Short Trip (Escape) to Bangkok

Sebetulnya trip ke Bangkok ini udah saya lakukan di pertengahan Desember 2022 lalu namun baru sempat menulis di blog hari ini karena kesibukan dan lain-lain. Jadi ceritanya, sekitaran bulan Agustus 2022, istri saya yang seorang fans berat Final Fantasy series, mengajak untuk nonton konser musik original soundtrack dari game franchise Final Fantasy di Bangkok. Konsernya sendiri sebetulnya diadakan di 17-18 Desember 2022. Jadi masih ada sekitar 4 bulan lagi dari Agustus. Dan berhubung situasi pandemi sudah mulai mereda dan Bangkok sudah mulai melonggarkan persyaratan masuk, akhirnya kita beranikan lah beli tiket online untuk konsernya.

Harga tiketnya sekitar 3,400 THB atau kalau dirupiahkan sekitar 1.5 juta untuk kelas non VIP. Setelah beli tiket konser, kita ngga langsung beli tiket pesawat karena masih bingung mau ngajak anak-anak atau nggak dan apakah saya bisa ajukan cuti atau ngga di pertengahan Desember itu.

Dari Agustus-Oktober, saya sibuk jelajahi Vlog yutuber-yutuber yang sudah mengunjungi Bangkok. Dari sekian banyak video yang saya tonton, kesimpulannya, masuk Bangkok sejak September 2022 sudah ngga perlu lagi antigen/PCR namun hanya cukup tunjukkan sertifikat vaksin saja. Singkat cerita, di bulan Oktober akhirnya kami memutuskan untuk pergi berdua saja dan meninggalkan anak-anak di rumah kakek-neneknya karena anak saya yang besar masih sekolah dan Bangkok bukan kota yang ramah untuk jalan-jalan dengan anak kalau lihat banyak video di youtube.

Tiket pun sudah dibeli. Saya memutuskan berangkat hari Jumat 16 Desember sore, pukul 16.30 dengan Air Asia rute CGK-DMK dan pulang di hari Senin 20 Desember pukul 15.30 dengan Thai Ariways rute BKK-CGK. Ini perjalanan perdana ke Bangkok jadi cukup deg-degan juga dan karena saya hanya bisa cuti satu hari saja, jadi agenda utamanya hanya untuk nonton konser ini di Sabtu tanggal 17 Desember nya. Jadi kami punya 1 hari (minggu 18 Desember) untuk explore Bangkok dalam sehari.

Singkat cerita di hari keberangkatan, saya sempat Work From Anywhere (WFA) dari lounge di Bandara CGK karena masih ada meeting pukul 14.30 nya. Sejak Kamis malam saya sudah di hotel bandara dan WFA dari jumat pagi sampai selepas solat jumat. Istri berangkat dari Bandung pukul 9 dan sampai di bandara pukul 13 WIB.

Perjalanan ke DMK (Don Meuang Airport) Bangkok dengan air asia cukup smooth. Karena pesawatnya kecil (A320) jadi ada turbulensi sangat terasa. Untungnya di Air Asia ini disajikan makan minum walau berbayar, jadi lumayan lah daripada diem aja selama 3 jam perjalanan. Sampai di DMK kira-kira pukul 19.30 WIB, dan dari info yang saya dapat, transport dari DMK ke kota yang tercepat adalah dengan taksi, bisa nyegat langsung atau pakai JustGrab di depan Terminal kedatangan. DMK sendiri kalau dilihat-lihat mirip KLCC (bandara air asia nya Kuala Lumpur jaman dulu) atau Halim jaman dulu, khusus terminal low cost budget jadi kondisi Airportnya sendiri ya ala kadarnya hehe. Tapi Airport ini letaknya lebih dekat ke kota dibanding Survanabhumi (BKK).

Naik taksi dari DMK ke Hotel (kami menginap di hotel Ibis Sathorn) https://all.accor.com/hotel/6537/index.id.shtml yang letaknya di daerah Shukumvit, tepatnya di Lumphini. Alasan menginap di sini karena area ini termasuk tengah kota dan dekat dengan MRT station Lumphini. Sebetulnya di area ini cukup banyak hotel dan salah satunya ada Malaysia Hotel, mungkin dinamakan begitu karena yang punya orang Malaysia. Perjalanan dengan taksi dari DMK ke Ibis Sathorn sekitar 30 menit dengan biaya 200 THB dengan bayar tol 50 THB.

Menginap di Ibis per malam sekitar 450rb rupiah, jadi harga hotel di Bangkok menurut saya lebih murah sedikit dari hotel-hotel di Jakarta. Roomnya cozy, cukup luas, namun kelemahannya ya TV nya hanya TV lokal aja hehe, dan juga laundry nya mahal. Tapi worth it lah karena ngga jauh dari hotel ada laundry coin yang nanti akan saya ceritakan.

Sesampainya di hotel sudah pukul 21.00 dan persis depan hotel ada 7Eleven. 7Eleven ini kalau di Bangkok udah kayak Indomaret-Alfamart. Di setiap belokan jalan pasti ada tokonya hehe. Sehabis mampir sebentar beli makanan halal. kami langsung check-in dan istirahat di kamar karena sudah lelah di jalan.

Keesokan paginya, sekitar pukul 5.30 pagi. Setelah searching di google, dekat hotel sekitar 600m ada laundry coin yang kalau dilihat fasilitasnya cukup lengkap.

Jalanan menuju ke laundry coin nya persis kayak di gang-gang di Jakarta. Cuma bedanya lebih bersih aja. Sepanjang jalan, yang dilihat kalau nggak Guest House, bar, dan tempat Spa/Thai Massage karena memang area ini banyak hotel dan area turis juga. Dan seperti biasa, di setiap belokan pasti selalu ada 7Eleven guys hehe.

Pemandangan umum di jalanan bangkok. Setiap belokan ada Sevel
Ada orang jualan sarapan juga

Laundry coin di sini persis seperti di Singapur, buka 24 jam, banyak CCTV, ada mesin penukaran koin, dan bedanya lagi di sini ada mesin kopi dan beli detergen sendiri. Harga laundry cuci ditentukan dengan tipe detergen, detergen saja harga 5 THB, detergen pakai pewangi harga 10THB. Lalu per 10 menit mencuci harganya 40 THB untuk air dingin dan 50THB untuk air hangat di mesin cuci yang ukuran 10kg. Jadi total sekali cuci habis 55-60 THB atau sekitar 30rb. Kemudian untuk drier nya sendiri harga per 30 menit adalah 50 THB untuk high temperature, dan 40 THB untuk medium temperature. Waktu untuk melaundry kira-kira sekitar 45-60 menit.

Sambil menunggu laundry selesai, kami mampir ke Sevel dulu untuk beli sarapan. Oia, di Thailand, kalau mau cari makan halal, cukup mudah. Sama seperti di Singapur, jenis kehalalan nya ada 3: 1. Halal certified, bisa dilihat dari logo di setiap kemasan makanan atau restoran, 2. muslim owned, yang tipe ini banyak di food court di mall atau di warung pinggir jalan seluruh Bangkok, dan 3. vegan/vegetarian food. Di Sevel sendiri, cukup banyak makanan dengan logo halal, semisal Thai Chicken Rice, sandwich, dan nasi goreng yang letaknya di mesin pendingin. Kemudian di Sevel juga jualan buah-buahan dan salad yang aman dimakan. Minuman-minuman kemasan kayak susu, eskrim dan teh juga udah halal certified semua. Cuma kekurangannya cuma satu, microwave untuk manasin makanannya masih sharing dan ada potensi kecampur sama bekas manasin makanan non halal.

Tipikal sarapan halal di Sevel

Oia, harga di Sevel nya pun masih lebih affordable ketimbang Sevel di Singapur ya. Mungkin karena perbedaan kurs juga. Sekali belanja makanan dan cemilan, habis sekitar 200 THB atau sekitar 100rb rupiah maksimal. Yang uniknya, di sana pun setiap pagi ada tukang sayur yang keliling naik motor supra dan juga ada orang jualan sarapan kayak nasi, ayam dan makanan lain di pinggir jalan dan depan rumahnya pakai tenda. Bener-bener tumplek persis kayak di Indonesia.

Keunikan lain di Bangkok adalah di sini ada juga Ojol (Grab) dan di tiap gang ada ojek pangkalan yang ciri khasnya memakai rompi proyek warna oren. Awalnya saya dan istri nyangka orang-orang yang pake rompi oren ini pekerja konstruksi. Eh ternyata opang dong hehe.

Setelah cuci baju dan kembali ke hotel, agenda pertama hari Sabtu pagi ini adalah jalan-jalan ke Chatuchak Market, sekalian beli oleh-oleh. Chatuchak adalah weekend market (pasar kaget) terbesar di Asia Tenggara. Adanya hanya dari hari Jumat sore sampai malam, dan Sabtu-Minggu dari pagi sampai malam. Untuk pergi ke Chatuchak, dari hotel kami jalan kaki ke stasiun MRT Lumphini kurang lebih 700m. Ada yang unik juga di MRT Bangkok. Ticketing nya persis kayak LRT di Kuala Lumpur, ngga pake kertas/kartu kayak di SG atau Tokyo, dia pakai token semacam koin plastik gitu.

Harga tiketnya pun nggak bisa dibilang murah juga sih. Dari Lumphini ke Chatuchak sekitar 13 stasiun sekitar 48 THB seorang atau 20 ribu rupiah. Ya mirip-mirip MRT Jakarta lah ya. MRT Bangkok ini buatan Siemens jadi kereta nya mungkin lebih bagus, dan stasiunnya pun moderen. Tapi entah karena kita kepagian atau gmn stasiun MRT nya terlihat sepi. Mungkin rute nya masih sedikit kali ya mengingat baru ada 1 koridor aja kayak di Jakarta. Dari Lumphini, kita turun di stasiun MRT Kamphaeng Phet (namanya unik-unik) dan keluar dari stasiun MRT langsung sampai di pintu terluar pasar Chatuchak.

Berhubung hari masih jam 9 pagi, belum semua lapak di sana udah buka. Kebanyakan masih beres-beres dan persiapan buka. Tapi dari yang saya lihat, area Chatuchak ini gede nya ampun dah. Mungkin seharian keliling di sini aja nggak cukup kali ya. Mirip Cimol Gedebage dengan luas puluhan kali lipat dong. Dan bedanya tertata rapi dan bersih lah. Aneh bener karena sesama Asia Tenggara tapi Bangkok ini bisa rapi dan bersih gini.

Pemandangan Sabtu pagi di Chatuchak
Food stall di Chatuchak

Agenda ke Chatuchak ini apalagi kalau bukan cari kaos bergambar Thailand, tas bergambar Thailand, mainan Tuk-tuk, gantungan kunci, dan mencicipi Mango Sticky Rice di salah satu lapak makanan di sini. Di Chatuchak ini ada beberapa spot makanan muslim owned juga, salah satunya adalah Saman Islam, penjual Pad Thai dan nasi biryani ini. Yang masak ibu-ibu menggunakan hijab dan banyak juga orang-orang Indonesia/Malaysia yang makan di lapak ini. Harga per menu nya sekitar 100 THB (50 ribuan) dan Pad Thai nya enak menurut saya.

Mango Sticky rice di Chatuchak harga 30 THB atau 15 Ribu IDR

Setelah beli oleh-oleh dan makan berat dan mencicipi mango sticky rice, kami pun kembali ke hotel untuk mandi dan siap-siap menuju ke tempat konser setelah zuhur. Tempat konsernya ada di Mahidol University, salah satu universitas terkenal di pinggir Bangkok, walau letaknya di luar Bangkok sih sebenernya. Konsernya sendiri dimulai pukul 16.00 dan setelah browsing-browsing berkali-kali, moda transportasi tercepat ke sana hanyalah dengan Taksi/Grab sekitar 40 menit dan biayanya sekitar 300THB (150 ribu rupiah). Alternatif lain adalah menggunakan kereta antar kota yang lebih murah tapi durasinya nyaris 1.5 jam lamanya.

Perjalanan dari hotel ke Mahidol University juga lumayan lancar. Jalanan di Bangkok lebar-lebar dan tertata lebih rapi ketimbang Jakarta. Ada beberapa titik macet tapi nggak banyak dan perjalanan kami tempuh sekitar 45 menit sampai ke depan Prince Mahidol Hall. Sesampai di venue konser, kami langsung tukar tiket. Karena waktu masih pukul 14.30 masih ada beberapa jam lagi sampai gate dibuka. Sambil nunggu, kita duduk2 dulu dan ngobrol sebentar dengan beberapa orang Indonesia yang ada di sana, nggak lupa, istri foto dengan beberapa cosplayer karena cukup banyak juga yang pakai cosplay di sini.

Jam 15.15 venue dibuka dan penonton sudah boleh masuk, venue nya megah, benar-benar cocok untuk tempat konser. Kami duduk di area tengah di sayap kanan. 5 menit sebelum konser dimulai, semua kursi sudah terisi penuh. Ini juga pertama kalinya saya nonton konser orkestra begini. Durasi konsernya sekitar 2 jam dan kita disuguhi alunan musik yang indah dan enerjik dari composernya sendiri yang orang Kanada. Banyak special guest juga di konser ini termasuk creator dan composer OST Final Fantasi yang datang langsung dari Jepang dan beberapa penyanyi Jepang yang mengisi vokal di OST nya. Bener-bener pengalaman konser yang sangat mantap lah.

Venue saat konser belum dimulai
Ketika konser dimulai

Konser selesai pukul 18.30 dan seperti sudah diprediksi orang-orang serentak keluar di waktu yang sama, dan akibatnya adalah semua taksi dan Grab full booked dong. Setelah menunggu selama 30 menit akhirnya kami dapat Grab Taxi dengan harga sekitar 400 THB (200rb) dengan tujuan ke Asiatique The Riverfront Bangkok. Karena tujuan kami ke sini untuk makan di food court halalnya sambil menikmati pinggiran sungai Chao Praya. Perjalanan ke Asiatique sekitar 45 menit dan seperti sudah ditebak, malam minggu, Bangkok macet di area-area wisata. karena macet pula kami jalan kaki beberapa ratus meter sebelum sampai di pintu Asiatique. Tapi seperti diduga, ternyata sampai di sana zonk dong. Foodcourt yang dituju ternyata tutup karena renovasi. Akhirnya di Asiatique cuma foto-foto sambil liatin crowd yang kebanyakan nongkrong di bar buat minum-minum dan hangout.

Asiatique, tempat tourist hotspot di Bangkok di pinggir sungai Chao Praya

Sebelum sampai di Asiatique, sebetulnya saya sempat lihat lapak-lapak makan pinggir jalan yang jualannya ibu-ibu berhijab dan lokasinya ngga jauh dari Mesjid yang ada di area sini. Daripada kelaparan, akhirnya kami memutuskan makan di lapak Pad Thai dan nasi goreng tersebut. Lumayan, pesan pad thai dan nasi goreng sekitar 150 THB (60 ribu rupiah) berdua. Sama ibu-ibunya juga diajak ngobrol dan ternyata mereka ini orang Thailand selatan yang kebanyakan populasi nya muslim karena pengaruh tetanggaan dengan Malaysia. Setelah makan, kami pesan Grab dan pulang ke Hotel.

Makan pad thai di pinggir jalan dekat Asiatique

Keesokan paginya di hari Minggu, setelah laundry dan sarapan, kami memutusan untuk pergi ke landmark di Bangkok seperti Grand Palace, Wat Pho dan Wat Arun (yang letaknya di satu kawasan) sebelum pulang ke Jakarta senin siangnya. Berangkat pukul 8 dari hotel dengan MRT dari Lumphini ke Sanam Chai (6 stasiun) dan dari Sanam Chai Station jalan kaki 1 km (10 menit) ke pintu masuk Grand Palace. Sepanjang jalan, karena cuaca cerah dan angin berhembus sepoi-sepoi, pemandangannya indah sekali melewati kompleks ring-1 nya Bangkok ini. Pemandangan unik sebelum masuk Grand Palace adalah bule-bule yang pada pake hotpants dan rok pendek disuruh sewa/beli kain penutup dulu sebelum masuk ke Grand Palace.

Vibes nya Grand palace sendiri mirip Keraton Jogja namun dengan arsitektur Buddha yang lebih kental. Banyak bangunan, ornamen, dan patung-patung kebudayaan dan kepercayaan agama Budha. Banyak spot-spor foto bagus dan juga lukisan/ornamen yang menceritakan Thailand tempo dulu. Karena masih pagi dan baru banget buka, pengunjung masih sedikit dan kita bebas leluasa foto-foto. Total waktu yang dihabiskan di sini sekitar 1 jam lah dan di bagian dekat pintu keluar baru kelihatan istana Raja Thailand dan kita bisa foto-foto di depannya. Oia, HTM ke Grand Palace adalah 500 THB (250rb), cukup mahal ya.

Ngga jauh dari Grand Palace, di sebelahnya adalaah Wat Pho, sebuah kuil dengan landmark patung Budha raksasa yang sedang berbaring/tidur miring. HTM ke sini 100 THB dan durasi di sini juga cukup cepat sekitar 30 menit karena banyak wisatawan hanya mengincar foto di depan/samping patung Budha raksasa tersebut. Meskipun banyak orang Thailand yang datang untuk berdoa juga di sini.

Sekitar pukul 11, keluar dari Wat Pho, tujuan terakhir adalah Wat Arun, sebuah kuil dengan arsitektur unik yang letaknya di sisi sebrang sungai Chao Praya. Dari Wat Pho, jalan kaki 300 meter ke pelabuhan terdekat dan bayar 12 THB (5000 perak) untuk nyebrang pake perahu dengan durasi tempuh 2 menit aja. HTM ke Wat Arun adalah 100 THB dan di sini kita bisa naik sampai ke puncah kuil kalau niat. Tapi karena hari sudah siang dan kita sudah lapar, jadi di sini cuma 20 menit aja buat jalan keliling dan foto-foto sebentar.

Kapal untuk nyebrang dari Wat Pho ke Wat Arun dan sebaliknya

Nah dari Wat Pho ini, kita rencana mau lanjutkan ke Icon Siam, salah satu mall terbesar juga di Bangkok. Rencananya di sini mau makan siang di food court yang konon banyak muslim owned food stall nya. Salah satu transportasi unik di Bangkok adalah taksi air yang rutenya ke tempat-tempat wisata sepanjang Chao Praya. Dari Wat Arun ini kita bayar 30 THB (15rb) per orang untuk naik kapal dan turun di dermaga depan Iconsiam. Lama perjalanan sekitar 10 menit. Sepanjang perjalanan melintas sungai banyak pemandangan unik juga kayak banyak perahu-perahu kecil yang ngebut dan arus di Chao Praya yang lumayan kenceng juga dan pastinya sungainya warna coklat seperti sungai-sungai di Indonesia hehe.

Sampai di dermaga Icon Siam, kita langsung masuk ke mall nya dan ternyata mall nya gede juga. Di food court di lantai 1 banyak banget jajanan khas Thailand dan muslim owned. Di sini kita makan tom yum, sate-satean, mie ala thailand, martabak, mango sticky rice dll. Total makan sampe kenyang berdua kira-kira abis 450 THB (220rb an). Harga persis dengan makan di mall di Jakarta lah. Yang uniknya di mall ini, di food courtnya ada semacam sungai kecil gitu dan juga ada yang jualan serangga goreng kayak kecoak, jangkrik, larva, dll hehe.

Dermaga IconSiam
Menu makanan Halal (Muslim Owned) di Food Court IconSiam

Setelah kenyang di sini, sekitar pukul 2 siang, saya dan istri pulang pake taksi yang ngetem di depan mall. Ada cerita unik juga di sini karena awalnya si petugas jaga di tempat tunggu taksi bilang tarif argo, tapi pas naik, supirnya nanya ke mana tujuannya, pas saya bilang Ibis Sathorn, dia nembak 100 THB, karena sebelumnya saya udah cek tarif grab sekitar 160 THB ya saya iyain aja. Eh pas di tengah jalan dia bilang klo dia salah ngira Ibis yang lain, jadi minta naik ke 150 THB. karena males debat ya saya iyain aja toh masih lebih rendah dari tarif Grab.

Sampai di hotel istirahat sebentar lalu sore nya kita ada rencana jelajah Platinum Fashion Mall buat cari baju-baju anak dan lanjut jalan di sekitaran Central World. Karena waktu itu hari minggu Sore, kita naik Grab dari hotel menuju ke Platinum. Selama di Bangkok, ada pengalaman unik naik grab, yang pertama kita pernah dapat Grab Ford Ranger dong, lalu yang kedua pernah dapat Mazda 3. Jadi di Bangkok itu taksi online nya bukan kaleng-kaleng mobilnya cem di Indo yang kalo ga Agya Ayla Sigra Calya family hehe.

Menuju ke Platinum Mall, ternyata kemacetan sudah mengular dan jalanan isinya orang semua. Maklum karena Platinum Fashion Mall itu letaknya di pusat kota Bangkok yang bersebelahan dengan Mall-mall terkenal lain kayak Centralworld, Siam Center, MBK Center. Yang uniknya beberapa mall ini tersambung sama skywalk gitu jadi orang-orang yang jalan kaki ngga perlu lewat trotoar yang isinya crowdeed sama kemacetan lalu lintas. Kemudian yang bikin amaze lagi di Bangkok itu orang-orang tumpah ruah semua di jalan, tapi anehnya semua moda transportasi juga penuh kayak BTS, MRT dan kendaraan pribadi.

Pemandangan depan Platinum Fashion Mall
Kesemrawutan persis seperti di Indonesia

Setelah cari baju anak di Platinum, saya dan istri jalan kaki menyusuri trotoar ke arah Siam Center. Sepanjang jalan, kami lihat jalur BTS sampai susun 2 tingkat dong saking crowded nya transportasi Bangkok. Udah gitu jalanan mobil di bawahnya juga macet dan crowded. Luar biasa. Masuk di Siam Center, ternyata orang banyak banget sampe pusing lihatnya. Istri saya aja sampai mau pingsan pas mau masuk ke stasiun BTS saking penuh nya sama orang yang lalu lalang. Bener-bener amazing.

Jalan raya dan 2 jalur BTS yang bertumpuk-tumpuk
Suasana di Stasiun BTS terramai di Minggu sore

Karena istri saya mabok dan mual-mual, maka kami istirahat sebentar di luar stasiun BTS buat ambil nafas dan duduk. Sekitar pukul 7, istri sudah baikan dan kita memutuskan untuk jalan ke JODD Fair, sebuah kawasan pasar malam yang isinya bar dan beberapa tempat makan gitu hasil dari nontonin video salah satu yutuber. Dari Siam naik BTS 3 stasiun lalu lanjut naik MRT yang kebetulan satu jalan dengan arah pulang ke hotel. Pengalaman di stasiun BTS yang supercrowded dan masuk ke kereta yang crowded bener-bener khas Bangkok dah.

Sesampainya di JODD Fair ternyata memang isinya food stall sama bar/cafe gitu. Ada beberapa food stall halal (muslim owned) tapi kebanyakan yang ngga ada label/keterangan halalnya sih. Vibes nya sih bagus ya tempat ini cuma sayangnya kursi-kursi yang ada ternyata udah reserved untuk pengunjung bar. Jadi klo kita duduk di tempat kosong gitu, bisa langsung diusir security.

Suasana malam di JODD Fair

Akhirnya kami milih untuk makan burger dan dimsum aja di tempat ini sebentar lalu memutuskan pulang sekitar pukul 9 malam waktu setempat. Karena udah capek, jadi ambil Grab aja dan kebetulan dapat mobil Innova yang disopirin emak-emak dong. Sampe di hotel langsung tidur karena besoknya akan pulang ke Indonesia.

Praktis, selama di Bangkok kami nggak berkesempatan naik tuktuk karena: ngga ada waktu, dan yang kedua, masih belum siap untuk terkaget-kaget dengan tarifnya dan metode nawar ke drivernya. Jadi next time aja deh naik Tuktuk.

Esok harinya, rencana awal kita mau jalan ke Lumphini Park, namun karena masih capek, akhirnya agendanya batal dan hanya leyeh-leyeh aja di hotel sampe jam checkout tiba. Belanja sarapan di Sevel, terus mager di kamar hotel tau-tau udah jam 11 siang. Akhirnya kami checkout dan pesen Grab untuk ke bandara Suvarnabhumi (BKK). Perjalanan ke BKK dari Hotel sekitar 45 menit, letak si bandara ini lebih jauh dari DMK, dan tarif toll ke sana sekitar 75 THB dibayar tunai. Sampai di BKK pukul 13, rupanya antrian di security check baggage dan imigrasi panjang banget. Baru bisa masuk gate di jam 14 waktu setempat sementara boarding pukul 14.45. Menjelang boarding ada pengumuman pesawat delay 30 menit karena kendala operasional. Akhirnya kami baru bisa boarding pukul 15.30 dan bisa naik ke pesawat.

Pengalaman perdana naik Thai Airways, dapat pesawat B787-Dreamliner dan duduk di kursi jendela. Overall, vibes nya Thai Airways bagus, interior dominasi warna ungu dan pesawat juga masih baru. Hiburan lengkap, dan menu makanan juga ok. Ada salah udang, dan pilihan makanannya nasi ayam Thailand dan pasta udang walau rasanya masih kalah dari menu makanan SQ. Perjalanan BKK-CGK makan waktu 3 jam 15 menit dan sampai di Jakarta sekitar jam 6 sore. Keluar airport jam 7 malam dan perjalanan ke Bangkok pun berakhir dan besoknya saya harus kerja lagi hehe.

Demikian sharing perjalanan ke Bangkok yang super singkat tapi berkesan ini. Kalau ditanya apakah tertarik untuk ke Bangkok lagi dengan anak-anak? nampaknya saya akan berpikir 2 kali deh, masih mending milih bawa anak-anak ke Singapura karena lebih ramah anak daripada ke Bangkok hehe.

Tapi impresi saya ke Bangkok: Kota yang hampir sama dengan Jakarta dari mulai kepadatan, kemacetan, hingar bingar, dan crowd nya, tapi satu tingkat lebih baik dalam hal keteraturan, transportasi publik dan fasilitas umum. Keren…

Singapore Trip 2014 (Part 3)

12 Februari pukul 07.00 China Town masih gelap dan seluruh tamu penginapan Backpackers Inn pun belum ada yang beranjak dari tempat tidur, kecuali si Bule yg tidur di kasur sebelah saya yg nampaknya mau balik ke negaranya. Setelah mandi dan ganti baju kami pun bergegas menuju stasiun MRT menuju ke Vivo City (stasiun Harbour Front) karena agenda hari ini seharian di tempat paling terkenal di Singapur : Resort World Sentosa (RWS).

Pukul 08.00 kita tiba di Harbour Front MRT dan naik ke tangga lantai paling atas untuk menuju Sentosa Island. Ada 2 tempat yang akan kita kunjungi hari ini yaitu Sea Aquarium, akuarium terbesar se-asia tenggara, dan Song of The Sea, sebuah drama musikal dan laser show yang diadakan di Pantai Selatan Sentosa. Sentosa Island adalah pulau buatan yg dijadikan tempat rekreasi terpadu oleh Pemerintah Singapura. Konon pulau ini dibentuk dari pasir yang dibeli dari kepulauan Riau. Menuju Sentosa dapat ditempuh dengan 2 cara : jalan kaki (naik travelator) melewati Sentosa Broadwalk dengan bayar 1 SGD di pintu masuk. Cara kedua adalah dengan naik Monorel dari lantai 3 Vivo City dengan ongkos sekitar 1,5 SGD.

Berhubung masih pagi, Vivo City pun belum buka dan kami memutuskan untuk ke Sentosa dengan jalan kaki via Broadwalk. Vivo City adalah mall terpadu yang didalamnya ada stasiun MRT dan Monorel, pelabuhan Ferry dari Batam dan Malaysia, juga ada pelabuhan kapal pesiar dari Australia dan penjuru dunia lainnya. Karena mall belum buka, ya foto-foto dulu deh seperti biasa.

Dari ujung Vivo City sebenernya udah keliatan tuh yang namanya Sentosa Island, orang jaraknya cuma 1 kilo lebih dikit hehe. Berikut penampakannya kalau dilihat dari sisi Vivo City.

Di Resort World Sentosa ini selain ada Universal Studio juga ada Sea Aquarium, Marine Life Park, Crane Dance, Casino, Lake of Dreams, deretan hotel kelas internasional, dll. Oke kalau gitu mending langsung aja deh jalan ke sana.

Seperti  yang saya bilang sebelumnya, Broadwalk ini adalah jalur lantai kayu sepanjang 1,2 kilo dan dilengkapi dengan travelator. Jadi yg males jalan ya bisa tinggal pegang travelator dan sampe di ujung di pintu masuk ke Sentosa hehe. Di tengah-tengahnya ada semacam balkon untuk ambil foto.

Di ujung pintu masuk, kita bisa bayar dengan uang koin 1 SGD atau pakai EZ-Link Card yang biasa dipakai buat MRT. Dari situ tinggal belok kanan dan menuju main hall yang di sana terdapat bola dunia Universal Studio yang terkenal itu 😀

Berhubung masih jam 9 lebih dikit, Sea Aquarium pun belum buka. Alhasil kami pun cari spot yang bagus buat dipake foto-foto. Lumayan killing time sambil menikmati pemandangan Harbour Front.

Pukul 10.00 kami pun masuk ke dalam Sea Aquarium dan rupanya interior di dalamnya bagus juga. Ada shipwreck raksasa di main hall yang di dalamnya terdapat toko-toko dan juga dekorasi ala jaman Nabi Nuh. Di lantai paling atas rupanya dipajang beberapa benda-benda semacam peninggalan jaman maritim dari mulai Timur Tengah, India, hingga Indonesia. Bahkan patung lilin nya pun mirip sekali dengan manusia asli.

Dari lantai atas, kita turun ke lantai bawah. Di sini ada semacam peta maritim dunia yang digambar di lantai juga nampak sisi belakang shipwreck yang tadi saya sebutkan. Rupanya dekorasi belakangnya memang perahu Nabi Nuh.

Begitu masuk ke dalam, kita langsung disuguhi pemandangan shipwreck lengkap dengan ikan-ikan raksasa mulai dari pari manta, kerapu, hiu, dll. Mirip Sea World tapi lebih gede lah hehe.

Di dalamnya ada banyak sekali biota laut dari berbagai lautan di dunia. Dan beruntungnya, karena ini working day, pengunjungnya nggak terlalu banyak, paling bocah-bocah SD setempat aja yg jumlahnya sekitar 50 orang.

Sama seperti di River Safari, di tempat ini juga ada main hall, sebuah kaca akuarium raksasa yang dipakai untuk menggelar pertunjukkan lengkap dengan tribunnya.

Kurang lebih 2,5 jam kita menjelajahi Sea Aquarium dan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.30. Yasudah akhirnya kita pulang ke Vivo City naik MRT dan memutuskan untuk makan siang di food court di sana. Di food court Vivo City cukup banyak masakan halal dan kami pun memutuskan pilihan ke Yang Tao Fu yang nampak lezat. Seporsi cuma 4 SGD alias Rp 40 ribu saja (mahal juga sih). Setelah puas makan, kami pun memutuskan balik dulu ke penginapan untuk mandi dan bersiap untuk menyaksikan Song of The Sea sekitar pukul 19.00 nanti. Yang penting tidur siang dulu lah, lumayan capek juga setengah hari ini keliling Sea Aquarium.

 

Sampai di Inn, istirahat sejenak lalu sekitar pukul 4 sore bersiap lagi ke Sentosa untuk melihat Song of the Sea, sebuah drama musikal dengan pertunjukkan laser yg diadakan di pinggir laut di Sentosa. Sampai di Vivo City, ya foto-foto dulu lah di lantai 1 dan lantai 3 nya yg lumayan eye catchy pemandangannya.

Show dimulai sekitar pukul 19.00, jadi masih ada waktu 3 jam lagi sebelum dimulai. Lagian hari juga masih terang, yasudah gak ada salahnya jalan-jalan dulu di Sentosa dan kami pun memutuskan untuk tidak naik monorel namun jalan kaki seperti pagi tadi. Rupanya semakin ke dalam, Sentosa semakin keren. Di dalamnya ada Lake of Dreams, Merlion raksasa, dan juga arena rekreasi iFly yang terkenal itu dimana orang bisa mencoba melayang dengan disembur udara bertekanan kuat dari bawah haha.

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 artinya sejam lagi pertunjukkan dimulai. Yasudah kami pun masuk dan berharap dapet spot yang bagus di dalam. Dan rupanya di dalam masih sepi artinya bisa milih spot bagus untuk nonton pertunjukkan ini hehe.

10 menit sebelum pertunjukkan dimulai, pemandangan bagus pun tersaji, matahari terbenam di ufuk barat yang indah dibalut langit jingga dan kapal-kapal tongkang yang bersauh di laut luas yang sangat menyejukkan mata hehe.

Daaaan, akhirnya pertunjukkan pun dimulai. Musik mengalun, para penari memasuki panggung dan semburan air, kilatan cahaya, kembang api dan laser warna-warni yang sangat cantik berseliweran sepanjang pertunjukkan. Pertunjukkan ini berlangsung sekitar 45 menit dan harga tiketnya sekitar 17 SGD (Rp 170 ribu), lumayan mahal yah hehe.

Pertunjukkan pun berakhir dan semua penonton sangat terhibur. Kami pun memutuskan untuk berjalan kaki kembali ke Vivo City karena monorel pasti penuh hehe. Lumayan bisa foto-foto lagi dan dapet momen Sentosa saat malam hari.

Sesampainya di Vivo City, waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 waktu setempat. Kami pun segera naik MRT ke China Town dan kembali ke Inn untuk beristirahat. Agenda besok adalah jalan-jalan ke Gardens by The Bay (lagi) dan juga wisata kuliner makan Chilli Crab khas Singapur hehe.

to be continued…

Singapore Trip 2014 (Part 2)

Singapur di pagi hari adalah keanehan. Ya, berhubung secara geografis negara ini ada di wilayah WIB (Waktu Indonesia Barat), namun mungkin karena tengsin ama Malaysia jadinya dia nampaknya ngikut zona waktu WITA. Alhasil jam 6 pagi di saat semua orang Singapur memulai aktivitas, hari masih gelap gulita 😛

Bangun jam 7 namun hari masih gelap dan nampaknya sangat aneh hehe. Agenda hari ini adalah ke River Safari. River safari adalah suatu taman wisata  buatan (di Singapur mana ada sih yg ngga buatan :P) yang memiliki konsep river alias sungai, delta, danau, dan segala yang berhubungan dengan dunia air tawar. Cek di website nya deh http://riversafari.com.sg

 

Reservasi tiket untuk berkunjung ke sini sengaja saya lakukan via online (bayar pake kartu kredit) karena ada diskon 5% lumayan lah ya hehe. Harga tiketnya SGD 25 atau setara 250 ribu rupiah per orang kala itu. Mahal juga ya hehe. Tapi gapapa lah mumpung di Indonesia belum ada. Nah berhubung tempat ini ngga bisa dijangkau via MRT, artinya cara ke sini adalah dengan menggunakan taksi atau bus SBS. Taksi harganya pasti mahal lah ya oleh karena itu saya mencoba cari info bagaimana ke tempat ini dengan bus.

Menurut hasil browsingan yang saya lakukan, cara ke tempat ini dpt ditempuh dengan 2 cara yaitu menuju stasiun MRT dan terminal bus Choa Chu Kang lalu naik bus nomor SBS 927 atau menuju stasiun MRT dan terminal bus Ang Mo Kio dan naik bus SBS no 187. Yah karena tempat menginap kita di China Town dan dekat ke Ang Mo Kio jadi kita pilih rute Ang Mo Kio aja deh.

MRT dari China Town ke Ang Mo Kio mengambil rute warna ungu lalu turun di Dhoby Ghaut dan pindah ke jalur merah hingga Ang Mo Kio. Harganya kurang lebih 2 SGD. Dan dari stasiun MRT nya ke terminalnya cuma nyebrang sekali doank. Jangan bayangkan terminalnya macem Cicaheum atau Leuwi Panjang tapi letak terminal ini adanya di mall loh haha.

Terminal bus kayak gini coba haha

Naik ke bus nya juga musti antri lagi ga bisa maen serobot dan sodok sana sini hehe. Ongkos naik bus SBS ini kalau tidak salah 5 SGD atau setara 50 ribu rupiah. Wew agak mahal juga ya. Waktu tempuh dari Ang Mo Kio ke daerah Jurong lokasi River Safari adalah sekitar 30 menit. Jalan menuju ke sana memang tidak seperti Singapur yang banyak gedung sana-sini. Pemandangan di sekitar malah banyak pepohonan, hutan buatan, apartmen-apartmen dan juga danau reservoir air Singapur yang juga buatan hehe.

Setiba di sana pemandangannya juga  bagus euy. Rimbun dan masih asri. Nyaris ngga ada sampah apalagi tukang dagang emperan dan taksi-taksinya pun tertib.

Pengelolanya adalah Singapore Wildlife Reserves yang juga mengelola 2 wahana lain yaitu Singapore Zoo, Jurong Bird Park dan Night Safari yang letaknya satu kompleks dengan River Safari. Di dalam river safari, ada 5 macam tema yang dibagi berdasarkan sungai-sungai yg ada di dunia : Missisipi, Nil, Gangga, Amazon, Mekong dan Yangtze. Ada juga Giant Panda Forest (tempatnya si Jia Jia ama Kai yang terkenal itu) dan Amazon River Quest yang sayangnya ketika kita ke sana lagi tutup karena masalah teknis.

Oke masuk ke dalam, rupanya dibuat semacam labirin yang di kanan kiri banyak sekali fauna akuatik khas masing-masing sungai. Dari mulai buaya sungai, piranha, arwana, sampai pesut sungai semua ada. Tempatnya diatur sedemikian rupa sehingga nyaman dan enak buat liat-liat, berhenti, foto-foto dll.

Buaya muara yang moncongnya panjang. Mungkin banyak di Bontang hehe

 Ikan-ikan sungai yang tampaknya lezat 😛

Jangan lupa, disini juga ada si Kai-Kai dan Jia-Jia juga panda merah yang mirip kucing hehe. Pandanya ditempatkan di ruangan ber-AC dan didesain sedemikian rupa mirip habitatnya. Di sini ada juga lab buat memantau kesehatan panda dan juga mengatur menu makanannya yg seimbang. Agak lebay sih tapi ya namanya juga endanger species jadi ya maklumlah hehe.

Panda merah, rasanya ingin miara satu gitu ya.

Oia, tempat ini letaknya persis di tengah-tengah Singapore Reservoir, danau buatan terbesar di Singapur sehingga pemandangannya juga indah karena terletak di tengah-tengah danau.

Singapore reservoir, danau buatan terbesar di Singapur

Di tempat ini juga ada pintu gerbang menuju monyet-monyet kecil super nakal yang saya lupa apa namanya. Yg pasti kalau kita masuk ke dalam, tangan ngga boleh masuk saku dan harus berhati-hati karena mereka bisa nyerang loh hehe.

Tempat ini mirip Sea World karena di tengah-tengah ada akuarium raksasa yang di atasnya isinya ikan-ikan air tawar dari sungai-sungai besar di dunia. Ada juga semacam panggung dan teater dengan kaca akuarium besar buat ‘nonton’ atraksi yang sering dilakukan oleh penyelam setempat.

Di luar River Safari, banyak spot-spot bagus yg bisa dipakai buat foto loh. Salah satunya adalah depan Singapore Zoo dan juga di perahu dan taman bunga di depannya. Berhubung saya ke sana pas hari kerja, jadinya kosong melompong dan bisa foto-foto dengan leluasa hehe.

Singapore Zoo, sayangnya kita gak sempat ke sana..

Wah, bisa jadi spot foto buat pre-wedding nih 😛

Setelah puas foto-foto, lanjut makan siang di KFC dan bergegas pulang kembali ke penginapan karena kaki rasanya udah pegel hehe. Jam menunjukkan pukul 13.00 waktu setempat dan perjalanan ke China Town membutuhkan waktu kurang lebih sejam dengan menggunakan jalur transportasi yang sama seperti berangkat.

Sampai di Inn, mandi dan istirahat bentar lalu sekitar pukul 4 sore waktu setempat lanjut deh jalan-jalan sore. Tujuan sore ini adalah cari makan dan jalan-jalan di Orchard. Seperti biasa, sore hari MRT akan sangat penuh dan berdesak-desakan. Apalagi melewati jalur merah yang notabene banyak daerah perkantoran. Sampai di Orchard, keluar dari stasiun kami mengarah ke Lucky Plaza. Di sini ada foodcourt yang jual makanan Indonesia. Maklum lah 2 kali berturut-turut makan Texas Chicken dan KFC rasanya rindu sama nasi hehe. Disini kita pesan gado-gado dan paket ayam timbel yang kalau digabung harganya hampir 20 SGD (200 rebu) gilak!

Sehabis makan saatnya cuci mata ke Nge-Ann-City dan sekitaran Orchard Road yang terkenal itu. Lumayan buat cuci mata aja sih, kalau mau belanja di sini? Mending di Indonesia aja deh hehehe.

Papan nama Orchard Rd yang terkenal itu…

Kabayan tersesat di kota

Fokus foto ini sebenernya si Mbak yang pake baju merah, apa daya ketutupan Setan hehe..

Patung orang warna-warni di depan Louis Vuitton

Ion Plaza, mall dengan arsitektur jempolan

Jam menunjukkan pukul 17.00 waktu setempat, setelah puas jalan-jalan dan foto-foto di Orchard, target kami selanjutnya adalah menikmati pertunjukkan laser di Marina Bay. Dari Orchard ke Marina bay sebetulnya cukup naik MRT jalur merah aja sekali. Keluar di stasiun MRT Marina Bay namun musti jalan cukup jauh. Supaya ga jauh jalannya, lebih enak pindah naik jalur orange dari Dhoby Ghaut dan turun di Esplanade. Dari Esplanade, keluar di teater trus jalan kaki deh dari situ ke Marina Bay di depan Hotel Fullerton.

Tempat ini sangat tidak asing bagi saya karena di dua edisi sebelumnya ya pasti kesini hehe. Berhubung pertunjukkan laser belum mulai, rasanya kita wajib “ritual” dulu deh. Ritual foto di depan Merlion hehe. Seperti biasa, mau hari apa juga pasti yg namanya Merlion di Marina Bay dipadati oleh turis-turis asal Indonesia hehe. Berhubung hari sudah gelap, ya hasil fotonya agak kurang bagus nih.

Dan setelah puas foto-foto di sini, waktu sudah hampir menunjukkan pukul 19.00 waktu setempat yang artinya pertunjukkan laser akan dimulai. Kami pun bergegas keluar dari Merlion dan menuju jembatan depan Hotel Fullerton supaya dapat view yang bagus. Dan memang bagus rupanya hehe.

Pertunjukkan laser berlangsung selama 15 menit dan pertunjukkan berikutnya akan ada lagi pukul 21.00 waktu setempat. Well, setelah puas foto-foto, kami pun beranjak pulang karena kaki rasanya sudah berat karena jalan cukup jauh. Saatnya istirahat karena besok ‘main course’ nya yaitu seharian di Sentosa Island hehe.

To be continued…

Singapore Trip 2014 (Part 1)

postingan kali ini akan membahas kunjungan saya ke negeri Singa bulan Februari 2014 lalu. Ini merupakan kali ketiga saya berkunjung ke negeri Singa dan ngga pernah sekalipun bosen loh hehe. Seperti yang sudah pernah saya tulis sebelumnya, kunjungan pertama saya adalah waktu konser SNSD di 2011, dan yang kedua adalah ketika saya mengikuti pameran di Batam (kunjungan ke Singapur nya cuma 10 jam sih 😛 ) Kali ini ada yang spesial juga karena jalan-jalan bareng calon istri yang artinya semuanya musti well-prepared hehe.

Singapur, negeri yang menjual engineering dan inovasi. Yup, rasanya negeri jiran yang satu ini punya sesuatu yang jadi point of attraction yang ngga pernah habis dan selalu ada yang baru setiap tahunnya. Kali ini telah diputuskan durasi hari perjalanan adalah sebagai berikut : 10 Feb berangkat dari Bandung dan 15 Feb pulang kembali ke Bandung karena cuti saya hanya sampai tanggal 16 hehe. Berhubung praktis, kami memutuskan berangkat dari Bandung dengan Air Asia dan pulang pun kembali ke Bandung dengan Air Asia. Total biaya yang dikeluarkan untuk pesawat : Rp 1.600.000 per orang P.P.

Berangkat dari Bandung pukul 14.00 WIB, kita sampai di Singapur pukul 17.00 waktu setempat. Yah karena ini udah  yang kedua kalinya di Changi, kali ini udah ngga katrok lagi lah ya. Kali ini saya memutuskan untuk membawa tas ransel besar sementara cabin (calon bini) bawa tas kecil jadi begitu sampai di Changi langsung ngacir deh ke penginapan. Dan kali ini saya masih mengandalkan penginapan ketika saya berkunjung di kali kedua yaitu Backpackers Inn, sebuah dormitory-style Inn di bilangan China Town, sekamar 6 orang dengan susunan 3 bed tingkat dengan harga SGD 25 (sekitar 200 ribu) per malam. Yah karena kurs SGD lagi tinggi sekitar Rp 10.000 per SGD jadinya kerasa banget mahalnya. Tp ini udah sangat-sangat murah oh..

Oia kali ini saya dilengkapi juga dengan ‘senjata’ Samsung NX2000, sebuah kamera mirrorless yg lumayan canggih dan keren hehe #ngiklan. Setelah bayar-bayar dan menaruh semua barang di penginapan, kami pun bergegas menuju ke destinasi pertama di hari pertama ini : Gardens By The Bay. Yup, meski udah 2 kali ke tempat ini, saya masih belum bosen untuk ke sini lagi karena tempatnya yg sangat unik. Kebetulan cabin yg katanya udah 3 kali ke Singapur juga belum pernah ke sini, jadi we sepakat untuk ke sini. Dari China Town kita naik MRT dengan jalur Downtown, jalur baru berwarna biru yang baru diresmikan di akhir 2013. Dari sana langsung turun di Bayfront dan tinggal jalan kaki sedikit naik ke atas melalui Lantai 2 Hotel Marina Bay Sands yang terkenal itu. Ongkosnya? cuma 1,4 SGD kalo ga salah.

Oia dalam perjalanan ini saya juga disponsori oleh si Babeh yang memberikan secara percuma kartu SingTel yang pulsanya masih ada sekitar 50SGD hehe. Lumayan bisa Always ON selama di Singapur. Sesampai di Gardens by The Bay, matahari sudah terbenam dan suasananya : WOW!

 

Di dua edisi sebelumnya, saya belum pernah naik ke Sky Bridge yang ada di sini. Mumpung sekarang ada kesempatan lagi, ya akhirnya naik lah. Awalnya cabin ngga mau karena takut ketinggian tapi akhirnya berhasil saya paksa hehe. Ongkos naik ke Sky Bridge adalah 5 SGD. Tinggi jembatan ini kurang lebih 10 m dengan panjang hampir 500 meter membentang di antara dua tiang utama yang ada di Gardens by The Bay. Berhubung saya sudah sering manjat-manjat dan naik di equipment pabrik LNG di Bontang, ketinggian segini sih cemen hehe. Pemandangannya keren abis loh dari atas 😀

Nah, yang unik di sini adalah setiap pukul 19.45 dan 20.45 waktu setempat, ada pertunjukan light show semacam avatar gitu yang berlangsung sekitar 15 menit. Pertunjukkannya keren abis. Musik dan tata cahayanya bener-bener match banget. Luar biasa lah!

Kita makan malam di Texas Chicken yang ada di dalam kompleks Gardens By The Bay. Harga makanannya ya antara 10-15 SGD lah per orang. Abis dari tempat ini kita mampir dulu ke Clark Quay, tempat wajib dikunjungi yang selalu saya kunjungi di dua edisi sebelumnya hehe.

Dari dulu ingin sekali naik perahunya tapi apa daya mata rasanya udah sepet dan ngantuk. Kaki juga udah pegel gak karuan ya akhirnya pulanglah kita ke INN yang jaraknya cuma 800 m dari lokasi ini.

Agenda besok hari adalah ke River Safari, sebuah lokasi integrated park dengan tema sungai, danau dan hutan. Mudah-mudahan aja seru di sana hehe.

Bersambung ke part 2…

Sea World Days Off [010413]

Wah udah lama rasanya ga ngisi pos tentang travelling. Tapi udah rada basi juga sih karena kali ini yang akan dibahas adalah waktu saya berkunjung ke Sea World sama cabin (calon bini) tahun 2013 lalu dalam rangka family visit alias cuti 5 hari kerja yang diberikan oleh perusahaan saya setelah melalui tahapan probasi 3 bulan.

Sebenernya sih waktu kecil dulu (mungkin SD atau SMP ya) pernah ke Sea World, cuma ya itu berhubung cabin belum pernah ya akhirnya nemenin deh hehe. Sengaja milih hari Senin dengan harapan di sana ngga terlalu rame. Kita berangkat dari Bandung sekitar jam 5 pagi, naik kereta Argo Parahyangan yang paling pagi tentunya. Kenapa naik kereta? yaiyalah hari Senin pagi siapa juga yang mau kejebak macet gila-gilaan di Jakarta hehe. Ongkos seorang Rp 200.000 PP, kereta eksekutif full AC, reclining seat dan ada TV nya 😀

Sampai di Gambir sekitar pukul 08.30 dan foto-foto dulu di Monas sambil nunggu Ancol buka sekitar pukul 10.00 WIB. Dari Monas ke Ancol naik taksi kurang lebih setengah jam dengan ongkos Rp 50.000. Harga tiket masuk ke Monas kalau tidak salah Rp 75.000 per orang. Kalau ngga salah loh ya abisnya udah rada lupa 😛

Di dalam Sea World ada apa aja? ya standar lah ya hehe. Berikut saya tampilkan fotonya satu-satu :

Ini saya. wah rupanya saya masih kurus ya taun kemaren haha. Berat badan kalo ngga salah masih 80 dan sekarang udah 86 wkwkwk.

Nah ini foto Calon bini yang lagi megang penyu 😛

Ikan kerapu purba yang mungkin dagingnya udah sekeras batu kalo mau dimakan

Baju merah ini sekarang udah ga cukup 😦

Pas banget ada pertunjukkan ikan pari hehe

fosil ikan purba (mungkin)

fosil ikan pari terbesar yang pernah ada di Sea World

foto dulu berdua :3

Mungkin sekitar 2 jam seluruh Sea World udah berhasil dijelajahin. Berhubung masih sekitar jam 1 siang sementara kita udah beli tiket pulang yang jam 19.30, akhirnya habis dari Sea World kita makan siang dan pindah ke Gelanggang Samudera.

Ada apa di Gelanggang Samudra? ya macem-macem sih tp kebanyakan ya atraksi hewan-hewan laut gitu deh. Di tempat ini kita liat atraksi lumba-lumba dan singa laut yang cukup menghibur. Tiket masuknya kalo ngga salah Rp 95.000 per orang. Nggak lupa foto-foto dulu 😛

wah saya udah mulai tambun di sini rupanya 😦

Overall, Ancol kalau hari kerja cukup sepi dan enak buat wisata berdua hehe. Menuju Gambir dari Ancol sekitar pukul 17.00 dan sambil nunggu kereta jam 19.30, gak lupa foto-foto dulu di Monas.