tulisan saya sebelumnya, alhamdulillah saya diterima di PT Badak NGL Bontang dan akan memulai petualangan saya pada Januari 2013. Cuma yaitu dia, sebagaimana rasanya jago kandang, rasanya super berat meninggalkan Bandung, keluarga, teman, pacar dan segala hal yg indah utk mengadu nasib utk waktu yg cukup lama. Di perusahaan tempat saya bekerja nanti, semua fasilitas disediakan dan artinya sistem on-off yg selama ini dianut kebanyakan oil and gas company tidak berlaku, well, that means sy harus menetap di sana. Duh!

Akhirnya setelah pikiran berkecamuk (halah) saya memantapkan hati untuk terbang ke Bontang. Dr Bandung, sy harus menuju Jakarta terlebih dahulu untuk kemudian mengambil rute pesawat Jakarta-Balikpapan. Yang memalukan, ini untuk pertama kalinya saya naik Garuda Indonesia gan! Maklumlah meski sudah cukup sering naik pesawat, kebanyakan saya hanya mampu meng-afford penerbangan low cost macem AA, Lion, Sriwijaya, dll hehe

Rupanya naik Garuda itu enak gan! Untuk pertama kalinya saya naik pesawat yg ada tivinya dan diberi full service macem ini. Kapan lagi? hehe. 2 jam perjalanan udara ditempuh dan ketika akan mendarat saya melihat paparan laut Jawa di kejauhan dan artinya kaki saya sebentar lagi akan menginjakkan tanah Kalimantan untuk pertama kalinya. Well, banyak mitos tentang Kalimantan, terutama yg mistis dan aneh-aneh yg saya dapatkan beberapa hari menjelang keberangkatan saya. Lucu-lucu lah, ada yg ngelarang minum air yg disuguhin sama penduduk lokal, ada yg ngelarang membawa benda-benda yg ditemukan di jalan, dan lain-lain.

Di Bandara Sepinggan, saya menuju tempat transit dan rencananya akan naik connecting flight yaitu pesawat charter perusahaan rute Balikpaoan-Bontang. Perusahaan saya ini rupanya punya lapangan udara pribadi yg diperuntukkan untuk jalur transportasi karyawannya. Enak juga ya hehe. Setelah menunggu selama 2 jam, saya akhirnya naik pesawat ATR Indonesia Air. Buat yg belum tau ATR, ini saya tunjukkan gambarnya. Ya, itu adalah pesawat baling-baling, gan! hahaha

Pesawat dengan kapasitas 40 orang ini membawa saya terbang dari Balikpapan ke Bontang hanya dalam waktu 25 menit dibanding dengan perjalanan darat yg ditempuh minimal selama 5 jam. Weleh! hahaha. Itulah fenomena Kalimantan. Banyak jalan-jalan yg dibangun mengikuti jalur penebang kayu sehingga muter-muter ga jelas haha.

Siang hari saya tiba di Bontang, di bandara milik perusahaan tepatnya. Kemudian saya dan teman2 saya sesama pegawai baru dibawa menuju apartmen yg bernama Apartmen Sawo Kecik. Di dalam perjalanan saya cukup takjub melihat lingkungan perusahaan ini. Jauh sekali dari bayangan saya. Di bayangan saya, kanan kiri itu hutan. Eh ini malah hamparan lapangan golf dan bunga-bunga coba haha. Sampai di apartmen, saya langsung ditunjukkan kamar paling ujung yg bernomor 50. Well, ketika saya masuk ke kamar ini, not bad lah. Ada AC, TV, kulkas, kamar mandi dalam, tempat tidur double dan ruangan yg cukup luas. Mungkin kalau di konversikan ke rupiah ini tipe kosan yg lebih dr 2 juta sebulan hehehe.

Lingkungan di sekitar apartmen ini juga hijau dan asri lah. Ada lapangan golf di sebelah timur, pepohonan rimbun dan jalan raya tepat di depan kamar saya (well, kamar saya sebenernya ada di lantai 2) dan suasana nyaman khas di pedesaan gitu lah hehe.

Setelah beristirahat sejenak, saya dan teman2 yg lain pun diminta untuk makan siang sebelum bertemu dengan manajemen untuk safety induction. Maklumlah, plant LNG kyk gini, isu safety itu yg utama jd semua yg baru masuk ke area kilang harus diberikan pemahaman yg cukup njlimet tentang safety. Rupanya ruang makan ada di bangunan terpisah dari apartmen dan bentuknya rupanya mirip kantin mahasiswa gitu lah. Makanan prasmanan dan beberapa round table disusun seperti kantin. Daan, yg bikin excited di sini rupanya ada mesin es krim jaman dulu itu loh. Yg dipencet tuasnya terus eskrim nya keluar melilit lilit hehe

Sehabis makan, kamipun ikut safety induction dan akhrinya pulang menuju apartmen masing-masing. Nah yg lucu, menjelang malam tiba, buset, lingkungan kompleks perusahaan udah macem kota mati aja. Jarang sekali ada mobil berlalu lalang dan orang yang mengobrol di luar atau sejenisnya. Yah, maklum sih namanya kompleks perusahaan yg tertutup dari dunia luar dan juga ini hari kerja, mungkin orang-orang di sini pada capek dan ingin istirahat di rumah hehe. Yasudah hari pertama ini saya tutup dengan kesan excited karena lingkungan yg baru ini begitu bersih, asri, nyaman dan hijau namun di sisi lain saya cukup kaget karena disini luar biasa sepi, jauh dari hingar bingar khas Bandung dimana menjelang Magrib justru kehidupan baru dimulai hehehe. Tp lumayan lah buat tantangan dan petualangan baru yg akan saya jalani, well, mungkin 2-5 taun mendatang hehehe.

Ok, nanti dilanjut lagi, saya akan ajak keliling kompleks sekitar apartmen utk melihat apa aja yg ada di sini, di kota ini dan di perusahaan pencairan gas alam terbesar di Indonesia ini hehehe

Ciao!

The Adventure of The Job Seeker (Part 3)

Nah part 3 ini bisa dibilang part penghabisan deh hehe.

Singkat cerita aja lah ya. 3 minggu setelah tes di kampus UI Depok, saya mendapat pengumuman resmi via email yg menyatakan lulus tes saringan pertama. Baca di email rupanya tempat tes saringan kedua ini adalah di kampus UI salemba. Yah lumayan lah ya jd ga perlu nginep sehari sebelumnya. Jakarta lebih mudah dijangkau cuy ketimbang Depok hehe.

Materi yang akan diteskan rupanya adalah psikotes menyeluruh. Menyangkut tes super nyebelin yg soalnya ada banyak berulang-ulang, tes koran yang legendaris, wawancara dgn psikolog sampai focus group discussion. Well, sepertinya akan lebih menguras otak ketimbang tes pertama.

Hal pertama yg perlu saya siapkan adalah tiket travel. Ahirnya saya cari tuh banyak travel yg punya jam keberangkatan sekitar jam 4 pagi (krn saya tes jam 8 pagi) dan tujuannya dekat ke daerah Salemba. Eh ternyata ga ada donk yg tujuannya ke arah Salemba. Alhasil nekat-nekatan aja deh naik Cititr*ns yg ke arah Sudirman krn ada yg jam keberangkatannya pukul 4 pagi.

Akhirnya berangkat lah sy hari Sabtu subuh ke Jakarta dan sampai di Sudirman sekitar pukul setengah 7. Dari situ nanya-nanya satpam gedung terdekat dan ditunjukkin lah cara naek busway dr Halte GBK menuju ke Salemba. Wuiihh jauh juga men. coba deh liat di peta TransJakarta dibawah ini. Ga nemu kan? haha

hurupnya aja ga keliatan wkwkwk

Singkat cerita saya tiba di kampus UI Salemba sekitar pukul setengah 8 dan sempat makan soto ayam dulu di Alfam*rt sebrang kampus hehe. Jam 8 tes dimulai dan as expected lah soalnya membuat cape hati dan pikiran haha. Tipe soalnya persis sama ketika saya ujian USM atau psikotes umum gitu. Bedanya ya ada sesi 600 soal yg berulang-ulang yg isinya bikin cape hati dah. Tujuan soal ini menguji konsistensi kita dan mengetahui kita bohong atau ngga (serem amat). Plus ada interview mendetil dr psikolog UI, masing-masing peserta dipanggil dan diwawancara secara personal.

Jam 2 lebih dikit seluruh proses tes selesai. Dan setelah makan siang, saya pun pulang. Sebenernya agak males juga sih kalau harus ke Sudirman lagi. Yasudahlah alhasil saya tanya temen saya yg asli Jakarta dan dia bilang Gambir ga jauh dari Salemba. Yasudahlah krn saya ga pernah naik kereta Jakarta-Bandung akhirnya jiwa petualang saya merasa terpanggil dan berangkatlah saya menuju Gambir dengan naik busway.

Baru pertama kali nih naik kereta eksekutif Argo Parahyangan. Rupanya ongkosnya ga beda jauh ama naik travel loh. Kereta eksekutif harganya 90rb, travel skrg udah 75rb gitu. Beda 15 rb doank tp lebih nyaman dan tepat waktu hehe

3 jam perjalanan JKT-BDG ga kerasa dan sore menjelang magrib saya sampai di stasiun bandung dan naik angkot sampe ke rumah.

Bersambung ke part 4 (terakhir) hehehe….

The Adventure of The Job Seeker (Part 2)

Ok, ceritanya diterusin lagi hehe.

Tes hari pertama pun dimulai. Dengan berbekal tanya sana sini dan ngikutin keramaian, saya pun sampai di auditorium Fakultas Teknik UI. Tempatnya bagus dan nyaman.

Tes dibagi jadi 2, hari pertama ini akan diadakan tes TPA dan TOEFL. Sebelum dimulai tak lupa diputar video sekilas mengenai PT Badak NGL dan guess what, saya malah keluar ruangan untuk ke kamar mandi saat video nya diputar haha. Sekilas saya lihat di ruangan ini ada setidaknya 6 orang se-almamater TF ITB yang sama dengan saya. namun duduknya cukup terpisah jauh. Untuk tes TPA, tes nya kira-kira seperti ini nihΒ http://tespotensiakademik.org/kumpulan-contoh-soal-tes-potensi-akademik-tpa-online-download-gratis

coba download aja di situ. Intinya TPA itu berisi kumpulan soal logika yang harus dijawab dengan cepat dan tepat. Menurut saya sih kuncinya adalah banyak latihan. Beberapa hari sebelum tes ini saya juga menyempatkan diri membeli buku TPA di Gramedia dan cukup sering berlatih. Lumayan kok hasil dr yang sering latihan dan ngga hehehe.

4 jam tes TPA dari jam 8 hingga break makan siang. Enaknya tes di perusahaan besar, makan siang disediakan dan menunya wah banget untuk ukuran mahasiswa hehe. Alhasil saya pun kekenyangan dan curiga malah tidur pas tes kedua nanti haha.

Tes kedua adalah tes TOEFL. Yup yg bahasa inggris itu gan. Dan guess what, rupanya PT Badak meminta bantuan LIA, sebuah lembaha bahasa inggris independen untuk menyelenggarakan tes ini haha. Lah kok seneng? ya iyalah org selama ini saya menuntut ilmu di LIA Bandung dan udah berkali-kali mencicipi TOEFL test nya hehe.

Sesuai prediksi, saya pun sama sekali gak kesulitan dalam mengerjakan tes kedua ini. Gak seperti tes pertama tentunya hehe. Dan dalam waktu 3 jam kurang saya sudah selesai ngerjain dan langsung lah ngacir keluar ruangan karena saya jg harus mikirin dimana saya akan nginep malam ini. Mahal kali kalo nginep di hotel itu lg haha. Saya pun naik bus kampus dan menuju ke arah asrama kampus. Untungnya kantor penjaga asrama belum tutup dan saya masih sempat mengurus administrasi. Thank God πŸ˜€

Tak lupa makan dulu di kantin asrama karena otak ini udah dikuras selama 8 jam haha. Kantin asrama UI tergolong kotor untuk ukuran standar kampus nasional. Banyak sampah ga beraturan dan makanannya itu loh, banyak lalat jendral haha. Tp karena ga ada piihan lain ya sudahlah saya makan saja di tempat ini ketimbang lapar πŸ˜›

Menu favorit, sayur daun singkong plus tahu sumedang dan perkedel.. Heaven T.T

Rupanya pak penjaga asrama lagi ga ada di tempat dan baru ada sekitar setengah jam lagi. Yasudah saatnya cari angin dulu deh. Lumayan dapet beberapa pemandangan yang sebenernya sih ga terlalu istimewa haha

Danau besar di UI ini rupanya banyak dipakai oleh mahasiswa untuk kegiatan sore. Ada yg debat, belajar, kumpul-kumpul dan bahkan ada yang mancing donk haha. Katanya sih banyak ikannya dan saya sudah buktikan sendiri memang ada bapak-bapak yang udah berhasil dapet 2 ekor ikan dalam sejam mancing πŸ˜›

Oia fakta unik lagi di UI itu ada ATM BNI dengan pecahan 20rb haha. Mahasiswa banget ya. Di ITB perasaan belum ada deh πŸ˜›

Akhirnya penjaga asrama datang juga. Setelah mengisi form dan memfotokopi KTP, saya pun diminta membayar 50rb per malam via ATM 20 rb itu haha. Dan saya pun di antar menuju Asrama Gedung D di kamar no. 2. Pas lah sudah sesuai bayangan saya, kos-kosan dengan tarif 250rb per bulan ya kyk gini hehe

Kamarnya kurang lebih berukuran 2×2 meter dan pengapnya ampun dah hehe. Ditambah lagi banyak banget nyamuk di dalemnya. Akhirnya saya memutuskan ke warung terdekat membeli bom asap untuk mengusir nyamuk. Pas lah, kamar saya kyk kebakaran saking banyak asap nya. tp untunglah nyamuknya pada mati. Asrama UI ini agak serem juga sebenernya. Kamar mandinya terpisah dan untuk kesana mesti lewat lorong panjang yg lumayan gelap. Tp untungnya sebelah kamar saya ada mahasiswa yang ngisi padahal kalo lagi libur gini biasanya kan asrama sepi hehe.

Godaan malam hari datang, hari Sabtu itu rupanya bertepatan dengan SM Town Jakarta dan nyaris saja saya ikut nonton kalo ngga ada tes ini haha. Sepanjang malam niatnya mau belajar eh malah ngikutin live tweet temen2 yg nonton donk. Asemm dah haha. Mana sepanjang malem kamar panasnya kyk sauna gara2 nyalain laptop dan lampu. Alhasil kasur basah semua kena keringet gan ckck. Sengsara banget haha

Pagi pun datang dan hari kedua ini adalah tes Fundamental Engineering (FE). Tes neraka bagi kami para lulusan Teknik Fisika ITB. Mengapa? karena salah satu syarat kelulusan di TF adalah lulus tes FE ini. Tes nya kyk apa? hmmm kurang lebih semua mata kuliah di satukan dan dibuat soal pilihan ganda dengan pola logika yg njlimet. Seharusnya kalo di TF kami diberikan kesempatan menggunakan kalkulator dan diberi buku rumus. Eh, ini ga ada sama sekali dong haha. Jadinya bs ditebak lah ngaco nya kyk apa itu tes. Bahkan saya sendiri yakin hanya 20 soal dari 100 soal yg saya jawab sungguh-sungguh. Sisanya ya feeling so good πŸ˜›

Menu favorit lagi, sayur toge dan tempe uhuyΒ 

Pokonya suram abis lah yg namanya hari kedua ini. Ditambah persiapan yang kurang matang gegara kamar yang super pengap jadinya ya hanya bisa pasrah aja sama hasilnya. Hari kedua ini PT Badak kembali memberikan konsumsi dan juga masing-masing dr peserta ujian diberikan ongkos pulang sebesar 300rb cuy! Bayangin 300rb dikali 1000 org yg ikutan tes udah berapa ratus juta tuh keluar duit hahaha. Dahsyat abis emang ini perusahaan πŸ˜›

Jam 12 tes pun selesai dan tak lupa cari informasi mengenai bus jurusan Depok-Bandung. Usut punya usut rupanya terminal depok ga jauh dari Margo City dan Detos. Yasudahlah sempatkan diri dulu main ke sini hehe.

Berangkat dr terminal Depok sekitar pukul 14.00 WIB dan alhamdulillah sampai dengan selamat di Bandung sekitar pukul 17.00 WIB. Tanpa terasa selama 3 hari ke belakang saya sudah menempuh jarak lebih dari 1000 km cuy! haha

(Bersambung ke part 3)

Adventure of The Job Seeker (Part 1)

Tak terasa sudah hampir 6 bulan saya bekerja di perusahaan LNG di Bontang, Kalimantan Timur. Kerja di perusahaan oil and gas kata orang-orang itu ada banyak enak dan ga enaknya. Enaknya gaji dan fasilitas jauh lebih baik dr perusahaan lain, tp ga enaknya ya jauh dari kampung halaman, keluarga dan pacar 😦

Mau flashback sedikit ah tentang kisah perjalanan hidup saya 1 tahun ke belakang, dimana ketika Juli 2012 saya lulus di waktu yang tepat dari kampus gajah tercinta, tau-tau sekarang udah kerja jd kuli gas di Kalimantan Timur hehe.

Cerita dimulai dari bulan Juli 2012, waktu itu salah seorang anak FT 2008 mem-post di wall FB himpunan mengenai lowongan di PT Badak NGL ( http://badaklng.co.id/recruitment ) dan waktu itu awalnya saya belum niat mencari kerja karena kesibukan saya membantu paman saya mengembangkan riset teknologinya. Tp namanya niat ngga niat sih, yaudah saya coba kirim applikasi dan CV sesuai dengan pengumuman di situs itu. Kebetulan saya cukup mengenal Badak NGL dari teman-teman saya yang pernah kerja praktek di sana. Mereka sering cerita kalau di Badak itu segala fasilitas ada dan lengkap meskipun tempatnya terpencil.

Akhir Agustus 2012, barulah pengumuman seleksi tahap pertama itu tiba. Lewat email saya diberi tahu bahwa akan ada tes saringan awal yaitu tes selama 2 hari di kampus UI Depok. Pengumuman diberi tahu seminggu sebelum pelaksanaan test danΒ guess what, saya sedang berlibur di Malang bersama keluarga. Alhasil saya pun musti pulang lebih awal dan menggeser tiket kereta api pulang dari Minggu ke Jumat dan itu berarti saya bakal menempuh jarak Malang-Bandung-Depok dalam waktu 36 jam. Well, well….

Kereta dr Malang tiba di Bandung Jumat pukul 08.30 WIB dan saya pun bergegas untuk mandi, beres-beres dan solat jumat. Setelah solat Jumat, saya langsung menggali informasi mengenai pergi ke UI Depok dr Bandung dan alhasil teman dekat saya memberi tahu kalau ke UI naek bus MGI jurusan Bandung-Depok dr terminal Leuwi Panjang. Nah sekitar jam setengah 3 sore ngacir deh saya ke terminal dan naik bus MGI. 3 jam perjalanan akhirnya sampai juga di Depok UI. Sekitar pukul 18.30 WIB saya clingak-clinguk ga jelas di sekitar halte bus UI. Memberanikan diri bertanya pada mahasiswa sana, saya pun mencoba menelusuri dimana bisa cari penginapan jam segitu. Akhirnya saya ke Wisma Makara, eh ternyata udah penuh full book donk. Saya tanya lagi ternyata asrama mahasiswa pun tutup sekitar pukul 17.00 tadi.

Yasudah akhirnya naek ojek deh nyari penginapan terdekat. Telusur kena telusur akhirnya saya dapet penginapan di daerah Kelapa Dua, persis di sebelah MaKo Brimob tempat Gayus ditahan haha. Dan buset, harga hotel disono untuk kelas Melati udah sekitar 400rb donk. Hotel nya kayak gini nih :

 

kamar hotel plus AC dan TV dengan kamar mandi dalam. Rate nya 400-an lebih dan sarapannya hanya 2 porsi nasi kotak. tp lumayan sih dapet dobel porsi buat mengisi perut yang lapar ini haha.

Tepat pukul 06.00 saya keluar hotel dan naik angkot menuju kampus UI. di gerbang UI saya berinisiatif untuk berjalan kaki karena ingin melihat pemandangan kampus yg wilayahnya cukup luas hehe. Oia, agenda ujian di UI itu dibagi menjadi 2 hari, Sabtu tes TPA (Tes Potensi Akademik) dari Bappenas dan TOEFL tes sedangkan hari Minggu nya tes Fundamental Engineering (FE) Tes pembunuh di jurusan saya haha

kampus UI bagus banget. Hijau dan asri. Transportasi menuju ke sana ada 2 yaitu dengan angkot dan KRL pas di gerbang masuknya ada KRL commuter line dr Jakarta, Bogor, dsk. Kampus nya pun cukup bersih dan tertata rapi. Transportasi internal kampus ini ada bus mahasiswa gratis dan ojeg yg melayani rute dalam kampus dan luar kampus dengan harga kelipatan 10rb.

Di UI ada danau yang lumayan besar tempat penampungan air hujan. Tata letak fakultas di UI mirip dengan di Brawijaya. Fakultas Ekonomi dan bahasa lebih dahulu baru Teknik di paling belakang haha. Makanya lumayan jauh jg nih tempat tes dr pintu gerbang sampai saya pun bercucuran keringat ketika menuju tempat tes di Fakultas Teknik πŸ˜›

(Bersambung ke part 2)

Leaving on a Jet Plane

I’m … I’m …

All my bags are packed, I’m ready to go
I’m standin’ here outside your door
I hate to wake you up to say goodbye

But the dawn is breakin’, it’s early morn
The taxi’s waitin’, he’s blowin’ his horn
Already I’m so lonesome I could die

So kiss me and smile for me
Tell me that you’ll wait for me
Hold me like you’ll never let me go

‘Cause I’m leaving on a jet plane
I don’t know when I’ll be back again
Oh, babe, I hate to go

I’m …

There’s so many times I’ve let you down
So many times I’ve played around
I’ll tell you now, they don’t mean a thing

Every place I go, I think of you
Every song I sing, I sing for you
When I come back I’ll wear your wedding ring

So kiss me and smile for me
Tell me that you’ll wait for me
Hold me like you’ll never let me go

‘Cause I’m leaving on a jet plane
I don’t know when I’ll be back again
Oh, babe, I hate to go

Now the time has come to leave you
One more time, oh, let me kiss you
And close your eyes and I’ll be on my way

Dream about the days to come
When I won’t have to leave alone
About the times that I won’t have to say …

Oh, kiss me and smile for me
Tell me that you’ll wait for me
Hold me like you’ll never let me go

‘Cause I’m leaving on a jet plane
I don’t know when I’ll be back again
Oh, babe, I hate to go

And I’m leaving on a jet plane
I don’t know when I’ll be back again
Oh, babe, I hate to go

But I’m leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
Leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
Leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
Leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
Leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
Leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
Leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
Leaving on a jet plane
(Ah ah ah ah)
(Leaving) On a jet plane

——————————————

Goodbye Bandung, and welcome to my new life, new adventure at Borneo Island πŸ™‚

Wait for me, dear πŸ™‚