Singapore and Johor Trip 2024

Nggak kerasa sudah 6 bulan lebih vakum menulis di blog karena kesibukan di dunia nyata. Jadi kelupaan mau buat catatan pribadi di awal Januari 2024 di mana saya dan keluarga menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke Singapura dan Johor Bahru.

Perjalanan ke sana relatif dadakan karena berakhirnya masa kontrak kerja saya di perusahaan sebelumnya di Jakarta dan dalam transisi kembali ke tempat kerja lama di Bontang. Berhubung anak sekolah libur, akhirnya kita gelar trip dadakan ini dengan mengajukan cuti H-7 dan beli tiket pesawat serba mendadak.

Perjalanan dimulai dari CGK tanggal 2 Januari 2024 dengan tujuan Singapur. Kami rencana mau coba rute Singapore-Johor via bus namun mau habiskan beberapa hari dulu di Singapur untuk jalan-jalan dengan tujuan Museum of Ice Cream (MOIC). MOIC di Singapore ini adalah cabang dari MIC di US yang berdiri sejak 2021. Lokasinya cukup terpencil karena terletak di Loewen Rd, daerah residensial gitu dan lumayan jauh dari stasiun MRT. Cara untuk ke sana hanya bisa dengan Bus dan Taksi.

Karena masih vibes New Year, seperti biasa, Singapur penuh orang-orang Indonesia dan cukup sulit mencari penginapan. Kami memutuskan untuk menginap di Bugis Street saja supaya dekat dengan akses makanan halal, dekat dengan tempat oleh-oleh dan dekat dengan lokasi terminal bus ke Johor. Kami memutuskan untuk menginap di ST Signature Bugis Beach Hotel. Hotel budget yang lokasinya di Beach Street ini letaknya persis di tengah-tengah area Bugis, sangat strategis karena dekat dengan Bugis Junction, 711, dan Stasiun MRT Bugis.

Meskipun kamarnya mini, tapi lumayan lah ya. Kami pesan yang triple bed, dengan konfigurasi 1 kasur besar dan 1 bunkbed. praktis space di dalam kamar ngga cukup buat gelar koper gede 🙂 tapi lumayan lah dengan budget sekitar 1.5 juta rupiah per malam. Di sini juga dekat dengan Laundry coin, sekitar 7-8 menit jalan kaki di area apartment kompleks dekat Bugis Junction. Setiap ke luar negeri pasti saya dan istri menyempatkan cuci di laundry coin yang lebih murah dan bawa setrika portable sendiri 🙂

Begitu nyampe SG, nggak lupa foto-foto dulu di Changi, sayangnya waktu itu Jewel lagi Maintenance paska acara tahun baru, jadi kami hanya sempat foto depan The Wonderfall yang baru banget dibuka waktu itu.

Sore hari nya setelah istirahat kami menyempatkan diri makan di cafe Beanstro, pas di depan Rain Oculus Marina Bay Sands. Beanstro ini lokasinya tepat di bawah Rain Oculus jadi sambil ngopi-ngopi sore kita bisa lihat atraksi Rain Oculus setiap 1 jam sekali di sana. Kami sengajakan reservasi sekitar jam 17 sore dan datang di sekitar jam 16.30.

Makanan dan minuman di cafe ini terhitung mahal karena memang orang ke sini hanya buat nikmati Rain Oculus nya aja sih. Total ngafe berempat kita habis sekitar 70 SGD (IDR 770rb) padahal hanya pesen 4 jenis minuman dan 2 snack aja :))

Setelah dari sini, jalan-jalan dan foto-foto sebentar di depan Marina Bay Sands sebelum balik istirahat ke hotel.

Besoknya, kami siap-siap pergi ke Museum Of Ice Cream. Sedikit informasi, tiket masuk ke museum ini hanya bisa dipesan online dengan memilih jadwal hari dan jam kedatangan di situs resminya https://tickets.museumoficecream.sg/ MOIC buka dari jam 10 pagi sampai jam 7 malam setiap hari. Saran yang saya baca di internet, bagusnya datang pas baru buka supaya antrian masih belum terlalu panjang. Tiket masuknya dibagi 2, yaitu yang biasa SGD 35 per orang (di atas 2 tahun) atau sekitar Rp 420rb dan premium ticket SGD 45 atau Rp 540rb per orang. Bedanya, premium ticket include rasa-rasa premium yang ngga bisa didapat sama pembeli tiket biasa.

Lokasi MOIC ini letaknya di daerah perumahan, jauh dari mana-mana. Jalan termurah menuju ke sana naik kendaraan umum. Caranya kita perlu naik MRT Thompson-East Coast Line (TE) dan turun di Stasiun Napier. Setelah itu kita naik bus apapun yang lewat depan stasiun MRT nya (Holland Rd) dan turun hanya 1 halte saja. Dari halte ini, lumayan juga jalan kaki sekitar 400 meter sampai ke lokasinya.

Sepanjang jalan kaki kita akan melewati sekolah, rumah-rumah penduduk, dan lain-lain. Jalannya juga nanjak jadi kalau bawa anak kecil ya lumayan juga sih hehe. Tampilan depannya kira-kira seperti ini

Sebelum masuk, nanti ada pengarahan dari kru nya kira-kira dia akan bilang begini: kita bebas mau berlama-lama di dalam sampai puas, asal syaratnya ngga boleh mondar-mandir dari ruangan ke ruangan yang lain. Es krim yang boleh dimakan sebebas-bebasnya sesuai tiket yang dibeli. Artinya tiket general ngga boleh makan es krim premium, tapi mau makan sebanyak apapun boleh. Oia, sebagai info, MOIC ini belum halal certified, namun sebelum menikmati es krim-es krimnya silakan tanyakan ke setiap waiter di masing-masing booth mengenai dairy productnya apakah contain alcohol atau pork ya. Dari semua yang saya tanya, jawabannya free alcohol dan pork semua sih. Jadi silakan recheck lagi ya.\

Ruangan di dalamnya kira-kira ada 6 segmen, setiap ruangan ada temanya masing-masing dan semua nuansa pink. Di awal kita disuguhi pengetahuan-pengetahuan seputar eskrim, lalu ada ruangan yang isinya huruf-huruf yang ditempel di tembok dan kita bisa susun kata-kata sesuka kita. Terus ada ruangan yang ada sliding dan ayunannya, ada ruangan yang isinya lampu-lampu, pisang yang digantung, dan yang paling terkenal adalah kolam yang isinya es krim popsicle plastik seolah-olah kita berenang di eskrim.

Total saya dan istri makan sekitar 7 porsi eskrim. Lumayan kenyang sih, padahal kami sarapan cuma pakai onigiri doang wkwk. Walaupun porsi eskrim nya kecil, tapi ya lama-lama mengenyangkan juga. Dan rasa eskrim premiumnya enak-enak, jadi worth it lah bayar 120rb lebih mahal hehe. Silakan dicoba sendiri ya.

Praktis di kunjungan ke SG kali ini kami hanya stay 2 malam buat kunjungan ke MOIC aja. Besok pagi nya subuh-subuh sekitar jam 6 pagi, kami sudah meluncur ke Johor Bahru (JB) via Bugis Terminal. Sebelumnya saya riset dulu dan mendapati kalau cara ke JB dari Bugis bisa dengan 3 bis ini:

Lokasi terminalnya ada di Queens Street dan bus nya berangkat dari jam 0530 waktu setempat. Ada 3 bus yang berangkat dari sana, dan harga bus nya per orang SGD 5 (Rp 60rb) per orang. Dari Queens St, bus ini ngga berhenti di halte manapun sampai tiba di Woodland Checkpoint. Pertama kali kami sampai di Woodland Checkpoint unik juga. dari arah sebaliknya, banyak banget orang JB yang masuk Singapur via Bus atau mobil sampai bikin antrian mengular di bagian imigrasi dong. Sayangnya karena ngga boleh foto-foto jadi ngga bisa mengabadikan momen itu :)). Kira-kira seperti ini lah ya pemandangan tiap pagi:

Sampai di JB Central kami sarapan dulu di restoran yang menyajikan nasi lemak dekat stasiun/terminal. Tidak lupa menukar uang IDR ke MYR dan beli sim card lokal buat internetan. Tujuan ke JB apalagi kalau bukan ke Legoland :)). Di JB, untuk transportasi kami naik Grab karena tarif Grab di JB mirip dengan di Jakarta jadi terjangkau lah ya dibanding di SG. Sampai di Legoland sekitar pukul 10 dengan kondisi masih hujan. Theme park buka pukul 11 dan kami masuk dengan jas hujan karena hujan cukup deras.

Sempat agak kecewa karena jika hari hujan, wahana outdoor banyak yang tutup. Alhasil, kami cuma naik wahana-wahana indoor aja macem NinjaGo dan pesawat-pesawatan :))

Tapi setelah makan siang, sekitar jam 2 siang, hujan berhenti namun kondisi masih mendung, pas hujan mulai berhenti, mulai banyak wahana-wahana outdoor yang dibuka kayak roller coaster, wahana outdoor lain kayak fireman, simulator lalu lintas, naik perahu di danau, dll mulai dibuka. Walau masih gerimis tapi ya namanya juga udah kepalang tanggung. Sambil pake jas hujan kuning ala legoland ya kita semua tetep main.

Biarpun harus hujan-hujanan, hikmah di balik itu semua kayaknya Legoland agak sepi walau ini lagi peak season. Semua orang mungkin agak males juga kalau musti hujan-hujanan. Jadi beberapa wahana indoor favorit kayak NinjaGo juga gak ngantri dan bahkan bisa masuk berkali-kali kalau niat.

Total waktu yang dihabiskan di Legoland dari buka jam 10 sampai tutup jam 6 sore bener-bener kurang sih. Apalagi dijeda sekitar 2-3 jam karena hujan deras dan banyak wahana tutup. Jadi tips kalau ke sini silakan dicek dulu weather forecast area Johor dan yakinkan ngga ke sini pas seharian hujan biar ngga rugi. So far wahana yang dipunyai Legoland itu kids friendly, tapi dengan syarat kids nya harus sudah di atas 5 tahun ya. Karena ada beberapa wahana yang mempersyaratkan tinggi badan dan kasian nanti kalau ditolak masuk 🙂

Dan supaya lebih poll juga, musti sekalian nginap di Legoland Hotel dan musti ambil kamar yang ada tema Legoland nya. Semalam harganya sekitar Rp 1.8 juta sampai Rp 2 juta dan kalau peak season mungkin bisa sampai Rp 2.5 juta. Tapi totally worth it. Di dalamnya ada bunkbed buat maksimal 3 anak, tema Legoland yang bisa milih antara Kingdom, pirates, ninjago, dan adventure. Walaupun sarapannya so-so tapi pengalaman nginap nya yang ngga terlupakan buat anak-anak.

Oia, di sebelah Hotel Legoland dan Legoland resort juga ada mini-mall yang isinya tempat-tempat makan halal. Jadi ngga usah ketakutan kesulitan cari makan walau nginap di resort ini. dan juga ada supermarket besar tempat semua ada. Di area resort juga ada banyak apartment yang disewakan via airBNB. Jadi kalau mau hemat, bisa nginap di apartment dan masak sendiri.

Berhubung kami hanya 1 malam saja di sini, besok sore nya rencana kembali ke Singapore namun pagi harinya kita sempatkan mampir ke Johor Premium Outlet, yang isinya outlet-outlet barang-barang branded yang katanya harganya lebih murah dari di toko. Yah walaupun kita ngga beli apapun tapi lumayan juga lah buat cuci mata. Tempatnya lumayan jauh dari pusat kota, persis kayak Jakarta Premium Outlets yang letaknya di Karawang :))

Dia buka jam 9 pagi, jadi pas banget baru buka kita langsung ke sana dan numpang sarapan doang sambil cuci mata :)) Dari Legoland hotel kami udah bawa koper dan jalan-jalan sambil bawa koper kecil dong. Cuci mata sekitar 2 jam, habis itu kami lanjut ke Toppen Shopping Center Johor buat ngeliat pameran space (luar angkasa) yang hanya ada di periode-periode tertentu aja. Lokasinya dari Johor Premium Outlet kira-kira 20 menitan aja. Dan kami di Johor kemana-mana pakai Grab karena lebih simple dan murah.

Toppen shopping center ini luas banget karena ada IKEA nya. Pintu masuknya banyak dan luas mall nya juga bener-bener gede. Big Mall Samarinda sama AEON BSD mungkin kalah besar. Jadi waktu itu kita browsing top attraction di Johor dan ngga sengaja ketemu ini di salah satu IG influencer lokal. https://spaceandyou.com.my/html/index.php . Waktu itu event ini cuma ada di periode akhir 2023 sampai juni 2024 aja dan sayangnya di tahun 2025 ini udah ngga ada.

Menurut saya ini seru banget karena dengan harga RM 58 (Rp 180rb) per orang, kita bisa lihat pameran luar angkasa yang lumayan interaktif dan bikin anak-anak suka. Ditambah bisa sewa kostum astronot juga.

Ada lokasi tempat foto mirip Bulan, Mars, latar belakang Space Ship dan yang paling keren di bagian akhir kita ada di ruangan gelap dan di sana ditampilin video animasi keren dengan efek-efek yang fantastis. Karena waktu itu beneran lagi sepi (mall baru buka) jadinya beneran cuma kita berempat aja yang keliling di area pamerannya dong.

Sekitar jam 3 sore kita langsung menuju JB Sentral dan kembali ke Singapore dengan kereta. Besok paginya kita kembali ke Jakarta dan selesailah liburan singkat di Singapore dan JB ini.

See you in the next journey…

Whoosh Whoosh Whoosh Yess

Sebetulnya sudah lama ingin posting pengalaman naik Whoosh KCIC ini, tapi apadaya hectic dan kesibukan yang menghalangi.

Sejak Whoosh ini launching di akhir Oktober 2023, sampai sekarang mungkin sudah lebih dari 25 kali saya naik moda kereta beban negara satu ini hehe. Karena saat ini saya kembali bekerja di Kalimantan sementara keluarga masih tinggal di Bandung, jadi travel Bandung-Bontang menjadi tidak terhindarkan lagi.

Saat ini, 9 bulan sejak launchingnya, layanannya semakin baik, stasiun semakin tertata rapi dan tennant terutama di Stasiun Halim semakin banyak. Walaupun nggak diimbangi dengan upgrade di Stasiun Tegalluar maupun di Padalarang yang kayaknya sepi banget untuk ukuran stasiun kereta cepat hehe.

Karena rumah saya di Bandung di daerah Gedebage dan Arcamanik, maka rute tujuan saya ketika naik Whoosh adalah Stasiun Tegalluar alias pemberhentian terakhir di Bandung. Awal-awal Whoosh ini di-launching, animo masyarakat sangat tinggi, didukung oleh harga tiket “promo” nya yang hanya Rp 150rb saat itu, menjadikan banyak orang hanya sekedar pulang pergi naik Kereta Cepat yang jarak tempuh nya hanya 28 menit ke Padalarang dan 42 menit sampai di Tegalluar.

Kelemahan dulu yang sulit sekali reschedule dan refund karena harus datang maksimal 2 jam sebelum keberangkatan sudah diatasi dengan sistem online walaupun penalty fee karena refund cukup mahal. Secara umum, layanan di kereta nya juga bertambah dengan adanya Indomaret di Gerbong 5. Selain itu, kebersihan gerbong juga tetap dipertahankan yang mana menurut saya good job sekali dibandingkan dengan kereta cepat Eropa (Eurostar) atau bahkan sekelas Renfe atau Iryo Spanyol sekalipun.

Sayangnya, saat ini harga tiketnya dibuat floating dengan harga terendah Rp 200rb di low season dan Rp 300rb di peak season, holiday, dan Jumat-Minggu yang mana sudah membuat okupansi kereta cepat ini di luar musim libur dan peak hour turun sampai setengahnya dari pengamatan saya. Sangat bisa dipahami karena dengan harga di atas Rp 250rb, selisih dengan travel/shuttle layanan premium kayak Cititrans sudah hampir Rp 100rb dan mungkin pertimbangan lain adalah jika naik Whoosh maka ada ongkos tambahan untuk mobilisasi dari Halim ke tempat tujuan akhir.

Ya bagaimanapun proyek beban negara ini musti tetap kita dukung dan doakan semoga target penumpang per hari bisa segera dikejar dan konsisten. Sayangnya, Whoosh ini di launching setelah penugasan kerja 3,5 tahun saya di Jakarta selesai jadi ya saat ini hanya sekedar menikmati Whoosh sebagai turis yang sedang LDR dengan anak istri hehe.

Oia, dulu waktu awal-awal launching, belum ada jargon ” Salam Whoosh, Whoosh, Whoosh Yes!!!” di bagian akhir pengumuman pramugari nya. Awal-awal dilaunching, jargon ini terkesan cringe, tapi setelah lebih dari 20 kali saya naik Whoosh ya lama-lama jadi ear catchy juga.

Kemudian terkait kereta feeder, sekarang sudah agak mending ketimbang beberapa bulan lalu. Jadwal kereta feeder sudah dipaskan dengan keberangkatan Whoosh dan layanan di stasiun Bandung dan Padalarangnya pun diperbaiki.

Japan Trip Part 4 (End)

Part terakhir ini akan bercerita mengenai 2 hari terakhir di Tokyo. Memang kami sudah set up agenda 3 hari terakhir di Jepang adalah stay di Tokyo sampai hari kepulangan. Setelah kembali dari Tochigi dan keliling Odaiba, hari berikutnya kami mengunjungi Shibuya Sky Tower. Salah satu lokasi yang lagi hits kala itu. Jadi Shibuya Sky Tower ini ikonik karena dia punya roof top yang ada eskalator ikonik yang bisa menampilkan view 360 degree Tokyo. Sebuah alternatif kalau merasa Tokyo Sky Tree kemahalan hehe. Jadi di Tokyo itu untuk melihat pemandangan dari ketinggian, awalnya hanya ada Tokyo Tower, sejak 2012, dibangun lah Tokyo Sky Tree di daerah Asakusa yang jauh lebih tinggi namun harga masuk observatory nya lebih mahal. Dulu di 2018 tiketnya sekitar Rp 560.000 per orang.

Sedangkan Shibuya Sky ini dibangun di tahun 2014 dan dibuka komersial untuk jadi observatory. Bangunannya sendiri punya tinggi 229 meter (47 lantai) yang terletak persis di area Shibuya Crossing. Tiket masuknya sendiri Rp 250.000 per orang dan ngga dibatasi mau berapa lama di atas.Hanya saja, untuk masuknya, kita musti tentukan time slot nya karena memang kapasitas rooftop nya terbatas. Pilihannya dari pukul 8 pagi sampai pukul 9 malam. Banyak yang merekomendasikan untuk datang sekitar pukul 5 atau 6 sore agar dapat transisi dari sore ke malam. Namun karena kami bawa anak kecil dan orang tua, jadi diputuskan untuk ambil slot yang jam 8 pagi saja.

Sebelum ke Shibuya Sky, kami sempatkan dulu untuk foto-foto di depan JR Tokyo Station Marunochi Building yang ikonik karena pernah muncul di Movie Detective Conan dan juga tempat parkir tamu-tamu kaisar Naruhito.

Dari Marunochi ke Shibuya cukup naik JR Yamanote aja gratis dengan JR pass. Begitu keluar stasiun Shibuya, langsung aja menuju Shibuya Crossing dan ketemu gedung tinggi yang relatif baru di sana.

Begitu ketemu pintu Shibuya Scramble Square ini, belok kiri dan cari lift di pinggir yang ada logo Shibuya Sky nya.

Setelah tiba di Lantai 47, nanti di sana ada gate untuk cek tiket (e-voucher). Sangat recommended untuk beli via online ticketing kayak Klook atau Traveloka supaya ngga perlu antri dan kehabisan kuota. Nah setelah lolos gate ticket baru lah tiba di observatory pertama tempat foto-foto di sudut ruangan. Di sini baby stroller bisa dibawa dan nanti dititip di lobby ke petugasnya.

Nah ini yang paling iconic, eskalator Naik dan Turun dengan view kaca di puncak Shibuya Scamble Square.

Karena di observatory ini nggak ada batas waktu, kita bisa sepuasnya di sini sampai bosen. Cuma memang di pagi hari gini, cafe di atas rooftop nya masih tutup sehingga ngga bisa lama-lama karena akan haus dan lapar. Di rooftop ini juga banyak spot-spot foto bagus seperti Helipad dan tangga-tangga kayu tempat lihat sunset kalau sore.

Disarankan ke sini untuk bawa jaket karena anginnya kenceng banget. Di sini juga ada beberapa security untuk jaga supaya pengunjung ngga kelamaan di pinggir karena tinggi kaca di beberapa area hanya 150 cm aja, jadi lumayan bahaya juga.

Setelah puas foto-foto, begitu turun 1 lantai ke bawah pun masih ada observatory indoor yang menghadap ke 4 penjuru. Di sini ada banyak cafe dan toko suvenir sebelum kita keluar ke lift arah turun. Oia, di sini pun ada lift yang super cepat mirip di Tokyo Sky Tree yang bisa naik 47 lantai dalam waktu kurang dari 1 menit. Sayangnya ngga sempat videokan waktu itu.

Untuk foto-foto dan observasi di sini kira-kira 1-1.5 jam sudah cukup lah ya. Kecuali memang kita mau datang pas menjelang sunset, mungkin butuh waktu 2-3 jam karena nunggu peralihan dari senja ke malam buat bikin video time lapse. Agenda selanjutnya adalah ke Yokohama di mana kami mau lihat Gundam Factory Yokohama sekaligus makan siang di sana.

Untuk pergi ke Yokohama tinggal ke stasiun Shibuya (subway) dan naik kereta dengan tujuan Motomachi Chukagai (Toyoko Line). Nah ada sedikit tricky part nya di sini. Jadi beberapa kereta antar kota di Jepang itu, ada 2-3 jenis yang dibedakan dari berapa jumlah stasiun yang akan dipakai sebagai tempat dia berhenti, mirip dengan kategori shinkansen Tokaido lah. Jadi ada kereta LOCAL, yang mana dia akan berhenti di semua stasiun sesuai dengan yang ada di peta, dan yang kedua adalah LIMITED EXPRESS, pemberhentian lebih sedikit dari Local, dan EXPRESS yang jauh lebih sedikit berhenti dan lebih cepat.

Jadi karena hari itu adalah Golden Week, sudah bisa dipastikan dong, suasana di subway kayak apa dan juga suasana di Yokohama nanti kayak apa hehe. Perjalanan dari Shibuya ke Yokohama pakai kereta Express kira-kira 50 menit, lumayan jauh juga karena Yokohama itu 80 km. Keluar dari Stasiun Motomachi Chukagai itu padet banget, mana karena kita bawa stroller, pasti musti antri panjang di lift bareng turis-turis lain. Hasilnya, dari subway ke ground level aja perlu 10-15 menitan. Tujuan ke Gundam Factory sebetulnya kita mau lihat Moving Gundam, dimana si Gundam nya gerak-gerak diiringi lagu dan efek. Gundam ini sebetulnya adalah Gundam tipe RX-78F00 yang dulu ditempatkan di Odaiba sebelum diganti Gundam Unicorn. Diletakkan disini karena di Yokohama dibangun fasilitas museum dan Gundam store jadi ya sekalian aja buat narik turis ke sini. Sebetulnya si Moving Gundam itu ada pertunjukkan nya tiap 1 jam jadi karena kita udah lapar jadilah kita cari makan siang dulu sebelum menuju ke sana.

Lokasi makan siang yang kita pilih namanya Sario, Heichinrou, letaknya persis di tengah-tengah Chinatown. Karena Golden Week, semua jalanan di sini penuh sesak sama pejalan kaki dong. Kebayang lah, pas tengah hari bolong musti nyari restoran yang kita belum tahu dimana dan dalam kondisi lapar hehe.

Setelah ketemu resto nya, kita masuk dan duduk di lantai 3, dimana agak lengang. Jadi di Sanrio ini, menu yang dijual adalah Muslim Friendly food, bukan Halal Certified. Jadi dia sudah pisahkan utensils dan prosedur pemilihan bahan makanan agar ngga tercampur dengan menu non-halal. Tapi perlu digarisbawahi juga bahwa daging ayam dan sapi yang dia pakai sudah halal certified Japan ya.

Menu Halal nya hanya terbatas sama Ramen, Nasi Kare, Beef Bowl dan Gyoza. Harganya sekitar 800-1000 JPY atau sekitar 100-120 ribu IDR. Harga yang normal kalau di Jepang. Dan ini sistemnya kita antri di kasir, pilih menu, bayar dan bawa sendiri makanannya ke meja. Untuk air putih, gratis sepuasanya dan ada dispensernya.

Selain menu Halal tadi, kita juga bisa pesan Menu Vegan nya yang pasti aman untuk dimakan.

Secara rasa sih B aja ya, tapi karena dia halal jadinya ya lumayan membantu daripada nyari-nyari lagi resto yang lain yang lokasinya cukup jauh dan belum tentu kosong juga. Sehabis makan di sini, kita jalan kaki menuju Yokohama Naka Ward di area terbuka di pinggir pantai di Yokohama. Perjalanan ini tuh seperti napak tilas perjalanan saya ke sini di Summer 2018 yang bikin saya kapok ke Jepang pas lagi summer karena panas dan gerahnya ampun hehe.

Sepanjang perjalanan ke Gundam Factory nemu beberapa pameran bunga musim semi dan juga tempat tambatnya Nippon Maru dan Nikawa Maru

Tips lagi kalau ke Yokohama, anginnya kenceng banget terutama di pinggir pantainya. Jadi ya musti bawa jaket biar ngga masuk angin.

Kembali disarankan untuk beli tiket Gundam Factory via website supaya menghindari antrian seperti ini. Di dalamnya ada life size Gundam, toko suvenir, toko makanan dan tangga untuk duduk-duduk.

Lalu untuk tiket nya sendiri bisa kita beli yang reguler dan juga Observatory Deck yang bisa lihat dari atas seolah-olah jadi pilot Gundamnya.

Istri saya sempat videokan Moving Gundamnya di sini

https://www.instagram.com/reel/CsKrIFChmn91PZ3yNudKsYMkEV3FzZzUxibTM80/

Durasi untuk observe Gundam Factory ini kira-kira 1 jam sudah cukup, sebetulnya di Yokohama ini masih banyak tourism spot lain seperti Yokohama Air Cabin yang sedang hype, cuma karena kita semua udah capek, jadi ya akhirnya memutuskan untuk pulang ke Tokyo jam 4 sore buat istirahat di hotel.

Sampai di Tokyo, tak lupa mampir ke 7Eleven buat beli makan malam. Karena semua sudah pada capek, akhirnya malamnya kita nggak kemana mana dan tidur cepat di hotel karena besoknya masih ada 1 agenda lagi yaitu ke Team Lab Planets.

Besok paginya, sebetulnya tidak ada agenda khusus karena jadwal ke Team Lab di Odaiba itu di sore hari sekitarv pukul 15. Karena ibu mertua masih capek perjalanan jauh ke Yokohama kemarinnya, jadi kami putuskan untuk jalan-jalan bertiga saja dengan istri dan anak saya yang kecil untuk makan ramen Honolu di Shinjuku sekaligus main-main ke Shinjuku Gyoen.

Shinjuku Gyoen ini taman terbesar di Tokyo yang selalu saya kunjungi setiap ke Jepang. Kalau musim sakura, taman ini penuh sesak karena orang-orang pada piknik. Tiket masuk ke sini 500 Yen (sekitar Rp 60 ribu). Dan saking luasnya ini taman, kalau mau keliling taman ini perlu effort khusus. Di taman ini ada spot untuk lihat Sakura (Cherry Blossom Tree) dan ada juga spot untuk lihat Ginkgo (daun yang menguning kalau musim gugur). Jadi kumplit lah ya. Dan yang ikonik ya lapangan terbuka yang luas yang ada gedung NTT Docomo. Taman ini jadi setting salah satu film Makoto Shinkai yang judulnya Garden of Words tahun 2013.

Ini kalau musim gugur, daunnya pada kuning semua dan jadi ikonik.

Enaknya tinggal di Jepang, ruang terbuka hijau nya banyak ya hehe.

Nggak lupa di sini kan ada Starbuck yang baru dibuka, ya kita tes lah beli kopi dan Matcha di sini.

Ramen Honolu buka pukul 11 jadi memang tujuan kita di Shinjuku Gyoen ini ya hanya ngabisin waktu aja. Setelah jam 11 kita jalan menuju Ramen Honolu. Lumayan jauh juga sekitar 800 meter dan tempatnya agak membingungkan karena di basement ruko gitu.

Honolu ini secara ketebalan kuah mirip Tori Bushi namun lebih light sedikit. Andalannya Chicken ramen. Tempatnya sempit mungkin hanya nampung 10-15 orang aja, dan karena ini baru buka, jadi ya kami pelanggan pertama hehe. Uniknya, dia itu jual juga ramen instan kemasan yang bisa dibawa pulang. Sepulang dari makan ramen, kita kembali ke hotel untuk istirahat sebelum berangkat ke Odaiba untuk menuju Team Lab.

Jam 3 sore kita berangkat kembali ke Odaiba untuk menuju Team Lab Planets Tokyo. Team lab adalah museum modern yang di dalamnya banyak karya seni dalam bentuk digital dan moderen. Sebelumnya kami sudah pernah ke lokasi Team Lab yang di Singapura dan memang keren banget. Beda sekali dengan museum-museum konvensional. Tahun 2018 juga saya pernah ke TeamLab Tokyo namun dulu lokasinya masih di dekat ferris wheel dan sekarang sudah pindah ke tempat yang lebih besar meski masih di area Odaiba.

Di Jepang tahun 2023 ini, tema dari TeamLab Planet nya adalah karya seni yang menggabungkan seni cahaya, air dan suara. Lihat di IG dan youtube memang keren sih nampaknya. Dan pas beli tiketnya (online di situs resminya) kita diminta milih slot kedatangan. Satu tiket dewasa itu harganya sekitar 1500 JPY atau Rp 200.000.

Lokasinya di Odaiba tapi letaknya di paling ujung, beda dengan lokasi Odaiba yang masuk dari Tokyo Bay. Makanya dari Kyobashi kita naik kereta Rinkai Line lalu lanjut monorel Yurikamome line dari ujung yang ke arah Shimbashi. Nyampe di sana tepat jam 4 kurang dan sudah bisa masuk ke dalam. Sebelum masuk kita diminta lepas sepatu (jadi akan nyeker sepanjang keliling museum) dan diminta untuk meletakkan barang berharga kayak tas dompet di loker (loker ada banyak di ruangan terpisah).

Setelah naro barang di loker kita akan naik ke tangga yang dibanjiri air mengalir yang bau bahan kimia. Mungkin ini sarana cuci kaki buat meminimalisir pengunjung yang bau kaki kali ya hehe. Setelah itu langsung disuguhi pemandangan kayak begini.

Ini tuh ruangan yang full cermin di semua sisi lalu dikasih semacam “tirai” memanjang dari atap sampai ke lantai yang ditempeli LED yang warnanya bisa ganti-ganti. Jadi pergerakan warna-warni LED nya itu yang bikin ini spektakuler dan benar-benar karya seni.

Habis dari sini langsung disuguhi kolam susu dengan ikan virtual yang bisa berenang-renang di kaki kita. Ini menurut saya keren abis karena kalau merasakan langsung, ikan-ikannya kayak beneran berenang di sela-sela kaki kita ey.

Di ruangan ini kita musti ngegulung celana panjang kita sampai paha, jadi memang disarankan sebelum ke TeamLab Planets ini, kita jangan pakai celana jeans tapi pakai celana bahan yang modelnya lebar atau malah pakai celana pendek sekalian biar ngga repot gulung-gulung. Setelah dari ruangan ini kita disuguhi ruangan dengan bola-bola besar yang bisa berubah warna kalau kita pukul-pukul kayak di game Mario Bros.

Kemudian setelah ini kita diminta duduk melihat kupu-kupu yang dalam ruangan gelap yang mana kupu-kupu nya bisa terbang ke sana kemari secara virtual. Pokoknya keren deh, sayang nya ngga sempat ngerekam kemarin. Coba cek aja video di bawah untuk dapat gambaran visualnya.

Setelah itu kita keluar ruangan untuk lihat suatu karya seni yang mirip telor dinosaurus kayak gini.

Dan yang paling ultimate tentu saja si bunga-bunga ini. Jadi paling akhir tuh ada pameran bunga-bunga gantung (sepertinya anggrek) berwarna-warni dan dia bisa naik turun secara berkala. Ruangannya dibikin full cermin dan cara masuknya unik karena kita harus merangkak karena ngga boleh menyentuh bunganya. Di sini karena tempatnya terbatas jadi harus bergantian masuknya dan setiap batch hanya dikasih waktu maksimal 5 menit untuk foto-foto.

Setelah itu kunjungan ke TeamLab Planets pun selesai. Keluar pintu exit, ambil barang di loker dan pakai sepatu lagi di luar. Overall waktu yang dihabiskan di sini kira-kira hanya 1 jam aja sih, dan dengan harga segitu menurut saya worth it untuk dicoba. Dan tiap tahun museum ini selalu berganti-ganti pamerannya jadi ya pasti bikin penasaran apa lagi exhibition berikutnya.

Pulang dari sana, kami menuju Aqua City buat cari makan. Sempat ada insiden monorel Yurikamome yang kami naikin berhenti lama di stasiun karena angin kencang. Memang saat itu anginnya kenceng banget padahal hari cukup cerah. Di Aqua City, awalnya mau makan kebab, tapi dipikir-pikir kurang kenyang jadi balik lagi ke Green Asia buat dinner. Dinner di sini harganya lebih mahal dari Lunch. Kali ini kami pilih menu vegetarian aja.

Akhirnya pilihan jatuh ke tempe orak-arik yang harganya 1280 JPY atau Rp 150rb dong hehe.

Sehabis makan, sebelum pulang kita sempat nonton show Gundam Unicorn dulu di depan Diver City.

Sekitar jam 7 malam kami kembali ke hotel karena udah capek juga. Sampe hotel sempetin beli cemilan dan roti di 711 dulu sebelum tidur. Nggak lupa beberes dulu karena besok kita akan kembali ke Indonesia.

Karena besoknya kita akan pulang ke Indonesia, kami coba cek transportasi yang paling simple ke Narita Airport. Setelah browsing-browsing, ternyata transportasi paling enak dan cepat itu pakai bus yang namanya Tokyo Limousine Bus. Bus ini adalah bus yang rutenya dari Stasiun Tokyo (Yaesu exit) namun sebelumnya start dari Shinjuku dan Ginza. Cara naik busnya adalah dengan beli tiket di loket di Yaesu exit Stasiun JR Tokyo. Harga tiketnya 3,000 JPY untuk dewasa dan 1500 JPY untuk anak-anak. Setara dengan IDR 450rb dan IDR 250rb per orang sekali jalan. Tiket busnya dipesan on the go ya, jadi ngga bisa reservasi.

Dulu waktu terakhir ke Jepang tahun 2018, kami naik Keisei Skyliner dari Ueno Station. Harganya memang paling murah tapi ribet karena musti ke stasiun Ueno dulu. Tapi dengan bus ini, kita hanya perlu duduk manis dari awal naik di Stasiun Tokyo sampai ke Narita tanpa perlu pindah-pindah moda. Ini sangat rekomended untuk yang bawa barang banyak atau bawa anak-anak.

Karena jadwal flight kami jam 5 sore, maka kami memutuskan untuk start dari Tokyo station pakai bus yang jam 12 siang. Kalau lihat di gmaps sih perjalanan kurang lebih sekitar 60 menitan kalau ngga macet. Sesampainya di Narita, kita mau cari makan siang, dan Alhamdulillah di Narita sudah ada beberapa outlet halal, salah satunya si resto Udon ini yang dulu juga pernah saya makan di tahun 2018. Nama restonya Kineyamugimaru, ini persis di lantai 5 (5F) (view square) terminal 2 departure sebelum masuk imigrasi.

Menu nya udon tapi punya isian, topping dan kuah yang beragam dengan harga kurang dari 1000 JPY per menu. Ada menu anak-anaknya juga jadi pasti disukai lah ya sama semua umur.

Kami pesan curry udon dan berbagai gorengan. Enaknya di sini kita bisa ambil condiment sendiri dan boleh sepuasnya ambil condimentnya.

Sehabis makan kenyang, cari oleh-oleh dulu lalu masuk ke imigrasi dan nunggu di ruang tunggu. Karena flight masih 1.5 jam lagi, kami sempat foto-foto dulu dan main sebentar di ruang tunggu anak (playground) sebelum boarding.

Jam 5 waktu Jepang boarding dan tiba di Jakarta sekitar jam 12 malam. Dari bandara kami naik taksi dan menginap di hotel bandara sebelum lanjut pulang ke Bandung besok paginya.

Intinya perjalanan ke Jepang di late spring ini sangat menyenangkan sih, bisa lihat berbagai macam festival bunga dan ke tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya kayak railway museum, Gundam Factory dan Shibuya Sky. Tips selama di Jepang ya cari penginapan murah yang ada laundry coin, kemudian beli JR Pass kalau kita pergi ke lebih dari 3 kota berhubung per Oktober 2023 kemarin harga JR Pass naik 2 kali lipat jadi ya semakin ngga worth it kalau kita hanya ke 2 kota doang.

Tips lain ya beli makan hemat di 7Eleven dengan lebih dulu seleksi mana yang bisa dimakan (halal) dan mana yang ngga dan meragukan.

See you in the next trip… Semoga bisa menginspirasi…

Japan Trip 2023 Part 3

Part 3 kali ini akan cerita mengenai destinasi di luar Tokyo yang terakhir dari perjalanan ke Jepang saya dan keluarga. Perjalanan kali ini adalah menuju Ashikaga Flower Park di perfektur Tochigi. Tujuannya adalah untuk melihat bunga Wisteria di satu-satunya festival bunga wisteria di Jepang. Jadi dari informasi yang saya kumpulkan, festival bunga wisteria ini hanya ada di pengujung musim semi dan lokasinya di Ashikaga Flower park. Setelah browsing dan kumpulkan data, akhirnya saya tau kalau untuk menuju ke sana, kota terdekat adalah Oyama dan dari sana cukup menggunakan JR Ryomo sekitar 30 menit dan tiba di lokasi Ashikaga Flower Park.

Untuk menuju ke sana sebetulnya bisa menggunakan JR line biasa namun terlalu lama sampai 2 jam 30 menit karena perlu ganti kereta 2-3 kali. Sementara dari Tokyo ada Shinkansen langsung ke Oyama yaitu JR Tohoku yang ke arah Akita dan Hokkaido. Namun pas kami coba book tiketnya ketika pertama kali mendarat di Stasiun Tokyo, ternyata tiketnya sudah sold out semua. Ada alternatif menggukan Hokuriku Shinkansen ke Omiya dan lanjut kereta JR ke Oyama. Akhirnya kami ambil itu karena lumayan motong waktu sekitar 30 menit. Tapi masalahnya adalah tiket keretanya hanya tersedia jam 14.00 siang aja. Semua timeslot penuh karena memang lagi golden week kali ya.

Karena keberangkatan masih siang, maka paginya sekitar pukul 7 pagi kami putuskan jalan-jalan dulu ke Asakusa untuk foto-foto dan cari sarapan. Tips buat yang ingin foto di Sensoji Temple Asakusa tapi ngga hectic orang, bisa dicoba ke sana jam 7 pagi karena toko-toko belum pada buka. Paling baru segelintir orang aja yang udah datang buat mengincar spot foto bagus yang masih sepi pengunjung.

Sekitar jam 8.00 pengunjung yang datang mulai banyak dan perlahan-lahan mulai crowded. Sebelum crowded, kami bergegas meninggalkan Sensoji Temple dan mampir untuk kedua kalinya ke toko eskrim halal di persimpangan Asakusa yang cukup terkenal itu. Penjualnya adalah seorang kakek nenek yang sudah jualan di situ mungkin sejak tahun 60 atau 70-an. Dan di sini eskrim matcha, vanilla, dan hojicha nya sudah tersertifikasi halal.

Saya lupa harga eskrimnya, kalau ngga salah sekitar 800 Yen (Rp 100rb), rasanya persis eskrim cone McD tapi ada rasa matcha dan hojicha. Kita bisa numpang makan di sini namun tempatnya agak sempit.

Setelah makan eskrim, kami menuju ke Sumida river untuk foto-foto di sana sekaligus nostalgia kalau tahun 2015 dulu saat pertama ajak istri ke Tokyo, kami pernah menginap di salah satu jaringan penginapan murah Khaosan Asakusa, yang sayangnya sejak covid kemarin bangkrut.

Setelah beres foto-foto, tidak lupa singgah dan makan di tempat makan legend setiap kali saya ke Asakusa, yaitu Saray Kebab hehe. Jadi ingat tahun 2015 dan 2018 dulu saya selalu makan di sini karena dulu lumayan susah cari makanan halal. Bapak yang jualan kebab dari dulu sampai sekarang masih sama sih sepertinya, om-om Turki yang fasih bahasa Jepang.

Bedanya kebab di sini sama kebab di Nagoya, di sini tuh menunya variatif, ada kebab doang tanpa roti, ada kebab pake nasi, kentang panjang, dll. Harga berkisar di 600 Yen sampai 1,000 Yen per menu. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 09.30, kami balik ke Asakusa untuk beli oleh-oleh berhubung semua toko sudah pada buka. Durasi beli oleh-oleh lumayan lama, sampai 1 jam lebih, maklumlah ibu-ibu banyak milihnya hehe. Akhirnya kita pulang ke Kyobashi jam 11 siang dan hanya punya sedikit waktu sampai jadwal keberangkatan pukul 12.40 saja.

Sudah dibayangkan betapa hecticnya di hotel karena musti ganti baju dan siap-siap, akhirnya jam 12 kurang kami jalan kaki ke Stasiun Tokyo dan nyaris saja tertinggal Shinkansen karena baru sampai peron sekitar jam 12.30. Untungnya karena hari itu puncak Golden Week, semua keberangkatan Shinkanse delay hehe. Luar biasa ini Golden Week di Jepang. Stasiun Tokyo full people.

Singkat cerita, kami naik shinkansen Hokuriku, yang bentuknya lain daripada yang lain, dan turun di stasiun Omiya, selepas itu, diteruskan dengan kereta antarkota JR line sampai di stasiun Oyama, kurang lebih perjalanan sekitar 1.5 jam dari Tokyo.

Di stasiun Omiya itu, kita ketemu kereta JR Tohoku yang warnanya merah (ke Shin Aomori) dan kereta JR Tohoku yang warnanya hijau yang ke Sapporo. Di stasiunnya sendiri sampai ada pajangan model kereta shinkansen yang lewat di stasiun ini.

Singkat cerita, sampailah kita di Oyama, dan di sini kita menginap lagi di Toyoko Inn, cabang jaringan hotel yang sama dengan yang ada di Shin Fuji. Kota Oyama sendiri tidak terlalu ramai dan cenderung sepi, jarak dari Stasiun ke hotel mungkin hanya 3 menit jalan kaki dan di sana ada beberapa kampus sepanjang kita berjalan. Toyoko Inn di sini pun rupanya sudah full book dan beruntung kita dapat kamar karena sudah jauh-jauh hari.

Ada satu kesalahan yang saya lakukan saat menunggu di hotel Tohoku ini. Karena jadwal checkin jam 15:00, dan karena kendala bahasa juga, ternyata kami disuruh menunggu di lobby. Ternyata, setelah menunggu jadwal checkin baru jam 16.00 dan setelah beberes dan ganti baju, kami baru keluar hotel jam 16.45 dan naik kereta lokal (JR Ryomo line) yang jam 17.00.

Kami sampai di Ashikaga Flower park sekitar jam 18.00 kurang dan hari sudah mulai gelap dan antrian sudah mengular. Akhirnya jadi ngga maksimal lihat tamannya dalam keadaan terang. Saran buat yang ingin ke sana tahun depan, memang harus datang sejak hari terang sih biar bisa eksplor lebih lama.

Ini foto-foto yang saya ambil dari keadaan terang yang cuma sekitar 15 menitan sampai kira-kira jam 20.00 malam.

Karena golden week jadi sudah dipastikan ini isinya orang semua hehe. Tapi ya masih bisa jalan dan foto-foto dengan nyaman lah ya.

Ternyata ada beberapa jenis bunga wisteria di sini, dan bunga ini tuh hanya mekar dan ada di pengujung musim semi. Jadi memang sangat terbatas sekali waktu festivalnya, makanya begitu golden week banyak orang Jepang ke sini. Untuk tiket masuknya bisa dibeli di tempat (pasti dapat) atau bisa via online di beberapa provider tiket online dan dibayar dengan credit card.

Tempat ini tutup sekitar pukul 22.00 dan kereta terakhir di pukul 22.15. Karena kami sudah cukup lelah, jadi jam 20.30 kita putuskan pulang dan beristirahat. Besoknya kita kembali ke Tokyo sekitar jam 7.30 pagi. Setelah checkout hotel, sengaja kita datang lebih awal buat ambil foto dengan beberapa kereta yang datang duluan.

Sampai di Tokyo dan masuk ke hotel sekitar jam 9an. habis itu nggak pake lama kita langsung menuju destinasi berikutnya, yaitu Odaiba. Kayaknya hampir semua turis ke Tokyo, rugi kali ya kalau ngga ke Odaiba. Apalagi sejak 2019, patung real size Gundam nya udah berubah jadi Unicorn. Kebetulan cuaca sangat cerah dan di Odaiba lagi ada festival jadi ya isinya orang semua.

Waktu sudah menunjukkan jam 13, dan kami pun cari beberapa lokasi makanan halal di Odaiba. Tips cari makanan halal di sini sebetulnya mudah, cek di google ada sekitar 5-10 resto halal di sini, tapi ya harganya super mahal sih ya. yang paling murah adalah kebab (Ozgur Kitchen Kebab) deket Aqua City, sampai yang paling mahal The Oven yang per orangnya sekitar 1,500-1,800 Yen yang makanannya ala ala buffet all you can eat gitu.

Akhirnya pilihan kami jatuh ke Green Asia Tokyo karena harga nya menengah. Di sini penyambut tamu nya mas-mas Jawa (Malang) yang udah lebih dari 10 tahun kerja di Tokyo. Ramah dan baik, resto nya juga cozy dan makanannya menu nya beragam. Kalau lunch, bisa free salad dan sup dan ada menu vegetariannya.

Per menu nya kalau lunch sekitar 1,000 – 1200 Yen (Rp 150.000) per orang sudah dapat 1 porsi makan dan minum (plus salad, kerupuk, sambal, dan sup). Lumayan worth it lah ya. Selesai makan jam 2 siang dan sampai di hotel jam 3 sore.

Karena anak-anak dan mertua sudah capek, akhirnya kami putuskan malam ini hanya saya dan istri aja yang pergi jalan keluar malam ini. Setelah beli makan malam di 7Eleven, anak-anak ditinggal di hotel dan kami menuju ke Akihabara buat cuci mata. Berangkat jam 7 malam, cuci mata sebentar, cari cemilan, main gacha dan balik lagi ke hotel jam 10 malem.

Di part terakhir nanti sekaligus akan dibahas 3 destinasi terakhir di Jepang adalah Shibuya Sky Tower, Yokohama dan TeamLab Planets Tokyo.

Saya lanjutkan di lain kesempatan ya.

Thank you.

Japan Trip 2023 Part 2

Perjalanan di hari kedua ini adalah menuju ke Kyoto untuk lihat Kyoto Railway museum, lalu makan siang di Ayam Ya Kyoto dan sore nya mobilisasi menuju Shin Fuji Station dengan Shinkansen. Pukul 07.30 kami sudah check out, nggak lupa belanja dulu di 7Eleven dan beli frenchfries McD untuk bekal sarapan di jalan. Sebelum jalan ke stasiun, nggak lupa foto foto dulu suasana di sekitar hotel.

Jam 7 pagi gini suasana kota Nagoya masih sepi banget. Mungkin karena orang-orang baru masuk kerja jam 9 jadi belum banyak yang keluar rumah, dan juga karena menyambut Golden Week yang jatuh di hari Kamis-Minggu, jadi mungkin udah banyak orang Jepang yang ambil cuti. Di stasiun Nagoya pun ngga begitu padat dan bisa ambil beberapa foto dulu.

Perjalanan ke Kyoto naik Shinkansen hanya 30 menitan. Karena Kyoto railway museum buka pukul 09.00, jadi masih ada cukup waktu untuk cari tempat coin locker di stasiun Kyoto, cari makan, dan mobilisasi. Perjalanan Nagoya-Kyoto mayoritas adalah pemandangan sawah seperti ini.

Sesampainya di stasiun Shinkansen Kyoto, langsung cari Coin Locker di posisi strategis, dan menuju ke JR Kyoto Station. Lokasi Kyoto Railway museum ngga jauh dari JR Kyoto. Hanya 1 stasiun saja. dan di kereta local nya banyak keluarga dan anak-anak yang memang tujuannya adalah ke museum kereta api.

Jam 9 kurang dikit, pintu museum dibuka. Tiketnya sendiri dibeli lewat vending machine kayak begini. Dewasa 1500 Yen (200rb IDR), anak-anak di bawah 10 tahun 500 Yen (75rb IDR). Lumayan terjangkau lah ya.

Begitu masuk, kita langsung disuguhi beberapa model kereta api yang ada di Jepang dari mulai kereta jadul sampai kereta modern. Semua kereta nya bisa dimasuki dan dilihat interiornya.

Bisa berfoto juga di dalam tempat masinis Shinkansen

Di bagian dalam museum, ada gedung 3 lantai yang di dalamnya berisi display kereta, museum peralatan dan teknologi kereta, arena tempat mainan track kereta, restoran, dan akses menuju rooftop dan arena outdoor.

Dan yang paling menarik dari Kyoto Railway Museum ini adalah bagian outdoor nya dimana ada display lokomotif ala ala Thomas gitu dan juga pengunjung bisa naik kereta uap dengan perjalanan sekitar 5-10 menit dengan harga 250 Yen per orang dewasa dan anak-anak.

Sayangnya kemarin lupa ambil video pas naik kereta uap nya. Intinya sih kereta uap ini berangkat tiap 15 menit karena lama perjalanan hanya 5-10 menit maju mundur area stasiun Kyoto. Sepanjang jalan si tour guide nya ngomong penjelasan mengenai sejarah stasiun Kyoto, dll tapi karena dalam bahasa Jepang, ya ngga paham kita hehe.

Sebetulnya ada atraksi lain dimana dua lokomotif di ini akan diputer di display tengah untuk dikeluarkan uap (steam) nya. Sayangnya atraksi itu adanya jam 2 dan 4 sore jadi yah ngga bisa kita lihat waktu itu. Kurang lebih kayak yang ada di video ini lah ya

Total durasi kami di Kyoto Railway museum include beli oleh-oleh sekitar 3.5 jam lah ya. Termasuk kilat juga sih. Dari buka jam 9 sampai jam 12an kita udah putuskan selesai karena mau ngejar waktu makan ramen di Ayam Ya. Berkaca pada pengalaman tahun 2018 lalu, restoran di kota-kota selain di Tokyo bakal tutup setelah jam 2 siang dan baru akan buka lagi jam 5 sore sampai malam. Jadi ya musti bergegas sebelum tutup. Idealnya sih di museum ini bisa makan waktu dari pagi sampai sore asal ngga ada tempat lagi yang dituju dan bawa bekal makan siang sendiri.

Untuk menuju ke Ayam Ya dari museum, cara tercepat dan termudah adalah dengan naik bis. Kami jalan kaki sekitar 5 menit dari museum menuju halte terdekat. Karena ini hari kerja dan udah siang, bis nya juga ngga penuh dan bisa duduk di dalamnya.

Sampai di Ayam Ya, ternyata antriannya panjang banget padahal udah jam 1 kurang. Kami pun dapat antrian no.16 dan menunggu kira-kira 30 menitan. Di sini banyak juga turis-turis Indonesia yang memang tujuannya makan ramen halal di Ayam Ya. Ayam Ya ini punya musholla di lantai 3 di rumah di seberangnya. Rumah ini kayaknya gudang dan lantai 3 nya memang dijadikan musholla oleh mereka. Jadi sambil nunggu bisa solat zuhur dulu.

Menu di Ayam Ya ini Soyu ramen ada pilihan spicy dan non-spicy. Di samping antriannya yang lama, di sini pesannya juga di awal ketika masuk melalui vending machine kayak begini.

Harga ramennya sendiri sekitar 900 Yen (120ribu IDR) untuk porsi dewasa dan 550 Yen untuk porsi anak-anak. Porsinya anak-anak sebetulnya lumayan banyak jadi mungkin agak kebanyakan juga kalau anak di bawah 5 tahun pesen 1 porsi sendiri. Air minum gratis, seperti resto Jepang pada umumnya. Overall tempat di Ayam Ya sempit jadi memang wajar sih kalau selalu antri di jam makan siang. Kita aja berlima dapat tempat di pojokan.

Ramen di Ayam Ya ini tipikal kuah yang light dan nggak terlalu tebal. Gurih dan enak sih tapi sayang potongan daging ayamnya sedikit hehe.

Selesai makan di sini kira-kira jam 2 sore. Sebetulnya memang ngga ada tujuan lain sih di Kyoto karena kalau mau jalan ke Arashiyama kalau bukan Autumn itu ngga worth it. Mau jalan ke Kiyomizu Dera dan Gion juga jauh banget dari posisi sekarang dan agak susah karena bawa anak kecil di jam tidur siang mereka hehe. Jadi ya abis makan langsung menuju stasiun Kyoto aja dan memang udah sengaja ambil kereta jam 16 sore untuk menuju ke Shin Fuji, destinasi berikutnya.

Sesampai di JR Kyoto station, ambil coin locker, beli perbekalan (7Eleven, french fries McD) kira-kira jam 3an lalu langsung masuk ke stasiun Shinkansen untuk naik kereta JR Shinkansen Kodama (satu-satunya tipe Shinkansen yang berhenti di stasiun Shin Fuji). Karena naik shinkansen tipe Kodama, berarti kita akan berhenti di semua stasiun dan perjalanan akan memakan waktu 1.5 jam. Tapi karena kita melawan arus (relatif ngga banyak yang naik Kodama menuju Tokyo), jadi 1 gerbong hanya isi kita berlima aja.

Cukup membosankan juga karena di setiap stasiun berhenti kira-kira 1-2 menit karena harus turun/naikkan penumpang dan kasih jalan ke Shinkanse tipe Hikari dan Nozomi. Oia, tips naik Shinkansen JR Tohoku (Tokyo-Shin Osaka), ambil posisi kursi sebelah kanan kalau dari arah Tokyo dan ambil posisi sebelah kiri kalau dari arah Osaka supaya bisa lihat Gunung Fuji.

Kira-kira sekitar jam 18 kita sampai di Shin Fuji. Kenapa ke Shin Fuji? karena destinasi kita berikutnya adalah Fuji Shibazakura, festival bunga Shibazakura (phlox) berwarna pink yang diadakan di kaki gunung Fuji. Festival ini paling terkenal pas Golden Week karena semua orang Jepang rata-rata pada ke sini. Sebetulnya untuk menuju Fuji Shibazakura festival ini, bisa melalui 3 cara setelah saya riset mendalam. Yang pertama adalah cara mainstream yaitu naik bus dari Stasiun Shinjuku (lihat panah biru di bawah) dan langsung menuju Stasiun Fujikawaguchiko, sebuah “stasiun central” pemberhentian ke arena wisata di sekitar gunung Fuji seperti Kawaguchi Lake, Fuji-Q highland, dll. Ini rute paling populer karena hemat ongkos dan mudah. Tapi kelemahannya adalah, setiap Golden Week pasti macet karena saking banyaknya mobil dan jalanan yang sempit di sekitar Gunung Fuji. Cukup banyak yang mengeluh kejebak macet berjam-jam setiap Golden Week loh.

Cara kedua adalah dengan naik kereta api JR dari stasiun Tokyo/Shinjuku ke Stasiun Fujikawaguchiko (lihat panah kuning di atas). Cara ini relatif lebih cepat dan murah namun sama saja dengan cara naik bus tadi, rentan kejebak macet dari Fujikawaguchiko station menuju ke Fuji Shibazakura festival karena musti lanjut naik bus lagi.

Nah setelah saya nontonin youtube turis-turis India yang ke shibazakura, dan juga googling, ada 1 cara termudah (namun ngga murah) yaitu dengan menuju ke Stasiun JR Shinkansen Shin Fuji, menginap di sana atau lanjut naik bus lagi dan menginap di kota yang namanya Fujinomiya (lihat panah merah di atas). Cara ini relatif simpel kalau kita punya JR pass karena akses ke Stasiun Shin Fuji gratis. Masalahnya hanya 1, di Stasiun Shin Fuji ini hanya ada 1 hotel dan kalau kita ngga book jauh-jauh hari, bakal ngga kebagian dan mungkin akan menggelandang hehe. Nama hotelnya adalah Toyoko Inn ShinFuji Minami Eki. Hotel ini tuh persis di sebelah stasiun JR Shin Fuji. Harga per kamar untuk 1 dewasa + 1 anak adalah 800rb IDR dan yang 2 dewasa + 1 anak adalah 1.2 juta IDR.

Masalah lain jika menempuh rute ini adalah, ada bus yang rutenya Shin Fuji Station – Fujikawaguchiko Station yang berangkat setiap 2 jam sekali. Nah, yang lucu adalah, informasi yang saya dapat mengenai bus ini semua dalam bahasa Inggris. Jadi ya terpaksa pakai google lens berkali-kali untuk yakinkan rute dan nomor bus nya serta di mana poin keberangkatannya. Itu pun belum yakin 100% pas kita sampai di sini.

Nah karena kami sampai di Shin Fuji sekitar jam 6 sore dan sudah gelap, jadi ya ngga akan sempat kemana-mana lagi. Dari Stasiun langsung ke hotel. Di stasiun shinkansenya pun ngga ada pagar pembatas kayak di Stasiun Tokyo, Kyoto atau Nagoya. Jadi memang bener-bener seperti di desa.

Nah yang bikin kesel lagi adalah, begitu mau checkin, ngga ada satupun staff yang bisa English hehe. Sempat ketahan cukup lama di front office, namun karena jaman sekarang udah ada google translate yang bisa ngeluarin suara, jadi agak mendingan lah ya. Oia standar hotel di Jepang, semua ada laundry coin, jadi ya hal pertama yang saya lakukan apalagi kalau bukan nyuci hehe.

Dan semua tempat di Jepang juga terjangkau sama Family Mart/7 Eleven, jadi abis taruh laundry di laundry coin, langsung menuju Family Mart terdekat untuk cari makan malam sekalian cari makanan untuk sarapan. Lokasi Family Mart ngga begitu jauh, hanya 3 menit jalan kaki dan ini tuh kota nya sepi banget, memang khusus buat transit buat ke Fujinomiya atau ke Gunung Fuji dari arah selatan Jepang.

Setelah semua perbekalan dibeli, hal berikutnya yang saya lakukan adalah menuju halte bus di sekitar stasiun untuk mencari di mana posisi bus yang akan dinaiki nanti dan keberangkatan pertama jam berapa. Lokasi terminal/halte persis di bagian belakang JR Shin Fuji Station Karena malam itu sudah jam 8 lewat, jadinya semua bus sudah berhenti operasi. Karena semua tulisannya bahasa Jepang, jadi saya pantengin tuh satu-satu nomor halte nya pake google lens dan akhirnya dapat lah si Bus yang akan dinaiki nanti, yaitu di halte nomor 5. Sebuah effort yang sangat berfaedah. Saya coba make sure ke petugas di stasiun pakai google translate. Intinya benar sih, bus ke Fujishibazakura itu memang di nomor 5 ini.

Bus nomor 5 ini khusus pas ada Shibazakura Festival akan masuk dan berhenti di venue nya. Ongkos sekali jalan adalah 1,400 Yen (180rb IDR) per orang, kalau anak di bawah 12 tahun setengah harga. Jadi bolak-balik 1 orang habis 400rb IDR dewasa dan 200rb IDR untuk anak-anak. Ya ngga bisa dibilang murah juga sih ya hehe.

Besok pagi nya, kami bangun jam 5 pagi waktu setempat, karena berdasarkan info keberangkatan, bus paling pertama itu start jam 7 pagi dari terminal Shin Fuji dan bus berikutnya ada di pukul 9. Karena lama perjalanan ke sana 1.5 jam dan target kami sebelum pukul 12 siang harus sudah kembali ke JR Shin Fuji karena takut kejebak macet, jadi memang harus ambil bus pertama ini. Ternyata kalau pagi, pemandangan di hotel ini cakep juga.

Pukul 6 sudah checkout hotel dan berjalan menuju JR Shin Fuji. Tidak lupa, nitip koper ke hotel dan sampaikan kalau akan diambil sekitar jam 2 siang pakai google translate hehe. Stasiun nya sendiri memang baru dibuka pukul 6 pagi. Jadi sempat foto-foto dulu di sekitar stasiun berhubung cuaca cerah.

Pukul 7 kurang, bus nya akhirnya datang di Halte No.5. Karena takut salah, saya yakinkan dulu ke sopirnya dengan buka google map dan menunjuk Shibazakura Festival. Dia mengangguk dan ngomong pake Bahasa Jepang. Ok lah, gas berarti bener hehe. Bus nya sendiri seperti bus pada umumnya. Karena ini halte pertama, jadi pada bisa duduk.

Di jepang, pembayaran bus dilakukan di depan pada saat turun. Tapi sebelum naik, kalau kita pakai IC card (Pasmo/Suica) kita wajib tapping di pintu tengah atau depan sebagai tanda posisi awal naik. Ngga punya IC Card pun ngga masalah karena dia menerima pembayaran cash juga.

Sepanjang perjalanan, walau naik gunung tapi ngga banyak belok-belok kayak di Puncak dong. Malah jalannya relatif mendatar karena mungkin masih di kaki gunung Fuji kali ya. Bus ini nanti berhenti cukup lama di Fujinomiya station buat ngangkut penumpang dari kota terbesar di sini. Kalau mau nginap di tempat yang agak rame, memang bagusnya pilih Fujinomiya sebagai tempat transit kalau nyampe Shin Fuji belum terlalu malem. Di sini juga cukup banyak hotel murah, tp ya jangan harap ada yang bisa bahasa Inggris hehe. Sepanjang jalan kita juga bisa lihat posisi Fuji-san di kanan-kiri jendela.

Sekitar 1.5 jam perjalanan, akhirnya sampai juga di area Fuji Shibazakura. Mayoritas penumpang di bus ini turun di sini. Nah pada saat turun, saya coba yakinkan dulu posisi halte tempat pulang nanti dengan nanya ke tour guide dekat situ. Ternyata di area pintu masuk, ada papan penunjuk jalan tempat bus umum. Jadi ada area tunggu bus umum yang ke Tokyo (shinjuku) dan kota-kota lain. Bus pulang yang ke Shin Fuji letaknya paling pojok. Saya cek jam masih menunjukkan pukul 9, dan jadwal bus berikutnya adalah pukul 11.30. Jadi cukup lah keliling Shibazakura sampai jam 11 sebelum balik lagi ke Shin Fuji.

Harga tiket ke Shibazkura adalah 1200 Yen (150rb IDR) untuk dewasa dan 600 Yen untuk anak-anak di atas 5 tahun. Lumayan murah lah untuk suguhan pemandangan seperti ini:

beruntung banget cuaca saat itu cerah. Biasanya kalau berawan, Fuji-san nya akan ketutup sebagian awan. Dan meskipun di foto ini matahari bersinar terik, aslinya ini suhu hanya 15 derajat dan anginnya kenceng banget. Jadi semua orang yang ada di foto ini pasti pada pakai jaket tebal hehe.

Sepanjang mata memandang, di sini terlihat hamparan pink moss (shibazakura) dan beberapa bunga lain. Baru jam 9 aja kepadatan turis udah luar biasa. Apalagi siangan dikit. Most of them bawa mobil dan naik bus. Ngga heran tiap golden week katanya di area ini macet parah hehe. Di sini tuh banyak sekali spot foto baik yang gratis maupun yang bayar. Yang bayar ada Peter Rabbit English Garden (bayar 1500 Yen untuk dapat 1 foto cetak) dan juga ada di area canoe. Kami hanya coba yang Peter Rabbit karena yang di area Canoe ngantrinya luar biasa.

Gambar Gunung Fuji nya kayak editan ya haha. Oia, di sini juga banyak vending machine minuman hangat dan dingin plus ada beberapa stall makanan. Memang ngga ada yang halal certified atau muslim owned. Tapi kalau lapar dan mau aman banget memang lebih bagus bekel makan dari 7Eleven atau Famima dulu. Tapi kalau ngga pun di sini ada stall kentang goreng panjang gitu yang menurut saya mustinya bisa dimakan karena yang jual ngga jual menu non halal.

Lumayan lah buat ganjel-ganjel dikit. Ada juga yang jual Kebab tp ya yang jual bukan orang Turki jadi meragukan juga hehe. Di bagian dekat pintu keluar sebelah kanan, ada toko oleh-oleh yang jual banyak kue-kue mochi, peach tea (yang disediakan sample) dan beberapa tanaman pink moss. Peach tea nya lumayan worth it lah buat dibeli. Satu kotak 700Yen isi 5 bungkus.

Setelah puas foto-foto dan keliling, sekitar jam 11 kami keluar dan jalan menuju halte bus kepulangan ke JR Shin Fuji. Saya coba buka google map untuk cek posisi bus nya. Ternyata dia udah kejebak macet di atas dong. Alhasil, bus baru datang sekitar jam 11.30. Kami pun naik dan pulang menuju Shin Fuji. Planning hari ini sebetulnya untuk antisipasi kemacetan kita sudah book shinkansen jam 15.00 ke Tokyo, tapi karena mungkin akan lebih cepat, jadi saya akan coba reschedule di stasiun.

Di jalan pulang, rupanya kota Shin Fuji ini banyak pabrik di kanan kirinya. sepertinya sih pembangkit listrik kalau dilihat dari modelannya.

Sampai stasiun sekitar pukul 13.30, saya langsung ambil koper di hotel dan menuju customer service dan reschedule kereta dari jam 15.30 ke jam 13.45. Alhamdulillah bisa. Kami pun pulang ke Tokyo dan tiba di Kyobashi dan di hotel tempat kami book 1 kamar full 8 malam sekitar jam 15.00 sore.

Karena hari sudah sore dan memang kita nggak ada rencana ke tempat lain, saya pun ngajak istri untuk ke salah satu ramen halal yang baru buka di bulan November 2022. Namanya Tori Bushi. Tempatnya di Ueno Okachimachi JR Station. Awalnya kita kira dari google map si Tori Bushi ini dibilangnya hanya 5 pemberhentian kereta Tokyo Metro Ginza Line dari Kyobashi sampe Ueno-Hirokoji. Tapi aktualnya, dari Ueno Hirokoji itu kita jalan kaki 10 menit naik tangga yang cukup bikin pegel dong. Mana si kecil ingin ikut dan dia ingin digendong pas turun dari kereta.

Tapi jalan kaki dan naik tangga yang lumayan melelahkan itu terbayarkan pas kita sampai di Tori Bushi ramen.

Walaupun ini ramen halal, banyak juga Nihon-jin yang makan di sini. Seperti biasa, di semua resto ramen di Jepang, kita wajib order via vending machine dan bayar cash.

Dia hanya jual menu Ramen ayam dengan kuah Miso yang sangat thick/tebal. Daging ayamnya banyak banget dan tebal. Personally saya sih lebih suka style Tori Bushi ini ketimbang Ayam Ya. Tapi ternyata istri nggak begitu doyan yang tebal gini, lebih suka yang versi light kayak di Ayam Ya.

Harga ramennya pun dari mulai 800 Yen (100rb IDR) untuk yang versi chicken white soup biasa dan yang Special yang saya order harga nya 1250 Yen (150rb IDR). Dia jual yang versi kuah pisah (tsukemen) juga. Dan jual nasi juga kalau masih laper setelah makan 1 porsi. Oia, defaultnya di sini tuh ramen disajikan dengan daun ketumbar (coriander). Tapi biasanya orang-orang pada ngga doyan dan dia punya opsi diganti ke green onion (daun bawang).

Kita tiba di sini sekitar jam 6 sore, karena masih belum waktu dinner, jadi warungnya masih agak lowong. Selesai dari sini langsung balik menuju hotel untuk istirahat karena besok ada agenda pindah kota lagi ke Tochigi perfecture untuk lihat festival bunga Ashikaga di sana.

Saya teruskan cerita nya di part 3 ya.

Japan Trip 2023 Part 1

Hampir 6 bulan rasanya ngga pernah ngupdate blog karena kesibukan dan kemalasan. Mumpung akhir-akhir ini kesibukan sudah rada berkurang, saya mau coba share pengalaman jalan-jalan ke Jepang (lagi) di bulan Mei 2023 kemarin dengan membawa bocil-bocil.

Rencana untuk pergi ke Jepang di-inisiasi sejak akhir 2022. Keinginan sih pergi di musim semi pas Sakura full bloom. Tapi apa daya, jadwal sakura bertepatan dengan minggu pertengahan puasa. Karena rencana kali ini mau ngajakin anak-anak juga, jadi ya terpaksa merelakan ngga dapat sakura tapi coba cari opportunity untuk ke sana di late spring, sekitar awal Mei. Agak sedih juga sih ngga bisa ikut lihat sakura pertama setelah reopening Covid. Persiapan keberangkatan kita lakukan sejak bulan Februari dengan ngurus visa. Jadi kami berempat (saya, istri dan anak-anak) sebetulnya sudah punya e-paspor, tapi karena ibu mertua saya akan ikut dan paspor nya masih paspor biasa, jadi perlu urus visa biasa.

Sebagai informasi, pengurusan waiver untuk e-paspor sebetulnya bisa dilakukan sendiri secara online dengan lakukan langkah-langkah kayak di website ini. Biayanya Rp 150rb, tapi ya untuk pengambilannya musti ambil sendiri ke Jakarta. Nah karena saya males ngurus sendiri, akhirnya minta travel agent buat ngurusin. Seorang kena Rp 350rb. Untuk non e-paspor (visa biasa), sekarang kena Rp 1.2 juta via agen. Bedanya jauh banget ya. Makanya saat ini punya e-paspor adalah wajib hehe.

Saya dan istri cari referensi juga tentang spot-spot menarik di Jepang selama late spring ini, ternyata dari hasil penelusuran beberapa minggu, late spring ini waktunya festival bunga-bunga bermekaran karena peralihan dari musim semi menuju musim panas. Jadi tujuan utama kita adalah ke 2 kota yang ada festival bunga nya: Shin Fuji dan Oyama, dan 2 kota sekitarnya yaitu Nagoya dan Kyoto, plus tentunya Tokyo sebagai destinasi utama.

Untuk tiket pesawat sendiri, karena sebelumnya saya pernah ke Jepang naik Garuda dan Japan Airlines, kali ini mau nyobain naik ANA (All Nippon Airways). Memang ANA ini harga tiketnya rada-rada mahal tapi lumayan lah daripada penasaran. Setelah ngecek-ngecek berbagai online ticket apps, tiket termurah ANA adalah tujuan CGK-NRT dengan keberangkatan dari CGK pagi, yang pastinya ramah anak, dan kepulangan sore dari Tokyo dan tiba tengah malam di CGK (kurang ramah anak). Total harga tiket yang saya dapat adalah Rp 12 juta PP per orang.

Impresi pertama naik ANA: legroom lebar seperti Garuda dan JAL, inflight entertainment relatif lebih bagus dari Garuda dan JAL, pesawat B787 Dreamliner yang jendelanya bisa digelapin (hehehe). Tapi dari sisi makanan, menurut saya masih lebih baik Garuda dan JAL deh, ANA ini makanannya agak hambar dan kurang variatif. Tapi overall OK lah karena beberapa menu bisa dimakan anak-anak kayak sosis, roti, dll. Sebelum boarding juga istri sempat beli ayam Burger King jaga-jaga kalau makanan di pesawat gak bisa dimakan anak-anak.

Untuk jadwal flight sendiri, baik ANA atau JAL, punya jadwal 2 kali sehari yaitu tengah malam dan pagi-pagi. Dua-duanya ada plus minusnya. Tapi menurut saya, kalau bawa anak kecil di bawah 10 tahun, jadwal paling ramah adalah berangkat pagi agar pas landing di Tokyo sore, kondisi kita masih seger. Kalau kita ambil flight tengah malam, kemungkinan begitu landing di Tokyo, kondisi badan udah ga karuan karena kurang tidur dan mungkin anak-anak akan rewel.

Sebelum keberangkatan ke Jepang, sebetulnya sudah ada informasi yang beredar kalau JR pass akan naik harga di Oktober 2023. Jadi harga JR Pass Ordinary Car yang sebelumnya Rp 3.6 juta untuk 7 hari, akan naik hampir 2 kali lipat di Oktober 2023. Nah, karena tujuan kami nanti lebih dari 3 kota, maka berdasarkan rule of thumb, beli JR Pass adalah wajib. Berhubung harganya akan naik, maka saya putuskan untuk coba beli yang kelas Green Car alias eksekutif class. Dari pengalaman saya ke Jepang sebelumnya, JR pass ini selain untuk shinkansen, useful sekali jika dipakai di Tokyo karena mayoritas tujuan wisata di Tokyo sudah di-cover kereta JR.

Nah yang beda dari JR Pass kali ini dibanding terakhir saya ke Jepang beli JR pass tahun 2018, adalah sekarang sudah menggunakan QR code yang mana akan discan melalui tiket gate. Kalau dulu kan disediakan pintu “bypass” ke ruangan petugas yang mana pemegang JR pass harus menunjukkan JR Pass ke petugas jika ingin naik kereta JR. Lumayan lah sekarang udah ada kemajuan hehe.

Setelah berdiskusi panjang dengan istri, akhirnya kami putuskan rute perjalanan kami ke Jepang kali ini adalah: Nabana no Sato (lagi), Kyoto Railway Museum, Fuji Shibazakura, Ashikaga Flower Park, Shibuya Sky Tower, dan TeamLab Tokyo. Semua tempat tujuan ini akan ditempuh dalam waktu 8 hari 7 malam di Jepang dari 29 April sampai 7 Mei.

Sesampainya di Narita, hal yang pertama dilakukan tentu saja ambil pocket wifi. Pocket wifi atau sim card udah sangat wajib disewa/dibeli kalau bepergian ke LN. Harga sewa sekarang untuk 8 hari saya dapat sekitar Rp 700rb. Satu pocket wifi bisa terhubung ke 5 device dan karena kami terdiri dari 3 orang dewasa dan 2 anak, maka saya putuskan beli SIM Card juga. Hebatnya, sekarang SIM card jepang dijual di Indonesia dengan harga murah. Saya beli untuk 30GB harga Rp 80rb aja via toko ijo. Barang dikirim ke alamat Indonesia, nanti diaktivasi begitu nyampe di Jepang.

Seperti biasa, karena mendarat di Narita, hal pertama yang perlu dilakukan setelah ambil pocket wifi adalah mengantre untuk tukar voucher JR Pass dan dapat kursi Narita Express (NEX). Oia, dari bandara NRT ke pusat kota Tokyo sebetulnya ada 3 cara: cara tercepat adalah NEX, kalau kita beli JR Pass, maka akan include dengan tiket one way NEX. Cara kedua adalah dengan Keisei Line (KRL), yang murah tapi sedikit lebih lama dari NEX. Tapi perlu hati-hari karena Keisei line ini ada 2 tipe kereta yaitu local (yang berhenti di semua stasiun) dan rapid yang hanya berhenti di beberapa stasiun. Cara ketiga adalah dengan bus yang lebih murah dengan tujuan Ginza dan Tokyo Station. Bus sangat ramah kalau kita bawa barang/koper banyak dan males mobilisasi/pindah-pindah kereta. Nah, bus ini saya pakai pas perjalanan saya pulang karena lokasi menginap memang sangat dekat dengan Tokyo Station.

Oia, perlu diingat juga, di awal Mei di Jepang itu disebut Golden Week, semua orang libur dari Kamis-Minggu, makanya tiap Golden Week, semua manga scanlation itu pada libur kan? hehe. Dari testimoni yang saya dapat di internet, ekspektasi ke Jepang pas Golden Week adalah tempat wisata penuh dan crowded di mana-mana hehe.

Karena saya bawa 1 toddler umur 3 tahun dan 1 anak umur 7 tahun, maka barang bawaan kami coba pangkas seminimal mungkin dengan strategi setiap hari mencuci baju di laundry coin. Jadi total kami bawa 3 koper ukuran sedang, 1 stroller lipat dan 1 trike seperti ini. Idealnya setiap jalan, trike ini hanya sebagai emergency aja kalau salah satu anak mulai ngeluh pegel karena jalan jauh. Sedangkan stroller lipat dibawa untuk anak tidur siang mengingat kami akan pindah-pindah beberapa kota setiap 2 hari.

Jangan lupa juga untuk beli IC Card (Suica/Pasmo) di counter JR supaya kita bisa naik bus dan layanan kereta non JR selama di Jepang. harga Suica pas saya datang kemarin adalah 500 Yen yang non refundable dan ini bisa dikategorikan sebagai Adult dan Child. Nanti otomatis untuk yang child (anak 5-12 tahun) tarifnya hanya berlaku setengahnya.

Karena kami baru landing pukul 3 sore, ditambah imigrasi dan ngantri JR pass, jadi kami baru naik NEX pukul 6.30 dan tiba di Tokyo Station sekitar jam 7 malam. Dan karena saya beli JR pass green card, maka ketika naik NEX juga dapat Green Car yang lebih luas. dan sepanjang jalan cuma kami doang yang ada di gerbong itu.

Begitu tiba Tokyo Station, hal yang pertama dilakukan adalah book semua tiket shinkansen sesuai timeline perjalanan yang udah kita buat. Ini penting banget karena dari tips and trick yang saya dapat di Youtube, sangat disarankan buat book tiket shinkansen jauh-jauh hari menjelang Golden Week. Jadi tiket shinkansen itu bisa dibeli untuk keberangkatan 2 minggu ke depan. Nah, bermodalkan nyimak Youtube, saya coba praktekan cara pesen tiket Shinkansen dari vending machine nya.

Hanya 1 saja tiket shinkansen yang kami nggak dapat, yaitu buat perjalanan dari Tokyo ke Oyama. Sebagai alternatif kami diarahkan naik kereta JR yang berdurasi 60 menit dan transit 1 stasiun di Omiya. Selebihnya Alhamdulillah dapat walau sudah sisa dikit.

Setelah hunting tiket shinkansen, kami menuju hotel dengan terlebih dahulu mampir 7-Eleven untuk cari makan malam. Sengaja kami cari hotel yang dekat dengan Tokyo Station dan kami jadikan “basecamp”. Jadi, saya book 1 kamar single bed selama 8 malam sekaligus yang nanti akan dipakai untuk tempat “taruh koper” pas kita keliling keluar Tokyo. Sedangkan 1 kamar lagi di book sesuai jadwal kedatangan ke Tokyo. Harapannya kita ngga ribet mobilisasi karena setiap keluar dari Tokyo hanya akan bawa 1 koper saja. Setelah browsing-browsing, kami pilih Sotetsu Fresa Inn Tokyo Kyobashi yang jaraknya 50 m dari pintu masuk Kyobashi Station (Tokyo Metro) dan 500m dari JR Tokyo Station. Rate nya sekitar 1 juta per malam dan worth it lah walau kamarnya ngga terlalu besar. Toh hanya dipakai untuk numpang tidur aja.

Dan di perjalanan kali ini, saya baru menyadari bahwa di Jepang saat ini sudah sangat muslim friendly dari sisi makanan. Selain sudah banyaknya restoran yang halal certified dan muslim friendly, untuk makanan low budget pun kita bisa dapatkan dengan cukup mudah di jaringan minimarket seperti 7-Eleven dan Family Mart. Produk-produk makanan minuman halal dan muslim friendly sekarang sudah bisa dilihat informasinya di sini. Lumayan banyak makanan yang sekarang bisa kita beli di 7-Eleven untuk menghemat budget. Trik saya untuk perjalanan ke Jepang kali ini adalah membawa bekal abon, sambal goreng kering kentang dan serundeng kering. Jadi untuk darurat, di 7-Eleven tinggal beli salted rice ball (yang sudah pasti halal) atau onigiri tuna mayo. Pilihan untuk anak-anak juga banyak kayak salmon matang, roti non daging (melon pan yang favorit), dan semua susu sudah bisa dikonsumsi.

Karena sampai di hotel sudah jam 8 malam, kami memutuskan untuk istirahat dan persiapkan keberangkatan besok pagi ke Nagoya. Kami ambil kereta pukul 6.40 pagi supaya bisa sampe di Nagoya sekitar jam 7.30 dan langsung menuju destinasi pertama yaitu Nagoya Science Museum. Dikarenakan pagi itu hari Minggu, maka di lingkungan sekitar hotel (Kyobashi sampai JR Tokyo Station) sepi. Bisa dimaklumi karena ini kawasan bisnis/perkantoran. Dan karena ambil kereta paling pagi, maka suasana di stasiun shinkansen pun sepi jadi bocil-bocil bisa pada tidur nyenyak.

Sedikit tips kalau datang ke JR Tokyo Station. Jangan dikira stasiun ini sebesar stasiun Manggarai atau stasiun Bandung ya. Ini tuh berlipat-lipat lebih besar dan bisa buat first timer nyasar. Jadi dia ada 2 pintu entrance/exit.Yang pertama adalah Marunochi exit. Ini tuh gedung ikonik bata merah yang pernah diangkat jadi salah satu film Detective Conan. Nanti saya share pengalaman foto-foto di sana di post yang lain. Marunochi ini pintu masuk/keluar penumpang Tokyo Metro (subway). Nah yang kedua adalah Yaesu Exit. Ini pintu keluar persis di sebrang terminal bus Yaesu dan mayoritas digunakan untuk penumpang JR termasuk Shinkansen. Jadi kalau ke sini jangan sampai nyasar ya. Apalagi pakai kereta pagi dan bawa anak-anak. Oia, kalau kita masuk dari pintu Marunochi dan keluar di Yaesu atau sebaliknya, pas tapping IC card, kita bakal kena charge ya sekitar 100 Yen. Jadi hati-hati aja.

Pertama kali naik green car memang berbeda dengan kelas ordinary. Seat ordinary dibuat 3-2 kanan kiri sedangkan seat Green car dibuat 2-2. Karena ini kereta kedua yang berangkat dari Tokyo ke Shin-Osaka, maka di dalemnya pun kosong sampe bocil bisa selonjoran kayak begini hehe. Seperti yang sudah pernah saya tulis dulu, dari Tokyo ke Shin-Osaka itu akan melalui beberapa kota besar seperti Shizuoka, Nagoya, dan Kyoto. Pemegang JR Pass sendiri, khusus untuk JR Tohoku, hanya bisa naik kereta Nozomi (Express) dan Kodama (yang berhenti di semua stasiun). Jadi musti cari-cari info dulu tentang kota tujuan kita, jadwal keberangkatan kereta dan tipe keretanya. Di google atau youtube udah banyak kok informasinya.

Begitu menginjakkan kaki di Stasiun Nagoya, agak kaget juga karena stasiunnya penuh bukan main. Mungkin karena hari Minggu dan persiapan Golden Week kali ya. Karena waktu masih jam 9 pagi, dan Nagoya Science Museum buka pukul 10, kami pun belum bisa check-in di hotel. Sehingga tips berikutnya kalau menghadapi kondisi seperti ini adalah segera cari coin locker room di stasiun (letaknya tersebar) dan kita harus pinter-pinter lihat tanda petunjuk lokasinya. Habis itu cari locker kosong (biasanya yang tanda lampunya hijau), lalu siapkan uang coin 100 Yen atau bisa juga bayar pakai IC card. Penyewaan loker ini agak tricky karena semuanya pakai mesin. Better cek dulu cara penggunaannya di youtube ini biar ngga gaptek hehe.

Keluar dari Stasiun Shinkansen Nagoya, kita langsung menuju Nagoya Metro, nah di sini JR pass udah ngga bisa dipake. Sebagai gantinya kita musti pakai IC Card (suica). Antrian di stasiun subway nya juga padat. Tapi anehnya begitu keluar subway, tiba-tiba suasana di jalan jadi sepi.

Begitu tiba di science museum, antrian udah mengular padahal jadwal buka masih sekitar setengah jam lagi. Sebetulnya tujuan kami ke sana itu selain mau lihat museum science nya, juga mau lihat planetarium dome nya dan ikut nonton pertunjukkan/show nya yang durasinya sekitar 35 menit. Tapi begitu masuk antrian dan sampai depan counter, ternyata sisa kursi untuk next show pukul 11 itu hanya 8 dan itu pun mencar-mencar. Ditambah lagi dari penjelasan CS nya, tayangan show di planetarium semua dalam bahasa Jepang dan kebanyakan non-Japanese akan bosan nontonnya. Akhirnya kami putuskan untuk keliling-keliling di museumnya aja tanpa ke planetariumnya. Kecewa sih tapi ya mau gimana lagi.

Harga tiket untuk museum nya aja sekitar 400 Yen per orang. Anak di bawah 5 tahun gratis. Kalau mau include planetarium, HTM nya sekitar 800 Yen. Cukup terjangkau lah ya. Ada apa aja sih di dalamnya? Museumnya terdiri dari 6 lantai dan tiap lantai ada tema-temanya gitu kayak eksperimen Fisika (suara, air, listrik, angin), dinosaurus, perlengkapan rumah, mesin, elektronik, antariksa, transportasi, dll. Anak-anak juga bisa nyoba menggerakkan alat-alatnya dan praktek. Karena tempatnya crowded, jadi ya musti gantian. Tapi overall anak-anak pasti suka. Tips kalau ke sini sepertinya harus spare waktu 3-4 jam supaya bisa eksplor maksimal. Karena kami hanya 2 jam di sini, jadi kesannya buru-buru.

Photo dump dikit ya

Destinasi berikutnya adalah menuju hotel dengan mencari makan dulu di jalan pulang. Kalau tahun 2018 saya makan siang di resto Indonesia di Nagoya yaitu Bulan Bali, kali ini kami cari resto yang sekalian jalan pulang ke hotel. Pilihan jatuh ke Osu Mega Kebab. Salah satu kebab stall di Nagoya yang muslim owned. Seperti yang pernah saya bilang, di Jepang itu sekarang udah gampang cari makan. Kalau bosen makan di 7-Eleven, kita bisa eksplor resto kebab atau resto india yang jual menu vegetarian karena hampir semua aman dikonsumsi. Dulu di tahun 2018 saat belum banyak informasi makanan ramah muslim di Sevel, saya pun hampir tiap hari makan kebab hehe.

Di Mega Osu Kebab dan juga stall kebab lain di Jepang, hampir dipastikan para penjualnya fasih bahasa Indonesia dasar. Seperti menyebut harga, menyebut daging ayam atau sapi, dll. Bisa dimaklumi sih karena mayoritas pembeli mereka pasti turis-turis muslim asal Malay atau Indo ehehe. Kebab di Jepang itu relatif mahal, per menu nya sekitar 500 – 800 Yen, kalau di rupiahkan ya sekitar 70-100 rb rupiah lah. Tapi porsi agak banyak. Dan jadi variasi makanan juga kalau bosen sama makanan Sevel.

Untuk hotel di Nagoya, saya putuskan nginap di The Strings Hotel, jaraknya kira-kira jalan kaki 10 menit dari JR Nagoya Station. Hotelnya bagus, dia punya 1 kamar yang muat 5 orang dewasa. Rate nya pas saya beli dulu sekitar 1.4 juta IDR saja. Kamarnya luas, punya 2 kasur queen dan 1 kasur single seperti ini. Toilet nya juga modern. Tapi rata-rata ya semua toilet di Jepang memang canggih gini sih ya. Dan enaknya hotel ini juga dekat dengan Sevel/Famili Mart, Mc Donalds, dan ada pemandangan jalur kereta dari stasiun Nagoya.

Di Hotel, kami cuma transit sekitar 2 jam saja karena sore hari nya akan mengunjungi destinasi berikutnya yaitu Nabana No Sato. Kali kedua berkunjung ke Nabana No Sato karena istri ingin ngajak ibu mertua dan anak-anak buat liat winter illumination di sana. Sebagai persiapan terutama untuk anak-anak makan malam, kami belanja dulu di Sevel untuk cari rice ball, onigiri, roti dan snack yang bisa dimakan untuk dibawa ke sana. Karena sudah kali kedua ke sana, jadi rute nya sudah kami hapalkan. Untuk ke sana, kita bisa naik kereta dengan 2 opsi, yaitu opsi JR line dan opsi Kintetsu line. JR line sedikit lebih jauh dan keretanya lebih jarang. Tapi gratis karena bisa pakai JR pass. Kalau kintetsu line, keberangkatan lebih sering dan lebih dekat stasiunnya tapi bayar lagi. Kami putuskan pakai Kintetsu karena waktu pertama kali ke Nabana No Sato saya pakai JR line.

Perjalanan ke sana dari Stasiun Nagoya kira-kira sekitar 25 menit. Pas turun di stasiunnya kita musti nyambung lagi dengan bus yang disediakan pemerintah lokal setempat. Tarif busnya 100 Yen dan keberangkatan setiap 30 menit. Lama perjalanan dari stasiun kereta ke Nabana no Sato adalah 15 menit dengan keberangkatan terakhir jam 21.30.

Karena terakhir ke Nabana no Sato di 2018 adalah bulan Oktober, kali ini ada yang berbeda, pertama harga tiket yang makin mahal. Dulu perasaan masih 1200 Yen, tau-tau sekarang udah 2000 Yen per orang tapi udah termasuk voucher makan 500 Yen di beberapa resto. Masalahnya, ngga ada resto yang ramah muslim juga di sini, kecuali mungkin beberapa makanan hangat kayak red bean paste dan ocha.

Sedikit tips ke Nabana no Sato selain bawa bekal makan dari kota: kalau musim semi, berangkatlah dari Nagoya jam 4 sore karena matahari terbenam lebih lambat. Kira-kira hikari no toneru (light tunnel) nya dinyalakan sekitar jam 18.30. Tapi kalau autumn, datanglah lebih awal karena biasanya tunnel nya dinyalakan jam 6 sore. Jangan lewatkan juga Begonia garden (tiket include) sebelum lihat tunnel nya. Durasi di Begonia garden ini bisa 30-45 menit tergantung banyak atau ngga nya spot foto yang kita ambil. Jangan lupa bawa jaket tebal juga karena di sini anginnya kenceng dan dingin banget.

Spot foto paling bagus di Begonia garden:

Spot foto lainnya:

Jangan lupa untuk ikut countdown saat tunnelnya mulai dinyalakan:

Dulu pas 2018 ke Hikari no Toneru hanya berdua, sekarang udah berempat hehe

Di bagian dalam terowongan ini setiap tahun suka ada laser dan LED show yang ganti-ganti. untuk tahun ini sepertinya tema nya pirates:

Di sini juga kita bisa minum minuman hangat dari vending machine, tp hati-hati juga karena ngga semua ternyata bisa diminum. Coba pakai QR code google translate aja buat mastikan ngga ada yg haram di kandungan minumannya ya.

Duduk di paviliunnya ini bener-bener dingin. kami hanya tahan 10 menit aja saking dinginnya. Akhirnya memutuskan jalan pulang sambil foto-foto lagi sebelum pulang.

Selain hikari no toneru dan begonia garden, di nabana no sato ini ada juga wahana semacam observatory deck yang bisa naik tinggi dan kita bisa ambil foto dari atas. Sayangnya, 2 kali ke sini saya ngga sempat naik karena waktu dan juga mahal ehehe. Ini foto observatory deck nya.

Pulangnya sendiri kami pakai rute yang sama yaitu pakai shuttle bus ke stasiun kereta Nabana no Sato. Sebetulnya ada beberapa moda transportasi lagi seperti bus yang rutenya langsung Nabana no Sato-Nagoya Station. Silakan eksplor sendiri ya kalau tertarik pakai bus. Lebih simple, tp lebih mahal dan agak lama.

Penampakan Stasiun kereta Nabana No sato pas pulang.

Sesampainya di stasiun Nagoya, saya beli perbekalan buat sarapan dulu lalu kembali ke hotel buat istirahat. Dan pastinya nyuci baju hehe.

Sebagai informasi, nyaris di semua hotel di Jepang ternyata ada laundry coin nya ya. Sekali laundry kira-kira 300 Yen, dan pengeringnya sekitar 400 Yen. jadi sekali nyuci bisa habis 700 Yen. Sedikit lebih mahal dari laundry coin di luar tapi lebih simple dan ngga capek. Tipsnya adalah nyuci nya lebih baik malam sekalian atau pagi-pagi banget supaya ngga ngantri dengan pengunjung hotel yang lain. Resepsionis juga menyediakan penukaran koin 100 Yen. jadi ngga usah khawatir ga ada receh hehe.

Sekian part 1 kali ini, part 2 nanti akan lanjut menuju Kyoto untuk mampir sebentar ke Kyoto Railway Museum dan lanjut ke Shin Fuji buat naik gunung Fuji hehehe.

Short Trip (Escape) to Bangkok

Sebetulnya trip ke Bangkok ini udah saya lakukan di pertengahan Desember 2022 lalu namun baru sempat menulis di blog hari ini karena kesibukan dan lain-lain. Jadi ceritanya, sekitaran bulan Agustus 2022, istri saya yang seorang fans berat Final Fantasy series, mengajak untuk nonton konser musik original soundtrack dari game franchise Final Fantasy di Bangkok. Konsernya sendiri sebetulnya diadakan di 17-18 Desember 2022. Jadi masih ada sekitar 4 bulan lagi dari Agustus. Dan berhubung situasi pandemi sudah mulai mereda dan Bangkok sudah mulai melonggarkan persyaratan masuk, akhirnya kita beranikan lah beli tiket online untuk konsernya.

Harga tiketnya sekitar 3,400 THB atau kalau dirupiahkan sekitar 1.5 juta untuk kelas non VIP. Setelah beli tiket konser, kita ngga langsung beli tiket pesawat karena masih bingung mau ngajak anak-anak atau nggak dan apakah saya bisa ajukan cuti atau ngga di pertengahan Desember itu.

Dari Agustus-Oktober, saya sibuk jelajahi Vlog yutuber-yutuber yang sudah mengunjungi Bangkok. Dari sekian banyak video yang saya tonton, kesimpulannya, masuk Bangkok sejak September 2022 sudah ngga perlu lagi antigen/PCR namun hanya cukup tunjukkan sertifikat vaksin saja. Singkat cerita, di bulan Oktober akhirnya kami memutuskan untuk pergi berdua saja dan meninggalkan anak-anak di rumah kakek-neneknya karena anak saya yang besar masih sekolah dan Bangkok bukan kota yang ramah untuk jalan-jalan dengan anak kalau lihat banyak video di youtube.

Tiket pun sudah dibeli. Saya memutuskan berangkat hari Jumat 16 Desember sore, pukul 16.30 dengan Air Asia rute CGK-DMK dan pulang di hari Senin 20 Desember pukul 15.30 dengan Thai Ariways rute BKK-CGK. Ini perjalanan perdana ke Bangkok jadi cukup deg-degan juga dan karena saya hanya bisa cuti satu hari saja, jadi agenda utamanya hanya untuk nonton konser ini di Sabtu tanggal 17 Desember nya. Jadi kami punya 1 hari (minggu 18 Desember) untuk explore Bangkok dalam sehari.

Singkat cerita di hari keberangkatan, saya sempat Work From Anywhere (WFA) dari lounge di Bandara CGK karena masih ada meeting pukul 14.30 nya. Sejak Kamis malam saya sudah di hotel bandara dan WFA dari jumat pagi sampai selepas solat jumat. Istri berangkat dari Bandung pukul 9 dan sampai di bandara pukul 13 WIB.

Perjalanan ke DMK (Don Meuang Airport) Bangkok dengan air asia cukup smooth. Karena pesawatnya kecil (A320) jadi ada turbulensi sangat terasa. Untungnya di Air Asia ini disajikan makan minum walau berbayar, jadi lumayan lah daripada diem aja selama 3 jam perjalanan. Sampai di DMK kira-kira pukul 19.30 WIB, dan dari info yang saya dapat, transport dari DMK ke kota yang tercepat adalah dengan taksi, bisa nyegat langsung atau pakai JustGrab di depan Terminal kedatangan. DMK sendiri kalau dilihat-lihat mirip KLCC (bandara air asia nya Kuala Lumpur jaman dulu) atau Halim jaman dulu, khusus terminal low cost budget jadi kondisi Airportnya sendiri ya ala kadarnya hehe. Tapi Airport ini letaknya lebih dekat ke kota dibanding Survanabhumi (BKK).

Naik taksi dari DMK ke Hotel (kami menginap di hotel Ibis Sathorn) https://all.accor.com/hotel/6537/index.id.shtml yang letaknya di daerah Shukumvit, tepatnya di Lumphini. Alasan menginap di sini karena area ini termasuk tengah kota dan dekat dengan MRT station Lumphini. Sebetulnya di area ini cukup banyak hotel dan salah satunya ada Malaysia Hotel, mungkin dinamakan begitu karena yang punya orang Malaysia. Perjalanan dengan taksi dari DMK ke Ibis Sathorn sekitar 30 menit dengan biaya 200 THB dengan bayar tol 50 THB.

Menginap di Ibis per malam sekitar 450rb rupiah, jadi harga hotel di Bangkok menurut saya lebih murah sedikit dari hotel-hotel di Jakarta. Roomnya cozy, cukup luas, namun kelemahannya ya TV nya hanya TV lokal aja hehe, dan juga laundry nya mahal. Tapi worth it lah karena ngga jauh dari hotel ada laundry coin yang nanti akan saya ceritakan.

Sesampainya di hotel sudah pukul 21.00 dan persis depan hotel ada 7Eleven. 7Eleven ini kalau di Bangkok udah kayak Indomaret-Alfamart. Di setiap belokan jalan pasti ada tokonya hehe. Sehabis mampir sebentar beli makanan halal. kami langsung check-in dan istirahat di kamar karena sudah lelah di jalan.

Keesokan paginya, sekitar pukul 5.30 pagi. Setelah searching di google, dekat hotel sekitar 600m ada laundry coin yang kalau dilihat fasilitasnya cukup lengkap.

Jalanan menuju ke laundry coin nya persis kayak di gang-gang di Jakarta. Cuma bedanya lebih bersih aja. Sepanjang jalan, yang dilihat kalau nggak Guest House, bar, dan tempat Spa/Thai Massage karena memang area ini banyak hotel dan area turis juga. Dan seperti biasa, di setiap belokan pasti selalu ada 7Eleven guys hehe.

Pemandangan umum di jalanan bangkok. Setiap belokan ada Sevel
Ada orang jualan sarapan juga

Laundry coin di sini persis seperti di Singapur, buka 24 jam, banyak CCTV, ada mesin penukaran koin, dan bedanya lagi di sini ada mesin kopi dan beli detergen sendiri. Harga laundry cuci ditentukan dengan tipe detergen, detergen saja harga 5 THB, detergen pakai pewangi harga 10THB. Lalu per 10 menit mencuci harganya 40 THB untuk air dingin dan 50THB untuk air hangat di mesin cuci yang ukuran 10kg. Jadi total sekali cuci habis 55-60 THB atau sekitar 30rb. Kemudian untuk drier nya sendiri harga per 30 menit adalah 50 THB untuk high temperature, dan 40 THB untuk medium temperature. Waktu untuk melaundry kira-kira sekitar 45-60 menit.

Sambil menunggu laundry selesai, kami mampir ke Sevel dulu untuk beli sarapan. Oia, di Thailand, kalau mau cari makan halal, cukup mudah. Sama seperti di Singapur, jenis kehalalan nya ada 3: 1. Halal certified, bisa dilihat dari logo di setiap kemasan makanan atau restoran, 2. muslim owned, yang tipe ini banyak di food court di mall atau di warung pinggir jalan seluruh Bangkok, dan 3. vegan/vegetarian food. Di Sevel sendiri, cukup banyak makanan dengan logo halal, semisal Thai Chicken Rice, sandwich, dan nasi goreng yang letaknya di mesin pendingin. Kemudian di Sevel juga jualan buah-buahan dan salad yang aman dimakan. Minuman-minuman kemasan kayak susu, eskrim dan teh juga udah halal certified semua. Cuma kekurangannya cuma satu, microwave untuk manasin makanannya masih sharing dan ada potensi kecampur sama bekas manasin makanan non halal.

Tipikal sarapan halal di Sevel

Oia, harga di Sevel nya pun masih lebih affordable ketimbang Sevel di Singapur ya. Mungkin karena perbedaan kurs juga. Sekali belanja makanan dan cemilan, habis sekitar 200 THB atau sekitar 100rb rupiah maksimal. Yang uniknya, di sana pun setiap pagi ada tukang sayur yang keliling naik motor supra dan juga ada orang jualan sarapan kayak nasi, ayam dan makanan lain di pinggir jalan dan depan rumahnya pakai tenda. Bener-bener tumplek persis kayak di Indonesia.

Keunikan lain di Bangkok adalah di sini ada juga Ojol (Grab) dan di tiap gang ada ojek pangkalan yang ciri khasnya memakai rompi proyek warna oren. Awalnya saya dan istri nyangka orang-orang yang pake rompi oren ini pekerja konstruksi. Eh ternyata opang dong hehe.

Setelah cuci baju dan kembali ke hotel, agenda pertama hari Sabtu pagi ini adalah jalan-jalan ke Chatuchak Market, sekalian beli oleh-oleh. Chatuchak adalah weekend market (pasar kaget) terbesar di Asia Tenggara. Adanya hanya dari hari Jumat sore sampai malam, dan Sabtu-Minggu dari pagi sampai malam. Untuk pergi ke Chatuchak, dari hotel kami jalan kaki ke stasiun MRT Lumphini kurang lebih 700m. Ada yang unik juga di MRT Bangkok. Ticketing nya persis kayak LRT di Kuala Lumpur, ngga pake kertas/kartu kayak di SG atau Tokyo, dia pakai token semacam koin plastik gitu.

Harga tiketnya pun nggak bisa dibilang murah juga sih. Dari Lumphini ke Chatuchak sekitar 13 stasiun sekitar 48 THB seorang atau 20 ribu rupiah. Ya mirip-mirip MRT Jakarta lah ya. MRT Bangkok ini buatan Siemens jadi kereta nya mungkin lebih bagus, dan stasiunnya pun moderen. Tapi entah karena kita kepagian atau gmn stasiun MRT nya terlihat sepi. Mungkin rute nya masih sedikit kali ya mengingat baru ada 1 koridor aja kayak di Jakarta. Dari Lumphini, kita turun di stasiun MRT Kamphaeng Phet (namanya unik-unik) dan keluar dari stasiun MRT langsung sampai di pintu terluar pasar Chatuchak.

Berhubung hari masih jam 9 pagi, belum semua lapak di sana udah buka. Kebanyakan masih beres-beres dan persiapan buka. Tapi dari yang saya lihat, area Chatuchak ini gede nya ampun dah. Mungkin seharian keliling di sini aja nggak cukup kali ya. Mirip Cimol Gedebage dengan luas puluhan kali lipat dong. Dan bedanya tertata rapi dan bersih lah. Aneh bener karena sesama Asia Tenggara tapi Bangkok ini bisa rapi dan bersih gini.

Pemandangan Sabtu pagi di Chatuchak
Food stall di Chatuchak

Agenda ke Chatuchak ini apalagi kalau bukan cari kaos bergambar Thailand, tas bergambar Thailand, mainan Tuk-tuk, gantungan kunci, dan mencicipi Mango Sticky Rice di salah satu lapak makanan di sini. Di Chatuchak ini ada beberapa spot makanan muslim owned juga, salah satunya adalah Saman Islam, penjual Pad Thai dan nasi biryani ini. Yang masak ibu-ibu menggunakan hijab dan banyak juga orang-orang Indonesia/Malaysia yang makan di lapak ini. Harga per menu nya sekitar 100 THB (50 ribuan) dan Pad Thai nya enak menurut saya.

Mango Sticky rice di Chatuchak harga 30 THB atau 15 Ribu IDR

Setelah beli oleh-oleh dan makan berat dan mencicipi mango sticky rice, kami pun kembali ke hotel untuk mandi dan siap-siap menuju ke tempat konser setelah zuhur. Tempat konsernya ada di Mahidol University, salah satu universitas terkenal di pinggir Bangkok, walau letaknya di luar Bangkok sih sebenernya. Konsernya sendiri dimulai pukul 16.00 dan setelah browsing-browsing berkali-kali, moda transportasi tercepat ke sana hanyalah dengan Taksi/Grab sekitar 40 menit dan biayanya sekitar 300THB (150 ribu rupiah). Alternatif lain adalah menggunakan kereta antar kota yang lebih murah tapi durasinya nyaris 1.5 jam lamanya.

Perjalanan dari hotel ke Mahidol University juga lumayan lancar. Jalanan di Bangkok lebar-lebar dan tertata lebih rapi ketimbang Jakarta. Ada beberapa titik macet tapi nggak banyak dan perjalanan kami tempuh sekitar 45 menit sampai ke depan Prince Mahidol Hall. Sesampai di venue konser, kami langsung tukar tiket. Karena waktu masih pukul 14.30 masih ada beberapa jam lagi sampai gate dibuka. Sambil nunggu, kita duduk2 dulu dan ngobrol sebentar dengan beberapa orang Indonesia yang ada di sana, nggak lupa, istri foto dengan beberapa cosplayer karena cukup banyak juga yang pakai cosplay di sini.

Jam 15.15 venue dibuka dan penonton sudah boleh masuk, venue nya megah, benar-benar cocok untuk tempat konser. Kami duduk di area tengah di sayap kanan. 5 menit sebelum konser dimulai, semua kursi sudah terisi penuh. Ini juga pertama kalinya saya nonton konser orkestra begini. Durasi konsernya sekitar 2 jam dan kita disuguhi alunan musik yang indah dan enerjik dari composernya sendiri yang orang Kanada. Banyak special guest juga di konser ini termasuk creator dan composer OST Final Fantasi yang datang langsung dari Jepang dan beberapa penyanyi Jepang yang mengisi vokal di OST nya. Bener-bener pengalaman konser yang sangat mantap lah.

Venue saat konser belum dimulai
Ketika konser dimulai

Konser selesai pukul 18.30 dan seperti sudah diprediksi orang-orang serentak keluar di waktu yang sama, dan akibatnya adalah semua taksi dan Grab full booked dong. Setelah menunggu selama 30 menit akhirnya kami dapat Grab Taxi dengan harga sekitar 400 THB (200rb) dengan tujuan ke Asiatique The Riverfront Bangkok. Karena tujuan kami ke sini untuk makan di food court halalnya sambil menikmati pinggiran sungai Chao Praya. Perjalanan ke Asiatique sekitar 45 menit dan seperti sudah ditebak, malam minggu, Bangkok macet di area-area wisata. karena macet pula kami jalan kaki beberapa ratus meter sebelum sampai di pintu Asiatique. Tapi seperti diduga, ternyata sampai di sana zonk dong. Foodcourt yang dituju ternyata tutup karena renovasi. Akhirnya di Asiatique cuma foto-foto sambil liatin crowd yang kebanyakan nongkrong di bar buat minum-minum dan hangout.

Asiatique, tempat tourist hotspot di Bangkok di pinggir sungai Chao Praya

Sebelum sampai di Asiatique, sebetulnya saya sempat lihat lapak-lapak makan pinggir jalan yang jualannya ibu-ibu berhijab dan lokasinya ngga jauh dari Mesjid yang ada di area sini. Daripada kelaparan, akhirnya kami memutuskan makan di lapak Pad Thai dan nasi goreng tersebut. Lumayan, pesan pad thai dan nasi goreng sekitar 150 THB (60 ribu rupiah) berdua. Sama ibu-ibunya juga diajak ngobrol dan ternyata mereka ini orang Thailand selatan yang kebanyakan populasi nya muslim karena pengaruh tetanggaan dengan Malaysia. Setelah makan, kami pesan Grab dan pulang ke Hotel.

Makan pad thai di pinggir jalan dekat Asiatique

Keesokan paginya di hari Minggu, setelah laundry dan sarapan, kami memutusan untuk pergi ke landmark di Bangkok seperti Grand Palace, Wat Pho dan Wat Arun (yang letaknya di satu kawasan) sebelum pulang ke Jakarta senin siangnya. Berangkat pukul 8 dari hotel dengan MRT dari Lumphini ke Sanam Chai (6 stasiun) dan dari Sanam Chai Station jalan kaki 1 km (10 menit) ke pintu masuk Grand Palace. Sepanjang jalan, karena cuaca cerah dan angin berhembus sepoi-sepoi, pemandangannya indah sekali melewati kompleks ring-1 nya Bangkok ini. Pemandangan unik sebelum masuk Grand Palace adalah bule-bule yang pada pake hotpants dan rok pendek disuruh sewa/beli kain penutup dulu sebelum masuk ke Grand Palace.

Vibes nya Grand palace sendiri mirip Keraton Jogja namun dengan arsitektur Buddha yang lebih kental. Banyak bangunan, ornamen, dan patung-patung kebudayaan dan kepercayaan agama Budha. Banyak spot-spor foto bagus dan juga lukisan/ornamen yang menceritakan Thailand tempo dulu. Karena masih pagi dan baru banget buka, pengunjung masih sedikit dan kita bebas leluasa foto-foto. Total waktu yang dihabiskan di sini sekitar 1 jam lah dan di bagian dekat pintu keluar baru kelihatan istana Raja Thailand dan kita bisa foto-foto di depannya. Oia, HTM ke Grand Palace adalah 500 THB (250rb), cukup mahal ya.

Ngga jauh dari Grand Palace, di sebelahnya adalaah Wat Pho, sebuah kuil dengan landmark patung Budha raksasa yang sedang berbaring/tidur miring. HTM ke sini 100 THB dan durasi di sini juga cukup cepat sekitar 30 menit karena banyak wisatawan hanya mengincar foto di depan/samping patung Budha raksasa tersebut. Meskipun banyak orang Thailand yang datang untuk berdoa juga di sini.

Sekitar pukul 11, keluar dari Wat Pho, tujuan terakhir adalah Wat Arun, sebuah kuil dengan arsitektur unik yang letaknya di sisi sebrang sungai Chao Praya. Dari Wat Pho, jalan kaki 300 meter ke pelabuhan terdekat dan bayar 12 THB (5000 perak) untuk nyebrang pake perahu dengan durasi tempuh 2 menit aja. HTM ke Wat Arun adalah 100 THB dan di sini kita bisa naik sampai ke puncah kuil kalau niat. Tapi karena hari sudah siang dan kita sudah lapar, jadi di sini cuma 20 menit aja buat jalan keliling dan foto-foto sebentar.

Kapal untuk nyebrang dari Wat Pho ke Wat Arun dan sebaliknya

Nah dari Wat Pho ini, kita rencana mau lanjutkan ke Icon Siam, salah satu mall terbesar juga di Bangkok. Rencananya di sini mau makan siang di food court yang konon banyak muslim owned food stall nya. Salah satu transportasi unik di Bangkok adalah taksi air yang rutenya ke tempat-tempat wisata sepanjang Chao Praya. Dari Wat Arun ini kita bayar 30 THB (15rb) per orang untuk naik kapal dan turun di dermaga depan Iconsiam. Lama perjalanan sekitar 10 menit. Sepanjang perjalanan melintas sungai banyak pemandangan unik juga kayak banyak perahu-perahu kecil yang ngebut dan arus di Chao Praya yang lumayan kenceng juga dan pastinya sungainya warna coklat seperti sungai-sungai di Indonesia hehe.

Sampai di dermaga Icon Siam, kita langsung masuk ke mall nya dan ternyata mall nya gede juga. Di food court di lantai 1 banyak banget jajanan khas Thailand dan muslim owned. Di sini kita makan tom yum, sate-satean, mie ala thailand, martabak, mango sticky rice dll. Total makan sampe kenyang berdua kira-kira abis 450 THB (220rb an). Harga persis dengan makan di mall di Jakarta lah. Yang uniknya di mall ini, di food courtnya ada semacam sungai kecil gitu dan juga ada yang jualan serangga goreng kayak kecoak, jangkrik, larva, dll hehe.

Dermaga IconSiam
Menu makanan Halal (Muslim Owned) di Food Court IconSiam

Setelah kenyang di sini, sekitar pukul 2 siang, saya dan istri pulang pake taksi yang ngetem di depan mall. Ada cerita unik juga di sini karena awalnya si petugas jaga di tempat tunggu taksi bilang tarif argo, tapi pas naik, supirnya nanya ke mana tujuannya, pas saya bilang Ibis Sathorn, dia nembak 100 THB, karena sebelumnya saya udah cek tarif grab sekitar 160 THB ya saya iyain aja. Eh pas di tengah jalan dia bilang klo dia salah ngira Ibis yang lain, jadi minta naik ke 150 THB. karena males debat ya saya iyain aja toh masih lebih rendah dari tarif Grab.

Sampai di hotel istirahat sebentar lalu sore nya kita ada rencana jelajah Platinum Fashion Mall buat cari baju-baju anak dan lanjut jalan di sekitaran Central World. Karena waktu itu hari minggu Sore, kita naik Grab dari hotel menuju ke Platinum. Selama di Bangkok, ada pengalaman unik naik grab, yang pertama kita pernah dapat Grab Ford Ranger dong, lalu yang kedua pernah dapat Mazda 3. Jadi di Bangkok itu taksi online nya bukan kaleng-kaleng mobilnya cem di Indo yang kalo ga Agya Ayla Sigra Calya family hehe.

Menuju ke Platinum Mall, ternyata kemacetan sudah mengular dan jalanan isinya orang semua. Maklum karena Platinum Fashion Mall itu letaknya di pusat kota Bangkok yang bersebelahan dengan Mall-mall terkenal lain kayak Centralworld, Siam Center, MBK Center. Yang uniknya beberapa mall ini tersambung sama skywalk gitu jadi orang-orang yang jalan kaki ngga perlu lewat trotoar yang isinya crowdeed sama kemacetan lalu lintas. Kemudian yang bikin amaze lagi di Bangkok itu orang-orang tumpah ruah semua di jalan, tapi anehnya semua moda transportasi juga penuh kayak BTS, MRT dan kendaraan pribadi.

Pemandangan depan Platinum Fashion Mall
Kesemrawutan persis seperti di Indonesia

Setelah cari baju anak di Platinum, saya dan istri jalan kaki menyusuri trotoar ke arah Siam Center. Sepanjang jalan, kami lihat jalur BTS sampai susun 2 tingkat dong saking crowded nya transportasi Bangkok. Udah gitu jalanan mobil di bawahnya juga macet dan crowded. Luar biasa. Masuk di Siam Center, ternyata orang banyak banget sampe pusing lihatnya. Istri saya aja sampai mau pingsan pas mau masuk ke stasiun BTS saking penuh nya sama orang yang lalu lalang. Bener-bener amazing.

Jalan raya dan 2 jalur BTS yang bertumpuk-tumpuk
Suasana di Stasiun BTS terramai di Minggu sore

Karena istri saya mabok dan mual-mual, maka kami istirahat sebentar di luar stasiun BTS buat ambil nafas dan duduk. Sekitar pukul 7, istri sudah baikan dan kita memutuskan untuk jalan ke JODD Fair, sebuah kawasan pasar malam yang isinya bar dan beberapa tempat makan gitu hasil dari nontonin video salah satu yutuber. Dari Siam naik BTS 3 stasiun lalu lanjut naik MRT yang kebetulan satu jalan dengan arah pulang ke hotel. Pengalaman di stasiun BTS yang supercrowded dan masuk ke kereta yang crowded bener-bener khas Bangkok dah.

Sesampainya di JODD Fair ternyata memang isinya food stall sama bar/cafe gitu. Ada beberapa food stall halal (muslim owned) tapi kebanyakan yang ngga ada label/keterangan halalnya sih. Vibes nya sih bagus ya tempat ini cuma sayangnya kursi-kursi yang ada ternyata udah reserved untuk pengunjung bar. Jadi klo kita duduk di tempat kosong gitu, bisa langsung diusir security.

Suasana malam di JODD Fair

Akhirnya kami milih untuk makan burger dan dimsum aja di tempat ini sebentar lalu memutuskan pulang sekitar pukul 9 malam waktu setempat. Karena udah capek, jadi ambil Grab aja dan kebetulan dapat mobil Innova yang disopirin emak-emak dong. Sampe di hotel langsung tidur karena besoknya akan pulang ke Indonesia.

Praktis, selama di Bangkok kami nggak berkesempatan naik tuktuk karena: ngga ada waktu, dan yang kedua, masih belum siap untuk terkaget-kaget dengan tarifnya dan metode nawar ke drivernya. Jadi next time aja deh naik Tuktuk.

Esok harinya, rencana awal kita mau jalan ke Lumphini Park, namun karena masih capek, akhirnya agendanya batal dan hanya leyeh-leyeh aja di hotel sampe jam checkout tiba. Belanja sarapan di Sevel, terus mager di kamar hotel tau-tau udah jam 11 siang. Akhirnya kami checkout dan pesen Grab untuk ke bandara Suvarnabhumi (BKK). Perjalanan ke BKK dari Hotel sekitar 45 menit, letak si bandara ini lebih jauh dari DMK, dan tarif toll ke sana sekitar 75 THB dibayar tunai. Sampai di BKK pukul 13, rupanya antrian di security check baggage dan imigrasi panjang banget. Baru bisa masuk gate di jam 14 waktu setempat sementara boarding pukul 14.45. Menjelang boarding ada pengumuman pesawat delay 30 menit karena kendala operasional. Akhirnya kami baru bisa boarding pukul 15.30 dan bisa naik ke pesawat.

Pengalaman perdana naik Thai Airways, dapat pesawat B787-Dreamliner dan duduk di kursi jendela. Overall, vibes nya Thai Airways bagus, interior dominasi warna ungu dan pesawat juga masih baru. Hiburan lengkap, dan menu makanan juga ok. Ada salah udang, dan pilihan makanannya nasi ayam Thailand dan pasta udang walau rasanya masih kalah dari menu makanan SQ. Perjalanan BKK-CGK makan waktu 3 jam 15 menit dan sampai di Jakarta sekitar jam 6 sore. Keluar airport jam 7 malam dan perjalanan ke Bangkok pun berakhir dan besoknya saya harus kerja lagi hehe.

Demikian sharing perjalanan ke Bangkok yang super singkat tapi berkesan ini. Kalau ditanya apakah tertarik untuk ke Bangkok lagi dengan anak-anak? nampaknya saya akan berpikir 2 kali deh, masih mending milih bawa anak-anak ke Singapura karena lebih ramah anak daripada ke Bangkok hehe.

Tapi impresi saya ke Bangkok: Kota yang hampir sama dengan Jakarta dari mulai kepadatan, kemacetan, hingar bingar, dan crowd nya, tapi satu tingkat lebih baik dalam hal keteraturan, transportasi publik dan fasilitas umum. Keren…

Singapore Trip 2022 Part 3 (End)

Part terakhir dari cerita pengalaman saya dan keluarga ke Singapur adalah mengenai 1 hari menginap di Jewel Changi Airport. Hari terakhir di Singapura, seperti biasa, diawali dengan perjalanan ke Laundromat jam 6 pagi waktu setempat. Setelah selesai mencuci baju, sarapan, dan mandi, kami jalan dari hotel ke Changi Airport sekitar pukul 10.00 agar tiba di sana dekat-dekat jam makan siang. Salah satu agenda sebelum pulang adalah mencicipi Halal Korean Food di salah satu area food court daerah Tampines. Tampines adalah daerah pemberhentian MRT paling ujung Timur Singapur. Letaknya ngga jauh dari Changi dan daerah ini seperti halnya Jurong East di Barat Singapur, adalah daerah permukiman padat di negara ini.

Sampai di airport pukul 11.30, kami langsung berjalan kaki dari MRT Terminal 3 ke Jewel. Sebetulnya, cara ke Jewel dari Terminal 3 itu ada 2, yang pertama adalah melalui connecting hallway, kita jalan kaki kurang lebih 5 menit. Rute jalan kaki nya full travelator tapi agak menanjak. Cara kedua adalah dengan naik SkyTrain dari Terminal 3 ke Terminal 1 kurang lebih 1.5 menit. Karena Jewel letaknya persis di sebelah Terminal 1, dan nggak begitu jauh juga dari Terminal 3. Setelah sampai di Terminal 1, jalan kaki sedikit turun ke basementnya (Arrival Hall).

Kalau jalan kaki kira-kira rutenya seperti ini

Kadang kita suka lihat Skytrain yang lewat di depan air terjun Jewel. Nah itu tuh SkyTrain yang dari arah T2 ke T1. Jadi kalau mau dapat pengalaman naik Skytrain lewat air terjun Jewel, naik trus aja sampai T2 lalu balik lagi ke T1.

SkyTrain dari T2 ke T1 atau sebaliknya melewati Jewel

Di Jewel ini, kami menginap di Yotel Air, sebuah hotel budget yang terletak di dalam Jewel tepatnya di lantai 4. Cara menuju hotel ini cukup mudah. dari Terminal 1 cukup naik lift saja sampai lantai 4 sampai di tempat paling pojok. Jadi Jewel ini punya 5 lantai ke atas dan 2 lantai ke bawah. Space utama nya adalah tempat air terjun nya dan 2 lantai di bawahnya adalah tempat penampungan air terjunnya. Sedangkan di lantai paling atas adalah tempat semua tourist attractionnya seperti Skynet, Glassbridge, Canopy Park, Butterfly Garden, dll.

Tipe kamar yang kami tinggali adalah kamar dengan jumlah kasur terbanyak yaitu 3 kasur yang terdiri dari 1 kasur queen yang bagian kepalanya bisa dinaikkan mirip kasur di rumah sakit dan 2 kasur tingkat ukuran single.

Ukuran kamar mungkin hanya 4×4 meter aja. Ngga begitu besar tapi punya kasur queen yang besar dan kasur tingkat. Ini bisa ditiduri oleh 3 orang dewasa dan 2 anak kecil. Jadi cocok untuk yang bawa anak lebih dari 1. Harga semalam waktu kami pesan sekitar 1.3 juta. Ukuran kamar mandinya pun ngga begitu besar tapi cukup nyaman lah.

Sayangnya, jam check in di Yotel Air ini adalah pukul 3 sore. Sedangkan saat itu jam 1 siang, mereka tidak punya fasilitas titip bagasi/luggage. Mungkin karena hotelnya kecil dan di Changi itu ada beberapa tempat penitipan luggage yang juga perlu tambahan pemasukan hehe. Jadilah kami turun lagi ke lantai dasar dekat arrival hall Terminal 1 untuk menuju tempat penitipan luggage. Jadi sistem titip koper di sini dikenai biaya charge 1 koli sebesar 10 SGD untuk 12 jam penitipan. Total 3 luggage kami dibanderol seharga 30 SGD (sekitar 450rb rupiah) padahal hanya dititip selama 2-3 jam aja sampai kami balik lagi ke Changi untuk cari makan. Bener-bener dah.

Setelah titip koper, target berikutnya adalah makan dan cari oleh-oleh makanan di sisa waktu sebelum pulang ini. Lalu kembali ke Jewel untuk foto-foto. Tujuan makan siang terakhir kali ini adalah Korean food. Ya karena dari awal tiba di SG kami udah coba makanan Italia, Turki, Singapore, tinggal resto korea halal yang belum didatangi. Akhirnya bermodalkan google dan situs havehalalwilltravel sampailah rekomendasi pilihan pada suatu resto hawker Korea halal yang bernama Seoul Sedap yang lokasinya di Tampines. Oia, saat terakhir ke SG, kami pernah coba makanan Korea halal (Budae Jigae) di Pasir Ris yang namanya Mukshidonna. Namun saat buka IG nya dan google, Muskhidonna rupanya udah ngga ngurus sertifikasi halal MUIS lagi. Jadi deh ngga bisa makan di sini.

Jadi lokasi Seoul Sedap yang dimaksud itu adalah di tempat yang namanya Tampines Round Market and Food Center. Letaknya nggak jauh dari stasiun MRT Tampines dan hanya naik bus 2 stasiun lalu jalan kaki 500meter dari halte terakhir. Penampakan nya di google map itu kira-kira seperti ini, terletak di Foodcourt dan lumayan terjangkau harganya.

Jadi ketika kita naik MRT dari Changi, rupanya mendung dan kita bergegas cari bus yang dimaksud. Singkat cerita setelah naik bus 2 halte dan jalan kaki sekitar 10 menit, sampailah di suatu tempat semacam pasar dan food court. Pasarnya sih bagus dan kayak pasar modern di Indo, tapi foodcourtnya mayoritas tutup karena mungkin masih siang. Nah kalau lihat google map, si Seoul Sedap ini letaknya di paling ujung foodcourt tersebut, bersatu dengan tennant-tennant moslem owned lain yang mungkin sengaja dikelompokkan pengelolanya.

Dan ternyata, begitu sampai di sana, tempatnya tutup dong. Saya tanya ke pedagang sekitar nya katanya sudah tutup dari beberapa minggu yang lalu. Yahhh… rugi bandar. Sudah jauh-jauh ke ujung SG tapi ternyata tutup. Akhirnya karena kita sudah pada lapar jadi kita beli makan dari kedai moslem owned aja. Kebetulan di sebelahnya ada pakcik Malaysia yang jualan noodle.

Dan ternyata di tengah-tengah saat kita makan, hujan turun dengan derasnya. Setelah selsai makan pun, hujan deras masih berlangsung dan kami terpaksa menunggu di tempat food court sambil belanja buah-buahan di bagian pasarnya. Awalnya sempat kepikiran mau naik taksi namun jalan dari lokasi saat ini ke tempat buat cegat taksi pun tidak ada atapnya dan sudah pasti kehujanan. Karena bawa troli, jadi ya terpaksa kita tunggu sampai hujan reda. Total waktu tunggu lebih dari 2 jam dan rasanya ngeselin banget hanya bisa duduk nunggu dan anak-anak pada kedinginan. Setelah hujan mulai reda dikit, kami pun nekat untuk jalan ke halte. Untungnya bawa 1 payung jadi anak2 masih bisa ditutup pakai payung.

Setelah naik bus kembali ke MRT Tampines, kami menuju Tampines Mall untuk membeli oleh-oleh berupa coklat, mie samyang dan mie-mie lain yang ngga dijual di Indo dan berbagai macam kacang-kacangan. Setelah dari Tampines Mall, kami kembali ke Changi naik MRT dan langsung menuju Jewel.

Sampai di Jewel, mulailah sesi foto-foto

Sayangnya karena sore itu kehujanan dan sudah terlalu lelah, jadi kurang bisa eksplor Jewel saat hari terang, jadi setelah foto-foto sebentar lalu kami naik ke hotel untuk mandi dan istirahat. Di jewel ini ada laser dan music show, namanya Rain Vortex setiap pukul 19.30 dan 20.30. Sementara semua wahana Jewel tutup pukul 21.00. Jadi 19.30 kami keluar hotel dan menyaksikan pertunjukan laser show dari lantai 3. Bagus banget, kira-kira seperti ini lah (credit to owner of video). Shownya berlangsung sekitar 5-8 menit.

Lalu pukul 19.45 malam kami makan malam di Monster Curry, food chain kare ala Jepang yang halal dan tersaji di piring super besar.Di sini ada paket/menu kare untuk anak-anak juga. Overall rasanya enak, namun memang agak pricey. Harga seporsi sekitar 13-20 SGD tergantung topping. Berlima kira-kira habis sekitar 80-an SGD.

Selepas makan pukul 20.30, karena masih ada waktu sampai pukul 21.00, kami coba ke bagian atas Jewel tempat atraksi-atraksi berada. Karena sudah mau tutup, hanya beberapa saja yang masih buka. Akhirnya setelah tanya sana-sini, kami putuskan untuk naik Manulife Skynet walking saja.

Manulife Skynet adalah wahana berjalan di atas tali-temali yang dibuat oleh sekelompok pembuat tali asal Perancis. Jadi mereka memilin dan merajut dan menghubungkan tali temali agar membentuk jaring raksasa yang bisa menampung dan dibebani banyak orang. Wahananya sendiri terdiri dari 2 yaitu walking (hanya untuk berjalan) dan bouncing (khusus melompat). Pintu masuknya berbeda dan tiketnya juga berbeda.

ini yang untuk walking
dan ini yang untuk bouncing

Kerapatan tali, kelandaian landscape dan bentuk keseluruhan lintasannya berbeda. Semua diwajibkan pakai sepatu, kalau tak punya sepatu, bisa sewa di tempat. Lintasan walking sedikit lebih sulit karena jarak anyaman tali nya lebar-lebar dan cukup sulit untuk berjalan di tali. Tapi tenang, mbak-mbak yang jaganya akan memandu kita dan mengajarkan bagaimana cara berjalan di tali.

Oia, skynet ini karena letaknya di paling atas Jewel, sehingga pemandangan bawahnya adalah Jewel secara umum (terutama mall lantai 4 dan lantai 3). Jadi kalau yang takut ketinggian akan kerasa mules dikit pas jalan di area yang langsung menghadap ke lantai 3.

Oia harga naik Skynet ini 13 SGD per orang. Jadi bertiga sekitar 420ribu rupiah.

Overall, pengalaman yang cukup seru karena anak saya juga suka. Karena waktu itu sudah mau tutup, jadinya si mbak nya ini berbaik hati merekam video pas kita jalan dan ambil beberapa foto yang cukup bagus. Next time lah harus menyempatkan 1 hari penuh di Jewel untuk jelajah semua wahananya. Bagus-bagus kalau lihat di yutub.

Jewel tutup pukul 21.00 dan kami pun pulang ke hotel di lantai 4. Setelah ganti baju, kami tidur dan besok pagi nya sekitar pukul 7.30 checkout dan menuju ke T3 untuk checkin pesawat yang menuju Jakarta dan boarding sekitar pukul 9.30. Penerbangan ke Jakarta lancar dan setiba di Jakarta pukul 11.00, ambil mobil di parkir inap dan bayar 380rb rupiah hehe. Setelah itu meneruskan perjalanan ke Bandung dan tiba di Bandung pukul 4 sore.

Pengalaman pertama ke Singapur bawa anak 2 ini berkesan sekali. Dengan segala keriweuhan dan keterbatasan, kami cukup menikmati dan merasakan pengalaman yang sangat menyenangkan. Next time kalau anak sudah agak gede lah baru mengunjungi negara ini lagi dengan tujuan wisata yang berbeda tentunya hehe.

Terima kasih.. see you in the next journey…

Singapore Trip 2022 Part 2

Hari Senin 23 Mei 2022, tepat hari ketiga di SG, kami sudah merencakan akan menghabiskan seharian di Sentosa Island, salah satu destinasi wisata favorit di sini. Seperti biasa, pagi hari dimulai dengan ritual mencuci di laundromat sejak pukul 6 pagi (pukul 5 pagi WIB) di mana langit masih gelap dan selesai pukul 7.30 pagi. Setelah selesai nyuci, tidak lupa mampir ke 7Eleven untuk membeli berbagai sarapan seperti roti tawar, sereal, mie cup, susu dan sandwich. Sedikit tips kalau ke Sevel, selalu perhatikan logo halal karena di SG itu semua logo halal terpampang jelas termasuk di mie cup, sandwich, dll.

Tujuan ke Sentosa hari ini adalah ke Skyline Luge, sebuah wahana bermain keluarga berupa seluncuran dari tempat yang tinggi ke tempat rendah menggunakan semacam 4-wheel motorbike(?) tanpa mesin. Kurang lebih kayak gambar di bawah ini.

Tiket untuk wahana ini sengaja nggak kami beli dulu via Klook karena masih belum tahu apakah anak kecil di bawah 3 tahun boleh naik atau bisa naik dengan didampingi/bersama ortu atau gimana. Karena masih gelap, jadi rancana akan goshow aja dulu. Berhubung semua wahana di Sentosa buka mulai pukul 11.00, maka kami pun berangkat dari hotel sekitar pukul 09.00 karena mau brunch di Kopitiam Foodcourt Vivo City dan makan Yang Tao Fu, makanan yang selalu kami beli setiap ke SG. Kopitiam Foodcourt itu salah satu sentra kuliner halal (Muslim owned) di Vivo City. Letaknya persis di exit MRT Stasiun CC (orange line) dan di dekat McD. Di sini terbagi 2 sektor yaitu sektor halal dan non halal. Jadi tidak perlu khawatir bercampurnya peralatan makan karena semua sudah dipisahkan oleh pengelola. Tampilan Kopitiam Foodcourt bisa dilihat di youtube ini. Semua yang halal menggunakan alat makan berwarna hijau.

Apa itu Yang Tao Fu? Yang tao fu adalah masakan cina peranakan SG yang seperti bakso tapi isiannya bisa kita pilih sesuka hati sesuai selera dan nanti tinggal dikasih kuah sama penjualnya. Kurleb seperti ini tampilan kedainya:

Setiap menu/pax dihargai sekian sen SGD. Kira-kira kalau kita ambil 1 sayuran dan 3 macam lauk, kisaran harganya 2-3 SGD (sekitar 30-45rb seporsi). Lumayan hemat di kantong lah. Rasa kuahnya pun gurih dan pas di lidah. Di sekitar tempat Yang tao Fu ini ada macam-macam makanan halal juga seperti Nasi Hainan, Bebek, Noodles, dll.

Setelah selesai makan, kamipun langsung menuju lantai 3 VivoCity untuk naik monorel ke Sentosa. Untuk menuju Skyline Luge, kita harus turun di Beach Station (stasiun terakhir) dan nanti dari situ keluar mengikuti garis pantai kira-kira 100m lalu akan ketemu Skyline Luge di sebelah kanan. Tempatnya akan sangat terlihat karena terpampang jelas logo Skyline Luge.

Setelah tanya ke front office, akhirnya kami putuskan hanya bertiga saja yang naik, saya, istri dan anak yang pertama. Harga tiketnya bervarisasi tergantung mau berapa kali naik, minimal 2 kali, maksimal 4 kali. Kami putuskan naik 2 kali saja dan harga per orangnya sekitar Rp 300rb per orang dewasa dan Rp 170rb untuk anak 3-12 tahun. Nah buat yang tanya kenapa ada tiket 2 kali, 3 kali dan 4 kali, jadi di sini tuh adalah wahana yang mirip dengan skying di gunung salju. Kita musti naik skylift yang hanya berupa kursi dan ada pegangannya ke puncak “gunung” kurang lebih 5 menitan. Dari situ kita meluncur dengan “motorbike” tanpa mesin dan rute nya terbagi jadi 4 yaitu Expedition, Jungle, Kupu-kupu dan Dragon. Konon untuk pemula disarankan ambil rute Kupu-Kupu dan Jungle Trail.

Berikut penampakannya:

dan ini ketika sudah di atas
Kira-kira tingginya skylift ini sekitar 30-an meter
Dan ini ketika meluncur

Lengkapnya momen pas meluncur bisa dilihat di youtube ini dan ini. Ada momen lucu saat anak saya kepelintir dan oleng karena lepas tangan. Naik ini susah-susah gampang, karena begitu narik tuas pas mau break, kalau kebanyakan malah jadinya berhenti total dan kalau sudah berhenti total, malah tambah susah untuk jalan lagi. Jadi sebelum meluncur, pastikan ikuti instruksi si petugasnya dulu nanti. Nah setelah 2 kali putaran riding, nanti kita bisa tebus foto dengan cara scan barcode yang ada di helm. Biaya untuk tebus 4 foto sekitar Rp 200.000.

Overall pengalaman yang sangat seru dan rasanya 2 kali naik masih kurang. Next time akan coba lagi ah ke Expedition Trail dan Dragon Trail. Beres dari Luge sekitar jam 1 siang, kami pun coba ke HeadRock VR Adventure di Sentosa, sebuah wahana permainan dengan VR (Virtual Reality). Sebetulnya dari Skyline Luge ke VR ini jalannya agak jauh dan ada bus gratis tiap 5 menit. Namun karena ingin explore, kami coba jalan kaki saja sekalian menyusuri pantai nya. Karena pantai selatan Sentosa ini menghadap ke arah Batam, jadi pemandangan pantainya ya apalagi kalau bukan kapal kontainer/tanker yang buang jangkar dan pulau industri hehe. Tapi herannya, tengah hari bolong, banyak bule-bule yang masih berjemur. Apa ngga kebakar ya kulitnya? Untungnya di sepanjang jalan itu banyak vending machine jadi masih bisa beli air minum karena cuaca panas dan tengah hari bolong. Kebetulan di Pantai Siloso nemu spot foto bagus jadi foto dulu deh walau tengah hari bolong.

Untuk menuju HeadRock VR, kita perlu cari jalan menuju ShangRi La resort. Nah di depan ShangRi La ini ada halte bus dan dia berdekatan dengan ticketing dan area cable car. Nanti dekat halte bus itu ada petunjuk menuju HeadRock VR dan Madame Tussaud (museum lilin), bisa coba tanya kasir 7Eleven di dekat Cable Car kalau ragu. Dulu saat di Jepang, saya pernah coba VR di Shinjuku dan sensainya benar-benar seru karena kita seolah benar-benar masuk di game nya secara virtual. Dulu di Shinjuku banyak pilihan game nya, tapi di HeadRock ini kalau ngga salah hanya 8 macem saja. Berikut harga tiketnya.

Jadi saya coba beli package yang PLAY3 untuk 3 orang, dan di sini, pengantar/yang ngga ikut maen, dikenai charge 5 SGD (hadeeh).. List game nya:

Kami pun coba Storm Blizzard, Extreme Train, Skyscrapper dan Zombie Buster. Oia, karena ini hari Senin dan jam 1 siang, jadi hanya kami aja yang ada di area ini. Jadi tanpa antri sama sekali. Storm Blizzard adalah simulasi dimana kita bertiga naik kereta salju dan ditarik sama serigala. Nanti di tengah-tengah permainan, kereta nya akan lewat jalur curam dan diserang badai salju. Kereta akan digoyang-goyang dan kipas angin super kenceng akan ditiup buat simulasikan badai salju.

Di extreme train, seolah-olah kita naik roller coaster tapi di tengah jalan, tracknya hilang dan kereta diombang-ambing sampai ke jurang hehe.

Kalau untuk skyscrapper dan zombie, standar aja sih, hanya nembak-nembakin musuh dan survival di atas gedung. Overall masih kalah jauh dari Shinjuku tapi masih fun lah. Oia, selain VR, di sini tuh ada Kids Interactive Zone nya, jadi semacam area bermain anak yang interaktif. Cocok untuk anak di bawah 5 tahun. Bisa cek di website nya.

Nggak kerasa, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 dan kami pun bergegas menuju stasiun monorel. Nggak lupa berfoto dulu di depan bola dunia.

Oh iya, ternyata sejak pandemi, USS (Universal Studio Singapore) hanya buka dari hari Jumat-Minggu aja dan tutup hari Senin-Rabu. Jadi pas kita ke sana, bola dunia yang biasa muter dan keluar kabut lagi mati dong hehe.

Kami tiba di hotel sekitar pukul 15.30 dan langsung mandi lalu tidur siang. Rencana sore/malam ini adalah kulineran di Restoran Turki halal di area Arab Street, Bugis, tepat di sebelah restoran Positanoristo yang kemarin. Nama resto nya adalah Cappadoccia Turkish and Mediterranian Resto. webnya di sini. Penampakan dari luar kira-kira seperti ini:

Penampakan di dalamnya seperti ini:

Di resto ini, semua pelayannya orang Turki asli, dan hebatnya mereka selalu mengucap salam (Assalamualaikum) dan bilang Bismillah sebelum melakukan sesuatu. Luar biasa. Di sini karena semua serba mahal, jadi kami pesan yang light saja : Adana Chicken Kebab, Pepperoni Pizza, Falafel Wrap dan dessernya adalah Kunafe dan Baklava.

Adana chiken kebab pada dasarnya adalah daging ayam yang dijadikan kebab dan tidak diwrap seperti kebab Babarafi. Dia beri Turkish salad dan dikasih Nasi briyani (?) dan ada cocolan mushroom sauce dan yoghurt khas Turki. Lumayan lah rasanya, lebih enak dari kebab yang di Indonesia. Salad nya pun segar karena ada perasan lemon nya

Adana Chiken Kebab

Untuk pizza pepperoni, standard lah ya. Yang zonk menurut saya Falafel ini. Saya pikir ini adalah kebab style daging sapi/kambing gitu taunya hummus dan semacam makanan vegetarian hehe.

Falafel Wrap

Yang juara tentu saja duo dessert yaitu Kunafe dan Baklava. Ingat kunafe/baklava pasti ingat era kue artis yang booming tahun 2015-an yang dipopulerkan Irfan Hakim sama Omesh dulu ya. Kalau saya bilang dua dessert ini memang juara sih. Sempat ada cerita lucu dimana kita selalu ketuker antara Kunafe dan Baklava. Coba tebak yang mana Kunafe dan mana Baklava?

Baklava itu semacam pastry yang di dalamnya ada saus karamel (?) atau susu yah? lalu dia ditaburi semacam matcha. Rasanya seperti kita makan kue pastry namun lembut. Kalau kunafe agak unik karena dia seperti roti jala atau kayak adonan bandros yang dari kelapa itu yang di panggang dibentuk bundar. Lalu disiram saus kelapa (santan) dan susu. Enak dan manis banget pokoknya.

Total berlima makan di resto ini habis sekitar 120-an SGD dengan menu di atas. Oia, seperti biasa, air minum di sini gratis yah, dan boleh refill hehe.

Hari keempat di SG, tepatnya hari Selasa kami akan coba sesuatu yang belum kesampaian selama ini yaitu naik The Original Duck Tour. Seperti biasa, memulai pagi hari dengan nyuci baju di Laundromat dan pulangnya beli sarapan di Sevel. Sekitar jam 9 pagi kami naik MRT dari dekat hotel dengan tujuan Esplanade keluar di exit A. Tempatnya persis di Suntec yang menghadap ke arah Nicoll Highway, bukan area tengah yang ada air mancur melingkar.

Kenapa dinamakan the original ducktours? mungkin karena banyak KW nya kali ya? Yang pasti website originalnya yang ini. Yang pasti harga Ducktours ini ngga murah sih, untuk dewasa di kisaran Rp 350rb dan untuk anak di Rp 280rb per orang. Jadi duck tours ini adalah bus amfibi yang dirancang seperti wujud bebek. Bus ini terbuka di bagian samping dan bentuknya kayak perahu yang dikasih roda. Nanti dari Suntec City dia akan menuju ke Sungai Kallang dan akan nyemplung ke air jadi perahu untuk keliling Singapore river dari Gardens by The Bay, Singapore Flyer, MBS sampai depan Merlion. Setelah itu dia akan naik lagi ke darat dan keliling area Downtown. Total perjalanan sekitar 1 jam dan cukup menyenangkan untuk anak-anak.

Sepanjang perjalanan ada tour guide yang akan cerita tentang sejarah bangunan/landmark dan beberapa funfact dari landmark yang dilewati, dan semuanya full englis (singlish sih tepatnya). Dari penjelasan tour guide, ternyata si bus ini umurnya sudah lebih dari 50 tahun dan masih bisa digunakan sampai sekarang. Agak-agak serem sih tapi ya di Singapur seharusnya regulasi nya ketat dan keselamatan diutamakan. Momen paling seru pas dari darat nyebur ke sungai, kalau duduk dekat jendela akan kena cipratan air sedikit.

Oia, di akhir perjalanan ada mandatory tip yang diminta oleh supir dan guide nya. ngga ada batasan sih minimal berapa, tapi 5 SGD atau 10SGD sudah oke lah menurut saya. Tips lain untuk naik Duck Tour ini, kalau naik di hari kerja, kayaknya oke aja kalau mau goshow dan langsung datang pas hari H. Tapi kalau weekend atau hari libur nasional, disarankan booking online via apps seperti Klook atau Traveloka supaya menghindari nunggu lama.

Selesai duck tours kira-kira pukul 11.30 siang. Dari situ karena sudah kepalang tanggung ada di area Marina Bay, kamipun jalan kaki menyusuri City Hall menuju ke Merlion Square. Tengah hari bolong jalan kaki dan foto di area Merlion merupakan pengalaman pertama hehe. Tapi herannya turis yang foto di situ tetap banyak.. Luar biasa.

Oia, sejak 2019, dari arah Esplanade ke Merlion Square sudah tidak perlu lewat trotoar pinggir jalan lagi, tapi sudah ada jembatan khusus pejalan kaki yang sengaja dibuat untuk akses ke sana.

Nah karena hari sudah siang dan kami belum makan siang, agenda berikutnya adalah menuju restoran seafood yang menyajikan chilli crab khas SG. Setelah googling sejak di Indonesia, pilihan jatuh kepada Home of Seafood yang dapat review bagus sebagai seafood resto halal di berbagai situs halal travel.

Home of Seafood, terletak di area Joo Chiat Road (Geylang) dan letaknya sudah deket ke Changi. Perjalanan dari depan hotel Fullerton ditempuh dengan 2 kali naik bus dan total 40 menitan. Lama sekali tapi ya karena sudah kepalang tanggung akhirnya kami jabanin. Setelah turun dari bus, ternyata masih harus jalan kaki 800m untuk sampai ke restonya.Restonya sendiri terletak di belokan dan yang unik, di jendela restonya terpajang foto ownernya yg berpose dengan public figure Singapura dan negara tetangga. Super narsis.

Itu kira-kira tampilan depan restonya, diambil dari google, isinya foto ownernya semua. Menunya semua ada, dari mulai kepiting, udang, cumi, aneka ikan hingga nasi gorang. Rasanya juara dan harganya juga juara. Baru kali ini saya order chilli crab yang seporsi dihargai 80 SGD atau 1 juta rupiah.. Gila..

Penampakan kepiting 1 jutaan

Total makan berlima dengan menu super komplit habis sekitar 187 SGD. Mahal sih tapi puas karena resto nya bagus adem dan bersih. Plus makanan diantar pakai robot pelayan kayak di Jepang gitu.

Sebranh resto ini ternyata ada halte bus yang langsung menuju Bugis Junction. Enak sekali karena kami cukup naik 1 kali saja untuk sampai di Bugis dan jalan kaki ke hotel dari sini. Selesai makan pukul 14.30 dan tiba di hotel pukul 15.30. Sampai di hotel langsung pada tepar dan tidur sore.

Karena besok kami akan pindah hotel ke Jewel Changi, maka malam itu kesempatan jalan2 terakhir sebelum pulang ke Indonesia. Tujuan akhir adalah ke Garden by The Bay (lagi) untum nonton pertunjukkan laser show. Jadwal laser show nya sendiri adalah di jam 19.45 dan 20.45. Sebetulnya ada 2 laser show berdekatan yaitu di Garden By the Bay dan di depan MBS. Hanya saja, selisihnya hanya terkait 15 menit. Show di MBS setiap pukul 19.30 dan 20.30. Jadi sebetulnya bisa aja nonton keduanya asal setelah 1 show selesai kita musti bergegas dan kayaknya sulit bawa anak-anak.

Sejak jam 6 sore kami sudah standby di depan MBS untuk foto-foto penampakan malam hari di Singapur yang penuh lampu-lampu gedung di Marina Bay area. Sayangnya anak saya yang besar sakit dan sepertinya masuk angin karena mengeluh pusing terus dari berangkat dari hotel. Mungkin sudah mencapai limit karena ini udah hari ke-4 di SG dan banyak aktifitas di luar ruangan. Jadinya dia tidur dan istirahat di pelataran MBS yang di dekat Louis Vuitton. Lumayan dapat tidur sekitar 30 menitan.

Sekitar pukul 19.30 kami jalan ke gardens by the bay via MBS lantai B1M. Pokoknya cari aja arah menuju MRT station pasti akan ketemu link nya.

Sambil menunggu show dimulai, seperti biasa cari makan malam di sini yang pilihan satu2 nya kala itu adalah McD. Seperti diprediksi, McD pun penuh menjelang dinner time.

Pertunjukkan laser dan music show (Super Tree Grove) dimulai pukul 20.30 dan selesai jam 20.45. Setelah menikmati show sambil ambil video, kami pun pulang menuju hotel karena besok akan checkout dan perlu istirahat cukup.

Bersambung Part 3 (Final)