Refleksi dan Resolusi Investasi 2019

Januari sudah memasuki minggu ke-3, sebagai seorang investor yang sedang belajar, saya mau share sedikit mengenai kegiatan investasi di 2018. 2018 adalah tahun yang istimewa karena pertama kalinya saya menceburkan diri ke dunia pasar modal dan surat utang pemerintah setelah 2 tahun sebelumnya hanya “bermain” di Reksadana.

2018 bisa dibilang tahun yang berdarah-darah bagi dunia pasar modal, tidak hanya Indonesia, tapi juga negara lain di seluruh dunia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sepanjang tahun 2018 lalu, sempat dibuat euforia oleh kenaikan harga yang memecahkan all-time record di Rp 6,680 pada bulan Februari, sebelum akhirnya menukik jatuh sepanjang periode setelahnya dan mencapai titik terendahnya di Rp 5,633 pada Juli 2018.

Performa IHSG sepanjang 2018

Pelemahan indeks saham dunia disebabkan karena sentimen negatif sepanjang tahun 2018 akibat perang dagang antara China dan Amerika yang berimbas pada ketidakpastian ekonomi di negara berkembang yang terkena dampak tak langsung termasuk Indonesia. Selain itu, kebijakan The Fed, Bank Central Amerika yang sering menaikkan suku bunga acuan juga menyebabkan return US government bonds menjadi menarik, dan investor asing berbondong-bondong memulangkan aset-aset USD nya di negara berkembang dan menyebabkan USD sangat perkasa di seluruh mata uang global. Bersyukurlah, IHSG masih urutan ke 1 di Asia Tenggara, dan ke 8 di dunia dengan return YTD -2.54%.

Performa Index Saham di Seluruh Dunia Sepanjang 2018. Source: CNBC

Melemahnya bursa saham dunia terutama Indonesia, menyebabkan portofolio investasi saya sepanjang tahun 2018 juga loyo. Karena sebagian besar aset investasi saya ditaruh di Reksadana (RD campuran dan RD saham) serta saham, maka sepanjang tahun ini saya banyak bersabar melihat posisi portofolio investasi yang sepanjang tahun merah darah hehe. Tapi, biarpun portofolio sepanjang 2018 tertekan, sebagai value investor, harus tetap yakin kalau penurunan harga saham atau reksadana pada umumnya hanya bersifat sementara. Selama pilihan saham ada di perusahaan-perusahaan dengan fundamental bagus,pasti harganya akan rebound, cepat atau lambat hehe.

1. Reksadana

Setelah migrasi dari sistem pembelian RD konvensional via Bank Mandiri ke online melalui IPOT, saya mulai melakukan pembelian RD di akhir tahun 2017. Metode menabung RD saya biasanya melakukan dollar cost averaging atau saya beli rutin berkala setiap bulan dengan jumlah yang sama.

Di awal tahun, saya punya beberapa jenis reksadana campuran dan saham, utamanya produk dari Sucorinvest Aset Management. Namun, di pertengahan tahun, saya melakukan beberapa kali bongkar pasang RD karena hasilnya negatif hehe. Seharusnya, hal itu tidak perlu dilakukan karena mindset investasi RD adalah jangka menengah dan panjang. Seharusnya, penurunan nilai investasi harusnya dibarengi dengan membeli kembali dalam jumlah banyak. Seperti kata Warren Buffet : “Be greedy when others are fearful, be fearful when others are greedy” hehehe.

Akhirnya di pertegahan tahun saya sudah settle dengan 6 jenis RD (4 saham dan 2 campuran) yaitu produk dari Archipelago AM (Archipelago Balanced Fund), 2 produk Sucorinvest AM (Sucorinvest Equity Fund & Sucorinvest Sharia Equity Fund), serta 3 produk dari Sinarmas AM (Simas Satu, Simas Saham Unggulan, Simas Syariah Unggulan)

Return (dalam %) aset RD saya sepanjang tahun 2018 adalah sebagai berikut:

Angka dalam rupiahnya saya tutup saja hehe. Terlihat bahwa di barchart hijau, Keuntungan maksimum yang saya dapat adalah di periode Januari 2018 dan Februari-Mei, di mana saat itu IHSG (sebagai benchmark produk reksadana) sedang tinggi-tingginya. Dan mulai nyungsep dari Juni sampe akhir tahun 2018. Di Desember 2018, return portofolio saya “hanya” 5.3%, lebih kecil dari return deposito berjangka hehe.

Nilai rupiahnya saya tutup lagi hehe. Terlihat penyumbang return terbesar ada di RD Sucorinvest Equity Fund dengan 8.28% dan 1 RD memberi return negatif (Simas Satu).

Secara performa 1 tahun, semua RD yang saya pegang sebetulnya masih mencatat performa positif sih. Bahkan SIRS18 (Simas Syariah Unggulan) bisa mencatat sampai 32.63% selama 1 tahun. Luar biasa kan?

11.png

2. Saham

Saya mulai menceburkan diri di dunia investasi saham sejak Maret 2018, dimana saat itu pasar saham sedang tinggi-tingginya. 4 saham pertama yang saya beli adalah Unilever (UNVR), United Tractor (UNTR), Telkom (TLKM) dan PT Pembangunan Perumahan (PTPP). Harga ke-empatnya saat itu sedang mencapai all time high, jadi ibaratnya waktu itu saya beli di pucuk sebelum akhirnya terjun bebas sepanjang tahun 2018 hehe.

Waktu itu saya masih belajar mengenai value investing, membaca laporan keuangan emiten, memahami rasio-rasio dalam menentukan nilai wajar saham, dll. Jadi istilahnya learning by doing.

Yang agak saya sesali waktu itu adalah sisi psikologis saya masih labil, ibarat anak muda yang baru puber, mentalnya masih gampang diombang-ambing oleh market behaviour. Di Q3 2018, tiba-tiba portofolio saham saya menjadi 16 emiten dan banyak emiten yang tergabung dalam sektor yang sama. Di periode itu pula saya sempat menjual saham TLKM saya di harga Rp 3,500 (gain 1% saja) padahal saat ini (Januari 2019) harganya Rp 4020 per lembar hehe. Saya juga sempat tergoda beli saham INDR yang harganya sempat meroket dan ternyata di perjalanan nyungsep. Untungnya pas saya jual, realized loss nya hanya kurang dari 2%.

Di 2018, saya juga sempat menjual semua saham Pakuwon Jati (PWON) saat floating profit 25%, PTPP (25%), TBLA (33%), INDF (22%), JPFA (13%), BMRI (13%) dan kemudian menyesal karena harganya masih terus naik sampe sekarang hehe.

Portofolio saham saya di Desember 2018 dalam presentase value adalah sebagai berikut:

Mayoritas aset saham saya, saya taruh di United Tractor (UNTR), bisa dilihat dari pie chart di atas, ada beberapa emiten yang satu sektor seperti PTPP WSKT (konstruksi), TKIM INKP (pulp paper), HOKI PZZA ULTJ MAPI UNVR (konsumer). Hal ini menyebabkan jadi tidak fokus karena memecah nilai aset saya. Alhasil, ketika nanti sahamnya sudah naik, return nya hanya sedikit saja hehe.

Sepanjang 2018, portofolio saham saya mengakumulasi floating loss sebesar -5.8%. Angka yang cukup buruk meskipun IHSG pun menderita penurunan -2.54% secara year to date. Tapi untuk orang yang baru belajar, hasilnya sudah lumayan lah hehe.

3. Surat Berharga Negara (SBN)

Saya mulai masuk ke SBN di tahun 2018 pertengahan, ketika waktu itu pemerintah mulai menjual Saving Bond Ritel (SBR-003) melalui mitra distribusi fintech, salah satunya Bareksa. Setelah itu, saya rajin membeli SBR dan Obligasi serta Sukuk yang dijual pemerintah utamanya yang beli nya nggak perlu datang ke bank. Cukup klik klik transfer dan beres.

Portofolio SBN saya di tahun 2018 terdiri dari 4 SBN yaitu 3 SBR (SBR-003, SBR-004, ST-002) yang semuanya beli di bareksa.com dan tidak bisa dijual kembali sebelum jatuh tempo (2 tahun) serta 1 jenis obligasi ritel (ORI-015) yang beli langsung di Bank Mandiri.

SBN memiliki return yang fixed dan hanya dipengaruhi oleh suku bunga bank Indonesia (BI 7IDRR). Sejak pertengahan sampai akhir tahun, suku bunga BI cenderung meningkat dari level 4.75% hingga 6.5% di akhir tahun. Jadi return SBN saya selama ini cenderung lebih besar dari floor nya ketika melakukan pembelian.


Refleksi 2018

Saat pasar mengalami periode bearish seperti tahun 2018 kemarin lah kesabaran seorang value investor diuji. Selama kita yakin dengan kondisi fundamental perusahaan, kita yakin pula penurunan harga saham nya hanya sementara dan pasti akan kembali ke harga wajarnya suatu saat nanti hehe.

Saya sudah pernah mengalami floating loss  sampai > 10% dengan nilai kalau dirupiahkan bisa belasan juta rupiah. Tapi dengan mengasah psikologis dan money management, mau floating loss sebesar apapun, bagi value investor sebetulnya tidak masalah. Karena pemilihan perusahaan tempat berinvestasi saham seharusnya sudah dipikirkan sedemikian matang dan memilih perusahaan-perusahaan dengan fundamental bagus. Pada akhirnya harga saham akan bergerak ke arah nilai wajar nya secara fundamental.

Resolusi Investasi di 2019

Sebetulnya resolusi investasi saya di 2019 sederhana saja. Yang pertama, saya ingin melakukan rebalancing portofolio saham, yaitu dengan mengurangi saham-saham yang memiliki sektor yang sama. Saya sudah jual PTPP dan masih menunggu untuk menjual salah satu dari TKIM, INKP (pulp paper), dan salah satu dari HOKI MAPI PZZA ULTJ UNVR (consumer). Hanya saja karena saat ini market sedang bullish jadi saya tunggu saja sampai harganya sudah mulai menunjukkan penurunan hehe.

Resolusi yang kedua, sama seperti resolusi Manajer Investasi pada umumnya yaitu beat the market. Karena kiblat semua investasi berbasis RD dan saham adalah IHSG, maka target investasi semua investor adalah meraih return yang lebih besar dari kenaikan IHSG. Jika ditotal di tahun 2018, RD saya memiliki return 5.8% dan saham saya -5.8%. Karena proporsi saham dan RD di seluruh aset saya jumlahnya berimbang (sekitar 25% masing-masing), maka secara YTD sebetulnya saya “hanya” mengalami floating loss sebesar -0.3% dan masih unggul dari IHSG hehe. Tapi tentu hasil yang negatif bukan acuan yang baik karena kalau uangnya saya taruh di deposito berjangka, saya bisa dapat 6% lebih bukan? hehe

Tahun 2019 ini akan ada Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden. Banyak pakar ekonomi memprediksikan gelaran 5 tahunan ini menjadi sentimen positif untuk bursa saham Indonesia mengacu pada periode 2014 lalu. Ya semoga saja prediksinya benar dan investor kebagian cuan di tahun politik ini hehe.

Profil Risiko Investasi

Sebelum memutuskan untuk memulai berinvestasi, pertanyaan paling mendasar sebetulnya adalah investor dengan profil seperti apakah Anda? Pertanyaan ini pasti dan selalu akan diajukan oleh perusahaan sekuritas sebelum kita membuka rekening investor. Saya sendiri tidak tahu tujuannya, mungkin hanya untuk data statistik saja atau bisa jadi data profil risiko kita akan berguna bagi tim riset mereka untuk melakukan analisis dan memberi rekomendasi investasi yang pas untuk kliennya.

Investor, berdasarkan profil risikonya terdiri dari tiga macam, yaitu: konservatif (defensif), moderat, dan agresif. Ketiga tipe tersebut sebetulnya dibedakan dari seberapa besar kemampuan dia menerima paparan risiko ketika melakukan investasi. Investasi seperti halnya semua kegiatan yang ada di dunia ini, pasti memiliki risiko. Risiko investasi yang paling besar adalah risiko capital loss, yaitu berkurangnya nilai aset karena penurunan nilai pasar. Contohnya di reksadana dan saham, harga reksadana dan saham anjlok, di deposito, bank dinyatakan pailit dan di-likuidasi, dll. Risiko ini tidak bisa dihindari, tapi hanya bisa dimitigasi dan diminimalkan melalui pengetahuan yang memadai.

1. Tipe Konservatif (Risk Averse) atau Defensif

Investor jenis ini adalah investor yang cenderung menghindari risiko dan ketidakpastian yang tinggi. Mereka tidak mau menderita capital loss sedikit pun di dalam portofolio nya. Bagi mereka, pertumbuhan aset yang cenderung lambat tidak masalah, yang penting aset nya tetap tumbuh stabil dan pastinya lebih tinggi dari inflasi.

2.jpg

Tipe investor konservatif umumnya menempatkan portofolio investasinya lebih banyak di tabungan dan deposito berjangka. Sesekali ada juga yang menempatkan di Surat Berharga Negara (SBN) pemerintah karena risiko gagal bayarnya nyaris 0%. Kadang mereka menempatkan aset nya di Reksadana pasar uang atau pendapatan tetap, atau bahkan menabung emas (logam mulia). Investor jenis konservatif pada umumnya memiliki time frame investasi jangka pendek, maksimal mungkin hanya 3 tahun saja. Total aset yang mereka investasikan pun biasanya porsinya lebih kecil, mungkin hanya 10-20% saja secara rata-rata.

Tipe investor konservatif biasanya orang yang sudah hampir pensiun (umur 50-an ke atas) yang baru mau memulai investasi untuk masa pensiunnya. Mereka jelas-jelas tidak mau kehilangan nilai portofolionya dan tidak keberatan jika aset nya bertumbuh hanya 6%-an per tahun. Tipe investor seperti ini juga biasanya ada di kalangan anak muda yang baru pertama kali menabung dan masih baru belajar sehingga belum berani mengambil risiko.

2. Tipe Moderat

Investor dengan tipe moderat sedikit lebih toleran terhadap risiko dibanding tipe konservatif. Bagi mereka, risiko penurunan nilai investasi karena kondisi pasar bisa diterima dengan batasan tertentu, anggaplah maksimal 20% dan mereka sudah paham bahwa fluktuasi investasi lumrah terjadi dan bisa dimitigasi. Investor tipe ini sudah mulai memahami semua jenis investasi dari yang low risk sampai high risk-high return.

6.png

Mindset mereka tentang time frame investasi sudah mulai panjang, umumnya antara 3-10 tahun. Portofolio investasi nya sudah mulai disebar secara merata dari mulai yang defensif seperti deposito berjangka, logam mulia, SBN pemerintah, obligasi korporasi, sampai yang moderat cenderung agresif dari mulai semua jenis reksadana sampai saham. Pembagian presentasi portofolionya kebanyakan masih lebih banyak di investasi defensif, mungkin maksimal sekitar 55-45. Atau bisa jadi di instrumen agresif 55-45 terhadap instrumen defensif

5.png

Tipe investor ini paling banyak di dunia. Bisa dari yang sudah mapan bekerja dan punya penghasilan tetap, sampai yang baru kenal dunia investasi dan mulai naik kelas dari coba-coba berhadiah hehe.

3. Tipe Agresif

Investor tipe agresif merupakan tipe yang adventurous dan cenderung berani mengambil risiko. Mereka sudah sangat paham bahwa capital loss itu pada dasarnya hanyalah floating loss atau rugi di atas kertas saja, bukan realized loss sampai Anda benar-benar menjual portofolio investasi Anda (saham atau RD). Mereka rela mendapatkan floating loss sangat besar (bahkan lebih dari 50% portofolionya) demi mendapatkan imbal hasil yang lebih besar di masa depan. Tapi tolong bedakan investor tipe agresif dengan spekulan yah. Investor agresif tetap memperhatikan startegi investasi, fundamental perusahaan (jika membeli saham), dan membuat exit strategy.

7.gif

Bagi investor tipe agresif, penurunan nilai investasi, misalnya saham, justru dianggap sebagai kesempatan emas untuk menambah pembelian saham karena harganya relatif sedang murah. Sebagai contoh di November 2018, harga saham Unilever (UNVR) longsor mendekati Rp 39.000 per lembar. Tapi di Januari 2019, harganya sudah kembali ke Rp 49.000 per lembar. Investor agresif akan menangkap peluang emas dan melakukan pembelian UNVR pada waktu itu karena yakin harganya akan naik lagi di masa datang.

unvr.png

Mindset time frame investasi bagi mereka lebih dari 10 tahun alias jangka panjang. Portofolio aset mereka sebagian besar ditaruh di instrument risiko tinggi seperti saham atau reksadana saham. Hanya sebagian kecil saja (maksimal 10%) yang ditaruh di instrument defensif seperti obligasi, deposito dan SBN.

Jaman sekarang sudah banyak kalkulator profil risiko buatan perusahaan-perusahaan sekuritas, salah satunya punya Mandiri Sekuritas ini:

https://mandiri-investasi.co.id/id/kalkulator-finansial/profil-resiko/

Silakan saja dicoba diisi untuk tahu tipe investor seperti apakah kita. Penting sebelum memulai investasi agar lebih bisa mengasah strategi investasi untuk mendapatkan return yang maksimal.

Mengenai profil investasi saya sendiri, saya cenderung moderat ke arah agresif. Alasan pertama, dari tujuan investasi saya sendiri, saya tetapkan untuk jangka panjang (> 5 tahun), di antaranya biaya sekolah anak, naik haji, jalan-jalan ke luar negeri, dll. Yang kedua, saya bisa men-tolerir floating loss di portofolio saya hingga pernah -20% di periode berdarah-darah antara Juli-Oktober 2018 hehe.

Portofolio aset investasi saya pun mixed antara yang defensif dan agresif seperti di bawah ini (status as per Januari 2019).

Portofolio aset saya as per Januari 2019 (dalam %)

Sebaran investasi saya terdiri dari aset defensif yaitu 32% deposito berjangka dan 8% SBN. Aset moderat cenderung agresif (Reksadana) sebesar 25%, dan aset agresif yaitu saham sebesar 27%. Sisanya saya taruh di crowdfunding pertanian/peternakan dan menanam modal usaha peternakan joint venture dengan adik saya.

Oia, sedikit tips berinvestasi adalah selalu gunakan “uang dingin”, artinya uang yang anda gunakan untuk investasi adalah uang yang anda yakin tidak akan pernah dipakai dalam jangka waktu lama (kecuali darurat). Jangan biasakan investasi dengan “uang panas” atau uang yang sebetulnya akan digunakan untuk hal lain yang lebih mendesak, apalagi menggunakan uang pinjaman atau hutang hehe…

Membuka Rekening Investasi

Topik kali ini adalah memulai berinvestasi di reksadana (RD) atau saham. Sebagai informasi, saya memulai memasuki dunia investasi sejak tahun 2015. Saya memulai investasi dari Reksadana. Karena saya bekerja dan tinggal di kota kecil bernama Bontang, hal yang dulu saya lakukan adalah mendatangi bank Mandiri setempat dan mengatakan kepada CS nya bahwa saya ingin membeli Reksadana. Waktu itu, nggak semua CS Mandiri paham apa yang saya mau, jadi saya diarahkan ke PIC yang paham dan diminta mengisi formulir dan menyerahkan foto copy KTP dan buku tabungan. Proses nya kira-kira 30 menit dan saya diminta menunggu 1×24 jam. Setelah itu baru melakukan pembelian lagi.

Reksadana yang pertama kali saya beli waktu itu adalah Mandiri Investa Equitas Dinamis (MIED) dan BNP Paribas Infrastruktur Plus (BPIP). Waktu itu, setiap melakukan pembelian, saya harus datang ke Bank Mandiri setempat dan melaporkan ke CS. Sungguh sangat tidak praktis bagi para milenial hehe. Monitoring harga RD nya pun hanya bisa dilakukan sebulan sekali melalui surat pemberitahuan yang dikirim pakai pos ke rumah. Yah, jaman sudah canggih tapi pemberitahuan masih dikirim via kertas dan tidak up to date hehe.

Di tahun 2017, saya mulai mengenal platform online untuk membeli Reksadana dari teman saya. Namanya bareksa.com dan indopremier.com (IPOT). Kedua situs ini menyediakan layanan jasa pembelian Reksadana (dan juga saham untuk IPOT) dengan mudah, cepat, dan berbasis online kesukaan generasi milenial. Proses pendaftarannya pun sangat mudah. Waktu 2017 saya buat akun di IPOT, waktu itu masih ada beberapa formulir yang harus diisi secara hardcopy dan dikirim balik ke kantor IPOT di Jakarta. Tapi sekarang, kalau mau buat akun reksadana, semua bisa dilakukan paperless dan bisa dengan tanda tangan digital. Pengganti materai nya adalah video call dengan memegang KTP dan berbicara dengan customer service nya. Mudah sekali kan? Yang lebih hebat, sekarang beli Reksadana pun sudah bisa melalui OL shop seperti Tokopedia dan Bukalapak hehe.

Beli Reksadana bisa melalui keempat penyedia jasa ini

Oia, sebelum sharing pengalaman membuka akun Reksadana (dan saham), saya ingin menjelaskan sedikit alur kerja dari Reksadana. Jadi begini, seperti yang pernah saya bahas di laman ini, RD itu ibarat kita menitipkan uang kita ke Manager Investasi (MI) dan biarkan dia mengelola uang kita sesuai kebijakannya. MI menjual produk investasi RD dengan harga yang terjangkau (minimal Rp 100,000) karena sifat RD adalah mutual fund atau dana yang dihimpun dari beberapa investor. Pihak yang berhak mengeluarkan produk RD adalah perusahaan sekuritas yang terdaftar dan diawasi OJK. IPOT dan Bareksa hanya penyedia jasa saja (agen penjual) dan di dalam situs mereka tersedia ratusan pilihan RD dari mulai pasar uang, pendapatan tetap, campuran, saham dan ETF. Tugas kita sebagai investor ya memilah-milah jenis RD dan produk perusahaan sekuritas atau MI mana yang cocok dengan profil resiko dan keinginan kita. Contoh list RD punya IPOT bisa dilihat di sini. Bedanya dengan waktu saya beli RD di Bank Mandiri, produk RD yang mereka punya hanya yang keluaran Mandiri Sekuritas atau yang terafiliasi dengan Mandiri Sekuritas seperti BNP Paribas dan Batavia.

Dalam memilih RD, kita perlu melihat yang namanya Prospektus. Prospektus adalah ikhtisar kebijakan MI dalam mengelola produk RD nya dari mulai berapa porsi yang ditempatkan di instrument pasar uang, obligasi, saham, serta kebijakan fee, laporan laba rugi dll. Prospektus bisa dilihat di situs resmi MI tersebut atau bisa juga dilihat melalui IPOT dan bareksa. Contoh jika melalui situs MI, kita bisa akses punya Sinarmas di sini. Silakan di-klik bagian Prospektus dan dibaca saja hehe.

Menentukan RD juga perlu melihat historical performance dari RD tersebut. Dengan mudah dapat kita lihat chart performa masing-masing RD di IPOT atau bareksa. Tapi perlu diingat, kinerja masa lalu tidak selalu sama dengan kinerja masa depan, dan sebaliknya hehe.

Kembali ke topik alur kerja RD, dan juga saham pada umumnya, semua dana investasi kita tidak dipegang oleh MI ataupun broker (untuk kasus saham). Dana akan diserahkan kepada Bank Custodian (Bank BUMN atau swasta) dan Bank akan melakukan settlement dana. Setelah dana settled, selanjutnya proses administrasi kepemilikan efek atau RD kita akan dicatat oleh lembaga yang bernama KSEI dan KPEI. KSEI (Kustodian Sentra Efek Indonesia) adalah perusahaan yang didirikan oleh Pemerintah untuk melakukan administrasi dan penyelesaian efek baik Reksadana maupun saham. Sedangkan KPEI (Kliring Penjaminan Efek Indonesia) melakukan kliring administrasi dan menyimpan data aset-aset kita dalam bentuk digital seperti data berapa lembar/lot saham yang kita pegang, berapa unit RD yang kita punya, dll.

Ketika membuka rekening saham atau RD, yang kita lakukan adalah mendaftarkan diri kita ke KSEI dan nanti akan mendapatkan SID (Single Investor Identification). SID adalah nomor tunggal identitas investor, jadi kita mendaftarkan diri kita ke KSEI sebagai investor, nanti mendapatkan nomor unik semacam NIK di KTP gitu. Sebagai bukti kepemilikan SID, kita akan diberi kartu Akses KSEI, semacam KTP nya investor, setelah punya kartu ini kita bisa aktivasi akun di situs KSEI dan melihat data diri kita seperti kepemilikan saham & reksadana, historis transaksi, dll.

Berikutnya, bagaimana cara membuat akun untuk membeli RD dan saham? Saya share saja pengalaman saya di 3 akun yang saya punya yaitu IPOT, Bareksa (khusus RD dan SBR) dan MOST (Mandiri Online Securities Trading).

1.  IPOT

Cara mendaftarnya mudah sekali. Masuk saja ke  situs  IPOT ini, install apps nya dan ikuti petunjuk yang ada di dalamnya seperti pengisian biodata, nomor rekening bank, NPWP, dan terakhir melengkapi data diri dengan mengirimkan foto diri sedang memegang e-ktp dan membubuhkan tandatangan digital di bagian akhir proses registrasi. Pengisiannya hanya 5-10 menit dan verifikasi akan dilakukan di hari kerja oleh CS nya.

Kalau belum punya e-ktp, bisa melakukan manual registrasi seperti jaman saya dulu buat karena belum ada pendaftaran online di sini. Nanti akan dipandu di laman widget nya dan ikuti saja proses-prosesnya. Kalau dulu, setelah pengisian manual ini, saya dikirim berkas ke alamat rumah, nanti tinggal membubuhkan tanda tangan dan menempel materai. Setelah itu kirim balik via pos. Kayaknya kalau sekarang sudah tidak lagi seperti itu karena kecanggihan teknologi. Oia, khusus IPOT, mereka membuka pilihan membuat akun syariah. Jadi nanti jika pilih opsi ini, baik pilihan RD maupun list saham yang ada untuk dibeli, semua yang berjenis syariah. Silakan dicoba saja, prosesnya pun cepat dan mudah.

Oia, nanti ketika aplikasi permohonan kita sudah di-approve, kita akan dibuatkan juga Rekening Dana Nasabah (RDN). Nah saya tidak tahu untuk saat ini, tapi waktu saya buka dulu, RDN saya adalah BCA. Sepertinya akan ada pilihannya dan lebih bagus RDN itu “mengekor” rekening bank kita yang paling sering kita gunakan. Contoh, kalau punya Mandiri, lebih baik RDN nya pilih Mandiri saja. Untuk kasus saya, karena saya punya BCA, jadi nanti di akun BCA existing saja akan ada menu RDN. Kita bisa lihat isi saldo dan portofolio efek yang kita punya.

Sebelum membeli RD atau saham melalui IPOT, RDN ini harus diisi terlebih dahulu. Caranya, lakukan transfer manual (bisa lewat ATM atau mobile banking) ke rekening RDN. Makanya saya sarankan RDN sama dengan bank yang kita sering gunakan agar biaya transfernya gratis. Nanti saldo RDN bisa dengan mudah kita amati di menu IPOT yang bernama Cash Info.

Setelah daftar IPOT dan dapat akun serta RDN, langkah selanjutnya tinggal install apps nya di playstore atau Appstore. Tampilannya user friendly seperti ini.

Di IPOT kita bisa melakukan pembelian Reksadana maupun saham. Karena saya hanya menggunakan IPOT untuk membeli RD saja, maka saya kenalkan menu-menu nya. Seperti sudah disinggung sebelumnya, ada ratusan RD yang tersedia di IPOT. Masuk saja ke menu List Reksadana dan coba lakukan filtering sendiri dengan mudah untuk mem-filter jenis reksadana, performa kurun waktu RD, dll.

Untuk melakukan pembelian, cukup tekan tombol B (Buy) atau S (Sell) saja dan ikuti langkah selanjutnya. Oia, karena IPOT ini hanya perantara jasa pembelian dan penjualan RD, kita perlu memperhatikan “Terms and Conditions” sebelum melakukan konfirmasi pembelian RD. Masing-masing Manager Investasi (MI) menetapkan fee yang berbeda-beda saat pembelian dan penjualan. Contoh, ada MI yang menetapkan fee pembelian max. 2% per transaksi. Artinya setiap pembelian kita akan dikenai biaya sebesar max. 2% per transaksi. MI juga menetapkan fee penjualan kembali yang berbeda-beda. Ada MI yang menetapkan fee penjualan 0.5% dari nilai transaksi, namun ada juga yang menggratiskan (0%) kalau menjual RD setelah disimpan selama lebih dari 6 bulan.

Dalam memilih RD, juga perlu dilihat beberapa hal/istilah seperti NAV/NAB dan AUM. NAV (Net Active Value) atau bahasa Indonesia nya NAB (Nilai Aktiva Bersih) adalah nilai harga per unit Reksadana. Jika ada RD yang memiliki nilai NAV Rp 1,000. Artinya jika kita melakukan pembelian minimal seharga Rp 100,000 untuk RD ini, maka kita akan mendapatkan 100 unit. Sedangkan AUM (Asset Under Management) adalah total dana kelolaan dari investor yang sedang dikelola oleh MI dari RD yang bersangkutan. Semakin besar AUM, maka artinya semakin banyak partisipasi investor di RD ini.

Di IPOT ada fitur cash info yang menampilkan berapa posisi kas di akun RDN kita. Tinggal klik saja menu Member Menu –> Info Rekening –> Informasi Kas.

Nanti akan muncul tampilan posisi kas seperti di bawah ini.

Perlu diingat bahwa IPOT tidak mewajibkan memiliki deposit di RDN kita. Ada beberapa perusahaan sekuritas yang mewajibkan minimum deposit. Nanti saya bahas di bagian MOST. Hal lain yang perlu diingat juga adalah pembelian RD bisa dilakukan kapan saja dengan cut-off date pukul 12.00 WIB setiap hari kerja. Pembelian di atas pukul 12.00 WIB akan masuk ke pemesanan hari kerja berikutnya. Harga (NAV) dari RD ketika hari pembelian adalah menggunakan harga ketika penutupan hari bursa yaitu pukul 16.00 WIB. Ketika pemesanan masuk ke IPOT, namun sampai pukul 12.00 WIB RDN kita masih kosong/dana tidak mencukupi, maka dia akan meng-auto reject pesanan kita sehingga dianggap VOID.

Laporan harian posisi portofolio dari IPOT akan dikirimkan oleh auto-generated email setiap hari kerja pukul 18.00 WIB.

2. MOST

Nah, kalau untuk melakukan transaksi saham, saya menggunakan aplikasi MOST dari Mandiri Sekuritas. Sebetulnya di IPOT juga bisa sih, tapi saya rasa ragam menu dan kemudahan transaksi saham lebih enak pakai MOST, walaupun banyak kekurangannya juga hehe.

Sebelumnya, kita berkenalan dulu dengan yang namanya transaksi saham. Saham perusahaan terbuka (publik) hanya diperdagangkan di suatu “pasar” yang bernama Bursa Efek Indonesia (BEI). Nah, di pasar ini, semua saham perusahaan publik yang jumlahnya lebih dari 600 perusahaan itu diperdagangkan dengan bebas. Namun, sebagai investor atau pembeli saham, kita tidak bisa melakukan transaksi sendiri, misalnya mengontak teman kita yang punya saham UNVR untuk menjual langsung, karena harus tercatat di KSEI dan KPEI sesuai regulasi pemerintah.

Untuk melakukan pembelian/penjualan saham, kita membutuhkan jasa yang namanya broker/pialang saham. Nah, perusahaan penyedia jasa broker inilah yang dinamakan perusahaan sekuritas yang terdaftar di BEI.

2.jpg

Ada puluhan perusahaan sekuritas di BEI, namun untuk investor ritel (perorangan modal kecil) seperti kita, yang paling terkenal adalah Mandiri Sekuritas, BNI Sekuritas, Indopremier Sekuritas (IPOT), Mirae Sekuritas, Phillips Sekuritas, Kresna Sekuritas, Trimegah Sekuritas, dll. Nah, semua sekuritas yang banyak dipakai investor ritel ini memiliki applikasi online untuk membeli dan menjual saham yang mereka kembangkan sendiri. Jadi, saat ini orang kalau mau beli dan jual saham tidak perlu lagi menelpon broker secara pribadi seperti era 80 atau 90-an. Cukup mencet-mencet HP dan saham langsung terjual atau terbeli saat itu juga.

Masing-masing perusahaan sekuritas memiliki kebijakan sendiri dalam menetapkan fee transaksi dan minimum deposit di RDN.  Contoh, BNI sekuritas mematok fee jual 0.25% per transaksi dan fee beli 0.15% per transaksi. Sedangkan Mandiri Sekuritas mematok 0.125% fee beli dan 0.2% fee jual. Silakan google ke masing-masing perusahaan sekuritas saja untuk tahu berapa fee yang mereka pungut per transaksi saham.

Selain fee transaksi, masing-masing sekuritas juga mensyaratkan minimum deposit pada saat pertama kali buka rekening saham. Sama seperti Reksadana, ketika membeli saham, kita juga wajib memiliki yang namanya RDN. Kalau anda sudah punya IPOT, RDN nya jadi satu dengan RDN Reksadana. Nah, si perusahaan sekuritas ini mematok minimum deposit ketika anda buka pertama kali akun di sini. Contoh, Mirae Sekuritas mematok minimum deposit sebesar Rp 5 juta, dan Mandiri Sekuritas mematok minimum Rp 3 juta rupiah. Silakan googling lagi saja ke masing-masing perusahaan sekuritas untuk tahu detail kebijakannya

Perlu diingat bahwa minimum deposit ini sebetulnya hanya berlaku satu kali saja. Jika anda sudah punya minimum deposit seperti yang disyaratkan, seiring berjalannya waktu dan uang deposit nya terpakai beli saham, maka uang di deposit bisa saja dihabiskan sampai jadi Rp 0 hehe.

Kembali ke MOST, saya memutuskan untuk menggunakan MOST karena sebetulnya tidak ada pilihan lain selain IPOT hehe. Karena saya tinggal di kota kecil di Kaltim, di sini tidak ada perusahaan sekuritas sama sekali haha. Akhirnya saya coba tanya-tanya teman dan rata-rata mereka membuat akun sekuritas ketika sedang cuti ke Pulau Jawa. Saya coba menanyakan melalui CS Mandiri Sekuritas (ManSek), dan mereka bilang bahwa untuk membuka rekening MOST di Bontang, bisa dialihkan melalui cabang Pontianak, Kalbar dan verifikasinya bisa dilakukan tanpa perlu datang ke Pontianak, tapi cukup lewat video call hehe.

Akhirnya saya coba akses situs MOST dan coba registrasi di sini. Tinggal diisi saja semua data diri termasuk kuesioner profil dan persepsi risiko investor. Mengenai profil risiko akan saya coba bahas di tulisan saya berikutnya. Singkat cerita, setelah persyaratan lengkap, sekitar 2 hari kerja kemudian, saya dihubungi CS ManSek Pontianak untuk melakukan video call hehe. Video callnya wawancara singkat sambil pegang e-ktp haha.

Setelah akun MOST jadi, tinggal install saja Apps nya di Playstore atau Appstore dan nanti kita akan mendapat Password login dan PIN 8 angka untuk akses menu-menu di MOST.

screenshot_20190111-105229 (1)

Setelah login, pilihan menu nya ada banyak, Home screen yang pertama adalah list berita dan analisis dan analis nya ManSek. Silakan dibaca-baca kalau tertarik hehe. Menu yang penting setelah melakukan pembelian saham adalah Portofolio, dimana kita bisa melihat portofolio saham kita (profit/loss) dan posisi Kas kita. Untuk posisi Kas, ada catatan khusus dimana setiap transaksi di bursa menganut sistem T+2 artinya semua pemyelesaian transaksi baik jual maupun beli diselesaikan 2 hari kerja setelah transaksi. Jadi, kalau kita beli saham hari Senin tanggal 1 Januari sebanyak Rp 1.000.000, maka uang cash yang harus disediakan paling lambat tanggal 3 Januari pukul 16.00 WIB (sebelum penutupan bursa). Jika tidak, akan kena penalti sesuai kebijakan sekuritas masing-masing.  Begitupun ketika kita menjual saham, uang tunai baru akan kita terima di T+2 jadi harap bersabar saja hehe.

Secara kasar, sebetulnya kita bisa membeli saham dengan saldo Rp 0 di kas kita, yang penting pada saat T+2 sudah terisi kas nya. Untuk mengisi kas, kita cukup mentransfer sejumlah uang ke RDN kita yang terdaftar di MOST. Nanti akan terupdate secara otomatis di laman Cash Info di MOST. RDN MOST biasanya akan diarahkan ke Mandiri, nanti di tampilan internet banking Mandiri kita akan muncul 2 rekening, yaitu rekening tabungan biasa, dan rekening tabungan saham/RDN.

Fitur lain yang ada di MOST adalah Buy dan Sell order yang dapat dilakukan secara “Booking” dan “Auto”. Kalau mau beraliran value investing, sepertinya fitur ini ngga akan terlalu kepake. Kecuali kalau mau merangkap swing trader atau scalper, silakan saja baca tutorialnya di laman resminya hehe. Fitur MOST sendiri cukup lengkap, ada charting, screener, dan summary buat para penganut Technical Analysis. Tapi kalau cuma buat beli dan simpan dalam waktu lama, sudah lebih dari cukup sih.

Selama 1 tahun lebih menggunakan MOST, sebetulnya sudah beberapa kali (mungkin 2 atau 3) mengalami kegagalan Auto Order yang menyebabkan gagal dapat saham di harga bagus hehe. Karena di kota saya pilihan sekuritas nya cuma ini (dan IPOT) untuk beli saham, ya terpaksa diterima dengan legowo saja hehe.

Tambahan info lagi, MOST juga bisa dipakai untuk membeli Reksadana, hanya pilihannya tidak selengkap di IPOT atau Bareksa. Coba saja dilihat-lihat dulu di situs resmi nya most.co.id. Oia, setiap transaksi yang dilakukan di hari bursa, maka laporan pembelian/penjualan akan dikirim ke email sekitar pukul 18.00 WIB. Contoh email nya seperti ini.

1.png

3. Bareksa

Sesuai namanya, Bareksa sebetulnya penyedia jasa agen penjualan RD seperti IPOT. Bedanya, dalam Bareksa, tidak ada layanan pembelian saham, namun sebagai gantinya, mereka menyediakan jasa analisis data pasar modal, obligasi, dan RD yang sangat lengkap dan komprehensif dengan biaya berlangganan paling murah Rp 2.5 juta per bulan hehe

Saya memakai Bareksa, sebetulnya hanya untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) baik Saving Bond Ritel (SBR) maupun Sukuk Tabungan (ST). Promo-promonya menarik di antaranya cash back 1% untuk 200 pembeli pertama, dll. Situs bareksa bisa diakses di bareksa.com. Cara daftarnya pun paperless dan mudah seperti IPOT. Cukup 30 menit saja, dan dalam 1×24 jam, akun kita sudah bisa dipakai. Proses verifikasinya juga sama dengan IPOT, membubuhkan tanda tangan digital dan foto diri dengan memegang e-ktp.

Nah, karena saya menggunakan bareksa hanya untuk beli SBN, maka langkah selanjutnya setelah buka akun bareksa adalah mengakses situs http://sbn.bareksa.com dan registrasi kembali melalui menu Daftar. Ikuti saja langkah-langkahnya dan lengkapi dengan data diri. Setelah selesai, dalam waktu 1×24 jam akan dihubungi CS nya via WhatsApp untuk validasi dan konfirmasi.

3.png

Di Bareksa juga sebetulnya membutuhkan pembuatan RDN, namun karena saya hanya menggunakan untuk beli SBN, maka saya tidak perlu membuat akun RDN baru karena transaksi pembelian SBN langsung dilakukan melalui ATM atau internet banking.

Setelah akun siap, langsung saja masuk ke sbn.bareksa.com dan lakukan pembelian SBN yang sedang dijual di sana. Pembayaran dilakukan langsung melalui bank dengan ATM maupun internet banking. Setelah proses settlement, maka di dalam dashboard sbn.bareksa.com kita bisa melihat laman portofolio yang menunjukkan berapa banyak SBN yang kita beli, apa saja jenisnya, berapa tingkat kupon bunga nya, dan berapa rupiah kupon bunga yang sudah kita kumpulkan.

4.png

Pencairan kupon bunga dilakukan melalui rekening yang kita daftarkan pertama kali saat membuka akun sbn. Jadi, silakan dicoba saja kalau tertarik membeli SBN lewat bareksa. Sebetulnya ada banyak mitra distribusi online lain selain bareksa seperti tanamduit, modalku, dan investree. Bisa dicoba dan share keun pengalamannya hehe.

Tambahan info, jika sudah punya akun RD atau saham dan sudah aktif bertransaksi, maka kita akan mendapatkan laporan berkala setiap bulan mengenai posisi portofolio dan juga laporan pembelian/penjualan saham atau RD setiap sore setelah penutupan bursa.

Next time, saya share mengenai persepsi risiko seorang investor barangkali bermanfaat.

 

Saving Bond Ritel (SBR-005)

Saat ini bisa dibilang pemerintah, melalui Kementrian Keuangan sedang gemar menjaring dana sebesar-besarnya dari kaum milenial dalam bentuk surat utang negara/Surat Berharga Negara (SBN). Sejak tahun 2015, sudah banyak seri SBN ritel yang ditawarkan ke masyrakat umum dengan minimal investasi Rp 1 juta rupiah hingga Rp 3 milyar per orang.

Setelah sukses meraup dana melebihi target di SBR-004 dan ST-002, kali ini pemerintah kembali menggulirkan SBR-005. Saya pernah membahas apa itu SBR di laman berikut. SBR singkatnya adalah surat utang negara yang berbentuk tabungan (saving) yang tidak bisa dicairkan dalam waktu tertentu. Untuk seri SBR-005 ini, sama dengan seri sebelumnya yaitu memiliki tenor 2 tahun dengan fasilitas early redemption sebanyak 50% setelah 1 tahun.

Lebih jelas mengenai SBR-005 bisa disimak di website Kemenkeu berikut.

Secara singkat, SBR diperdagangkan melalui mitra distribusi (midis) berupa bank BUMN dan swasta, perusahaan investasi/sekuritas serta beberapa perusahaan fintech (P2P lending) berbasis online. Cara membelinya mudah sekali. Cukup mendatangi bank, lapor ke CS nya, dan proses pembeliannya tidak sampai 30 menit. Apalagi jika sudah punya Rekening Dana Investor (RDI), maka cukup melakukan pembayaran dan pengisian data saja.

Kalau mau beli melalui midis online seperti bareksa.com, investree.id, modalku, tanamduit, dkk, cukup melakukan pendaftaran online ke situsnya masing-masing, nanti ada verifikasi tanda tangan digital dan upload KTP melalui apps. Prosesnya pun mudah sekali. Bedanya dengan beli lewat bank, kalau lewat perusahaan fintech atau bareksa.com, kita diberikan dashboard berupa list pembayaran kupon.

Yang perlu diingat dari SBR ini, selain tidak bisa dicairkan sebelum jatuh tempo, dia menggunakan sistem floating with floor dengan kupon minimal 8.15% dari perhitungan kupon minimum (based on BI 7Day Repo Rate) ditambah 215 bps (2.15%) spread. Disebut floating karena jika suku bunga BI naik, maka kupon nya pun akan naik, namun kenaikannya akan dilakukan setiap 3 bulan sekali. Lalu maksud dari floating with floor bahwa jika suku bunga BI turun dari level 6.00 %, maka kupon nya tidak akan turun namun tetap di 8.15% per tahun hehe.

Masa penawaran SBR-005 sendiri dari mulai 10-24 Januari 2019, namun mengingat animo masyarakat yang membludak, pemerintah sudah antisipasi bahwa kuota nya kali ini akan dibatasi, jadi feeling saya sih sebelum 24 Januari, kuotanya sudah ludes, apalagi di era suku bunga tinggi seperti sekarang hehe.

Tapi jangan khawatir, Pemerintah sendiri menjanjikan ada 10 seri SBN ritel yang akan dikeluarkan di tahun 2019 ini yang terdiri dari 4 kali SBR, 4 kali ST, satu kali obligasi negara ritel (ORI), dan satu kali penerbitan Sukuk Ritel (SR) dengan target perolehan dana senilai Rp 60T. Kita tunggu aja.

Dengan menabung di SBR-005, kita juga hitung-hitung bantu negara karena dana yang terhimpun akan dipakai untuk menutup defisit APBN di bidang pendidikan, infrastruktur, dan kesejahteraan. Kelebihan investasi di SBR juga memiliki nilai resiko yang nyaris 0 karena pemerintah hampir pasti tidak mungkin gagal bayar (kecuali negara dinyatakan bangkrut) hehe.

Saya sendiri sudah punya investasi di obligasi pemerintah mulai dari SBR-003, SBR-004, ORI-015, dan ST-002. Kemungkinan akan kembali beli SBR-005 untuk diversifikasi portofolio investasi. Selama ini beli SBN selalu menggunakan bareksa.com kecuali ORI-015 karena memang tidak didistribusikan selain melalui bank.