Japan Trip Part 4 (End)

Part terakhir ini akan bercerita mengenai 2 hari terakhir di Tokyo. Memang kami sudah set up agenda 3 hari terakhir di Jepang adalah stay di Tokyo sampai hari kepulangan. Setelah kembali dari Tochigi dan keliling Odaiba, hari berikutnya kami mengunjungi Shibuya Sky Tower. Salah satu lokasi yang lagi hits kala itu. Jadi Shibuya Sky Tower ini ikonik karena dia punya roof top yang ada eskalator ikonik yang bisa menampilkan view 360 degree Tokyo. Sebuah alternatif kalau merasa Tokyo Sky Tree kemahalan hehe. Jadi di Tokyo itu untuk melihat pemandangan dari ketinggian, awalnya hanya ada Tokyo Tower, sejak 2012, dibangun lah Tokyo Sky Tree di daerah Asakusa yang jauh lebih tinggi namun harga masuk observatory nya lebih mahal. Dulu di 2018 tiketnya sekitar Rp 560.000 per orang.

Sedangkan Shibuya Sky ini dibangun di tahun 2014 dan dibuka komersial untuk jadi observatory. Bangunannya sendiri punya tinggi 229 meter (47 lantai) yang terletak persis di area Shibuya Crossing. Tiket masuknya sendiri Rp 250.000 per orang dan ngga dibatasi mau berapa lama di atas.Hanya saja, untuk masuknya, kita musti tentukan time slot nya karena memang kapasitas rooftop nya terbatas. Pilihannya dari pukul 8 pagi sampai pukul 9 malam. Banyak yang merekomendasikan untuk datang sekitar pukul 5 atau 6 sore agar dapat transisi dari sore ke malam. Namun karena kami bawa anak kecil dan orang tua, jadi diputuskan untuk ambil slot yang jam 8 pagi saja.

Sebelum ke Shibuya Sky, kami sempatkan dulu untuk foto-foto di depan JR Tokyo Station Marunochi Building yang ikonik karena pernah muncul di Movie Detective Conan dan juga tempat parkir tamu-tamu kaisar Naruhito.

Dari Marunochi ke Shibuya cukup naik JR Yamanote aja gratis dengan JR pass. Begitu keluar stasiun Shibuya, langsung aja menuju Shibuya Crossing dan ketemu gedung tinggi yang relatif baru di sana.

Begitu ketemu pintu Shibuya Scramble Square ini, belok kiri dan cari lift di pinggir yang ada logo Shibuya Sky nya.

Setelah tiba di Lantai 47, nanti di sana ada gate untuk cek tiket (e-voucher). Sangat recommended untuk beli via online ticketing kayak Klook atau Traveloka supaya ngga perlu antri dan kehabisan kuota. Nah setelah lolos gate ticket baru lah tiba di observatory pertama tempat foto-foto di sudut ruangan. Di sini baby stroller bisa dibawa dan nanti dititip di lobby ke petugasnya.

Nah ini yang paling iconic, eskalator Naik dan Turun dengan view kaca di puncak Shibuya Scamble Square.

Karena di observatory ini nggak ada batas waktu, kita bisa sepuasnya di sini sampai bosen. Cuma memang di pagi hari gini, cafe di atas rooftop nya masih tutup sehingga ngga bisa lama-lama karena akan haus dan lapar. Di rooftop ini juga banyak spot-spot foto bagus seperti Helipad dan tangga-tangga kayu tempat lihat sunset kalau sore.

Disarankan ke sini untuk bawa jaket karena anginnya kenceng banget. Di sini juga ada beberapa security untuk jaga supaya pengunjung ngga kelamaan di pinggir karena tinggi kaca di beberapa area hanya 150 cm aja, jadi lumayan bahaya juga.

Setelah puas foto-foto, begitu turun 1 lantai ke bawah pun masih ada observatory indoor yang menghadap ke 4 penjuru. Di sini ada banyak cafe dan toko suvenir sebelum kita keluar ke lift arah turun. Oia, di sini pun ada lift yang super cepat mirip di Tokyo Sky Tree yang bisa naik 47 lantai dalam waktu kurang dari 1 menit. Sayangnya ngga sempat videokan waktu itu.

Untuk foto-foto dan observasi di sini kira-kira 1-1.5 jam sudah cukup lah ya. Kecuali memang kita mau datang pas menjelang sunset, mungkin butuh waktu 2-3 jam karena nunggu peralihan dari senja ke malam buat bikin video time lapse. Agenda selanjutnya adalah ke Yokohama di mana kami mau lihat Gundam Factory Yokohama sekaligus makan siang di sana.

Untuk pergi ke Yokohama tinggal ke stasiun Shibuya (subway) dan naik kereta dengan tujuan Motomachi Chukagai (Toyoko Line). Nah ada sedikit tricky part nya di sini. Jadi beberapa kereta antar kota di Jepang itu, ada 2-3 jenis yang dibedakan dari berapa jumlah stasiun yang akan dipakai sebagai tempat dia berhenti, mirip dengan kategori shinkansen Tokaido lah. Jadi ada kereta LOCAL, yang mana dia akan berhenti di semua stasiun sesuai dengan yang ada di peta, dan yang kedua adalah LIMITED EXPRESS, pemberhentian lebih sedikit dari Local, dan EXPRESS yang jauh lebih sedikit berhenti dan lebih cepat.

Jadi karena hari itu adalah Golden Week, sudah bisa dipastikan dong, suasana di subway kayak apa dan juga suasana di Yokohama nanti kayak apa hehe. Perjalanan dari Shibuya ke Yokohama pakai kereta Express kira-kira 50 menit, lumayan jauh juga karena Yokohama itu 80 km. Keluar dari Stasiun Motomachi Chukagai itu padet banget, mana karena kita bawa stroller, pasti musti antri panjang di lift bareng turis-turis lain. Hasilnya, dari subway ke ground level aja perlu 10-15 menitan. Tujuan ke Gundam Factory sebetulnya kita mau lihat Moving Gundam, dimana si Gundam nya gerak-gerak diiringi lagu dan efek. Gundam ini sebetulnya adalah Gundam tipe RX-78F00 yang dulu ditempatkan di Odaiba sebelum diganti Gundam Unicorn. Diletakkan disini karena di Yokohama dibangun fasilitas museum dan Gundam store jadi ya sekalian aja buat narik turis ke sini. Sebetulnya si Moving Gundam itu ada pertunjukkan nya tiap 1 jam jadi karena kita udah lapar jadilah kita cari makan siang dulu sebelum menuju ke sana.

Lokasi makan siang yang kita pilih namanya Sario, Heichinrou, letaknya persis di tengah-tengah Chinatown. Karena Golden Week, semua jalanan di sini penuh sesak sama pejalan kaki dong. Kebayang lah, pas tengah hari bolong musti nyari restoran yang kita belum tahu dimana dan dalam kondisi lapar hehe.

Setelah ketemu resto nya, kita masuk dan duduk di lantai 3, dimana agak lengang. Jadi di Sanrio ini, menu yang dijual adalah Muslim Friendly food, bukan Halal Certified. Jadi dia sudah pisahkan utensils dan prosedur pemilihan bahan makanan agar ngga tercampur dengan menu non-halal. Tapi perlu digarisbawahi juga bahwa daging ayam dan sapi yang dia pakai sudah halal certified Japan ya.

Menu Halal nya hanya terbatas sama Ramen, Nasi Kare, Beef Bowl dan Gyoza. Harganya sekitar 800-1000 JPY atau sekitar 100-120 ribu IDR. Harga yang normal kalau di Jepang. Dan ini sistemnya kita antri di kasir, pilih menu, bayar dan bawa sendiri makanannya ke meja. Untuk air putih, gratis sepuasanya dan ada dispensernya.

Selain menu Halal tadi, kita juga bisa pesan Menu Vegan nya yang pasti aman untuk dimakan.

Secara rasa sih B aja ya, tapi karena dia halal jadinya ya lumayan membantu daripada nyari-nyari lagi resto yang lain yang lokasinya cukup jauh dan belum tentu kosong juga. Sehabis makan di sini, kita jalan kaki menuju Yokohama Naka Ward di area terbuka di pinggir pantai di Yokohama. Perjalanan ini tuh seperti napak tilas perjalanan saya ke sini di Summer 2018 yang bikin saya kapok ke Jepang pas lagi summer karena panas dan gerahnya ampun hehe.

Sepanjang perjalanan ke Gundam Factory nemu beberapa pameran bunga musim semi dan juga tempat tambatnya Nippon Maru dan Nikawa Maru

Tips lagi kalau ke Yokohama, anginnya kenceng banget terutama di pinggir pantainya. Jadi ya musti bawa jaket biar ngga masuk angin.

Kembali disarankan untuk beli tiket Gundam Factory via website supaya menghindari antrian seperti ini. Di dalamnya ada life size Gundam, toko suvenir, toko makanan dan tangga untuk duduk-duduk.

Lalu untuk tiket nya sendiri bisa kita beli yang reguler dan juga Observatory Deck yang bisa lihat dari atas seolah-olah jadi pilot Gundamnya.

Istri saya sempat videokan Moving Gundamnya di sini

https://www.instagram.com/reel/CsKrIFChmn91PZ3yNudKsYMkEV3FzZzUxibTM80/

Durasi untuk observe Gundam Factory ini kira-kira 1 jam sudah cukup, sebetulnya di Yokohama ini masih banyak tourism spot lain seperti Yokohama Air Cabin yang sedang hype, cuma karena kita semua udah capek, jadi ya akhirnya memutuskan untuk pulang ke Tokyo jam 4 sore buat istirahat di hotel.

Sampai di Tokyo, tak lupa mampir ke 7Eleven buat beli makan malam. Karena semua sudah pada capek, akhirnya malamnya kita nggak kemana mana dan tidur cepat di hotel karena besoknya masih ada 1 agenda lagi yaitu ke Team Lab Planets.

Besok paginya, sebetulnya tidak ada agenda khusus karena jadwal ke Team Lab di Odaiba itu di sore hari sekitarv pukul 15. Karena ibu mertua masih capek perjalanan jauh ke Yokohama kemarinnya, jadi kami putuskan untuk jalan-jalan bertiga saja dengan istri dan anak saya yang kecil untuk makan ramen Honolu di Shinjuku sekaligus main-main ke Shinjuku Gyoen.

Shinjuku Gyoen ini taman terbesar di Tokyo yang selalu saya kunjungi setiap ke Jepang. Kalau musim sakura, taman ini penuh sesak karena orang-orang pada piknik. Tiket masuk ke sini 500 Yen (sekitar Rp 60 ribu). Dan saking luasnya ini taman, kalau mau keliling taman ini perlu effort khusus. Di taman ini ada spot untuk lihat Sakura (Cherry Blossom Tree) dan ada juga spot untuk lihat Ginkgo (daun yang menguning kalau musim gugur). Jadi kumplit lah ya. Dan yang ikonik ya lapangan terbuka yang luas yang ada gedung NTT Docomo. Taman ini jadi setting salah satu film Makoto Shinkai yang judulnya Garden of Words tahun 2013.

Ini kalau musim gugur, daunnya pada kuning semua dan jadi ikonik.

Enaknya tinggal di Jepang, ruang terbuka hijau nya banyak ya hehe.

Nggak lupa di sini kan ada Starbuck yang baru dibuka, ya kita tes lah beli kopi dan Matcha di sini.

Ramen Honolu buka pukul 11 jadi memang tujuan kita di Shinjuku Gyoen ini ya hanya ngabisin waktu aja. Setelah jam 11 kita jalan menuju Ramen Honolu. Lumayan jauh juga sekitar 800 meter dan tempatnya agak membingungkan karena di basement ruko gitu.

Honolu ini secara ketebalan kuah mirip Tori Bushi namun lebih light sedikit. Andalannya Chicken ramen. Tempatnya sempit mungkin hanya nampung 10-15 orang aja, dan karena ini baru buka, jadi ya kami pelanggan pertama hehe. Uniknya, dia itu jual juga ramen instan kemasan yang bisa dibawa pulang. Sepulang dari makan ramen, kita kembali ke hotel untuk istirahat sebelum berangkat ke Odaiba untuk menuju Team Lab.

Jam 3 sore kita berangkat kembali ke Odaiba untuk menuju Team Lab Planets Tokyo. Team lab adalah museum modern yang di dalamnya banyak karya seni dalam bentuk digital dan moderen. Sebelumnya kami sudah pernah ke lokasi Team Lab yang di Singapura dan memang keren banget. Beda sekali dengan museum-museum konvensional. Tahun 2018 juga saya pernah ke TeamLab Tokyo namun dulu lokasinya masih di dekat ferris wheel dan sekarang sudah pindah ke tempat yang lebih besar meski masih di area Odaiba.

Di Jepang tahun 2023 ini, tema dari TeamLab Planet nya adalah karya seni yang menggabungkan seni cahaya, air dan suara. Lihat di IG dan youtube memang keren sih nampaknya. Dan pas beli tiketnya (online di situs resminya) kita diminta milih slot kedatangan. Satu tiket dewasa itu harganya sekitar 1500 JPY atau Rp 200.000.

Lokasinya di Odaiba tapi letaknya di paling ujung, beda dengan lokasi Odaiba yang masuk dari Tokyo Bay. Makanya dari Kyobashi kita naik kereta Rinkai Line lalu lanjut monorel Yurikamome line dari ujung yang ke arah Shimbashi. Nyampe di sana tepat jam 4 kurang dan sudah bisa masuk ke dalam. Sebelum masuk kita diminta lepas sepatu (jadi akan nyeker sepanjang keliling museum) dan diminta untuk meletakkan barang berharga kayak tas dompet di loker (loker ada banyak di ruangan terpisah).

Setelah naro barang di loker kita akan naik ke tangga yang dibanjiri air mengalir yang bau bahan kimia. Mungkin ini sarana cuci kaki buat meminimalisir pengunjung yang bau kaki kali ya hehe. Setelah itu langsung disuguhi pemandangan kayak begini.

Ini tuh ruangan yang full cermin di semua sisi lalu dikasih semacam “tirai” memanjang dari atap sampai ke lantai yang ditempeli LED yang warnanya bisa ganti-ganti. Jadi pergerakan warna-warni LED nya itu yang bikin ini spektakuler dan benar-benar karya seni.

Habis dari sini langsung disuguhi kolam susu dengan ikan virtual yang bisa berenang-renang di kaki kita. Ini menurut saya keren abis karena kalau merasakan langsung, ikan-ikannya kayak beneran berenang di sela-sela kaki kita ey.

Di ruangan ini kita musti ngegulung celana panjang kita sampai paha, jadi memang disarankan sebelum ke TeamLab Planets ini, kita jangan pakai celana jeans tapi pakai celana bahan yang modelnya lebar atau malah pakai celana pendek sekalian biar ngga repot gulung-gulung. Setelah dari ruangan ini kita disuguhi ruangan dengan bola-bola besar yang bisa berubah warna kalau kita pukul-pukul kayak di game Mario Bros.

Kemudian setelah ini kita diminta duduk melihat kupu-kupu yang dalam ruangan gelap yang mana kupu-kupu nya bisa terbang ke sana kemari secara virtual. Pokoknya keren deh, sayang nya ngga sempat ngerekam kemarin. Coba cek aja video di bawah untuk dapat gambaran visualnya.

Setelah itu kita keluar ruangan untuk lihat suatu karya seni yang mirip telor dinosaurus kayak gini.

Dan yang paling ultimate tentu saja si bunga-bunga ini. Jadi paling akhir tuh ada pameran bunga-bunga gantung (sepertinya anggrek) berwarna-warni dan dia bisa naik turun secara berkala. Ruangannya dibikin full cermin dan cara masuknya unik karena kita harus merangkak karena ngga boleh menyentuh bunganya. Di sini karena tempatnya terbatas jadi harus bergantian masuknya dan setiap batch hanya dikasih waktu maksimal 5 menit untuk foto-foto.

Setelah itu kunjungan ke TeamLab Planets pun selesai. Keluar pintu exit, ambil barang di loker dan pakai sepatu lagi di luar. Overall waktu yang dihabiskan di sini kira-kira hanya 1 jam aja sih, dan dengan harga segitu menurut saya worth it untuk dicoba. Dan tiap tahun museum ini selalu berganti-ganti pamerannya jadi ya pasti bikin penasaran apa lagi exhibition berikutnya.

Pulang dari sana, kami menuju Aqua City buat cari makan. Sempat ada insiden monorel Yurikamome yang kami naikin berhenti lama di stasiun karena angin kencang. Memang saat itu anginnya kenceng banget padahal hari cukup cerah. Di Aqua City, awalnya mau makan kebab, tapi dipikir-pikir kurang kenyang jadi balik lagi ke Green Asia buat dinner. Dinner di sini harganya lebih mahal dari Lunch. Kali ini kami pilih menu vegetarian aja.

Akhirnya pilihan jatuh ke tempe orak-arik yang harganya 1280 JPY atau Rp 150rb dong hehe.

Sehabis makan, sebelum pulang kita sempat nonton show Gundam Unicorn dulu di depan Diver City.

Sekitar jam 7 malam kami kembali ke hotel karena udah capek juga. Sampe hotel sempetin beli cemilan dan roti di 711 dulu sebelum tidur. Nggak lupa beberes dulu karena besok kita akan kembali ke Indonesia.

Karena besoknya kita akan pulang ke Indonesia, kami coba cek transportasi yang paling simple ke Narita Airport. Setelah browsing-browsing, ternyata transportasi paling enak dan cepat itu pakai bus yang namanya Tokyo Limousine Bus. Bus ini adalah bus yang rutenya dari Stasiun Tokyo (Yaesu exit) namun sebelumnya start dari Shinjuku dan Ginza. Cara naik busnya adalah dengan beli tiket di loket di Yaesu exit Stasiun JR Tokyo. Harga tiketnya 3,000 JPY untuk dewasa dan 1500 JPY untuk anak-anak. Setara dengan IDR 450rb dan IDR 250rb per orang sekali jalan. Tiket busnya dipesan on the go ya, jadi ngga bisa reservasi.

Dulu waktu terakhir ke Jepang tahun 2018, kami naik Keisei Skyliner dari Ueno Station. Harganya memang paling murah tapi ribet karena musti ke stasiun Ueno dulu. Tapi dengan bus ini, kita hanya perlu duduk manis dari awal naik di Stasiun Tokyo sampai ke Narita tanpa perlu pindah-pindah moda. Ini sangat rekomended untuk yang bawa barang banyak atau bawa anak-anak.

Karena jadwal flight kami jam 5 sore, maka kami memutuskan untuk start dari Tokyo station pakai bus yang jam 12 siang. Kalau lihat di gmaps sih perjalanan kurang lebih sekitar 60 menitan kalau ngga macet. Sesampainya di Narita, kita mau cari makan siang, dan Alhamdulillah di Narita sudah ada beberapa outlet halal, salah satunya si resto Udon ini yang dulu juga pernah saya makan di tahun 2018. Nama restonya Kineyamugimaru, ini persis di lantai 5 (5F) (view square) terminal 2 departure sebelum masuk imigrasi.

Menu nya udon tapi punya isian, topping dan kuah yang beragam dengan harga kurang dari 1000 JPY per menu. Ada menu anak-anaknya juga jadi pasti disukai lah ya sama semua umur.

Kami pesan curry udon dan berbagai gorengan. Enaknya di sini kita bisa ambil condiment sendiri dan boleh sepuasnya ambil condimentnya.

Sehabis makan kenyang, cari oleh-oleh dulu lalu masuk ke imigrasi dan nunggu di ruang tunggu. Karena flight masih 1.5 jam lagi, kami sempat foto-foto dulu dan main sebentar di ruang tunggu anak (playground) sebelum boarding.

Jam 5 waktu Jepang boarding dan tiba di Jakarta sekitar jam 12 malam. Dari bandara kami naik taksi dan menginap di hotel bandara sebelum lanjut pulang ke Bandung besok paginya.

Intinya perjalanan ke Jepang di late spring ini sangat menyenangkan sih, bisa lihat berbagai macam festival bunga dan ke tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya kayak railway museum, Gundam Factory dan Shibuya Sky. Tips selama di Jepang ya cari penginapan murah yang ada laundry coin, kemudian beli JR Pass kalau kita pergi ke lebih dari 3 kota berhubung per Oktober 2023 kemarin harga JR Pass naik 2 kali lipat jadi ya semakin ngga worth it kalau kita hanya ke 2 kota doang.

Tips lain ya beli makan hemat di 7Eleven dengan lebih dulu seleksi mana yang bisa dimakan (halal) dan mana yang ngga dan meragukan.

See you in the next trip… Semoga bisa menginspirasi…

Japan Trip 2023 Part 3

Part 3 kali ini akan cerita mengenai destinasi di luar Tokyo yang terakhir dari perjalanan ke Jepang saya dan keluarga. Perjalanan kali ini adalah menuju Ashikaga Flower Park di perfektur Tochigi. Tujuannya adalah untuk melihat bunga Wisteria di satu-satunya festival bunga wisteria di Jepang. Jadi dari informasi yang saya kumpulkan, festival bunga wisteria ini hanya ada di pengujung musim semi dan lokasinya di Ashikaga Flower park. Setelah browsing dan kumpulkan data, akhirnya saya tau kalau untuk menuju ke sana, kota terdekat adalah Oyama dan dari sana cukup menggunakan JR Ryomo sekitar 30 menit dan tiba di lokasi Ashikaga Flower Park.

Untuk menuju ke sana sebetulnya bisa menggunakan JR line biasa namun terlalu lama sampai 2 jam 30 menit karena perlu ganti kereta 2-3 kali. Sementara dari Tokyo ada Shinkansen langsung ke Oyama yaitu JR Tohoku yang ke arah Akita dan Hokkaido. Namun pas kami coba book tiketnya ketika pertama kali mendarat di Stasiun Tokyo, ternyata tiketnya sudah sold out semua. Ada alternatif menggukan Hokuriku Shinkansen ke Omiya dan lanjut kereta JR ke Oyama. Akhirnya kami ambil itu karena lumayan motong waktu sekitar 30 menit. Tapi masalahnya adalah tiket keretanya hanya tersedia jam 14.00 siang aja. Semua timeslot penuh karena memang lagi golden week kali ya.

Karena keberangkatan masih siang, maka paginya sekitar pukul 7 pagi kami putuskan jalan-jalan dulu ke Asakusa untuk foto-foto dan cari sarapan. Tips buat yang ingin foto di Sensoji Temple Asakusa tapi ngga hectic orang, bisa dicoba ke sana jam 7 pagi karena toko-toko belum pada buka. Paling baru segelintir orang aja yang udah datang buat mengincar spot foto bagus yang masih sepi pengunjung.

Sekitar jam 8.00 pengunjung yang datang mulai banyak dan perlahan-lahan mulai crowded. Sebelum crowded, kami bergegas meninggalkan Sensoji Temple dan mampir untuk kedua kalinya ke toko eskrim halal di persimpangan Asakusa yang cukup terkenal itu. Penjualnya adalah seorang kakek nenek yang sudah jualan di situ mungkin sejak tahun 60 atau 70-an. Dan di sini eskrim matcha, vanilla, dan hojicha nya sudah tersertifikasi halal.

Saya lupa harga eskrimnya, kalau ngga salah sekitar 800 Yen (Rp 100rb), rasanya persis eskrim cone McD tapi ada rasa matcha dan hojicha. Kita bisa numpang makan di sini namun tempatnya agak sempit.

Setelah makan eskrim, kami menuju ke Sumida river untuk foto-foto di sana sekaligus nostalgia kalau tahun 2015 dulu saat pertama ajak istri ke Tokyo, kami pernah menginap di salah satu jaringan penginapan murah Khaosan Asakusa, yang sayangnya sejak covid kemarin bangkrut.

Setelah beres foto-foto, tidak lupa singgah dan makan di tempat makan legend setiap kali saya ke Asakusa, yaitu Saray Kebab hehe. Jadi ingat tahun 2015 dan 2018 dulu saya selalu makan di sini karena dulu lumayan susah cari makanan halal. Bapak yang jualan kebab dari dulu sampai sekarang masih sama sih sepertinya, om-om Turki yang fasih bahasa Jepang.

Bedanya kebab di sini sama kebab di Nagoya, di sini tuh menunya variatif, ada kebab doang tanpa roti, ada kebab pake nasi, kentang panjang, dll. Harga berkisar di 600 Yen sampai 1,000 Yen per menu. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 09.30, kami balik ke Asakusa untuk beli oleh-oleh berhubung semua toko sudah pada buka. Durasi beli oleh-oleh lumayan lama, sampai 1 jam lebih, maklumlah ibu-ibu banyak milihnya hehe. Akhirnya kita pulang ke Kyobashi jam 11 siang dan hanya punya sedikit waktu sampai jadwal keberangkatan pukul 12.40 saja.

Sudah dibayangkan betapa hecticnya di hotel karena musti ganti baju dan siap-siap, akhirnya jam 12 kurang kami jalan kaki ke Stasiun Tokyo dan nyaris saja tertinggal Shinkansen karena baru sampai peron sekitar jam 12.30. Untungnya karena hari itu puncak Golden Week, semua keberangkatan Shinkanse delay hehe. Luar biasa ini Golden Week di Jepang. Stasiun Tokyo full people.

Singkat cerita, kami naik shinkansen Hokuriku, yang bentuknya lain daripada yang lain, dan turun di stasiun Omiya, selepas itu, diteruskan dengan kereta antarkota JR line sampai di stasiun Oyama, kurang lebih perjalanan sekitar 1.5 jam dari Tokyo.

Di stasiun Omiya itu, kita ketemu kereta JR Tohoku yang warnanya merah (ke Shin Aomori) dan kereta JR Tohoku yang warnanya hijau yang ke Sapporo. Di stasiunnya sendiri sampai ada pajangan model kereta shinkansen yang lewat di stasiun ini.

Singkat cerita, sampailah kita di Oyama, dan di sini kita menginap lagi di Toyoko Inn, cabang jaringan hotel yang sama dengan yang ada di Shin Fuji. Kota Oyama sendiri tidak terlalu ramai dan cenderung sepi, jarak dari Stasiun ke hotel mungkin hanya 3 menit jalan kaki dan di sana ada beberapa kampus sepanjang kita berjalan. Toyoko Inn di sini pun rupanya sudah full book dan beruntung kita dapat kamar karena sudah jauh-jauh hari.

Ada satu kesalahan yang saya lakukan saat menunggu di hotel Tohoku ini. Karena jadwal checkin jam 15:00, dan karena kendala bahasa juga, ternyata kami disuruh menunggu di lobby. Ternyata, setelah menunggu jadwal checkin baru jam 16.00 dan setelah beberes dan ganti baju, kami baru keluar hotel jam 16.45 dan naik kereta lokal (JR Ryomo line) yang jam 17.00.

Kami sampai di Ashikaga Flower park sekitar jam 18.00 kurang dan hari sudah mulai gelap dan antrian sudah mengular. Akhirnya jadi ngga maksimal lihat tamannya dalam keadaan terang. Saran buat yang ingin ke sana tahun depan, memang harus datang sejak hari terang sih biar bisa eksplor lebih lama.

Ini foto-foto yang saya ambil dari keadaan terang yang cuma sekitar 15 menitan sampai kira-kira jam 20.00 malam.

Karena golden week jadi sudah dipastikan ini isinya orang semua hehe. Tapi ya masih bisa jalan dan foto-foto dengan nyaman lah ya.

Ternyata ada beberapa jenis bunga wisteria di sini, dan bunga ini tuh hanya mekar dan ada di pengujung musim semi. Jadi memang sangat terbatas sekali waktu festivalnya, makanya begitu golden week banyak orang Jepang ke sini. Untuk tiket masuknya bisa dibeli di tempat (pasti dapat) atau bisa via online di beberapa provider tiket online dan dibayar dengan credit card.

Tempat ini tutup sekitar pukul 22.00 dan kereta terakhir di pukul 22.15. Karena kami sudah cukup lelah, jadi jam 20.30 kita putuskan pulang dan beristirahat. Besoknya kita kembali ke Tokyo sekitar jam 7.30 pagi. Setelah checkout hotel, sengaja kita datang lebih awal buat ambil foto dengan beberapa kereta yang datang duluan.

Sampai di Tokyo dan masuk ke hotel sekitar jam 9an. habis itu nggak pake lama kita langsung menuju destinasi berikutnya, yaitu Odaiba. Kayaknya hampir semua turis ke Tokyo, rugi kali ya kalau ngga ke Odaiba. Apalagi sejak 2019, patung real size Gundam nya udah berubah jadi Unicorn. Kebetulan cuaca sangat cerah dan di Odaiba lagi ada festival jadi ya isinya orang semua.

Waktu sudah menunjukkan jam 13, dan kami pun cari beberapa lokasi makanan halal di Odaiba. Tips cari makanan halal di sini sebetulnya mudah, cek di google ada sekitar 5-10 resto halal di sini, tapi ya harganya super mahal sih ya. yang paling murah adalah kebab (Ozgur Kitchen Kebab) deket Aqua City, sampai yang paling mahal The Oven yang per orangnya sekitar 1,500-1,800 Yen yang makanannya ala ala buffet all you can eat gitu.

Akhirnya pilihan kami jatuh ke Green Asia Tokyo karena harga nya menengah. Di sini penyambut tamu nya mas-mas Jawa (Malang) yang udah lebih dari 10 tahun kerja di Tokyo. Ramah dan baik, resto nya juga cozy dan makanannya menu nya beragam. Kalau lunch, bisa free salad dan sup dan ada menu vegetariannya.

Per menu nya kalau lunch sekitar 1,000 – 1200 Yen (Rp 150.000) per orang sudah dapat 1 porsi makan dan minum (plus salad, kerupuk, sambal, dan sup). Lumayan worth it lah ya. Selesai makan jam 2 siang dan sampai di hotel jam 3 sore.

Karena anak-anak dan mertua sudah capek, akhirnya kami putuskan malam ini hanya saya dan istri aja yang pergi jalan keluar malam ini. Setelah beli makan malam di 7Eleven, anak-anak ditinggal di hotel dan kami menuju ke Akihabara buat cuci mata. Berangkat jam 7 malam, cuci mata sebentar, cari cemilan, main gacha dan balik lagi ke hotel jam 10 malem.

Di part terakhir nanti sekaligus akan dibahas 3 destinasi terakhir di Jepang adalah Shibuya Sky Tower, Yokohama dan TeamLab Planets Tokyo.

Saya lanjutkan di lain kesempatan ya.

Thank you.

Japan Trip 2023 Part 2

Perjalanan di hari kedua ini adalah menuju ke Kyoto untuk lihat Kyoto Railway museum, lalu makan siang di Ayam Ya Kyoto dan sore nya mobilisasi menuju Shin Fuji Station dengan Shinkansen. Pukul 07.30 kami sudah check out, nggak lupa belanja dulu di 7Eleven dan beli frenchfries McD untuk bekal sarapan di jalan. Sebelum jalan ke stasiun, nggak lupa foto foto dulu suasana di sekitar hotel.

Jam 7 pagi gini suasana kota Nagoya masih sepi banget. Mungkin karena orang-orang baru masuk kerja jam 9 jadi belum banyak yang keluar rumah, dan juga karena menyambut Golden Week yang jatuh di hari Kamis-Minggu, jadi mungkin udah banyak orang Jepang yang ambil cuti. Di stasiun Nagoya pun ngga begitu padat dan bisa ambil beberapa foto dulu.

Perjalanan ke Kyoto naik Shinkansen hanya 30 menitan. Karena Kyoto railway museum buka pukul 09.00, jadi masih ada cukup waktu untuk cari tempat coin locker di stasiun Kyoto, cari makan, dan mobilisasi. Perjalanan Nagoya-Kyoto mayoritas adalah pemandangan sawah seperti ini.

Sesampainya di stasiun Shinkansen Kyoto, langsung cari Coin Locker di posisi strategis, dan menuju ke JR Kyoto Station. Lokasi Kyoto Railway museum ngga jauh dari JR Kyoto. Hanya 1 stasiun saja. dan di kereta local nya banyak keluarga dan anak-anak yang memang tujuannya adalah ke museum kereta api.

Jam 9 kurang dikit, pintu museum dibuka. Tiketnya sendiri dibeli lewat vending machine kayak begini. Dewasa 1500 Yen (200rb IDR), anak-anak di bawah 10 tahun 500 Yen (75rb IDR). Lumayan terjangkau lah ya.

Begitu masuk, kita langsung disuguhi beberapa model kereta api yang ada di Jepang dari mulai kereta jadul sampai kereta modern. Semua kereta nya bisa dimasuki dan dilihat interiornya.

Bisa berfoto juga di dalam tempat masinis Shinkansen

Di bagian dalam museum, ada gedung 3 lantai yang di dalamnya berisi display kereta, museum peralatan dan teknologi kereta, arena tempat mainan track kereta, restoran, dan akses menuju rooftop dan arena outdoor.

Dan yang paling menarik dari Kyoto Railway Museum ini adalah bagian outdoor nya dimana ada display lokomotif ala ala Thomas gitu dan juga pengunjung bisa naik kereta uap dengan perjalanan sekitar 5-10 menit dengan harga 250 Yen per orang dewasa dan anak-anak.

Sayangnya kemarin lupa ambil video pas naik kereta uap nya. Intinya sih kereta uap ini berangkat tiap 15 menit karena lama perjalanan hanya 5-10 menit maju mundur area stasiun Kyoto. Sepanjang jalan si tour guide nya ngomong penjelasan mengenai sejarah stasiun Kyoto, dll tapi karena dalam bahasa Jepang, ya ngga paham kita hehe.

Sebetulnya ada atraksi lain dimana dua lokomotif di ini akan diputer di display tengah untuk dikeluarkan uap (steam) nya. Sayangnya atraksi itu adanya jam 2 dan 4 sore jadi yah ngga bisa kita lihat waktu itu. Kurang lebih kayak yang ada di video ini lah ya

Total durasi kami di Kyoto Railway museum include beli oleh-oleh sekitar 3.5 jam lah ya. Termasuk kilat juga sih. Dari buka jam 9 sampai jam 12an kita udah putuskan selesai karena mau ngejar waktu makan ramen di Ayam Ya. Berkaca pada pengalaman tahun 2018 lalu, restoran di kota-kota selain di Tokyo bakal tutup setelah jam 2 siang dan baru akan buka lagi jam 5 sore sampai malam. Jadi ya musti bergegas sebelum tutup. Idealnya sih di museum ini bisa makan waktu dari pagi sampai sore asal ngga ada tempat lagi yang dituju dan bawa bekal makan siang sendiri.

Untuk menuju ke Ayam Ya dari museum, cara tercepat dan termudah adalah dengan naik bis. Kami jalan kaki sekitar 5 menit dari museum menuju halte terdekat. Karena ini hari kerja dan udah siang, bis nya juga ngga penuh dan bisa duduk di dalamnya.

Sampai di Ayam Ya, ternyata antriannya panjang banget padahal udah jam 1 kurang. Kami pun dapat antrian no.16 dan menunggu kira-kira 30 menitan. Di sini banyak juga turis-turis Indonesia yang memang tujuannya makan ramen halal di Ayam Ya. Ayam Ya ini punya musholla di lantai 3 di rumah di seberangnya. Rumah ini kayaknya gudang dan lantai 3 nya memang dijadikan musholla oleh mereka. Jadi sambil nunggu bisa solat zuhur dulu.

Menu di Ayam Ya ini Soyu ramen ada pilihan spicy dan non-spicy. Di samping antriannya yang lama, di sini pesannya juga di awal ketika masuk melalui vending machine kayak begini.

Harga ramennya sendiri sekitar 900 Yen (120ribu IDR) untuk porsi dewasa dan 550 Yen untuk porsi anak-anak. Porsinya anak-anak sebetulnya lumayan banyak jadi mungkin agak kebanyakan juga kalau anak di bawah 5 tahun pesen 1 porsi sendiri. Air minum gratis, seperti resto Jepang pada umumnya. Overall tempat di Ayam Ya sempit jadi memang wajar sih kalau selalu antri di jam makan siang. Kita aja berlima dapat tempat di pojokan.

Ramen di Ayam Ya ini tipikal kuah yang light dan nggak terlalu tebal. Gurih dan enak sih tapi sayang potongan daging ayamnya sedikit hehe.

Selesai makan di sini kira-kira jam 2 sore. Sebetulnya memang ngga ada tujuan lain sih di Kyoto karena kalau mau jalan ke Arashiyama kalau bukan Autumn itu ngga worth it. Mau jalan ke Kiyomizu Dera dan Gion juga jauh banget dari posisi sekarang dan agak susah karena bawa anak kecil di jam tidur siang mereka hehe. Jadi ya abis makan langsung menuju stasiun Kyoto aja dan memang udah sengaja ambil kereta jam 16 sore untuk menuju ke Shin Fuji, destinasi berikutnya.

Sesampai di JR Kyoto station, ambil coin locker, beli perbekalan (7Eleven, french fries McD) kira-kira jam 3an lalu langsung masuk ke stasiun Shinkansen untuk naik kereta JR Shinkansen Kodama (satu-satunya tipe Shinkansen yang berhenti di stasiun Shin Fuji). Karena naik shinkansen tipe Kodama, berarti kita akan berhenti di semua stasiun dan perjalanan akan memakan waktu 1.5 jam. Tapi karena kita melawan arus (relatif ngga banyak yang naik Kodama menuju Tokyo), jadi 1 gerbong hanya isi kita berlima aja.

Cukup membosankan juga karena di setiap stasiun berhenti kira-kira 1-2 menit karena harus turun/naikkan penumpang dan kasih jalan ke Shinkanse tipe Hikari dan Nozomi. Oia, tips naik Shinkansen JR Tohoku (Tokyo-Shin Osaka), ambil posisi kursi sebelah kanan kalau dari arah Tokyo dan ambil posisi sebelah kiri kalau dari arah Osaka supaya bisa lihat Gunung Fuji.

Kira-kira sekitar jam 18 kita sampai di Shin Fuji. Kenapa ke Shin Fuji? karena destinasi kita berikutnya adalah Fuji Shibazakura, festival bunga Shibazakura (phlox) berwarna pink yang diadakan di kaki gunung Fuji. Festival ini paling terkenal pas Golden Week karena semua orang Jepang rata-rata pada ke sini. Sebetulnya untuk menuju Fuji Shibazakura festival ini, bisa melalui 3 cara setelah saya riset mendalam. Yang pertama adalah cara mainstream yaitu naik bus dari Stasiun Shinjuku (lihat panah biru di bawah) dan langsung menuju Stasiun Fujikawaguchiko, sebuah “stasiun central” pemberhentian ke arena wisata di sekitar gunung Fuji seperti Kawaguchi Lake, Fuji-Q highland, dll. Ini rute paling populer karena hemat ongkos dan mudah. Tapi kelemahannya adalah, setiap Golden Week pasti macet karena saking banyaknya mobil dan jalanan yang sempit di sekitar Gunung Fuji. Cukup banyak yang mengeluh kejebak macet berjam-jam setiap Golden Week loh.

Cara kedua adalah dengan naik kereta api JR dari stasiun Tokyo/Shinjuku ke Stasiun Fujikawaguchiko (lihat panah kuning di atas). Cara ini relatif lebih cepat dan murah namun sama saja dengan cara naik bus tadi, rentan kejebak macet dari Fujikawaguchiko station menuju ke Fuji Shibazakura festival karena musti lanjut naik bus lagi.

Nah setelah saya nontonin youtube turis-turis India yang ke shibazakura, dan juga googling, ada 1 cara termudah (namun ngga murah) yaitu dengan menuju ke Stasiun JR Shinkansen Shin Fuji, menginap di sana atau lanjut naik bus lagi dan menginap di kota yang namanya Fujinomiya (lihat panah merah di atas). Cara ini relatif simpel kalau kita punya JR pass karena akses ke Stasiun Shin Fuji gratis. Masalahnya hanya 1, di Stasiun Shin Fuji ini hanya ada 1 hotel dan kalau kita ngga book jauh-jauh hari, bakal ngga kebagian dan mungkin akan menggelandang hehe. Nama hotelnya adalah Toyoko Inn ShinFuji Minami Eki. Hotel ini tuh persis di sebelah stasiun JR Shin Fuji. Harga per kamar untuk 1 dewasa + 1 anak adalah 800rb IDR dan yang 2 dewasa + 1 anak adalah 1.2 juta IDR.

Masalah lain jika menempuh rute ini adalah, ada bus yang rutenya Shin Fuji Station – Fujikawaguchiko Station yang berangkat setiap 2 jam sekali. Nah, yang lucu adalah, informasi yang saya dapat mengenai bus ini semua dalam bahasa Inggris. Jadi ya terpaksa pakai google lens berkali-kali untuk yakinkan rute dan nomor bus nya serta di mana poin keberangkatannya. Itu pun belum yakin 100% pas kita sampai di sini.

Nah karena kami sampai di Shin Fuji sekitar jam 6 sore dan sudah gelap, jadi ya ngga akan sempat kemana-mana lagi. Dari Stasiun langsung ke hotel. Di stasiun shinkansenya pun ngga ada pagar pembatas kayak di Stasiun Tokyo, Kyoto atau Nagoya. Jadi memang bener-bener seperti di desa.

Nah yang bikin kesel lagi adalah, begitu mau checkin, ngga ada satupun staff yang bisa English hehe. Sempat ketahan cukup lama di front office, namun karena jaman sekarang udah ada google translate yang bisa ngeluarin suara, jadi agak mendingan lah ya. Oia standar hotel di Jepang, semua ada laundry coin, jadi ya hal pertama yang saya lakukan apalagi kalau bukan nyuci hehe.

Dan semua tempat di Jepang juga terjangkau sama Family Mart/7 Eleven, jadi abis taruh laundry di laundry coin, langsung menuju Family Mart terdekat untuk cari makan malam sekalian cari makanan untuk sarapan. Lokasi Family Mart ngga begitu jauh, hanya 3 menit jalan kaki dan ini tuh kota nya sepi banget, memang khusus buat transit buat ke Fujinomiya atau ke Gunung Fuji dari arah selatan Jepang.

Setelah semua perbekalan dibeli, hal berikutnya yang saya lakukan adalah menuju halte bus di sekitar stasiun untuk mencari di mana posisi bus yang akan dinaiki nanti dan keberangkatan pertama jam berapa. Lokasi terminal/halte persis di bagian belakang JR Shin Fuji Station Karena malam itu sudah jam 8 lewat, jadinya semua bus sudah berhenti operasi. Karena semua tulisannya bahasa Jepang, jadi saya pantengin tuh satu-satu nomor halte nya pake google lens dan akhirnya dapat lah si Bus yang akan dinaiki nanti, yaitu di halte nomor 5. Sebuah effort yang sangat berfaedah. Saya coba make sure ke petugas di stasiun pakai google translate. Intinya benar sih, bus ke Fujishibazakura itu memang di nomor 5 ini.

Bus nomor 5 ini khusus pas ada Shibazakura Festival akan masuk dan berhenti di venue nya. Ongkos sekali jalan adalah 1,400 Yen (180rb IDR) per orang, kalau anak di bawah 12 tahun setengah harga. Jadi bolak-balik 1 orang habis 400rb IDR dewasa dan 200rb IDR untuk anak-anak. Ya ngga bisa dibilang murah juga sih ya hehe.

Besok pagi nya, kami bangun jam 5 pagi waktu setempat, karena berdasarkan info keberangkatan, bus paling pertama itu start jam 7 pagi dari terminal Shin Fuji dan bus berikutnya ada di pukul 9. Karena lama perjalanan ke sana 1.5 jam dan target kami sebelum pukul 12 siang harus sudah kembali ke JR Shin Fuji karena takut kejebak macet, jadi memang harus ambil bus pertama ini. Ternyata kalau pagi, pemandangan di hotel ini cakep juga.

Pukul 6 sudah checkout hotel dan berjalan menuju JR Shin Fuji. Tidak lupa, nitip koper ke hotel dan sampaikan kalau akan diambil sekitar jam 2 siang pakai google translate hehe. Stasiun nya sendiri memang baru dibuka pukul 6 pagi. Jadi sempat foto-foto dulu di sekitar stasiun berhubung cuaca cerah.

Pukul 7 kurang, bus nya akhirnya datang di Halte No.5. Karena takut salah, saya yakinkan dulu ke sopirnya dengan buka google map dan menunjuk Shibazakura Festival. Dia mengangguk dan ngomong pake Bahasa Jepang. Ok lah, gas berarti bener hehe. Bus nya sendiri seperti bus pada umumnya. Karena ini halte pertama, jadi pada bisa duduk.

Di jepang, pembayaran bus dilakukan di depan pada saat turun. Tapi sebelum naik, kalau kita pakai IC card (Pasmo/Suica) kita wajib tapping di pintu tengah atau depan sebagai tanda posisi awal naik. Ngga punya IC Card pun ngga masalah karena dia menerima pembayaran cash juga.

Sepanjang perjalanan, walau naik gunung tapi ngga banyak belok-belok kayak di Puncak dong. Malah jalannya relatif mendatar karena mungkin masih di kaki gunung Fuji kali ya. Bus ini nanti berhenti cukup lama di Fujinomiya station buat ngangkut penumpang dari kota terbesar di sini. Kalau mau nginap di tempat yang agak rame, memang bagusnya pilih Fujinomiya sebagai tempat transit kalau nyampe Shin Fuji belum terlalu malem. Di sini juga cukup banyak hotel murah, tp ya jangan harap ada yang bisa bahasa Inggris hehe. Sepanjang jalan kita juga bisa lihat posisi Fuji-san di kanan-kiri jendela.

Sekitar 1.5 jam perjalanan, akhirnya sampai juga di area Fuji Shibazakura. Mayoritas penumpang di bus ini turun di sini. Nah pada saat turun, saya coba yakinkan dulu posisi halte tempat pulang nanti dengan nanya ke tour guide dekat situ. Ternyata di area pintu masuk, ada papan penunjuk jalan tempat bus umum. Jadi ada area tunggu bus umum yang ke Tokyo (shinjuku) dan kota-kota lain. Bus pulang yang ke Shin Fuji letaknya paling pojok. Saya cek jam masih menunjukkan pukul 9, dan jadwal bus berikutnya adalah pukul 11.30. Jadi cukup lah keliling Shibazakura sampai jam 11 sebelum balik lagi ke Shin Fuji.

Harga tiket ke Shibazkura adalah 1200 Yen (150rb IDR) untuk dewasa dan 600 Yen untuk anak-anak di atas 5 tahun. Lumayan murah lah untuk suguhan pemandangan seperti ini:

beruntung banget cuaca saat itu cerah. Biasanya kalau berawan, Fuji-san nya akan ketutup sebagian awan. Dan meskipun di foto ini matahari bersinar terik, aslinya ini suhu hanya 15 derajat dan anginnya kenceng banget. Jadi semua orang yang ada di foto ini pasti pada pakai jaket tebal hehe.

Sepanjang mata memandang, di sini terlihat hamparan pink moss (shibazakura) dan beberapa bunga lain. Baru jam 9 aja kepadatan turis udah luar biasa. Apalagi siangan dikit. Most of them bawa mobil dan naik bus. Ngga heran tiap golden week katanya di area ini macet parah hehe. Di sini tuh banyak sekali spot foto baik yang gratis maupun yang bayar. Yang bayar ada Peter Rabbit English Garden (bayar 1500 Yen untuk dapat 1 foto cetak) dan juga ada di area canoe. Kami hanya coba yang Peter Rabbit karena yang di area Canoe ngantrinya luar biasa.

Gambar Gunung Fuji nya kayak editan ya haha. Oia, di sini juga banyak vending machine minuman hangat dan dingin plus ada beberapa stall makanan. Memang ngga ada yang halal certified atau muslim owned. Tapi kalau lapar dan mau aman banget memang lebih bagus bekel makan dari 7Eleven atau Famima dulu. Tapi kalau ngga pun di sini ada stall kentang goreng panjang gitu yang menurut saya mustinya bisa dimakan karena yang jual ngga jual menu non halal.

Lumayan lah buat ganjel-ganjel dikit. Ada juga yang jual Kebab tp ya yang jual bukan orang Turki jadi meragukan juga hehe. Di bagian dekat pintu keluar sebelah kanan, ada toko oleh-oleh yang jual banyak kue-kue mochi, peach tea (yang disediakan sample) dan beberapa tanaman pink moss. Peach tea nya lumayan worth it lah buat dibeli. Satu kotak 700Yen isi 5 bungkus.

Setelah puas foto-foto dan keliling, sekitar jam 11 kami keluar dan jalan menuju halte bus kepulangan ke JR Shin Fuji. Saya coba buka google map untuk cek posisi bus nya. Ternyata dia udah kejebak macet di atas dong. Alhasil, bus baru datang sekitar jam 11.30. Kami pun naik dan pulang menuju Shin Fuji. Planning hari ini sebetulnya untuk antisipasi kemacetan kita sudah book shinkansen jam 15.00 ke Tokyo, tapi karena mungkin akan lebih cepat, jadi saya akan coba reschedule di stasiun.

Di jalan pulang, rupanya kota Shin Fuji ini banyak pabrik di kanan kirinya. sepertinya sih pembangkit listrik kalau dilihat dari modelannya.

Sampai stasiun sekitar pukul 13.30, saya langsung ambil koper di hotel dan menuju customer service dan reschedule kereta dari jam 15.30 ke jam 13.45. Alhamdulillah bisa. Kami pun pulang ke Tokyo dan tiba di Kyobashi dan di hotel tempat kami book 1 kamar full 8 malam sekitar jam 15.00 sore.

Karena hari sudah sore dan memang kita nggak ada rencana ke tempat lain, saya pun ngajak istri untuk ke salah satu ramen halal yang baru buka di bulan November 2022. Namanya Tori Bushi. Tempatnya di Ueno Okachimachi JR Station. Awalnya kita kira dari google map si Tori Bushi ini dibilangnya hanya 5 pemberhentian kereta Tokyo Metro Ginza Line dari Kyobashi sampe Ueno-Hirokoji. Tapi aktualnya, dari Ueno Hirokoji itu kita jalan kaki 10 menit naik tangga yang cukup bikin pegel dong. Mana si kecil ingin ikut dan dia ingin digendong pas turun dari kereta.

Tapi jalan kaki dan naik tangga yang lumayan melelahkan itu terbayarkan pas kita sampai di Tori Bushi ramen.

Walaupun ini ramen halal, banyak juga Nihon-jin yang makan di sini. Seperti biasa, di semua resto ramen di Jepang, kita wajib order via vending machine dan bayar cash.

Dia hanya jual menu Ramen ayam dengan kuah Miso yang sangat thick/tebal. Daging ayamnya banyak banget dan tebal. Personally saya sih lebih suka style Tori Bushi ini ketimbang Ayam Ya. Tapi ternyata istri nggak begitu doyan yang tebal gini, lebih suka yang versi light kayak di Ayam Ya.

Harga ramennya pun dari mulai 800 Yen (100rb IDR) untuk yang versi chicken white soup biasa dan yang Special yang saya order harga nya 1250 Yen (150rb IDR). Dia jual yang versi kuah pisah (tsukemen) juga. Dan jual nasi juga kalau masih laper setelah makan 1 porsi. Oia, defaultnya di sini tuh ramen disajikan dengan daun ketumbar (coriander). Tapi biasanya orang-orang pada ngga doyan dan dia punya opsi diganti ke green onion (daun bawang).

Kita tiba di sini sekitar jam 6 sore, karena masih belum waktu dinner, jadi warungnya masih agak lowong. Selesai dari sini langsung balik menuju hotel untuk istirahat karena besok ada agenda pindah kota lagi ke Tochigi perfecture untuk lihat festival bunga Ashikaga di sana.

Saya teruskan cerita nya di part 3 ya.

Japan Trip 2023 Part 1

Hampir 6 bulan rasanya ngga pernah ngupdate blog karena kesibukan dan kemalasan. Mumpung akhir-akhir ini kesibukan sudah rada berkurang, saya mau coba share pengalaman jalan-jalan ke Jepang (lagi) di bulan Mei 2023 kemarin dengan membawa bocil-bocil.

Rencana untuk pergi ke Jepang di-inisiasi sejak akhir 2022. Keinginan sih pergi di musim semi pas Sakura full bloom. Tapi apa daya, jadwal sakura bertepatan dengan minggu pertengahan puasa. Karena rencana kali ini mau ngajakin anak-anak juga, jadi ya terpaksa merelakan ngga dapat sakura tapi coba cari opportunity untuk ke sana di late spring, sekitar awal Mei. Agak sedih juga sih ngga bisa ikut lihat sakura pertama setelah reopening Covid. Persiapan keberangkatan kita lakukan sejak bulan Februari dengan ngurus visa. Jadi kami berempat (saya, istri dan anak-anak) sebetulnya sudah punya e-paspor, tapi karena ibu mertua saya akan ikut dan paspor nya masih paspor biasa, jadi perlu urus visa biasa.

Sebagai informasi, pengurusan waiver untuk e-paspor sebetulnya bisa dilakukan sendiri secara online dengan lakukan langkah-langkah kayak di website ini. Biayanya Rp 150rb, tapi ya untuk pengambilannya musti ambil sendiri ke Jakarta. Nah karena saya males ngurus sendiri, akhirnya minta travel agent buat ngurusin. Seorang kena Rp 350rb. Untuk non e-paspor (visa biasa), sekarang kena Rp 1.2 juta via agen. Bedanya jauh banget ya. Makanya saat ini punya e-paspor adalah wajib hehe.

Saya dan istri cari referensi juga tentang spot-spot menarik di Jepang selama late spring ini, ternyata dari hasil penelusuran beberapa minggu, late spring ini waktunya festival bunga-bunga bermekaran karena peralihan dari musim semi menuju musim panas. Jadi tujuan utama kita adalah ke 2 kota yang ada festival bunga nya: Shin Fuji dan Oyama, dan 2 kota sekitarnya yaitu Nagoya dan Kyoto, plus tentunya Tokyo sebagai destinasi utama.

Untuk tiket pesawat sendiri, karena sebelumnya saya pernah ke Jepang naik Garuda dan Japan Airlines, kali ini mau nyobain naik ANA (All Nippon Airways). Memang ANA ini harga tiketnya rada-rada mahal tapi lumayan lah daripada penasaran. Setelah ngecek-ngecek berbagai online ticket apps, tiket termurah ANA adalah tujuan CGK-NRT dengan keberangkatan dari CGK pagi, yang pastinya ramah anak, dan kepulangan sore dari Tokyo dan tiba tengah malam di CGK (kurang ramah anak). Total harga tiket yang saya dapat adalah Rp 12 juta PP per orang.

Impresi pertama naik ANA: legroom lebar seperti Garuda dan JAL, inflight entertainment relatif lebih bagus dari Garuda dan JAL, pesawat B787 Dreamliner yang jendelanya bisa digelapin (hehehe). Tapi dari sisi makanan, menurut saya masih lebih baik Garuda dan JAL deh, ANA ini makanannya agak hambar dan kurang variatif. Tapi overall OK lah karena beberapa menu bisa dimakan anak-anak kayak sosis, roti, dll. Sebelum boarding juga istri sempat beli ayam Burger King jaga-jaga kalau makanan di pesawat gak bisa dimakan anak-anak.

Untuk jadwal flight sendiri, baik ANA atau JAL, punya jadwal 2 kali sehari yaitu tengah malam dan pagi-pagi. Dua-duanya ada plus minusnya. Tapi menurut saya, kalau bawa anak kecil di bawah 10 tahun, jadwal paling ramah adalah berangkat pagi agar pas landing di Tokyo sore, kondisi kita masih seger. Kalau kita ambil flight tengah malam, kemungkinan begitu landing di Tokyo, kondisi badan udah ga karuan karena kurang tidur dan mungkin anak-anak akan rewel.

Sebelum keberangkatan ke Jepang, sebetulnya sudah ada informasi yang beredar kalau JR pass akan naik harga di Oktober 2023. Jadi harga JR Pass Ordinary Car yang sebelumnya Rp 3.6 juta untuk 7 hari, akan naik hampir 2 kali lipat di Oktober 2023. Nah, karena tujuan kami nanti lebih dari 3 kota, maka berdasarkan rule of thumb, beli JR Pass adalah wajib. Berhubung harganya akan naik, maka saya putuskan untuk coba beli yang kelas Green Car alias eksekutif class. Dari pengalaman saya ke Jepang sebelumnya, JR pass ini selain untuk shinkansen, useful sekali jika dipakai di Tokyo karena mayoritas tujuan wisata di Tokyo sudah di-cover kereta JR.

Nah yang beda dari JR Pass kali ini dibanding terakhir saya ke Jepang beli JR pass tahun 2018, adalah sekarang sudah menggunakan QR code yang mana akan discan melalui tiket gate. Kalau dulu kan disediakan pintu “bypass” ke ruangan petugas yang mana pemegang JR pass harus menunjukkan JR Pass ke petugas jika ingin naik kereta JR. Lumayan lah sekarang udah ada kemajuan hehe.

Setelah berdiskusi panjang dengan istri, akhirnya kami putuskan rute perjalanan kami ke Jepang kali ini adalah: Nabana no Sato (lagi), Kyoto Railway Museum, Fuji Shibazakura, Ashikaga Flower Park, Shibuya Sky Tower, dan TeamLab Tokyo. Semua tempat tujuan ini akan ditempuh dalam waktu 8 hari 7 malam di Jepang dari 29 April sampai 7 Mei.

Sesampainya di Narita, hal yang pertama dilakukan tentu saja ambil pocket wifi. Pocket wifi atau sim card udah sangat wajib disewa/dibeli kalau bepergian ke LN. Harga sewa sekarang untuk 8 hari saya dapat sekitar Rp 700rb. Satu pocket wifi bisa terhubung ke 5 device dan karena kami terdiri dari 3 orang dewasa dan 2 anak, maka saya putuskan beli SIM Card juga. Hebatnya, sekarang SIM card jepang dijual di Indonesia dengan harga murah. Saya beli untuk 30GB harga Rp 80rb aja via toko ijo. Barang dikirim ke alamat Indonesia, nanti diaktivasi begitu nyampe di Jepang.

Seperti biasa, karena mendarat di Narita, hal pertama yang perlu dilakukan setelah ambil pocket wifi adalah mengantre untuk tukar voucher JR Pass dan dapat kursi Narita Express (NEX). Oia, dari bandara NRT ke pusat kota Tokyo sebetulnya ada 3 cara: cara tercepat adalah NEX, kalau kita beli JR Pass, maka akan include dengan tiket one way NEX. Cara kedua adalah dengan Keisei Line (KRL), yang murah tapi sedikit lebih lama dari NEX. Tapi perlu hati-hari karena Keisei line ini ada 2 tipe kereta yaitu local (yang berhenti di semua stasiun) dan rapid yang hanya berhenti di beberapa stasiun. Cara ketiga adalah dengan bus yang lebih murah dengan tujuan Ginza dan Tokyo Station. Bus sangat ramah kalau kita bawa barang/koper banyak dan males mobilisasi/pindah-pindah kereta. Nah, bus ini saya pakai pas perjalanan saya pulang karena lokasi menginap memang sangat dekat dengan Tokyo Station.

Oia, perlu diingat juga, di awal Mei di Jepang itu disebut Golden Week, semua orang libur dari Kamis-Minggu, makanya tiap Golden Week, semua manga scanlation itu pada libur kan? hehe. Dari testimoni yang saya dapat di internet, ekspektasi ke Jepang pas Golden Week adalah tempat wisata penuh dan crowded di mana-mana hehe.

Karena saya bawa 1 toddler umur 3 tahun dan 1 anak umur 7 tahun, maka barang bawaan kami coba pangkas seminimal mungkin dengan strategi setiap hari mencuci baju di laundry coin. Jadi total kami bawa 3 koper ukuran sedang, 1 stroller lipat dan 1 trike seperti ini. Idealnya setiap jalan, trike ini hanya sebagai emergency aja kalau salah satu anak mulai ngeluh pegel karena jalan jauh. Sedangkan stroller lipat dibawa untuk anak tidur siang mengingat kami akan pindah-pindah beberapa kota setiap 2 hari.

Jangan lupa juga untuk beli IC Card (Suica/Pasmo) di counter JR supaya kita bisa naik bus dan layanan kereta non JR selama di Jepang. harga Suica pas saya datang kemarin adalah 500 Yen yang non refundable dan ini bisa dikategorikan sebagai Adult dan Child. Nanti otomatis untuk yang child (anak 5-12 tahun) tarifnya hanya berlaku setengahnya.

Karena kami baru landing pukul 3 sore, ditambah imigrasi dan ngantri JR pass, jadi kami baru naik NEX pukul 6.30 dan tiba di Tokyo Station sekitar jam 7 malam. Dan karena saya beli JR pass green card, maka ketika naik NEX juga dapat Green Car yang lebih luas. dan sepanjang jalan cuma kami doang yang ada di gerbong itu.

Begitu tiba Tokyo Station, hal yang pertama dilakukan adalah book semua tiket shinkansen sesuai timeline perjalanan yang udah kita buat. Ini penting banget karena dari tips and trick yang saya dapat di Youtube, sangat disarankan buat book tiket shinkansen jauh-jauh hari menjelang Golden Week. Jadi tiket shinkansen itu bisa dibeli untuk keberangkatan 2 minggu ke depan. Nah, bermodalkan nyimak Youtube, saya coba praktekan cara pesen tiket Shinkansen dari vending machine nya.

Hanya 1 saja tiket shinkansen yang kami nggak dapat, yaitu buat perjalanan dari Tokyo ke Oyama. Sebagai alternatif kami diarahkan naik kereta JR yang berdurasi 60 menit dan transit 1 stasiun di Omiya. Selebihnya Alhamdulillah dapat walau sudah sisa dikit.

Setelah hunting tiket shinkansen, kami menuju hotel dengan terlebih dahulu mampir 7-Eleven untuk cari makan malam. Sengaja kami cari hotel yang dekat dengan Tokyo Station dan kami jadikan “basecamp”. Jadi, saya book 1 kamar single bed selama 8 malam sekaligus yang nanti akan dipakai untuk tempat “taruh koper” pas kita keliling keluar Tokyo. Sedangkan 1 kamar lagi di book sesuai jadwal kedatangan ke Tokyo. Harapannya kita ngga ribet mobilisasi karena setiap keluar dari Tokyo hanya akan bawa 1 koper saja. Setelah browsing-browsing, kami pilih Sotetsu Fresa Inn Tokyo Kyobashi yang jaraknya 50 m dari pintu masuk Kyobashi Station (Tokyo Metro) dan 500m dari JR Tokyo Station. Rate nya sekitar 1 juta per malam dan worth it lah walau kamarnya ngga terlalu besar. Toh hanya dipakai untuk numpang tidur aja.

Dan di perjalanan kali ini, saya baru menyadari bahwa di Jepang saat ini sudah sangat muslim friendly dari sisi makanan. Selain sudah banyaknya restoran yang halal certified dan muslim friendly, untuk makanan low budget pun kita bisa dapatkan dengan cukup mudah di jaringan minimarket seperti 7-Eleven dan Family Mart. Produk-produk makanan minuman halal dan muslim friendly sekarang sudah bisa dilihat informasinya di sini. Lumayan banyak makanan yang sekarang bisa kita beli di 7-Eleven untuk menghemat budget. Trik saya untuk perjalanan ke Jepang kali ini adalah membawa bekal abon, sambal goreng kering kentang dan serundeng kering. Jadi untuk darurat, di 7-Eleven tinggal beli salted rice ball (yang sudah pasti halal) atau onigiri tuna mayo. Pilihan untuk anak-anak juga banyak kayak salmon matang, roti non daging (melon pan yang favorit), dan semua susu sudah bisa dikonsumsi.

Karena sampai di hotel sudah jam 8 malam, kami memutuskan untuk istirahat dan persiapkan keberangkatan besok pagi ke Nagoya. Kami ambil kereta pukul 6.40 pagi supaya bisa sampe di Nagoya sekitar jam 7.30 dan langsung menuju destinasi pertama yaitu Nagoya Science Museum. Dikarenakan pagi itu hari Minggu, maka di lingkungan sekitar hotel (Kyobashi sampai JR Tokyo Station) sepi. Bisa dimaklumi karena ini kawasan bisnis/perkantoran. Dan karena ambil kereta paling pagi, maka suasana di stasiun shinkansen pun sepi jadi bocil-bocil bisa pada tidur nyenyak.

Sedikit tips kalau datang ke JR Tokyo Station. Jangan dikira stasiun ini sebesar stasiun Manggarai atau stasiun Bandung ya. Ini tuh berlipat-lipat lebih besar dan bisa buat first timer nyasar. Jadi dia ada 2 pintu entrance/exit.Yang pertama adalah Marunochi exit. Ini tuh gedung ikonik bata merah yang pernah diangkat jadi salah satu film Detective Conan. Nanti saya share pengalaman foto-foto di sana di post yang lain. Marunochi ini pintu masuk/keluar penumpang Tokyo Metro (subway). Nah yang kedua adalah Yaesu Exit. Ini pintu keluar persis di sebrang terminal bus Yaesu dan mayoritas digunakan untuk penumpang JR termasuk Shinkansen. Jadi kalau ke sini jangan sampai nyasar ya. Apalagi pakai kereta pagi dan bawa anak-anak. Oia, kalau kita masuk dari pintu Marunochi dan keluar di Yaesu atau sebaliknya, pas tapping IC card, kita bakal kena charge ya sekitar 100 Yen. Jadi hati-hati aja.

Pertama kali naik green car memang berbeda dengan kelas ordinary. Seat ordinary dibuat 3-2 kanan kiri sedangkan seat Green car dibuat 2-2. Karena ini kereta kedua yang berangkat dari Tokyo ke Shin-Osaka, maka di dalemnya pun kosong sampe bocil bisa selonjoran kayak begini hehe. Seperti yang sudah pernah saya tulis dulu, dari Tokyo ke Shin-Osaka itu akan melalui beberapa kota besar seperti Shizuoka, Nagoya, dan Kyoto. Pemegang JR Pass sendiri, khusus untuk JR Tohoku, hanya bisa naik kereta Nozomi (Express) dan Kodama (yang berhenti di semua stasiun). Jadi musti cari-cari info dulu tentang kota tujuan kita, jadwal keberangkatan kereta dan tipe keretanya. Di google atau youtube udah banyak kok informasinya.

Begitu menginjakkan kaki di Stasiun Nagoya, agak kaget juga karena stasiunnya penuh bukan main. Mungkin karena hari Minggu dan persiapan Golden Week kali ya. Karena waktu masih jam 9 pagi, dan Nagoya Science Museum buka pukul 10, kami pun belum bisa check-in di hotel. Sehingga tips berikutnya kalau menghadapi kondisi seperti ini adalah segera cari coin locker room di stasiun (letaknya tersebar) dan kita harus pinter-pinter lihat tanda petunjuk lokasinya. Habis itu cari locker kosong (biasanya yang tanda lampunya hijau), lalu siapkan uang coin 100 Yen atau bisa juga bayar pakai IC card. Penyewaan loker ini agak tricky karena semuanya pakai mesin. Better cek dulu cara penggunaannya di youtube ini biar ngga gaptek hehe.

Keluar dari Stasiun Shinkansen Nagoya, kita langsung menuju Nagoya Metro, nah di sini JR pass udah ngga bisa dipake. Sebagai gantinya kita musti pakai IC Card (suica). Antrian di stasiun subway nya juga padat. Tapi anehnya begitu keluar subway, tiba-tiba suasana di jalan jadi sepi.

Begitu tiba di science museum, antrian udah mengular padahal jadwal buka masih sekitar setengah jam lagi. Sebetulnya tujuan kami ke sana itu selain mau lihat museum science nya, juga mau lihat planetarium dome nya dan ikut nonton pertunjukkan/show nya yang durasinya sekitar 35 menit. Tapi begitu masuk antrian dan sampai depan counter, ternyata sisa kursi untuk next show pukul 11 itu hanya 8 dan itu pun mencar-mencar. Ditambah lagi dari penjelasan CS nya, tayangan show di planetarium semua dalam bahasa Jepang dan kebanyakan non-Japanese akan bosan nontonnya. Akhirnya kami putuskan untuk keliling-keliling di museumnya aja tanpa ke planetariumnya. Kecewa sih tapi ya mau gimana lagi.

Harga tiket untuk museum nya aja sekitar 400 Yen per orang. Anak di bawah 5 tahun gratis. Kalau mau include planetarium, HTM nya sekitar 800 Yen. Cukup terjangkau lah ya. Ada apa aja sih di dalamnya? Museumnya terdiri dari 6 lantai dan tiap lantai ada tema-temanya gitu kayak eksperimen Fisika (suara, air, listrik, angin), dinosaurus, perlengkapan rumah, mesin, elektronik, antariksa, transportasi, dll. Anak-anak juga bisa nyoba menggerakkan alat-alatnya dan praktek. Karena tempatnya crowded, jadi ya musti gantian. Tapi overall anak-anak pasti suka. Tips kalau ke sini sepertinya harus spare waktu 3-4 jam supaya bisa eksplor maksimal. Karena kami hanya 2 jam di sini, jadi kesannya buru-buru.

Photo dump dikit ya

Destinasi berikutnya adalah menuju hotel dengan mencari makan dulu di jalan pulang. Kalau tahun 2018 saya makan siang di resto Indonesia di Nagoya yaitu Bulan Bali, kali ini kami cari resto yang sekalian jalan pulang ke hotel. Pilihan jatuh ke Osu Mega Kebab. Salah satu kebab stall di Nagoya yang muslim owned. Seperti yang pernah saya bilang, di Jepang itu sekarang udah gampang cari makan. Kalau bosen makan di 7-Eleven, kita bisa eksplor resto kebab atau resto india yang jual menu vegetarian karena hampir semua aman dikonsumsi. Dulu di tahun 2018 saat belum banyak informasi makanan ramah muslim di Sevel, saya pun hampir tiap hari makan kebab hehe.

Di Mega Osu Kebab dan juga stall kebab lain di Jepang, hampir dipastikan para penjualnya fasih bahasa Indonesia dasar. Seperti menyebut harga, menyebut daging ayam atau sapi, dll. Bisa dimaklumi sih karena mayoritas pembeli mereka pasti turis-turis muslim asal Malay atau Indo ehehe. Kebab di Jepang itu relatif mahal, per menu nya sekitar 500 – 800 Yen, kalau di rupiahkan ya sekitar 70-100 rb rupiah lah. Tapi porsi agak banyak. Dan jadi variasi makanan juga kalau bosen sama makanan Sevel.

Untuk hotel di Nagoya, saya putuskan nginap di The Strings Hotel, jaraknya kira-kira jalan kaki 10 menit dari JR Nagoya Station. Hotelnya bagus, dia punya 1 kamar yang muat 5 orang dewasa. Rate nya pas saya beli dulu sekitar 1.4 juta IDR saja. Kamarnya luas, punya 2 kasur queen dan 1 kasur single seperti ini. Toilet nya juga modern. Tapi rata-rata ya semua toilet di Jepang memang canggih gini sih ya. Dan enaknya hotel ini juga dekat dengan Sevel/Famili Mart, Mc Donalds, dan ada pemandangan jalur kereta dari stasiun Nagoya.

Di Hotel, kami cuma transit sekitar 2 jam saja karena sore hari nya akan mengunjungi destinasi berikutnya yaitu Nabana No Sato. Kali kedua berkunjung ke Nabana No Sato karena istri ingin ngajak ibu mertua dan anak-anak buat liat winter illumination di sana. Sebagai persiapan terutama untuk anak-anak makan malam, kami belanja dulu di Sevel untuk cari rice ball, onigiri, roti dan snack yang bisa dimakan untuk dibawa ke sana. Karena sudah kali kedua ke sana, jadi rute nya sudah kami hapalkan. Untuk ke sana, kita bisa naik kereta dengan 2 opsi, yaitu opsi JR line dan opsi Kintetsu line. JR line sedikit lebih jauh dan keretanya lebih jarang. Tapi gratis karena bisa pakai JR pass. Kalau kintetsu line, keberangkatan lebih sering dan lebih dekat stasiunnya tapi bayar lagi. Kami putuskan pakai Kintetsu karena waktu pertama kali ke Nabana No Sato saya pakai JR line.

Perjalanan ke sana dari Stasiun Nagoya kira-kira sekitar 25 menit. Pas turun di stasiunnya kita musti nyambung lagi dengan bus yang disediakan pemerintah lokal setempat. Tarif busnya 100 Yen dan keberangkatan setiap 30 menit. Lama perjalanan dari stasiun kereta ke Nabana no Sato adalah 15 menit dengan keberangkatan terakhir jam 21.30.

Karena terakhir ke Nabana no Sato di 2018 adalah bulan Oktober, kali ini ada yang berbeda, pertama harga tiket yang makin mahal. Dulu perasaan masih 1200 Yen, tau-tau sekarang udah 2000 Yen per orang tapi udah termasuk voucher makan 500 Yen di beberapa resto. Masalahnya, ngga ada resto yang ramah muslim juga di sini, kecuali mungkin beberapa makanan hangat kayak red bean paste dan ocha.

Sedikit tips ke Nabana no Sato selain bawa bekal makan dari kota: kalau musim semi, berangkatlah dari Nagoya jam 4 sore karena matahari terbenam lebih lambat. Kira-kira hikari no toneru (light tunnel) nya dinyalakan sekitar jam 18.30. Tapi kalau autumn, datanglah lebih awal karena biasanya tunnel nya dinyalakan jam 6 sore. Jangan lewatkan juga Begonia garden (tiket include) sebelum lihat tunnel nya. Durasi di Begonia garden ini bisa 30-45 menit tergantung banyak atau ngga nya spot foto yang kita ambil. Jangan lupa bawa jaket tebal juga karena di sini anginnya kenceng dan dingin banget.

Spot foto paling bagus di Begonia garden:

Spot foto lainnya:

Jangan lupa untuk ikut countdown saat tunnelnya mulai dinyalakan:

Dulu pas 2018 ke Hikari no Toneru hanya berdua, sekarang udah berempat hehe

Di bagian dalam terowongan ini setiap tahun suka ada laser dan LED show yang ganti-ganti. untuk tahun ini sepertinya tema nya pirates:

Di sini juga kita bisa minum minuman hangat dari vending machine, tp hati-hati juga karena ngga semua ternyata bisa diminum. Coba pakai QR code google translate aja buat mastikan ngga ada yg haram di kandungan minumannya ya.

Duduk di paviliunnya ini bener-bener dingin. kami hanya tahan 10 menit aja saking dinginnya. Akhirnya memutuskan jalan pulang sambil foto-foto lagi sebelum pulang.

Selain hikari no toneru dan begonia garden, di nabana no sato ini ada juga wahana semacam observatory deck yang bisa naik tinggi dan kita bisa ambil foto dari atas. Sayangnya, 2 kali ke sini saya ngga sempat naik karena waktu dan juga mahal ehehe. Ini foto observatory deck nya.

Pulangnya sendiri kami pakai rute yang sama yaitu pakai shuttle bus ke stasiun kereta Nabana no Sato. Sebetulnya ada beberapa moda transportasi lagi seperti bus yang rutenya langsung Nabana no Sato-Nagoya Station. Silakan eksplor sendiri ya kalau tertarik pakai bus. Lebih simple, tp lebih mahal dan agak lama.

Penampakan Stasiun kereta Nabana No sato pas pulang.

Sesampainya di stasiun Nagoya, saya beli perbekalan buat sarapan dulu lalu kembali ke hotel buat istirahat. Dan pastinya nyuci baju hehe.

Sebagai informasi, nyaris di semua hotel di Jepang ternyata ada laundry coin nya ya. Sekali laundry kira-kira 300 Yen, dan pengeringnya sekitar 400 Yen. jadi sekali nyuci bisa habis 700 Yen. Sedikit lebih mahal dari laundry coin di luar tapi lebih simple dan ngga capek. Tipsnya adalah nyuci nya lebih baik malam sekalian atau pagi-pagi banget supaya ngga ngantri dengan pengunjung hotel yang lain. Resepsionis juga menyediakan penukaran koin 100 Yen. jadi ngga usah khawatir ga ada receh hehe.

Sekian part 1 kali ini, part 2 nanti akan lanjut menuju Kyoto untuk mampir sebentar ke Kyoto Railway Museum dan lanjut ke Shin Fuji buat naik gunung Fuji hehehe.