Pengalaman Pribadi Mengenai Investasi di P2P Lending / Fintech

Sesuai janji saya bulan lalu, di tulisan kali ini saya coba melakukan review berdasarkan pengalaman pribadi mengenai investasi di P2P (Peer to Peer) lending atau lebih dikenal dengan Fintech.

Sebelumnya DISCLAIMER : ON dulu ya, apa yang saya tulis di blog ini sifatnya hanya pendapat pribadi, dan bukan merupakan ajakan untuk melakukan investasi di instrument investasi tertentu. Untung dan rugi dari hasil investasi yang membaca blog ini di luar tanggung jawab saya sebagai penulis. Nama-nama P2P lending di sini saya sensor karena takut ada pihak yang tersinggung dan bisa kena UU ITE hahaha.

Investasi di P2P lending, termasuk investasi dengan resiko tinggi, mungkin setara dengan menempatkan investasi di saham. Apa itu P2P lending? mungkin banyak yang belum paham. Gampangnya, P2P lending itu semacam calo/makelar yang mempertemukan pencari dana (borrower) dengan orang yang punya dana berlebih yang siap dipinjamkan supaya ada bagi hasil/bunga yang diterima.

Cara Kerja Peer-to-Peer Lending di Investree | Investree
Grafik sederhana P2P lending

Nah, lender di P2P lending rata-rata adalah orang-orang atau pihak yang belum tersentuh industri keuangan konvensional seperti bank, atau memang belum bankable. Artinya, orang tersebut belum memenuhi persyaratan untuk dapat pinjaman dari bank, seperti belum punya agunan/aset jaminan, usaha nya belum menghasilkan untung/profit yang konsisten, dll.

Makanya, seperti saya bilang tadi, resiko P2P lending ini tinggi karena ada resiko gagal bayar yang bisa membuat uang yang kita “pinjami” tadi nggak kembali karena si lender ngga bisa membayar cicilan pokok dan bunga karena usahanya bangkrut/rugi, dll.

Prinsip nomor 1 sebelum investasi di P2P lending adalah filtering P2P fintech yang terdaftar dan berizin OJK. Terdaftar saja belum cukup ya, harus berizin OJK. Mumpung saat ini OJK lagi moratorium izin fintech, seharusnya pilihan fintech yang bener-bener bagus dan prudent jadi terbatas sih. List per tanggal 6 Oktober 2021 bisa dilihat di sini

Nah, setelah diyakinkan bahwa Fintech tersebut sudah terdaftar dan berizin, langkah selanjutnya adalah menentukan tipe Fintech mana yang akan diambil. Fintech yang ada sekarang ini ada yang sifatnya generalist, artinya fintech yang penyaluran dana nya tidak spesifik ke satu bidang usaha, misalnya dia menyalurkan dana untuk perdagangan, peternakan, pertanian, bisnis ritel, dll. Namun ada juga fintech yang spesifik menyalurkan dana nya untuk bidang usaha tertentu, semisal : AM*RTHA yang hanya menyalurkan dana untuk kegiatan bisnis UMKM para wanita/ibu-ibu di daerah yang belum bankable, TERNA*INVEST yang hanya menyalurkan dana untuk usaha peternakan, IGR*W yang hanya menyalurkan dana untuk usaha pertanian dan perkebunan, dll. Kalau fintech yang generalis banyak sekali, contoh ASE*KU, KOI*WORKS, dll.

Nah, setelah memilah-milah berdasarkan sifat penyaluran dana nya, langkah berikutnya adalah cek TKB90 dan reviewnya di google playstore atau google web. Apa itu TKB90? TKB90 yang biasanya dipajang di web P2P lending, adalah ukuran tingkat keberhasilan penyelenggara fintech-peer-to-peer (P2P) lending dalam menfasilitasi penyelesaian kewajiban pinjam meminjam dalam jangka waktu sampai dengan 90 hari terhitung sejak jatuh tempo. Masalahnya, banyak fintech memanipulasi/financial engineering TKB90 ini. Bisa jadi, data TKB90 yang dipajang di website itu bukan 100% akurat, namun dengan memperpanjang tenor pengembalian modal investor tanpa pemberitahuan sebelumnya, sehingga angkanya bagus. Oleh karena itulah perlu crosscek kembali dengan review-review di Playstore atau di google web, apakah banyak yang komplain terhadap P2P ini karena banyak gagal bayar, dll.

Saran penting berikutnya adalah modal yang masuk ke P2P harus dibatasi, maksimal hanya 5% dari total aset kita. Contoh, misal kita punya aset lancar (tabungan, deposito) senilai 100 juta, maka batasi hanya 5 juta aja yang dimasukkan ke fintech P2P.

Saya sendiri sudah sekitar 4 tahunan ikut P2P lending, dengan P2P lending pertama saya adalah IGR*W dan CROW*E. Kita bahas satu persatu dua P2P lending perdana saya, yang mana saya akhirnya kapok invest di sini sampai hari ini hehe…

  1. IGR*W

Seperti sudah saya bahas sebelumnya, spesialisasi P2P ini adalah di perkebunan, peternakan dan pertanian. Suatu misi mulia buat memajukan para petani dan agrikultur di Indonesia. Cara kerjanya adalah mereka kerjasama dengan paguyuban petani lokal, biasanya dalam bentuk CV untuk mengelola kebun dan nanti ada offtaker yang akan ambil dengan harga yang disepakati. Saya sudah 4 kali ikut di sini, 2 berhasil dengan tenor 6 bulan dan 12 bulan dengan yield 8-20% per tahun (yang menurut saya wow sih)

Dan ada 2 proyek lagi di mana 1 proyek sifatnya longterm (10 tahun kontrak), masih berjalan hingga saat ini, dan 1 proyek gagal bayar sudah menggantung sekitar 2 tahunan hingga saat ini :

Precision farming, sudah masuk tahun ketiga, dan laba bersihnya makin ke sini makin turun. Padahal, precision farming ini sempat diblow up media dan pernah dikunjungi Pak Menteri Pertanian loh hehe.. ngga paham saya salahnya di mana. apa manajemennya ngga bisa mitigasi resiko ya? Padahal penjualan sayuran hidroponik dan hasil kebun selama pandemi ini via channel jualan online setahu saya meningkat.

Yang Budidaya Jagung udah ngga perlu ditanya hehe. Inti permasalahannya, jagung yang sudah dipanen, hanya dibeli dengan harga yang murah oleh offtaker, akhirnya profit tidak bisa menutup biaya yang timbul. Saat ini sedang proses penjualan aset ke pihak ketiga, dan belum ada yang mau hehe.

Investasi di P2P ini, modal yang dikeluarkan cukup besar, karena harga 1 saham yang dijual sekitar 2-3 juta rupiah. Dulu, saat saya ikutan, dia belum pakai asuransi sebagai proteksi gagal bayarnya. Jadi kalau ada yang minat ke sini, mending selalu beli asuransi karena sektor pertanian itu resiko gagal panennya besar sekali. at least, kalau beli asuransi, kita hanya kehilangan waktu dan modal 20% aja karena pokok yang diganti sebesar 80%. Tapi masalahnya, asuransi hanya akan diklaim jika pihak lender sudah dinyatakan pailit. Itulah yang membuat kenapa investasi jagung saya di sini ngga segera kembali dana pokoknya hehe.

Kelemahan lain di sini adalah laporan bulanan yang sering telat dan kurang jelas, terkadang juga ngga disertai laporan keuangan/arus kas yang lengkap. Just NO.

2. CROW*E

Mirip seperti IGR*W, di sini P2P dengan spesialiasi proyek pertanian dan perkebunan. Saya mulai ikut di sini sejak 2017 dan sudah masuk sekitar 15-an proyek. Beda dengan IGR*W, di sini nilai per lembar sahamnya dibanderol hanya 500-an ribu aja, jadi lebih terjangkau di dompet.

Awal-awal semua proyeknya berjalan mulus, pengembalian tepat waktu dan sesuai target keuntungan. Tapi setelah berjalan hampir setahun, beberapa proyek mulai macet. Sayangnya seperti di IGR*W awal-awal dulu, di sini juga ngga ada penyediaan asuransi untuk proteksi gagal bayar. Ternyata tipikal-tipikal P2P model gini, mereka kesulitan dan kurang ketat dalam filtering lender dan juga ngga punya tim lapangan yang mumpuni buat tracking progres dan komunikasi dan problem solving. 1 lender juga bisa ngajukan banyak sekali proyek, hasilnya, begitu ada 1 yang macet, semua proyek yang diajukan kena imbasnya.

Saya masih ada 3 proyek nyangkut di sini. 2 proyek ternak bebek dan ayam yang dilakukan suami istri, saat ini statusnya masih nyicil modal pokok dalam 1 tahun ke depan. Untungnya, pasangan suami istri ini masih punya itikad baik untuk mengembalikan modal pokok investor walau harus dicicil 3 tahun. At least investor hanya rugi waktu saja, tapi uang modal masih utuh. 1 lagi proyek tanam edamame di Bogor yang masih menunggu pencairan aset petani.

Kelemahan lain di sini adalah laporan bulanan yang sering telat dan nggak jelas, terkadang juga ngga disertai laporan keuangan/arus kas yang lengkap. Respons CS nya lambat dalam handle pertanyaan. Big NO.

3. TERNAKINV*ST

P2P lending ini dulu namanya TERNAKN*SIA, ganti nama karena dia selain P2P juga ada ecommerce penyaluran daging dan telur. P2P ini sudah saya ikuti dari 2019. Sesuai namanya, spesialisasi nya adalah penyaluran dana ke sektor peternakan. Bedanya dengan P2P yang saya sebut sebelumnya, P2P ini lebih prudent karena ngga sembarangan menawarkan proyek ke investor. Jika dilihat di website nya, dalam 1 bulan, hanya 1-2 proyek aja yang ditawarkan ke investor, karena mereka ini hanya bermitra dengan peternak besar yang punya track record bagus dan terpercaya.

Total proyek yang sudah saya ikuti di sini ada 26, dan dari 20 yang sudah selesai, rekor nya masih 100% alias belum ada yang gagal bayar!! Luar biasa. Tenor investasinya rata-rata 6 bulanan aja dan ada juga yang 1 tahun, yield nya lumayan tinggi tapi ngga terlalu over estimate, sekitar 10% per 6 bulan atau 20% per tahun. Investasi yang no brainer lah menurut saya. cuma nyediakan modal, dan biar tim profesional yang handle, tau2 dapat untung hehe.

Setiap proyek yang ditawarkan dalam bentuk lembar saham, nilai nominal nya 500rb per lembar, jadi masih terjangkau buat ritel kecil. Laporan perkembangan proyek lengkap dan diupdate tepat waktu sebelum tanggal 10 tiap bulan, disertai dengan laporan arus kas juga jadi bisa kita estimasi berapa keuntungan di akhir periode nya nanti. CS nya juga bisa dijangkau dengan mudah melalui WA. Saya ada pengalaman sudah transfer tapi belum konfirmasi dan dananya nyangkut 3 bulan, baru saya sadar setelah cek mutasi rekening. Tak coba komplain ke CS nya, dalam waktu 24 jam dana saya dikembalikan.. Hats off buat CS nya.

Kekurangannya hanya di P2P ini belum ada opsi beli asuransi untuk melindungi risiko gagal bayar. Tapi selama ini manajemennya bener-bener prudent dan belum pernah 1 kalipun gagal bayar. semoga bisa dipertahankan. Strongly recommended.

4. AMAR*HA

Si P2P ungu yang satu ini punya misi sosial yang bagus, yaitu meng-empower emak-emak di desa agar bisa menjalankan usaha mikro buat menambah penghasilan keluarga. Mengingat amar*ha sudah berdiri sejak 2016 dan semakin tumbuh, saya pun coba peruntungan di sini sejak tahun 2020 awal. Perlu diingat, di sini ada lebih dari 100 mitra (istilah lain lender) yang mengajukan proposal peminjaman dana. Kita harus pintar-pintar memfilter mana yang masuk ke dalam kriteria lender yang “sehat” dan bisa bayar cicilan per bulan.

Di sini ada 5 kategori skor kredit yaitu A, A-, B, C, D, dan E. Skor A berarti sudah dinilai oleh tim di sini bahwa si lender ini punya kemampuan bayar yang mumpuni dan peluang gagal bayar kecil. Untuk mitra dengan skor kredit A, bunga yang diberikan adalah 11.5%, skor A- bunganya 12%, skor B bunga 13%, skor C bunganya 14%, skor D 14.5% dan skor E adalah 15% per tahun. Kalau dicek di kontrak nya mereka, bunga yang dibebankan ke mitra adalah 30% per tahun, buat investor seperti di atas, dan sisanya untuk penyelenggara.. Wuihh, besar juga ya, tapi konon, karena target sasaran lender nya adalah emak-emak di desa yang nggak bankable, besar bunga ini masih lebih kecil dari loan shark (rentenir) yang biasa nawarin pinjaman ke mereka. Besar bunga rentenir konon bisa mencapai 50% per tahun!!??

Kita juga bisa memfilter sektor dan lokasi. Misal kita mau mendanai mitra yang dagang kue, dagang buah, dagang warung makan, bertani, dll, dan lokasinya pun bisa milih berdasarkan provinsi. Mulai 2021 akhir, sudah ada opsi crowfunding juga di sini. Sebelumnya minimal pemodalan adalah Rp 4 juta sampai 6 juta per mitra, dan ini cukup berat buat sebagian orang, mungkin karena itulah di sini jadi buka opsi crowfunding minimal Rp 100 ribu. Hanya saja, opsi crowfunding belum menyediakan asuransi gagal bayar, jadi agak beresiko juga menurut saya. Perlu hati-hati kalau pilih yang crowdfunding.

Karena tingginya resiko memodali emak-emak di desa ini, kita perlu define rule of thumb dalam memilih mitra. Rule of thumb saya di sini adalah seperti ini :

  1. Yakinkan credit rating = A
  2. Yakinkan sektor yang dipilih jangan ada Peternakan, Pertanian, Pupuk, dan segala hal yang resiko eksternal nya tinggi. Upayakan sebisa mungkin sektor yang selalu ada yang beli seperti warung, rumah makan, dagang kue, salon, dll
  3. Berhitunglah. Di bagian detail mitra, akan diberitahu berapa penghasilan perbulan mereka. Dan kita perlu bandingkan dengan berapa cicilan pokok dan bunga per minggu dan per bulan. Jika penghasilan per bulan hanya 1.5 juta tapi dia mencicil setiap minggu lebih dari 100rb, maka 1 bulan dia perlu menyisihkan 400rb. Ratio loan dan pendapatan 25%, batasi ratio ini di angka 10%, karena kalau makin tinggi akan tinggi juga resiko gagal bayar karena pendapatan tergerus untuk beli kebutuhan pokok sehari-hari.
  4. Prioritaskan mitra yang sudah lebih dari 1 kali mengajukan pendanaan. Kita bisa lihat riwayat pendanaan sebelumnya di bagian bawah. Usahakan calon mitra yang mau kita danai itu tidak punya catatan “Tidak Bayar”di pendanaan sebelumnya. Kalau hanya “Terlambat Bayar” masih bisa ditolerir. Sayangnya fitur ini sejak 2022 ini sudah dihapus, jadi kita ngga bisa lihat lagi historis pembayaran sebelumnya, suatu kemunduran sih menurut saya
  5. Jangan lupa selalu BELI ASURANSI GAGAL BAYAR untuk menghindari dari keboncosan. Asuransi ini akan mengcover 80% pokok jika mitra bangkrut/pailit atau meninggal dunia. Hanya saja prosesnya lama betul, sampai 90 hari kerja.

Sampai saat ini saya sudah danai 15 mitra, dan statusnya adalah 7 masih berjalan, 1 lunas sampai akhir tenor, 4 lunas dini (mitra boleh melunasi dini pinjamannya, sehingga dia ngga perlu bayar sisa bunga nya), 1 meninggal (dianggap lunas dini) dan 2 at risk (ada salah ketik di websitenya, harusnya lunas dini 5, at risk 2) karena punya keterlambatan cicilan lebih dari 3 kali.

Yang at risk 1 orang berhenti bayar di minggu ke-25 dari 50. sudah di-declare pailit dan sedang menunggu pencairan dana pokok oleh asuransi. Sedangkan yang 1 lagi at risk masih bisa bayar cicilan mesti nunggak seminggu sekali.

So far, impresi saya ikut P2P ungu ini luar biasa ya. walau ada 1 yang beneran default, tapi dengan filtering ketat dan hati-hati, overall masih lancar investasi di sini. Ditambah misi mulia empowering emak-emak di pedesaan, itu yang jadi nilai plusnya. Ibaratnya sambil invest, kita ikut beramal membantu emak-emak yang nggak bankable ini punya akses pemodalan hehe.. Recommended lah.

5. Equity Crowfunding (ECF)

Nah, berikutnya yang akan saya bahas ini adalah model baru dalam investasi P2P, yaitu ECF. Secara simple, ECF itu artinya urun dana, jadi ada suatu bisnis yang perlu pemodalan, si pemilik bisnis menjual sebagian sahamnya ke investor ritel untuk dibeli dan nanti ditukar dengan kepemilikan sahamnya. Mirip-mirip dengan perusahaan Tbk di bursa efek, namun ini skalanya UMKM hehe.

Tingkat resiko di ECF ini sangat besar, jauh lebih besar dari P2P lain hehe. Kenapa sangat besar? karena yang akan didanai ini UMKM, bukan perusahaan-perusahaan yang sudah mantap berdiri seperti di bursa efek.

Resiko pertama adalah penggelembungan valuasi. Karena tidak adanya KJPP (penilai independen) dan auditor sebelum UMKM ini listing di ECF, bisa jadi si pemilik akan menggelembungkan valuasi bisnisnya supaya bisa dapat untung di depan. Misal, bisnis restoran sushi di salah satu mall di Jabodetabek. Kalau dihitung secara fair dari sisi aset, kondisi keuangan, profitability, anggaplah super optimis aja valuasi nya hanya 1-2 Milyar, tapi ngga jarang di ECF ini mereka jual dengan valuasi 3M lebih hehe. itulah minusnya di sini.

Resiko kedua adalah minim compliance dan pengawasan. Nggak seperti di bursa efek, di ECF ini ngga ada regulator yang mengaudit laporan keuangan si UMKM. Jadi seolah-olah investor dibuat percaya saja sama manajemen nya. Mereka hanya berfungsi sebagai makelar yang menjembatani proses penawaran saham dan setelah deal, dilepas begitu saja hehe.

Resiko ketiga, adanya overestimate di prospektus sehingga pas usaha sudah jalan, laba dan pendapatan yang dihasilkan jauh di bawah prospektus. Akibatnya dividen yang dibagikan sedikit dan balik modal menjadi lama

Oia perlu diingat di ECF ini, uang yg kita invest tidak akan kembali kecuali kita jual di pasar sekunder yang dibuka setiap 6 bulan sekali. Namun saham yg kita punya baru bisa dijual 1 tahun setelah kepemilikan. Dari pengalaman yang ada, di pasar sekunder harga sudah jatuh karena itu tadi, estimasi laba di prospektus ngga sesuai kenyataan.

Ada 2 ECF yang saya ikuti, yg pertama adalah SANT*RA atau si merah dan yang kedua adalah BIZ*ARE atau si biru. Si merah dan si biru ini punya nature yang berbeda.

Si merah yang saya ikuti, sangat mengecewakan. Mereka praktis hanya sebagai makelar aja. Setelah pendanaan selesai, si pemilik usaha sudah 4 bulan ngga update laporan keuangan tp tidak pernah ditegur. Keluhan investor ke CS nya lambat dijawab. Very BIG NO. Si merah ini mengutip fee dari uang yang dihimpun pemilik usaha dari investor. Misal lender berhasil himpun 3M, si merah mengutip fee 5-10% untuk biaya makelar.. Easy money hehe

Jualan kambing tapi profit terus tergerus paska pendanaan, trus sudah 4 bulan Lapkeu nggak diupload.. Piye jal??

Si biru masih mending. Di sini spesialisasi nya adalah pembukaan bisnis Alfamidi dan Alfamart, dan restoran baik buka dari 0 maupun take over dari pihak lain. Bagi saya, bisnis minimarket ini sulit digelembungkan valuasinya. Mereka jual valuasi di sekitar 2-3 M per toko yang mana sangat wajar.

Alfamart dan alfamidi. Take over valuasinya 1-2 M tapi buat baru dari 0 include pembebasan tanah valuasinya hampir 5M. Masih wajar lah ya

Bedanya dengan si merah, si biru ini punya minimal investasi per lembar saham di Rp 5 juta. Dan dia langsung mengutip fee ke investor. Dari 5 juta yang kita bayar utk beli saham, kena biaya 250rb rupiah. Lebih mahal jatuhnya sih dari si merah.

Di ECF ini dari mulai masa kampanye sampai bisnis berjalan dan bagi dividen biasanya makan waktu 3-6 bulan. Jadi harus ekstra sabar dan pakai uang super dingin.

Saya sudah ikut 4 proyek alfamidi di si biru. Lokasinya di bekasi 2, pandeglang dan tangerang. So far sudah jalan 2-3 bulan dan dari 4 itu hanya 1 yang masih merugi. Sisanya sudah bagi dividen meski yield hanya 0.5% per bulan atau estimasi 6% per tahun. Lumayan lah masih lebih tinggi dari deposito. Kita lihat bagaimana kelanjutan bisnisnya.

Laporan keuangan di si biru ini menurut saya lebih baik dari si merah. Ada laporan arus kas dan laporan untung/rugi. Progresnya juga diupdate setiap bulan dan CS cukup responsif. Recommended lah

Ini contoh laporan keuangan per bulannya. Cukup komprehensif, tapi sayangnya ngga ada yang audit. Jadi ya cukup percaya saja ke pengelola hehe

Demikian sharing saya kali ini. Mudah-mudahan bisa lanjut lagi sharing pengalaman investasi yang lain di lain kesempatan..

Salam sehat selalu

Portofolio Investasi di Masa Pandemi

2020 sudah memasuki bulan Agustus dan kegilaan melanda bursa saham Indonesia di periode Maret dimana IHSG dibanting tanpa ampun dari level 6,000 ke 3,900 (minus >50%) karena kekhawatiran pelaku pasar pada pandemi covid-19 dan membuat para trader ritel kala itu cutloss gila-gilaan.

Untungnya kala itu saya sendiri tetap tenang dan mulai sedikit-sedikit cash-out di saham-saham second liner yang terdampak covid dan mulai mencicil saham-saham blue chip yang dibanting tanpa ampun oleh para big player di bursa.

Portofolio saya di bulan Februari banyak diisi sama saham-saham second liner dan LQ45 nanggung macam BUDI TOTO INKP INDR IPCC MDKI RAJA WTON CLPI mulai saya cutloss dan masuk di saham-saham bluechip yang harganya jatuh >30% seperti BBRI TLKM ICBP. Alhamdulillah setelah madness di periode Maret, IHSG sempat rebound ke level 5,000-an sampai Agustus ini dan kesabaran saya di UNTR (United Tractor) berbuah manis. Sempat -35% di periode Maret, UNTR yang ada sekitar 50% di komposisi portofolio saya, tidak saya cutloss dan saya average down sampai termehek-mehek dan sahamnya sendiri sempat sideways cukup lama di range 13,000 – 16,000 selama berbulan-bulan sebelum akhirnya naik ke 24,000 di agustus ini. Plus sentimen positif di TBLA karena harga CPO yang mulai naik, membuat portofolio saya menghijau sebulan terakhir. Alhasil, portofolio saya mampu menjauh dari IHSG walaupun masih minus hehe.

1.png

Posisi IHSG masih -18% YTD dan portofolio saya masih -6% YTD. Di bulan maret, posisi IHSG -32% dan portofolio saya -36% karena terbebani UNTR yang jatuh dari 28ribu ke 13ribu dalam 1 bulan hehe.

Komposisi saham yang masuk di core portofolio saya di Agustus ini adalah sebagai berikut :

2

Saat ini yang masih jadi pemberat portofolio adalah TOTL dan PZZA karena harganya turun sangat dalam dan kena sentimen negatif dari covid. Namun secara fundamental saya masih yakin dengan kedua saham ini dan pelan-pelan mulai average down setiap mereka turun -10%. Semoga feeling saya kali ini tepat seperti UNTR.

Sedangkan strategi saya di UNTR, karena terbangnya harga saham ini akibat sentimen ‘semu’, karena sentimen naiknya harga emas padahal core bisnisnya adalah tambang batubara (yang harganya masih lesu) dan penjualan alat berat, maka saya akan mulai cash out di posisi profit dan mengurangi porsi di UNTR untuk mulai masuk lagi jika harga sahamnya di bawah Rp 20,000. Duitnya mungkin buat saya tambah posisi di BBRI dan TLKM mumpung masih sideways cenderung turun.

Di samping itu, saya masih berharap dapat bagger (potensi cuan >100%) di saham-saham yang menurut saya potensial : PSSI PZZA TBLA ARNA dan WEGE. Mudah-mudahan naluri saya betul paling tidak 3 tahun ke depan hehe.

Selain itu, di saat pandemi ini, saya juga sudah buka akun trading Miraeasset untuk keperluan trading yang saya pisahkan dari core portofolio saya di Mandiri Sekuritas (MOST). Akun Mirae ini saya pakai untuk membuat skenario trading bertingkat di saham-saham bluechip yang sudah jatuh dalam dari harga tertingginya macem ASII BMRI BBNI INDF MYOR CPIN PTBA, dll. Saya terinspirasi oleh Pak Fransiskus Wiguna (https://wigunainvestment.com/) di channel beliau yang menyebut bahwa tidak ada yang bisa prediksi harga bottom suatu saham. oleh karena itu kita perlu money management untuk membentuk harga yang kita kehendaki di kala krisis seperti sekarang. Simplenya seperti ini, jika saya punya uang 20 juta dan mau dibelikan ASII, saya coba pasang aja secara bertahap di harga sekarang beli 1 lot, nanti setiap turun 5%, saya tambah jadi 2,3,4 lot dst sampai uang 20 juta saya habis seluruhnya. Jika harga ASII beneran turun sampai ke 3,260 seperti bulan Maret 2020 (kayaknya sulit sampai situ lagi), saya akan punya 55 lot ASII di harga 3,835.

3

Sebuah strategi money management yang sangat baik untuk menjaga “kewarasan” di saat-saat market bearish dan krisis di depan mata seperti saat ini.

Alhasil selama sebulan terakhir, saya sudah masuk bertahap di saham-saham macem ASII MYOR PTBA CPIN BMRI BBNI INDF dan… BRPT (in Pak Prajogo we trust.. hehehe)

 

 

 

Profil Risiko Investasi

Sebelum memutuskan untuk memulai berinvestasi, pertanyaan paling mendasar sebetulnya adalah investor dengan profil seperti apakah Anda? Pertanyaan ini pasti dan selalu akan diajukan oleh perusahaan sekuritas sebelum kita membuka rekening investor. Saya sendiri tidak tahu tujuannya, mungkin hanya untuk data statistik saja atau bisa jadi data profil risiko kita akan berguna bagi tim riset mereka untuk melakukan analisis dan memberi rekomendasi investasi yang pas untuk kliennya.

Investor, berdasarkan profil risikonya terdiri dari tiga macam, yaitu: konservatif (defensif), moderat, dan agresif. Ketiga tipe tersebut sebetulnya dibedakan dari seberapa besar kemampuan dia menerima paparan risiko ketika melakukan investasi. Investasi seperti halnya semua kegiatan yang ada di dunia ini, pasti memiliki risiko. Risiko investasi yang paling besar adalah risiko capital loss, yaitu berkurangnya nilai aset karena penurunan nilai pasar. Contohnya di reksadana dan saham, harga reksadana dan saham anjlok, di deposito, bank dinyatakan pailit dan di-likuidasi, dll. Risiko ini tidak bisa dihindari, tapi hanya bisa dimitigasi dan diminimalkan melalui pengetahuan yang memadai.

1. Tipe Konservatif (Risk Averse) atau Defensif

Investor jenis ini adalah investor yang cenderung menghindari risiko dan ketidakpastian yang tinggi. Mereka tidak mau menderita capital loss sedikit pun di dalam portofolio nya. Bagi mereka, pertumbuhan aset yang cenderung lambat tidak masalah, yang penting aset nya tetap tumbuh stabil dan pastinya lebih tinggi dari inflasi.

2.jpg

Tipe investor konservatif umumnya menempatkan portofolio investasinya lebih banyak di tabungan dan deposito berjangka. Sesekali ada juga yang menempatkan di Surat Berharga Negara (SBN) pemerintah karena risiko gagal bayarnya nyaris 0%. Kadang mereka menempatkan aset nya di Reksadana pasar uang atau pendapatan tetap, atau bahkan menabung emas (logam mulia). Investor jenis konservatif pada umumnya memiliki time frame investasi jangka pendek, maksimal mungkin hanya 3 tahun saja. Total aset yang mereka investasikan pun biasanya porsinya lebih kecil, mungkin hanya 10-20% saja secara rata-rata.

Tipe investor konservatif biasanya orang yang sudah hampir pensiun (umur 50-an ke atas) yang baru mau memulai investasi untuk masa pensiunnya. Mereka jelas-jelas tidak mau kehilangan nilai portofolionya dan tidak keberatan jika aset nya bertumbuh hanya 6%-an per tahun. Tipe investor seperti ini juga biasanya ada di kalangan anak muda yang baru pertama kali menabung dan masih baru belajar sehingga belum berani mengambil risiko.

2. Tipe Moderat

Investor dengan tipe moderat sedikit lebih toleran terhadap risiko dibanding tipe konservatif. Bagi mereka, risiko penurunan nilai investasi karena kondisi pasar bisa diterima dengan batasan tertentu, anggaplah maksimal 20% dan mereka sudah paham bahwa fluktuasi investasi lumrah terjadi dan bisa dimitigasi. Investor tipe ini sudah mulai memahami semua jenis investasi dari yang low risk sampai high risk-high return.

6.png

Mindset mereka tentang time frame investasi sudah mulai panjang, umumnya antara 3-10 tahun. Portofolio investasi nya sudah mulai disebar secara merata dari mulai yang defensif seperti deposito berjangka, logam mulia, SBN pemerintah, obligasi korporasi, sampai yang moderat cenderung agresif dari mulai semua jenis reksadana sampai saham. Pembagian presentasi portofolionya kebanyakan masih lebih banyak di investasi defensif, mungkin maksimal sekitar 55-45. Atau bisa jadi di instrumen agresif 55-45 terhadap instrumen defensif

5.png

Tipe investor ini paling banyak di dunia. Bisa dari yang sudah mapan bekerja dan punya penghasilan tetap, sampai yang baru kenal dunia investasi dan mulai naik kelas dari coba-coba berhadiah hehe.

3. Tipe Agresif

Investor tipe agresif merupakan tipe yang adventurous dan cenderung berani mengambil risiko. Mereka sudah sangat paham bahwa capital loss itu pada dasarnya hanyalah floating loss atau rugi di atas kertas saja, bukan realized loss sampai Anda benar-benar menjual portofolio investasi Anda (saham atau RD). Mereka rela mendapatkan floating loss sangat besar (bahkan lebih dari 50% portofolionya) demi mendapatkan imbal hasil yang lebih besar di masa depan. Tapi tolong bedakan investor tipe agresif dengan spekulan yah. Investor agresif tetap memperhatikan startegi investasi, fundamental perusahaan (jika membeli saham), dan membuat exit strategy.

7.gif

Bagi investor tipe agresif, penurunan nilai investasi, misalnya saham, justru dianggap sebagai kesempatan emas untuk menambah pembelian saham karena harganya relatif sedang murah. Sebagai contoh di November 2018, harga saham Unilever (UNVR) longsor mendekati Rp 39.000 per lembar. Tapi di Januari 2019, harganya sudah kembali ke Rp 49.000 per lembar. Investor agresif akan menangkap peluang emas dan melakukan pembelian UNVR pada waktu itu karena yakin harganya akan naik lagi di masa datang.

unvr.png

Mindset time frame investasi bagi mereka lebih dari 10 tahun alias jangka panjang. Portofolio aset mereka sebagian besar ditaruh di instrument risiko tinggi seperti saham atau reksadana saham. Hanya sebagian kecil saja (maksimal 10%) yang ditaruh di instrument defensif seperti obligasi, deposito dan SBN.

Jaman sekarang sudah banyak kalkulator profil risiko buatan perusahaan-perusahaan sekuritas, salah satunya punya Mandiri Sekuritas ini:

https://mandiri-investasi.co.id/id/kalkulator-finansial/profil-resiko/

Silakan saja dicoba diisi untuk tahu tipe investor seperti apakah kita. Penting sebelum memulai investasi agar lebih bisa mengasah strategi investasi untuk mendapatkan return yang maksimal.

Mengenai profil investasi saya sendiri, saya cenderung moderat ke arah agresif. Alasan pertama, dari tujuan investasi saya sendiri, saya tetapkan untuk jangka panjang (> 5 tahun), di antaranya biaya sekolah anak, naik haji, jalan-jalan ke luar negeri, dll. Yang kedua, saya bisa men-tolerir floating loss di portofolio saya hingga pernah -20% di periode berdarah-darah antara Juli-Oktober 2018 hehe.

Portofolio aset investasi saya pun mixed antara yang defensif dan agresif seperti di bawah ini (status as per Januari 2019).

Portofolio aset saya as per Januari 2019 (dalam %)

Sebaran investasi saya terdiri dari aset defensif yaitu 32% deposito berjangka dan 8% SBN. Aset moderat cenderung agresif (Reksadana) sebesar 25%, dan aset agresif yaitu saham sebesar 27%. Sisanya saya taruh di crowdfunding pertanian/peternakan dan menanam modal usaha peternakan joint venture dengan adik saya.

Oia, sedikit tips berinvestasi adalah selalu gunakan “uang dingin”, artinya uang yang anda gunakan untuk investasi adalah uang yang anda yakin tidak akan pernah dipakai dalam jangka waktu lama (kecuali darurat). Jangan biasakan investasi dengan “uang panas” atau uang yang sebetulnya akan digunakan untuk hal lain yang lebih mendesak, apalagi menggunakan uang pinjaman atau hutang hehe…

Membuka Rekening Investasi

Topik kali ini adalah memulai berinvestasi di reksadana (RD) atau saham. Sebagai informasi, saya memulai memasuki dunia investasi sejak tahun 2015. Saya memulai investasi dari Reksadana. Karena saya bekerja dan tinggal di kota kecil bernama Bontang, hal yang dulu saya lakukan adalah mendatangi bank Mandiri setempat dan mengatakan kepada CS nya bahwa saya ingin membeli Reksadana. Waktu itu, nggak semua CS Mandiri paham apa yang saya mau, jadi saya diarahkan ke PIC yang paham dan diminta mengisi formulir dan menyerahkan foto copy KTP dan buku tabungan. Proses nya kira-kira 30 menit dan saya diminta menunggu 1×24 jam. Setelah itu baru melakukan pembelian lagi.

Reksadana yang pertama kali saya beli waktu itu adalah Mandiri Investa Equitas Dinamis (MIED) dan BNP Paribas Infrastruktur Plus (BPIP). Waktu itu, setiap melakukan pembelian, saya harus datang ke Bank Mandiri setempat dan melaporkan ke CS. Sungguh sangat tidak praktis bagi para milenial hehe. Monitoring harga RD nya pun hanya bisa dilakukan sebulan sekali melalui surat pemberitahuan yang dikirim pakai pos ke rumah. Yah, jaman sudah canggih tapi pemberitahuan masih dikirim via kertas dan tidak up to date hehe.

Di tahun 2017, saya mulai mengenal platform online untuk membeli Reksadana dari teman saya. Namanya bareksa.com dan indopremier.com (IPOT). Kedua situs ini menyediakan layanan jasa pembelian Reksadana (dan juga saham untuk IPOT) dengan mudah, cepat, dan berbasis online kesukaan generasi milenial. Proses pendaftarannya pun sangat mudah. Waktu 2017 saya buat akun di IPOT, waktu itu masih ada beberapa formulir yang harus diisi secara hardcopy dan dikirim balik ke kantor IPOT di Jakarta. Tapi sekarang, kalau mau buat akun reksadana, semua bisa dilakukan paperless dan bisa dengan tanda tangan digital. Pengganti materai nya adalah video call dengan memegang KTP dan berbicara dengan customer service nya. Mudah sekali kan? Yang lebih hebat, sekarang beli Reksadana pun sudah bisa melalui OL shop seperti Tokopedia dan Bukalapak hehe.

Beli Reksadana bisa melalui keempat penyedia jasa ini

Oia, sebelum sharing pengalaman membuka akun Reksadana (dan saham), saya ingin menjelaskan sedikit alur kerja dari Reksadana. Jadi begini, seperti yang pernah saya bahas di laman ini, RD itu ibarat kita menitipkan uang kita ke Manager Investasi (MI) dan biarkan dia mengelola uang kita sesuai kebijakannya. MI menjual produk investasi RD dengan harga yang terjangkau (minimal Rp 100,000) karena sifat RD adalah mutual fund atau dana yang dihimpun dari beberapa investor. Pihak yang berhak mengeluarkan produk RD adalah perusahaan sekuritas yang terdaftar dan diawasi OJK. IPOT dan Bareksa hanya penyedia jasa saja (agen penjual) dan di dalam situs mereka tersedia ratusan pilihan RD dari mulai pasar uang, pendapatan tetap, campuran, saham dan ETF. Tugas kita sebagai investor ya memilah-milah jenis RD dan produk perusahaan sekuritas atau MI mana yang cocok dengan profil resiko dan keinginan kita. Contoh list RD punya IPOT bisa dilihat di sini. Bedanya dengan waktu saya beli RD di Bank Mandiri, produk RD yang mereka punya hanya yang keluaran Mandiri Sekuritas atau yang terafiliasi dengan Mandiri Sekuritas seperti BNP Paribas dan Batavia.

Dalam memilih RD, kita perlu melihat yang namanya Prospektus. Prospektus adalah ikhtisar kebijakan MI dalam mengelola produk RD nya dari mulai berapa porsi yang ditempatkan di instrument pasar uang, obligasi, saham, serta kebijakan fee, laporan laba rugi dll. Prospektus bisa dilihat di situs resmi MI tersebut atau bisa juga dilihat melalui IPOT dan bareksa. Contoh jika melalui situs MI, kita bisa akses punya Sinarmas di sini. Silakan di-klik bagian Prospektus dan dibaca saja hehe.

Menentukan RD juga perlu melihat historical performance dari RD tersebut. Dengan mudah dapat kita lihat chart performa masing-masing RD di IPOT atau bareksa. Tapi perlu diingat, kinerja masa lalu tidak selalu sama dengan kinerja masa depan, dan sebaliknya hehe.

Kembali ke topik alur kerja RD, dan juga saham pada umumnya, semua dana investasi kita tidak dipegang oleh MI ataupun broker (untuk kasus saham). Dana akan diserahkan kepada Bank Custodian (Bank BUMN atau swasta) dan Bank akan melakukan settlement dana. Setelah dana settled, selanjutnya proses administrasi kepemilikan efek atau RD kita akan dicatat oleh lembaga yang bernama KSEI dan KPEI. KSEI (Kustodian Sentra Efek Indonesia) adalah perusahaan yang didirikan oleh Pemerintah untuk melakukan administrasi dan penyelesaian efek baik Reksadana maupun saham. Sedangkan KPEI (Kliring Penjaminan Efek Indonesia) melakukan kliring administrasi dan menyimpan data aset-aset kita dalam bentuk digital seperti data berapa lembar/lot saham yang kita pegang, berapa unit RD yang kita punya, dll.

Ketika membuka rekening saham atau RD, yang kita lakukan adalah mendaftarkan diri kita ke KSEI dan nanti akan mendapatkan SID (Single Investor Identification). SID adalah nomor tunggal identitas investor, jadi kita mendaftarkan diri kita ke KSEI sebagai investor, nanti mendapatkan nomor unik semacam NIK di KTP gitu. Sebagai bukti kepemilikan SID, kita akan diberi kartu Akses KSEI, semacam KTP nya investor, setelah punya kartu ini kita bisa aktivasi akun di situs KSEI dan melihat data diri kita seperti kepemilikan saham & reksadana, historis transaksi, dll.

Berikutnya, bagaimana cara membuat akun untuk membeli RD dan saham? Saya share saja pengalaman saya di 3 akun yang saya punya yaitu IPOT, Bareksa (khusus RD dan SBR) dan MOST (Mandiri Online Securities Trading).

1.  IPOT

Cara mendaftarnya mudah sekali. Masuk saja ke  situs  IPOT ini, install apps nya dan ikuti petunjuk yang ada di dalamnya seperti pengisian biodata, nomor rekening bank, NPWP, dan terakhir melengkapi data diri dengan mengirimkan foto diri sedang memegang e-ktp dan membubuhkan tandatangan digital di bagian akhir proses registrasi. Pengisiannya hanya 5-10 menit dan verifikasi akan dilakukan di hari kerja oleh CS nya.

Kalau belum punya e-ktp, bisa melakukan manual registrasi seperti jaman saya dulu buat karena belum ada pendaftaran online di sini. Nanti akan dipandu di laman widget nya dan ikuti saja proses-prosesnya. Kalau dulu, setelah pengisian manual ini, saya dikirim berkas ke alamat rumah, nanti tinggal membubuhkan tanda tangan dan menempel materai. Setelah itu kirim balik via pos. Kayaknya kalau sekarang sudah tidak lagi seperti itu karena kecanggihan teknologi. Oia, khusus IPOT, mereka membuka pilihan membuat akun syariah. Jadi nanti jika pilih opsi ini, baik pilihan RD maupun list saham yang ada untuk dibeli, semua yang berjenis syariah. Silakan dicoba saja, prosesnya pun cepat dan mudah.

Oia, nanti ketika aplikasi permohonan kita sudah di-approve, kita akan dibuatkan juga Rekening Dana Nasabah (RDN). Nah saya tidak tahu untuk saat ini, tapi waktu saya buka dulu, RDN saya adalah BCA. Sepertinya akan ada pilihannya dan lebih bagus RDN itu “mengekor” rekening bank kita yang paling sering kita gunakan. Contoh, kalau punya Mandiri, lebih baik RDN nya pilih Mandiri saja. Untuk kasus saya, karena saya punya BCA, jadi nanti di akun BCA existing saja akan ada menu RDN. Kita bisa lihat isi saldo dan portofolio efek yang kita punya.

Sebelum membeli RD atau saham melalui IPOT, RDN ini harus diisi terlebih dahulu. Caranya, lakukan transfer manual (bisa lewat ATM atau mobile banking) ke rekening RDN. Makanya saya sarankan RDN sama dengan bank yang kita sering gunakan agar biaya transfernya gratis. Nanti saldo RDN bisa dengan mudah kita amati di menu IPOT yang bernama Cash Info.

Setelah daftar IPOT dan dapat akun serta RDN, langkah selanjutnya tinggal install apps nya di playstore atau Appstore. Tampilannya user friendly seperti ini.

Di IPOT kita bisa melakukan pembelian Reksadana maupun saham. Karena saya hanya menggunakan IPOT untuk membeli RD saja, maka saya kenalkan menu-menu nya. Seperti sudah disinggung sebelumnya, ada ratusan RD yang tersedia di IPOT. Masuk saja ke menu List Reksadana dan coba lakukan filtering sendiri dengan mudah untuk mem-filter jenis reksadana, performa kurun waktu RD, dll.

Untuk melakukan pembelian, cukup tekan tombol B (Buy) atau S (Sell) saja dan ikuti langkah selanjutnya. Oia, karena IPOT ini hanya perantara jasa pembelian dan penjualan RD, kita perlu memperhatikan “Terms and Conditions” sebelum melakukan konfirmasi pembelian RD. Masing-masing Manager Investasi (MI) menetapkan fee yang berbeda-beda saat pembelian dan penjualan. Contoh, ada MI yang menetapkan fee pembelian max. 2% per transaksi. Artinya setiap pembelian kita akan dikenai biaya sebesar max. 2% per transaksi. MI juga menetapkan fee penjualan kembali yang berbeda-beda. Ada MI yang menetapkan fee penjualan 0.5% dari nilai transaksi, namun ada juga yang menggratiskan (0%) kalau menjual RD setelah disimpan selama lebih dari 6 bulan.

Dalam memilih RD, juga perlu dilihat beberapa hal/istilah seperti NAV/NAB dan AUM. NAV (Net Active Value) atau bahasa Indonesia nya NAB (Nilai Aktiva Bersih) adalah nilai harga per unit Reksadana. Jika ada RD yang memiliki nilai NAV Rp 1,000. Artinya jika kita melakukan pembelian minimal seharga Rp 100,000 untuk RD ini, maka kita akan mendapatkan 100 unit. Sedangkan AUM (Asset Under Management) adalah total dana kelolaan dari investor yang sedang dikelola oleh MI dari RD yang bersangkutan. Semakin besar AUM, maka artinya semakin banyak partisipasi investor di RD ini.

Di IPOT ada fitur cash info yang menampilkan berapa posisi kas di akun RDN kita. Tinggal klik saja menu Member Menu –> Info Rekening –> Informasi Kas.

Nanti akan muncul tampilan posisi kas seperti di bawah ini.

Perlu diingat bahwa IPOT tidak mewajibkan memiliki deposit di RDN kita. Ada beberapa perusahaan sekuritas yang mewajibkan minimum deposit. Nanti saya bahas di bagian MOST. Hal lain yang perlu diingat juga adalah pembelian RD bisa dilakukan kapan saja dengan cut-off date pukul 12.00 WIB setiap hari kerja. Pembelian di atas pukul 12.00 WIB akan masuk ke pemesanan hari kerja berikutnya. Harga (NAV) dari RD ketika hari pembelian adalah menggunakan harga ketika penutupan hari bursa yaitu pukul 16.00 WIB. Ketika pemesanan masuk ke IPOT, namun sampai pukul 12.00 WIB RDN kita masih kosong/dana tidak mencukupi, maka dia akan meng-auto reject pesanan kita sehingga dianggap VOID.

Laporan harian posisi portofolio dari IPOT akan dikirimkan oleh auto-generated email setiap hari kerja pukul 18.00 WIB.

2. MOST

Nah, kalau untuk melakukan transaksi saham, saya menggunakan aplikasi MOST dari Mandiri Sekuritas. Sebetulnya di IPOT juga bisa sih, tapi saya rasa ragam menu dan kemudahan transaksi saham lebih enak pakai MOST, walaupun banyak kekurangannya juga hehe.

Sebelumnya, kita berkenalan dulu dengan yang namanya transaksi saham. Saham perusahaan terbuka (publik) hanya diperdagangkan di suatu “pasar” yang bernama Bursa Efek Indonesia (BEI). Nah, di pasar ini, semua saham perusahaan publik yang jumlahnya lebih dari 600 perusahaan itu diperdagangkan dengan bebas. Namun, sebagai investor atau pembeli saham, kita tidak bisa melakukan transaksi sendiri, misalnya mengontak teman kita yang punya saham UNVR untuk menjual langsung, karena harus tercatat di KSEI dan KPEI sesuai regulasi pemerintah.

Untuk melakukan pembelian/penjualan saham, kita membutuhkan jasa yang namanya broker/pialang saham. Nah, perusahaan penyedia jasa broker inilah yang dinamakan perusahaan sekuritas yang terdaftar di BEI.

2.jpg

Ada puluhan perusahaan sekuritas di BEI, namun untuk investor ritel (perorangan modal kecil) seperti kita, yang paling terkenal adalah Mandiri Sekuritas, BNI Sekuritas, Indopremier Sekuritas (IPOT), Mirae Sekuritas, Phillips Sekuritas, Kresna Sekuritas, Trimegah Sekuritas, dll. Nah, semua sekuritas yang banyak dipakai investor ritel ini memiliki applikasi online untuk membeli dan menjual saham yang mereka kembangkan sendiri. Jadi, saat ini orang kalau mau beli dan jual saham tidak perlu lagi menelpon broker secara pribadi seperti era 80 atau 90-an. Cukup mencet-mencet HP dan saham langsung terjual atau terbeli saat itu juga.

Masing-masing perusahaan sekuritas memiliki kebijakan sendiri dalam menetapkan fee transaksi dan minimum deposit di RDN.  Contoh, BNI sekuritas mematok fee jual 0.25% per transaksi dan fee beli 0.15% per transaksi. Sedangkan Mandiri Sekuritas mematok 0.125% fee beli dan 0.2% fee jual. Silakan google ke masing-masing perusahaan sekuritas saja untuk tahu berapa fee yang mereka pungut per transaksi saham.

Selain fee transaksi, masing-masing sekuritas juga mensyaratkan minimum deposit pada saat pertama kali buka rekening saham. Sama seperti Reksadana, ketika membeli saham, kita juga wajib memiliki yang namanya RDN. Kalau anda sudah punya IPOT, RDN nya jadi satu dengan RDN Reksadana. Nah, si perusahaan sekuritas ini mematok minimum deposit ketika anda buka pertama kali akun di sini. Contoh, Mirae Sekuritas mematok minimum deposit sebesar Rp 5 juta, dan Mandiri Sekuritas mematok minimum Rp 3 juta rupiah. Silakan googling lagi saja ke masing-masing perusahaan sekuritas untuk tahu detail kebijakannya

Perlu diingat bahwa minimum deposit ini sebetulnya hanya berlaku satu kali saja. Jika anda sudah punya minimum deposit seperti yang disyaratkan, seiring berjalannya waktu dan uang deposit nya terpakai beli saham, maka uang di deposit bisa saja dihabiskan sampai jadi Rp 0 hehe.

Kembali ke MOST, saya memutuskan untuk menggunakan MOST karena sebetulnya tidak ada pilihan lain selain IPOT hehe. Karena saya tinggal di kota kecil di Kaltim, di sini tidak ada perusahaan sekuritas sama sekali haha. Akhirnya saya coba tanya-tanya teman dan rata-rata mereka membuat akun sekuritas ketika sedang cuti ke Pulau Jawa. Saya coba menanyakan melalui CS Mandiri Sekuritas (ManSek), dan mereka bilang bahwa untuk membuka rekening MOST di Bontang, bisa dialihkan melalui cabang Pontianak, Kalbar dan verifikasinya bisa dilakukan tanpa perlu datang ke Pontianak, tapi cukup lewat video call hehe.

Akhirnya saya coba akses situs MOST dan coba registrasi di sini. Tinggal diisi saja semua data diri termasuk kuesioner profil dan persepsi risiko investor. Mengenai profil risiko akan saya coba bahas di tulisan saya berikutnya. Singkat cerita, setelah persyaratan lengkap, sekitar 2 hari kerja kemudian, saya dihubungi CS ManSek Pontianak untuk melakukan video call hehe. Video callnya wawancara singkat sambil pegang e-ktp haha.

Setelah akun MOST jadi, tinggal install saja Apps nya di Playstore atau Appstore dan nanti kita akan mendapat Password login dan PIN 8 angka untuk akses menu-menu di MOST.

screenshot_20190111-105229 (1)

Setelah login, pilihan menu nya ada banyak, Home screen yang pertama adalah list berita dan analisis dan analis nya ManSek. Silakan dibaca-baca kalau tertarik hehe. Menu yang penting setelah melakukan pembelian saham adalah Portofolio, dimana kita bisa melihat portofolio saham kita (profit/loss) dan posisi Kas kita. Untuk posisi Kas, ada catatan khusus dimana setiap transaksi di bursa menganut sistem T+2 artinya semua pemyelesaian transaksi baik jual maupun beli diselesaikan 2 hari kerja setelah transaksi. Jadi, kalau kita beli saham hari Senin tanggal 1 Januari sebanyak Rp 1.000.000, maka uang cash yang harus disediakan paling lambat tanggal 3 Januari pukul 16.00 WIB (sebelum penutupan bursa). Jika tidak, akan kena penalti sesuai kebijakan sekuritas masing-masing.  Begitupun ketika kita menjual saham, uang tunai baru akan kita terima di T+2 jadi harap bersabar saja hehe.

Secara kasar, sebetulnya kita bisa membeli saham dengan saldo Rp 0 di kas kita, yang penting pada saat T+2 sudah terisi kas nya. Untuk mengisi kas, kita cukup mentransfer sejumlah uang ke RDN kita yang terdaftar di MOST. Nanti akan terupdate secara otomatis di laman Cash Info di MOST. RDN MOST biasanya akan diarahkan ke Mandiri, nanti di tampilan internet banking Mandiri kita akan muncul 2 rekening, yaitu rekening tabungan biasa, dan rekening tabungan saham/RDN.

Fitur lain yang ada di MOST adalah Buy dan Sell order yang dapat dilakukan secara “Booking” dan “Auto”. Kalau mau beraliran value investing, sepertinya fitur ini ngga akan terlalu kepake. Kecuali kalau mau merangkap swing trader atau scalper, silakan saja baca tutorialnya di laman resminya hehe. Fitur MOST sendiri cukup lengkap, ada charting, screener, dan summary buat para penganut Technical Analysis. Tapi kalau cuma buat beli dan simpan dalam waktu lama, sudah lebih dari cukup sih.

Selama 1 tahun lebih menggunakan MOST, sebetulnya sudah beberapa kali (mungkin 2 atau 3) mengalami kegagalan Auto Order yang menyebabkan gagal dapat saham di harga bagus hehe. Karena di kota saya pilihan sekuritas nya cuma ini (dan IPOT) untuk beli saham, ya terpaksa diterima dengan legowo saja hehe.

Tambahan info lagi, MOST juga bisa dipakai untuk membeli Reksadana, hanya pilihannya tidak selengkap di IPOT atau Bareksa. Coba saja dilihat-lihat dulu di situs resmi nya most.co.id. Oia, setiap transaksi yang dilakukan di hari bursa, maka laporan pembelian/penjualan akan dikirim ke email sekitar pukul 18.00 WIB. Contoh email nya seperti ini.

1.png

3. Bareksa

Sesuai namanya, Bareksa sebetulnya penyedia jasa agen penjualan RD seperti IPOT. Bedanya, dalam Bareksa, tidak ada layanan pembelian saham, namun sebagai gantinya, mereka menyediakan jasa analisis data pasar modal, obligasi, dan RD yang sangat lengkap dan komprehensif dengan biaya berlangganan paling murah Rp 2.5 juta per bulan hehe

Saya memakai Bareksa, sebetulnya hanya untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) baik Saving Bond Ritel (SBR) maupun Sukuk Tabungan (ST). Promo-promonya menarik di antaranya cash back 1% untuk 200 pembeli pertama, dll. Situs bareksa bisa diakses di bareksa.com. Cara daftarnya pun paperless dan mudah seperti IPOT. Cukup 30 menit saja, dan dalam 1×24 jam, akun kita sudah bisa dipakai. Proses verifikasinya juga sama dengan IPOT, membubuhkan tanda tangan digital dan foto diri dengan memegang e-ktp.

Nah, karena saya menggunakan bareksa hanya untuk beli SBN, maka langkah selanjutnya setelah buka akun bareksa adalah mengakses situs http://sbn.bareksa.com dan registrasi kembali melalui menu Daftar. Ikuti saja langkah-langkahnya dan lengkapi dengan data diri. Setelah selesai, dalam waktu 1×24 jam akan dihubungi CS nya via WhatsApp untuk validasi dan konfirmasi.

3.png

Di Bareksa juga sebetulnya membutuhkan pembuatan RDN, namun karena saya hanya menggunakan untuk beli SBN, maka saya tidak perlu membuat akun RDN baru karena transaksi pembelian SBN langsung dilakukan melalui ATM atau internet banking.

Setelah akun siap, langsung saja masuk ke sbn.bareksa.com dan lakukan pembelian SBN yang sedang dijual di sana. Pembayaran dilakukan langsung melalui bank dengan ATM maupun internet banking. Setelah proses settlement, maka di dalam dashboard sbn.bareksa.com kita bisa melihat laman portofolio yang menunjukkan berapa banyak SBN yang kita beli, apa saja jenisnya, berapa tingkat kupon bunga nya, dan berapa rupiah kupon bunga yang sudah kita kumpulkan.

4.png

Pencairan kupon bunga dilakukan melalui rekening yang kita daftarkan pertama kali saat membuka akun sbn. Jadi, silakan dicoba saja kalau tertarik membeli SBN lewat bareksa. Sebetulnya ada banyak mitra distribusi online lain selain bareksa seperti tanamduit, modalku, dan investree. Bisa dicoba dan share keun pengalamannya hehe.

Tambahan info, jika sudah punya akun RD atau saham dan sudah aktif bertransaksi, maka kita akan mendapatkan laporan berkala setiap bulan mengenai posisi portofolio dan juga laporan pembelian/penjualan saham atau RD setiap sore setelah penutupan bursa.

Next time, saya share mengenai persepsi risiko seorang investor barangkali bermanfaat.

 

Saving Bond Ritel (SBR-005)

Saat ini bisa dibilang pemerintah, melalui Kementrian Keuangan sedang gemar menjaring dana sebesar-besarnya dari kaum milenial dalam bentuk surat utang negara/Surat Berharga Negara (SBN). Sejak tahun 2015, sudah banyak seri SBN ritel yang ditawarkan ke masyrakat umum dengan minimal investasi Rp 1 juta rupiah hingga Rp 3 milyar per orang.

Setelah sukses meraup dana melebihi target di SBR-004 dan ST-002, kali ini pemerintah kembali menggulirkan SBR-005. Saya pernah membahas apa itu SBR di laman berikut. SBR singkatnya adalah surat utang negara yang berbentuk tabungan (saving) yang tidak bisa dicairkan dalam waktu tertentu. Untuk seri SBR-005 ini, sama dengan seri sebelumnya yaitu memiliki tenor 2 tahun dengan fasilitas early redemption sebanyak 50% setelah 1 tahun.

Lebih jelas mengenai SBR-005 bisa disimak di website Kemenkeu berikut.

Secara singkat, SBR diperdagangkan melalui mitra distribusi (midis) berupa bank BUMN dan swasta, perusahaan investasi/sekuritas serta beberapa perusahaan fintech (P2P lending) berbasis online. Cara membelinya mudah sekali. Cukup mendatangi bank, lapor ke CS nya, dan proses pembeliannya tidak sampai 30 menit. Apalagi jika sudah punya Rekening Dana Investor (RDI), maka cukup melakukan pembayaran dan pengisian data saja.

Kalau mau beli melalui midis online seperti bareksa.com, investree.id, modalku, tanamduit, dkk, cukup melakukan pendaftaran online ke situsnya masing-masing, nanti ada verifikasi tanda tangan digital dan upload KTP melalui apps. Prosesnya pun mudah sekali. Bedanya dengan beli lewat bank, kalau lewat perusahaan fintech atau bareksa.com, kita diberikan dashboard berupa list pembayaran kupon.

Yang perlu diingat dari SBR ini, selain tidak bisa dicairkan sebelum jatuh tempo, dia menggunakan sistem floating with floor dengan kupon minimal 8.15% dari perhitungan kupon minimum (based on BI 7Day Repo Rate) ditambah 215 bps (2.15%) spread. Disebut floating karena jika suku bunga BI naik, maka kupon nya pun akan naik, namun kenaikannya akan dilakukan setiap 3 bulan sekali. Lalu maksud dari floating with floor bahwa jika suku bunga BI turun dari level 6.00 %, maka kupon nya tidak akan turun namun tetap di 8.15% per tahun hehe.

Masa penawaran SBR-005 sendiri dari mulai 10-24 Januari 2019, namun mengingat animo masyarakat yang membludak, pemerintah sudah antisipasi bahwa kuota nya kali ini akan dibatasi, jadi feeling saya sih sebelum 24 Januari, kuotanya sudah ludes, apalagi di era suku bunga tinggi seperti sekarang hehe.

Tapi jangan khawatir, Pemerintah sendiri menjanjikan ada 10 seri SBN ritel yang akan dikeluarkan di tahun 2019 ini yang terdiri dari 4 kali SBR, 4 kali ST, satu kali obligasi negara ritel (ORI), dan satu kali penerbitan Sukuk Ritel (SR) dengan target perolehan dana senilai Rp 60T. Kita tunggu aja.

Dengan menabung di SBR-005, kita juga hitung-hitung bantu negara karena dana yang terhimpun akan dipakai untuk menutup defisit APBN di bidang pendidikan, infrastruktur, dan kesejahteraan. Kelebihan investasi di SBR juga memiliki nilai resiko yang nyaris 0 karena pemerintah hampir pasti tidak mungkin gagal bayar (kecuali negara dinyatakan bangkrut) hehe.

Saya sendiri sudah punya investasi di obligasi pemerintah mulai dari SBR-003, SBR-004, ORI-015, dan ST-002. Kemungkinan akan kembali beli SBR-005 untuk diversifikasi portofolio investasi. Selama ini beli SBN selalu menggunakan bareksa.com kecuali ORI-015 karena memang tidak didistribusikan selain melalui bank.