Singapore and Johor Trip 2024

Nggak kerasa sudah 6 bulan lebih vakum menulis di blog karena kesibukan di dunia nyata. Jadi kelupaan mau buat catatan pribadi di awal Januari 2024 di mana saya dan keluarga menyempatkan diri untuk jalan-jalan ke Singapura dan Johor Bahru.

Perjalanan ke sana relatif dadakan karena berakhirnya masa kontrak kerja saya di perusahaan sebelumnya di Jakarta dan dalam transisi kembali ke tempat kerja lama di Bontang. Berhubung anak sekolah libur, akhirnya kita gelar trip dadakan ini dengan mengajukan cuti H-7 dan beli tiket pesawat serba mendadak.

Perjalanan dimulai dari CGK tanggal 2 Januari 2024 dengan tujuan Singapur. Kami rencana mau coba rute Singapore-Johor via bus namun mau habiskan beberapa hari dulu di Singapur untuk jalan-jalan dengan tujuan Museum of Ice Cream (MOIC). MOIC di Singapore ini adalah cabang dari MIC di US yang berdiri sejak 2021. Lokasinya cukup terpencil karena terletak di Loewen Rd, daerah residensial gitu dan lumayan jauh dari stasiun MRT. Cara untuk ke sana hanya bisa dengan Bus dan Taksi.

Karena masih vibes New Year, seperti biasa, Singapur penuh orang-orang Indonesia dan cukup sulit mencari penginapan. Kami memutuskan untuk menginap di Bugis Street saja supaya dekat dengan akses makanan halal, dekat dengan tempat oleh-oleh dan dekat dengan lokasi terminal bus ke Johor. Kami memutuskan untuk menginap di ST Signature Bugis Beach Hotel. Hotel budget yang lokasinya di Beach Street ini letaknya persis di tengah-tengah area Bugis, sangat strategis karena dekat dengan Bugis Junction, 711, dan Stasiun MRT Bugis.

Meskipun kamarnya mini, tapi lumayan lah ya. Kami pesan yang triple bed, dengan konfigurasi 1 kasur besar dan 1 bunkbed. praktis space di dalam kamar ngga cukup buat gelar koper gede 🙂 tapi lumayan lah dengan budget sekitar 1.5 juta rupiah per malam. Di sini juga dekat dengan Laundry coin, sekitar 7-8 menit jalan kaki di area apartment kompleks dekat Bugis Junction. Setiap ke luar negeri pasti saya dan istri menyempatkan cuci di laundry coin yang lebih murah dan bawa setrika portable sendiri 🙂

Begitu nyampe SG, nggak lupa foto-foto dulu di Changi, sayangnya waktu itu Jewel lagi Maintenance paska acara tahun baru, jadi kami hanya sempat foto depan The Wonderfall yang baru banget dibuka waktu itu.

Sore hari nya setelah istirahat kami menyempatkan diri makan di cafe Beanstro, pas di depan Rain Oculus Marina Bay Sands. Beanstro ini lokasinya tepat di bawah Rain Oculus jadi sambil ngopi-ngopi sore kita bisa lihat atraksi Rain Oculus setiap 1 jam sekali di sana. Kami sengajakan reservasi sekitar jam 17 sore dan datang di sekitar jam 16.30.

Makanan dan minuman di cafe ini terhitung mahal karena memang orang ke sini hanya buat nikmati Rain Oculus nya aja sih. Total ngafe berempat kita habis sekitar 70 SGD (IDR 770rb) padahal hanya pesen 4 jenis minuman dan 2 snack aja :))

Setelah dari sini, jalan-jalan dan foto-foto sebentar di depan Marina Bay Sands sebelum balik istirahat ke hotel.

Besoknya, kami siap-siap pergi ke Museum Of Ice Cream. Sedikit informasi, tiket masuk ke museum ini hanya bisa dipesan online dengan memilih jadwal hari dan jam kedatangan di situs resminya https://tickets.museumoficecream.sg/ MOIC buka dari jam 10 pagi sampai jam 7 malam setiap hari. Saran yang saya baca di internet, bagusnya datang pas baru buka supaya antrian masih belum terlalu panjang. Tiket masuknya dibagi 2, yaitu yang biasa SGD 35 per orang (di atas 2 tahun) atau sekitar Rp 420rb dan premium ticket SGD 45 atau Rp 540rb per orang. Bedanya, premium ticket include rasa-rasa premium yang ngga bisa didapat sama pembeli tiket biasa.

Lokasi MOIC ini letaknya di daerah perumahan, jauh dari mana-mana. Jalan termurah menuju ke sana naik kendaraan umum. Caranya kita perlu naik MRT Thompson-East Coast Line (TE) dan turun di Stasiun Napier. Setelah itu kita naik bus apapun yang lewat depan stasiun MRT nya (Holland Rd) dan turun hanya 1 halte saja. Dari halte ini, lumayan juga jalan kaki sekitar 400 meter sampai ke lokasinya.

Sepanjang jalan kaki kita akan melewati sekolah, rumah-rumah penduduk, dan lain-lain. Jalannya juga nanjak jadi kalau bawa anak kecil ya lumayan juga sih hehe. Tampilan depannya kira-kira seperti ini

Sebelum masuk, nanti ada pengarahan dari kru nya kira-kira dia akan bilang begini: kita bebas mau berlama-lama di dalam sampai puas, asal syaratnya ngga boleh mondar-mandir dari ruangan ke ruangan yang lain. Es krim yang boleh dimakan sebebas-bebasnya sesuai tiket yang dibeli. Artinya tiket general ngga boleh makan es krim premium, tapi mau makan sebanyak apapun boleh. Oia, sebagai info, MOIC ini belum halal certified, namun sebelum menikmati es krim-es krimnya silakan tanyakan ke setiap waiter di masing-masing booth mengenai dairy productnya apakah contain alcohol atau pork ya. Dari semua yang saya tanya, jawabannya free alcohol dan pork semua sih. Jadi silakan recheck lagi ya.\

Ruangan di dalamnya kira-kira ada 6 segmen, setiap ruangan ada temanya masing-masing dan semua nuansa pink. Di awal kita disuguhi pengetahuan-pengetahuan seputar eskrim, lalu ada ruangan yang isinya huruf-huruf yang ditempel di tembok dan kita bisa susun kata-kata sesuka kita. Terus ada ruangan yang ada sliding dan ayunannya, ada ruangan yang isinya lampu-lampu, pisang yang digantung, dan yang paling terkenal adalah kolam yang isinya es krim popsicle plastik seolah-olah kita berenang di eskrim.

Total saya dan istri makan sekitar 7 porsi eskrim. Lumayan kenyang sih, padahal kami sarapan cuma pakai onigiri doang wkwk. Walaupun porsi eskrim nya kecil, tapi ya lama-lama mengenyangkan juga. Dan rasa eskrim premiumnya enak-enak, jadi worth it lah bayar 120rb lebih mahal hehe. Silakan dicoba sendiri ya.

Praktis di kunjungan ke SG kali ini kami hanya stay 2 malam buat kunjungan ke MOIC aja. Besok pagi nya subuh-subuh sekitar jam 6 pagi, kami sudah meluncur ke Johor Bahru (JB) via Bugis Terminal. Sebelumnya saya riset dulu dan mendapati kalau cara ke JB dari Bugis bisa dengan 3 bis ini:

Lokasi terminalnya ada di Queens Street dan bus nya berangkat dari jam 0530 waktu setempat. Ada 3 bus yang berangkat dari sana, dan harga bus nya per orang SGD 5 (Rp 60rb) per orang. Dari Queens St, bus ini ngga berhenti di halte manapun sampai tiba di Woodland Checkpoint. Pertama kali kami sampai di Woodland Checkpoint unik juga. dari arah sebaliknya, banyak banget orang JB yang masuk Singapur via Bus atau mobil sampai bikin antrian mengular di bagian imigrasi dong. Sayangnya karena ngga boleh foto-foto jadi ngga bisa mengabadikan momen itu :)). Kira-kira seperti ini lah ya pemandangan tiap pagi:

Sampai di JB Central kami sarapan dulu di restoran yang menyajikan nasi lemak dekat stasiun/terminal. Tidak lupa menukar uang IDR ke MYR dan beli sim card lokal buat internetan. Tujuan ke JB apalagi kalau bukan ke Legoland :)). Di JB, untuk transportasi kami naik Grab karena tarif Grab di JB mirip dengan di Jakarta jadi terjangkau lah ya dibanding di SG. Sampai di Legoland sekitar pukul 10 dengan kondisi masih hujan. Theme park buka pukul 11 dan kami masuk dengan jas hujan karena hujan cukup deras.

Sempat agak kecewa karena jika hari hujan, wahana outdoor banyak yang tutup. Alhasil, kami cuma naik wahana-wahana indoor aja macem NinjaGo dan pesawat-pesawatan :))

Tapi setelah makan siang, sekitar jam 2 siang, hujan berhenti namun kondisi masih mendung, pas hujan mulai berhenti, mulai banyak wahana-wahana outdoor yang dibuka kayak roller coaster, wahana outdoor lain kayak fireman, simulator lalu lintas, naik perahu di danau, dll mulai dibuka. Walau masih gerimis tapi ya namanya juga udah kepalang tanggung. Sambil pake jas hujan kuning ala legoland ya kita semua tetep main.

Biarpun harus hujan-hujanan, hikmah di balik itu semua kayaknya Legoland agak sepi walau ini lagi peak season. Semua orang mungkin agak males juga kalau musti hujan-hujanan. Jadi beberapa wahana indoor favorit kayak NinjaGo juga gak ngantri dan bahkan bisa masuk berkali-kali kalau niat.

Total waktu yang dihabiskan di Legoland dari buka jam 10 sampai tutup jam 6 sore bener-bener kurang sih. Apalagi dijeda sekitar 2-3 jam karena hujan deras dan banyak wahana tutup. Jadi tips kalau ke sini silakan dicek dulu weather forecast area Johor dan yakinkan ngga ke sini pas seharian hujan biar ngga rugi. So far wahana yang dipunyai Legoland itu kids friendly, tapi dengan syarat kids nya harus sudah di atas 5 tahun ya. Karena ada beberapa wahana yang mempersyaratkan tinggi badan dan kasian nanti kalau ditolak masuk 🙂

Dan supaya lebih poll juga, musti sekalian nginap di Legoland Hotel dan musti ambil kamar yang ada tema Legoland nya. Semalam harganya sekitar Rp 1.8 juta sampai Rp 2 juta dan kalau peak season mungkin bisa sampai Rp 2.5 juta. Tapi totally worth it. Di dalamnya ada bunkbed buat maksimal 3 anak, tema Legoland yang bisa milih antara Kingdom, pirates, ninjago, dan adventure. Walaupun sarapannya so-so tapi pengalaman nginap nya yang ngga terlupakan buat anak-anak.

Oia, di sebelah Hotel Legoland dan Legoland resort juga ada mini-mall yang isinya tempat-tempat makan halal. Jadi ngga usah ketakutan kesulitan cari makan walau nginap di resort ini. dan juga ada supermarket besar tempat semua ada. Di area resort juga ada banyak apartment yang disewakan via airBNB. Jadi kalau mau hemat, bisa nginap di apartment dan masak sendiri.

Berhubung kami hanya 1 malam saja di sini, besok sore nya rencana kembali ke Singapore namun pagi harinya kita sempatkan mampir ke Johor Premium Outlet, yang isinya outlet-outlet barang-barang branded yang katanya harganya lebih murah dari di toko. Yah walaupun kita ngga beli apapun tapi lumayan juga lah buat cuci mata. Tempatnya lumayan jauh dari pusat kota, persis kayak Jakarta Premium Outlets yang letaknya di Karawang :))

Dia buka jam 9 pagi, jadi pas banget baru buka kita langsung ke sana dan numpang sarapan doang sambil cuci mata :)) Dari Legoland hotel kami udah bawa koper dan jalan-jalan sambil bawa koper kecil dong. Cuci mata sekitar 2 jam, habis itu kami lanjut ke Toppen Shopping Center Johor buat ngeliat pameran space (luar angkasa) yang hanya ada di periode-periode tertentu aja. Lokasinya dari Johor Premium Outlet kira-kira 20 menitan aja. Dan kami di Johor kemana-mana pakai Grab karena lebih simple dan murah.

Toppen shopping center ini luas banget karena ada IKEA nya. Pintu masuknya banyak dan luas mall nya juga bener-bener gede. Big Mall Samarinda sama AEON BSD mungkin kalah besar. Jadi waktu itu kita browsing top attraction di Johor dan ngga sengaja ketemu ini di salah satu IG influencer lokal. https://spaceandyou.com.my/html/index.php . Waktu itu event ini cuma ada di periode akhir 2023 sampai juni 2024 aja dan sayangnya di tahun 2025 ini udah ngga ada.

Menurut saya ini seru banget karena dengan harga RM 58 (Rp 180rb) per orang, kita bisa lihat pameran luar angkasa yang lumayan interaktif dan bikin anak-anak suka. Ditambah bisa sewa kostum astronot juga.

Ada lokasi tempat foto mirip Bulan, Mars, latar belakang Space Ship dan yang paling keren di bagian akhir kita ada di ruangan gelap dan di sana ditampilin video animasi keren dengan efek-efek yang fantastis. Karena waktu itu beneran lagi sepi (mall baru buka) jadinya beneran cuma kita berempat aja yang keliling di area pamerannya dong.

Sekitar jam 3 sore kita langsung menuju JB Sentral dan kembali ke Singapore dengan kereta. Besok paginya kita kembali ke Jakarta dan selesailah liburan singkat di Singapore dan JB ini.

See you in the next journey…

Japan Trip Part 4 (End)

Part terakhir ini akan bercerita mengenai 2 hari terakhir di Tokyo. Memang kami sudah set up agenda 3 hari terakhir di Jepang adalah stay di Tokyo sampai hari kepulangan. Setelah kembali dari Tochigi dan keliling Odaiba, hari berikutnya kami mengunjungi Shibuya Sky Tower. Salah satu lokasi yang lagi hits kala itu. Jadi Shibuya Sky Tower ini ikonik karena dia punya roof top yang ada eskalator ikonik yang bisa menampilkan view 360 degree Tokyo. Sebuah alternatif kalau merasa Tokyo Sky Tree kemahalan hehe. Jadi di Tokyo itu untuk melihat pemandangan dari ketinggian, awalnya hanya ada Tokyo Tower, sejak 2012, dibangun lah Tokyo Sky Tree di daerah Asakusa yang jauh lebih tinggi namun harga masuk observatory nya lebih mahal. Dulu di 2018 tiketnya sekitar Rp 560.000 per orang.

Sedangkan Shibuya Sky ini dibangun di tahun 2014 dan dibuka komersial untuk jadi observatory. Bangunannya sendiri punya tinggi 229 meter (47 lantai) yang terletak persis di area Shibuya Crossing. Tiket masuknya sendiri Rp 250.000 per orang dan ngga dibatasi mau berapa lama di atas.Hanya saja, untuk masuknya, kita musti tentukan time slot nya karena memang kapasitas rooftop nya terbatas. Pilihannya dari pukul 8 pagi sampai pukul 9 malam. Banyak yang merekomendasikan untuk datang sekitar pukul 5 atau 6 sore agar dapat transisi dari sore ke malam. Namun karena kami bawa anak kecil dan orang tua, jadi diputuskan untuk ambil slot yang jam 8 pagi saja.

Sebelum ke Shibuya Sky, kami sempatkan dulu untuk foto-foto di depan JR Tokyo Station Marunochi Building yang ikonik karena pernah muncul di Movie Detective Conan dan juga tempat parkir tamu-tamu kaisar Naruhito.

Dari Marunochi ke Shibuya cukup naik JR Yamanote aja gratis dengan JR pass. Begitu keluar stasiun Shibuya, langsung aja menuju Shibuya Crossing dan ketemu gedung tinggi yang relatif baru di sana.

Begitu ketemu pintu Shibuya Scramble Square ini, belok kiri dan cari lift di pinggir yang ada logo Shibuya Sky nya.

Setelah tiba di Lantai 47, nanti di sana ada gate untuk cek tiket (e-voucher). Sangat recommended untuk beli via online ticketing kayak Klook atau Traveloka supaya ngga perlu antri dan kehabisan kuota. Nah setelah lolos gate ticket baru lah tiba di observatory pertama tempat foto-foto di sudut ruangan. Di sini baby stroller bisa dibawa dan nanti dititip di lobby ke petugasnya.

Nah ini yang paling iconic, eskalator Naik dan Turun dengan view kaca di puncak Shibuya Scamble Square.

Karena di observatory ini nggak ada batas waktu, kita bisa sepuasnya di sini sampai bosen. Cuma memang di pagi hari gini, cafe di atas rooftop nya masih tutup sehingga ngga bisa lama-lama karena akan haus dan lapar. Di rooftop ini juga banyak spot-spot foto bagus seperti Helipad dan tangga-tangga kayu tempat lihat sunset kalau sore.

Disarankan ke sini untuk bawa jaket karena anginnya kenceng banget. Di sini juga ada beberapa security untuk jaga supaya pengunjung ngga kelamaan di pinggir karena tinggi kaca di beberapa area hanya 150 cm aja, jadi lumayan bahaya juga.

Setelah puas foto-foto, begitu turun 1 lantai ke bawah pun masih ada observatory indoor yang menghadap ke 4 penjuru. Di sini ada banyak cafe dan toko suvenir sebelum kita keluar ke lift arah turun. Oia, di sini pun ada lift yang super cepat mirip di Tokyo Sky Tree yang bisa naik 47 lantai dalam waktu kurang dari 1 menit. Sayangnya ngga sempat videokan waktu itu.

Untuk foto-foto dan observasi di sini kira-kira 1-1.5 jam sudah cukup lah ya. Kecuali memang kita mau datang pas menjelang sunset, mungkin butuh waktu 2-3 jam karena nunggu peralihan dari senja ke malam buat bikin video time lapse. Agenda selanjutnya adalah ke Yokohama di mana kami mau lihat Gundam Factory Yokohama sekaligus makan siang di sana.

Untuk pergi ke Yokohama tinggal ke stasiun Shibuya (subway) dan naik kereta dengan tujuan Motomachi Chukagai (Toyoko Line). Nah ada sedikit tricky part nya di sini. Jadi beberapa kereta antar kota di Jepang itu, ada 2-3 jenis yang dibedakan dari berapa jumlah stasiun yang akan dipakai sebagai tempat dia berhenti, mirip dengan kategori shinkansen Tokaido lah. Jadi ada kereta LOCAL, yang mana dia akan berhenti di semua stasiun sesuai dengan yang ada di peta, dan yang kedua adalah LIMITED EXPRESS, pemberhentian lebih sedikit dari Local, dan EXPRESS yang jauh lebih sedikit berhenti dan lebih cepat.

Jadi karena hari itu adalah Golden Week, sudah bisa dipastikan dong, suasana di subway kayak apa dan juga suasana di Yokohama nanti kayak apa hehe. Perjalanan dari Shibuya ke Yokohama pakai kereta Express kira-kira 50 menit, lumayan jauh juga karena Yokohama itu 80 km. Keluar dari Stasiun Motomachi Chukagai itu padet banget, mana karena kita bawa stroller, pasti musti antri panjang di lift bareng turis-turis lain. Hasilnya, dari subway ke ground level aja perlu 10-15 menitan. Tujuan ke Gundam Factory sebetulnya kita mau lihat Moving Gundam, dimana si Gundam nya gerak-gerak diiringi lagu dan efek. Gundam ini sebetulnya adalah Gundam tipe RX-78F00 yang dulu ditempatkan di Odaiba sebelum diganti Gundam Unicorn. Diletakkan disini karena di Yokohama dibangun fasilitas museum dan Gundam store jadi ya sekalian aja buat narik turis ke sini. Sebetulnya si Moving Gundam itu ada pertunjukkan nya tiap 1 jam jadi karena kita udah lapar jadilah kita cari makan siang dulu sebelum menuju ke sana.

Lokasi makan siang yang kita pilih namanya Sario, Heichinrou, letaknya persis di tengah-tengah Chinatown. Karena Golden Week, semua jalanan di sini penuh sesak sama pejalan kaki dong. Kebayang lah, pas tengah hari bolong musti nyari restoran yang kita belum tahu dimana dan dalam kondisi lapar hehe.

Setelah ketemu resto nya, kita masuk dan duduk di lantai 3, dimana agak lengang. Jadi di Sanrio ini, menu yang dijual adalah Muslim Friendly food, bukan Halal Certified. Jadi dia sudah pisahkan utensils dan prosedur pemilihan bahan makanan agar ngga tercampur dengan menu non-halal. Tapi perlu digarisbawahi juga bahwa daging ayam dan sapi yang dia pakai sudah halal certified Japan ya.

Menu Halal nya hanya terbatas sama Ramen, Nasi Kare, Beef Bowl dan Gyoza. Harganya sekitar 800-1000 JPY atau sekitar 100-120 ribu IDR. Harga yang normal kalau di Jepang. Dan ini sistemnya kita antri di kasir, pilih menu, bayar dan bawa sendiri makanannya ke meja. Untuk air putih, gratis sepuasanya dan ada dispensernya.

Selain menu Halal tadi, kita juga bisa pesan Menu Vegan nya yang pasti aman untuk dimakan.

Secara rasa sih B aja ya, tapi karena dia halal jadinya ya lumayan membantu daripada nyari-nyari lagi resto yang lain yang lokasinya cukup jauh dan belum tentu kosong juga. Sehabis makan di sini, kita jalan kaki menuju Yokohama Naka Ward di area terbuka di pinggir pantai di Yokohama. Perjalanan ini tuh seperti napak tilas perjalanan saya ke sini di Summer 2018 yang bikin saya kapok ke Jepang pas lagi summer karena panas dan gerahnya ampun hehe.

Sepanjang perjalanan ke Gundam Factory nemu beberapa pameran bunga musim semi dan juga tempat tambatnya Nippon Maru dan Nikawa Maru

Tips lagi kalau ke Yokohama, anginnya kenceng banget terutama di pinggir pantainya. Jadi ya musti bawa jaket biar ngga masuk angin.

Kembali disarankan untuk beli tiket Gundam Factory via website supaya menghindari antrian seperti ini. Di dalamnya ada life size Gundam, toko suvenir, toko makanan dan tangga untuk duduk-duduk.

Lalu untuk tiket nya sendiri bisa kita beli yang reguler dan juga Observatory Deck yang bisa lihat dari atas seolah-olah jadi pilot Gundamnya.

Istri saya sempat videokan Moving Gundamnya di sini

https://www.instagram.com/reel/CsKrIFChmn91PZ3yNudKsYMkEV3FzZzUxibTM80/

Durasi untuk observe Gundam Factory ini kira-kira 1 jam sudah cukup, sebetulnya di Yokohama ini masih banyak tourism spot lain seperti Yokohama Air Cabin yang sedang hype, cuma karena kita semua udah capek, jadi ya akhirnya memutuskan untuk pulang ke Tokyo jam 4 sore buat istirahat di hotel.

Sampai di Tokyo, tak lupa mampir ke 7Eleven buat beli makan malam. Karena semua sudah pada capek, akhirnya malamnya kita nggak kemana mana dan tidur cepat di hotel karena besoknya masih ada 1 agenda lagi yaitu ke Team Lab Planets.

Besok paginya, sebetulnya tidak ada agenda khusus karena jadwal ke Team Lab di Odaiba itu di sore hari sekitarv pukul 15. Karena ibu mertua masih capek perjalanan jauh ke Yokohama kemarinnya, jadi kami putuskan untuk jalan-jalan bertiga saja dengan istri dan anak saya yang kecil untuk makan ramen Honolu di Shinjuku sekaligus main-main ke Shinjuku Gyoen.

Shinjuku Gyoen ini taman terbesar di Tokyo yang selalu saya kunjungi setiap ke Jepang. Kalau musim sakura, taman ini penuh sesak karena orang-orang pada piknik. Tiket masuk ke sini 500 Yen (sekitar Rp 60 ribu). Dan saking luasnya ini taman, kalau mau keliling taman ini perlu effort khusus. Di taman ini ada spot untuk lihat Sakura (Cherry Blossom Tree) dan ada juga spot untuk lihat Ginkgo (daun yang menguning kalau musim gugur). Jadi kumplit lah ya. Dan yang ikonik ya lapangan terbuka yang luas yang ada gedung NTT Docomo. Taman ini jadi setting salah satu film Makoto Shinkai yang judulnya Garden of Words tahun 2013.

Ini kalau musim gugur, daunnya pada kuning semua dan jadi ikonik.

Enaknya tinggal di Jepang, ruang terbuka hijau nya banyak ya hehe.

Nggak lupa di sini kan ada Starbuck yang baru dibuka, ya kita tes lah beli kopi dan Matcha di sini.

Ramen Honolu buka pukul 11 jadi memang tujuan kita di Shinjuku Gyoen ini ya hanya ngabisin waktu aja. Setelah jam 11 kita jalan menuju Ramen Honolu. Lumayan jauh juga sekitar 800 meter dan tempatnya agak membingungkan karena di basement ruko gitu.

Honolu ini secara ketebalan kuah mirip Tori Bushi namun lebih light sedikit. Andalannya Chicken ramen. Tempatnya sempit mungkin hanya nampung 10-15 orang aja, dan karena ini baru buka, jadi ya kami pelanggan pertama hehe. Uniknya, dia itu jual juga ramen instan kemasan yang bisa dibawa pulang. Sepulang dari makan ramen, kita kembali ke hotel untuk istirahat sebelum berangkat ke Odaiba untuk menuju Team Lab.

Jam 3 sore kita berangkat kembali ke Odaiba untuk menuju Team Lab Planets Tokyo. Team lab adalah museum modern yang di dalamnya banyak karya seni dalam bentuk digital dan moderen. Sebelumnya kami sudah pernah ke lokasi Team Lab yang di Singapura dan memang keren banget. Beda sekali dengan museum-museum konvensional. Tahun 2018 juga saya pernah ke TeamLab Tokyo namun dulu lokasinya masih di dekat ferris wheel dan sekarang sudah pindah ke tempat yang lebih besar meski masih di area Odaiba.

Di Jepang tahun 2023 ini, tema dari TeamLab Planet nya adalah karya seni yang menggabungkan seni cahaya, air dan suara. Lihat di IG dan youtube memang keren sih nampaknya. Dan pas beli tiketnya (online di situs resminya) kita diminta milih slot kedatangan. Satu tiket dewasa itu harganya sekitar 1500 JPY atau Rp 200.000.

Lokasinya di Odaiba tapi letaknya di paling ujung, beda dengan lokasi Odaiba yang masuk dari Tokyo Bay. Makanya dari Kyobashi kita naik kereta Rinkai Line lalu lanjut monorel Yurikamome line dari ujung yang ke arah Shimbashi. Nyampe di sana tepat jam 4 kurang dan sudah bisa masuk ke dalam. Sebelum masuk kita diminta lepas sepatu (jadi akan nyeker sepanjang keliling museum) dan diminta untuk meletakkan barang berharga kayak tas dompet di loker (loker ada banyak di ruangan terpisah).

Setelah naro barang di loker kita akan naik ke tangga yang dibanjiri air mengalir yang bau bahan kimia. Mungkin ini sarana cuci kaki buat meminimalisir pengunjung yang bau kaki kali ya hehe. Setelah itu langsung disuguhi pemandangan kayak begini.

Ini tuh ruangan yang full cermin di semua sisi lalu dikasih semacam “tirai” memanjang dari atap sampai ke lantai yang ditempeli LED yang warnanya bisa ganti-ganti. Jadi pergerakan warna-warni LED nya itu yang bikin ini spektakuler dan benar-benar karya seni.

Habis dari sini langsung disuguhi kolam susu dengan ikan virtual yang bisa berenang-renang di kaki kita. Ini menurut saya keren abis karena kalau merasakan langsung, ikan-ikannya kayak beneran berenang di sela-sela kaki kita ey.

Di ruangan ini kita musti ngegulung celana panjang kita sampai paha, jadi memang disarankan sebelum ke TeamLab Planets ini, kita jangan pakai celana jeans tapi pakai celana bahan yang modelnya lebar atau malah pakai celana pendek sekalian biar ngga repot gulung-gulung. Setelah dari ruangan ini kita disuguhi ruangan dengan bola-bola besar yang bisa berubah warna kalau kita pukul-pukul kayak di game Mario Bros.

Kemudian setelah ini kita diminta duduk melihat kupu-kupu yang dalam ruangan gelap yang mana kupu-kupu nya bisa terbang ke sana kemari secara virtual. Pokoknya keren deh, sayang nya ngga sempat ngerekam kemarin. Coba cek aja video di bawah untuk dapat gambaran visualnya.

Setelah itu kita keluar ruangan untuk lihat suatu karya seni yang mirip telor dinosaurus kayak gini.

Dan yang paling ultimate tentu saja si bunga-bunga ini. Jadi paling akhir tuh ada pameran bunga-bunga gantung (sepertinya anggrek) berwarna-warni dan dia bisa naik turun secara berkala. Ruangannya dibikin full cermin dan cara masuknya unik karena kita harus merangkak karena ngga boleh menyentuh bunganya. Di sini karena tempatnya terbatas jadi harus bergantian masuknya dan setiap batch hanya dikasih waktu maksimal 5 menit untuk foto-foto.

Setelah itu kunjungan ke TeamLab Planets pun selesai. Keluar pintu exit, ambil barang di loker dan pakai sepatu lagi di luar. Overall waktu yang dihabiskan di sini kira-kira hanya 1 jam aja sih, dan dengan harga segitu menurut saya worth it untuk dicoba. Dan tiap tahun museum ini selalu berganti-ganti pamerannya jadi ya pasti bikin penasaran apa lagi exhibition berikutnya.

Pulang dari sana, kami menuju Aqua City buat cari makan. Sempat ada insiden monorel Yurikamome yang kami naikin berhenti lama di stasiun karena angin kencang. Memang saat itu anginnya kenceng banget padahal hari cukup cerah. Di Aqua City, awalnya mau makan kebab, tapi dipikir-pikir kurang kenyang jadi balik lagi ke Green Asia buat dinner. Dinner di sini harganya lebih mahal dari Lunch. Kali ini kami pilih menu vegetarian aja.

Akhirnya pilihan jatuh ke tempe orak-arik yang harganya 1280 JPY atau Rp 150rb dong hehe.

Sehabis makan, sebelum pulang kita sempat nonton show Gundam Unicorn dulu di depan Diver City.

Sekitar jam 7 malam kami kembali ke hotel karena udah capek juga. Sampe hotel sempetin beli cemilan dan roti di 711 dulu sebelum tidur. Nggak lupa beberes dulu karena besok kita akan kembali ke Indonesia.

Karena besoknya kita akan pulang ke Indonesia, kami coba cek transportasi yang paling simple ke Narita Airport. Setelah browsing-browsing, ternyata transportasi paling enak dan cepat itu pakai bus yang namanya Tokyo Limousine Bus. Bus ini adalah bus yang rutenya dari Stasiun Tokyo (Yaesu exit) namun sebelumnya start dari Shinjuku dan Ginza. Cara naik busnya adalah dengan beli tiket di loket di Yaesu exit Stasiun JR Tokyo. Harga tiketnya 3,000 JPY untuk dewasa dan 1500 JPY untuk anak-anak. Setara dengan IDR 450rb dan IDR 250rb per orang sekali jalan. Tiket busnya dipesan on the go ya, jadi ngga bisa reservasi.

Dulu waktu terakhir ke Jepang tahun 2018, kami naik Keisei Skyliner dari Ueno Station. Harganya memang paling murah tapi ribet karena musti ke stasiun Ueno dulu. Tapi dengan bus ini, kita hanya perlu duduk manis dari awal naik di Stasiun Tokyo sampai ke Narita tanpa perlu pindah-pindah moda. Ini sangat rekomended untuk yang bawa barang banyak atau bawa anak-anak.

Karena jadwal flight kami jam 5 sore, maka kami memutuskan untuk start dari Tokyo station pakai bus yang jam 12 siang. Kalau lihat di gmaps sih perjalanan kurang lebih sekitar 60 menitan kalau ngga macet. Sesampainya di Narita, kita mau cari makan siang, dan Alhamdulillah di Narita sudah ada beberapa outlet halal, salah satunya si resto Udon ini yang dulu juga pernah saya makan di tahun 2018. Nama restonya Kineyamugimaru, ini persis di lantai 5 (5F) (view square) terminal 2 departure sebelum masuk imigrasi.

Menu nya udon tapi punya isian, topping dan kuah yang beragam dengan harga kurang dari 1000 JPY per menu. Ada menu anak-anaknya juga jadi pasti disukai lah ya sama semua umur.

Kami pesan curry udon dan berbagai gorengan. Enaknya di sini kita bisa ambil condiment sendiri dan boleh sepuasnya ambil condimentnya.

Sehabis makan kenyang, cari oleh-oleh dulu lalu masuk ke imigrasi dan nunggu di ruang tunggu. Karena flight masih 1.5 jam lagi, kami sempat foto-foto dulu dan main sebentar di ruang tunggu anak (playground) sebelum boarding.

Jam 5 waktu Jepang boarding dan tiba di Jakarta sekitar jam 12 malam. Dari bandara kami naik taksi dan menginap di hotel bandara sebelum lanjut pulang ke Bandung besok paginya.

Intinya perjalanan ke Jepang di late spring ini sangat menyenangkan sih, bisa lihat berbagai macam festival bunga dan ke tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya kayak railway museum, Gundam Factory dan Shibuya Sky. Tips selama di Jepang ya cari penginapan murah yang ada laundry coin, kemudian beli JR Pass kalau kita pergi ke lebih dari 3 kota berhubung per Oktober 2023 kemarin harga JR Pass naik 2 kali lipat jadi ya semakin ngga worth it kalau kita hanya ke 2 kota doang.

Tips lain ya beli makan hemat di 7Eleven dengan lebih dulu seleksi mana yang bisa dimakan (halal) dan mana yang ngga dan meragukan.

See you in the next trip… Semoga bisa menginspirasi…

Japan Trip 2023 Part 3

Part 3 kali ini akan cerita mengenai destinasi di luar Tokyo yang terakhir dari perjalanan ke Jepang saya dan keluarga. Perjalanan kali ini adalah menuju Ashikaga Flower Park di perfektur Tochigi. Tujuannya adalah untuk melihat bunga Wisteria di satu-satunya festival bunga wisteria di Jepang. Jadi dari informasi yang saya kumpulkan, festival bunga wisteria ini hanya ada di pengujung musim semi dan lokasinya di Ashikaga Flower park. Setelah browsing dan kumpulkan data, akhirnya saya tau kalau untuk menuju ke sana, kota terdekat adalah Oyama dan dari sana cukup menggunakan JR Ryomo sekitar 30 menit dan tiba di lokasi Ashikaga Flower Park.

Untuk menuju ke sana sebetulnya bisa menggunakan JR line biasa namun terlalu lama sampai 2 jam 30 menit karena perlu ganti kereta 2-3 kali. Sementara dari Tokyo ada Shinkansen langsung ke Oyama yaitu JR Tohoku yang ke arah Akita dan Hokkaido. Namun pas kami coba book tiketnya ketika pertama kali mendarat di Stasiun Tokyo, ternyata tiketnya sudah sold out semua. Ada alternatif menggukan Hokuriku Shinkansen ke Omiya dan lanjut kereta JR ke Oyama. Akhirnya kami ambil itu karena lumayan motong waktu sekitar 30 menit. Tapi masalahnya adalah tiket keretanya hanya tersedia jam 14.00 siang aja. Semua timeslot penuh karena memang lagi golden week kali ya.

Karena keberangkatan masih siang, maka paginya sekitar pukul 7 pagi kami putuskan jalan-jalan dulu ke Asakusa untuk foto-foto dan cari sarapan. Tips buat yang ingin foto di Sensoji Temple Asakusa tapi ngga hectic orang, bisa dicoba ke sana jam 7 pagi karena toko-toko belum pada buka. Paling baru segelintir orang aja yang udah datang buat mengincar spot foto bagus yang masih sepi pengunjung.

Sekitar jam 8.00 pengunjung yang datang mulai banyak dan perlahan-lahan mulai crowded. Sebelum crowded, kami bergegas meninggalkan Sensoji Temple dan mampir untuk kedua kalinya ke toko eskrim halal di persimpangan Asakusa yang cukup terkenal itu. Penjualnya adalah seorang kakek nenek yang sudah jualan di situ mungkin sejak tahun 60 atau 70-an. Dan di sini eskrim matcha, vanilla, dan hojicha nya sudah tersertifikasi halal.

Saya lupa harga eskrimnya, kalau ngga salah sekitar 800 Yen (Rp 100rb), rasanya persis eskrim cone McD tapi ada rasa matcha dan hojicha. Kita bisa numpang makan di sini namun tempatnya agak sempit.

Setelah makan eskrim, kami menuju ke Sumida river untuk foto-foto di sana sekaligus nostalgia kalau tahun 2015 dulu saat pertama ajak istri ke Tokyo, kami pernah menginap di salah satu jaringan penginapan murah Khaosan Asakusa, yang sayangnya sejak covid kemarin bangkrut.

Setelah beres foto-foto, tidak lupa singgah dan makan di tempat makan legend setiap kali saya ke Asakusa, yaitu Saray Kebab hehe. Jadi ingat tahun 2015 dan 2018 dulu saya selalu makan di sini karena dulu lumayan susah cari makanan halal. Bapak yang jualan kebab dari dulu sampai sekarang masih sama sih sepertinya, om-om Turki yang fasih bahasa Jepang.

Bedanya kebab di sini sama kebab di Nagoya, di sini tuh menunya variatif, ada kebab doang tanpa roti, ada kebab pake nasi, kentang panjang, dll. Harga berkisar di 600 Yen sampai 1,000 Yen per menu. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 09.30, kami balik ke Asakusa untuk beli oleh-oleh berhubung semua toko sudah pada buka. Durasi beli oleh-oleh lumayan lama, sampai 1 jam lebih, maklumlah ibu-ibu banyak milihnya hehe. Akhirnya kita pulang ke Kyobashi jam 11 siang dan hanya punya sedikit waktu sampai jadwal keberangkatan pukul 12.40 saja.

Sudah dibayangkan betapa hecticnya di hotel karena musti ganti baju dan siap-siap, akhirnya jam 12 kurang kami jalan kaki ke Stasiun Tokyo dan nyaris saja tertinggal Shinkansen karena baru sampai peron sekitar jam 12.30. Untungnya karena hari itu puncak Golden Week, semua keberangkatan Shinkanse delay hehe. Luar biasa ini Golden Week di Jepang. Stasiun Tokyo full people.

Singkat cerita, kami naik shinkansen Hokuriku, yang bentuknya lain daripada yang lain, dan turun di stasiun Omiya, selepas itu, diteruskan dengan kereta antarkota JR line sampai di stasiun Oyama, kurang lebih perjalanan sekitar 1.5 jam dari Tokyo.

Di stasiun Omiya itu, kita ketemu kereta JR Tohoku yang warnanya merah (ke Shin Aomori) dan kereta JR Tohoku yang warnanya hijau yang ke Sapporo. Di stasiunnya sendiri sampai ada pajangan model kereta shinkansen yang lewat di stasiun ini.

Singkat cerita, sampailah kita di Oyama, dan di sini kita menginap lagi di Toyoko Inn, cabang jaringan hotel yang sama dengan yang ada di Shin Fuji. Kota Oyama sendiri tidak terlalu ramai dan cenderung sepi, jarak dari Stasiun ke hotel mungkin hanya 3 menit jalan kaki dan di sana ada beberapa kampus sepanjang kita berjalan. Toyoko Inn di sini pun rupanya sudah full book dan beruntung kita dapat kamar karena sudah jauh-jauh hari.

Ada satu kesalahan yang saya lakukan saat menunggu di hotel Tohoku ini. Karena jadwal checkin jam 15:00, dan karena kendala bahasa juga, ternyata kami disuruh menunggu di lobby. Ternyata, setelah menunggu jadwal checkin baru jam 16.00 dan setelah beberes dan ganti baju, kami baru keluar hotel jam 16.45 dan naik kereta lokal (JR Ryomo line) yang jam 17.00.

Kami sampai di Ashikaga Flower park sekitar jam 18.00 kurang dan hari sudah mulai gelap dan antrian sudah mengular. Akhirnya jadi ngga maksimal lihat tamannya dalam keadaan terang. Saran buat yang ingin ke sana tahun depan, memang harus datang sejak hari terang sih biar bisa eksplor lebih lama.

Ini foto-foto yang saya ambil dari keadaan terang yang cuma sekitar 15 menitan sampai kira-kira jam 20.00 malam.

Karena golden week jadi sudah dipastikan ini isinya orang semua hehe. Tapi ya masih bisa jalan dan foto-foto dengan nyaman lah ya.

Ternyata ada beberapa jenis bunga wisteria di sini, dan bunga ini tuh hanya mekar dan ada di pengujung musim semi. Jadi memang sangat terbatas sekali waktu festivalnya, makanya begitu golden week banyak orang Jepang ke sini. Untuk tiket masuknya bisa dibeli di tempat (pasti dapat) atau bisa via online di beberapa provider tiket online dan dibayar dengan credit card.

Tempat ini tutup sekitar pukul 22.00 dan kereta terakhir di pukul 22.15. Karena kami sudah cukup lelah, jadi jam 20.30 kita putuskan pulang dan beristirahat. Besoknya kita kembali ke Tokyo sekitar jam 7.30 pagi. Setelah checkout hotel, sengaja kita datang lebih awal buat ambil foto dengan beberapa kereta yang datang duluan.

Sampai di Tokyo dan masuk ke hotel sekitar jam 9an. habis itu nggak pake lama kita langsung menuju destinasi berikutnya, yaitu Odaiba. Kayaknya hampir semua turis ke Tokyo, rugi kali ya kalau ngga ke Odaiba. Apalagi sejak 2019, patung real size Gundam nya udah berubah jadi Unicorn. Kebetulan cuaca sangat cerah dan di Odaiba lagi ada festival jadi ya isinya orang semua.

Waktu sudah menunjukkan jam 13, dan kami pun cari beberapa lokasi makanan halal di Odaiba. Tips cari makanan halal di sini sebetulnya mudah, cek di google ada sekitar 5-10 resto halal di sini, tapi ya harganya super mahal sih ya. yang paling murah adalah kebab (Ozgur Kitchen Kebab) deket Aqua City, sampai yang paling mahal The Oven yang per orangnya sekitar 1,500-1,800 Yen yang makanannya ala ala buffet all you can eat gitu.

Akhirnya pilihan kami jatuh ke Green Asia Tokyo karena harga nya menengah. Di sini penyambut tamu nya mas-mas Jawa (Malang) yang udah lebih dari 10 tahun kerja di Tokyo. Ramah dan baik, resto nya juga cozy dan makanannya menu nya beragam. Kalau lunch, bisa free salad dan sup dan ada menu vegetariannya.

Per menu nya kalau lunch sekitar 1,000 – 1200 Yen (Rp 150.000) per orang sudah dapat 1 porsi makan dan minum (plus salad, kerupuk, sambal, dan sup). Lumayan worth it lah ya. Selesai makan jam 2 siang dan sampai di hotel jam 3 sore.

Karena anak-anak dan mertua sudah capek, akhirnya kami putuskan malam ini hanya saya dan istri aja yang pergi jalan keluar malam ini. Setelah beli makan malam di 7Eleven, anak-anak ditinggal di hotel dan kami menuju ke Akihabara buat cuci mata. Berangkat jam 7 malam, cuci mata sebentar, cari cemilan, main gacha dan balik lagi ke hotel jam 10 malem.

Di part terakhir nanti sekaligus akan dibahas 3 destinasi terakhir di Jepang adalah Shibuya Sky Tower, Yokohama dan TeamLab Planets Tokyo.

Saya lanjutkan di lain kesempatan ya.

Thank you.

Japan Trip 2023 Part 2

Perjalanan di hari kedua ini adalah menuju ke Kyoto untuk lihat Kyoto Railway museum, lalu makan siang di Ayam Ya Kyoto dan sore nya mobilisasi menuju Shin Fuji Station dengan Shinkansen. Pukul 07.30 kami sudah check out, nggak lupa belanja dulu di 7Eleven dan beli frenchfries McD untuk bekal sarapan di jalan. Sebelum jalan ke stasiun, nggak lupa foto foto dulu suasana di sekitar hotel.

Jam 7 pagi gini suasana kota Nagoya masih sepi banget. Mungkin karena orang-orang baru masuk kerja jam 9 jadi belum banyak yang keluar rumah, dan juga karena menyambut Golden Week yang jatuh di hari Kamis-Minggu, jadi mungkin udah banyak orang Jepang yang ambil cuti. Di stasiun Nagoya pun ngga begitu padat dan bisa ambil beberapa foto dulu.

Perjalanan ke Kyoto naik Shinkansen hanya 30 menitan. Karena Kyoto railway museum buka pukul 09.00, jadi masih ada cukup waktu untuk cari tempat coin locker di stasiun Kyoto, cari makan, dan mobilisasi. Perjalanan Nagoya-Kyoto mayoritas adalah pemandangan sawah seperti ini.

Sesampainya di stasiun Shinkansen Kyoto, langsung cari Coin Locker di posisi strategis, dan menuju ke JR Kyoto Station. Lokasi Kyoto Railway museum ngga jauh dari JR Kyoto. Hanya 1 stasiun saja. dan di kereta local nya banyak keluarga dan anak-anak yang memang tujuannya adalah ke museum kereta api.

Jam 9 kurang dikit, pintu museum dibuka. Tiketnya sendiri dibeli lewat vending machine kayak begini. Dewasa 1500 Yen (200rb IDR), anak-anak di bawah 10 tahun 500 Yen (75rb IDR). Lumayan terjangkau lah ya.

Begitu masuk, kita langsung disuguhi beberapa model kereta api yang ada di Jepang dari mulai kereta jadul sampai kereta modern. Semua kereta nya bisa dimasuki dan dilihat interiornya.

Bisa berfoto juga di dalam tempat masinis Shinkansen

Di bagian dalam museum, ada gedung 3 lantai yang di dalamnya berisi display kereta, museum peralatan dan teknologi kereta, arena tempat mainan track kereta, restoran, dan akses menuju rooftop dan arena outdoor.

Dan yang paling menarik dari Kyoto Railway Museum ini adalah bagian outdoor nya dimana ada display lokomotif ala ala Thomas gitu dan juga pengunjung bisa naik kereta uap dengan perjalanan sekitar 5-10 menit dengan harga 250 Yen per orang dewasa dan anak-anak.

Sayangnya kemarin lupa ambil video pas naik kereta uap nya. Intinya sih kereta uap ini berangkat tiap 15 menit karena lama perjalanan hanya 5-10 menit maju mundur area stasiun Kyoto. Sepanjang jalan si tour guide nya ngomong penjelasan mengenai sejarah stasiun Kyoto, dll tapi karena dalam bahasa Jepang, ya ngga paham kita hehe.

Sebetulnya ada atraksi lain dimana dua lokomotif di ini akan diputer di display tengah untuk dikeluarkan uap (steam) nya. Sayangnya atraksi itu adanya jam 2 dan 4 sore jadi yah ngga bisa kita lihat waktu itu. Kurang lebih kayak yang ada di video ini lah ya

Total durasi kami di Kyoto Railway museum include beli oleh-oleh sekitar 3.5 jam lah ya. Termasuk kilat juga sih. Dari buka jam 9 sampai jam 12an kita udah putuskan selesai karena mau ngejar waktu makan ramen di Ayam Ya. Berkaca pada pengalaman tahun 2018 lalu, restoran di kota-kota selain di Tokyo bakal tutup setelah jam 2 siang dan baru akan buka lagi jam 5 sore sampai malam. Jadi ya musti bergegas sebelum tutup. Idealnya sih di museum ini bisa makan waktu dari pagi sampai sore asal ngga ada tempat lagi yang dituju dan bawa bekal makan siang sendiri.

Untuk menuju ke Ayam Ya dari museum, cara tercepat dan termudah adalah dengan naik bis. Kami jalan kaki sekitar 5 menit dari museum menuju halte terdekat. Karena ini hari kerja dan udah siang, bis nya juga ngga penuh dan bisa duduk di dalamnya.

Sampai di Ayam Ya, ternyata antriannya panjang banget padahal udah jam 1 kurang. Kami pun dapat antrian no.16 dan menunggu kira-kira 30 menitan. Di sini banyak juga turis-turis Indonesia yang memang tujuannya makan ramen halal di Ayam Ya. Ayam Ya ini punya musholla di lantai 3 di rumah di seberangnya. Rumah ini kayaknya gudang dan lantai 3 nya memang dijadikan musholla oleh mereka. Jadi sambil nunggu bisa solat zuhur dulu.

Menu di Ayam Ya ini Soyu ramen ada pilihan spicy dan non-spicy. Di samping antriannya yang lama, di sini pesannya juga di awal ketika masuk melalui vending machine kayak begini.

Harga ramennya sendiri sekitar 900 Yen (120ribu IDR) untuk porsi dewasa dan 550 Yen untuk porsi anak-anak. Porsinya anak-anak sebetulnya lumayan banyak jadi mungkin agak kebanyakan juga kalau anak di bawah 5 tahun pesen 1 porsi sendiri. Air minum gratis, seperti resto Jepang pada umumnya. Overall tempat di Ayam Ya sempit jadi memang wajar sih kalau selalu antri di jam makan siang. Kita aja berlima dapat tempat di pojokan.

Ramen di Ayam Ya ini tipikal kuah yang light dan nggak terlalu tebal. Gurih dan enak sih tapi sayang potongan daging ayamnya sedikit hehe.

Selesai makan di sini kira-kira jam 2 sore. Sebetulnya memang ngga ada tujuan lain sih di Kyoto karena kalau mau jalan ke Arashiyama kalau bukan Autumn itu ngga worth it. Mau jalan ke Kiyomizu Dera dan Gion juga jauh banget dari posisi sekarang dan agak susah karena bawa anak kecil di jam tidur siang mereka hehe. Jadi ya abis makan langsung menuju stasiun Kyoto aja dan memang udah sengaja ambil kereta jam 16 sore untuk menuju ke Shin Fuji, destinasi berikutnya.

Sesampai di JR Kyoto station, ambil coin locker, beli perbekalan (7Eleven, french fries McD) kira-kira jam 3an lalu langsung masuk ke stasiun Shinkansen untuk naik kereta JR Shinkansen Kodama (satu-satunya tipe Shinkansen yang berhenti di stasiun Shin Fuji). Karena naik shinkansen tipe Kodama, berarti kita akan berhenti di semua stasiun dan perjalanan akan memakan waktu 1.5 jam. Tapi karena kita melawan arus (relatif ngga banyak yang naik Kodama menuju Tokyo), jadi 1 gerbong hanya isi kita berlima aja.

Cukup membosankan juga karena di setiap stasiun berhenti kira-kira 1-2 menit karena harus turun/naikkan penumpang dan kasih jalan ke Shinkanse tipe Hikari dan Nozomi. Oia, tips naik Shinkansen JR Tohoku (Tokyo-Shin Osaka), ambil posisi kursi sebelah kanan kalau dari arah Tokyo dan ambil posisi sebelah kiri kalau dari arah Osaka supaya bisa lihat Gunung Fuji.

Kira-kira sekitar jam 18 kita sampai di Shin Fuji. Kenapa ke Shin Fuji? karena destinasi kita berikutnya adalah Fuji Shibazakura, festival bunga Shibazakura (phlox) berwarna pink yang diadakan di kaki gunung Fuji. Festival ini paling terkenal pas Golden Week karena semua orang Jepang rata-rata pada ke sini. Sebetulnya untuk menuju Fuji Shibazakura festival ini, bisa melalui 3 cara setelah saya riset mendalam. Yang pertama adalah cara mainstream yaitu naik bus dari Stasiun Shinjuku (lihat panah biru di bawah) dan langsung menuju Stasiun Fujikawaguchiko, sebuah “stasiun central” pemberhentian ke arena wisata di sekitar gunung Fuji seperti Kawaguchi Lake, Fuji-Q highland, dll. Ini rute paling populer karena hemat ongkos dan mudah. Tapi kelemahannya adalah, setiap Golden Week pasti macet karena saking banyaknya mobil dan jalanan yang sempit di sekitar Gunung Fuji. Cukup banyak yang mengeluh kejebak macet berjam-jam setiap Golden Week loh.

Cara kedua adalah dengan naik kereta api JR dari stasiun Tokyo/Shinjuku ke Stasiun Fujikawaguchiko (lihat panah kuning di atas). Cara ini relatif lebih cepat dan murah namun sama saja dengan cara naik bus tadi, rentan kejebak macet dari Fujikawaguchiko station menuju ke Fuji Shibazakura festival karena musti lanjut naik bus lagi.

Nah setelah saya nontonin youtube turis-turis India yang ke shibazakura, dan juga googling, ada 1 cara termudah (namun ngga murah) yaitu dengan menuju ke Stasiun JR Shinkansen Shin Fuji, menginap di sana atau lanjut naik bus lagi dan menginap di kota yang namanya Fujinomiya (lihat panah merah di atas). Cara ini relatif simpel kalau kita punya JR pass karena akses ke Stasiun Shin Fuji gratis. Masalahnya hanya 1, di Stasiun Shin Fuji ini hanya ada 1 hotel dan kalau kita ngga book jauh-jauh hari, bakal ngga kebagian dan mungkin akan menggelandang hehe. Nama hotelnya adalah Toyoko Inn ShinFuji Minami Eki. Hotel ini tuh persis di sebelah stasiun JR Shin Fuji. Harga per kamar untuk 1 dewasa + 1 anak adalah 800rb IDR dan yang 2 dewasa + 1 anak adalah 1.2 juta IDR.

Masalah lain jika menempuh rute ini adalah, ada bus yang rutenya Shin Fuji Station – Fujikawaguchiko Station yang berangkat setiap 2 jam sekali. Nah, yang lucu adalah, informasi yang saya dapat mengenai bus ini semua dalam bahasa Inggris. Jadi ya terpaksa pakai google lens berkali-kali untuk yakinkan rute dan nomor bus nya serta di mana poin keberangkatannya. Itu pun belum yakin 100% pas kita sampai di sini.

Nah karena kami sampai di Shin Fuji sekitar jam 6 sore dan sudah gelap, jadi ya ngga akan sempat kemana-mana lagi. Dari Stasiun langsung ke hotel. Di stasiun shinkansenya pun ngga ada pagar pembatas kayak di Stasiun Tokyo, Kyoto atau Nagoya. Jadi memang bener-bener seperti di desa.

Nah yang bikin kesel lagi adalah, begitu mau checkin, ngga ada satupun staff yang bisa English hehe. Sempat ketahan cukup lama di front office, namun karena jaman sekarang udah ada google translate yang bisa ngeluarin suara, jadi agak mendingan lah ya. Oia standar hotel di Jepang, semua ada laundry coin, jadi ya hal pertama yang saya lakukan apalagi kalau bukan nyuci hehe.

Dan semua tempat di Jepang juga terjangkau sama Family Mart/7 Eleven, jadi abis taruh laundry di laundry coin, langsung menuju Family Mart terdekat untuk cari makan malam sekalian cari makanan untuk sarapan. Lokasi Family Mart ngga begitu jauh, hanya 3 menit jalan kaki dan ini tuh kota nya sepi banget, memang khusus buat transit buat ke Fujinomiya atau ke Gunung Fuji dari arah selatan Jepang.

Setelah semua perbekalan dibeli, hal berikutnya yang saya lakukan adalah menuju halte bus di sekitar stasiun untuk mencari di mana posisi bus yang akan dinaiki nanti dan keberangkatan pertama jam berapa. Lokasi terminal/halte persis di bagian belakang JR Shin Fuji Station Karena malam itu sudah jam 8 lewat, jadinya semua bus sudah berhenti operasi. Karena semua tulisannya bahasa Jepang, jadi saya pantengin tuh satu-satu nomor halte nya pake google lens dan akhirnya dapat lah si Bus yang akan dinaiki nanti, yaitu di halte nomor 5. Sebuah effort yang sangat berfaedah. Saya coba make sure ke petugas di stasiun pakai google translate. Intinya benar sih, bus ke Fujishibazakura itu memang di nomor 5 ini.

Bus nomor 5 ini khusus pas ada Shibazakura Festival akan masuk dan berhenti di venue nya. Ongkos sekali jalan adalah 1,400 Yen (180rb IDR) per orang, kalau anak di bawah 12 tahun setengah harga. Jadi bolak-balik 1 orang habis 400rb IDR dewasa dan 200rb IDR untuk anak-anak. Ya ngga bisa dibilang murah juga sih ya hehe.

Besok pagi nya, kami bangun jam 5 pagi waktu setempat, karena berdasarkan info keberangkatan, bus paling pertama itu start jam 7 pagi dari terminal Shin Fuji dan bus berikutnya ada di pukul 9. Karena lama perjalanan ke sana 1.5 jam dan target kami sebelum pukul 12 siang harus sudah kembali ke JR Shin Fuji karena takut kejebak macet, jadi memang harus ambil bus pertama ini. Ternyata kalau pagi, pemandangan di hotel ini cakep juga.

Pukul 6 sudah checkout hotel dan berjalan menuju JR Shin Fuji. Tidak lupa, nitip koper ke hotel dan sampaikan kalau akan diambil sekitar jam 2 siang pakai google translate hehe. Stasiun nya sendiri memang baru dibuka pukul 6 pagi. Jadi sempat foto-foto dulu di sekitar stasiun berhubung cuaca cerah.

Pukul 7 kurang, bus nya akhirnya datang di Halte No.5. Karena takut salah, saya yakinkan dulu ke sopirnya dengan buka google map dan menunjuk Shibazakura Festival. Dia mengangguk dan ngomong pake Bahasa Jepang. Ok lah, gas berarti bener hehe. Bus nya sendiri seperti bus pada umumnya. Karena ini halte pertama, jadi pada bisa duduk.

Di jepang, pembayaran bus dilakukan di depan pada saat turun. Tapi sebelum naik, kalau kita pakai IC card (Pasmo/Suica) kita wajib tapping di pintu tengah atau depan sebagai tanda posisi awal naik. Ngga punya IC Card pun ngga masalah karena dia menerima pembayaran cash juga.

Sepanjang perjalanan, walau naik gunung tapi ngga banyak belok-belok kayak di Puncak dong. Malah jalannya relatif mendatar karena mungkin masih di kaki gunung Fuji kali ya. Bus ini nanti berhenti cukup lama di Fujinomiya station buat ngangkut penumpang dari kota terbesar di sini. Kalau mau nginap di tempat yang agak rame, memang bagusnya pilih Fujinomiya sebagai tempat transit kalau nyampe Shin Fuji belum terlalu malem. Di sini juga cukup banyak hotel murah, tp ya jangan harap ada yang bisa bahasa Inggris hehe. Sepanjang jalan kita juga bisa lihat posisi Fuji-san di kanan-kiri jendela.

Sekitar 1.5 jam perjalanan, akhirnya sampai juga di area Fuji Shibazakura. Mayoritas penumpang di bus ini turun di sini. Nah pada saat turun, saya coba yakinkan dulu posisi halte tempat pulang nanti dengan nanya ke tour guide dekat situ. Ternyata di area pintu masuk, ada papan penunjuk jalan tempat bus umum. Jadi ada area tunggu bus umum yang ke Tokyo (shinjuku) dan kota-kota lain. Bus pulang yang ke Shin Fuji letaknya paling pojok. Saya cek jam masih menunjukkan pukul 9, dan jadwal bus berikutnya adalah pukul 11.30. Jadi cukup lah keliling Shibazakura sampai jam 11 sebelum balik lagi ke Shin Fuji.

Harga tiket ke Shibazkura adalah 1200 Yen (150rb IDR) untuk dewasa dan 600 Yen untuk anak-anak di atas 5 tahun. Lumayan murah lah untuk suguhan pemandangan seperti ini:

beruntung banget cuaca saat itu cerah. Biasanya kalau berawan, Fuji-san nya akan ketutup sebagian awan. Dan meskipun di foto ini matahari bersinar terik, aslinya ini suhu hanya 15 derajat dan anginnya kenceng banget. Jadi semua orang yang ada di foto ini pasti pada pakai jaket tebal hehe.

Sepanjang mata memandang, di sini terlihat hamparan pink moss (shibazakura) dan beberapa bunga lain. Baru jam 9 aja kepadatan turis udah luar biasa. Apalagi siangan dikit. Most of them bawa mobil dan naik bus. Ngga heran tiap golden week katanya di area ini macet parah hehe. Di sini tuh banyak sekali spot foto baik yang gratis maupun yang bayar. Yang bayar ada Peter Rabbit English Garden (bayar 1500 Yen untuk dapat 1 foto cetak) dan juga ada di area canoe. Kami hanya coba yang Peter Rabbit karena yang di area Canoe ngantrinya luar biasa.

Gambar Gunung Fuji nya kayak editan ya haha. Oia, di sini juga banyak vending machine minuman hangat dan dingin plus ada beberapa stall makanan. Memang ngga ada yang halal certified atau muslim owned. Tapi kalau lapar dan mau aman banget memang lebih bagus bekel makan dari 7Eleven atau Famima dulu. Tapi kalau ngga pun di sini ada stall kentang goreng panjang gitu yang menurut saya mustinya bisa dimakan karena yang jual ngga jual menu non halal.

Lumayan lah buat ganjel-ganjel dikit. Ada juga yang jual Kebab tp ya yang jual bukan orang Turki jadi meragukan juga hehe. Di bagian dekat pintu keluar sebelah kanan, ada toko oleh-oleh yang jual banyak kue-kue mochi, peach tea (yang disediakan sample) dan beberapa tanaman pink moss. Peach tea nya lumayan worth it lah buat dibeli. Satu kotak 700Yen isi 5 bungkus.

Setelah puas foto-foto dan keliling, sekitar jam 11 kami keluar dan jalan menuju halte bus kepulangan ke JR Shin Fuji. Saya coba buka google map untuk cek posisi bus nya. Ternyata dia udah kejebak macet di atas dong. Alhasil, bus baru datang sekitar jam 11.30. Kami pun naik dan pulang menuju Shin Fuji. Planning hari ini sebetulnya untuk antisipasi kemacetan kita sudah book shinkansen jam 15.00 ke Tokyo, tapi karena mungkin akan lebih cepat, jadi saya akan coba reschedule di stasiun.

Di jalan pulang, rupanya kota Shin Fuji ini banyak pabrik di kanan kirinya. sepertinya sih pembangkit listrik kalau dilihat dari modelannya.

Sampai stasiun sekitar pukul 13.30, saya langsung ambil koper di hotel dan menuju customer service dan reschedule kereta dari jam 15.30 ke jam 13.45. Alhamdulillah bisa. Kami pun pulang ke Tokyo dan tiba di Kyobashi dan di hotel tempat kami book 1 kamar full 8 malam sekitar jam 15.00 sore.

Karena hari sudah sore dan memang kita nggak ada rencana ke tempat lain, saya pun ngajak istri untuk ke salah satu ramen halal yang baru buka di bulan November 2022. Namanya Tori Bushi. Tempatnya di Ueno Okachimachi JR Station. Awalnya kita kira dari google map si Tori Bushi ini dibilangnya hanya 5 pemberhentian kereta Tokyo Metro Ginza Line dari Kyobashi sampe Ueno-Hirokoji. Tapi aktualnya, dari Ueno Hirokoji itu kita jalan kaki 10 menit naik tangga yang cukup bikin pegel dong. Mana si kecil ingin ikut dan dia ingin digendong pas turun dari kereta.

Tapi jalan kaki dan naik tangga yang lumayan melelahkan itu terbayarkan pas kita sampai di Tori Bushi ramen.

Walaupun ini ramen halal, banyak juga Nihon-jin yang makan di sini. Seperti biasa, di semua resto ramen di Jepang, kita wajib order via vending machine dan bayar cash.

Dia hanya jual menu Ramen ayam dengan kuah Miso yang sangat thick/tebal. Daging ayamnya banyak banget dan tebal. Personally saya sih lebih suka style Tori Bushi ini ketimbang Ayam Ya. Tapi ternyata istri nggak begitu doyan yang tebal gini, lebih suka yang versi light kayak di Ayam Ya.

Harga ramennya pun dari mulai 800 Yen (100rb IDR) untuk yang versi chicken white soup biasa dan yang Special yang saya order harga nya 1250 Yen (150rb IDR). Dia jual yang versi kuah pisah (tsukemen) juga. Dan jual nasi juga kalau masih laper setelah makan 1 porsi. Oia, defaultnya di sini tuh ramen disajikan dengan daun ketumbar (coriander). Tapi biasanya orang-orang pada ngga doyan dan dia punya opsi diganti ke green onion (daun bawang).

Kita tiba di sini sekitar jam 6 sore, karena masih belum waktu dinner, jadi warungnya masih agak lowong. Selesai dari sini langsung balik menuju hotel untuk istirahat karena besok ada agenda pindah kota lagi ke Tochigi perfecture untuk lihat festival bunga Ashikaga di sana.

Saya teruskan cerita nya di part 3 ya.

Short Trip (Escape) to Bangkok

Sebetulnya trip ke Bangkok ini udah saya lakukan di pertengahan Desember 2022 lalu namun baru sempat menulis di blog hari ini karena kesibukan dan lain-lain. Jadi ceritanya, sekitaran bulan Agustus 2022, istri saya yang seorang fans berat Final Fantasy series, mengajak untuk nonton konser musik original soundtrack dari game franchise Final Fantasy di Bangkok. Konsernya sendiri sebetulnya diadakan di 17-18 Desember 2022. Jadi masih ada sekitar 4 bulan lagi dari Agustus. Dan berhubung situasi pandemi sudah mulai mereda dan Bangkok sudah mulai melonggarkan persyaratan masuk, akhirnya kita beranikan lah beli tiket online untuk konsernya.

Harga tiketnya sekitar 3,400 THB atau kalau dirupiahkan sekitar 1.5 juta untuk kelas non VIP. Setelah beli tiket konser, kita ngga langsung beli tiket pesawat karena masih bingung mau ngajak anak-anak atau nggak dan apakah saya bisa ajukan cuti atau ngga di pertengahan Desember itu.

Dari Agustus-Oktober, saya sibuk jelajahi Vlog yutuber-yutuber yang sudah mengunjungi Bangkok. Dari sekian banyak video yang saya tonton, kesimpulannya, masuk Bangkok sejak September 2022 sudah ngga perlu lagi antigen/PCR namun hanya cukup tunjukkan sertifikat vaksin saja. Singkat cerita, di bulan Oktober akhirnya kami memutuskan untuk pergi berdua saja dan meninggalkan anak-anak di rumah kakek-neneknya karena anak saya yang besar masih sekolah dan Bangkok bukan kota yang ramah untuk jalan-jalan dengan anak kalau lihat banyak video di youtube.

Tiket pun sudah dibeli. Saya memutuskan berangkat hari Jumat 16 Desember sore, pukul 16.30 dengan Air Asia rute CGK-DMK dan pulang di hari Senin 20 Desember pukul 15.30 dengan Thai Ariways rute BKK-CGK. Ini perjalanan perdana ke Bangkok jadi cukup deg-degan juga dan karena saya hanya bisa cuti satu hari saja, jadi agenda utamanya hanya untuk nonton konser ini di Sabtu tanggal 17 Desember nya. Jadi kami punya 1 hari (minggu 18 Desember) untuk explore Bangkok dalam sehari.

Singkat cerita di hari keberangkatan, saya sempat Work From Anywhere (WFA) dari lounge di Bandara CGK karena masih ada meeting pukul 14.30 nya. Sejak Kamis malam saya sudah di hotel bandara dan WFA dari jumat pagi sampai selepas solat jumat. Istri berangkat dari Bandung pukul 9 dan sampai di bandara pukul 13 WIB.

Perjalanan ke DMK (Don Meuang Airport) Bangkok dengan air asia cukup smooth. Karena pesawatnya kecil (A320) jadi ada turbulensi sangat terasa. Untungnya di Air Asia ini disajikan makan minum walau berbayar, jadi lumayan lah daripada diem aja selama 3 jam perjalanan. Sampai di DMK kira-kira pukul 19.30 WIB, dan dari info yang saya dapat, transport dari DMK ke kota yang tercepat adalah dengan taksi, bisa nyegat langsung atau pakai JustGrab di depan Terminal kedatangan. DMK sendiri kalau dilihat-lihat mirip KLCC (bandara air asia nya Kuala Lumpur jaman dulu) atau Halim jaman dulu, khusus terminal low cost budget jadi kondisi Airportnya sendiri ya ala kadarnya hehe. Tapi Airport ini letaknya lebih dekat ke kota dibanding Survanabhumi (BKK).

Naik taksi dari DMK ke Hotel (kami menginap di hotel Ibis Sathorn) https://all.accor.com/hotel/6537/index.id.shtml yang letaknya di daerah Shukumvit, tepatnya di Lumphini. Alasan menginap di sini karena area ini termasuk tengah kota dan dekat dengan MRT station Lumphini. Sebetulnya di area ini cukup banyak hotel dan salah satunya ada Malaysia Hotel, mungkin dinamakan begitu karena yang punya orang Malaysia. Perjalanan dengan taksi dari DMK ke Ibis Sathorn sekitar 30 menit dengan biaya 200 THB dengan bayar tol 50 THB.

Menginap di Ibis per malam sekitar 450rb rupiah, jadi harga hotel di Bangkok menurut saya lebih murah sedikit dari hotel-hotel di Jakarta. Roomnya cozy, cukup luas, namun kelemahannya ya TV nya hanya TV lokal aja hehe, dan juga laundry nya mahal. Tapi worth it lah karena ngga jauh dari hotel ada laundry coin yang nanti akan saya ceritakan.

Sesampainya di hotel sudah pukul 21.00 dan persis depan hotel ada 7Eleven. 7Eleven ini kalau di Bangkok udah kayak Indomaret-Alfamart. Di setiap belokan jalan pasti ada tokonya hehe. Sehabis mampir sebentar beli makanan halal. kami langsung check-in dan istirahat di kamar karena sudah lelah di jalan.

Keesokan paginya, sekitar pukul 5.30 pagi. Setelah searching di google, dekat hotel sekitar 600m ada laundry coin yang kalau dilihat fasilitasnya cukup lengkap.

Jalanan menuju ke laundry coin nya persis kayak di gang-gang di Jakarta. Cuma bedanya lebih bersih aja. Sepanjang jalan, yang dilihat kalau nggak Guest House, bar, dan tempat Spa/Thai Massage karena memang area ini banyak hotel dan area turis juga. Dan seperti biasa, di setiap belokan pasti selalu ada 7Eleven guys hehe.

Pemandangan umum di jalanan bangkok. Setiap belokan ada Sevel
Ada orang jualan sarapan juga

Laundry coin di sini persis seperti di Singapur, buka 24 jam, banyak CCTV, ada mesin penukaran koin, dan bedanya lagi di sini ada mesin kopi dan beli detergen sendiri. Harga laundry cuci ditentukan dengan tipe detergen, detergen saja harga 5 THB, detergen pakai pewangi harga 10THB. Lalu per 10 menit mencuci harganya 40 THB untuk air dingin dan 50THB untuk air hangat di mesin cuci yang ukuran 10kg. Jadi total sekali cuci habis 55-60 THB atau sekitar 30rb. Kemudian untuk drier nya sendiri harga per 30 menit adalah 50 THB untuk high temperature, dan 40 THB untuk medium temperature. Waktu untuk melaundry kira-kira sekitar 45-60 menit.

Sambil menunggu laundry selesai, kami mampir ke Sevel dulu untuk beli sarapan. Oia, di Thailand, kalau mau cari makan halal, cukup mudah. Sama seperti di Singapur, jenis kehalalan nya ada 3: 1. Halal certified, bisa dilihat dari logo di setiap kemasan makanan atau restoran, 2. muslim owned, yang tipe ini banyak di food court di mall atau di warung pinggir jalan seluruh Bangkok, dan 3. vegan/vegetarian food. Di Sevel sendiri, cukup banyak makanan dengan logo halal, semisal Thai Chicken Rice, sandwich, dan nasi goreng yang letaknya di mesin pendingin. Kemudian di Sevel juga jualan buah-buahan dan salad yang aman dimakan. Minuman-minuman kemasan kayak susu, eskrim dan teh juga udah halal certified semua. Cuma kekurangannya cuma satu, microwave untuk manasin makanannya masih sharing dan ada potensi kecampur sama bekas manasin makanan non halal.

Tipikal sarapan halal di Sevel

Oia, harga di Sevel nya pun masih lebih affordable ketimbang Sevel di Singapur ya. Mungkin karena perbedaan kurs juga. Sekali belanja makanan dan cemilan, habis sekitar 200 THB atau sekitar 100rb rupiah maksimal. Yang uniknya, di sana pun setiap pagi ada tukang sayur yang keliling naik motor supra dan juga ada orang jualan sarapan kayak nasi, ayam dan makanan lain di pinggir jalan dan depan rumahnya pakai tenda. Bener-bener tumplek persis kayak di Indonesia.

Keunikan lain di Bangkok adalah di sini ada juga Ojol (Grab) dan di tiap gang ada ojek pangkalan yang ciri khasnya memakai rompi proyek warna oren. Awalnya saya dan istri nyangka orang-orang yang pake rompi oren ini pekerja konstruksi. Eh ternyata opang dong hehe.

Setelah cuci baju dan kembali ke hotel, agenda pertama hari Sabtu pagi ini adalah jalan-jalan ke Chatuchak Market, sekalian beli oleh-oleh. Chatuchak adalah weekend market (pasar kaget) terbesar di Asia Tenggara. Adanya hanya dari hari Jumat sore sampai malam, dan Sabtu-Minggu dari pagi sampai malam. Untuk pergi ke Chatuchak, dari hotel kami jalan kaki ke stasiun MRT Lumphini kurang lebih 700m. Ada yang unik juga di MRT Bangkok. Ticketing nya persis kayak LRT di Kuala Lumpur, ngga pake kertas/kartu kayak di SG atau Tokyo, dia pakai token semacam koin plastik gitu.

Harga tiketnya pun nggak bisa dibilang murah juga sih. Dari Lumphini ke Chatuchak sekitar 13 stasiun sekitar 48 THB seorang atau 20 ribu rupiah. Ya mirip-mirip MRT Jakarta lah ya. MRT Bangkok ini buatan Siemens jadi kereta nya mungkin lebih bagus, dan stasiunnya pun moderen. Tapi entah karena kita kepagian atau gmn stasiun MRT nya terlihat sepi. Mungkin rute nya masih sedikit kali ya mengingat baru ada 1 koridor aja kayak di Jakarta. Dari Lumphini, kita turun di stasiun MRT Kamphaeng Phet (namanya unik-unik) dan keluar dari stasiun MRT langsung sampai di pintu terluar pasar Chatuchak.

Berhubung hari masih jam 9 pagi, belum semua lapak di sana udah buka. Kebanyakan masih beres-beres dan persiapan buka. Tapi dari yang saya lihat, area Chatuchak ini gede nya ampun dah. Mungkin seharian keliling di sini aja nggak cukup kali ya. Mirip Cimol Gedebage dengan luas puluhan kali lipat dong. Dan bedanya tertata rapi dan bersih lah. Aneh bener karena sesama Asia Tenggara tapi Bangkok ini bisa rapi dan bersih gini.

Pemandangan Sabtu pagi di Chatuchak
Food stall di Chatuchak

Agenda ke Chatuchak ini apalagi kalau bukan cari kaos bergambar Thailand, tas bergambar Thailand, mainan Tuk-tuk, gantungan kunci, dan mencicipi Mango Sticky Rice di salah satu lapak makanan di sini. Di Chatuchak ini ada beberapa spot makanan muslim owned juga, salah satunya adalah Saman Islam, penjual Pad Thai dan nasi biryani ini. Yang masak ibu-ibu menggunakan hijab dan banyak juga orang-orang Indonesia/Malaysia yang makan di lapak ini. Harga per menu nya sekitar 100 THB (50 ribuan) dan Pad Thai nya enak menurut saya.

Mango Sticky rice di Chatuchak harga 30 THB atau 15 Ribu IDR

Setelah beli oleh-oleh dan makan berat dan mencicipi mango sticky rice, kami pun kembali ke hotel untuk mandi dan siap-siap menuju ke tempat konser setelah zuhur. Tempat konsernya ada di Mahidol University, salah satu universitas terkenal di pinggir Bangkok, walau letaknya di luar Bangkok sih sebenernya. Konsernya sendiri dimulai pukul 16.00 dan setelah browsing-browsing berkali-kali, moda transportasi tercepat ke sana hanyalah dengan Taksi/Grab sekitar 40 menit dan biayanya sekitar 300THB (150 ribu rupiah). Alternatif lain adalah menggunakan kereta antar kota yang lebih murah tapi durasinya nyaris 1.5 jam lamanya.

Perjalanan dari hotel ke Mahidol University juga lumayan lancar. Jalanan di Bangkok lebar-lebar dan tertata lebih rapi ketimbang Jakarta. Ada beberapa titik macet tapi nggak banyak dan perjalanan kami tempuh sekitar 45 menit sampai ke depan Prince Mahidol Hall. Sesampai di venue konser, kami langsung tukar tiket. Karena waktu masih pukul 14.30 masih ada beberapa jam lagi sampai gate dibuka. Sambil nunggu, kita duduk2 dulu dan ngobrol sebentar dengan beberapa orang Indonesia yang ada di sana, nggak lupa, istri foto dengan beberapa cosplayer karena cukup banyak juga yang pakai cosplay di sini.

Jam 15.15 venue dibuka dan penonton sudah boleh masuk, venue nya megah, benar-benar cocok untuk tempat konser. Kami duduk di area tengah di sayap kanan. 5 menit sebelum konser dimulai, semua kursi sudah terisi penuh. Ini juga pertama kalinya saya nonton konser orkestra begini. Durasi konsernya sekitar 2 jam dan kita disuguhi alunan musik yang indah dan enerjik dari composernya sendiri yang orang Kanada. Banyak special guest juga di konser ini termasuk creator dan composer OST Final Fantasi yang datang langsung dari Jepang dan beberapa penyanyi Jepang yang mengisi vokal di OST nya. Bener-bener pengalaman konser yang sangat mantap lah.

Venue saat konser belum dimulai
Ketika konser dimulai

Konser selesai pukul 18.30 dan seperti sudah diprediksi orang-orang serentak keluar di waktu yang sama, dan akibatnya adalah semua taksi dan Grab full booked dong. Setelah menunggu selama 30 menit akhirnya kami dapat Grab Taxi dengan harga sekitar 400 THB (200rb) dengan tujuan ke Asiatique The Riverfront Bangkok. Karena tujuan kami ke sini untuk makan di food court halalnya sambil menikmati pinggiran sungai Chao Praya. Perjalanan ke Asiatique sekitar 45 menit dan seperti sudah ditebak, malam minggu, Bangkok macet di area-area wisata. karena macet pula kami jalan kaki beberapa ratus meter sebelum sampai di pintu Asiatique. Tapi seperti diduga, ternyata sampai di sana zonk dong. Foodcourt yang dituju ternyata tutup karena renovasi. Akhirnya di Asiatique cuma foto-foto sambil liatin crowd yang kebanyakan nongkrong di bar buat minum-minum dan hangout.

Asiatique, tempat tourist hotspot di Bangkok di pinggir sungai Chao Praya

Sebelum sampai di Asiatique, sebetulnya saya sempat lihat lapak-lapak makan pinggir jalan yang jualannya ibu-ibu berhijab dan lokasinya ngga jauh dari Mesjid yang ada di area sini. Daripada kelaparan, akhirnya kami memutuskan makan di lapak Pad Thai dan nasi goreng tersebut. Lumayan, pesan pad thai dan nasi goreng sekitar 150 THB (60 ribu rupiah) berdua. Sama ibu-ibunya juga diajak ngobrol dan ternyata mereka ini orang Thailand selatan yang kebanyakan populasi nya muslim karena pengaruh tetanggaan dengan Malaysia. Setelah makan, kami pesan Grab dan pulang ke Hotel.

Makan pad thai di pinggir jalan dekat Asiatique

Keesokan paginya di hari Minggu, setelah laundry dan sarapan, kami memutusan untuk pergi ke landmark di Bangkok seperti Grand Palace, Wat Pho dan Wat Arun (yang letaknya di satu kawasan) sebelum pulang ke Jakarta senin siangnya. Berangkat pukul 8 dari hotel dengan MRT dari Lumphini ke Sanam Chai (6 stasiun) dan dari Sanam Chai Station jalan kaki 1 km (10 menit) ke pintu masuk Grand Palace. Sepanjang jalan, karena cuaca cerah dan angin berhembus sepoi-sepoi, pemandangannya indah sekali melewati kompleks ring-1 nya Bangkok ini. Pemandangan unik sebelum masuk Grand Palace adalah bule-bule yang pada pake hotpants dan rok pendek disuruh sewa/beli kain penutup dulu sebelum masuk ke Grand Palace.

Vibes nya Grand palace sendiri mirip Keraton Jogja namun dengan arsitektur Buddha yang lebih kental. Banyak bangunan, ornamen, dan patung-patung kebudayaan dan kepercayaan agama Budha. Banyak spot-spor foto bagus dan juga lukisan/ornamen yang menceritakan Thailand tempo dulu. Karena masih pagi dan baru banget buka, pengunjung masih sedikit dan kita bebas leluasa foto-foto. Total waktu yang dihabiskan di sini sekitar 1 jam lah dan di bagian dekat pintu keluar baru kelihatan istana Raja Thailand dan kita bisa foto-foto di depannya. Oia, HTM ke Grand Palace adalah 500 THB (250rb), cukup mahal ya.

Ngga jauh dari Grand Palace, di sebelahnya adalaah Wat Pho, sebuah kuil dengan landmark patung Budha raksasa yang sedang berbaring/tidur miring. HTM ke sini 100 THB dan durasi di sini juga cukup cepat sekitar 30 menit karena banyak wisatawan hanya mengincar foto di depan/samping patung Budha raksasa tersebut. Meskipun banyak orang Thailand yang datang untuk berdoa juga di sini.

Sekitar pukul 11, keluar dari Wat Pho, tujuan terakhir adalah Wat Arun, sebuah kuil dengan arsitektur unik yang letaknya di sisi sebrang sungai Chao Praya. Dari Wat Pho, jalan kaki 300 meter ke pelabuhan terdekat dan bayar 12 THB (5000 perak) untuk nyebrang pake perahu dengan durasi tempuh 2 menit aja. HTM ke Wat Arun adalah 100 THB dan di sini kita bisa naik sampai ke puncah kuil kalau niat. Tapi karena hari sudah siang dan kita sudah lapar, jadi di sini cuma 20 menit aja buat jalan keliling dan foto-foto sebentar.

Kapal untuk nyebrang dari Wat Pho ke Wat Arun dan sebaliknya

Nah dari Wat Pho ini, kita rencana mau lanjutkan ke Icon Siam, salah satu mall terbesar juga di Bangkok. Rencananya di sini mau makan siang di food court yang konon banyak muslim owned food stall nya. Salah satu transportasi unik di Bangkok adalah taksi air yang rutenya ke tempat-tempat wisata sepanjang Chao Praya. Dari Wat Arun ini kita bayar 30 THB (15rb) per orang untuk naik kapal dan turun di dermaga depan Iconsiam. Lama perjalanan sekitar 10 menit. Sepanjang perjalanan melintas sungai banyak pemandangan unik juga kayak banyak perahu-perahu kecil yang ngebut dan arus di Chao Praya yang lumayan kenceng juga dan pastinya sungainya warna coklat seperti sungai-sungai di Indonesia hehe.

Sampai di dermaga Icon Siam, kita langsung masuk ke mall nya dan ternyata mall nya gede juga. Di food court di lantai 1 banyak banget jajanan khas Thailand dan muslim owned. Di sini kita makan tom yum, sate-satean, mie ala thailand, martabak, mango sticky rice dll. Total makan sampe kenyang berdua kira-kira abis 450 THB (220rb an). Harga persis dengan makan di mall di Jakarta lah. Yang uniknya di mall ini, di food courtnya ada semacam sungai kecil gitu dan juga ada yang jualan serangga goreng kayak kecoak, jangkrik, larva, dll hehe.

Dermaga IconSiam
Menu makanan Halal (Muslim Owned) di Food Court IconSiam

Setelah kenyang di sini, sekitar pukul 2 siang, saya dan istri pulang pake taksi yang ngetem di depan mall. Ada cerita unik juga di sini karena awalnya si petugas jaga di tempat tunggu taksi bilang tarif argo, tapi pas naik, supirnya nanya ke mana tujuannya, pas saya bilang Ibis Sathorn, dia nembak 100 THB, karena sebelumnya saya udah cek tarif grab sekitar 160 THB ya saya iyain aja. Eh pas di tengah jalan dia bilang klo dia salah ngira Ibis yang lain, jadi minta naik ke 150 THB. karena males debat ya saya iyain aja toh masih lebih rendah dari tarif Grab.

Sampai di hotel istirahat sebentar lalu sore nya kita ada rencana jelajah Platinum Fashion Mall buat cari baju-baju anak dan lanjut jalan di sekitaran Central World. Karena waktu itu hari minggu Sore, kita naik Grab dari hotel menuju ke Platinum. Selama di Bangkok, ada pengalaman unik naik grab, yang pertama kita pernah dapat Grab Ford Ranger dong, lalu yang kedua pernah dapat Mazda 3. Jadi di Bangkok itu taksi online nya bukan kaleng-kaleng mobilnya cem di Indo yang kalo ga Agya Ayla Sigra Calya family hehe.

Menuju ke Platinum Mall, ternyata kemacetan sudah mengular dan jalanan isinya orang semua. Maklum karena Platinum Fashion Mall itu letaknya di pusat kota Bangkok yang bersebelahan dengan Mall-mall terkenal lain kayak Centralworld, Siam Center, MBK Center. Yang uniknya beberapa mall ini tersambung sama skywalk gitu jadi orang-orang yang jalan kaki ngga perlu lewat trotoar yang isinya crowdeed sama kemacetan lalu lintas. Kemudian yang bikin amaze lagi di Bangkok itu orang-orang tumpah ruah semua di jalan, tapi anehnya semua moda transportasi juga penuh kayak BTS, MRT dan kendaraan pribadi.

Pemandangan depan Platinum Fashion Mall
Kesemrawutan persis seperti di Indonesia

Setelah cari baju anak di Platinum, saya dan istri jalan kaki menyusuri trotoar ke arah Siam Center. Sepanjang jalan, kami lihat jalur BTS sampai susun 2 tingkat dong saking crowded nya transportasi Bangkok. Udah gitu jalanan mobil di bawahnya juga macet dan crowded. Luar biasa. Masuk di Siam Center, ternyata orang banyak banget sampe pusing lihatnya. Istri saya aja sampai mau pingsan pas mau masuk ke stasiun BTS saking penuh nya sama orang yang lalu lalang. Bener-bener amazing.

Jalan raya dan 2 jalur BTS yang bertumpuk-tumpuk
Suasana di Stasiun BTS terramai di Minggu sore

Karena istri saya mabok dan mual-mual, maka kami istirahat sebentar di luar stasiun BTS buat ambil nafas dan duduk. Sekitar pukul 7, istri sudah baikan dan kita memutuskan untuk jalan ke JODD Fair, sebuah kawasan pasar malam yang isinya bar dan beberapa tempat makan gitu hasil dari nontonin video salah satu yutuber. Dari Siam naik BTS 3 stasiun lalu lanjut naik MRT yang kebetulan satu jalan dengan arah pulang ke hotel. Pengalaman di stasiun BTS yang supercrowded dan masuk ke kereta yang crowded bener-bener khas Bangkok dah.

Sesampainya di JODD Fair ternyata memang isinya food stall sama bar/cafe gitu. Ada beberapa food stall halal (muslim owned) tapi kebanyakan yang ngga ada label/keterangan halalnya sih. Vibes nya sih bagus ya tempat ini cuma sayangnya kursi-kursi yang ada ternyata udah reserved untuk pengunjung bar. Jadi klo kita duduk di tempat kosong gitu, bisa langsung diusir security.

Suasana malam di JODD Fair

Akhirnya kami milih untuk makan burger dan dimsum aja di tempat ini sebentar lalu memutuskan pulang sekitar pukul 9 malam waktu setempat. Karena udah capek, jadi ambil Grab aja dan kebetulan dapat mobil Innova yang disopirin emak-emak dong. Sampe di hotel langsung tidur karena besoknya akan pulang ke Indonesia.

Praktis, selama di Bangkok kami nggak berkesempatan naik tuktuk karena: ngga ada waktu, dan yang kedua, masih belum siap untuk terkaget-kaget dengan tarifnya dan metode nawar ke drivernya. Jadi next time aja deh naik Tuktuk.

Esok harinya, rencana awal kita mau jalan ke Lumphini Park, namun karena masih capek, akhirnya agendanya batal dan hanya leyeh-leyeh aja di hotel sampe jam checkout tiba. Belanja sarapan di Sevel, terus mager di kamar hotel tau-tau udah jam 11 siang. Akhirnya kami checkout dan pesen Grab untuk ke bandara Suvarnabhumi (BKK). Perjalanan ke BKK dari Hotel sekitar 45 menit, letak si bandara ini lebih jauh dari DMK, dan tarif toll ke sana sekitar 75 THB dibayar tunai. Sampai di BKK pukul 13, rupanya antrian di security check baggage dan imigrasi panjang banget. Baru bisa masuk gate di jam 14 waktu setempat sementara boarding pukul 14.45. Menjelang boarding ada pengumuman pesawat delay 30 menit karena kendala operasional. Akhirnya kami baru bisa boarding pukul 15.30 dan bisa naik ke pesawat.

Pengalaman perdana naik Thai Airways, dapat pesawat B787-Dreamliner dan duduk di kursi jendela. Overall, vibes nya Thai Airways bagus, interior dominasi warna ungu dan pesawat juga masih baru. Hiburan lengkap, dan menu makanan juga ok. Ada salah udang, dan pilihan makanannya nasi ayam Thailand dan pasta udang walau rasanya masih kalah dari menu makanan SQ. Perjalanan BKK-CGK makan waktu 3 jam 15 menit dan sampai di Jakarta sekitar jam 6 sore. Keluar airport jam 7 malam dan perjalanan ke Bangkok pun berakhir dan besoknya saya harus kerja lagi hehe.

Demikian sharing perjalanan ke Bangkok yang super singkat tapi berkesan ini. Kalau ditanya apakah tertarik untuk ke Bangkok lagi dengan anak-anak? nampaknya saya akan berpikir 2 kali deh, masih mending milih bawa anak-anak ke Singapura karena lebih ramah anak daripada ke Bangkok hehe.

Tapi impresi saya ke Bangkok: Kota yang hampir sama dengan Jakarta dari mulai kepadatan, kemacetan, hingar bingar, dan crowd nya, tapi satu tingkat lebih baik dalam hal keteraturan, transportasi publik dan fasilitas umum. Keren…

Malaysia Trip Part 2

haa, akhirnya punya waktu luang lagi buat ngelanjutin cerita petualangan ke Malaysia 😛 ok deh, lanjut 😀
———————-

Pagi hari, 12 April 2012, pukul 08.00 waktu setempat, matahari msh belum mau muncul. Eh rupanya saya baru sadar kalo Malaysia itu ikut2 Singapore sok-sokan WITA padahal WIB. Ya iyalah, pagi gelap gulita, sore masih terang benderang 😛 Merasa sudah cukup bosan tidur, saya pun bangun keluar rumah dan mendapati kalau ternyata, rumah di perkampungan Malaysia itu cukup unik. Bentuknya kebanyakan seperti ini

Rumah di sana rata-rata bentuknya lebar, dan atapnya rendah. Ngga ngerti saya juga, padahal udaranya itu kalo siang suhunya bisa mencapai 36 derajat Celcius loh! Siangpun datang dan ampun dah panasnya… mandi pun rasanya percuma da keringetan lagi. Sekitar pukul 15.00, tante saya mengajak saya dan ibu saya jalan-jalan ke Mall terbesar di Subang Jaya, yaitu Sunway Pyramid. Apa itu Sunway Pyramid? saya juga ga tau, yg pasti saya, ibu dan tante pergi ke sana dengan mengguakan Bas Mini (seriusan ini ditulisnya Bas bukan bus :)) ) kita naik dr halte. Tampilan bus nya ya seperti ini :

Meskipun dalemnya kyk Kopaja, tp bas mini ini supirnya kaga ugal-ugalan dan di dalemnya ga ada orang merokok dll. Tarif Bas mini ini 1 RM (sekitar 3.500 rupiah) jauh dekat. Nah kita naik ini selama kurang lebih 15 menit dan sampai lah di Sunway Pyramid. Tampilannya seperti ini lho 😀

Sunway Pyramid ini ternyata mall sekaligus arena Ice Rink dan juga wisata air macem waterboom gitu deh. Bangunannya 5 lantai dan arsitekturnya dibuat bergaya mesir kuno

Nah iseng-iseng saya coba masuk ke toiletnya. Rupanya ada yg unik nih d Malaysia. Mall sebagus ini kebayang ngga kalo WC nya pake closet jongkok? hahaha aneh tp nyata lho…

Nah rupanya di Mall ini ada ice rink nya juga seperti yg saya bilang tadi

Nah rupanya setelah berkeliling Sunway Pyramid, kesimpulan saya mengarah pada satu pernyataan yaitu harga fabrique alias baju jadi di Malaysia itu jauh jauh jauh lebih mahal dibanding INdonesia. Mengapa? Bayangkan saja, baju polo casual yg biasanya saya beli di outlet hanya 100 ribuan di sini harganya bisa mencapai 60 RM (nyaris 200 ribu). Apalagi dibandingkan dengan di Pasar Baru ya? Makanya ga heran banyak banget org Malaysia yg belanja di Pasar Baru 😛

Nah capek berkeliling, kami pun makan di food court Sunway. Makannya sederhana sih, nasi lemak dan es kacang merah (semacam Pat Bing Soo di Korea). Lumayan enak dan harganya terjangkau lah dibanding Singapur 😛

Sehabis makan, tak lupa tante saya mengajak saya melihat pemandangan Sunway dari atas. Nah jalan satu satunya ya lewat KFC alias duduk menghadap ke jendelanya. Buset dah masa iya makan lagi di KFC? Eh ternyata bener aja. Tante saya memesan makanan di KFC dan kami duduk di dekat jendela agar bisa memandang keluar dari lantai 5 gedung Sunway

Nah pemandangan seterang itu rupanya waktu di jam saya masih sudah menunjukkan pukul 18.30 waktu setempat loh. Buset dah haha. Yasudah karena sudah cukup sore kamipun pulang kembali ke rumah naik bas mini lagi. Nah lucunya, tante saya sempet bilang kalo jam segini tuh jam-jam macet di sini dan itu parah banget katanya. Lah begitu keluar Sunway Piramid, memang sih jalanan padet, tp ya kalo segitu dibilang macet parah berarti orang-orang sini belum pernah mengalami macet yg mindfucked seperti di Jakarta atau Bandung kali ya. Dan anehnya antrian mobil di sini tuh renggang-renggangm mungkin ada sekitar 1 meteran ga kyk di negara kita yg dempet-dempetan banget haha.

Perjalanan 30 menit ditempuh dan kami pun sampai lagi di rumah dengan selamat. Rencananya sih besok dari pagi kami akan menjelajah Kuala Lumpur gitu bertiga 😀

13 April 2012, rupanya rencana hanya tinggal rencana (halah). Maksut hati ingin dr pagi menjelajah KL, eh tau-tau paginya sibuk masak-memasak dan udah Jumatan aja. Oia, Jumatan di Malaysia rupanya dimulai pukul 13.30 waktu setempat lho haha. Beres Jumatan baru lah saya, si mamah dan tante siap-siap untuk jalan-jalan ke KL. Jarak dari Puchong Perdana ke KL itu sekitar 45 km dan musti ditempuh dengan KRL Kelana Jaya dari stasiun Subang Jaya. Namun untuk sampai ke stasiun, kali ini kami menaiki RapidKL, semacem bus khas Singapura gitu deh

Tuh liat kan, bisnya bersih, berAC dan penumpangnya tertib. TransJKT ga ada apa-apanya dibanding RapidKL ini. Tarifnya agak lebih mahal dari Bas Mini. Sekitar 1,3 RM (6000 rupiah) jauh dekat. Bus ini tidak berhenti di depan Stesen Subang Jaya (ya org Malaysia menyebut Stasiun dengan Stesen 😛 ) namun kami harus jalan sejauh beberapa ratus meter. Oia, dalam perjalaa menuju stesen, rupanya banyak sekali apartmen murah ya. Subang Jaya ini benar-benar sedang dalam pembangunan.

Nah Stesen Subang Jaya itu kecil, jauh jauh lebih kecil dr Stasiun Kiara Condong malah. Mungkin seperti stasiun Cikudapateuh gitu deh. Di depannya banyak orang dagang, tp bedanya tempatnya cukup bersih dan terawat. Ga ada pengemis sama sekali, apalagi pengamen! Luar biasa ya

Nah, masuk ke dalam stesennya, rupanya unik juga nih. Tempatnya kecil, di sebelah kiri ada Kaunter Tiket (Counter Ticket in English) di situ kita beli tiket seharga 1,6 RM (6.000 rupiah) dan tiket ini digunakan untuk masuk ke dalam Peron dan keluar dari peron stesen tujuan. Hebat kan? Ga perlu lagi ada calo atau petugas yg jaga di pintu masuk gitu. Oia, kami beli tiket dari Subang Jaya menuju KL Central Stesen di Kuala Lumpur. Perjalanan sih katanya 45 menitan gitu. Wuih cukup lama juga ya?

Oia, Malaysia itu benar-benar meniru Singapur dalam urusan transportasi massal. Di sini ada KRL dan ada LRT. KRL Malaysia bernama KTM Komuter dan KTM ini membelah Malaysia menjadi dua rute. Yg pertama adalah rute Batu Caves-Port Klang (yg akan kami naiki) dan yg kedua mempunya rute Seremban-Sentul yg membelah Malaysia Timur. KTM Komuter ini beroperasi tiap hari dr pukul 4 pagi hingga 23 malam. Berikut rutenya nih

Terlihat kan? Dr SubangJaya ke KL itu melewati 9 stesen gitu deh. Dan kereta KTM ini lewat tiap 7 menit sekali cem MRT Singapur sana.

Coba liat kondisi peronnya, ngga ada sampah sama sekali dan boro-boro ada tukang dagang dan orang merokok kan? Dahsyat lah pokonya. Menunggu selama beberapa menit, KTM pun tiba. Keretenya sih standar kereta KRL di Jakarta itu, tp yg unik, keretanya cuma 3 gerbong dan gerbong di tengah itu khusus wanita lho (Couch for Ladies) jadi ya isinya cewe semua guna menghindari pelecehan seksual d kendaraaan umum. Wuiihh. Dan bagian dalam KTM ini bersih dan bagus. Full AC dan nyaman biarpun desek-desekan juga

45 menit berlalu dan akhirnya kami bertiga tiba di KL Central. KL Sentral itu apa? KL Sentral itu intersection station yg menghubungkan rute KTM Komuter dengan LRT Kelana Jaya. Yup, kalo mau lanjut ke pusat kota Kuala Lumpur, kita musti berganti kendaraan kali ini menggunakan LRT (atau versi hematnya MRT Singapur gitu deh 😛 ).  KL Sentral itu seperti intersect station di Singapur dibuat bertingkat. Lantai dasar dia gunakan untuk KTM Komuter dan LRT ada di lantai 2. Nah yg unik, kalo di SG tiap kita mau naik MRT kita musti punya MRT card, Malaysia belum sampai sana tp udah cukup modern juga. Mereka pakai token (koin) yg dibeli di mesin counter tiket otomatis gitu yg ada berjajar di stasiun-stasiun Laluan Kelana Jaya. Cara pakai mesin ini kalo baru pertama kali lumayan beribet lho. Uang kertas yg dipakai limited hanya seputar 1, 5, dan 10 RM. Layarnya touchscreen dan respon mesinnya masih lumayan lambat 😛

papan kenyataan, seolah mengingatkan agar kita tidak terbuai (halah)

Nah Laluan Kelana Jaya ini beroperasi dari Gombak hingga Kelana Jaya dan membelah setiap stesen di seantero KL. Rutenya seperti ini, dan kita naik dari KL Sentral menuju KLCC buat liat Petronas Tower gitu 😛 Hanya 5 stesen doank dan tarifnya pun 0,46 RM (2.000 rupiah) kalo tidak salah.

Nah LRT nya sendiri ga jauh beda lah ama yg di SG, cuma lebih pendek, tampilan interiornya nanti saya postingkan di bagian ketiga ya 😛

10 menit kemudian kami telah sampai di stesen KLCC. Stesennya ada di bawah tanah rupanya. Dan itu tuh tepat berada di bawah menara kembar Petronas. Keluar dr stesen, seperti biasa terdapat mall dengan barang-barang overlypriced dan kami musti menaiki 4 lantai guna mencapai udara luar 😀 KLCC tak ubahnya Pacific Place atau Grand Indonesia gitu deh. Isinya pusat perbelanjaan dengan merk-merk ternama dunia. Di lantai 4 ada food court yg terhubung keluar. Nah begitu menapakkan kaki di luar, terasa sejuk lah udara KL sehabis hujan di sore hari

Seharusnya ada air mancur yg indah di belakang saya ini, tp sayangnya waktu itu lagi direnovasi agar jadi lebih bagus. Nah tepat ke arah saya menghadap itu ada Petronas Tower yg menjulang membelah langit mendung Kuala Lumpur. Yg menariknya, meskipun dikelilingi gedung-gedung pencakar langit, lokasi KLCC ini adalah ruang terbuka hijau yg nyaman dan asri. Ada trek jogging dikelilingi taman dan pohon-pohon rindang yg ahhh… Jakarta kaga ada apa-apanya lah ya

Nah cape keliling keliling sekitaran KLCC, kamipun memutuskan untuk makan dulu karena waktu menunjukkan sudah pukul 18.30 (edan tp masih terang ya? 😛 ) sekalian makan malam gitu. Masuk ke food court dan si mamah dan tante memesan mie khas melayu gitu sementara saya? yg beda lah pastinya. Berkeliling sebentar dan akhirnya memutuskan untuk memakan makanan India gitu deh. Pilihan saya pun jatuh pada nasi briyani, nasi yg dimasak dengan santan dengan kuah kari gitu. Pokoknya membunuh banget deh krn banyak kolesterol. Nah mata saya pun tertuju pada Udang galah yg besarnya sekeaplan tangan saya coba. Ga segan-segan saya ambil deh. Eh taunya waktu bayar, makanan yg saya pesan itu harganya berapa coba? 33 RM sodara sodara alias sekitar 100rb rupiah. Yup makanan termahal yg pernah saya makan sepanjang hidup saya 😛

Nah suasana di dalem Mall KLCC nya kurang lebih kyk gini lah

Habis makan ya lanjut deh keliling-keliling KLCC sampe jam 8 malem. Ga kerasa banget lah pokoknya krn kita ada d ruangan besar tertutup. Tau tau udah jam segitu aje. Yasudah akhirnya pulang dengan memakai rute yg sama dengan waktu berangkat. Pukul 9 waktu setempat sampai juga di rumah dan beristirahat karena besok hari Sabtu dan rencananya tante saya akan mengajak anak-anaknya serta kami untuk main-main ke Genting Highland Resort and Theme Park. Uwow!

bersambung…

Short Trip to Singapore (Part 3/3)

Well, Sabtu pagi di Woodland Avenue 6 dan kepala saya pusingnya bukan maen. Semuanya kecampur. Tidur 3 jam, memori konser, AC yg dingin dan lupa dimatiin sampe fakta kalo jam 6 pagi di sini masih gelap. Sial. Akhirnya dengan agak malas  cuci muka, solat dan bikin teh. Oia, hari ini keliling Woodland Avenue pake sepeda temen babeh yg ada di apartmen. Mayan lah sepedahnya masih bagus dan ban nya juga ga bocor 😛

Ternyata udara pagi di sini enak bener. Karena saya ga begitu apal jalan di sini yaudah deh sesepedahan cuma beberapa blok doank dan ditambah mesti bergegas ngebolang lagi akhirnya pukul 07.00 balik k apartmen mandi dan packing karena siangnya sekitar pukul 14.00 saya udah harus di Changi krn pesawat yg akan mengantarkan saya kembali ke realita dunia akan boarding pukul 16.15 waktu setempat.

As usual, babeh kembali bertanya mau ke mana saya. Lalu sy menjawab mungkin Bugis nyari oleh-oleh lagi. Lalu kemudian beliau nanya, “udah ke Merlion blum? Blum ke Singapur kalo belum foto di Merlion” Well saya pun mikir dan emang bener ya ngapain jauh jauh ke sini kalo belum foto di patung singa setengah mermaid yg muntahin aer khas Singapur? Ok deh, babeh kemudian memberi petunjuk untuk ke Merlion, turun di Esplanade dan dr situ cari aja gampang kok. Ok, challenge accepted, saya pun makan dan kali ini dengan menu agak wah. Udang asam manis, dll harganya 3 SGD (20.000 rupiah)

Again, naik MRT, kemudian berpisah di Sembawang dengan babeh dan saya lanjut ke Dhobi Ghaut buat naek jalur Circle Line ke Esplanade. Oia, di hari Sabtu, seperti halnya Jakarta, Singapur sepi boi. MRT ga sepadet biasanya. Bahkan ketika sy naek jalur Circle Line, keretanya kosong melompong sampe Esplanade 😀 | Sesampai di Esplanade mulai deh bingung lagi mau keluar ke mana. Akhirnya memutuskan untuk keluar ke pintu Esplanade Theater of The Bay dan mulai aneh di sini. Semakin ditelusuri ini jalan keluar, kok malah semakin ke bawah. Lah jangan-jangan ini tembusnya langsung ke theaternya? weleh weleh. Ga jadi deh, akhinya balik lagi dan sebelum sy kembali ke pintu keluar stasiun MRT, saya mencari dulu lorong menuju stasiun City Hall. Stasiun City Hall terletak di jalur hijau. Kalo mau ke Bugis ya mesti lwt sini. Babeh bilang katanya dr Esplanade jelajahin aja mall bawah tanah nanti muaranya pasti di City Hall Station. Ok, saya coba cari dan ternyata ada tanda petunjuk City Hall di sana. Ya udah balik lagi ke stasiun Esplanade dan mencoba pintu keluar Raffles City, ntah apa ini 😛

Keluar dr Raffles City, ternyata di sana ada taman, tamannya sepi, seperti sy bilang tadi, di SG hari Sabtu sepi gila 😛 dan amazingly clean and neat. Hijau, sejuk, asri banyak pohon. Haah, I love this kind of public park. Kenapa d Indo ga ada sih?? *emosi

jalan terus eh sampe ketemulah si patung banteng ini. Nah terus bingung deh mau kemana? mana si gedung duren belum keliatan sama sekali lagi 😦

waduh, mendadak bingung dan akhirnya bermain intuisi lagi. Saya jalan aja terus deh, mau nanya orang juga kaga ada sebiji manusia pun ckckck. Jalan sampe akhirnya nemu gedung yg bertuliskan ini

Marina Square!

Marina Square berarti Marina Bay, marina Bay berarti Merlion hahaha.. yaudah lurus aja deh sampe akhirnya nyadar kebegoan saya. Pas lagi jalan lurus, eh mendadak ingin balik belakang. Pas balik belakang si durian nongol ckckck

Akhirnya nyebrang dan sempetin dulu foto Lamborghini kuning yg sexy abis 😀

Nyebrang dan jalan mengikuti intuisi, ternyata saya malah menyusuri semacam jalan kecil gitu yg kanan-kirinya bar tp belum pada buka (yaiyalah masih jam 8 gitu) dan setelah berjalan beberapa langkah, pemandangan luas laut biru terhampar di depan mata 😀

Coba liat gambar di atas, hal pertama yg saya tanyakan ketika liat pemandangan ini adalah : Kenapa banyak bola? Kenapa gedungnya tinggi gila? Where the hell is Merlion??? pas lagi nanya gitu tiba-tiba saya malah lebih tertarik liat ke arah kiri. Di sana ada Marina Bay Sand.. wuiiih

menganga sebentar, setelah itu, kembali fokus nyari si Merlion selama hampir 10 menit dan barulah saya menyadari kebegoan saya. Si Merlion ternyata ada di gambar yg saya post sebelum Marina Bay sand ini. Asemlah. Merlion kecil amat. Tenggelam ama barisan gedung di belakangnya. Ckckck. Ok, saatnya ke sana. Jalan ke sana cukup gampang. Tinggal naik ke arah jalan utama yg dipake buat sirkuit F1 itu dan di sini tinggal ditelusuri aja trus turun deh ke Merlion. Di sepanjang jalan ini, viewnya bagus gila dan entah kenapa pagi ini dibanjiri turis dari Hongkong atau Taiwan gitu deh. Malah ada yg sampe Yoga di sekitar situ ckckck

akhirnya tiba juga di pelataran si Merlion. Dan awkward feeling dimulai. Kenapa? karena makin dekat dengan Merlion, suasananya mulai terasa di kampung halaman. Loh? soalnya gimana ngga, makin deket Merlion yg kedengeran itu suara-suara macem “agak ke kiri dikit bu” “coba tolong geser dikit ya” “mas tolong fotoin aku donk” dan masih banyak lagi. Buset, ini orang Indonesia semua? hahaha. dasar. Well, ternyata benar, di SG itu, setiap ada tempat terkenal, ntah itu wisata, belanja, atau landmark, selalu orang Indonesia terdepan. So, jangan khawatir kalo jalan-jalan ke sana sendiri, so pasti ada banyak orang indonesia yg bisa dimintain tulung motoin kita. Persis seperti yg saya lakukan 😛

Ok, target utama mengambil foto di depan Merlion tercapai. Next let’s move on to Bugis. Oia sebelumnya nyari stasiun City Hall dulu 😛 Akhirnya ditelusuri lah jalan sepanjang gedung Esplanade sama saya dan pas mau menyebrang ke arah jalan seberang, mata saya tertuju pada underpass di depan. Karena rasa ingin tau yg besar, eh dimasukin lah itu si underpass dan agak serem juga sebenernya tempatnya. Sepi dan pintunya otomatis semua 😛 sampe akhirnya diujung jalan ada tulisan Esplanade MRT. Sialan, ini kan jalan keluar yg saya hindari pas pertama tadi. Rupanya nongol nya di sini hahaha

Belok kiri dan mulai deh menyusuri lorong. Eh ternyata betapa amazed nya saya lorong ini bukan sembarang lorong tp sebuah mall sodara-sodara. Mall bernama City Link Mall. Mall nya memanjang sepanjang underpass dari Esplanade ke City Hall. Luar biasa

Akhirnya di ujung lorong ada stasiun MRT City Hall. Luar biasa kota ini 😀 Ahirnya naek MRT deh ke Bugis dan sesampainya di Bugis rupanya pintu exitnya juga Mall. Edan hahaha. Keluar ke permukaan mulai deh  bingung lagi. Dan intuisi bermain lagi. Saya cari tuh jalanan paling besar bernama Victoria Road. Cirinya ya ada gedung banyak. Pas di perempatan coba guessing aja deh yg mana yg potensial ada toko jualan oleh-oleh. Pas nengok kiri-kanan rupanya di kanan lebih rame dan banyak orang Yaudah deh ke kanan jalan terus. Jalan 200 meter lebih eh tau tau di sebelah kiri jalan ada bukaan kayak gang gitu dan tulisannya Bugis Street. Wow!

Di Bugis ini rupanya pilihannya lebih beragam dan banyak. Makanya belanja di sini lebih enak drpd di China Town loh. Akhirnya setelah berkeliling hampir satu jam saya pun memutuskan beli barang-barang antik buat dibawa ke Indo. Bugis ini mirip dengan pasar baru lama lah. Semacem distrik gitu dan herannya adem ga panas loh hahaha

Puas belanja di Bugis langsung deh lanjut ke landmark terakhir di Singapur yg saya kunjungi yaitu Vivo City di Harbor Front. Waktu menunjukkan pukul 10.30 locak time. Masih ada 1 setengah jam lagi lah. Naik MRT lagi ke arah Dhoby Gaut dan turun langsung di Vivo City. Apa sih Vivo City itu? Well, Vivo City itu mall modern yg punya arsitektur dan desain bagus lah pokonya

Di Harbor Front ini sebenernya ada cable car yang terkenal itu dan pelabuhan yang dari Batam loh. Cuma sayang pas saya liat jam waktu udah menunjukkan pukul 12.00 lebih dikit. Waduh, mepet banget dan musti segera pulang ke apartmen nih sebelum ketinggalan pesawat 😦

Pulang ke apartmen, saya ambil rute MRT yang beda sama sekali dari biasanya. Gapapalah lumayan bs liat-liat SG di hari terakhir lewat rute MRT yg beda 😛 Akhinya pukul 13.00 lebih dikit saya nyampe Woodland Avenue 6 dan bergegas bikin ramen, kopi, minum jus mangga dan mandi kilat.

Pukul 13.15 beres dengan hebatnya dan saya pun bersiap untuk keluar dr apartment. Gak lupa dadah-dadahan dulu sama seisi apartmen (halah). eh ternyata pas keluar dr pintu apartmen mau ke lift, babeh dateng dan bilang “mas, ke airportnya bareng aja, naik taxi” what a coincidence hahaha. bawaan saya cukup banyak buat naik MRT dan akhhirnya bisa ngerasain naik taksi singapur hahaha. 15 menit kemudian ayah saya siap dan kita berangkat dr apartmen menuju Changi dengan taksi

Tampilan taksi singapur ga jauh beda dengan Indonesia. Bedanya mereka GPS nya aktif, dan ada semacam alat card reader di bagian dashboard nya. Rupanya alat itu adalah kartu tol loh. Jadi kalo masuk tol di Singapur, di tiap pintu tol ada sensor infrared buat membaca kartu dan nantinya akan mendeteksi ongkos tol dan otomatis memotong saldo kita di kartu tersebut. Makanya di SG ini ga pernah ada pintu tol bla bla bla yg bikin macet kayak di Indonesia.

Perjalanan naik taksi rupanya lebih cepat dr MRT. Cuma 30 menit dan hebatnya di SG, sepeda motor boleh masuk tol loh. Hebat ya hahaha. Sepanjang highway pemandangannya bagus, hijau dan ah, keren lah pokoknya. Sampai di Changi saya pisah sama si babeh di terminal 2 karena babeh naik Garuda dr terminal 3 dan baru berangkat pukul 17.30 local time. Ok, saya check in dulu dan nungguin di Terminal 2 ah.

Di Terminal 2, satu setengah jam sebelum boarding akhirnya saya sempat merasakan ngenet gratis, pijat refleksi kaki dan punggung, serta nyobain kursi buat tiduran ala di pantai hahaha. Pol abis ini fasilitas di Terminal 2 😛 Pukul 15.30 gate E3 dibuka dan saya masuk buat siap-siap boarding. Tepat pukul 16.00 akhirnya boarding dan kaki saya terasa berat meninggalkan negara ini 😦 Rasanya 3 hari sangat kurang dan masih banyak sisi keren Singapur yg belum saya lihat. Pukul 16.15 pesawat saya takeoff dan tepat pukul 17.00 WIB saya kembali ke realita hidup. Welcome to Cengkareng! Hello again, Indonesia! 😦

Kembali saya mengalami cultural shock. Dari mulai bandara semrawut, banyak sampah, antrian imigrasi yang ngaco, dan hiruk pikuk agak kacau di saat pengambilan bagasi. Well, itu berarti saya sudah sepenuhnya kembali ke realita dunia. Abis itu nungguin babeh deh dengan makan dulu di restoran cepat saji. 2 jam nunggu rupanya pesawat ayah saya delay selama 1 jam di SG nya. Duh, akhirnya pukul 20.00 WIB beliau baru keluar dari terminal 2F dan kamipun bergegas naik bus Primajasa pukul 20.30 WIB. 3 jam perjalanan Jakarta-Bandung dan tepat pukul 00.00 WIB saya sampai dengan selamat di rumah saya. Wah rasanya 3 hari ke belakang bener2 luar biasa. Pengalaman baru menjelajah negeri orang yang jauh lebih maju, tertib dan teratur seorang diri.

Well, sesampainya di rumah saya belum boleh tidur loh. Kenapa? karena tepat pukul 04.00 WIB ada duel El Clasico antara Real Madrid v Barcelontong. Dan ternyata saya harus kecewa karena jagoan saya si Real Madrid dipecundangi 1-3 di kandang sendiri 😦 Tp gapapa, pengalaman di SG masih terlalu exciting dibanding kekalahan Madrid. So, taun depan saat SNSD menggelar konser ke-3 nya di sana (sekitar November-Desember 2012) saya pun berjanji akan datang lagi ke sana, tapi tentunya dengan objektif yang berbeda, budget yang berbeda dan dengan pendamping bukan sendirian hehehe

PS : inilah nyawa saya selama di Singapur :

PPS :

credit to : @rey_soshifated, supir angkot Antapani-Ciroyom, tukang ojek bandara, wanita India petugas SMRT, mas angga, mas acay, mahesa, Indian men at Farrer Park, Malaysian family at Harbor Front, and the others who helped me so much at SG 🙂

SINGAPORE WAIT FOR ME NEXT YEAR!!!! 🙂

Short Trip to Singapore (Part 2/3)

Pagi hari di Woodland Avenue 6. Wow,  jam di hape menunjukkan sekitar pukul 05.00 WIB berarti 06.00 WIB waktu Singapur. Tapi anehnya di luaran masih gelap edan! Niat mau solat subuh tp di luar gelap jg jadi rada males 😛 Ternyata meski secara aturan Singapur ini 1 jam lebih awal dr Indonesia Barat, sebenernya secara geografis ga kayak gitu. Mereka ikut-ikutan Malaysia yg juga ikut-ikutan Malaysia Timur supaya memiliki keseragaman zona waktu. Ya alhasil pukul 06.00 pagi masih gelap gulita dan pukul 18.00 masih terang benderang 😀

Okelah ahirnya dengan agak males malesan sy mandi dan siap-siap mau menjelajah Singapur di hari kedua menjejakkan kaki di sini. Gak lupa bertanya pada babeh sebelum sarapan dimana tempat yg bagus buat nyari oleh-oleh. Ayah saya pun merekomendasikan Ferrer Park, sebuah tempat komunitas India di Singapura. Di sana katanya ada toko bernama Mustafa Centre, dan selebriti2 Indonesia juga katanya kalo beli oleh-oleh di sana -___-” Ok lah saya ikutin rekomendasi si babeh, tp sebelumnya kalo melihat dr peta MRT, kyknya lebih asik kalo ke Orchard dulu deh. Tau orchard kan? itu loh pusat perbelanjaan di Singapura yg terkenal banget. Barang-barang bermerk dijual di situ dan pengunjungnya most of them are Indonesian -_-
Tak lupa juga sy musti menyempatkan diri ke China Town sebelum pergi ke Stadium sebelum jam 12 siang buat ngantri beli official merchandise nya SNSD. Maklumlah pasti ngantri kyk antrian sembako.

07.00 Local Time saatnya turun ke bawah dan mencari makan. Kata babeh sih makanan yg murah, halal dan Indonesia banget ada di foodcourt 2 blok dr apartmen. Di sana ada masakan IndoThai dan harganya lumayan murah, meski murah Singapur itu sekali makan sederhana ya bisa 2 ampe 3 dollar (15-25 rebu). Turun ke bawah apartmen ternyata kalo pagi hari pemandangannya beda dr malem pas nyampe. Lebih terang dan bisa terlihat sekeliling dengan jelas. Jalan yg menghubungkan antar apartment pasti bersih, ga ada sampah sedikit pun, sangat jauh dr di sini deh.

Pemandangan di pagi hari ya standar lah ya, banyak orang bersepeda, lari pagi, dan pergi ngantor atau sekolah. Dan sampailah saya di food court bernama Fork and Spoon. Di sini food courtnya full AC, di dalamnya ada berbagai pilihan makanan, mulai dari China, Jepang, Korea, India, dan Indo Thai. Ada juga section Beverages and Dessert nya. semuanya tertata rapih dan bersih. nyaman lah pokoknya.

oia di food court ini ada wifi nya loh. Free lagi. tapi sayangnya setelah saya tanya ternyata kalo mau pake wifi di sini dan seluruh singapur (karena sesungguhnya wilayah-wilayah strategis di Singapur itu tercover oleh wifi CISCO) kita mesti daftar dulu. Hmehhh.. gagal deh konek internet 😦 Oia saya pun memesan makanan indo thai yg ntah apa namanya. pokonya nasi, tahu, telor ama fishcake (gile udah cem tteopokki aja) dan segelas horlic (semacem sereal energen gitu) buat minum. Total harganya 3.2 dollar (24 ribu) well, quite expensive kalo dibandingin di Indonesia dimana 3000 perak aja bisa buat sarapan.

Beres makan, saya dan ayah saya jalan ke halte di Woodland Avenue 6. nah di sini yg unik. Ada perempatan jalan gitu tempat nyebrang, rupanya setiap di persimpangan, semua mobil mobil mau lampu ijo atau merah terkesan hati hati banget. Ternyata mereka itu takut ama penyebrang jalan loh. soalnya konon ada undang-undang di Singapur yg memuat pasal kalo kita nabrak orang, kita diwajibkan mengganti seluruh biaya perawatannya, serta gaji/pendapatan dia yg hilang karena dia dirawat dan tidak bekerja. Apalagi kalo meninggal? atau cacat? weleh weleh. Yg unik juga rupanya di setiap blok apartmen di sini selalu disediakan state land yg forbidden buat sipil karena diperuntukkan sebagai evacuation area kalo terjadi bencana. Hebat

bis datang, naik, lanjut ke stasiun MRT, naik lagi dan si babeh pun turun di Sembawang, 1 stasiun dari Admiralty. Sementara saya melanjutkan perjalanan ke Orchard. Yeah! Orchard terletak 8 stasiun dari Admiralty. Di sana katanya si babeh sih banyak exit line nya. Jadi musti ati-ati kalo ngga bisa nyasar hahaha. Siapa juga yg mau nyasar. Yo wis gimana nanti deh pas sampe sana. 10 menit kemudian nyampe deh di Stasiun Orchard. Rupanya stasiun MRT nya ga begitu rame. Mungkin karena masih jam 8 pagi juga dan toko toko nya belum pada buka kali ya 😛 Ok deh saya ambil jalan keluar yg banyak orang keluarnya aja hahaha. Eh taunya begitu naik eskalator langsung disuguhin Bank BNI 😛

toko toko belum buka, jadi kondisi jalannya juga masih sepi. Ternyata Orchard itu edan sekali loh. Bangunan pencakar langit banyak dan isinya tuh toko bermerk semua. You name it! Dolce Gabbana? Chanel? Armani? Hugo? apapun merk terkenal dunia ada di sini. Sampe geleng-geleng saya juga. Dan hebatnya saya merasa nyaman aja meski ada di pusat perbelanjaan. Coba bayangin waktu berada di pasar baru? atau Cihampelas? atau Cimol? Meh! Di sini banyak ruang terbuka hijau dan pohon rindang plus banyak sekali tempat duduk dan water tap kalo haus 😀

niatnya sih mau naek bis double dekker ini, tp ga tau ntar turun di mana takut nyasar 😛

ini nih salah satu gedung yg menurut saya arsitekturnya keren abis 😀

40 menit keliling Orchard, akhirnya saya memutuskan langsung cabut ke Ferrer Park. Waktu menunjukkan pukul 09.00 kurang dikit. Masuk lagi ke stasiun MRT dan sampailah saya di Dhobi Gaut interchange. Nah di sini saya mau cerita nih. Dhobi Gaut interchange ini adalah interchange terbesar dan tersibuk di SG. Gimana ngga, di sini terjadi pertemuan 3 jalur MRT Singapur. Dan believe it or not, Stasiun ini dibangung 4 lantai di bawah permukaan tanah loh! buset dah. Ga heran di sini banyak banget orang lalu lalang dan semuanya speedwalking hahaha. Ok deh dr Dhobi Gaut saya lanjut ke jalur ungu dan menuju Ferrer Park.

10 menit kemudian sampai di stasiun Ferrer Park. Keluar lewat City Square Mall tanpa tahu kemana arah Mustafa Center. Pas lagi naik eskalator tiba2 ketemu dengan bocah bocah gemblung Indonesia dan mereka lagi ngobrol “Eh mau ke Orchard? | ngapain? kalo lo mau belanja, mending ke Mustafa (seraya menunjuk suatu arah) ” | LUCKY! akhirnya tanpa pikir panjang saya ikuti deh arah yg ditunjuk ama si bocah gemblung. Dan bener lah ternyata ada sebuah gedung kembar yg di connect satu sama lain. Dan di sini bener bener komunitas India loh. Semuanya yg saya liat adalah orang India.  Singkat cerita saya masuk ke Mustafa Center, keliling keliling 5 lantai nya dan baru nyadar bukan di sini yg saya cari. Gimana ngga? di sini isinya baju baju, elektronik, kelengkapan rumah tangga, dll. Waduh bener ini mah bukan di sini. So akhirnya saya keluar dan kembali ke stasiun MRT. Gak lupa lewati City Square Mall dulu biar gaya 😀

Lanjut ke Chian Town. Barangkali saya menemukan sesuatu di sini 😀 15 menit waktu tempuh dan akhirnya saya sampai di China Town Station. Naik eskalator dan begitu nyampe di permukaan tanah, saya langsung disuguhi negeri Cina 😀

Di sini segala oleh oleh tersedia dari mulai boneka, mug, jam tangan, korek api, hiasan dinding sampe jimat khas Cina. Semuanya harganya terjangkau lagi. akhirnya saya menghabiskan waktu 1 jam di sini buat hunting oleh oleh. Beres hunting oleh-oleh liat jam dan oh ternyata udah jam 11.15 waktu setempat. Niatnya sih ingin Jumatan tp pas nanya dimana mesjid eh taunya cuma ada kuil India di sini 😦

yo wis akhirnya memutuskan untuk langsung ke SIS aja buat ngantri merchandise konser. 20 menit kemudian nyampe juga di stasiun MRT Stadium. Awalnya sih nyante lah ya orang masih jam 12 kurang. Masa iya udah ada yg ngantri? Setau saya sih yg ngantri dr jam 11 itu yg nonton di Moshpit alias berdiri di pitfall. Nah jalan santai #likeaboss sambil ngejinjing keresek gede oleh-oleh deh. Begitu keluar dr stasiun MRT langsung deh cengo karena pemandangan yg ada tuh ya isinya udah lautan pink dan ada antrian semacem antri sembako gitu dr ujung loket merchandise sampe ke parkiran. Buset! Loket nya aja belum dibuka su! Weleh weleh

Ya udahlah ya akhirnya memutuskan untuk ngantri dan ternyata saya antri di belakang org Indonesia yg sedang asik mengobrol tentang konser ini. Mereka berdua ini rupanya orang tajir yg telah menonton konser SNSD di Korea dan Jepang. Siasu lah bikin ngiri dan mupeng aja ni berdua. Tapi banyak hal menarik yg bisa diambil dan disimak dr obrolan mereka berdua. Rupanya mereka membahas macem macem mulai dr pemilihan venue, ambisi sgRITS selaku promotor, plan tour tahun depan plus masalah sponsorship. Yg seru sih masalah sponsorship. rupanya menuru mereka, ambisi sgRITS ini adalah membuat konser Asian Artist dengan bujet termahal di Asia Tenggara. So, mereka punya ambisi besar tp sadar kalo perlu dana besar juga. Dana besar berarti modal besar dan mereka sadar ga mungkin dibebankan pada tiket. Usut punya usut, 2 hari sold out tiket aja ga akan nyampe 50% untuk menutupi biaya konser ini. Kabarnya SNSD dibayar 12 miliar rupiah utk 2 hari konser. Belum termasuk biaya akomodasi, sewa tempat, keamanan, ticekting, dll.

Maka dari itulah mereka menggaet SAMSUNG dan kabarnya SAMSUNG mencover lebih dr setengah biaya konser. dan ga heran makanya nama konsernya kan jadi SAMSUNG presents : GIRLS GENERATION 2ND ASIA TOUR. Well done Samsung! nah dr situ mereka mengambil kesimpulan bahwa : bagaimana dengan Indonesia? Well, salah satu penyebab Indonesia didatangi artis2 luar terkenal adalah peran rokok sebagai sponsorship. rokok berani bayar mahal boi. Tapi masalahnya, pihak SME selaku agency terang2an menolah penunjukkan rokok, beer, atau benda benda perusak kesehatan sebagai sponsorship partner. So, bisa ditarik kesimpulan kan chance Indonesia untuk menggelar konser SNSD atau Suju mendekati 0%? 😛

OK, satu setengah jam kemudian saya tiba di antrian paling depan. Di sini saya berkenalan dengan bocah gemblung asal Indonesia yg sedang sekolah SMP di Singapur bernama Mahesa. Believe it or not, Mahesa ini perawakannya mirip saya. dan yeah dia masih SMP sodara-sodara. Gelo makan apa ini anak??? makan orang kali ya ckckck. Singkat cerita saya beli merchandise berupa lightstick 3 biji, sticker 3 biji dan asalnya mau beli tshirt cuma yg ukuran L nya habis. ASEM!

Beres ngantri, saya ama si Mahesa ini keliling-keliling SIS buat nyari unofficial merchandise yg biasa dijual fans buat cari untung. eh ternyata ga nemu. yo wis lah bukan rejekinya. Dan si Mahesa ini kabarnya kebagian tiket hari kedua di moshpit loh. Di sini pun sy ketemu temen2 satu rombongan dan mereka bilang mereka di sini dari jam 8 pagi buat ngantri supaya dpt tempat enak di moshpit. BUSET? ngantri dari jam 8 pagi ampe 8 malem? Really something ckckck. Saya pun memutuskan pulang dulu ke apartmen buat makan, mandi dan ngecas hape sambil tidur siang bentar deh. Pas mau pamit ama si Mahesa jadi kepikiran buat ambil foto di bus official nya SNSD 😀

ok, pukul 15.00 waktu setempat saya udah di Woodland Avenue 7 lagi.  Kali ini malas sekali rasanya buat ke foodcourt untuk makan siang. alhasil buka kulkas dan akhirnya menemukan sesuatu untuk dimakan :

Beres makan, mandi saya pun tidur dan nge-set alarm ke jam 16.30. Konsernya jam 8 malem so masih banyak waktu sebenernya soalnya saya kebagian di Terrace bkn moshpit jadi ga perlu ngantri kyk nonton bioskop aja sih 😀 Pukul 16.30 saya bangun, cuci muka dikit dan bersiap tempur deh. Baju kaos pink, jaket kulit, celana jeans, tas pinggang, dan light stick udah dipake dan dibawa. Tak lupa minum air putih yg banyak biar ga kering waktu tereak-tereak manggil nama TIFFANYYYY!!! (halah). Jalan kaki 3 blok dan naik bis trus lanjut naik MRT menuju SIS. Di MRT yg dr Dhobi Gaut ke Stadium rupanya terjadi pemandangan mantap. Waktu kereta kosong, masuklah sepasang sejoli yg nampak udah ga kuat. Mereka berdiri di depan saya dan cipokan sodara-sodara. Weleh jadi salah tingkah aing! akhrinya ngeluarin iPhone dan pura-pura browsing internet ketimbang mupeng ngeliat yg cipokan ckckck.

35 menit kemudian saya tiba di Stadium MRT. Dan kali ini lebih ramai dan lebih lautan pink dr tadi siang. Udah ga ada lagi antrian merchandise dan saya pastikan merchandise sudah sold out. Gelo

HOTPANTS!!!!

Sampe di SIS sekitar jam setengah 6 waktu setempat. Udah banyak yg ngantri sih sebenernya tp saya santei aja toh ga akan kehabisan kursi ini 😛 Akhirnya keliling lagi deh mau moto moto lagi soalnya kemaren pas difoto view nya kan malem malem. Mayan nih bisa liat lagi tempat red carpet MAMA 2011 kemaren 😀

pas lagi foto foto dan nunggu di spot sekitar situ, eh tiba tiba si hape bergetar beberapa kali. Pas dicek rupanya notifikasi email, FB, YM, Wassap dan segala nya masuk. Lah kok bs? pas dicek rupanya iPhone saya mendeteksi adanya wireless fidelity dari salah satu restoran yg baru buka di SIS. Bravo! akhirnya bs konek inet juga 😀 yasudah langsung deh internetan sambil nunggu gate dibuka 1.5 jam lagi 😀

19.20 waktu setempat gate dibuka. tp saya masih agak males buat masuk soalnya masih lama sih 😛 yasudah internetan lagi deh. Eh taunya liat batere hp tinggal 70% waduh, maksut hati mau ngambil fancam pas konser batere malah kesedot buat internetan. Yasudah akhirnya memutuskan ngantri dan bersiap masuk. Saya masuk via East Entrance di lantai 2 SIS.

oke, 8 kurang 15 saya udah duduk ganteng di T13 row ke-6 brother sister 😀 as usual ga afdol namanya kalo ga foto foto 😛 ok berikut view 20 menit sebelum konser

show belum dimulai kalo pen (moshpit yg di bawah) belum penuh. Believe it or not, pen B dan pen C yg ada di bagian kanan dan kiri panggung itu diisi full ama orang Indonesia loh. Edan eling hahaha. Sedangkan pen A yg ada memanjang di depan panggung diisi ama anak anak soshified. Kalo diliat pas kondisi terang gini sih panggungnya kesannya ga rapi dan agak meleot gitu ya. Coba diliat pas udah gelap nya tepat pukul 20.15 waktu setempat saat semua orang udah pada tereak “So Nyuh Shi Dae!!!”

konser dibuka dengan video opening 2011 Girls Generation Asia Tour yg damn, quite cool and scintilliating. Saya bahkan ampe tereak tereak dan urat leher nyaris melecot loh hahaha

ok konser dibuka dengan adanya asap yg muncul di piramida yg berada di panggung paling depan. Si piramida tiba tiba kainnya keangkat dan perlahan tapi pasti (halah) si piramida kebuka kyk kotak pandora dan dr situ muncul lah 9 orang earthly angels (let’s assume that :P) tp sayangnya tempat saya duduk agak jauhan jd ga begitu keliatan, terpaksa deh liat ke big screen 😦

ok, kalo mau tau list lagu yg mereka bawain berikut lagu yg mereka bawa selama 3 jam konser :

1.Genie
2.You-A-Holic
3.Mr Taxi (Korean version)
4.I’m In Love With The Hero
5.Let It Rain (Japanese Version)
6.Kissing You
7.Oh!
8.Snowy Wish
9.Dont Stop The Music – Hyoyeon [solo]
10.Almost – Jessica [solo]
11.Three – Sunny [solo]
12.Lady Marmalade – Tiffany Taeyeon [solo]
13.The Great Escape
14.Bad Girl
15.Run Devil Run (Re-mixed)
16.Beautiful Stranger
17.The Boys (English version)
18.Hoot (Re-mixed)
19.If – Yuri [solo]
20.Sway – Sooyoung [solo]
21.Stuff Like That – Seohyun [solo]
22.4Minutes – Yoona [solo
23.Danny Boy
24.Compete
25.My Child
26.Naengmyun
27.Hahaha
28.Gee
29.Forever
30.Into The New World [encore]
31.Himnae (Way To Go) [encore]
32.Fantastic ! [encore]

kasih highlight satu satu lagu ah secara singkat 😛
1. Genie –> well placed sebagai opening song. really love Tiffany’s rap dan sangat menggila waktu doi bilang “SINGAPORE, PUT IT BACK ON!!!” wuoghhhh.. rasanya kayak tersengat arus listrik (lebay mode : ON)
2. You A Holic –> not bad sebagai following song, di sini para member soshi berpencar loh ke bagian tepi kiri dan kanan panggung, di sini mulai deh yg nonton pada berdiri ga karuan haduh haduh ciri khas Indonesia. Balkon yg berada tepat di depan saya itu sering banget didatengin loh, yg paling sering main ke balkon dpn terrace saya sih Sunny ama Tiffany :3 yg amat jarang ya Yuri ama Seohyun huhuhu 😦

3. Mr Taxi –> mereka bawain Korean version dan kembali ke tengah panggung lagi

4. I’m in Love with The Hero –> awalnya dibawain di tengah panggung, eh tp pas bagian akhir lagu mereka pada ke depan dan mulai deh aksi ‘terbang’ mereka 😀

5. Let it Rain –> sehabis terbang di lagu I’m in love with the hero, semua member menghilang dan kyknya sih masuk ke dalam kolong panggung. eh beberapa menit kemudian muncul di depan panggung lagi dan bawain Let It Rain

abis Let It Rain, mulai deh perkenalan para member (meski udah kenal juga kali :P) di sini yg paling banyak ngomong ya Tippani, soalnya doi yg paling fasih English. yg lain cuma nimpalin plus diterjemahin sama pihak panitia hahaha. Ada juga Seo yg banyak ngomong bahasa Cina nya yg aing sama sekali ga ngerti 😛

6.Kissing You –> nah mulai lagi deh nyebar-nyebarnya, kali ini fanservice nya banyak banget loh. Mereka mulai dadah-dadahan dengan penonton di moshpit, dan itulah yg menyebabkan saya envy sama yg nonton dr moshpit. Sialan. Plus bikin gesture hati gitu + wink. Haduh siapa yg ga keleper-keleper coba?

oia di kissing you ini saya sempet curi curi ngambil foto loh. Oia perlu diingat kalo di konser ini semua bentuk pengambilan gambar dan video itu sangat dilarang keras. SM sampe mendatangkan pihak security sendiri yg tugasnya melucuti handphone atau pocketcam penonton yg ketauan ngambil gambar. Buset

7. Oh! –> nah mulai deh lagu yg bikin urat leher melecot karena tereak tereak fanchant nya: “Jigeumeun So Nyuh Shi Dae, Apeurodo So Nyuh Shi Dae, Yonghwoni So Nyuh Shi Dae” hahaha

8. Snowy Wish –> sehabis Oh, mereka mencar mencar lagi nyanyiin Snowy Wish dan well, banyak banget fan service nya di sini. Terutama dari 3 member paling hyper dan ramah sama penonton. Siapa lg kalo bukan Tiffany, Sunny dan SooYoung :3

Sehabis Snowy Wish, semua member masuk ke dalam kolong panggung dan diputerlah VCR gitu deh buat ngasih kesempatan mereka ganti kostum. Dan videonya lumayan rame nih judulnya Always By Your Side 😀

baru deh abis ini giliran HyoYeon, Jessica, Sunny ama TaeNy yg tampil 😀

9. Don’t Stop The Music

Nah di sini Hyoyeon unjuk kebolehan sebagai dancing queen nya SNSD nih. doi pake outfit kayak penari balet gitu eh tapi bukan deh kyknya ya, trus bawain lagu beat cepet nya Rihanna. Dan quite good menurut saya, meski sebagian di lipsync, tp suaranya bagus dan dance nya energetic. bagus buat pembuka solo performance

10. Almost

Nah ini nih salah satu favorit solo perf saya. Sica bawain Almost dengan almost perfect. Suara khas nya dan juga hi note nya kepegang semua. belum lagi ada unjuk skill piano dikit 😛

11. Three

ok, di sini si Sunny mencoba stands out her asset 😀 quite sexy and catchy performance. plus sensual lah ya hahaha. Meski di lipsync tp aksi panggungnya boleh lah ya terutama dari sisi seductive nya

12. Lady Marmalade

nah akhirnya 2 top bias saya muncul. Mulai deh kesurupan lagi hahaha.
seperti sudah diprediksi dan udah nonton fancamnya, dengan outfit serba mini, TaeNy sukses menyegarkan mata saya hahaha. Tentunya dengan karakter vokal yg ciamik jg. apalagi pas Taeyeon tereak “let me hear your scream!!” UWOGHHHH saya langsung urat melecot mode lagi hahaha

beres perf TaeNy langsung deh diputer VCR lagi. kali ini ceritanya tentang member SNSD yg jd perampok bank atau apa ya?

sehabis ini langsung deh panggung gelap dan muncul The Great Escape

13. The Great Escape –> well akhirnya muncul juga si kostum manusia Saiya di anime Dragon Ball hahaha

14. Bad Girls —> abis great escape trus tiba tiba ada layar putih yg nutupin panggung, di layar ini ada animasi siluet member SNSD yg gantian ngedance solo loh. keren abis hahaha. Trus tiba tiba intro Bad Girls dimulai dan layarnya tersibak. Eh tiba tiba semua member udah ganti rompi pake jaket kulit geng motor 😛

nah sehabis Bad Girls, diputer VCR lagi deh, kali ini Black Swan, video transformasi SoShi dr white ke black. persis kyk propaganda Run Devil Run sih 😛

abis itu langsung deh mindblowing performance dari Taeyeon dengan Devil’s Cry nya. Gile ini lagu bikin saya merinding loh. Hi note nya kena dan emosinya juga kena banget :

15. Run Devil Run (Remix) —> di sini RDR dibawain dengan versi remix dan lebih slow. Quite ear-cachy kalo menurut saya

  16. Beautiful Stranger –> Beres RDR, muncul deh Beautiful Stranger, di sini yg khas ya adanya kaca bening yg dipukul pukul ama SoShi. Ntahlah maksutnya apa tapi sexiness overload banget pas mereka mukulin kaca :3

17. The Boys (English version)
Nah kejutan nih di sini. Siapa yg nyangka coba mereka bawain The Boys. The Boys ini pertama kalinya dibawain di konser ya di Singapore ini loh hahaha.
karena ini lagu baru kali ya jadi fanchant nya dahsyat pisan lah. Apalagi pas bagian Sica yg “GG” itu seisi stadium membahana hahaha. Di sini juga urat melecot pas tereak “B,BRING THE BOYZ OUTT!!!!” dahsyat abis

18. Hoot

beres The Boys, terbitlah Hoot (halah), nah di sini mulai lagi deh aksi terbang terbangan. yg terbang sih cuma berempat, tp mayan keren lah

abis itu semua member balik ke backstage lagi dan VCR diputer 😀

VCR ini saya ga berhasil dapet euy. intinya sih VCR nya ya 4 orang member yg akan tampil berikutnya lagi ngejar-ngejar cowo gitu di labirin. Enak bener ya si cowo. Sialan 😛

19. If

Nah akhirnya muncul juga nih yg saya tunggu. Yuri dengan abs eh If nya 😛
Kali ini doi pake tank top tapi dilapis ama jaring euy, ga keliatan udel kyk di tour yg laen 😛
Meski dicover ama backsound tp dance nya quite well nih Yuri. Plus sexyness overload hahaha

20. Sway

One of my fave. Dan ngiri abis ama dancernya lah. Siasu bisa physical contact gitu dengan Sooyoung 😛
Di sini SY nunjukin kebolehan dia lap dance, dan quite breathtaking loh. Mantep abis sinkronisasi dan kelenturan badannya

21. Stuff Like That

Giliran Maknae yg tampil. Kali ini doi bawai lagu lama, tp yg spesialnya sih tap dance nya di bagian akhir. Doi rupanya piawai nge-tap dance loh

22. 4 Minutes

nah ini yg bikin dag dig dug serr nih. Penasaran saya ama adegan rip-off celananya si Yoona. dan bener aja lah, pas celana panjangnya disobek jadi hotpants orang orang udah tereak kyk orang kesurupan. Tapi quite impressive pole dancenya nih

ok VCR lg dan kali ini cukup sedih karena videonya tentang Danny Boy, bocah yg ditinggal ibunya dan masih sering komunikasi via telepon dari kaleng yg pake benang itu 😦

23. Danny Boy

Danny Boy dibawain sama semua lead vocal nya Soshi (Taeng, Sica, Seo, Fany, Sunny). Lagunya lumayan sendu sih dan mereka pake outfit merah rok item gitu mirip pakean cina

24. Complete

Well, ini nih lagu yg suka bikin merinding kalo nonton di layar kaca. Serem abis feelnya. berasa banget loh ni lagu. Ngedengerin langsung malah bikin tambah merinding hahaha

Abis lagu ini, mereka masuk ke backstage lagi, tp ngga lama kemudian muncul deh tuh perahu layar warna pink yg cute abis hahaha

25. My Child

Well, di bagian My Child ini banyak banget fanservice nya loh. surgax abis lah pokonya hahaha

beres si perahu pulang ke kandangnya, muncul VCR lagi deh. kali ini VCR nya tentang si Key ama Taemin itu loh

26. NaengMyun

nah di sini nih bagian cuteness overload nya muncul. Pake outfit karet + hotpants bawain lagu Naengmyun dan kembali fanchant diteriakkan ampe urat melecot lagi hahaha

27. Hahaha

kembali lagu beat dengan irama ceria, Hahaha dan fanchant nya gampang banget, cuma one two three four, doank 😛

28. Gee

akhirnya si lagu legenda muncul, Kali ini seolah dihipnotis disuruh ngedance loh hahaha. mayan lah sering nonton videonya jadi lumayan apal dance nya 😛
di sini ada yg kocak. Ada Sone yg ngelempar foam hati ke Hyoyeon eh ama doi malah dilempar balik hahaha. Dasar

Abis Gee, semua member talk lagi, dan kali ini Tippani lagi yg banyak ngomong :3
Intinya doi nanya udah pada cape blum? dan kayak paduan suara semua jawab “NOOOOOO!” tp trus si Fany bilang “wow, that’s amazing, but actually we are really tired” dan semunya langsung serempak “Aaaahhhhh” kocak abis hahaha. Udah gitu fanservice lagi, semua member ada aja tingkahnya mulai dari Yuri ama Sica yg becandaan, Sunny ama Hyoyeon yg guyonan mulu, sampe Taeng yg sibuk bolak balik ngambil air minum :3
abis itu di akhir Seo bilang kalo ini lagu terakhir di konser ini, judulnya Forever

29. Forever

di sini nih momen sedih, sedih karena konsernya udah mau udahan tp ada senengnya juga soalnya Sunny tiba tiba ngehampirin balkon depan terrace saya dan Yoona juga 😛

Setelah lagu ini, mereka pada bikin 90 degrees bow as usual. Well, I’m touched BTW, dan sedihnya udah gitu pada ke backstage lagi.

Ga lama kemudian semua orang pada tereak “ENCORE ENCORE ENCORE!!!” dan saya pun ikutan. Ga lama, 3 menit kemudian, stage jadi gelap lagi dan muncul deh gadis gadis Indian ngebawain Into The New World, The Legendary Song! 😀

30. Into The New World

Well, ini lagu legenda banget, dan fanchant nya pun gampang lagi 😛

31. Himnae

abis ITNW, dilanjut lagu yg cukup legenda juga, Himnae. di sini semua member lari lari keliling panggung dan berfanservice ria. Sialan envy banget ama yg d pen C ama B lah hahahaha

di Himnae ini ada kejadian lucu, dimana Yoona mungut boneka beruang trus dia main-mainin ama si Sunny tepat di depan terrace saya! abis gitu si Yoona naro lagi bonekanya ke lantai, diambil ama Sunny dan dilempar lah sama dia ke pen C. Gila itu di Pen C langsung rebutan kyk rebutan duit! alhasil yg dapet boneka lemparan si Sunny itu mbak mbak yg abis nangkep itu boneka secara luar biasa tiarap dan ga bangun-bangun selama 10 menit ckckck

abis Himnae akhirnya perpisahan beneran. Di sini mereka pada cerita tentang Chilli Crab, keinginan ke sini lagi taun depan, sampe suatu momen pas Taeng ama Sunny ngomong pake bahasa Korea yg bilang ….Indonesia! mungkin karena mereka melihat di pen B itu isinya orang yg bawa towel Indonesian SONE!
trus tiffany nanya, “Anyone here from Indonesia?” dibarengi celetuk Sica “I Love Bali!” sontak dah seisi stadium pada tereak UWOGHHHH… macem Sparta di film 300. Luar biasa loh. Abis itu mereka ngomong lagi kalo Singapore beautiful city dan lainlain lah dan akhirnya konser udahan ditutup dengan Fantastic, yg kata Tiffany itu special for You, Our Fantastic Fans! :3

32. Fantastic

di sini semua member nyebar dan memberi banyak fanservice terakhir. yg ke balkon saya tuh kalo ga salah Yoona ama Tiffany. Surgax abis 😛
Setelah beres Fantastic, semua member kemudian mapay (mengurut) menyambangi tiap spot panggung dan 90 degrees bow sambil “Kamshahamnida” .. well, quite manner 😀
Nah pas balik ke depan panggung, SoneID yg berdiri di pen B ngelempar anduk tepat ke panggung dan langsung dipungut dan dipake ama Sooyoung coba! Makin kesurupan lah orang orang di sini hahaha
Abis itu semua member balik ke backstage dan konser berakhir 😦

—————

My overall comments about the concert :
beda sekali kalo liat di layar kaca mau 1080p atau berapapun dengan melihat secara langsung. Feel dan atmsfernya yg ngebedain 😛
Overall saya puas sekali ngeluarin uang  demi dateng ke konser ini, dari segi stage, lighting, sound, laser dan efek cukup memikat dan memanjakan. Ga salah sgRITS berambisi bikin konser Kpop termahal di Asia Tenggara hahaha

Tepat pukul 23.00 waktu setempat saya bergegas pulang, nitip salam buat rombongan dari Indonesia lain dan segera berlari ke stasiun demi mengejar kereta terakhir ke Admiralty. Untungnya masih ada dan saya sampe di Admiralty pukul 24.00 dan hebatnya lagi, jam 12 tengah malem di sono masih rame dan sama sekali ga ada bahaya apapun coba! Makanya saya berani pulang jalan kaki dari stasiun ke apartmen. Dan sampe di apartmen, mandi bentar langsung tidur. Gak kuat hahaha

credit to those who provide the fancam and pic

Short Trip to Singapore (Part 1/3)

akhirnya bisa nyolong waktu lagi buat ngelanjutin cerita “backpacker kilat #foreveralone” dr perjalanan sy minggu lalu ke Singapura 😀 hari itu tanggal 7 Desember 2011. Kurang dr 24 jam lagi si saya bakal terbang meninggalkan Bandung menuju ke negeri Singa. pokonya pagi-paginya kudu dan wajib buat tuker duit Rupiah ke SGD (Singapore Dollar) nih kalo ngga ya ngga apa apa juga sih soalnya di bandara nanti juga banyak Money Changer cuma kyknya suka di charge gitu deh 😛

pukul 09.00 WIB saya langsung meluncur dr rumah menuju Golden Money Changer di Dago. niatnya sih biar pas baru buka itu GMC bisa langsung nuker duit dan pulang soalnya masih banyak kerjaan TA yg harus diberesin sebelum ditinggal selama 3 hari ke sana. Ke GMC niatnya sih bawa uang 1.2 jeti berharap kurs SGD masih di bawah 7000 kan lumayan bisa dapet sekitar 180 dollar-an. nah pas paginya buka twitter ternyata saya cukup kaget soalnya banyak SoNE Indonesia yg mau berangkat ke singapur pada ngeluh di twitter kemarennya karena SGD secara perlahan tp pasti merangkak naik ke level nyaris 7200 rupiah/dollar. Widih, artinya permintaan beli SGD lagi naek nih pas tanggal 6 ama 7  dan artinya lagi ada banyak orang Indonesia yg menjual rupiah membeli SGD di hari yg sama. Feeling saya sih yg kayak gitu pada mau nonton konser SNSD semua hahaha. Power of 9? 😛


sampe di sana ternyata beneran si GMC baru buka hahaha. dpt no antrian awal awal dan langsung dipanggil. Trus pas nanya ke si mbaknya ternyata SGD dibuka 7.135 rupiah/dollar. Yasudah nukerin dah tuh 1,2 juta dan dpt 168 SGD, 34 lembar 50 SGD dan selembar 10 SGD plus 4 lembar 2 SGD. ada yg lucu dengan uang SGD, semua mata uang kertas berapa pun nominalnya pasti memuat gambar Yusuf bin Ishak, ya beliau adalah presiden pertama Singapura dan diabadikan di semua mata uang kertas 😀

sepulang dr GMC langsung menuju rumah dan menyelesaikan beberapa kerjaan TA, tp ga berapa lama di sms supaya hadir ke kampus buat lab meeting. Ah sudahlah saya skip aja ketimbang TA ga beres #gaya hahaha. Ternyata dari siang sampe malemnya pun masih ngulik gawean TA dan mau packing rasanya malesbanget.com deh. Yasudah tidur aja dulu toh besok pesawatnya juga berangkat jam 1 siang. Gak lupa malemnya apalin fanchant plus persiapan terakhir browsing Singapore 😀

tgl 8 Desember 2011 pukul 08.00 WIB mau peking masih malesbanget.com juga. Duh, gimana ini teh? yasudah si mamah udah ngomel2 ga jelas nyuruh peking akhirnya peking deh. Tp apa yg mau di packing? cuma bawa baju 3 potong, celana jeans 1 potong, roti 2 bungkus, kamera pocket, charger hape, dan tiket pesawat, passport, dll. beres dah. Dikarenakan udah diniatkan ga bawa laptop ke sana, akhirnya nyempetin dulu browsing sebelum menargetkan berangkat pukul 09.45 WIB. Pas browsing ternyata nemu artikel yg mewajibkan nanti di Imigrasi Indonesia itu semua calon penumpang pesawat ke luar negeri mesti membawa kartu NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) sebagai syarat bebas fiskal, waduh padahal saya belum kerja knp musti bawa NPWP? tp si situ dibilang kalo yg belum kerja boleh numpang NPWP bapak/ibunya yg bekerja dan membawa kartu keluarga sebagai syarat. Yasudah deh akhirnya agak panik dan bongkar-bongkar lemari babeh nyari NPWP dipotokopi berikut dgn kartu keluarga (yg ternyata 2 kelengkapan ini gak perlu sodara-sodara. SIALAN itu blog yg bilang harus pake NPWP! huh)

pulang dr tempat potokopian jam 9 kurang tiba-tiba HP bunyi dan ternyata dari BATAVIA AIR yg ngasih tau kalo jam keberangkatan pesawat dimajuin setengah jam. BUSET. belum mandi nih mbak! yaudah langsung deh mandi koboi 5 menit doank, ganti baju, final checking dan pamitan ke ortu dan tetangga (loh!) menuju pasar induk gedebage buat naek angkot ke bandara. Yoi Angkot lah biar kerasa backpacking nya. awalnya disuruh naek taksi tp ah percuma masih 2,5 jam lagi juga 😀  Tak lupa sebelum pergi sy sms dulu si pemegang tiket konser menanyakan ketemuan dimana nanti dan doi bilang kalo doi nyampe Changi juga sore jadi ya ketemuan di Changi aja katanya. Yasud.

OK mulailah perjalanan saya naek angkot. Mau tau rutenya, berikut rutenya :

25 kilometer dan 2 kali ganti angkot ( + ojeg tentunya) 🙂

ok, naek angkot yg pertama estimasti sekitar 30 menit. Kenyataannya? buset dah 3 taun ga ngangkot ternyata Bandung parah abis. udah siang gini masih macet dan udah nyaris sejam masih belum setengah perjalanan? duh. akhirnya 10.15 WIB sampai juga setengah jalan dan waktunya ganti angkot. Eh ternyata sama aja, tp yg ini lebih parah. Nungguin 15 menit ga dapet dapet tuh angkot yg ke bandara. sempet frustasi dan ingin naek taksi akhirnya nongol jg tuh angkot. Jam menunjukkan pukul 10.45 kurang dikit yasudahlah hajar we 😀
Ke bandara untungnya agak lancar dan makan waktu setengah jam. Di pintu gapura bandara akhirnya saya naek ojeg 5000 perak ketimbang jalan kaki jauh 😛

sampai di Bandara ga lupa beli minum dulu abisnya aus gila mungkin efek lama ga ngangkot. Masuk bandara mulai deh nerveus nya keluar. Pas di pintu masuk ditanya paspor dan tiket malah gugup dan si air mineral lepas dr tangan. Untung aja udah ketutup kalo ngga bs malu sama si mbak mbak nya 😛 OK, sebelumnya first impression dulu ya tentang Hussein Sastra Negara Int’l Airport (disebut Int’l padahal rute international nya cuma ke Malay ama Singapore hahaha). Udah lama sy ga ke bandara ini, seringnya ke Cengkareng soalnya lebih murah 😛
ternyata perubahannya cuma dikit ni bandara, luarnya masih sempit dan gitu gitu aja meski lebih rada bersih dikit lah. Dalemnya masih sempit juga hahaha. dasar nih pemkot Bandung memang rada rada ckckck

ok, lanjut cerita, setelah check-in ke counter Batavia, saya diberi boarding pass dan sebuah lembar berwarna hijau bertuliskan lembar kedatangan/keberangkatan dan lembar berwarna merah bertuliskan Disembark Form yg dikeluarin oleh Pemerintah Singapur. Apa pula ini? duh. yo wis akhirnya memutuskan untuk ikut mengantri aja deh kyk orang orang. dan ternyata saya baru ingat kalo pernah baca artikel yg bilang kalo mau ke luar negeri, kita minimal mesti datang ke bandara 2 jam sebelumnya karena di imigrasinya ini bakal ngantri, dan emang bener -___-
Selagi mengantri, saya cuma memandangi 2 lembaran yg diberikan ama petugas batavia tadi. yg ijo isinya ya nama lengkap, no passport, tanggal passport, jenis kelamin, dll. standar. yg merah lebih lengkap ada alamat di Singapura, pernah melakukan perjalanan ke Afrika/Amerika Latin sebelumnya/tidak dll. antrian udah semakin maju dan ternyata selidik punya selidik (halah) orang2 di depan dan belakang saya lembar ijonya udah keisi semua. Waduh, tinggal 2 org lagi giliran saya dipanggil dan akhirnya panik lagi. Bolpen keluar dan dengan alas passport, diisi lah itu lembar ijo secara kilat ckckck.

Setelah pemeriksaan imigrasi dan mau masuk ke ruang tunggu, ternyata kelengkapan saya dicek lagi dan malunya waktu si mas nya bilang, “Pak maaf, airport tax nya belum dibayar” | sitmennn knp aing bisa lupaaa?? sialan. akhirnya mundur lagi dr antrian dan menuju loket airport tax. Airport tax di Bandung mayan murah cuma 75 rebu sedangkan di Cengkareng 150rb for nothing. Yaudah selesai bayar Airport Tax langsung permisi ke org2 yg ngantri dan bilang kalo td kelupaan, Malunya ckckck. Ke-udik-an saya bukan berenti sampe situ, pas mau masuk ke ruang tunggu, saya dengan nyantenya ngacangin dua pramugari (sepertinya begitu) dan pas nyampe tangga dipanggillah dr belakang “Pak maaf Batavia atau Air Asia ya?” | “Batavia mbak” | “Maaf boarding pass nya pak” | “Waduh maaf ya mbak” sambil malu malu ngasih boarding pass, Asem!

dah akhirnya selesai juga itu proses bertele-tele, dan akhirnya bisa duduk duduk ngganteng di ruang tunggu full AC sambil internetan. Maklum lah, iPhone 3Gs ane baru diisi pulsa internet paket Simpati Rp 100.000 coy #likeaboss. niatnya sih buat internetan di Singapur sono soalnya kata babeh di sana Telkomsel,IM3 dan lain lain masih bs nyambung. Tepat pukul 12.15 WIB muncul pengumuman kalau penumpang yg menuju Singapura harap masuk ke pesawat. dan 10 menit kemudian sy sudah duduk manis di seat 11C, di pesawat Airbus A320 punya Batavia (pesawat terbesar sepanjang sejarah sy travel dgn pesawat udara) dan deket jendela lagi :3

5 menit kemudian, mbak mbak pramugari yg caem menghampiri sayah. Kirain mau apa eh ternyata doi malah minta saya supaya pindah ke kursi emergency soalnya di sana cuma ada 2 bocah gemblung yg bahkan punya KTP aja belum. Menurut peraturan penerbangan no.blablabla bocah gemblung ga boleh duduk di emergency exit katanya. Yasudah mau gimana lagi, akhirnya pindah dan dengerin instruksi si pramugari sambil ngantuk2 dan sialnya di jendela ketutupan sayaap????!!! #%%^^ gagal deh liat pemandangan 😦

10 menit kemudian pesawat take-off dan saya pun tidur. Ga di angkot, ga di kereta, ga di mobil, ga di motor ??!!!, ga di pesawat pasti aja molor 😦
singkat cerita, 1 jam 20 menit kemudian, pilot bilang dalam beberapa menit lg kita akan sampai di Changi Airport. Waw baleglah aing mau menjejakkan kaki di luar negeri boi??? #kampungannya keluar 😛 ketinggian jelajah pesawat makin turun dan turun, saya pun mengintip ke jendela orang di depan. dan luar biasa sekali, yg saya liat di bawah itu adalah deretan kapal kapal barang yg berjajar dengan rapi dan ga saling tabrakan! ckckck subhanallah sekali 😀


beberapa menit kemudian adalah pemandangan luar biasa. Ketinggian pesawat makin rendah dan rendah dan akhirnya terhampar lah daratan Singapura yg waw sekali kalo diliat dari atas pesawat gini! Isinya semua gedung pencakar langit lah! Mana ada rumah rumah satu lantai atau 2 lantai? Bandingkan dengan view kalo mau mendarat di Cengkareng berikut :

atas Cengkareng, rebyek kan? dan ini Singapura :


beda pisan hahaha. Amazed banget lah pokonya. Beberapa menit kemudian tau tau pesawat udah landing di Changi Airport dan cuaca ketika itu hujan agak  besar. Langsung deh inget Cengkareng. jarak dr tempat parkir pesawat ke terminal itu agak jauh dan pasti dijemput pake bis. mungkin di Changi juga sama kali ya? setelah mengambil ransel dan mengantri keluar, eh ternyata ga level itu dijemput pake bis hahaha. di sini udah tersedia gate yg langsung menyambungkan pesawat ke Terminal 2 Changi. dan langsung lah kerasa feel luar negerinya. Ada 2 orang polisi yg ngobrol pake Bahasa Inggris, signboard signboard bandara yg semuanya ditulis english, dengan dibarengi China, Melayu dan India (3 etnik penghuni Singapur).

Beberapa detik lagi saya akan menjejakkan kaki di Bandara Internasional terbaik di dunia. Duh deg-degan rasanya (kampungan mode : ON) dan benar saja, begitu keluar dari Gate E10, langsung merasakan cultural shock atau yg biasa dikenal dengan sindrom Kabayan masuk kota. Bayangin aja, Changi keren abis. persis kyk yg liat di felem felem deh. apalagi katanya terminal 2 in terminal dengan fasilitas paling bagus di Changi. Let’s see some pictures :

nah begitu keluar dari gate E10 menuju ke koridor terminal, jiwa kabayan saya keluar. Mendadak panik deh mesti kemana 😦 akhirnya saya coba mencari orang2 yg keluar dengan saya dr Batavia tadi. dan berhasil menemukan sepasang suami istri yg duduk di depan saya di pesawat. Langsung deh saya mulai mengekor. Ternyata 2 orang itu mau menuju ke pengambilan bagasi dan checkout ke luar lewat imigrasi. Lah knp saya ngikutin? bego banget padahal baru inget kalo ada janji mau ketemuan buat ngambil tiket. Eh akhirnya nasi udah jadi bubur dan ga bisa balik lagi ke atas 😦
Terpaksa deh checkout juga. Dan pas checkout terjadi lagi momen bego saat lembar Disembark belum diisi. Duh mana polisi Singapore kayaknya galak galak lagi 😦

setelah ngantri dan dicheck di Imigrasi, paspor saya dicap dan lembar disembarknya diambil dan sisanya dimasukin ke passport. dan saya pun dengan culang-cileung keluar menuju ke tempat pengambilan bagasi. Tapi apa yg mau diambil orang cuma bawa tas ransel doank?!! begonya saya 😦
Yasudah akhirnya hal pertama yg dilakukan ya cari WC. Nemu WC dan agak kaget juga ternyata di jalan menuju WC nya ada rombongan mungkin siswi SMA Jepang lagi ngantri ke WC cewe. Buseeett si eneng eneng ngantri mau pipis apa ngantri sembako neng?? dan saya pun mencoba stay cool dan menuju WC pria. Di sana lagi lagi cukup kaget karena WC nya bersih boi. kering dan bersih ga kayak di Cengkareng. persis di mall high class lah. mana ada water tap nya lagi buat air minum. yasudah minum dulu sebagai tanda udah ke singapur wkwkwk

selepas dari WC, tiba tiba hape dua dua nya bunyi. semuanya memberi tahu kalau Simpati dicover SingTel dan Indosat M3 dicover Starhub jd masih bs tetep aktif tp sekali sms kena 4000 perak boi!!! yasudah akhirnya duduk duduk dulu deh sambil nungguin si bang Rey pemegang tiket yg dateng jam 5 sore sambil foto foto

setelah beres makan roti yg dibawa dr Bandung, akhirnya memutuskan untuk menjelajah Changi dan ingin nyobain naik Sky Train, kereta otomatis yg menghubungkan antarterminal itu loh. Langsung deh ngubek ngubek terminal 1 2 dan 3 Changi dan berhasil dpt beberapa gambar :

dan baru sadar kalo belum sms si mamah. Duh pasti diomelin ini -__- akhirnya ngesms dan beliau bales dan nanya apa udah sms papah belum. dan saya jawab “belum mah, ini mau” dan 8000 rupiah telah diambil dr pulsa saya 😦 akhirnya saya buka iPhone dan berharap bs internetan gitu, eh taunya boro boro bisa, paket internet yg saya isi di Bandung percumaaaa… gak aktif. sialan! mana wifi Changi juga ternyata ga kompatibel ke hp saya lagi. Alhasil mati gaya semati-matinya 😦 yasudah sy sms babeh dan bilang kalo udah di Changi dan mungkin baru jam 10 ke apartment. dan tak lupa juga dengan bodohnya saya meminta pulsa lagi 20 ribu ke temen untuk cadangan jaga-jaga. Akhirnya keliling Changi lagi deh. dan akhirnya saya menemukan hal ironi yg dulu pernah diceritain oleh si papah. Ternyata memang benar, di Singapur itu, meski negaranya maju, ternyata moralnya udah sakit. Orang2 tua yg udah jauh melalui masa pensiun ternyata masih kerja karena kalau ga kerja mereka ga bs makan akibat biaya hidup tinggi. Lantas kemana anak2 nya? Anak2 nya terlalu sibuk mengurusi diri sendiri sehingga orang2 tua renta ini masih harus bekerja menjadi pekerja kasar yg memindahkan troli, ataupun yg membereskan piring piring di restoran kayak gini 😦

17.00  waktu setempat dan begonya saya masih belum tau jam brp si rey ini mendarat. Alhasil langsung menuju arrival board dan mencoba menebak doi naek pesawat apa ya. akhirnya mengambil kesimpulan secara sepihak kalo doi naik AirAsia yg mendarat pukul 17.40 waktu setempat. Ok, langsung deh menuju terminal 1 naek Sky train. Di Sky Train ini asik banget, kereta dateng tiap 5 menit, udah gitu otomatis lagi dan adem banget dalemnya. beda jauh lah ama di Indonesia. ga nyampe 2 menit udah di terminal 1 lagi

di sana ngegeje lagi deh nungguin. Tiba tiba si babeh sms dan hebatnya no M3 saya pulsanya abis. akhirnya sms pake simpati deh bales. trus keluar lagi 4000 buat sms si rey barangkali dia udah nyampe. dan ternyata pending alias doi masih mengapung di udara. 17.40 belum mendarat nah baru deh 18.10 di papan arrival muncul tulisan Landed di samping box Air Asia dr Jakarta. hah leganya dan akhirnya sms nya delivered dan doi bales “wah ran kyknya gue langsung ke terminal 2 deh soalnya bagasi di drop disana” | “what” ya udah deh trus ane sms aja “ok bang gw ke terminal 2” eh dan baru nyadar kalo itu SMS terakhir yg dikirim. Trus beberapa lama kemudian doi bales : “kita ketemu di stasiun MRT aja ya? atau lu mau ke hostel kita di Backpackers Inn d China Town?”

Waduh cilaka ini, ngga ada pulsa buat bales buat sms yg mesti wajib dibales. Akhirnya buru buru deh ke terminal 2 menuju stasiun MRT di bawah tanah dan berharap si Rey masih ngambil bagasi biar saya bs nungguin dia di stasiun. Nah sampailah di stasiun MRT Changi Airport. Dan yeah, ini pengalaman perdana naik MRT (Mass Rapid Transportation) khas Singapura.

belum punya tiket dan trus harus kemana adalah pertanyaan saya. Untunglah di situ liat ada mesin penjual tiket yg dikerubunin banyak orang. udah deh langsung menuju ke sana dan ngantri. Pas dpt giliran, langsung bingung mau mencet tombol apa. untunglah di sana ada petugas SMRT, ibu ibu India yg menghampiri saya. Langsung lah sy nanya pake bahasa english gmn caranya beli tiket perdana dan doi langsung menunjuk office kalau mau beli tiket perdana. singkat cerita ane udah dpt tiket perdana seharga 12 SGD dan di top-up jadi 22 SGD dengan bantuan ibu ibu tadi. Untunglah. Udah gitu masuk deh ke dalem stasiun nya. nah yg unik dr Stasiun MRT Singapur, semuanya serba otomatis dan RFID. begitu kita mau masuk ke stasiun, kita diwajibkan men-tap kartu ke mesin pembaca dan nanti akan terbaca saldo yg kita punya di kartu dan pintu otomatis terbuka. Saat keluar juga nanti tinggal di-tap lagi dan saldo kita berkurang.

ok, misi berikut adalah mencari orang bernama Rey di stasiun Changi ini. totally desperado lah. bayangin tanpa pulsa, belum pernah ketemu langsung orangnya, dan dihadapkan fakta kalau doi udah cabut buat apa aing nungguin di sini dan udah gitu mesti ke hostelnya lagi yg aing sendiri ga tau dimana 😦
akhirnya setelah 10 menit berlalu, kereta baru muncul dr arah Tanah Merah dan mau berbalik arah ke Changi. saya yg udah desperate akhirnya membalikkan badan dan mencoba menatap pintu masuk stasiun, eh ga taunya di gerbong paling belakang, muncul orang gemuk berbaju pink yg sedang bertransaksi tiket dengan rombongan anak muda yg pada pake seragam timnas Korea. Sontak aja saya langsung lari dan menghampiri si pria gemuk berbaju pink. Dan bener aja itu ternyata si rey pemegang tiket sekaligus penyebab saya ke Singapur hahaha

Di dalam kereta rupanya udah ada 7 orang anggota rombongan yg juga mesen tiket ke si Rey ini. akhirnya kereta berangkat dan kita mengobrol dan kenalan. mereka semua menginap di Cina Town dan saya sendiri di Admiralty. begitu denger Admiralty yg jaraknya 26 stasiun dr Changi mereka kaget 😛 yaiyalah. coba cari dr peta MRT berikut dimana itu Admiralty? ketemu?

MRT di Singapura itu udah ada jalurnya masing masing. Jalurnya kebagi 4 yaitu yg warna merah, ijo, oren dan ungu. Masing masing jalur punya interchange station buat para penumpang pindah jalur dan nerusin perjalanan. Jarak tempuh dr masing masing stasiun itu paling cuma 2-3 menitan dan MRT ini transportasi yg keren abis loh. Dia selalu ada setiap 5-7 menit sekali dan terprogram dengan baik. Di jalur oren dan ungu malah keretanya ngga ada masinisnya ckckck

Ok, saya dan rombongan bang Rey pisah di Paya Lebar interchange karena sy mau nerusin ke jalur oren buat ke venue konser besok (takut nyasar maksutnya 😛 ) sedangkan mereka pada mau langsung ke China Town. Setelah pamit saya keluar kereta dan ternyata cukup kaget melihat hiruk pikuk di stasiun interchange. Orang-orang ga ada yg jalan, semuanya speedwalking dan mereka kyk yg lg dikejar sesuatu. Bahkan di eskalator pun mereka jalan!!! udah ga ngerti lagi ckckck

Akhirnya naik lg kereta yg ada di jalur kuning menuju Singapore Indoor Stadium. eh betapa terkejutnya saya kalo ternyata seluruh MRT di singapura itu sama persis tampilan dalemnya. dr mulai warna, pengaturan letak, kursi, sampai AC dan kamera CCTV. Satu hal yg pasti, di seluruh kereta dan stasiun MRT, kita dilarang makan minum dan merokok. dendanya 500-1000 SGD cuy. Buset, ga heran di seluruh stasiun dan kereta nya susah banget nyari sampah. satu lagi, kereta nya ini bener bener nyaman. mau sepenuh apapun, dia dilengkapi dengan sensor yg mendeteksi jumlah orang di dalemnya dan kalo makin penuh AC nya makin dingin sehingga meski desek-desekan juga adem ayem aja. Oia, dan ga ada copet loh soalnya seluruh gerbong dilengkapi banyak banget CCTV.

yang khas lagi dari MRT adalah waktu berhentinya di setiap stasiun itu ga lebih dr 10 detik loh terhitung sejak pintu terbuka. Jadi begitu dia berhenti dan pintu terbuka, orang2 udah langsung berhamburan keluar dan hebatnya yg dr luar ke dalem juga dengan cepetnya masuk. Ga ada yg dorong dorong dan lain lain karena toh kalo ga kebagian kereta ini juga mereka cuma nunggu 5 menit karena kereta berikutnya pasti dateng. Duh makin merasa jauh nih saya kalo bandingin negara ini dengan Indonesia ckckck. dan yg lebih hebat lagi, sseluruh stasiun MRT dirancang dan didesain mirip satu sama lain. kita ga akan mungkin bisa bedain kalo ga ada tulisan ini tuh stasiun apa loh. Beneran ckckck

Satu lagi hal yg paling menonjol dari Singapura. Bayangkan saja, baru beberapa jam di sini saya udah bisa menebak 2 hal paling umum dan jadi ciri khas negeri ini. Yg pertama adalah iPhone. yup, hampir seluruh Singaporean adalah iPhone user. bisa dipastikan begitu mereka naik MRT, mereka sangat sibuk dengan iPhone 4G atau 4GS nya (jadi malu karena punya saya masih 3GS 😛 ) ga anak-anak, remaja, sampe kakek nenek semua sibuk dan autis dengan iPhone nya kalo di MRT. ada aja yg mereka kerjain mulai dr maen game, Skype-an sampe nonton youtube. Yang kedua apalagi kalo bukan hotpants hahaha. Yoi, hotpants jadi tren mode remaja putri Singapura. kebanyakan etnis Cina yg pake hotpants dimanapun dan kapanpun mereka berada. Ga pagi, siang, malem, mereka pada pake hotpants loh :3 .Banyak selentingan yg bilang kalo semua gara2 cuaca, tp banyak yg bilang Singaporean girl itu seneng showoff 😛

bukan bermaksut pervert loh ya 😛

Ok, singkat cerita sampe juga saya di Stasiun MRT Stadium. stasiunnya kecil tp bersih, dan itu terletak 3 lantai ke bawah tanah loh. Keliatan dari eskalatornya yg menjulang tinggi banget. Dan selalu bersih bukan main di sana. Sayapun naik ke lantai atas dan men-tap kartu MRT. Kebaca pulsa saya berkurang sekitar 1.5 SGD. Lumayan murah juga ya. Keluar dari sana langsung deh saya disuguhkan view stadium megah yg berdiri kokoh di tengah gelapnya malam (halah)

muter muter keliling SIS (Singapore Indoor Stadium) akhirnya ngeliat tempat red carpet MAMA 2011 kemaren. Dan foto-foto deh di sana. Viewnya bagus, ada danau (atau Sungai ya) yg mengelilingi SIS dan di sana ada jembatan megah yg menghubungkan SIS dengan kota. Deretan gedung tinggi pun keren abis difoto pas malem. Di belakang SIS ada blok restoran yg baunya bener bener menggoda perut yg memang sedang lapar karena belum terisi sama sekali 😛

kemudian saya memutar ke arah bagian depan stadium dan mencari pintu East Entrance tempat saya akan masuk besok. Akhirnya setelah bertanya ketemu juga East Entrance itu di lantai 2 ternyata 😛 setelah memastikan masuk dari sana, saya pun berencana pulang, eh tapi mau singgah di Clarke Quay dulu deh, rencananya mau liat tempat romantis gitu (padahal foreveralone) dan mau liat kaos equalizer khas Singapur itu 😛 Yasudah jalan deh saya ke arah Stadium dengan kondisi kaki super pegel, mandi keringet dan ngegendong tas ransel kemana-mana. Derita backpacking 😦

Nah pas saya mau balik ke stasiun MRT lwat pintu depan, suasananya aneh gitu. di bagian kiri di depan stadium, banyak banget orang-orang (remaja cewe cowo) yg ngegondol kamera SLR segede gaban dan banyak pulisi Singapur berkeliaran. pas saya mau nyebrang dan jalan di sebelah kiri jalan, tiba-tiba dari belakang ada suara ToA “hey You, MOVE ASIDE, MOVE ASIDE PLEASE!!” sontak deh saya balik dan liat ternyata ada pulisi yg nunjuk nunjuk saya nyuruh ke pinggir. OK deh saya minggir dan ga berapa lama, dari arah depan, dateng dua mobil van putih ke arah saya dan berbelok serta berhenti kurang lebih 10 meter di depan saya. Nah itu orang2 yg pada bawa kamera SLR tiba tiba lari ke arah saya semua. Gebleg gimana ga panik coba. Pada lari lari ke arah saya dengan histeris. Dikira aing ARTIS APA?? yo wis saya pun penasaran dan balik arah eh ternyata eh ternyata itu tuh mobil van nya SoShi dan mereka mau rehearsal malem ini buat konser besok.

buset dah durian runtuh ini namanya. saya berada di row terdepan dan jarak van tuh cuma 10 meter. dan langsung deh tuh Sunny, Hyoyeon ama Yoona keluar dr van. Buset aing langsung panik dan ngeluarin iPhone ternyata si iPhone ini baterenya modar. SIALLL!! yasudah lah ini yg dibelakang udah pada ngelancarin serangan blitz dan saya pun cuma bisa melongo tereak tereak boi. Sedih 😦 Etapi anehnya mereka cuma bertiga, satu van lagi isinya cuma kru. Mana yg lain ya? oh mungkin belum pada nyampe kali ya. Dan yg bikin saya tercengang lagi, deretan orang2 di belakang saya ternyata orang Indonesia kabeh. Soalnya mereka pada heboh “Ya ampun, gue dapet foto Yoona donk. Lu dapet ga tadi” | “Taeyeon mana ya kok belum keliatan” dan lain sebagainya. Buset dah, di Singapur aja aing masih ketemu orang Indonesia? hahaha

Ahirnya saya memutuskan untuk tidak menunggu member yg lain dan pergi ke Clarke Quay melalui interchange Dhoby Gaut, Interchange terbesar di Singapura (di bagian 2 saya akan bahas 😉 ) Sampe di Clarke Quay bingung kan mau keluar lewat mana 😛 Stasiun MRT singapur itu dirancang dan didesain bisa dimasuki dari berbagai spot yg tersebar di hampir 9 atau 10 titik masuk. Jadi kita bisa masuk dari manapun dan keluar kemanapun. Hebatnnya mereka menyertakan rambu dan tanda dengan sangat detil jadi ga mungkin lah kita nyasar. Saya memutuskan untuk keluar ke arah Bus Stop dan mencoba buat menebak-nebak ke mana arah Jembatan Clarke Quay (riverside point) yg legenda itu 😛

Akhirnya saya keluar stasiun dan melongo liat deretan gedung tinggi pertokoan dan kantor yg megah. Kemudian saya belok ke kiri mencoba mengikuti arus kemana orang2 pergi dan bener deh ahirnya keliatan tuh Clarke Quay, sungai besar (ada taxi airnya loh) dan di pinggir sungai banyak orang pacaran ampe cipokan o_0 di bagian sebrang terdapat deretan pertokoan terang benderang dan di tempat bernama Riverside Point tercium bau harum masakan Seafood yg jadi ciri khas tempat ini. Soo tempting #mupeng

di bagian sebrang Clarke Quay terdapat semacem pasar malem gitu tempat jual barang barang khas Singapur. Eh di sana ternyata ketemu nih si kaos Equalizer. Kaos nya kayak gimana sih? kyk gini nih

jadi si kaos itu dilengkapi dengan sensor suara, kalo dia ngedeteksi ada suara musik yg berdentum, deretan lampu LED yg ditempel di bagian depan nya akan bergerak naik turun. Bagus sih, cuma harganya??? 35 SGD sodara sodara. Sialan, padahal di Indonesia saya liat cuma 20-an. mungkin karena mau natal kali ya jadi mahal. Yaudah ga jadi deh beli cuma bisa mufeng doank.

Capek keliling di Clarke Quay saya pun mencoba pulang. Waktu menunjukkan pukul 21.30 waktu setempat dan perjalanan ke Admiralty masih 18 stasiun lagi -___- Singkat cerita saya naik MRT jalur merah dan tiba di stasiun MRT pukul 22.10. Di sana saya buka lagi sms babeh yg bilang kalo saya musti nyebrang jembatan penyebrangan dan naik bus rute 913 dan turun di halte ke-5. Ok deh, saya cari tuh jembatan penyebrangan dan hebatnya si jembatan penyebrangan tuh ternyata eskalator sodara sodara. bukan tangga hahaha. Halte bus pun jam segitu masih lumayan penuh. Begitu bus jurusan lain dateng, saya perhatiin gimana cara mereka naik takutnya ntar sifat Kabayan saya keluar 😛 Ternyata pas mereka naik, di pintu depan bus ada sensor RFID kayak di stasiun. kita men-tap kartu MRT ke sana dan turun lewat pintu samping dengan men-tap lagi kartu MRT nya. Ok deh, bus 913 dateng dan saya pun naek. Oia, perlu diingat kalo semua bus di SG ini ga kejar setoran. Ada atau ngga ada penumpang, mereka tetep berhenti di semua halte, dan berhentinya cuma 20 detik doank. Mau ada penumpang yg lari lari ngejar juga pintu ga akan dibuka loh kalo si bus udah melaju. Edan.

10 menit kemudian saya sampe di halte yg dimaksud babeh. Turun di sana, cari apartmen blok 473 dan menuju lantai 6 rumah nomer 453. Luckily ga sulit nemuin nya dan saya pun akhirnya mengetuk pintu, masuk dan ketemu babeh. Awkward banget tinggal berdua sama si babeh di negeri orang 😛 Apartmennya terdiri dari 4 kamar, 1 dapur dan 2 kamar mandi. Lumayan lega dan full AC sih, dulunya ini ditempatin ama 7 orang tp semua udah pada pulang ke Indonesia.

yaudah langsung deh saya mandi, ganti baju dan ga lupa internetan dulu (mau pamer ceritanya padahal dr tadi si iPhone ga bisa konek sama sekali T_T ) ternyata oh ternyata yg mengejutkan lagi, ternyata akses internet berasal dari free wifi (wifi punya tetangga yg ga diprotect password) Edanlah hahaha. lucu banget ada orang baik hati yg ngebiarin wifi nya dipake orang hahaha

Sekitar 2 jam twitteran saya pun mengantuk dan tidur. Waktu sudah menujukkan pukul 01.30 waktu setempat. Mending tidur lah biar besok fit buat nonton konser dan jalan jalan :3

bersambung….