Singapore Trip 2014 (Part 3)

12 Februari pukul 07.00 China Town masih gelap dan seluruh tamu penginapan Backpackers Inn pun belum ada yang beranjak dari tempat tidur, kecuali si Bule yg tidur di kasur sebelah saya yg nampaknya mau balik ke negaranya. Setelah mandi dan ganti baju kami pun bergegas menuju stasiun MRT menuju ke Vivo City (stasiun Harbour Front) karena agenda hari ini seharian di tempat paling terkenal di Singapur : Resort World Sentosa (RWS).

Pukul 08.00 kita tiba di Harbour Front MRT dan naik ke tangga lantai paling atas untuk menuju Sentosa Island. Ada 2 tempat yang akan kita kunjungi hari ini yaitu Sea Aquarium, akuarium terbesar se-asia tenggara, dan Song of The Sea, sebuah drama musikal dan laser show yang diadakan di Pantai Selatan Sentosa. Sentosa Island adalah pulau buatan yg dijadikan tempat rekreasi terpadu oleh Pemerintah Singapura. Konon pulau ini dibentuk dari pasir yang dibeli dari kepulauan Riau. Menuju Sentosa dapat ditempuh dengan 2 cara : jalan kaki (naik travelator) melewati Sentosa Broadwalk dengan bayar 1 SGD di pintu masuk. Cara kedua adalah dengan naik Monorel dari lantai 3 Vivo City dengan ongkos sekitar 1,5 SGD.

Berhubung masih pagi, Vivo City pun belum buka dan kami memutuskan untuk ke Sentosa dengan jalan kaki via Broadwalk. Vivo City adalah mall terpadu yang didalamnya ada stasiun MRT dan Monorel, pelabuhan Ferry dari Batam dan Malaysia, juga ada pelabuhan kapal pesiar dari Australia dan penjuru dunia lainnya. Karena mall belum buka, ya foto-foto dulu deh seperti biasa.

Dari ujung Vivo City sebenernya udah keliatan tuh yang namanya Sentosa Island, orang jaraknya cuma 1 kilo lebih dikit hehe. Berikut penampakannya kalau dilihat dari sisi Vivo City.

Di Resort World Sentosa ini selain ada Universal Studio juga ada Sea Aquarium, Marine Life Park, Crane Dance, Casino, Lake of Dreams, deretan hotel kelas internasional, dll. Oke kalau gitu mending langsung aja deh jalan ke sana.

Sepertiย  yang saya bilang sebelumnya, Broadwalk ini adalah jalur lantai kayu sepanjang 1,2 kilo dan dilengkapi dengan travelator. Jadi yg males jalan ya bisa tinggal pegang travelator dan sampe di ujung di pintu masuk ke Sentosa hehe. Di tengah-tengahnya ada semacam balkon untuk ambil foto.

Di ujung pintu masuk, kita bisa bayar dengan uang koin 1 SGD atau pakai EZ-Link Card yang biasa dipakai buat MRT. Dari situ tinggal belok kanan dan menuju main hall yang di sana terdapat bola dunia Universal Studio yang terkenal itu ๐Ÿ˜€

Berhubung masih jam 9 lebih dikit, Sea Aquarium pun belum buka. Alhasil kami pun cari spot yang bagus buat dipake foto-foto. Lumayan killing time sambil menikmati pemandangan Harbour Front.

Pukul 10.00 kami pun masuk ke dalam Sea Aquarium dan rupanya interior di dalamnya bagus juga. Ada shipwreck raksasa di main hall yang di dalamnya terdapat toko-toko dan juga dekorasi ala jaman Nabi Nuh. Di lantai paling atas rupanya dipajang beberapa benda-benda semacam peninggalan jaman maritim dari mulai Timur Tengah, India, hingga Indonesia. Bahkan patung lilin nya pun mirip sekali dengan manusia asli.

Dari lantai atas, kita turun ke lantai bawah. Di sini ada semacam peta maritim dunia yang digambar di lantai juga nampak sisi belakang shipwreck yang tadi saya sebutkan. Rupanya dekorasi belakangnya memang perahu Nabi Nuh.

Begitu masuk ke dalam, kita langsung disuguhi pemandangan shipwreck lengkap dengan ikan-ikan raksasa mulai dari pari manta, kerapu, hiu, dll. Mirip Sea World tapi lebih gede lah hehe.

Di dalamnya ada banyak sekali biota laut dari berbagai lautan di dunia. Dan beruntungnya, karena ini working day, pengunjungnya nggak terlalu banyak, paling bocah-bocah SD setempat aja yg jumlahnya sekitar 50 orang.

Sama seperti di River Safari, di tempat ini juga ada main hall, sebuah kaca akuarium raksasa yang dipakai untuk menggelar pertunjukkan lengkap dengan tribunnya.

Kurang lebih 2,5 jam kita menjelajahi Sea Aquarium dan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.30. Yasudah akhirnya kita pulang ke Vivo City naik MRT dan memutuskan untuk makan siang di food court di sana. Di food court Vivo City cukup banyak masakan halal dan kami pun memutuskan pilihan ke Yang Tao Fu yang nampak lezat. Seporsi cuma 4 SGD alias Rp 40 ribu saja (mahal juga sih). Setelah puas makan, kami pun memutuskan balik dulu ke penginapan untuk mandi dan bersiap untuk menyaksikan Song of The Sea sekitar pukul 19.00 nanti. Yang penting tidur siang dulu lah, lumayan capek juga setengah hari ini keliling Sea Aquarium.

 

Sampai di Inn, istirahat sejenak lalu sekitar pukul 4 sore bersiap lagi ke Sentosa untuk melihat Song of the Sea, sebuah drama musikal dengan pertunjukkan laser yg diadakan di pinggir laut di Sentosa. Sampai di Vivo City, ya foto-foto dulu lah di lantai 1 dan lantai 3 nya yg lumayan eye catchy pemandangannya.

Show dimulai sekitar pukul 19.00, jadi masih ada waktu 3 jam lagi sebelum dimulai. Lagian hari juga masih terang, yasudah gak ada salahnya jalan-jalan dulu di Sentosa dan kami pun memutuskan untuk tidak naik monorel namun jalan kaki seperti pagi tadi. Rupanya semakin ke dalam, Sentosa semakin keren. Di dalamnya ada Lake of Dreams, Merlion raksasa, dan juga arena rekreasi iFly yang terkenal itu dimana orang bisa mencoba melayang dengan disembur udara bertekanan kuat dari bawah haha.

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 artinya sejam lagi pertunjukkan dimulai. Yasudah kami pun masuk dan berharap dapet spot yang bagus di dalam. Dan rupanya di dalam masih sepi artinya bisa milih spot bagus untuk nonton pertunjukkan ini hehe.

10 menit sebelum pertunjukkan dimulai, pemandangan bagus pun tersaji, matahari terbenam di ufuk barat yang indah dibalut langit jingga dan kapal-kapal tongkang yang bersauh di laut luas yang sangat menyejukkan mata hehe.

Daaaan, akhirnya pertunjukkan pun dimulai. Musik mengalun, para penari memasuki panggung dan semburan air, kilatan cahaya, kembang api dan laser warna-warni yang sangat cantik berseliweran sepanjang pertunjukkan. Pertunjukkan ini berlangsung sekitar 45 menit dan harga tiketnya sekitar 17 SGD (Rp 170 ribu), lumayan mahal yah hehe.

Pertunjukkan pun berakhir dan semua penonton sangat terhibur. Kami pun memutuskan untuk berjalan kaki kembali ke Vivo City karena monorel pasti penuh hehe. Lumayan bisa foto-foto lagi dan dapet momen Sentosa saat malam hari.

Sesampainya di Vivo City, waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 waktu setempat. Kami pun segera naik MRT ke China Town dan kembali ke Inn untuk beristirahat. Agenda besok adalah jalan-jalan ke Gardens by The Bay (lagi) dan juga wisata kuliner makan Chilli Crab khas Singapur hehe.

to be continued…

Singapore Trip 2014 (Part 2)

Singapur di pagi hari adalah keanehan. Ya, berhubung secara geografis negara ini ada di wilayah WIB (Waktu Indonesia Barat), namun mungkin karena tengsin ama Malaysia jadinya dia nampaknya ngikut zona waktu WITA. Alhasil jam 6 pagi di saat semua orang Singapur memulai aktivitas, hari masih gelap gulita ๐Ÿ˜›

Bangun jam 7 namun hari masih gelap dan nampaknya sangat aneh hehe. Agenda hari ini adalah ke River Safari. River safari adalah suatu taman wisataย  buatan (di Singapur mana ada sih yg ngga buatan :P) yang memiliki konsep river alias sungai, delta, danau, dan segala yang berhubungan dengan dunia air tawar. Cek di website nya deh http://riversafari.com.sg

 

Reservasi tiket untuk berkunjung ke sini sengaja saya lakukan via online (bayar pake kartu kredit) karena ada diskon 5% lumayan lah ya hehe. Harga tiketnya SGD 25 atau setara 250 ribu rupiah per orang kala itu. Mahal juga ya hehe. Tapi gapapa lah mumpung di Indonesia belum ada. Nah berhubung tempat ini ngga bisa dijangkau via MRT, artinya cara ke sini adalah dengan menggunakan taksi atau bus SBS. Taksi harganya pasti mahal lah ya oleh karena itu saya mencoba cari info bagaimana ke tempat ini dengan bus.

Menurut hasil browsingan yang saya lakukan, cara ke tempat ini dpt ditempuh dengan 2 cara yaitu menuju stasiun MRT dan terminal bus Choa Chu Kang lalu naik bus nomor SBS 927 atau menuju stasiun MRT dan terminal bus Ang Mo Kio dan naik bus SBS no 187. Yah karena tempat menginap kita di China Town dan dekat ke Ang Mo Kio jadi kita pilih rute Ang Mo Kio aja deh.

MRT dari China Town ke Ang Mo Kio mengambil rute warna ungu lalu turun di Dhoby Ghaut dan pindah ke jalur merah hingga Ang Mo Kio. Harganya kurang lebih 2 SGD. Dan dari stasiun MRT nya ke terminalnya cuma nyebrang sekali doank. Jangan bayangkan terminalnya macem Cicaheum atau Leuwi Panjang tapi letak terminal ini adanya di mall loh haha.

Terminal bus kayak gini coba haha

Naik ke bus nya juga musti antri lagi ga bisa maen serobot dan sodok sana sini hehe. Ongkos naik bus SBS ini kalau tidak salah 5 SGD atau setara 50 ribu rupiah. Wew agak mahal juga ya. Waktu tempuh dari Ang Mo Kio ke daerah Jurong lokasi River Safari adalah sekitar 30 menit. Jalan menuju ke sana memang tidak seperti Singapur yang banyak gedung sana-sini. Pemandangan di sekitar malah banyak pepohonan, hutan buatan, apartmen-apartmen dan juga danau reservoir air Singapur yang juga buatan hehe.

Setiba di sana pemandangannya jugaย  bagus euy. Rimbun dan masih asri. Nyaris ngga ada sampah apalagi tukang dagang emperan dan taksi-taksinya pun tertib.

Pengelolanya adalah Singapore Wildlife Reserves yang juga mengelola 2 wahana lain yaitu Singapore Zoo, Jurong Bird Park dan Night Safari yang letaknya satu kompleks dengan River Safari. Di dalam river safari, ada 5 macam tema yang dibagi berdasarkan sungai-sungai yg ada di dunia : Missisipi, Nil, Gangga, Amazon, Mekong dan Yangtze. Ada juga Giant Panda Forest (tempatnya si Jia Jia ama Kai yang terkenal itu) dan Amazon River Quest yang sayangnya ketika kita ke sana lagi tutup karena masalah teknis.

Oke masuk ke dalam, rupanya dibuat semacam labirin yang di kanan kiri banyak sekali fauna akuatik khas masing-masing sungai. Dari mulai buaya sungai, piranha, arwana, sampai pesut sungai semua ada. Tempatnya diatur sedemikian rupa sehingga nyaman dan enak buat liat-liat, berhenti, foto-foto dll.

Buaya muara yang moncongnya panjang. Mungkin banyak di Bontang hehe

ย Ikan-ikan sungai yang tampaknya lezat ๐Ÿ˜›

Jangan lupa, disini juga ada si Kai-Kai dan Jia-Jia juga panda merah yang mirip kucing hehe. Pandanya ditempatkan di ruangan ber-AC dan didesain sedemikian rupa mirip habitatnya. Di sini ada juga lab buat memantau kesehatan panda dan juga mengatur menu makanannya yg seimbang. Agak lebay sih tapi ya namanya juga endanger species jadi ya maklumlah hehe.

Panda merah, rasanya ingin miara satu gitu ya.

Oia, tempat ini letaknya persis di tengah-tengah Singapore Reservoir, danau buatan terbesar di Singapur sehingga pemandangannya juga indah karena terletak di tengah-tengah danau.

Singapore reservoir, danau buatan terbesar di Singapur

Di tempat ini juga ada pintu gerbang menuju monyet-monyet kecil super nakal yang saya lupa apa namanya. Yg pasti kalau kita masuk ke dalam, tangan ngga boleh masuk saku dan harus berhati-hati karena mereka bisa nyerang loh hehe.

Tempat ini mirip Sea World karena di tengah-tengah ada akuarium raksasa yang di atasnya isinya ikan-ikan air tawar dari sungai-sungai besar di dunia. Ada juga semacam panggung dan teater dengan kaca akuarium besar buat ‘nonton’ atraksi yang sering dilakukan oleh penyelam setempat.

Di luar River Safari, banyak spot-spot bagus yg bisa dipakai buat foto loh. Salah satunya adalah depan Singapore Zoo dan juga di perahu dan taman bunga di depannya. Berhubung saya ke sana pas hari kerja, jadinya kosong melompong dan bisa foto-foto dengan leluasa hehe.

Singapore Zoo, sayangnya kita gak sempat ke sana..

Wah, bisa jadi spot foto buat pre-wedding nih ๐Ÿ˜›

Setelah puas foto-foto, lanjut makan siang di KFC dan bergegas pulang kembali ke penginapan karena kaki rasanya udah pegel hehe. Jam menunjukkan pukul 13.00 waktu setempat dan perjalanan ke China Town membutuhkan waktu kurang lebih sejam dengan menggunakan jalur transportasi yang sama seperti berangkat.

Sampai di Inn, mandi dan istirahat bentar lalu sekitar pukul 4 sore waktu setempat lanjut deh jalan-jalan sore. Tujuan sore ini adalah cari makan dan jalan-jalan di Orchard. Seperti biasa, sore hari MRT akan sangat penuh dan berdesak-desakan. Apalagi melewati jalur merah yang notabene banyak daerah perkantoran. Sampai di Orchard, keluar dari stasiun kami mengarah ke Lucky Plaza. Di sini ada foodcourt yang jual makanan Indonesia. Maklum lah 2 kali berturut-turut makan Texas Chicken dan KFC rasanya rindu sama nasi hehe. Disini kita pesan gado-gado dan paket ayam timbel yang kalau digabung harganya hampir 20 SGD (200 rebu) gilak!

Sehabis makan saatnya cuci mata ke Nge-Ann-City dan sekitaran Orchard Road yang terkenal itu. Lumayan buat cuci mata aja sih, kalau mau belanja di sini? Mending di Indonesia aja deh hehehe.

Papan nama Orchard Rd yang terkenal itu…

Kabayan tersesat di kota

Fokus foto ini sebenernya si Mbak yang pake baju merah, apa daya ketutupan Setan hehe..

Patung orang warna-warni di depan Louis Vuitton

Ion Plaza, mall dengan arsitektur jempolan

Jam menunjukkan pukul 17.00 waktu setempat, setelah puas jalan-jalan dan foto-foto di Orchard, target kami selanjutnya adalah menikmati pertunjukkan laser di Marina Bay. Dari Orchard ke Marina bay sebetulnya cukup naik MRT jalur merah aja sekali. Keluar di stasiun MRT Marina Bay namun musti jalan cukup jauh. Supaya ga jauh jalannya, lebih enak pindah naik jalur orange dari Dhoby Ghaut dan turun di Esplanade. Dari Esplanade, keluar di teater trus jalan kaki deh dari situ ke Marina Bay di depan Hotel Fullerton.

Tempat ini sangat tidak asing bagi saya karena di dua edisi sebelumnya ya pasti kesini hehe. Berhubung pertunjukkan laser belum mulai, rasanya kita wajib “ritual” dulu deh. Ritual foto di depan Merlion hehe. Seperti biasa, mau hari apa juga pasti yg namanya Merlion di Marina Bay dipadati oleh turis-turis asal Indonesia hehe. Berhubung hari sudah gelap, ya hasil fotonya agak kurang bagus nih.

Dan setelah puas foto-foto di sini, waktu sudah hampir menunjukkan pukul 19.00 waktu setempat yang artinya pertunjukkan laser akan dimulai. Kami pun bergegas keluar dari Merlion dan menuju jembatan depan Hotel Fullerton supaya dapat view yang bagus. Dan memang bagus rupanya hehe.

Pertunjukkan laser berlangsung selama 15 menit dan pertunjukkan berikutnya akan ada lagi pukul 21.00 waktu setempat. Well, setelah puas foto-foto, kami pun beranjak pulang karena kaki rasanya sudah berat karena jalan cukup jauh. Saatnya istirahat karena besok ‘main course’ nya yaitu seharian di Sentosa Island hehe.

To be continued…

Singapore Trip 2014 (Part 1)

postingan kali ini akan membahas kunjungan saya ke negeri Singa bulan Februari 2014 lalu. Ini merupakan kali ketiga saya berkunjung ke negeri Singa dan ngga pernah sekalipun bosen loh hehe. Seperti yang sudah pernah saya tulis sebelumnya, kunjungan pertama saya adalah waktu konser SNSD di 2011, dan yang kedua adalah ketika saya mengikuti pameran di Batam (kunjungan ke Singapur nya cuma 10 jam sih ๐Ÿ˜› ) Kali ini ada yang spesial juga karena jalan-jalan bareng calon istri yang artinya semuanya musti well-prepared hehe.

Singapur, negeri yang menjual engineering dan inovasi. Yup, rasanya negeri jiran yang satu ini punya sesuatu yang jadi point of attraction yang ngga pernah habis dan selalu ada yang baru setiap tahunnya. Kali ini telah diputuskan durasi hari perjalanan adalah sebagai berikut : 10 Feb berangkat dari Bandung dan 15 Feb pulang kembali ke Bandung karena cuti saya hanya sampai tanggal 16 hehe. Berhubung praktis, kami memutuskan berangkat dari Bandung dengan Air Asia dan pulang pun kembali ke Bandung dengan Air Asia. Total biaya yang dikeluarkan untuk pesawat : Rp 1.600.000 per orang P.P.

Berangkat dari Bandung pukul 14.00 WIB, kita sampai di Singapur pukul 17.00 waktu setempat. Yah karena ini udahย  yang kedua kalinya di Changi, kali ini udah ngga katrok lagi lah ya. Kali ini saya memutuskan untuk membawa tas ransel besar sementara cabin (calon bini) bawa tas kecil jadi begitu sampai di Changi langsung ngacir deh ke penginapan. Dan kali ini saya masih mengandalkan penginapan ketika saya berkunjung di kali kedua yaitu Backpackers Inn, sebuah dormitory-style Inn di bilangan China Town, sekamar 6 orang dengan susunan 3 bed tingkat dengan harga SGD 25 (sekitar 200 ribu) per malam. Yah karena kurs SGD lagi tinggi sekitar Rp 10.000 per SGD jadinya kerasa banget mahalnya. Tp ini udah sangat-sangat murah oh..

Oia kali ini saya dilengkapi juga dengan ‘senjata’ Samsung NX2000, sebuah kamera mirrorless yg lumayan canggih dan keren hehe #ngiklan. Setelah bayar-bayar dan menaruh semua barang di penginapan, kami pun bergegas menuju ke destinasi pertama di hari pertama ini : Gardens By The Bay. Yup, meski udah 2 kali ke tempat ini, saya masih belum bosen untuk ke sini lagi karena tempatnya yg sangat unik. Kebetulan cabin yg katanya udah 3 kali ke Singapur juga belum pernah ke sini, jadi we sepakat untuk ke sini. Dari China Town kita naik MRT dengan jalur Downtown, jalur baru berwarna biru yang baru diresmikan di akhir 2013. Dari sana langsung turun di Bayfront dan tinggal jalan kaki sedikit naik ke atas melalui Lantai 2 Hotel Marina Bay Sands yang terkenal itu. Ongkosnya? cuma 1,4 SGD kalo ga salah.

Oia dalam perjalanan ini saya juga disponsori oleh si Babeh yang memberikan secara percuma kartu SingTel yang pulsanya masih ada sekitar 50SGD hehe. Lumayan bisa Always ON selama di Singapur. Sesampai di Gardens by The Bay, matahari sudah terbenam dan suasananya : WOW!

 

Di dua edisi sebelumnya, saya belum pernah naik ke Sky Bridge yang ada di sini. Mumpung sekarang ada kesempatan lagi, ya akhirnya naik lah. Awalnya cabin ngga mau karena takut ketinggian tapi akhirnya berhasil saya paksa hehe. Ongkos naik ke Sky Bridge adalah 5 SGD. Tinggi jembatan ini kurang lebih 10 m dengan panjang hampir 500 meter membentang di antara dua tiang utama yang ada di Gardens by The Bay. Berhubung saya sudah sering manjat-manjat dan naik di equipment pabrik LNG di Bontang, ketinggian segini sih cemen hehe. Pemandangannya keren abis loh dari atas ๐Ÿ˜€

Nah, yang unik di sini adalah setiap pukul 19.45 dan 20.45 waktu setempat, ada pertunjukan light show semacam avatar gitu yang berlangsung sekitar 15 menit. Pertunjukkannya keren abis. Musik dan tata cahayanya bener-bener match banget. Luar biasa lah!

Kita makan malam di Texas Chicken yang ada di dalam kompleks Gardens By The Bay. Harga makanannya ya antara 10-15 SGD lah per orang. Abis dari tempat ini kita mampir dulu ke Clark Quay, tempat wajib dikunjungi yang selalu saya kunjungi di dua edisi sebelumnya hehe.

Dari dulu ingin sekali naik perahunya tapi apa daya mata rasanya udah sepet dan ngantuk. Kaki juga udah pegel gak karuan ya akhirnya pulanglah kita ke INN yang jaraknya cuma 800 m dari lokasi ini.

Agenda besok hari adalah ke River Safari, sebuah lokasi integrated park dengan tema sungai, danau dan hutan. Mudah-mudahan aja seru di sana hehe.

Bersambung ke part 2…

Sea World Days Off [010413]

Wah udah lama rasanya ga ngisi pos tentang travelling. Tapi udah rada basi juga sih karena kali ini yang akan dibahas adalah waktu saya berkunjung ke Sea World sama cabin (calon bini) tahun 2013 lalu dalam rangka family visit alias cuti 5 hari kerja yang diberikan oleh perusahaan saya setelah melalui tahapan probasi 3 bulan.

Sebenernya sih waktu kecil dulu (mungkin SD atau SMP ya) pernah ke Sea World, cuma ya itu berhubung cabin belum pernah ya akhirnya nemenin deh hehe. Sengaja milih hari Senin dengan harapan di sana ngga terlalu rame. Kita berangkat dari Bandung sekitar jam 5 pagi, naik kereta Argo Parahyangan yang paling pagi tentunya. Kenapa naik kereta? yaiyalah hari Senin pagi siapa juga yang mau kejebak macet gila-gilaan di Jakarta hehe. Ongkos seorang Rp 200.000 PP, kereta eksekutif full AC, reclining seat dan ada TV nya ๐Ÿ˜€

Sampai di Gambir sekitar pukul 08.30 dan foto-foto dulu di Monas sambil nunggu Ancol buka sekitar pukul 10.00 WIB. Dari Monas ke Ancol naik taksi kurang lebih setengah jam dengan ongkos Rp 50.000. Harga tiket masuk ke Monas kalau tidak salah Rp 75.000 per orang. Kalau ngga salah loh ya abisnya udah rada lupa ๐Ÿ˜›

Di dalam Sea World ada apa aja? ya standar lah ya hehe. Berikut saya tampilkan fotonya satu-satu :

Ini saya. wah rupanya saya masih kurus ya taun kemaren haha. Berat badan kalo ngga salah masih 80 dan sekarang udah 86 wkwkwk.

Nah ini foto Calon bini yang lagi megang penyu ๐Ÿ˜›

Ikan kerapu purba yang mungkin dagingnya udah sekeras batu kalo mau dimakan

Baju merah ini sekarang udah ga cukup ๐Ÿ˜ฆ

Pas banget ada pertunjukkan ikan pari hehe

fosil ikan purba (mungkin)

fosil ikan pari terbesar yang pernah ada di Sea World

foto dulu berdua :3

Mungkin sekitar 2 jam seluruh Sea World udah berhasil dijelajahin. Berhubung masih sekitar jam 1 siang sementara kita udah beli tiket pulang yang jam 19.30, akhirnya habis dari Sea World kita makan siang dan pindah ke Gelanggang Samudera.

Ada apa di Gelanggang Samudra? ya macem-macem sih tp kebanyakan ya atraksi hewan-hewan laut gitu deh. Di tempat ini kita liat atraksi lumba-lumba dan singa laut yang cukup menghibur. Tiket masuknya kalo ngga salah Rp 95.000 per orang. Nggak lupa foto-foto dulu ๐Ÿ˜›

wah saya udah mulai tambun di sini rupanya ๐Ÿ˜ฆ

Overall, Ancol kalau hari kerja cukup sepi dan enak buat wisata berdua hehe. Menuju Gambir dari Ancol sekitar pukul 17.00 dan sambil nunggu kereta jam 19.30, gak lupa foto-foto dulu di Monas.

 

 

 

 

 

 

Petualangan Baru di Pulau Borneo Part 3

wuiiih udah hampir setaun blog ini mati suri hehe. Maklum lah pemiliknya terlalu sibuk menangani berbagai macam hobi hehe. Dari mulai pindah departemen di tempat kerjaan, hobi main Football Manager, nonton, dll.

Sesuai judul, post ini melanjutkan tentang lingkungan tempat tinggal saya yg baru di kompleks PT Badak. Jadi begini, PT Badak itu perusahaan migas yang cukup aneh. Sistem kerjanya tidak menganut sistem ON-OFF seperti layaknya perusahaan migas kebanyakan namun domisili dan kerja harian layaknya pegawai kantoran. Oleh karena itulah disini dibangun sistem komunitas layaknya perumahan, lengkap dengan seluruh fasilitas yang semuanya gratis!Dari mesjid, gereja, kolam renang, lapangan tenis, trek lari, sampai bowling pun ada. Semua buka setiap hari (kecuali tanggal merah) dan gratis untuk karyawan dan keluarganya. Di sini juga ada semacam wisata alam dari mulai kawasan hutan reservasi buatan, tempat panjat tebing hingga kawasan terpadu pantai dan pulau buatan yang pemandangannya indah sekali hehe.Believe it or not, di tempat saya ini sering muncul buaya, biawak, ular kobra, bekantan, kuntul perak, dan hewan-hewan khas Kalimantan lainnya loh! hehe

Di area Marina di foto di atas, di sana banyak sekali sarana rekreasi dan olahraga untuk pegawai dan keluarganya loh. Dari mulai main-main dan berenang di pantai yang airnya bersih, mancing dengan fasilitas speed boat, berlayar dengan fleet, menyelam, hingga bertamasya dengan keluarga ke Pulau Beras Basah menggunakan speed boat yang besar. Dan lagi-lagi, semuanya gratis loh! hehe

Balik lagi ke komunitas yang dibangun di dalam kompleks perusahaan ini, masing-masing pekerja tetap mendapatkan rumah dinas. Ya semua pekerja permanen diberi rumah dinas. Rumah dinas disini ada tingkatannya sesuai dengan golongan si pekerja tersebut. Rumah dinas lebih dikenal sebagai PC (saya ngga tau apa singkatannya, mungkin Public Community kali ya). Tingkatan yang paling bawah adalah PC 6C, PC6B, PC6A (rumah tipe ini merupakan rumah reguler 120 m2 yang dibuat couple), PC5 (rumah tipe 36), PC4 (rumah tipe 42), PC3A (rumah tipe 60) dan PC3B (rumah tipe 72). Semua rumah di PT Badak hanya terdiri dari satu lantai. Mungkin karena tanahnya luas kali ya hehe. Saya kasih liat beberapa penampakannya deh.

Rumah PC5

Rumah PC4 lama

Rumah PC3A

Ya begitulah, karena di sini daerah pekerja alias karyawan, rata-rata siang hari kompleks ini sepinya luar biasa. Apalagi malam hari. Jam 7 malam saja rasanya sudah kayak tengah malam. Yang kedengeran cuma suara obor aja hehe. Tiap weekend biasanya banyak yang memadati area rekreasi macem taman, Marina, kolam pemancingan, kolam renang dll. Tidak sedikit juga yang ‘mengungsi’ ke Balikpapan dan Samarinda mencari keramaian mengingat di kota ini satu-satunya mall hanya Ramayana dan toko sebesar Borma sudah pantas disebut ‘Plaza’ ๐Ÿ˜›

Yowis, lain kali dilanjut lagi dengan topik yang jauh lebih seru hehe.

 

Petualangan Baru di Pulau Borneo Part 2

lanjut lagi deh ceritanya dikit. Hari berikutnya, agenda para pegawai baru adalah induction dan identification personnel di kantor security. Yup, sebagaimana objek vital nasional (aset terbesar milik bangsa), pengamanan di PTB ini saya rasa sangat ketat dan cukup rumit untuk mencegah masuknya teroris dan sejenisnya. Kebayang kan soalnya kalau sampe disusupin teroris dan kilang ini meledak…. wuih berapa milyar dollar aset negara yg bakal hilang, plus segala macam proyeksi keuntungan dari gas alam cair yg diekspor ke negara-negara maju.

Well, kurang lebih 2 hari berturut-turut saya diidentifikasi oleh petugas sekuriti dan alhamdulillah tidak diidentifikasi teroris haha. Yaiyalah. Dan akhirnya saya dapatkan juga badge (ID card) saya sebagai pegawai baru disini

Oia, kebetulan, apartmen saya mendapat view yg cukup bagus di arah sebaliknya. Yaitu arah flare atau api abadi yg selalu ada di seluruh kilang oil and gas. Konon, api abadi ini akan menyala terus-terusan selama plant beroperasi karena terkait sistem safety nya plant itu sendiri. Di industri oil and gas, ngga semua produk dr minyak atau gas mentah dipakai dan sebagian kecil kandungannya harus dibuang dalam bentuk flare atau dilepas ke atmosfer. Lumayan deh tiap sore dpt pemandangan api abadi ๐Ÿ˜€

Percaya atau tidak, api abadi ini akan menjadi super besar jika plant start-up atau dalam kondisi trip. Ya itu tadi terkait sistem safety yg mengharuskan sebagian kandungan gas yg belum stabil dibuang keluar plant agar tidak membahayakan hehe.

Yaudah, drpd ngomongin hal-hal teknikal dan ilmiah, saya ajak keliling-keliling melihat lingkungan sekitar PT Badak deh. Oia foto-foto ini saya ambil sewaktu saya belum punya kendaraan hohoho

Yang di atas ini penampakan kantor utamanya yg biasa disebut gedung putih, well, karena memang serba putih alias dari keramik. hmmm, sedikit mengingatkan saya pada perpustakan ITB dulu ya haha. Di depannya ada tanaman yg dibentuk dengan logo PT Badak.

Jalanan di sini lebarnya 10 meter minimal dan sepi nya ampun haha. mungkin karena komunitas pegawainya terisolir dari dunia luar jadinya kesannya ekslusif padahal saya sendiri ga suka dengan ke-eksklusifan karena terkesan sombong. Haduh

Di sini juga ada banyak fasilitas olahraga yg super lengkap dan gratis. Cuma gara-gara saya belum punya kendaraan, ya jadinya cuma keliling sampai ke kolam renangnya doank hehe

Kolam renangnya oke punya. Airnya bersih, luas cuma sayang ga ada perosotannya hehe. Di belakang kolam renang itu ada lapangan futsal rumput sintetis, lapangan bulutangkis, dan juga lapangan bola yg cukup luas. Tapi sayangnya saya ga sempet ke sana jd nanti saja saya tunjukin deh hehe

Jalan sedikit lagi rupanya di sini juga ada semacam Alfamart gitu, namanya Tojasera alias Toko Jajanan Serba Ada. Yah tampilannya mirip minimarket pada umumnya sih tp sangat membantu sekali utk menyediakan supplies drpd keluar komplek apalagi buat yang belum punya kendaraan hehe

Kalau masalah harga sih menurut saya relatif sama lah dengan di Jawa sana, mungkin selisihnya maksimal ya Rp 500 aja. Barangnya cukup lengkap dan ruangannya juga nyaman. Sepulang dari sana saya sempatkan mampir melihat lapangan bolanya hehe

Lapangan bolanya lumayan bagus sih.Standar nasional dengan tribun kecil di bagian barat. Ada trek larinya juga. Tapi sayangnya kondisi rumputnya ga terlalu bagus jd ya gitu deh. Penasaran ingin main di lapangan bola ini. Kapan ya? hehe

Berhubung koneksi sy lagi lelet, lanjut lagi nanti deh. Lumayan masih banyak sisi Badak yg belum saya tunjukin hehe

Ciao!

Petualangan Baru di Pulau Borneo Part 1

Ah sebenernya tulisan ini basi banget sih. Karena ditulis sejak 7 bulan kemudian. Tapi ya sudahlah lebih baik iya daripada ngga kan ๐Ÿ˜›

23 taun saya lahir dan besar di Bandung, belum pernah lebih dari sebulan keluar dari Bandung dan menjalani kehidupan di kota lain. Paling lama kemana ya? Mungkin ketika Kerja Praktek di Karawang dan mudik Lebaran sekitar 3 minggu di Malang. Sisanya? Nope. Ga heran kalau saya dijuluki si jago kandang seperti layaknya Persib Maung Bandung hehehe.

Di usia ke-24, menjelang ke-24 tepatnya. Perasaan saya rasanya berkecamuk (halah). 23 tahun di Bandung rasanya Bandung makin sempit dan makin ga senyaman dulu. Ditambah fakta bahwa saya sudah lulus kuliah dan fakta menyedihkan bahwa di kota tercinta itu tidak tersedia banyak lapangan kerja untuk saya lamar (ciee…). Jadi pilihan hidupnya ya buka usaha atau keluar dr Bandung.

Nah di tengah perasaan bimbang antara meneruskan usaha yg sudah saya rintis atau keluar berpetualang (well, actually sy sudah mencoba merintis usaha di bidang bioteknologi, namun rasanya cukup sulit menembus yg namanya birokrasi untuk permodalan). Setelah berpikir cukup lama dan matang, akhirnya saya pun memutuskan untuk mencoba peruntungan nasib di luar Bandung. Kebetulan cita-cita saya setelah ‘banting setir sedikit’ adalah mencari pengalaman di perusahaan besar dan mencoba mendapatkan gain berupa income dan pengalaman yg lebih baik drpd tempat lain. Pilihan itu hanya ada di perusahaan minyak dan gas dan as we know, representasi perusahaan oil and gas di Indonesia sebagian besar ada di Kalimantan.

Dan sesuai dengan tulisan saya sebelumnya, alhamdulillah saya diterima di PT Badak NGL Bontang dan akan memulai petualangan saya pada Januari 2013. Cuma yaitu dia, sebagaimana rasanya jago kandang, rasanya super berat meninggalkan Bandung, keluarga, teman, pacar dan segala hal yg indah utk mengadu nasib utk waktu yg cukup lama. Di perusahaan tempat saya bekerja nanti, semua fasilitas disediakan dan artinya sistem on-off yg selama ini dianut kebanyakan oil and gas company tidak berlaku, well, that means sy harus menetap di sana. Duh!

Akhirnya setelah pikiran berkecamuk (halah) saya memantapkan hati untuk terbang ke Bontang. Dr Bandung, sy harus menuju Jakarta terlebih dahulu untuk kemudian mengambil rute pesawat Jakarta-Balikpapan. Yang memalukan, ini untuk pertama kalinya saya naik Garuda Indonesia gan! Maklumlah meski sudah cukup sering naik pesawat, kebanyakan saya hanya mampu meng-afford penerbangan low cost macem AA, Lion, Sriwijaya, dll hehe

Rupanya naik Garuda itu enak gan! Untuk pertama kalinya saya naik pesawat yg ada tivinya dan diberi full service macem ini. Kapan lagi? hehe. 2 jam perjalanan udara ditempuh dan ketika akan mendarat saya melihat paparan laut Jawa di kejauhan dan artinya kaki saya sebentar lagi akan menginjakkan tanah Kalimantan untuk pertama kalinya. Well, banyak mitos tentang Kalimantan, terutama yg mistis dan aneh-aneh yg saya dapatkan beberapa hari menjelang keberangkatan saya. Lucu-lucu lah, ada yg ngelarang minum air yg disuguhin sama penduduk lokal, ada yg ngelarang membawa benda-benda yg ditemukan di jalan, dan lain-lain.

Di Bandara Sepinggan, saya menuju tempat transit dan rencananya akan naik connecting flight yaitu pesawat charter perusahaan rute Balikpaoan-Bontang. Perusahaan saya ini rupanya punya lapangan udara pribadi yg diperuntukkan untuk jalur transportasi karyawannya. Enak juga ya hehe. Setelah menunggu selama 2 jam, saya akhirnya naik pesawat ATR Indonesia Air. Buat yg belum tau ATR, ini saya tunjukkan gambarnya. Ya, itu adalah pesawat baling-baling, gan! hahaha

Pesawat dengan kapasitas 40 orang ini membawa saya terbang dari Balikpapan ke Bontang hanya dalam waktu 25 menit dibanding dengan perjalanan darat yg ditempuh minimal selama 5 jam. Weleh! hahaha. Itulah fenomena Kalimantan. Banyak jalan-jalan yg dibangun mengikuti jalur penebang kayu sehingga muter-muter ga jelas haha.

Siang hari saya tiba di Bontang, di bandara milik perusahaan tepatnya. Kemudian saya dan teman2 saya sesama pegawai baru dibawa menuju apartmen yg bernama Apartmen Sawo Kecik. Di dalam perjalanan saya cukup takjub melihat lingkungan perusahaan ini. Jauh sekali dari bayangan saya. Di bayangan saya, kanan kiri itu hutan. Eh ini malah hamparan lapangan golf dan bunga-bunga coba haha. Sampai di apartmen, saya langsung ditunjukkan kamar paling ujung yg bernomor 50. Well, ketika saya masuk ke kamar ini, not bad lah. Ada AC, TV, kulkas, kamar mandi dalam, tempat tidur double dan ruangan yg cukup luas. Mungkin kalau di konversikan ke rupiah ini tipe kosan yg lebih dr 2 juta sebulan hehehe.

Lingkungan di sekitar apartmen ini juga hijau dan asri lah. Ada lapangan golf di sebelah timur, pepohonan rimbun dan jalan raya tepat di depan kamar saya (well, kamar saya sebenernya ada di lantai 2) dan suasana nyaman khas di pedesaan gitu lah hehe.

Setelah beristirahat sejenak, saya dan teman2 yg lain pun diminta untuk makan siang sebelum bertemu dengan manajemen untuk safety induction. Maklumlah, plant LNG kyk gini, isu safety itu yg utama jd semua yg baru masuk ke area kilang harus diberikan pemahaman yg cukup njlimet tentang safety. Rupanya ruang makan ada di bangunan terpisah dari apartmen dan bentuknya rupanya mirip kantin mahasiswa gitu lah. Makanan prasmanan dan beberapa round table disusun seperti kantin. Daan, yg bikin excited di sini rupanya ada mesin es krim jaman dulu itu loh. Yg dipencet tuasnya terus eskrim nya keluar melilit lilit hehe

Sehabis makan, kamipun ikut safety induction dan akhrinya pulang menuju apartmen masing-masing. Nah yg lucu, menjelang malam tiba, buset, lingkungan kompleks perusahaan udah macem kota mati aja. Jarang sekali ada mobil berlalu lalang dan orang yang mengobrol di luar atau sejenisnya. Yah, maklum sih namanya kompleks perusahaan yg tertutup dari dunia luar dan juga ini hari kerja, mungkin orang-orang di sini pada capek dan ingin istirahat di rumah hehe. Yasudah hari pertama ini saya tutup dengan kesan excited karena lingkungan yg baru ini begitu bersih, asri, nyaman dan hijau namun di sisi lain saya cukup kaget karena disini luar biasa sepi, jauh dari hingar bingar khas Bandung dimana menjelang Magrib justru kehidupan baru dimulai hehehe. Tp lumayan lah buat tantangan dan petualangan baru yg akan saya jalani, well, mungkin 2-5 taun mendatang hehehe.

Ok, nanti dilanjut lagi, saya akan ajak keliling kompleks sekitar apartmen utk melihat apa aja yg ada di sini, di kota ini dan di perusahaan pencairan gas alam terbesar di Indonesia ini hehehe

Ciao!

The Adventure of The Job Seeker (Part 3)

Nah part 3 ini bisa dibilang part penghabisan deh hehe.

Singkat cerita aja lah ya. 3 minggu setelah tes di kampus UI Depok, saya mendapat pengumuman resmi via email yg menyatakan lulus tes saringan pertama. Baca di email rupanya tempat tes saringan kedua ini adalah di kampus UI salemba. Yah lumayan lah ya jd ga perlu nginep sehari sebelumnya. Jakarta lebih mudah dijangkau cuy ketimbang Depok hehe.

Materi yang akan diteskan rupanya adalah psikotes menyeluruh. Menyangkut tes super nyebelin yg soalnya ada banyak berulang-ulang, tes koran yang legendaris, wawancara dgn psikolog sampai focus group discussion. Well, sepertinya akan lebih menguras otak ketimbang tes pertama.

Hal pertama yg perlu saya siapkan adalah tiket travel. Ahirnya saya cari tuh banyak travel yg punya jam keberangkatan sekitar jam 4 pagi (krn saya tes jam 8 pagi) dan tujuannya dekat ke daerah Salemba. Eh ternyata ga ada donk yg tujuannya ke arah Salemba. Alhasil nekat-nekatan aja deh naik Cititr*ns yg ke arah Sudirman krn ada yg jam keberangkatannya pukul 4 pagi.

Akhirnya berangkat lah sy hari Sabtu subuh ke Jakarta dan sampai di Sudirman sekitar pukul setengah 7. Dari situ nanya-nanya satpam gedung terdekat dan ditunjukkin lah cara naek busway dr Halte GBK menuju ke Salemba. Wuiihh jauh juga men. coba deh liat di peta TransJakarta dibawah ini. Ga nemu kan? haha

hurupnya aja ga keliatan wkwkwk

Singkat cerita saya tiba di kampus UI Salemba sekitar pukul setengah 8 dan sempat makan soto ayam dulu di Alfam*rt sebrang kampus hehe. Jam 8 tes dimulai dan as expected lah soalnya membuat cape hati dan pikiran haha. Tipe soalnya persis sama ketika saya ujian USM atau psikotes umum gitu. Bedanya ya ada sesi 600 soal yg berulang-ulang yg isinya bikin cape hati dah. Tujuan soal ini menguji konsistensi kita dan mengetahui kita bohong atau ngga (serem amat). Plus ada interview mendetil dr psikolog UI, masing-masing peserta dipanggil dan diwawancara secara personal.

Jam 2 lebih dikit seluruh proses tes selesai. Dan setelah makan siang, saya pun pulang. Sebenernya agak males juga sih kalau harus ke Sudirman lagi. Yasudahlah alhasil saya tanya temen saya yg asli Jakarta dan dia bilang Gambir ga jauh dari Salemba. Yasudahlah krn saya ga pernah naik kereta Jakarta-Bandung akhirnya jiwa petualang saya merasa terpanggil dan berangkatlah saya menuju Gambir dengan naik busway.

Baru pertama kali nih naik kereta eksekutif Argo Parahyangan. Rupanya ongkosnya ga beda jauh ama naik travel loh. Kereta eksekutif harganya 90rb, travel skrg udah 75rb gitu. Beda 15 rb doank tp lebih nyaman dan tepat waktu hehe

3 jam perjalanan JKT-BDG ga kerasa dan sore menjelang magrib saya sampai di stasiun bandung dan naik angkot sampe ke rumah.

Bersambung ke part 4 (terakhir) hehehe….

The Adventure of The Job Seeker (Part 2)

Ok, ceritanya diterusin lagi hehe.

Tes hari pertama pun dimulai. Dengan berbekal tanya sana sini dan ngikutin keramaian, saya pun sampai di auditorium Fakultas Teknik UI. Tempatnya bagus dan nyaman.

Tes dibagi jadi 2, hari pertama ini akan diadakan tes TPA dan TOEFL. Sebelum dimulai tak lupa diputar video sekilas mengenai PT Badak NGL dan guess what, saya malah keluar ruangan untuk ke kamar mandi saat video nya diputar haha. Sekilas saya lihat di ruangan ini ada setidaknya 6 orang se-almamater TF ITB yang sama dengan saya. namun duduknya cukup terpisah jauh. Untuk tes TPA, tes nya kira-kira seperti ini nihย http://tespotensiakademik.org/kumpulan-contoh-soal-tes-potensi-akademik-tpa-online-download-gratis

coba download aja di situ. Intinya TPA itu berisi kumpulan soal logika yang harus dijawab dengan cepat dan tepat. Menurut saya sih kuncinya adalah banyak latihan. Beberapa hari sebelum tes ini saya juga menyempatkan diri membeli buku TPA di Gramedia dan cukup sering berlatih. Lumayan kok hasil dr yang sering latihan dan ngga hehehe.

4 jam tes TPA dari jam 8 hingga break makan siang. Enaknya tes di perusahaan besar, makan siang disediakan dan menunya wah banget untuk ukuran mahasiswa hehe. Alhasil saya pun kekenyangan dan curiga malah tidur pas tes kedua nanti haha.

Tes kedua adalah tes TOEFL. Yup yg bahasa inggris itu gan. Dan guess what, rupanya PT Badak meminta bantuan LIA, sebuah lembaha bahasa inggris independen untuk menyelenggarakan tes ini haha. Lah kok seneng? ya iyalah org selama ini saya menuntut ilmu di LIA Bandung dan udah berkali-kali mencicipi TOEFL test nya hehe.

Sesuai prediksi, saya pun sama sekali gak kesulitan dalam mengerjakan tes kedua ini. Gak seperti tes pertama tentunya hehe. Dan dalam waktu 3 jam kurang saya sudah selesai ngerjain dan langsung lah ngacir keluar ruangan karena saya jg harus mikirin dimana saya akan nginep malam ini. Mahal kali kalo nginep di hotel itu lg haha. Saya pun naik bus kampus dan menuju ke arah asrama kampus. Untungnya kantor penjaga asrama belum tutup dan saya masih sempat mengurus administrasi. Thank God ๐Ÿ˜€

Tak lupa makan dulu di kantin asrama karena otak ini udah dikuras selama 8 jam haha. Kantin asrama UI tergolong kotor untuk ukuran standar kampus nasional. Banyak sampah ga beraturan dan makanannya itu loh, banyak lalat jendral haha. Tp karena ga ada piihan lain ya sudahlah saya makan saja di tempat ini ketimbang lapar ๐Ÿ˜›

Menu favorit, sayur daun singkong plus tahu sumedang dan perkedel.. Heaven T.T

Rupanya pak penjaga asrama lagi ga ada di tempat dan baru ada sekitar setengah jam lagi. Yasudah saatnya cari angin dulu deh. Lumayan dapet beberapa pemandangan yang sebenernya sih ga terlalu istimewa haha

Danau besar di UI ini rupanya banyak dipakai oleh mahasiswa untuk kegiatan sore. Ada yg debat, belajar, kumpul-kumpul dan bahkan ada yang mancing donk haha. Katanya sih banyak ikannya dan saya sudah buktikan sendiri memang ada bapak-bapak yang udah berhasil dapet 2 ekor ikan dalam sejam mancing ๐Ÿ˜›

Oia fakta unik lagi di UI itu ada ATM BNI dengan pecahan 20rb haha. Mahasiswa banget ya. Di ITB perasaan belum ada deh ๐Ÿ˜›

Akhirnya penjaga asrama datang juga. Setelah mengisi form dan memfotokopi KTP, saya pun diminta membayar 50rb per malam via ATM 20 rb itu haha. Dan saya pun di antar menuju Asrama Gedung D di kamar no. 2. Pas lah sudah sesuai bayangan saya, kos-kosan dengan tarif 250rb per bulan ya kyk gini hehe

Kamarnya kurang lebih berukuran 2×2 meter dan pengapnya ampun dah hehe. Ditambah lagi banyak banget nyamuk di dalemnya. Akhirnya saya memutuskan ke warung terdekat membeli bom asap untuk mengusir nyamuk. Pas lah, kamar saya kyk kebakaran saking banyak asap nya. tp untunglah nyamuknya pada mati. Asrama UI ini agak serem juga sebenernya. Kamar mandinya terpisah dan untuk kesana mesti lewat lorong panjang yg lumayan gelap. Tp untungnya sebelah kamar saya ada mahasiswa yang ngisi padahal kalo lagi libur gini biasanya kan asrama sepi hehe.

Godaan malam hari datang, hari Sabtu itu rupanya bertepatan dengan SM Town Jakarta dan nyaris saja saya ikut nonton kalo ngga ada tes ini haha. Sepanjang malam niatnya mau belajar eh malah ngikutin live tweet temen2 yg nonton donk. Asemm dah haha. Mana sepanjang malem kamar panasnya kyk sauna gara2 nyalain laptop dan lampu. Alhasil kasur basah semua kena keringet gan ckck. Sengsara banget haha

Pagi pun datang dan hari kedua ini adalah tes Fundamental Engineering (FE). Tes neraka bagi kami para lulusan Teknik Fisika ITB. Mengapa? karena salah satu syarat kelulusan di TF adalah lulus tes FE ini. Tes nya kyk apa? hmmm kurang lebih semua mata kuliah di satukan dan dibuat soal pilihan ganda dengan pola logika yg njlimet. Seharusnya kalo di TF kami diberikan kesempatan menggunakan kalkulator dan diberi buku rumus. Eh, ini ga ada sama sekali dong haha. Jadinya bs ditebak lah ngaco nya kyk apa itu tes. Bahkan saya sendiri yakin hanya 20 soal dari 100 soal yg saya jawab sungguh-sungguh. Sisanya ya feeling so good ๐Ÿ˜›

Menu favorit lagi, sayur toge dan tempe uhuyย 

Pokonya suram abis lah yg namanya hari kedua ini. Ditambah persiapan yang kurang matang gegara kamar yang super pengap jadinya ya hanya bisa pasrah aja sama hasilnya. Hari kedua ini PT Badak kembali memberikan konsumsi dan juga masing-masing dr peserta ujian diberikan ongkos pulang sebesar 300rb cuy! Bayangin 300rb dikali 1000 org yg ikutan tes udah berapa ratus juta tuh keluar duit hahaha. Dahsyat abis emang ini perusahaan ๐Ÿ˜›

Jam 12 tes pun selesai dan tak lupa cari informasi mengenai bus jurusan Depok-Bandung. Usut punya usut rupanya terminal depok ga jauh dari Margo City dan Detos. Yasudahlah sempatkan diri dulu main ke sini hehe.

Berangkat dr terminal Depok sekitar pukul 14.00 WIB dan alhamdulillah sampai dengan selamat di Bandung sekitar pukul 17.00 WIB. Tanpa terasa selama 3 hari ke belakang saya sudah menempuh jarak lebih dari 1000 km cuy! haha

(Bersambung ke part 3)