Kinerja Investasi 2022

Menginjak tahun 2023 ini, saatnya bikin coret-coretan lagi tentang kinerja investasi di tahun 2022 lalu.

Tahun 2022, seperti yang dialami oleh kebanyakan investor dan coal company holder adalah tahun dengan return portofolio tertinggi yang mungkin pernah ada. Hampir semua saham perusahaan batubara besar di Indonesia mencetak bagger jika pada beli di akhir 2021 atau di awal 2022. Yang paling gila memang BYAN (Bayan Resources) yang sukses menjadikan Dato Low Tuck Kwong pemiliknya, menyalip posisi orang terkaya Indonesia yang udah bertahun-tahun dipegang pemilik Grup Djarum, Hartono Brothers.

Saya sendiri punya ADRO PTBA, PSSI dan UNTR, perusahaan coal-related company dalam portofolio, dan selain UNTR dan PTBA, sudah mencetak bagger. PTBA sendiri walau nggak bagger, tapi saya dapat yield dividen 30%, terbesar selama saya berinvestasi di pasar modal sejak 2016.

Ok, kita breakdown dulu alokasi aset portfolio as per 31 Desember 2022 berikut ini:

Alokasi aset terbesar tentu saja masih saham dengan besaran 45.5% disusul Reksadana 40,1% dan obligasi pemerintah (SBR/ST/SR/ORI) sebesar 9.4%. Penurunan signifikan di P2P lending dari posisi sebelumnya 8%an menjadi sisa 2.3% aja. P2P ini porsinya jauh berkurang seiring dengan berhentinya T*rnakinvest (karena perubahan business model) dan berkurangnya porsi topup Am*rtha karena kebijakan PPh 15%.

Selama 2022 juga porsi saham belum naik lebih dari 50% karena beberapa faktor: harga yang saya anggap belum terlalu murah sehingga porsi dana idle (dry powder) masih numpuk banyak di RDPT dan RDPU. Di samping itu, porsi tabungan pendidikan anak dan tabungan penyusutan mobil juga saya perbesar karena memang ada target investasi yang perlu dicapai di 2024 hehe.

Sementara itu, performa dari portofolio saham sendiri selama 2022 memang sangat menggembirakan, berhasil mengungguli IHSG jauh sekali. Padahal di 2021 saya hanya bisa +1.12% dibanding IHSG yang bisa tembus +10% sepanjang tahun.

Total keseluruhan return investasi saham di 2022 mencapai +49.22% yang didorong oleh meroketnya sektor batubara dan perkapalan sepanjang tahun 2022. Penggerak porto saya apalagi klo bukan SMDR (+220%), ADRO (+120%), dan PSSI (+240%). Walaupun lot size nya ngga begitu besar (karena saya punya keseluruhan 17 saham dalam porto), hasil ini cukup menggembirakan lah.

Dari sisi dividen, tahun ini jumlah nominal dividen saya melonjak lebih dari 300% dari yang saya terima di tahun 2021. Luar biasa. Dividen terbesar disumbang saham-saham batubara yaitu PTBA, UNTR, ADRO dan POWR yang menyumbang lebih dari 50% total dividen. Dan semua dividen yang saya terima ini direinvestasikan lagi untuk beli saham lagi.

Sementara lagging masih disumbang oleh ACES (-35%), MARK (-30%) dan PRDA (-20%), WEGE (-18%) sepanjang tahun 2022. Tapi saham-saham ini masih saya hold karena masih yakin kinerjanya akan berbalik di tahun ini.

Untuk tahun 2023 sendiri, rencana saya adalah mulai mengurangi porsi di saham batubara, mungkin setelah pembagian dividen full year akan pelan-pelan lepas sahamnya dan memperbanyak lagi porsi di saham growth sambil merampingkan porto. Bobot akan saya tambahin untuk ARNA SMSM dan ADES sebagai andalan growth company saya yang memang kinerjanya masih stabil dan terus tumbuh.

Sementara di Reksadana, saya ngga akan topup lagi dalam jumlah banyak, dan mungkin semua SBN pemerintah yang dikeluarkan tahun ini akan saya beli semua dengan nominal yang sama dengan yang biasa saya beli. Ada 2 SBN yang akan jatuh tempo juga di akhir tahun dan lumayan bisa buat nambah-nambah beli SBN yang lain.

Untuk P2P sendiri, kayaknya saya bakal cukup fokus di Am*rtha aja dulu sementara. Karena performa securities crowdfunding lain seperti B*zhare, Cro*dana dll pada melempem semua. Sementara masih Am*rtha yang sesuai return 11.5% per tahun meski kena sunat PPh 15% jadi sisa return tinggal 10-an%. tapi masih lebih baik dari performa rata-rata reksadana pendapatan tetap yang cuma sanggup 7-8% aja di tahun 2022 kemarin.

Mari kita lihat lagi performa porto di Q1 2023 nanti yang akan saya publish mudah-mudahan di bulan April 2023.

Terima kasih

Goodbye P2P Lending

Sudah lama rasanya tidak menulis. Kali ini, karena sudah masuk bulan September dan saya sedang mengevaluasi portofolio investasi secara berkala, sepertinya cocok untuk sekedar sharing keputusan untuk phase out di P2P lending andalan saya.

Seperti pembahasan di tulisan saya sebelumnya, saya invest di P2P lending sudah sejak 2020 dan dua P2P lending andalan saya adalah platform investasi ternak berwarna hijau dan crowdfunding empowering ibu-ibu yang warnanya ungu. Tapi di samping itu saya juga punya sedikit investasi crowdfunding alfamart/alfamidi di platform biru.

Mengapa saya memutuskan phase out alias tidak akan menambah investasi lagi at least sampai kondisi mendukung? saya jelaskan alasannya mulai dari si hijau jagoan ternak. Nah, sejak Agustus lalu, si hijau ini sudah tidak mengeluarkan project baru. Beberapa minggu lalu, dia mengundang semua investor nya dalam meeting zoom untuk menjelaskan next project mereka yang saya pikir cukup ambisius. Jadi, alih-alih menjalankan crowdfunding per proyek dengan menggandeng mitra strategis seperti selama ini, mereka ingin mengambil alih dan melakukan semuanya sendiri.

Selama ini, return si hijau ini cukup fantastis menurut saya, ROI selama 6 bulan ngga ada yang dibawah 8% alias annualized return per tahun minimal 15% untuk proyek ternak yang beresiko, apalagi waktu wabah PMK kemarin. Nah, dengan menggunakan skema yg baru nanti, si hijau ini akan handle semua proyeknya sendiri buat menguasai dari hulu sampai ke hilir. Artinya cuan makin gede tp resiko juga berbanding lurus.

Sekilas prospeknya bagus sih, cuma kebutuhan biayanya jadi lebih gede. Dia patok minimal investasi jadi 5 juta dan menargetkan dana terkumpul buat skema baru ini sekitar 7 Milyar-an rupiah. Return yang dijanjikan 20-25% per tahun dengan periode bagi hasil 6 bulan sekali. Yeah, bagi saya, mending terlambat daripada FOMO. Jadi, lebih baik sekarang skip dulu deh. Masih belum bisa memprediksi resiko nya gimana dengan handle bisnis sendiri dari hulu ke hilir dan bukan per project lagi.

P2P lending kedua andalan saya adalah si ungu. Si ungu ini menonjolkan misi sosial untuk empowering emak-emak di desa. Dari 2020 sampai sekarang, sudah 50-an mitra saya danai dan persentasi keberhasilan (proyek selesai) 90% lebih. Hanya 1 mitra yang gagal bayar dan itu pun diganti 75% pokok nya sama asuransi. Sisanya lancar dan kurang lancar tapi masih terbayar sampai lunas/jatuh tempo.

Nah, mengapa saya putuskan stop/break dulu mendanai sampai waktu yang tidak ditentukan? Ternyata ada kebijakan baru terkait PPh (Pajak Penghasilan) sebagai berikut:

Bukannya saya ingin mengemplang pajak, tp dengan tambahan PPh 15%, return yang awalnya 11.5% untuk credit rating A (credit rating paling bagus), jadi hanya sisa 10% aja. 10% untuk return investasi super high risk seperti P2P lending. Coba kita cek berapa return reksadana obligasi saat ini

Dibanding taro duit di instrument high risk yang return nya hanya beda 1-1.5% aja setahun, mending saya taruh di RD berbasis obligasi yang sedikit lebih aman. Apalagi suku bunga BI udah mulai naik dan yield obligasi pasti akan naik juga.

Mungkin saya baru akan berpikir untuk masuk lagi kalau return yang diberikan pengelola P2P ungu ini punya spread 3-5% di atas return RD pendapatan tetap berbasis obligasi. Yah, semoga aja.

Kalau crowfunding P2P si biru yang banyak nawarkan proyek Alfamart, itu mah nggak usah ditanya.. Memble semua hasilnya. Masih cetak untung sih, tapi deviasinya dengan prospektus kelewat sangat jauh. Menurut saya pengelola Equity Crowd Funding (ECF) P2P yg berbasis waralaba/franchise harus mulai “jujur” dan jangan overclaim saat nawarkan return ke calon investor. Banyak membual dan nge-BS tapi nyatanya return aktual hanya seuprit dan pengawasan kurang buat apa.. Lama-lama nggak laku lagi ECF di Indonesia karena pada kapok semua.

Return pada seuprit, ngga sesuai sama prospektus. Malah ada yg macet sampe sekarang hehe

Jadi ya, itu kira-kira alasan saya memutuskan untuk stop dulu investasi di P2P dan alasan-alasannya. Mudah-mudahan iklim investasi P2P semakin baik dan OJK selaku regulator bisa semakin tegas buat regulasi yang melindungi konsumen/investor.

Sekian dan terima kasih

Pengalaman Pribadi Mengenai Investasi di P2P Lending / Fintech

Sesuai janji saya bulan lalu, di tulisan kali ini saya coba melakukan review berdasarkan pengalaman pribadi mengenai investasi di P2P (Peer to Peer) lending atau lebih dikenal dengan Fintech.

Sebelumnya DISCLAIMER : ON dulu ya, apa yang saya tulis di blog ini sifatnya hanya pendapat pribadi, dan bukan merupakan ajakan untuk melakukan investasi di instrument investasi tertentu. Untung dan rugi dari hasil investasi yang membaca blog ini di luar tanggung jawab saya sebagai penulis. Nama-nama P2P lending di sini saya sensor karena takut ada pihak yang tersinggung dan bisa kena UU ITE hahaha.

Investasi di P2P lending, termasuk investasi dengan resiko tinggi, mungkin setara dengan menempatkan investasi di saham. Apa itu P2P lending? mungkin banyak yang belum paham. Gampangnya, P2P lending itu semacam calo/makelar yang mempertemukan pencari dana (borrower) dengan orang yang punya dana berlebih yang siap dipinjamkan supaya ada bagi hasil/bunga yang diterima.

Cara Kerja Peer-to-Peer Lending di Investree | Investree
Grafik sederhana P2P lending

Nah, lender di P2P lending rata-rata adalah orang-orang atau pihak yang belum tersentuh industri keuangan konvensional seperti bank, atau memang belum bankable. Artinya, orang tersebut belum memenuhi persyaratan untuk dapat pinjaman dari bank, seperti belum punya agunan/aset jaminan, usaha nya belum menghasilkan untung/profit yang konsisten, dll.

Makanya, seperti saya bilang tadi, resiko P2P lending ini tinggi karena ada resiko gagal bayar yang bisa membuat uang yang kita “pinjami” tadi nggak kembali karena si lender ngga bisa membayar cicilan pokok dan bunga karena usahanya bangkrut/rugi, dll.

Prinsip nomor 1 sebelum investasi di P2P lending adalah filtering P2P fintech yang terdaftar dan berizin OJK. Terdaftar saja belum cukup ya, harus berizin OJK. Mumpung saat ini OJK lagi moratorium izin fintech, seharusnya pilihan fintech yang bener-bener bagus dan prudent jadi terbatas sih. List per tanggal 6 Oktober 2021 bisa dilihat di sini

Nah, setelah diyakinkan bahwa Fintech tersebut sudah terdaftar dan berizin, langkah selanjutnya adalah menentukan tipe Fintech mana yang akan diambil. Fintech yang ada sekarang ini ada yang sifatnya generalist, artinya fintech yang penyaluran dana nya tidak spesifik ke satu bidang usaha, misalnya dia menyalurkan dana untuk perdagangan, peternakan, pertanian, bisnis ritel, dll. Namun ada juga fintech yang spesifik menyalurkan dana nya untuk bidang usaha tertentu, semisal : AM*RTHA yang hanya menyalurkan dana untuk kegiatan bisnis UMKM para wanita/ibu-ibu di daerah yang belum bankable, TERNA*INVEST yang hanya menyalurkan dana untuk usaha peternakan, IGR*W yang hanya menyalurkan dana untuk usaha pertanian dan perkebunan, dll. Kalau fintech yang generalis banyak sekali, contoh ASE*KU, KOI*WORKS, dll.

Nah, setelah memilah-milah berdasarkan sifat penyaluran dana nya, langkah berikutnya adalah cek TKB90 dan reviewnya di google playstore atau google web. Apa itu TKB90? TKB90 yang biasanya dipajang di web P2P lending, adalah ukuran tingkat keberhasilan penyelenggara fintech-peer-to-peer (P2P) lending dalam menfasilitasi penyelesaian kewajiban pinjam meminjam dalam jangka waktu sampai dengan 90 hari terhitung sejak jatuh tempo. Masalahnya, banyak fintech memanipulasi/financial engineering TKB90 ini. Bisa jadi, data TKB90 yang dipajang di website itu bukan 100% akurat, namun dengan memperpanjang tenor pengembalian modal investor tanpa pemberitahuan sebelumnya, sehingga angkanya bagus. Oleh karena itulah perlu crosscek kembali dengan review-review di Playstore atau di google web, apakah banyak yang komplain terhadap P2P ini karena banyak gagal bayar, dll.

Saran penting berikutnya adalah modal yang masuk ke P2P harus dibatasi, maksimal hanya 5% dari total aset kita. Contoh, misal kita punya aset lancar (tabungan, deposito) senilai 100 juta, maka batasi hanya 5 juta aja yang dimasukkan ke fintech P2P.

Saya sendiri sudah sekitar 4 tahunan ikut P2P lending, dengan P2P lending pertama saya adalah IGR*W dan CROW*E. Kita bahas satu persatu dua P2P lending perdana saya, yang mana saya akhirnya kapok invest di sini sampai hari ini hehe…

  1. IGR*W

Seperti sudah saya bahas sebelumnya, spesialisasi P2P ini adalah di perkebunan, peternakan dan pertanian. Suatu misi mulia buat memajukan para petani dan agrikultur di Indonesia. Cara kerjanya adalah mereka kerjasama dengan paguyuban petani lokal, biasanya dalam bentuk CV untuk mengelola kebun dan nanti ada offtaker yang akan ambil dengan harga yang disepakati. Saya sudah 4 kali ikut di sini, 2 berhasil dengan tenor 6 bulan dan 12 bulan dengan yield 8-20% per tahun (yang menurut saya wow sih)

Dan ada 2 proyek lagi di mana 1 proyek sifatnya longterm (10 tahun kontrak), masih berjalan hingga saat ini, dan 1 proyek gagal bayar sudah menggantung sekitar 2 tahunan hingga saat ini :

Precision farming, sudah masuk tahun ketiga, dan laba bersihnya makin ke sini makin turun. Padahal, precision farming ini sempat diblow up media dan pernah dikunjungi Pak Menteri Pertanian loh hehe.. ngga paham saya salahnya di mana. apa manajemennya ngga bisa mitigasi resiko ya? Padahal penjualan sayuran hidroponik dan hasil kebun selama pandemi ini via channel jualan online setahu saya meningkat.

Yang Budidaya Jagung udah ngga perlu ditanya hehe. Inti permasalahannya, jagung yang sudah dipanen, hanya dibeli dengan harga yang murah oleh offtaker, akhirnya profit tidak bisa menutup biaya yang timbul. Saat ini sedang proses penjualan aset ke pihak ketiga, dan belum ada yang mau hehe.

Investasi di P2P ini, modal yang dikeluarkan cukup besar, karena harga 1 saham yang dijual sekitar 2-3 juta rupiah. Dulu, saat saya ikutan, dia belum pakai asuransi sebagai proteksi gagal bayarnya. Jadi kalau ada yang minat ke sini, mending selalu beli asuransi karena sektor pertanian itu resiko gagal panennya besar sekali. at least, kalau beli asuransi, kita hanya kehilangan waktu dan modal 20% aja karena pokok yang diganti sebesar 80%. Tapi masalahnya, asuransi hanya akan diklaim jika pihak lender sudah dinyatakan pailit. Itulah yang membuat kenapa investasi jagung saya di sini ngga segera kembali dana pokoknya hehe.

Kelemahan lain di sini adalah laporan bulanan yang sering telat dan kurang jelas, terkadang juga ngga disertai laporan keuangan/arus kas yang lengkap. Just NO.

2. CROW*E

Mirip seperti IGR*W, di sini P2P dengan spesialiasi proyek pertanian dan perkebunan. Saya mulai ikut di sini sejak 2017 dan sudah masuk sekitar 15-an proyek. Beda dengan IGR*W, di sini nilai per lembar sahamnya dibanderol hanya 500-an ribu aja, jadi lebih terjangkau di dompet.

Awal-awal semua proyeknya berjalan mulus, pengembalian tepat waktu dan sesuai target keuntungan. Tapi setelah berjalan hampir setahun, beberapa proyek mulai macet. Sayangnya seperti di IGR*W awal-awal dulu, di sini juga ngga ada penyediaan asuransi untuk proteksi gagal bayar. Ternyata tipikal-tipikal P2P model gini, mereka kesulitan dan kurang ketat dalam filtering lender dan juga ngga punya tim lapangan yang mumpuni buat tracking progres dan komunikasi dan problem solving. 1 lender juga bisa ngajukan banyak sekali proyek, hasilnya, begitu ada 1 yang macet, semua proyek yang diajukan kena imbasnya.

Saya masih ada 3 proyek nyangkut di sini. 2 proyek ternak bebek dan ayam yang dilakukan suami istri, saat ini statusnya masih nyicil modal pokok dalam 1 tahun ke depan. Untungnya, pasangan suami istri ini masih punya itikad baik untuk mengembalikan modal pokok investor walau harus dicicil 3 tahun. At least investor hanya rugi waktu saja, tapi uang modal masih utuh. 1 lagi proyek tanam edamame di Bogor yang masih menunggu pencairan aset petani.

Kelemahan lain di sini adalah laporan bulanan yang sering telat dan nggak jelas, terkadang juga ngga disertai laporan keuangan/arus kas yang lengkap. Respons CS nya lambat dalam handle pertanyaan. Big NO.

3. TERNAKINV*ST

P2P lending ini dulu namanya TERNAKN*SIA, ganti nama karena dia selain P2P juga ada ecommerce penyaluran daging dan telur. P2P ini sudah saya ikuti dari 2019. Sesuai namanya, spesialisasi nya adalah penyaluran dana ke sektor peternakan. Bedanya dengan P2P yang saya sebut sebelumnya, P2P ini lebih prudent karena ngga sembarangan menawarkan proyek ke investor. Jika dilihat di website nya, dalam 1 bulan, hanya 1-2 proyek aja yang ditawarkan ke investor, karena mereka ini hanya bermitra dengan peternak besar yang punya track record bagus dan terpercaya.

Total proyek yang sudah saya ikuti di sini ada 26, dan dari 20 yang sudah selesai, rekor nya masih 100% alias belum ada yang gagal bayar!! Luar biasa. Tenor investasinya rata-rata 6 bulanan aja dan ada juga yang 1 tahun, yield nya lumayan tinggi tapi ngga terlalu over estimate, sekitar 10% per 6 bulan atau 20% per tahun. Investasi yang no brainer lah menurut saya. cuma nyediakan modal, dan biar tim profesional yang handle, tau2 dapat untung hehe.

Setiap proyek yang ditawarkan dalam bentuk lembar saham, nilai nominal nya 500rb per lembar, jadi masih terjangkau buat ritel kecil. Laporan perkembangan proyek lengkap dan diupdate tepat waktu sebelum tanggal 10 tiap bulan, disertai dengan laporan arus kas juga jadi bisa kita estimasi berapa keuntungan di akhir periode nya nanti. CS nya juga bisa dijangkau dengan mudah melalui WA. Saya ada pengalaman sudah transfer tapi belum konfirmasi dan dananya nyangkut 3 bulan, baru saya sadar setelah cek mutasi rekening. Tak coba komplain ke CS nya, dalam waktu 24 jam dana saya dikembalikan.. Hats off buat CS nya.

Kekurangannya hanya di P2P ini belum ada opsi beli asuransi untuk melindungi risiko gagal bayar. Tapi selama ini manajemennya bener-bener prudent dan belum pernah 1 kalipun gagal bayar. semoga bisa dipertahankan. Strongly recommended.

4. AMAR*HA

Si P2P ungu yang satu ini punya misi sosial yang bagus, yaitu meng-empower emak-emak di desa agar bisa menjalankan usaha mikro buat menambah penghasilan keluarga. Mengingat amar*ha sudah berdiri sejak 2016 dan semakin tumbuh, saya pun coba peruntungan di sini sejak tahun 2020 awal. Perlu diingat, di sini ada lebih dari 100 mitra (istilah lain lender) yang mengajukan proposal peminjaman dana. Kita harus pintar-pintar memfilter mana yang masuk ke dalam kriteria lender yang “sehat” dan bisa bayar cicilan per bulan.

Di sini ada 5 kategori skor kredit yaitu A, A-, B, C, D, dan E. Skor A berarti sudah dinilai oleh tim di sini bahwa si lender ini punya kemampuan bayar yang mumpuni dan peluang gagal bayar kecil. Untuk mitra dengan skor kredit A, bunga yang diberikan adalah 11.5%, skor A- bunganya 12%, skor B bunga 13%, skor C bunganya 14%, skor D 14.5% dan skor E adalah 15% per tahun. Kalau dicek di kontrak nya mereka, bunga yang dibebankan ke mitra adalah 30% per tahun, buat investor seperti di atas, dan sisanya untuk penyelenggara.. Wuihh, besar juga ya, tapi konon, karena target sasaran lender nya adalah emak-emak di desa yang nggak bankable, besar bunga ini masih lebih kecil dari loan shark (rentenir) yang biasa nawarin pinjaman ke mereka. Besar bunga rentenir konon bisa mencapai 50% per tahun!!??

Kita juga bisa memfilter sektor dan lokasi. Misal kita mau mendanai mitra yang dagang kue, dagang buah, dagang warung makan, bertani, dll, dan lokasinya pun bisa milih berdasarkan provinsi. Mulai 2021 akhir, sudah ada opsi crowfunding juga di sini. Sebelumnya minimal pemodalan adalah Rp 4 juta sampai 6 juta per mitra, dan ini cukup berat buat sebagian orang, mungkin karena itulah di sini jadi buka opsi crowfunding minimal Rp 100 ribu. Hanya saja, opsi crowfunding belum menyediakan asuransi gagal bayar, jadi agak beresiko juga menurut saya. Perlu hati-hati kalau pilih yang crowdfunding.

Karena tingginya resiko memodali emak-emak di desa ini, kita perlu define rule of thumb dalam memilih mitra. Rule of thumb saya di sini adalah seperti ini :

  1. Yakinkan credit rating = A
  2. Yakinkan sektor yang dipilih jangan ada Peternakan, Pertanian, Pupuk, dan segala hal yang resiko eksternal nya tinggi. Upayakan sebisa mungkin sektor yang selalu ada yang beli seperti warung, rumah makan, dagang kue, salon, dll
  3. Berhitunglah. Di bagian detail mitra, akan diberitahu berapa penghasilan perbulan mereka. Dan kita perlu bandingkan dengan berapa cicilan pokok dan bunga per minggu dan per bulan. Jika penghasilan per bulan hanya 1.5 juta tapi dia mencicil setiap minggu lebih dari 100rb, maka 1 bulan dia perlu menyisihkan 400rb. Ratio loan dan pendapatan 25%, batasi ratio ini di angka 10%, karena kalau makin tinggi akan tinggi juga resiko gagal bayar karena pendapatan tergerus untuk beli kebutuhan pokok sehari-hari.
  4. Prioritaskan mitra yang sudah lebih dari 1 kali mengajukan pendanaan. Kita bisa lihat riwayat pendanaan sebelumnya di bagian bawah. Usahakan calon mitra yang mau kita danai itu tidak punya catatan “Tidak Bayar”di pendanaan sebelumnya. Kalau hanya “Terlambat Bayar” masih bisa ditolerir. Sayangnya fitur ini sejak 2022 ini sudah dihapus, jadi kita ngga bisa lihat lagi historis pembayaran sebelumnya, suatu kemunduran sih menurut saya
  5. Jangan lupa selalu BELI ASURANSI GAGAL BAYAR untuk menghindari dari keboncosan. Asuransi ini akan mengcover 80% pokok jika mitra bangkrut/pailit atau meninggal dunia. Hanya saja prosesnya lama betul, sampai 90 hari kerja.

Sampai saat ini saya sudah danai 15 mitra, dan statusnya adalah 7 masih berjalan, 1 lunas sampai akhir tenor, 4 lunas dini (mitra boleh melunasi dini pinjamannya, sehingga dia ngga perlu bayar sisa bunga nya), 1 meninggal (dianggap lunas dini) dan 2 at risk (ada salah ketik di websitenya, harusnya lunas dini 5, at risk 2) karena punya keterlambatan cicilan lebih dari 3 kali.

Yang at risk 1 orang berhenti bayar di minggu ke-25 dari 50. sudah di-declare pailit dan sedang menunggu pencairan dana pokok oleh asuransi. Sedangkan yang 1 lagi at risk masih bisa bayar cicilan mesti nunggak seminggu sekali.

So far, impresi saya ikut P2P ungu ini luar biasa ya. walau ada 1 yang beneran default, tapi dengan filtering ketat dan hati-hati, overall masih lancar investasi di sini. Ditambah misi mulia empowering emak-emak di pedesaan, itu yang jadi nilai plusnya. Ibaratnya sambil invest, kita ikut beramal membantu emak-emak yang nggak bankable ini punya akses pemodalan hehe.. Recommended lah.

5. Equity Crowfunding (ECF)

Nah, berikutnya yang akan saya bahas ini adalah model baru dalam investasi P2P, yaitu ECF. Secara simple, ECF itu artinya urun dana, jadi ada suatu bisnis yang perlu pemodalan, si pemilik bisnis menjual sebagian sahamnya ke investor ritel untuk dibeli dan nanti ditukar dengan kepemilikan sahamnya. Mirip-mirip dengan perusahaan Tbk di bursa efek, namun ini skalanya UMKM hehe.

Tingkat resiko di ECF ini sangat besar, jauh lebih besar dari P2P lain hehe. Kenapa sangat besar? karena yang akan didanai ini UMKM, bukan perusahaan-perusahaan yang sudah mantap berdiri seperti di bursa efek.

Resiko pertama adalah penggelembungan valuasi. Karena tidak adanya KJPP (penilai independen) dan auditor sebelum UMKM ini listing di ECF, bisa jadi si pemilik akan menggelembungkan valuasi bisnisnya supaya bisa dapat untung di depan. Misal, bisnis restoran sushi di salah satu mall di Jabodetabek. Kalau dihitung secara fair dari sisi aset, kondisi keuangan, profitability, anggaplah super optimis aja valuasi nya hanya 1-2 Milyar, tapi ngga jarang di ECF ini mereka jual dengan valuasi 3M lebih hehe. itulah minusnya di sini.

Resiko kedua adalah minim compliance dan pengawasan. Nggak seperti di bursa efek, di ECF ini ngga ada regulator yang mengaudit laporan keuangan si UMKM. Jadi seolah-olah investor dibuat percaya saja sama manajemen nya. Mereka hanya berfungsi sebagai makelar yang menjembatani proses penawaran saham dan setelah deal, dilepas begitu saja hehe.

Resiko ketiga, adanya overestimate di prospektus sehingga pas usaha sudah jalan, laba dan pendapatan yang dihasilkan jauh di bawah prospektus. Akibatnya dividen yang dibagikan sedikit dan balik modal menjadi lama

Oia perlu diingat di ECF ini, uang yg kita invest tidak akan kembali kecuali kita jual di pasar sekunder yang dibuka setiap 6 bulan sekali. Namun saham yg kita punya baru bisa dijual 1 tahun setelah kepemilikan. Dari pengalaman yang ada, di pasar sekunder harga sudah jatuh karena itu tadi, estimasi laba di prospektus ngga sesuai kenyataan.

Ada 2 ECF yang saya ikuti, yg pertama adalah SANT*RA atau si merah dan yang kedua adalah BIZ*ARE atau si biru. Si merah dan si biru ini punya nature yang berbeda.

Si merah yang saya ikuti, sangat mengecewakan. Mereka praktis hanya sebagai makelar aja. Setelah pendanaan selesai, si pemilik usaha sudah 4 bulan ngga update laporan keuangan tp tidak pernah ditegur. Keluhan investor ke CS nya lambat dijawab. Very BIG NO. Si merah ini mengutip fee dari uang yang dihimpun pemilik usaha dari investor. Misal lender berhasil himpun 3M, si merah mengutip fee 5-10% untuk biaya makelar.. Easy money hehe

Jualan kambing tapi profit terus tergerus paska pendanaan, trus sudah 4 bulan Lapkeu nggak diupload.. Piye jal??

Si biru masih mending. Di sini spesialisasi nya adalah pembukaan bisnis Alfamidi dan Alfamart, dan restoran baik buka dari 0 maupun take over dari pihak lain. Bagi saya, bisnis minimarket ini sulit digelembungkan valuasinya. Mereka jual valuasi di sekitar 2-3 M per toko yang mana sangat wajar.

Alfamart dan alfamidi. Take over valuasinya 1-2 M tapi buat baru dari 0 include pembebasan tanah valuasinya hampir 5M. Masih wajar lah ya

Bedanya dengan si merah, si biru ini punya minimal investasi per lembar saham di Rp 5 juta. Dan dia langsung mengutip fee ke investor. Dari 5 juta yang kita bayar utk beli saham, kena biaya 250rb rupiah. Lebih mahal jatuhnya sih dari si merah.

Di ECF ini dari mulai masa kampanye sampai bisnis berjalan dan bagi dividen biasanya makan waktu 3-6 bulan. Jadi harus ekstra sabar dan pakai uang super dingin.

Saya sudah ikut 4 proyek alfamidi di si biru. Lokasinya di bekasi 2, pandeglang dan tangerang. So far sudah jalan 2-3 bulan dan dari 4 itu hanya 1 yang masih merugi. Sisanya sudah bagi dividen meski yield hanya 0.5% per bulan atau estimasi 6% per tahun. Lumayan lah masih lebih tinggi dari deposito. Kita lihat bagaimana kelanjutan bisnisnya.

Laporan keuangan di si biru ini menurut saya lebih baik dari si merah. Ada laporan arus kas dan laporan untung/rugi. Progresnya juga diupdate setiap bulan dan CS cukup responsif. Recommended lah

Ini contoh laporan keuangan per bulannya. Cukup komprehensif, tapi sayangnya ngga ada yang audit. Jadi ya cukup percaya saja ke pengelola hehe

Demikian sharing saya kali ini. Mudah-mudahan bisa lanjut lagi sharing pengalaman investasi yang lain di lain kesempatan..

Salam sehat selalu