![]()
Dalam “Tesaurus bahasa Indonesia”, “sarjana” = cendekiawan, intelektual, jauhari, sastrawan, akademikus, ilmuwan. Kalau mau lebih jauh lagi, kosakata “sarjana” dipungut dari bahasa Sanskerta:sajjana. Saj-jana”= “Sat-jana”: orang yang patut dihormati, orang dari keturunan terhormat, orang bijaksana, orang baik, orang benar, orang yang memiliki kebijakan sejati.
Bila ditilik, kata sajjana berakar dari kata saras dan jana. “Saras”(bahasa Sanskerta) = “sara” (bahasa Jawa Kuno): sesuatu yang mengalir, air yang mengalir, danau/sungai/kolam dengan airnya yang mengalir, kata-kata (yang mengalir dari mulut Sarasvati), kefasihan berbicara “lancar-indah-jelas” “Jana” (bahasa Sanskerta) = orang /manusia/keturunan.
Jadi, penafsiran etimologi yang mengasalkan “sarjana” dari “saras-jana” mengartikan “sarjana” sebagai: orang yang menerima anugerah “kefasihan berkata-kata” dalam mengungkapkan ajaran “Vedha” secara “’tepat-indah-jelas”. Kalau kita kembali merujuk ke makna kosakata “sarjana” artinya adalah orang yang menguasai bidangnya, cerdas, ahli, pakar dan sejenisnya, maka sesungguhnya kosakata “sarjana” telah mengalami proses penyempitan makna menjadi orang yang telah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi strata 1 (S1) dan seterusnya. Apakah dia ahli atau tidak, menguasai bidangnya atau tidak, pokoknya setelah wisuda, seseorang berhak menyandang gelar kesarjanaan.
Penyempitan makna “sarjana” belakangan ini membawa kita terjebak pada paradigma sempit pendidikan, yang menganggap ijazah adalah segala-galanya. Kuliah hanya untuk sekedar mendapatkan gelar “sarjana” pertanyaannya adalah: Apakah kita sudah menyiapkan diri kita menjadi seorang “Sajjana”? atau yang kita perjuangkan selama ini hanyalah sekedar mengejar title “sarjana”
(disarikan dari: http://jemiesimatupang.wordpress.com/)
Man Jadda Wa Jada, “Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil…”