Rekap Investasi Saham 2023

Mumpung Januari masih belum berakhir, mau update sedikit tentang kondisi portofolio saham sepanjang tahun 2023 dan update dari postingan update porto tengah tahun mengenai rebalancing di sini: https://randyaria.com/2023/05/22/rebalancing-portofolio-may-2023/

Tahun 2023 memang tahun yang challenging buat para investor. Karena IHSG hanya “ditahan” kejatuhannya oleh segelintir saham dari mulai BYAN, lalu yang dahsyat grup Prajogo Pangestu seperti CUAN BREN TPIA BRPT. Malah BREN naik ribuan persen dalam beberapa bulan sampai nyalip BBCA sebagai emiten dengan market capitalization terbesar di Indonesia. Di luar itu, kondisi 2023 itu bener-bener lesu baik di market maupun bisnis riil. 2023 harga komoditas kayak batubara ke new normal di kisaran 120-150 USD per ton, CPO jatuh dalem, oil juga new normal di 60-70 USD, praktis ngga ada sentimen positif yang menggerakkan market.

Bongkar dan diet porto menjadi target saya di 2023 kemarin. Setelah nyangkut di banyak saham dan punya 20 emiten di porto, di pertengahan tahun saya berhasil buang 6 saham yang prospeknya lesu seperti PBID, PZZA, ADRO, dkk, namun rupanya saya masih berat lepas total saham coal related seperti PTBA UNTR dan PSSI yang masih ada di porto walaupun posisi di 2023 akhir masih floating profit.

Sebetulnya peak performa porto saya di 2023 itu sempat menyentuh +20.84% floating profit gegara mesin-mesin penggerak cuan yaitu ADES dan UNTR rally dari bulan Mei hingga Juli 2023. Sayangnya sejak Juli sampai November, porto saya nyungsep karena kejatuhan UNTR (harga coal nyungsep) dan ADES karena kena boikot. Untungnya saat itu masih ketahan sama rally nya SMSM dari 1300 ke 2400 dong.

Alhasil, di akhir 2023, saya harus puas dengan return overall 9.85% yang masih bisa mengalahkan return IHSG yang 6.16%. Yang mana return IHSG ini sangat semu karena dikatrol sama rally BREN. Jadi ya mayoritas investor di Indonesia tahun 2023 ini sebetulnya masih minus. Bersyukurlah bagi kita-kita yang masih dapat return positif apalagi ngalahin IHSG.

Tapi dibalik nyungsepnya return peak dari 20% ke hanya 9%, hikmah lain di 2023 ini adalah jumlah dividen yang saya kantongi. Secara overall, jumlah dividen tahun 2023 naik 4 kali lipat lebih banyak dibanding dengan dividen yang saya terima di tahun 2022. Kontributor utama karena UNTR PTBA dan TOTL yang kasih yield sampai 15%-25%.

As per Januari 2024 ini, kondisi porto dan IHSG masih terkapar. Mungkin semua pelaku pasar memang masih menunggu hasil pemilu putaran 1 jadi belum banyak suntikan dana ke IHSG. Jadi, mungkin masih ada kesempatan untuk ngumpulin saham-saham yang bagus dan secara harga masih nyungsep.

Target pribadi saya di 2024 ini di antaranya cari momen yang tepat untuk offload PTBA PSSI dan UNTR, lalu sambil pelan-pelan nambah posisi di SIDO yang harganya udah <500 dan ARNA yang udah <700. Mudah-mudahan terbayar di akhir tahun nanti hehe.

Terima kasih. see you in Q2 2024

Rebalancing Portofolio May 2023

Sudah lama rasanya nggak nulis lagi mengenai investasi. Setelah menjalani 2022 yang penuh kejutan, di mana return portofolio investasi saya all time high dan mengalahkan IHSG sampai +49.22% vs 10%, rasanya sulit mengharapkan fenomena yang sama di tahun 2023 ini.

Yup, return berlipat-lipat tahun lalu lebih disebabkan karena return saham-saham cyclical pegangan saya seperti ADRO PTBA UNTR SMDR dan PSSI bagger berlipat-lipat karena harga batu bara acuan meroket dari 50-an di akhir 2021 ke hampir 400 USD puncaknya di September 2022. Luar biasa ya.

Tahun ini, sudah berjalan 5 bulan, dari catatan yang saya buat sendiri, per W3 Mei ini, return investasi di saham mencatat +9.16% vs IHSG yang masih tertekan -2.09%. Not bad at all lah.

Walaupun kinerja saham-saham batubara menurun drastis secara YTD, hal ini cukup wajar karena saat ini harga batubara sudah “new normal” di kisaran 150-180 USD, namun banyak saham-saham core stock saya malah rally sejak awal tahun.

Sejak awal tahun, saya sudah banyak mengurangi porsi saham siklikal dan juga beberapa perusahaan yang ditunggu-tunggu malah ngga membaik kinerjanya dan juga saya buang beberapa perusahaan karena memang banyak yang lebih menarik.

Di 2023 ini, saya sudah cutloss habis di PZZA, mengapa? karena emiten ini saya harapkan bisa turnaround pasca covid, malah semakin nyungsep karena beban usaha yang menggunung. PZZA ini sebetulnya udah bagus dari sisi pendapatan yang konsisten naik, tapi manajemen nya kurang agresif cut beban operasi sehingga laba nya tergerus sama beban usaha (gaji pegawai) dan beban bunga karena pinjamannya makin gede. Alhasil per Mei ini semua PZZA saya sudah dijual habis dengan kondisi loss +/- 20% hehe.

Emiten kedua yang saya lepas adalah BJTM. bukan karena kinerjanya buruk sih tapi lebih karena sayang aja kalo saya invest di dividen play terlalu banyak. Mengingat saya udah hold POWR dan percaya kinerjanya bakal tumbuh terus, akhirnya BJTM terpaksa dilepas dengan kondisi untung +/- 10% saja.

Kemudian target di 2023 ini adalah melepas porsi saham batubara pelan-pelan. ADRO sudah saya lepas setengahnya dalam kondisi untung hampir +50%. Lumayan lah udah kenyang dividen juga di ADRO dan cukup kecewa karena dividen final 2023 ini hanya 40% aja DPR nya.

Sisa saham batubara lain yaitu PTBA akan saya jual habis dividen atau menjelang cum date. Masih ragu juga kalo Erick Thohir berani kasih perintah DPR 100% yang artinya dividen per share Rp1000. Tapi ya taun politik ini semua mungkin sih. Jadi saya hold dulu aja. Kalo UNTR, sekitar 10% sudah saya lepas habis pembagian dividen jumbo kemarin. Agak sayang sih lepas emiten cash rich dengan manajemen super lincah ini. Paling ya nanti kalau harga nya udah menuju 20K bakal cicil masuk lagi. Sekarang biarin aja dulu masih dalam posisi untung +10%.

Lagipula saham batubara ini dividennya royal jadi ya selama masih di siklusnya saya coba hold aja, toh udah dapat banyak banget dividen dari PTBA UNTR dan ADRO. Oia, di tahun 2022 kemarin, total dividen yang saya dapat dari saham jumlahnya hampir 4 kali lipat dari dividen total di 2021. 2023 ini lebih gila lagi, baru masuk bulan Mei, jumlah dividen yang saya terima udah sama dengan jumlah dividen tahun 2022 dong. Masih menyisakan beberapa emiten kayak POWR ADRO PTBA PSSI PWON dll yang baru bagi dividen di Q3 nanti.

Melihat dari alokasi portofolio, di 2023 ini dry powder di reksadana masih sangat banyak. Porsi saham sekitar 48% sementara porsi RD di 38% dan Obligasi di 9%. Untuk fintech P2P, saya hanya hold Amartha saja dan rutin nabung 1 bulan 1 proyek. So far so good sih dari 26 project hanya 1 yg galbay dan itupun dicover asuransi 75% pokok dikembalikan.

Fokus invetasi di 2023 ini bakal lebih menambah porsi core stock sambil mengurangi terus porsi siklikal. Saat ini ada 7 emiten jagoan yang saya jadikan core stock karena alasan tertentu. Saya coba paparkan sedikit ya tesis investasi dan background kenapa perusahaan ini saya jadikan core stock.

1. ADES (PT Akasha Wira International Tbk)

Perusahaan turn around di tahun 2019 dan menjadi monster kecil pemakan market share 3 big companies : UNVR, KINO, Aqua. Perusahaan ini barang jualannya ada 3: Nestle Pure Life, Makarizo Hair Shampoo, dan F&B brand Mujigae & Wonhae.

Sejak tahun 2019 saat saldo laba perusahaan berbalik dari minus menjadi plus, disitulah harga sahamnya mulai rally dari 600 an dan sekarang anteng di atas 8000 rupiah. Sayangnya saya baru kenal perusahaan ini sejak harganya di 3000-an dan terus average up hingga average saya di 6000-an hehe. Walau telat tapi masih untung 30% dong.

Sisi positif ADES:

  1. Manajemen ramping dan efisien, mampu melakukan efisiensi gila-gilaan di sisi beban usaha
  2. Penetrasi pasar online buat merebut market share giants seperti UNVR. Lihat pertumbuhan penjualan makarizo yang di luar nalar karena omnichannel nya.
  3. Zero debt alias no hutang bank. Semua modal dari kas internal. luar biasa
  4. Ekspansi terus, baru relokasi pabrik dan penambahan aset tanah dan bangunan untuk lini produksi baru
  5. Growth minimal 15% per tahun tapi hanya dihargai PE di kisaran 12 dong hehe

Sisi Negatif nya:

  1. Tidak bagi dividen karena masih perlu kas untuk terus ekspansi
  2. Sebentar lagi akan memulai lini bisnis baru termasuk usaha minyak goreng kemasan. Bisa berpotensi untuk di-worse-ification

Saat ini ADES sudah masuk sekitar 15% porsi portofolio saya. Lumayan lah. Bakal keep hold terus sampai menjadi mature.

2. ACES (PT ACE Hardware Tbk)

ACES saya beli terus terang karena harganya udah terlalu murah. Dengan kas di 2T dan aset segede itu hanya dihargai di market cap 8.2 T saat harganya 480 perak. Saya masuk ACES pertama kali di harga 900 lalu terus avg down sampai avg di 640. Melihat sebulan terakhir sahamnya gerak dari 480 ke 620, bukan ngga mungkin bakal terus rally sampai harga di 800-an nih.

Sisi positif ACES

  1. Perbaikan kinerja seiring pulihnya daya beli
  2. Diuntungkan dengan freight cost dari China yang All time low sehingga COGS akan turun jauh
  3. Ekspansi di kota-kota kelas dua masih terus dilakukan plus menutup gerai2 yang non profitable sehingga ratio Same Store Growth Sale (SSGS) membaik
  4. Kas besar, dividen irit. bisa jadi akan ada dividen jumbo saat kinerja membaik nanti. Studi kasus TOTL hehe

Sisi Negatif ACES

  1. Ekspektasi perbaikan kinerja masih semu mengingat hasil Q1 2023 naik tapi ngga wah banget
  2. Pas RUPS bisa-bisa zonk gara-gara ngga jadi bagi dividen atau dividen super mini hehe
  3. Kenaikan harga sudah melebihi kenaikan kinerja, jadi ya bisa memancing orang untuk FOMO dan diguyur di pucuk

ACES sudah mencapai 15% dari portofolio saya saat ini

3. ARNA (PT Arwana Citra Mulia Tbk)

Jarang-jarang perusahaan basic industri manufaktur punya kinerja yang konsisten bagus. ARNA ini produsen keramik nomor 1 di indonesia dan nomor 9 di dunia dari sisi kapasitas. Sejak 2015, kinerja nya terus naik tiap tahun ditopang efisiensi biaya (harga gas subsidi) dan daya saing dengan produk-produk cina.

Manajemen juga dipimpin keluarga pendiri dan strategi ekspansi nya cukup unik karena ke depan dia akan mendorong produksi keramik ukurn besar dengan model high end (glazed) karena marginnya tinggi dan baru bisa dipenuhi dari impor tiongkok dan india yang harganya mahal.

Sisi positif ARNA

  1. Efisiensi biaya luar biasa. Cost produksi per m2 konsisten turun seiring dengan R&D yang dilakukan manajemen
  2. Ekspansi pabrik baru yang akan onstream di Q3 2023 dan Q2 2024 nambah kapasitas produksi hampir 20% output per tahun
  3. Royal dividen, dengan payout ratio di atas 50% konsisten
  4. Ruang pertumbuhan masih tinggi karena katanya konsumsi keramik per kapita indonesia masih jauh di bawah negara tetangga

Sisi negatif ARNA

  1. Pelemahan daya beli bisa jadi memukul kinerja di 2023. hal ini udah terbukti dari turunnya kinerja YoY di Q1 2023
  2. ARNA hanya menjual produknya ke CSAP (perusahaan afiliasi), jadi ada potensi piutang macet dan atau manipulasi lapkeu. Perlu pantengin terus kinerja CSAP juga kalau hold ARNA
  3. Ekspansi bangun pabrik baru menggerus kas, berpotensi nambah utang bank atau ngurangin dividen payout

ARNA sudah mencapai 15% dari total portofolio saya

4. MARK (PT Mark Dynamics Tbk)

Perusahaan cetakan sarung tangan terbesar di dunia ini letaknya di Sumatera Utara rupanya. Mereka ambil lokasi di sini karena klien terbesarnya adalah 2 perusahaan sarung tangan asal Malaysia (Top Gloves dan Hartalega). Jadi ya supaya hemat cost gitu.

Ekspansi yang dilakukan perusahaan ini sudah selesai tepat waktu saat pandemi kemarin sehingga dengan kapasitas sekarang di 2 juta cetakan per tahun, sepertinya belum akan nambah pabrik lagi. Harga MARK ini udah jatuh 40% dari puncaknya pas pandemi kemarin karena melambatnya permintaan. Wajar sih karena udah ngga pandemi, permintaan sarung tangan melambat dan kembali normal. Saya sendiri beli MARK sejak harganya di 900-an dan avg saya masih di 780-an

Sisi positif MARK:

  1. Pemulihan permintaan cetakan sarung tangan seiring berkurangnya stok di pabrik-pabrik sarung tangan
  2. Ekspansi sudah selesai, terlihat fokus manajemen per Q1 2023 ini hanya mengurangi beban bunga dengan melunasi pinjaman jangka pendek. Positif karena bisa mulai memupuk cash lagi
  3. Pengurangan karyawan besar-besaran di 2022 bisa berefek berkurangnya beban usaha. Cost cutting gede-gedean

Sisi Negatif MARK:

  1. Perlu konfirmasi kinerja dari Hartalega dan Top Gloves selaku top buyer MARK. Dari penerawangan google, sepertinya kinerja Q1 mereka masih jelek, so masih harus bersabara berharap laba MARK pulih
  2. Kemungkinan nggak akan bagi dividen atau bagi dengan rasio kecil karena kas udah terkuras habis bangun pabrik dan lunasi hutang
  3. inventory masih tinggi

MARK sudah mencapai 20% dari total porto saya

5. PRDA (PT Prodia Widyahusada Tbk)

Perusahaan jasa laboratorium market leader di Indo. Kinerja sempat meroket karena pandemi, namun sekarang sudah mulai kembali ke “new normal”. Manajemen dipimpin srikandi-srikandi hebat yang inovatif euy. Keren kalau lihat ibu-ibu manajemen PRDA pubex, persis kayak ibu-ibu manajemen di TOTL.

Saya beli PRDA sejak harganya 8000 dan terus avg down sampai harga avg di 6200. Alasan beli PRDA karena paska pandemi, orang akan sadar dengan kesehatan dan akan lebih rutin lakukan check. Saat ini rasio check up per individu di Indo sangat rendah. Terbukti lah dari kita yang kalo merasa sehat hanya 1 kali MCU aja per taun kan?

Sisi Positif PRDA:

  1. Ekspansi ke kota-kota kelas 2 di luar pulau Jawa mendorong pendapatn
  2. Ekspansi ke digital technology dengan investasi di pengembangan Prodia Mobile
  3. Pemeriksaan genomic terus bertambah dan variatif
  4. emiten tetap royal dividen. MInimal 50% laba bersih jadi dividen
  5. Cash rich, nilai kas setara kas sudah lewat 1T dengan hampir zero hutang bank

Sisi Negatif PRDA:

  1. Jumlah pelanggan korporasi nya turun terus
  2. Ada transaksi agak janggal terkait sewa bangunan dengan PT Grhanis Propertindo, entitas sepengendali. Terlihat nilai sewa terus naik setiap 2 tahun sekali
  3. Ekspansi ke digital bisa bikin bakar duit macem Halodoc dkk

PRDA baru mencapai 8% dari total portofolio saya

6. SMSM (PT Selamat Sempurna Tbk)

Perusahaan monster satu ini memang luar biasa. Sejak dia berdiri di tahun 1976 dan listing di bursa sejak 1996, hanya pas covid tahun 2020 kemarin yang penjualan dan laba nya turun. Selebihnya growth penjualan selalu double digit dong. Luar biasa memang.

Padahal ini perusahaan jualan utamanya hanya filter oli dan filter udara merk Sakura tapi dipakai di hampir semua mobil di Indonesia dan dunia hehe. Ditambah produk heavy duty filter nya juga baik OEM maupun OES jadi market leader di dunia. Udah bukan kaleng-kaleng lah ini perusahaan. Manajemen juga jempolan dan masih dihandle keluarga pendiri (ADR grup).

Saya beli SMSM sejak 2019 dan masih hold di Avg 1300. Emiten ini royal dividen dan bagi dividen setahun 4 kali cem perusahaan yang listing di NYSE dong.

Sisi positif SMSM:

  1. Kinerja kinerja kinerja.. Udah ngga perlu banyak omong, SMSM walk the talk dengan growth double digit setiap tahun
  2. Hutang bank mini, modal kerja kuat, cash rich
  3. Kapasitas produksi masih 70% sementara permintaan untuk filter masih sangat tinggi di kawasan Asia dan Indonesia

Sisi negatif SMSM:

  1. Kenaikan harga udah melebihi kenaikan kinerja, jadi rentan kena FOMO
  2. Dividen yield “hanya” sekitar 5% per tahun, kurang begitu menarik

SMSM sudah mencapai 15% dari total portofolio saya

7. SIDO (PT Sido Muncul Tbk)

Terakhir, perusahaan 1 ini udah ngga perlu dikenalin lagi, perusahaan keluarga pembuat tolak angin yang melegenda. SIDO termasuk perusahaan Cost Efficient Company karena hampir seluruh modal kerjanya dibiayai kas internal, zero debt dan royal dividen (payout hampir 100% setiap tahun).

Sisi positif SIDO:

  1. Ekspansi ke Nigeria dan negara-negara Afrika bisa mendorong pendapatan di masa depan
  2. Daya beli masyarakat pulih, berarti konsumsi Tolak Angin dan Kuku Bima mungkin akan naik hehe
  3. Cash rich, semua laba dikonversi jadi dividen karena zero debt
  4. Potensi pertumbuhah bisa diharapkan dari Farmasi yang saat ini kontribusi masih 4%an aja

Sisi Negatif SIDO:

  1. Kinerja Q1 2023 mulai menunjukkan perlambatan meneruskan apa yang dicapai di 2022. alamat hati-hati buat manajemen
  2. Concordant Pte Ltd yang menggenggam 20% saham SIDO rentan divestasi lagi. Ketika dia divestasi di 2021-2022, harga saham SIDO melorot tajam dari 1100 ke 600-an. Mudah-mudahan nggak kejadian lagi
  3. Kenaikan beban bahan baku bisa menggerus laba SIDO di 2023 ini.

SIDO baru 8% di portofolio saya

Demikian pembahasan core portofolio saya, ini bukan ajakan untuk beli atau jual ya, hanya mau share aja. Sisa saham siklikal saya masih tetap pegang hanya ngga akan nambah porsi lagi. Saham siklikal seperti PSSI masih saya tunggu meledaknya hehe. Saham siklikal bagus kayak TOTL masih saya HOLD dan Saham properti kayak PWON masih saya pegang nunggu perbaikan sektoral. Begitupun dengan MDKI si produsen karbit, menunggu pemulihan ekonomi supaya barang jualannya laku lagi hehe.

See you in the next article…

Kinerja Investasi 2022

Menginjak tahun 2023 ini, saatnya bikin coret-coretan lagi tentang kinerja investasi di tahun 2022 lalu.

Tahun 2022, seperti yang dialami oleh kebanyakan investor dan coal company holder adalah tahun dengan return portofolio tertinggi yang mungkin pernah ada. Hampir semua saham perusahaan batubara besar di Indonesia mencetak bagger jika pada beli di akhir 2021 atau di awal 2022. Yang paling gila memang BYAN (Bayan Resources) yang sukses menjadikan Dato Low Tuck Kwong pemiliknya, menyalip posisi orang terkaya Indonesia yang udah bertahun-tahun dipegang pemilik Grup Djarum, Hartono Brothers.

Saya sendiri punya ADRO PTBA, PSSI dan UNTR, perusahaan coal-related company dalam portofolio, dan selain UNTR dan PTBA, sudah mencetak bagger. PTBA sendiri walau nggak bagger, tapi saya dapat yield dividen 30%, terbesar selama saya berinvestasi di pasar modal sejak 2016.

Ok, kita breakdown dulu alokasi aset portfolio as per 31 Desember 2022 berikut ini:

Alokasi aset terbesar tentu saja masih saham dengan besaran 45.5% disusul Reksadana 40,1% dan obligasi pemerintah (SBR/ST/SR/ORI) sebesar 9.4%. Penurunan signifikan di P2P lending dari posisi sebelumnya 8%an menjadi sisa 2.3% aja. P2P ini porsinya jauh berkurang seiring dengan berhentinya T*rnakinvest (karena perubahan business model) dan berkurangnya porsi topup Am*rtha karena kebijakan PPh 15%.

Selama 2022 juga porsi saham belum naik lebih dari 50% karena beberapa faktor: harga yang saya anggap belum terlalu murah sehingga porsi dana idle (dry powder) masih numpuk banyak di RDPT dan RDPU. Di samping itu, porsi tabungan pendidikan anak dan tabungan penyusutan mobil juga saya perbesar karena memang ada target investasi yang perlu dicapai di 2024 hehe.

Sementara itu, performa dari portofolio saham sendiri selama 2022 memang sangat menggembirakan, berhasil mengungguli IHSG jauh sekali. Padahal di 2021 saya hanya bisa +1.12% dibanding IHSG yang bisa tembus +10% sepanjang tahun.

Total keseluruhan return investasi saham di 2022 mencapai +49.22% yang didorong oleh meroketnya sektor batubara dan perkapalan sepanjang tahun 2022. Penggerak porto saya apalagi klo bukan SMDR (+220%), ADRO (+120%), dan PSSI (+240%). Walaupun lot size nya ngga begitu besar (karena saya punya keseluruhan 17 saham dalam porto), hasil ini cukup menggembirakan lah.

Dari sisi dividen, tahun ini jumlah nominal dividen saya melonjak lebih dari 300% dari yang saya terima di tahun 2021. Luar biasa. Dividen terbesar disumbang saham-saham batubara yaitu PTBA, UNTR, ADRO dan POWR yang menyumbang lebih dari 50% total dividen. Dan semua dividen yang saya terima ini direinvestasikan lagi untuk beli saham lagi.

Sementara lagging masih disumbang oleh ACES (-35%), MARK (-30%) dan PRDA (-20%), WEGE (-18%) sepanjang tahun 2022. Tapi saham-saham ini masih saya hold karena masih yakin kinerjanya akan berbalik di tahun ini.

Untuk tahun 2023 sendiri, rencana saya adalah mulai mengurangi porsi di saham batubara, mungkin setelah pembagian dividen full year akan pelan-pelan lepas sahamnya dan memperbanyak lagi porsi di saham growth sambil merampingkan porto. Bobot akan saya tambahin untuk ARNA SMSM dan ADES sebagai andalan growth company saya yang memang kinerjanya masih stabil dan terus tumbuh.

Sementara di Reksadana, saya ngga akan topup lagi dalam jumlah banyak, dan mungkin semua SBN pemerintah yang dikeluarkan tahun ini akan saya beli semua dengan nominal yang sama dengan yang biasa saya beli. Ada 2 SBN yang akan jatuh tempo juga di akhir tahun dan lumayan bisa buat nambah-nambah beli SBN yang lain.

Untuk P2P sendiri, kayaknya saya bakal cukup fokus di Am*rtha aja dulu sementara. Karena performa securities crowdfunding lain seperti B*zhare, Cro*dana dll pada melempem semua. Sementara masih Am*rtha yang sesuai return 11.5% per tahun meski kena sunat PPh 15% jadi sisa return tinggal 10-an%. tapi masih lebih baik dari performa rata-rata reksadana pendapatan tetap yang cuma sanggup 7-8% aja di tahun 2022 kemarin.

Mari kita lihat lagi performa porto di Q1 2023 nanti yang akan saya publish mudah-mudahan di bulan April 2023.

Terima kasih

Commodity Supercycle…Saatnya Panen Batubara dan CPO

Di 2 edisi tulisan sharing investasi saya sebelumya yaitu yang ditulis pada Agustus 2020 dan yang ditulis pada bulan Desember 2021, saya sudah banyak menyinggung tentang portofolio investasi saham saya yang menitikberatkan pada sektor-sektor komoditas yang sudah banyak dibahas para pakar ekonomi akan mengalami boom supercycle yaitu batubara dan CPO (minyak kelapa sawit mentah).

Seperti diketahui, pandemi covid menyebabkan terjadi disrupsi dari sisi suplai dan permintaan dimana karena pergerakan manusia jadi terbatas, demand turun jauh dan mau tidak mau di sisi suplai, semua produsen komoditas akan melakukan pengurangan output produksi karena harga yang jatuh sesuai hukum ekonomi. Bayangkan saja, di 2020, harga komoditas seperti batubara jatuh dari 80-an USD per ton jadi 50 USD per ton, minyak bumi dari 50-an USD per ton menjadi minus(??) dan CPO yang awalnya sekitar 3000-an MYR per ton jatuh ke bawah 2000 MYR per ton. Saat itu semua pemilik saham-saham komoditas dibuat mual-mual dan muntah karena harga sahamnya langsung meluncur ke bawah secara cepat dan dalam.

Nah, setelah 2 tahun pandemi, perlahan-lahan di sisi demand mulai ada perbaikan karena mulai dibukanya kembali aktifitas manusia. Namun di sisi suplai, tidak semudah itu meningkatkan output produksi karena semua sektor komoditas perlu waktu untuk meningkatkan produksi. Akibatnya, apa yang terjadi? harga-harga komoditas langsung meroket hanya dalam waktu 1 tahun berselang. Batubara yang awalnya hanya 50 USD per ton, akhir 2021 sudah tembus di atas 100-an USD, bahkan di maret 2022 sempat 400 USD dong. CPO di akhir 2021 naik jadi 4000-an MYR dan Maret 2022 ini bahkan sempat tembus 7000 MYR dong! Belum oil yang sudah naik jauh ke level 120-an USD di Maret 2022 ini. Hal ini langsung mengerek inflasi di negara-negara maju dan menyebabkan krisis energi di mana-mana.

Namun, kalau kita lihat di pergerakan harga saham batubara dan CPO, praktis sejak Q3 sampai Q4 2021 kemarin harganya relatif jalan di tempat, kecuali mungkin ADRO yang agak ngebut jalannya. Coba kita perhatikan pergerakan saham-saham batubara dan CPO yang ada dalam porto saya selama 1 tahun ke belakang :

Pergerakan harga saham ADRO selama 1 tahun ke belakang

Lihat ADRO yang di kotak merah, sejak awal sampai akhir 2021, saat batubara mulai merangkak dari level 50 USD ke 80-an USD di Oktober 2021, harganya sideways dan bahkan cuma naik dikit. Padahal kita tahu, selama harga batubara 50 USD di 2020, ADRO tetap profit nggak rugi, hanya turun saja profitnya namun tetap bagi dividen. Dan lihat yang terjadi sejak Oktober 2021 sampai sekarang.. Boom!!! harganya meroket sampai hampir 2 kali lipat dong. And my patience has been paid off dong… Saya masuk ADRO sejak awal 2020 saat harganya sideways menuju ke bawah 2000 rupiah karena tertarik dividen yield nya. ADRO saya sempat nyebur ke 600 perak pas awal covid di Maret 2020 dan itu artinya dulu porto saya minus hampir 70% dong. Tapi apakah saya panik? panik lah masa nggak wkwk.. Cuma ya waktu itu saya ngga jual, banyak sabar aja sambil average down dengan sabar.

Per detik postingan ini dibuat, saya sudah floating profit di ADRO dan ini menjadikan ADRO saham bagger ke-4 saya selama investasi di pasar modal.

Porto saya yang kedua adalah PTBA (Bukit Asam). Walaupun porsi penjualan batubara PTBA sekitar 50% nya ke PLN dan ikut harga DMO (maksimal 70 USD per ton), namun PTBA ini dikenal dengan emiten batubara paling efisien (cash cost paling kecil) dan royal dividen karena tuntutan pemerintah. Walaupun di 2020, investor kena zonk karena ternyata PTBA hanya bagi 30% laba nya padahal setahun sebelumnya sempat hampir 100% laba dibagi jadi dividen hehe.

Grafik Saham PTBA 1 tahun terakhir

Grafik saham PTBA lebih aneh lagi.. Ketika harga batubara dunia jeblok ke 50-an USD, sebetulnya harga saham PTBA ini ngga senyungsep emiten coal lain, karena harga jual DMO ke PLN masih di atas harga batubara global. Tapi trending harga sahamnya sejak awal 2021 sampai Q3 2021 malah terus turun dari 3000-an ke posisi terendah di 2000-an rupiah per lembar. Apalagi di pertengahan 2021 ketika diumumkan dividen “zonk” yang hanya 30% dari laba bersih, makin nyungsep deh ini saham.

Saya masuk PTBA sejak harganya sideways panjang dari Q1 sampai Q3 2021. Sempat agak frustasi juga karena harganya nggak kemana-mana. Tapi akhirnya buah kesabaran terbayar, sampai detik ini postingan ini ditulis, PTBA saya sudah float profit hampir 50%

Saham ketiga saya yang saya cintai apalagi selain United Tractors (UNTR). UNTR adalah saham cinta pertama saya, karena saya sempat beli pucuk di harga 38 ribu saat awal 2018, ketika masih lucu-lucunya di dunia investasi saham. Lalu saya avg down tak berujung sampai ketika covid menyerang, harga UNTR meluncur tajam sampai 11 ribu per lembar dong. Saya floating loss hampir 60% saat itu.. Rasanya pengen nangis deh, tapi hati tetap teguh average down terus karena saya yakin suatu saat bisnis mereka yang terdiri dari alat berat, kontraktor pertambangan, tambang batubara dan emas akan berjaya.

Grafik harga saham UNTR 1 tahun terakhir

Periode gelap sebagai holder UNTR adalah di Q2 2021 dimana harga sahamnya nyungsep lagi dari 25ribu ke 18ribu. Kalau ngga salah hal ini terjadi karena PAMA sudah berhenti melayani ADRO dan digantikan BUMA, anak dari DOID (Delta Dunia Makmur). Hal ini yang bikin banyak investor out dari UNTR karena khawatir revenue stream nya anjlok. Tapi di saat itu saya tetap setia dan malah sempat nambah muatan di bawah level 20rb. Hasilnya, alhamdulillah sesuai kenyataan, walau %profit nya masih di bawah ADRO dan PTBA, tapi karena UNTR ini the biggest portion in my portofolio, dia naik 1% harganya, efeknya bisa lebih dari 3x kenaikan 1% ADRO dan PTBA.

Emiten di porto saya yang kena imbas supercycle berikutnya adalah PSSI. Ya, PSSI, tapi bukan PSSI sepakbola ya. PSSI adalah kode emiten untuk PT Pelita Samudera Shipping, sebuah perusahaan jasa angkutan perkapalan yang beroperasi di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Bisnis utamanya adalah angkutan batubara dan dalam 2 tahun ke belakang, perusahaan ini ekspansi dan diversifikasi untuk pengangkutan kargo curah dan komoditas lain seperti nikel.

Kenapa saya bisa kepikiran untuk beli perusahaan ini? Pertama, saya pernah baca suatu riset di forum stockbit di mana PSSI ini pemilik mayoritasnya adalah Indoprima Marine. Nah, Indoprima Marine ini rupanya afiliasi dari IMC Thailand, sebuah perusahaan logistik Thailand yang cukup terkenal. Lalu emiten ini juga unik, sektor perkapalan yang capital intensive, tapi dia punya debt to equity ratio yang kecil, artinya pengelolaan keuangannya juga sangat prudent. Ditambah owner dan direksi terus beli saham ini sejak harganya sideways di 200-an rupiah. Lalu dia juga berhasil beli kapal baru dengan cara private placement, beli kapal ditukar dengan saham. Kapalnya dari Convivial Navigation Singapore.

Grafik harga saham PSSI

Coba lihat harga sahamnya, sejak sideways panjang dari 2020, di awal 2021 trend nya mulai naik, seiring dengan kenaikan harga batubara, apalagi muncul berita PSSI ini sudah dapat kontrak jangka panjang dari perusahaan batubara lokal untuk 3-5 tahun ke depan yang artinya stream revenue bisa dijamin. Di bulan Juni, harga sempat meroket sampai ke 350 sebelum kembali ke 250-an waktu itu. Saya tetap hold dan bahkan nambah sedikit-sedikit waktu itu. Hasilnya? PSSI ini jadi bagger ke-3 saya sebelum ADRO

Dan emiten terakhir yang saya punya ada di sektor CPO yaitu LSIP (London Sumatera Plantation), salah satu anak perusahan Indofood grup. Seperti yang saya bilang sebelumnya, harga CPO meroket dari awal pandemi di 2000 MYR ke 6000 bahkan sempat 7000 MYR di Maret 2022. Seperti saham perusahaan batubara, saham perusahaan CPO pun harganya nggak kemana-mana. Sayangnya, saya agak telat masuk CPO, dan baru beli LSIP di akhir 2021 saat harganya 1300-an, jadi return nya baru 20-an % dan porsi di portofolio pun masih belum banyak.

Dari pengalaman saya ini, ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik, yaitu, saham-saham cyclical, pada dasarnya bisa menjanjikan return yang tinggi dalam waktu singkat, jika kita masuk dan keluar di saat yang tepat. 6 tahun investasi di pasar modal, saya sudah tahu kuncinya dan punya conviction yang cukup buat masuk saham batubara saat batubara harganya di 50 USD per ton dan saat itu hampir semua orang menghindari saham batubara.

Lalu kapan saya keluar dan take profit? Sampai saat ini belum ada satu pun saham di atas yang saya jual, baik jual semua maupun jual sebagian. Saat ini saya sudah pasang traling stop dengan range lebar (15-20%) dan akan lepas bertahap saat trailing stopnya kena atau saat harga batubara sudah jatuh ke bawah 150 USD per ton.

Sekian sharing kali ini, semoga bermanfaat dan memberikan insight investasi…Sampai ketemu di postingan saya selanjutnya.

Portofolio Investasi di Masa Pandemi

2020 sudah memasuki bulan Agustus dan kegilaan melanda bursa saham Indonesia di periode Maret dimana IHSG dibanting tanpa ampun dari level 6,000 ke 3,900 (minus >50%) karena kekhawatiran pelaku pasar pada pandemi covid-19 dan membuat para trader ritel kala itu cutloss gila-gilaan.

Untungnya kala itu saya sendiri tetap tenang dan mulai sedikit-sedikit cash-out di saham-saham second liner yang terdampak covid dan mulai mencicil saham-saham blue chip yang dibanting tanpa ampun oleh para big player di bursa.

Portofolio saya di bulan Februari banyak diisi sama saham-saham second liner dan LQ45 nanggung macam BUDI TOTO INKP INDR IPCC MDKI RAJA WTON CLPI mulai saya cutloss dan masuk di saham-saham bluechip yang harganya jatuh >30% seperti BBRI TLKM ICBP. Alhamdulillah setelah madness di periode Maret, IHSG sempat rebound ke level 5,000-an sampai Agustus ini dan kesabaran saya di UNTR (United Tractor) berbuah manis. Sempat -35% di periode Maret, UNTR yang ada sekitar 50% di komposisi portofolio saya, tidak saya cutloss dan saya average down sampai termehek-mehek dan sahamnya sendiri sempat sideways cukup lama di range 13,000 – 16,000 selama berbulan-bulan sebelum akhirnya naik ke 24,000 di agustus ini. Plus sentimen positif di TBLA karena harga CPO yang mulai naik, membuat portofolio saya menghijau sebulan terakhir. Alhasil, portofolio saya mampu menjauh dari IHSG walaupun masih minus hehe.

1.png

Posisi IHSG masih -18% YTD dan portofolio saya masih -6% YTD. Di bulan maret, posisi IHSG -32% dan portofolio saya -36% karena terbebani UNTR yang jatuh dari 28ribu ke 13ribu dalam 1 bulan hehe.

Komposisi saham yang masuk di core portofolio saya di Agustus ini adalah sebagai berikut :

2

Saat ini yang masih jadi pemberat portofolio adalah TOTL dan PZZA karena harganya turun sangat dalam dan kena sentimen negatif dari covid. Namun secara fundamental saya masih yakin dengan kedua saham ini dan pelan-pelan mulai average down setiap mereka turun -10%. Semoga feeling saya kali ini tepat seperti UNTR.

Sedangkan strategi saya di UNTR, karena terbangnya harga saham ini akibat sentimen ‘semu’, karena sentimen naiknya harga emas padahal core bisnisnya adalah tambang batubara (yang harganya masih lesu) dan penjualan alat berat, maka saya akan mulai cash out di posisi profit dan mengurangi porsi di UNTR untuk mulai masuk lagi jika harga sahamnya di bawah Rp 20,000. Duitnya mungkin buat saya tambah posisi di BBRI dan TLKM mumpung masih sideways cenderung turun.

Di samping itu, saya masih berharap dapat bagger (potensi cuan >100%) di saham-saham yang menurut saya potensial : PSSI PZZA TBLA ARNA dan WEGE. Mudah-mudahan naluri saya betul paling tidak 3 tahun ke depan hehe.

Selain itu, di saat pandemi ini, saya juga sudah buka akun trading Miraeasset untuk keperluan trading yang saya pisahkan dari core portofolio saya di Mandiri Sekuritas (MOST). Akun Mirae ini saya pakai untuk membuat skenario trading bertingkat di saham-saham bluechip yang sudah jatuh dalam dari harga tertingginya macem ASII BMRI BBNI INDF MYOR CPIN PTBA, dll. Saya terinspirasi oleh Pak Fransiskus Wiguna (https://wigunainvestment.com/) di channel beliau yang menyebut bahwa tidak ada yang bisa prediksi harga bottom suatu saham. oleh karena itu kita perlu money management untuk membentuk harga yang kita kehendaki di kala krisis seperti sekarang. Simplenya seperti ini, jika saya punya uang 20 juta dan mau dibelikan ASII, saya coba pasang aja secara bertahap di harga sekarang beli 1 lot, nanti setiap turun 5%, saya tambah jadi 2,3,4 lot dst sampai uang 20 juta saya habis seluruhnya. Jika harga ASII beneran turun sampai ke 3,260 seperti bulan Maret 2020 (kayaknya sulit sampai situ lagi), saya akan punya 55 lot ASII di harga 3,835.

3

Sebuah strategi money management yang sangat baik untuk menjaga “kewarasan” di saat-saat market bearish dan krisis di depan mata seperti saat ini.

Alhasil selama sebulan terakhir, saya sudah masuk bertahap di saham-saham macem ASII MYOR PTBA CPIN BMRI BBNI INDF dan… BRPT (in Pak Prajogo we trust.. hehehe)

 

 

 

Refleksi dan Resolusi Investasi 2019

Januari sudah memasuki minggu ke-3, sebagai seorang investor yang sedang belajar, saya mau share sedikit mengenai kegiatan investasi di 2018. 2018 adalah tahun yang istimewa karena pertama kalinya saya menceburkan diri ke dunia pasar modal dan surat utang pemerintah setelah 2 tahun sebelumnya hanya “bermain” di Reksadana.

2018 bisa dibilang tahun yang berdarah-darah bagi dunia pasar modal, tidak hanya Indonesia, tapi juga negara lain di seluruh dunia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), sepanjang tahun 2018 lalu, sempat dibuat euforia oleh kenaikan harga yang memecahkan all-time record di Rp 6,680 pada bulan Februari, sebelum akhirnya menukik jatuh sepanjang periode setelahnya dan mencapai titik terendahnya di Rp 5,633 pada Juli 2018.

Performa IHSG sepanjang 2018

Pelemahan indeks saham dunia disebabkan karena sentimen negatif sepanjang tahun 2018 akibat perang dagang antara China dan Amerika yang berimbas pada ketidakpastian ekonomi di negara berkembang yang terkena dampak tak langsung termasuk Indonesia. Selain itu, kebijakan The Fed, Bank Central Amerika yang sering menaikkan suku bunga acuan juga menyebabkan return US government bonds menjadi menarik, dan investor asing berbondong-bondong memulangkan aset-aset USD nya di negara berkembang dan menyebabkan USD sangat perkasa di seluruh mata uang global. Bersyukurlah, IHSG masih urutan ke 1 di Asia Tenggara, dan ke 8 di dunia dengan return YTD -2.54%.

Performa Index Saham di Seluruh Dunia Sepanjang 2018. Source: CNBC

Melemahnya bursa saham dunia terutama Indonesia, menyebabkan portofolio investasi saya sepanjang tahun 2018 juga loyo. Karena sebagian besar aset investasi saya ditaruh di Reksadana (RD campuran dan RD saham) serta saham, maka sepanjang tahun ini saya banyak bersabar melihat posisi portofolio investasi yang sepanjang tahun merah darah hehe. Tapi, biarpun portofolio sepanjang 2018 tertekan, sebagai value investor, harus tetap yakin kalau penurunan harga saham atau reksadana pada umumnya hanya bersifat sementara. Selama pilihan saham ada di perusahaan-perusahaan dengan fundamental bagus,pasti harganya akan rebound, cepat atau lambat hehe.

1. Reksadana

Setelah migrasi dari sistem pembelian RD konvensional via Bank Mandiri ke online melalui IPOT, saya mulai melakukan pembelian RD di akhir tahun 2017. Metode menabung RD saya biasanya melakukan dollar cost averaging atau saya beli rutin berkala setiap bulan dengan jumlah yang sama.

Di awal tahun, saya punya beberapa jenis reksadana campuran dan saham, utamanya produk dari Sucorinvest Aset Management. Namun, di pertengahan tahun, saya melakukan beberapa kali bongkar pasang RD karena hasilnya negatif hehe. Seharusnya, hal itu tidak perlu dilakukan karena mindset investasi RD adalah jangka menengah dan panjang. Seharusnya, penurunan nilai investasi harusnya dibarengi dengan membeli kembali dalam jumlah banyak. Seperti kata Warren Buffet : “Be greedy when others are fearful, be fearful when others are greedy” hehehe.

Akhirnya di pertegahan tahun saya sudah settle dengan 6 jenis RD (4 saham dan 2 campuran) yaitu produk dari Archipelago AM (Archipelago Balanced Fund), 2 produk Sucorinvest AM (Sucorinvest Equity Fund & Sucorinvest Sharia Equity Fund), serta 3 produk dari Sinarmas AM (Simas Satu, Simas Saham Unggulan, Simas Syariah Unggulan)

Return (dalam %) aset RD saya sepanjang tahun 2018 adalah sebagai berikut:

Angka dalam rupiahnya saya tutup saja hehe. Terlihat bahwa di barchart hijau, Keuntungan maksimum yang saya dapat adalah di periode Januari 2018 dan Februari-Mei, di mana saat itu IHSG (sebagai benchmark produk reksadana) sedang tinggi-tingginya. Dan mulai nyungsep dari Juni sampe akhir tahun 2018. Di Desember 2018, return portofolio saya “hanya” 5.3%, lebih kecil dari return deposito berjangka hehe.

Nilai rupiahnya saya tutup lagi hehe. Terlihat penyumbang return terbesar ada di RD Sucorinvest Equity Fund dengan 8.28% dan 1 RD memberi return negatif (Simas Satu).

Secara performa 1 tahun, semua RD yang saya pegang sebetulnya masih mencatat performa positif sih. Bahkan SIRS18 (Simas Syariah Unggulan) bisa mencatat sampai 32.63% selama 1 tahun. Luar biasa kan?

11.png

2. Saham

Saya mulai menceburkan diri di dunia investasi saham sejak Maret 2018, dimana saat itu pasar saham sedang tinggi-tingginya. 4 saham pertama yang saya beli adalah Unilever (UNVR), United Tractor (UNTR), Telkom (TLKM) dan PT Pembangunan Perumahan (PTPP). Harga ke-empatnya saat itu sedang mencapai all time high, jadi ibaratnya waktu itu saya beli di pucuk sebelum akhirnya terjun bebas sepanjang tahun 2018 hehe.

Waktu itu saya masih belajar mengenai value investing, membaca laporan keuangan emiten, memahami rasio-rasio dalam menentukan nilai wajar saham, dll. Jadi istilahnya learning by doing.

Yang agak saya sesali waktu itu adalah sisi psikologis saya masih labil, ibarat anak muda yang baru puber, mentalnya masih gampang diombang-ambing oleh market behaviour. Di Q3 2018, tiba-tiba portofolio saham saya menjadi 16 emiten dan banyak emiten yang tergabung dalam sektor yang sama. Di periode itu pula saya sempat menjual saham TLKM saya di harga Rp 3,500 (gain 1% saja) padahal saat ini (Januari 2019) harganya Rp 4020 per lembar hehe. Saya juga sempat tergoda beli saham INDR yang harganya sempat meroket dan ternyata di perjalanan nyungsep. Untungnya pas saya jual, realized loss nya hanya kurang dari 2%.

Di 2018, saya juga sempat menjual semua saham Pakuwon Jati (PWON) saat floating profit 25%, PTPP (25%), TBLA (33%), INDF (22%), JPFA (13%), BMRI (13%) dan kemudian menyesal karena harganya masih terus naik sampe sekarang hehe.

Portofolio saham saya di Desember 2018 dalam presentase value adalah sebagai berikut:

Mayoritas aset saham saya, saya taruh di United Tractor (UNTR), bisa dilihat dari pie chart di atas, ada beberapa emiten yang satu sektor seperti PTPP WSKT (konstruksi), TKIM INKP (pulp paper), HOKI PZZA ULTJ MAPI UNVR (konsumer). Hal ini menyebabkan jadi tidak fokus karena memecah nilai aset saya. Alhasil, ketika nanti sahamnya sudah naik, return nya hanya sedikit saja hehe.

Sepanjang 2018, portofolio saham saya mengakumulasi floating loss sebesar -5.8%. Angka yang cukup buruk meskipun IHSG pun menderita penurunan -2.54% secara year to date. Tapi untuk orang yang baru belajar, hasilnya sudah lumayan lah hehe.

3. Surat Berharga Negara (SBN)

Saya mulai masuk ke SBN di tahun 2018 pertengahan, ketika waktu itu pemerintah mulai menjual Saving Bond Ritel (SBR-003) melalui mitra distribusi fintech, salah satunya Bareksa. Setelah itu, saya rajin membeli SBR dan Obligasi serta Sukuk yang dijual pemerintah utamanya yang beli nya nggak perlu datang ke bank. Cukup klik klik transfer dan beres.

Portofolio SBN saya di tahun 2018 terdiri dari 4 SBN yaitu 3 SBR (SBR-003, SBR-004, ST-002) yang semuanya beli di bareksa.com dan tidak bisa dijual kembali sebelum jatuh tempo (2 tahun) serta 1 jenis obligasi ritel (ORI-015) yang beli langsung di Bank Mandiri.

SBN memiliki return yang fixed dan hanya dipengaruhi oleh suku bunga bank Indonesia (BI 7IDRR). Sejak pertengahan sampai akhir tahun, suku bunga BI cenderung meningkat dari level 4.75% hingga 6.5% di akhir tahun. Jadi return SBN saya selama ini cenderung lebih besar dari floor nya ketika melakukan pembelian.


Refleksi 2018

Saat pasar mengalami periode bearish seperti tahun 2018 kemarin lah kesabaran seorang value investor diuji. Selama kita yakin dengan kondisi fundamental perusahaan, kita yakin pula penurunan harga saham nya hanya sementara dan pasti akan kembali ke harga wajarnya suatu saat nanti hehe.

Saya sudah pernah mengalami floating loss  sampai > 10% dengan nilai kalau dirupiahkan bisa belasan juta rupiah. Tapi dengan mengasah psikologis dan money management, mau floating loss sebesar apapun, bagi value investor sebetulnya tidak masalah. Karena pemilihan perusahaan tempat berinvestasi saham seharusnya sudah dipikirkan sedemikian matang dan memilih perusahaan-perusahaan dengan fundamental bagus. Pada akhirnya harga saham akan bergerak ke arah nilai wajar nya secara fundamental.

Resolusi Investasi di 2019

Sebetulnya resolusi investasi saya di 2019 sederhana saja. Yang pertama, saya ingin melakukan rebalancing portofolio saham, yaitu dengan mengurangi saham-saham yang memiliki sektor yang sama. Saya sudah jual PTPP dan masih menunggu untuk menjual salah satu dari TKIM, INKP (pulp paper), dan salah satu dari HOKI MAPI PZZA ULTJ UNVR (consumer). Hanya saja karena saat ini market sedang bullish jadi saya tunggu saja sampai harganya sudah mulai menunjukkan penurunan hehe.

Resolusi yang kedua, sama seperti resolusi Manajer Investasi pada umumnya yaitu beat the market. Karena kiblat semua investasi berbasis RD dan saham adalah IHSG, maka target investasi semua investor adalah meraih return yang lebih besar dari kenaikan IHSG. Jika ditotal di tahun 2018, RD saya memiliki return 5.8% dan saham saya -5.8%. Karena proporsi saham dan RD di seluruh aset saya jumlahnya berimbang (sekitar 25% masing-masing), maka secara YTD sebetulnya saya “hanya” mengalami floating loss sebesar -0.3% dan masih unggul dari IHSG hehe. Tapi tentu hasil yang negatif bukan acuan yang baik karena kalau uangnya saya taruh di deposito berjangka, saya bisa dapat 6% lebih bukan? hehe

Tahun 2019 ini akan ada Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden. Banyak pakar ekonomi memprediksikan gelaran 5 tahunan ini menjadi sentimen positif untuk bursa saham Indonesia mengacu pada periode 2014 lalu. Ya semoga saja prediksinya benar dan investor kebagian cuan di tahun politik ini hehe.

Profil Risiko Investasi

Sebelum memutuskan untuk memulai berinvestasi, pertanyaan paling mendasar sebetulnya adalah investor dengan profil seperti apakah Anda? Pertanyaan ini pasti dan selalu akan diajukan oleh perusahaan sekuritas sebelum kita membuka rekening investor. Saya sendiri tidak tahu tujuannya, mungkin hanya untuk data statistik saja atau bisa jadi data profil risiko kita akan berguna bagi tim riset mereka untuk melakukan analisis dan memberi rekomendasi investasi yang pas untuk kliennya.

Investor, berdasarkan profil risikonya terdiri dari tiga macam, yaitu: konservatif (defensif), moderat, dan agresif. Ketiga tipe tersebut sebetulnya dibedakan dari seberapa besar kemampuan dia menerima paparan risiko ketika melakukan investasi. Investasi seperti halnya semua kegiatan yang ada di dunia ini, pasti memiliki risiko. Risiko investasi yang paling besar adalah risiko capital loss, yaitu berkurangnya nilai aset karena penurunan nilai pasar. Contohnya di reksadana dan saham, harga reksadana dan saham anjlok, di deposito, bank dinyatakan pailit dan di-likuidasi, dll. Risiko ini tidak bisa dihindari, tapi hanya bisa dimitigasi dan diminimalkan melalui pengetahuan yang memadai.

1. Tipe Konservatif (Risk Averse) atau Defensif

Investor jenis ini adalah investor yang cenderung menghindari risiko dan ketidakpastian yang tinggi. Mereka tidak mau menderita capital loss sedikit pun di dalam portofolio nya. Bagi mereka, pertumbuhan aset yang cenderung lambat tidak masalah, yang penting aset nya tetap tumbuh stabil dan pastinya lebih tinggi dari inflasi.

2.jpg

Tipe investor konservatif umumnya menempatkan portofolio investasinya lebih banyak di tabungan dan deposito berjangka. Sesekali ada juga yang menempatkan di Surat Berharga Negara (SBN) pemerintah karena risiko gagal bayarnya nyaris 0%. Kadang mereka menempatkan aset nya di Reksadana pasar uang atau pendapatan tetap, atau bahkan menabung emas (logam mulia). Investor jenis konservatif pada umumnya memiliki time frame investasi jangka pendek, maksimal mungkin hanya 3 tahun saja. Total aset yang mereka investasikan pun biasanya porsinya lebih kecil, mungkin hanya 10-20% saja secara rata-rata.

Tipe investor konservatif biasanya orang yang sudah hampir pensiun (umur 50-an ke atas) yang baru mau memulai investasi untuk masa pensiunnya. Mereka jelas-jelas tidak mau kehilangan nilai portofolionya dan tidak keberatan jika aset nya bertumbuh hanya 6%-an per tahun. Tipe investor seperti ini juga biasanya ada di kalangan anak muda yang baru pertama kali menabung dan masih baru belajar sehingga belum berani mengambil risiko.

2. Tipe Moderat

Investor dengan tipe moderat sedikit lebih toleran terhadap risiko dibanding tipe konservatif. Bagi mereka, risiko penurunan nilai investasi karena kondisi pasar bisa diterima dengan batasan tertentu, anggaplah maksimal 20% dan mereka sudah paham bahwa fluktuasi investasi lumrah terjadi dan bisa dimitigasi. Investor tipe ini sudah mulai memahami semua jenis investasi dari yang low risk sampai high risk-high return.

6.png

Mindset mereka tentang time frame investasi sudah mulai panjang, umumnya antara 3-10 tahun. Portofolio investasi nya sudah mulai disebar secara merata dari mulai yang defensif seperti deposito berjangka, logam mulia, SBN pemerintah, obligasi korporasi, sampai yang moderat cenderung agresif dari mulai semua jenis reksadana sampai saham. Pembagian presentasi portofolionya kebanyakan masih lebih banyak di investasi defensif, mungkin maksimal sekitar 55-45. Atau bisa jadi di instrumen agresif 55-45 terhadap instrumen defensif

5.png

Tipe investor ini paling banyak di dunia. Bisa dari yang sudah mapan bekerja dan punya penghasilan tetap, sampai yang baru kenal dunia investasi dan mulai naik kelas dari coba-coba berhadiah hehe.

3. Tipe Agresif

Investor tipe agresif merupakan tipe yang adventurous dan cenderung berani mengambil risiko. Mereka sudah sangat paham bahwa capital loss itu pada dasarnya hanyalah floating loss atau rugi di atas kertas saja, bukan realized loss sampai Anda benar-benar menjual portofolio investasi Anda (saham atau RD). Mereka rela mendapatkan floating loss sangat besar (bahkan lebih dari 50% portofolionya) demi mendapatkan imbal hasil yang lebih besar di masa depan. Tapi tolong bedakan investor tipe agresif dengan spekulan yah. Investor agresif tetap memperhatikan startegi investasi, fundamental perusahaan (jika membeli saham), dan membuat exit strategy.

7.gif

Bagi investor tipe agresif, penurunan nilai investasi, misalnya saham, justru dianggap sebagai kesempatan emas untuk menambah pembelian saham karena harganya relatif sedang murah. Sebagai contoh di November 2018, harga saham Unilever (UNVR) longsor mendekati Rp 39.000 per lembar. Tapi di Januari 2019, harganya sudah kembali ke Rp 49.000 per lembar. Investor agresif akan menangkap peluang emas dan melakukan pembelian UNVR pada waktu itu karena yakin harganya akan naik lagi di masa datang.

unvr.png

Mindset time frame investasi bagi mereka lebih dari 10 tahun alias jangka panjang. Portofolio aset mereka sebagian besar ditaruh di instrument risiko tinggi seperti saham atau reksadana saham. Hanya sebagian kecil saja (maksimal 10%) yang ditaruh di instrument defensif seperti obligasi, deposito dan SBN.

Jaman sekarang sudah banyak kalkulator profil risiko buatan perusahaan-perusahaan sekuritas, salah satunya punya Mandiri Sekuritas ini:

https://mandiri-investasi.co.id/id/kalkulator-finansial/profil-resiko/

Silakan saja dicoba diisi untuk tahu tipe investor seperti apakah kita. Penting sebelum memulai investasi agar lebih bisa mengasah strategi investasi untuk mendapatkan return yang maksimal.

Mengenai profil investasi saya sendiri, saya cenderung moderat ke arah agresif. Alasan pertama, dari tujuan investasi saya sendiri, saya tetapkan untuk jangka panjang (> 5 tahun), di antaranya biaya sekolah anak, naik haji, jalan-jalan ke luar negeri, dll. Yang kedua, saya bisa men-tolerir floating loss di portofolio saya hingga pernah -20% di periode berdarah-darah antara Juli-Oktober 2018 hehe.

Portofolio aset investasi saya pun mixed antara yang defensif dan agresif seperti di bawah ini (status as per Januari 2019).

Portofolio aset saya as per Januari 2019 (dalam %)

Sebaran investasi saya terdiri dari aset defensif yaitu 32% deposito berjangka dan 8% SBN. Aset moderat cenderung agresif (Reksadana) sebesar 25%, dan aset agresif yaitu saham sebesar 27%. Sisanya saya taruh di crowdfunding pertanian/peternakan dan menanam modal usaha peternakan joint venture dengan adik saya.

Oia, sedikit tips berinvestasi adalah selalu gunakan “uang dingin”, artinya uang yang anda gunakan untuk investasi adalah uang yang anda yakin tidak akan pernah dipakai dalam jangka waktu lama (kecuali darurat). Jangan biasakan investasi dengan “uang panas” atau uang yang sebetulnya akan digunakan untuk hal lain yang lebih mendesak, apalagi menggunakan uang pinjaman atau hutang hehe…

Membuka Rekening Investasi

Topik kali ini adalah memulai berinvestasi di reksadana (RD) atau saham. Sebagai informasi, saya memulai memasuki dunia investasi sejak tahun 2015. Saya memulai investasi dari Reksadana. Karena saya bekerja dan tinggal di kota kecil bernama Bontang, hal yang dulu saya lakukan adalah mendatangi bank Mandiri setempat dan mengatakan kepada CS nya bahwa saya ingin membeli Reksadana. Waktu itu, nggak semua CS Mandiri paham apa yang saya mau, jadi saya diarahkan ke PIC yang paham dan diminta mengisi formulir dan menyerahkan foto copy KTP dan buku tabungan. Proses nya kira-kira 30 menit dan saya diminta menunggu 1×24 jam. Setelah itu baru melakukan pembelian lagi.

Reksadana yang pertama kali saya beli waktu itu adalah Mandiri Investa Equitas Dinamis (MIED) dan BNP Paribas Infrastruktur Plus (BPIP). Waktu itu, setiap melakukan pembelian, saya harus datang ke Bank Mandiri setempat dan melaporkan ke CS. Sungguh sangat tidak praktis bagi para milenial hehe. Monitoring harga RD nya pun hanya bisa dilakukan sebulan sekali melalui surat pemberitahuan yang dikirim pakai pos ke rumah. Yah, jaman sudah canggih tapi pemberitahuan masih dikirim via kertas dan tidak up to date hehe.

Di tahun 2017, saya mulai mengenal platform online untuk membeli Reksadana dari teman saya. Namanya bareksa.com dan indopremier.com (IPOT). Kedua situs ini menyediakan layanan jasa pembelian Reksadana (dan juga saham untuk IPOT) dengan mudah, cepat, dan berbasis online kesukaan generasi milenial. Proses pendaftarannya pun sangat mudah. Waktu 2017 saya buat akun di IPOT, waktu itu masih ada beberapa formulir yang harus diisi secara hardcopy dan dikirim balik ke kantor IPOT di Jakarta. Tapi sekarang, kalau mau buat akun reksadana, semua bisa dilakukan paperless dan bisa dengan tanda tangan digital. Pengganti materai nya adalah video call dengan memegang KTP dan berbicara dengan customer service nya. Mudah sekali kan? Yang lebih hebat, sekarang beli Reksadana pun sudah bisa melalui OL shop seperti Tokopedia dan Bukalapak hehe.

Beli Reksadana bisa melalui keempat penyedia jasa ini

Oia, sebelum sharing pengalaman membuka akun Reksadana (dan saham), saya ingin menjelaskan sedikit alur kerja dari Reksadana. Jadi begini, seperti yang pernah saya bahas di laman ini, RD itu ibarat kita menitipkan uang kita ke Manager Investasi (MI) dan biarkan dia mengelola uang kita sesuai kebijakannya. MI menjual produk investasi RD dengan harga yang terjangkau (minimal Rp 100,000) karena sifat RD adalah mutual fund atau dana yang dihimpun dari beberapa investor. Pihak yang berhak mengeluarkan produk RD adalah perusahaan sekuritas yang terdaftar dan diawasi OJK. IPOT dan Bareksa hanya penyedia jasa saja (agen penjual) dan di dalam situs mereka tersedia ratusan pilihan RD dari mulai pasar uang, pendapatan tetap, campuran, saham dan ETF. Tugas kita sebagai investor ya memilah-milah jenis RD dan produk perusahaan sekuritas atau MI mana yang cocok dengan profil resiko dan keinginan kita. Contoh list RD punya IPOT bisa dilihat di sini. Bedanya dengan waktu saya beli RD di Bank Mandiri, produk RD yang mereka punya hanya yang keluaran Mandiri Sekuritas atau yang terafiliasi dengan Mandiri Sekuritas seperti BNP Paribas dan Batavia.

Dalam memilih RD, kita perlu melihat yang namanya Prospektus. Prospektus adalah ikhtisar kebijakan MI dalam mengelola produk RD nya dari mulai berapa porsi yang ditempatkan di instrument pasar uang, obligasi, saham, serta kebijakan fee, laporan laba rugi dll. Prospektus bisa dilihat di situs resmi MI tersebut atau bisa juga dilihat melalui IPOT dan bareksa. Contoh jika melalui situs MI, kita bisa akses punya Sinarmas di sini. Silakan di-klik bagian Prospektus dan dibaca saja hehe.

Menentukan RD juga perlu melihat historical performance dari RD tersebut. Dengan mudah dapat kita lihat chart performa masing-masing RD di IPOT atau bareksa. Tapi perlu diingat, kinerja masa lalu tidak selalu sama dengan kinerja masa depan, dan sebaliknya hehe.

Kembali ke topik alur kerja RD, dan juga saham pada umumnya, semua dana investasi kita tidak dipegang oleh MI ataupun broker (untuk kasus saham). Dana akan diserahkan kepada Bank Custodian (Bank BUMN atau swasta) dan Bank akan melakukan settlement dana. Setelah dana settled, selanjutnya proses administrasi kepemilikan efek atau RD kita akan dicatat oleh lembaga yang bernama KSEI dan KPEI. KSEI (Kustodian Sentra Efek Indonesia) adalah perusahaan yang didirikan oleh Pemerintah untuk melakukan administrasi dan penyelesaian efek baik Reksadana maupun saham. Sedangkan KPEI (Kliring Penjaminan Efek Indonesia) melakukan kliring administrasi dan menyimpan data aset-aset kita dalam bentuk digital seperti data berapa lembar/lot saham yang kita pegang, berapa unit RD yang kita punya, dll.

Ketika membuka rekening saham atau RD, yang kita lakukan adalah mendaftarkan diri kita ke KSEI dan nanti akan mendapatkan SID (Single Investor Identification). SID adalah nomor tunggal identitas investor, jadi kita mendaftarkan diri kita ke KSEI sebagai investor, nanti mendapatkan nomor unik semacam NIK di KTP gitu. Sebagai bukti kepemilikan SID, kita akan diberi kartu Akses KSEI, semacam KTP nya investor, setelah punya kartu ini kita bisa aktivasi akun di situs KSEI dan melihat data diri kita seperti kepemilikan saham & reksadana, historis transaksi, dll.

Berikutnya, bagaimana cara membuat akun untuk membeli RD dan saham? Saya share saja pengalaman saya di 3 akun yang saya punya yaitu IPOT, Bareksa (khusus RD dan SBR) dan MOST (Mandiri Online Securities Trading).

1.  IPOT

Cara mendaftarnya mudah sekali. Masuk saja ke  situs  IPOT ini, install apps nya dan ikuti petunjuk yang ada di dalamnya seperti pengisian biodata, nomor rekening bank, NPWP, dan terakhir melengkapi data diri dengan mengirimkan foto diri sedang memegang e-ktp dan membubuhkan tandatangan digital di bagian akhir proses registrasi. Pengisiannya hanya 5-10 menit dan verifikasi akan dilakukan di hari kerja oleh CS nya.

Kalau belum punya e-ktp, bisa melakukan manual registrasi seperti jaman saya dulu buat karena belum ada pendaftaran online di sini. Nanti akan dipandu di laman widget nya dan ikuti saja proses-prosesnya. Kalau dulu, setelah pengisian manual ini, saya dikirim berkas ke alamat rumah, nanti tinggal membubuhkan tanda tangan dan menempel materai. Setelah itu kirim balik via pos. Kayaknya kalau sekarang sudah tidak lagi seperti itu karena kecanggihan teknologi. Oia, khusus IPOT, mereka membuka pilihan membuat akun syariah. Jadi nanti jika pilih opsi ini, baik pilihan RD maupun list saham yang ada untuk dibeli, semua yang berjenis syariah. Silakan dicoba saja, prosesnya pun cepat dan mudah.

Oia, nanti ketika aplikasi permohonan kita sudah di-approve, kita akan dibuatkan juga Rekening Dana Nasabah (RDN). Nah saya tidak tahu untuk saat ini, tapi waktu saya buka dulu, RDN saya adalah BCA. Sepertinya akan ada pilihannya dan lebih bagus RDN itu “mengekor” rekening bank kita yang paling sering kita gunakan. Contoh, kalau punya Mandiri, lebih baik RDN nya pilih Mandiri saja. Untuk kasus saya, karena saya punya BCA, jadi nanti di akun BCA existing saja akan ada menu RDN. Kita bisa lihat isi saldo dan portofolio efek yang kita punya.

Sebelum membeli RD atau saham melalui IPOT, RDN ini harus diisi terlebih dahulu. Caranya, lakukan transfer manual (bisa lewat ATM atau mobile banking) ke rekening RDN. Makanya saya sarankan RDN sama dengan bank yang kita sering gunakan agar biaya transfernya gratis. Nanti saldo RDN bisa dengan mudah kita amati di menu IPOT yang bernama Cash Info.

Setelah daftar IPOT dan dapat akun serta RDN, langkah selanjutnya tinggal install apps nya di playstore atau Appstore. Tampilannya user friendly seperti ini.

Di IPOT kita bisa melakukan pembelian Reksadana maupun saham. Karena saya hanya menggunakan IPOT untuk membeli RD saja, maka saya kenalkan menu-menu nya. Seperti sudah disinggung sebelumnya, ada ratusan RD yang tersedia di IPOT. Masuk saja ke menu List Reksadana dan coba lakukan filtering sendiri dengan mudah untuk mem-filter jenis reksadana, performa kurun waktu RD, dll.

Untuk melakukan pembelian, cukup tekan tombol B (Buy) atau S (Sell) saja dan ikuti langkah selanjutnya. Oia, karena IPOT ini hanya perantara jasa pembelian dan penjualan RD, kita perlu memperhatikan “Terms and Conditions” sebelum melakukan konfirmasi pembelian RD. Masing-masing Manager Investasi (MI) menetapkan fee yang berbeda-beda saat pembelian dan penjualan. Contoh, ada MI yang menetapkan fee pembelian max. 2% per transaksi. Artinya setiap pembelian kita akan dikenai biaya sebesar max. 2% per transaksi. MI juga menetapkan fee penjualan kembali yang berbeda-beda. Ada MI yang menetapkan fee penjualan 0.5% dari nilai transaksi, namun ada juga yang menggratiskan (0%) kalau menjual RD setelah disimpan selama lebih dari 6 bulan.

Dalam memilih RD, juga perlu dilihat beberapa hal/istilah seperti NAV/NAB dan AUM. NAV (Net Active Value) atau bahasa Indonesia nya NAB (Nilai Aktiva Bersih) adalah nilai harga per unit Reksadana. Jika ada RD yang memiliki nilai NAV Rp 1,000. Artinya jika kita melakukan pembelian minimal seharga Rp 100,000 untuk RD ini, maka kita akan mendapatkan 100 unit. Sedangkan AUM (Asset Under Management) adalah total dana kelolaan dari investor yang sedang dikelola oleh MI dari RD yang bersangkutan. Semakin besar AUM, maka artinya semakin banyak partisipasi investor di RD ini.

Di IPOT ada fitur cash info yang menampilkan berapa posisi kas di akun RDN kita. Tinggal klik saja menu Member Menu –> Info Rekening –> Informasi Kas.

Nanti akan muncul tampilan posisi kas seperti di bawah ini.

Perlu diingat bahwa IPOT tidak mewajibkan memiliki deposit di RDN kita. Ada beberapa perusahaan sekuritas yang mewajibkan minimum deposit. Nanti saya bahas di bagian MOST. Hal lain yang perlu diingat juga adalah pembelian RD bisa dilakukan kapan saja dengan cut-off date pukul 12.00 WIB setiap hari kerja. Pembelian di atas pukul 12.00 WIB akan masuk ke pemesanan hari kerja berikutnya. Harga (NAV) dari RD ketika hari pembelian adalah menggunakan harga ketika penutupan hari bursa yaitu pukul 16.00 WIB. Ketika pemesanan masuk ke IPOT, namun sampai pukul 12.00 WIB RDN kita masih kosong/dana tidak mencukupi, maka dia akan meng-auto reject pesanan kita sehingga dianggap VOID.

Laporan harian posisi portofolio dari IPOT akan dikirimkan oleh auto-generated email setiap hari kerja pukul 18.00 WIB.

2. MOST

Nah, kalau untuk melakukan transaksi saham, saya menggunakan aplikasi MOST dari Mandiri Sekuritas. Sebetulnya di IPOT juga bisa sih, tapi saya rasa ragam menu dan kemudahan transaksi saham lebih enak pakai MOST, walaupun banyak kekurangannya juga hehe.

Sebelumnya, kita berkenalan dulu dengan yang namanya transaksi saham. Saham perusahaan terbuka (publik) hanya diperdagangkan di suatu “pasar” yang bernama Bursa Efek Indonesia (BEI). Nah, di pasar ini, semua saham perusahaan publik yang jumlahnya lebih dari 600 perusahaan itu diperdagangkan dengan bebas. Namun, sebagai investor atau pembeli saham, kita tidak bisa melakukan transaksi sendiri, misalnya mengontak teman kita yang punya saham UNVR untuk menjual langsung, karena harus tercatat di KSEI dan KPEI sesuai regulasi pemerintah.

Untuk melakukan pembelian/penjualan saham, kita membutuhkan jasa yang namanya broker/pialang saham. Nah, perusahaan penyedia jasa broker inilah yang dinamakan perusahaan sekuritas yang terdaftar di BEI.

2.jpg

Ada puluhan perusahaan sekuritas di BEI, namun untuk investor ritel (perorangan modal kecil) seperti kita, yang paling terkenal adalah Mandiri Sekuritas, BNI Sekuritas, Indopremier Sekuritas (IPOT), Mirae Sekuritas, Phillips Sekuritas, Kresna Sekuritas, Trimegah Sekuritas, dll. Nah, semua sekuritas yang banyak dipakai investor ritel ini memiliki applikasi online untuk membeli dan menjual saham yang mereka kembangkan sendiri. Jadi, saat ini orang kalau mau beli dan jual saham tidak perlu lagi menelpon broker secara pribadi seperti era 80 atau 90-an. Cukup mencet-mencet HP dan saham langsung terjual atau terbeli saat itu juga.

Masing-masing perusahaan sekuritas memiliki kebijakan sendiri dalam menetapkan fee transaksi dan minimum deposit di RDN.  Contoh, BNI sekuritas mematok fee jual 0.25% per transaksi dan fee beli 0.15% per transaksi. Sedangkan Mandiri Sekuritas mematok 0.125% fee beli dan 0.2% fee jual. Silakan google ke masing-masing perusahaan sekuritas saja untuk tahu berapa fee yang mereka pungut per transaksi saham.

Selain fee transaksi, masing-masing sekuritas juga mensyaratkan minimum deposit pada saat pertama kali buka rekening saham. Sama seperti Reksadana, ketika membeli saham, kita juga wajib memiliki yang namanya RDN. Kalau anda sudah punya IPOT, RDN nya jadi satu dengan RDN Reksadana. Nah, si perusahaan sekuritas ini mematok minimum deposit ketika anda buka pertama kali akun di sini. Contoh, Mirae Sekuritas mematok minimum deposit sebesar Rp 5 juta, dan Mandiri Sekuritas mematok minimum Rp 3 juta rupiah. Silakan googling lagi saja ke masing-masing perusahaan sekuritas untuk tahu detail kebijakannya

Perlu diingat bahwa minimum deposit ini sebetulnya hanya berlaku satu kali saja. Jika anda sudah punya minimum deposit seperti yang disyaratkan, seiring berjalannya waktu dan uang deposit nya terpakai beli saham, maka uang di deposit bisa saja dihabiskan sampai jadi Rp 0 hehe.

Kembali ke MOST, saya memutuskan untuk menggunakan MOST karena sebetulnya tidak ada pilihan lain selain IPOT hehe. Karena saya tinggal di kota kecil di Kaltim, di sini tidak ada perusahaan sekuritas sama sekali haha. Akhirnya saya coba tanya-tanya teman dan rata-rata mereka membuat akun sekuritas ketika sedang cuti ke Pulau Jawa. Saya coba menanyakan melalui CS Mandiri Sekuritas (ManSek), dan mereka bilang bahwa untuk membuka rekening MOST di Bontang, bisa dialihkan melalui cabang Pontianak, Kalbar dan verifikasinya bisa dilakukan tanpa perlu datang ke Pontianak, tapi cukup lewat video call hehe.

Akhirnya saya coba akses situs MOST dan coba registrasi di sini. Tinggal diisi saja semua data diri termasuk kuesioner profil dan persepsi risiko investor. Mengenai profil risiko akan saya coba bahas di tulisan saya berikutnya. Singkat cerita, setelah persyaratan lengkap, sekitar 2 hari kerja kemudian, saya dihubungi CS ManSek Pontianak untuk melakukan video call hehe. Video callnya wawancara singkat sambil pegang e-ktp haha.

Setelah akun MOST jadi, tinggal install saja Apps nya di Playstore atau Appstore dan nanti kita akan mendapat Password login dan PIN 8 angka untuk akses menu-menu di MOST.

screenshot_20190111-105229 (1)

Setelah login, pilihan menu nya ada banyak, Home screen yang pertama adalah list berita dan analisis dan analis nya ManSek. Silakan dibaca-baca kalau tertarik hehe. Menu yang penting setelah melakukan pembelian saham adalah Portofolio, dimana kita bisa melihat portofolio saham kita (profit/loss) dan posisi Kas kita. Untuk posisi Kas, ada catatan khusus dimana setiap transaksi di bursa menganut sistem T+2 artinya semua pemyelesaian transaksi baik jual maupun beli diselesaikan 2 hari kerja setelah transaksi. Jadi, kalau kita beli saham hari Senin tanggal 1 Januari sebanyak Rp 1.000.000, maka uang cash yang harus disediakan paling lambat tanggal 3 Januari pukul 16.00 WIB (sebelum penutupan bursa). Jika tidak, akan kena penalti sesuai kebijakan sekuritas masing-masing.  Begitupun ketika kita menjual saham, uang tunai baru akan kita terima di T+2 jadi harap bersabar saja hehe.

Secara kasar, sebetulnya kita bisa membeli saham dengan saldo Rp 0 di kas kita, yang penting pada saat T+2 sudah terisi kas nya. Untuk mengisi kas, kita cukup mentransfer sejumlah uang ke RDN kita yang terdaftar di MOST. Nanti akan terupdate secara otomatis di laman Cash Info di MOST. RDN MOST biasanya akan diarahkan ke Mandiri, nanti di tampilan internet banking Mandiri kita akan muncul 2 rekening, yaitu rekening tabungan biasa, dan rekening tabungan saham/RDN.

Fitur lain yang ada di MOST adalah Buy dan Sell order yang dapat dilakukan secara “Booking” dan “Auto”. Kalau mau beraliran value investing, sepertinya fitur ini ngga akan terlalu kepake. Kecuali kalau mau merangkap swing trader atau scalper, silakan saja baca tutorialnya di laman resminya hehe. Fitur MOST sendiri cukup lengkap, ada charting, screener, dan summary buat para penganut Technical Analysis. Tapi kalau cuma buat beli dan simpan dalam waktu lama, sudah lebih dari cukup sih.

Selama 1 tahun lebih menggunakan MOST, sebetulnya sudah beberapa kali (mungkin 2 atau 3) mengalami kegagalan Auto Order yang menyebabkan gagal dapat saham di harga bagus hehe. Karena di kota saya pilihan sekuritas nya cuma ini (dan IPOT) untuk beli saham, ya terpaksa diterima dengan legowo saja hehe.

Tambahan info lagi, MOST juga bisa dipakai untuk membeli Reksadana, hanya pilihannya tidak selengkap di IPOT atau Bareksa. Coba saja dilihat-lihat dulu di situs resmi nya most.co.id. Oia, setiap transaksi yang dilakukan di hari bursa, maka laporan pembelian/penjualan akan dikirim ke email sekitar pukul 18.00 WIB. Contoh email nya seperti ini.

1.png

3. Bareksa

Sesuai namanya, Bareksa sebetulnya penyedia jasa agen penjualan RD seperti IPOT. Bedanya, dalam Bareksa, tidak ada layanan pembelian saham, namun sebagai gantinya, mereka menyediakan jasa analisis data pasar modal, obligasi, dan RD yang sangat lengkap dan komprehensif dengan biaya berlangganan paling murah Rp 2.5 juta per bulan hehe

Saya memakai Bareksa, sebetulnya hanya untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) baik Saving Bond Ritel (SBR) maupun Sukuk Tabungan (ST). Promo-promonya menarik di antaranya cash back 1% untuk 200 pembeli pertama, dll. Situs bareksa bisa diakses di bareksa.com. Cara daftarnya pun paperless dan mudah seperti IPOT. Cukup 30 menit saja, dan dalam 1×24 jam, akun kita sudah bisa dipakai. Proses verifikasinya juga sama dengan IPOT, membubuhkan tanda tangan digital dan foto diri dengan memegang e-ktp.

Nah, karena saya menggunakan bareksa hanya untuk beli SBN, maka langkah selanjutnya setelah buka akun bareksa adalah mengakses situs http://sbn.bareksa.com dan registrasi kembali melalui menu Daftar. Ikuti saja langkah-langkahnya dan lengkapi dengan data diri. Setelah selesai, dalam waktu 1×24 jam akan dihubungi CS nya via WhatsApp untuk validasi dan konfirmasi.

3.png

Di Bareksa juga sebetulnya membutuhkan pembuatan RDN, namun karena saya hanya menggunakan untuk beli SBN, maka saya tidak perlu membuat akun RDN baru karena transaksi pembelian SBN langsung dilakukan melalui ATM atau internet banking.

Setelah akun siap, langsung saja masuk ke sbn.bareksa.com dan lakukan pembelian SBN yang sedang dijual di sana. Pembayaran dilakukan langsung melalui bank dengan ATM maupun internet banking. Setelah proses settlement, maka di dalam dashboard sbn.bareksa.com kita bisa melihat laman portofolio yang menunjukkan berapa banyak SBN yang kita beli, apa saja jenisnya, berapa tingkat kupon bunga nya, dan berapa rupiah kupon bunga yang sudah kita kumpulkan.

4.png

Pencairan kupon bunga dilakukan melalui rekening yang kita daftarkan pertama kali saat membuka akun sbn. Jadi, silakan dicoba saja kalau tertarik membeli SBN lewat bareksa. Sebetulnya ada banyak mitra distribusi online lain selain bareksa seperti tanamduit, modalku, dan investree. Bisa dicoba dan share keun pengalamannya hehe.

Tambahan info, jika sudah punya akun RD atau saham dan sudah aktif bertransaksi, maka kita akan mendapatkan laporan berkala setiap bulan mengenai posisi portofolio dan juga laporan pembelian/penjualan saham atau RD setiap sore setelah penutupan bursa.

Next time, saya share mengenai persepsi risiko seorang investor barangkali bermanfaat.