2020 sudah memasuki bulan Agustus dan kegilaan melanda bursa saham Indonesia di periode Maret dimana IHSG dibanting tanpa ampun dari level 6,000 ke 3,900 (minus >50%) karena kekhawatiran pelaku pasar pada pandemi covid-19 dan membuat para trader ritel kala itu cutloss gila-gilaan.
Untungnya kala itu saya sendiri tetap tenang dan mulai sedikit-sedikit cash-out di saham-saham second liner yang terdampak covid dan mulai mencicil saham-saham blue chip yang dibanting tanpa ampun oleh para big player di bursa.
Portofolio saya di bulan Februari banyak diisi sama saham-saham second liner dan LQ45 nanggung macam BUDI TOTO INKP INDR IPCC MDKI RAJA WTON CLPI mulai saya cutloss dan masuk di saham-saham bluechip yang harganya jatuh >30% seperti BBRI TLKM ICBP. Alhamdulillah setelah madness di periode Maret, IHSG sempat rebound ke level 5,000-an sampai Agustus ini dan kesabaran saya di UNTR (United Tractor) berbuah manis. Sempat -35% di periode Maret, UNTR yang ada sekitar 50% di komposisi portofolio saya, tidak saya cutloss dan saya average down sampai termehek-mehek dan sahamnya sendiri sempat sideways cukup lama di range 13,000 – 16,000 selama berbulan-bulan sebelum akhirnya naik ke 24,000 di agustus ini. Plus sentimen positif di TBLA karena harga CPO yang mulai naik, membuat portofolio saya menghijau sebulan terakhir. Alhasil, portofolio saya mampu menjauh dari IHSG walaupun masih minus hehe.

Posisi IHSG masih -18% YTD dan portofolio saya masih -6% YTD. Di bulan maret, posisi IHSG -32% dan portofolio saya -36% karena terbebani UNTR yang jatuh dari 28ribu ke 13ribu dalam 1 bulan hehe.
Komposisi saham yang masuk di core portofolio saya di Agustus ini adalah sebagai berikut :

Saat ini yang masih jadi pemberat portofolio adalah TOTL dan PZZA karena harganya turun sangat dalam dan kena sentimen negatif dari covid. Namun secara fundamental saya masih yakin dengan kedua saham ini dan pelan-pelan mulai average down setiap mereka turun -10%. Semoga feeling saya kali ini tepat seperti UNTR.
Sedangkan strategi saya di UNTR, karena terbangnya harga saham ini akibat sentimen ‘semu’, karena sentimen naiknya harga emas padahal core bisnisnya adalah tambang batubara (yang harganya masih lesu) dan penjualan alat berat, maka saya akan mulai cash out di posisi profit dan mengurangi porsi di UNTR untuk mulai masuk lagi jika harga sahamnya di bawah Rp 20,000. Duitnya mungkin buat saya tambah posisi di BBRI dan TLKM mumpung masih sideways cenderung turun.
Di samping itu, saya masih berharap dapat bagger (potensi cuan >100%) di saham-saham yang menurut saya potensial : PSSI PZZA TBLA ARNA dan WEGE. Mudah-mudahan naluri saya betul paling tidak 3 tahun ke depan hehe.
Selain itu, di saat pandemi ini, saya juga sudah buka akun trading Miraeasset untuk keperluan trading yang saya pisahkan dari core portofolio saya di Mandiri Sekuritas (MOST). Akun Mirae ini saya pakai untuk membuat skenario trading bertingkat di saham-saham bluechip yang sudah jatuh dalam dari harga tertingginya macem ASII BMRI BBNI INDF MYOR CPIN PTBA, dll. Saya terinspirasi oleh Pak Fransiskus Wiguna (https://wigunainvestment.com/) di channel beliau yang menyebut bahwa tidak ada yang bisa prediksi harga bottom suatu saham. oleh karena itu kita perlu money management untuk membentuk harga yang kita kehendaki di kala krisis seperti sekarang. Simplenya seperti ini, jika saya punya uang 20 juta dan mau dibelikan ASII, saya coba pasang aja secara bertahap di harga sekarang beli 1 lot, nanti setiap turun 5%, saya tambah jadi 2,3,4 lot dst sampai uang 20 juta saya habis seluruhnya. Jika harga ASII beneran turun sampai ke 3,260 seperti bulan Maret 2020 (kayaknya sulit sampai situ lagi), saya akan punya 55 lot ASII di harga 3,835.

Sebuah strategi money management yang sangat baik untuk menjaga “kewarasan” di saat-saat market bearish dan krisis di depan mata seperti saat ini.
Alhasil selama sebulan terakhir, saya sudah masuk bertahap di saham-saham macem ASII MYOR PTBA CPIN BMRI BBNI INDF dan… BRPT (in Pak Prajogo we trust.. hehehe)