Short Trip (Escape) to Bangkok

Sebetulnya trip ke Bangkok ini udah saya lakukan di pertengahan Desember 2022 lalu namun baru sempat menulis di blog hari ini karena kesibukan dan lain-lain. Jadi ceritanya, sekitaran bulan Agustus 2022, istri saya yang seorang fans berat Final Fantasy series, mengajak untuk nonton konser musik original soundtrack dari game franchise Final Fantasy di Bangkok. Konsernya sendiri sebetulnya diadakan di 17-18 Desember 2022. Jadi masih ada sekitar 4 bulan lagi dari Agustus. Dan berhubung situasi pandemi sudah mulai mereda dan Bangkok sudah mulai melonggarkan persyaratan masuk, akhirnya kita beranikan lah beli tiket online untuk konsernya.

Harga tiketnya sekitar 3,400 THB atau kalau dirupiahkan sekitar 1.5 juta untuk kelas non VIP. Setelah beli tiket konser, kita ngga langsung beli tiket pesawat karena masih bingung mau ngajak anak-anak atau nggak dan apakah saya bisa ajukan cuti atau ngga di pertengahan Desember itu.

Dari Agustus-Oktober, saya sibuk jelajahi Vlog yutuber-yutuber yang sudah mengunjungi Bangkok. Dari sekian banyak video yang saya tonton, kesimpulannya, masuk Bangkok sejak September 2022 sudah ngga perlu lagi antigen/PCR namun hanya cukup tunjukkan sertifikat vaksin saja. Singkat cerita, di bulan Oktober akhirnya kami memutuskan untuk pergi berdua saja dan meninggalkan anak-anak di rumah kakek-neneknya karena anak saya yang besar masih sekolah dan Bangkok bukan kota yang ramah untuk jalan-jalan dengan anak kalau lihat banyak video di youtube.

Tiket pun sudah dibeli. Saya memutuskan berangkat hari Jumat 16 Desember sore, pukul 16.30 dengan Air Asia rute CGK-DMK dan pulang di hari Senin 20 Desember pukul 15.30 dengan Thai Ariways rute BKK-CGK. Ini perjalanan perdana ke Bangkok jadi cukup deg-degan juga dan karena saya hanya bisa cuti satu hari saja, jadi agenda utamanya hanya untuk nonton konser ini di Sabtu tanggal 17 Desember nya. Jadi kami punya 1 hari (minggu 18 Desember) untuk explore Bangkok dalam sehari.

Singkat cerita di hari keberangkatan, saya sempat Work From Anywhere (WFA) dari lounge di Bandara CGK karena masih ada meeting pukul 14.30 nya. Sejak Kamis malam saya sudah di hotel bandara dan WFA dari jumat pagi sampai selepas solat jumat. Istri berangkat dari Bandung pukul 9 dan sampai di bandara pukul 13 WIB.

Perjalanan ke DMK (Don Meuang Airport) Bangkok dengan air asia cukup smooth. Karena pesawatnya kecil (A320) jadi ada turbulensi sangat terasa. Untungnya di Air Asia ini disajikan makan minum walau berbayar, jadi lumayan lah daripada diem aja selama 3 jam perjalanan. Sampai di DMK kira-kira pukul 19.30 WIB, dan dari info yang saya dapat, transport dari DMK ke kota yang tercepat adalah dengan taksi, bisa nyegat langsung atau pakai JustGrab di depan Terminal kedatangan. DMK sendiri kalau dilihat-lihat mirip KLCC (bandara air asia nya Kuala Lumpur jaman dulu) atau Halim jaman dulu, khusus terminal low cost budget jadi kondisi Airportnya sendiri ya ala kadarnya hehe. Tapi Airport ini letaknya lebih dekat ke kota dibanding Survanabhumi (BKK).

Naik taksi dari DMK ke Hotel (kami menginap di hotel Ibis Sathorn) https://all.accor.com/hotel/6537/index.id.shtml yang letaknya di daerah Shukumvit, tepatnya di Lumphini. Alasan menginap di sini karena area ini termasuk tengah kota dan dekat dengan MRT station Lumphini. Sebetulnya di area ini cukup banyak hotel dan salah satunya ada Malaysia Hotel, mungkin dinamakan begitu karena yang punya orang Malaysia. Perjalanan dengan taksi dari DMK ke Ibis Sathorn sekitar 30 menit dengan biaya 200 THB dengan bayar tol 50 THB.

Menginap di Ibis per malam sekitar 450rb rupiah, jadi harga hotel di Bangkok menurut saya lebih murah sedikit dari hotel-hotel di Jakarta. Roomnya cozy, cukup luas, namun kelemahannya ya TV nya hanya TV lokal aja hehe, dan juga laundry nya mahal. Tapi worth it lah karena ngga jauh dari hotel ada laundry coin yang nanti akan saya ceritakan.

Sesampainya di hotel sudah pukul 21.00 dan persis depan hotel ada 7Eleven. 7Eleven ini kalau di Bangkok udah kayak Indomaret-Alfamart. Di setiap belokan jalan pasti ada tokonya hehe. Sehabis mampir sebentar beli makanan halal. kami langsung check-in dan istirahat di kamar karena sudah lelah di jalan.

Keesokan paginya, sekitar pukul 5.30 pagi. Setelah searching di google, dekat hotel sekitar 600m ada laundry coin yang kalau dilihat fasilitasnya cukup lengkap.

Jalanan menuju ke laundry coin nya persis kayak di gang-gang di Jakarta. Cuma bedanya lebih bersih aja. Sepanjang jalan, yang dilihat kalau nggak Guest House, bar, dan tempat Spa/Thai Massage karena memang area ini banyak hotel dan area turis juga. Dan seperti biasa, di setiap belokan pasti selalu ada 7Eleven guys hehe.

Pemandangan umum di jalanan bangkok. Setiap belokan ada Sevel
Ada orang jualan sarapan juga

Laundry coin di sini persis seperti di Singapur, buka 24 jam, banyak CCTV, ada mesin penukaran koin, dan bedanya lagi di sini ada mesin kopi dan beli detergen sendiri. Harga laundry cuci ditentukan dengan tipe detergen, detergen saja harga 5 THB, detergen pakai pewangi harga 10THB. Lalu per 10 menit mencuci harganya 40 THB untuk air dingin dan 50THB untuk air hangat di mesin cuci yang ukuran 10kg. Jadi total sekali cuci habis 55-60 THB atau sekitar 30rb. Kemudian untuk drier nya sendiri harga per 30 menit adalah 50 THB untuk high temperature, dan 40 THB untuk medium temperature. Waktu untuk melaundry kira-kira sekitar 45-60 menit.

Sambil menunggu laundry selesai, kami mampir ke Sevel dulu untuk beli sarapan. Oia, di Thailand, kalau mau cari makan halal, cukup mudah. Sama seperti di Singapur, jenis kehalalan nya ada 3: 1. Halal certified, bisa dilihat dari logo di setiap kemasan makanan atau restoran, 2. muslim owned, yang tipe ini banyak di food court di mall atau di warung pinggir jalan seluruh Bangkok, dan 3. vegan/vegetarian food. Di Sevel sendiri, cukup banyak makanan dengan logo halal, semisal Thai Chicken Rice, sandwich, dan nasi goreng yang letaknya di mesin pendingin. Kemudian di Sevel juga jualan buah-buahan dan salad yang aman dimakan. Minuman-minuman kemasan kayak susu, eskrim dan teh juga udah halal certified semua. Cuma kekurangannya cuma satu, microwave untuk manasin makanannya masih sharing dan ada potensi kecampur sama bekas manasin makanan non halal.

Tipikal sarapan halal di Sevel

Oia, harga di Sevel nya pun masih lebih affordable ketimbang Sevel di Singapur ya. Mungkin karena perbedaan kurs juga. Sekali belanja makanan dan cemilan, habis sekitar 200 THB atau sekitar 100rb rupiah maksimal. Yang uniknya, di sana pun setiap pagi ada tukang sayur yang keliling naik motor supra dan juga ada orang jualan sarapan kayak nasi, ayam dan makanan lain di pinggir jalan dan depan rumahnya pakai tenda. Bener-bener tumplek persis kayak di Indonesia.

Keunikan lain di Bangkok adalah di sini ada juga Ojol (Grab) dan di tiap gang ada ojek pangkalan yang ciri khasnya memakai rompi proyek warna oren. Awalnya saya dan istri nyangka orang-orang yang pake rompi oren ini pekerja konstruksi. Eh ternyata opang dong hehe.

Setelah cuci baju dan kembali ke hotel, agenda pertama hari Sabtu pagi ini adalah jalan-jalan ke Chatuchak Market, sekalian beli oleh-oleh. Chatuchak adalah weekend market (pasar kaget) terbesar di Asia Tenggara. Adanya hanya dari hari Jumat sore sampai malam, dan Sabtu-Minggu dari pagi sampai malam. Untuk pergi ke Chatuchak, dari hotel kami jalan kaki ke stasiun MRT Lumphini kurang lebih 700m. Ada yang unik juga di MRT Bangkok. Ticketing nya persis kayak LRT di Kuala Lumpur, ngga pake kertas/kartu kayak di SG atau Tokyo, dia pakai token semacam koin plastik gitu.

Harga tiketnya pun nggak bisa dibilang murah juga sih. Dari Lumphini ke Chatuchak sekitar 13 stasiun sekitar 48 THB seorang atau 20 ribu rupiah. Ya mirip-mirip MRT Jakarta lah ya. MRT Bangkok ini buatan Siemens jadi kereta nya mungkin lebih bagus, dan stasiunnya pun moderen. Tapi entah karena kita kepagian atau gmn stasiun MRT nya terlihat sepi. Mungkin rute nya masih sedikit kali ya mengingat baru ada 1 koridor aja kayak di Jakarta. Dari Lumphini, kita turun di stasiun MRT Kamphaeng Phet (namanya unik-unik) dan keluar dari stasiun MRT langsung sampai di pintu terluar pasar Chatuchak.

Berhubung hari masih jam 9 pagi, belum semua lapak di sana udah buka. Kebanyakan masih beres-beres dan persiapan buka. Tapi dari yang saya lihat, area Chatuchak ini gede nya ampun dah. Mungkin seharian keliling di sini aja nggak cukup kali ya. Mirip Cimol Gedebage dengan luas puluhan kali lipat dong. Dan bedanya tertata rapi dan bersih lah. Aneh bener karena sesama Asia Tenggara tapi Bangkok ini bisa rapi dan bersih gini.

Pemandangan Sabtu pagi di Chatuchak
Food stall di Chatuchak

Agenda ke Chatuchak ini apalagi kalau bukan cari kaos bergambar Thailand, tas bergambar Thailand, mainan Tuk-tuk, gantungan kunci, dan mencicipi Mango Sticky Rice di salah satu lapak makanan di sini. Di Chatuchak ini ada beberapa spot makanan muslim owned juga, salah satunya adalah Saman Islam, penjual Pad Thai dan nasi biryani ini. Yang masak ibu-ibu menggunakan hijab dan banyak juga orang-orang Indonesia/Malaysia yang makan di lapak ini. Harga per menu nya sekitar 100 THB (50 ribuan) dan Pad Thai nya enak menurut saya.

Mango Sticky rice di Chatuchak harga 30 THB atau 15 Ribu IDR

Setelah beli oleh-oleh dan makan berat dan mencicipi mango sticky rice, kami pun kembali ke hotel untuk mandi dan siap-siap menuju ke tempat konser setelah zuhur. Tempat konsernya ada di Mahidol University, salah satu universitas terkenal di pinggir Bangkok, walau letaknya di luar Bangkok sih sebenernya. Konsernya sendiri dimulai pukul 16.00 dan setelah browsing-browsing berkali-kali, moda transportasi tercepat ke sana hanyalah dengan Taksi/Grab sekitar 40 menit dan biayanya sekitar 300THB (150 ribu rupiah). Alternatif lain adalah menggunakan kereta antar kota yang lebih murah tapi durasinya nyaris 1.5 jam lamanya.

Perjalanan dari hotel ke Mahidol University juga lumayan lancar. Jalanan di Bangkok lebar-lebar dan tertata lebih rapi ketimbang Jakarta. Ada beberapa titik macet tapi nggak banyak dan perjalanan kami tempuh sekitar 45 menit sampai ke depan Prince Mahidol Hall. Sesampai di venue konser, kami langsung tukar tiket. Karena waktu masih pukul 14.30 masih ada beberapa jam lagi sampai gate dibuka. Sambil nunggu, kita duduk2 dulu dan ngobrol sebentar dengan beberapa orang Indonesia yang ada di sana, nggak lupa, istri foto dengan beberapa cosplayer karena cukup banyak juga yang pakai cosplay di sini.

Jam 15.15 venue dibuka dan penonton sudah boleh masuk, venue nya megah, benar-benar cocok untuk tempat konser. Kami duduk di area tengah di sayap kanan. 5 menit sebelum konser dimulai, semua kursi sudah terisi penuh. Ini juga pertama kalinya saya nonton konser orkestra begini. Durasi konsernya sekitar 2 jam dan kita disuguhi alunan musik yang indah dan enerjik dari composernya sendiri yang orang Kanada. Banyak special guest juga di konser ini termasuk creator dan composer OST Final Fantasi yang datang langsung dari Jepang dan beberapa penyanyi Jepang yang mengisi vokal di OST nya. Bener-bener pengalaman konser yang sangat mantap lah.

Venue saat konser belum dimulai
Ketika konser dimulai

Konser selesai pukul 18.30 dan seperti sudah diprediksi orang-orang serentak keluar di waktu yang sama, dan akibatnya adalah semua taksi dan Grab full booked dong. Setelah menunggu selama 30 menit akhirnya kami dapat Grab Taxi dengan harga sekitar 400 THB (200rb) dengan tujuan ke Asiatique The Riverfront Bangkok. Karena tujuan kami ke sini untuk makan di food court halalnya sambil menikmati pinggiran sungai Chao Praya. Perjalanan ke Asiatique sekitar 45 menit dan seperti sudah ditebak, malam minggu, Bangkok macet di area-area wisata. karena macet pula kami jalan kaki beberapa ratus meter sebelum sampai di pintu Asiatique. Tapi seperti diduga, ternyata sampai di sana zonk dong. Foodcourt yang dituju ternyata tutup karena renovasi. Akhirnya di Asiatique cuma foto-foto sambil liatin crowd yang kebanyakan nongkrong di bar buat minum-minum dan hangout.

Asiatique, tempat tourist hotspot di Bangkok di pinggir sungai Chao Praya

Sebelum sampai di Asiatique, sebetulnya saya sempat lihat lapak-lapak makan pinggir jalan yang jualannya ibu-ibu berhijab dan lokasinya ngga jauh dari Mesjid yang ada di area sini. Daripada kelaparan, akhirnya kami memutuskan makan di lapak Pad Thai dan nasi goreng tersebut. Lumayan, pesan pad thai dan nasi goreng sekitar 150 THB (60 ribu rupiah) berdua. Sama ibu-ibunya juga diajak ngobrol dan ternyata mereka ini orang Thailand selatan yang kebanyakan populasi nya muslim karena pengaruh tetanggaan dengan Malaysia. Setelah makan, kami pesan Grab dan pulang ke Hotel.

Makan pad thai di pinggir jalan dekat Asiatique

Keesokan paginya di hari Minggu, setelah laundry dan sarapan, kami memutusan untuk pergi ke landmark di Bangkok seperti Grand Palace, Wat Pho dan Wat Arun (yang letaknya di satu kawasan) sebelum pulang ke Jakarta senin siangnya. Berangkat pukul 8 dari hotel dengan MRT dari Lumphini ke Sanam Chai (6 stasiun) dan dari Sanam Chai Station jalan kaki 1 km (10 menit) ke pintu masuk Grand Palace. Sepanjang jalan, karena cuaca cerah dan angin berhembus sepoi-sepoi, pemandangannya indah sekali melewati kompleks ring-1 nya Bangkok ini. Pemandangan unik sebelum masuk Grand Palace adalah bule-bule yang pada pake hotpants dan rok pendek disuruh sewa/beli kain penutup dulu sebelum masuk ke Grand Palace.

Vibes nya Grand palace sendiri mirip Keraton Jogja namun dengan arsitektur Buddha yang lebih kental. Banyak bangunan, ornamen, dan patung-patung kebudayaan dan kepercayaan agama Budha. Banyak spot-spor foto bagus dan juga lukisan/ornamen yang menceritakan Thailand tempo dulu. Karena masih pagi dan baru banget buka, pengunjung masih sedikit dan kita bebas leluasa foto-foto. Total waktu yang dihabiskan di sini sekitar 1 jam lah dan di bagian dekat pintu keluar baru kelihatan istana Raja Thailand dan kita bisa foto-foto di depannya. Oia, HTM ke Grand Palace adalah 500 THB (250rb), cukup mahal ya.

Ngga jauh dari Grand Palace, di sebelahnya adalaah Wat Pho, sebuah kuil dengan landmark patung Budha raksasa yang sedang berbaring/tidur miring. HTM ke sini 100 THB dan durasi di sini juga cukup cepat sekitar 30 menit karena banyak wisatawan hanya mengincar foto di depan/samping patung Budha raksasa tersebut. Meskipun banyak orang Thailand yang datang untuk berdoa juga di sini.

Sekitar pukul 11, keluar dari Wat Pho, tujuan terakhir adalah Wat Arun, sebuah kuil dengan arsitektur unik yang letaknya di sisi sebrang sungai Chao Praya. Dari Wat Pho, jalan kaki 300 meter ke pelabuhan terdekat dan bayar 12 THB (5000 perak) untuk nyebrang pake perahu dengan durasi tempuh 2 menit aja. HTM ke Wat Arun adalah 100 THB dan di sini kita bisa naik sampai ke puncah kuil kalau niat. Tapi karena hari sudah siang dan kita sudah lapar, jadi di sini cuma 20 menit aja buat jalan keliling dan foto-foto sebentar.

Kapal untuk nyebrang dari Wat Pho ke Wat Arun dan sebaliknya

Nah dari Wat Pho ini, kita rencana mau lanjutkan ke Icon Siam, salah satu mall terbesar juga di Bangkok. Rencananya di sini mau makan siang di food court yang konon banyak muslim owned food stall nya. Salah satu transportasi unik di Bangkok adalah taksi air yang rutenya ke tempat-tempat wisata sepanjang Chao Praya. Dari Wat Arun ini kita bayar 30 THB (15rb) per orang untuk naik kapal dan turun di dermaga depan Iconsiam. Lama perjalanan sekitar 10 menit. Sepanjang perjalanan melintas sungai banyak pemandangan unik juga kayak banyak perahu-perahu kecil yang ngebut dan arus di Chao Praya yang lumayan kenceng juga dan pastinya sungainya warna coklat seperti sungai-sungai di Indonesia hehe.

Sampai di dermaga Icon Siam, kita langsung masuk ke mall nya dan ternyata mall nya gede juga. Di food court di lantai 1 banyak banget jajanan khas Thailand dan muslim owned. Di sini kita makan tom yum, sate-satean, mie ala thailand, martabak, mango sticky rice dll. Total makan sampe kenyang berdua kira-kira abis 450 THB (220rb an). Harga persis dengan makan di mall di Jakarta lah. Yang uniknya di mall ini, di food courtnya ada semacam sungai kecil gitu dan juga ada yang jualan serangga goreng kayak kecoak, jangkrik, larva, dll hehe.

Dermaga IconSiam
Menu makanan Halal (Muslim Owned) di Food Court IconSiam

Setelah kenyang di sini, sekitar pukul 2 siang, saya dan istri pulang pake taksi yang ngetem di depan mall. Ada cerita unik juga di sini karena awalnya si petugas jaga di tempat tunggu taksi bilang tarif argo, tapi pas naik, supirnya nanya ke mana tujuannya, pas saya bilang Ibis Sathorn, dia nembak 100 THB, karena sebelumnya saya udah cek tarif grab sekitar 160 THB ya saya iyain aja. Eh pas di tengah jalan dia bilang klo dia salah ngira Ibis yang lain, jadi minta naik ke 150 THB. karena males debat ya saya iyain aja toh masih lebih rendah dari tarif Grab.

Sampai di hotel istirahat sebentar lalu sore nya kita ada rencana jelajah Platinum Fashion Mall buat cari baju-baju anak dan lanjut jalan di sekitaran Central World. Karena waktu itu hari minggu Sore, kita naik Grab dari hotel menuju ke Platinum. Selama di Bangkok, ada pengalaman unik naik grab, yang pertama kita pernah dapat Grab Ford Ranger dong, lalu yang kedua pernah dapat Mazda 3. Jadi di Bangkok itu taksi online nya bukan kaleng-kaleng mobilnya cem di Indo yang kalo ga Agya Ayla Sigra Calya family hehe.

Menuju ke Platinum Mall, ternyata kemacetan sudah mengular dan jalanan isinya orang semua. Maklum karena Platinum Fashion Mall itu letaknya di pusat kota Bangkok yang bersebelahan dengan Mall-mall terkenal lain kayak Centralworld, Siam Center, MBK Center. Yang uniknya beberapa mall ini tersambung sama skywalk gitu jadi orang-orang yang jalan kaki ngga perlu lewat trotoar yang isinya crowdeed sama kemacetan lalu lintas. Kemudian yang bikin amaze lagi di Bangkok itu orang-orang tumpah ruah semua di jalan, tapi anehnya semua moda transportasi juga penuh kayak BTS, MRT dan kendaraan pribadi.

Pemandangan depan Platinum Fashion Mall
Kesemrawutan persis seperti di Indonesia

Setelah cari baju anak di Platinum, saya dan istri jalan kaki menyusuri trotoar ke arah Siam Center. Sepanjang jalan, kami lihat jalur BTS sampai susun 2 tingkat dong saking crowded nya transportasi Bangkok. Udah gitu jalanan mobil di bawahnya juga macet dan crowded. Luar biasa. Masuk di Siam Center, ternyata orang banyak banget sampe pusing lihatnya. Istri saya aja sampai mau pingsan pas mau masuk ke stasiun BTS saking penuh nya sama orang yang lalu lalang. Bener-bener amazing.

Jalan raya dan 2 jalur BTS yang bertumpuk-tumpuk
Suasana di Stasiun BTS terramai di Minggu sore

Karena istri saya mabok dan mual-mual, maka kami istirahat sebentar di luar stasiun BTS buat ambil nafas dan duduk. Sekitar pukul 7, istri sudah baikan dan kita memutuskan untuk jalan ke JODD Fair, sebuah kawasan pasar malam yang isinya bar dan beberapa tempat makan gitu hasil dari nontonin video salah satu yutuber. Dari Siam naik BTS 3 stasiun lalu lanjut naik MRT yang kebetulan satu jalan dengan arah pulang ke hotel. Pengalaman di stasiun BTS yang supercrowded dan masuk ke kereta yang crowded bener-bener khas Bangkok dah.

Sesampainya di JODD Fair ternyata memang isinya food stall sama bar/cafe gitu. Ada beberapa food stall halal (muslim owned) tapi kebanyakan yang ngga ada label/keterangan halalnya sih. Vibes nya sih bagus ya tempat ini cuma sayangnya kursi-kursi yang ada ternyata udah reserved untuk pengunjung bar. Jadi klo kita duduk di tempat kosong gitu, bisa langsung diusir security.

Suasana malam di JODD Fair

Akhirnya kami milih untuk makan burger dan dimsum aja di tempat ini sebentar lalu memutuskan pulang sekitar pukul 9 malam waktu setempat. Karena udah capek, jadi ambil Grab aja dan kebetulan dapat mobil Innova yang disopirin emak-emak dong. Sampe di hotel langsung tidur karena besoknya akan pulang ke Indonesia.

Praktis, selama di Bangkok kami nggak berkesempatan naik tuktuk karena: ngga ada waktu, dan yang kedua, masih belum siap untuk terkaget-kaget dengan tarifnya dan metode nawar ke drivernya. Jadi next time aja deh naik Tuktuk.

Esok harinya, rencana awal kita mau jalan ke Lumphini Park, namun karena masih capek, akhirnya agendanya batal dan hanya leyeh-leyeh aja di hotel sampe jam checkout tiba. Belanja sarapan di Sevel, terus mager di kamar hotel tau-tau udah jam 11 siang. Akhirnya kami checkout dan pesen Grab untuk ke bandara Suvarnabhumi (BKK). Perjalanan ke BKK dari Hotel sekitar 45 menit, letak si bandara ini lebih jauh dari DMK, dan tarif toll ke sana sekitar 75 THB dibayar tunai. Sampai di BKK pukul 13, rupanya antrian di security check baggage dan imigrasi panjang banget. Baru bisa masuk gate di jam 14 waktu setempat sementara boarding pukul 14.45. Menjelang boarding ada pengumuman pesawat delay 30 menit karena kendala operasional. Akhirnya kami baru bisa boarding pukul 15.30 dan bisa naik ke pesawat.

Pengalaman perdana naik Thai Airways, dapat pesawat B787-Dreamliner dan duduk di kursi jendela. Overall, vibes nya Thai Airways bagus, interior dominasi warna ungu dan pesawat juga masih baru. Hiburan lengkap, dan menu makanan juga ok. Ada salah udang, dan pilihan makanannya nasi ayam Thailand dan pasta udang walau rasanya masih kalah dari menu makanan SQ. Perjalanan BKK-CGK makan waktu 3 jam 15 menit dan sampai di Jakarta sekitar jam 6 sore. Keluar airport jam 7 malam dan perjalanan ke Bangkok pun berakhir dan besoknya saya harus kerja lagi hehe.

Demikian sharing perjalanan ke Bangkok yang super singkat tapi berkesan ini. Kalau ditanya apakah tertarik untuk ke Bangkok lagi dengan anak-anak? nampaknya saya akan berpikir 2 kali deh, masih mending milih bawa anak-anak ke Singapura karena lebih ramah anak daripada ke Bangkok hehe.

Tapi impresi saya ke Bangkok: Kota yang hampir sama dengan Jakarta dari mulai kepadatan, kemacetan, hingar bingar, dan crowd nya, tapi satu tingkat lebih baik dalam hal keteraturan, transportasi publik dan fasilitas umum. Keren…

Kinerja Investasi 2022

Menginjak tahun 2023 ini, saatnya bikin coret-coretan lagi tentang kinerja investasi di tahun 2022 lalu.

Tahun 2022, seperti yang dialami oleh kebanyakan investor dan coal company holder adalah tahun dengan return portofolio tertinggi yang mungkin pernah ada. Hampir semua saham perusahaan batubara besar di Indonesia mencetak bagger jika pada beli di akhir 2021 atau di awal 2022. Yang paling gila memang BYAN (Bayan Resources) yang sukses menjadikan Dato Low Tuck Kwong pemiliknya, menyalip posisi orang terkaya Indonesia yang udah bertahun-tahun dipegang pemilik Grup Djarum, Hartono Brothers.

Saya sendiri punya ADRO PTBA, PSSI dan UNTR, perusahaan coal-related company dalam portofolio, dan selain UNTR dan PTBA, sudah mencetak bagger. PTBA sendiri walau nggak bagger, tapi saya dapat yield dividen 30%, terbesar selama saya berinvestasi di pasar modal sejak 2016.

Ok, kita breakdown dulu alokasi aset portfolio as per 31 Desember 2022 berikut ini:

Alokasi aset terbesar tentu saja masih saham dengan besaran 45.5% disusul Reksadana 40,1% dan obligasi pemerintah (SBR/ST/SR/ORI) sebesar 9.4%. Penurunan signifikan di P2P lending dari posisi sebelumnya 8%an menjadi sisa 2.3% aja. P2P ini porsinya jauh berkurang seiring dengan berhentinya T*rnakinvest (karena perubahan business model) dan berkurangnya porsi topup Am*rtha karena kebijakan PPh 15%.

Selama 2022 juga porsi saham belum naik lebih dari 50% karena beberapa faktor: harga yang saya anggap belum terlalu murah sehingga porsi dana idle (dry powder) masih numpuk banyak di RDPT dan RDPU. Di samping itu, porsi tabungan pendidikan anak dan tabungan penyusutan mobil juga saya perbesar karena memang ada target investasi yang perlu dicapai di 2024 hehe.

Sementara itu, performa dari portofolio saham sendiri selama 2022 memang sangat menggembirakan, berhasil mengungguli IHSG jauh sekali. Padahal di 2021 saya hanya bisa +1.12% dibanding IHSG yang bisa tembus +10% sepanjang tahun.

Total keseluruhan return investasi saham di 2022 mencapai +49.22% yang didorong oleh meroketnya sektor batubara dan perkapalan sepanjang tahun 2022. Penggerak porto saya apalagi klo bukan SMDR (+220%), ADRO (+120%), dan PSSI (+240%). Walaupun lot size nya ngga begitu besar (karena saya punya keseluruhan 17 saham dalam porto), hasil ini cukup menggembirakan lah.

Dari sisi dividen, tahun ini jumlah nominal dividen saya melonjak lebih dari 300% dari yang saya terima di tahun 2021. Luar biasa. Dividen terbesar disumbang saham-saham batubara yaitu PTBA, UNTR, ADRO dan POWR yang menyumbang lebih dari 50% total dividen. Dan semua dividen yang saya terima ini direinvestasikan lagi untuk beli saham lagi.

Sementara lagging masih disumbang oleh ACES (-35%), MARK (-30%) dan PRDA (-20%), WEGE (-18%) sepanjang tahun 2022. Tapi saham-saham ini masih saya hold karena masih yakin kinerjanya akan berbalik di tahun ini.

Untuk tahun 2023 sendiri, rencana saya adalah mulai mengurangi porsi di saham batubara, mungkin setelah pembagian dividen full year akan pelan-pelan lepas sahamnya dan memperbanyak lagi porsi di saham growth sambil merampingkan porto. Bobot akan saya tambahin untuk ARNA SMSM dan ADES sebagai andalan growth company saya yang memang kinerjanya masih stabil dan terus tumbuh.

Sementara di Reksadana, saya ngga akan topup lagi dalam jumlah banyak, dan mungkin semua SBN pemerintah yang dikeluarkan tahun ini akan saya beli semua dengan nominal yang sama dengan yang biasa saya beli. Ada 2 SBN yang akan jatuh tempo juga di akhir tahun dan lumayan bisa buat nambah-nambah beli SBN yang lain.

Untuk P2P sendiri, kayaknya saya bakal cukup fokus di Am*rtha aja dulu sementara. Karena performa securities crowdfunding lain seperti B*zhare, Cro*dana dll pada melempem semua. Sementara masih Am*rtha yang sesuai return 11.5% per tahun meski kena sunat PPh 15% jadi sisa return tinggal 10-an%. tapi masih lebih baik dari performa rata-rata reksadana pendapatan tetap yang cuma sanggup 7-8% aja di tahun 2022 kemarin.

Mari kita lihat lagi performa porto di Q1 2023 nanti yang akan saya publish mudah-mudahan di bulan April 2023.

Terima kasih

Cabut Gigi

Sudah 3 bulan rasanya saya belum menulis apapun di blog ini. Cukup banyak hal yang terjadi di 3 bulan ini. Yang paling berkesan adalah akhirnya gigi saya tidak lengkap lagi alias sudah dicabut permanen. Ceritanya cukup membuat miris juga karena dua gigi saya harus direlakan hilang dalam rentang seminggu saja.

Cerita berawal dari rasa nyeri amat hebat di gigi geraham kiri kedua dari depan, yang sudah seminggu saya tahan. Rasanya seperti nyut-nyutan namun kerasa sampai di kepala. Awalnya saya kira ada lubang di gigi nya, tapi jika dilihat dengan seksama, nggak ada lubang terlihat kasat mata. Akhirnya saya beranikan lah ke dokter gigi untuk diperiksa. Dokter gigi pun bilang kalau ini bukan lubang, namun beliau juga nggak yakin sampai akhirnya saya diminta untuk rontgen mulut dulu supaya bisa dicek detil.

Saya pun baru pertama kali menjalani rontgen mulut. Kirain kayak rontgen dada gitu tp rupanya kita difoto penampang mulut dan gigi pakai scanner/x-ray 360 derajat yang bisa foto semua area mulut dalam bidang 2 dimensi. Kira-kira alatnya seperti ini:

Prosesnya cepat, hanya 2 menitan namun ada efek pusing setelah dirontgen, mungkin karena efek radiasi kali ya. Hasil rontgen keluar dalam 1 jam, namun karena dokter gigi nya sudah selesai prakteknya, saya pun memutuskan untuk kembali besok harinya. Tapi jika dilihat dari hasil foto rontgen dan diagnostik dokter radiologi, tidak ada hal aneh di gigi waktu itu.

Keesokan harinya, rontgen saya kasih ke dokter gigi, dan beliau pun bilang tidak ada keanehan. Namun diagnosis beliau bilang kalau ada kemungkinan harus perawatan akar karena mungkin akarnya bermasalah. Nah, untuk melihat kondisi akar, gigi saya dilubangi, dan ternyata ketika dilubangi, barulah terlihat akarnya patah dan tidak bisa diperbaiki lagi. Sehingga rekomendasi untuk mengakhiri penderitaan ini hanyalah dengan cabut permanen.

Kebetulan saat itu saya urutan pasien pertama, dan saat perawat cek ke bagian bedah mulut, masih ada 1 slot pasien untuk tindakan cabut gigi. Saya pun ditawari, dan tanpa pikir panjang langsung mengiyakan karena memang ingin penderitaan segera berakhir. Awalnya saya kira cabut gigi itu tindakan biasa saja seperti kayak anak kecil yg giginya goyang dan dicabut. Ternyata prosedurnya seperti operasi kecil dan perlu bius lokal. Jadi kita akan dijelaskan prosedur operasi dan disuruh tandatangan form pernyataan dan menerima resiko operasi.

Pas masuk ke ruangannya, seperti mau diperiksa gigi, disuruh duduk dan kumur2 pake antiseptik. Setelah itu disuruh minum obat yg rasanya pait banget. Lalu setelah itu duduk tengadah buka mulut dan prosedur operasi dimulai. Prosedur dimulai dengan menyuntikkan obat bius ke area gusi gigi yg akan dicabut pakai alat seperti ballpoint. Jadi gusi kita dicolok2 seperti disuntik, tau2 udah ga berasa sama sekali. Rasanya lumayan sakit sih.

Setelah dibius barulah dokter bedah mulut memulai tindakan, mencabut gigi dengan alat semacam tang. Nah karena ini gigi geraham yang terbesar, jadi agak susah nyabutnya, terdengar suara seperti tulang yg hancur karena memang dicabut paksa dengan menghancurkan giginya. Walau dibius, sakitnya masih bisa kerasa sedikit. Kebayang klo ngga dibius ey. Sesekali dokter juga mengambil gergaji gigi buat motong giginya supaya lebih mudah dicabut.

Setelah gigi tercabut, dokter bedah akan bilang kalau giginya sudah kecabut dan kita nggak akan merasakan apa2. Setelah itu baru fase berikutnya dilakukan yaitu menjahit gusi yang terbuka dengan benang jahit. Ini lumayan kerasa juga sakitnya karena efek biusnya udah mulai hilang.

Proses dari cabut sampai dijahit kurang lebig 15 menit. Setelah itu kita diminta menggigit kapas antiseptik di gusi yang giginya sudah dicabut. Wajib kontrol lagi minggu depannya untuk lepas jahitan.

Setelah keluar dari ruang dokter bedah mulut dan menunggu resep obat, barulah penderitaan selanjutnya dimulai, gigi yang dicabut rasanya nyut2an sampai ke kepala dan saya tidak bisa bicara sama sekali hanya bisa meringis sambil sesekali menitikkan air mata saking sakitnya.

Sampai di rumah pun sakitnya belum hilang, setiap 3-4 jam sekali ganti kapas dan makan pun jadi tidak selera karena musti pakai gigi sebelah dan tidak bisa makan yg dikunyah lama. Jadi hanya bisa makan bubur/nasi tim dulu. Setelah 6 jam baru rasa sakit perlahan hilang dan sudah bisa bicara normal lagi.

Untuk perawatan, dokter memberikan obat antibiotik, obat pereda nyeri dan obat kumur yang dikumur 2 kali sehari. Di hari ke tiga setelah operasi, kita sudah bisa makan normal namun masih nggak nyaman pakai gigi yg sudah dicabut.

Nah di hari keempat, kejadian tidak mengenakkan terjadi. Gigi geraham atas kanan saya sempat berlubang hingga setengahnya. Ini sudah ditambal oleh dokter gigi minggu lalu namun tidak permanen, celakanya saat itu saya makan rujak cingur yang isinya timun dan mangga muda. Beberapa gigitan cukup untuk membuat tambalan sementara nya copot dan gigitan berikutnya membuat gigi yg sudah terbagi dua patah namun belum lepas dari gusi. Hanya tinggal ditarik mungkin sudah lepas.

Dari situlah saya udah ngga nafsu makan karena gigi geraham kiri bawah dicabut dan geraham kanan atas hampir lepas. Akhirnya beberapa hari kemudian ke dokter bedah mulut lagi sekalian kontrol dan cabut 1 gigi lagi. Dan sakit yang dirasakan pun terulang lagi 😦

Jadi saat ini gigi saya sudah 2 yang copot di geraham kanan dan kiri. Nah setelah dicabut, baru minggu ketiga kita bisa makan normal karena gusi sudah keras dan bisa digunakan mengunyah normal. Sebelum minggu ketiga, rasanya masih kagok dan sakit utk mengunyah pakai gusi. Sampai sekarang saya belum pasang gigi palsu karena sepertinya akan ribet. Jadi biarlah gigi ompong 2 karena posisinya agak ke belakang jadi gak akan terlihat selama saya ngga buka mulut lebar-lebar hehe

Terima kasih

Goodbye P2P Lending

Sudah lama rasanya tidak menulis. Kali ini, karena sudah masuk bulan September dan saya sedang mengevaluasi portofolio investasi secara berkala, sepertinya cocok untuk sekedar sharing keputusan untuk phase out di P2P lending andalan saya.

Seperti pembahasan di tulisan saya sebelumnya, saya invest di P2P lending sudah sejak 2020 dan dua P2P lending andalan saya adalah platform investasi ternak berwarna hijau dan crowdfunding empowering ibu-ibu yang warnanya ungu. Tapi di samping itu saya juga punya sedikit investasi crowdfunding alfamart/alfamidi di platform biru.

Mengapa saya memutuskan phase out alias tidak akan menambah investasi lagi at least sampai kondisi mendukung? saya jelaskan alasannya mulai dari si hijau jagoan ternak. Nah, sejak Agustus lalu, si hijau ini sudah tidak mengeluarkan project baru. Beberapa minggu lalu, dia mengundang semua investor nya dalam meeting zoom untuk menjelaskan next project mereka yang saya pikir cukup ambisius. Jadi, alih-alih menjalankan crowdfunding per proyek dengan menggandeng mitra strategis seperti selama ini, mereka ingin mengambil alih dan melakukan semuanya sendiri.

Selama ini, return si hijau ini cukup fantastis menurut saya, ROI selama 6 bulan ngga ada yang dibawah 8% alias annualized return per tahun minimal 15% untuk proyek ternak yang beresiko, apalagi waktu wabah PMK kemarin. Nah, dengan menggunakan skema yg baru nanti, si hijau ini akan handle semua proyeknya sendiri buat menguasai dari hulu sampai ke hilir. Artinya cuan makin gede tp resiko juga berbanding lurus.

Sekilas prospeknya bagus sih, cuma kebutuhan biayanya jadi lebih gede. Dia patok minimal investasi jadi 5 juta dan menargetkan dana terkumpul buat skema baru ini sekitar 7 Milyar-an rupiah. Return yang dijanjikan 20-25% per tahun dengan periode bagi hasil 6 bulan sekali. Yeah, bagi saya, mending terlambat daripada FOMO. Jadi, lebih baik sekarang skip dulu deh. Masih belum bisa memprediksi resiko nya gimana dengan handle bisnis sendiri dari hulu ke hilir dan bukan per project lagi.

P2P lending kedua andalan saya adalah si ungu. Si ungu ini menonjolkan misi sosial untuk empowering emak-emak di desa. Dari 2020 sampai sekarang, sudah 50-an mitra saya danai dan persentasi keberhasilan (proyek selesai) 90% lebih. Hanya 1 mitra yang gagal bayar dan itu pun diganti 75% pokok nya sama asuransi. Sisanya lancar dan kurang lancar tapi masih terbayar sampai lunas/jatuh tempo.

Nah, mengapa saya putuskan stop/break dulu mendanai sampai waktu yang tidak ditentukan? Ternyata ada kebijakan baru terkait PPh (Pajak Penghasilan) sebagai berikut:

Bukannya saya ingin mengemplang pajak, tp dengan tambahan PPh 15%, return yang awalnya 11.5% untuk credit rating A (credit rating paling bagus), jadi hanya sisa 10% aja. 10% untuk return investasi super high risk seperti P2P lending. Coba kita cek berapa return reksadana obligasi saat ini

Dibanding taro duit di instrument high risk yang return nya hanya beda 1-1.5% aja setahun, mending saya taruh di RD berbasis obligasi yang sedikit lebih aman. Apalagi suku bunga BI udah mulai naik dan yield obligasi pasti akan naik juga.

Mungkin saya baru akan berpikir untuk masuk lagi kalau return yang diberikan pengelola P2P ungu ini punya spread 3-5% di atas return RD pendapatan tetap berbasis obligasi. Yah, semoga aja.

Kalau crowfunding P2P si biru yang banyak nawarkan proyek Alfamart, itu mah nggak usah ditanya.. Memble semua hasilnya. Masih cetak untung sih, tapi deviasinya dengan prospektus kelewat sangat jauh. Menurut saya pengelola Equity Crowd Funding (ECF) P2P yg berbasis waralaba/franchise harus mulai “jujur” dan jangan overclaim saat nawarkan return ke calon investor. Banyak membual dan nge-BS tapi nyatanya return aktual hanya seuprit dan pengawasan kurang buat apa.. Lama-lama nggak laku lagi ECF di Indonesia karena pada kapok semua.

Return pada seuprit, ngga sesuai sama prospektus. Malah ada yg macet sampe sekarang hehe

Jadi ya, itu kira-kira alasan saya memutuskan untuk stop dulu investasi di P2P dan alasan-alasannya. Mudah-mudahan iklim investasi P2P semakin baik dan OJK selaku regulator bisa semakin tegas buat regulasi yang melindungi konsumen/investor.

Sekian dan terima kasih

Singapore Trip 2022 Part 3 (End)

Part terakhir dari cerita pengalaman saya dan keluarga ke Singapur adalah mengenai 1 hari menginap di Jewel Changi Airport. Hari terakhir di Singapura, seperti biasa, diawali dengan perjalanan ke Laundromat jam 6 pagi waktu setempat. Setelah selesai mencuci baju, sarapan, dan mandi, kami jalan dari hotel ke Changi Airport sekitar pukul 10.00 agar tiba di sana dekat-dekat jam makan siang. Salah satu agenda sebelum pulang adalah mencicipi Halal Korean Food di salah satu area food court daerah Tampines. Tampines adalah daerah pemberhentian MRT paling ujung Timur Singapur. Letaknya ngga jauh dari Changi dan daerah ini seperti halnya Jurong East di Barat Singapur, adalah daerah permukiman padat di negara ini.

Sampai di airport pukul 11.30, kami langsung berjalan kaki dari MRT Terminal 3 ke Jewel. Sebetulnya, cara ke Jewel dari Terminal 3 itu ada 2, yang pertama adalah melalui connecting hallway, kita jalan kaki kurang lebih 5 menit. Rute jalan kaki nya full travelator tapi agak menanjak. Cara kedua adalah dengan naik SkyTrain dari Terminal 3 ke Terminal 1 kurang lebih 1.5 menit. Karena Jewel letaknya persis di sebelah Terminal 1, dan nggak begitu jauh juga dari Terminal 3. Setelah sampai di Terminal 1, jalan kaki sedikit turun ke basementnya (Arrival Hall).

Kalau jalan kaki kira-kira rutenya seperti ini

Kadang kita suka lihat Skytrain yang lewat di depan air terjun Jewel. Nah itu tuh SkyTrain yang dari arah T2 ke T1. Jadi kalau mau dapat pengalaman naik Skytrain lewat air terjun Jewel, naik trus aja sampai T2 lalu balik lagi ke T1.

SkyTrain dari T2 ke T1 atau sebaliknya melewati Jewel

Di Jewel ini, kami menginap di Yotel Air, sebuah hotel budget yang terletak di dalam Jewel tepatnya di lantai 4. Cara menuju hotel ini cukup mudah. dari Terminal 1 cukup naik lift saja sampai lantai 4 sampai di tempat paling pojok. Jadi Jewel ini punya 5 lantai ke atas dan 2 lantai ke bawah. Space utama nya adalah tempat air terjun nya dan 2 lantai di bawahnya adalah tempat penampungan air terjunnya. Sedangkan di lantai paling atas adalah tempat semua tourist attractionnya seperti Skynet, Glassbridge, Canopy Park, Butterfly Garden, dll.

Tipe kamar yang kami tinggali adalah kamar dengan jumlah kasur terbanyak yaitu 3 kasur yang terdiri dari 1 kasur queen yang bagian kepalanya bisa dinaikkan mirip kasur di rumah sakit dan 2 kasur tingkat ukuran single.

Ukuran kamar mungkin hanya 4×4 meter aja. Ngga begitu besar tapi punya kasur queen yang besar dan kasur tingkat. Ini bisa ditiduri oleh 3 orang dewasa dan 2 anak kecil. Jadi cocok untuk yang bawa anak lebih dari 1. Harga semalam waktu kami pesan sekitar 1.3 juta. Ukuran kamar mandinya pun ngga begitu besar tapi cukup nyaman lah.

Sayangnya, jam check in di Yotel Air ini adalah pukul 3 sore. Sedangkan saat itu jam 1 siang, mereka tidak punya fasilitas titip bagasi/luggage. Mungkin karena hotelnya kecil dan di Changi itu ada beberapa tempat penitipan luggage yang juga perlu tambahan pemasukan hehe. Jadilah kami turun lagi ke lantai dasar dekat arrival hall Terminal 1 untuk menuju tempat penitipan luggage. Jadi sistem titip koper di sini dikenai biaya charge 1 koli sebesar 10 SGD untuk 12 jam penitipan. Total 3 luggage kami dibanderol seharga 30 SGD (sekitar 450rb rupiah) padahal hanya dititip selama 2-3 jam aja sampai kami balik lagi ke Changi untuk cari makan. Bener-bener dah.

Setelah titip koper, target berikutnya adalah makan dan cari oleh-oleh makanan di sisa waktu sebelum pulang ini. Lalu kembali ke Jewel untuk foto-foto. Tujuan makan siang terakhir kali ini adalah Korean food. Ya karena dari awal tiba di SG kami udah coba makanan Italia, Turki, Singapore, tinggal resto korea halal yang belum didatangi. Akhirnya bermodalkan google dan situs havehalalwilltravel sampailah rekomendasi pilihan pada suatu resto hawker Korea halal yang bernama Seoul Sedap yang lokasinya di Tampines. Oia, saat terakhir ke SG, kami pernah coba makanan Korea halal (Budae Jigae) di Pasir Ris yang namanya Mukshidonna. Namun saat buka IG nya dan google, Muskhidonna rupanya udah ngga ngurus sertifikasi halal MUIS lagi. Jadi deh ngga bisa makan di sini.

Jadi lokasi Seoul Sedap yang dimaksud itu adalah di tempat yang namanya Tampines Round Market and Food Center. Letaknya nggak jauh dari stasiun MRT Tampines dan hanya naik bus 2 stasiun lalu jalan kaki 500meter dari halte terakhir. Penampakan nya di google map itu kira-kira seperti ini, terletak di Foodcourt dan lumayan terjangkau harganya.

Jadi ketika kita naik MRT dari Changi, rupanya mendung dan kita bergegas cari bus yang dimaksud. Singkat cerita setelah naik bus 2 halte dan jalan kaki sekitar 10 menit, sampailah di suatu tempat semacam pasar dan food court. Pasarnya sih bagus dan kayak pasar modern di Indo, tapi foodcourtnya mayoritas tutup karena mungkin masih siang. Nah kalau lihat google map, si Seoul Sedap ini letaknya di paling ujung foodcourt tersebut, bersatu dengan tennant-tennant moslem owned lain yang mungkin sengaja dikelompokkan pengelolanya.

Dan ternyata, begitu sampai di sana, tempatnya tutup dong. Saya tanya ke pedagang sekitar nya katanya sudah tutup dari beberapa minggu yang lalu. Yahhh… rugi bandar. Sudah jauh-jauh ke ujung SG tapi ternyata tutup. Akhirnya karena kita sudah pada lapar jadi kita beli makan dari kedai moslem owned aja. Kebetulan di sebelahnya ada pakcik Malaysia yang jualan noodle.

Dan ternyata di tengah-tengah saat kita makan, hujan turun dengan derasnya. Setelah selsai makan pun, hujan deras masih berlangsung dan kami terpaksa menunggu di tempat food court sambil belanja buah-buahan di bagian pasarnya. Awalnya sempat kepikiran mau naik taksi namun jalan dari lokasi saat ini ke tempat buat cegat taksi pun tidak ada atapnya dan sudah pasti kehujanan. Karena bawa troli, jadi ya terpaksa kita tunggu sampai hujan reda. Total waktu tunggu lebih dari 2 jam dan rasanya ngeselin banget hanya bisa duduk nunggu dan anak-anak pada kedinginan. Setelah hujan mulai reda dikit, kami pun nekat untuk jalan ke halte. Untungnya bawa 1 payung jadi anak2 masih bisa ditutup pakai payung.

Setelah naik bus kembali ke MRT Tampines, kami menuju Tampines Mall untuk membeli oleh-oleh berupa coklat, mie samyang dan mie-mie lain yang ngga dijual di Indo dan berbagai macam kacang-kacangan. Setelah dari Tampines Mall, kami kembali ke Changi naik MRT dan langsung menuju Jewel.

Sampai di Jewel, mulailah sesi foto-foto

Sayangnya karena sore itu kehujanan dan sudah terlalu lelah, jadi kurang bisa eksplor Jewel saat hari terang, jadi setelah foto-foto sebentar lalu kami naik ke hotel untuk mandi dan istirahat. Di jewel ini ada laser dan music show, namanya Rain Vortex setiap pukul 19.30 dan 20.30. Sementara semua wahana Jewel tutup pukul 21.00. Jadi 19.30 kami keluar hotel dan menyaksikan pertunjukan laser show dari lantai 3. Bagus banget, kira-kira seperti ini lah (credit to owner of video). Shownya berlangsung sekitar 5-8 menit.

Lalu pukul 19.45 malam kami makan malam di Monster Curry, food chain kare ala Jepang yang halal dan tersaji di piring super besar.Di sini ada paket/menu kare untuk anak-anak juga. Overall rasanya enak, namun memang agak pricey. Harga seporsi sekitar 13-20 SGD tergantung topping. Berlima kira-kira habis sekitar 80-an SGD.

Selepas makan pukul 20.30, karena masih ada waktu sampai pukul 21.00, kami coba ke bagian atas Jewel tempat atraksi-atraksi berada. Karena sudah mau tutup, hanya beberapa saja yang masih buka. Akhirnya setelah tanya sana-sini, kami putuskan untuk naik Manulife Skynet walking saja.

Manulife Skynet adalah wahana berjalan di atas tali-temali yang dibuat oleh sekelompok pembuat tali asal Perancis. Jadi mereka memilin dan merajut dan menghubungkan tali temali agar membentuk jaring raksasa yang bisa menampung dan dibebani banyak orang. Wahananya sendiri terdiri dari 2 yaitu walking (hanya untuk berjalan) dan bouncing (khusus melompat). Pintu masuknya berbeda dan tiketnya juga berbeda.

ini yang untuk walking
dan ini yang untuk bouncing

Kerapatan tali, kelandaian landscape dan bentuk keseluruhan lintasannya berbeda. Semua diwajibkan pakai sepatu, kalau tak punya sepatu, bisa sewa di tempat. Lintasan walking sedikit lebih sulit karena jarak anyaman tali nya lebar-lebar dan cukup sulit untuk berjalan di tali. Tapi tenang, mbak-mbak yang jaganya akan memandu kita dan mengajarkan bagaimana cara berjalan di tali.

Oia, skynet ini karena letaknya di paling atas Jewel, sehingga pemandangan bawahnya adalah Jewel secara umum (terutama mall lantai 4 dan lantai 3). Jadi kalau yang takut ketinggian akan kerasa mules dikit pas jalan di area yang langsung menghadap ke lantai 3.

Oia harga naik Skynet ini 13 SGD per orang. Jadi bertiga sekitar 420ribu rupiah.

Overall, pengalaman yang cukup seru karena anak saya juga suka. Karena waktu itu sudah mau tutup, jadinya si mbak nya ini berbaik hati merekam video pas kita jalan dan ambil beberapa foto yang cukup bagus. Next time lah harus menyempatkan 1 hari penuh di Jewel untuk jelajah semua wahananya. Bagus-bagus kalau lihat di yutub.

Jewel tutup pukul 21.00 dan kami pun pulang ke hotel di lantai 4. Setelah ganti baju, kami tidur dan besok pagi nya sekitar pukul 7.30 checkout dan menuju ke T3 untuk checkin pesawat yang menuju Jakarta dan boarding sekitar pukul 9.30. Penerbangan ke Jakarta lancar dan setiba di Jakarta pukul 11.00, ambil mobil di parkir inap dan bayar 380rb rupiah hehe. Setelah itu meneruskan perjalanan ke Bandung dan tiba di Bandung pukul 4 sore.

Pengalaman pertama ke Singapur bawa anak 2 ini berkesan sekali. Dengan segala keriweuhan dan keterbatasan, kami cukup menikmati dan merasakan pengalaman yang sangat menyenangkan. Next time kalau anak sudah agak gede lah baru mengunjungi negara ini lagi dengan tujuan wisata yang berbeda tentunya hehe.

Terima kasih.. see you in the next journey…

Singapore Trip 2022 Part 2

Hari Senin 23 Mei 2022, tepat hari ketiga di SG, kami sudah merencakan akan menghabiskan seharian di Sentosa Island, salah satu destinasi wisata favorit di sini. Seperti biasa, pagi hari dimulai dengan ritual mencuci di laundromat sejak pukul 6 pagi (pukul 5 pagi WIB) di mana langit masih gelap dan selesai pukul 7.30 pagi. Setelah selesai nyuci, tidak lupa mampir ke 7Eleven untuk membeli berbagai sarapan seperti roti tawar, sereal, mie cup, susu dan sandwich. Sedikit tips kalau ke Sevel, selalu perhatikan logo halal karena di SG itu semua logo halal terpampang jelas termasuk di mie cup, sandwich, dll.

Tujuan ke Sentosa hari ini adalah ke Skyline Luge, sebuah wahana bermain keluarga berupa seluncuran dari tempat yang tinggi ke tempat rendah menggunakan semacam 4-wheel motorbike(?) tanpa mesin. Kurang lebih kayak gambar di bawah ini.

Tiket untuk wahana ini sengaja nggak kami beli dulu via Klook karena masih belum tahu apakah anak kecil di bawah 3 tahun boleh naik atau bisa naik dengan didampingi/bersama ortu atau gimana. Karena masih gelap, jadi rancana akan goshow aja dulu. Berhubung semua wahana di Sentosa buka mulai pukul 11.00, maka kami pun berangkat dari hotel sekitar pukul 09.00 karena mau brunch di Kopitiam Foodcourt Vivo City dan makan Yang Tao Fu, makanan yang selalu kami beli setiap ke SG. Kopitiam Foodcourt itu salah satu sentra kuliner halal (Muslim owned) di Vivo City. Letaknya persis di exit MRT Stasiun CC (orange line) dan di dekat McD. Di sini terbagi 2 sektor yaitu sektor halal dan non halal. Jadi tidak perlu khawatir bercampurnya peralatan makan karena semua sudah dipisahkan oleh pengelola. Tampilan Kopitiam Foodcourt bisa dilihat di youtube ini. Semua yang halal menggunakan alat makan berwarna hijau.

Apa itu Yang Tao Fu? Yang tao fu adalah masakan cina peranakan SG yang seperti bakso tapi isiannya bisa kita pilih sesuka hati sesuai selera dan nanti tinggal dikasih kuah sama penjualnya. Kurleb seperti ini tampilan kedainya:

Setiap menu/pax dihargai sekian sen SGD. Kira-kira kalau kita ambil 1 sayuran dan 3 macam lauk, kisaran harganya 2-3 SGD (sekitar 30-45rb seporsi). Lumayan hemat di kantong lah. Rasa kuahnya pun gurih dan pas di lidah. Di sekitar tempat Yang tao Fu ini ada macam-macam makanan halal juga seperti Nasi Hainan, Bebek, Noodles, dll.

Setelah selesai makan, kamipun langsung menuju lantai 3 VivoCity untuk naik monorel ke Sentosa. Untuk menuju Skyline Luge, kita harus turun di Beach Station (stasiun terakhir) dan nanti dari situ keluar mengikuti garis pantai kira-kira 100m lalu akan ketemu Skyline Luge di sebelah kanan. Tempatnya akan sangat terlihat karena terpampang jelas logo Skyline Luge.

Setelah tanya ke front office, akhirnya kami putuskan hanya bertiga saja yang naik, saya, istri dan anak yang pertama. Harga tiketnya bervarisasi tergantung mau berapa kali naik, minimal 2 kali, maksimal 4 kali. Kami putuskan naik 2 kali saja dan harga per orangnya sekitar Rp 300rb per orang dewasa dan Rp 170rb untuk anak 3-12 tahun. Nah buat yang tanya kenapa ada tiket 2 kali, 3 kali dan 4 kali, jadi di sini tuh adalah wahana yang mirip dengan skying di gunung salju. Kita musti naik skylift yang hanya berupa kursi dan ada pegangannya ke puncak “gunung” kurang lebih 5 menitan. Dari situ kita meluncur dengan “motorbike” tanpa mesin dan rute nya terbagi jadi 4 yaitu Expedition, Jungle, Kupu-kupu dan Dragon. Konon untuk pemula disarankan ambil rute Kupu-Kupu dan Jungle Trail.

Berikut penampakannya:

dan ini ketika sudah di atas
Kira-kira tingginya skylift ini sekitar 30-an meter
Dan ini ketika meluncur

Lengkapnya momen pas meluncur bisa dilihat di youtube ini dan ini. Ada momen lucu saat anak saya kepelintir dan oleng karena lepas tangan. Naik ini susah-susah gampang, karena begitu narik tuas pas mau break, kalau kebanyakan malah jadinya berhenti total dan kalau sudah berhenti total, malah tambah susah untuk jalan lagi. Jadi sebelum meluncur, pastikan ikuti instruksi si petugasnya dulu nanti. Nah setelah 2 kali putaran riding, nanti kita bisa tebus foto dengan cara scan barcode yang ada di helm. Biaya untuk tebus 4 foto sekitar Rp 200.000.

Overall pengalaman yang sangat seru dan rasanya 2 kali naik masih kurang. Next time akan coba lagi ah ke Expedition Trail dan Dragon Trail. Beres dari Luge sekitar jam 1 siang, kami pun coba ke HeadRock VR Adventure di Sentosa, sebuah wahana permainan dengan VR (Virtual Reality). Sebetulnya dari Skyline Luge ke VR ini jalannya agak jauh dan ada bus gratis tiap 5 menit. Namun karena ingin explore, kami coba jalan kaki saja sekalian menyusuri pantai nya. Karena pantai selatan Sentosa ini menghadap ke arah Batam, jadi pemandangan pantainya ya apalagi kalau bukan kapal kontainer/tanker yang buang jangkar dan pulau industri hehe. Tapi herannya, tengah hari bolong, banyak bule-bule yang masih berjemur. Apa ngga kebakar ya kulitnya? Untungnya di sepanjang jalan itu banyak vending machine jadi masih bisa beli air minum karena cuaca panas dan tengah hari bolong. Kebetulan di Pantai Siloso nemu spot foto bagus jadi foto dulu deh walau tengah hari bolong.

Untuk menuju HeadRock VR, kita perlu cari jalan menuju ShangRi La resort. Nah di depan ShangRi La ini ada halte bus dan dia berdekatan dengan ticketing dan area cable car. Nanti dekat halte bus itu ada petunjuk menuju HeadRock VR dan Madame Tussaud (museum lilin), bisa coba tanya kasir 7Eleven di dekat Cable Car kalau ragu. Dulu saat di Jepang, saya pernah coba VR di Shinjuku dan sensainya benar-benar seru karena kita seolah benar-benar masuk di game nya secara virtual. Dulu di Shinjuku banyak pilihan game nya, tapi di HeadRock ini kalau ngga salah hanya 8 macem saja. Berikut harga tiketnya.

Jadi saya coba beli package yang PLAY3 untuk 3 orang, dan di sini, pengantar/yang ngga ikut maen, dikenai charge 5 SGD (hadeeh).. List game nya:

Kami pun coba Storm Blizzard, Extreme Train, Skyscrapper dan Zombie Buster. Oia, karena ini hari Senin dan jam 1 siang, jadi hanya kami aja yang ada di area ini. Jadi tanpa antri sama sekali. Storm Blizzard adalah simulasi dimana kita bertiga naik kereta salju dan ditarik sama serigala. Nanti di tengah-tengah permainan, kereta nya akan lewat jalur curam dan diserang badai salju. Kereta akan digoyang-goyang dan kipas angin super kenceng akan ditiup buat simulasikan badai salju.

Di extreme train, seolah-olah kita naik roller coaster tapi di tengah jalan, tracknya hilang dan kereta diombang-ambing sampai ke jurang hehe.

Kalau untuk skyscrapper dan zombie, standar aja sih, hanya nembak-nembakin musuh dan survival di atas gedung. Overall masih kalah jauh dari Shinjuku tapi masih fun lah. Oia, selain VR, di sini tuh ada Kids Interactive Zone nya, jadi semacam area bermain anak yang interaktif. Cocok untuk anak di bawah 5 tahun. Bisa cek di website nya.

Nggak kerasa, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 dan kami pun bergegas menuju stasiun monorel. Nggak lupa berfoto dulu di depan bola dunia.

Oh iya, ternyata sejak pandemi, USS (Universal Studio Singapore) hanya buka dari hari Jumat-Minggu aja dan tutup hari Senin-Rabu. Jadi pas kita ke sana, bola dunia yang biasa muter dan keluar kabut lagi mati dong hehe.

Kami tiba di hotel sekitar pukul 15.30 dan langsung mandi lalu tidur siang. Rencana sore/malam ini adalah kulineran di Restoran Turki halal di area Arab Street, Bugis, tepat di sebelah restoran Positanoristo yang kemarin. Nama resto nya adalah Cappadoccia Turkish and Mediterranian Resto. webnya di sini. Penampakan dari luar kira-kira seperti ini:

Penampakan di dalamnya seperti ini:

Di resto ini, semua pelayannya orang Turki asli, dan hebatnya mereka selalu mengucap salam (Assalamualaikum) dan bilang Bismillah sebelum melakukan sesuatu. Luar biasa. Di sini karena semua serba mahal, jadi kami pesan yang light saja : Adana Chicken Kebab, Pepperoni Pizza, Falafel Wrap dan dessernya adalah Kunafe dan Baklava.

Adana chiken kebab pada dasarnya adalah daging ayam yang dijadikan kebab dan tidak diwrap seperti kebab Babarafi. Dia beri Turkish salad dan dikasih Nasi briyani (?) dan ada cocolan mushroom sauce dan yoghurt khas Turki. Lumayan lah rasanya, lebih enak dari kebab yang di Indonesia. Salad nya pun segar karena ada perasan lemon nya

Adana Chiken Kebab

Untuk pizza pepperoni, standard lah ya. Yang zonk menurut saya Falafel ini. Saya pikir ini adalah kebab style daging sapi/kambing gitu taunya hummus dan semacam makanan vegetarian hehe.

Falafel Wrap

Yang juara tentu saja duo dessert yaitu Kunafe dan Baklava. Ingat kunafe/baklava pasti ingat era kue artis yang booming tahun 2015-an yang dipopulerkan Irfan Hakim sama Omesh dulu ya. Kalau saya bilang dua dessert ini memang juara sih. Sempat ada cerita lucu dimana kita selalu ketuker antara Kunafe dan Baklava. Coba tebak yang mana Kunafe dan mana Baklava?

Baklava itu semacam pastry yang di dalamnya ada saus karamel (?) atau susu yah? lalu dia ditaburi semacam matcha. Rasanya seperti kita makan kue pastry namun lembut. Kalau kunafe agak unik karena dia seperti roti jala atau kayak adonan bandros yang dari kelapa itu yang di panggang dibentuk bundar. Lalu disiram saus kelapa (santan) dan susu. Enak dan manis banget pokoknya.

Total berlima makan di resto ini habis sekitar 120-an SGD dengan menu di atas. Oia, seperti biasa, air minum di sini gratis yah, dan boleh refill hehe.

Hari keempat di SG, tepatnya hari Selasa kami akan coba sesuatu yang belum kesampaian selama ini yaitu naik The Original Duck Tour. Seperti biasa, memulai pagi hari dengan nyuci baju di Laundromat dan pulangnya beli sarapan di Sevel. Sekitar jam 9 pagi kami naik MRT dari dekat hotel dengan tujuan Esplanade keluar di exit A. Tempatnya persis di Suntec yang menghadap ke arah Nicoll Highway, bukan area tengah yang ada air mancur melingkar.

Kenapa dinamakan the original ducktours? mungkin karena banyak KW nya kali ya? Yang pasti website originalnya yang ini. Yang pasti harga Ducktours ini ngga murah sih, untuk dewasa di kisaran Rp 350rb dan untuk anak di Rp 280rb per orang. Jadi duck tours ini adalah bus amfibi yang dirancang seperti wujud bebek. Bus ini terbuka di bagian samping dan bentuknya kayak perahu yang dikasih roda. Nanti dari Suntec City dia akan menuju ke Sungai Kallang dan akan nyemplung ke air jadi perahu untuk keliling Singapore river dari Gardens by The Bay, Singapore Flyer, MBS sampai depan Merlion. Setelah itu dia akan naik lagi ke darat dan keliling area Downtown. Total perjalanan sekitar 1 jam dan cukup menyenangkan untuk anak-anak.

Sepanjang perjalanan ada tour guide yang akan cerita tentang sejarah bangunan/landmark dan beberapa funfact dari landmark yang dilewati, dan semuanya full englis (singlish sih tepatnya). Dari penjelasan tour guide, ternyata si bus ini umurnya sudah lebih dari 50 tahun dan masih bisa digunakan sampai sekarang. Agak-agak serem sih tapi ya di Singapur seharusnya regulasi nya ketat dan keselamatan diutamakan. Momen paling seru pas dari darat nyebur ke sungai, kalau duduk dekat jendela akan kena cipratan air sedikit.

Oia, di akhir perjalanan ada mandatory tip yang diminta oleh supir dan guide nya. ngga ada batasan sih minimal berapa, tapi 5 SGD atau 10SGD sudah oke lah menurut saya. Tips lain untuk naik Duck Tour ini, kalau naik di hari kerja, kayaknya oke aja kalau mau goshow dan langsung datang pas hari H. Tapi kalau weekend atau hari libur nasional, disarankan booking online via apps seperti Klook atau Traveloka supaya menghindari nunggu lama.

Selesai duck tours kira-kira pukul 11.30 siang. Dari situ karena sudah kepalang tanggung ada di area Marina Bay, kamipun jalan kaki menyusuri City Hall menuju ke Merlion Square. Tengah hari bolong jalan kaki dan foto di area Merlion merupakan pengalaman pertama hehe. Tapi herannya turis yang foto di situ tetap banyak.. Luar biasa.

Oia, sejak 2019, dari arah Esplanade ke Merlion Square sudah tidak perlu lewat trotoar pinggir jalan lagi, tapi sudah ada jembatan khusus pejalan kaki yang sengaja dibuat untuk akses ke sana.

Nah karena hari sudah siang dan kami belum makan siang, agenda berikutnya adalah menuju restoran seafood yang menyajikan chilli crab khas SG. Setelah googling sejak di Indonesia, pilihan jatuh kepada Home of Seafood yang dapat review bagus sebagai seafood resto halal di berbagai situs halal travel.

Home of Seafood, terletak di area Joo Chiat Road (Geylang) dan letaknya sudah deket ke Changi. Perjalanan dari depan hotel Fullerton ditempuh dengan 2 kali naik bus dan total 40 menitan. Lama sekali tapi ya karena sudah kepalang tanggung akhirnya kami jabanin. Setelah turun dari bus, ternyata masih harus jalan kaki 800m untuk sampai ke restonya.Restonya sendiri terletak di belokan dan yang unik, di jendela restonya terpajang foto ownernya yg berpose dengan public figure Singapura dan negara tetangga. Super narsis.

Itu kira-kira tampilan depan restonya, diambil dari google, isinya foto ownernya semua. Menunya semua ada, dari mulai kepiting, udang, cumi, aneka ikan hingga nasi gorang. Rasanya juara dan harganya juga juara. Baru kali ini saya order chilli crab yang seporsi dihargai 80 SGD atau 1 juta rupiah.. Gila..

Penampakan kepiting 1 jutaan

Total makan berlima dengan menu super komplit habis sekitar 187 SGD. Mahal sih tapi puas karena resto nya bagus adem dan bersih. Plus makanan diantar pakai robot pelayan kayak di Jepang gitu.

Sebranh resto ini ternyata ada halte bus yang langsung menuju Bugis Junction. Enak sekali karena kami cukup naik 1 kali saja untuk sampai di Bugis dan jalan kaki ke hotel dari sini. Selesai makan pukul 14.30 dan tiba di hotel pukul 15.30. Sampai di hotel langsung pada tepar dan tidur sore.

Karena besok kami akan pindah hotel ke Jewel Changi, maka malam itu kesempatan jalan2 terakhir sebelum pulang ke Indonesia. Tujuan akhir adalah ke Garden by The Bay (lagi) untum nonton pertunjukkan laser show. Jadwal laser show nya sendiri adalah di jam 19.45 dan 20.45. Sebetulnya ada 2 laser show berdekatan yaitu di Garden By the Bay dan di depan MBS. Hanya saja, selisihnya hanya terkait 15 menit. Show di MBS setiap pukul 19.30 dan 20.30. Jadi sebetulnya bisa aja nonton keduanya asal setelah 1 show selesai kita musti bergegas dan kayaknya sulit bawa anak-anak.

Sejak jam 6 sore kami sudah standby di depan MBS untuk foto-foto penampakan malam hari di Singapur yang penuh lampu-lampu gedung di Marina Bay area. Sayangnya anak saya yang besar sakit dan sepertinya masuk angin karena mengeluh pusing terus dari berangkat dari hotel. Mungkin sudah mencapai limit karena ini udah hari ke-4 di SG dan banyak aktifitas di luar ruangan. Jadinya dia tidur dan istirahat di pelataran MBS yang di dekat Louis Vuitton. Lumayan dapat tidur sekitar 30 menitan.

Sekitar pukul 19.30 kami jalan ke gardens by the bay via MBS lantai B1M. Pokoknya cari aja arah menuju MRT station pasti akan ketemu link nya.

Sambil menunggu show dimulai, seperti biasa cari makan malam di sini yang pilihan satu2 nya kala itu adalah McD. Seperti diprediksi, McD pun penuh menjelang dinner time.

Pertunjukkan laser dan music show (Super Tree Grove) dimulai pukul 20.30 dan selesai jam 20.45. Setelah menikmati show sambil ambil video, kami pun pulang menuju hotel karena besok akan checkout dan perlu istirahat cukup.

Bersambung Part 3 (Final)

Singapore Trip 2022 Part 1

Berhubung IHSG dan semua bursa dunia lagi merah membara, kayaknya lebih sehat untuk mental kalau mengurangi buka OLT (online trading apps) dan update blog mengenai pengalaman saya ke Singapura bulan Mei lalu.

Yes, berhubung covid sudah melandai baik di Indonesia maupun Singapura, Singapur sudah mulai melonggarkan kedatangan turis asing ke negaranya secara bertahap. Di akhir 2021, kalau saya ngga salah, pelonggaran pertama kali dilakukan Singapur dengan mengubah sistem karantina 5 hari menjadi PCR prior to departure dan PCR on arrival, sehingga turis Indonesia yang mau ke sana harus PCR di Indo H-2 sebelum berangkat dan PCR pas tiba di Changi lalu langsung menuju hotel untuk karantina 1 hari sampai hasil PCR nya keluar. Kebijakan ini tentunya berat buat turis yang datang dengan keluarga karena biaya PCR untuk 1 orang di indonesia = Rp 275rb dan di Singapur hampir Rp 1 juta sekali test. Belum lagi akhir 2021, masih berlaku kebijakan PCR prior to departure dan karantina 3-7 hari di Indonesia yang bikin cost untuk travel jadi bengkak untuk PCR dan hotel karantina.

Di bulan Januari 2022, Singapur kembali melonggarkan aturan dengan mengganti PCR on arrival dengan ART (Antigen Rapid Test) on arrival. Turis langsung di ART dan hasilnya akan keluar dalam 1 jam. Jika non-reactive maka sudah bebas jalan-jalan ke kota. Namun PCR prior to departure masih berlaku. Sementara Indonesia di Januari juga sudah menghapus karantina dengan mengganti menjadi PCR pre-departure di negara asal dan PCR on arrival di Jakarta. Tapi tetap aja cost yang harus dikeluarkan tetap tinggi karena kita perlu anggarkan ART singapur kurleb SGD 15 per orang, PCR pre-departure Jakarta dan on arrival Jakarta masing-masing Rp 275rb dan PCR pre-departure di Singapur sekitar SGD 95 per orang hehe.

Kemudian di Bulan April 2022, game changer terjadi, Singapur menghapus semua requirement PCR pre-departure dan ART on arrival. Semua turis dibebaskan masuk Singapur tanpa syarat test dan hanya cukup vaksin lengkap (dua dosis). Hal ini langsung disambut baik semua WNI yang sudah “gatal” pingin main ke SG karena praktis sudah hampir 2 tahun tutup border. Dengan aturan baru ini, modal kita hanya perlu nambah PCR pre-departure di Singapura sebelum pulang ke Indo dan PCR on arrival di Jakarta. Kurang lebih hanya SGD 95 + Rp 275rb per orang.

Karena alasan inilah, saya dan istri memutuskan untuk langsung hunting tiket di bulan April untuk keberangkatan di minggu ketiga Mei saat yang lain sudah selesai cuti Lebaran. Ngga disangka, ternyata hunting tiket berhasil. Karena saya dan istri masih ragu untuk pergi berdua dengan bawa 1 bocah 6 tahun dan 1 balita, akhirnya kami ajak ibu saya untuk ikut. Dan dapatlah hasil hunting tiket Singapore Airlines CGK-SIN p.p. untuk 5 orang seharga Rp 18 juta. Kalau dihitung per orangnya sekitar Rp 3 jutaan. Untungnya biaya tiket ini keganti dari dividen dari saham batubara di 2022 ini hehe.

Tiket sudah, berikutnya adalah hunting penginapan. Biasanya kalau saya ke SG selama periode 2016-2018, saya selalu menginap di apartement milik kakak ipar yang kebetulan sedang PhD dan kerja di sana. Namun per 2019 lalu, beliau sudah lulus dan bekerja di salah satu universitas swasta di Jakarta, jadi no more freestay lagi hehe. Awalnya karena tiga dewasa dan 2 anak kecil, saya mau coba cari apartment di AirBNB, namun ternyata mungkin karena sempat hancur karena pandemi, nyaris jarang sekali apartment proper harga bersahabat di AirBNB untuk periode ini. Akhirnya pilihan jatuh ke Hotel Summerview di area Bencoolen (Rochor MRT Station) yang saya pilih karena ada kamar untuk 3 single bed dan pas di tengah kota (Bugis Area).

Penampakan hotelnya sendiri kurleb seperti gambar di atas. Tepat di sebelah jalan utama. Saya cek untuk kamar dengan 2 queen size bed dan 1 single bed, dipatok harga sekitar Rp 1.3 juta per malam (tanpa sarapan), dan kami rencana menginap di sini 4 hari dan 5 hari wisata ke Singapur. Karena kami ada misi untuk ke Jewel, jadi di H-1 sebelum pulang nanti akan menginap di Hotel Yotel Air yang letaknya di Jewel. Hotel ini termasuk hotel backpacker dan dia punya 1 kamar dengan 1 queen size bed dan 1 kasur tingkat yang muat untuk 4 orang dewasa. Harganya pun cukup ramah di kantong, Rp 1.3 juta per malam.

Setelah hotel dan tiket pesawat settle, disusunlah rencana untuk spot-spot apa aja yang bakal dieksplor selama di sana. Berhubung hampir semua spot mainstream sudah pernah saya dan istri kunjungi, kali ini kami ingin sesuatu yang beda. Akhirnya pilihan jatuh ke coba SkyLuge, DuckTour, ke Garden by The Bay lagi (plus Floral Fantasy) dan kuliner ke spot-spot kuliner halal di sana. Awalnya ingin nyoba ke pantai dan eksplor hal lain, tapi mengingat akan repot karena bawa balita, akhirnya rencananya terpaksa dibatasi.

Setelah semua agenda disusun, H-5 keberangkatan, saya mulai cari info bagaimana cara mengisi SG Arrival Card (SGA). Sejak pandemi dan pembukaan border, Singapur mewajibkan semua turis untuk mengisi form SGA online antara H-3 sampai H-1 keberangkatan. SGA ini untuk menggantikan form embarkasi (kertas warna putih) yang suka dibagikan di pesawat sebelum pandemi dulu. Caranya mudah sekali, tinggal ngikuti petunjuk di web ini Dan udah banyak juga tutorial di yutub tentang cara ngisinya. Silakan disearch saja di yutub ya.

Hasilnya nanti kita akan dapat email seperti ini yang berarti sudah approved untuk masuk ke Singapur.

notifikasi SG arrival card ke email

Intinya SGA ini akan membuat antrian di imigrasi di Changi nanti jadi sangat minimal karena data di paspor kita sudah embed ke SGA yang sudah kita isi. Proses checking di bandara Soetta hanya dilakukan dengan cara mengecek sertifikat vaksin saja. Kalau itu OK, tiket kita akan dicetak oleh pihak maskapai dan pihak imigrasi di Soetta akan langsung cap paspor tanpa banyak tanya lagi.

Saya putuskan untuk bawa mobil pribadi dari Bandung dan pakai parkir inap di Bandara Soetta. Sempat cari info kalau di Soetta itu ada lokasi parkir inap yang letaknya di terminal 1 dan 2 (di mana harganya mahal banget) dan yang lebih murah di luar Terminal yaitu di area gedung depan stasiun KA bandara, gedung 600 dan juga area Soewarna yang harganya lebih murah.

Saya putuskan untuk parkir di area non terminal saja dan dari pengamatan di google map, sepertinya lebih enak parkir di Gedung 600 karena tinggal nyebrang langsung ke Terminal 1 dan dari situ bisa naik bus shuttle ke Terminal 3. Lokasi nya persis di google map ini. Simulasi yang saya lakukan, jika tarif parkir 80rb hari pertama dan 60rb hari berikutnya, maka 5 hari parkir akan menghabiskan biaya sekitar 360-380rb rupiah. Cukup mahal sih, namun worth it kalau bawa balita agar ngga ribet di kendaraan umum saat berangkat dan pulangnya nanti.

Karena keberangkatan pesawat pukul 07.55 WIB, kami berangkat dari Bandung pukul 02.30 WIB. Masih ngantuk sih, tapi ya mau gimana lagi namanya juga cari tiket murah hehe.. Yang penting bawa bekel kopi pait sama permen kopiko aja buat di sepanjang jalan. Tiba di Jakarta pukul 05.00 WIB, proses checkin pun terbilang lancar dan sudah menunggu di gate sebelum pukul 06.00 WIB. Padahal sudah datang kepagian, tapi ternyata pesawat nya delay 1 jam.

Setelah menunggu sampai pukul 08.30 WIB, akhirnya semua penumpang dipanggil untuk masuk pesawat. Surprisingly, pesawat SQ yang saya naikin waktu itu full. Begitupun dengan penerbangan lain seperti Air Asia, JetStar, Garuda yang tujuan Singapur, semua full booked. Luar biasa antusiasme WNI untuk berkunjung ke SG setelah 2 tahun lebih puasa hehe.

Yang sudah dibayangkan adalah anak-anak heboh dan ngga bisa diatur di dalam pesawat, tapi ternyata anak saya yang kecil malah langsung tidur pas pesawat selesai takeoff dan baru bangun menjelang landing hehe. Anak saya yang pertama juga anteng nonton acara tv di layar.

Ada yang berbeda kali ini, inflight menu yang biasa disajikan dalam nampan dan dengan peralatan lengkap sebelum pandemi, kali ini hanya disajikan dalam kotak karton ukuran kecil (mungkin 10×10 cm) namun isinya sangat padat dan mengenyangkan. Saya lupa ambil foto namun nemu di google berikut kira-kira penampakannya

Walau kelihatan kecil, tapi isinya padat sekali. Waktu itu yang disajikan menu breakfast seperti omelet, include bake bean dan kentang, dan nasi lemak. Disajikan dengan sendok garpu kayu plus yoghurt sebagai pelengkap. Enaknya dengan wadah ini, penumpang yang masih takut makan di pesawat bisa bawa pulang dan makan sampai di tujuan nanti. Praktis anti ribet. Dari segi rasa pun ngga berkurang sama sekali. Tetap enak khas SQ.

Penerbangan 1 jam 20 menit singkat sekali, jadi jika kita bawa anak kecil, pramugari SQ akan mendahului pemberian kotak makan untuk anak-anak karena mereka kan makannya relatif lama. Habis semua anak dibagikan, baru mereka mulai keliling. Setiap penerbangan ke Singapur dari Jakarta, saya hitung, kita hanya punya waktu bersih 15 menit untuk makan sampai Pramugari akan ambil sisa makanan untuk dibuang. Sangat singkat, jadi ya makannya agak buru-buru.

Setiba di Changi, ternyata keramaian di Changi jauh berkurang dibanding pra-pandemi. Terminal arrival ngga begitu penuh tapi ya bisa ketahuan kalau mostly di Terminal itu isinya banyak orang indonesia sih hehe. Karena sudah ngisi SGA di Indonesia, begitu sampai di Imigrasi, mereka hanya cocokkan data paspor saja dan kita hanya diminta cap jempol dan foto. Saya hitung di imigrasi hanya perlu 30-60 detik saja.

Keluar dari Imigrasi, seperti biasa, ritual kalau bawa anak kecil adalah: ganti popok, ganti baju dan makan dulu. Waktu masih menunjukkan pukul 11.00 LT, masih 4 jam dari jam check-in pukul 15.00. Jadi masih banyak waktu untuk bersantai di Changi. Saya pun langsung mengambil SIM Card yang sudah dibeli dari Indonesia di counter UOB terdekat. Harga SIM Card StarHub 100GB untuk 14 hari kurang lebih Rp 114 ribu rupiah. Cukup lah rasanya untuk tethering dengan hp istri selama 5 hari di sana.

Setelah semua perlengkapan siap, seperti yang sudah-sudah, kami naik MRT dari Changi menuju stasiun Bugis (jalur hijau), lalu interchange ke jalur biru hanya 1 stasiun untuk turun di Rochor. Terakhir ke SG 4 tahun lalu, jalur MRT nya makin banyak, jalur Downtown (biru) sudah kumplit dan sekarang sudah dibangun jalur coklat, yang sepertinya akan kumplit di 2023-2024 nanti. Luar biasa pembangunan di SG

Karena naik MRT pas tengah hari bolong (sekitar jam 12) MRT pun tidak sepadat jam sibuk. Relatif longgar dan dapat tempat duduk. Oia, karena bawa bocah, dan mengingat di SG itu kemana-mana harus jalan kaki, gear yang kami bawa ke SG pun lumayan reliable. Yaitu 1 buah trike (yang foldable dan handy) untuk anak saya yang besar (6 tahun) dan 1 buah stroller foldable untuk anak saya yang 2 tahun.

Untuk trike, kami punya sendiri, tapi kalau foldable stroller cukup sewa saja selama 1 minggu sekitar Rp 150-200rb dan banyak tempat penyewaan secara online di kota Bandung. Dua peralatan ini sangat sangat membantu karena perjalanan tetap bisa dilakukan ketika anak mengantuk ataupun rewel karena ngga mau jalan kaki.

Perjalanan naik MRT dari Changi Airport sampai ke Rochor kira-kira sekitar 30 menit karena harus 1 kali ganti jalur di Bugis (pindah dari jalur hijau ke biru). Keluar di stasiun Rochor, jarak ke hotelnya hanya 2 menit jalan kaki sekitar 300-an meter. Saat jalan kaki saya lihat lokasi hotel nya sangat strategis, tepat di Beencoolen road, bersebelahan Burlington dan Simlim Square di mana banyak tempat makanan (BurgerKing, Subway) dan ada dua 7Eleven di sebrang jalan. Tidak lupa, livesaver di SG adalah vending machine dimana kita bisa beli Dassani (Aqua) ukuran 600mL seharga 1 SGD (ini harga 1 SGD sejak dulu kala rasanya, dari pertama saya ke SG tahun 2011).

Sampai di hotel, ternyata proses check-in tidak mulus, karena awalnya kami sudah pesan 1 kamar dengan 3 single bed di hotel ini, ternyata begitu check-in pesanan kamar tidak bisa dilanjutkan karena berdasarkan regulasi di SG, 1 kamar hotel hanya bisa ditempati oleh 1 orang anak haha.

Kamar triple room yang awalnya dipesan

Kami pun bingung karena pemesanan tidak bisa dibatalkan dan direfund. Ternyata resepsionisnya pun menawarkan upgrade ke kamar family room yang paling besar yang terdiri dari 2 queen bed. Dan ternyata bukan gratis dong, tapi harus nambah sekitar 100SGD per malam.. Busett.. Jadi pelajaran berarti kalau ke SG bawa >1 anak kecil umur di bawah 11 tahun, harus pesan minimal 2 kamar. Proses checkin juga tergolong lambat karena musti nunjukin lagi sertifikat vaksin dan paspor. Padahal kan kalau sudah mendarat di SG artinya sudah diakui kalau punya sertifikat vaksin ya.. Proses checkin sekitar 15 menit dan setelah itu kami boleh langsung masuk kamar karena kamarnya kosong.

Sayangnya saya lupa ambil foto detil kamarnya jadi cuma bisa nyomot dari google aja. Tapi kamarnya tuh luas banget, sekitar 6×6 meter mungkin dan letaknya di pojokan dekat tangga darurat. Kamarnya di lantai 3 dan ada jendelanya yang menghadap ke bagian belakang hotel. Kamar mandinya dipisah antara yang untuk mandi, dan untuk buang air. Tips berikutnya kalau pergi ke SG adalah selalu bawa alat cebok (semprotan) atau beli aqua yang ukuran 1.5L setelah diminum, botolnya ditaruh di kamar mandi untuk cebok. Karena hampir 100% kamar mandi di hotel di SG kamar mandi kering tanpa cebokan air wkwk.

Karena sudah terlalu lelah perjalanan dini hari dari Bandung, kami semua pun langsung tidur siang dan bangun sekitar pukul 17.00 untuk jalan-jalan. Oia, karena di trip kali ini saya cukup banyak riset mengenai tempat-tempat kuliner halal yang unik-unik, maka setiap makan malam, kami akan coba kulineran ke resto-resto halal di SG.

Destinasi wisata kuliner di hari pertama ini adalah resto Italia halal di SG yang namanya positanoristo. Seperti diketahui, di SG itu tingkatan resto halal dibagi-bagi menjadi 3 kategori yaitu : 1.vegetarian/vegan menu, ini sebetulnya tidak bisa disebut halal, tapi dia menyediakan menu vegetarian yang bisa dinikmati muslim. Hanya saja ya kita tidak bisa jamin bahwa alat masak dan alat makannya tidak dicampur dengan menu non halal. 2. Muslim owned, resto ini tidak disertifikasi halal, namun penjualnya adalah orang beragama Islam (biasanya melayu), dan cukup aman makan di resto yang muslim owned karena kecil kemungkinan mereka kasih kandungan non halal. 3. Halal certified, nah kalau yang ini yang betul-betul disertifikasi sama MUIS dan biasanya sertifikatnya ditempel di depan kaca resto. Konsekuensinya ya harga makanannya lebih mahal dari yang muslim owned. Trivia dikit, di SG itu semua fast food chain (BK, Pizzahut, McD, KFC, you name it) semua sudah certified MUIS. Jadi kalau ngga mau repot ya tiap hari makan fastfood di sana dijamin halal hehe.

Nah biasanya resto-resto halal yang tematik kayak Positano ini terkonsentrasi di daerah Arab Street, Bugis karena disinilah banyak perkampungan melayu Singapore dan destinasi penginapan murah untuk turis-turis Indonesia dan Malaysia.

Untuk menghindari antrian/keramaian saat makan di sana, saya pun coba reservasi via websitenya, dan memang saya sengaja pilih yang jam 17.00 di mana seharusnya belum banyak keramaian karena Singaporean itu biasanya dinner di atas jam 19.00. betul saja, sampai sana, masih sepi dan kami bisa dapat duduk di lantai 2 kursi untuk 6 orang. Sebagaimana resto full course, menunya beragam dari appetizer sampai dessert. Karena ini resto Italia, menu khasnya adalah lobster, berbagai pasta dan pizza. Cuma ya, karena dia kelasnya restoran, jadi harganya ngga ada yang murah di kantong ey, per menunya kira-kira kalau di rupiah-kan berkisar antara Rp 150-200 ribuan. Bikin jebol kantong.

Karena anak-anak sudah makan sereal dan kue yang dibawa dari Indonesia di hotel tadi, akhirnya kami pesan menu yang bisa dimakan ramai-ramai seperti Mozarella cheede balls, Margherita, Wild Mushroom Linguine, Mac & Cheese buat bocah, dan Amalfi Grilled Chicken. Seperti halnya di negara maju lainnya, air putih disediakan secara gratis dan bisa refill tanpa limit hehe.

Total berlima habis 112 SGD, lumayan juga untuk ukuran resto halal. Dari menu yang disajikan, saya kasih nilai 7.5/10 buat rasanya. Proses pembuatan menu juga ngga terlalu lama jadi terhitung cepat untuk ukuran resto full course. Mulai makan pukul 17.30, jam 18.15 kami sudah selesai dan orang-orang mulai berdatangan untuk dinner. Jadi ya pas sekali kalau mau menghindari peak hours.

Setelah makan, kami jalan kaki ke stasiun MRT Bugis untuk menuju Orchard karena istri saya rencana mau ketemu teman SMA nya di sana. Perut kenyang jalan pun rasanya malas ya. Perjalanan ke Orchard kira-kira 10 menitan dan titik ketemuannya memang di depan ION jadi keluar dari stasiun MRT langsung ke titik ketemu. Di Orchard hanya sekitar 30 menit karena hanya ngobrol-ngobrol, foto-foto dan makan 1 dollar ice cream. Selesai foto-foto, karena sudah mengantuk, akhirnya pamit pulang menuju hotel.

Karena cuaca Singapura itu humid dan panas, maka tips berikutnya ke sini adalah harus sering-sering cuci baju. Nah, karena cuci baju di hotel itu mahal, jadi lifesaver selama di SG adalah laundromat alias laundry coin self service. Di dekat hotel tempat kami menginap, ada 2 laundromat dengan jarak kira-kira 600an meter (10 menit jalan kaki) dan buka selama 24 jam. Jadi sebetulnya kami cuma bawa kira-kira 5 stel baju masing-masing untuk 5 hari. Tapi sehari itu kita bisa ganti baju sebanyak 2 kali minimal karena pulang hotel baju udah basah kuyup kena keringat hehe.

Bangun pagi hari kedua, jam 6 waktu setempat (yg mana itu kayak jam 5 subuh WIB), saya udah keluar dari hotel bawa kresek besar untuk nyuci baju di laundromat. Nama laundromat nya adalah LittleIndia, yang unik dari Laundry coin self service ini menurut saya adalah: tidak nampak penjaga alias fully CCTV operated, ada mesin penukar koin 1SGD, dia bisa nerima uang kertas pecahan 2, 5 dan 10 SGD, jadi jangan khawatir kalau kita ngga punya uang koin, disini udah ada mesin penukar otomatisnya. Mesin cuci dan pengeringnya terpisah. Kita bisa pilih yang ukuran 6kg atau yang 12 atau 14kg. Mesin cuci ukuran 6kg punya 2 macam tarif, yaitu cuci deterjen (3SGD per 30 menit) dan deterjen+pelembut (4 SGD per 30 menit). Mesin cuci ukuran 12 kg, tarifnya 5 dan 6 SGD untuk varian deterjen only dan deterjen+pelembut. Mesin pengering ukuran 6kg punya tarif 1SGD per 10 menit, sedangkan mesin pengering ukuran ukuran 14 kg, tarifnya 1SGD per 5 menit. Tips berikutnya adalah supaya cucian kering maksimal, waktu pengeringan yang optimal adalah 60 menit alias 6 SGD untuk ukuran mesin cuci 6 kg. Artinya untuk nyuci 6kg baju, kita perlu sekitar 9-10 SGD sampai baju kering. Lumayan mahal ya, sekitar 20rb per kilo tanpa sertika lagi.

Setelah masukkan baju kotor ke mesin cuci, saya tungguin dulu karena hanya 30 menit. Nah setelah cuci selesai dan masukkan ke pengering, saya tinggalin dulu ke hotel karena perlu waktu 1 jam sampai kering betul. Dan karena ini SG, jadi kalau kita tinggalin pun ngga perlu khawatir akan ada yang nyolong bajunya hehe.

Di hari kedua ini, tujuan kami adalah Garden by the Bay karena ingin lihat kembali duo Cloud Forest-Flower Dome dan ada tujuan wisata baru di sana yaitu Floral Fantasy. Untuk tiketnya sendiri saya sudah book sejak di Indonesia melalui aplikasi Klook. Klook ini langganan saya kalau mau jalan-jalan ke LN, karena sejak 2018, saya sering beli tiket USJ, Tokyo DisneySea, JR Pass, berbagai wahana wisata di HK, dan Singapore dengan rate rupiah dan lebih murah dikit dari harga website resminya.

Harga tiket masuk ke Flower Dome + Cloud Forest per orang sekitar Rp 400 ribuan (anak di bawah 3 tahun gratis). Sudah naik dikit sejak terakhir ke SG tahun 2019 dulu masih sekitar Rp 380 ribuan. Sedangkan tiket ke Floral Fantasy nya sekitar Rp 170 ribuan.

Untuk berangkat ke sini dari penjuru SG cukup mudah, cukup naik MRT lalu turun di stasiun Bayfront. Stasiun ini sudah interchange antara jalur CC (Circle Line) dan jalur DT (DownTown Line). Pilih pintu exit ke arah Garden by The Bay. Sebetulnya bisa juga kalau kita mau lihat-lihat Marina Bay Sands (MBS), tinggal pilih pintu exit Marina Bay (jalur CC dan jalur NSL/merah) lalu jalan dari MBS ke lantai B1 dan ikuti arah ke stasiun Bayfront.

Keluar dari pintu exit stasiun Bayfront arah Gardens by The Bay, sebetulnya kita akan langsung ketemu Floral Fantasy. Cuma karena tempatnya agak-agak nyempil jadi pengunjung kurang sadar dan banyak yang nyangka Floral Fantasy ada di dekat-dekat Flower Dome atau Cloud Forest.

Floral Fantasy, sesuai namanya, tempatnya isinya bunga-bunga hidup yang didekor sedemikian rupa yang bikin daya tarik pengunjung yang ke sini. Bunga-bunga nya adalah bunga dari seluruh penjuru dunia dan seperti di Flower Dome, ruangan ini full AC dan punya dinding dan atap kaca untuk sinar matahari masuk.

Keren banget lah pokoknya. Rp 170rb untuk masuk sini per orang tanpa batas waktu, memang worth it.

Nah, dari Floral Fantasy yang letaknya dekat dengan pintu keluar stasiun MRT, untuk menuju ke Garden by The Bays tempat Cloud Forest, Flower Dome dan Sky Tree, kita perlu jalan kaki sekitar 500-an meter melintasi danau via jembatan di sana. Di tengah hari bolong di cuaca SG yang saat itu sekitar 32 derajat celcius, sangat disarankan bawa payung agar tidak terlalu kepanasan.

Pemandangan yang saya lihat berbeda di area SkyTree adalah, tempat makan favorit saya kalau ke sini (Texas Chicken) dan resto-resto lain di area sekitar SkyTree sudah hilang. Mungkin karena dihantam pandemi atau memang lagi mau direnovasi. Artinya, tempat makan halal di area ini hanya tinggal Mc Donald aja. Dan ngga heran kalau McD di sini selalu penuh dan antri, apalagi pas jam makan siang/malam.

Karena kita sudah order tiket via online (Klook) tidak perlu ke counter ticket di sana, tinggal tunjukkan barcode saja ke petugas di pintu masuk dan langsung bisa masuk. Bagi saya sendiri, ini sudah kali ketiga masuk ke Flower Dome dan Cloud Forest. Nothing changed much sih, tapi tetep seru apalagi pertama kalinya ngajak dua anak ke sini.

Seperti biasa, yang pertama didatangi adalah Flower Dome. Sesuai namanya, tempat ini adalah kubah/green house raksasa yang diberi AC dan di dalamnya terdapat hampir semua jenis tanaman (terutama bunga) dari seluruh penjuru dunia. Kalau kita masuk ke dalamnya, dia terbagi-bagi jadi beberapa segmen sesuai dengan wilayahnya. Dari mulai Mediterranian, Australia, Afrika, Amerika Latin, Asia, dll. Tempatnya terdiri dari 2 lantai dan di bagian lantai dasar tepat di tengah-tengah ada bunga-bunga cantik yang biasanya jadi tema untuk bulan-bulan tertentu. Kali ini temanya adalah bunga mawar.

Kalau mau santai lihat-lihat semua bunga dan foto-foto, perlu waktu sekitar 1.5 jam untuk dihabiskan di sini. Karena masih pandemi, di penjuru Flower Dome ada petugas rompi merah yang berjaga-jaga untuk menegur pengunjung yang lepas masker ketika foto. Jadi ya kalau ada yang dapat foto tanpa masker berarti curi-curi menghindari petugasnya.

Setelah puas di Flower Dome, tujuan berikutnya adalah Cloud Forest. Sesuai namanya, di sini adalah dome raksasa ber-AC tempat tanaman-tanaman hutan hujan tropis dari seluruh penjuru dunia dipelihara. Daya tarik utama tempat ini adalah Giant Waterfall dan juga jembatan gantung yang menyusuri tiap lantai Cloud Forest.

Dan kebetulan di sana lagi ada Orchid Festival juga, jadi berkesempatan lihat Anggrek-anggrek bagus yang lagi dipajang di sana.

Sama seperti Flower Dome, kira-kira di tempat ini kita akan menghabiskan waktu 1-1,5 jam. Tips ke sini adalah setelah foto di Giant Waterfall dan lihat semua tanaman di lantai dasar, naik lift sampai ke lantai paling atas dan naik tangga lagi menuju Secret Garden. setelah itu turun menyusuri jembatan gantung sampai ke lantai bawah. Dan di lantai bawah nanti akan ada eskalator menuju ruang video dokumenter kenaikan suhu bumi 4 derajat. Setelah nonton video itu, keluar lewat pintu exit dan kita akan melihat 1 taman lagi yang isinya tanaman dan hewan-hewan kecil di hutan hujan tropis dan kalau beruntung nanti akan ada kabut-kabut tebal yang menyelimuti taman ini persis seperti di hutan hujan tropis.

Setelah hampir 4 jam mengelilingi Floral Fantasy, Cloud Forest dan Flower Dome, kami pun cari makan siang di tempat ini. Seperti yang saya bilang sebelumnya, setelah tutupnya Texas Chicken, praktis di sini resto halal fast food hanya tinggal Mc Donalds. Dan McD nya ini setiap jam makan siang rame nya luar biasa. Karena di dalam penuh, kami pun memutuskan makan di luar di bawah SkyTree sambil lihat-lihat pemandangan. Ternyata di area ini juga banyak orang-orang India yang makan-makan sambil gelar karpet.

Setelah puas jalan-jalan di sini, kami pun pulang kembali ke hotel untuk tidur sore. Maklum cuaca panas, jalan kaki yang jauh dan bawa anak-anak menguras tenaga dan emosi. Lumayan, sampai hotel masih jam 3 sore dan sempat mandi dan tidur sekitar 1-2 jam. Sore harinya kami cari oleh-oleh di Bugis dan Chinatown sebelum kembali ke hotel sekitar jam 9 malam.

Ada cerita lucu saat cari oleh-oleh di Bugis karena anak saya tiba-tiba ingin BAB. Dan kami pun sibuk cari toilet di mall terdekat. dan karena waktu itu nggak bawa alat cebok, akhirnya beli dulu air mineral di 7Eleven dan cebok pakai air mineral itu. Pelajaran berharga kalau ke LN bawa anak kecil adalah untuk selalu membawa alat cebok karena anak kecil sulit diprediksi hehe…

Sampai jumpa di part 2…

Update Kinerja Portfolio end of April 2022

Melanjutkan postingan saya sebelumnya di sini bulan Maret lalu, di pengujung April ini menjelang hari raya Idul Fitri 1443 H, kinerja portofolio saya terus memecahkan rekor sejak berinvestasi di pasar modal 5-6 tahun yang lalu.

Kinerja YTD yang saya dapat di tahun ini sudah mencapai 39,16% as per hari penutupan bursa 28 April lalu. Ini makin jauh meninggalkan IHSG yang baru mencapai 9,84% secara YTD. IHSG saja udah memecahkan rekor dengan naik hampir 10% selama 4 bulan, apalagi kinerja porto saya.

Selama 6 tahun di pasar saya beat the market (kinerja di atas IHSG) selama 3 tahun dan 1 kali kalah di tahun 2018 (saat IHSG bullish sampai level 6000 dulu). Saya beat the market beberapa tahun ke belakang pun selisihnya hanya sekitar 5% an saja, dan 2020, saat IHSG rugi dalam, kinerja porto juga rugi hanya minusnya lebih dikit hehe.

Motor penggerak porto saya selama 4 bulan ini apalagi kalau bukan trio batubara (UNTR, ADRO, PTBA), duo kapal (PSSI SMDR), ARNA dan BBRI. Bisa dilihat di grafik di bawah ini :

ADRO secara YTD sudah naik 48%, bahkan kalau ditarik lebih jauh ke 1Y, dia sudah menyentuh +166%. Luar biasa ya. Apalagi tanggal 27 April kemarin baru RUPS dan akan bagi dividen jumbo sebesar Rp 295 (interim Rp 160 sudah dibagikan). Ini menjadi rekor dividen tertinggi ADRO sepanjang masa.

UNTR secara YTD pun sudah +36%. Didorong oleh penjualan alat berat yang pertumbuhan YoY nya 150%, plus harga emas dan batubara yang masih tinggi, bisa bikin mereka cetak rekor laba dan pendapatan tertinggi sepanjang sejarah di tahun ini. Kita lihat aja. Tanggal 11 Mei nanti juga akan bagi dividen final, yang jumlahnya sedikit di bawah dividen 2018, agak mengecewakan sih sebetulnya.

PTBA secara YTD juga sudah naik 40%, didorong oleh rekor harga batubara acuan (HBA) di tahun 2022 ini. Padahal kenaikan harga ini masih belum didorong oleh sentimen dividen yang mungkin akan pecahkan rekor juga kalau INALUM dan pemerintah butuh duit. Bisa lah segera ke 5,000 ini hehe

SMDR saham paling juara saya yang saat ini saya sudah floating profit hampir 200%, sayangnya porsi SMDR di porto masih kalah jauh dari porsi trio batubara. Kinerja SMDR yang sangat bagus di 2021 dan berlanjut di 2022 ini mendorong sahamnya dari harga 200-an ke 2000. Luar biasa ya. Sepertinya masih akan terdorong sentimen kinerja di Q2 ini dan akan bagi dividen jumbo di bulan Juni. kita lihat saja apakah mampu ke arah 3000 atau nggak? hehe

Kinerja saham PSSI di tahun ini juga bagus. YTD sudah naik 38% didorong oleh kinerja bagus di 2021 dan mungkin akan berlanjut di Q1 2022 ini. Sentimen positif bakal datang dari dividen dan program buyback yang terus berlanjut.

Di luar batubara dan kapal, saham juara berikutnya datang dari si wonderful ARNA. Kinerja Q1 2022 yang sangat bagus mendorong sahamnya buat cetak rekor All time high terus. bener-bener sakti ini perusahaan dan managementnya. Luar biasa.

BBRI satu-satunya bank besar yang saya pegang, menunjukkaan kinerja sangat bagus di Q1 2022. Kinerja bagus bank besar biasanya akan tercermin dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Kita lihat apakah harganya sanggup tembus 5,000 rupiah habis lebaran atau nggak.

Meskipun porto sebagian besar sudah ijo royo-royo, namun masih banyak porto saya yang kinerjanya masih tertekan. Apalagi kalau bukan sektor konsumer goods dan retail. ICBP, PZZA, ACES, TOTL yang kinerjanya paling jelek di portofolio saya

Kinerja minus 12% karena tertekan beban bunga utang obligasi dan kenaikan harga bahan baku mie instan. ICBP bisa jadi bargain sekarang kalau ekonomi pulih dan supply chain global juga pulih.

PZZA sebetulnya sudah rebound dari harga terendah 590 di awal April. Sentimen positif bakal datang dari pertumbuhan ekonomi Q1 2022 nanti. Kalau lihat realita di lapangan, hampir semua mall dan resto sudah penuh dan kembali ke jaman pra pandemi. Mudah-mudahan kinerjanya akan terus tumbuh di sisa tahun ini dan harga bisa kembali ke harga 1000 hehe

Wonderful company yang satu ini juga menderita karena pandemi. Harga sudah terkoreksi 18% YTD dan sejak 2021 mungkin sudah jatuh lebih dari 30%. Kinerja Q4 2021 yang membaik mudah-mudahan berlanjut di Q1 2022 dan bisa mengangkat harga sahamnya.

Outlook sektor konstruksi yang masih suram sejak 2019 bakal berlanjut di tahun ini. Beruntung TOTL perusahaan konstruksi dengan management yang paling bagus dan prudent. Di tengah kondisi sulit, utang bank masih 0, dan tetap bagi dividen dan memperhatikan shareholders.

Tambahan lagi, dividen yang saya terima dari semua emiten di portofolio di akhir April ini, jumlahnya sudah 80% dari seluruh dividen yang diterima sepanjang 2021. Artinya tahun 2022 ini saya akan pecahkan rekor dividen yang diterima sejak investasi di bursa saham. Menarik untuk ditunggu berapa yield return dari dividen di desember nanti.

Sekian update kinerja porto as per April 2022 ini. Mudah-mudahan kinerja portofolio kita semua di tahun ini bisa semakin baik seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Happy investing

Commodity Supercycle…Saatnya Panen Batubara dan CPO

Di 2 edisi tulisan sharing investasi saya sebelumya yaitu yang ditulis pada Agustus 2020 dan yang ditulis pada bulan Desember 2021, saya sudah banyak menyinggung tentang portofolio investasi saham saya yang menitikberatkan pada sektor-sektor komoditas yang sudah banyak dibahas para pakar ekonomi akan mengalami boom supercycle yaitu batubara dan CPO (minyak kelapa sawit mentah).

Seperti diketahui, pandemi covid menyebabkan terjadi disrupsi dari sisi suplai dan permintaan dimana karena pergerakan manusia jadi terbatas, demand turun jauh dan mau tidak mau di sisi suplai, semua produsen komoditas akan melakukan pengurangan output produksi karena harga yang jatuh sesuai hukum ekonomi. Bayangkan saja, di 2020, harga komoditas seperti batubara jatuh dari 80-an USD per ton jadi 50 USD per ton, minyak bumi dari 50-an USD per ton menjadi minus(??) dan CPO yang awalnya sekitar 3000-an MYR per ton jatuh ke bawah 2000 MYR per ton. Saat itu semua pemilik saham-saham komoditas dibuat mual-mual dan muntah karena harga sahamnya langsung meluncur ke bawah secara cepat dan dalam.

Nah, setelah 2 tahun pandemi, perlahan-lahan di sisi demand mulai ada perbaikan karena mulai dibukanya kembali aktifitas manusia. Namun di sisi suplai, tidak semudah itu meningkatkan output produksi karena semua sektor komoditas perlu waktu untuk meningkatkan produksi. Akibatnya, apa yang terjadi? harga-harga komoditas langsung meroket hanya dalam waktu 1 tahun berselang. Batubara yang awalnya hanya 50 USD per ton, akhir 2021 sudah tembus di atas 100-an USD, bahkan di maret 2022 sempat 400 USD dong. CPO di akhir 2021 naik jadi 4000-an MYR dan Maret 2022 ini bahkan sempat tembus 7000 MYR dong! Belum oil yang sudah naik jauh ke level 120-an USD di Maret 2022 ini. Hal ini langsung mengerek inflasi di negara-negara maju dan menyebabkan krisis energi di mana-mana.

Namun, kalau kita lihat di pergerakan harga saham batubara dan CPO, praktis sejak Q3 sampai Q4 2021 kemarin harganya relatif jalan di tempat, kecuali mungkin ADRO yang agak ngebut jalannya. Coba kita perhatikan pergerakan saham-saham batubara dan CPO yang ada dalam porto saya selama 1 tahun ke belakang :

Pergerakan harga saham ADRO selama 1 tahun ke belakang

Lihat ADRO yang di kotak merah, sejak awal sampai akhir 2021, saat batubara mulai merangkak dari level 50 USD ke 80-an USD di Oktober 2021, harganya sideways dan bahkan cuma naik dikit. Padahal kita tahu, selama harga batubara 50 USD di 2020, ADRO tetap profit nggak rugi, hanya turun saja profitnya namun tetap bagi dividen. Dan lihat yang terjadi sejak Oktober 2021 sampai sekarang.. Boom!!! harganya meroket sampai hampir 2 kali lipat dong. And my patience has been paid off dong… Saya masuk ADRO sejak awal 2020 saat harganya sideways menuju ke bawah 2000 rupiah karena tertarik dividen yield nya. ADRO saya sempat nyebur ke 600 perak pas awal covid di Maret 2020 dan itu artinya dulu porto saya minus hampir 70% dong. Tapi apakah saya panik? panik lah masa nggak wkwk.. Cuma ya waktu itu saya ngga jual, banyak sabar aja sambil average down dengan sabar.

Per detik postingan ini dibuat, saya sudah floating profit di ADRO dan ini menjadikan ADRO saham bagger ke-4 saya selama investasi di pasar modal.

Porto saya yang kedua adalah PTBA (Bukit Asam). Walaupun porsi penjualan batubara PTBA sekitar 50% nya ke PLN dan ikut harga DMO (maksimal 70 USD per ton), namun PTBA ini dikenal dengan emiten batubara paling efisien (cash cost paling kecil) dan royal dividen karena tuntutan pemerintah. Walaupun di 2020, investor kena zonk karena ternyata PTBA hanya bagi 30% laba nya padahal setahun sebelumnya sempat hampir 100% laba dibagi jadi dividen hehe.

Grafik Saham PTBA 1 tahun terakhir

Grafik saham PTBA lebih aneh lagi.. Ketika harga batubara dunia jeblok ke 50-an USD, sebetulnya harga saham PTBA ini ngga senyungsep emiten coal lain, karena harga jual DMO ke PLN masih di atas harga batubara global. Tapi trending harga sahamnya sejak awal 2021 sampai Q3 2021 malah terus turun dari 3000-an ke posisi terendah di 2000-an rupiah per lembar. Apalagi di pertengahan 2021 ketika diumumkan dividen “zonk” yang hanya 30% dari laba bersih, makin nyungsep deh ini saham.

Saya masuk PTBA sejak harganya sideways panjang dari Q1 sampai Q3 2021. Sempat agak frustasi juga karena harganya nggak kemana-mana. Tapi akhirnya buah kesabaran terbayar, sampai detik ini postingan ini ditulis, PTBA saya sudah float profit hampir 50%

Saham ketiga saya yang saya cintai apalagi selain United Tractors (UNTR). UNTR adalah saham cinta pertama saya, karena saya sempat beli pucuk di harga 38 ribu saat awal 2018, ketika masih lucu-lucunya di dunia investasi saham. Lalu saya avg down tak berujung sampai ketika covid menyerang, harga UNTR meluncur tajam sampai 11 ribu per lembar dong. Saya floating loss hampir 60% saat itu.. Rasanya pengen nangis deh, tapi hati tetap teguh average down terus karena saya yakin suatu saat bisnis mereka yang terdiri dari alat berat, kontraktor pertambangan, tambang batubara dan emas akan berjaya.

Grafik harga saham UNTR 1 tahun terakhir

Periode gelap sebagai holder UNTR adalah di Q2 2021 dimana harga sahamnya nyungsep lagi dari 25ribu ke 18ribu. Kalau ngga salah hal ini terjadi karena PAMA sudah berhenti melayani ADRO dan digantikan BUMA, anak dari DOID (Delta Dunia Makmur). Hal ini yang bikin banyak investor out dari UNTR karena khawatir revenue stream nya anjlok. Tapi di saat itu saya tetap setia dan malah sempat nambah muatan di bawah level 20rb. Hasilnya, alhamdulillah sesuai kenyataan, walau %profit nya masih di bawah ADRO dan PTBA, tapi karena UNTR ini the biggest portion in my portofolio, dia naik 1% harganya, efeknya bisa lebih dari 3x kenaikan 1% ADRO dan PTBA.

Emiten di porto saya yang kena imbas supercycle berikutnya adalah PSSI. Ya, PSSI, tapi bukan PSSI sepakbola ya. PSSI adalah kode emiten untuk PT Pelita Samudera Shipping, sebuah perusahaan jasa angkutan perkapalan yang beroperasi di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Bisnis utamanya adalah angkutan batubara dan dalam 2 tahun ke belakang, perusahaan ini ekspansi dan diversifikasi untuk pengangkutan kargo curah dan komoditas lain seperti nikel.

Kenapa saya bisa kepikiran untuk beli perusahaan ini? Pertama, saya pernah baca suatu riset di forum stockbit di mana PSSI ini pemilik mayoritasnya adalah Indoprima Marine. Nah, Indoprima Marine ini rupanya afiliasi dari IMC Thailand, sebuah perusahaan logistik Thailand yang cukup terkenal. Lalu emiten ini juga unik, sektor perkapalan yang capital intensive, tapi dia punya debt to equity ratio yang kecil, artinya pengelolaan keuangannya juga sangat prudent. Ditambah owner dan direksi terus beli saham ini sejak harganya sideways di 200-an rupiah. Lalu dia juga berhasil beli kapal baru dengan cara private placement, beli kapal ditukar dengan saham. Kapalnya dari Convivial Navigation Singapore.

Grafik harga saham PSSI

Coba lihat harga sahamnya, sejak sideways panjang dari 2020, di awal 2021 trend nya mulai naik, seiring dengan kenaikan harga batubara, apalagi muncul berita PSSI ini sudah dapat kontrak jangka panjang dari perusahaan batubara lokal untuk 3-5 tahun ke depan yang artinya stream revenue bisa dijamin. Di bulan Juni, harga sempat meroket sampai ke 350 sebelum kembali ke 250-an waktu itu. Saya tetap hold dan bahkan nambah sedikit-sedikit waktu itu. Hasilnya? PSSI ini jadi bagger ke-3 saya sebelum ADRO

Dan emiten terakhir yang saya punya ada di sektor CPO yaitu LSIP (London Sumatera Plantation), salah satu anak perusahan Indofood grup. Seperti yang saya bilang sebelumnya, harga CPO meroket dari awal pandemi di 2000 MYR ke 6000 bahkan sempat 7000 MYR di Maret 2022. Seperti saham perusahaan batubara, saham perusahaan CPO pun harganya nggak kemana-mana. Sayangnya, saya agak telat masuk CPO, dan baru beli LSIP di akhir 2021 saat harganya 1300-an, jadi return nya baru 20-an % dan porsi di portofolio pun masih belum banyak.

Dari pengalaman saya ini, ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik, yaitu, saham-saham cyclical, pada dasarnya bisa menjanjikan return yang tinggi dalam waktu singkat, jika kita masuk dan keluar di saat yang tepat. 6 tahun investasi di pasar modal, saya sudah tahu kuncinya dan punya conviction yang cukup buat masuk saham batubara saat batubara harganya di 50 USD per ton dan saat itu hampir semua orang menghindari saham batubara.

Lalu kapan saya keluar dan take profit? Sampai saat ini belum ada satu pun saham di atas yang saya jual, baik jual semua maupun jual sebagian. Saat ini saya sudah pasang traling stop dengan range lebar (15-20%) dan akan lepas bertahap saat trailing stopnya kena atau saat harga batubara sudah jatuh ke bawah 150 USD per ton.

Sekian sharing kali ini, semoga bermanfaat dan memberikan insight investasi…Sampai ketemu di postingan saya selanjutnya.