Singapore and Johor Trip 2024

Nggak kerasa sudah 6 bulan lebih vakum menulis di blog karena kesibukan di dunia nyata. Jadi kelupaan mau buat catatan pribadi di awal Januari 2024 di mana saya dan keluarga menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke Singapura dan Johor Bahru.

Perjalanan ke sana relatif dadakan karena berakhirnya masa kontrak kerja saya di perusahaan sebelumnya di Jakarta dan dalam transisi kembali ke tempat kerja lama di Bontang. Berhubung anak sekolah libur, akhirnya kita gelar trip dadakan ini dengan mengajukan cuti H-7 dan beli tiket pesawat serba mendadak.

Perjalanan dimulai dari CGK tanggal 2 Januari 2024 dengan tujuan Singapur. Kami rencana mau coba rute Singapore-Johor via bus namun mau habiskan beberapa hari dulu di Singapur untuk jalan-jalan dengan tujuan Museum of Ice Cream (MOIC). MOIC di Singapore ini adalah cabang dari MIC di US yang berdiri sejak 2021. Lokasinya cukup terpencil karena terletak di Loewen Rd, daerah residensial gitu dan lumayan jauh dari stasiun MRT. Cara untuk ke sana hanya bisa dengan Bus dan Taksi.

Karena masih vibes New Year, seperti biasa, Singapur penuh orang-orang Indonesia dan cukup sulit mencari penginapan. Kami memutuskan untuk menginap di Bugis Street saja supaya dekat dengan akses makanan halal, dekat dengan tempat oleh-oleh dan dekat dengan lokasi terminal bus ke Johor. Kami memutuskan untuk menginap di ST Signature Bugis Beach Hotel. Hotel budget yang lokasinya di Beach Street ini letaknya persis di tengah-tengah area Bugis, sangat strategis karena dekat dengan Bugis Junction, 711, dan Stasiun MRT Bugis.

Meskipun kamarnya mini, tapi lumayan lah ya. Kami pesan yang triple bed, dengan konfigurasi 1 kasur besar dan 1 bunkbed. praktis space di dalam kamar ngga cukup buat gelar koper gede 🙂 tapi lumayan lah dengan budget sekitar 1.5 juta rupiah per malam. Di sini juga dekat dengan Laundry coin, sekitar 7-8 menit jalan kaki di area apartment kompleks dekat Bugis Junction. Setiap ke luar negeri pasti saya dan istri menyempatkan cuci di laundry coin yang lebih murah dan bawa setrika portable sendiri 🙂

Begitu nyampe SG, nggak lupa foto-foto dulu di Changi, sayangnya waktu itu Jewel lagi Maintenance paska acara tahun baru, jadi kami hanya sempat foto depan The Wonderfall yang baru banget dibuka waktu itu.

Sore hari nya setelah istirahat kami menyempatkan diri makan di cafe Beanstro, pas di depan Rain Oculus Marina Bay Sands. Beanstro ini lokasinya tepat di bawah Rain Oculus jadi sambil ngopi-ngopi sore kita bisa lihat atraksi Rain Oculus setiap 1 jam sekali di sana. Kami sengajakan reservasi sekitar jam 17 sore dan datang di sekitar jam 16.30.

Makanan dan minuman di cafe ini terhitung mahal karena memang orang ke sini hanya buat nikmati Rain Oculus nya aja sih. Total ngafe berempat kita habis sekitar 70 SGD (IDR 770rb) padahal hanya pesen 4 jenis minuman dan 2 snack aja :))

Setelah dari sini, jalan-jalan dan foto-foto sebentar di depan Marina Bay Sands sebelum balik istirahat ke hotel.

Besoknya, kami siap-siap pergi ke Museum Of Ice Cream. Sedikit informasi, tiket masuk ke museum ini hanya bisa dipesan online dengan memilih jadwal hari dan jam kedatangan di situs resminya https://tickets.museumoficecream.sg/ MOIC buka dari jam 10 pagi sampai jam 7 malam setiap hari. Saran yang saya baca di internet, bagusnya datang pas baru buka supaya antrian masih belum terlalu panjang. Tiket masuknya dibagi 2, yaitu yang biasa SGD 35 per orang (di atas 2 tahun) atau sekitar Rp 420rb dan premium ticket SGD 45 atau Rp 540rb per orang. Bedanya, premium ticket include rasa-rasa premium yang ngga bisa didapat sama pembeli tiket biasa.

Lokasi MOIC ini letaknya di daerah perumahan, jauh dari mana-mana. Jalan termurah menuju ke sana naik kendaraan umum. Caranya kita perlu naik MRT Thompson-East Coast Line (TE) dan turun di Stasiun Napier. Setelah itu kita naik bus apapun yang lewat depan stasiun MRT nya (Holland Rd) dan turun hanya 1 halte saja. Dari halte ini, lumayan juga jalan kaki sekitar 400 meter sampai ke lokasinya.

Sepanjang jalan kaki kita akan melewati sekolah, rumah-rumah penduduk, dan lain-lain. Jalannya juga nanjak jadi kalau bawa anak kecil ya lumayan juga sih hehe. Tampilan depannya kira-kira seperti ini

Sebelum masuk, nanti ada pengarahan dari kru nya kira-kira dia akan bilang begini: kita bebas mau berlama-lama di dalam sampai puas, asal syaratnya ngga boleh mondar-mandir dari ruangan ke ruangan yang lain. Es krim yang boleh dimakan sebebas-bebasnya sesuai tiket yang dibeli. Artinya tiket general ngga boleh makan es krim premium, tapi mau makan sebanyak apapun boleh. Oia, sebagai info, MOIC ini belum halal certified, namun sebelum menikmati es krim-es krimnya silakan tanyakan ke setiap waiter di masing-masing booth mengenai dairy productnya apakah contain alcohol atau pork ya. Dari semua yang saya tanya, jawabannya free alcohol dan pork semua sih. Jadi silakan recheck lagi ya.\

Ruangan di dalamnya kira-kira ada 6 segmen, setiap ruangan ada temanya masing-masing dan semua nuansa pink. Di awal kita disuguhi pengetahuan-pengetahuan seputar eskrim, lalu ada ruangan yang isinya huruf-huruf yang ditempel di tembok dan kita bisa susun kata-kata sesuka kita. Terus ada ruangan yang ada sliding dan ayunannya, ada ruangan yang isinya lampu-lampu, pisang yang digantung, dan yang paling terkenal adalah kolam yang isinya es krim popsicle plastik seolah-olah kita berenang di eskrim.

Total saya dan istri makan sekitar 7 porsi eskrim. Lumayan kenyang sih, padahal kami sarapan cuma pakai onigiri doang wkwk. Walaupun porsi eskrim nya kecil, tapi ya lama-lama mengenyangkan juga. Dan rasa eskrim premiumnya enak-enak, jadi worth it lah bayar 120rb lebih mahal hehe. Silakan dicoba sendiri ya.

Praktis di kunjungan ke SG kali ini kami hanya stay 2 malam buat kunjungan ke MOIC aja. Besok pagi nya subuh-subuh sekitar jam 6 pagi, kami sudah meluncur ke Johor Bahru (JB) via Bugis Terminal. Sebelumnya saya riset dulu dan mendapati kalau cara ke JB dari Bugis bisa dengan 3 bis ini:

Lokasi terminalnya ada di Queens Street dan bus nya berangkat dari jam 0530 waktu setempat. Ada 3 bus yang berangkat dari sana, dan harga bus nya per orang SGD 5 (Rp 60rb) per orang. Dari Queens St, bus ini ngga berhenti di halte manapun sampai tiba di Woodland Checkpoint. Pertama kali kami sampai di Woodland Checkpoint unik juga. dari arah sebaliknya, banyak banget orang JB yang masuk Singapur via Bus atau mobil sampai bikin antrian mengular di bagian imigrasi dong. Sayangnya karena ngga boleh foto-foto jadi ngga bisa mengabadikan momen itu :)). Kira-kira seperti ini lah ya pemandangan tiap pagi:

Sampai di JB Central kami sarapan dulu di restoran yang menyajikan nasi lemak dekat stasiun/terminal. Tidak lupa menukar uang IDR ke MYR dan beli sim card lokal buat internetan. Tujuan ke JB apalagi kalau bukan ke Legoland :)). Di JB, untuk transportasi kami naik Grab karena tarif Grab di JB mirip dengan di Jakarta jadi terjangkau lah ya dibanding di SG. Sampai di Legoland sekitar pukul 10 dengan kondisi masih hujan. Theme park buka pukul 11 dan kami masuk dengan jas hujan karena hujan cukup deras.

Sempat agak kecewa karena jika hari hujan, wahana outdoor banyak yang tutup. Alhasil, kami cuma naik wahana-wahana indoor aja macem NinjaGo dan pesawat-pesawatan :))

Tapi setelah makan siang, sekitar jam 2 siang, hujan berhenti namun kondisi masih mendung, pas hujan mulai berhenti, mulai banyak wahana-wahana outdoor yang dibuka kayak roller coaster, wahana outdoor lain kayak fireman, simulator lalu lintas, naik perahu di danau, dll mulai dibuka. Walau masih gerimis tapi ya namanya juga udah kepalang tanggung. Sambil pake jas hujan kuning ala legoland ya kita semua tetep main.

Biarpun harus hujan-hujanan, hikmah di balik itu semua kayaknya Legoland agak sepi walau ini lagi peak season. Semua orang mungkin agak males juga kalau musti hujan-hujanan. Jadi beberapa wahana indoor favorit kayak NinjaGo juga gak ngantri dan bahkan bisa masuk berkali-kali kalau niat.

Total waktu yang dihabiskan di Legoland dari buka jam 10 sampai tutup jam 6 sore bener-bener kurang sih. Apalagi dijeda sekitar 2-3 jam karena hujan deras dan banyak wahana tutup. Jadi tips kalau ke sini silakan dicek dulu weather forecast area Johor dan yakinkan ngga ke sini pas seharian hujan biar ngga rugi. So far wahana yang dipunyai Legoland itu kids friendly, tapi dengan syarat kids nya harus sudah di atas 5 tahun ya. Karena ada beberapa wahana yang mempersyaratkan tinggi badan dan kasian nanti kalau ditolak masuk 🙂

Dan supaya lebih poll juga, musti sekalian nginap di Legoland Hotel dan musti ambil kamar yang ada tema Legoland nya. Semalam harganya sekitar Rp 1.8 juta sampai Rp 2 juta dan kalau peak season mungkin bisa sampai Rp 2.5 juta. Tapi totally worth it. Di dalamnya ada bunkbed buat maksimal 3 anak, tema Legoland yang bisa milih antara Kingdom, pirates, ninjago, dan adventure. Walaupun sarapannya so-so tapi pengalaman nginap nya yang ngga terlupakan buat anak-anak.

Oia, di sebelah Hotel Legoland dan Legoland resort juga ada mini-mall yang isinya tempat-tempat makan halal. Jadi ngga usah ketakutan kesulitan cari makan walau nginap di resort ini. dan juga ada supermarket besar tempat semua ada. Di area resort juga ada banyak apartment yang disewakan via airBNB. Jadi kalau mau hemat, bisa nginap di apartment dan masak sendiri.

Berhubung kami hanya 1 malam saja di sini, besok sore nya rencana kembali ke Singapore namun pagi harinya kita sempatkan mampir ke Johor Premium Outlet, yang isinya outlet-outlet barang-barang branded yang katanya harganya lebih murah dari di toko. Yah walaupun kita ngga beli apapun tapi lumayan juga lah buat cuci mata. Tempatnya lumayan jauh dari pusat kota, persis kayak Jakarta Premium Outlets yang letaknya di Karawang :))

Dia buka jam 9 pagi, jadi pas banget baru buka kita langsung ke sana dan numpang sarapan doang sambil cuci mata :)) Dari Legoland hotel kami udah bawa koper dan jalan-jalan sambil bawa koper kecil dong. Cuci mata sekitar 2 jam, habis itu kami lanjut ke Toppen Shopping Center Johor buat ngeliat pameran space (luar angkasa) yang hanya ada di periode-periode tertentu aja. Lokasinya dari Johor Premium Outlet kira-kira 20 menitan aja. Dan kami di Johor kemana-mana pakai Grab karena lebih simple dan murah.

Toppen shopping center ini luas banget karena ada IKEA nya. Pintu masuknya banyak dan luas mall nya juga bener-bener gede. Big Mall Samarinda sama AEON BSD mungkin kalah besar. Jadi waktu itu kita browsing top attraction di Johor dan ngga sengaja ketemu ini di salah satu IG influencer lokal. https://spaceandyou.com.my/html/index.php . Waktu itu event ini cuma ada di periode akhir 2023 sampai juni 2024 aja dan sayangnya di tahun 2025 ini udah ngga ada.

Menurut saya ini seru banget karena dengan harga RM 58 (Rp 180rb) per orang, kita bisa lihat pameran luar angkasa yang lumayan interaktif dan bikin anak-anak suka. Ditambah bisa sewa kostum astronot juga.

Ada lokasi tempat foto mirip Bulan, Mars, latar belakang Space Ship dan yang paling keren di bagian akhir kita ada di ruangan gelap dan di sana ditampilin video animasi keren dengan efek-efek yang fantastis. Karena waktu itu beneran lagi sepi (mall baru buka) jadinya beneran cuma kita berempat aja yang keliling di area pamerannya dong.

Sekitar jam 3 sore kita langsung menuju JB Sentral dan kembali ke Singapore dengan kereta. Besok paginya kita kembali ke Jakarta dan selesailah liburan singkat di Singapore dan JB ini.

See you in the next journey…

Short Trip (Escape) to Bangkok

Sebetulnya trip ke Bangkok ini udah saya lakukan di pertengahan Desember 2022 lalu namun baru sempat menulis di blog hari ini karena kesibukan dan lain-lain. Jadi ceritanya, sekitaran bulan Agustus 2022, istri saya yang seorang fans berat Final Fantasy series, mengajak untuk nonton konser musik original soundtrack dari game franchise Final Fantasy di Bangkok. Konsernya sendiri sebetulnya diadakan di 17-18 Desember 2022. Jadi masih ada sekitar 4 bulan lagi dari Agustus. Dan berhubung situasi pandemi sudah mulai mereda dan Bangkok sudah mulai melonggarkan persyaratan masuk, akhirnya kita beranikan lah beli tiket online untuk konsernya.

Harga tiketnya sekitar 3,400 THB atau kalau dirupiahkan sekitar 1.5 juta untuk kelas non VIP. Setelah beli tiket konser, kita ngga langsung beli tiket pesawat karena masih bingung mau ngajak anak-anak atau nggak dan apakah saya bisa ajukan cuti atau ngga di pertengahan Desember itu.

Dari Agustus-Oktober, saya sibuk jelajahi Vlog yutuber-yutuber yang sudah mengunjungi Bangkok. Dari sekian banyak video yang saya tonton, kesimpulannya, masuk Bangkok sejak September 2022 sudah ngga perlu lagi antigen/PCR namun hanya cukup tunjukkan sertifikat vaksin saja. Singkat cerita, di bulan Oktober akhirnya kami memutuskan untuk pergi berdua saja dan meninggalkan anak-anak di rumah kakek-neneknya karena anak saya yang besar masih sekolah dan Bangkok bukan kota yang ramah untuk jalan-jalan dengan anak kalau lihat banyak video di youtube.

Tiket pun sudah dibeli. Saya memutuskan berangkat hari Jumat 16 Desember sore, pukul 16.30 dengan Air Asia rute CGK-DMK dan pulang di hari Senin 20 Desember pukul 15.30 dengan Thai Ariways rute BKK-CGK. Ini perjalanan perdana ke Bangkok jadi cukup deg-degan juga dan karena saya hanya bisa cuti satu hari saja, jadi agenda utamanya hanya untuk nonton konser ini di Sabtu tanggal 17 Desember nya. Jadi kami punya 1 hari (minggu 18 Desember) untuk explore Bangkok dalam sehari.

Singkat cerita di hari keberangkatan, saya sempat Work From Anywhere (WFA) dari lounge di Bandara CGK karena masih ada meeting pukul 14.30 nya. Sejak Kamis malam saya sudah di hotel bandara dan WFA dari jumat pagi sampai selepas solat jumat. Istri berangkat dari Bandung pukul 9 dan sampai di bandara pukul 13 WIB.

Perjalanan ke DMK (Don Meuang Airport) Bangkok dengan air asia cukup smooth. Karena pesawatnya kecil (A320) jadi ada turbulensi sangat terasa. Untungnya di Air Asia ini disajikan makan minum walau berbayar, jadi lumayan lah daripada diem aja selama 3 jam perjalanan. Sampai di DMK kira-kira pukul 19.30 WIB, dan dari info yang saya dapat, transport dari DMK ke kota yang tercepat adalah dengan taksi, bisa nyegat langsung atau pakai JustGrab di depan Terminal kedatangan. DMK sendiri kalau dilihat-lihat mirip KLCC (bandara air asia nya Kuala Lumpur jaman dulu) atau Halim jaman dulu, khusus terminal low cost budget jadi kondisi Airportnya sendiri ya ala kadarnya hehe. Tapi Airport ini letaknya lebih dekat ke kota dibanding Survanabhumi (BKK).

Naik taksi dari DMK ke Hotel (kami menginap di hotel Ibis Sathorn) https://all.accor.com/hotel/6537/index.id.shtml yang letaknya di daerah Shukumvit, tepatnya di Lumphini. Alasan menginap di sini karena area ini termasuk tengah kota dan dekat dengan MRT station Lumphini. Sebetulnya di area ini cukup banyak hotel dan salah satunya ada Malaysia Hotel, mungkin dinamakan begitu karena yang punya orang Malaysia. Perjalanan dengan taksi dari DMK ke Ibis Sathorn sekitar 30 menit dengan biaya 200 THB dengan bayar tol 50 THB.

Menginap di Ibis per malam sekitar 450rb rupiah, jadi harga hotel di Bangkok menurut saya lebih murah sedikit dari hotel-hotel di Jakarta. Roomnya cozy, cukup luas, namun kelemahannya ya TV nya hanya TV lokal aja hehe, dan juga laundry nya mahal. Tapi worth it lah karena ngga jauh dari hotel ada laundry coin yang nanti akan saya ceritakan.

Sesampainya di hotel sudah pukul 21.00 dan persis depan hotel ada 7Eleven. 7Eleven ini kalau di Bangkok udah kayak Indomaret-Alfamart. Di setiap belokan jalan pasti ada tokonya hehe. Sehabis mampir sebentar beli makanan halal. kami langsung check-in dan istirahat di kamar karena sudah lelah di jalan.

Keesokan paginya, sekitar pukul 5.30 pagi. Setelah searching di google, dekat hotel sekitar 600m ada laundry coin yang kalau dilihat fasilitasnya cukup lengkap.

Jalanan menuju ke laundry coin nya persis kayak di gang-gang di Jakarta. Cuma bedanya lebih bersih aja. Sepanjang jalan, yang dilihat kalau nggak Guest House, bar, dan tempat Spa/Thai Massage karena memang area ini banyak hotel dan area turis juga. Dan seperti biasa, di setiap belokan pasti selalu ada 7Eleven guys hehe.

Pemandangan umum di jalanan bangkok. Setiap belokan ada Sevel
Ada orang jualan sarapan juga

Laundry coin di sini persis seperti di Singapur, buka 24 jam, banyak CCTV, ada mesin penukaran koin, dan bedanya lagi di sini ada mesin kopi dan beli detergen sendiri. Harga laundry cuci ditentukan dengan tipe detergen, detergen saja harga 5 THB, detergen pakai pewangi harga 10THB. Lalu per 10 menit mencuci harganya 40 THB untuk air dingin dan 50THB untuk air hangat di mesin cuci yang ukuran 10kg. Jadi total sekali cuci habis 55-60 THB atau sekitar 30rb. Kemudian untuk drier nya sendiri harga per 30 menit adalah 50 THB untuk high temperature, dan 40 THB untuk medium temperature. Waktu untuk melaundry kira-kira sekitar 45-60 menit.

Sambil menunggu laundry selesai, kami mampir ke Sevel dulu untuk beli sarapan. Oia, di Thailand, kalau mau cari makan halal, cukup mudah. Sama seperti di Singapur, jenis kehalalan nya ada 3: 1. Halal certified, bisa dilihat dari logo di setiap kemasan makanan atau restoran, 2. muslim owned, yang tipe ini banyak di food court di mall atau di warung pinggir jalan seluruh Bangkok, dan 3. vegan/vegetarian food. Di Sevel sendiri, cukup banyak makanan dengan logo halal, semisal Thai Chicken Rice, sandwich, dan nasi goreng yang letaknya di mesin pendingin. Kemudian di Sevel juga jualan buah-buahan dan salad yang aman dimakan. Minuman-minuman kemasan kayak susu, eskrim dan teh juga udah halal certified semua. Cuma kekurangannya cuma satu, microwave untuk manasin makanannya masih sharing dan ada potensi kecampur sama bekas manasin makanan non halal.

Tipikal sarapan halal di Sevel

Oia, harga di Sevel nya pun masih lebih affordable ketimbang Sevel di Singapur ya. Mungkin karena perbedaan kurs juga. Sekali belanja makanan dan cemilan, habis sekitar 200 THB atau sekitar 100rb rupiah maksimal. Yang uniknya, di sana pun setiap pagi ada tukang sayur yang keliling naik motor supra dan juga ada orang jualan sarapan kayak nasi, ayam dan makanan lain di pinggir jalan dan depan rumahnya pakai tenda. Bener-bener tumplek persis kayak di Indonesia.

Keunikan lain di Bangkok adalah di sini ada juga Ojol (Grab) dan di tiap gang ada ojek pangkalan yang ciri khasnya memakai rompi proyek warna oren. Awalnya saya dan istri nyangka orang-orang yang pake rompi oren ini pekerja konstruksi. Eh ternyata opang dong hehe.

Setelah cuci baju dan kembali ke hotel, agenda pertama hari Sabtu pagi ini adalah jalan-jalan ke Chatuchak Market, sekalian beli oleh-oleh. Chatuchak adalah weekend market (pasar kaget) terbesar di Asia Tenggara. Adanya hanya dari hari Jumat sore sampai malam, dan Sabtu-Minggu dari pagi sampai malam. Untuk pergi ke Chatuchak, dari hotel kami jalan kaki ke stasiun MRT Lumphini kurang lebih 700m. Ada yang unik juga di MRT Bangkok. Ticketing nya persis kayak LRT di Kuala Lumpur, ngga pake kertas/kartu kayak di SG atau Tokyo, dia pakai token semacam koin plastik gitu.

Harga tiketnya pun nggak bisa dibilang murah juga sih. Dari Lumphini ke Chatuchak sekitar 13 stasiun sekitar 48 THB seorang atau 20 ribu rupiah. Ya mirip-mirip MRT Jakarta lah ya. MRT Bangkok ini buatan Siemens jadi kereta nya mungkin lebih bagus, dan stasiunnya pun moderen. Tapi entah karena kita kepagian atau gmn stasiun MRT nya terlihat sepi. Mungkin rute nya masih sedikit kali ya mengingat baru ada 1 koridor aja kayak di Jakarta. Dari Lumphini, kita turun di stasiun MRT Kamphaeng Phet (namanya unik-unik) dan keluar dari stasiun MRT langsung sampai di pintu terluar pasar Chatuchak.

Berhubung hari masih jam 9 pagi, belum semua lapak di sana udah buka. Kebanyakan masih beres-beres dan persiapan buka. Tapi dari yang saya lihat, area Chatuchak ini gede nya ampun dah. Mungkin seharian keliling di sini aja nggak cukup kali ya. Mirip Cimol Gedebage dengan luas puluhan kali lipat dong. Dan bedanya tertata rapi dan bersih lah. Aneh bener karena sesama Asia Tenggara tapi Bangkok ini bisa rapi dan bersih gini.

Pemandangan Sabtu pagi di Chatuchak
Food stall di Chatuchak

Agenda ke Chatuchak ini apalagi kalau bukan cari kaos bergambar Thailand, tas bergambar Thailand, mainan Tuk-tuk, gantungan kunci, dan mencicipi Mango Sticky Rice di salah satu lapak makanan di sini. Di Chatuchak ini ada beberapa spot makanan muslim owned juga, salah satunya adalah Saman Islam, penjual Pad Thai dan nasi biryani ini. Yang masak ibu-ibu menggunakan hijab dan banyak juga orang-orang Indonesia/Malaysia yang makan di lapak ini. Harga per menu nya sekitar 100 THB (50 ribuan) dan Pad Thai nya enak menurut saya.

Mango Sticky rice di Chatuchak harga 30 THB atau 15 Ribu IDR

Setelah beli oleh-oleh dan makan berat dan mencicipi mango sticky rice, kami pun kembali ke hotel untuk mandi dan siap-siap menuju ke tempat konser setelah zuhur. Tempat konsernya ada di Mahidol University, salah satu universitas terkenal di pinggir Bangkok, walau letaknya di luar Bangkok sih sebenernya. Konsernya sendiri dimulai pukul 16.00 dan setelah browsing-browsing berkali-kali, moda transportasi tercepat ke sana hanyalah dengan Taksi/Grab sekitar 40 menit dan biayanya sekitar 300THB (150 ribu rupiah). Alternatif lain adalah menggunakan kereta antar kota yang lebih murah tapi durasinya nyaris 1.5 jam lamanya.

Perjalanan dari hotel ke Mahidol University juga lumayan lancar. Jalanan di Bangkok lebar-lebar dan tertata lebih rapi ketimbang Jakarta. Ada beberapa titik macet tapi nggak banyak dan perjalanan kami tempuh sekitar 45 menit sampai ke depan Prince Mahidol Hall. Sesampai di venue konser, kami langsung tukar tiket. Karena waktu masih pukul 14.30 masih ada beberapa jam lagi sampai gate dibuka. Sambil nunggu, kita duduk2 dulu dan ngobrol sebentar dengan beberapa orang Indonesia yang ada di sana, nggak lupa, istri foto dengan beberapa cosplayer karena cukup banyak juga yang pakai cosplay di sini.

Jam 15.15 venue dibuka dan penonton sudah boleh masuk, venue nya megah, benar-benar cocok untuk tempat konser. Kami duduk di area tengah di sayap kanan. 5 menit sebelum konser dimulai, semua kursi sudah terisi penuh. Ini juga pertama kalinya saya nonton konser orkestra begini. Durasi konsernya sekitar 2 jam dan kita disuguhi alunan musik yang indah dan enerjik dari composernya sendiri yang orang Kanada. Banyak special guest juga di konser ini termasuk creator dan composer OST Final Fantasi yang datang langsung dari Jepang dan beberapa penyanyi Jepang yang mengisi vokal di OST nya. Bener-bener pengalaman konser yang sangat mantap lah.

Venue saat konser belum dimulai
Ketika konser dimulai

Konser selesai pukul 18.30 dan seperti sudah diprediksi orang-orang serentak keluar di waktu yang sama, dan akibatnya adalah semua taksi dan Grab full booked dong. Setelah menunggu selama 30 menit akhirnya kami dapat Grab Taxi dengan harga sekitar 400 THB (200rb) dengan tujuan ke Asiatique The Riverfront Bangkok. Karena tujuan kami ke sini untuk makan di food court halalnya sambil menikmati pinggiran sungai Chao Praya. Perjalanan ke Asiatique sekitar 45 menit dan seperti sudah ditebak, malam minggu, Bangkok macet di area-area wisata. karena macet pula kami jalan kaki beberapa ratus meter sebelum sampai di pintu Asiatique. Tapi seperti diduga, ternyata sampai di sana zonk dong. Foodcourt yang dituju ternyata tutup karena renovasi. Akhirnya di Asiatique cuma foto-foto sambil liatin crowd yang kebanyakan nongkrong di bar buat minum-minum dan hangout.

Asiatique, tempat tourist hotspot di Bangkok di pinggir sungai Chao Praya

Sebelum sampai di Asiatique, sebetulnya saya sempat lihat lapak-lapak makan pinggir jalan yang jualannya ibu-ibu berhijab dan lokasinya ngga jauh dari Mesjid yang ada di area sini. Daripada kelaparan, akhirnya kami memutuskan makan di lapak Pad Thai dan nasi goreng tersebut. Lumayan, pesan pad thai dan nasi goreng sekitar 150 THB (60 ribu rupiah) berdua. Sama ibu-ibunya juga diajak ngobrol dan ternyata mereka ini orang Thailand selatan yang kebanyakan populasi nya muslim karena pengaruh tetanggaan dengan Malaysia. Setelah makan, kami pesan Grab dan pulang ke Hotel.

Makan pad thai di pinggir jalan dekat Asiatique

Keesokan paginya di hari Minggu, setelah laundry dan sarapan, kami memutusan untuk pergi ke landmark di Bangkok seperti Grand Palace, Wat Pho dan Wat Arun (yang letaknya di satu kawasan) sebelum pulang ke Jakarta senin siangnya. Berangkat pukul 8 dari hotel dengan MRT dari Lumphini ke Sanam Chai (6 stasiun) dan dari Sanam Chai Station jalan kaki 1 km (10 menit) ke pintu masuk Grand Palace. Sepanjang jalan, karena cuaca cerah dan angin berhembus sepoi-sepoi, pemandangannya indah sekali melewati kompleks ring-1 nya Bangkok ini. Pemandangan unik sebelum masuk Grand Palace adalah bule-bule yang pada pake hotpants dan rok pendek disuruh sewa/beli kain penutup dulu sebelum masuk ke Grand Palace.

Vibes nya Grand palace sendiri mirip Keraton Jogja namun dengan arsitektur Buddha yang lebih kental. Banyak bangunan, ornamen, dan patung-patung kebudayaan dan kepercayaan agama Budha. Banyak spot-spor foto bagus dan juga lukisan/ornamen yang menceritakan Thailand tempo dulu. Karena masih pagi dan baru banget buka, pengunjung masih sedikit dan kita bebas leluasa foto-foto. Total waktu yang dihabiskan di sini sekitar 1 jam lah dan di bagian dekat pintu keluar baru kelihatan istana Raja Thailand dan kita bisa foto-foto di depannya. Oia, HTM ke Grand Palace adalah 500 THB (250rb), cukup mahal ya.

Ngga jauh dari Grand Palace, di sebelahnya adalaah Wat Pho, sebuah kuil dengan landmark patung Budha raksasa yang sedang berbaring/tidur miring. HTM ke sini 100 THB dan durasi di sini juga cukup cepat sekitar 30 menit karena banyak wisatawan hanya mengincar foto di depan/samping patung Budha raksasa tersebut. Meskipun banyak orang Thailand yang datang untuk berdoa juga di sini.

Sekitar pukul 11, keluar dari Wat Pho, tujuan terakhir adalah Wat Arun, sebuah kuil dengan arsitektur unik yang letaknya di sisi sebrang sungai Chao Praya. Dari Wat Pho, jalan kaki 300 meter ke pelabuhan terdekat dan bayar 12 THB (5000 perak) untuk nyebrang pake perahu dengan durasi tempuh 2 menit aja. HTM ke Wat Arun adalah 100 THB dan di sini kita bisa naik sampai ke puncah kuil kalau niat. Tapi karena hari sudah siang dan kita sudah lapar, jadi di sini cuma 20 menit aja buat jalan keliling dan foto-foto sebentar.

Kapal untuk nyebrang dari Wat Pho ke Wat Arun dan sebaliknya

Nah dari Wat Pho ini, kita rencana mau lanjutkan ke Icon Siam, salah satu mall terbesar juga di Bangkok. Rencananya di sini mau makan siang di food court yang konon banyak muslim owned food stall nya. Salah satu transportasi unik di Bangkok adalah taksi air yang rutenya ke tempat-tempat wisata sepanjang Chao Praya. Dari Wat Arun ini kita bayar 30 THB (15rb) per orang untuk naik kapal dan turun di dermaga depan Iconsiam. Lama perjalanan sekitar 10 menit. Sepanjang perjalanan melintas sungai banyak pemandangan unik juga kayak banyak perahu-perahu kecil yang ngebut dan arus di Chao Praya yang lumayan kenceng juga dan pastinya sungainya warna coklat seperti sungai-sungai di Indonesia hehe.

Sampai di dermaga Icon Siam, kita langsung masuk ke mall nya dan ternyata mall nya gede juga. Di food court di lantai 1 banyak banget jajanan khas Thailand dan muslim owned. Di sini kita makan tom yum, sate-satean, mie ala thailand, martabak, mango sticky rice dll. Total makan sampe kenyang berdua kira-kira abis 450 THB (220rb an). Harga persis dengan makan di mall di Jakarta lah. Yang uniknya di mall ini, di food courtnya ada semacam sungai kecil gitu dan juga ada yang jualan serangga goreng kayak kecoak, jangkrik, larva, dll hehe.

Dermaga IconSiam
Menu makanan Halal (Muslim Owned) di Food Court IconSiam

Setelah kenyang di sini, sekitar pukul 2 siang, saya dan istri pulang pake taksi yang ngetem di depan mall. Ada cerita unik juga di sini karena awalnya si petugas jaga di tempat tunggu taksi bilang tarif argo, tapi pas naik, supirnya nanya ke mana tujuannya, pas saya bilang Ibis Sathorn, dia nembak 100 THB, karena sebelumnya saya udah cek tarif grab sekitar 160 THB ya saya iyain aja. Eh pas di tengah jalan dia bilang klo dia salah ngira Ibis yang lain, jadi minta naik ke 150 THB. karena males debat ya saya iyain aja toh masih lebih rendah dari tarif Grab.

Sampai di hotel istirahat sebentar lalu sore nya kita ada rencana jelajah Platinum Fashion Mall buat cari baju-baju anak dan lanjut jalan di sekitaran Central World. Karena waktu itu hari minggu Sore, kita naik Grab dari hotel menuju ke Platinum. Selama di Bangkok, ada pengalaman unik naik grab, yang pertama kita pernah dapat Grab Ford Ranger dong, lalu yang kedua pernah dapat Mazda 3. Jadi di Bangkok itu taksi online nya bukan kaleng-kaleng mobilnya cem di Indo yang kalo ga Agya Ayla Sigra Calya family hehe.

Menuju ke Platinum Mall, ternyata kemacetan sudah mengular dan jalanan isinya orang semua. Maklum karena Platinum Fashion Mall itu letaknya di pusat kota Bangkok yang bersebelahan dengan Mall-mall terkenal lain kayak Centralworld, Siam Center, MBK Center. Yang uniknya beberapa mall ini tersambung sama skywalk gitu jadi orang-orang yang jalan kaki ngga perlu lewat trotoar yang isinya crowdeed sama kemacetan lalu lintas. Kemudian yang bikin amaze lagi di Bangkok itu orang-orang tumpah ruah semua di jalan, tapi anehnya semua moda transportasi juga penuh kayak BTS, MRT dan kendaraan pribadi.

Pemandangan depan Platinum Fashion Mall
Kesemrawutan persis seperti di Indonesia

Setelah cari baju anak di Platinum, saya dan istri jalan kaki menyusuri trotoar ke arah Siam Center. Sepanjang jalan, kami lihat jalur BTS sampai susun 2 tingkat dong saking crowded nya transportasi Bangkok. Udah gitu jalanan mobil di bawahnya juga macet dan crowded. Luar biasa. Masuk di Siam Center, ternyata orang banyak banget sampe pusing lihatnya. Istri saya aja sampai mau pingsan pas mau masuk ke stasiun BTS saking penuh nya sama orang yang lalu lalang. Bener-bener amazing.

Jalan raya dan 2 jalur BTS yang bertumpuk-tumpuk
Suasana di Stasiun BTS terramai di Minggu sore

Karena istri saya mabok dan mual-mual, maka kami istirahat sebentar di luar stasiun BTS buat ambil nafas dan duduk. Sekitar pukul 7, istri sudah baikan dan kita memutuskan untuk jalan ke JODD Fair, sebuah kawasan pasar malam yang isinya bar dan beberapa tempat makan gitu hasil dari nontonin video salah satu yutuber. Dari Siam naik BTS 3 stasiun lalu lanjut naik MRT yang kebetulan satu jalan dengan arah pulang ke hotel. Pengalaman di stasiun BTS yang supercrowded dan masuk ke kereta yang crowded bener-bener khas Bangkok dah.

Sesampainya di JODD Fair ternyata memang isinya food stall sama bar/cafe gitu. Ada beberapa food stall halal (muslim owned) tapi kebanyakan yang ngga ada label/keterangan halalnya sih. Vibes nya sih bagus ya tempat ini cuma sayangnya kursi-kursi yang ada ternyata udah reserved untuk pengunjung bar. Jadi klo kita duduk di tempat kosong gitu, bisa langsung diusir security.

Suasana malam di JODD Fair

Akhirnya kami milih untuk makan burger dan dimsum aja di tempat ini sebentar lalu memutuskan pulang sekitar pukul 9 malam waktu setempat. Karena udah capek, jadi ambil Grab aja dan kebetulan dapat mobil Innova yang disopirin emak-emak dong. Sampe di hotel langsung tidur karena besoknya akan pulang ke Indonesia.

Praktis, selama di Bangkok kami nggak berkesempatan naik tuktuk karena: ngga ada waktu, dan yang kedua, masih belum siap untuk terkaget-kaget dengan tarifnya dan metode nawar ke drivernya. Jadi next time aja deh naik Tuktuk.

Esok harinya, rencana awal kita mau jalan ke Lumphini Park, namun karena masih capek, akhirnya agendanya batal dan hanya leyeh-leyeh aja di hotel sampe jam checkout tiba. Belanja sarapan di Sevel, terus mager di kamar hotel tau-tau udah jam 11 siang. Akhirnya kami checkout dan pesen Grab untuk ke bandara Suvarnabhumi (BKK). Perjalanan ke BKK dari Hotel sekitar 45 menit, letak si bandara ini lebih jauh dari DMK, dan tarif toll ke sana sekitar 75 THB dibayar tunai. Sampai di BKK pukul 13, rupanya antrian di security check baggage dan imigrasi panjang banget. Baru bisa masuk gate di jam 14 waktu setempat sementara boarding pukul 14.45. Menjelang boarding ada pengumuman pesawat delay 30 menit karena kendala operasional. Akhirnya kami baru bisa boarding pukul 15.30 dan bisa naik ke pesawat.

Pengalaman perdana naik Thai Airways, dapat pesawat B787-Dreamliner dan duduk di kursi jendela. Overall, vibes nya Thai Airways bagus, interior dominasi warna ungu dan pesawat juga masih baru. Hiburan lengkap, dan menu makanan juga ok. Ada salah udang, dan pilihan makanannya nasi ayam Thailand dan pasta udang walau rasanya masih kalah dari menu makanan SQ. Perjalanan BKK-CGK makan waktu 3 jam 15 menit dan sampai di Jakarta sekitar jam 6 sore. Keluar airport jam 7 malam dan perjalanan ke Bangkok pun berakhir dan besoknya saya harus kerja lagi hehe.

Demikian sharing perjalanan ke Bangkok yang super singkat tapi berkesan ini. Kalau ditanya apakah tertarik untuk ke Bangkok lagi dengan anak-anak? nampaknya saya akan berpikir 2 kali deh, masih mending milih bawa anak-anak ke Singapura karena lebih ramah anak daripada ke Bangkok hehe.

Tapi impresi saya ke Bangkok: Kota yang hampir sama dengan Jakarta dari mulai kepadatan, kemacetan, hingar bingar, dan crowd nya, tapi satu tingkat lebih baik dalam hal keteraturan, transportasi publik dan fasilitas umum. Keren…

Singapore Trip 2022 Part 3 (End)

Part terakhir dari cerita pengalaman saya dan keluarga ke Singapur adalah mengenai 1 hari menginap di Jewel Changi Airport. Hari terakhir di Singapura, seperti biasa, diawali dengan perjalanan ke Laundromat jam 6 pagi waktu setempat. Setelah selesai mencuci baju, sarapan, dan mandi, kami jalan dari hotel ke Changi Airport sekitar pukul 10.00 agar tiba di sana dekat-dekat jam makan siang. Salah satu agenda sebelum pulang adalah mencicipi Halal Korean Food di salah satu area food court daerah Tampines. Tampines adalah daerah pemberhentian MRT paling ujung Timur Singapur. Letaknya ngga jauh dari Changi dan daerah ini seperti halnya Jurong East di Barat Singapur, adalah daerah permukiman padat di negara ini.

Sampai di airport pukul 11.30, kami langsung berjalan kaki dari MRT Terminal 3 ke Jewel. Sebetulnya, cara ke Jewel dari Terminal 3 itu ada 2, yang pertama adalah melalui connecting hallway, kita jalan kaki kurang lebih 5 menit. Rute jalan kaki nya full travelator tapi agak menanjak. Cara kedua adalah dengan naik SkyTrain dari Terminal 3 ke Terminal 1 kurang lebih 1.5 menit. Karena Jewel letaknya persis di sebelah Terminal 1, dan nggak begitu jauh juga dari Terminal 3. Setelah sampai di Terminal 1, jalan kaki sedikit turun ke basementnya (Arrival Hall).

Kalau jalan kaki kira-kira rutenya seperti ini

Kadang kita suka lihat Skytrain yang lewat di depan air terjun Jewel. Nah itu tuh SkyTrain yang dari arah T2 ke T1. Jadi kalau mau dapat pengalaman naik Skytrain lewat air terjun Jewel, naik trus aja sampai T2 lalu balik lagi ke T1.

SkyTrain dari T2 ke T1 atau sebaliknya melewati Jewel

Di Jewel ini, kami menginap di Yotel Air, sebuah hotel budget yang terletak di dalam Jewel tepatnya di lantai 4. Cara menuju hotel ini cukup mudah. dari Terminal 1 cukup naik lift saja sampai lantai 4 sampai di tempat paling pojok. Jadi Jewel ini punya 5 lantai ke atas dan 2 lantai ke bawah. Space utama nya adalah tempat air terjun nya dan 2 lantai di bawahnya adalah tempat penampungan air terjunnya. Sedangkan di lantai paling atas adalah tempat semua tourist attractionnya seperti Skynet, Glassbridge, Canopy Park, Butterfly Garden, dll.

Tipe kamar yang kami tinggali adalah kamar dengan jumlah kasur terbanyak yaitu 3 kasur yang terdiri dari 1 kasur queen yang bagian kepalanya bisa dinaikkan mirip kasur di rumah sakit dan 2 kasur tingkat ukuran single.

Ukuran kamar mungkin hanya 4×4 meter aja. Ngga begitu besar tapi punya kasur queen yang besar dan kasur tingkat. Ini bisa ditiduri oleh 3 orang dewasa dan 2 anak kecil. Jadi cocok untuk yang bawa anak lebih dari 1. Harga semalam waktu kami pesan sekitar 1.3 juta. Ukuran kamar mandinya pun ngga begitu besar tapi cukup nyaman lah.

Sayangnya, jam check in di Yotel Air ini adalah pukul 3 sore. Sedangkan saat itu jam 1 siang, mereka tidak punya fasilitas titip bagasi/luggage. Mungkin karena hotelnya kecil dan di Changi itu ada beberapa tempat penitipan luggage yang juga perlu tambahan pemasukan hehe. Jadilah kami turun lagi ke lantai dasar dekat arrival hall Terminal 1 untuk menuju tempat penitipan luggage. Jadi sistem titip koper di sini dikenai biaya charge 1 koli sebesar 10 SGD untuk 12 jam penitipan. Total 3 luggage kami dibanderol seharga 30 SGD (sekitar 450rb rupiah) padahal hanya dititip selama 2-3 jam aja sampai kami balik lagi ke Changi untuk cari makan. Bener-bener dah.

Setelah titip koper, target berikutnya adalah makan dan cari oleh-oleh makanan di sisa waktu sebelum pulang ini. Lalu kembali ke Jewel untuk foto-foto. Tujuan makan siang terakhir kali ini adalah Korean food. Ya karena dari awal tiba di SG kami udah coba makanan Italia, Turki, Singapore, tinggal resto korea halal yang belum didatangi. Akhirnya bermodalkan google dan situs havehalalwilltravel sampailah rekomendasi pilihan pada suatu resto hawker Korea halal yang bernama Seoul Sedap yang lokasinya di Tampines. Oia, saat terakhir ke SG, kami pernah coba makanan Korea halal (Budae Jigae) di Pasir Ris yang namanya Mukshidonna. Namun saat buka IG nya dan google, Muskhidonna rupanya udah ngga ngurus sertifikasi halal MUIS lagi. Jadi deh ngga bisa makan di sini.

Jadi lokasi Seoul Sedap yang dimaksud itu adalah di tempat yang namanya Tampines Round Market and Food Center. Letaknya nggak jauh dari stasiun MRT Tampines dan hanya naik bus 2 stasiun lalu jalan kaki 500meter dari halte terakhir. Penampakan nya di google map itu kira-kira seperti ini, terletak di Foodcourt dan lumayan terjangkau harganya.

Jadi ketika kita naik MRT dari Changi, rupanya mendung dan kita bergegas cari bus yang dimaksud. Singkat cerita setelah naik bus 2 halte dan jalan kaki sekitar 10 menit, sampailah di suatu tempat semacam pasar dan food court. Pasarnya sih bagus dan kayak pasar modern di Indo, tapi foodcourtnya mayoritas tutup karena mungkin masih siang. Nah kalau lihat google map, si Seoul Sedap ini letaknya di paling ujung foodcourt tersebut, bersatu dengan tennant-tennant moslem owned lain yang mungkin sengaja dikelompokkan pengelolanya.

Dan ternyata, begitu sampai di sana, tempatnya tutup dong. Saya tanya ke pedagang sekitar nya katanya sudah tutup dari beberapa minggu yang lalu. Yahhh… rugi bandar. Sudah jauh-jauh ke ujung SG tapi ternyata tutup. Akhirnya karena kita sudah pada lapar jadi kita beli makan dari kedai moslem owned aja. Kebetulan di sebelahnya ada pakcik Malaysia yang jualan noodle.

Dan ternyata di tengah-tengah saat kita makan, hujan turun dengan derasnya. Setelah selsai makan pun, hujan deras masih berlangsung dan kami terpaksa menunggu di tempat food court sambil belanja buah-buahan di bagian pasarnya. Awalnya sempat kepikiran mau naik taksi namun jalan dari lokasi saat ini ke tempat buat cegat taksi pun tidak ada atapnya dan sudah pasti kehujanan. Karena bawa troli, jadi ya terpaksa kita tunggu sampai hujan reda. Total waktu tunggu lebih dari 2 jam dan rasanya ngeselin banget hanya bisa duduk nunggu dan anak-anak pada kedinginan. Setelah hujan mulai reda dikit, kami pun nekat untuk jalan ke halte. Untungnya bawa 1 payung jadi anak2 masih bisa ditutup pakai payung.

Setelah naik bus kembali ke MRT Tampines, kami menuju Tampines Mall untuk membeli oleh-oleh berupa coklat, mie samyang dan mie-mie lain yang ngga dijual di Indo dan berbagai macam kacang-kacangan. Setelah dari Tampines Mall, kami kembali ke Changi naik MRT dan langsung menuju Jewel.

Sampai di Jewel, mulailah sesi foto-foto

Sayangnya karena sore itu kehujanan dan sudah terlalu lelah, jadi kurang bisa eksplor Jewel saat hari terang, jadi setelah foto-foto sebentar lalu kami naik ke hotel untuk mandi dan istirahat. Di jewel ini ada laser dan music show, namanya Rain Vortex setiap pukul 19.30 dan 20.30. Sementara semua wahana Jewel tutup pukul 21.00. Jadi 19.30 kami keluar hotel dan menyaksikan pertunjukan laser show dari lantai 3. Bagus banget, kira-kira seperti ini lah (credit to owner of video). Shownya berlangsung sekitar 5-8 menit.

Lalu pukul 19.45 malam kami makan malam di Monster Curry, food chain kare ala Jepang yang halal dan tersaji di piring super besar.Di sini ada paket/menu kare untuk anak-anak juga. Overall rasanya enak, namun memang agak pricey. Harga seporsi sekitar 13-20 SGD tergantung topping. Berlima kira-kira habis sekitar 80-an SGD.

Selepas makan pukul 20.30, karena masih ada waktu sampai pukul 21.00, kami coba ke bagian atas Jewel tempat atraksi-atraksi berada. Karena sudah mau tutup, hanya beberapa saja yang masih buka. Akhirnya setelah tanya sana-sini, kami putuskan untuk naik Manulife Skynet walking saja.

Manulife Skynet adalah wahana berjalan di atas tali-temali yang dibuat oleh sekelompok pembuat tali asal Perancis. Jadi mereka memilin dan merajut dan menghubungkan tali temali agar membentuk jaring raksasa yang bisa menampung dan dibebani banyak orang. Wahananya sendiri terdiri dari 2 yaitu walking (hanya untuk berjalan) dan bouncing (khusus melompat). Pintu masuknya berbeda dan tiketnya juga berbeda.

ini yang untuk walking
dan ini yang untuk bouncing

Kerapatan tali, kelandaian landscape dan bentuk keseluruhan lintasannya berbeda. Semua diwajibkan pakai sepatu, kalau tak punya sepatu, bisa sewa di tempat. Lintasan walking sedikit lebih sulit karena jarak anyaman tali nya lebar-lebar dan cukup sulit untuk berjalan di tali. Tapi tenang, mbak-mbak yang jaganya akan memandu kita dan mengajarkan bagaimana cara berjalan di tali.

Oia, skynet ini karena letaknya di paling atas Jewel, sehingga pemandangan bawahnya adalah Jewel secara umum (terutama mall lantai 4 dan lantai 3). Jadi kalau yang takut ketinggian akan kerasa mules dikit pas jalan di area yang langsung menghadap ke lantai 3.

Oia harga naik Skynet ini 13 SGD per orang. Jadi bertiga sekitar 420ribu rupiah.

Overall, pengalaman yang cukup seru karena anak saya juga suka. Karena waktu itu sudah mau tutup, jadinya si mbak nya ini berbaik hati merekam video pas kita jalan dan ambil beberapa foto yang cukup bagus. Next time lah harus menyempatkan 1 hari penuh di Jewel untuk jelajah semua wahananya. Bagus-bagus kalau lihat di yutub.

Jewel tutup pukul 21.00 dan kami pun pulang ke hotel di lantai 4. Setelah ganti baju, kami tidur dan besok pagi nya sekitar pukul 7.30 checkout dan menuju ke T3 untuk checkin pesawat yang menuju Jakarta dan boarding sekitar pukul 9.30. Penerbangan ke Jakarta lancar dan setiba di Jakarta pukul 11.00, ambil mobil di parkir inap dan bayar 380rb rupiah hehe. Setelah itu meneruskan perjalanan ke Bandung dan tiba di Bandung pukul 4 sore.

Pengalaman pertama ke Singapur bawa anak 2 ini berkesan sekali. Dengan segala keriweuhan dan keterbatasan, kami cukup menikmati dan merasakan pengalaman yang sangat menyenangkan. Next time kalau anak sudah agak gede lah baru mengunjungi negara ini lagi dengan tujuan wisata yang berbeda tentunya hehe.

Terima kasih.. see you in the next journey…

Singapore Trip 2022 Part 2

Hari Senin 23 Mei 2022, tepat hari ketiga di SG, kami sudah merencakan akan menghabiskan seharian di Sentosa Island, salah satu destinasi wisata favorit di sini. Seperti biasa, pagi hari dimulai dengan ritual mencuci di laundromat sejak pukul 6 pagi (pukul 5 pagi WIB) di mana langit masih gelap dan selesai pukul 7.30 pagi. Setelah selesai nyuci, tidak lupa mampir ke 7Eleven untuk membeli berbagai sarapan seperti roti tawar, sereal, mie cup, susu dan sandwich. Sedikit tips kalau ke Sevel, selalu perhatikan logo halal karena di SG itu semua logo halal terpampang jelas termasuk di mie cup, sandwich, dll.

Tujuan ke Sentosa hari ini adalah ke Skyline Luge, sebuah wahana bermain keluarga berupa seluncuran dari tempat yang tinggi ke tempat rendah menggunakan semacam 4-wheel motorbike(?) tanpa mesin. Kurang lebih kayak gambar di bawah ini.

Tiket untuk wahana ini sengaja nggak kami beli dulu via Klook karena masih belum tahu apakah anak kecil di bawah 3 tahun boleh naik atau bisa naik dengan didampingi/bersama ortu atau gimana. Karena masih gelap, jadi rancana akan goshow aja dulu. Berhubung semua wahana di Sentosa buka mulai pukul 11.00, maka kami pun berangkat dari hotel sekitar pukul 09.00 karena mau brunch di Kopitiam Foodcourt Vivo City dan makan Yang Tao Fu, makanan yang selalu kami beli setiap ke SG. Kopitiam Foodcourt itu salah satu sentra kuliner halal (Muslim owned) di Vivo City. Letaknya persis di exit MRT Stasiun CC (orange line) dan di dekat McD. Di sini terbagi 2 sektor yaitu sektor halal dan non halal. Jadi tidak perlu khawatir bercampurnya peralatan makan karena semua sudah dipisahkan oleh pengelola. Tampilan Kopitiam Foodcourt bisa dilihat di youtube ini. Semua yang halal menggunakan alat makan berwarna hijau.

Apa itu Yang Tao Fu? Yang tao fu adalah masakan cina peranakan SG yang seperti bakso tapi isiannya bisa kita pilih sesuka hati sesuai selera dan nanti tinggal dikasih kuah sama penjualnya. Kurleb seperti ini tampilan kedainya:

Setiap menu/pax dihargai sekian sen SGD. Kira-kira kalau kita ambil 1 sayuran dan 3 macam lauk, kisaran harganya 2-3 SGD (sekitar 30-45rb seporsi). Lumayan hemat di kantong lah. Rasa kuahnya pun gurih dan pas di lidah. Di sekitar tempat Yang tao Fu ini ada macam-macam makanan halal juga seperti Nasi Hainan, Bebek, Noodles, dll.

Setelah selesai makan, kamipun langsung menuju lantai 3 VivoCity untuk naik monorel ke Sentosa. Untuk menuju Skyline Luge, kita harus turun di Beach Station (stasiun terakhir) dan nanti dari situ keluar mengikuti garis pantai kira-kira 100m lalu akan ketemu Skyline Luge di sebelah kanan. Tempatnya akan sangat terlihat karena terpampang jelas logo Skyline Luge.

Setelah tanya ke front office, akhirnya kami putuskan hanya bertiga saja yang naik, saya, istri dan anak yang pertama. Harga tiketnya bervarisasi tergantung mau berapa kali naik, minimal 2 kali, maksimal 4 kali. Kami putuskan naik 2 kali saja dan harga per orangnya sekitar Rp 300rb per orang dewasa dan Rp 170rb untuk anak 3-12 tahun. Nah buat yang tanya kenapa ada tiket 2 kali, 3 kali dan 4 kali, jadi di sini tuh adalah wahana yang mirip dengan skying di gunung salju. Kita musti naik skylift yang hanya berupa kursi dan ada pegangannya ke puncak “gunung” kurang lebih 5 menitan. Dari situ kita meluncur dengan “motorbike” tanpa mesin dan rute nya terbagi jadi 4 yaitu Expedition, Jungle, Kupu-kupu dan Dragon. Konon untuk pemula disarankan ambil rute Kupu-Kupu dan Jungle Trail.

Berikut penampakannya:

dan ini ketika sudah di atas
Kira-kira tingginya skylift ini sekitar 30-an meter
Dan ini ketika meluncur

Lengkapnya momen pas meluncur bisa dilihat di youtube ini dan ini. Ada momen lucu saat anak saya kepelintir dan oleng karena lepas tangan. Naik ini susah-susah gampang, karena begitu narik tuas pas mau break, kalau kebanyakan malah jadinya berhenti total dan kalau sudah berhenti total, malah tambah susah untuk jalan lagi. Jadi sebelum meluncur, pastikan ikuti instruksi si petugasnya dulu nanti. Nah setelah 2 kali putaran riding, nanti kita bisa tebus foto dengan cara scan barcode yang ada di helm. Biaya untuk tebus 4 foto sekitar Rp 200.000.

Overall pengalaman yang sangat seru dan rasanya 2 kali naik masih kurang. Next time akan coba lagi ah ke Expedition Trail dan Dragon Trail. Beres dari Luge sekitar jam 1 siang, kami pun coba ke HeadRock VR Adventure di Sentosa, sebuah wahana permainan dengan VR (Virtual Reality). Sebetulnya dari Skyline Luge ke VR ini jalannya agak jauh dan ada bus gratis tiap 5 menit. Namun karena ingin explore, kami coba jalan kaki saja sekalian menyusuri pantai nya. Karena pantai selatan Sentosa ini menghadap ke arah Batam, jadi pemandangan pantainya ya apalagi kalau bukan kapal kontainer/tanker yang buang jangkar dan pulau industri hehe. Tapi herannya, tengah hari bolong, banyak bule-bule yang masih berjemur. Apa ngga kebakar ya kulitnya? Untungnya di sepanjang jalan itu banyak vending machine jadi masih bisa beli air minum karena cuaca panas dan tengah hari bolong. Kebetulan di Pantai Siloso nemu spot foto bagus jadi foto dulu deh walau tengah hari bolong.

Untuk menuju HeadRock VR, kita perlu cari jalan menuju ShangRi La resort. Nah di depan ShangRi La ini ada halte bus dan dia berdekatan dengan ticketing dan area cable car. Nanti dekat halte bus itu ada petunjuk menuju HeadRock VR dan Madame Tussaud (museum lilin), bisa coba tanya kasir 7Eleven di dekat Cable Car kalau ragu. Dulu saat di Jepang, saya pernah coba VR di Shinjuku dan sensainya benar-benar seru karena kita seolah benar-benar masuk di game nya secara virtual. Dulu di Shinjuku banyak pilihan game nya, tapi di HeadRock ini kalau ngga salah hanya 8 macem saja. Berikut harga tiketnya.

Jadi saya coba beli package yang PLAY3 untuk 3 orang, dan di sini, pengantar/yang ngga ikut maen, dikenai charge 5 SGD (hadeeh).. List game nya:

Kami pun coba Storm Blizzard, Extreme Train, Skyscrapper dan Zombie Buster. Oia, karena ini hari Senin dan jam 1 siang, jadi hanya kami aja yang ada di area ini. Jadi tanpa antri sama sekali. Storm Blizzard adalah simulasi dimana kita bertiga naik kereta salju dan ditarik sama serigala. Nanti di tengah-tengah permainan, kereta nya akan lewat jalur curam dan diserang badai salju. Kereta akan digoyang-goyang dan kipas angin super kenceng akan ditiup buat simulasikan badai salju.

Di extreme train, seolah-olah kita naik roller coaster tapi di tengah jalan, tracknya hilang dan kereta diombang-ambing sampai ke jurang hehe.

Kalau untuk skyscrapper dan zombie, standar aja sih, hanya nembak-nembakin musuh dan survival di atas gedung. Overall masih kalah jauh dari Shinjuku tapi masih fun lah. Oia, selain VR, di sini tuh ada Kids Interactive Zone nya, jadi semacam area bermain anak yang interaktif. Cocok untuk anak di bawah 5 tahun. Bisa cek di website nya.

Nggak kerasa, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 dan kami pun bergegas menuju stasiun monorel. Nggak lupa berfoto dulu di depan bola dunia.

Oh iya, ternyata sejak pandemi, USS (Universal Studio Singapore) hanya buka dari hari Jumat-Minggu aja dan tutup hari Senin-Rabu. Jadi pas kita ke sana, bola dunia yang biasa muter dan keluar kabut lagi mati dong hehe.

Kami tiba di hotel sekitar pukul 15.30 dan langsung mandi lalu tidur siang. Rencana sore/malam ini adalah kulineran di Restoran Turki halal di area Arab Street, Bugis, tepat di sebelah restoran Positanoristo yang kemarin. Nama resto nya adalah Cappadoccia Turkish and Mediterranian Resto. webnya di sini. Penampakan dari luar kira-kira seperti ini:

Penampakan di dalamnya seperti ini:

Di resto ini, semua pelayannya orang Turki asli, dan hebatnya mereka selalu mengucap salam (Assalamualaikum) dan bilang Bismillah sebelum melakukan sesuatu. Luar biasa. Di sini karena semua serba mahal, jadi kami pesan yang light saja : Adana Chicken Kebab, Pepperoni Pizza, Falafel Wrap dan dessernya adalah Kunafe dan Baklava.

Adana chiken kebab pada dasarnya adalah daging ayam yang dijadikan kebab dan tidak diwrap seperti kebab Babarafi. Dia beri Turkish salad dan dikasih Nasi briyani (?) dan ada cocolan mushroom sauce dan yoghurt khas Turki. Lumayan lah rasanya, lebih enak dari kebab yang di Indonesia. Salad nya pun segar karena ada perasan lemon nya

Adana Chiken Kebab

Untuk pizza pepperoni, standard lah ya. Yang zonk menurut saya Falafel ini. Saya pikir ini adalah kebab style daging sapi/kambing gitu taunya hummus dan semacam makanan vegetarian hehe.

Falafel Wrap

Yang juara tentu saja duo dessert yaitu Kunafe dan Baklava. Ingat kunafe/baklava pasti ingat era kue artis yang booming tahun 2015-an yang dipopulerkan Irfan Hakim sama Omesh dulu ya. Kalau saya bilang dua dessert ini memang juara sih. Sempat ada cerita lucu dimana kita selalu ketuker antara Kunafe dan Baklava. Coba tebak yang mana Kunafe dan mana Baklava?

Baklava itu semacam pastry yang di dalamnya ada saus karamel (?) atau susu yah? lalu dia ditaburi semacam matcha. Rasanya seperti kita makan kue pastry namun lembut. Kalau kunafe agak unik karena dia seperti roti jala atau kayak adonan bandros yang dari kelapa itu yang di panggang dibentuk bundar. Lalu disiram saus kelapa (santan) dan susu. Enak dan manis banget pokoknya.

Total berlima makan di resto ini habis sekitar 120-an SGD dengan menu di atas. Oia, seperti biasa, air minum di sini gratis yah, dan boleh refill hehe.

Hari keempat di SG, tepatnya hari Selasa kami akan coba sesuatu yang belum kesampaian selama ini yaitu naik The Original Duck Tour. Seperti biasa, memulai pagi hari dengan nyuci baju di Laundromat dan pulangnya beli sarapan di Sevel. Sekitar jam 9 pagi kami naik MRT dari dekat hotel dengan tujuan Esplanade keluar di exit A. Tempatnya persis di Suntec yang menghadap ke arah Nicoll Highway, bukan area tengah yang ada air mancur melingkar.

Kenapa dinamakan the original ducktours? mungkin karena banyak KW nya kali ya? Yang pasti website originalnya yang ini. Yang pasti harga Ducktours ini ngga murah sih, untuk dewasa di kisaran Rp 350rb dan untuk anak di Rp 280rb per orang. Jadi duck tours ini adalah bus amfibi yang dirancang seperti wujud bebek. Bus ini terbuka di bagian samping dan bentuknya kayak perahu yang dikasih roda. Nanti dari Suntec City dia akan menuju ke Sungai Kallang dan akan nyemplung ke air jadi perahu untuk keliling Singapore river dari Gardens by The Bay, Singapore Flyer, MBS sampai depan Merlion. Setelah itu dia akan naik lagi ke darat dan keliling area Downtown. Total perjalanan sekitar 1 jam dan cukup menyenangkan untuk anak-anak.

Sepanjang perjalanan ada tour guide yang akan cerita tentang sejarah bangunan/landmark dan beberapa funfact dari landmark yang dilewati, dan semuanya full englis (singlish sih tepatnya). Dari penjelasan tour guide, ternyata si bus ini umurnya sudah lebih dari 50 tahun dan masih bisa digunakan sampai sekarang. Agak-agak serem sih tapi ya di Singapur seharusnya regulasi nya ketat dan keselamatan diutamakan. Momen paling seru pas dari darat nyebur ke sungai, kalau duduk dekat jendela akan kena cipratan air sedikit.

Oia, di akhir perjalanan ada mandatory tip yang diminta oleh supir dan guide nya. ngga ada batasan sih minimal berapa, tapi 5 SGD atau 10SGD sudah oke lah menurut saya. Tips lain untuk naik Duck Tour ini, kalau naik di hari kerja, kayaknya oke aja kalau mau goshow dan langsung datang pas hari H. Tapi kalau weekend atau hari libur nasional, disarankan booking online via apps seperti Klook atau Traveloka supaya menghindari nunggu lama.

Selesai duck tours kira-kira pukul 11.30 siang. Dari situ karena sudah kepalang tanggung ada di area Marina Bay, kamipun jalan kaki menyusuri City Hall menuju ke Merlion Square. Tengah hari bolong jalan kaki dan foto di area Merlion merupakan pengalaman pertama hehe. Tapi herannya turis yang foto di situ tetap banyak.. Luar biasa.

Oia, sejak 2019, dari arah Esplanade ke Merlion Square sudah tidak perlu lewat trotoar pinggir jalan lagi, tapi sudah ada jembatan khusus pejalan kaki yang sengaja dibuat untuk akses ke sana.

Nah karena hari sudah siang dan kami belum makan siang, agenda berikutnya adalah menuju restoran seafood yang menyajikan chilli crab khas SG. Setelah googling sejak di Indonesia, pilihan jatuh kepada Home of Seafood yang dapat review bagus sebagai seafood resto halal di berbagai situs halal travel.

Home of Seafood, terletak di area Joo Chiat Road (Geylang) dan letaknya sudah deket ke Changi. Perjalanan dari depan hotel Fullerton ditempuh dengan 2 kali naik bus dan total 40 menitan. Lama sekali tapi ya karena sudah kepalang tanggung akhirnya kami jabanin. Setelah turun dari bus, ternyata masih harus jalan kaki 800m untuk sampai ke restonya.Restonya sendiri terletak di belokan dan yang unik, di jendela restonya terpajang foto ownernya yg berpose dengan public figure Singapura dan negara tetangga. Super narsis.

Itu kira-kira tampilan depan restonya, diambil dari google, isinya foto ownernya semua. Menunya semua ada, dari mulai kepiting, udang, cumi, aneka ikan hingga nasi gorang. Rasanya juara dan harganya juga juara. Baru kali ini saya order chilli crab yang seporsi dihargai 80 SGD atau 1 juta rupiah.. Gila..

Penampakan kepiting 1 jutaan

Total makan berlima dengan menu super komplit habis sekitar 187 SGD. Mahal sih tapi puas karena resto nya bagus adem dan bersih. Plus makanan diantar pakai robot pelayan kayak di Jepang gitu.

Sebranh resto ini ternyata ada halte bus yang langsung menuju Bugis Junction. Enak sekali karena kami cukup naik 1 kali saja untuk sampai di Bugis dan jalan kaki ke hotel dari sini. Selesai makan pukul 14.30 dan tiba di hotel pukul 15.30. Sampai di hotel langsung pada tepar dan tidur sore.

Karena besok kami akan pindah hotel ke Jewel Changi, maka malam itu kesempatan jalan2 terakhir sebelum pulang ke Indonesia. Tujuan akhir adalah ke Garden by The Bay (lagi) untum nonton pertunjukkan laser show. Jadwal laser show nya sendiri adalah di jam 19.45 dan 20.45. Sebetulnya ada 2 laser show berdekatan yaitu di Garden By the Bay dan di depan MBS. Hanya saja, selisihnya hanya terkait 15 menit. Show di MBS setiap pukul 19.30 dan 20.30. Jadi sebetulnya bisa aja nonton keduanya asal setelah 1 show selesai kita musti bergegas dan kayaknya sulit bawa anak-anak.

Sejak jam 6 sore kami sudah standby di depan MBS untuk foto-foto penampakan malam hari di Singapur yang penuh lampu-lampu gedung di Marina Bay area. Sayangnya anak saya yang besar sakit dan sepertinya masuk angin karena mengeluh pusing terus dari berangkat dari hotel. Mungkin sudah mencapai limit karena ini udah hari ke-4 di SG dan banyak aktifitas di luar ruangan. Jadinya dia tidur dan istirahat di pelataran MBS yang di dekat Louis Vuitton. Lumayan dapat tidur sekitar 30 menitan.

Sekitar pukul 19.30 kami jalan ke gardens by the bay via MBS lantai B1M. Pokoknya cari aja arah menuju MRT station pasti akan ketemu link nya.

Sambil menunggu show dimulai, seperti biasa cari makan malam di sini yang pilihan satu2 nya kala itu adalah McD. Seperti diprediksi, McD pun penuh menjelang dinner time.

Pertunjukkan laser dan music show (Super Tree Grove) dimulai pukul 20.30 dan selesai jam 20.45. Setelah menikmati show sambil ambil video, kami pun pulang menuju hotel karena besok akan checkout dan perlu istirahat cukup.

Bersambung Part 3 (Final)

Singapore Trip 2022 Part 1

Berhubung IHSG dan semua bursa dunia lagi merah membara, kayaknya lebih sehat untuk mental kalau mengurangi buka OLT (online trading apps) dan update blog mengenai pengalaman saya ke Singapura bulan Mei lalu.

Yes, berhubung covid sudah melandai baik di Indonesia maupun Singapura, Singapur sudah mulai melonggarkan kedatangan turis asing ke negaranya secara bertahap. Di akhir 2021, kalau saya ngga salah, pelonggaran pertama kali dilakukan Singapur dengan mengubah sistem karantina 5 hari menjadi PCR prior to departure dan PCR on arrival, sehingga turis Indonesia yang mau ke sana harus PCR di Indo H-2 sebelum berangkat dan PCR pas tiba di Changi lalu langsung menuju hotel untuk karantina 1 hari sampai hasil PCR nya keluar. Kebijakan ini tentunya berat buat turis yang datang dengan keluarga karena biaya PCR untuk 1 orang di indonesia = Rp 275rb dan di Singapur hampir Rp 1 juta sekali test. Belum lagi akhir 2021, masih berlaku kebijakan PCR prior to departure dan karantina 3-7 hari di Indonesia yang bikin cost untuk travel jadi bengkak untuk PCR dan hotel karantina.

Di bulan Januari 2022, Singapur kembali melonggarkan aturan dengan mengganti PCR on arrival dengan ART (Antigen Rapid Test) on arrival. Turis langsung di ART dan hasilnya akan keluar dalam 1 jam. Jika non-reactive maka sudah bebas jalan-jalan ke kota. Namun PCR prior to departure masih berlaku. Sementara Indonesia di Januari juga sudah menghapus karantina dengan mengganti menjadi PCR pre-departure di negara asal dan PCR on arrival di Jakarta. Tapi tetap aja cost yang harus dikeluarkan tetap tinggi karena kita perlu anggarkan ART singapur kurleb SGD 15 per orang, PCR pre-departure Jakarta dan on arrival Jakarta masing-masing Rp 275rb dan PCR pre-departure di Singapur sekitar SGD 95 per orang hehe.

Kemudian di Bulan April 2022, game changer terjadi, Singapur menghapus semua requirement PCR pre-departure dan ART on arrival. Semua turis dibebaskan masuk Singapur tanpa syarat test dan hanya cukup vaksin lengkap (dua dosis). Hal ini langsung disambut baik semua WNI yang sudah “gatal” pingin main ke SG karena praktis sudah hampir 2 tahun tutup border. Dengan aturan baru ini, modal kita hanya perlu nambah PCR pre-departure di Singapura sebelum pulang ke Indo dan PCR on arrival di Jakarta. Kurang lebih hanya SGD 95 + Rp 275rb per orang.

Karena alasan inilah, saya dan istri memutuskan untuk langsung hunting tiket di bulan April untuk keberangkatan di minggu ketiga Mei saat yang lain sudah selesai cuti Lebaran. Ngga disangka, ternyata hunting tiket berhasil. Karena saya dan istri masih ragu untuk pergi berdua dengan bawa 1 bocah 6 tahun dan 1 balita, akhirnya kami ajak ibu saya untuk ikut. Dan dapatlah hasil hunting tiket Singapore Airlines CGK-SIN p.p. untuk 5 orang seharga Rp 18 juta. Kalau dihitung per orangnya sekitar Rp 3 jutaan. Untungnya biaya tiket ini keganti dari dividen dari saham batubara di 2022 ini hehe.

Tiket sudah, berikutnya adalah hunting penginapan. Biasanya kalau saya ke SG selama periode 2016-2018, saya selalu menginap di apartement milik kakak ipar yang kebetulan sedang PhD dan kerja di sana. Namun per 2019 lalu, beliau sudah lulus dan bekerja di salah satu universitas swasta di Jakarta, jadi no more freestay lagi hehe. Awalnya karena tiga dewasa dan 2 anak kecil, saya mau coba cari apartment di AirBNB, namun ternyata mungkin karena sempat hancur karena pandemi, nyaris jarang sekali apartment proper harga bersahabat di AirBNB untuk periode ini. Akhirnya pilihan jatuh ke Hotel Summerview di area Bencoolen (Rochor MRT Station) yang saya pilih karena ada kamar untuk 3 single bed dan pas di tengah kota (Bugis Area).

Penampakan hotelnya sendiri kurleb seperti gambar di atas. Tepat di sebelah jalan utama. Saya cek untuk kamar dengan 2 queen size bed dan 1 single bed, dipatok harga sekitar Rp 1.3 juta per malam (tanpa sarapan), dan kami rencana menginap di sini 4 hari dan 5 hari wisata ke Singapur. Karena kami ada misi untuk ke Jewel, jadi di H-1 sebelum pulang nanti akan menginap di Hotel Yotel Air yang letaknya di Jewel. Hotel ini termasuk hotel backpacker dan dia punya 1 kamar dengan 1 queen size bed dan 1 kasur tingkat yang muat untuk 4 orang dewasa. Harganya pun cukup ramah di kantong, Rp 1.3 juta per malam.

Setelah hotel dan tiket pesawat settle, disusunlah rencana untuk spot-spot apa aja yang bakal dieksplor selama di sana. Berhubung hampir semua spot mainstream sudah pernah saya dan istri kunjungi, kali ini kami ingin sesuatu yang beda. Akhirnya pilihan jatuh ke coba SkyLuge, DuckTour, ke Garden by The Bay lagi (plus Floral Fantasy) dan kuliner ke spot-spot kuliner halal di sana. Awalnya ingin nyoba ke pantai dan eksplor hal lain, tapi mengingat akan repot karena bawa balita, akhirnya rencananya terpaksa dibatasi.

Setelah semua agenda disusun, H-5 keberangkatan, saya mulai cari info bagaimana cara mengisi SG Arrival Card (SGA). Sejak pandemi dan pembukaan border, Singapur mewajibkan semua turis untuk mengisi form SGA online antara H-3 sampai H-1 keberangkatan. SGA ini untuk menggantikan form embarkasi (kertas warna putih) yang suka dibagikan di pesawat sebelum pandemi dulu. Caranya mudah sekali, tinggal ngikuti petunjuk di web ini Dan udah banyak juga tutorial di yutub tentang cara ngisinya. Silakan disearch saja di yutub ya.

Hasilnya nanti kita akan dapat email seperti ini yang berarti sudah approved untuk masuk ke Singapur.

notifikasi SG arrival card ke email

Intinya SGA ini akan membuat antrian di imigrasi di Changi nanti jadi sangat minimal karena data di paspor kita sudah embed ke SGA yang sudah kita isi. Proses checking di bandara Soetta hanya dilakukan dengan cara mengecek sertifikat vaksin saja. Kalau itu OK, tiket kita akan dicetak oleh pihak maskapai dan pihak imigrasi di Soetta akan langsung cap paspor tanpa banyak tanya lagi.

Saya putuskan untuk bawa mobil pribadi dari Bandung dan pakai parkir inap di Bandara Soetta. Sempat cari info kalau di Soetta itu ada lokasi parkir inap yang letaknya di terminal 1 dan 2 (di mana harganya mahal banget) dan yang lebih murah di luar Terminal yaitu di area gedung depan stasiun KA bandara, gedung 600 dan juga area Soewarna yang harganya lebih murah.

Saya putuskan untuk parkir di area non terminal saja dan dari pengamatan di google map, sepertinya lebih enak parkir di Gedung 600 karena tinggal nyebrang langsung ke Terminal 1 dan dari situ bisa naik bus shuttle ke Terminal 3. Lokasi nya persis di google map ini. Simulasi yang saya lakukan, jika tarif parkir 80rb hari pertama dan 60rb hari berikutnya, maka 5 hari parkir akan menghabiskan biaya sekitar 360-380rb rupiah. Cukup mahal sih, namun worth it kalau bawa balita agar ngga ribet di kendaraan umum saat berangkat dan pulangnya nanti.

Karena keberangkatan pesawat pukul 07.55 WIB, kami berangkat dari Bandung pukul 02.30 WIB. Masih ngantuk sih, tapi ya mau gimana lagi namanya juga cari tiket murah hehe.. Yang penting bawa bekel kopi pait sama permen kopiko aja buat di sepanjang jalan. Tiba di Jakarta pukul 05.00 WIB, proses checkin pun terbilang lancar dan sudah menunggu di gate sebelum pukul 06.00 WIB. Padahal sudah datang kepagian, tapi ternyata pesawat nya delay 1 jam.

Setelah menunggu sampai pukul 08.30 WIB, akhirnya semua penumpang dipanggil untuk masuk pesawat. Surprisingly, pesawat SQ yang saya naikin waktu itu full. Begitupun dengan penerbangan lain seperti Air Asia, JetStar, Garuda yang tujuan Singapur, semua full booked. Luar biasa antusiasme WNI untuk berkunjung ke SG setelah 2 tahun lebih puasa hehe.

Yang sudah dibayangkan adalah anak-anak heboh dan ngga bisa diatur di dalam pesawat, tapi ternyata anak saya yang kecil malah langsung tidur pas pesawat selesai takeoff dan baru bangun menjelang landing hehe. Anak saya yang pertama juga anteng nonton acara tv di layar.

Ada yang berbeda kali ini, inflight menu yang biasa disajikan dalam nampan dan dengan peralatan lengkap sebelum pandemi, kali ini hanya disajikan dalam kotak karton ukuran kecil (mungkin 10×10 cm) namun isinya sangat padat dan mengenyangkan. Saya lupa ambil foto namun nemu di google berikut kira-kira penampakannya

Walau kelihatan kecil, tapi isinya padat sekali. Waktu itu yang disajikan menu breakfast seperti omelet, include bake bean dan kentang, dan nasi lemak. Disajikan dengan sendok garpu kayu plus yoghurt sebagai pelengkap. Enaknya dengan wadah ini, penumpang yang masih takut makan di pesawat bisa bawa pulang dan makan sampai di tujuan nanti. Praktis anti ribet. Dari segi rasa pun ngga berkurang sama sekali. Tetap enak khas SQ.

Penerbangan 1 jam 20 menit singkat sekali, jadi jika kita bawa anak kecil, pramugari SQ akan mendahului pemberian kotak makan untuk anak-anak karena mereka kan makannya relatif lama. Habis semua anak dibagikan, baru mereka mulai keliling. Setiap penerbangan ke Singapur dari Jakarta, saya hitung, kita hanya punya waktu bersih 15 menit untuk makan sampai Pramugari akan ambil sisa makanan untuk dibuang. Sangat singkat, jadi ya makannya agak buru-buru.

Setiba di Changi, ternyata keramaian di Changi jauh berkurang dibanding pra-pandemi. Terminal arrival ngga begitu penuh tapi ya bisa ketahuan kalau mostly di Terminal itu isinya banyak orang indonesia sih hehe. Karena sudah ngisi SGA di Indonesia, begitu sampai di Imigrasi, mereka hanya cocokkan data paspor saja dan kita hanya diminta cap jempol dan foto. Saya hitung di imigrasi hanya perlu 30-60 detik saja.

Keluar dari Imigrasi, seperti biasa, ritual kalau bawa anak kecil adalah: ganti popok, ganti baju dan makan dulu. Waktu masih menunjukkan pukul 11.00 LT, masih 4 jam dari jam check-in pukul 15.00. Jadi masih banyak waktu untuk bersantai di Changi. Saya pun langsung mengambil SIM Card yang sudah dibeli dari Indonesia di counter UOB terdekat. Harga SIM Card StarHub 100GB untuk 14 hari kurang lebih Rp 114 ribu rupiah. Cukup lah rasanya untuk tethering dengan hp istri selama 5 hari di sana.

Setelah semua perlengkapan siap, seperti yang sudah-sudah, kami naik MRT dari Changi menuju stasiun Bugis (jalur hijau), lalu interchange ke jalur biru hanya 1 stasiun untuk turun di Rochor. Terakhir ke SG 4 tahun lalu, jalur MRT nya makin banyak, jalur Downtown (biru) sudah kumplit dan sekarang sudah dibangun jalur coklat, yang sepertinya akan kumplit di 2023-2024 nanti. Luar biasa pembangunan di SG

Karena naik MRT pas tengah hari bolong (sekitar jam 12) MRT pun tidak sepadat jam sibuk. Relatif longgar dan dapat tempat duduk. Oia, karena bawa bocah, dan mengingat di SG itu kemana-mana harus jalan kaki, gear yang kami bawa ke SG pun lumayan reliable. Yaitu 1 buah trike (yang foldable dan handy) untuk anak saya yang besar (6 tahun) dan 1 buah stroller foldable untuk anak saya yang 2 tahun.

Untuk trike, kami punya sendiri, tapi kalau foldable stroller cukup sewa saja selama 1 minggu sekitar Rp 150-200rb dan banyak tempat penyewaan secara online di kota Bandung. Dua peralatan ini sangat sangat membantu karena perjalanan tetap bisa dilakukan ketika anak mengantuk ataupun rewel karena ngga mau jalan kaki.

Perjalanan naik MRT dari Changi Airport sampai ke Rochor kira-kira sekitar 30 menit karena harus 1 kali ganti jalur di Bugis (pindah dari jalur hijau ke biru). Keluar di stasiun Rochor, jarak ke hotelnya hanya 2 menit jalan kaki sekitar 300-an meter. Saat jalan kaki saya lihat lokasi hotel nya sangat strategis, tepat di Beencoolen road, bersebelahan Burlington dan Simlim Square di mana banyak tempat makanan (BurgerKing, Subway) dan ada dua 7Eleven di sebrang jalan. Tidak lupa, livesaver di SG adalah vending machine dimana kita bisa beli Dassani (Aqua) ukuran 600mL seharga 1 SGD (ini harga 1 SGD sejak dulu kala rasanya, dari pertama saya ke SG tahun 2011).

Sampai di hotel, ternyata proses check-in tidak mulus, karena awalnya kami sudah pesan 1 kamar dengan 3 single bed di hotel ini, ternyata begitu check-in pesanan kamar tidak bisa dilanjutkan karena berdasarkan regulasi di SG, 1 kamar hotel hanya bisa ditempati oleh 1 orang anak haha.

Kamar triple room yang awalnya dipesan

Kami pun bingung karena pemesanan tidak bisa dibatalkan dan direfund. Ternyata resepsionisnya pun menawarkan upgrade ke kamar family room yang paling besar yang terdiri dari 2 queen bed. Dan ternyata bukan gratis dong, tapi harus nambah sekitar 100SGD per malam.. Busett.. Jadi pelajaran berarti kalau ke SG bawa >1 anak kecil umur di bawah 11 tahun, harus pesan minimal 2 kamar. Proses checkin juga tergolong lambat karena musti nunjukin lagi sertifikat vaksin dan paspor. Padahal kan kalau sudah mendarat di SG artinya sudah diakui kalau punya sertifikat vaksin ya.. Proses checkin sekitar 15 menit dan setelah itu kami boleh langsung masuk kamar karena kamarnya kosong.

Sayangnya saya lupa ambil foto detil kamarnya jadi cuma bisa nyomot dari google aja. Tapi kamarnya tuh luas banget, sekitar 6×6 meter mungkin dan letaknya di pojokan dekat tangga darurat. Kamarnya di lantai 3 dan ada jendelanya yang menghadap ke bagian belakang hotel. Kamar mandinya dipisah antara yang untuk mandi, dan untuk buang air. Tips berikutnya kalau pergi ke SG adalah selalu bawa alat cebok (semprotan) atau beli aqua yang ukuran 1.5L setelah diminum, botolnya ditaruh di kamar mandi untuk cebok. Karena hampir 100% kamar mandi di hotel di SG kamar mandi kering tanpa cebokan air wkwk.

Karena sudah terlalu lelah perjalanan dini hari dari Bandung, kami semua pun langsung tidur siang dan bangun sekitar pukul 17.00 untuk jalan-jalan. Oia, karena di trip kali ini saya cukup banyak riset mengenai tempat-tempat kuliner halal yang unik-unik, maka setiap makan malam, kami akan coba kulineran ke resto-resto halal di SG.

Destinasi wisata kuliner di hari pertama ini adalah resto Italia halal di SG yang namanya positanoristo. Seperti diketahui, di SG itu tingkatan resto halal dibagi-bagi menjadi 3 kategori yaitu : 1.vegetarian/vegan menu, ini sebetulnya tidak bisa disebut halal, tapi dia menyediakan menu vegetarian yang bisa dinikmati muslim. Hanya saja ya kita tidak bisa jamin bahwa alat masak dan alat makannya tidak dicampur dengan menu non halal. 2. Muslim owned, resto ini tidak disertifikasi halal, namun penjualnya adalah orang beragama Islam (biasanya melayu), dan cukup aman makan di resto yang muslim owned karena kecil kemungkinan mereka kasih kandungan non halal. 3. Halal certified, nah kalau yang ini yang betul-betul disertifikasi sama MUIS dan biasanya sertifikatnya ditempel di depan kaca resto. Konsekuensinya ya harga makanannya lebih mahal dari yang muslim owned. Trivia dikit, di SG itu semua fast food chain (BK, Pizzahut, McD, KFC, you name it) semua sudah certified MUIS. Jadi kalau ngga mau repot ya tiap hari makan fastfood di sana dijamin halal hehe.

Nah biasanya resto-resto halal yang tematik kayak Positano ini terkonsentrasi di daerah Arab Street, Bugis karena disinilah banyak perkampungan melayu Singapore dan destinasi penginapan murah untuk turis-turis Indonesia dan Malaysia.

Untuk menghindari antrian/keramaian saat makan di sana, saya pun coba reservasi via websitenya, dan memang saya sengaja pilih yang jam 17.00 di mana seharusnya belum banyak keramaian karena Singaporean itu biasanya dinner di atas jam 19.00. betul saja, sampai sana, masih sepi dan kami bisa dapat duduk di lantai 2 kursi untuk 6 orang. Sebagaimana resto full course, menunya beragam dari appetizer sampai dessert. Karena ini resto Italia, menu khasnya adalah lobster, berbagai pasta dan pizza. Cuma ya, karena dia kelasnya restoran, jadi harganya ngga ada yang murah di kantong ey, per menunya kira-kira kalau di rupiah-kan berkisar antara Rp 150-200 ribuan. Bikin jebol kantong.

Karena anak-anak sudah makan sereal dan kue yang dibawa dari Indonesia di hotel tadi, akhirnya kami pesan menu yang bisa dimakan ramai-ramai seperti Mozarella cheede balls, Margherita, Wild Mushroom Linguine, Mac & Cheese buat bocah, dan Amalfi Grilled Chicken. Seperti halnya di negara maju lainnya, air putih disediakan secara gratis dan bisa refill tanpa limit hehe.

Total berlima habis 112 SGD, lumayan juga untuk ukuran resto halal. Dari menu yang disajikan, saya kasih nilai 7.5/10 buat rasanya. Proses pembuatan menu juga ngga terlalu lama jadi terhitung cepat untuk ukuran resto full course. Mulai makan pukul 17.30, jam 18.15 kami sudah selesai dan orang-orang mulai berdatangan untuk dinner. Jadi ya pas sekali kalau mau menghindari peak hours.

Setelah makan, kami jalan kaki ke stasiun MRT Bugis untuk menuju Orchard karena istri saya rencana mau ketemu teman SMA nya di sana. Perut kenyang jalan pun rasanya malas ya. Perjalanan ke Orchard kira-kira 10 menitan dan titik ketemuannya memang di depan ION jadi keluar dari stasiun MRT langsung ke titik ketemu. Di Orchard hanya sekitar 30 menit karena hanya ngobrol-ngobrol, foto-foto dan makan 1 dollar ice cream. Selesai foto-foto, karena sudah mengantuk, akhirnya pamit pulang menuju hotel.

Karena cuaca Singapura itu humid dan panas, maka tips berikutnya ke sini adalah harus sering-sering cuci baju. Nah, karena cuci baju di hotel itu mahal, jadi lifesaver selama di SG adalah laundromat alias laundry coin self service. Di dekat hotel tempat kami menginap, ada 2 laundromat dengan jarak kira-kira 600an meter (10 menit jalan kaki) dan buka selama 24 jam. Jadi sebetulnya kami cuma bawa kira-kira 5 stel baju masing-masing untuk 5 hari. Tapi sehari itu kita bisa ganti baju sebanyak 2 kali minimal karena pulang hotel baju udah basah kuyup kena keringat hehe.

Bangun pagi hari kedua, jam 6 waktu setempat (yg mana itu kayak jam 5 subuh WIB), saya udah keluar dari hotel bawa kresek besar untuk nyuci baju di laundromat. Nama laundromat nya adalah LittleIndia, yang unik dari Laundry coin self service ini menurut saya adalah: tidak nampak penjaga alias fully CCTV operated, ada mesin penukar koin 1SGD, dia bisa nerima uang kertas pecahan 2, 5 dan 10 SGD, jadi jangan khawatir kalau kita ngga punya uang koin, disini udah ada mesin penukar otomatisnya. Mesin cuci dan pengeringnya terpisah. Kita bisa pilih yang ukuran 6kg atau yang 12 atau 14kg. Mesin cuci ukuran 6kg punya 2 macam tarif, yaitu cuci deterjen (3SGD per 30 menit) dan deterjen+pelembut (4 SGD per 30 menit). Mesin cuci ukuran 12 kg, tarifnya 5 dan 6 SGD untuk varian deterjen only dan deterjen+pelembut. Mesin pengering ukuran 6kg punya tarif 1SGD per 10 menit, sedangkan mesin pengering ukuran ukuran 14 kg, tarifnya 1SGD per 5 menit. Tips berikutnya adalah supaya cucian kering maksimal, waktu pengeringan yang optimal adalah 60 menit alias 6 SGD untuk ukuran mesin cuci 6 kg. Artinya untuk nyuci 6kg baju, kita perlu sekitar 9-10 SGD sampai baju kering. Lumayan mahal ya, sekitar 20rb per kilo tanpa sertika lagi.

Setelah masukkan baju kotor ke mesin cuci, saya tungguin dulu karena hanya 30 menit. Nah setelah cuci selesai dan masukkan ke pengering, saya tinggalin dulu ke hotel karena perlu waktu 1 jam sampai kering betul. Dan karena ini SG, jadi kalau kita tinggalin pun ngga perlu khawatir akan ada yang nyolong bajunya hehe.

Di hari kedua ini, tujuan kami adalah Garden by the Bay karena ingin lihat kembali duo Cloud Forest-Flower Dome dan ada tujuan wisata baru di sana yaitu Floral Fantasy. Untuk tiketnya sendiri saya sudah book sejak di Indonesia melalui aplikasi Klook. Klook ini langganan saya kalau mau jalan-jalan ke LN, karena sejak 2018, saya sering beli tiket USJ, Tokyo DisneySea, JR Pass, berbagai wahana wisata di HK, dan Singapore dengan rate rupiah dan lebih murah dikit dari harga website resminya.

Harga tiket masuk ke Flower Dome + Cloud Forest per orang sekitar Rp 400 ribuan (anak di bawah 3 tahun gratis). Sudah naik dikit sejak terakhir ke SG tahun 2019 dulu masih sekitar Rp 380 ribuan. Sedangkan tiket ke Floral Fantasy nya sekitar Rp 170 ribuan.

Untuk berangkat ke sini dari penjuru SG cukup mudah, cukup naik MRT lalu turun di stasiun Bayfront. Stasiun ini sudah interchange antara jalur CC (Circle Line) dan jalur DT (DownTown Line). Pilih pintu exit ke arah Garden by The Bay. Sebetulnya bisa juga kalau kita mau lihat-lihat Marina Bay Sands (MBS), tinggal pilih pintu exit Marina Bay (jalur CC dan jalur NSL/merah) lalu jalan dari MBS ke lantai B1 dan ikuti arah ke stasiun Bayfront.

Keluar dari pintu exit stasiun Bayfront arah Gardens by The Bay, sebetulnya kita akan langsung ketemu Floral Fantasy. Cuma karena tempatnya agak-agak nyempil jadi pengunjung kurang sadar dan banyak yang nyangka Floral Fantasy ada di dekat-dekat Flower Dome atau Cloud Forest.

Floral Fantasy, sesuai namanya, tempatnya isinya bunga-bunga hidup yang didekor sedemikian rupa yang bikin daya tarik pengunjung yang ke sini. Bunga-bunga nya adalah bunga dari seluruh penjuru dunia dan seperti di Flower Dome, ruangan ini full AC dan punya dinding dan atap kaca untuk sinar matahari masuk.

Keren banget lah pokoknya. Rp 170rb untuk masuk sini per orang tanpa batas waktu, memang worth it.

Nah, dari Floral Fantasy yang letaknya dekat dengan pintu keluar stasiun MRT, untuk menuju ke Garden by The Bays tempat Cloud Forest, Flower Dome dan Sky Tree, kita perlu jalan kaki sekitar 500-an meter melintasi danau via jembatan di sana. Di tengah hari bolong di cuaca SG yang saat itu sekitar 32 derajat celcius, sangat disarankan bawa payung agar tidak terlalu kepanasan.

Pemandangan yang saya lihat berbeda di area SkyTree adalah, tempat makan favorit saya kalau ke sini (Texas Chicken) dan resto-resto lain di area sekitar SkyTree sudah hilang. Mungkin karena dihantam pandemi atau memang lagi mau direnovasi. Artinya, tempat makan halal di area ini hanya tinggal Mc Donald aja. Dan ngga heran kalau McD di sini selalu penuh dan antri, apalagi pas jam makan siang/malam.

Karena kita sudah order tiket via online (Klook) tidak perlu ke counter ticket di sana, tinggal tunjukkan barcode saja ke petugas di pintu masuk dan langsung bisa masuk. Bagi saya sendiri, ini sudah kali ketiga masuk ke Flower Dome dan Cloud Forest. Nothing changed much sih, tapi tetep seru apalagi pertama kalinya ngajak dua anak ke sini.

Seperti biasa, yang pertama didatangi adalah Flower Dome. Sesuai namanya, tempat ini adalah kubah/green house raksasa yang diberi AC dan di dalamnya terdapat hampir semua jenis tanaman (terutama bunga) dari seluruh penjuru dunia. Kalau kita masuk ke dalamnya, dia terbagi-bagi jadi beberapa segmen sesuai dengan wilayahnya. Dari mulai Mediterranian, Australia, Afrika, Amerika Latin, Asia, dll. Tempatnya terdiri dari 2 lantai dan di bagian lantai dasar tepat di tengah-tengah ada bunga-bunga cantik yang biasanya jadi tema untuk bulan-bulan tertentu. Kali ini temanya adalah bunga mawar.

Kalau mau santai lihat-lihat semua bunga dan foto-foto, perlu waktu sekitar 1.5 jam untuk dihabiskan di sini. Karena masih pandemi, di penjuru Flower Dome ada petugas rompi merah yang berjaga-jaga untuk menegur pengunjung yang lepas masker ketika foto. Jadi ya kalau ada yang dapat foto tanpa masker berarti curi-curi menghindari petugasnya.

Setelah puas di Flower Dome, tujuan berikutnya adalah Cloud Forest. Sesuai namanya, di sini adalah dome raksasa ber-AC tempat tanaman-tanaman hutan hujan tropis dari seluruh penjuru dunia dipelihara. Daya tarik utama tempat ini adalah Giant Waterfall dan juga jembatan gantung yang menyusuri tiap lantai Cloud Forest.

Dan kebetulan di sana lagi ada Orchid Festival juga, jadi berkesempatan lihat Anggrek-anggrek bagus yang lagi dipajang di sana.

Sama seperti Flower Dome, kira-kira di tempat ini kita akan menghabiskan waktu 1-1,5 jam. Tips ke sini adalah setelah foto di Giant Waterfall dan lihat semua tanaman di lantai dasar, naik lift sampai ke lantai paling atas dan naik tangga lagi menuju Secret Garden. setelah itu turun menyusuri jembatan gantung sampai ke lantai bawah. Dan di lantai bawah nanti akan ada eskalator menuju ruang video dokumenter kenaikan suhu bumi 4 derajat. Setelah nonton video itu, keluar lewat pintu exit dan kita akan melihat 1 taman lagi yang isinya tanaman dan hewan-hewan kecil di hutan hujan tropis dan kalau beruntung nanti akan ada kabut-kabut tebal yang menyelimuti taman ini persis seperti di hutan hujan tropis.

Setelah hampir 4 jam mengelilingi Floral Fantasy, Cloud Forest dan Flower Dome, kami pun cari makan siang di tempat ini. Seperti yang saya bilang sebelumnya, setelah tutupnya Texas Chicken, praktis di sini resto halal fast food hanya tinggal Mc Donalds. Dan McD nya ini setiap jam makan siang rame nya luar biasa. Karena di dalam penuh, kami pun memutuskan makan di luar di bawah SkyTree sambil lihat-lihat pemandangan. Ternyata di area ini juga banyak orang-orang India yang makan-makan sambil gelar karpet.

Setelah puas jalan-jalan di sini, kami pun pulang kembali ke hotel untuk tidur sore. Maklum cuaca panas, jalan kaki yang jauh dan bawa anak-anak menguras tenaga dan emosi. Lumayan, sampai hotel masih jam 3 sore dan sempat mandi dan tidur sekitar 1-2 jam. Sore harinya kami cari oleh-oleh di Bugis dan Chinatown sebelum kembali ke hotel sekitar jam 9 malam.

Ada cerita lucu saat cari oleh-oleh di Bugis karena anak saya tiba-tiba ingin BAB. Dan kami pun sibuk cari toilet di mall terdekat. dan karena waktu itu nggak bawa alat cebok, akhirnya beli dulu air mineral di 7Eleven dan cebok pakai air mineral itu. Pelajaran berharga kalau ke LN bawa anak kecil adalah untuk selalu membawa alat cebok karena anak kecil sulit diprediksi hehe…

Sampai jumpa di part 2…

Hong Kong Trip 2018 Part 1

Agak terlambat sebetulnya, tapi saya coba share sedikit pengalaman jalan-jalan dengan keluarga ke negara/kota yang terkenal sebagai surga belanja orang-orang Indonesia yaitu Hong Kong.

Ini merupakan pengalaman kedua saya ke Hong Kong. Sebelumnya, di tahun 2014, saya pernah ke sini dalam rangka tugas perusahaan. Negara atau teritorial administratif Hong Kong terletak di selatan negara Tiongkok. Hong Kong (HK) terdiri dari 2 area yaitu Kowloon yang berbatasan langsung dengan Tiongkok dan Hong Kong Island yang dipisahkan oleh laut/selat sekitar 1 kilometer jaraknya.

Awalnya sebelum memutuskan pergi ke HK hanya impulsif saja dari pencarian tiket-tiket murah di traveloka. Di bulan Desember 2017, saya iseng melakukan pencarian ke negara non-visa untuk jatah cuti di tahun 2018, begitu mencari HK, saya lihat tiketnya sedang promo luar biasa. Malindo Air, perusahaan patungan antara Lion dengan perusahaan Malaysia, menawarkan tiket super murah karena dia baru buka rute dari KL ke HK. Harganya hanya IDR 3,7 juta saja untuk sekali jalan untuk 3 dewasa dan 1 anak >2 tahun. Kalau dibagi rata, per orang hanya 900rb saja! Lebih murah dari penerbangan Bandung-Balikpapan hehe.

Tiket 1 kali jalan ke HK pakai Malindo Air untuk 3 dewasa dan 1 anak (transit KL)

Pulangnya, saya menggunakan Scoot (anak nya Singapore Airlines) karena berencana mampir Singapore dulu mengunjungi saudara di sana. Namun harga tiket 1 kali jalan dari HK ke SG jauh lebih mahal dari tiket Jakarta-HK via KL hehe.

HK membebaskan visa untuk turis asal Indonesia selama waktu kunjungan maksimum 15 hari. Jadi memang negara ini “surga” nya bagi orang Indo yang hobi belanja. Saya berangkat bersama istri, anak, dan ibu. Di hari keberangkatan kami terbang pukul 5.30 WIB pagi menuju KL. Sampai di KL kira-kira pukul 8.30 waktu setempat dan melanjutkan terbang ke HK pukul 10.00 waktu setempat. Perjalanan dari KL ke HK memakan waktu 3 jam. Karena Malindo ini termasuk full service airline, jadi di pesawat akan mendapatkan makanan dan terdapat inflight entertainment yang cukup menarik. Mirip Batik Air dan Garuda lah hehe

Bagian dalam Malindo Air (credit to Vkeong.com)

Pesawat yang digunakan adalah Boeing 737-900ER bukan pesawat berbadan lebar seperti Cathay atau Garuda dari Jakarta. Dan hebatnya lagi, karena rute KUL-HKG ini baru buka beberapa hari, di pesawat kosong dong. Paling hanya 50% aja bangku terisi. Malah, sebagian besar penumpang pindah ke kursi kosong dan tiduran di sana hehe.

Karena waktu itu bulan Februari 2018, HK sedang memasuki musim dingin (late winter) dan menurut google, suhu rata-rata di sana sekitar 11-15 derajat Celcius. Cukup dingin dan awalnya karena saya merasa HK lebih dekat ke khatulistiwa, saya dan istri memutuskan untuk tidak membawa long john dan hanya bawa 1 jaket tebal/coat. Dan keputusan ini ternyata salah besar hehe.

Bandara HK International Airport (HKG) terletak di Chek Lap Kok island, sebuah pulau reklamasi yang luas sekali dan hanya dipakai untuk bandara saja. HKG adalah hub untuk Cathay Pacific dan anaknya (Dragon Air). Terminalnya hanya 2 saja (T1 dan T2) namun besar sekali. Kalau naik maskapai dari Indonesia dan negara Asia Tenggara, biasanya diturunkan di T2.

Pulau Reklamasi HK International Airport

Nah, ada 1 yang berbeda kalau kita datang di HK. Paspor kita rupanya ngga di-cap sama imigrasi, hanya diberi selembar kertas kecil saja sebagai bukti Visa on Arrival selama 15 hari. Kertas kecil itu yang akan diambil lagi ketika meninggalkan HK. Jadi ngga akan ada cap di paspor kita untuk jadi bukti kalau kita ke HK hehe.

Nah, tips untuk yang bepergian ke HK, lebih baik di bandara, sewa saja yang namanya Octopus Card. Octopus Card ini semacam e-money atau MRT card nya Singapore. Kartu cash-less khusus untuk naik semua transportasi publik di HK, dari mulai MTR, bus, tram, dan ferry. Untuk sewa kartu ini, kita bisa lakukan di counter yang terletak pas di terminal kedatangan (setelah keluar dari pengambilan bagasi dan custom). Pada dasarnya, kartu Octopus ini adalah sewa. Saya sarankan pilih saja yang Standard Octopus Card (tanpa nama). Jadi dengan membayar HKD 150, kita melakukan deposit 50 HKD, dan mendapat initial value HKD 100. Nah, waktu kita meninggalkan HK, kartu ini bisa diuangkan kembali di counter di terminal keberangkatan atau di stasiun MTR di bandara HKG. Jadi 50 HKD nya bisa kembali plus sisa uang di dalamnya. Untuk pengisian/recharge nya bisa dilakukan di semua stasiun MTR. Gampang saja, bisa ke counter atau ke mesin otomatis seperti di Singapura. Penjelasan lebih rinci tentang Octopus Card bisa dilihat di sini. Octopus Card ini ada paket-paketnya seperti Airport Express atau Tourist day Pass. Tapi saya waktu itu tidak beli paket-paketan itu karena tujuan nya ke banyak tempat sehingga memutuskan beli yang Ordinary Pass saja.

Octopus Card Standard. Tidak ada nama dan nanti bisa diuangkan kembali ketika meninggalkan HK

Nah, transportasi umum dari HKG ke kota, baik ke Kowloon maupun ke HK Island bisa dilakukan dengan 2 cara, yang pertama naik MTR HKG Express menuju Kowloon Station seharga HKD 110 sekali jalan (HKD 205 p.p.). Dari Kowloon station kita naik MTR lain menuju HK Island kalau destinasinya ke HK Island. MTR ini terhitung mahal tapi cepat karena dia express dan hanya berhenti di stasiun tertentu saja. Ada alternatif yang lebih murah yang saya ambil yaitu dengan menggunakan Airport Bus (CitiFlyer). Airport Bus ini ada di Ground Transportation Center antara T2 dan T1. Bus nya berwarna merah kuning dan 2 tingkat.

CityFlyer Bus dari HKG ke Kota

Karena bus nya ada beberapa jenis trayek, sebelum memutuskan naik baiknya baca peta rute nya dulu di sini. Kalau saya waktu itu karena menginap di daerah Wanchai, jadi naik bus dengan nomor A11. Perlu diingat, semua bus di HK itu masuk lewat pintu depan dan keluar lewat pintu tengah, beda dengan di Singapura. Ketika masuk lewat pintu depan, kita melakukan tapping kartu Octopus atau membayar tunai. Jadi ketika turun tinggal langsung turun saja. Tarif nya sudah ditentukan di awal dan flat. Oia, tarif bus A11 ini harganya HKD 40 sekali jalan menuju Wanchai, waktu tempuhnya sekitar 45 menit. Koper/bagasi diletakkan di bagian tengah dari bus, dia punya tempat semacam kompartemen besar untuk meletakkan koper ukuran besar. Kalau sudah penuh, koper bisa digeletakkan saja di lantai kosong tapi harus dalam posisi tidur supaya nggak jalan hehe.

Rute CitiFlyer dari dan menuju HKG Airport

Keuntungan naik bus adalah, sepanjang perjalanan kita bisa menikmati pemandangan menuju kota. Dari mulai jembatan yang menghubungkan pulau-pulau buatan di HK dan jembatan dari Kowloon menuju HK Island. Lebih menarik dari naik MTR yang sebagian besar jalurnya subway.

20180204_170305.jpgSalah satu pemandangan dari dalam bus

Penduduk HK bahasa sehari-harinya sebetulnya Bahasa Inggris, namun mereka juga pakai Bahasa Kanton (Cantonese). Aksen bahasa Inggrisnya menurut saya lebih mudah dipahami daripada aksen Singlish nya Singapura hehe. Di HK ada sekitar 200-an ribu TKI asal Indonesia dan sebagain besar terkonsentrasi di HK Island. Jadi jangan heran di sudut-sudut kota kita bisa ketemu dengan mbak-mbak yang menggunakan Bahasa Jawa hehe. Tapi mereka juga lancar Cantonese karena rata-rata sudah kerja lebih dari 5 tahun lho.

Selama tinggal di HK, saya memutuskan untuk menggunakan jasa AirBnB. Sebuah start-up online platform yang menyediakan jasa penyewaan properti, baik kamar saja, maupun satu apartmen/rumah. Ini pertama kalinya saya menggunakan AirBnB di luar negeri karena sebelumnya hanya menggunakan jasanya waktu jalan-jalan ke Malang dan BSD hehe.

Tips dalam memilih AirBnB adalah menggunakan fitur filtering. Kita bisa memfilter mau menggunakan properti tipe apa (shared room, private room, atau whole apartment/house). Selain itu bisa di-filter dari sisi range harga, jumlah kamar, fasilitas, dan yang terpenting saya selalu men-check “Superhost” yaitu host/pemilik dengan review dan feedback paling baik.

Setelah melakukan filtering, saya memutuskan menginap di daerah Wanchai, salah satu daerah utama di HK Island. Saya pilih Wanchai karena dekat dengan stasiun MTR, dekat dengan jalur tram dan dekat dengan Islamic Center dimana saya bisa makan makanan halal hehe. Karena kami berempat (3 dewasa dan 1 anak) maka saya putuskan menyewa whole apartment.

HK adalah salah satu kota/negara dengan penduduk terpadat di dunia. Harga properti di sana juga sangat mahal sekali. Jadi jangan bayangkan 1 apartemen itu luasnya sama kayak apartemen di Indonesia. Untuk apartemen yang saya sewa senilai Rp 1 juta per malam, dia hanya punya 1 kamar tidur private, 1 kasur yang terletak di ruang tengah, dan 1 sofa bed. Selain itu ada dapur, 1 kamar mandi, dan meja makan yang terletak di depan pintu. Jadi begitu buka pintu, literally langsung menuju ruang makan dan kasur! hehe. Menyewa apartemen via AirBnB untuk 3 orang dewasa jauh lebih murah daripada menyewa 2 kamar hotel yang harga per malamnya untuk hotel paling sederhana dan layak bisa mencapai 800rb sampai 1 juta rupiah. Bedanya ya di AirBnB ini kita ngga dapat sarapan. Makan masak sendiri, nyuci baju sendiri, cuci piring sendiri, dll hehe.

Apartemen yang saya tempati di Wanchai, luasnya mungkin kurang dari 20 meter persegi

Daerah neighborhood di sekitar apartemen ini menurut saya bagus juga. Karena HK merupakan daerah terpadat di dunia, maka sejauh mata memandang ya isinya komplek apartemen super padat, orang lalu lalang, jalanan sempit, mobil mewah masuk gang (serius), dan banyak 7-Eleven. Oia, yang punya apartemen ini orang HK asli, tapi dia punya asisten orang Indonesia (asal Surabaya) yang sudah kerja di HK selama 15 tahun. Kami janjian di depan apartemen untuk serah terima kunci. Mbaknya yang fasih cantonese ini sebelum masuk ke apartemen, dia lapor dulu ke security gedung bahwa kami akan menginap selama 4 malam di sana.

Daerah di sekitar apartemen yang saya tinggali selama di Wanchai

Oia, kalau niat, sebetulnya kita bisa melakukan survey virtual via google street view. Biasanya AirBnB menutup lokasi tepatnya properti tersebut, tapi dengan berbekal foto-foto dari host dan google street view, kita sebetulnya sudah bisa nebak di mana letak apartemennya.

Apartemen yang saya tinggali ini dekat sekali dengan pasar tradisional Wanchai Market. Di sana terdapat banyak pilihan sayuran, ikan, telur, dan makanan dan bumbu asal Indonesia seperti Indomie (sudah pasti), kecap, sambal ABC, dll. Oia, setiap berpergian ke luar negeri, saya biasanya membawa bekal darurat seperti Mie Gelas, Pop Mie atau Indomie goreng. Namun karena dekat dengan pasar, jadinya kami memutuskan sebisa mungkin memasak yang ada saja seperti telur, ikan, dan sayuran untuk pelengkap makan mie hehe. Juga buah-buahan seperti pisang dan jeruk.

Wanchai market, pasar tradisional yang menjual semua barang kebutuhan pokok

Di bagian sebelumnya, sempat saya bilang bahwa menginap di Wanchai salah satu alasannya adalah dekat sumber makan halal yaitu Islamic Center. Letaknya cuma 5 menit jalan kaki dari Apartemen yang saya tinggali. Seperti namanya, Islamic Center adalah masjid dengan pusat kajian Islam di HK. Karena ada ratusan ribu umat muslim di HK yang berasal dari Indonesia dan Malaysia, keberadaan Islamic Center ini menjadi penting bagi umat Islam di sana.

Bagian depan Islamic Center

Di Islamic Center ini ada kantin yang cukup besar yang menyediakan makanan halal, menu yang khas dari Islamic Center HK adalah dimsum nya.

Dimsum halal khas kantin Islamic Center HK (credit havehalalwilltravel.com)

Selain dimsum, di sini juga menyediakan menu lain seperti nasi goreng, sayuran, ayam, daging sapi, sea food, dll. Range menu nya 1 porsi sekitar 100-150 HKD atau kalau di rupiahkan sekitar 170-200rb rupiah. Untuk menu dimsum nya harga per piring/porsi nya sekitar 13-20 HKD atau 25-35 ribu rupiah. Cukup mahal yah? hehe. Makanya setiap hari, saya 1 kali saja makan di sini kalau ngga, kantong bisa jebol haha.

Oia, hal menarik dari kantin Islamic Center HK ini, waktu kami pertama ke sana agak nyasar karena google map menunjukkan arah melalui pintu belakang gedung. Waktu kami celingak-celinguk, tiba-tiba ada 2 mbak-mbak berbahasa jawa yang sedang ngobrol sambil jalan. Refleks lah kami tanya ke mereka dan langsung diberi tahu bahwa kami sudah ada di pintu belakang gedung nya. Kemudian kantin nya sendiri buka dari pukul 10.00 sampai pukul 21.00. Namun khusus menu dimsum, mereka hanya ada sampai pukul 3 sore saja. Kemudian koki dan pelayannya adalah orang lokal, namun karena policy di sini strict, mereka tidak diperkenankan merokok dan membawa makanan non-halal selama berada di area Islamic Center. Jadi sudah dipastikan 100% aman lah hehe. Rekomendasi dimsum favorit di kantin Islamic Center bisa dilihat di sini.

Mata uang Hong Kong adalah Hong Kong Dollar (HKD). Saran saya, mending tukar uangnya ketika masih di Indonesia saja supaya tidak rugi kurs ketika di sana. Biasanya rate di HK lebih tinggi. Hindari menukar kurs di Bandara karena biayanya mahal. Uang HKD kertas terdiri dari 10 sampai 1000 HKD. Uniknya, mereka mencantumkan logo Standard Chartered di uangnya. Mungkin karena StandChart yang mencetak duitnya kali yah? hehe. Nilai tukar waktu saya ke sana bulan Februari sekitar Rp 1,700-an per 1 HKD.

Karena HK adalah negara 4 musim yang sangat dekat dengan wilayah tropis, jadi musim dingin di sini tidak akan pernah ada salju dan suhunya masih di atas suhu rata-rata musim dingin negara subtropis. Begitupun saat musim panas, suhu nya masih di bawah suhu rata-rata musim panas negara subtropis. Jadi sebelum pergi, baiknya melihat kondisi cuaca terkini via google weather supaya nggak salah kostum.

Transportasi umum di HK sebetulnya ada banyak pilihan, dari mulai yang super hemat seperti tram, yang cepat seperti bus dan MTR, sampai transportasi penyebrangan dari Kowloon ke HK Island dan sebaliknya yaitu Ferry. Saya bahas satu persatu ya.

1. Tram

Tram adalah salah satu transportasi tertuan di HK. Sudah ada sejak 100 tahun yang lalu dan bentuknya masih dipertahankan hingga kini. Tram hanya ada di HK Island dan disebut juga “ding ding” tram, mungkin karena suara nya yang mirip lonceng. Tram memiliki jalur “rel” yang jadi satu dengan jalur mobil. Tram di HK membentang dari ujung barat (Kennedy Town) ke ujung timur pulau HK yaitu di Shau Kei Wan. Pada dasarnya semua tram rute nya sama, hanya ada yang belok ke selatan dan ke utara sedikit, tapi mereka seluruhnya melewati tempat tujuan wisata favorit di HK Island seperti Central, Wan Chai, Admiralty, Causeway Bay dan North Point.

3.jpg

Tram berjalan dengan kecepatan rendah, mungkin sekitar 15-20 km/jam saja, dan berjenis double decker. Rute tujuan tram terletak di bagian kaca depan. Seluruh badan tram biasanya ditempeli sponsor atau iklan dan berwarna-warni. Karena HK sangat padat dan tram jalurnya jadi satu dengan mobil dan kendaraan lain, jadi kesannya sangat paciweuh atau njlimet sekali di jalan itu.

1.jpg

Tram menurunkan dan menaikkan penumpang di halte. Yang perlu diingat, naik tram harus melalui pintu belakang dan turun melalui pintu depan. Berbeda dengan bus yang kita bahas sebelumnya. Lorong tram sangat sempit, jadi tidak cocok untuk digunakan kalau kita membawa barang seperti koper. Kalau memang berniat naik tram untuk sekedar sight-seeing, silakan saja naik ke bagian atas dan duduk di pintu paling depan. Tram ini kacanya bisa dibuka sampai full jadi sangat cocok untuk menikmati kepadatan Hong Kong haha.

HK_Tram_tour_view_interior_Central.JPG

Ketika naik melalui pintu depan, kita tidak perlu membayar, namun ketika turun lewat pintu depan, kita harus membayar melalui 2 cara : pakai tunai dan menggunakan octopus card. Tarif tram berlaku flat, dulu waktu saya ke sana harganya masih 2.2 HKD per trip, namun sekarang nampaknya sudah 2.6 HKD atau sekitar IDR 5,000. Tapi masih murah untuk hitungan HK. Jangan lupa, kalau bayar pakai cash, dia tidak menyediakan kembalian, jadi harap bayar dengan uang pas hehe.

2.jpg

2. Bus

Nah, karena tram hanya ada di HK Island saja, sedangkan kalau kita mau bepergian dari HK Island ke Kowloon atau sebaliknya, maka transportasi termurah adalah menggunakan City Bus. Bus di HK ada banyak seperti di Singapura. Salah satu yang armadanya terbanyakan adalah bus NWFB (New World First Bus). Rute nya banyak dan luas sekali. Sebelum naik bus, ada baiknya mengecek rute nya melalui google map dan memvalidasi ketika tiba di halte nya.

4.jpg

Seperti yang saya bilang di atas, naik bus di HK masuk melalui pintu depan dan langsung tapping octopus card atau bayar tunai. Tarif nya flat dan berkisar antara 4 HKD sampai 46 HKD tergantung trayeknya. Fare nya bisa dilihat ketika di halte. Bus nya seperti bu di Singapura jadi sudah pasti nyaman. Bus nya juga beroperasi hingga tengah malam. Selain bus besar, di HK juga banyak minibus untuk rute-rute tertentu. Bentuknya mirip elf  kalau di Bandung hehe.

5.jpg

3. MTR

MTR atau Mass Transit Railway adalah transportasi populer di HK. Rute nya menjangkau seluruh area padat populasi di HK. Karena HK sudah sangat padat, seluruh jalur MTR terletak di subway kecuali MTR ke arah bandara dan Ngong Ping hehe. Jadi sepanjang perjalanan ya hanya gelap saja di jendela.

6.jpg

MTR kebanyakan terkonsentrasi di Kowloon karena memang area ini sangat padat penduduk. Terlebih karena di HK Island sudah ada tram jadi mungkin kebijakannya hanya ada 2 sampai 3 jalur MTR saja di sana. Stasiun MTR dapat dengan mudah dikenali dari luar karena terdapat logo MTR yang khas (huruf M dua sisi saling bertolakbelakang).

7.JPG

Untuk naik MTR, metode pembayarannya ada 2. Kita bisa membeli single trip ticket melalui vending machine. Jadi tentukan dulu rute tujuannya lalu nanti bayar dengan cash dan mendapat temporary tiket berupa kertas yang harus dimasukkan ke dalam gate check-in di stasiun. Atau paling praktis dengan Octopus Card seperti yang sudah pernah saya bahas. Pembelian single trip ataupun recharge Octopus Card bisa dilakukan di semua stasiun sebelum masuk gate. Semua nya dilengkapi dengan pilihan menu English jadi nggak usah takut hehe.

8.jpg

Di dalam MTR sangat nyaman dan bersih, mirip-mirip lah dengan Singapura dan Tokyo. Namun, pada saat jam sibuk/peak hour, MTR bisa berubah menjadi horor karena saking padatnya. Jadi usahakan hindari naik MTR pada saat jam sibuk ya. Untuk rincian fare MTR bisa dilihat di sini.

9.jpg

4. Ferry

Ferry merupakan transportasi yang cukup terkenal terutama untuk sight seeing saat menyebrang dari Kowloon ke HK Island atau sebaliknya. Karena biayanya lebih murah dibanding bus dan MTR serta pemandangannya lebih bagus karena melintasi selat HK dengan kecepatan rendah. Selain menyebrang antara Kowloon dan HK Island, ferry juga menyediakan layanan penyebrangan ke Macau, salah satu negara teritori Cina yang bebas visa juga untuk orang Indonesia. Sayangnya, dalam perjalanan kali ini saya tidak ke Macau karena waktu yang terbatas.

Penyedia jasa ferry di HK yang terkenal adalah Star Ferry. Rute penyebrangannya dari Tsim Sha Tsui di Kowloon menuju dua dermaga di HK Island yaitu Central Ferry Pier dan Wanchai Star Ferry Pier.

map.jpg

Sekali jalan kira-kira memakan waktu sekitar 10-15 menit saja, bentuk kapal ferry nya pun sederhana dan memiliki saya tampung sampai 150 orang sekali angkut yang terdiri dari 2 deck, deck atas dan bawah.

star-ferry.jpg

Bagian dalam nya pun sederhana, hanya terdiri dari kursi-kursi kayu panjang dengan sandaran punggung. Tips untuk naik ini, incar kursi sebelah kanan kalau menuju Kowloon dan sebelah kiri kalau menuju HK Island. Ferry nya tidak memiliki kaca jadi harap berhati-hati.

IMG_7323.JPG

Tarif ferry sekali jalan adalah untuk deck atas : HKD 2.7 (hari biasa) dan HKD 3.7 (hari libur), sedangkan untuk deck bawah : HKD 2.2 (hari biasa) dan HKD 3.2 (hari libur). Jika di rupiahkan masih di bawah Rp 8.000 sekali jalan hehe. Murah sekali kan? Selama di HK saya menggunakan star ferry dari Central Terminal untuk menuju Kowloon. Untuk menuju ke sini, jalannya cukup jauh dari pemberhentian MTR dan tram Central, sekitar 10 menit jalan kaki karena harus menyebrang jalan tol.

Di bagian berikutnya akan saya bahas mengenai tempat-tempat yang kami tuju selama di sana.

Bersambung ke bagian 2…

Singapore Trip 2014 (Part 3)

12 Februari pukul 07.00 China Town masih gelap dan seluruh tamu penginapan Backpackers Inn pun belum ada yang beranjak dari tempat tidur, kecuali si Bule yg tidur di kasur sebelah saya yg nampaknya mau balik ke negaranya. Setelah mandi dan ganti baju kami pun bergegas menuju stasiun MRT menuju ke Vivo City (stasiun Harbour Front) karena agenda hari ini seharian di tempat paling terkenal di Singapur : Resort World Sentosa (RWS).

Pukul 08.00 kita tiba di Harbour Front MRT dan naik ke tangga lantai paling atas untuk menuju Sentosa Island. Ada 2 tempat yang akan kita kunjungi hari ini yaitu Sea Aquarium, akuarium terbesar se-asia tenggara, dan Song of The Sea, sebuah drama musikal dan laser show yang diadakan di Pantai Selatan Sentosa. Sentosa Island adalah pulau buatan yg dijadikan tempat rekreasi terpadu oleh Pemerintah Singapura. Konon pulau ini dibentuk dari pasir yang dibeli dari kepulauan Riau. Menuju Sentosa dapat ditempuh dengan 2 cara : jalan kaki (naik travelator) melewati Sentosa Broadwalk dengan bayar 1 SGD di pintu masuk. Cara kedua adalah dengan naik Monorel dari lantai 3 Vivo City dengan ongkos sekitar 1,5 SGD.

Berhubung masih pagi, Vivo City pun belum buka dan kami memutuskan untuk ke Sentosa dengan jalan kaki via Broadwalk. Vivo City adalah mall terpadu yang didalamnya ada stasiun MRT dan Monorel, pelabuhan Ferry dari Batam dan Malaysia, juga ada pelabuhan kapal pesiar dari Australia dan penjuru dunia lainnya. Karena mall belum buka, ya foto-foto dulu deh seperti biasa.

Dari ujung Vivo City sebenernya udah keliatan tuh yang namanya Sentosa Island, orang jaraknya cuma 1 kilo lebih dikit hehe. Berikut penampakannya kalau dilihat dari sisi Vivo City.

Di Resort World Sentosa ini selain ada Universal Studio juga ada Sea Aquarium, Marine Life Park, Crane Dance, Casino, Lake of Dreams, deretan hotel kelas internasional, dll. Oke kalau gitu mending langsung aja deh jalan ke sana.

Seperti  yang saya bilang sebelumnya, Broadwalk ini adalah jalur lantai kayu sepanjang 1,2 kilo dan dilengkapi dengan travelator. Jadi yg males jalan ya bisa tinggal pegang travelator dan sampe di ujung di pintu masuk ke Sentosa hehe. Di tengah-tengahnya ada semacam balkon untuk ambil foto.

Di ujung pintu masuk, kita bisa bayar dengan uang koin 1 SGD atau pakai EZ-Link Card yang biasa dipakai buat MRT. Dari situ tinggal belok kanan dan menuju main hall yang di sana terdapat bola dunia Universal Studio yang terkenal itu 😀

Berhubung masih jam 9 lebih dikit, Sea Aquarium pun belum buka. Alhasil kami pun cari spot yang bagus buat dipake foto-foto. Lumayan killing time sambil menikmati pemandangan Harbour Front.

Pukul 10.00 kami pun masuk ke dalam Sea Aquarium dan rupanya interior di dalamnya bagus juga. Ada shipwreck raksasa di main hall yang di dalamnya terdapat toko-toko dan juga dekorasi ala jaman Nabi Nuh. Di lantai paling atas rupanya dipajang beberapa benda-benda semacam peninggalan jaman maritim dari mulai Timur Tengah, India, hingga Indonesia. Bahkan patung lilin nya pun mirip sekali dengan manusia asli.

Dari lantai atas, kita turun ke lantai bawah. Di sini ada semacam peta maritim dunia yang digambar di lantai juga nampak sisi belakang shipwreck yang tadi saya sebutkan. Rupanya dekorasi belakangnya memang perahu Nabi Nuh.

Begitu masuk ke dalam, kita langsung disuguhi pemandangan shipwreck lengkap dengan ikan-ikan raksasa mulai dari pari manta, kerapu, hiu, dll. Mirip Sea World tapi lebih gede lah hehe.

Di dalamnya ada banyak sekali biota laut dari berbagai lautan di dunia. Dan beruntungnya, karena ini working day, pengunjungnya nggak terlalu banyak, paling bocah-bocah SD setempat aja yg jumlahnya sekitar 50 orang.

Sama seperti di River Safari, di tempat ini juga ada main hall, sebuah kaca akuarium raksasa yang dipakai untuk menggelar pertunjukkan lengkap dengan tribunnya.

Kurang lebih 2,5 jam kita menjelajahi Sea Aquarium dan tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12.30. Yasudah akhirnya kita pulang ke Vivo City naik MRT dan memutuskan untuk makan siang di food court di sana. Di food court Vivo City cukup banyak masakan halal dan kami pun memutuskan pilihan ke Yang Tao Fu yang nampak lezat. Seporsi cuma 4 SGD alias Rp 40 ribu saja (mahal juga sih). Setelah puas makan, kami pun memutuskan balik dulu ke penginapan untuk mandi dan bersiap untuk menyaksikan Song of The Sea sekitar pukul 19.00 nanti. Yang penting tidur siang dulu lah, lumayan capek juga setengah hari ini keliling Sea Aquarium.

 

Sampai di Inn, istirahat sejenak lalu sekitar pukul 4 sore bersiap lagi ke Sentosa untuk melihat Song of the Sea, sebuah drama musikal dengan pertunjukkan laser yg diadakan di pinggir laut di Sentosa. Sampai di Vivo City, ya foto-foto dulu lah di lantai 1 dan lantai 3 nya yg lumayan eye catchy pemandangannya.

Show dimulai sekitar pukul 19.00, jadi masih ada waktu 3 jam lagi sebelum dimulai. Lagian hari juga masih terang, yasudah gak ada salahnya jalan-jalan dulu di Sentosa dan kami pun memutuskan untuk tidak naik monorel namun jalan kaki seperti pagi tadi. Rupanya semakin ke dalam, Sentosa semakin keren. Di dalamnya ada Lake of Dreams, Merlion raksasa, dan juga arena rekreasi iFly yang terkenal itu dimana orang bisa mencoba melayang dengan disembur udara bertekanan kuat dari bawah haha.

Waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 artinya sejam lagi pertunjukkan dimulai. Yasudah kami pun masuk dan berharap dapet spot yang bagus di dalam. Dan rupanya di dalam masih sepi artinya bisa milih spot bagus untuk nonton pertunjukkan ini hehe.

10 menit sebelum pertunjukkan dimulai, pemandangan bagus pun tersaji, matahari terbenam di ufuk barat yang indah dibalut langit jingga dan kapal-kapal tongkang yang bersauh di laut luas yang sangat menyejukkan mata hehe.

Daaaan, akhirnya pertunjukkan pun dimulai. Musik mengalun, para penari memasuki panggung dan semburan air, kilatan cahaya, kembang api dan laser warna-warni yang sangat cantik berseliweran sepanjang pertunjukkan. Pertunjukkan ini berlangsung sekitar 45 menit dan harga tiketnya sekitar 17 SGD (Rp 170 ribu), lumayan mahal yah hehe.

Pertunjukkan pun berakhir dan semua penonton sangat terhibur. Kami pun memutuskan untuk berjalan kaki kembali ke Vivo City karena monorel pasti penuh hehe. Lumayan bisa foto-foto lagi dan dapet momen Sentosa saat malam hari.

Sesampainya di Vivo City, waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 waktu setempat. Kami pun segera naik MRT ke China Town dan kembali ke Inn untuk beristirahat. Agenda besok adalah jalan-jalan ke Gardens by The Bay (lagi) dan juga wisata kuliner makan Chilli Crab khas Singapur hehe.

to be continued…

Singapore Trip 2014 (Part 1)

postingan kali ini akan membahas kunjungan saya ke negeri Singa bulan Februari 2014 lalu. Ini merupakan kali ketiga saya berkunjung ke negeri Singa dan ngga pernah sekalipun bosen loh hehe. Seperti yang sudah pernah saya tulis sebelumnya, kunjungan pertama saya adalah waktu konser SNSD di 2011, dan yang kedua adalah ketika saya mengikuti pameran di Batam (kunjungan ke Singapur nya cuma 10 jam sih 😛 ) Kali ini ada yang spesial juga karena jalan-jalan bareng calon istri yang artinya semuanya musti well-prepared hehe.

Singapur, negeri yang menjual engineering dan inovasi. Yup, rasanya negeri jiran yang satu ini punya sesuatu yang jadi point of attraction yang ngga pernah habis dan selalu ada yang baru setiap tahunnya. Kali ini telah diputuskan durasi hari perjalanan adalah sebagai berikut : 10 Feb berangkat dari Bandung dan 15 Feb pulang kembali ke Bandung karena cuti saya hanya sampai tanggal 16 hehe. Berhubung praktis, kami memutuskan berangkat dari Bandung dengan Air Asia dan pulang pun kembali ke Bandung dengan Air Asia. Total biaya yang dikeluarkan untuk pesawat : Rp 1.600.000 per orang P.P.

Berangkat dari Bandung pukul 14.00 WIB, kita sampai di Singapur pukul 17.00 waktu setempat. Yah karena ini udah  yang kedua kalinya di Changi, kali ini udah ngga katrok lagi lah ya. Kali ini saya memutuskan untuk membawa tas ransel besar sementara cabin (calon bini) bawa tas kecil jadi begitu sampai di Changi langsung ngacir deh ke penginapan. Dan kali ini saya masih mengandalkan penginapan ketika saya berkunjung di kali kedua yaitu Backpackers Inn, sebuah dormitory-style Inn di bilangan China Town, sekamar 6 orang dengan susunan 3 bed tingkat dengan harga SGD 25 (sekitar 200 ribu) per malam. Yah karena kurs SGD lagi tinggi sekitar Rp 10.000 per SGD jadinya kerasa banget mahalnya. Tp ini udah sangat-sangat murah oh..

Oia kali ini saya dilengkapi juga dengan ‘senjata’ Samsung NX2000, sebuah kamera mirrorless yg lumayan canggih dan keren hehe #ngiklan. Setelah bayar-bayar dan menaruh semua barang di penginapan, kami pun bergegas menuju ke destinasi pertama di hari pertama ini : Gardens By The Bay. Yup, meski udah 2 kali ke tempat ini, saya masih belum bosen untuk ke sini lagi karena tempatnya yg sangat unik. Kebetulan cabin yg katanya udah 3 kali ke Singapur juga belum pernah ke sini, jadi we sepakat untuk ke sini. Dari China Town kita naik MRT dengan jalur Downtown, jalur baru berwarna biru yang baru diresmikan di akhir 2013. Dari sana langsung turun di Bayfront dan tinggal jalan kaki sedikit naik ke atas melalui Lantai 2 Hotel Marina Bay Sands yang terkenal itu. Ongkosnya? cuma 1,4 SGD kalo ga salah.

Oia dalam perjalanan ini saya juga disponsori oleh si Babeh yang memberikan secara percuma kartu SingTel yang pulsanya masih ada sekitar 50SGD hehe. Lumayan bisa Always ON selama di Singapur. Sesampai di Gardens by The Bay, matahari sudah terbenam dan suasananya : WOW!

 

Di dua edisi sebelumnya, saya belum pernah naik ke Sky Bridge yang ada di sini. Mumpung sekarang ada kesempatan lagi, ya akhirnya naik lah. Awalnya cabin ngga mau karena takut ketinggian tapi akhirnya berhasil saya paksa hehe. Ongkos naik ke Sky Bridge adalah 5 SGD. Tinggi jembatan ini kurang lebih 10 m dengan panjang hampir 500 meter membentang di antara dua tiang utama yang ada di Gardens by The Bay. Berhubung saya sudah sering manjat-manjat dan naik di equipment pabrik LNG di Bontang, ketinggian segini sih cemen hehe. Pemandangannya keren abis loh dari atas 😀

Nah, yang unik di sini adalah setiap pukul 19.45 dan 20.45 waktu setempat, ada pertunjukan light show semacam avatar gitu yang berlangsung sekitar 15 menit. Pertunjukkannya keren abis. Musik dan tata cahayanya bener-bener match banget. Luar biasa lah!

Kita makan malam di Texas Chicken yang ada di dalam kompleks Gardens By The Bay. Harga makanannya ya antara 10-15 SGD lah per orang. Abis dari tempat ini kita mampir dulu ke Clark Quay, tempat wajib dikunjungi yang selalu saya kunjungi di dua edisi sebelumnya hehe.

Dari dulu ingin sekali naik perahunya tapi apa daya mata rasanya udah sepet dan ngantuk. Kaki juga udah pegel gak karuan ya akhirnya pulanglah kita ke INN yang jaraknya cuma 800 m dari lokasi ini.

Agenda besok hari adalah ke River Safari, sebuah lokasi integrated park dengan tema sungai, danau dan hutan. Mudah-mudahan aja seru di sana hehe.

Bersambung ke part 2…

Malaysia Trip Part 2

haa, akhirnya punya waktu luang lagi buat ngelanjutin cerita petualangan ke Malaysia 😛 ok deh, lanjut 😀
———————-

Pagi hari, 12 April 2012, pukul 08.00 waktu setempat, matahari msh belum mau muncul. Eh rupanya saya baru sadar kalo Malaysia itu ikut2 Singapore sok-sokan WITA padahal WIB. Ya iyalah, pagi gelap gulita, sore masih terang benderang 😛 Merasa sudah cukup bosan tidur, saya pun bangun keluar rumah dan mendapati kalau ternyata, rumah di perkampungan Malaysia itu cukup unik. Bentuknya kebanyakan seperti ini

Rumah di sana rata-rata bentuknya lebar, dan atapnya rendah. Ngga ngerti saya juga, padahal udaranya itu kalo siang suhunya bisa mencapai 36 derajat Celcius loh! Siangpun datang dan ampun dah panasnya… mandi pun rasanya percuma da keringetan lagi. Sekitar pukul 15.00, tante saya mengajak saya dan ibu saya jalan-jalan ke Mall terbesar di Subang Jaya, yaitu Sunway Pyramid. Apa itu Sunway Pyramid? saya juga ga tau, yg pasti saya, ibu dan tante pergi ke sana dengan mengguakan Bas Mini (seriusan ini ditulisnya Bas bukan bus :)) ) kita naik dr halte. Tampilan bus nya ya seperti ini :

Meskipun dalemnya kyk Kopaja, tp bas mini ini supirnya kaga ugal-ugalan dan di dalemnya ga ada orang merokok dll. Tarif Bas mini ini 1 RM (sekitar 3.500 rupiah) jauh dekat. Nah kita naik ini selama kurang lebih 15 menit dan sampai lah di Sunway Pyramid. Tampilannya seperti ini lho 😀

Sunway Pyramid ini ternyata mall sekaligus arena Ice Rink dan juga wisata air macem waterboom gitu deh. Bangunannya 5 lantai dan arsitekturnya dibuat bergaya mesir kuno

Nah iseng-iseng saya coba masuk ke toiletnya. Rupanya ada yg unik nih d Malaysia. Mall sebagus ini kebayang ngga kalo WC nya pake closet jongkok? hahaha aneh tp nyata lho…

Nah rupanya di Mall ini ada ice rink nya juga seperti yg saya bilang tadi

Nah rupanya setelah berkeliling Sunway Pyramid, kesimpulan saya mengarah pada satu pernyataan yaitu harga fabrique alias baju jadi di Malaysia itu jauh jauh jauh lebih mahal dibanding INdonesia. Mengapa? Bayangkan saja, baju polo casual yg biasanya saya beli di outlet hanya 100 ribuan di sini harganya bisa mencapai 60 RM (nyaris 200 ribu). Apalagi dibandingkan dengan di Pasar Baru ya? Makanya ga heran banyak banget org Malaysia yg belanja di Pasar Baru 😛

Nah capek berkeliling, kami pun makan di food court Sunway. Makannya sederhana sih, nasi lemak dan es kacang merah (semacam Pat Bing Soo di Korea). Lumayan enak dan harganya terjangkau lah dibanding Singapur 😛

Sehabis makan, tak lupa tante saya mengajak saya melihat pemandangan Sunway dari atas. Nah jalan satu satunya ya lewat KFC alias duduk menghadap ke jendelanya. Buset dah masa iya makan lagi di KFC? Eh ternyata bener aja. Tante saya memesan makanan di KFC dan kami duduk di dekat jendela agar bisa memandang keluar dari lantai 5 gedung Sunway

Nah pemandangan seterang itu rupanya waktu di jam saya masih sudah menunjukkan pukul 18.30 waktu setempat loh. Buset dah haha. Yasudah karena sudah cukup sore kamipun pulang kembali ke rumah naik bas mini lagi. Nah lucunya, tante saya sempet bilang kalo jam segini tuh jam-jam macet di sini dan itu parah banget katanya. Lah begitu keluar Sunway Piramid, memang sih jalanan padet, tp ya kalo segitu dibilang macet parah berarti orang-orang sini belum pernah mengalami macet yg mindfucked seperti di Jakarta atau Bandung kali ya. Dan anehnya antrian mobil di sini tuh renggang-renggangm mungkin ada sekitar 1 meteran ga kyk di negara kita yg dempet-dempetan banget haha.

Perjalanan 30 menit ditempuh dan kami pun sampai lagi di rumah dengan selamat. Rencananya sih besok dari pagi kami akan menjelajah Kuala Lumpur gitu bertiga 😀

13 April 2012, rupanya rencana hanya tinggal rencana (halah). Maksut hati ingin dr pagi menjelajah KL, eh tau-tau paginya sibuk masak-memasak dan udah Jumatan aja. Oia, Jumatan di Malaysia rupanya dimulai pukul 13.30 waktu setempat lho haha. Beres Jumatan baru lah saya, si mamah dan tante siap-siap untuk jalan-jalan ke KL. Jarak dari Puchong Perdana ke KL itu sekitar 45 km dan musti ditempuh dengan KRL Kelana Jaya dari stasiun Subang Jaya. Namun untuk sampai ke stasiun, kali ini kami menaiki RapidKL, semacem bus khas Singapura gitu deh

Tuh liat kan, bisnya bersih, berAC dan penumpangnya tertib. TransJKT ga ada apa-apanya dibanding RapidKL ini. Tarifnya agak lebih mahal dari Bas Mini. Sekitar 1,3 RM (6000 rupiah) jauh dekat. Bus ini tidak berhenti di depan Stesen Subang Jaya (ya org Malaysia menyebut Stasiun dengan Stesen 😛 ) namun kami harus jalan sejauh beberapa ratus meter. Oia, dalam perjalaa menuju stesen, rupanya banyak sekali apartmen murah ya. Subang Jaya ini benar-benar sedang dalam pembangunan.

Nah Stesen Subang Jaya itu kecil, jauh jauh lebih kecil dr Stasiun Kiara Condong malah. Mungkin seperti stasiun Cikudapateuh gitu deh. Di depannya banyak orang dagang, tp bedanya tempatnya cukup bersih dan terawat. Ga ada pengemis sama sekali, apalagi pengamen! Luar biasa ya

Nah, masuk ke dalam stesennya, rupanya unik juga nih. Tempatnya kecil, di sebelah kiri ada Kaunter Tiket (Counter Ticket in English) di situ kita beli tiket seharga 1,6 RM (6.000 rupiah) dan tiket ini digunakan untuk masuk ke dalam Peron dan keluar dari peron stesen tujuan. Hebat kan? Ga perlu lagi ada calo atau petugas yg jaga di pintu masuk gitu. Oia, kami beli tiket dari Subang Jaya menuju KL Central Stesen di Kuala Lumpur. Perjalanan sih katanya 45 menitan gitu. Wuih cukup lama juga ya?

Oia, Malaysia itu benar-benar meniru Singapur dalam urusan transportasi massal. Di sini ada KRL dan ada LRT. KRL Malaysia bernama KTM Komuter dan KTM ini membelah Malaysia menjadi dua rute. Yg pertama adalah rute Batu Caves-Port Klang (yg akan kami naiki) dan yg kedua mempunya rute Seremban-Sentul yg membelah Malaysia Timur. KTM Komuter ini beroperasi tiap hari dr pukul 4 pagi hingga 23 malam. Berikut rutenya nih

Terlihat kan? Dr SubangJaya ke KL itu melewati 9 stesen gitu deh. Dan kereta KTM ini lewat tiap 7 menit sekali cem MRT Singapur sana.

Coba liat kondisi peronnya, ngga ada sampah sama sekali dan boro-boro ada tukang dagang dan orang merokok kan? Dahsyat lah pokonya. Menunggu selama beberapa menit, KTM pun tiba. Keretenya sih standar kereta KRL di Jakarta itu, tp yg unik, keretanya cuma 3 gerbong dan gerbong di tengah itu khusus wanita lho (Couch for Ladies) jadi ya isinya cewe semua guna menghindari pelecehan seksual d kendaraaan umum. Wuiihh. Dan bagian dalam KTM ini bersih dan bagus. Full AC dan nyaman biarpun desek-desekan juga

45 menit berlalu dan akhirnya kami bertiga tiba di KL Central. KL Sentral itu apa? KL Sentral itu intersection station yg menghubungkan rute KTM Komuter dengan LRT Kelana Jaya. Yup, kalo mau lanjut ke pusat kota Kuala Lumpur, kita musti berganti kendaraan kali ini menggunakan LRT (atau versi hematnya MRT Singapur gitu deh 😛 ).  KL Sentral itu seperti intersect station di Singapur dibuat bertingkat. Lantai dasar dia gunakan untuk KTM Komuter dan LRT ada di lantai 2. Nah yg unik, kalo di SG tiap kita mau naik MRT kita musti punya MRT card, Malaysia belum sampai sana tp udah cukup modern juga. Mereka pakai token (koin) yg dibeli di mesin counter tiket otomatis gitu yg ada berjajar di stasiun-stasiun Laluan Kelana Jaya. Cara pakai mesin ini kalo baru pertama kali lumayan beribet lho. Uang kertas yg dipakai limited hanya seputar 1, 5, dan 10 RM. Layarnya touchscreen dan respon mesinnya masih lumayan lambat 😛

papan kenyataan, seolah mengingatkan agar kita tidak terbuai (halah)

Nah Laluan Kelana Jaya ini beroperasi dari Gombak hingga Kelana Jaya dan membelah setiap stesen di seantero KL. Rutenya seperti ini, dan kita naik dari KL Sentral menuju KLCC buat liat Petronas Tower gitu 😛 Hanya 5 stesen doank dan tarifnya pun 0,46 RM (2.000 rupiah) kalo tidak salah.

Nah LRT nya sendiri ga jauh beda lah ama yg di SG, cuma lebih pendek, tampilan interiornya nanti saya postingkan di bagian ketiga ya 😛

10 menit kemudian kami telah sampai di stesen KLCC. Stesennya ada di bawah tanah rupanya. Dan itu tuh tepat berada di bawah menara kembar Petronas. Keluar dr stesen, seperti biasa terdapat mall dengan barang-barang overlypriced dan kami musti menaiki 4 lantai guna mencapai udara luar 😀 KLCC tak ubahnya Pacific Place atau Grand Indonesia gitu deh. Isinya pusat perbelanjaan dengan merk-merk ternama dunia. Di lantai 4 ada food court yg terhubung keluar. Nah begitu menapakkan kaki di luar, terasa sejuk lah udara KL sehabis hujan di sore hari

Seharusnya ada air mancur yg indah di belakang saya ini, tp sayangnya waktu itu lagi direnovasi agar jadi lebih bagus. Nah tepat ke arah saya menghadap itu ada Petronas Tower yg menjulang membelah langit mendung Kuala Lumpur. Yg menariknya, meskipun dikelilingi gedung-gedung pencakar langit, lokasi KLCC ini adalah ruang terbuka hijau yg nyaman dan asri. Ada trek jogging dikelilingi taman dan pohon-pohon rindang yg ahhh… Jakarta kaga ada apa-apanya lah ya

Nah cape keliling keliling sekitaran KLCC, kamipun memutuskan untuk makan dulu karena waktu menunjukkan sudah pukul 18.30 (edan tp masih terang ya? 😛 ) sekalian makan malam gitu. Masuk ke food court dan si mamah dan tante memesan mie khas melayu gitu sementara saya? yg beda lah pastinya. Berkeliling sebentar dan akhirnya memutuskan untuk memakan makanan India gitu deh. Pilihan saya pun jatuh pada nasi briyani, nasi yg dimasak dengan santan dengan kuah kari gitu. Pokoknya membunuh banget deh krn banyak kolesterol. Nah mata saya pun tertuju pada Udang galah yg besarnya sekeaplan tangan saya coba. Ga segan-segan saya ambil deh. Eh taunya waktu bayar, makanan yg saya pesan itu harganya berapa coba? 33 RM sodara sodara alias sekitar 100rb rupiah. Yup makanan termahal yg pernah saya makan sepanjang hidup saya 😛

Nah suasana di dalem Mall KLCC nya kurang lebih kyk gini lah

Habis makan ya lanjut deh keliling-keliling KLCC sampe jam 8 malem. Ga kerasa banget lah pokoknya krn kita ada d ruangan besar tertutup. Tau tau udah jam segitu aje. Yasudah akhirnya pulang dengan memakai rute yg sama dengan waktu berangkat. Pukul 9 waktu setempat sampai juga di rumah dan beristirahat karena besok hari Sabtu dan rencananya tante saya akan mengajak anak-anaknya serta kami untuk main-main ke Genting Highland Resort and Theme Park. Uwow!

bersambung…