That Day Was Mine :)

eng ing eng….. (drum roll) 😛

akhirnya si sayah resmi juga “diusir” dari kampus berlogo gajah tercinta terhitung sejak 14 Juli 2012 lalu 😀
akhirnya juga penantian panjang dan kepenatan kuliah selama 5 tahun belakangan selesai juga…
namun di balik keceriaan dan kelegaan diwisuda, ada sebuah beban dan kesedihan tersendiri bagi saya. Yup, beban setelah di wisuda itu jauh jauh lebih besar ketimbang menanti saat diwisuda..

Mulai detik ini saya musti memasuki fasa hidup baru : Mengejar masa depan. Mencari pekerjaan atau merintis usaha, membahagiakan orang tua, mencari pendamping hidup dan menolong serta bermanfaat bagi sesama.

Ketika menjadi mahasiswa, kita masih bisa santai (atau hare hare dalam bahasa Sunda) tanpa beban (kecuali TA) dan menikmati hidup to the max. Nah sekarang? Kalo ngga kerja dan dpt penghasilan gimana mau membahagiakan orang tua? apa ngga malu sama tetangga dan kerabat? Trus kalo belum menemukan pasangan hidup apa ngga “dikejar-kejar” trus sama ortu? apa ngga selalu ditanya tiap ada acara keluarga? 😛

Ah sudahlah, lupakan dulu beban-beban di atas, saya mau share dulu beberapa foto si sayah diwisuda kemaren 😀

Di gedung ini, gedung “mahal” yg mengharuskan mahasiswa membayar 550rb utk diwisuda :

Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) dengan segala kemegahan dan keunikan arsitekturnya

si saya bersama dengan 2 orang teman seperjuangan Club 5 tahun 😀

meski agak burem, tp ini juga temen seperjuangan sesama Juli-ers 😀


si saya bersama my rileks fellow 😀

Berhubung saya agak kurang fotogenik jd nya ya cukup sekian aja foto-fotonya 😛
Intinya, setelah diwisuda, banyak tugas berat menanti. Seperti kata Prof yg paling disegani dan dihormati di jurusan saya,

“Anda itu masuk ITB dengan menyisihkan 19 orang kompetitor Anda. Dan Anda ini kuliah di kampus ini dengan dibiayai oleh Negara. Uang pajak yang dibayarkan oleh rakyat Indonesia, sebagian dipakai untuk biaya Anda kuliah. Oleh karena itu Anda mempunyai hutang budi kepada masyarakat Indonesia. Bangunlah negeri ini dan sejahterakanlah masyarakat yang secara tidak langsung telah membantu Anda meraih titel Sarjana” :’)

SEBUAH RENUNGAN CALON SARJANA

Dalam “Tesaurus bahasa Indonesia”, “sarjana” = cendekiawan, intelektual, jauhari, sastrawan, akademikus, ilmuwan. Kalau mau lebih jauh lagi, kosakata “sarjana” dipungut dari bahasa Sanskerta:sajjana. Saj-jana”= “Sat-jana”: orang yang patut dihormati, orang dari keturunan terhormat, orang bijaksana, orang baik, orang benar, orang yang memiliki kebijakan sejati.

Bila ditilik, kata sajjana berakar dari kata saras dan jana. “Saras”(bahasa Sanskerta) = “sara” (bahasa Jawa Kuno): sesuatu yang mengalir, air yang mengalir, danau/sungai/kolam dengan airnya yang mengalir, kata-kata (yang mengalir dari mulut Sarasvati), kefasihan berbicara “lancar-indah-jelas” “Jana” (bahasa Sanskerta) = orang /manusia/keturunan.

Jadi, penafsiran etimologi yang mengasalkan “sarjana” dari “saras-jana” mengartikan “sarjana” sebagai: orang yang menerima anugerah “kefasihan berkata-kata” dalam mengungkapkan ajaran “Vedha” secara “’tepat-indah-jelas”. Kalau kita kembali merujuk ke makna kosakata “sarjana” artinya adalah orang yang menguasai bidangnya, cerdas, ahli, pakar dan sejenisnya, maka sesungguhnya kosakata “sarjana” telah mengalami proses penyempitan makna menjadi orang yang telah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi strata 1 (S1) dan seterusnya. Apakah dia ahli atau tidak, menguasai bidangnya atau tidak, pokoknya setelah wisuda, seseorang berhak menyandang gelar kesarjanaan.

Penyempitan makna “sarjana” belakangan ini membawa kita terjebak pada paradigma sempit pendidikan, yang menganggap ijazah adalah segala-galanya. Kuliah hanya untuk sekedar mendapatkan gelar “sarjana” pertanyaannya adalah: Apakah kita sudah menyiapkan diri kita menjadi seorang “Sajjana”? atau yang kita perjuangkan selama ini hanyalah sekedar mengejar title “sarjana”

(disarikan dari: http://jemiesimatupang.wordpress.com/)

Man Jadda Wa Jada, “Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil…”