Singapore Trip 2022 Part 2

Hari Senin 23 Mei 2022, tepat hari ketiga di SG, kami sudah merencakan akan menghabiskan seharian di Sentosa Island, salah satu destinasi wisata favorit di sini. Seperti biasa, pagi hari dimulai dengan ritual mencuci di laundromat sejak pukul 6 pagi (pukul 5 pagi WIB) di mana langit masih gelap dan selesai pukul 7.30 pagi. Setelah selesai nyuci, tidak lupa mampir ke 7Eleven untuk membeli berbagai sarapan seperti roti tawar, sereal, mie cup, susu dan sandwich. Sedikit tips kalau ke Sevel, selalu perhatikan logo halal karena di SG itu semua logo halal terpampang jelas termasuk di mie cup, sandwich, dll.

Tujuan ke Sentosa hari ini adalah ke Skyline Luge, sebuah wahana bermain keluarga berupa seluncuran dari tempat yang tinggi ke tempat rendah menggunakan semacam 4-wheel motorbike(?) tanpa mesin. Kurang lebih kayak gambar di bawah ini.

Tiket untuk wahana ini sengaja nggak kami beli dulu via Klook karena masih belum tahu apakah anak kecil di bawah 3 tahun boleh naik atau bisa naik dengan didampingi/bersama ortu atau gimana. Karena masih gelap, jadi rancana akan goshow aja dulu. Berhubung semua wahana di Sentosa buka mulai pukul 11.00, maka kami pun berangkat dari hotel sekitar pukul 09.00 karena mau brunch di Kopitiam Foodcourt Vivo City dan makan Yang Tao Fu, makanan yang selalu kami beli setiap ke SG. Kopitiam Foodcourt itu salah satu sentra kuliner halal (Muslim owned) di Vivo City. Letaknya persis di exit MRT Stasiun CC (orange line) dan di dekat McD. Di sini terbagi 2 sektor yaitu sektor halal dan non halal. Jadi tidak perlu khawatir bercampurnya peralatan makan karena semua sudah dipisahkan oleh pengelola. Tampilan Kopitiam Foodcourt bisa dilihat di youtube ini. Semua yang halal menggunakan alat makan berwarna hijau.

Apa itu Yang Tao Fu? Yang tao fu adalah masakan cina peranakan SG yang seperti bakso tapi isiannya bisa kita pilih sesuka hati sesuai selera dan nanti tinggal dikasih kuah sama penjualnya. Kurleb seperti ini tampilan kedainya:

Setiap menu/pax dihargai sekian sen SGD. Kira-kira kalau kita ambil 1 sayuran dan 3 macam lauk, kisaran harganya 2-3 SGD (sekitar 30-45rb seporsi). Lumayan hemat di kantong lah. Rasa kuahnya pun gurih dan pas di lidah. Di sekitar tempat Yang tao Fu ini ada macam-macam makanan halal juga seperti Nasi Hainan, Bebek, Noodles, dll.

Setelah selesai makan, kamipun langsung menuju lantai 3 VivoCity untuk naik monorel ke Sentosa. Untuk menuju Skyline Luge, kita harus turun di Beach Station (stasiun terakhir) dan nanti dari situ keluar mengikuti garis pantai kira-kira 100m lalu akan ketemu Skyline Luge di sebelah kanan. Tempatnya akan sangat terlihat karena terpampang jelas logo Skyline Luge.

Setelah tanya ke front office, akhirnya kami putuskan hanya bertiga saja yang naik, saya, istri dan anak yang pertama. Harga tiketnya bervarisasi tergantung mau berapa kali naik, minimal 2 kali, maksimal 4 kali. Kami putuskan naik 2 kali saja dan harga per orangnya sekitar Rp 300rb per orang dewasa dan Rp 170rb untuk anak 3-12 tahun. Nah buat yang tanya kenapa ada tiket 2 kali, 3 kali dan 4 kali, jadi di sini tuh adalah wahana yang mirip dengan skying di gunung salju. Kita musti naik skylift yang hanya berupa kursi dan ada pegangannya ke puncak “gunung” kurang lebih 5 menitan. Dari situ kita meluncur dengan “motorbike” tanpa mesin dan rute nya terbagi jadi 4 yaitu Expedition, Jungle, Kupu-kupu dan Dragon. Konon untuk pemula disarankan ambil rute Kupu-Kupu dan Jungle Trail.

Berikut penampakannya:

dan ini ketika sudah di atas
Kira-kira tingginya skylift ini sekitar 30-an meter
Dan ini ketika meluncur

Lengkapnya momen pas meluncur bisa dilihat di youtube ini dan ini. Ada momen lucu saat anak saya kepelintir dan oleng karena lepas tangan. Naik ini susah-susah gampang, karena begitu narik tuas pas mau break, kalau kebanyakan malah jadinya berhenti total dan kalau sudah berhenti total, malah tambah susah untuk jalan lagi. Jadi sebelum meluncur, pastikan ikuti instruksi si petugasnya dulu nanti. Nah setelah 2 kali putaran riding, nanti kita bisa tebus foto dengan cara scan barcode yang ada di helm. Biaya untuk tebus 4 foto sekitar Rp 200.000.

Overall pengalaman yang sangat seru dan rasanya 2 kali naik masih kurang. Next time akan coba lagi ah ke Expedition Trail dan Dragon Trail. Beres dari Luge sekitar jam 1 siang, kami pun coba ke HeadRock VR Adventure di Sentosa, sebuah wahana permainan dengan VR (Virtual Reality). Sebetulnya dari Skyline Luge ke VR ini jalannya agak jauh dan ada bus gratis tiap 5 menit. Namun karena ingin explore, kami coba jalan kaki saja sekalian menyusuri pantai nya. Karena pantai selatan Sentosa ini menghadap ke arah Batam, jadi pemandangan pantainya ya apalagi kalau bukan kapal kontainer/tanker yang buang jangkar dan pulau industri hehe. Tapi herannya, tengah hari bolong, banyak bule-bule yang masih berjemur. Apa ngga kebakar ya kulitnya? Untungnya di sepanjang jalan itu banyak vending machine jadi masih bisa beli air minum karena cuaca panas dan tengah hari bolong. Kebetulan di Pantai Siloso nemu spot foto bagus jadi foto dulu deh walau tengah hari bolong.

Untuk menuju HeadRock VR, kita perlu cari jalan menuju ShangRi La resort. Nah di depan ShangRi La ini ada halte bus dan dia berdekatan dengan ticketing dan area cable car. Nanti dekat halte bus itu ada petunjuk menuju HeadRock VR dan Madame Tussaud (museum lilin), bisa coba tanya kasir 7Eleven di dekat Cable Car kalau ragu. Dulu saat di Jepang, saya pernah coba VR di Shinjuku dan sensainya benar-benar seru karena kita seolah benar-benar masuk di game nya secara virtual. Dulu di Shinjuku banyak pilihan game nya, tapi di HeadRock ini kalau ngga salah hanya 8 macem saja. Berikut harga tiketnya.

Jadi saya coba beli package yang PLAY3 untuk 3 orang, dan di sini, pengantar/yang ngga ikut maen, dikenai charge 5 SGD (hadeeh).. List game nya:

Kami pun coba Storm Blizzard, Extreme Train, Skyscrapper dan Zombie Buster. Oia, karena ini hari Senin dan jam 1 siang, jadi hanya kami aja yang ada di area ini. Jadi tanpa antri sama sekali. Storm Blizzard adalah simulasi dimana kita bertiga naik kereta salju dan ditarik sama serigala. Nanti di tengah-tengah permainan, kereta nya akan lewat jalur curam dan diserang badai salju. Kereta akan digoyang-goyang dan kipas angin super kenceng akan ditiup buat simulasikan badai salju.

Di extreme train, seolah-olah kita naik roller coaster tapi di tengah jalan, tracknya hilang dan kereta diombang-ambing sampai ke jurang hehe.

Kalau untuk skyscrapper dan zombie, standar aja sih, hanya nembak-nembakin musuh dan survival di atas gedung. Overall masih kalah jauh dari Shinjuku tapi masih fun lah. Oia, selain VR, di sini tuh ada Kids Interactive Zone nya, jadi semacam area bermain anak yang interaktif. Cocok untuk anak di bawah 5 tahun. Bisa cek di website nya.

Nggak kerasa, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 dan kami pun bergegas menuju stasiun monorel. Nggak lupa berfoto dulu di depan bola dunia.

Oh iya, ternyata sejak pandemi, USS (Universal Studio Singapore) hanya buka dari hari Jumat-Minggu aja dan tutup hari Senin-Rabu. Jadi pas kita ke sana, bola dunia yang biasa muter dan keluar kabut lagi mati dong hehe.

Kami tiba di hotel sekitar pukul 15.30 dan langsung mandi lalu tidur siang. Rencana sore/malam ini adalah kulineran di Restoran Turki halal di area Arab Street, Bugis, tepat di sebelah restoran Positanoristo yang kemarin. Nama resto nya adalah Cappadoccia Turkish and Mediterranian Resto. webnya di sini. Penampakan dari luar kira-kira seperti ini:

Penampakan di dalamnya seperti ini:

Di resto ini, semua pelayannya orang Turki asli, dan hebatnya mereka selalu mengucap salam (Assalamualaikum) dan bilang Bismillah sebelum melakukan sesuatu. Luar biasa. Di sini karena semua serba mahal, jadi kami pesan yang light saja : Adana Chicken Kebab, Pepperoni Pizza, Falafel Wrap dan dessernya adalah Kunafe dan Baklava.

Adana chiken kebab pada dasarnya adalah daging ayam yang dijadikan kebab dan tidak diwrap seperti kebab Babarafi. Dia beri Turkish salad dan dikasih Nasi briyani (?) dan ada cocolan mushroom sauce dan yoghurt khas Turki. Lumayan lah rasanya, lebih enak dari kebab yang di Indonesia. Salad nya pun segar karena ada perasan lemon nya

Adana Chiken Kebab

Untuk pizza pepperoni, standard lah ya. Yang zonk menurut saya Falafel ini. Saya pikir ini adalah kebab style daging sapi/kambing gitu taunya hummus dan semacam makanan vegetarian hehe.

Falafel Wrap

Yang juara tentu saja duo dessert yaitu Kunafe dan Baklava. Ingat kunafe/baklava pasti ingat era kue artis yang booming tahun 2015-an yang dipopulerkan Irfan Hakim sama Omesh dulu ya. Kalau saya bilang dua dessert ini memang juara sih. Sempat ada cerita lucu dimana kita selalu ketuker antara Kunafe dan Baklava. Coba tebak yang mana Kunafe dan mana Baklava?

Baklava itu semacam pastry yang di dalamnya ada saus karamel (?) atau susu yah? lalu dia ditaburi semacam matcha. Rasanya seperti kita makan kue pastry namun lembut. Kalau kunafe agak unik karena dia seperti roti jala atau kayak adonan bandros yang dari kelapa itu yang di panggang dibentuk bundar. Lalu disiram saus kelapa (santan) dan susu. Enak dan manis banget pokoknya.

Total berlima makan di resto ini habis sekitar 120-an SGD dengan menu di atas. Oia, seperti biasa, air minum di sini gratis yah, dan boleh refill hehe.

Hari keempat di SG, tepatnya hari Selasa kami akan coba sesuatu yang belum kesampaian selama ini yaitu naik The Original Duck Tour. Seperti biasa, memulai pagi hari dengan nyuci baju di Laundromat dan pulangnya beli sarapan di Sevel. Sekitar jam 9 pagi kami naik MRT dari dekat hotel dengan tujuan Esplanade keluar di exit A. Tempatnya persis di Suntec yang menghadap ke arah Nicoll Highway, bukan area tengah yang ada air mancur melingkar.

Kenapa dinamakan the original ducktours? mungkin karena banyak KW nya kali ya? Yang pasti website originalnya yang ini. Yang pasti harga Ducktours ini ngga murah sih, untuk dewasa di kisaran Rp 350rb dan untuk anak di Rp 280rb per orang. Jadi duck tours ini adalah bus amfibi yang dirancang seperti wujud bebek. Bus ini terbuka di bagian samping dan bentuknya kayak perahu yang dikasih roda. Nanti dari Suntec City dia akan menuju ke Sungai Kallang dan akan nyemplung ke air jadi perahu untuk keliling Singapore river dari Gardens by The Bay, Singapore Flyer, MBS sampai depan Merlion. Setelah itu dia akan naik lagi ke darat dan keliling area Downtown. Total perjalanan sekitar 1 jam dan cukup menyenangkan untuk anak-anak.

Sepanjang perjalanan ada tour guide yang akan cerita tentang sejarah bangunan/landmark dan beberapa funfact dari landmark yang dilewati, dan semuanya full englis (singlish sih tepatnya). Dari penjelasan tour guide, ternyata si bus ini umurnya sudah lebih dari 50 tahun dan masih bisa digunakan sampai sekarang. Agak-agak serem sih tapi ya di Singapur seharusnya regulasi nya ketat dan keselamatan diutamakan. Momen paling seru pas dari darat nyebur ke sungai, kalau duduk dekat jendela akan kena cipratan air sedikit.

Oia, di akhir perjalanan ada mandatory tip yang diminta oleh supir dan guide nya. ngga ada batasan sih minimal berapa, tapi 5 SGD atau 10SGD sudah oke lah menurut saya. Tips lain untuk naik Duck Tour ini, kalau naik di hari kerja, kayaknya oke aja kalau mau goshow dan langsung datang pas hari H. Tapi kalau weekend atau hari libur nasional, disarankan booking online via apps seperti Klook atau Traveloka supaya menghindari nunggu lama.

Selesai duck tours kira-kira pukul 11.30 siang. Dari situ karena sudah kepalang tanggung ada di area Marina Bay, kamipun jalan kaki menyusuri City Hall menuju ke Merlion Square. Tengah hari bolong jalan kaki dan foto di area Merlion merupakan pengalaman pertama hehe. Tapi herannya turis yang foto di situ tetap banyak.. Luar biasa.

Oia, sejak 2019, dari arah Esplanade ke Merlion Square sudah tidak perlu lewat trotoar pinggir jalan lagi, tapi sudah ada jembatan khusus pejalan kaki yang sengaja dibuat untuk akses ke sana.

Nah karena hari sudah siang dan kami belum makan siang, agenda berikutnya adalah menuju restoran seafood yang menyajikan chilli crab khas SG. Setelah googling sejak di Indonesia, pilihan jatuh kepada Home of Seafood yang dapat review bagus sebagai seafood resto halal di berbagai situs halal travel.

Home of Seafood, terletak di area Joo Chiat Road (Geylang) dan letaknya sudah deket ke Changi. Perjalanan dari depan hotel Fullerton ditempuh dengan 2 kali naik bus dan total 40 menitan. Lama sekali tapi ya karena sudah kepalang tanggung akhirnya kami jabanin. Setelah turun dari bus, ternyata masih harus jalan kaki 800m untuk sampai ke restonya.Restonya sendiri terletak di belokan dan yang unik, di jendela restonya terpajang foto ownernya yg berpose dengan public figure Singapura dan negara tetangga. Super narsis.

Itu kira-kira tampilan depan restonya, diambil dari google, isinya foto ownernya semua. Menunya semua ada, dari mulai kepiting, udang, cumi, aneka ikan hingga nasi gorang. Rasanya juara dan harganya juga juara. Baru kali ini saya order chilli crab yang seporsi dihargai 80 SGD atau 1 juta rupiah.. Gila..

Penampakan kepiting 1 jutaan

Total makan berlima dengan menu super komplit habis sekitar 187 SGD. Mahal sih tapi puas karena resto nya bagus adem dan bersih. Plus makanan diantar pakai robot pelayan kayak di Jepang gitu.

Sebranh resto ini ternyata ada halte bus yang langsung menuju Bugis Junction. Enak sekali karena kami cukup naik 1 kali saja untuk sampai di Bugis dan jalan kaki ke hotel dari sini. Selesai makan pukul 14.30 dan tiba di hotel pukul 15.30. Sampai di hotel langsung pada tepar dan tidur sore.

Karena besok kami akan pindah hotel ke Jewel Changi, maka malam itu kesempatan jalan2 terakhir sebelum pulang ke Indonesia. Tujuan akhir adalah ke Garden by The Bay (lagi) untum nonton pertunjukkan laser show. Jadwal laser show nya sendiri adalah di jam 19.45 dan 20.45. Sebetulnya ada 2 laser show berdekatan yaitu di Garden By the Bay dan di depan MBS. Hanya saja, selisihnya hanya terkait 15 menit. Show di MBS setiap pukul 19.30 dan 20.30. Jadi sebetulnya bisa aja nonton keduanya asal setelah 1 show selesai kita musti bergegas dan kayaknya sulit bawa anak-anak.

Sejak jam 6 sore kami sudah standby di depan MBS untuk foto-foto penampakan malam hari di Singapur yang penuh lampu-lampu gedung di Marina Bay area. Sayangnya anak saya yang besar sakit dan sepertinya masuk angin karena mengeluh pusing terus dari berangkat dari hotel. Mungkin sudah mencapai limit karena ini udah hari ke-4 di SG dan banyak aktifitas di luar ruangan. Jadinya dia tidur dan istirahat di pelataran MBS yang di dekat Louis Vuitton. Lumayan dapat tidur sekitar 30 menitan.

Sekitar pukul 19.30 kami jalan ke gardens by the bay via MBS lantai B1M. Pokoknya cari aja arah menuju MRT station pasti akan ketemu link nya.

Sambil menunggu show dimulai, seperti biasa cari makan malam di sini yang pilihan satu2 nya kala itu adalah McD. Seperti diprediksi, McD pun penuh menjelang dinner time.

Pertunjukkan laser dan music show (Super Tree Grove) dimulai pukul 20.30 dan selesai jam 20.45. Setelah menikmati show sambil ambil video, kami pun pulang menuju hotel karena besok akan checkout dan perlu istirahat cukup.

Bersambung Part 3 (Final)