Hobby Baru

gilaa, udah setaun rasanya ga ngupdate blog lagi haha

gara-gara sok sibuk jd blog pun ga keurus 😛

ok deh sebagai permulaan setelah break lumayan panjang, saya share hobi baru saya yg cukup lumayan menguras dompet dan waktu luang. Apakah itu?

Yup, akhir-akhir ini saya mencoba membangkitkan lagi hobi lama saya, membaca buku, namun kali ini yg agak mengarah ke pengembangan diri lah. Membaca buku biografi tokoh terkenal hehe

mayan lah meski baru 3 tokoh tp asik juga nih baca kisah inspirasi dan perjuangan org org hebat di masa kini. Meskipun agak melorotin kantong karena harganya cukup lumayan, tp manfaat yg bisa dipetik ya sebanding lah ya hehe

Next saya mau beli buku biografi nya Chairul Tanjung dan Ciputra. Lumayan buat menginspirasi diri menjadi pengusaha hehe

That Day Was Mine :)

eng ing eng….. (drum roll) 😛

akhirnya si sayah resmi juga “diusir” dari kampus berlogo gajah tercinta terhitung sejak 14 Juli 2012 lalu 😀
akhirnya juga penantian panjang dan kepenatan kuliah selama 5 tahun belakangan selesai juga…
namun di balik keceriaan dan kelegaan diwisuda, ada sebuah beban dan kesedihan tersendiri bagi saya. Yup, beban setelah di wisuda itu jauh jauh lebih besar ketimbang menanti saat diwisuda..

Mulai detik ini saya musti memasuki fasa hidup baru : Mengejar masa depan. Mencari pekerjaan atau merintis usaha, membahagiakan orang tua, mencari pendamping hidup dan menolong serta bermanfaat bagi sesama.

Ketika menjadi mahasiswa, kita masih bisa santai (atau hare hare dalam bahasa Sunda) tanpa beban (kecuali TA) dan menikmati hidup to the max. Nah sekarang? Kalo ngga kerja dan dpt penghasilan gimana mau membahagiakan orang tua? apa ngga malu sama tetangga dan kerabat? Trus kalo belum menemukan pasangan hidup apa ngga “dikejar-kejar” trus sama ortu? apa ngga selalu ditanya tiap ada acara keluarga? 😛

Ah sudahlah, lupakan dulu beban-beban di atas, saya mau share dulu beberapa foto si sayah diwisuda kemaren 😀

Di gedung ini, gedung “mahal” yg mengharuskan mahasiswa membayar 550rb utk diwisuda :

Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) dengan segala kemegahan dan keunikan arsitekturnya

si saya bersama dengan 2 orang teman seperjuangan Club 5 tahun 😀

meski agak burem, tp ini juga temen seperjuangan sesama Juli-ers 😀


si saya bersama my rileks fellow 😀

Berhubung saya agak kurang fotogenik jd nya ya cukup sekian aja foto-fotonya 😛
Intinya, setelah diwisuda, banyak tugas berat menanti. Seperti kata Prof yg paling disegani dan dihormati di jurusan saya,

“Anda itu masuk ITB dengan menyisihkan 19 orang kompetitor Anda. Dan Anda ini kuliah di kampus ini dengan dibiayai oleh Negara. Uang pajak yang dibayarkan oleh rakyat Indonesia, sebagian dipakai untuk biaya Anda kuliah. Oleh karena itu Anda mempunyai hutang budi kepada masyarakat Indonesia. Bangunlah negeri ini dan sejahterakanlah masyarakat yang secara tidak langsung telah membantu Anda meraih titel Sarjana” :’)

Cute Smokin’ Girl

ah rasanya jadi ingin numpahin uneg uneg lagi di blog

Bahas apa ya? ini aja deh, fenomena rokok di kalangan wanita muda yg kayaknya lagi menjamur di kota-kota besar.
One thing for sure, saya mengambil posisi netral untuk gaya hidup merokok bagi cewe. Ya itu hak mereka gitu hahaha. Cuma yg saya agak risih tuh kalo liat cewe, apalagi cewe yg keliatannya cute, baik, sholehah, dll tp ternyata dengan santai dan bangganya merokok di tempat umum kyk kafe, restoran, dll. Rasanya kok ga etis aja gitu ya? hmmm

Ok, kita flashback dulu ke beberapa tahun ke belakang saat saya masih lucu-lucunya di Sekolah Menengah Atas. Ketika saya SMA dulu, fenomena cewe merokok di tempat umum masih sangat jarang. Coba main ke mal, restoran dan tempat umum lain. Jarang dan hampir tak pernah terlihat mereka merokok. Saya punya beberapa saudara perempuan yg perokok juga dan rata-rata mereka hanya mau merokok itu kalau di rumah! Alasannya ya karena gengsi dan malu aja. Toh mereka ternyata masih memandang tak etis ya hahaha

Nah tahun demi tahun berlalu, pengaruh gaya hidup barat semakin kuat dan mengakar ke kultur timur khas Indonesia. Penetrasi Phillip Morris beserta segala jenis propaganda ‘setan’ nya berhasil mengubah paradigma tak etis itu menjadi lumrah di kalangan terpelajar kota besar gitu!
Coba sekarang main ke mal dan tempat umum lainnya. Udah ga aneh kita liat cewe merokok dengan santai dan gayanya ampun dah hahaha. Saya aja udah berhenti total rokok-an dan kalo inget dulu, gayanya ga seedan dan elegan mereka. Di kafe-kafe saat nongkrong dengan teman, bahkan kalau mau lebih ekstrim, cobalah main ke ITB, ya Institut Teknologi Bandung, saat sore hari, susurilah jalanan di pinggiran kampus dan coba perhatikan, banyak sekali fenomena mahasiswa bermain kartu, bersenda gurau dan lihatlah pasti ada mahasiswi yg merokok lho!

Dan yg lebih bikin kecewa lagi adalah coba perhatikan lebih teliti, most of them are educated and heavenly cute!! T.T
shit just happened hahaha. Etapi kalo sempet main-main ke kota kota kecil dan menengah, fenomena ini masih jarang loh. Pernah saya main ke Malang dulu, dan di tempat umum masih belum banyak, bahkan belum ada cewe yg merokok dengan santai dan bangganya. Rupanya nilai-nilai budaya dan ke-etis-an masih melekat di kota-kota menengah dan kecil. Tapi ya siapa yg bisa memprediksi bertahan sampai kapan hahaha

So, sekali lagi, saya ngga menentang cewe merokok, bebas bebas aja, toh itu hak. Tp rasanya agak kurang etis kalo cewe udah terang-terangan ngudud di tempat umum dan jadi ‘konsumsi publik’. Emansipasi? well, I guess not 🙂

 

[copas] Java Jazz dan Kelas Menengah Indonesia

oke, tulisan ini ane kopas dari blog milik pak yuswohadi. Isinya wah mencengangkan dan lumayan membuat terhenyuk. Memang benar fenomena hedonis di kalangan menengah ini udah jadi hal lumrah di Indonesia. Sense masyarakat terhadap isu sosial udah makin tumpul. Astrojim 😦

==============================================================

Setiap kali nonton Java Jazz saya selalu takjub. Takjub bukan oleh penampilan ratusan musisi hebat kelas dunia di gelaran tahunan jazz paling bergengsi itu, tapi oleh penonton yang membludak luar biasa. Dan setiap kali saya menonton “orang kaya Jakarta” meluap berpesta pora menikmati jazz, di otak saya selalu terbersit ucapan-ucapan indah, “makmur betul Indonesia ini, orang kaya bertebaran di mana-mana”. Saya juga bergumam, “hebat benar Indonesia, orang-orang kayanya selera musiknya borju betul.”

Itulah kelas menengah Indonesia. Saya menyebutnya “consumer 3000” (Angka 3000 saya ambil istilahnya dari angka ambang batas GDP perkapita negara maju baru, USD3000). Mereka adalah konsumen yang memiliki daya beli tinggi. Mereka memiliki tingkat konsumsi tinggi. Tak hanya itu, mereka juga knowledgable karena rakus informasi dan pengetahuan.

Mereka global minded, kosmopolit, information freaktrend-follower sekaligus trend-setter. Apa yang terjadi di New York-London-Paris informasinya mereka terima secara real time lewat Google, Twitter atau Facebook. Karena knowledgable, maka jenis-jenis konsumsi mereka canggih, salah satunya adalah mengkonsumsi musik jazz. Gelaran Java Jazz menyadarkan saya betapa kelas menengah Indonesia demikian massif dan memiliki potensi luar biasa baik sebagi pasar (demand-side) maupun sebagai produsen atau entrepreneur (supply-side).

Konser Tiap Minggu
Tak terbayangkan oleh saya sebelumnya bagaimana bisa Jakarta menyelenggarakan konser musik kelas dunia praktis setiap minggu sekali. Mulai dari Katy Perry, Elton John, Maroon 5, Rod Steward, hingga Lady Gaga nanti bulan Juni. Sabtu kemarin saat artikel ini saya tulis dipelataran parkir JIExpo Kemayoran tempat Java Jazz dibesut, tiga pentas dunia digelar dalam waktu bersamaan: Java Jazz dengan 1700 artis, konser Roxette, dan pertunjukan musikal The Phantom of the Opera. Ruarrr biasa Indonesia!!!

Indonesia sudah menjadi pasar yang empuk bagi konser musik dunia. Para promotor panen duit karena konser apapun digelar asal dari negeri Paman Sam pasti laku keras. Padahal tiket masuk konser-konser tersebut tidak murah. Untuk masuk ke Java Jazz tiket terusan tiga hari yang saya beli sebulan sebelum pelaksanaan konser harganya hampir sejuta perak. Harga ini membumbung terus seiring dekatnya waktu konser, dan di tangan calo saat pelaksanaan konser harga bisa berlipat 3-5 kali lipat, wow!!!

Tahun lalu tiket Java Jazz terjual sekitar 120 ribu lembar. Harus diingat, dengan jumlah penonton sebanyak itu, Java Jazz merupakan salah satu festival jazz terbesar di dunia. Harap tahu saja, tiga hari penyelenggaraan North Sea Jazz Festival (Belanda) “hanya” dikunjungi oleh 70-an ribu penonton. Monterey Jazz Festival (AS) yang sudah berusia 54 tahun “cuma” dikunjungi 40 ribu penonton untuk 3 hari event. Bagaimana Herbie Hancock, David Sanborn atau Pat Metheny nggak ngiler tampil di Java Jazz dengan audiens yang jumlahnya luar biasa seperti itu.

Hedonis
Menonton Java Jazz di tengah luapan penonton kelas menengah Indonesia juga menyadarkan saya bahwa kelas menengah Indonesia adalah kelas hedonis. Salah satu teman berbagi di Twitter menyebut fenomena ini dengan mangatakan bahwa bangsa Indonesia adalah “bangsa penikmat”. Kelas menengah Indonesia adalah “kelas penikmat” dengan tingkat konsumsi yang tinggi terhadap berbagai bentuk kenikmatan: mulai dari makanan enak, musik yang menyejukkan, tontonan yang menghebohkan, liburan yang menyegarkan, hingga merek-merek mahal yang memanjakan kenarsisan.

Teori Marxisme mengatakan bahwa jumlah kelas menengah yang cukup banyak akan menjadi kekuatan sentral bagi terjadinya perubahan sosial dan revolusi politik untuk menumbangkan rezim yang menindas. Larut di tengah-tengah penonton kelas menengah Java Jazz, saya merasakan teori itu seperti tumpul. Mereka adalah kaum hedonis yang bekerja keras untuk membangun karir cemerlang untuk mendapatkan gaji tinggi dan kelimpahan ekonomi. Mereka berupaya keras mengadopsi teknologi dan menyerap sebanyak mungkin informasi sebagai senjata untuk membangun bisnis dan mencapai kemakmuran ekonomi.

Saya kira banyak dari mereka yang hanya samar-samar tahu kasus Wisma Atlet Sea Games atau kasus Hambalang yang membeli Partai Demokrat. Bagaimana meroketkan karir, mengembangkan bisnis pribadi, membangun kompetensi profesional, atau menjalin networking dengan komunitas profesi secara global adalah isu-isu yang lebih penting bagi mereka dibanding isu-isu korupsi yang membelit Indonesia, hukuman berat bagi pencuri sandal jepit, atau Pemilu 2014 yang kian absurd.

Sudah ya. Jam sudah menujuk pukul 15.14, itu artinya saya harus siap-siap masuk JIExpo, soalnya yang ngantri di pintu masuk Java Jazz banyak minta ampun. Takut nggak kebagian panggung. Saya ke Java Jazz bukan sekedar nonton Herbie Hancock, Pat Metheny, atau David Sanborn. Yang lebih penting, justru, saya ingin berpesta-pora bersama lautan kelas menengah Indonesia. Ikut-ikutan hedonis. Ikut-ikutan narsis. Keren abis.

Hidup kelas menengah Indonesia!!! Hidup Kelas Penikmat Indonesia!!!

dikutip dari : http://www.yuswohady.com/2012/03/04/java-jazz-dan-kelas-menengah/

==========================================================

serem juga ya… tp ya kenyataannya udah begini, tinggal kitanya aja sekarang yg berusaha untuk ga ikut-ikutan terjebak dalam budaya hedonisme dan tetep mengasah sense untuk lebih memikirkan isu sosial yg terjadi di sekitar kita

SEBUAH RENUNGAN CALON SARJANA

Dalam “Tesaurus bahasa Indonesia”, “sarjana” = cendekiawan, intelektual, jauhari, sastrawan, akademikus, ilmuwan. Kalau mau lebih jauh lagi, kosakata “sarjana” dipungut dari bahasa Sanskerta:sajjana. Saj-jana”= “Sat-jana”: orang yang patut dihormati, orang dari keturunan terhormat, orang bijaksana, orang baik, orang benar, orang yang memiliki kebijakan sejati.

Bila ditilik, kata sajjana berakar dari kata saras dan jana. “Saras”(bahasa Sanskerta) = “sara” (bahasa Jawa Kuno): sesuatu yang mengalir, air yang mengalir, danau/sungai/kolam dengan airnya yang mengalir, kata-kata (yang mengalir dari mulut Sarasvati), kefasihan berbicara “lancar-indah-jelas” “Jana” (bahasa Sanskerta) = orang /manusia/keturunan.

Jadi, penafsiran etimologi yang mengasalkan “sarjana” dari “saras-jana” mengartikan “sarjana” sebagai: orang yang menerima anugerah “kefasihan berkata-kata” dalam mengungkapkan ajaran “Vedha” secara “’tepat-indah-jelas”. Kalau kita kembali merujuk ke makna kosakata “sarjana” artinya adalah orang yang menguasai bidangnya, cerdas, ahli, pakar dan sejenisnya, maka sesungguhnya kosakata “sarjana” telah mengalami proses penyempitan makna menjadi orang yang telah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi strata 1 (S1) dan seterusnya. Apakah dia ahli atau tidak, menguasai bidangnya atau tidak, pokoknya setelah wisuda, seseorang berhak menyandang gelar kesarjanaan.

Penyempitan makna “sarjana” belakangan ini membawa kita terjebak pada paradigma sempit pendidikan, yang menganggap ijazah adalah segala-galanya. Kuliah hanya untuk sekedar mendapatkan gelar “sarjana” pertanyaannya adalah: Apakah kita sudah menyiapkan diri kita menjadi seorang “Sajjana”? atau yang kita perjuangkan selama ini hanyalah sekedar mengejar title “sarjana”

(disarikan dari: http://jemiesimatupang.wordpress.com/)

Man Jadda Wa Jada, “Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil…”

Pandangan pertama atau karena terbiasa?

mumpung sedang dalam galau state mari meracau sedikit tentang cinta 😛

ok, IMHO, proses seorang manusia jatuh cinta (bisa terhadap apa saja, kecuali Tuhan) itu terbagi jadi 2 cara, yg pertama adalah pada pandangan pertama (yg lebih dikenal dengan istilah love at the first sight) dan yang kedua adalah karena terbiasa (seperti potongan lirik lagu DEWA19 “biar cinta datang karena telah terbiasa“)

untuk kasus yg pertama, Love at the 1st sight menurut hemat saya ini tergolong unik. Fakta bahwa pria itu sangat mudah tertarik pada sesuatu yang bersifat visual, seharusnya membuat mereka lebih gampang mengalami love at the 1st sight, coba bayangin aja kalo tiba-tiba sekelas sama yg cantik, atau sekelompok tugas kuliah umum sama yg manis, atau secara kebetulan ketemu dgn cewe cakep di suatu tempat atau acara, hampir semua pria mudah sekali jatuh cinta pada pandangan pertama.

Dalam penelitian terhadap 1.500 pria dan 1.500 wanita yg dilakukan Alexander Gordon, terungkap bahwa 20 persen (1 dari 5) pria mengatakan pernah jatuh cinta pada pandangan pertama. Sebaliknya, hanya 10 persen wanita yang mengungkapkan hal serupa dan mayoritas tidak bisa menentukan apakah yang mereka rasakan itu hal yang nyata sampai kencan yang keenam.

Pria pada umumnya lebih mudah kagum pada lawan jenisnya, terutama yang cantik, sehingga rata-rata pria menjawab mereka sudah tiga kali jatuh cinta dalam hidupnya, sedangkan wanita menjawab satu kali. Kekaguman pada sosok wanita yang membuatnya tertarik juga mendorong pria lebih mudah mengucapkan “I love you” pertama kali dan lebih sering bertepuk sebelah tangan.

Nah dr paragraf di atas, muncul deh kasus kedua yaitu cinta karena terbiasa. Wanita lebih pandai membaca situasi sosial dan mengevaluasi apakah ia sungguh jatuh cinta. “Wanita juga cenderung memilih pria yang bisa membuatnya aman dan juga pria yang kelak bisa menjadi ayah yang baik,” katanya.

dan katanya lagi, love at the 1st sight tuh punya kelemahan besar yaitu tanpa adanya folow up action, besarnya kecintaan akan sesuatu akan semakin memudar dan menghilang, apalagi kalo ada yg ‘lebih’ yang bisa menarik perhatian kita hahaha

Ok, dr uraian di atas, saatnya memberi opini pribadi. Bagi saya, ngga dipungkiri memang pria lebih mudah ditarik secara visual. maka dari itulah saya jatuh cinta pertama kali waktu liat video klip SNSD atau waktu pertama kali ngeliat permainan cantik Real Madrid pas jaman Zidane cs. Tp kalo di kehidupan nyata, nampaknya saya ga begitu affected tuh sama yg namanya love at the 1st sight. entah knp kyknya bagi saya rasa tertarik terhadap lawan jenis itu muncul setelah 2-3 kali bertemu, berinteraksi dan merasa nyaman, baru deh muncul perasaan suka.
Tp yah, love at the 1st sight ke cewe juga pernah sih, tp kebanyakan ga dipake follow up karena si target yg nampaknya unrealistic dan cuma ketemu sekali doank hahaha (nasip nasip) 😛

Katempuhan

ok , cerita santai dulu deh. kali ini mengenai kisah 2 hari ke belakang soal saya yg terkesan ‘diteror’ oleh ibunya teman saya.
ceritanya begini, teman saya, anggap saja si X, angkatan 2006 dan di ambang DO. Nah, Sabtu kemarin, waktu saya lagi santai di lab, eh tiba2 hp bunyi dan begitu saya angkat, di seberang sana terdengar suara ibu-ibu panik mencari anaknya yg hilang. Si ibu ini memperkenalkan diri kalau beliau adalah orang tua X dan bilang kalau si X ini sudah 5 hari ga pulang ke rumah om nya (si X adalah orang luar bandung yg menumpang di rumah pamannya di bandung). Kemudian ibu ini bertanya apakah saya melihat dan mengetahui keberadaan si X karena hp nya terus menerus berada di luar jangkauan kalau dihubungi.

Well, saya yg agak kaget ya langsung jawab ga pernah ngeliat seminggu ini, trus kemudian si ibu tambah panik, dan mungkin memang bawaaanya yg agak nyerocos, langsung lah beliau curhat dan menumpahkan unek-unek ke saya selama kurang lebih 30 menit di telepon. weleh. Akhirnya saya mencoba menenangkan si ibu kalau saya akan berusaha menelepon si X ini dan nanti kalau saya sudah tersambung dgn si X akan saya tanya dia dimana tp sy ga akan bilang kalau ibunya nyariin takut dianya kabur lagi 😛

Ok, akhirnya si ibu yg panik bukan main ini mulai tenang dan nampak percaya pada saya. Ya sudah telepon di tutup dan saya coba hubungi eh ternyata ga bs dihubungi saya coba sms ternyata pending, Weleh. 3 jam kemudian si ibu nelepon lagi, beliau makin panik dan curhat lagi ke saya. Mungkin sekitar 10 menit sebelum saya stop karena harus pulang. Bahkan sampai magrib pun beliau menelpon saya lagi dan kemudian mengakhiri dengan sms kalau beliau skrg berada di salah satu hotel di Dago menunggu anaknya ini pulang.Saya pun membalas buat menenangkan si ibu agar jangan panik.

Yang lebih epik lagi, pagi-pagi tadi si ibu kembali menelepon saya, tp kali ini beda, beliau menelepon saya dr rumah salah seorang teman saya di daerah Cimahi dan katanya beliau juga sedang menumpahkan unek-unek di sana. Weleh, weleh. Dari cerita beliau kabarnya beliau ini dan anaknya bukan dari keluarga broken home kok. Keluarganya masih utuh dan harmonis. Cuma dari kesimpulan yg saya tarik di sini, si ibu ini terlalu membebani anaknya dengan ekspektasi tinggi dan si anaknya bedegul banget menurut saya. Kenapa? menurut saya si X pengecut. dia mungkin merasa dia selalu diberi tekanan lebih dan selalu diingatkan untuk kuliah yg bener, selesaikan TA tp dia sering lari dr tanggung jawab dan menghindari kenyataan. Duh yg kayak gini mah susah disembuhinnya

Saya jadi merasa kasian sama ibunya. Beliau rela jauh2 dari luar kota ke bandung buat nyari anaknya, si anaknya udah 5 hari ga pulang dan kabur ntah kemana. Kata beliau juga kejadian ini udah ke-6 kalinya sejak tahun 2010 kemarin dan si anak nampaknya ngga bisa jadi pria sejati karena tindakannya masih seperti pembantu. Katanya pernah sampai seluruh dosen di hubungi ama si ibu sampai ke level petugas lab untuk mencari keberadaan si X yg hilang. eh ternyata si X ditemukan sedang main game online di warnet sampai 4 hari coba. Weleh weleh smoga diberikan yg terbaik deh sama gusti alloh. Dan semoga juga kejadian ini ga terjadi sama saya.

PS : sampai postingan ini di post si X masih belum pulang dan belum diketahui keberadaannya. Si ibu nya besok kabarnya mau lapor polisi. Haduh

* PPS : Katempuhan berasal dari bahasa Sunda yg artinya jadi direpotkan. Dalam kasus ini, saya dan teman saya yg jadi direpotkan karena harus mencari si X. Sebenernya lebih ke tanggung jawab moril sih karena saya merasa kasian. Si ibu nya sempet curhat juga katanya si Y temen si X bahkan ketika dihubungi si Ibu malah bilang “wah ga tau bu” dan menjawab dengan nada ketus begitu. Waduh bisa kualat dan kena karma ente, Y

Friendzone

mumpung ada waktu dikit, share ah tentang fenomena friendzone hahaha

apa sih friendzone itu? menurut wikipedia, ini nih friendzone :

“is a dating term describing a relation in which one partner wants to become intimate romantically while the other prefers to be just friends”

Friendzone sebenernya dipopulerkan ama 9gag.com . tau kan 9gag?
knp sih saya tiba-tiba ingin nulis tentang friendzone?
jawabannya ya karena lagi happening hahaha.

Ok, friendzone itu gampangnya kyk cinta yg bertepuk sebelah tangan tp bukan ditolak. Intinya, misalnya ada cowo ama cewe awalnya temenan, lama kelamaan muncul cinta (misalnya si cowo mulai suka ke si cewe) eh rupanya si cewe cuma menganggap si cowo ga lebih dr sekedar teman, atau paling banter bestfriend lah. lama kelamaan cinta satu sisi tumbuh dan berkembang tanpa dibalas dengan rasa yang sama. Kalo kata orang yg berpengalaman sih cirinya tuh mereka berdua act like couple, sms-an, twitter, facebook, whats app secara intens, curhat-curhatan, hang out bareng, tp dengan impresi yang beda. Salah satu merasa kalau hubungan bakal lanjut ke jenjang yg lebih tinggi, tp yg lain hanya menganggap sebagai teman spesial yg kemungkinan untuk berlanjut ke tingkat yg lebih tinggi adalah 0 besar. Cukup tragis dan menyakitkan sih ya 😦

Well, belakangan ini saya mencoba meriset dan ternyata saya bisa menarik kesimpulan ngaco. Friendzone ini rupanya dipopulerkan ama Ibu J.K. Rowling loh, iya si penulis Harpot. Doi banyak banget menyinggung friendzone di karya Harpot nya. Mungkin pengalaman pribadi beliau kali ya hahaha. Ambil contoh Snape dan Lily Potter, Hermione dan Neville Longbottom, dll 😛

kalo ga percaya nih :

ada lagi nih rada panjang 😛

http://d24w6bsrhbeh9d.cloudfront.net/photo/1315878_700b.jpg

ngga, di sini saya ga akan bahas lebih lanjut tentang friendzone kok, cuma kesentil aja karena kyknya lagi happening ya ini istilah hahaha. Sebagai penutup, yg merasa di friendzone kan semoga hanya perasaan saja 😛
dan yg merasa mem-friendzone-kan semoga diberi kesadaran dan dibukakan pintu hatinya. Amin 🙂

Yang pasti, di-friendzone-kan itu ga enak lah, sedih rasanya. tp ada juga yg malah merasa di friendzone-kan padahal sebenernya ngga (halah). so berhati-hatilah sebelum men-judge di friendzone kan atau ngga karena bisa salah paham tuh 😛

sebagai penutup, saya share juga lagu yg lagi happening dengan mood dan kehidupan saya akhir-akhir ini :

Welcome 2012!

 

ok hari ini adalah hari terakhir di tahun 2011. beberapa saat lagi kita semua akan menginjak tahun 2012. tahun yg menurut sebagian orang gila adalah tahun terakhir dunia alias kiamat ckckck

ah jadi ingin mereview dikit nih tahun 2011 ini. Ok deh, menurut saya, tahun 2011 ini adalah tahun yg sangat menyenangkan dan istimewa. Mengapa? karena di tahun 2011 ini banyak sekali kejadian kejadian dan pengalaman pengalaman hidup yang membuat saya berubah ke arah “better person” menurut saya loh ya

Di 2011, saya mulai merambah dunia birokrasi dengan pemerintah, makin sadar betapa busuknya pemerintah kita terutama pemerintah kota Bandung dan Jawa Barat, di 2011 saya mulai mengenal dan mencintai energi terbarukan, mulai menatap potensi besarnya, di 2011 saya juga mulai berinteraksi dengan berbagai tipe orang, mendapat kesempatan merambah dunia yang baru, dunia professional dan dunia di luar apa yg saya jalani sehari-hari dan di 2011 juga saya mulai belajar berinteraksi lebih banyak dengan lawan jenis, belajar mencintai dan dicintai (halah 😛 ) di 2011 juga saya pertama kali menjejakkan kaki ke negeri orang dan berkumpul lagi bersama keluarga besar di Kupang NTT setelah 10 tahun berpisah

Rasanya sedih sih ninggalin 2011 tp ya namanya hidup ya harus move on. Ya udah deh, WELCOME 2012! Selamat datang tahun 2012. Semoga di tahun yang baru ini segala semangat, keinginan dan harapan semuanya baru dan ke arah yang lebih baik. Resolusi saya taun ini apa ya? ah simpel aja deh, semoga segala kesalahan yang saya lakukan di 2011 ga terulang lagi. Kalo #2012wish sih inginnya kyk gini, diurutin ah semoga tercapai perlahan-lahan 😀

1. TA tanpa kendala hingga Februari 2012
2. Lulus bulan April 2012
3. My long term project menemui titik terang
4. Kejelesan karir, ntah itu bekerja atau mengintip peluang berwirausaha
5. In relationship (wah agak bold nih tp ya smoga siap dan bisa deh 😛 )
6. La Decima (gelar liga champion ke-10) buat Real Madrid
7. another SNSD’s year
8. Malaysia-Thailand-Singapore’s trip
9. berguna buat sesama

segitu dulu deh kebanyakan bikin resolusi dan wish ntar malah ga ada yg kewujud hahaha
ok deh sekali lagi :

“WELCOME 2012! HAPPY NEW YEAR!!”