Saving Bond Ritel (SBR-005)

Saat ini bisa dibilang pemerintah, melalui Kementrian Keuangan sedang gemar menjaring dana sebesar-besarnya dari kaum milenial dalam bentuk surat utang negara/Surat Berharga Negara (SBN). Sejak tahun 2015, sudah banyak seri SBN ritel yang ditawarkan ke masyrakat umum dengan minimal investasi Rp 1 juta rupiah hingga Rp 3 milyar per orang.

Setelah sukses meraup dana melebihi target di SBR-004 dan ST-002, kali ini pemerintah kembali menggulirkan SBR-005. Saya pernah membahas apa itu SBR di laman berikut. SBR singkatnya adalah surat utang negara yang berbentuk tabungan (saving) yang tidak bisa dicairkan dalam waktu tertentu. Untuk seri SBR-005 ini, sama dengan seri sebelumnya yaitu memiliki tenor 2 tahun dengan fasilitas early redemption sebanyak 50% setelah 1 tahun.

Lebih jelas mengenai SBR-005 bisa disimak di website Kemenkeu berikut.

Secara singkat, SBR diperdagangkan melalui mitra distribusi (midis) berupa bank BUMN dan swasta, perusahaan investasi/sekuritas serta beberapa perusahaan fintech (P2P lending) berbasis online. Cara membelinya mudah sekali. Cukup mendatangi bank, lapor ke CS nya, dan proses pembeliannya tidak sampai 30 menit. Apalagi jika sudah punya Rekening Dana Investor (RDI), maka cukup melakukan pembayaran dan pengisian data saja.

Kalau mau beli melalui midis online seperti bareksa.com, investree.id, modalku, tanamduit, dkk, cukup melakukan pendaftaran online ke situsnya masing-masing, nanti ada verifikasi tanda tangan digital dan upload KTP melalui apps. Prosesnya pun mudah sekali. Bedanya dengan beli lewat bank, kalau lewat perusahaan fintech atau bareksa.com, kita diberikan dashboard berupa list pembayaran kupon.

Yang perlu diingat dari SBR ini, selain tidak bisa dicairkan sebelum jatuh tempo, dia menggunakan sistem floating with floor dengan kupon minimal 8.15% dari perhitungan kupon minimum (based on BI 7Day Repo Rate) ditambah 215 bps (2.15%) spread. Disebut floating karena jika suku bunga BI naik, maka kupon nya pun akan naik, namun kenaikannya akan dilakukan setiap 3 bulan sekali. Lalu maksud dari floating with floor bahwa jika suku bunga BI turun dari level 6.00 %, maka kupon nya tidak akan turun namun tetap di 8.15% per tahun hehe.

Masa penawaran SBR-005 sendiri dari mulai 10-24 Januari 2019, namun mengingat animo masyarakat yang membludak, pemerintah sudah antisipasi bahwa kuota nya kali ini akan dibatasi, jadi feeling saya sih sebelum 24 Januari, kuotanya sudah ludes, apalagi di era suku bunga tinggi seperti sekarang hehe.

Tapi jangan khawatir, Pemerintah sendiri menjanjikan ada 10 seri SBN ritel yang akan dikeluarkan di tahun 2019 ini yang terdiri dari 4 kali SBR, 4 kali ST, satu kali obligasi negara ritel (ORI), dan satu kali penerbitan Sukuk Ritel (SR) dengan target perolehan dana senilai Rp 60T. Kita tunggu aja.

Dengan menabung di SBR-005, kita juga hitung-hitung bantu negara karena dana yang terhimpun akan dipakai untuk menutup defisit APBN di bidang pendidikan, infrastruktur, dan kesejahteraan. Kelebihan investasi di SBR juga memiliki nilai resiko yang nyaris 0 karena pemerintah hampir pasti tidak mungkin gagal bayar (kecuali negara dinyatakan bangkrut) hehe.

Saya sendiri sudah punya investasi di obligasi pemerintah mulai dari SBR-003, SBR-004, ORI-015, dan ST-002. Kemungkinan akan kembali beli SBR-005 untuk diversifikasi portofolio investasi. Selama ini beli SBN selalu menggunakan bareksa.com kecuali ORI-015 karena memang tidak didistribusikan selain melalui bank.