Pengalaman Pribadi Mengenai Investasi di P2P Lending / Fintech

Sesuai janji saya bulan lalu, di tulisan kali ini saya coba melakukan review berdasarkan pengalaman pribadi mengenai investasi di P2P (Peer to Peer) lending atau lebih dikenal dengan Fintech.

Sebelumnya DISCLAIMER : ON dulu ya, apa yang saya tulis di blog ini sifatnya hanya pendapat pribadi, dan bukan merupakan ajakan untuk melakukan investasi di instrument investasi tertentu. Untung dan rugi dari hasil investasi yang membaca blog ini di luar tanggung jawab saya sebagai penulis. Nama-nama P2P lending di sini saya sensor karena takut ada pihak yang tersinggung dan bisa kena UU ITE hahaha.

Investasi di P2P lending, termasuk investasi dengan resiko tinggi, mungkin setara dengan menempatkan investasi di saham. Apa itu P2P lending? mungkin banyak yang belum paham. Gampangnya, P2P lending itu semacam calo/makelar yang mempertemukan pencari dana (borrower) dengan orang yang punya dana berlebih yang siap dipinjamkan supaya ada bagi hasil/bunga yang diterima.

Cara Kerja Peer-to-Peer Lending di Investree | Investree
Grafik sederhana P2P lending

Nah, lender di P2P lending rata-rata adalah orang-orang atau pihak yang belum tersentuh industri keuangan konvensional seperti bank, atau memang belum bankable. Artinya, orang tersebut belum memenuhi persyaratan untuk dapat pinjaman dari bank, seperti belum punya agunan/aset jaminan, usaha nya belum menghasilkan untung/profit yang konsisten, dll.

Makanya, seperti saya bilang tadi, resiko P2P lending ini tinggi karena ada resiko gagal bayar yang bisa membuat uang yang kita “pinjami” tadi nggak kembali karena si lender ngga bisa membayar cicilan pokok dan bunga karena usahanya bangkrut/rugi, dll.

Prinsip nomor 1 sebelum investasi di P2P lending adalah filtering P2P fintech yang terdaftar dan berizin OJK. Terdaftar saja belum cukup ya, harus berizin OJK. Mumpung saat ini OJK lagi moratorium izin fintech, seharusnya pilihan fintech yang bener-bener bagus dan prudent jadi terbatas sih. List per tanggal 6 Oktober 2021 bisa dilihat di sini

Nah, setelah diyakinkan bahwa Fintech tersebut sudah terdaftar dan berizin, langkah selanjutnya adalah menentukan tipe Fintech mana yang akan diambil. Fintech yang ada sekarang ini ada yang sifatnya generalist, artinya fintech yang penyaluran dana nya tidak spesifik ke satu bidang usaha, misalnya dia menyalurkan dana untuk perdagangan, peternakan, pertanian, bisnis ritel, dll. Namun ada juga fintech yang spesifik menyalurkan dana nya untuk bidang usaha tertentu, semisal : AM*RTHA yang hanya menyalurkan dana untuk kegiatan bisnis UMKM para wanita/ibu-ibu di daerah yang belum bankable, TERNA*INVEST yang hanya menyalurkan dana untuk usaha peternakan, IGR*W yang hanya menyalurkan dana untuk usaha pertanian dan perkebunan, dll. Kalau fintech yang generalis banyak sekali, contoh ASE*KU, KOI*WORKS, dll.

Nah, setelah memilah-milah berdasarkan sifat penyaluran dana nya, langkah berikutnya adalah cek TKB90 dan reviewnya di google playstore atau google web. Apa itu TKB90? TKB90 yang biasanya dipajang di web P2P lending, adalah ukuran tingkat keberhasilan penyelenggara fintech-peer-to-peer (P2P) lending dalam menfasilitasi penyelesaian kewajiban pinjam meminjam dalam jangka waktu sampai dengan 90 hari terhitung sejak jatuh tempo. Masalahnya, banyak fintech memanipulasi/financial engineering TKB90 ini. Bisa jadi, data TKB90 yang dipajang di website itu bukan 100% akurat, namun dengan memperpanjang tenor pengembalian modal investor tanpa pemberitahuan sebelumnya, sehingga angkanya bagus. Oleh karena itulah perlu crosscek kembali dengan review-review di Playstore atau di google web, apakah banyak yang komplain terhadap P2P ini karena banyak gagal bayar, dll.

Saran penting berikutnya adalah modal yang masuk ke P2P harus dibatasi, maksimal hanya 5% dari total aset kita. Contoh, misal kita punya aset lancar (tabungan, deposito) senilai 100 juta, maka batasi hanya 5 juta aja yang dimasukkan ke fintech P2P.

Saya sendiri sudah sekitar 4 tahunan ikut P2P lending, dengan P2P lending pertama saya adalah IGR*W dan CROW*E. Kita bahas satu persatu dua P2P lending perdana saya, yang mana saya akhirnya kapok invest di sini sampai hari ini hehe…

  1. IGR*W

Seperti sudah saya bahas sebelumnya, spesialisasi P2P ini adalah di perkebunan, peternakan dan pertanian. Suatu misi mulia buat memajukan para petani dan agrikultur di Indonesia. Cara kerjanya adalah mereka kerjasama dengan paguyuban petani lokal, biasanya dalam bentuk CV untuk mengelola kebun dan nanti ada offtaker yang akan ambil dengan harga yang disepakati. Saya sudah 4 kali ikut di sini, 2 berhasil dengan tenor 6 bulan dan 12 bulan dengan yield 8-20% per tahun (yang menurut saya wow sih)

Dan ada 2 proyek lagi di mana 1 proyek sifatnya longterm (10 tahun kontrak), masih berjalan hingga saat ini, dan 1 proyek gagal bayar sudah menggantung sekitar 2 tahunan hingga saat ini :

Precision farming, sudah masuk tahun ketiga, dan laba bersihnya makin ke sini makin turun. Padahal, precision farming ini sempat diblow up media dan pernah dikunjungi Pak Menteri Pertanian loh hehe.. ngga paham saya salahnya di mana. apa manajemennya ngga bisa mitigasi resiko ya? Padahal penjualan sayuran hidroponik dan hasil kebun selama pandemi ini via channel jualan online setahu saya meningkat.

Yang Budidaya Jagung udah ngga perlu ditanya hehe. Inti permasalahannya, jagung yang sudah dipanen, hanya dibeli dengan harga yang murah oleh offtaker, akhirnya profit tidak bisa menutup biaya yang timbul. Saat ini sedang proses penjualan aset ke pihak ketiga, dan belum ada yang mau hehe.

Investasi di P2P ini, modal yang dikeluarkan cukup besar, karena harga 1 saham yang dijual sekitar 2-3 juta rupiah. Dulu, saat saya ikutan, dia belum pakai asuransi sebagai proteksi gagal bayarnya. Jadi kalau ada yang minat ke sini, mending selalu beli asuransi karena sektor pertanian itu resiko gagal panennya besar sekali. at least, kalau beli asuransi, kita hanya kehilangan waktu dan modal 20% aja karena pokok yang diganti sebesar 80%. Tapi masalahnya, asuransi hanya akan diklaim jika pihak lender sudah dinyatakan pailit. Itulah yang membuat kenapa investasi jagung saya di sini ngga segera kembali dana pokoknya hehe.

Kelemahan lain di sini adalah laporan bulanan yang sering telat dan kurang jelas, terkadang juga ngga disertai laporan keuangan/arus kas yang lengkap. Just NO.

2. CROW*E

Mirip seperti IGR*W, di sini P2P dengan spesialiasi proyek pertanian dan perkebunan. Saya mulai ikut di sini sejak 2017 dan sudah masuk sekitar 15-an proyek. Beda dengan IGR*W, di sini nilai per lembar sahamnya dibanderol hanya 500-an ribu aja, jadi lebih terjangkau di dompet.

Awal-awal semua proyeknya berjalan mulus, pengembalian tepat waktu dan sesuai target keuntungan. Tapi setelah berjalan hampir setahun, beberapa proyek mulai macet. Sayangnya seperti di IGR*W awal-awal dulu, di sini juga ngga ada penyediaan asuransi untuk proteksi gagal bayar. Ternyata tipikal-tipikal P2P model gini, mereka kesulitan dan kurang ketat dalam filtering lender dan juga ngga punya tim lapangan yang mumpuni buat tracking progres dan komunikasi dan problem solving. 1 lender juga bisa ngajukan banyak sekali proyek, hasilnya, begitu ada 1 yang macet, semua proyek yang diajukan kena imbasnya.

Saya masih ada 3 proyek nyangkut di sini. 2 proyek ternak bebek dan ayam yang dilakukan suami istri, saat ini statusnya masih nyicil modal pokok dalam 1 tahun ke depan. Untungnya, pasangan suami istri ini masih punya itikad baik untuk mengembalikan modal pokok investor walau harus dicicil 3 tahun. At least investor hanya rugi waktu saja, tapi uang modal masih utuh. 1 lagi proyek tanam edamame di Bogor yang masih menunggu pencairan aset petani.

Kelemahan lain di sini adalah laporan bulanan yang sering telat dan nggak jelas, terkadang juga ngga disertai laporan keuangan/arus kas yang lengkap. Respons CS nya lambat dalam handle pertanyaan. Big NO.

3. TERNAKINV*ST

P2P lending ini dulu namanya TERNAKN*SIA, ganti nama karena dia selain P2P juga ada ecommerce penyaluran daging dan telur. P2P ini sudah saya ikuti dari 2019. Sesuai namanya, spesialisasi nya adalah penyaluran dana ke sektor peternakan. Bedanya dengan P2P yang saya sebut sebelumnya, P2P ini lebih prudent karena ngga sembarangan menawarkan proyek ke investor. Jika dilihat di website nya, dalam 1 bulan, hanya 1-2 proyek aja yang ditawarkan ke investor, karena mereka ini hanya bermitra dengan peternak besar yang punya track record bagus dan terpercaya.

Total proyek yang sudah saya ikuti di sini ada 26, dan dari 20 yang sudah selesai, rekor nya masih 100% alias belum ada yang gagal bayar!! Luar biasa. Tenor investasinya rata-rata 6 bulanan aja dan ada juga yang 1 tahun, yield nya lumayan tinggi tapi ngga terlalu over estimate, sekitar 10% per 6 bulan atau 20% per tahun. Investasi yang no brainer lah menurut saya. cuma nyediakan modal, dan biar tim profesional yang handle, tau2 dapat untung hehe.

Setiap proyek yang ditawarkan dalam bentuk lembar saham, nilai nominal nya 500rb per lembar, jadi masih terjangkau buat ritel kecil. Laporan perkembangan proyek lengkap dan diupdate tepat waktu sebelum tanggal 10 tiap bulan, disertai dengan laporan arus kas juga jadi bisa kita estimasi berapa keuntungan di akhir periode nya nanti. CS nya juga bisa dijangkau dengan mudah melalui WA. Saya ada pengalaman sudah transfer tapi belum konfirmasi dan dananya nyangkut 3 bulan, baru saya sadar setelah cek mutasi rekening. Tak coba komplain ke CS nya, dalam waktu 24 jam dana saya dikembalikan.. Hats off buat CS nya.

Kekurangannya hanya di P2P ini belum ada opsi beli asuransi untuk melindungi risiko gagal bayar. Tapi selama ini manajemennya bener-bener prudent dan belum pernah 1 kalipun gagal bayar. semoga bisa dipertahankan. Strongly recommended.

4. AMAR*HA

Si P2P ungu yang satu ini punya misi sosial yang bagus, yaitu meng-empower emak-emak di desa agar bisa menjalankan usaha mikro buat menambah penghasilan keluarga. Mengingat amar*ha sudah berdiri sejak 2016 dan semakin tumbuh, saya pun coba peruntungan di sini sejak tahun 2020 awal. Perlu diingat, di sini ada lebih dari 100 mitra (istilah lain lender) yang mengajukan proposal peminjaman dana. Kita harus pintar-pintar memfilter mana yang masuk ke dalam kriteria lender yang “sehat” dan bisa bayar cicilan per bulan.

Di sini ada 5 kategori skor kredit yaitu A, A-, B, C, D, dan E. Skor A berarti sudah dinilai oleh tim di sini bahwa si lender ini punya kemampuan bayar yang mumpuni dan peluang gagal bayar kecil. Untuk mitra dengan skor kredit A, bunga yang diberikan adalah 11.5%, skor A- bunganya 12%, skor B bunga 13%, skor C bunganya 14%, skor D 14.5% dan skor E adalah 15% per tahun. Kalau dicek di kontrak nya mereka, bunga yang dibebankan ke mitra adalah 30% per tahun, buat investor seperti di atas, dan sisanya untuk penyelenggara.. Wuihh, besar juga ya, tapi konon, karena target sasaran lender nya adalah emak-emak di desa yang nggak bankable, besar bunga ini masih lebih kecil dari loan shark (rentenir) yang biasa nawarin pinjaman ke mereka. Besar bunga rentenir konon bisa mencapai 50% per tahun!!??

Kita juga bisa memfilter sektor dan lokasi. Misal kita mau mendanai mitra yang dagang kue, dagang buah, dagang warung makan, bertani, dll, dan lokasinya pun bisa milih berdasarkan provinsi. Mulai 2021 akhir, sudah ada opsi crowfunding juga di sini. Sebelumnya minimal pemodalan adalah Rp 4 juta sampai 6 juta per mitra, dan ini cukup berat buat sebagian orang, mungkin karena itulah di sini jadi buka opsi crowfunding minimal Rp 100 ribu. Hanya saja, opsi crowfunding belum menyediakan asuransi gagal bayar, jadi agak beresiko juga menurut saya. Perlu hati-hati kalau pilih yang crowdfunding.

Karena tingginya resiko memodali emak-emak di desa ini, kita perlu define rule of thumb dalam memilih mitra. Rule of thumb saya di sini adalah seperti ini :

  1. Yakinkan credit rating = A
  2. Yakinkan sektor yang dipilih jangan ada Peternakan, Pertanian, Pupuk, dan segala hal yang resiko eksternal nya tinggi. Upayakan sebisa mungkin sektor yang selalu ada yang beli seperti warung, rumah makan, dagang kue, salon, dll
  3. Berhitunglah. Di bagian detail mitra, akan diberitahu berapa penghasilan perbulan mereka. Dan kita perlu bandingkan dengan berapa cicilan pokok dan bunga per minggu dan per bulan. Jika penghasilan per bulan hanya 1.5 juta tapi dia mencicil setiap minggu lebih dari 100rb, maka 1 bulan dia perlu menyisihkan 400rb. Ratio loan dan pendapatan 25%, batasi ratio ini di angka 10%, karena kalau makin tinggi akan tinggi juga resiko gagal bayar karena pendapatan tergerus untuk beli kebutuhan pokok sehari-hari.
  4. Prioritaskan mitra yang sudah lebih dari 1 kali mengajukan pendanaan. Kita bisa lihat riwayat pendanaan sebelumnya di bagian bawah. Usahakan calon mitra yang mau kita danai itu tidak punya catatan “Tidak Bayar”di pendanaan sebelumnya. Kalau hanya “Terlambat Bayar” masih bisa ditolerir. Sayangnya fitur ini sejak 2022 ini sudah dihapus, jadi kita ngga bisa lihat lagi historis pembayaran sebelumnya, suatu kemunduran sih menurut saya
  5. Jangan lupa selalu BELI ASURANSI GAGAL BAYAR untuk menghindari dari keboncosan. Asuransi ini akan mengcover 80% pokok jika mitra bangkrut/pailit atau meninggal dunia. Hanya saja prosesnya lama betul, sampai 90 hari kerja.

Sampai saat ini saya sudah danai 15 mitra, dan statusnya adalah 7 masih berjalan, 1 lunas sampai akhir tenor, 4 lunas dini (mitra boleh melunasi dini pinjamannya, sehingga dia ngga perlu bayar sisa bunga nya), 1 meninggal (dianggap lunas dini) dan 2 at risk (ada salah ketik di websitenya, harusnya lunas dini 5, at risk 2) karena punya keterlambatan cicilan lebih dari 3 kali.

Yang at risk 1 orang berhenti bayar di minggu ke-25 dari 50. sudah di-declare pailit dan sedang menunggu pencairan dana pokok oleh asuransi. Sedangkan yang 1 lagi at risk masih bisa bayar cicilan mesti nunggak seminggu sekali.

So far, impresi saya ikut P2P ungu ini luar biasa ya. walau ada 1 yang beneran default, tapi dengan filtering ketat dan hati-hati, overall masih lancar investasi di sini. Ditambah misi mulia empowering emak-emak di pedesaan, itu yang jadi nilai plusnya. Ibaratnya sambil invest, kita ikut beramal membantu emak-emak yang nggak bankable ini punya akses pemodalan hehe.. Recommended lah.

5. Equity Crowfunding (ECF)

Nah, berikutnya yang akan saya bahas ini adalah model baru dalam investasi P2P, yaitu ECF. Secara simple, ECF itu artinya urun dana, jadi ada suatu bisnis yang perlu pemodalan, si pemilik bisnis menjual sebagian sahamnya ke investor ritel untuk dibeli dan nanti ditukar dengan kepemilikan sahamnya. Mirip-mirip dengan perusahaan Tbk di bursa efek, namun ini skalanya UMKM hehe.

Tingkat resiko di ECF ini sangat besar, jauh lebih besar dari P2P lain hehe. Kenapa sangat besar? karena yang akan didanai ini UMKM, bukan perusahaan-perusahaan yang sudah mantap berdiri seperti di bursa efek.

Resiko pertama adalah penggelembungan valuasi. Karena tidak adanya KJPP (penilai independen) dan auditor sebelum UMKM ini listing di ECF, bisa jadi si pemilik akan menggelembungkan valuasi bisnisnya supaya bisa dapat untung di depan. Misal, bisnis restoran sushi di salah satu mall di Jabodetabek. Kalau dihitung secara fair dari sisi aset, kondisi keuangan, profitability, anggaplah super optimis aja valuasi nya hanya 1-2 Milyar, tapi ngga jarang di ECF ini mereka jual dengan valuasi 3M lebih hehe. itulah minusnya di sini.

Resiko kedua adalah minim compliance dan pengawasan. Nggak seperti di bursa efek, di ECF ini ngga ada regulator yang mengaudit laporan keuangan si UMKM. Jadi seolah-olah investor dibuat percaya saja sama manajemen nya. Mereka hanya berfungsi sebagai makelar yang menjembatani proses penawaran saham dan setelah deal, dilepas begitu saja hehe.

Resiko ketiga, adanya overestimate di prospektus sehingga pas usaha sudah jalan, laba dan pendapatan yang dihasilkan jauh di bawah prospektus. Akibatnya dividen yang dibagikan sedikit dan balik modal menjadi lama

Oia perlu diingat di ECF ini, uang yg kita invest tidak akan kembali kecuali kita jual di pasar sekunder yang dibuka setiap 6 bulan sekali. Namun saham yg kita punya baru bisa dijual 1 tahun setelah kepemilikan. Dari pengalaman yang ada, di pasar sekunder harga sudah jatuh karena itu tadi, estimasi laba di prospektus ngga sesuai kenyataan.

Ada 2 ECF yang saya ikuti, yg pertama adalah SANT*RA atau si merah dan yang kedua adalah BIZ*ARE atau si biru. Si merah dan si biru ini punya nature yang berbeda.

Si merah yang saya ikuti, sangat mengecewakan. Mereka praktis hanya sebagai makelar aja. Setelah pendanaan selesai, si pemilik usaha sudah 4 bulan ngga update laporan keuangan tp tidak pernah ditegur. Keluhan investor ke CS nya lambat dijawab. Very BIG NO. Si merah ini mengutip fee dari uang yang dihimpun pemilik usaha dari investor. Misal lender berhasil himpun 3M, si merah mengutip fee 5-10% untuk biaya makelar.. Easy money hehe

Jualan kambing tapi profit terus tergerus paska pendanaan, trus sudah 4 bulan Lapkeu nggak diupload.. Piye jal??

Si biru masih mending. Di sini spesialisasi nya adalah pembukaan bisnis Alfamidi dan Alfamart, dan restoran baik buka dari 0 maupun take over dari pihak lain. Bagi saya, bisnis minimarket ini sulit digelembungkan valuasinya. Mereka jual valuasi di sekitar 2-3 M per toko yang mana sangat wajar.

Alfamart dan alfamidi. Take over valuasinya 1-2 M tapi buat baru dari 0 include pembebasan tanah valuasinya hampir 5M. Masih wajar lah ya

Bedanya dengan si merah, si biru ini punya minimal investasi per lembar saham di Rp 5 juta. Dan dia langsung mengutip fee ke investor. Dari 5 juta yang kita bayar utk beli saham, kena biaya 250rb rupiah. Lebih mahal jatuhnya sih dari si merah.

Di ECF ini dari mulai masa kampanye sampai bisnis berjalan dan bagi dividen biasanya makan waktu 3-6 bulan. Jadi harus ekstra sabar dan pakai uang super dingin.

Saya sudah ikut 4 proyek alfamidi di si biru. Lokasinya di bekasi 2, pandeglang dan tangerang. So far sudah jalan 2-3 bulan dan dari 4 itu hanya 1 yang masih merugi. Sisanya sudah bagi dividen meski yield hanya 0.5% per bulan atau estimasi 6% per tahun. Lumayan lah masih lebih tinggi dari deposito. Kita lihat bagaimana kelanjutan bisnisnya.

Laporan keuangan di si biru ini menurut saya lebih baik dari si merah. Ada laporan arus kas dan laporan untung/rugi. Progresnya juga diupdate setiap bulan dan CS cukup responsif. Recommended lah

Ini contoh laporan keuangan per bulannya. Cukup komprehensif, tapi sayangnya ngga ada yang audit. Jadi ya cukup percaya saja ke pengelola hehe

Demikian sharing saya kali ini. Mudah-mudahan bisa lanjut lagi sharing pengalaman investasi yang lain di lain kesempatan..

Salam sehat selalu

Goodbye 2021… Welcome 2022

Hari ini hari terakhir 2021. Setelah melalui 2021 yang cukup melelahkan saatnya refleksi dengan pencapaian dan kekurangan yang ada di tahun 2021 supaya lebih baik lagi di tahun 2022.

Sudah 2 tahun lamanya saya meninggalkan kota Bontang dan menetap di kota Bekasi. Saya mendapat penugasan dari perusahaan untuk bekerja di salah satu perusahaan multinasional yang berkantor di kawasan TB Simatupang hingga Maret 2022 nanti.

Tinggal dan bekerja di tempat yang baru, serta menjalani WFH sejak awal pandemi (Maret 2020) hingga November 2021, betul betul melelahkan, terlebih anak saya yang pertama sudah masuk usia sekolah TK dan anak saya yang kedua sudah berumur 1 tahun dan sudah banyak tingkah polahnya hehe. Terlebih kami tinggal di apartment yang tidak begitu besar jadi ya banyak riak2 stress menghampiri selama hampir 2 tahun menjalani kehidupan di Kota Bekasi.

Overall, setelah hampir 1.5 tahun bekerja dari rumah, sejak November 2021, saya sudah kembali bekerja dari kantor meskipun masih selang-seling WFH-WFO karena kapasitas kantor yang dibatasi. Memulai kembali bekerja dari kantor bukan hal yang mudah juga buat yang sudah terbiasa WFH lama. Mulai dari wajib bangun pagi dan langsung mandi (saya biasa mandi di atas jam 9 pagi selama WFH), lalu sarapan dan berangkat dari Bekasi jam 05.45 naik mobil, melewati tol, dan pastinya pulang kerja adalah jam macet yang bikin stress.

Perjalanan investasi pribadi di 2021 bisa dibilang ngga bagus tapi ngga jelek juga. 2021 yang masih dibayangi ketakutan pandemi covid dan sempat menjalani PPKM darurat selama 1 bulan lebih, instrument investasi yield tinggi dari mulai reksadana, saham, dan kripto diombang-ambing seperti roller coaster selama 2021. Banyak perubahan yang saya dapat dari berinvestasi di tahun 2021 ini, yang positif di antaranya :

  1. Aset P2P lending/fintech saya semakin besar porsinya. Saya seperti sudah mendapat pakem invetasi di P2P lending ini setelah banyak mencoba berinvestasi di berbagai platform P2P. Kapan-kapan akan saya share beberapa P2P lending yang saya masuki dan tips-tipsnya supaya tetap aman dari resiko P2P
  2. Alokasi aset saya di saham dan RD meningkat pesat. Mungkin karena pandemi WFH sehingga pengeluaran bulanan relatif turun, jadi porsi investasi bisa meningkat tajam. Praktis selama pandemi, pengeluaran besar hanya untuk staycation di hotel saja pas cuti, dan itupun hanya 2 kali setahun.
  3. Dividen yang didapat di tahun 2021 ini jauh lebih besar (meningkat 150%) dibanding tahun 2020, padahal besaran dividen per share masing-masing emiten turun karena laba 2020 yang rata-rata turun. Pertama, karena alokasi dana/jumlah lot per emiten lebih besar, dan kedua karena pajak dividen 10% sudah dihapus pemerintah

Per desember 2021, alokasi aset investasi saya sebagai berikut :

Porsi saham melejit dari sebelumnya sekitar 30% an ke 44% karena saya merasa di 2021 ini sebagai tahun best buy menjelang pemulihan ekonomi pasca covid. Alokasi dana di Reksadana kebanyakan Reksadana Pendapatan Tetap karena berfungsi juga sebagai dana darurat dan drypowder untuk disuntikkan ke saham begitu market terkoreksi banyak

Porsi P2P lending yang di 2020 di bawah 5% sekarang sudah hampir 10%, dengan alokasi paling besar ada di Amartha dan Ternaknesia. Dua P2P lending ini yang jadi jagoan saya karena bisa memberi return 11-15% per tahun, meski resiko cukup tinggi karena sektor riil.

Top 10 Holding Portofolio saham saya di 2021 ini antara lain :

  1. United Tractors Tbk (UNTR)
  2. Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)
  3. PT Bukit Asam Tbk (PTBA)
  4. PT Adaro Energy Tbk (ADRO)
  5. PT Cikarang Listrindo Tbk (POWR)
  6. PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA)
  7. PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL)
  8. PT Indofood CBP Tbk (ICBP)
  9. PT Arwana Citra Mulia Tbk (ARNA)
  10. PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM)

5 besar masih didominasi batubara karena saya merasa harga batubara meroket dan laba perusahaan batubara sudah naik sangat tinggi tapi harga saham masih di situ-situ aja, kecuali ADRO yang year to date sudah naik 50% lebih.

BBRI dan PZZA saya hold karena nanti ketika ekonomi sudah tumbuh lagi pasca covid, sektor bank dan ritel consumer yang akan bounce back cepat. Begitu juga konstruksi seperti TOTL dan saya pun hold selamanya untuk saham-saham dividen bagus seperti POWR dan BJTM.

Overall return saya di 2021 ini 6.64% dari seluruh aset investasi mulai dari Reksadana, saham, kripto, P2P. Masih kalah dibanding IHSG yang +10.08% tapi not bad lah jika dibanding deposito bank BUKU IV yang di sekitaran 3%. Terlebih jika lihat komposisi penggerak IHSG yang didominasi oleh saham-saham newcomer seperti ARTO DCII MDKA EMTK BRPT dll yang ngga ada di portofolio saya.

Target/resolusi investasi di 2022 antara lain :

  1. Memperbesar porsi investasi di saham-saham growth stock. di 2021 ini, saya punya beberapa growth stock, cuma alokasinya masih jauh di bawah core portofolio di atas. Saham-saham growth stock saya antara lain : PRDA, MARK, ADES, ARNA. Hanya ARNA yang masuk top 10 alokasi aset.
  2. Memperbesar porsi P2P lending. Target di 10% alokasi aset, namun tetap mempertimbangkan resiko P2P lending. Hanya, dengan melihat tren pemulihan ekonomi pasca covid, mungkin resiko di P2P bisa berkurang
  3. Outperform IHSG. dari 2018 sampai 2020, saya selalu bisa outperform IHSG, namun di 2021 ini gagal karena perubahan komposisi free float di IHSG.
  4. Memperbesar porsi investasi di US Stock. Sejak 2021, saya mulai investasi di saham-saham bursa US melalui platform GoTrade. So far, nilai investasi saya di GoTrade baru sekitar 600 USD dan holding saya berikut ini
Image
Alokasi saham US di platform GoTrade

Mudah-mudahan di 2022 ini alokasinya bisa semakin besar biar dividen yang diberikan pun makin besar. Saham yang saya pegang di GoTrade rata-rata memberi yield dividen yang bagus seperti Coca Cola, Intel, Johnson & Johnson, Home Depot, JP Morgan dan P&G. Sedangkan Microsoft dan Meta (Facebook) saya hold karena termasuk Tech company dengan growth luar biasa.

Demikianlah catatan saya di 2021 ini dan harapan di 2022. semoga kita semua diberikan kesehatan selalu agar bisa melalui pandemi covid ini dengan selamat.

See you…

Comeback

Sudah lama tidak nulis di blog karena satu dan lain hal… Saya akan coba mulai rutin lagi nulis deh, karena katanya nulis itu memang melatih kemampuan otak agar stay sharp terus.

Alasan saya ngga sempat nulis blog lagi antara lain karena beberapa kesibukan yang utamanya karena sejak Maret 2020, saya udah dipindahtugaskan (sementara) ke Jakarta dan bukan lagi di Bontang. Jadi banyak penyesuaian hidup yang harus dilakukan.

Saat ini saya stay di area Bekasi dan kadang-kadang pulang ke Bandung ke rumah orang tua/mertua. Ditambah di Januari 2020, anak kedua saya lahir dan makin banyak kesibukan yang membuat ngga sempat nulis blog 1 tahun lebih ke belakang.

Alasan kedua, dan yang paling bikin kesel adalah salah satu hard disk eksternal andalan saya dan istri untuk mengumpulkan file-file foto dan video, dari mulai foto/video sebelum saya nikah, nikah, punya anak 1, sampai foto dan video perjalanan ke luar daerah maupun luar negeri, ternyata corrupted dan ngga sempat dibackup ke cloud.. Alhasil, semua foto dan video kenangan hilang, yang tersisa hanya sebagian aja yang sempat diupload ke sosial media kayak facebook atau instagram saya dan istri. Kami udah coba repair ke salah satu tukang repair di Bandung tapi hasilnya nihil, hanya kurang dari 10% file yang bisa selamat…

Yasudahlah, memang sudah nasib. semoga mulai minggu ini dan seterusnya saya bisa konsisten nulis di blog sebagai diari/catatan hidup dan sharing-sharing pengetahuan dan pengalaman tentang banyak hal…

Salam…

Si Emas yang Semakin Berkilau di Pintu Resesi

Beberapa minggu belakangan berita ekonomi seluruh dunia penuh dengan ancaman resesi yang sudah melanda hampir seluruh negara maju (kecuali China) dan seperti sebelum-sebelumnya, indikator mudah melihat adanya resesi adalah harga emas yang semakin mendidih hehe.

Mengapa harga emas akan naik menjelang resesi ekonomi, banyak orang bilang kalau orang-orang berduit yang berinvestasi di saham dan surat utang (baik pemerintah maupun swasta) akan menghindari aset beresiko karena kita tahu saham akan cenderung bearish mengikuti sentimen laba perusahaan yang akan turun kala resesi, dan surat utang akan memiliki resiko gagal bayar yang meningkat kala resesi. Sehingga orang-orang atau institusi dengan dana jumbo ini pada cash out dan ramai-ramai menjual saham dan surat utangnya untuk masuk ke aset yang safe haven atau yang memiliki lindung nilai alami karena harganya tidak fluktuatif dan asetnya liquid. Contohnya adalah emas, greenback (dollar) dan Yen Jepang.

Dikutip dari situs antam (logammulia.com), harga emas saat ini mencapai Rp 1.065.000 untuk pecahan 1 gram. Ya, anda tidak salah baca. Saat ini emas sudah tembus 1 juta rupiah. Sementara harga jualnya (disebut juga buyback) sekitar 100rb lebih murah di level Rp 964.000 untuk pecahan 1 gram.

5

Saya sendiri mulai investasi di emas sekitar 2015-2016 namun tidak pernah diteruskan lagi sejak kenal reksadana dan saham. Dulu saya beli beberapa keping untuk koleksi aja karena banyak teman-teman juga koleksi dan disimpan di lemari baju di rumah hehe. Saya ingat sekali dulu saya beli di harga Rp 560rb – Rp 600rb saja per gram dan saat ini saya sudah punya floating/unrealized profit hampir 100% hehe. Coba kita lihat grafik harga buyback dari 2015 sampai saat ini:

4

2015 akhir bahkan harganya “hanya” 480ribuan aja per gramnya. Tadi pagi saya coba mau jual emas saya di butik antam dago Bandung, namun ternyata syaratnya cukup ribet karena covid ini.

6

Baik jual atau beli, harus daftar dulu via WA dan menunggu dapat antrian di H+1. Kalau ternyata aktualnya datang terlambat malah disuruh daftar lagi 2 minggu kemudian. Tadi saja saya lihat di butik antam Dago ada sekitar 10-15 orang mengantri beli dan jual. Luar biasa ya.

Kesimpulan yang bisa dipetik dari fenomena ini adalah belilah emas saat ekonomi sedang menggeliat karena orang/investor akan menghindari aset ini dan lebih senang yang memberi return tinggi seperti saham. Lalu jual lah ketika ekonomi akan memasuki masa resesi. Seperti Warren Buffet bilang, berpikirlah contrarian hehehe.

Portofolio Investasi di Masa Pandemi

2020 sudah memasuki bulan Agustus dan kegilaan melanda bursa saham Indonesia di periode Maret dimana IHSG dibanting tanpa ampun dari level 6,000 ke 3,900 (minus >50%) karena kekhawatiran pelaku pasar pada pandemi covid-19 dan membuat para trader ritel kala itu cutloss gila-gilaan.

Untungnya kala itu saya sendiri tetap tenang dan mulai sedikit-sedikit cash-out di saham-saham second liner yang terdampak covid dan mulai mencicil saham-saham blue chip yang dibanting tanpa ampun oleh para big player di bursa.

Portofolio saya di bulan Februari banyak diisi sama saham-saham second liner dan LQ45 nanggung macam BUDI TOTO INKP INDR IPCC MDKI RAJA WTON CLPI mulai saya cutloss dan masuk di saham-saham bluechip yang harganya jatuh >30% seperti BBRI TLKM ICBP. Alhamdulillah setelah madness di periode Maret, IHSG sempat rebound ke level 5,000-an sampai Agustus ini dan kesabaran saya di UNTR (United Tractor) berbuah manis. Sempat -35% di periode Maret, UNTR yang ada sekitar 50% di komposisi portofolio saya, tidak saya cutloss dan saya average down sampai termehek-mehek dan sahamnya sendiri sempat sideways cukup lama di range 13,000 – 16,000 selama berbulan-bulan sebelum akhirnya naik ke 24,000 di agustus ini. Plus sentimen positif di TBLA karena harga CPO yang mulai naik, membuat portofolio saya menghijau sebulan terakhir. Alhasil, portofolio saya mampu menjauh dari IHSG walaupun masih minus hehe.

1.png

Posisi IHSG masih -18% YTD dan portofolio saya masih -6% YTD. Di bulan maret, posisi IHSG -32% dan portofolio saya -36% karena terbebani UNTR yang jatuh dari 28ribu ke 13ribu dalam 1 bulan hehe.

Komposisi saham yang masuk di core portofolio saya di Agustus ini adalah sebagai berikut :

2

Saat ini yang masih jadi pemberat portofolio adalah TOTL dan PZZA karena harganya turun sangat dalam dan kena sentimen negatif dari covid. Namun secara fundamental saya masih yakin dengan kedua saham ini dan pelan-pelan mulai average down setiap mereka turun -10%. Semoga feeling saya kali ini tepat seperti UNTR.

Sedangkan strategi saya di UNTR, karena terbangnya harga saham ini akibat sentimen ‘semu’, karena sentimen naiknya harga emas padahal core bisnisnya adalah tambang batubara (yang harganya masih lesu) dan penjualan alat berat, maka saya akan mulai cash out di posisi profit dan mengurangi porsi di UNTR untuk mulai masuk lagi jika harga sahamnya di bawah Rp 20,000. Duitnya mungkin buat saya tambah posisi di BBRI dan TLKM mumpung masih sideways cenderung turun.

Di samping itu, saya masih berharap dapat bagger (potensi cuan >100%) di saham-saham yang menurut saya potensial : PSSI PZZA TBLA ARNA dan WEGE. Mudah-mudahan naluri saya betul paling tidak 3 tahun ke depan hehe.

Selain itu, di saat pandemi ini, saya juga sudah buka akun trading Miraeasset untuk keperluan trading yang saya pisahkan dari core portofolio saya di Mandiri Sekuritas (MOST). Akun Mirae ini saya pakai untuk membuat skenario trading bertingkat di saham-saham bluechip yang sudah jatuh dalam dari harga tertingginya macem ASII BMRI BBNI INDF MYOR CPIN PTBA, dll. Saya terinspirasi oleh Pak Fransiskus Wiguna (https://wigunainvestment.com/) di channel beliau yang menyebut bahwa tidak ada yang bisa prediksi harga bottom suatu saham. oleh karena itu kita perlu money management untuk membentuk harga yang kita kehendaki di kala krisis seperti sekarang. Simplenya seperti ini, jika saya punya uang 20 juta dan mau dibelikan ASII, saya coba pasang aja secara bertahap di harga sekarang beli 1 lot, nanti setiap turun 5%, saya tambah jadi 2,3,4 lot dst sampai uang 20 juta saya habis seluruhnya. Jika harga ASII beneran turun sampai ke 3,260 seperti bulan Maret 2020 (kayaknya sulit sampai situ lagi), saya akan punya 55 lot ASII di harga 3,835.

3

Sebuah strategi money management yang sangat baik untuk menjaga “kewarasan” di saat-saat market bearish dan krisis di depan mata seperti saat ini.

Alhasil selama sebulan terakhir, saya sudah masuk bertahap di saham-saham macem ASII MYOR PTBA CPIN BMRI BBNI INDF dan… BRPT (in Pak Prajogo we trust.. hehehe)

 

 

 

Sedikit kebaikan di bulan Ramadan

Bulan Ramadan 1441H sudah memasuki hari ke-11, pandemi covid-19 membuat Ramadhan kali ini sangat berbeda dari Ramadan-Ramadan sebelumnya. Tidak ada salat tarawih di mesjid, tidak ada buka bersama, dan tidak ada acara berburu takjil ke pasar takjil yang biasanya ramai dengan orang dan makanan.

Namun hakikat ramadan sebagai bulan penuh berkah dan kebaikan tetap perlu diaplikasikan dan diwujudkan di tengah krisis, baik krisis ekonomi maupun krisis multisosial lain di tengah situasi pandemi saat ini. Bagi yang masih memiliki pekerjaan dan penghasilan seperti saya, banyak cara dapat diwujudkan untuk bersyukur dan membagi kebaikan di bulan Ramadan meskipun dengan hal yang paling kecil sekalipun.

Saya pribadi setiap sore sekitar pukul 17.00 WIB rutin memesan makanan di GoJek berupa 1 porsi makanan lengkap dengan harga sekitar Rp 20,000. Makanan itu saya pesan di sekitar rumah dan titik antar ny saya buat tidak jauh dari restorannya, kira-kira maksimum 500 meter, bisa Indomaret, kantor pos, maupun tempat-tempat umum lainnya. Saat orderannya nyangkut di abang gojeknya, saya langsung tulis pesan, “Pak silakan diambil saja makanannya buat berbuka. Tidak perlu diantar ke tempat saya, biar saya yang traktir.” Tanggapan bapak gojeknya cukup beragam, sebagian besar mengucapkan terima kasih dan mendoakan saya, namun ada juga yang datar-datar saja dan merasa tidak enak hehe. Tapi karena niat ingin berbagi ya tidak masalah.

Berbagi kebaikan menurut penelitian dapat meningkatkan hormon endorfin atau hormon kebahagiaan yang ujungnya mampu meningkatkan imunitas tubuh. Melalui hal-hal yang kecil kita bisa membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang terdampak pandemi ini. Contoh yang lebih besar misalnya ikut menyumbang melalui lembaga donasi seperti kitabisa.com ataupun melalui lembaga amil zakat seperti rumahzakat, dompetdhuafa, ACT, dll.

Dana pemerintah sangat terbatas sehingga pasti tidak akan semua bantuan dibagikan secara merata. Apalagi jika pandemi ini masih berlangsung setelah lebaran, bisa jadi makin banyak orang-orang yang kehilangan pekerjaan karena PHK dan mati kelaparan.

Semoga saja tidak…

Hello World…

Sudah sekian bulan absen menulis blog dikarenakan kesibukan dan lain hal seperti istri hamil anak kedua, LDR-an, penugasan di tempat yang baru, dan lain-lain yang membuat dunia blogging jadi menjauhi saya.

Di 2020 ini, di tengah pandemi corona virus dan Work From Home yang sudah berlangsung 2 bulan (entah sampai kapan), saya akan share beberapa aktivitas dan “pencapaian” selama 4 bulan ke belakang.

Tentu saja yang pertama dimulai dari investasi. Seperti yang kita ketahui, sejak Februari hingga saat ini, bursa saham baik di Indonesia maupun dunia, luluh lantak karena kepanikan pelaku pasar akibat virus corona. IHSG terjun bebas dari posisi 6000-an ke 3900 hanya dalam hitungan minggu. Sudah barang tentu posisi para investor ritel yang menabung saham sejak 2016 hingga saat ini pasti dalam posisi nyangkut parah alias floating loss yang luar biasa. IHSG seolah kembali ke harga tahun 2015 dan saya sendiri ketika IHSG ke posisi Rp 3,900 punya floating loss sekitar -56%. Sadiss…

Namun, bukan investor sejati namanya kalau tidak melihat krisis seperti ini menjadi sebuah peluang. Sejak IHSG luluh lantak, semua saham blue chip (BBCA, BBRI, BMRI, UNVR, ICBP, you name it..) semua longsor >20% dari harga tertingginya. Hal tersebut membuat saya mengambil keputusan untuk mengocok ulang portofolio saya. Di 2019, saya banyak mengoleksi saham-saham second liner pemberi dividen yield tinggi yang harganya sudah turun dalam (BUDI, CLPI, RAJA, PSSI, INDR, MDKI, you name it) untuk melakukan cutloss besar-besaran (cut loss adalah hal yg sangat jarang saya lakukan selama investasi saham sejak 2016 hingga saat ini) untuk switch ke Blue chip yang sudah jatuh sangat dalam.

1.png

Di atas ini adalah porsi portofolio saya di akhir 2019 dimana UNTR sangat mendominasi portofolio saya (ada cerita khusus mengenai alasannya, kapan-kapan saya share). Setelah berpikir panjang, sayapun mulai cutloss besar-besaran di saham 2nd dan 3rd liner yang saya anggap tidak/kurang prospektif karena corona dan mulai masuk ke beberapa bluechip. Hasilnya, inilah rebalancing portofolio saya per 30 April 2020.

2.png

Tambah banyak sih, namun dilihat dari jenis perusahaannya, banyak blue chip dan saham prospektif saya dapat di harga super diskon. Sedangkan beberapa 2nd liner yang masih saya pegang karena saya sudah nyangkut dalam dan sayang untuk di cutloss, prospek perusahaannya pun masih lumayan oke di era pandemi begini. Saya pun masih terus nambah posisi di saham-saham blue chip yang sudah longsor seperti BBRI, ICBP, dan TLKM sambil menunggu entry yang ideal.

Karena banyak yg bilang bahwa cash is king di tengah ketidakpastian dan krisis ekonomi ini, maka saya pun sudah memupuk cukup banyak cash untuk mengambil posisi jika saham-saham blue chip incaran saya akan turun lebih dalam lagi. Posisi aset kelolaan saya per April 2020 adalah sebagai berikut :

3.png

Porsi saham hanya 17% dari keseluruhan aset karena sejak 2019 kemarin saya mulai banyak masuk ke Crowdfunding (iGrow, Ternaknesia) dan masuk ke sektor riil seperti penggemukan sapi dan perkebunan sayuran.

Mudah-mudahan krisis ekonomi dan virus corona ini segera berlalu sehingga aset berupa kertas saya yaitu Saham, Reksadana (Pasar Uang dan Pendapatan Tetap) serta Obligasi Pemerintah dapat tumbuh.

Itu tentang dunia investasi yang saya geluti. Kesibukan lainnya di masa pandemi ini adalah melakukan work from home dari Bandung. Kebetulan per Maret 2020 kemarin saya mendapat penugasan dari perusahaan ke sebuah perusahaan multinasional di bidang migas di bilangan TB Simatupang. Karena Jakarta memberlakukan WFH sejak pertengahan maret, maka saya pun memutuskan pulang ke Bandung karena anak istri sudah tinggal di sana sejak akhir tahun lalu.

Hal-hal bermanfaat lain yang dilakukan selama pandemi adalah mengurus anak (sambil bekerja), membaca laporan keuangan dan laporan tahunan emiten, mengikuti webinar gratis dari banyak komunitas, sedikit beramal (traktir gojek, nyumbang di kitabisa, dll) dan yang pasti adalah menyusun rencana liburan di tahun depan setelah covid berakhir (semoga)…

See you in the next post… soon (maybe)

Refleksi dan Resolusi Investasi 2019

Januari sudah memasuki minggu ke-3, sebagai seorang investor yang sedang belajar, saya mau share sedikit mengenai kegiatan investasi di 2018. 2018 adalah tahun yang istimewa karena pertama kalinya saya menceburkan diri ke dunia pasar modal dan surat utang pemerintah setelah 2 tahun sebelumnya hanya “bermain” di Reksadana.

2018 bisa dibilang tahun yang berdarah-darah bagi dunia pasar modal, tidak hanya Indonesia, tapi juga negara lain di seluruh dunia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sepanjang tahun 2018 lalu, sempat dibuat euforia oleh kenaikan harga yang memecahkan all-time record di Rp 6,680 pada bulan Februari, sebelum akhirnya menukik jatuh sepanjang periode setelahnya dan mencapai titik terendahnya di Rp 5,633 pada Juli 2018.

Performa IHSG sepanjang 2018

Pelemahan indeks saham dunia disebabkan karena sentimen negatif sepanjang tahun 2018 akibat perang dagang antara China dan Amerika yang berimbas pada ketidakpastian ekonomi di negara berkembang yang terkena dampak tak langsung termasuk Indonesia. Selain itu, kebijakan The Fed, Bank Central Amerika yang sering menaikkan suku bunga acuan juga menyebabkan return US government bonds menjadi menarik, dan investor asing berbondong-bondong memulangkan aset-aset USD nya di negara berkembang dan menyebabkan USD sangat perkasa di seluruh mata uang global. Bersyukurlah, IHSG masih urutan ke 1 di Asia Tenggara, dan ke 8 di dunia dengan return YTD -2.54%.

Performa Index Saham di Seluruh Dunia Sepanjang 2018. Source: CNBC

Melemahnya bursa saham dunia terutama Indonesia, menyebabkan portofolio investasi saya sepanjang tahun 2018 juga loyo. Karena sebagian besar aset investasi saya ditaruh di Reksadana (RD campuran dan RD saham) serta saham, maka sepanjang tahun ini saya banyak bersabar melihat posisi portofolio investasi yang sepanjang tahun merah darah hehe. Tapi, biarpun portofolio sepanjang 2018 tertekan, sebagai value investor, harus tetap yakin kalau penurunan harga saham atau reksadana pada umumnya hanya bersifat sementara. Selama pilihan saham ada di perusahaan-perusahaan dengan fundamental bagus,pasti harganya akan rebound, cepat atau lambat hehe.

1. Reksadana

Setelah migrasi dari sistem pembelian RD konvensional via Bank Mandiri ke online melalui IPOT, saya mulai melakukan pembelian RD di akhir tahun 2017. Metode menabung RD saya biasanya melakukan dollar cost averaging atau saya beli rutin berkala setiap bulan dengan jumlah yang sama.

Di awal tahun, saya punya beberapa jenis reksadana campuran dan saham, utamanya produk dari Sucorinvest Aset Management. Namun, di pertengahan tahun, saya melakukan beberapa kali bongkar pasang RD karena hasilnya negatif hehe. Seharusnya, hal itu tidak perlu dilakukan karena mindset investasi RD adalah jangka menengah dan panjang. Seharusnya, penurunan nilai investasi harusnya dibarengi dengan membeli kembali dalam jumlah banyak. Seperti kata Warren Buffet : “Be greedy when others are fearful, be fearful when others are greedy” hehehe.

Akhirnya di pertegahan tahun saya sudah settle dengan 6 jenis RD (4 saham dan 2 campuran) yaitu produk dari Archipelago AM (Archipelago Balanced Fund), 2 produk Sucorinvest AM (Sucorinvest Equity Fund & Sucorinvest Sharia Equity Fund), serta 3 produk dari Sinarmas AM (Simas Satu, Simas Saham Unggulan, Simas Syariah Unggulan)

Return (dalam %) aset RD saya sepanjang tahun 2018 adalah sebagai berikut:

Angka dalam rupiahnya saya tutup saja hehe. Terlihat bahwa di barchart hijau, Keuntungan maksimum yang saya dapat adalah di periode Januari 2018 dan Februari-Mei, di mana saat itu IHSG (sebagai benchmark produk reksadana) sedang tinggi-tingginya. Dan mulai nyungsep dari Juni sampe akhir tahun 2018. Di Desember 2018, return portofolio saya “hanya” 5.3%, lebih kecil dari return deposito berjangka hehe.

Nilai rupiahnya saya tutup lagi hehe. Terlihat penyumbang return terbesar ada di RD Sucorinvest Equity Fund dengan 8.28% dan 1 RD memberi return negatif (Simas Satu).

Secara performa 1 tahun, semua RD yang saya pegang sebetulnya masih mencatat performa positif sih. Bahkan SIRS18 (Simas Syariah Unggulan) bisa mencatat sampai 32.63% selama 1 tahun. Luar biasa kan?

11.png

2. Saham

Saya mulai menceburkan diri di dunia investasi saham sejak Maret 2018, dimana saat itu pasar saham sedang tinggi-tingginya. 4 saham pertama yang saya beli adalah Unilever (UNVR), United Tractor (UNTR), Telkom (TLKM) dan PT Pembangunan Perumahan (PTPP). Harga ke-empatnya saat itu sedang mencapai all time high, jadi ibaratnya waktu itu saya beli di pucuk sebelum akhirnya terjun bebas sepanjang tahun 2018 hehe.

Waktu itu saya masih belajar mengenai value investing, membaca laporan keuangan emiten, memahami rasio-rasio dalam menentukan nilai wajar saham, dll. Jadi istilahnya learning by doing.

Yang agak saya sesali waktu itu adalah sisi psikologis saya masih labil, ibarat anak muda yang baru puber, mentalnya masih gampang diombang-ambing oleh market behaviour. Di Q3 2018, tiba-tiba portofolio saham saya menjadi 16 emiten dan banyak emiten yang tergabung dalam sektor yang sama. Di periode itu pula saya sempat menjual saham TLKM saya di harga Rp 3,500 (gain 1% saja) padahal saat ini (Januari 2019) harganya Rp 4020 per lembar hehe. Saya juga sempat tergoda beli saham INDR yang harganya sempat meroket dan ternyata di perjalanan nyungsep. Untungnya pas saya jual, realized loss nya hanya kurang dari 2%.

Di 2018, saya juga sempat menjual semua saham Pakuwon Jati (PWON) saat floating profit 25%, PTPP (25%), TBLA (33%), INDF (22%), JPFA (13%), BMRI (13%) dan kemudian menyesal karena harganya masih terus naik sampe sekarang hehe.

Portofolio saham saya di Desember 2018 dalam presentase value adalah sebagai berikut:

Mayoritas aset saham saya, saya taruh di United Tractor (UNTR), bisa dilihat dari pie chart di atas, ada beberapa emiten yang satu sektor seperti PTPP WSKT (konstruksi), TKIM INKP (pulp paper), HOKI PZZA ULTJ MAPI UNVR (konsumer). Hal ini menyebabkan jadi tidak fokus karena memecah nilai aset saya. Alhasil, ketika nanti sahamnya sudah naik, return nya hanya sedikit saja hehe.

Sepanjang 2018, portofolio saham saya mengakumulasi floating loss sebesar -5.8%. Angka yang cukup buruk meskipun IHSG pun menderita penurunan -2.54% secara year to date. Tapi untuk orang yang baru belajar, hasilnya sudah lumayan lah hehe.

3. Surat Berharga Negara (SBN)

Saya mulai masuk ke SBN di tahun 2018 pertengahan, ketika waktu itu pemerintah mulai menjual Saving Bond Ritel (SBR-003) melalui mitra distribusi fintech, salah satunya Bareksa. Setelah itu, saya rajin membeli SBR dan Obligasi serta Sukuk yang dijual pemerintah utamanya yang beli nya nggak perlu datang ke bank. Cukup klik klik transfer dan beres.

Portofolio SBN saya di tahun 2018 terdiri dari 4 SBN yaitu 3 SBR (SBR-003, SBR-004, ST-002) yang semuanya beli di bareksa.com dan tidak bisa dijual kembali sebelum jatuh tempo (2 tahun) serta 1 jenis obligasi ritel (ORI-015) yang beli langsung di Bank Mandiri.

SBN memiliki return yang fixed dan hanya dipengaruhi oleh suku bunga bank Indonesia (BI 7IDRR). Sejak pertengahan sampai akhir tahun, suku bunga BI cenderung meningkat dari level 4.75% hingga 6.5% di akhir tahun. Jadi return SBN saya selama ini cenderung lebih besar dari floor nya ketika melakukan pembelian.


Refleksi 2018

Saat pasar mengalami periode bearish seperti tahun 2018 kemarin lah kesabaran seorang value investor diuji. Selama kita yakin dengan kondisi fundamental perusahaan, kita yakin pula penurunan harga saham nya hanya sementara dan pasti akan kembali ke harga wajarnya suatu saat nanti hehe.

Saya sudah pernah mengalami floating loss  sampai > 10% dengan nilai kalau dirupiahkan bisa belasan juta rupiah. Tapi dengan mengasah psikologis dan money management, mau floating loss sebesar apapun, bagi value investor sebetulnya tidak masalah. Karena pemilihan perusahaan tempat berinvestasi saham seharusnya sudah dipikirkan sedemikian matang dan memilih perusahaan-perusahaan dengan fundamental bagus. Pada akhirnya harga saham akan bergerak ke arah nilai wajar nya secara fundamental.

Resolusi Investasi di 2019

Sebetulnya resolusi investasi saya di 2019 sederhana saja. Yang pertama, saya ingin melakukan rebalancing portofolio saham, yaitu dengan mengurangi saham-saham yang memiliki sektor yang sama. Saya sudah jual PTPP dan masih menunggu untuk menjual salah satu dari TKIM, INKP (pulp paper), dan salah satu dari HOKI MAPI PZZA ULTJ UNVR (consumer). Hanya saja karena saat ini market sedang bullish jadi saya tunggu saja sampai harganya sudah mulai menunjukkan penurunan hehe.

Resolusi yang kedua, sama seperti resolusi Manajer Investasi pada umumnya yaitu beat the market. Karena kiblat semua investasi berbasis RD dan saham adalah IHSG, maka target investasi semua investor adalah meraih return yang lebih besar dari kenaikan IHSG. Jika ditotal di tahun 2018, RD saya memiliki return 5.8% dan saham saya -5.8%. Karena proporsi saham dan RD di seluruh aset saya jumlahnya berimbang (sekitar 25% masing-masing), maka secara YTD sebetulnya saya “hanya” mengalami floating loss sebesar -0.3% dan masih unggul dari IHSG hehe. Tapi tentu hasil yang negatif bukan acuan yang baik karena kalau uangnya saya taruh di deposito berjangka, saya bisa dapat 6% lebih bukan? hehe

Tahun 2019 ini akan ada Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden. Banyak pakar ekonomi memprediksikan gelaran 5 tahunan ini menjadi sentimen positif untuk bursa saham Indonesia mengacu pada periode 2014 lalu. Ya semoga saja prediksinya benar dan investor kebagian cuan di tahun politik ini hehe.

Profil Risiko Investasi

Sebelum memutuskan untuk memulai berinvestasi, pertanyaan paling mendasar sebetulnya adalah investor dengan profil seperti apakah Anda? Pertanyaan ini pasti dan selalu akan diajukan oleh perusahaan sekuritas sebelum kita membuka rekening investor. Saya sendiri tidak tahu tujuannya, mungkin hanya untuk data statistik saja atau bisa jadi data profil risiko kita akan berguna bagi tim riset mereka untuk melakukan analisis dan memberi rekomendasi investasi yang pas untuk kliennya.

Investor, berdasarkan profil risikonya terdiri dari tiga macam, yaitu: konservatif (defensif), moderat, dan agresif. Ketiga tipe tersebut sebetulnya dibedakan dari seberapa besar kemampuan dia menerima paparan risiko ketika melakukan investasi. Investasi seperti halnya semua kegiatan yang ada di dunia ini, pasti memiliki risiko. Risiko investasi yang paling besar adalah risiko capital loss, yaitu berkurangnya nilai aset karena penurunan nilai pasar. Contohnya di reksadana dan saham, harga reksadana dan saham anjlok, di deposito, bank dinyatakan pailit dan di-likuidasi, dll. Risiko ini tidak bisa dihindari, tapi hanya bisa dimitigasi dan diminimalkan melalui pengetahuan yang memadai.

1. Tipe Konservatif (Risk Averse) atau Defensif

Investor jenis ini adalah investor yang cenderung menghindari risiko dan ketidakpastian yang tinggi. Mereka tidak mau menderita capital loss sedikit pun di dalam portofolio nya. Bagi mereka, pertumbuhan aset yang cenderung lambat tidak masalah, yang penting aset nya tetap tumbuh stabil dan pastinya lebih tinggi dari inflasi.

2.jpg

Tipe investor konservatif umumnya menempatkan portofolio investasinya lebih banyak di tabungan dan deposito berjangka. Sesekali ada juga yang menempatkan di Surat Berharga Negara (SBN) pemerintah karena risiko gagal bayarnya nyaris 0%. Kadang mereka menempatkan aset nya di Reksadana pasar uang atau pendapatan tetap, atau bahkan menabung emas (logam mulia). Investor jenis konservatif pada umumnya memiliki time frame investasi jangka pendek, maksimal mungkin hanya 3 tahun saja. Total aset yang mereka investasikan pun biasanya porsinya lebih kecil, mungkin hanya 10-20% saja secara rata-rata.

Tipe investor konservatif biasanya orang yang sudah hampir pensiun (umur 50-an ke atas) yang baru mau memulai investasi untuk masa pensiunnya. Mereka jelas-jelas tidak mau kehilangan nilai portofolionya dan tidak keberatan jika aset nya bertumbuh hanya 6%-an per tahun. Tipe investor seperti ini juga biasanya ada di kalangan anak muda yang baru pertama kali menabung dan masih baru belajar sehingga belum berani mengambil risiko.

2. Tipe Moderat

Investor dengan tipe moderat sedikit lebih toleran terhadap risiko dibanding tipe konservatif. Bagi mereka, risiko penurunan nilai investasi karena kondisi pasar bisa diterima dengan batasan tertentu, anggaplah maksimal 20% dan mereka sudah paham bahwa fluktuasi investasi lumrah terjadi dan bisa dimitigasi. Investor tipe ini sudah mulai memahami semua jenis investasi dari yang low risk sampai high risk-high return.

6.png

Mindset mereka tentang time frame investasi sudah mulai panjang, umumnya antara 3-10 tahun. Portofolio investasi nya sudah mulai disebar secara merata dari mulai yang defensif seperti deposito berjangka, logam mulia, SBN pemerintah, obligasi korporasi, sampai yang moderat cenderung agresif dari mulai semua jenis reksadana sampai saham. Pembagian presentasi portofolionya kebanyakan masih lebih banyak di investasi defensif, mungkin maksimal sekitar 55-45. Atau bisa jadi di instrumen agresif 55-45 terhadap instrumen defensif

5.png

Tipe investor ini paling banyak di dunia. Bisa dari yang sudah mapan bekerja dan punya penghasilan tetap, sampai yang baru kenal dunia investasi dan mulai naik kelas dari coba-coba berhadiah hehe.

3. Tipe Agresif

Investor tipe agresif merupakan tipe yang adventurous dan cenderung berani mengambil risiko. Mereka sudah sangat paham bahwa capital loss itu pada dasarnya hanyalah floating loss atau rugi di atas kertas saja, bukan realized loss sampai Anda benar-benar menjual portofolio investasi Anda (saham atau RD). Mereka rela mendapatkan floating loss sangat besar (bahkan lebih dari 50% portofolionya) demi mendapatkan imbal hasil yang lebih besar di masa depan. Tapi tolong bedakan investor tipe agresif dengan spekulan yah. Investor agresif tetap memperhatikan startegi investasi, fundamental perusahaan (jika membeli saham), dan membuat exit strategy.

7.gif

Bagi investor tipe agresif, penurunan nilai investasi, misalnya saham, justru dianggap sebagai kesempatan emas untuk menambah pembelian saham karena harganya relatif sedang murah. Sebagai contoh di November 2018, harga saham Unilever (UNVR) longsor mendekati Rp 39.000 per lembar. Tapi di Januari 2019, harganya sudah kembali ke Rp 49.000 per lembar. Investor agresif akan menangkap peluang emas dan melakukan pembelian UNVR pada waktu itu karena yakin harganya akan naik lagi di masa datang.

unvr.png

Mindset time frame investasi bagi mereka lebih dari 10 tahun alias jangka panjang. Portofolio aset mereka sebagian besar ditaruh di instrument risiko tinggi seperti saham atau reksadana saham. Hanya sebagian kecil saja (maksimal 10%) yang ditaruh di instrument defensif seperti obligasi, deposito dan SBN.

Jaman sekarang sudah banyak kalkulator profil risiko buatan perusahaan-perusahaan sekuritas, salah satunya punya Mandiri Sekuritas ini:

https://mandiri-investasi.co.id/id/kalkulator-finansial/profil-resiko/

Silakan saja dicoba diisi untuk tahu tipe investor seperti apakah kita. Penting sebelum memulai investasi agar lebih bisa mengasah strategi investasi untuk mendapatkan return yang maksimal.

Mengenai profil investasi saya sendiri, saya cenderung moderat ke arah agresif. Alasan pertama, dari tujuan investasi saya sendiri, saya tetapkan untuk jangka panjang (> 5 tahun), di antaranya biaya sekolah anak, naik haji, jalan-jalan ke luar negeri, dll. Yang kedua, saya bisa men-tolerir floating loss di portofolio saya hingga pernah -20% di periode berdarah-darah antara Juli-Oktober 2018 hehe.

Portofolio aset investasi saya pun mixed antara yang defensif dan agresif seperti di bawah ini (status as per Januari 2019).

Portofolio aset saya as per Januari 2019 (dalam %)

Sebaran investasi saya terdiri dari aset defensif yaitu 32% deposito berjangka dan 8% SBN. Aset moderat cenderung agresif (Reksadana) sebesar 25%, dan aset agresif yaitu saham sebesar 27%. Sisanya saya taruh di crowdfunding pertanian/peternakan dan menanam modal usaha peternakan joint venture dengan adik saya.

Oia, sedikit tips berinvestasi adalah selalu gunakan “uang dingin”, artinya uang yang anda gunakan untuk investasi adalah uang yang anda yakin tidak akan pernah dipakai dalam jangka waktu lama (kecuali darurat). Jangan biasakan investasi dengan “uang panas” atau uang yang sebetulnya akan digunakan untuk hal lain yang lebih mendesak, apalagi menggunakan uang pinjaman atau hutang hehe…