Kebiasaan Orang Sukses di Pagi Hari

Pagi hari adalah saat yang biasanya menentukan bagaimana kualitas suatu hari secara keseluruhan. Cara memulai hari berbeda -beda dari satu orang ke orang lainnya. Bila seseorang mengadopsi kebiasaan yang positif dalam memulai hari, niscaya kesuksesan akan ada dalam jangkauan. Lalu bagaimanakah orang-orang sukses memulai hari mereka di pagi hari?

Menurut Kevin Purdy dari FastCompany.com, terdapat sederet kebiasaan produktif yang membuat sebagian orang berpeluang besar untuk lebih sukses daripada mereka yang tidak. Untuk itu, ia mengamati kebiasaan pagi hari sosok-sosok sukses seperti penulis karir Brian Tracy, pembicara motivasi Tony Robbins, David Karp dari Tumblr, dan pimpinan Craiglist Craig Newmark.

Singkirkan email

Pendiri Tumblr David Karp mengatakan akan mencoba keras untuk menghindari memeriksa kotak masuk surat elektronik hingga pukul 9.30 atau 10.30. Karp menganggap membaca email di rumah adalah kebiasaan yang sia-sia dan tak produktif. “Bila memang ada yang perlu disampaikan, seseorang akan menelpon atau mengirimkan pesan singkat,” ujarnya.

Tak semua orang harus meluncur ke kantor begitu sebuah panggilan telepon terkait pekerjaan datang. Mayoritas orang dengan pekerjaan yang tak mengharuskan siap siaga menerima dan melakukan panggilan telepon bisa menggantinya dengan bertukar email setiap saat dan memfokuskan diri pada satu pekerjaan saja.

Dapatkan kesadaran penuh, berterima kasih

Saat terbangun di pagi hari banyak orang yang langsung memeriksa notifikasi di ponsel pintar mereka. Namun, Tony Robbins menyarankan untuk menyisihkan waktu khusus di pagi hari selama 30 menit saja untuk berolahraga ringan, berdoa untuk memotivasi diri, dan yang terpenting berterima kasih atas apa yang suah diperoleh hingga saat ini. Kemudian disarankan untuk membayangkan semua hal baik yang Anda ingin capai hari itu seolah Anda sudah mendapatkannya.

Selesaikan pekerjaan penting dulu

Anda perlu menuliskan pekerjaan-pekerjaan penting dalam sebuah daftar untuk diselesaikan dalam satu hari. Usahakan menuliskannya dengan jelas dan letakkan di meja kerja sehingga mudah dibaca sepanjang hari. Segera selesaikan prioritas tersebut di awal hari.

Manfaat dari mengerjakan pekerjaan sulit di pagi hari ialah Anda akan mendapatkan waktu yang lebih banyak dari orang lain untuk membantu pekerjaan itu selesai. Tak hanya itu, Anda juga bisa menghindari campur tangan yang tak diinginkan dari orang lain yang justru menghambat produktivitas Anda karena mereka memberikan hambatan dalam bekerja.

Tanyakan pada diri sendiri jika Anda melakukan apa yang Anda ingin lakukan

Perasaan tak puas dalam bekerja tak semestinya Anda sadari berbulan-bulan setelahnya, atau bahkan tahunan. Pertimbangkan untuk melakukan upaya sadar dan serius setiap pagi untuk menerapkan nasihat Steve Jobs berikut ini: lakukan pekerjaan yang Anda ingin lakukan hari ini seolah inilah hari terakhir Anda hidup di dunia ini.

Saat Anda menjawab tidak pada suatu pekerjaan selama berhari-hari, mungkin ada yang salah dan Anda perlu memperbaiki keadaan, atau keluar dari pekerjaan itu.

“Layanan pelanggan” (atau hal lain yang setara)

Pendiri Craigslist Craig Newmark mengatakan jam-jam pertama bekerja di pagi perlu difokuskan untuk melayani pelanggan dengan sebaik mungkin.  Di Craiglist, Newmark melakukan layanan pelanggan setiap hari dengan rutin dalam bentuk menanggapi pertanyaan dan keluhan pelanggan Craiglist dan mengenyahkan para penipu di sana. Ia mengatakan terjun dalam layanan pelanggan membuatnya lebih realistis.

Bagaimana dengan Anda, apakah Anda juga memiliki kebiasaan tertentu di pagi hari yang membuat Anda sesukses sekarang?

sumber : http://www.ciputraentrepreneurship.com/mobile-19533-kebiasaan-orang-sukses-di-pagi-hari.html

7 Tanda Anda Tidak Memiliki Mental Entrepreneur

Akhir-akhir ini Entrepreneur sangat sering dibicarakan, dan telah menjadi tren baru dalam dunia bisnis. Anda juga mungkin merupakan salah satu dari orang-orang yang ingin mencoba membuka bisnis sendiri. Mungkin Anda telah melakukan banyak penelitian dan membaca banyak buku tentang Entrepreneur, dan merasa yakin bahwa menjadi seorang entrepreneur merupakan hal yang paling tepat untuk Anda.

Jangan dulu begitu yakin.

Sebelum Anda benar-benar mengetahui segala sesuatu tentang entrepreneur, Anda harus mempertimbangkan beberapa hal seperti berikut :

1.  Anda masih menghabiskan waktu untuk “Me-Time”

Untuk menjadi seorang Entrepreneur, Anda harus siap meninggalkan segala kegiatan yang tidak berhubungan dengan usaha membangun bisnis Anda. Tidak akan ada lagi waktu untuk Anda melakukan hal-hal yang tidak penting dan tidak berhubungan, menghabiskan waktu untuk kepentingan diri Anda pribadi. Anda harus fokus dan menggunakan waktu Anda sebaik mungkin untuk memikirkan cara menghasilkan uang. Jika Anda tidak mampu melakukannya, Anda belum siap menjadi seorang entrepreneur.

2. Anda menghabiskan waktu menghayal tentang kantor Anda

Semua orang yang memulai bisnis nya sendiri pasti menginginkan ruang kantor yang lebih besar, sebagai pemiliknya. Memang Anda pantas untuk itu, tapi kantor yang besar hanya sesuai dengan brand dan bisnis yang besar pula. Jika Anda ingin membuka sebuah restoran, orang-orang tidak akan melihat ruang kantor Anda, sehingga tidak akan bijak untuk mengahbiskan banyak biaya untuk membuat kantor Anda tampak wah.

3. Anda tidak mau melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar

Jika Anda menjadi seorang entrepreneur, Anda mungkin berpikir untuk mempekerjakan orang lain. Itu memang benar, tapi apakah Anda juga menjadi enggan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar, atau pekerjaan ringan lainnya? Mungkin Anda berpikir bahwa membuang sampah bisa dilakukan oleh orang bayaran Anda, dan Anda harus fokus pada pekerjaan yang lebih penting? Jika hal itu membuat Anda enggan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar, maka Anda tidak memiliki jiwa entrepreneur. Seorang entrepreneur mau untuk bekerja keras dan apapun itu jenis pekerjaanya yang dapat menguntungkan dan tidak merugikan bisnis yang ia jalankan.

4. Anda merasa lebih produktif dengan barang-barang baru

Saat menjadi seorang entrepreneur, apakah Anda terdorong untuk membeli gadget-gadget baru? Apakah Anda merasa bahwa Anda membutuhkan barang-barang baru? Ataukah barang-barang baru itu hanya untuk memuaskan ego Anda? Pikirkanlah baik-baik tentang pengeluaran yang Anda lakukan, karena seberapa kecil pun pengeluaran itu, akan sangat berdampak pada bisnis yang Anda jalankan. Apakah Anda memang membutuhkannya?

 5.  Anda masih marah dengan pemotongan biaya

Jika Anda masih tidak bisa mengatasi pemotongan biaya, dan sumber daya yang terbatas, dan masih kesal akan pemotongan biaya, Anda tidak memiliki jiwa entrepreneur. Seorang entrepreneur dapat memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menghasilkan keuntungan bagi perusahaannya.

6.  Anda tidak dapat membagi kehidupan pribadi dan pekerjaan

Jika Anda tidak dapat membagi kehidupan pribadi Anda dengan pekerjaan Anda, dan Anda merasa bahwa Anda terlalu keras bekerja, maka Anda tidak memiliki jiwa entrepreneur. Seorang entrepreneur akan menikmati pekerjaanya sebagai bagian dari hidupnya. Ia tidak akan merasa tersiksa degnan pekerjaannya, karena tidak bisa dipungkiri bahwa pekerjaan sebagai entrepreneur akan lebih berat, karena seluru tanggung jawab ada di beban Anda.

7.  Anda tidak rela membayar sebuah “harga”

Ketika menjalankan bisnis Anda, Anda pun wajib untuk membayar “harga” setiap hari, sama halnya ketika Anda bekerja untuk orang lain. Anda tidak dapat terlepas dari membayar sesuatu dengan uang atau kerja keras, karena hal itu merupakan kewajiban Anda. Sebagai pemilik bisnis, Anda mendapat hak di hari ini untuk bertahan dalam bisnis Anda besok. Dan hak itu diperoleh dari kepuasan konsumen terhadap bisnis yang Anda jalankan dan produk yang Anda jual. Konsumen lah yang menentukan apakah bisnis Anda layak bertahan atau tidak.

dikutip dari  http://startupbisnis.com/7-tanda-anda-tidak-memiliki-mental-entrepreneur/

10 Nasihat Bisnis dari 10 Entrepreneur Top

Untuk seorang entrepreneur terutama yang baru memulai, sangatlah penting untuk berinvestasi tidak hanya dengan dana tetap juga pengetahuan, ketrampilan, pengalaman dan peningkatan kualitas pibadi  secara menyeluruh.  Dan untuk itulah Anda harus pintar-pintar memilih siapa yang menjadi teman dan mentor Anda karena sebagian besar yang membentuk diri Anda sebagai entrepreneur ialah orang-orang di sekeliling Anda.
Namun, jika Anda merasa tidak memiliki banyak teman apalagi mentor yang tepercaya, membaca buku dan literatur lain seperti blog atau situs yang kredibel merupakan sebuah solusi alternatif untuk membentuk pribadi entrepreneur tanpa harus repot-repot memilih teman dan mentor dalam kehidupan sehari-hari. Berikut ini merupakan sepuluh tips dai 10 pebisnis veteran yang dikumpulkan oleh Neil Patel yang menurutnya sangat inspiratif dan penting bagi entrepreneur pemula.

“Tidak ada yang namanya taruhan yang aman” (David Niu – menjual sebuah perusahaan kepada aQuantive dan juga salah seorang pendiri BuddyTV)

Jangan terlalu mudah percaya dengan sebuah tawaran bisnis yang terdengar atau terlihat menggiurkan dan sangat menguntungkan . Biasanya tawaran itu diberikan kepada orang lain termasuk Anda, bukan karena alasannya menguntungkan (karena jika memang sudah 100% benar, orang yang memberitahu Anda pastinya tidak akan mau memberitahu Anda dan berinvestasi sendirian saja). Alasan utamanya lebih untuk mendistribusikan risiko yang mereka akan hadapi dalam berinvestasi di sana. Dengan kata lain, jika tidak berhasil, plaing tidak kerugian mereka tidak sebesar saat sendirian.

“Bersikaplah Mandiri dan proaktif” (Jeremy Schoemaker – menjual sebuah perusahaan ke MediaWhiz dan menghasilkan laba $132.994.97 dari Google per bulannya)

Pertahankan diri Anda sendiri dan janganlah takut dan ragu untuk menghadapi orang lain. Jika Anda membiarkan orang menekan Anda, Anda hanya akan lelah dan muak. Membiarkan diri untuk ditekan memang bisa ditoleransi pada awalnya namun jika intensitasnya makin tinggi dan lama, tidak ada jalan lain selain bersikap asertif karena risikonya ialah Anda dan bisnis Anda akan terpengaruh secara negatif dari tekanan ini. Tegaslah pada diri Anda sehingga tidak terus menerus ditekan oleh orang lain.

“Anda tidak perlu memulai usaha untuk menjadi sukses” (Ben Huh – membeli I Can Has Cheezburger)

Bagi entrepreneur yang berpikiran praktis, mendirikan sebuah usaha dengan tujuan menjadi entrepreneur sukses merupakan hal terakhir dalam otak mereka. Jika Anda berpikiran lebih praktis dan pragmatis, nasihat Ben Huh pastinya akan Anda amini. Cukup dengan survei dan meneliti usaha apakah yang sedang bekembang pesat sekarang tetapi sedang mengalami kekurangan modal, Anda bisa berinisitaif membeli usaha potensial tersebut dan kemudian mengembangkannya dengan lebih inovatif sehingga akan lebih menguntungkan di masa depan.

“Jika Anda mau tetap menghasilkan uang, Anda juga harus tetap menghabiskan sebagian untuk diri sendiri” (John Reese – bapak email marketing dan pemilik Lamborghini)

Logikanya sederhana saja, Anda terus menerus bekerja dan menabung, tetapi Anda melupakan diri sendiri. Anda terlalu ketat dengan rencana keuangan yang sudah disusun hingga tidak ada celah bahkan untuk sedikit menyenangkan diri Anda sendiri. Kendurkan kendali ketat itu sejenak dan belanjakan sebagian uang yang Anda susah payah dapat itu secara proporsional. Secara psikologis, ini kana menimbulkan efek yang baik karena bagaimanapun seorang entepreneur juga berhak untuk menikmat hidup. Kerja keras bukanlah tujuan tetapi alat untuk mencapai kebahagiaan.

Hanya karena Anda punya uang, tidak berarti Anda bisa menghambur-hamburkannya (Andy Liu – menjual sebuah perusahaan ke aQuantive dan merupakan salah seorang pendiri BuddyTV )

Jika  usaha Anda masih dalam tahap perkembangan, agaknya terlalu dini untuk dapat berbelanja dengan leluasa apalagi menjadi boros.  Bagaimanapun juga berhemat ialah satu-satunya hal yang harus Anda lakukan selama fase ini. Kekurangcermatan dalam pengelolaan keuangan hanya akan membuat usaha Anda sulit berkembang.

“Mengumpulkan modal patungan lebih sulit daripada disambar petir” (Guy Kawasaki – penulis, entrepreneur, dan investor malaikat)

Seorang penanam modal yang bersedia memberikan modal pada usaha baru yang penuh risiko biasanya tidak mengerti mayoritas investasi yang dibawa ke hadapannya. Namun jika Anda dapat membuat investor itu berpikir bahwa mereka dapat menyumbang sesuatu pada perusahaan Anda dan bila Anda dapat menunjukkan perkembangan usaha Anda, investor pasti akan merasa kecewa jika tidak menananmkan modal ke usaha Anda.

“Tidak ada salahnya menjadi yang terakhir” (Alex Algard – investor dan pendiri WhitePages.com)

Apabila Anda melewatkan sebuah peluang, siapa peduli, masih ada banyak peluang di luar sana. Lihat siapa lagi yang terlibat dan pertimbangkan dengan masak sebelum mengambil sebuah tindakan dan memutuskan terikat pada sebuah komitmen.

“Tetap terpantau tidak selalu buruk” (Edward Yim – menjual perusahaan kepada Marchex dan mendirikan sebuah perusahaan yang telah beroperasi diam-diam selama bertahun-tahun)

Kuncinya ialah keseimbangan. Menjadi sumber pemberitaan dan buah bibir mungkin memberikan efek yang bagus bagu usaha Anda. Namun, ada kalanya publikasi hanya akan membuat persaingan menjadi lebih ketat dan tajam. Ada baiknya tetap bekerja secara diam-diam dan mencetak untung meski tidak banyak orang yang tahu apa yang sedang Anda kerjakan.

“Jangan menilai sebuah buku dari sampulnya” (Geoff Entress – memperoleh jutaan dengan berinvestasi dalam banyak perusahaan yang diakuisisi atau berubah status menjadi ‘go public’)

Tanpa memedulikan status atau atribut yang menempel pada seseorang, jangan ragu untuk sekedar mendengarkan apa yang menjadi keluh kesah seseorang dan responlah keluh kesah itu. Jangan menghakimi siapapun terlalu cepat karena Anda tidak tahu bagaimana orang itu di masa depan. Ada kemungkinan ia bisa menjadi jauh lebih baik daripada kita.

“Tirulah jejak langkah orang sukses” (Mr. C – berinvestasi lebih awal dalam sebuah perusahaan yang telah go public  )

Menjadi seorang peniru bukan serta merta dicap buruk. Sebagai entrepreneur, tidak ada salahnya Anda meniru apa yang sudah dikerjakan entrepreneur lainnya yang sudah lebih dahulu mencapai puncak kesuksesan. Dengan meniru apa yang mereka kerjakan, Anda memperbesar peluang untuk menjadi sukses seperti mereka. Perbaiki kelemahan-kelemahan yang orang-orang sukses tersebut dan miliki kelebihan dari yang mereka punyai. Dengan begitu, Anda akan menjadi lebih sukses dari mereka.(*akhlis)

Kaum Perantau Lebih Mudah Sukses, Benarkah?

Siapa yang menduga bahwa ada begitu banyak pelaku bisnis dari kaum perantau? Jika Anda amati lebih teliti, tentunya hal itu tidak masuk akal bukan? Banyak kaum perantau yang justru lebih sukses dalam usahanya dibandingkan kaum pribumi yang sudah lama mendiami suatu tempat.
Sebagian besar pendatang/ perantau berasal dari daerah lain yang umumnya lebih terbelakang secara ekonomi. Mereka rata-rata kurang berpendidikan dan tidak seberuntung orang lain dalam berbagai hal.

Lalu mengapa sampai dijumpai banyak kaum pendatang yang bisa mencapai keberhasilan yang menakjubkan? Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa hal tersebut bisa terjadi.

1. Kaum perantau berorientasi pada uang.

Mungkin jarang sekali ditemui seorang pendatang yang mengatakan tidak datang untuk mencari uang di tempat yang baru. Mereka melakukan pekerjaan bukan semata karena mencintainya tetapi lebih karena mereka harus mendapatkan banyak uang untuk membiayai masa depan mereka dan generasi penerusnya. Dengan begitu, anak dan cucu mereka kelak bisa menjalani kehidupan yang lebih mapan dan sejahtera dari mereka sekarang.

Mereka cenderung untuk berpikiran praktis. Mereka berani untuk melakukan semua pekerjaan asal pekerjaan itu mendatangkan keuntungan berlimpah untuk mereka. Kebahagiaan adalah hal terakhir yang mereka pikirkan karena semua tenaga, pikiran dan waktu tercurah untuk mendapatkan uang yang sebanyak-banyaknya.

Sekarang kita dapat lihat bagaimana perbedaan kaum perantau dari kaum pribumi. Kaum pribumi cenderung ditatar untuk menjalani pekerjaan yang mereka sukai, sementara uang menduduki posisi sekian. Dengan pola pikir yang lebih praktis dan pragmatis, kaum perantau selalu berusaha mencetak untung dengan segala hal yang ada di sekitar mereka. Mereka lebih realistis dalam hal pekerjaan dan karir.  Sementara itu, kaum pribumi cenderung lebih idealis. Mereka mengejar pekerjaan dan karir yang mereka damba dan menolak untuk tunduk pada realitas yang ada. Cita-cita seorang pendatang mungkin menjadi pedagang yang sukses, atau seseorang yang kaya. Sangat sederhana dan realisitis. Sementara seorang pribumi lebih memilih untuk bermimpi setinggi bintang. Mereka hendak menjadi astronot, pelukis, pembalap, atau cita-cita lain yang lebih menghabiskan uang daripada mendatangkan untung dalam waktu singkat.

2. Kaum pendatang adalah pecandu kerja.


Tidak ada yang menyukai  bekerja lebih dari para perantau. Tidak ada istilah dalam kamus mereka untuk berhenti menikmati waktu dan hidup. Setiap detiknya adalah uang. Dan tidak semestinya mereka menghabiskan waktu tanpa rasa bersalah. Bekerja selama 40 jam per minggu mungkin terdengar cukup membosankan dan menekan bagi kaum pribumi. Tetapi lain halnya dengan kaum pendatang, semakin panjang jam kerja yang mereka harus jalani, semakin mereka senang karena itu berarti akan ada lebih banyak uang dan penghasilan yang bisa ditabung.

Kaum pendatang bisa bekerja selama 60, 70, bahkan 80 jam per minggu. Mungkin terdengar seperti sebuah fenomena yang tidak sehat bagi keseimbangan hidup seseorang dalam berbagai aspek. Namun, begitulah satu-satunya cara yang mungkin dilakukan demi mendapatkan jumlah uang yang lebih banyak. Bahkan memiliki lebih dari satu pekerjaan penuh waktu bukanlah hal yang aneh ditemui pada kaum perantau.

3. Investor sangat menyukai pendatang.

Sadarkah Anda bahwa kaum pendatang lebih seksi bagi para investor? Mereka menarik investor dengan mudah bak sekuntum bunga menarik seekor lebah untuk mengisap sari madunya. Ketertarikan investor berhubungan dengan karakteristik pendatang yang workaholic. Kaum pendatang umumnya akan bekerja jauh lebih keras dalam suatu perusahaan jika mereka ditawari kepemilikan saham perusahaan yang dimaksud, meskipun itu hanya sedikit. Mereka akan bekerja lebih rajin dibanding jika diupah untuk bekerja 80 jam seminggu.

4. Kaum pendatang sangat keras kepala dan bertekad baja.


Tekad membara untuk meraih cita-cita adalah salah satu kelebihan para pendatang. Mereka tidak ragu bekerja gratis pada awalnya untuk mendapatkan sebuah pekerjaan. Jika mereka ditolak atau dianggap tidak layak, mereka akan berjuang keras untuk membuktikan bahwa mereka tidak pantas untuk ditolak dan layak untuk dipilih.


5. Kaum pendatang tidak boros.

Bagi sebagian kaum pendatang yang mengalami keterbatasan dalam kondisi ekonomi, menabung dan berhemat adalah salah satu bagian terpenting dalam hidup mereka. Tidak ada celah untuk bisa dimanfaatkan sebagai alasan berperilaku boros dan ceroboh dalam pengelolaan keuangan. Mencari uang sangat susah sehingga mereka benar-benar sangat menghargai uang meskipun itu sedikit. Mereka bersedia melakukan segala cara agar dapat menghemat. Tidak ada gengsi atau rasa malu yang harus dipertahankan karena itu bahkan tidak terpikirkan oleh mereka. Mereka secara agresif melakukan penghematan dalam segala aspek. Kaum pendatang selalu bisa menjadi teladan bagaimana menjalani kehidupan yang sederhana dan hemat.

6. Kaum pendatang sangat menghargai ilmu dan pendidikan.

Banyak ditemui generasi awal kaum pendatang yang kurang beruntung dalam hal akademik. Mereka biasanya kaum yang terpinggirkan di tanah asal mereka. Dan mereka datang dengan pikiran yang lain dari pedahulunya. Mereka sangat menjunjung tinggi arti dan peran penting pendidikan dalam kehidupan mereka. Pendidikan yang tepat bisa menjadi awal investasi yang menguntungkan di masa depan. Ilmu adalah properti yang bisa menaikkan kualitas pribadi, yang akhirnya juga menaikkan tingkat pendapatan dan penghargaan masyarakat terhadap diri dan keluarganya. Mereka sadar pendidikan adalah sebuah jalan keluar bagi kesempitan kehidupan yang mereka alami sekarang. Tanpa memandang usia, mereka tidak ragu untuk kembali ke bangku kuliah atau belajar di sektor informal dengan mengambil kursus. Pendidikan adalah tangga yang memungkinkan mereka untuk sampai di strata ekonomi yang lebih baik. Kuliah ekstensi dan jarak jauh secara online adalah cara lain yang biasa mereka tempuh.

7. Kaum pendatang adalah orang-orang optimis yang tidak suka mengeluh.

Seberapapun kerasnya kehidupan yang dijalani kaum pendatang, mereka masih terus dapat bersyukur karena keadaan itu masih lebih baik dari saat mereka belum berpindah ke tempat yang baru. Keluhan jauh dari kehidupan baru mereka karena mereka optimis dalam menjalani kehidupan.

8. Kaum pendatang bersatu padu.

Unsur kebersamaan dan persatuan yang kuat sangat tercermin dalam suatu masyarakat pendatang. Mereka merasa senasib dan sepenanggungan, yang pada gilirannya memperkokoh solidaritas di antara anggota-anggotanya.

Kita bisa lihat kebersamaan itu bahkan saat mereka belum mendarat di tanah asing. Kaum pendatang suka berdatangan dalam jumlah besar, bukan seorang diri. Dan pendatang yang sudah lama menetap di tanah asing biasanya akan dengan sukarela membantu pendatang baru yang masih memiliki banyak keterbatasan, terutama dalam hal ekonomi. Para senior umumnya dengan senang hati mencarikan tempat tinggal, harta benda, pekerjaan, dan sebagainya. Mereka bahu membahu untuk mencapai kesuksesan. Dan saat pendatang yang baru telah sukses, ia akan dengan senang hati juga membantu pendatang lainnya yang belum seberuntung dia.

dikutip dari : http://ciputraentrepreneurship.com/edukasi/3304-kaum-perantau-lebih-mudah-sukses.html#comment-157

————————————————–

semua yg dipaparkan di atas make sense sekali ya. Bukti banyak tersaji di mana-mana. Ambil contoh di Bandung aja. Coba liat orang-orang sukses di sini kebanyakan datang dr luar Bandung bahkan yg keturunan Tionghoa. Orang Bandung nya sendiri memang seperti yg ditulis di atas, kebanyakan cepat puas dan kurang motivasi.

Hal ini juga kadang terjadi sama saya nih 😦 baca ini jadi tersadarkan kalau ternyata paradigma seperti itu yg menghambat kesuksesan. So, alangkah baiknya jika kita merantau ke negeri orang untuk meraih kesuksesan. Kalo ngga gitu ya jalan satu-satunya bekerja lebih giat ketimbang para pendatang. Sanggup? 😀

 

10 Perbedaan Entrepreneur dan Karyawan

Jika Anda cermati, ada 2 kelompok besar di dunia ini, yaitu entrepreneur dan karyawan. Kini kita mengerti bahwa keduanya adalah dua elemen yang saling melengkapi untuk menguatkan perekonomian. Namun, berikut adalah beberapa perbedaan karakteristik yang fundamental yang memisahkan keduanya. Mari kita lihat perbedaan-perbedaan tersebut.

#1

Entrepreneur akan mengejar gairah dan tujuan mereka! Mereka tahu dengan persis apa yang mereka ingin lakukan dalam kehidupan. Karyawan hanya memiliki sedikit gairah dan dorongan untuk mencapai tujuan. Mungkin mereka punya mimpi tapi sering mereka patah arang saat berhadapan dengan orang-orang pesimis karena dianggap gila mau menukarkan kemapanan dan kenyamanan hanya untuk stres menjalani gaya hidup entrepreneur yang tidak pasti.

#2

Entrepreneur suka mengendalikan keadaan keuangan mereka dengan ketat. Mereka bekerja dengan perintah sendiri dan menentukan sendiri berapa banyak yang harus mereka dapatkan atas hasil jerih payah mereka. Mereka dengan leluasa akan bisa menentukan bayaran mereka sendiri. Sementara karyawan tidak bisa secara Mandiri menentukan nilai kerja keras mereka. Hal itu sedikit banyak tergantung pada atasan mereka.

#3

Entrepreneur selalu berkata “harus jadi nomor satu”! Tidak ada yang seantusias itu dalam mengucapkan tujuan mereka menjadi nomor satu. Para pegawai menghabiskan waktu untuk meniti karir dan bekerja keras untuk mendaki jenjang karir yang sudah pasti.

#4

Entrepreneur melakukan sesuatu yang bermanfaat! Tak hanya bagi keluarga, entrepreneur juga biasanya memberikan kontribusi positif bagi masyarakat umum di sekitarnya. Mereka suka memberikan pengaruh positif pada orang lain. Karyawan biasanya mengambil apa yang telah tersedia meskipun itu bukan yang mereka inginkan.

#5

Entrepreneur bisa menghabiskan waktu mereka dengan keluarga dan orang-orang terkasih lebih banyak! Karena mereka memimpin, mereka bisa menentukan waktu untuk keluarga dengan leluasa. Karyawan harus terikat dengan alokasi waktu yang telah ditentukan atasannya agar bisa meluangkan waktu dengan keluarganya. Kini banyak pekerja menghabiskan waktu lebih banyak dengan  para teman kerja dibandingkan keluarganya.

#6

Entrepreneur tak segan ambil risiko! Ini penting karena tanpa keberanian ambil risiko, tidak ada dinamika dalam bisnis dan kehidupan. Risiko memang punya dua mata pisau, yang bisa melukai lawan dan kita sendiri. Entrepreneur tahu bahwa risiko ialah sebuah keharusan untuk mencapai sukses. Pegawai berpikir risiko hanya akan menimbulkan ketidaknyamanan dalam kehidupan. Mereka lebih suka bermain aman dan bermental takut untuk kehilangan apa yang sudah mereka kumpulkan.

#7

Entrepreneur menentukan aturan main! Merekalah orang-orang yang bertanggung jawab atas usaha mereka. Mereka menentukan aturan, jam, dan jadwal mereka sendiri. Sementara karyawan mengikuti aturan yang entrepreneur buat. Karyawan melakukan apa yang disuruh, kapan harus dilaksanakan, dan bagaimana seharusnya pekerjaan dilakukan.

#8

Entrepreneur terus perbaiki diri! Mereka membantu orang mengubah dunia. Mereka menemukan hal-hal baru tentang diri mereka dalam setipa langkah bisnis mereka. Tiap entrepreneur memiliki sesuatu untuk diberikan pada masyarakat dan perekonomian agar menjadi lebih baik. Karyawan cenderung terfokus pada diri mereka sendiri dan tidak belajar atau menemukan hal baru tentang diri mereka.

#9

Entrepreneur menantang status quo! Mereka tahu untuk bisa menjadi lebih baik dan makmur dari sekarang mereka harus melakukan sesuatu yang tidak mau dilakukan oleh orang lain. Inilah mengapa banyak orang berpikir orang yang mendirikan usaha sendiri adalah orang gila. Karyawan lebih suka mengikuti orang lain. Mereka suka mengikuti arus/ tren, bahkan jika arus itu menggiring mereka ke sebuah jurang penuh karang!

#10

Entrepreneur SELALU memiliki alasan mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan. Tanyakan itu pada setiap orang yang memiliki usaha. Mereka tahu alasannya. Alasan itu biasanya dibangun atas dasar emosi dan gairah. Alasan itu bisa berupa inspirasi dari seseorang. Karyawan, sebaliknya, hanya tahu apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka melakukannya, tanpa tahu untuk apa mereka melakukannya.

dikutip dari http://ciputraentrepreneurship.com/component/content/article/37-advise/9118-10-perbedaan-entrepreneur-dan-karyawan.html

============================

mantap! memang benar sepertinya kalo menjalani hidup 9 to 5 alias kerja, mimpi mimpi besar sulit diwujudkan karena keterbatasan waktu yg dimiliki.

Menjadi entrepreneur juga berarti memiliki lebih banyak waktu luang untuk menebar kebaikan, meraih kepuasan hidup dan mencurahkan waktu untuk orang tercinta.

Ayo bercita-cita jadi entrepreneur!