Singapore Trip 2014 (Part 4)

Jumat, 14 Februari 2014. Matahari bersinar terik di China Town. Rupanya waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 waktu setempat. Selepas mandi dan ganti baju, kami pun bergegas ke stasiun MRT, membaur dengan hiruk-pikuk orang yang hendak pergi beraktivitas di pagi hari terakhir kerja mereka.

Dari China Town kami naik MRT jalur biru ke arah DownTown. Berhubung belum pernah turun di tempat ini, yasudah dicoba saja turun di sini. Toh nampaknya yang namanya Singapur kemana-mana dekat dan gak akan mungkin nyasar :P. Oia agenda hari ini adalah menjelajahi Gardens by The Bay, tapi bukan di area lampu-lampunya tapi kita mau ke Flower Dome dan Cloud Forest yang ada di sana yang katanya wow banget hehe. Dan malamnya makan kepiting khas Singapur (Chilli Crab) yang terkenal itu hehe.

Turun di Down Town, kami pun baru sadar rupanya tempat ini ngga jauh dari Marina Bay Sand, tepatnya di sisi timur sekitar 500 m. Dari sana, kita jalan kaki dulu ke area Marina Bay Sand berhubung masih jam 9-an jadi ya santai dulu dan foto-foto dulu hehe.

Matahari baru bangun, jalanan masih sepi, padahal di bawah tanah udah rame banget ama orang hehe

Cuma ada beberapa orang bule yang olahraga pagi di pinggir sungai (?) Singapore River ini

Dapet lansekap pemandangan pagi hari Singapur yang keren ini dengan kamera NX2000 saya hehe

Di pelataran Singapore River situ rupanya disediakan semacam dipan-dipan untuk bersantai dan menikmati pemandangan sekitar. Udah jam 9 padahal tapi sepi banget di sini, mungkin orang-orang pada udah masuk kerja kali ya 😛

Bersantai dan melupakan beban hidup sejenak coy…

15 menit kemudian kita jalan ke Museum Art Science trus lanjut jalan-jalan dan foto-foto di Helix Bridge yang terkenal itu. Di daerah sana pun rupanya masih sepi gan ckck. Heran pada gila kerja memang orang Singapur nih.

Art Science Museum. Padahal ingin masuk tapi belum buka. Ya semoga next time bisa masuk lah

Hellix Bridge adalah jembatan dengan rangka baja yang disusun berulir-ulir mirip rantai DNA (makanya dinamakan hellix hehe). Panjangnya kurang lebih 700-800 m yang menghubungkan sisi daratan sekitar Marina Bay yang dibelah oleh Singapore River. Disini khusus pejalan kaki loh. Sampai di tengah-tengah tak lupa foto dulu dengan latar area Marina Bay 😀

Dari situ kita jalan kaki menyusuri pinggiran Marina Bay Sands menuju stasiun MRT Bayfront. Pokoknya patokan ke Gardens By The Bay ya stasiun itu hehe. Jaraknya lumayan loh. Mungkin sekitar 1 km, makanya ngga heran orang Singapur, Hongkong, Tokyo, dll jarang ada yang obesitas karena terbiasa jalan kaki hehe.

Dan beginilah penampakan Gardens by The Bay di siang hari :

Di Gardens By The Bay ini, terdapat beberapa subsektor di antaranya Supertree, Children Garden, Silver Garden, Meadow, Cloud Forest dan Flower Dome. Semuanya bisa dilihat dengan jelas di dinding-dinding atau di papan penunjuk jalan di seluruh area taman. Atau kalau mau ngga nyasar ya ambil ancer-ancer Supertree dan cari aja deretan restoran-restoran cepat saji di sana ada map petunjuk arahnya.

Tepat jam 11 kami pun bergegas menuju Flower Dome. Harga tiket masuknya adalah 15 SGD sekali masuk per orang atau 28 SGD untuk paket Flower Dome dan Cloud Forest. Karena mumpung disini ya sudah sekalian saja ambil paket ke dua tempat hehe. Kabar yang saya dengar dan baca dari internet, di Flower Dome ini isinya berbagai tanaman dari seluruh dunia yang mampu tumbuh dan hidup di dalam suatu ekosistem buatan di dalam kubah bernama Flower Dome. Sementara Cloud Forest adalah miniatur hutan hujan tropis yang “disimpan” di dalam suatu kubah kaca raksasa tapi ngga ada binatangnya di dalemnya hehe. Bisa gawat kalo ada binatangnya.

Pertama kami masuk ke Flower Dome. Kesan saya begitu masuk, wuiih dingiin banget. Yup, di dalamnya mungkin di set AC dengan suhu dan kelembapan rendah, sekitar 16 derajat dan di bawah 20% RH. Mungkin setting suhu dan kelembapan ini ditujukan untuk membuat tanaman-tanaman di dalam sini mampu tumbuh dan bertahan hidup. Intensitas matahari pun nampaknya diatur karena kalau saya lihat dari kaca yang ada di domenya nampak disusun sedemikian rupa sehingga cahaya ngga langsung nembus masuk ke dalam.

Di dalam Flower Dome ada banyak sekali tanaman. Dari mulai tanaman khas timur tengah dan Afrika (kaktus, dll), tanaman khas Eropa (tundra, tanaman berdaun jarum, dll), Australia, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Asia. Pokoknya buat pecinta dunia flora, disini tempat paling top deh. Di bagian tengah dari Flower Dome pun ada kebun bunga yang di dalamnya banyak sekali macam-macam bunga dari berbagai belahan dunia. Yang lebih hebat lagi, di lantai dasar Flower Dome ada semacam auditorium atau ruang seminar tempat diadakannya kuliah umum atau seminar, jadi seminar sekalian menikmati pemandangan indah yang udah susah untuk dinikmati di kota-kota besar hehe.

Deretan tumbuhan berdaun jarum dan daun-daun jarum yang merambat

Tips sederhana masuk Flower Dome : PAKAI JAKET! 😛

Kaktus-kaktusan khas Timur Tengah dan Afrika

Pemandangan yang diambil dari atas platform Flower Dome

Tanaman khas Amerika Utara

Kebun bunga dari berbagai belahan dunia

Ehem…

Ada spot buat foto juga hehe

Ada patung kuda dari kayu juga lho…

1 jam keliling-keliling Flower Dome nampaknya belum puas. Cuma apa daya karena waktu sangatlah mepet akhirnya kami pun bergegas menuju venue selanjutnya yaitu Cloud Forest. Kesan pertama begitu masuk ke Cloud Forest adalah : Basah dan dingin! hahaha. Gimana ngga? Begitu masuk ke dalem kita langsung disajikan air terjun khas hutan hujan tropis coba wkwk.

Jadi air terjun ini adalah air terjun buatan yang tingginya sekitar 7 lantai ke atas; Kesan pertama saya saat masuk Cloud Forest adalah luar biasa, seolah memang kita sedang berada di tengah hutan namun tidak dengan satwa-satwa yang ada di dalam hutan hehe. Semua ekosistem buatan ini bener-bener mengundang decak kagum. Dari mulai iklim, kabut buatan, suhu, kelembapan, intensitas cahaya matahari sampai suara-suara angin yang ntah asli apa buatan saya udah ngga bisa membedakannya lagi hehe.

Tempat ini terdiri dari 7 lantai, tiap lantai bisa dicapai dengan 4 lift yang terdapat di bagian dalam area. Tiap lantai punya keistimewaan tersendiri namun kalau mau merasakan berjalan di ketinggian 20 meter mengitari dan mengelilingi Cloud Forest langsung aja ke lantai 6 dan 7. Dijamin sensasinya keren abis.

Di lantai 1 ada maket stasiun kereta api tempo doeloe…

Pemandangan dari lantai 3

Pemandangan dari lantai 4 dari arah air terjun The Falls…

Taman kecil di lantai paling atas

Pemandangan dari lantai 7

Setelah keliling sampai ke lantai 7, kami pun turun dengan eskalator menuju lantai paling dasar dari Cloud Forest. Di lantai paling dasar ini rupanya ada semacam sungai, rawa dan berbagai diorama hutan hujan tropis yang sangat mirip dengan aslinya. Oia di lantai paling dasar ini juga disemburkan uap hujan sehingga suasana benar-benar persis sama seperti berada di hutan hujan tropis asli.

Miniatur air terjun dan sungai…

Suasana yang sangat mirip dengan hutan hujan tropis asli…

Oia, di dalam Cloud Forest tepat sebelum pintu keluar ada semacam auditorium dan ruang peraga yang berisi maket serta video 3D mengenai cara kerja Gardens by The Bay yang menurut saya amazing! Mereka memanfaatkan air hujan sebagai sumber air serta energi matahari sebagai sumber listrik. Dan di auditoriumnya juga terdapat film tentang bumi 100 tahun ke depan yang cukup menakutkan hehe.

Setelah 1,5 jam keliling Cloud Forest, kami pun keluar dari lokasi dan menuju ke Silver Garden. Silver Garden adalah taman tepat di pintu keluar Cloud Forest. Berhubung kami mau menggunakan MRT dari Bayfront, bukan dari Downtown seperti saat berangkat tadi, kami pun harus jalan sejauh 1 kilo dan harus melewati Silver Garden. Yasudah deh foto-foto dulu mumpung viewnya sangat cantik.

Pukul 1 siang kami pun pulang dengan menggunakan MRT dari Bayfront menuju China Town. Berhubung masih jam kerja, keretapun kosong melompong hehe…

Siang sampai sore kami memutuskan untuk istirahat saja di Inn dan cuci baju. Agenda malam harinya berhubung ini malam terakhir di Singapur akan kami isi dengan makan Chilli Crab yang harganya ngga terlalu mahal dan yang penting : HALAL hehe. Hasil browsing selama satu jam akhirnya saya memutuskan untuk makan di Food Court di daerah Newton, sekitar 3 stasiun dari Dhoby Ghaut. Menurut kabar sih daerah ini banyak warung makan halal dan harganya cukup terjangkau.

Pukul 18.00 waktu setempat kami pergi dari Inn menuju Newton, kurang lebih 30 menit kami sudah tiba di stasiun Newton dan memang benar seperti yang dibilang di blog seseorang, food court Newton ngga jauh dari stasiun MRT, cukup nyebrang aja. Sampai disana rupanya banyak sekali orang dan pedagang-pedagang yang sangat agresif menawarkan makanan. Namanya Singapur semua makanan dijual dari sea food, makanan haram sampe masakan melayu yang halal. Kami pun mencari warung nomor 31 yang menurut blog enak dan halal.

IMG-20140214-WA0018

Di situ tertulis “All Food Cooked in Vegetable Oil NO PORK NO LARD” hahaha. Yasudah kami pun percaya deh kebetulan si pelayannya pun super geje kalau ngga salah namanya Aceng, seorang China Singapur. Disini kami memesan Nasi Goreng Seafood, Tumis Kai Lan, dan Chilli Crab ukuran 500 gr yang cukup besar untuk berdua. Minumnya cukup teh panas saja hehe. Total harga yang harus kami bayar sekitar 55 SGD atau 550 ribu rupiah waktu itu. Well, berhubung waktu itu baru saja imlek, di sana ada pagelaran Barong Sai yang membuat suasana gaduh dan kurang nyaman.

IMG-20140214-WA0017 IMG-20140214-WA0015

Overall, rasa makanannya cukup enak dan sebanding dengan harga yang kami bayar. Oia tips kecil sebelum makan mintalah plastik agar tangan tidak belepotan. Kami sebenarnya lupa dan baru nyadar pas liat cewe-cewe di sebelah pada pake plastik hehe. Tapi sudahlah toh makan pake tangan lebih nikmat 😛

Pukul 20.00 kami pulang menuju China Town dan beristirahat berhubung rencananya besok akan pulang ke Bandung hehe…

To Be Continued…