Singapore Trip 2022 Part 1

Berhubung IHSG dan semua bursa dunia lagi merah membara, kayaknya lebih sehat untuk mental kalau mengurangi buka OLT (online trading apps) dan update blog mengenai pengalaman saya ke Singapura bulan Mei lalu.

Yes, berhubung covid sudah melandai baik di Indonesia maupun Singapura, Singapur sudah mulai melonggarkan kedatangan turis asing ke negaranya secara bertahap. Di akhir 2021, kalau saya ngga salah, pelonggaran pertama kali dilakukan Singapur dengan mengubah sistem karantina 5 hari menjadi PCR prior to departure dan PCR on arrival, sehingga turis Indonesia yang mau ke sana harus PCR di Indo H-2 sebelum berangkat dan PCR pas tiba di Changi lalu langsung menuju hotel untuk karantina 1 hari sampai hasil PCR nya keluar. Kebijakan ini tentunya berat buat turis yang datang dengan keluarga karena biaya PCR untuk 1 orang di indonesia = Rp 275rb dan di Singapur hampir Rp 1 juta sekali test. Belum lagi akhir 2021, masih berlaku kebijakan PCR prior to departure dan karantina 3-7 hari di Indonesia yang bikin cost untuk travel jadi bengkak untuk PCR dan hotel karantina.

Di bulan Januari 2022, Singapur kembali melonggarkan aturan dengan mengganti PCR on arrival dengan ART (Antigen Rapid Test) on arrival. Turis langsung di ART dan hasilnya akan keluar dalam 1 jam. Jika non-reactive maka sudah bebas jalan-jalan ke kota. Namun PCR prior to departure masih berlaku. Sementara Indonesia di Januari juga sudah menghapus karantina dengan mengganti menjadi PCR pre-departure di negara asal dan PCR on arrival di Jakarta. Tapi tetap aja cost yang harus dikeluarkan tetap tinggi karena kita perlu anggarkan ART singapur kurleb SGD 15 per orang, PCR pre-departure Jakarta dan on arrival Jakarta masing-masing Rp 275rb dan PCR pre-departure di Singapur sekitar SGD 95 per orang hehe.

Kemudian di Bulan April 2022, game changer terjadi, Singapur menghapus semua requirement PCR pre-departure dan ART on arrival. Semua turis dibebaskan masuk Singapur tanpa syarat test dan hanya cukup vaksin lengkap (dua dosis). Hal ini langsung disambut baik semua WNI yang sudah “gatal” pingin main ke SG karena praktis sudah hampir 2 tahun tutup border. Dengan aturan baru ini, modal kita hanya perlu nambah PCR pre-departure di Singapura sebelum pulang ke Indo dan PCR on arrival di Jakarta. Kurang lebih hanya SGD 95 + Rp 275rb per orang.

Karena alasan inilah, saya dan istri memutuskan untuk langsung hunting tiket di bulan April untuk keberangkatan di minggu ketiga Mei saat yang lain sudah selesai cuti Lebaran. Ngga disangka, ternyata hunting tiket berhasil. Karena saya dan istri masih ragu untuk pergi berdua dengan bawa 1 bocah 6 tahun dan 1 balita, akhirnya kami ajak ibu saya untuk ikut. Dan dapatlah hasil hunting tiket Singapore Airlines CGK-SIN p.p. untuk 5 orang seharga Rp 18 juta. Kalau dihitung per orangnya sekitar Rp 3 jutaan. Untungnya biaya tiket ini keganti dari dividen dari saham batubara di 2022 ini hehe.

Tiket sudah, berikutnya adalah hunting penginapan. Biasanya kalau saya ke SG selama periode 2016-2018, saya selalu menginap di apartement milik kakak ipar yang kebetulan sedang PhD dan kerja di sana. Namun per 2019 lalu, beliau sudah lulus dan bekerja di salah satu universitas swasta di Jakarta, jadi no more freestay lagi hehe. Awalnya karena tiga dewasa dan 2 anak kecil, saya mau coba cari apartment di AirBNB, namun ternyata mungkin karena sempat hancur karena pandemi, nyaris jarang sekali apartment proper harga bersahabat di AirBNB untuk periode ini. Akhirnya pilihan jatuh ke Hotel Summerview di area Bencoolen (Rochor MRT Station) yang saya pilih karena ada kamar untuk 3 single bed dan pas di tengah kota (Bugis Area).

Penampakan hotelnya sendiri kurleb seperti gambar di atas. Tepat di sebelah jalan utama. Saya cek untuk kamar dengan 2 queen size bed dan 1 single bed, dipatok harga sekitar Rp 1.3 juta per malam (tanpa sarapan), dan kami rencana menginap di sini 4 hari dan 5 hari wisata ke Singapur. Karena kami ada misi untuk ke Jewel, jadi di H-1 sebelum pulang nanti akan menginap di Hotel Yotel Air yang letaknya di Jewel. Hotel ini termasuk hotel backpacker dan dia punya 1 kamar dengan 1 queen size bed dan 1 kasur tingkat yang muat untuk 4 orang dewasa. Harganya pun cukup ramah di kantong, Rp 1.3 juta per malam.

Setelah hotel dan tiket pesawat settle, disusunlah rencana untuk spot-spot apa aja yang bakal dieksplor selama di sana. Berhubung hampir semua spot mainstream sudah pernah saya dan istri kunjungi, kali ini kami ingin sesuatu yang beda. Akhirnya pilihan jatuh ke coba SkyLuge, DuckTour, ke Garden by The Bay lagi (plus Floral Fantasy) dan kuliner ke spot-spot kuliner halal di sana. Awalnya ingin nyoba ke pantai dan eksplor hal lain, tapi mengingat akan repot karena bawa balita, akhirnya rencananya terpaksa dibatasi.

Setelah semua agenda disusun, H-5 keberangkatan, saya mulai cari info bagaimana cara mengisi SG Arrival Card (SGA). Sejak pandemi dan pembukaan border, Singapur mewajibkan semua turis untuk mengisi form SGA online antara H-3 sampai H-1 keberangkatan. SGA ini untuk menggantikan form embarkasi (kertas warna putih) yang suka dibagikan di pesawat sebelum pandemi dulu. Caranya mudah sekali, tinggal ngikuti petunjuk di web ini Dan udah banyak juga tutorial di yutub tentang cara ngisinya. Silakan disearch saja di yutub ya.

Hasilnya nanti kita akan dapat email seperti ini yang berarti sudah approved untuk masuk ke Singapur.

notifikasi SG arrival card ke email

Intinya SGA ini akan membuat antrian di imigrasi di Changi nanti jadi sangat minimal karena data di paspor kita sudah embed ke SGA yang sudah kita isi. Proses checking di bandara Soetta hanya dilakukan dengan cara mengecek sertifikat vaksin saja. Kalau itu OK, tiket kita akan dicetak oleh pihak maskapai dan pihak imigrasi di Soetta akan langsung cap paspor tanpa banyak tanya lagi.

Saya putuskan untuk bawa mobil pribadi dari Bandung dan pakai parkir inap di Bandara Soetta. Sempat cari info kalau di Soetta itu ada lokasi parkir inap yang letaknya di terminal 1 dan 2 (di mana harganya mahal banget) dan yang lebih murah di luar Terminal yaitu di area gedung depan stasiun KA bandara, gedung 600 dan juga area Soewarna yang harganya lebih murah.

Saya putuskan untuk parkir di area non terminal saja dan dari pengamatan di google map, sepertinya lebih enak parkir di Gedung 600 karena tinggal nyebrang langsung ke Terminal 1 dan dari situ bisa naik bus shuttle ke Terminal 3. Lokasi nya persis di google map ini. Simulasi yang saya lakukan, jika tarif parkir 80rb hari pertama dan 60rb hari berikutnya, maka 5 hari parkir akan menghabiskan biaya sekitar 360-380rb rupiah. Cukup mahal sih, namun worth it kalau bawa balita agar ngga ribet di kendaraan umum saat berangkat dan pulangnya nanti.

Karena keberangkatan pesawat pukul 07.55 WIB, kami berangkat dari Bandung pukul 02.30 WIB. Masih ngantuk sih, tapi ya mau gimana lagi namanya juga cari tiket murah hehe.. Yang penting bawa bekel kopi pait sama permen kopiko aja buat di sepanjang jalan. Tiba di Jakarta pukul 05.00 WIB, proses checkin pun terbilang lancar dan sudah menunggu di gate sebelum pukul 06.00 WIB. Padahal sudah datang kepagian, tapi ternyata pesawat nya delay 1 jam.

Setelah menunggu sampai pukul 08.30 WIB, akhirnya semua penumpang dipanggil untuk masuk pesawat. Surprisingly, pesawat SQ yang saya naikin waktu itu full. Begitupun dengan penerbangan lain seperti Air Asia, JetStar, Garuda yang tujuan Singapur, semua full booked. Luar biasa antusiasme WNI untuk berkunjung ke SG setelah 2 tahun lebih puasa hehe.

Yang sudah dibayangkan adalah anak-anak heboh dan ngga bisa diatur di dalam pesawat, tapi ternyata anak saya yang kecil malah langsung tidur pas pesawat selesai takeoff dan baru bangun menjelang landing hehe. Anak saya yang pertama juga anteng nonton acara tv di layar.

Ada yang berbeda kali ini, inflight menu yang biasa disajikan dalam nampan dan dengan peralatan lengkap sebelum pandemi, kali ini hanya disajikan dalam kotak karton ukuran kecil (mungkin 10×10 cm) namun isinya sangat padat dan mengenyangkan. Saya lupa ambil foto namun nemu di google berikut kira-kira penampakannya

Walau kelihatan kecil, tapi isinya padat sekali. Waktu itu yang disajikan menu breakfast seperti omelet, include bake bean dan kentang, dan nasi lemak. Disajikan dengan sendok garpu kayu plus yoghurt sebagai pelengkap. Enaknya dengan wadah ini, penumpang yang masih takut makan di pesawat bisa bawa pulang dan makan sampai di tujuan nanti. Praktis anti ribet. Dari segi rasa pun ngga berkurang sama sekali. Tetap enak khas SQ.

Penerbangan 1 jam 20 menit singkat sekali, jadi jika kita bawa anak kecil, pramugari SQ akan mendahului pemberian kotak makan untuk anak-anak karena mereka kan makannya relatif lama. Habis semua anak dibagikan, baru mereka mulai keliling. Setiap penerbangan ke Singapur dari Jakarta, saya hitung, kita hanya punya waktu bersih 15 menit untuk makan sampai Pramugari akan ambil sisa makanan untuk dibuang. Sangat singkat, jadi ya makannya agak buru-buru.

Setiba di Changi, ternyata keramaian di Changi jauh berkurang dibanding pra-pandemi. Terminal arrival ngga begitu penuh tapi ya bisa ketahuan kalau mostly di Terminal itu isinya banyak orang indonesia sih hehe. Karena sudah ngisi SGA di Indonesia, begitu sampai di Imigrasi, mereka hanya cocokkan data paspor saja dan kita hanya diminta cap jempol dan foto. Saya hitung di imigrasi hanya perlu 30-60 detik saja.

Keluar dari Imigrasi, seperti biasa, ritual kalau bawa anak kecil adalah: ganti popok, ganti baju dan makan dulu. Waktu masih menunjukkan pukul 11.00 LT, masih 4 jam dari jam check-in pukul 15.00. Jadi masih banyak waktu untuk bersantai di Changi. Saya pun langsung mengambil SIM Card yang sudah dibeli dari Indonesia di counter UOB terdekat. Harga SIM Card StarHub 100GB untuk 14 hari kurang lebih Rp 114 ribu rupiah. Cukup lah rasanya untuk tethering dengan hp istri selama 5 hari di sana.

Setelah semua perlengkapan siap, seperti yang sudah-sudah, kami naik MRT dari Changi menuju stasiun Bugis (jalur hijau), lalu interchange ke jalur biru hanya 1 stasiun untuk turun di Rochor. Terakhir ke SG 4 tahun lalu, jalur MRT nya makin banyak, jalur Downtown (biru) sudah kumplit dan sekarang sudah dibangun jalur coklat, yang sepertinya akan kumplit di 2023-2024 nanti. Luar biasa pembangunan di SG

Karena naik MRT pas tengah hari bolong (sekitar jam 12) MRT pun tidak sepadat jam sibuk. Relatif longgar dan dapat tempat duduk. Oia, karena bawa bocah, dan mengingat di SG itu kemana-mana harus jalan kaki, gear yang kami bawa ke SG pun lumayan reliable. Yaitu 1 buah trike (yang foldable dan handy) untuk anak saya yang besar (6 tahun) dan 1 buah stroller foldable untuk anak saya yang 2 tahun.

Untuk trike, kami punya sendiri, tapi kalau foldable stroller cukup sewa saja selama 1 minggu sekitar Rp 150-200rb dan banyak tempat penyewaan secara online di kota Bandung. Dua peralatan ini sangat sangat membantu karena perjalanan tetap bisa dilakukan ketika anak mengantuk ataupun rewel karena ngga mau jalan kaki.

Perjalanan naik MRT dari Changi Airport sampai ke Rochor kira-kira sekitar 30 menit karena harus 1 kali ganti jalur di Bugis (pindah dari jalur hijau ke biru). Keluar di stasiun Rochor, jarak ke hotelnya hanya 2 menit jalan kaki sekitar 300-an meter. Saat jalan kaki saya lihat lokasi hotel nya sangat strategis, tepat di Beencoolen road, bersebelahan Burlington dan Simlim Square di mana banyak tempat makanan (BurgerKing, Subway) dan ada dua 7Eleven di sebrang jalan. Tidak lupa, livesaver di SG adalah vending machine dimana kita bisa beli Dassani (Aqua) ukuran 600mL seharga 1 SGD (ini harga 1 SGD sejak dulu kala rasanya, dari pertama saya ke SG tahun 2011).

Sampai di hotel, ternyata proses check-in tidak mulus, karena awalnya kami sudah pesan 1 kamar dengan 3 single bed di hotel ini, ternyata begitu check-in pesanan kamar tidak bisa dilanjutkan karena berdasarkan regulasi di SG, 1 kamar hotel hanya bisa ditempati oleh 1 orang anak haha.

Kamar triple room yang awalnya dipesan

Kami pun bingung karena pemesanan tidak bisa dibatalkan dan direfund. Ternyata resepsionisnya pun menawarkan upgrade ke kamar family room yang paling besar yang terdiri dari 2 queen bed. Dan ternyata bukan gratis dong, tapi harus nambah sekitar 100SGD per malam.. Busett.. Jadi pelajaran berarti kalau ke SG bawa >1 anak kecil umur di bawah 11 tahun, harus pesan minimal 2 kamar. Proses checkin juga tergolong lambat karena musti nunjukin lagi sertifikat vaksin dan paspor. Padahal kan kalau sudah mendarat di SG artinya sudah diakui kalau punya sertifikat vaksin ya.. Proses checkin sekitar 15 menit dan setelah itu kami boleh langsung masuk kamar karena kamarnya kosong.

Sayangnya saya lupa ambil foto detil kamarnya jadi cuma bisa nyomot dari google aja. Tapi kamarnya tuh luas banget, sekitar 6×6 meter mungkin dan letaknya di pojokan dekat tangga darurat. Kamarnya di lantai 3 dan ada jendelanya yang menghadap ke bagian belakang hotel. Kamar mandinya dipisah antara yang untuk mandi, dan untuk buang air. Tips berikutnya kalau pergi ke SG adalah selalu bawa alat cebok (semprotan) atau beli aqua yang ukuran 1.5L setelah diminum, botolnya ditaruh di kamar mandi untuk cebok. Karena hampir 100% kamar mandi di hotel di SG kamar mandi kering tanpa cebokan air wkwk.

Karena sudah terlalu lelah perjalanan dini hari dari Bandung, kami semua pun langsung tidur siang dan bangun sekitar pukul 17.00 untuk jalan-jalan. Oia, karena di trip kali ini saya cukup banyak riset mengenai tempat-tempat kuliner halal yang unik-unik, maka setiap makan malam, kami akan coba kulineran ke resto-resto halal di SG.

Destinasi wisata kuliner di hari pertama ini adalah resto Italia halal di SG yang namanya positanoristo. Seperti diketahui, di SG itu tingkatan resto halal dibagi-bagi menjadi 3 kategori yaitu : 1.vegetarian/vegan menu, ini sebetulnya tidak bisa disebut halal, tapi dia menyediakan menu vegetarian yang bisa dinikmati muslim. Hanya saja ya kita tidak bisa jamin bahwa alat masak dan alat makannya tidak dicampur dengan menu non halal. 2. Muslim owned, resto ini tidak disertifikasi halal, namun penjualnya adalah orang beragama Islam (biasanya melayu), dan cukup aman makan di resto yang muslim owned karena kecil kemungkinan mereka kasih kandungan non halal. 3. Halal certified, nah kalau yang ini yang betul-betul disertifikasi sama MUIS dan biasanya sertifikatnya ditempel di depan kaca resto. Konsekuensinya ya harga makanannya lebih mahal dari yang muslim owned. Trivia dikit, di SG itu semua fast food chain (BK, Pizzahut, McD, KFC, you name it) semua sudah certified MUIS. Jadi kalau ngga mau repot ya tiap hari makan fastfood di sana dijamin halal hehe.

Nah biasanya resto-resto halal yang tematik kayak Positano ini terkonsentrasi di daerah Arab Street, Bugis karena disinilah banyak perkampungan melayu Singapore dan destinasi penginapan murah untuk turis-turis Indonesia dan Malaysia.

Untuk menghindari antrian/keramaian saat makan di sana, saya pun coba reservasi via websitenya, dan memang saya sengaja pilih yang jam 17.00 di mana seharusnya belum banyak keramaian karena Singaporean itu biasanya dinner di atas jam 19.00. betul saja, sampai sana, masih sepi dan kami bisa dapat duduk di lantai 2 kursi untuk 6 orang. Sebagaimana resto full course, menunya beragam dari appetizer sampai dessert. Karena ini resto Italia, menu khasnya adalah lobster, berbagai pasta dan pizza. Cuma ya, karena dia kelasnya restoran, jadi harganya ngga ada yang murah di kantong ey, per menunya kira-kira kalau di rupiah-kan berkisar antara Rp 150-200 ribuan. Bikin jebol kantong.

Karena anak-anak sudah makan sereal dan kue yang dibawa dari Indonesia di hotel tadi, akhirnya kami pesan menu yang bisa dimakan ramai-ramai seperti Mozarella cheede balls, Margherita, Wild Mushroom Linguine, Mac & Cheese buat bocah, dan Amalfi Grilled Chicken. Seperti halnya di negara maju lainnya, air putih disediakan secara gratis dan bisa refill tanpa limit hehe.

Total berlima habis 112 SGD, lumayan juga untuk ukuran resto halal. Dari menu yang disajikan, saya kasih nilai 7.5/10 buat rasanya. Proses pembuatan menu juga ngga terlalu lama jadi terhitung cepat untuk ukuran resto full course. Mulai makan pukul 17.30, jam 18.15 kami sudah selesai dan orang-orang mulai berdatangan untuk dinner. Jadi ya pas sekali kalau mau menghindari peak hours.

Setelah makan, kami jalan kaki ke stasiun MRT Bugis untuk menuju Orchard karena istri saya rencana mau ketemu teman SMA nya di sana. Perut kenyang jalan pun rasanya malas ya. Perjalanan ke Orchard kira-kira 10 menitan dan titik ketemuannya memang di depan ION jadi keluar dari stasiun MRT langsung ke titik ketemu. Di Orchard hanya sekitar 30 menit karena hanya ngobrol-ngobrol, foto-foto dan makan 1 dollar ice cream. Selesai foto-foto, karena sudah mengantuk, akhirnya pamit pulang menuju hotel.

Karena cuaca Singapura itu humid dan panas, maka tips berikutnya ke sini adalah harus sering-sering cuci baju. Nah, karena cuci baju di hotel itu mahal, jadi lifesaver selama di SG adalah laundromat alias laundry coin self service. Di dekat hotel tempat kami menginap, ada 2 laundromat dengan jarak kira-kira 600an meter (10 menit jalan kaki) dan buka selama 24 jam. Jadi sebetulnya kami cuma bawa kira-kira 5 stel baju masing-masing untuk 5 hari. Tapi sehari itu kita bisa ganti baju sebanyak 2 kali minimal karena pulang hotel baju udah basah kuyup kena keringat hehe.

Bangun pagi hari kedua, jam 6 waktu setempat (yg mana itu kayak jam 5 subuh WIB), saya udah keluar dari hotel bawa kresek besar untuk nyuci baju di laundromat. Nama laundromat nya adalah LittleIndia, yang unik dari Laundry coin self service ini menurut saya adalah: tidak nampak penjaga alias fully CCTV operated, ada mesin penukar koin 1SGD, dia bisa nerima uang kertas pecahan 2, 5 dan 10 SGD, jadi jangan khawatir kalau kita ngga punya uang koin, disini udah ada mesin penukar otomatisnya. Mesin cuci dan pengeringnya terpisah. Kita bisa pilih yang ukuran 6kg atau yang 12 atau 14kg. Mesin cuci ukuran 6kg punya 2 macam tarif, yaitu cuci deterjen (3SGD per 30 menit) dan deterjen+pelembut (4 SGD per 30 menit). Mesin cuci ukuran 12 kg, tarifnya 5 dan 6 SGD untuk varian deterjen only dan deterjen+pelembut. Mesin pengering ukuran 6kg punya tarif 1SGD per 10 menit, sedangkan mesin pengering ukuran ukuran 14 kg, tarifnya 1SGD per 5 menit. Tips berikutnya adalah supaya cucian kering maksimal, waktu pengeringan yang optimal adalah 60 menit alias 6 SGD untuk ukuran mesin cuci 6 kg. Artinya untuk nyuci 6kg baju, kita perlu sekitar 9-10 SGD sampai baju kering. Lumayan mahal ya, sekitar 20rb per kilo tanpa sertika lagi.

Setelah masukkan baju kotor ke mesin cuci, saya tungguin dulu karena hanya 30 menit. Nah setelah cuci selesai dan masukkan ke pengering, saya tinggalin dulu ke hotel karena perlu waktu 1 jam sampai kering betul. Dan karena ini SG, jadi kalau kita tinggalin pun ngga perlu khawatir akan ada yang nyolong bajunya hehe.

Di hari kedua ini, tujuan kami adalah Garden by the Bay karena ingin lihat kembali duo Cloud Forest-Flower Dome dan ada tujuan wisata baru di sana yaitu Floral Fantasy. Untuk tiketnya sendiri saya sudah book sejak di Indonesia melalui aplikasi Klook. Klook ini langganan saya kalau mau jalan-jalan ke LN, karena sejak 2018, saya sering beli tiket USJ, Tokyo DisneySea, JR Pass, berbagai wahana wisata di HK, dan Singapore dengan rate rupiah dan lebih murah dikit dari harga website resminya.

Harga tiket masuk ke Flower Dome + Cloud Forest per orang sekitar Rp 400 ribuan (anak di bawah 3 tahun gratis). Sudah naik dikit sejak terakhir ke SG tahun 2019 dulu masih sekitar Rp 380 ribuan. Sedangkan tiket ke Floral Fantasy nya sekitar Rp 170 ribuan.

Untuk berangkat ke sini dari penjuru SG cukup mudah, cukup naik MRT lalu turun di stasiun Bayfront. Stasiun ini sudah interchange antara jalur CC (Circle Line) dan jalur DT (DownTown Line). Pilih pintu exit ke arah Garden by The Bay. Sebetulnya bisa juga kalau kita mau lihat-lihat Marina Bay Sands (MBS), tinggal pilih pintu exit Marina Bay (jalur CC dan jalur NSL/merah) lalu jalan dari MBS ke lantai B1 dan ikuti arah ke stasiun Bayfront.

Keluar dari pintu exit stasiun Bayfront arah Gardens by The Bay, sebetulnya kita akan langsung ketemu Floral Fantasy. Cuma karena tempatnya agak-agak nyempil jadi pengunjung kurang sadar dan banyak yang nyangka Floral Fantasy ada di dekat-dekat Flower Dome atau Cloud Forest.

Floral Fantasy, sesuai namanya, tempatnya isinya bunga-bunga hidup yang didekor sedemikian rupa yang bikin daya tarik pengunjung yang ke sini. Bunga-bunga nya adalah bunga dari seluruh penjuru dunia dan seperti di Flower Dome, ruangan ini full AC dan punya dinding dan atap kaca untuk sinar matahari masuk.

Keren banget lah pokoknya. Rp 170rb untuk masuk sini per orang tanpa batas waktu, memang worth it.

Nah, dari Floral Fantasy yang letaknya dekat dengan pintu keluar stasiun MRT, untuk menuju ke Garden by The Bays tempat Cloud Forest, Flower Dome dan Sky Tree, kita perlu jalan kaki sekitar 500-an meter melintasi danau via jembatan di sana. Di tengah hari bolong di cuaca SG yang saat itu sekitar 32 derajat celcius, sangat disarankan bawa payung agar tidak terlalu kepanasan.

Pemandangan yang saya lihat berbeda di area SkyTree adalah, tempat makan favorit saya kalau ke sini (Texas Chicken) dan resto-resto lain di area sekitar SkyTree sudah hilang. Mungkin karena dihantam pandemi atau memang lagi mau direnovasi. Artinya, tempat makan halal di area ini hanya tinggal Mc Donald aja. Dan ngga heran kalau McD di sini selalu penuh dan antri, apalagi pas jam makan siang/malam.

Karena kita sudah order tiket via online (Klook) tidak perlu ke counter ticket di sana, tinggal tunjukkan barcode saja ke petugas di pintu masuk dan langsung bisa masuk. Bagi saya sendiri, ini sudah kali ketiga masuk ke Flower Dome dan Cloud Forest. Nothing changed much sih, tapi tetep seru apalagi pertama kalinya ngajak dua anak ke sini.

Seperti biasa, yang pertama didatangi adalah Flower Dome. Sesuai namanya, tempat ini adalah kubah/green house raksasa yang diberi AC dan di dalamnya terdapat hampir semua jenis tanaman (terutama bunga) dari seluruh penjuru dunia. Kalau kita masuk ke dalamnya, dia terbagi-bagi jadi beberapa segmen sesuai dengan wilayahnya. Dari mulai Mediterranian, Australia, Afrika, Amerika Latin, Asia, dll. Tempatnya terdiri dari 2 lantai dan di bagian lantai dasar tepat di tengah-tengah ada bunga-bunga cantik yang biasanya jadi tema untuk bulan-bulan tertentu. Kali ini temanya adalah bunga mawar.

Kalau mau santai lihat-lihat semua bunga dan foto-foto, perlu waktu sekitar 1.5 jam untuk dihabiskan di sini. Karena masih pandemi, di penjuru Flower Dome ada petugas rompi merah yang berjaga-jaga untuk menegur pengunjung yang lepas masker ketika foto. Jadi ya kalau ada yang dapat foto tanpa masker berarti curi-curi menghindari petugasnya.

Setelah puas di Flower Dome, tujuan berikutnya adalah Cloud Forest. Sesuai namanya, di sini adalah dome raksasa ber-AC tempat tanaman-tanaman hutan hujan tropis dari seluruh penjuru dunia dipelihara. Daya tarik utama tempat ini adalah Giant Waterfall dan juga jembatan gantung yang menyusuri tiap lantai Cloud Forest.

Dan kebetulan di sana lagi ada Orchid Festival juga, jadi berkesempatan lihat Anggrek-anggrek bagus yang lagi dipajang di sana.

Sama seperti Flower Dome, kira-kira di tempat ini kita akan menghabiskan waktu 1-1,5 jam. Tips ke sini adalah setelah foto di Giant Waterfall dan lihat semua tanaman di lantai dasar, naik lift sampai ke lantai paling atas dan naik tangga lagi menuju Secret Garden. setelah itu turun menyusuri jembatan gantung sampai ke lantai bawah. Dan di lantai bawah nanti akan ada eskalator menuju ruang video dokumenter kenaikan suhu bumi 4 derajat. Setelah nonton video itu, keluar lewat pintu exit dan kita akan melihat 1 taman lagi yang isinya tanaman dan hewan-hewan kecil di hutan hujan tropis dan kalau beruntung nanti akan ada kabut-kabut tebal yang menyelimuti taman ini persis seperti di hutan hujan tropis.

Setelah hampir 4 jam mengelilingi Floral Fantasy, Cloud Forest dan Flower Dome, kami pun cari makan siang di tempat ini. Seperti yang saya bilang sebelumnya, setelah tutupnya Texas Chicken, praktis di sini resto halal fast food hanya tinggal Mc Donalds. Dan McD nya ini setiap jam makan siang rame nya luar biasa. Karena di dalam penuh, kami pun memutuskan makan di luar di bawah SkyTree sambil lihat-lihat pemandangan. Ternyata di area ini juga banyak orang-orang India yang makan-makan sambil gelar karpet.

Setelah puas jalan-jalan di sini, kami pun pulang kembali ke hotel untuk tidur sore. Maklum cuaca panas, jalan kaki yang jauh dan bawa anak-anak menguras tenaga dan emosi. Lumayan, sampai hotel masih jam 3 sore dan sempat mandi dan tidur sekitar 1-2 jam. Sore harinya kami cari oleh-oleh di Bugis dan Chinatown sebelum kembali ke hotel sekitar jam 9 malam.

Ada cerita lucu saat cari oleh-oleh di Bugis karena anak saya tiba-tiba ingin BAB. Dan kami pun sibuk cari toilet di mall terdekat. dan karena waktu itu nggak bawa alat cebok, akhirnya beli dulu air mineral di 7Eleven dan cebok pakai air mineral itu. Pelajaran berharga kalau ke LN bawa anak kecil adalah untuk selalu membawa alat cebok karena anak kecil sulit diprediksi hehe…

Sampai jumpa di part 2…

Hong Kong Trip Part 2

Di bagian kedua kali ini saya akan bahas tempat-tempat yang kami kunjungi waktu itu. Sebelumnya saya sempatkan googling dan browsing melalui situs-situs traveling yang terkenal seperti tripadvisor, atau situs resmi pariwisata HK yaitu discoverhongkong.com.

1. Times Square 

Seperti halnya di New York, di HK juga ada Time Square. Letaknya di kawasan yang terkenal yaitu Causewaybay. Time Square HK adalah semacam mall super besar yang di dalamnya banyak toko-toko dari brandbrand kenamaan kelas dunia. Mengapa disebut Time Square, mungkin karena di halaman depan gedung ini ada jam raksasa.

Time Square sebetulnya dekat saja dari tempat saya menginap di Wanchai. Ceritanya waktu itu ketika baru sampai dari bandara, kami memutuskan untuk makan di kantin Islamic Center. Karena masih jetlag ringan, maka setelah makan kami putuskan untuk jalan-jalan sebentar dan lihat-lihat Time Square, meskipun sebetulnya ngga masuk ke dalam gedung nya tapi cuma foto-foto di luar nya aja sih. Daerah Time Square waktu itu padat sekali, isinya orang lalu lalang. Ditambah lagi tipikal jalanan di HK yang punya trotoar sempit dan jarak antar-gedung jadi menambah crowded nya tempat ini.

2. Hong Kong Park

Hong Kong Park adalah taman (ruang terbuka hijau) terbesar di HK. Luasnya sekitar 80,000 meter persegi dan yang unik, taman ini terletak di sekeliling gedung-gedung pencakar langit. Untuk pergi ke sini cukup naik tram saja menuju ke Cotton Tree Drive di area Central. Turunnya tepat di depan Bank of China Tower. Tapi habis itu harus jalan kaki cukup jauh dan dia punya beberapa akses pintu masuk. Waktu itu saya masuk dari sebrang Bank of China Tower tapi sebetulnya lebih baik masuk dari pintu dekat-dekat Peak Tram saja. Ikuti saja petunjuk di gmap, nanti dari Murray Building kita akan menyebrang melalui jembatan penyebrangan ke pintu masuknya.

SAM_5571.jpg

Di dalam Hong Kong Park sebetulnya sama dengan taman pada umumnya, pohon-pohon, tanaman hias, bunga, namun di sini ada kolam besar, greenhouse dan bird observatory. Sayangnya waktu itu saya ngga sempat ke bird observatory dan greenhouse nya.  Karena waktu itu masih pagi di musim dingin, pengunjung taman nya hanya kaum lansia yang sedang berolahraga dan anak-anak sekolah yang mungkin sedang study tour.

Oia, karena Hong Kong Park ini luas sekali dan terbagi menjadi beberapa area, ada baiknya memahami dulu peta/denahnya di pintu masuk. Waktu itu saya hanya sempat ke Artificial Lake, Olympic Garden, Fountain Plaza, dan Children’s Playground saja.

layout_plan2.jpg

Hong Kong Park ini sebetulnya bersebelahan dengan HK Zoo and Botanical Garden. Mungkin sekitar 300-an meter aja di sebelah barat nya. Kalau tertarik berkunjung ke sana silakan saja. Semacam Kebun Binatang dan Kebun Raya tertua di dunia yang di dalamnya banyak aneka satwa dan tumbuhan. Silakan lihat saja detailnya di sini

3. Central Ferry Pier

Seperti yang pernah saya ceritakan di Bagian 1, kalau ingin menyebrang dari HK Island ke Kowloon, salah satu caranya dengan menggunakan Ferry dari Central atau WanChai. Karena waktu itu sedang di HK Park, maka lebih dekat ke Central Ferry Pier, yang sebetulnya ngga dekat-dekat amat juga hehe. Dari Hong Kong Park, perlu kembali lagi ke Central MTR Station yang jaraknya kira-kira 800-an meter. Setelah itu, harus menyeberangi underpass dan naik melalui jembatan di depan International Finance Center. Total jaraknya mungkin 2 kilometer hehe. Untuk menyebrang ke Kowloon hanya bisa melalui Pier nomor 7 yang letaknya paling kanan.

pp.JPG

Pemandangan sepanjang jalan menuju Pier 7 lumayan bagus, ada ferris wheel dan observatory tower yang bisa dikunjungi juga.

4. International Finance Center (IFC) Museum

Awalnya tujuan ke sini sebetulnya cuma untuk mencari tempat menikmati pemandangan kota HK dari ketinggian secara gratis. Hasil browsing di tripadvisor bilang bahwa salah satu tempat menikmati pemandangan gratis di atas gedung pencakar langit di HK ya di sini.

2.jpg

IFC bisa diakses dari stasiun MTR Central atau stasiun MTR Hongkong. Gedung IFC adalah gedung pencakar langit kembar yang di dalamnya terdapat museum sejarah mata uang HK Dollar, pusat perbelanjaan, kantor, dan lain-lain. Untuk ke museumnya, kita perlu ke gedung 2 (Two IFC Tower), dan nanti ke resepsionis gedung nya lapor saja kalau kita mau ke museumnya. Dia akan mengarahkan kita ke bagian basement (turun 1 lantai) untuk mendata diri (copy passport) dan kita akan diberikan badge untuk gatepass naik ke lift nya. Setelah dapat badge, petugas akan mengarahkan kita untuk naik lift khusus ke lantai 55.

Museum nya bernama Hong Kong Monetary Authority (HKMA) Museum, semacam lembaga pencetak uang (seperti BI atau perum Peruri di Indonesia). Lantai 55 dia beli khusus untuk memajang segala sejarah mengenai mata uang Hong Kong Dollar. Menurut saya, museumnya bagus dan interaktif karena ada beberapa peraga dan animasi. Semuanya pun berbahasa Inggris jadi bisa sekalian belajar dan dapat ilmu. Terlebih lagi, terdapat spot foto untuk foto dengan latar belakang gedung pencakar langit HK.

5. Kowloon Public Pier (Tsim Sha Tsui)

Satu lagi tempat yang dikenal sebagai spot wajib kalau jalan-jalan ke HK. Kowloon Public Pier terletak di Tsim Sha Tsui area, tepatnya setelah kita turun ferry dari arah HK Island (Central Pier). Tempatnya seperti pelataran luas tempat melihat gedung-gedung pencakar langit di HK Island. Pemandangannya lebih bagus dari pemandangan deretan gedung di Marina Bay Singapura karena jumlah gedung lebih banyak dan lautnya lebih luas daripada di Singapura.

Di malam hari sekitar pulul 19.00 waktu setempat kita juga disuguhkan atraksi laser show seperti halnya di Marina Bay singapura. Tapi atraksi laser show di sini hanya ditembakkan dari atas gedung-gedung saja dan nggak ada air mancurnya. Untuk atraksi laser show ini kita bisa lihat dari 2 sisi yaitu dari HK Island di dekat Central Pier dan tentunya dari Kowloon Public Pier ini. Karena akan padat pengunjung, sebaiknya datang 30 menit sebelum pertunjukkan dimulai supaya dapat spot yang enak untuk lihat atraksinya. Sebetulnya untuk menikmati laser show di HK kita bisa juga naik kapal pesiar yang berangkat dari Victoria Harbor di Causewaybay. Tahun 2014 lalu saya dan rombongan kantor pernah juga naik ini. Sambil makan malam dan menikmati pertunjukkan laser show dari atas kapal pesiar. Harga tiketnya kalau tidak salah sekitar Rp 350,000 per orang sudah termasuk makan malam.

6. Central Mid-Level Escalator

Sesuai namanya, tempat ini adalah eskalator publik terpanjang di dunia. Awalnya saya tahu tempat ini dari serial Korea, Running Man. Konon pemerintah HK membuat eskalator ini karena banyak warga yang tinggal di sini yang kesulitan akses karena kontur tempatnya yang berbukit dan berundak. Eskalatornya dimulai dari Robinson Road di daerah Hongkong MTR Station. Namun spot yang paling terkenal karena banyak tempat jual suvenir adalah di distrik SoHo.

centralmidlevelsescalatorsystemSource: Discoverhongkong.com

Yang unik di sini, eskalatornya hanya 1 arah saja, yaitu arah naik. Kecuali pada pagi hari dari pukul 6.00-9.00 eskalatornya dibuat searah turun karena banyak orang turun dari apartment untuk bekerja.

Sayangnya waktu itu kita ngga nemu spot yang dipakai shooting Running Man episode HK karena rupanya masih harus ke atas lagi. Alhasil ya cuma naik beberapa segmen eskalator dan balik lagi deh.

rmmidlevel.jpgPingin foto di spot ini tapi ngga nemu karena kurang sabar hehe.

Sebelum naik eskalator, foto-foto dulu di area sekitar eskalator tempat jual suvenir-suvenir. Tempatnya lumayan instagrammable juga.

Naik eskalator ini lumayan juga loh. Kalau naiknya sih ngga masalah karena tinggal berdiri, tapi turunnya itu yang harus jalan turunin tangga. Semakin jauh kita naik ke atas, semakin berat juga perjalanan pulangnya nanti hehe.

Oia, kalau bawa anak kecil ke sini harap berhati-hati karena pulangnya pasti akan minta gendong hehe. Gempor dah..

IMG_7368.JPG

7. Ngong-Ping 360

Menurut saya pribadi, Ngong-Ping 360 adalah the best destination waktu kami ke HK. Saya tahu Ngong ping ini dari acara fomedy traveller nya Rina Nose di Trans TV. Ngong Ping 360 adalah cable car terpanjang di dunia yang melintas dari terminal Tung Chung hingga Ngong Ping village di Lantau Island.

b.jpgcredit: Klook

Pilihan cable car di Ngong Ping ada 2 yaitu ordinary car dengan lantai tertutup, atau Crystal Car dengan lantai kaca jadi kita bisa melihat laut di bawah kaki kita. Awalnya saya mau naik yang Crystal tapi karena istri saya takut jadi pilih yang Ordinary Car saja.

Tiket Ngong Ping bisa dibeli via Klook.com, prosesnya mudah, tinggal order, bayar pakai kartu kredit dan nanti akan dikirimkan barcode untuk ditukar di counter nya di sana. Kami pergi ke Ngong Ping pagi hari ketika hari cerah. Dari wanchai, perlu naik MTR sebanyak 2 kali dengan rute Tung Chung. Keluar dari stasiun MTR Tung Chung masih harus jalan sekitar 200 meter ke stasiun cable car nya. Tiket nya sebetulnya bisa dibeli langsung di sana namun musti ngantri.

c.jpg

Satu cable car bisa muat 8 orang dewasa, jadi nanti ketika mengantri, si petugas akan menghitung jumlah orang dan keluarga agar bisa pas di dalam 1 kereta. Cable carnya 80% kaca jadi pemandangan 360 derajat bisa terlihat dengan jelas.

d.jpg

Ketegangan dan keseruan naik cable car dimulai ketika meninggalkan Tung Chung dan menanjak menuju Ngong Ping Village. Jalurnya kira-kira sekitar 5.7 kilometer dan hanya ada 2 titik “pemberhentian” di tengah yaitu Airport Island Angle Station dan Nei Lak Shan station. Pemberhentian di sini maksudnua bukan cable car nya berhenti lalu menaikkan/menurunkan penumpang, tapi lebih ke menjadi titik transit supaya jalur kabel nya nggak kepanjangan kali yah.

Ketika lepas dari Airport Island Station, pemandangan dan keseruan dimulai, di sisi kanan terlihat HKG Airport dengan sangat jelas. Tanjakan cable car kira-kira sekitar 30-an derajat dan cable car ini kokoh jadi biarpun ada angin kencang di luar, guncangannya nggak kerasa.

Menurut saya, pemandangan sepanjang perjalanan benar-benar menakjubkan. Kalau yang takut ketinggian (kayak istri saya) bisa memejamkan mata saja sepenjang perjalanan hehe. Nyesel deh kalau ngga ke sini. Harga tiketnya untuk 1 kali trip (bolak-balik) adalah sekitar Rp 400-an ribu rupiah per orang. Worth it lah pokoknya.

Ada video pendeknya kalau mau ngebayangin suasana di atas cable car hehe

Lama perjalanan sekitar 10 menit dan di puncak bukit di Lantau Island terdapat Ngong Ping village sebagai pemberhentian utama. Ngong Ping village adalah desa kecil tempat patung buddha yang tertinggi di HK. Begitu tiba di Ngong Ping village, kita disuguhi pemandangan asri dan sejuk sekali. Ngong Ping adalah desa yang sebetulnya penduduknya sedikit sekali. Tapi karena sudah diubah jadi tempat wisata, maka begitu keluar dari terminal cable car, kita akan melihat pemandangan toko-toko suvenir dan restoran yang berderet-deret.

Oia, satu-satunya restoran halal di sini adalah Ebeenezers Kebabs and Pizzeria. Restoran yang menjual kebab turki dan pizza italia yang bisa dimakan di sini untuk pengunjung muslim. Harga per porsinya kira-kira kalau di rupiahkan sekitar 100-an ribu.

Berjalan semakin ke dalam dari toko-toko dan restoran tersebut, kita akan disuguhi pemandangan bagus mirip di film-film kerajaan Tiongkok dulu. Spot favorit di Ngong Ping Village sebetulnya adalah patung buddha yang terletak di tempat tertinggi di Hongkong yang disebut Tian Tan Buddha. Aksesnya sebetulnya hanya tinggal menaiki sekitar 200-an anak tangga saja, tapi karena saya bawa orang tua dan anak kecil, jadi ya cukup menikmati selfie di bawah saja hehe.

Kalau ke berkesempatan ke HK, Ngong Ping 360 harus menjadi top list destinasi ya. Dijamin worth it lah.

8. The Peak

Ini juga salah satu wisata favorit di HK. The Peak adalah tempat tertinggi di HK yang menyediakan view spektakuler pemandangan gedung-gedung pencakar langit di HK. Akses ke The Peak sebetulnya banyak, bisa naik Taksi atau Bus umum, yang rute nya berbelok-belok ekstrem dan bikin mau muntah (seriusan). Dan yang paling terkenal tentu saja naik The Peak Tram, tram yang menanjak dengan kemiringan nyaris 30 derajat dan bikin bingung dan dis-orientasi ketika kita naik di dalamnya hehe.

tram_image_15

Akses menuju The Peak bisa dicapai dari Stasiun MTR Central, dari sana jalan kaki menuju loket The Peak Tram kira-kira 500 meter. Loket The Peak Tram terletak di depan pintu masuk Hong Kong Park. Harga tiket masuknya sekali jalan (one way) sekitar Rp 150.000 dan Rp 220.000 untuk bolak-balik menggunakan tram. Saran saya, tiketnya lebih baik dipesan melalui travel agent, seperti klook. Nanti serah terima tiket bisa dilakukan di MTR Central dan berangkat bareng menuju The Peak Tram dengan menggunakan jalur antrian khusus, semacam fast track gitu.

Antrian di the peak tram kalau pas high season bisa panjang sekali. Di sepanjang tempat mengantri kita bisa lihat-lihat sejarah tram yang dibangun sejak 100 tahun lalu di era penguasa Inggris. Tram nya sendiri terdiri dari 2 gerbong dan kapasitasnya kira-kira 100 orang (plus yang berdiri). Menuju the peak sepanjang perjalanan akan menanjak dengan sudut kemiringan 30 derajat. Tips nya ketika naik pilih duduk di sebelah kanan. Sepanjang perjalanan tram sebetulnya dia melintasi area komersial, semacam kompleks perumahan dan apartmen mewah, kalau lihat keluar semua gedung menjadi miring.

Sampai di atas, kita bisa melihat HK dari area view gratisan di sekitaran The Peak. Atau kalau mau spot berbayar bisa naik ke The Peak tower dengan membayar ekstra 10 HKD (20 ribu rupiah) dan bersiap desak-desakan dengan ratusan turis lain hehe.

Di area the peak tower terdapat toko oleh-oleh, restoran, dan cafe. Ada juga toko baju, area 4D, dan Madame Tussaud Museum yang terkenal itu. Kalau beli tiket pulang pergi, ketika pulang kita bisa naik tram arah turun, biasanya antrian turun jauh lebih sedikit dari antrian naik. Tapi karena waktu itu peak season, maka antrian turun hampir sama dengan antrian naik dong. Akhirnya kami putuskan untuk pulang dengan naik bus saja.

Bus bisa diakses dari terminal the peak yang letaknya nggak jauh dari The Peak Tower. Hanya jalan kaki 3 menit saja. Di sana terdapat beberapa rute bis ke pusat kota seperti Causewaybay, Central, dan Kowloon.

Ketika naik bus, perjalanan akan sangat ekstrim. Untuk yang sering mabuk perjalanan disarankan membawa kantong kresek untuk jaga-jaga kalau muntah. Waktu saya naik bus, orang di depan saya beneran muntah loh. Untungnya dia sedia kantong kresek waktu itu. Jadi jangan bayangkan jalannya hanya belok-belok biasa. Ini udah berbelok curam, supir busnya kayak oranh kesurupan dan jarang ngerem hehe. Tapi seru pokoknya. Apalagi kalau berdiri hehe.

9. Disneyland

Salah satu destinasi wajib juga jika berkunjung ke HK. Di Asia, Disneyland hanya ada di HK dan Tokyo. Harga tiket sepertinya lebih murah di HK, kalau dirupiahkan sekitar 600-an ribu. Di kesempatan ini sebetulnya saya pun tidak masuk ke Disneyland, hanya sekedar foto di depannya saja karena keterbatasan waktu hehe.

SAM_5607.JPG

Untuk menuju Disneyland, alternatif termudah dan termurah adalah menggunakan MTR. Baik dari Kowloon maupun HK Island, bisa ambil MTR yang menuju stasiun Sunny Bay. Nanti dari Sunny Bay kita akan naik kereta khusus dengan tema Disney ke stasiun Disneyland.

Sayangnya seperti yang sudah saya utarakan di Part 1, pada trip kali ini saya tidak sempat mengunjungi Macau karena keterbatasan waktu. Beberapa destinasi favorit di HK seperti Ocean Park juga nggak sempat saya kunjungi.

Tapi sebagai gantinya,  saya berkunjung ke Singapura untuk menonton Singapore Air Show 2018. Dari HK ke Singapura saya menggunakan Scoot (low cost airline milik Singapore Airlines). Harga tiketnya sebetulnya mahal, tapi dia masih lebih murah dibanding naik Cathay Pacific atau maskapai lain. Pesawatnya pun pakai B787 Dreamliner dan tergolong baru.

Di kesempatan menjelajahi Singapura waktu itu, saya berkesempatan mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya seperti Museum of Art & Science, Marina Barrage, dan Rooftop Marina Bay Sand.

A. Marina Barrage

marina-barrage.jpgcredit: seanlam/shutterstock

Marina barrage adalah dam/bendungan yang dibuat untuk konservasi air di Singapura. Semacam instalasi pengolahan air terintegrasi gitu. Hebatnya di sini dibuka untuk publik sebagai sarana edukasi. Jadi kita bisa lihat video animasi, poster dan literatur tentang bagaimana sistem pengolahan air ini bekerja. Dan di bagian atasnya ada lapangan hijau terbuka tempat orang-orang bisa main layangan atau anak-anak berlari-lari.

Path_2018-02-09_11_05.jpg

Karena dia letaknya di ujung, akses ke sini hanya bisa melalui bus saja. Caranya, dari Marina Bay MRT station keluar ke pintu Exit A dan jalan kaki 400 meter menuju Prince Edward Rd. Lalu naik bus dengan nomor B02 dan turun tepat di depan Marina Barrage.

B. Marina Bay Sands Rooftop

Rooftop Marina Bay Sands dikenal juga dengan Marina Bay SkyPark. Jadi di bagian atas “perahu” nya itu ada akses yang dibuka untuk umum sebagai observatorium terbuka. Tentunya terpisah dari infinity pool yang terkenal itu. SkyPark letaknya di ujung depan perahu sedangkan si infinity pool memanjang di bagian tengah sampai belakang.

maxresdefault.jpgcredit : youtube

Akses ke sini sebetulnya agak membingungkan. Jadi dari The Shopee nya Marina Bay Sands, kita harus perhatikan papan petunjuk arah ke Hotel Marina Bay Sands. Nanti setelah melintasi resepsionis hotel, kita keluar hotel dan menuju eskalator ke lantai B1 untuk beli tiket di sana. Harga tiketnya sekitar Rp 180rb per orang. Dari counter tiket, ada lift yang bisa membawa kita langsung menuju rooftop. Kalau cuaca cerah sebetulnya lebih asik ke sana menjelang pergantian siang dan malam (sekitar pukul 17.00) tapi karena waktu yang terbatas, saya ke sana pas siang hari bolong sekitar pukul 12.00. Tapi pemandangannya tetap spektakuler kok.

Sempat ambil videonya sedikit…

C. Singapore Air Show 2018

Singapore Air Show adalah ajang 2 tahunan di SG yang menampilkan pameran aviasi terbesar yang diikuti manufaktur/pabrikan pesawat seluruh dunia dan yang paling terkenal adalah air show (pertunjukan udara) selama 30 menit yang menampilkan aerobatik pesawat pesawat tempur negara-negara di Asia Tenggara dan tamu (biasanya US).

Tidak ketinggalan ada pameran pesawat militer milik SAF (Singapore Air Force) yang kalau lihat bikin kita ngenes karena TNI AU kita kalah dari sisi teknologi hehe. Pesawat-pesawatnya pun bisa dinaiki dan bisa juga foto bareng pilot-pilot bule dari Amerika loh. Singapore Air Show diadakan di Changi Expo, yang letaknya jauh dari Changi Airport hehe. Untuk akses ke sini hanya bisa menggunakan bus gratis dari MRT Expo.

Karena waktu itu sedang tidak enak badan, saya hanya datang pukul 09.00 dan sudah kembali ke rumah pukul 13.00. Hanya sempat melihat aerobatik dari SAF, Thai Royal Air Force, dan Malaysia Air Force yang bagus-bagus.

Salah satu spot wajib lain yang pasti saya kunjungi kalau ke SG adalah Garden by The Bay hehe.

20180209_114707.jpg

Hong Kong Trip 2018 Part 1

Agak terlambat sebetulnya, tapi saya coba share sedikit pengalaman jalan-jalan dengan keluarga ke negara/kota yang terkenal sebagai surga belanja orang-orang Indonesia yaitu Hong Kong.

Ini merupakan pengalaman kedua saya ke Hong Kong. Sebelumnya, di tahun 2014, saya pernah ke sini dalam rangka tugas perusahaan. Negara atau teritorial administratif Hong Kong terletak di selatan negara Tiongkok. Hong Kong (HK) terdiri dari 2 area yaitu Kowloon yang berbatasan langsung dengan Tiongkok dan Hong Kong Island yang dipisahkan oleh laut/selat sekitar 1 kilometer jaraknya.

Awalnya sebelum memutuskan pergi ke HK hanya impulsif saja dari pencarian tiket-tiket murah di traveloka. Di bulan Desember 2017, saya iseng melakukan pencarian ke negara non-visa untuk jatah cuti di tahun 2018, begitu mencari HK, saya lihat tiketnya sedang promo luar biasa. Malindo Air, perusahaan patungan antara Lion dengan perusahaan Malaysia, menawarkan tiket super murah karena dia baru buka rute dari KL ke HK. Harganya hanya IDR 3,7 juta saja untuk sekali jalan untuk 3 dewasa dan 1 anak >2 tahun. Kalau dibagi rata, per orang hanya 900rb saja! Lebih murah dari penerbangan Bandung-Balikpapan hehe.

Tiket 1 kali jalan ke HK pakai Malindo Air untuk 3 dewasa dan 1 anak (transit KL)

Pulangnya, saya menggunakan Scoot (anak nya Singapore Airlines) karena berencana mampir Singapore dulu mengunjungi saudara di sana. Namun harga tiket 1 kali jalan dari HK ke SG jauh lebih mahal dari tiket Jakarta-HK via KL hehe.

HK membebaskan visa untuk turis asal Indonesia selama waktu kunjungan maksimum 15 hari. Jadi memang negara ini “surga” nya bagi orang Indo yang hobi belanja. Saya berangkat bersama istri, anak, dan ibu. Di hari keberangkatan kami terbang pukul 5.30 WIB pagi menuju KL. Sampai di KL kira-kira pukul 8.30 waktu setempat dan melanjutkan terbang ke HK pukul 10.00 waktu setempat. Perjalanan dari KL ke HK memakan waktu 3 jam. Karena Malindo ini termasuk full service airline, jadi di pesawat akan mendapatkan makanan dan terdapat inflight entertainment yang cukup menarik. Mirip Batik Air dan Garuda lah hehe

Bagian dalam Malindo Air (credit to Vkeong.com)

Pesawat yang digunakan adalah Boeing 737-900ER bukan pesawat berbadan lebar seperti Cathay atau Garuda dari Jakarta. Dan hebatnya lagi, karena rute KUL-HKG ini baru buka beberapa hari, di pesawat kosong dong. Paling hanya 50% aja bangku terisi. Malah, sebagian besar penumpang pindah ke kursi kosong dan tiduran di sana hehe.

Karena waktu itu bulan Februari 2018, HK sedang memasuki musim dingin (late winter) dan menurut google, suhu rata-rata di sana sekitar 11-15 derajat Celcius. Cukup dingin dan awalnya karena saya merasa HK lebih dekat ke khatulistiwa, saya dan istri memutuskan untuk tidak membawa long john dan hanya bawa 1 jaket tebal/coat. Dan keputusan ini ternyata salah besar hehe.

Bandara HK International Airport (HKG) terletak di Chek Lap Kok island, sebuah pulau reklamasi yang luas sekali dan hanya dipakai untuk bandara saja. HKG adalah hub untuk Cathay Pacific dan anaknya (Dragon Air). Terminalnya hanya 2 saja (T1 dan T2) namun besar sekali. Kalau naik maskapai dari Indonesia dan negara Asia Tenggara, biasanya diturunkan di T2.

Pulau Reklamasi HK International Airport

Nah, ada 1 yang berbeda kalau kita datang di HK. Paspor kita rupanya ngga di-cap sama imigrasi, hanya diberi selembar kertas kecil saja sebagai bukti Visa on Arrival selama 15 hari. Kertas kecil itu yang akan diambil lagi ketika meninggalkan HK. Jadi ngga akan ada cap di paspor kita untuk jadi bukti kalau kita ke HK hehe.

Nah, tips untuk yang bepergian ke HK, lebih baik di bandara, sewa saja yang namanya Octopus Card. Octopus Card ini semacam e-money atau MRT card nya Singapore. Kartu cash-less khusus untuk naik semua transportasi publik di HK, dari mulai MTR, bus, tram, dan ferry. Untuk sewa kartu ini, kita bisa lakukan di counter yang terletak pas di terminal kedatangan (setelah keluar dari pengambilan bagasi dan custom). Pada dasarnya, kartu Octopus ini adalah sewa. Saya sarankan pilih saja yang Standard Octopus Card (tanpa nama). Jadi dengan membayar HKD 150, kita melakukan deposit 50 HKD, dan mendapat initial value HKD 100. Nah, waktu kita meninggalkan HK, kartu ini bisa diuangkan kembali di counter di terminal keberangkatan atau di stasiun MTR di bandara HKG. Jadi 50 HKD nya bisa kembali plus sisa uang di dalamnya. Untuk pengisian/recharge nya bisa dilakukan di semua stasiun MTR. Gampang saja, bisa ke counter atau ke mesin otomatis seperti di Singapura. Penjelasan lebih rinci tentang Octopus Card bisa dilihat di sini. Octopus Card ini ada paket-paketnya seperti Airport Express atau Tourist day Pass. Tapi saya waktu itu tidak beli paket-paketan itu karena tujuan nya ke banyak tempat sehingga memutuskan beli yang Ordinary Pass saja.

Octopus Card Standard. Tidak ada nama dan nanti bisa diuangkan kembali ketika meninggalkan HK

Nah, transportasi umum dari HKG ke kota, baik ke Kowloon maupun ke HK Island bisa dilakukan dengan 2 cara, yang pertama naik MTR HKG Express menuju Kowloon Station seharga HKD 110 sekali jalan (HKD 205 p.p.). Dari Kowloon station kita naik MTR lain menuju HK Island kalau destinasinya ke HK Island. MTR ini terhitung mahal tapi cepat karena dia express dan hanya berhenti di stasiun tertentu saja. Ada alternatif yang lebih murah yang saya ambil yaitu dengan menggunakan Airport Bus (CitiFlyer). Airport Bus ini ada di Ground Transportation Center antara T2 dan T1. Bus nya berwarna merah kuning dan 2 tingkat.

CityFlyer Bus dari HKG ke Kota

Karena bus nya ada beberapa jenis trayek, sebelum memutuskan naik baiknya baca peta rute nya dulu di sini. Kalau saya waktu itu karena menginap di daerah Wanchai, jadi naik bus dengan nomor A11. Perlu diingat, semua bus di HK itu masuk lewat pintu depan dan keluar lewat pintu tengah, beda dengan di Singapura. Ketika masuk lewat pintu depan, kita melakukan tapping kartu Octopus atau membayar tunai. Jadi ketika turun tinggal langsung turun saja. Tarif nya sudah ditentukan di awal dan flat. Oia, tarif bus A11 ini harganya HKD 40 sekali jalan menuju Wanchai, waktu tempuhnya sekitar 45 menit. Koper/bagasi diletakkan di bagian tengah dari bus, dia punya tempat semacam kompartemen besar untuk meletakkan koper ukuran besar. Kalau sudah penuh, koper bisa digeletakkan saja di lantai kosong tapi harus dalam posisi tidur supaya nggak jalan hehe.

Rute CitiFlyer dari dan menuju HKG Airport

Keuntungan naik bus adalah, sepanjang perjalanan kita bisa menikmati pemandangan menuju kota. Dari mulai jembatan yang menghubungkan pulau-pulau buatan di HK dan jembatan dari Kowloon menuju HK Island. Lebih menarik dari naik MTR yang sebagian besar jalurnya subway.

20180204_170305.jpgSalah satu pemandangan dari dalam bus

Penduduk HK bahasa sehari-harinya sebetulnya Bahasa Inggris, namun mereka juga pakai Bahasa Kanton (Cantonese). Aksen bahasa Inggrisnya menurut saya lebih mudah dipahami daripada aksen Singlish nya Singapura hehe. Di HK ada sekitar 200-an ribu TKI asal Indonesia dan sebagain besar terkonsentrasi di HK Island. Jadi jangan heran di sudut-sudut kota kita bisa ketemu dengan mbak-mbak yang menggunakan Bahasa Jawa hehe. Tapi mereka juga lancar Cantonese karena rata-rata sudah kerja lebih dari 5 tahun lho.

Selama tinggal di HK, saya memutuskan untuk menggunakan jasa AirBnB. Sebuah start-up online platform yang menyediakan jasa penyewaan properti, baik kamar saja, maupun satu apartmen/rumah. Ini pertama kalinya saya menggunakan AirBnB di luar negeri karena sebelumnya hanya menggunakan jasanya waktu jalan-jalan ke Malang dan BSD hehe.

Tips dalam memilih AirBnB adalah menggunakan fitur filtering. Kita bisa memfilter mau menggunakan properti tipe apa (shared room, private room, atau whole apartment/house). Selain itu bisa di-filter dari sisi range harga, jumlah kamar, fasilitas, dan yang terpenting saya selalu men-check “Superhost” yaitu host/pemilik dengan review dan feedback paling baik.

Setelah melakukan filtering, saya memutuskan menginap di daerah Wanchai, salah satu daerah utama di HK Island. Saya pilih Wanchai karena dekat dengan stasiun MTR, dekat dengan jalur tram dan dekat dengan Islamic Center dimana saya bisa makan makanan halal hehe. Karena kami berempat (3 dewasa dan 1 anak) maka saya putuskan menyewa whole apartment.

HK adalah salah satu kota/negara dengan penduduk terpadat di dunia. Harga properti di sana juga sangat mahal sekali. Jadi jangan bayangkan 1 apartemen itu luasnya sama kayak apartemen di Indonesia. Untuk apartemen yang saya sewa senilai Rp 1 juta per malam, dia hanya punya 1 kamar tidur private, 1 kasur yang terletak di ruang tengah, dan 1 sofa bed. Selain itu ada dapur, 1 kamar mandi, dan meja makan yang terletak di depan pintu. Jadi begitu buka pintu, literally langsung menuju ruang makan dan kasur! hehe. Menyewa apartemen via AirBnB untuk 3 orang dewasa jauh lebih murah daripada menyewa 2 kamar hotel yang harga per malamnya untuk hotel paling sederhana dan layak bisa mencapai 800rb sampai 1 juta rupiah. Bedanya ya di AirBnB ini kita ngga dapat sarapan. Makan masak sendiri, nyuci baju sendiri, cuci piring sendiri, dll hehe.

Apartemen yang saya tempati di Wanchai, luasnya mungkin kurang dari 20 meter persegi

Daerah neighborhood di sekitar apartemen ini menurut saya bagus juga. Karena HK merupakan daerah terpadat di dunia, maka sejauh mata memandang ya isinya komplek apartemen super padat, orang lalu lalang, jalanan sempit, mobil mewah masuk gang (serius), dan banyak 7-Eleven. Oia, yang punya apartemen ini orang HK asli, tapi dia punya asisten orang Indonesia (asal Surabaya) yang sudah kerja di HK selama 15 tahun. Kami janjian di depan apartemen untuk serah terima kunci. Mbaknya yang fasih cantonese ini sebelum masuk ke apartemen, dia lapor dulu ke security gedung bahwa kami akan menginap selama 4 malam di sana.

Daerah di sekitar apartemen yang saya tinggali selama di Wanchai

Oia, kalau niat, sebetulnya kita bisa melakukan survey virtual via google street view. Biasanya AirBnB menutup lokasi tepatnya properti tersebut, tapi dengan berbekal foto-foto dari host dan google street view, kita sebetulnya sudah bisa nebak di mana letak apartemennya.

Apartemen yang saya tinggali ini dekat sekali dengan pasar tradisional Wanchai Market. Di sana terdapat banyak pilihan sayuran, ikan, telur, dan makanan dan bumbu asal Indonesia seperti Indomie (sudah pasti), kecap, sambal ABC, dll. Oia, setiap berpergian ke luar negeri, saya biasanya membawa bekal darurat seperti Mie Gelas, Pop Mie atau Indomie goreng. Namun karena dekat dengan pasar, jadinya kami memutuskan sebisa mungkin memasak yang ada saja seperti telur, ikan, dan sayuran untuk pelengkap makan mie hehe. Juga buah-buahan seperti pisang dan jeruk.

Wanchai market, pasar tradisional yang menjual semua barang kebutuhan pokok

Di bagian sebelumnya, sempat saya bilang bahwa menginap di Wanchai salah satu alasannya adalah dekat sumber makan halal yaitu Islamic Center. Letaknya cuma 5 menit jalan kaki dari Apartemen yang saya tinggali. Seperti namanya, Islamic Center adalah masjid dengan pusat kajian Islam di HK. Karena ada ratusan ribu umat muslim di HK yang berasal dari Indonesia dan Malaysia, keberadaan Islamic Center ini menjadi penting bagi umat Islam di sana.

Bagian depan Islamic Center

Di Islamic Center ini ada kantin yang cukup besar yang menyediakan makanan halal, menu yang khas dari Islamic Center HK adalah dimsum nya.

Dimsum halal khas kantin Islamic Center HK (credit havehalalwilltravel.com)

Selain dimsum, di sini juga menyediakan menu lain seperti nasi goreng, sayuran, ayam, daging sapi, sea food, dll. Range menu nya 1 porsi sekitar 100-150 HKD atau kalau di rupiahkan sekitar 170-200rb rupiah. Untuk menu dimsum nya harga per piring/porsi nya sekitar 13-20 HKD atau 25-35 ribu rupiah. Cukup mahal yah? hehe. Makanya setiap hari, saya 1 kali saja makan di sini kalau ngga, kantong bisa jebol haha.

Oia, hal menarik dari kantin Islamic Center HK ini, waktu kami pertama ke sana agak nyasar karena google map menunjukkan arah melalui pintu belakang gedung. Waktu kami celingak-celinguk, tiba-tiba ada 2 mbak-mbak berbahasa jawa yang sedang ngobrol sambil jalan. Refleks lah kami tanya ke mereka dan langsung diberi tahu bahwa kami sudah ada di pintu belakang gedung nya. Kemudian kantin nya sendiri buka dari pukul 10.00 sampai pukul 21.00. Namun khusus menu dimsum, mereka hanya ada sampai pukul 3 sore saja. Kemudian koki dan pelayannya adalah orang lokal, namun karena policy di sini strict, mereka tidak diperkenankan merokok dan membawa makanan non-halal selama berada di area Islamic Center. Jadi sudah dipastikan 100% aman lah hehe. Rekomendasi dimsum favorit di kantin Islamic Center bisa dilihat di sini.

Mata uang Hong Kong adalah Hong Kong Dollar (HKD). Saran saya, mending tukar uangnya ketika masih di Indonesia saja supaya tidak rugi kurs ketika di sana. Biasanya rate di HK lebih tinggi. Hindari menukar kurs di Bandara karena biayanya mahal. Uang HKD kertas terdiri dari 10 sampai 1000 HKD. Uniknya, mereka mencantumkan logo Standard Chartered di uangnya. Mungkin karena StandChart yang mencetak duitnya kali yah? hehe. Nilai tukar waktu saya ke sana bulan Februari sekitar Rp 1,700-an per 1 HKD.

Karena HK adalah negara 4 musim yang sangat dekat dengan wilayah tropis, jadi musim dingin di sini tidak akan pernah ada salju dan suhunya masih di atas suhu rata-rata musim dingin negara subtropis. Begitupun saat musim panas, suhu nya masih di bawah suhu rata-rata musim panas negara subtropis. Jadi sebelum pergi, baiknya melihat kondisi cuaca terkini via google weather supaya nggak salah kostum.

Transportasi umum di HK sebetulnya ada banyak pilihan, dari mulai yang super hemat seperti tram, yang cepat seperti bus dan MTR, sampai transportasi penyebrangan dari Kowloon ke HK Island dan sebaliknya yaitu Ferry. Saya bahas satu persatu ya.

1. Tram

Tram adalah salah satu transportasi tertuan di HK. Sudah ada sejak 100 tahun yang lalu dan bentuknya masih dipertahankan hingga kini. Tram hanya ada di HK Island dan disebut juga “ding ding” tram, mungkin karena suara nya yang mirip lonceng. Tram memiliki jalur “rel” yang jadi satu dengan jalur mobil. Tram di HK membentang dari ujung barat (Kennedy Town) ke ujung timur pulau HK yaitu di Shau Kei Wan. Pada dasarnya semua tram rute nya sama, hanya ada yang belok ke selatan dan ke utara sedikit, tapi mereka seluruhnya melewati tempat tujuan wisata favorit di HK Island seperti Central, Wan Chai, Admiralty, Causeway Bay dan North Point.

3.jpg

Tram berjalan dengan kecepatan rendah, mungkin sekitar 15-20 km/jam saja, dan berjenis double decker. Rute tujuan tram terletak di bagian kaca depan. Seluruh badan tram biasanya ditempeli sponsor atau iklan dan berwarna-warni. Karena HK sangat padat dan tram jalurnya jadi satu dengan mobil dan kendaraan lain, jadi kesannya sangat paciweuh atau njlimet sekali di jalan itu.

1.jpg

Tram menurunkan dan menaikkan penumpang di halte. Yang perlu diingat, naik tram harus melalui pintu belakang dan turun melalui pintu depan. Berbeda dengan bus yang kita bahas sebelumnya. Lorong tram sangat sempit, jadi tidak cocok untuk digunakan kalau kita membawa barang seperti koper. Kalau memang berniat naik tram untuk sekedar sight-seeing, silakan saja naik ke bagian atas dan duduk di pintu paling depan. Tram ini kacanya bisa dibuka sampai full jadi sangat cocok untuk menikmati kepadatan Hong Kong haha.

HK_Tram_tour_view_interior_Central.JPG

Ketika naik melalui pintu depan, kita tidak perlu membayar, namun ketika turun lewat pintu depan, kita harus membayar melalui 2 cara : pakai tunai dan menggunakan octopus card. Tarif tram berlaku flat, dulu waktu saya ke sana harganya masih 2.2 HKD per trip, namun sekarang nampaknya sudah 2.6 HKD atau sekitar IDR 5,000. Tapi masih murah untuk hitungan HK. Jangan lupa, kalau bayar pakai cash, dia tidak menyediakan kembalian, jadi harap bayar dengan uang pas hehe.

2.jpg

2. Bus

Nah, karena tram hanya ada di HK Island saja, sedangkan kalau kita mau bepergian dari HK Island ke Kowloon atau sebaliknya, maka transportasi termurah adalah menggunakan City Bus. Bus di HK ada banyak seperti di Singapura. Salah satu yang armadanya terbanyakan adalah bus NWFB (New World First Bus). Rute nya banyak dan luas sekali. Sebelum naik bus, ada baiknya mengecek rute nya melalui google map dan memvalidasi ketika tiba di halte nya.

4.jpg

Seperti yang saya bilang di atas, naik bus di HK masuk melalui pintu depan dan langsung tapping octopus card atau bayar tunai. Tarif nya flat dan berkisar antara 4 HKD sampai 46 HKD tergantung trayeknya. Fare nya bisa dilihat ketika di halte. Bus nya seperti bu di Singapura jadi sudah pasti nyaman. Bus nya juga beroperasi hingga tengah malam. Selain bus besar, di HK juga banyak minibus untuk rute-rute tertentu. Bentuknya mirip elf  kalau di Bandung hehe.

5.jpg

3. MTR

MTR atau Mass Transit Railway adalah transportasi populer di HK. Rute nya menjangkau seluruh area padat populasi di HK. Karena HK sudah sangat padat, seluruh jalur MTR terletak di subway kecuali MTR ke arah bandara dan Ngong Ping hehe. Jadi sepanjang perjalanan ya hanya gelap saja di jendela.

6.jpg

MTR kebanyakan terkonsentrasi di Kowloon karena memang area ini sangat padat penduduk. Terlebih karena di HK Island sudah ada tram jadi mungkin kebijakannya hanya ada 2 sampai 3 jalur MTR saja di sana. Stasiun MTR dapat dengan mudah dikenali dari luar karena terdapat logo MTR yang khas (huruf M dua sisi saling bertolakbelakang).

7.JPG

Untuk naik MTR, metode pembayarannya ada 2. Kita bisa membeli single trip ticket melalui vending machine. Jadi tentukan dulu rute tujuannya lalu nanti bayar dengan cash dan mendapat temporary tiket berupa kertas yang harus dimasukkan ke dalam gate check-in di stasiun. Atau paling praktis dengan Octopus Card seperti yang sudah pernah saya bahas. Pembelian single trip ataupun recharge Octopus Card bisa dilakukan di semua stasiun sebelum masuk gate. Semua nya dilengkapi dengan pilihan menu English jadi nggak usah takut hehe.

8.jpg

Di dalam MTR sangat nyaman dan bersih, mirip-mirip lah dengan Singapura dan Tokyo. Namun, pada saat jam sibuk/peak hour, MTR bisa berubah menjadi horor karena saking padatnya. Jadi usahakan hindari naik MTR pada saat jam sibuk ya. Untuk rincian fare MTR bisa dilihat di sini.

9.jpg

4. Ferry

Ferry merupakan transportasi yang cukup terkenal terutama untuk sight seeing saat menyebrang dari Kowloon ke HK Island atau sebaliknya. Karena biayanya lebih murah dibanding bus dan MTR serta pemandangannya lebih bagus karena melintasi selat HK dengan kecepatan rendah. Selain menyebrang antara Kowloon dan HK Island, ferry juga menyediakan layanan penyebrangan ke Macau, salah satu negara teritori Cina yang bebas visa juga untuk orang Indonesia. Sayangnya, dalam perjalanan kali ini saya tidak ke Macau karena waktu yang terbatas.

Penyedia jasa ferry di HK yang terkenal adalah Star Ferry. Rute penyebrangannya dari Tsim Sha Tsui di Kowloon menuju dua dermaga di HK Island yaitu Central Ferry Pier dan Wanchai Star Ferry Pier.

map.jpg

Sekali jalan kira-kira memakan waktu sekitar 10-15 menit saja, bentuk kapal ferry nya pun sederhana dan memiliki saya tampung sampai 150 orang sekali angkut yang terdiri dari 2 deck, deck atas dan bawah.

star-ferry.jpg

Bagian dalam nya pun sederhana, hanya terdiri dari kursi-kursi kayu panjang dengan sandaran punggung. Tips untuk naik ini, incar kursi sebelah kanan kalau menuju Kowloon dan sebelah kiri kalau menuju HK Island. Ferry nya tidak memiliki kaca jadi harap berhati-hati.

IMG_7323.JPG

Tarif ferry sekali jalan adalah untuk deck atas : HKD 2.7 (hari biasa) dan HKD 3.7 (hari libur), sedangkan untuk deck bawah : HKD 2.2 (hari biasa) dan HKD 3.2 (hari libur). Jika di rupiahkan masih di bawah Rp 8.000 sekali jalan hehe. Murah sekali kan? Selama di HK saya menggunakan star ferry dari Central Terminal untuk menuju Kowloon. Untuk menuju ke sini, jalannya cukup jauh dari pemberhentian MTR dan tram Central, sekitar 10 menit jalan kaki karena harus menyebrang jalan tol.

Di bagian berikutnya akan saya bahas mengenai tempat-tempat yang kami tuju selama di sana.

Bersambung ke bagian 2…

Tokyo Business Trip 2014 (Part 2)

Pagi hari yang mendung, hari ini adalah agenda utama dari business trip saya, yaitu mengunjungi terminal LNG di Negishi dan di Showa. Berhubung masih di pengujung musim dingin, cuaca Tokyo kala itu sekitar 6-8 degC namun matahari bersinar cukup cerah di siang harinya.

Setelah sarapan dan berpakaian rapi, kami pun pergi menuju terminal Negishi di daerah Yokohama, kurang lebih 30 km dari Tokyo dengan menggunakan bus. Sepanjang perjalanan hanya terlihat kawasan industri, pelabuhan, terminal peti kemas, dll. Tour guide kami, Yashida-san menjelaskan dengan rinci pemandangan yang ada di kanan dan kiri kami.

Tibalah kami di Negishi Terminal, stasiun penerimaan LNG dari seller-seller LNG Jepang salah satunya LNG dari Bontang. Terminal ini adalah terminal pengumpul LNG dan regasification untuk disalurkan menuju saluran gas kota / pembangkit listrik. Setelah mendengarkan penjelasan yang cukup rinci dari Manager Operation di sana, dan dilanjutkan dengan tanya jawab, kami pun diajak keliling plant dan terminal namun hanya dari atas bus saja.

1a.jpg

Nyaris hanya segelintir orang saja yang nampak di sana. Fokus pengamatan kami adalah terminal pengisian LNG untuk truk (lorry) yang memang rencananya akan diadaptasi untuk diterapkan di Bontang dan Arun (Indonesia). Kamipun sempat menyaksikan demo LNG dari salah satu karyawati Tokyo Gas di sana.

1964872_10201811719439378_205656605_n.jpg

Dari sana, perjalanan dilanjutkan menuju Showa Satellite LNG Terminal, sebuah terminal penerimaan LNG dari lorry yang letaknya 120 km dari Negishi. Perjalanan ditempuh dalam waktu 2 jam, oleh karena itu kami makan siang dengan sandwich di dalam bus. Karena Showa letaknya di rural area, maka pemandangan yang saya lihat pun sedikit banyak persis dengan apa yang sering tergambar dalam anime-anime Jepang seperti Doraemon dll. Dari mulai lapangan dengan jembatan dan sungai yang mengalir jernih, bentuk-bentuk rumah khas Jepang yang mungil, dll.

1b.jpg

Sesampainya di Showa LNG Terminal, kami pun menyaksikan presentasi yang disampaikan Manager Operasi di sana. Ada kejadian unik ketika di tengah presentasi tiba-tiba kursi yang saya duduki bergetar, awalnya saya pikir teman saya di belakang saya yang usil, namun rupanya ada gempa kecil kala itu,mungkin karena sudah biasa, orang Jepang yang ada di sana pun nampaknya santai saja hehe.

Setelah pemaparan, kamipun diajak keliling terminal penerimaan LNG yang mungil tersebut. Meskipun mentari bersinar terik, namun suhu nya 8 derajat aja loh hehe.

1c.jpg

Kami pun pulang sekitar pukul 15.00 waktu setempat, Yashida-san bilang kalau perjalanan pulang bisa memakan waktu 3 jam karena ada kemungkinan macet. Wah bisa macet juga ya di Jepang hehe. Benar saja, pukul 18.00 waktu setempat, kami pun tiba kembali di Tokyo. Ketua rombongan mengatakan setelah ini adalah acara bebas, artinya saya akan kembali berpetualang di Tokyo hehe.

Pukul 19.00, saya mengajak teman saya FY untuk bergegas karena rencananya hari ini kami akan ke Asakusa dan Akihabara. Ke Asakusa ceritanya mencari oleh-oleh dan ke Akihabara karena ya disini lah konon berkumpulna para otaku di Japan hehe.

Sialnya ketika tiba di Asakusa, rupanya toko suvenirnya sudah tutup karena hanya buka hingga pukul 17.00, ya sudah daripada mubazir, saya pun mengabadikan momen di Kaminari-mon, Gerbang Petir, khas Asakusa.

10014656_10201828279533370_909157233_n.jpg

Karena belum sempat makan malam, kami pun mencari restoran cepat saji terdekat. Oia, selama di Jepang, saya dan rekan saya ini selalu makan malam makanan cepat saji karena memang bingung memilih makanan yang “halal” meskipun makan di cepat saji dan memesan ayam pun hampir dipastikan tidak halal dan sesuai syariah. Tapi ya gimana lagi, daripada mesen daging babi, hehe. Contohnya ini, kami makan di McD dan memesan chicken burger namun tetap mendapat Bacon Topping yang (sepertinya) lezat hehe

1896982_10201828292653698_965194639_n.jpg

Setelah (cukup) kenyang, perjalanan pun dilanjutkan ke Akiba. Dengan menggunakan subway, kami pun tiba di Akiba. Keluar dari stasiun subway, rupanya sudah disambut oleh 2 cafe yang sedang digilai anak-anak muda di Indonesia.

1d.jpg

Karena masih cupu, kami pun memutuskan untuk tidak masuk ke dalam karena bingung juga masuk ke dalam terus ngapain ya hehe. Akhrinya setelah berfoto, kami pun hanya mengikuti langkah kaki dan meng-eksplor Akihabara.

1e.jpg

Suhu menunjukkan angka 2 degC, ketika mau mengambil foto, saya harus melepas sarung tangan, baru beberapa detik saja dilepas, tiba-tiba tangan saya mati rasa saking dinginnya hehe. Sepanjang mata memandang, Akihabara terdiri dari toko mainan (baik Gundam, action figure, bahkan sex toys), toko elektronik baik menjual console maupun TV, dan juga maid cafe (cafe dengan pelayan gadis muda berpakaian ala maid eropa) dan tempat-tempat hiburan esek-esek (seperti tidur dipangkuan cewe, panti pijat, karaoke mesum) yang semuanya dijaga oleh om-om berpakaian jas lengkap!

Ada kejadian super unik ketika saya dan teman saya memutuskan untuk mencoba masuk ke dalam salah satu Adult Shop berlantai 6 yang ada di sini. Kami berdiri di depan pintu cukup lama entah pergumulan batin atau memang terlalu cupu untuk masuk hingga akhirnya salah satu pemuda lokal menepuk pundak kami dan menyuruh kami masuk karena menghalangi jalan wkwk. Di dalamnya sulit diekspresikan dengan kata-kata, semua kebutuhan esek-esek ada di sana, di setiap lantai menyajikan benda-benda berbeda, dari mulai DVD, costum play (cosplay), sex toys, dan aneka barang-barang fetish yang saya sendiri nggak tahu gunannya untuk apa 😛

Setelah sekitar 10 menit kami menjelajah, akhirnya kami pun keluar dengan muka yang cukup merah wkwkwk. Jam sudah menunjukkan pukul 11.30 malam waktu setempat, kami pun bergegas pulang karena besok pagi masih ada agenda inti hehe.

1511554_10201828366935555_934558931_n.jpg

Oia, meskipun sudah pukul 11.30 malam, namun suasana di stasiun kereta Tokyo tidak pernah sepi, saya sendiri bingung sampai kapan kereta terakhir melayani penumpang. Mungkin sekitar pukul 1 dini hari.

Bersambung ke part 3 (final)

Tokyo Business Trip 2014 (Part 1)

Baru satu tahun lebih bekerja di perusahaan ini, saya sudah dirotasi ke Department baru, sebuah Department yang menangani business development, yang sebetulnya tidak ada hubungannya sama sekali dengan latar belakang keilmuan saya yaitu Teknik Fisika.

Baru 3 bulan bekerja di Department baru, saya sudah mendapat rejeki nomplok yaitu penugasan ke Tokyo selama 4 hari 3 malam untuk studi banding stasiun pengisian LNG (Liquified Natural Gas) skala kecil dengan menggunakan moda transportasi truk.

Pengalaman keluar negeri selain Singapore dan Malaysia yang pertama untuk saya. Sempat bingung juga bagaimana mengurus visa ke Jepang namun akhirnya tercerahkan setelah membaca laman ini  http://www.id.emb-japan.go.jp/visa.html

Visa yang saya pilih adalah visa single entry 15 hari, persyaratannya sangat mudah, karena ini perjalanan bisnis maka selama ada supporting letter dari perusahaan, visa sudah 99% di tangan. Pembuatan visa memakan waktu 4 hari kerja dan kita musti mendatangi Kedubes Jepang di Jl. MH Thamrin Jakarta (depan Plaza Indonesia)

Setelah visa rampung, saya pun hunting tiket PP. Karena first timer, saya lebih memilih Garuda meskipun teman-teman saya banyak yang merekomendasikan JAL atau ANA. Mungkin karena lebih enak pergi pertama kali dengan maskapai nasional kali ya. Oia, karena perjalanan saya itu dilakukan di bulan Februari akhir, Jepang masih berada di musim transisi antara musim dingin dan musim semi sehingga suhu masih berkisar di 10 hingga 15 degC dan harga tiket masih murah karena low season.

Perjalanan pun dimulai dari Bandara SHIA pukul 23.00 WIB, pesawat Garuda yang kami naiki merupakan pesawat gress B777-300 ER, longhaul flight dengan kapasitas 300 orang. Kami serombongan berjumlah 12 orang dari 4 perusahaan berbeda. Saya duduk dekat jendela bersama 2 orang Jepang yang sepanjang perjalanan tertidur dan sulit untuk dibangunkan. Setelah 7 jam yang melelahkan, akhirnya tiba juga di Tokyo pukul 09.00 waktu setempat.

1098416_10201791307889102_947621510_n

Cuaca di Narita saat itu hujan ringan dan suhu mencapai 6 degC. Setelah clingak clinguk turun dari pesawat, hal yang pertama saya cari adalah toilet… 7 jam menahan pipis rasanya memang menyiksa. Setelah tiba di toilet, saya coba cuci muka dulu dan brrrr… air dari wastafel rasanya kayak air es! Dan ketika mencari WC, mata saya tertuju pada label ular menjilat pantat berikut… ya WC nya ada cebokannya hehe

10004075_10201791312489217_1936687003_n

Selain cebokan, WC ini juga dilengkapi dengan penghangat di dudukannya loh.. kebayang donk kayak gimana rasanya.. cuaca dingin setengah mati lalu pas BAB pantat dihangatkan oleh pemanas? hehehe….

Lepas dari WC, awalnya saya mau coba ke kota dengan MRT, namun rupanya kami sudah dijemput oleh perwakilan dari perusahaan yang akan kami kunjungi dengan mobil. Begitu keluar dari Bandara, rasanya seperti masuk ke freezer… Dan celakanya lagi, saya masih mengenakan style pakaian tropis hehe.

1653781_10201791312769224_2099512728_n

Kami berencana menginap di Intercontinental Tokyo Bay di daerah Minato, Tokyo… perlu diketahui, bandara Narita letaknya bukan di provinsi Tokyo namun di Chiba, sekitar 70-80 km dari Tokyo.. Cara menuju Tokyo dari Indonesia ada 2 yaitu via Narita yang letaknya di kota lain dan satu lagi via Haneda yang letaknya di pinggiran Tokyo.

Sepanjang perjalanan menuju hotel pemandangan yang ada hanya pantai, pelabuhan, pantai, bukit, pantai, pelabuhan… perjalanan pun ditempuh dalam waktu 45 menit saja karena jalan menuju Tokyo sangat lebar dan sepi hehe.

Sesampainya di hotel, setelah check-in, kami pun bertemu dengan pemandu kami, seorang japanese yang sudah 13 tahun bekerja di perusahaan Pertamina di Tokyo..namanya Yashida-san. Orangnya baik sekali dan sangat ramah. Bahasa Indonesianya pun lancar sekali. Karena agendanya besok pagi, maka siang/sore itu kami diajak pergi ke Ginza untuk minum kopi dan melihat-lihat Tokyo…

Sebelum ke Ginza, kami memutuskan untuk makan siang dulu.. Yashida-san membawa kami ke subway Hamamatsu-Cho untuk menikmati hawker food atau warteg ala Jepang. beliau sudah tahu bahwa sebagian besar rombongan kami adalah muslim dan mencarikan makanan yang sebisa mungkin menghindari daging babi dan darah.

1902726_10201791319409390_492859309_n

Ada yang unik di subway food stall di salah satu stasiun di Tokyo… Semuanya memajang berbagai macam replika makanan yang bernama sampuru (sample), sebuah replika dari resin dan diberi sentuhan art sehingga menambah selera orang yang melihatnya.

a

Kamipun masuk ke salah satu restoran dan sibuk memilih menu yang semuanya keliatan enak. Namun setiap kami memilih menu, Yashida-san selalu bilang, “jangan, itu ada babi-nya”… akhirnya daripada pusing, saya pun memilih beli Omoraisu saja.. Ya omellet rice… nasi telor dadar kalau di Indonesia…

1920597_10201791329889652_136817791_n

Selepas makan, kamipun menuju stasiun Hamamatsu-Cho untuk menuju Ginza… Dari subway kami naik 2 lantai menuju ticket box dan disana terpampang peta JR-Line (Japan Railway), jalur kereta atas tanah yang menghubungkan seluruh Tokyo.. Peta nya kira-kira seperti ini :

TokyoJRMap

Puyeng kan? ini baru kereta atas tanahnya loh.. belum kalau digabung dengan subway nya yang dijamin bikin kepala pusing tujuh keliling hehe. Operator kereta di Tokyo setahu saya ada 4 : JR (Japan Raiway, Toei Subway, Tokyo Metro, Tobu).  Tapi ga perlu bingung karena semua informasi di stasiun sangat sangat jelas. Kita tahu kita berada di mana dan jika mau menuju ke stasiun X, ada informasi yang jelas mengenai tarif dan waktu tempuh.. luar biasa bukan? Di samping itu, ada situs http://world.jorudan.co.jp/norikae/cgi-bin/engkeyin.cgi yang bisa membantu kita memilihkan rute tersingkat dan termurah ke seantero Tokyo.

Seperti di Singapura, di Tokyo juga tersedia vending machine ticket one trip dan juga ticket terusan untuk sekian hari. Karena kami cuma 3 hari di sini, kami pun memutuskan membeli tiket sekali jalan ke Shimbashi, stasiun terdekat dari Hamamatsu-Cho ke Ginza. Tiket nya bentuknya hanya seperti kertas biasa bukan ada chipnya seperti di Singapura. Setelah dapat tiket, saya dan teman kerja saya, sebut saja FY, memulai petualangan sekaligus kebodohan kami di negeri Sakura hehe…

Seperti layaknya orang desa yang baru ke kota, saya tidak paham bagaimana memasukkan tiket ke gate yang ada di depan saya. Saya perhatikan orang Jepang menggunakan tiket kartu dan melakukan tapping di scannernya.. Lah saya yang panik karena banyak orang di belakang saya mencoba men-scan tiket kertas itu, dan hasilnya, gate tidak terbuka.. sampai tiba-tiba saya lihat di sebelah saya ada orang yang memasukkan kertas tersebut ke lubang yang ada di gate.. sayapun melakukan hal yang sama…Gate pun terbuka..

Namun kebodohan tidak sampai disana, ketika gate terbuka, semestinya tiket akan keluar lagi untuk dimasukkan di pintu keluar.. namun karena tadi tidak saya ambil, tiket pun tertelan lagi… Akhirnya, karena panik, saya pun mencoba menghampiri si petugas jaga di sana… Dengan hanya bermodalkan “sumimasen, ticketo wa…” ditambah sedikit gesture ala tarzan, si petugas sepertinya mengerti dan langsung menutup counternya… dia kemudian mengambil kunci dan membuka salah satu gate dan mengambilkan tiket saya.. Duh malunya hehe.. Setelah itu, saya baru sadar bahwa saya ditinggal oleh rombongan hehe…

1175703_10201791380090907_1236216533_n

Tiba di Shimbashi, saya dan FY pun keluar dari stasiun dan takjub melihat pemandangan Ginza, sebuah distrik high class yang konon memiliki harga properti termahal di Jepang dan salah satu yang termahal di dunia.. Ginza ini identik dengan elektronik karena di sana ada banyak raksasa Jepang seperti Sony dan Toshiba..

Sepanjang mata memandang, isinya hanya toko-toko dan toko… cuaca dingin menusuk kulit dan disertai gerimis dan angin yang dinginnya semriwing.. kami pun masuk ke salah satu toko, seingat saya Uniqlo hanya untuk menghangatkan badan hehe…

b

c

Entah mengapa, ketika masuk ke UNIQLO, kami bertemu kembali dengan rombongan kami yang memang sedang mencari kehangatan juga hehe… Dari sana kita pun menuju kedai kopi untuk menikmati kopi hangat dan croissant ditraktir oleh Yashida-san…

Hari sudah sore dan kamipun kembali ke Hotel untuk istirahat.. Kamar saya ada di lantai 15, dan view nya memang Teluk Tokyo.. tapi karena mendung, ya pemandangannya hanya sebatas ini saja…

e

Setelah mandi dan beristirahat sejenak, saya dan FY memutuskan untuk ngebolang ke Shibuya dan naik ke Tokyo Tower hehe….

f

Dari hotel, kami menuju stasiun Hamamatsu-Cho dan mengambil rute Yamanote Line ke arah Shibuya.. ada apa sih di Shibuya? Ya ingin ke sana aja mengingat tempatnya sering muncul di film-film dan anime Jepang hehe. Hujan cukup lumayan dan di sana kami pun membeli payung transparan khas Jepang seharga JYP 300 (40.000 IDR)

g

Di Shibuya memang yang paling terkenal adalah crossing street dan patung Hachiko nya. Tapi sayang sekali karena hari hujan, kamipun agak malas mengambil foto kenang-kenangan di sana hehe. Di Shibuya juga banyak love hotel, short time hotel untuk pasangan yang ingin memadu kasih hehe.. Setelah puas melihat-lihat, kami pun segera menuju Tokyo Tower…

Untuk menuju Tokyo Tower, kami menggunakan subway yaitu Mita Line dan turun di stasiun Onarimon.. dari sana masih harus jalan kaki sejauh 1 km menyusuri taman dan hutan kota hehe.. agak menyeramkan sih rute nya karena sepi dan gelap.. tapi dari kejauhan, menara berwarna jingga yang menyala ini sangat menakjubkan…

h

Tak lupa berfoto dulu dengan mbak-mbak penjaga counter nya hehe.. tiket masuknya seingat saya sekitar 1320 JYP atau sekitar 150.000 IDR untuk sampai di puncak tertingginya.. Naik ke sana menggunakan lift dan pemandangan dari atas adalah Tokyo 360 derajat!

i

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, kami pun kembali ke hotel karena besok akan dimulai perjalanan dinas yang sebenarnya…

Bersambung…

 

Singapore Trip 2014 (Part 5 : Final)

Rupanya sudah 2 tahun saya tidak menulis di blog ini. Mungkin karena pengaruh kesibukan saya di departement yang baru yang mengharuskan saya lebih banyak bekerja di luar jam kerja hehe.

Anyway, kisah ke Singapura akan saya tutup di bagian ini. Pada tanggal 13 Februari 2014, tepatnya sehari sebelum hari kepulangan saya, Gunung kelud meletus dan abu vulkaniknya menyebar ke seluruh pulau Jawa. Akibatnya seluruh bandar (kecuali Cengkareng) ditutup sampai waktu yang tidak ditentukan.

1

Sempat was-was karena takut tidak bisa pulang, saya mencoba menenangkan diri dan beranggapan bahwa mungkin saja bandara Bandung hanya tutup sehari saja. Besok nya, agenda terakhir kami di Singapura tetap harus terlaksana yaitu menonton Singapore AirShow 2014 hehe.

singapore-airshow-2014-logo

Singapore Airshow adalah ajang kedirgantaraan 2 tahunan yang diselenggarakan pemerintah Singapura untuk menampilkan teknologi-teknologi dirgantara seperti pesawat, militer, dan drone. Sebenarnya pada Singapore Airshow ini yang ditunggu-tunggu adalah parade pesawat yang membelah langit singapura termasuk parade pasukan TNI AU Indonesia.

Pukul 06.30 waktu setempat, kami sudah check-out dan menitipkan barang di hostel tempat kami menginap. Pesawat ke Bandung yang akan kami naiki nanti berangkat pukul 16.00 waktu setempat, jadi ya masih cukup waktu untuk setengah hari mengikuti Singapore Airshow. Dari Chinatown kami naik MRT ke area EXPO (dekat Changi). Di sana, terdapat hall untuk pemeriksaan tiket dan barang bawaan. Namun, rupanya bukan disitu tempatnya, tapi darisana kita harus naik bus (gratis) lagi yang membawa kita ke area pameran di Changi Airport, kira-kira 15 menit perjalanan.

65423_10201764994271278_675920389_n

Sesampainya di sana, sudah banyak orang berkumpul padahal hari masih menunjukkan pukul 08.00 dan sejauh mata memandang, banyak pesawat militer berbagai model dan ukuran yang dipajang di areal yang memang khusus untuk pameran ini. Beberapa di antaranya memang diperuntukkan untuk dinaiki dan bisa difoto di dalamnya, hanya saja untuk dapat giliran difoto, antrinya luar biasa panjang hehe.

Kami pun cuma berfoto di depan beberapa pesawat dan helikopter saja karena malas mengantri. Lumayan lah bisa foto di dalam U.S Air Force

a.jpg

b.jpg

Sekitar pukul 11.00, parade pesawat tempur pun dimulai. Di langit bergemuruh suara pesawat-pesawat tempur yang menampilkan aksi-aksi akrobatik. Dari mulai pesawat sekelas F-16 hingga tim aerobatik Indonesia yang menggunakan pesawat propeller pun ada. Durasi akrobatik sekitar 20 menit, karena semua orang fokus terhadap apa yang terjadi di langit, sepertinya tidak ada yang sempat meliput pemandangan tersebut hehe.

Selepas akrobatik sesi-1, perut pun sudah mulai lapar. Kebetulan disana ada stand makanan yang cukup enak. Saya pun memesan semangkok Laksa Singapore yang didalamnya ada crayfish yang cukup besar. Porsinya pun lumayan besar dengan harga SGD 10.

1798078_10201765028432132_2139581351_n

Setelah makan siang, kami pun beranjak ke lokasi pameran indoor nya. Disana terdapat banyak perusahaan dirgantara dunia yang memamerkan teknologi-teknologi terbaru ciptaan mereka. Dari mulai pemain besar seperti Boeing, Airbus, Bombardier, hingga AirNav dan PTDI dari Indonesia ikut ambil bagian hehe. Tak ketinggalan maskapai-maskapai penerbangan dunia seperti SQ, Lufthansa, Cathay, JAL, Korean Air, hingga Garuda pun ada di sana.

d.jpgc.jpg

Waktu telah menunjukkan pukul 13.00, sudah tinggal 3 jam menuju keberangkatan pesawat yang akan membawa kami pulang ke Bandung. Kamipun bergegas keluar dari Exhibition Hall Changi dan naik bis yang membawa kami kembali ke Expo. Dari sana, naik MRT ke Chinatown untuk mengambil barang yang dititipkan di Hostel. Sekitar pukul 13.30 kami tiba di Chinatown dan bergegas kembali ke Changi Airport. Pukul 14.00 tiba di Changi dan langsung menuju desk Air Asia untuk Check-In.

Namun apa daya, ketika tiba disana, tertulis semua keberangkatan ke kota lain di Indonesia selain Jakarta cancelled masih karena efek Gunung Kelud. Artinya tidak ada lagi yang bisa dilakukan karena penerbangan ke Jakarta pun penuh. Semua orang mengeluh, marah, dan frustrasi namun semua tidak bisa mengubah keadaan.

kamipun hampir memutuskan untuk menginap di Bandara namun mempertimbangkan berbagai hal, akhirnya kami kembali ke hostel dan memutuskan untuk menginap 1 malam lagi. Malam itu kami tidak kemana-mana karena sudah terlalu lelah. Hanya berbaring di hostel dan menunggu pagi datang.

Esok paginya pukul 06.00 kami bergegas menuju Changi. Berharap kali ini bandara Bandung sudah dibuka dan pesawat sudah bisa diterbangkan kembali. Pukul 07.00 check-in di Changi belum juga memberi kepastian akan jadwal hari ini. Hingga tengah hari berlalu, semuanya mulai frustrasi. Namun sekitar pukul 14.00 akhirnya kabar gembira yang dinantikan pun tiba. Flight ke Bandung yang tertunda kemarin akhirnya diizinkan terbang. Kamipun pulang dan meninggalkan Singapura dengan perasaan lega dan puas…..

 

 

 

 

Singapore Trip 2014 (Part 4)

Jumat, 14 Februari 2014. Matahari bersinar terik di China Town. Rupanya waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 waktu setempat. Selepas mandi dan ganti baju, kami pun bergegas ke stasiun MRT, membaur dengan hiruk-pikuk orang yang hendak pergi beraktivitas di pagi hari terakhir kerja mereka.

Dari China Town kami naik MRT jalur biru ke arah DownTown. Berhubung belum pernah turun di tempat ini, yasudah dicoba saja turun di sini. Toh nampaknya yang namanya Singapur kemana-mana dekat dan gak akan mungkin nyasar :P. Oia agenda hari ini adalah menjelajahi Gardens by The Bay, tapi bukan di area lampu-lampunya tapi kita mau ke Flower Dome dan Cloud Forest yang ada di sana yang katanya wow banget hehe. Dan malamnya makan kepiting khas Singapur (Chilli Crab) yang terkenal itu hehe.

Turun di Down Town, kami pun baru sadar rupanya tempat ini ngga jauh dari Marina Bay Sand, tepatnya di sisi timur sekitar 500 m. Dari sana, kita jalan kaki dulu ke area Marina Bay Sand berhubung masih jam 9-an jadi ya santai dulu dan foto-foto dulu hehe.

Matahari baru bangun, jalanan masih sepi, padahal di bawah tanah udah rame banget ama orang hehe

Cuma ada beberapa orang bule yang olahraga pagi di pinggir sungai (?) Singapore River ini

Dapet lansekap pemandangan pagi hari Singapur yang keren ini dengan kamera NX2000 saya hehe

Di pelataran Singapore River situ rupanya disediakan semacam dipan-dipan untuk bersantai dan menikmati pemandangan sekitar. Udah jam 9 padahal tapi sepi banget di sini, mungkin orang-orang pada udah masuk kerja kali ya 😛

Bersantai dan melupakan beban hidup sejenak coy…

15 menit kemudian kita jalan ke Museum Art Science trus lanjut jalan-jalan dan foto-foto di Helix Bridge yang terkenal itu. Di daerah sana pun rupanya masih sepi gan ckck. Heran pada gila kerja memang orang Singapur nih.

Art Science Museum. Padahal ingin masuk tapi belum buka. Ya semoga next time bisa masuk lah

Hellix Bridge adalah jembatan dengan rangka baja yang disusun berulir-ulir mirip rantai DNA (makanya dinamakan hellix hehe). Panjangnya kurang lebih 700-800 m yang menghubungkan sisi daratan sekitar Marina Bay yang dibelah oleh Singapore River. Disini khusus pejalan kaki loh. Sampai di tengah-tengah tak lupa foto dulu dengan latar area Marina Bay 😀

Dari situ kita jalan kaki menyusuri pinggiran Marina Bay Sands menuju stasiun MRT Bayfront. Pokoknya patokan ke Gardens By The Bay ya stasiun itu hehe. Jaraknya lumayan loh. Mungkin sekitar 1 km, makanya ngga heran orang Singapur, Hongkong, Tokyo, dll jarang ada yang obesitas karena terbiasa jalan kaki hehe.

Dan beginilah penampakan Gardens by The Bay di siang hari :

Di Gardens By The Bay ini, terdapat beberapa subsektor di antaranya Supertree, Children Garden, Silver Garden, Meadow, Cloud Forest dan Flower Dome. Semuanya bisa dilihat dengan jelas di dinding-dinding atau di papan penunjuk jalan di seluruh area taman. Atau kalau mau ngga nyasar ya ambil ancer-ancer Supertree dan cari aja deretan restoran-restoran cepat saji di sana ada map petunjuk arahnya.

Tepat jam 11 kami pun bergegas menuju Flower Dome. Harga tiket masuknya adalah 15 SGD sekali masuk per orang atau 28 SGD untuk paket Flower Dome dan Cloud Forest. Karena mumpung disini ya sudah sekalian saja ambil paket ke dua tempat hehe. Kabar yang saya dengar dan baca dari internet, di Flower Dome ini isinya berbagai tanaman dari seluruh dunia yang mampu tumbuh dan hidup di dalam suatu ekosistem buatan di dalam kubah bernama Flower Dome. Sementara Cloud Forest adalah miniatur hutan hujan tropis yang “disimpan” di dalam suatu kubah kaca raksasa tapi ngga ada binatangnya di dalemnya hehe. Bisa gawat kalo ada binatangnya.

Pertama kami masuk ke Flower Dome. Kesan saya begitu masuk, wuiih dingiin banget. Yup, di dalamnya mungkin di set AC dengan suhu dan kelembapan rendah, sekitar 16 derajat dan di bawah 20% RH. Mungkin setting suhu dan kelembapan ini ditujukan untuk membuat tanaman-tanaman di dalam sini mampu tumbuh dan bertahan hidup. Intensitas matahari pun nampaknya diatur karena kalau saya lihat dari kaca yang ada di domenya nampak disusun sedemikian rupa sehingga cahaya ngga langsung nembus masuk ke dalam.

Di dalam Flower Dome ada banyak sekali tanaman. Dari mulai tanaman khas timur tengah dan Afrika (kaktus, dll), tanaman khas Eropa (tundra, tanaman berdaun jarum, dll), Australia, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Asia. Pokoknya buat pecinta dunia flora, disini tempat paling top deh. Di bagian tengah dari Flower Dome pun ada kebun bunga yang di dalamnya banyak sekali macam-macam bunga dari berbagai belahan dunia. Yang lebih hebat lagi, di lantai dasar Flower Dome ada semacam auditorium atau ruang seminar tempat diadakannya kuliah umum atau seminar, jadi seminar sekalian menikmati pemandangan indah yang udah susah untuk dinikmati di kota-kota besar hehe.

Deretan tumbuhan berdaun jarum dan daun-daun jarum yang merambat

Tips sederhana masuk Flower Dome : PAKAI JAKET! 😛

Kaktus-kaktusan khas Timur Tengah dan Afrika

Pemandangan yang diambil dari atas platform Flower Dome

Tanaman khas Amerika Utara

Kebun bunga dari berbagai belahan dunia

Ehem…

Ada spot buat foto juga hehe

Ada patung kuda dari kayu juga lho…

1 jam keliling-keliling Flower Dome nampaknya belum puas. Cuma apa daya karena waktu sangatlah mepet akhirnya kami pun bergegas menuju venue selanjutnya yaitu Cloud Forest. Kesan pertama begitu masuk ke Cloud Forest adalah : Basah dan dingin! hahaha. Gimana ngga? Begitu masuk ke dalem kita langsung disajikan air terjun khas hutan hujan tropis coba wkwk.

Jadi air terjun ini adalah air terjun buatan yang tingginya sekitar 7 lantai ke atas; Kesan pertama saya saat masuk Cloud Forest adalah luar biasa, seolah memang kita sedang berada di tengah hutan namun tidak dengan satwa-satwa yang ada di dalam hutan hehe. Semua ekosistem buatan ini bener-bener mengundang decak kagum. Dari mulai iklim, kabut buatan, suhu, kelembapan, intensitas cahaya matahari sampai suara-suara angin yang ntah asli apa buatan saya udah ngga bisa membedakannya lagi hehe.

Tempat ini terdiri dari 7 lantai, tiap lantai bisa dicapai dengan 4 lift yang terdapat di bagian dalam area. Tiap lantai punya keistimewaan tersendiri namun kalau mau merasakan berjalan di ketinggian 20 meter mengitari dan mengelilingi Cloud Forest langsung aja ke lantai 6 dan 7. Dijamin sensasinya keren abis.

Di lantai 1 ada maket stasiun kereta api tempo doeloe…

Pemandangan dari lantai 3

Pemandangan dari lantai 4 dari arah air terjun The Falls…

Taman kecil di lantai paling atas

Pemandangan dari lantai 7

Setelah keliling sampai ke lantai 7, kami pun turun dengan eskalator menuju lantai paling dasar dari Cloud Forest. Di lantai paling dasar ini rupanya ada semacam sungai, rawa dan berbagai diorama hutan hujan tropis yang sangat mirip dengan aslinya. Oia di lantai paling dasar ini juga disemburkan uap hujan sehingga suasana benar-benar persis sama seperti berada di hutan hujan tropis asli.

Miniatur air terjun dan sungai…

Suasana yang sangat mirip dengan hutan hujan tropis asli…

Oia, di dalam Cloud Forest tepat sebelum pintu keluar ada semacam auditorium dan ruang peraga yang berisi maket serta video 3D mengenai cara kerja Gardens by The Bay yang menurut saya amazing! Mereka memanfaatkan air hujan sebagai sumber air serta energi matahari sebagai sumber listrik. Dan di auditoriumnya juga terdapat film tentang bumi 100 tahun ke depan yang cukup menakutkan hehe.

Setelah 1,5 jam keliling Cloud Forest, kami pun keluar dari lokasi dan menuju ke Silver Garden. Silver Garden adalah taman tepat di pintu keluar Cloud Forest. Berhubung kami mau menggunakan MRT dari Bayfront, bukan dari Downtown seperti saat berangkat tadi, kami pun harus jalan sejauh 1 kilo dan harus melewati Silver Garden. Yasudah deh foto-foto dulu mumpung viewnya sangat cantik.

Pukul 1 siang kami pun pulang dengan menggunakan MRT dari Bayfront menuju China Town. Berhubung masih jam kerja, keretapun kosong melompong hehe…

Siang sampai sore kami memutuskan untuk istirahat saja di Inn dan cuci baju. Agenda malam harinya berhubung ini malam terakhir di Singapur akan kami isi dengan makan Chilli Crab yang harganya ngga terlalu mahal dan yang penting : HALAL hehe. Hasil browsing selama satu jam akhirnya saya memutuskan untuk makan di Food Court di daerah Newton, sekitar 3 stasiun dari Dhoby Ghaut. Menurut kabar sih daerah ini banyak warung makan halal dan harganya cukup terjangkau.

Pukul 18.00 waktu setempat kami pergi dari Inn menuju Newton, kurang lebih 30 menit kami sudah tiba di stasiun Newton dan memang benar seperti yang dibilang di blog seseorang, food court Newton ngga jauh dari stasiun MRT, cukup nyebrang aja. Sampai disana rupanya banyak sekali orang dan pedagang-pedagang yang sangat agresif menawarkan makanan. Namanya Singapur semua makanan dijual dari sea food, makanan haram sampe masakan melayu yang halal. Kami pun mencari warung nomor 31 yang menurut blog enak dan halal.

IMG-20140214-WA0018

Di situ tertulis “All Food Cooked in Vegetable Oil NO PORK NO LARD” hahaha. Yasudah kami pun percaya deh kebetulan si pelayannya pun super geje kalau ngga salah namanya Aceng, seorang China Singapur. Disini kami memesan Nasi Goreng Seafood, Tumis Kai Lan, dan Chilli Crab ukuran 500 gr yang cukup besar untuk berdua. Minumnya cukup teh panas saja hehe. Total harga yang harus kami bayar sekitar 55 SGD atau 550 ribu rupiah waktu itu. Well, berhubung waktu itu baru saja imlek, di sana ada pagelaran Barong Sai yang membuat suasana gaduh dan kurang nyaman.

IMG-20140214-WA0017 IMG-20140214-WA0015

Overall, rasa makanannya cukup enak dan sebanding dengan harga yang kami bayar. Oia tips kecil sebelum makan mintalah plastik agar tangan tidak belepotan. Kami sebenarnya lupa dan baru nyadar pas liat cewe-cewe di sebelah pada pake plastik hehe. Tapi sudahlah toh makan pake tangan lebih nikmat 😛

Pukul 20.00 kami pulang menuju China Town dan beristirahat berhubung rencananya besok akan pulang ke Bandung hehe…

To Be Continued…

Singapore Trip 2014 (Part 3)

12 Februari pukul 07.00 China Town masih gelap dan seluruh tamu penginapan Backpackers Inn pun belum ada yang beranjak dari tempat tidur, kecuali si Bule yg tidur di kasur sebelah saya yg nampaknya mau balik ke negaranya. Setelah mandi dan ganti baju kami pun bergegas menuju stasiun MRT menuju ke Vivo City (stasiun Harbour Front) karena agenda hari ini seharian di tempat paling terkenal di Singapur : Resort World Sentosa (RWS).

Pukul 08.00 kita tiba di Harbour Front MRT dan naik ke tangga lantai paling atas untuk menuju Sentosa Island. Ada 2 tempat yang akan kita kunjungi hari ini yaitu Sea Aquarium, akuarium terbesar se-asia tenggara, dan Song of The Sea, sebuah drama musikal dan laser show yang diadakan di Pantai Selatan Sentosa. Sentosa Island adalah pulau buatan yg dijadikan tempat rekreasi terpadu oleh Pemerintah Singapura. Konon pulau ini dibentuk dari pasir yang dibeli dari kepulauan Riau. Menuju Sentosa dapat ditempuh dengan 2 cara : jalan kaki (naik travelator) melewati Sentosa Broadwalk dengan bayar 1 SGD di pintu masuk. Cara kedua adalah dengan naik Monorel dari lantai 3 Vivo City dengan ongkos sekitar 1,5 SGD.

Berhubung masih pagi, Vivo City pun belum buka dan kami memutuskan untuk ke Sentosa dengan jalan kaki via Broadwalk. Vivo City adalah mall terpadu yang didalamnya ada stasiun MRT dan Monorel, pelabuhan Ferry dari Batam dan Malaysia, juga ada pelabuhan kapal pesiar dari Australia dan penjuru dunia lainnya. Karena mall belum buka, ya foto-foto dulu deh seperti biasa.

Dari ujung Vivo City sebenernya udah keliatan tuh yang namanya Sentosa Island, orang jaraknya cuma 1 kilo lebih dikit hehe. Berikut penampakannya kalau dilihat dari sisi Vivo City.

Di Resort World Sentosa ini selain ada Universal Studio juga ada Sea Aquarium, Marine Life Park, Crane Dance, Casino, Lake of Dreams, deretan hotel kelas internasional, dll. Oke kalau gitu mending langsung aja deh jalan ke sana.

Seperti  yang saya bilang sebelumnya, Broadwalk ini adalah jalur lantai kayu sepanjang 1,2 kilo dan dilengkapi dengan travelator. Jadi yg males jalan ya bisa tinggal pegang travelator dan sampe di ujung di pintu masuk ke Sentosa hehe. Di tengah-tengahnya ada semacam balkon untuk ambil foto.

Di ujung pintu masuk, kita bisa bayar dengan uang koin 1 SGD atau pakai EZ-Link Card yang biasa dipakai buat MRT. Dari situ tinggal belok kanan dan menuju main hall yang di sana terdapat bola dunia Universal Studio yang terkenal itu 😀

Berhubung masih jam 9 lebih dikit, Sea Aquarium pun belum buka. Alhasil kami pun cari spot yang bagus buat dipake foto-foto. Lumayan killing time sambil menikmati pemandangan Harbour Front.

Pukul 10.00 kami pun masuk ke dalam Sea Aquarium dan rupanya interior di dalamnya bagus juga. Ada shipwreck raksasa di main hall yang di dalamnya terdapat toko-toko dan juga dekorasi ala jaman Nabi Nuh. Di lantai paling atas rupanya dipajang beberapa benda-benda semacam peninggalan jaman maritim dari mulai Timur Tengah, India, hingga Indonesia. Bahkan patung lilin nya pun mirip sekali dengan manusia asli.

Dari lantai atas, kita turun ke lantai bawah. Di sini ada semacam peta maritim dunia yang digambar di lantai juga nampak sisi belakang shipwreck yang tadi saya sebutkan. Rupanya dekorasi belakangnya memang perahu Nabi Nuh.

Begitu masuk ke dalam, kita langsung disuguhi pemandangan shipwreck lengkap dengan ikan-ikan raksasa mulai dari pari manta, kerapu, hiu, dll. Mirip Sea World tapi lebih gede lah hehe.

Di dalamnya ada banyak sekali biota laut dari berbagai lautan di dunia. Dan beruntungnya, karena ini working day, pengunjungnya nggak terlalu banyak, paling bocah-bocah SD setempat aja yg jumlahnya sekitar 50 orang.

Sama seperti di River Safari, di tempat ini juga ada main hall, sebuah kaca akuarium raksasa yang dipakai untuk menggelar pertunjukkan lengkap dengan tribunnya.

Kurang lebih 2,5 jam kita menjelajahi Sea Aquarium dan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.30. Yasudah akhirnya kita pulang ke Vivo City naik MRT dan memutuskan untuk makan siang di food court di sana. Di food court Vivo City cukup banyak masakan halal dan kami pun memutuskan pilihan ke Yang Tao Fu yang nampak lezat. Seporsi cuma 4 SGD alias Rp 40 ribu saja (mahal juga sih). Setelah puas makan, kami pun memutuskan balik dulu ke penginapan untuk mandi dan bersiap untuk menyaksikan Song of The Sea sekitar pukul 19.00 nanti. Yang penting tidur siang dulu lah, lumayan capek juga setengah hari ini keliling Sea Aquarium.

 

Sampai di Inn, istirahat sejenak lalu sekitar pukul 4 sore bersiap lagi ke Sentosa untuk melihat Song of the Sea, sebuah drama musikal dengan pertunjukkan laser yg diadakan di pinggir laut di Sentosa. Sampai di Vivo City, ya foto-foto dulu lah di lantai 1 dan lantai 3 nya yg lumayan eye catchy pemandangannya.

Show dimulai sekitar pukul 19.00, jadi masih ada waktu 3 jam lagi sebelum dimulai. Lagian hari juga masih terang, yasudah gak ada salahnya jalan-jalan dulu di Sentosa dan kami pun memutuskan untuk tidak naik monorel namun jalan kaki seperti pagi tadi. Rupanya semakin ke dalam, Sentosa semakin keren. Di dalamnya ada Lake of Dreams, Merlion raksasa, dan juga arena rekreasi iFly yang terkenal itu dimana orang bisa mencoba melayang dengan disembur udara bertekanan kuat dari bawah haha.

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 artinya sejam lagi pertunjukkan dimulai. Yasudah kami pun masuk dan berharap dapet spot yang bagus di dalam. Dan rupanya di dalam masih sepi artinya bisa milih spot bagus untuk nonton pertunjukkan ini hehe.

10 menit sebelum pertunjukkan dimulai, pemandangan bagus pun tersaji, matahari terbenam di ufuk barat yang indah dibalut langit jingga dan kapal-kapal tongkang yang bersauh di laut luas yang sangat menyejukkan mata hehe.

Daaaan, akhirnya pertunjukkan pun dimulai. Musik mengalun, para penari memasuki panggung dan semburan air, kilatan cahaya, kembang api dan laser warna-warni yang sangat cantik berseliweran sepanjang pertunjukkan. Pertunjukkan ini berlangsung sekitar 45 menit dan harga tiketnya sekitar 17 SGD (Rp 170 ribu), lumayan mahal yah hehe.

Pertunjukkan pun berakhir dan semua penonton sangat terhibur. Kami pun memutuskan untuk berjalan kaki kembali ke Vivo City karena monorel pasti penuh hehe. Lumayan bisa foto-foto lagi dan dapet momen Sentosa saat malam hari.

Sesampainya di Vivo City, waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 waktu setempat. Kami pun segera naik MRT ke China Town dan kembali ke Inn untuk beristirahat. Agenda besok adalah jalan-jalan ke Gardens by The Bay (lagi) dan juga wisata kuliner makan Chilli Crab khas Singapur hehe.

to be continued…

Singapore Trip 2014 (Part 2)

Singapur di pagi hari adalah keanehan. Ya, berhubung secara geografis negara ini ada di wilayah WIB (Waktu Indonesia Barat), namun mungkin karena tengsin ama Malaysia jadinya dia nampaknya ngikut zona waktu WITA. Alhasil jam 6 pagi di saat semua orang Singapur memulai aktivitas, hari masih gelap gulita 😛

Bangun jam 7 namun hari masih gelap dan nampaknya sangat aneh hehe. Agenda hari ini adalah ke River Safari. River safari adalah suatu taman wisata  buatan (di Singapur mana ada sih yg ngga buatan :P) yang memiliki konsep river alias sungai, delta, danau, dan segala yang berhubungan dengan dunia air tawar. Cek di website nya deh http://riversafari.com.sg

 

Reservasi tiket untuk berkunjung ke sini sengaja saya lakukan via online (bayar pake kartu kredit) karena ada diskon 5% lumayan lah ya hehe. Harga tiketnya SGD 25 atau setara 250 ribu rupiah per orang kala itu. Mahal juga ya hehe. Tapi gapapa lah mumpung di Indonesia belum ada. Nah berhubung tempat ini ngga bisa dijangkau via MRT, artinya cara ke sini adalah dengan menggunakan taksi atau bus SBS. Taksi harganya pasti mahal lah ya oleh karena itu saya mencoba cari info bagaimana ke tempat ini dengan bus.

Menurut hasil browsingan yang saya lakukan, cara ke tempat ini dpt ditempuh dengan 2 cara yaitu menuju stasiun MRT dan terminal bus Choa Chu Kang lalu naik bus nomor SBS 927 atau menuju stasiun MRT dan terminal bus Ang Mo Kio dan naik bus SBS no 187. Yah karena tempat menginap kita di China Town dan dekat ke Ang Mo Kio jadi kita pilih rute Ang Mo Kio aja deh.

MRT dari China Town ke Ang Mo Kio mengambil rute warna ungu lalu turun di Dhoby Ghaut dan pindah ke jalur merah hingga Ang Mo Kio. Harganya kurang lebih 2 SGD. Dan dari stasiun MRT nya ke terminalnya cuma nyebrang sekali doank. Jangan bayangkan terminalnya macem Cicaheum atau Leuwi Panjang tapi letak terminal ini adanya di mall loh haha.

Terminal bus kayak gini coba haha

Naik ke bus nya juga musti antri lagi ga bisa maen serobot dan sodok sana sini hehe. Ongkos naik bus SBS ini kalau tidak salah 5 SGD atau setara 50 ribu rupiah. Wew agak mahal juga ya. Waktu tempuh dari Ang Mo Kio ke daerah Jurong lokasi River Safari adalah sekitar 30 menit. Jalan menuju ke sana memang tidak seperti Singapur yang banyak gedung sana-sini. Pemandangan di sekitar malah banyak pepohonan, hutan buatan, apartmen-apartmen dan juga danau reservoir air Singapur yang juga buatan hehe.

Setiba di sana pemandangannya juga  bagus euy. Rimbun dan masih asri. Nyaris ngga ada sampah apalagi tukang dagang emperan dan taksi-taksinya pun tertib.

Pengelolanya adalah Singapore Wildlife Reserves yang juga mengelola 2 wahana lain yaitu Singapore Zoo, Jurong Bird Park dan Night Safari yang letaknya satu kompleks dengan River Safari. Di dalam river safari, ada 5 macam tema yang dibagi berdasarkan sungai-sungai yg ada di dunia : Missisipi, Nil, Gangga, Amazon, Mekong dan Yangtze. Ada juga Giant Panda Forest (tempatnya si Jia Jia ama Kai yang terkenal itu) dan Amazon River Quest yang sayangnya ketika kita ke sana lagi tutup karena masalah teknis.

Oke masuk ke dalam, rupanya dibuat semacam labirin yang di kanan kiri banyak sekali fauna akuatik khas masing-masing sungai. Dari mulai buaya sungai, piranha, arwana, sampai pesut sungai semua ada. Tempatnya diatur sedemikian rupa sehingga nyaman dan enak buat liat-liat, berhenti, foto-foto dll.

Buaya muara yang moncongnya panjang. Mungkin banyak di Bontang hehe

 Ikan-ikan sungai yang tampaknya lezat 😛

Jangan lupa, disini juga ada si Kai-Kai dan Jia-Jia juga panda merah yang mirip kucing hehe. Pandanya ditempatkan di ruangan ber-AC dan didesain sedemikian rupa mirip habitatnya. Di sini ada juga lab buat memantau kesehatan panda dan juga mengatur menu makanannya yg seimbang. Agak lebay sih tapi ya namanya juga endanger species jadi ya maklumlah hehe.

Panda merah, rasanya ingin miara satu gitu ya.

Oia, tempat ini letaknya persis di tengah-tengah Singapore Reservoir, danau buatan terbesar di Singapur sehingga pemandangannya juga indah karena terletak di tengah-tengah danau.

Singapore reservoir, danau buatan terbesar di Singapur

Di tempat ini juga ada pintu gerbang menuju monyet-monyet kecil super nakal yang saya lupa apa namanya. Yg pasti kalau kita masuk ke dalam, tangan ngga boleh masuk saku dan harus berhati-hati karena mereka bisa nyerang loh hehe.

Tempat ini mirip Sea World karena di tengah-tengah ada akuarium raksasa yang di atasnya isinya ikan-ikan air tawar dari sungai-sungai besar di dunia. Ada juga semacam panggung dan teater dengan kaca akuarium besar buat ‘nonton’ atraksi yang sering dilakukan oleh penyelam setempat.

Di luar River Safari, banyak spot-spot bagus yg bisa dipakai buat foto loh. Salah satunya adalah depan Singapore Zoo dan juga di perahu dan taman bunga di depannya. Berhubung saya ke sana pas hari kerja, jadinya kosong melompong dan bisa foto-foto dengan leluasa hehe.

Singapore Zoo, sayangnya kita gak sempat ke sana..

Wah, bisa jadi spot foto buat pre-wedding nih 😛

Setelah puas foto-foto, lanjut makan siang di KFC dan bergegas pulang kembali ke penginapan karena kaki rasanya udah pegel hehe. Jam menunjukkan pukul 13.00 waktu setempat dan perjalanan ke China Town membutuhkan waktu kurang lebih sejam dengan menggunakan jalur transportasi yang sama seperti berangkat.

Sampai di Inn, mandi dan istirahat bentar lalu sekitar pukul 4 sore waktu setempat lanjut deh jalan-jalan sore. Tujuan sore ini adalah cari makan dan jalan-jalan di Orchard. Seperti biasa, sore hari MRT akan sangat penuh dan berdesak-desakan. Apalagi melewati jalur merah yang notabene banyak daerah perkantoran. Sampai di Orchard, keluar dari stasiun kami mengarah ke Lucky Plaza. Di sini ada foodcourt yang jual makanan Indonesia. Maklum lah 2 kali berturut-turut makan Texas Chicken dan KFC rasanya rindu sama nasi hehe. Disini kita pesan gado-gado dan paket ayam timbel yang kalau digabung harganya hampir 20 SGD (200 rebu) gilak!

Sehabis makan saatnya cuci mata ke Nge-Ann-City dan sekitaran Orchard Road yang terkenal itu. Lumayan buat cuci mata aja sih, kalau mau belanja di sini? Mending di Indonesia aja deh hehehe.

Papan nama Orchard Rd yang terkenal itu…

Kabayan tersesat di kota

Fokus foto ini sebenernya si Mbak yang pake baju merah, apa daya ketutupan Setan hehe..

Patung orang warna-warni di depan Louis Vuitton

Ion Plaza, mall dengan arsitektur jempolan

Jam menunjukkan pukul 17.00 waktu setempat, setelah puas jalan-jalan dan foto-foto di Orchard, target kami selanjutnya adalah menikmati pertunjukkan laser di Marina Bay. Dari Orchard ke Marina bay sebetulnya cukup naik MRT jalur merah aja sekali. Keluar di stasiun MRT Marina Bay namun musti jalan cukup jauh. Supaya ga jauh jalannya, lebih enak pindah naik jalur orange dari Dhoby Ghaut dan turun di Esplanade. Dari Esplanade, keluar di teater trus jalan kaki deh dari situ ke Marina Bay di depan Hotel Fullerton.

Tempat ini sangat tidak asing bagi saya karena di dua edisi sebelumnya ya pasti kesini hehe. Berhubung pertunjukkan laser belum mulai, rasanya kita wajib “ritual” dulu deh. Ritual foto di depan Merlion hehe. Seperti biasa, mau hari apa juga pasti yg namanya Merlion di Marina Bay dipadati oleh turis-turis asal Indonesia hehe. Berhubung hari sudah gelap, ya hasil fotonya agak kurang bagus nih.

Dan setelah puas foto-foto di sini, waktu sudah hampir menunjukkan pukul 19.00 waktu setempat yang artinya pertunjukkan laser akan dimulai. Kami pun bergegas keluar dari Merlion dan menuju jembatan depan Hotel Fullerton supaya dapat view yang bagus. Dan memang bagus rupanya hehe.

Pertunjukkan laser berlangsung selama 15 menit dan pertunjukkan berikutnya akan ada lagi pukul 21.00 waktu setempat. Well, setelah puas foto-foto, kami pun beranjak pulang karena kaki rasanya sudah berat karena jalan cukup jauh. Saatnya istirahat karena besok ‘main course’ nya yaitu seharian di Sentosa Island hehe.

To be continued…