Rekap Investasi Saham 2023

Mumpung Januari masih belum berakhir, mau update sedikit tentang kondisi portofolio saham sepanjang tahun 2023 dan update dari postingan update porto tengah tahun mengenai rebalancing di sini: https://randyaria.com/2023/05/22/rebalancing-portofolio-may-2023/

Tahun 2023 memang tahun yang challenging buat para investor. Karena IHSG hanya “ditahan” kejatuhannya oleh segelintir saham dari mulai BYAN, lalu yang dahsyat grup Prajogo Pangestu seperti CUAN BREN TPIA BRPT. Malah BREN naik ribuan persen dalam beberapa bulan sampai nyalip BBCA sebagai emiten dengan market capitalization terbesar di Indonesia. Di luar itu, kondisi 2023 itu bener-bener lesu baik di market maupun bisnis riil. 2023 harga komoditas kayak batubara ke new normal di kisaran 120-150 USD per ton, CPO jatuh dalem, oil juga new normal di 60-70 USD, praktis ngga ada sentimen positif yang menggerakkan market.

Bongkar dan diet porto menjadi target saya di 2023 kemarin. Setelah nyangkut di banyak saham dan punya 20 emiten di porto, di pertengahan tahun saya berhasil buang 6 saham yang prospeknya lesu seperti PBID, PZZA, ADRO, dkk, namun rupanya saya masih berat lepas total saham coal related seperti PTBA UNTR dan PSSI yang masih ada di porto walaupun posisi di 2023 akhir masih floating profit.

Sebetulnya peak performa porto saya di 2023 itu sempat menyentuh +20.84% floating profit gegara mesin-mesin penggerak cuan yaitu ADES dan UNTR rally dari bulan Mei hingga Juli 2023. Sayangnya sejak Juli sampai November, porto saya nyungsep karena kejatuhan UNTR (harga coal nyungsep) dan ADES karena kena boikot. Untungnya saat itu masih ketahan sama rally nya SMSM dari 1300 ke 2400 dong.

Alhasil, di akhir 2023, saya harus puas dengan return overall 9.85% yang masih bisa mengalahkan return IHSG yang 6.16%. Yang mana return IHSG ini sangat semu karena dikatrol sama rally BREN. Jadi ya mayoritas investor di Indonesia tahun 2023 ini sebetulnya masih minus. Bersyukurlah bagi kita-kita yang masih dapat return positif apalagi ngalahin IHSG.

Tapi dibalik nyungsepnya return peak dari 20% ke hanya 9%, hikmah lain di 2023 ini adalah jumlah dividen yang saya kantongi. Secara overall, jumlah dividen tahun 2023 naik 4 kali lipat lebih banyak dibanding dengan dividen yang saya terima di tahun 2022. Kontributor utama karena UNTR PTBA dan TOTL yang kasih yield sampai 15%-25%.

As per Januari 2024 ini, kondisi porto dan IHSG masih terkapar. Mungkin semua pelaku pasar memang masih menunggu hasil pemilu putaran 1 jadi belum banyak suntikan dana ke IHSG. Jadi, mungkin masih ada kesempatan untuk ngumpulin saham-saham yang bagus dan secara harga masih nyungsep.

Target pribadi saya di 2024 ini di antaranya cari momen yang tepat untuk offload PTBA PSSI dan UNTR, lalu sambil pelan-pelan nambah posisi di SIDO yang harganya udah <500 dan ARNA yang udah <700. Mudah-mudahan terbayar di akhir tahun nanti hehe.

Terima kasih. see you in Q2 2024

Rebalancing Portofolio May 2023

Sudah lama rasanya nggak nulis lagi mengenai investasi. Setelah menjalani 2022 yang penuh kejutan, di mana return portofolio investasi saya all time high dan mengalahkan IHSG sampai +49.22% vs 10%, rasanya sulit mengharapkan fenomena yang sama di tahun 2023 ini.

Yup, return berlipat-lipat tahun lalu lebih disebabkan karena return saham-saham cyclical pegangan saya seperti ADRO PTBA UNTR SMDR dan PSSI bagger berlipat-lipat karena harga batu bara acuan meroket dari 50-an di akhir 2021 ke hampir 400 USD puncaknya di September 2022. Luar biasa ya.

Tahun ini, sudah berjalan 5 bulan, dari catatan yang saya buat sendiri, per W3 Mei ini, return investasi di saham mencatat +9.16% vs IHSG yang masih tertekan -2.09%. Not bad at all lah.

Walaupun kinerja saham-saham batubara menurun drastis secara YTD, hal ini cukup wajar karena saat ini harga batubara sudah “new normal” di kisaran 150-180 USD, namun banyak saham-saham core stock saya malah rally sejak awal tahun.

Sejak awal tahun, saya sudah banyak mengurangi porsi saham siklikal dan juga beberapa perusahaan yang ditunggu-tunggu malah ngga membaik kinerjanya dan juga saya buang beberapa perusahaan karena memang banyak yang lebih menarik.

Di 2023 ini, saya sudah cutloss habis di PZZA, mengapa? karena emiten ini saya harapkan bisa turnaround pasca covid, malah semakin nyungsep karena beban usaha yang menggunung. PZZA ini sebetulnya udah bagus dari sisi pendapatan yang konsisten naik, tapi manajemen nya kurang agresif cut beban operasi sehingga laba nya tergerus sama beban usaha (gaji pegawai) dan beban bunga karena pinjamannya makin gede. Alhasil per Mei ini semua PZZA saya sudah dijual habis dengan kondisi loss +/- 20% hehe.

Emiten kedua yang saya lepas adalah BJTM. bukan karena kinerjanya buruk sih tapi lebih karena sayang aja kalo saya invest di dividen play terlalu banyak. Mengingat saya udah hold POWR dan percaya kinerjanya bakal tumbuh terus, akhirnya BJTM terpaksa dilepas dengan kondisi untung +/- 10% saja.

Kemudian target di 2023 ini adalah melepas porsi saham batubara pelan-pelan. ADRO sudah saya lepas setengahnya dalam kondisi untung hampir +50%. Lumayan lah udah kenyang dividen juga di ADRO dan cukup kecewa karena dividen final 2023 ini hanya 40% aja DPR nya.

Sisa saham batubara lain yaitu PTBA akan saya jual habis dividen atau menjelang cum date. Masih ragu juga kalo Erick Thohir berani kasih perintah DPR 100% yang artinya dividen per share Rp1000. Tapi ya taun politik ini semua mungkin sih. Jadi saya hold dulu aja. Kalo UNTR, sekitar 10% sudah saya lepas habis pembagian dividen jumbo kemarin. Agak sayang sih lepas emiten cash rich dengan manajemen super lincah ini. Paling ya nanti kalau harga nya udah menuju 20K bakal cicil masuk lagi. Sekarang biarin aja dulu masih dalam posisi untung +10%.

Lagipula saham batubara ini dividennya royal jadi ya selama masih di siklusnya saya coba hold aja, toh udah dapat banyak banget dividen dari PTBA UNTR dan ADRO. Oia, di tahun 2022 kemarin, total dividen yang saya dapat dari saham jumlahnya hampir 4 kali lipat dari dividen total di 2021. 2023 ini lebih gila lagi, baru masuk bulan Mei, jumlah dividen yang saya terima udah sama dengan jumlah dividen tahun 2022 dong. Masih menyisakan beberapa emiten kayak POWR ADRO PTBA PSSI PWON dll yang baru bagi dividen di Q3 nanti.

Melihat dari alokasi portofolio, di 2023 ini dry powder di reksadana masih sangat banyak. Porsi saham sekitar 48% sementara porsi RD di 38% dan Obligasi di 9%. Untuk fintech P2P, saya hanya hold Amartha saja dan rutin nabung 1 bulan 1 proyek. So far so good sih dari 26 project hanya 1 yg galbay dan itupun dicover asuransi 75% pokok dikembalikan.

Fokus invetasi di 2023 ini bakal lebih menambah porsi core stock sambil mengurangi terus porsi siklikal. Saat ini ada 7 emiten jagoan yang saya jadikan core stock karena alasan tertentu. Saya coba paparkan sedikit ya tesis investasi dan background kenapa perusahaan ini saya jadikan core stock.

1. ADES (PT Akasha Wira International Tbk)

Perusahaan turn around di tahun 2019 dan menjadi monster kecil pemakan market share 3 big companies : UNVR, KINO, Aqua. Perusahaan ini barang jualannya ada 3: Nestle Pure Life, Makarizo Hair Shampoo, dan F&B brand Mujigae & Wonhae.

Sejak tahun 2019 saat saldo laba perusahaan berbalik dari minus menjadi plus, disitulah harga sahamnya mulai rally dari 600 an dan sekarang anteng di atas 8000 rupiah. Sayangnya saya baru kenal perusahaan ini sejak harganya di 3000-an dan terus average up hingga average saya di 6000-an hehe. Walau telat tapi masih untung 30% dong.

Sisi positif ADES:

  1. Manajemen ramping dan efisien, mampu melakukan efisiensi gila-gilaan di sisi beban usaha
  2. Penetrasi pasar online buat merebut market share giants seperti UNVR. Lihat pertumbuhan penjualan makarizo yang di luar nalar karena omnichannel nya.
  3. Zero debt alias no hutang bank. Semua modal dari kas internal. luar biasa
  4. Ekspansi terus, baru relokasi pabrik dan penambahan aset tanah dan bangunan untuk lini produksi baru
  5. Growth minimal 15% per tahun tapi hanya dihargai PE di kisaran 12 dong hehe

Sisi Negatif nya:

  1. Tidak bagi dividen karena masih perlu kas untuk terus ekspansi
  2. Sebentar lagi akan memulai lini bisnis baru termasuk usaha minyak goreng kemasan. Bisa berpotensi untuk di-worse-ification

Saat ini ADES sudah masuk sekitar 15% porsi portofolio saya. Lumayan lah. Bakal keep hold terus sampai menjadi mature.

2. ACES (PT ACE Hardware Tbk)

ACES saya beli terus terang karena harganya udah terlalu murah. Dengan kas di 2T dan aset segede itu hanya dihargai di market cap 8.2 T saat harganya 480 perak. Saya masuk ACES pertama kali di harga 900 lalu terus avg down sampai avg di 640. Melihat sebulan terakhir sahamnya gerak dari 480 ke 620, bukan ngga mungkin bakal terus rally sampai harga di 800-an nih.

Sisi positif ACES

  1. Perbaikan kinerja seiring pulihnya daya beli
  2. Diuntungkan dengan freight cost dari China yang All time low sehingga COGS akan turun jauh
  3. Ekspansi di kota-kota kelas dua masih terus dilakukan plus menutup gerai2 yang non profitable sehingga ratio Same Store Growth Sale (SSGS) membaik
  4. Kas besar, dividen irit. bisa jadi akan ada dividen jumbo saat kinerja membaik nanti. Studi kasus TOTL hehe

Sisi Negatif ACES

  1. Ekspektasi perbaikan kinerja masih semu mengingat hasil Q1 2023 naik tapi ngga wah banget
  2. Pas RUPS bisa-bisa zonk gara-gara ngga jadi bagi dividen atau dividen super mini hehe
  3. Kenaikan harga sudah melebihi kenaikan kinerja, jadi ya bisa memancing orang untuk FOMO dan diguyur di pucuk

ACES sudah mencapai 15% dari portofolio saya saat ini

3. ARNA (PT Arwana Citra Mulia Tbk)

Jarang-jarang perusahaan basic industri manufaktur punya kinerja yang konsisten bagus. ARNA ini produsen keramik nomor 1 di indonesia dan nomor 9 di dunia dari sisi kapasitas. Sejak 2015, kinerja nya terus naik tiap tahun ditopang efisiensi biaya (harga gas subsidi) dan daya saing dengan produk-produk cina.

Manajemen juga dipimpin keluarga pendiri dan strategi ekspansi nya cukup unik karena ke depan dia akan mendorong produksi keramik ukurn besar dengan model high end (glazed) karena marginnya tinggi dan baru bisa dipenuhi dari impor tiongkok dan india yang harganya mahal.

Sisi positif ARNA

  1. Efisiensi biaya luar biasa. Cost produksi per m2 konsisten turun seiring dengan R&D yang dilakukan manajemen
  2. Ekspansi pabrik baru yang akan onstream di Q3 2023 dan Q2 2024 nambah kapasitas produksi hampir 20% output per tahun
  3. Royal dividen, dengan payout ratio di atas 50% konsisten
  4. Ruang pertumbuhan masih tinggi karena katanya konsumsi keramik per kapita indonesia masih jauh di bawah negara tetangga

Sisi negatif ARNA

  1. Pelemahan daya beli bisa jadi memukul kinerja di 2023. hal ini udah terbukti dari turunnya kinerja YoY di Q1 2023
  2. ARNA hanya menjual produknya ke CSAP (perusahaan afiliasi), jadi ada potensi piutang macet dan atau manipulasi lapkeu. Perlu pantengin terus kinerja CSAP juga kalau hold ARNA
  3. Ekspansi bangun pabrik baru menggerus kas, berpotensi nambah utang bank atau ngurangin dividen payout

ARNA sudah mencapai 15% dari total portofolio saya

4. MARK (PT Mark Dynamics Tbk)

Perusahaan cetakan sarung tangan terbesar di dunia ini letaknya di Sumatera Utara rupanya. Mereka ambil lokasi di sini karena klien terbesarnya adalah 2 perusahaan sarung tangan asal Malaysia (Top Gloves dan Hartalega). Jadi ya supaya hemat cost gitu.

Ekspansi yang dilakukan perusahaan ini sudah selesai tepat waktu saat pandemi kemarin sehingga dengan kapasitas sekarang di 2 juta cetakan per tahun, sepertinya belum akan nambah pabrik lagi. Harga MARK ini udah jatuh 40% dari puncaknya pas pandemi kemarin karena melambatnya permintaan. Wajar sih karena udah ngga pandemi, permintaan sarung tangan melambat dan kembali normal. Saya sendiri beli MARK sejak harganya di 900-an dan avg saya masih di 780-an

Sisi positif MARK:

  1. Pemulihan permintaan cetakan sarung tangan seiring berkurangnya stok di pabrik-pabrik sarung tangan
  2. Ekspansi sudah selesai, terlihat fokus manajemen per Q1 2023 ini hanya mengurangi beban bunga dengan melunasi pinjaman jangka pendek. Positif karena bisa mulai memupuk cash lagi
  3. Pengurangan karyawan besar-besaran di 2022 bisa berefek berkurangnya beban usaha. Cost cutting gede-gedean

Sisi Negatif MARK:

  1. Perlu konfirmasi kinerja dari Hartalega dan Top Gloves selaku top buyer MARK. Dari penerawangan google, sepertinya kinerja Q1 mereka masih jelek, so masih harus bersabara berharap laba MARK pulih
  2. Kemungkinan nggak akan bagi dividen atau bagi dengan rasio kecil karena kas udah terkuras habis bangun pabrik dan lunasi hutang
  3. inventory masih tinggi

MARK sudah mencapai 20% dari total porto saya

5. PRDA (PT Prodia Widyahusada Tbk)

Perusahaan jasa laboratorium market leader di Indo. Kinerja sempat meroket karena pandemi, namun sekarang sudah mulai kembali ke “new normal”. Manajemen dipimpin srikandi-srikandi hebat yang inovatif euy. Keren kalau lihat ibu-ibu manajemen PRDA pubex, persis kayak ibu-ibu manajemen di TOTL.

Saya beli PRDA sejak harganya 8000 dan terus avg down sampai harga avg di 6200. Alasan beli PRDA karena paska pandemi, orang akan sadar dengan kesehatan dan akan lebih rutin lakukan check. Saat ini rasio check up per individu di Indo sangat rendah. Terbukti lah dari kita yang kalo merasa sehat hanya 1 kali MCU aja per taun kan?

Sisi Positif PRDA:

  1. Ekspansi ke kota-kota kelas 2 di luar pulau Jawa mendorong pendapatn
  2. Ekspansi ke digital technology dengan investasi di pengembangan Prodia Mobile
  3. Pemeriksaan genomic terus bertambah dan variatif
  4. emiten tetap royal dividen. MInimal 50% laba bersih jadi dividen
  5. Cash rich, nilai kas setara kas sudah lewat 1T dengan hampir zero hutang bank

Sisi Negatif PRDA:

  1. Jumlah pelanggan korporasi nya turun terus
  2. Ada transaksi agak janggal terkait sewa bangunan dengan PT Grhanis Propertindo, entitas sepengendali. Terlihat nilai sewa terus naik setiap 2 tahun sekali
  3. Ekspansi ke digital bisa bikin bakar duit macem Halodoc dkk

PRDA baru mencapai 8% dari total portofolio saya

6. SMSM (PT Selamat Sempurna Tbk)

Perusahaan monster satu ini memang luar biasa. Sejak dia berdiri di tahun 1976 dan listing di bursa sejak 1996, hanya pas covid tahun 2020 kemarin yang penjualan dan laba nya turun. Selebihnya growth penjualan selalu double digit dong. Luar biasa memang.

Padahal ini perusahaan jualan utamanya hanya filter oli dan filter udara merk Sakura tapi dipakai di hampir semua mobil di Indonesia dan dunia hehe. Ditambah produk heavy duty filter nya juga baik OEM maupun OES jadi market leader di dunia. Udah bukan kaleng-kaleng lah ini perusahaan. Manajemen juga jempolan dan masih dihandle keluarga pendiri (ADR grup).

Saya beli SMSM sejak 2019 dan masih hold di Avg 1300. Emiten ini royal dividen dan bagi dividen setahun 4 kali cem perusahaan yang listing di NYSE dong.

Sisi positif SMSM:

  1. Kinerja kinerja kinerja.. Udah ngga perlu banyak omong, SMSM walk the talk dengan growth double digit setiap tahun
  2. Hutang bank mini, modal kerja kuat, cash rich
  3. Kapasitas produksi masih 70% sementara permintaan untuk filter masih sangat tinggi di kawasan Asia dan Indonesia

Sisi negatif SMSM:

  1. Kenaikan harga udah melebihi kenaikan kinerja, jadi rentan kena FOMO
  2. Dividen yield “hanya” sekitar 5% per tahun, kurang begitu menarik

SMSM sudah mencapai 15% dari total portofolio saya

7. SIDO (PT Sido Muncul Tbk)

Terakhir, perusahaan 1 ini udah ngga perlu dikenalin lagi, perusahaan keluarga pembuat tolak angin yang melegenda. SIDO termasuk perusahaan Cost Efficient Company karena hampir seluruh modal kerjanya dibiayai kas internal, zero debt dan royal dividen (payout hampir 100% setiap tahun).

Sisi positif SIDO:

  1. Ekspansi ke Nigeria dan negara-negara Afrika bisa mendorong pendapatan di masa depan
  2. Daya beli masyarakat pulih, berarti konsumsi Tolak Angin dan Kuku Bima mungkin akan naik hehe
  3. Cash rich, semua laba dikonversi jadi dividen karena zero debt
  4. Potensi pertumbuhah bisa diharapkan dari Farmasi yang saat ini kontribusi masih 4%an aja

Sisi Negatif SIDO:

  1. Kinerja Q1 2023 mulai menunjukkan perlambatan meneruskan apa yang dicapai di 2022. alamat hati-hati buat manajemen
  2. Concordant Pte Ltd yang menggenggam 20% saham SIDO rentan divestasi lagi. Ketika dia divestasi di 2021-2022, harga saham SIDO melorot tajam dari 1100 ke 600-an. Mudah-mudahan nggak kejadian lagi
  3. Kenaikan beban bahan baku bisa menggerus laba SIDO di 2023 ini.

SIDO baru 8% di portofolio saya

Demikian pembahasan core portofolio saya, ini bukan ajakan untuk beli atau jual ya, hanya mau share aja. Sisa saham siklikal saya masih tetap pegang hanya ngga akan nambah porsi lagi. Saham siklikal seperti PSSI masih saya tunggu meledaknya hehe. Saham siklikal bagus kayak TOTL masih saya HOLD dan Saham properti kayak PWON masih saya pegang nunggu perbaikan sektoral. Begitupun dengan MDKI si produsen karbit, menunggu pemulihan ekonomi supaya barang jualannya laku lagi hehe.

See you in the next article…

Kinerja Investasi 2022

Menginjak tahun 2023 ini, saatnya bikin coret-coretan lagi tentang kinerja investasi di tahun 2022 lalu.

Tahun 2022, seperti yang dialami oleh kebanyakan investor dan coal company holder adalah tahun dengan return portofolio tertinggi yang mungkin pernah ada. Hampir semua saham perusahaan batubara besar di Indonesia mencetak bagger jika pada beli di akhir 2021 atau di awal 2022. Yang paling gila memang BYAN (Bayan Resources) yang sukses menjadikan Dato Low Tuck Kwong pemiliknya, menyalip posisi orang terkaya Indonesia yang udah bertahun-tahun dipegang pemilik Grup Djarum, Hartono Brothers.

Saya sendiri punya ADRO PTBA, PSSI dan UNTR, perusahaan coal-related company dalam portofolio, dan selain UNTR dan PTBA, sudah mencetak bagger. PTBA sendiri walau nggak bagger, tapi saya dapat yield dividen 30%, terbesar selama saya berinvestasi di pasar modal sejak 2016.

Ok, kita breakdown dulu alokasi aset portfolio as per 31 Desember 2022 berikut ini:

Alokasi aset terbesar tentu saja masih saham dengan besaran 45.5% disusul Reksadana 40,1% dan obligasi pemerintah (SBR/ST/SR/ORI) sebesar 9.4%. Penurunan signifikan di P2P lending dari posisi sebelumnya 8%an menjadi sisa 2.3% aja. P2P ini porsinya jauh berkurang seiring dengan berhentinya T*rnakinvest (karena perubahan business model) dan berkurangnya porsi topup Am*rtha karena kebijakan PPh 15%.

Selama 2022 juga porsi saham belum naik lebih dari 50% karena beberapa faktor: harga yang saya anggap belum terlalu murah sehingga porsi dana idle (dry powder) masih numpuk banyak di RDPT dan RDPU. Di samping itu, porsi tabungan pendidikan anak dan tabungan penyusutan mobil juga saya perbesar karena memang ada target investasi yang perlu dicapai di 2024 hehe.

Sementara itu, performa dari portofolio saham sendiri selama 2022 memang sangat menggembirakan, berhasil mengungguli IHSG jauh sekali. Padahal di 2021 saya hanya bisa +1.12% dibanding IHSG yang bisa tembus +10% sepanjang tahun.

Total keseluruhan return investasi saham di 2022 mencapai +49.22% yang didorong oleh meroketnya sektor batubara dan perkapalan sepanjang tahun 2022. Penggerak porto saya apalagi klo bukan SMDR (+220%), ADRO (+120%), dan PSSI (+240%). Walaupun lot size nya ngga begitu besar (karena saya punya keseluruhan 17 saham dalam porto), hasil ini cukup menggembirakan lah.

Dari sisi dividen, tahun ini jumlah nominal dividen saya melonjak lebih dari 300% dari yang saya terima di tahun 2021. Luar biasa. Dividen terbesar disumbang saham-saham batubara yaitu PTBA, UNTR, ADRO dan POWR yang menyumbang lebih dari 50% total dividen. Dan semua dividen yang saya terima ini direinvestasikan lagi untuk beli saham lagi.

Sementara lagging masih disumbang oleh ACES (-35%), MARK (-30%) dan PRDA (-20%), WEGE (-18%) sepanjang tahun 2022. Tapi saham-saham ini masih saya hold karena masih yakin kinerjanya akan berbalik di tahun ini.

Untuk tahun 2023 sendiri, rencana saya adalah mulai mengurangi porsi di saham batubara, mungkin setelah pembagian dividen full year akan pelan-pelan lepas sahamnya dan memperbanyak lagi porsi di saham growth sambil merampingkan porto. Bobot akan saya tambahin untuk ARNA SMSM dan ADES sebagai andalan growth company saya yang memang kinerjanya masih stabil dan terus tumbuh.

Sementara di Reksadana, saya ngga akan topup lagi dalam jumlah banyak, dan mungkin semua SBN pemerintah yang dikeluarkan tahun ini akan saya beli semua dengan nominal yang sama dengan yang biasa saya beli. Ada 2 SBN yang akan jatuh tempo juga di akhir tahun dan lumayan bisa buat nambah-nambah beli SBN yang lain.

Untuk P2P sendiri, kayaknya saya bakal cukup fokus di Am*rtha aja dulu sementara. Karena performa securities crowdfunding lain seperti B*zhare, Cro*dana dll pada melempem semua. Sementara masih Am*rtha yang sesuai return 11.5% per tahun meski kena sunat PPh 15% jadi sisa return tinggal 10-an%. tapi masih lebih baik dari performa rata-rata reksadana pendapatan tetap yang cuma sanggup 7-8% aja di tahun 2022 kemarin.

Mari kita lihat lagi performa porto di Q1 2023 nanti yang akan saya publish mudah-mudahan di bulan April 2023.

Terima kasih

Update Kinerja Portfolio end of April 2022

Melanjutkan postingan saya sebelumnya di sini bulan Maret lalu, di pengujung April ini menjelang hari raya Idul Fitri 1443 H, kinerja portofolio saya terus memecahkan rekor sejak berinvestasi di pasar modal 5-6 tahun yang lalu.

Kinerja YTD yang saya dapat di tahun ini sudah mencapai 39,16% as per hari penutupan bursa 28 April lalu. Ini makin jauh meninggalkan IHSG yang baru mencapai 9,84% secara YTD. IHSG saja udah memecahkan rekor dengan naik hampir 10% selama 4 bulan, apalagi kinerja porto saya.

Selama 6 tahun di pasar saya beat the market (kinerja di atas IHSG) selama 3 tahun dan 1 kali kalah di tahun 2018 (saat IHSG bullish sampai level 6000 dulu). Saya beat the market beberapa tahun ke belakang pun selisihnya hanya sekitar 5% an saja, dan 2020, saat IHSG rugi dalam, kinerja porto juga rugi hanya minusnya lebih dikit hehe.

Motor penggerak porto saya selama 4 bulan ini apalagi kalau bukan trio batubara (UNTR, ADRO, PTBA), duo kapal (PSSI SMDR), ARNA dan BBRI. Bisa dilihat di grafik di bawah ini :

ADRO secara YTD sudah naik 48%, bahkan kalau ditarik lebih jauh ke 1Y, dia sudah menyentuh +166%. Luar biasa ya. Apalagi tanggal 27 April kemarin baru RUPS dan akan bagi dividen jumbo sebesar Rp 295 (interim Rp 160 sudah dibagikan). Ini menjadi rekor dividen tertinggi ADRO sepanjang masa.

UNTR secara YTD pun sudah +36%. Didorong oleh penjualan alat berat yang pertumbuhan YoY nya 150%, plus harga emas dan batubara yang masih tinggi, bisa bikin mereka cetak rekor laba dan pendapatan tertinggi sepanjang sejarah di tahun ini. Kita lihat aja. Tanggal 11 Mei nanti juga akan bagi dividen final, yang jumlahnya sedikit di bawah dividen 2018, agak mengecewakan sih sebetulnya.

PTBA secara YTD juga sudah naik 40%, didorong oleh rekor harga batubara acuan (HBA) di tahun 2022 ini. Padahal kenaikan harga ini masih belum didorong oleh sentimen dividen yang mungkin akan pecahkan rekor juga kalau INALUM dan pemerintah butuh duit. Bisa lah segera ke 5,000 ini hehe

SMDR saham paling juara saya yang saat ini saya sudah floating profit hampir 200%, sayangnya porsi SMDR di porto masih kalah jauh dari porsi trio batubara. Kinerja SMDR yang sangat bagus di 2021 dan berlanjut di 2022 ini mendorong sahamnya dari harga 200-an ke 2000. Luar biasa ya. Sepertinya masih akan terdorong sentimen kinerja di Q2 ini dan akan bagi dividen jumbo di bulan Juni. kita lihat saja apakah mampu ke arah 3000 atau nggak? hehe

Kinerja saham PSSI di tahun ini juga bagus. YTD sudah naik 38% didorong oleh kinerja bagus di 2021 dan mungkin akan berlanjut di Q1 2022 ini. Sentimen positif bakal datang dari dividen dan program buyback yang terus berlanjut.

Di luar batubara dan kapal, saham juara berikutnya datang dari si wonderful ARNA. Kinerja Q1 2022 yang sangat bagus mendorong sahamnya buat cetak rekor All time high terus. bener-bener sakti ini perusahaan dan managementnya. Luar biasa.

BBRI satu-satunya bank besar yang saya pegang, menunjukkaan kinerja sangat bagus di Q1 2022. Kinerja bagus bank besar biasanya akan tercermin dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Kita lihat apakah harganya sanggup tembus 5,000 rupiah habis lebaran atau nggak.

Meskipun porto sebagian besar sudah ijo royo-royo, namun masih banyak porto saya yang kinerjanya masih tertekan. Apalagi kalau bukan sektor konsumer goods dan retail. ICBP, PZZA, ACES, TOTL yang kinerjanya paling jelek di portofolio saya

Kinerja minus 12% karena tertekan beban bunga utang obligasi dan kenaikan harga bahan baku mie instan. ICBP bisa jadi bargain sekarang kalau ekonomi pulih dan supply chain global juga pulih.

PZZA sebetulnya sudah rebound dari harga terendah 590 di awal April. Sentimen positif bakal datang dari pertumbuhan ekonomi Q1 2022 nanti. Kalau lihat realita di lapangan, hampir semua mall dan resto sudah penuh dan kembali ke jaman pra pandemi. Mudah-mudahan kinerjanya akan terus tumbuh di sisa tahun ini dan harga bisa kembali ke harga 1000 hehe

Wonderful company yang satu ini juga menderita karena pandemi. Harga sudah terkoreksi 18% YTD dan sejak 2021 mungkin sudah jatuh lebih dari 30%. Kinerja Q4 2021 yang membaik mudah-mudahan berlanjut di Q1 2022 dan bisa mengangkat harga sahamnya.

Outlook sektor konstruksi yang masih suram sejak 2019 bakal berlanjut di tahun ini. Beruntung TOTL perusahaan konstruksi dengan management yang paling bagus dan prudent. Di tengah kondisi sulit, utang bank masih 0, dan tetap bagi dividen dan memperhatikan shareholders.

Tambahan lagi, dividen yang saya terima dari semua emiten di portofolio di akhir April ini, jumlahnya sudah 80% dari seluruh dividen yang diterima sepanjang 2021. Artinya tahun 2022 ini saya akan pecahkan rekor dividen yang diterima sejak investasi di bursa saham. Menarik untuk ditunggu berapa yield return dari dividen di desember nanti.

Sekian update kinerja porto as per April 2022 ini. Mudah-mudahan kinerja portofolio kita semua di tahun ini bisa semakin baik seiring dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Happy investing